Image Slider

Kelas Zoom FYCOM: Semua Orang Adalah Influencer

August 19, 2020

Annyeong! (udah anak drakor banget nyapanya heheh).

 

Udah ikutan zoom apa aja euy di zamannya korona ini? Bulan lalu saya daftar kelas zoom wirausaha gitu. Abis temanya menarik. Kayaknya bakal kepake di Fish Express, bisnis perikanan yang saya tekuni.

 

Gara-garanya nih, kelas zoom itu narasumbernya pemilik resto Imah Babaturan. Teh Anggi namanya. Kalo tahu ini restoran, seru banget hypenya. Bayangin ada restoran yang tiap minggu ganti menu dan rame aja gitu. Pelanggan loyalnya banyak banget. Menunya makanan sunda sih kebanyakan. Trus kopinya disebut-sebut juara.

 

Lebih banyak tentang Imah Babaturan, kamu browsing aja.

 

Terus narasumber ke dua, pemilik Tiasa namanya Ghea. Semacam 'warung' tapi warung kota gitulah. Makanannya bertema sehat & vegan. Plantbased gitu.

 

Acaranya sendiri diselenggarakan oleh FYCOM. Fina Yudharisman yang bikin. Cek Instagramnya aja, event buatan Fina bagus-bagus menurutku. 

 

 

 

Di kelas zoom yang saya ikuti, dua narasumber beda banget ngurus bisnisnya:

Ghea based on data

Teh Anggi gayanya koboy abis

 

Dibanding Tiasa yang baru mau setahun umurnya, saya nunggu presