Social Media

Image Slider

Warna Pintu Rumah Tua di Bandung

15/08/20

Paling enak jalan-jalan adalah berjalan kaki santai di pusat kota. Bawa sebotol air minum. Pake ranselnya. Siapkan kamera hp dan powerbanknya. Boleh dibawa topinya sekalian.  Jadwalkan pagi hari, lebih pagi lebih baik, untuk mulai berjalan. Bisa juga sore-sore. Supaya suasanya masih segar atau adem. 

 

Kalau di Bandung, biasanya saya jalan-jalan santai begini di daerah Braga, Sudirman, Pasar Baru, dan Asia Afrika. Lumayan sih trotoar nyaman dipijak meski yang gak layak kondisinya pun banyak. Warung dan pertokoan ada banyak. Siapa tahu mendadak perut keroncongan, bisa mengkol dulu buat jajan. 

 

Bila berjalan santai begini, saya akan memotret rumah-rumah tua. Rumah pinggir jalan ataupun rumah dalam gang. Pintu dan jendela rumah antik sangatlah sedap dipandang. Jadi latar foto OOTD juga bisa sih. Heuheu. Tapi saya gak lakukan itu sebab tujuan saya emang koleksi foto pintu tua dan jendela antik. 

 

Kalau berjalan kaki dan berburu foto rumah-rumah tua, ada satu hal yang menarik bagiku. Perhatikan pintu utama rumah dan kotak sekring listriknya. Mengapa? sebab warna mereka senada. 

 

 

Rumah lama yang arsitektur bangunannya masih bergaya ala tahun 40-50an, memiliki satu kotak kecil infrastruktur listrik yang berada di dekat pintu masuk. Nah pintu masuk, jendela depan, dan kotak sekring listrik ini warnanya sama. 

 

Iya saya tahu pemandangan tersebut bukan hal istimewa. Namun bukannya hal-hal kecil begini menyenangkan untuk dilihat ya. 

 

Menurut beberapa orang temanku, bukan sengaja pintu rumah dan pintu kotak listrik warnanya sama. Tapi waktu proses pengecatan, ada sisa cat yang sayang bila dibuang atau disimpan.  

 

Meskipun gak sengaja, kelihatannya kayak disengajakan. Warnanya jadi estetis. Enak dilihat. Ada yang warnanya hijau, biru, krem, merah, macam-macam. Warna kalem sampai warna mencolok. Entahlah ada cerita psikologi warna apa di baliknya. Yang pasti warnanya dipilih berdasarkan selera pemiliknya. Iya gak? :D 

 

 

Berdasarkan artikel yang saya baca-baca di web Halodoc, warna adalah medium. Semacam pesan yang ingin diperlihatkan pada pemakainya. Kayak warna merah yang menunjukan arti kuat, percaya diri, dan berani. Warna abu-abu artinya kuat dan stabil. Ada juga warna biru yang diasosiakan dengan kesetiaan dan ketenangan. Hijau diartikan sebagai kesejukan. Ada yang mempercayainya sebagai warna keberuntungan. 

 

Gak heran, kata Halodoc, warna bisa jadi alat untuk terapi. Selama menyusuri jalanan dan rumah-rumah tua dengan berjalan kaki, saya pikir ini hobi semata. Namun kalau diperhatikan saya berolahraga juga. Jalan kaki satu jam atau anggap aja 3000 langkah efeknya bagus kan buat tubuh. Belum lagi merhatiin warna-warna pintu dan jendela rumah tua. Lumayan kayak sambil menyelam dapat ikan. Hahaha. Kaki sehat, jiwa bahagia. 

 

Ah iya, Halodoc sendiri adalah aplikasi kesehatan yang memudahkan urusan medis saat kita membutuhkannya. Layanan Halodoc terpercaya dan lengkap. Install aja appnya, sign up, dan jelajahi fitur kesehatan yang ada didalamnya. Mulai dari urusan beli obat, tanya ke dokter, cari dokter yang tepat, dan cek kunjungan ke rumah sakit. 

 

Oke kembali ke rumah tua. 


Umumnya nih rumah-rumah lama yang saya temukan begini ada di daerah Pecinan. Membujur dari Sudirman ke arah Andir. Melebar ke Pasar Baru dan sekitarnya. Bila kalian jalan-jalan ke arah Bandung Utara, di sana banyak peninggalan rumah ala kolonial. Jika ambil arah selatan, banyaknya rumah-rumah masa kini. Nah di tengah-tengah utara dan selatan itulah daerah Pecinannya berada. Suasana dan rumah-rumahnya masih kerasa aura tempo dulu walaupun digempur perubahan. 

 


Agak susah nemu pemandangan begini kalau kita hanya diam di dalam kendaraan. Paling saya rekomendasikan berjalan kaki. Kalau jalan kaki, kita bisa atur tempo kecepatan bahkan berhenti sejenak. Lantas kita bisa melihat dari dekat, menyentuhnya bila properti tidak berpagar atau diizinkan pemiliknya.

 

Nah, protokol kesehatannya udah oke kan? Dipake maskernya, bawa hand sanitazernya, sekalian wadah perbekalan. 

 

Udah siap cuci-cuci mata dengan berjalan kaki? pagi-pagi ya kita ketemu di Asia Afrika di depan museum!

 

Membaca Wanadri

03/08/20
Baru saya ketahui, beberapa orang tua mendaftarkan anaknya ke Pendidikan Dasar Wanadri karena anak-anaknya bermasalah dan gagal dididik di pesantren.

"Daripada kamu terkapar di jalanan, kami lebih bangga kamu mati sebagai Wanadri" gitu kata Ayahnya Rara di halaman 81. ⁣ ⁣ 



Buku berjudul Setitik Cahaya di Kegelapan isinya tentang sekumpulan cerita pendek anggota Wanadri. Ceritanya seputar Pendidikan Dasar Wanadri (PDW). Namun ada juga kisah lainnya tentang pertemanan, kenekadan, ketangguhan. Ada cerita yang lucu, sedih, mengharukan, aneh, macam-macamlah. ⁣Juru tulis buku bernama Nondi F. Pertama kali bukunya terbit tahun 2014. ⁣ 

Ada satu cerita berjudul Negosiasi Dengan Jin. Ceritanya Wanadri menggelar lomba Citarum Rally I. Mengingat acara serupa di tahun sebelumnya memakan korban jiwa, agar acaranya lancar berbagai antisipasi dilakukan. Termasuk negosiasi dengan makhluk gaib penghuni sungai. ⁣ 

Dibantu kuncen, hasil negonya begini: 

Makhluk gaib: (1) penyelenggara harus luruskan niat, jangan sombong mau nantang alam, jangan sok jagoan, jangan anggap enteng (2) minta tumbal tiga orang korban. 

Wanadri: (1) jangan ada korban meninggal (2) kalo ada korban, korbannya anggota wanadri aja. ⁣ Melalui kuncen, makhluk gaib bertanya. Emang apa ciri-ciri Wanadri? ⁣ ⁣ 

"Mereka memakai syal oranye," kata Iwan Bungsu, ketua panitia. Bungsu menyanggupi tumbal tiga orang, tapi dia nego jangan meninggal dan harus anggota wanadri aja yang katempuhan. Jangan korbannya warga sekitar atau peserta umum. Si makhluk gaib sepakat 😂⁣ ⁣ 

Korban pertama, terjungkal dari perahu saat mencoba arus. Korban kedua jatuh dari tebing. "Siapa gerangan korban ketiga?" bisik Bungsu dalam hati. ⁣ H-1 acara, Bungsu tertabrak mobil. Masuk rumah sakit. Kaki luka parah. Nah itulah dia korban ketiga. ⁣ ⁣ 

Citarum Rally I di tahun 1977 itu sukses dan lancar. Itulah acara yang menandai bangkitnya olahraga arung jeram di Indonesia. ⁣Bukunya bisa dibeli di Shopee dan Bukalapak.

Lima Bulan #DiRumahAja

29/07/20
Gak bisa cerita banyak selama pandemi ini. Gak ada kegiatan selain bekerja saja. Lalu tidur. Netflikan. Begitu aja terus. Gak banyak buku yang kubaca, waktuku habis dilalap netflix hahah. Ini pantesnya dinangisin apa diketawain sih :)))



Bila saya keluar rumah, itu karena urusan pekerjaan. Bukan karena ketemu keluarga atau teman. Pernah sekali waktu bertemu Dimas, dalam rangka rapat darurat menyelamatkan kebaperan hahaha apa atuh baper.

Selama pandemi ini, tempat yang paling sering saya datangi adalah Cibadak di pagi hari. Sebab di sana saya belanja segala keperluan Fish Express. Seminggu sekali enggak juga, palingan sebulan 3x.

Kalo lewatin jalan-jalan di Bandung pagi hari, rasanya kangen berjalan kaki jelajah masuk keluar gang. Korona bangcat kapan kelarnya. Sampai kapan harus nahan-nahan eungap maskeran dan menahan hobi ya.

Sampai kapan begini terus. 2022?

Blog saya belakangan seringan sponsored post ketimbang tulisan sendiri. Mau selektif, butuh pemasukan. Saya masih menahan diri gak coba-coba apply ke penawaran sponsor susu formula. Namun otomotif, udah jebol pertahanan. Hahaha.

Agak aneh gak sih saya ngomongin postingan iklan. Seolah-olah kalian gak saya anggap begitu. Postingan iklan yang ada di blog ini ditujukan untuk google. Untuk mesin pencari. Bila kamu tidak menyukainya, maksudku tulisan mengandung iklan, bisa cari tulisan yang lain.

Gak tahu lagi saya mau cerita apa. Mungkin saya posting aja tentang Cibadak gimana?

Cerita-cerita ada sih di instagram @bandungdiary. Apa saya pindahin aja ke blog ya captionnya. Hahah.

Cara Membeli Foto di Shutterstock Via idcopy.biz

04/07/20
Sekarang zamannya menulis di media sosial dilengkapi ilustrasi atau foto yang seru-seru kan, yang bagus gitu, nyambung dengan tulisan atau maksud kita. Nah kamu biasanya bikin sendiri ilustrasinya, motret, atau download dari web-web penyedia foto dan ilustrasi kayak Shutterstock?

Kayak foto ini. Bukan saya yang memotretnya. Saya membeli fotonya di Shutterstock melalui website idcopy.biz.



Walaupun untuk kebutuhan konten saya biasanya motret sendiri. Akan tetapi sering juga saya butuh foto dan ilustrasi pendukung dan saya gak bisa membuatnya sendiri. Sehingga jalan terbaik adalah download aja fotonya!

Namun nih, foto-foto bagus gak bisa didownload begitu saja. Ada harga ada rupa.

Downloadnya di mana? Pernah dengar Shutterstock kan, salah satu penyedia jasa ilustrasi. Nah kamu bisa download gambar-gambar di Shutterstock gratis. Bagaimana cara? Ikuti cara-cara yang saya pake nih.

Masuk ke idcopy.biz.

Kalo belum punya akun di idcopy.biz, register dulu saja. Pendaftarannya gak ribet sama sekali. Hanya isi data email, hp, dan password. Setelah itu cek email kamu. Nanti klik link verifikasinya dan barulah kamu bisa bisa pake email dan passwordnya untuk login.



Oke sekarang kamu sudah masuk ke idcopy.biz. Sekarang bagaimana cara download foto atau ilustrasinya?

Bila ingin download gratis, lihat sebelah kanan web. Ada kolom Gambar Pilihan Hari ini. Klik saja button ‘unduh’ di sana. Foto otomatis tersimpan di perangkat gadgetmu.




Begitu saja caranya. Mudah kan ya.

Unduh Gambar/Foto Tanpa Watermark dan Resolusi Besar

Nah sekarang bagaimana cara jika ingin download lebih banyak dengan pilhan beragam? Fotonya lebih bagus, gak ada watermark pula. Tentu saja ini berbayar. Web idcopy.biz  membantumu membeli foto-foto tersebut.

Eh tunggu dulu, tarif download foto dan ilustrasi via idcopy.biz sama sekali gak mahal. Tergantung kebutuhanmu berapa banyak. Saya kasih lihat contohnya ya. Cara membeli foto di Shutterstock via idcopy.biz gampang banget!

Cara membeli foto di Shutterstock via idcopy.biz

1. Cek Home
Di sini kamu klik button ‘Beli Paket’ untuk mengaktifkan fitur download. Nanti keluar halaman pilihan paket. Nah kamu pilih mau yang mana.

Saya memilih Paket Kustom. Anggaplah ini pertama kalinya kamu pake idcopy.biz, sebagai percobaan saya beli satuan saja. Beli dua gambar dulu.



Nanti saat kamu sukses register ke idcopy.biz, kamu akan mendapatkan kode voucher. Nah, gunakan kode vouchernya untuk memperoleh potongan harga ya!

2. Salin kode voucher di idcopy.biz
Masukan kode voucher SSBANDUNGDIARY ke kolom yang ditentukan. Kalau mulanya saya harus membayar RP72.000. Setelah saya masukan kode voucher, total pembayaran hanya RP14.000! Yeay!

Oke sekarang, baca panduan pembayaran. Setelah itu lunasi pembayarannya dan tunggu sistem idcopy.biz mengaktifkan fitur downloadmu. Cek emailmu ya! Gak makan waktu lama kok sistem otomatisnya terverifikasi.


Cek email untuk baca verifikasi pembayaran. Seperti ini:



Bila pembayaranmu telah terverifikasi, sekarang waktunya kembali ke web idcopy.biz  dan cek Riwayat Pembelian.

3. Cek Riwayat Pembelian
Nah di sini riwayat pembelian kamu terlihat. Invoice menunjukkan lunas. Dengan demikian, kami bisa salin voucher di sini. Gunakan vouchernya untuk mendownload foto atau ilustrasi yang kamu mau.

Sudah disalin vouchernya?

Sekarang kembali ke Home untuk download.  Klik buton ‘Masukan Voucher’.

4. Download Foto/Ilustrasi
Kembali lagi ke Home. Karena saya pilih paket Kustom 2 gambar, maka saya punya jatah download 2 gambar saja.

Oiya mesti kamu ingat, setiap paket dan jatah yang kita dapatkan ada durasi waktunya. Artinya, kalo gak segera mendownload gambarnya, jatah tersebut akan hangus.

Tenang saja. Masa kadaluarsanya beberapa hari. Cek Home untuk tahu berapa lama durasi waktu yang kamu punya ya.
Oke gini cara download fotonya.

Download Foto dari idcopy.biz

Di halaman Home terpampang kolom untuk download. Tapi, pilih dulu foto mana yang kamu inginkan di Shutterstock.

Buka dulu website Shutterstock. Tenang saja, kamu gak perlu signup atau sign in di sana. Yang kamu perlu lakukan, pilih fotonya, dan copy URL-nya.


Sudah copy URL dari halaman yang kamu buka di Shutterstock?

Oke, sekarang kembali ke web idcopy.biz. Nah kamu salin link yang kamu copy tadi. Kalau sudah, klik Pratinjau. Foto yang kamu mau sudah muncul di bawah kolom Pratinjau.

Sekarang kamu klik download.

idcopy.biz akan memproses fotonya. Gak makan waktu lama hanya beberapa detik. Seperti ini:




Bila foto sudah didownload idcopy.biz, nah sekarang waktunya pindahin ke gadget kamu. Pilih ‘klik untuk menyimpan di komputermu’.

Nah sudah deh beres! Foto-foto terbaik sekarang bisa kamu pake untuk melengkapi presentasimu, artikelmu, atau apa sajalah keperluannya. Gak ribet kan ya beli foto-foto via idcopy.biz. Cocok  nih buat kamu yang mau beli foto internasional tapi gak punya kartu kredit atau paypal. Karena idcopy.biz pembayarannya ke bank lokal dan pake mata uang rupiah pula. Hehe.

Selamat mencoba!


Hobi Fotografi? Dukung Hobimu Dengan digibank KTA

12/06/20
Saat ini, fotografi menjadi salah satu hobi yang sedang tren di kalangan milenial. Bagaimana tidak, sejak berkembanganya media teknologi terkhusus media sosial, foto menjadi salah satu faktor penting yang bisa menarik perhatian banyak orang untuk menunjukkan eksistensi diri.
Mengunggah hasil jepretan terbaik ke media sosial dan internet rupanya tidak hanya menarik respon para netizen saja, namun juga mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah. Maka tidak heran apabila fotografi menjadi hobi yang cukup banyak diminati oleh anak muda.
Untuk mendapatkan hasil gambar berkualitas, selain membutuhkan skill pastinya juga akan membutuhkan kamera yang berkualitas. Nah, untuk kamu yang masih pemula di dunia fotografi, berikut ini beberapa merk kamera terbaik yang bisa kamu jadikan pilihan:

1.    Canon

Canon adalah merk kamera yang cukup terkenal di dunia. Produk-produk perusahaan kamera digital asal jepang ini disebut-sebut telah menguasai pasar kamera seluruh dunia. Jenis kamera yang terbaik dari brand ini adalah DSLR dan SLR.

2.   Nikon

Hampir seluruh masyarakat sudah sangat familiar brand kamera satu ini. Nikon menjadi salah satu kamera yang paling sering digunakan oleh fotografer selain canon, dengan ciri khas nama sistem kamera dengan simbol “D” yang artinya digital.  Perusahaan dari negeri sakura ini rupanya tidak hanya memproduksi mikroskop dan teropong.

3.   Sony

Brand kamera satu ini rupanya sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat, khususnya di Indonesia. Mengusung teknologi dan spesifikasi tinggi membuat kamera brand ini cukup mencuri perhatian bagi pecintanya. Beberapa produk top sony adalah DSLR, dan cyber-shot.

4.   Panasonic

Produk kamera panasonic umumnya memiliki keunggulan pada bagian LCD screen, picture, warranty, dan kualitas. Dalam kabar terbarunya panasonic lumix merelease sejumlah kamera digital yakni seri L dan G. Meski tak sepopuler canon dan Nikon, brand satu ini memiliki kualitas yang tak kalah dan bahkan mampu menyaingi produk dari brand lain seperti Casio, Olympus, dan lainnya.
Berbicara tentang kamera berkualitas, tentunya membutuhkan budget yang tinggi untuk mendapatkannya. Maka bukan hal yang aneh apabila banyak yang beranggapan bahwa fotografi adalah hobi mahal.
Nah, buat kamu yang mulai tertarik dengan hobby ini namun memiliki budget yang terbatas, jangan berkecil hati. Masih banyak jalan yang bisa kamu lakukan untuk menjajal hobby ini. Salah satunya adalah kamu bisa mengajukan kredit cepat melalui digibank KTA. Tidak hanya cepat dan mudah, tetapi kamu bisa mendapatkan pinjaman uang hingga 80 juta. Menarik bukan?
Alasan memilih kredit digibank KTA untuk upgrade kamera?
Meski berbasis kredit online, produk dari digibank by DBS ini rupanya sangat jauh berbeda dengan kredit atau pinjaman online pada umumnya. DBS Indonesia berkomitmen menghadirkan digibank sebagai bank digital terbaik. Tidak perlu ragu, karena digibank KTA ini memiliki sejumlah keunggulan yang tidak dimiliki oleh pinjaman online lainnya. Diantara keunggulannya tersebut adalah:
  • Saat hendak mengajukan pinjaman atau kredit, sebagian orang mungkin berpikir keribetan saat pengurusan kredit. Namun tidak untuk produk digibank KTA, yang menawarkan Tanpa ribet karena apply online dimana saja dan kapan saja melalui aplikasi digibank by DBS atau website go.dbs.com/kta
  • Dalam proses persetujuannya pun sangat tidak diragukan. Kamu akan mendapatkan  Approval cepat dalam 60 detik
  • Tidak tanggung-tanggung, kamu bisa meminjam uang puluhan juta, ditambah lagi dana langsung cair ke rekening digibank by DBS hingga Rp. 80 juta
  • Bunga kompetitif mulai dari 0,95%, cukup terjangkau untuk kamu yang takut terjerat cicilan besar.
  • Kalo keamanan, sudah jelas Aman dan terpercaya sudah terdaftar di OJK
Ini prosedur pengajuan kredit digibank KTA!
Dalam prosedur pengajuan kredit digibank KTA sangat mudah, hanya saja terdapat perbedaan antara nasabah dan non-nasabah digibank by DBS. Nah, untuk kamu yang belum menjadi nasabah, Berikut 5 langkah mudah proses pengajuan digibank KTA:
  1. Apply di go.dbs.com/kta
  2. Persetujuan cepat dalam 60 detik
  3.  Download aplikasi digibank by DBS
  4. Verifikasi biometric dengan agen digibank
  5. Cair langsung ke rekening digibank hingga 80 juta
Sedang langkah proses pengajuan digibank KTA untuk nasabah adalah sebagai berikut:
  1. Klik personal loan di menu utama aplikasi digibank by DBS 
  2. Lengkapi data diri
  3. Tunggu konfirmasi persetujuan kredit
  4. Pilih limit pinjaman dan tenor yang diinginkan
  5. Persetujuan cepat dalam 60 detik dan dana cair secara real-time hingga 80 juta
Jadi, tunggu apalagi? Yuk upgrade hobby fotografi dengan memanfaatkan kemudahan dari digibank KTA.


Sayur Online di Bandung, Apa Aja Rekomendasinya?

06/06/20
Bisnis sayur online di Bandung lagi tinggi-tingginya nih sejak pandemi covid-19. Kalo dulu yang saya tahu cuma Keranjang Segar, sekarang ada beberapa jasa sayur online lainnya yang rekomendid. Saya udah pake jasanya dan memuaskan.

Kalo dulu belanja sayur online pilhannya sedikit. Sekarang buanyak banget! Sehingga, untuk belanja sayur online saya pilih dari yang jasanya paling cepet aja. Pesen tadi malam, kirim besok pagi. Kayak gitu.

Kalo harga, saya sering gak merhatiin murah dan mahalnya :D gak tahu kenapa heuheueheu.

Kedua, saya perhatiin jarak si sayur online ke rumah. Dekat atau jauh. Meski ongkirnya flat, saya tetap aja pengen milih jasa sayur online yang dekat rumah.

Ketiga. Layanannya bagus gak. Kalo bagus, saya mau pesan lagi. Kalo gak memuaskan, meskipun dekat dengan markas si sayur online, saya males reorder :D

Oke. Apa aja sayur online yang saya rekomendasiin?

1. Keranjang Segar

Ini jasa pasar online paling hits di Bandung sih. Udah gitu bisa pesan tanpa plastik pula. Barang dagangannya pun lengkap sampai yang produk nonpasar juga ada. Keranjang Segar termasuk yang antrean belanjanya rada panjang. Ongkirnya juga flat. Coba aja cek harga barang dan jasanya di instagram mereka @keranjangsegar.



2. Locarvest

Nah ini. Setahu saya mereka pelopor sayur online di Bandung deh. Beberapa tahun lalu saya pernah belanja di sebuah pasar sayur dadakan, terus kulihat Locarvest di sana, kalo gak salah mereka sekumpulan anak-anak UNPAD gitu. Mereka bilang menerima pesanan online juga. Terus entahlah kayaknya ganti pengurus apa gimana. Tokonya ada di instagram. Pengirimannya senins/d sabtu. Sering ada sale buah-buahan bagus di Locarvest, follow deh @locarvest.id.



3. Aya Sayur

Mang Aya, demikian admin tokonya, beneran kayak mamanng-mamang pasar gaya chatnya :D oiya Aya Sayur ada di Arcamanik. Jadi nih warga planet Antapani dan Arcamanik kalo mau belanja kebutuhan dari pasar, pesannya ke Aya Sayur aja ya karena free ongkirnya. Daerah lain juga bisa ke Aya Sayur. Tanya aja ongkirnya ke mereka di @ayasayur. Di instagram yak.



4. Pasar Cikembang

Saya belum belanja di Pasar Cikembang, baru follow dan merhatiin grafis-grafis posternya yang bagus. Kuperhatikan beberapa teman saya belanja ke Pasar Cikembang dan mereka merekomendasikan Pasar Cikembang ini. Follow mereka di @pasarcikembang. Fyi, mereka nih ongkirnya flat 10.000 aja. Whoaaa!



5. Toko Belibu

Ini toko sih bukan jasa belanja di pasar seperti keempat jasa di atas. Akan tetapi, sebagian produk pasar ada di sini juga. Ditambah mereka menyediakan produk organik pun. Tokonya ada, belanja online bisa. Kalo online, pesanannya dibuka jam 9.00-17.00.  Cek instagramnya @belibufreshmart



6. Toko Basila

Sama kayak Belibu, ini toko juga. Banyak yang produknya organik pula. Kalo mau belanja sayur-sayur pilihan yang terkurasi asal dan usulnya, toko-toko kayak Basila dan Belibu ini cocok buat kalian. Pemesanan online di Basila jam 08.00-20.00. Cek ke ig mereka @basilafreshmarket.



Semua tokonya ada di instagram. Cek aja nama tokonya ya saya udah cantumkan tuh. Terus, perhatiin bio mereka. Cek highlightnya. Karena info-info yang kamu butuhkan sebenernya bisa kalian baca sendiri tanpa kalian tanya ke CS mereka. Mulai dari daftar harga, hari pengiriman, ongkos kirim, aneka macam sale, dan lain sebagainya. Pokoknya membaca adalah koentji. Yhaaa, bahkan mau belanja aja baca dulu ya khan :D

Selamat belanja ya. Moga-moga saya dan kamu diberi keistimewaan diam di rumah dulu sampai pandemi ini berakhir. Namun, kalo kalian harus bekerja di luar rumah, hati-hati, jaga kesehatan, pake maskernya dan rajin cuci tangan. Covid-19 is no joke.



Membaca Novel Sang Raja

02/06/20
"Menggosok tubuh dengan cengkeh untuk asma itu sebetulnya resep tradisional di Jawa. Sesak napasnya reda, tapi pengobatan balur semacam itu kurang manjur. Bagaimana bila cengkeh dirajang, dicampur tembakau, dan diisap seperti rokok?"⁣⁣
⁣⁣
Kretek. Satu benda kecil ini sejarahnya panjang amat.




Kita bisa baca sepenggal perjalanan kretek di novel Sang Raja, tentang pabrik kretek di Kudus, Tjap Bal Tiga. Bosnya bernama Nitisemito. Ceritanya berdasarkan kisah nyata. ⁣⁣Ditulis Iksaka Banu. 
⁣⁣
Pabrik Bal Tiga dianggap fenomenal. Sebab pertamakalinya bisnis milik pribumi karyawannya ribuan dan omsetnya jutaan. Koran-koran Belanda menjuluki Nitisemito: De Koning, De Kretekkoning, Sang Raja.⁣⁣

Isi novelnya tentang perjalanan usaha kretek Bal Tiga. Bisa jadi ini novel membosankan, ritmenya pelan. Karena agak bosan itu saya bacanya perlahan. Hari ini baca, besok enggak, lusa baru lanjut baca lagi. 

Senang juga saya gak putus bacanya. Makin banyak halaman yang kubaca, makin menarik mengikuti perjalanan cerita pabriknya Nitisemito ini.
⁣⁣
Narator novelnya ada dua: Wirosoeseno dan Filipus. Keduanya karyawan pemasaran dan pembukuan kretek Tjap Bal Tiga. ⁣⁣Motor karakter novel ini ada pada mereka. 

Soeseno yang energik. Filipus yang simpatik dan teliti. Membaca karakter mereka melalui narasinya sendiri tentang pabrik tentu mengasyikkan. Saya kayak punya dua kepribadian. Hehe.
⁣⁣
Berhasil melampaui zaman kolonial, Jepang, hingga revolusi, daya tahan pabrik ini ketemu ujungnya. Pabrik tutup. Alasannya seperti kebanyakan kasus di bisnis keluarga: gak ada penerus yang mumpuni kayak Nitisemito. ⁣⁣
Dahulu pernah merebak pandemi flu spanyol yang meresahkan. Pabrik ini gak kena dampaknya. Maju terus laris manis aja sementara bisnis lain bergelimpangan, ada penjarahan, dan kerusuhan. ⁣⁣
⁣⁣
Menekan harga produksi biasanya dihadapi dengan menaikkan harga jual. Dengan ekonomi yang lamban, Bal Tiga gak mau naikin harga. Akhirnya volume penjualan digenjot. Gimana cara? sewa Fokker dan sebarin flyer ke Semarang, Surabaya, Bogor, Batavia, dan Bandung. ⁣⁣
⁣⁣
Belon lagi ini kretek endorse sandiwara keliling, membuat program radio, sampai bioskop dalam rangka penyebaran merek Bal Tiga. Wah saya sampai ikutan semangat mengikuti inovasi-inovasi pemasaran pabrik kreteknya! ⁣⁣
Mempertahankan bisnis dalam tiga bulan aja susah. Tiga tahun apalagi. Tiga zaman gimana cara. Gokil kota Kudus, pernah ada kerajaan besar di sana. Kerajaan kreteknya Nitisemito. ⁣

Kalo diukur dengan inovasi masa kini, ide mereka biasa saja. Tapi itu tahun 20an. Kita masih dipimpin pemerintah Hindia Belanda. Nitisemito bahkan berjalan jongkok bila menghadap pemerintah kolonial. 

Walo saya gak tahu di mana batas fiksi dan fakta tentang pabrik Bal Tiga, selama baca novelnya saya terlalu semangat kebawa suasana. Seolah-olah semua ceritanya nyata. Tapi, di bagian manakah fiksinya ya...
⁣⁣
Begitu covid-19 udahan (semoga kita panjang umur), kita main ke Kudus bawa novelnya. Terus susuri satu per satu tempat yang ada di novel: bekas pabrik di Langgardalem, Kampung Jagalan, gedung Oost Java Bioscoop di Alun-alun, stasiun kereta api Kudus, rumah kosnya Wirosoeseno di Sunggingan, kompleks perumahan Panjunan.


Kembali ke Kotagede

31/05/20
“Tuh kan kesiangan!” kataku merengut, pada Indra suamiku. Kami melewatkan Pasar Legi. Pasarnya sudah sepi. Kira-kira pukul dua siang waktu kulihat jam tanganku.

Keinginan mencicipi limun bersoda di Warung Sidosemi pun batal sebab warungnya tutup. Kemudian maksud hati menengok Masjid Kotagede yang kuno nan antik mesti diredam, sedang masjidnya ditutup karena renovasi. Ah sial betul plesiran kami ke Kotagede Yogyakarta waktu itu, empat tahun lalu.

Lantas seperti dendam yang kesumatnya belum tamat, saya dan Indra kepingin balik lagi ke sana, ke Kotagede. Itu dia, tempat yang akan kami datangi setelah pandemi covid-19 ini berakhir. Kupikir kembali ke tempat yang kami pernah datangi setelah wabah keparat ini selesai akan memberi pengalaman yang segar. Seperti bertemu kawan lama.

di kompleks makam raja Mataram

Menyenangkan namun tidak memuaskan adalah kesanku pada Kotagede. Seperti memakai baju yang belum pas ukurannya. Sewaktu di sana, kami menyusun itinerary berupa satu paragraf di awal itu, yang gagal semua itu. Ditambah: berjalan kaki menyusuri gang-gang Kotagede dan masuk ke kompleks makam raja-raja Mataram. Dua tempat yang terakhir itu (untungnya) kesampaian kami kunjungi.

Strategi berjalan-jalan di Kotagede akan saya balik susunannya. Kalau dulu, saya dahulukan berjalan kaki masuk keluar gang. Nanti nih, saya mau eksplor Pasar Legi di pagi hari. Cari jajanan pasar. Menyantap sarapannya orang-orang Kotagede. Mungkin belanja, biasanya di pasar-pasar tradisional begini banyak harta karunnya! Betul tidak :D

Lantas Masjid Kotagede sudah beres renovasinya, tentu kami bisa beribadah di sana. Sekalian melongok keantikan masjidnya. Tujuan utamaku sih memotret masjidnya. Juga merasakan pengalaman beribadah di tempat kuno begitu.

Namun untuk Warung Sidosemi sepertinya tidak ada harapan bagi kami ke sana. Secara permanen tempatnya tutup. Ya, untuk selamanya. Entah mengapa. Juga, saya gak bisa beritahu alasan kenapa saya ingin banget ke warung ini. Padahal tempatnya biasa saja. Warung sederhana pada umumnya. Menunya bakso. Juga limun jadul. Mungkin ini yang namanya efek traveling. Tempat-tempat yang biasa, kelihatannya istimewa. Heuheu.

Eh kalo Kipo pasti masih banyak di Kotagede. Whaaaa kangen makan Kipo! 

kipo!

Meski kompleks makam raja Mataram sudah kami sambangi, saya ingin kembali ke sana. Kali ini pengennya berlama-lama, kalo bisa ditemani pemandu berkeliling kompleksnya.

Begitu juga gang-gang yang dipenuhi rumah lama Kotagede, gak ada keraguan  buat saya menyusurinya lagi. Jalan setapak di Kotagede tuh alamak cantik, bersih, dan khidmat. Bahkan sepuntung rokok pun gak saya temui di gang-gang itu. Berulangkali juga kulihat papan pengumuman bagi pengendara motor agar tidak menyalakan mesin motornya.

Jogja dan hal-hal kecil yang tidak kulihat di Bandung adalah Jogja yang menyenangkan. Termasuk Kotagede, tentu saja.
Dahulu di Kotagede saya berburu foto bangunan tua. Namun saya melewatkan banyak sekali detail-detail dekorasi rumah kunonya. Seperti pintu dan jendela tua. Untuk memotret merekalah saya hendak kembali ke Kotagede. Berburu banyaaaaaaaaaakkkk sekali pintu dan jendela.

Sepertinya pemandangan Kotagede yang kami lihat empat tahun lalu akan berbeda dengan tahun ini. Atau tahun depan. Entah kapan pandemi covid-19 ini akan berakhir, moga-moga akhir tahun ini kita sudah bisa plesiran lagi ya! Kalau saya ke Kotagede, kamu mau ke mana?

Nah seingatku, dulu saya menginap di Prawirotaman. Esok nanti ke Kotagede saya pilih penginapan di sana saja, di jantung Kotagede maksudku.

Penginapannya kupilih di Reddoorz . Cari hotel di Jogja saja. Budget menginap harus ditekan, belum bisa bermewah-mewahan. Tahu sendiri sedang pandemi covid-19 begini, biaya apa saja yang ditekan. Meski pekerjaan kami tidak terdampak buruk karena virus korona, tapi pemakaian uang mesti diirit-iirit juga. Heuheuheu.





Mencari hotel murah di Jogja tidak sulit dengan bantuan Reddorz. Apalagi secara spesifik saya ingin menginap di Kotagede. Tinggal masukan nama kotanya di kolom pencarian, nanti muncul kawasan-kawasan di Jogja. Tentu saja saya pilih Kotagede. Wilayah turunannya akan muncul seperti Umbulharjo dan Pandeyan, juga beberapa wilayah lainnya.

Akan tetapi, mencari hotel di Jogja (maupun kota lainnya), mesti kamu riset lokasinya. Disinkronkan lokasi yang ingin dikunjungi dan titik hotelnya berada. Pilihan hotel di Reddoorz ada banyak, biasanya saya cek harga, review dan lokasi hotelnya. Dicocokan dengan googlemap dan ukur jarak.

Selain harga hotel yang murah, Reddoorz juga mudah saya pakai aplikasinya. Pembayaran praktis dengan pilihan pembayaran yang beragam: online dan offline.

Walau murah, Reddoorz memberikan fitur garansi yang menurutku menarik. Seperti wifi gratis, televisi, kamar mandi yang bersih, amenities, linen dan ranjangnya yang nyaman. Juga air mineral.

Cara menggunakan aplikasi Reddoorz mudah saja. Install dulu aplikasinya. Sign up dan login dengan email.

Cara memesan kamar hotel di Reddoorz tidaklah sulit. Ketik kota yang kalian tuju. Atau klik lokasinya saja supaya langsung ketemu hotel yang cocok. Masukan tanggal check in dan check out.



Beberapa Reddoorz tidak akan menanyakan surat nikah. Namun ada pula beberapa hotel di reddoorz yang sistemnya syariah, sehingga bila bukan pasangan suami istri akan ditanyakan surat nikah. Karena itu selalu cek status hotelnya ya. Selama menginap di Reddoorz, saya tidak dipersulit saat check in. Meski menginap sendirian atau berdua dengan anak saya, mentok-mentok hanya ditanya KTP.

Begitu juga dengan uang deposit. Tidak semua hotel di Reddoorz  mencantumkan deposit. Akan tetapi ada pula yang menghendakinya. Sepengalamanku, biasanya deposit diminta dalam bentuk tunai.

Perihal refund di Reddoorz setahu saya gampil saja. Pengembalian dana memakan waktu 14 hari.

Antara sabar dan gak sabar ingin pandemi covid-19 ini berlalu, moga-moga apapun kondisinya kita sehat dan rezeki mengalir lancar! Kereta api sudah menunggu, pesawat terbang siap menanti, bis-bis antar kota sama kangennya dengan kita nih.

Kotegede, kami akan datang!


Terpukau dan Terpukul di Masjid Sang Saka Ratu di Cirebon

05/05/20
Berada di Masjid Kaliwulu, rasa gak nyaman yang saya rasakan muncul karena hawa gaib. Di Masjid Sang Saka Ratu, perasaan terganggu adanya karena ulah manusia.

Tiap masjid kuno di Cirebon menguarkan rasa kagumku yang levelnya beda-beda. Maksudku, harusnya saya bisa lempeng aja dan biasa aja melihat masjidnya. Namun gak tahu kenapa nih, kalo masuk masjid-masjid kuno ini whoaaaa terpukau aja gitu. Ada rasa kagum, respek, bangga, sekaligus terpukul dan bingung, tumplek tumbleugh!

Akan tetapi, di Masjid Sunan Gunung Jati ini, rasa bingungnya terlampau banyak. Mengapa? Saya ceritakan nanti di bagian akhir tulisan. Saya ceritakan dulu tentang masjid berusia 5 abad ini ya.




Masjid Sang Saka Ratu adalah nama resmi yang tercantum di artikel dan buku-buku sejarah. Nama lain masjidnya ada dua:
- Masjid Dog Jumeneng
- Masjid Syekh Syarif Hidayatullah

Ngomong-ngomong, nama Masjid Sang Saka Ratu tidak saya ketahui dari mana asalnya. Namanya kolosal banget yah. Ada yang tahu mengapa namanya Sang Saka Ratu? 

Sewaktu saya bertanya petunjuk arah masjid ke warga lokal, mereka gak familiar dengan nama-nama tersebut.

Begitu kutanya "di mana Masjid Gunung Jati?" barulah paham maksudku. 

Terpukau Bangunan Masjid Gunung Jati

Masjid ini berlokasi di lereng bukit. Karena itu kontur masjidnya unik: dibangun berjenjang. 

Didirikan tahun 1452 M, mulanya area ini adalah taman. Setelah Pangeran Cakrabuana wafat, barulah areanya berubah jadi makam. Beliau dan Sunan Gunung Jati, dimakamkan di sana.

Ohiya, Pangeran Cakrabuana adalah sosok yang mendirikan Cirebon. Ia putra Prabu Siliwangi. Ya betul, darah kerajaan Pajajaran mengalir di tubuhnya. Gak heran Cirebon ini setengah sunda, setengah jawa. Atau tepatnya bukan sunda dan bukan jawa ya. Hehe. 

Berada di satu kompleks yang sama dengan makam Sunan Gunung Jati dan makam keluarga keraton, lumrah sekali ini masjid ramai pengunjung. Peziarah, tepatnya. Kompleksnya berada di Gunung Sembung, Cirebon. 

Kami gak sengaja berkunjung ke sana saat kliwonan. Saya baru menyadari hari itu menjelang kliwon setelah berada di masjidnya dan kondisi kompleks tersebut penuh manusia. 

Mencapai masjidnya kami berjalan melewati jalan setapak berupa gang kecil di antara rumah warga. Begitu masuk ke dalamnya barulah terlihat kontur bangunan masjid yang berjenjang.

Ada empat jenjang serambi masjid. Jenjang paling atas, kita sebut saja serambi 1.

Gak ada pembatas antar jenjang serambi kecuali di serambi paling bawah. 

Ohya jenjang di sini maksudnya bukan bangunan bertingkat. Bayangin kue tart  tingkat empat. Nah begitu kira-kira jenjangnya.

Di serambi ke-3 dan ke-4 ada pembatas tembok setinggi satu meter. Tiap jenjang serambinya dihubungkan dengan tangga yang berada tegak lurus dengan pintu masuk masjid.

Apakah bangunan asli masjidnya adalah serambi paling atas itu? Entahlah. Buat pengunjung seperti saya yang datang semata-mata hendak wisata, butuh pemandu sih emang. Sebab bingung gitu ini teh gimana, ke mana, kenapa 😅

Tiap serambi adalah ruang sholat. Ruang utama sholat laki-laki di tiga serambi teratas. Ruang paling sakral ada di serambi I yang paling atas. Mimbar kuno pun terletak di sana. 

Atap masjid berbentuk tajug tumpang dua. Kalo orang sunda bilangnya bale nyuncung kali yah. Sekarang jarang banget kulihat di Bandung masjid yang atapnya tajug nyuncung begitu. 

Atap di serambi paling atas ditopang 16 tiang kayu. 16 tiang ini terdiri dari 6 sakaguru dan 12 sakarawa. Tiap tiang diameternya kira-kira 30 cm. Begitu kata buku yang kubaca. 

*Sakaguru: tiang peyangga struktur banguna utama. Sakarawa: tiang penyangga struktur bangunan tepi atap.
*Atap tajug: atap bentuk limas, dasarnya persegi dengan satu puncak di tengah.

Indra sholat di serambi utama, yang paling atas itu. Jadi dia bisa lihat saka gurunya. Sungguh dia beruntung! 

Serambi atas dibuka hanya di hari Jumat saja. Seingatku, kami ke sana hari kamis ashar. Tapi Indra bilang itu hari jumat.

Untuk perempuan ruang sholatnya ada di serambi di paling bawah. Ya di sanalah saya berada. Sehabis sholat kutengok-tengok aja kan interior masjidnya. 

Gimana ya jelasinnya. Level dekorasi bangunan di sini level kerajaan gitu. Bahkan ada tangga yang kulihat itu berdekor bunga yang terlihat mewah. 

Kekagumanku pada masjid ini juga jatuh pada pada dekorasi dinding dan pintu. Banyak sekali dekorasi kelopak bunga yang tertanam di dinding. Formasi kelopaknya 4-8. Bunga apa namanya saya gak tahu. Lagi-lagi, saya butuh pemandu di sini...heuheu...





Gak ketinggalan ornamen piring-piring cantik nan antik khas bangunan zaman kerajaan di Cirebon. Ada buanyak sekali ornamennya. 

Masjid ini kalo diperhatikan mewah juga dekorasinya. Makanya kubilang tadi levelnya buat raja-raja. 

Sayangnya lantai masjid berupa keramik putih biasa. Begitu juga atap di serambi bawah. 

Di teras masjid terdapat bedug tua yang asalnya dari abad 16. Saya juga menengok koleksi mushaf Al Quran tulisan tangan yang tersimpan di lemari kaca. Konon usianya ratusan tahun.

Sama dengan situs sakral religius lainnya di Indonesia, di sini juga ada sumur keramat. Saya hanya melihat satu sumur saja dan enggan menghampiri sumur lainnya. Sebab terlalu hiruk pikuk suasananya. Kubaca pada buku panduan, ada empat sumur keramat di kompleks ini.


pintu ini masuk masjid yang cakep banget.
tambahan atap seng itu ganggu pemandangan masjid, tapi butuh untuk menghalau air hujan dan panas, mungkin


Pengalaman Gak Enak di Masjid Gunung Jati

Ongkos parkir Rp10.000. Tak apa. Masih wajar. Tiket masuk Rp5.000, oke gak apa. 

Masjidnya berada di tengah pemukiman padat. Menuju ke pintu masjidnya saja, kamu harus jalan berbelok-belok menelusuri gang kecil. Melewati rumah penduduk, warung-warung kelontong, dan...barisan pengemis.

Ya betul. Barisan pengemis duduk di tepi jalan gang itulah yang membuatku bingung.  

Sambil berjalan kaki dengan posisi membungkukan badan tanda permisi, kuhitung jumlah mereka. 

Satu...
Dua...
Lima...
Tujuh...
Sepuluh...

Berbelok gangnya, masih ada pengemisnya. 

Empat belas...
Tujuh belas...
Dua puluh...
Tiga puluh...

Aduh jantung saya menyusut memikirkan betapa menyedihkannya pemandangan tersebut.

Empat puluh? hampir.

EMPAT PULUH ENAM ORANG DUDUK BERSILA NUNGGU SUMBANGAN. 

Bayangkan kamu jalan kaki masuk gang. Lalu di sisi kiri kamu nih ada 46 orang ibu dan bapak duduk berjajar. Di depan mereka ada baskom kecil warna-warni buat wadah uang. 

Saat kuceritakan ini pada seorang teman, ia tertawa. Apakah aku membayar mereka sekaligus dengan uang lima puluh ribuan dan kembaliannya Rp4000?

Baru kulihat pemandangan pengemis dengan formasi yang terorganisir begitu.

Apa yang harus saya rasakan saat memandang itu semua? Risih, terganggu, sedih, marah? 

Kamu tahu apa yang paling ironis dari itu semua? Saat kubaca pengumuman donasi masjid di papan pengumuman. Jumlahnya mencapai angka...TIGA RATUS JUTA.

Dikemanakan tiga ratus juta, mengapa harus ada pengemis sebegitu banyak dan terkoordinir begitu rapi. Mengapa mereka harus jadi bagian dari sistem wisata ziarah yang seharusnya agung, sakral, dan kudus ini? 

Pemandangan tersebut hanya terjadi saat kliwonan atau tiap hari? begitu tanyaku dalam hati. Kacau sekali. 

Saat berjalan kembali melewati 46 pengemis itu, perasaan gak nyaman mulai memuncak. Inginnya bergegas kembali ke parkiran. Lalu pergi. 

Kami membawa kamera DSLR, tapi kamera itu diam saja dalam tas. Kami pikir saat itu tidaklah bijak memotret dengan kamera model 'serius'. Petugas patroli di mana-mana. Ratusan (atau ribuan tepatnya) orang berjejalan di semua sudut kompleks. 

Terlintas sih keinginan saya untuk kembali ke situs Gunung Jati ini di hari biasa, bukan kliwon. Namun, sepulang dari sana rasanya saya gak mau balik lagi. 

Di parkiran saat kami bersiap pulang, mesin mobil baru menyala dan kami didekati banyak ibu-ibu berperawakan sehat. Kalung di leher. Anting-antingnya menggantung di kedua telinganya. Entah emas betulan atau bohongan. Mereka meminta-minta. Anak-anak seliweran menadahkan tangan meniru orang dewasa di sekitarnya. Pada ngapain? Mengemis juga.

Lalu seorang mas-mas bertubuh tegap mengetok jendela mobil kami. Tahu ia minta apa? uang parkir. Sudahlah kami berdamai dengan situasi saja. Kami cuma orang asing di sana.

Sungguh mengenaskan hal-hal yang gak islami terjadi justru di situs yang seharusnya paling islami. 

Begitulah. Pengen gak pengen balik lagi ke Masjid ini tuh...masjidnya indah, tapi...

Terlepas dari pengalaman tersebut, apakah saya rekomendasikan situs kuno ini untuk dikunjungi? YA TENTU SAJA :)




Oya, karantina covid-19 membuatku menulis catatan lama ini. Penelusuran saya akan masjid-masjid kuno di Cirebon ini sudah lama berlalu. Beberapa masjid pernah saya tulis di blog. Nah sekarang saya tulis satu masjid lainnya yang populer di kalangan peziarah Walisanga, yaitu Sang Saka Ratu.

Saat Harus Keluar Rumah dan Pencegahan Virus Korona

01/05/20
Hai apa kabar, hari ke berapa karantina di rumah akibat virus korona, 48 hari?

Hari ini kuputuskan ikut virtual walking tour di Semarang. Ya, bayangkan saya berdiam diri di Bandung tapi bisa jalan-jalan ke salah satu kota pesisir pantai utara Jawa Tengah? menarik bukan. Pandemi ini membuat hal-hal yang tidak sangka akan terjadi, malah terwujud. Kayak jalan-jalna virtual, misalnya. Hehe.

kami siap jalan-jalan beneran begitu pandemi korona ini udahan! 

Bosan di rumah membuatku ingin traveling ke kota-kota kecil kayak kemarin-kemarin. Namun mana bisa, karantina ini hampir membuatku sedikit gila. Apa kamu juga merasakan hal yang sama?

Saat kupikir saya akan bertahan berada di rumah terus, bahkan berbelanja pun kulakukan via tukang sayur online, ternyata beberapa hari yang lalu takdir mengatakan saya harus setor muka ke...bank. Semakin saya tunda, makin ribet urusannya. Jadi, selain ke minimarket sebelah rumah, saya akhirnya menjebloskan diri ke ruang publik bernama: bank.

Sebelum keluar rumah, kubuka aplikasi Halodoc untuk memastikan beberapa informasi terkait Virus Korona. Begini, dalam kondisi normal, kupikir perlu ada satu app medis di dalam ponsel pintarmu. Apalagi situasi pandemi begini. Apa kamu melakukan hal yang sama denganku, memasang aplikasi Halodoc di smartphone-mu? Jika belum, download dan segeralah install sekarang. Aplikasi ini sangat membantu.



Dengan kondisi tubuhku yang sehat, ketentuan apa yang harus saya lakukan bila ingin berkunjung ke bank di masa-masa pandemi begini. Itulah yang kucari di Halodoc. Lantas saya temukan beberpaa informasi berguna seperti:

1. Menggunakan masker
Dalam artikel yang kubaca di Halodoc, penggunaan masker akan efektif bila dibarengi dengan kebersihan tangan. Oleh karenanya saya mengenakan masker (sesuai standar pencegahan Virus Korona) dan membawa hand sanitazer. Meski di bank disediakan pembersih tangan, saya juga jaga-jaga membawanya sendiri.

2. Social Distancing
Jaga jarak dengan orang-orang sekelilingku. Menyebalkan memang harus menghindari orang dalam jarak tertentu. Akan tetapi, saya belum siap mati. Jadi, yasudahlah.

Dipikir-pikir agak paranoid juga harus berjaga diri menjaga jarak. Semoga pandemi ini segera berlalu. Saya gak bisa berlama-lama harus mencurigai orang yang berdiri di sebelahku, apakah dia terpapar virus korona atau tidak. Argh!

3. Minum suplemen
Saya jarang minum suplemen vitamin tambahan. Makanan yang saya santap di rumah kupikir sudah menyehatkan. Ditambah, saya gak ke mana-mana selain berdiam diri di rumah. Namun, berhubung harus keluar rumah saya putuskan minum suplemen tambahan saja untuk menjaga daya tahan tubuh. Bagian jadi menjaga diri.

4. Survei lokasi tujuan
Saya membaca partikel terkait pencegahan penularan virus korona di Halodoc, disebutkan saya harus menghindari keramaian dan jangan bepergian ke daerah atua wilayah yang terpapar wabah.

Karena itulah saya survei lokasi bank yang tidak berada di zona merah. Agak sulit sih karena banyak bank-bank cabang yang tutup. Tapi syukurlah saya temukan satu bank yang berada di zona hijau. Saya datangi bank di jam pertamanya buka. Kupikir, makin cepat urusan makin baik.

5. Sterilisasi
Beres urusan, sampai di rumah saya sterilkan semua pakaian yang kukenakan. Langsung masuk mesin cuci. Saya bahkan langsung mandi. Barang yang kubawa kusemprot cairan desinfektan. Sebut saja, dompet, uang, smartphone, tas kupakai, sampai sandal! Sebegitunya memang bagaimana lagi.

Artikel-artikel yang saya baca di Halodoc benar-benar menolong di situasi seperti ini. Googling juga membantu kita mencari informasi. Namun, terlalu banyak informasi yang masuk ke kepalamu, mana yang bisa kamu terima? Paling tidak ada satu sumber medis yang terpercaya, cepat, dan ada di genggamanmu, ya itulah aplikasi Halodoc. Bayangkan rumah sakit online, nah kira-kira hampir seperti itulah caranya bekerja.


Dalam aplikasi Halodoc, saya bisa membuat janji temu dengan dokter, bahkan konsultasi online dengan dokter, membeli obat (banyak diskon pula :D), daftar untuk pemeriksaan lab, menggunakan fasilitas asuransi, dan layanan yang berhubungan medis lainnya. Seru ya dunia digital ini bekerja.

Nah. Sekarang saya siap-siap dulu jalan-jalan ke Semarang, via internet tentu saja. Hehe. Sehat-sehat selalu ya, semoga kita diparengi kesehatan yang baik dan tidak terpapar virus korona ya. Amin!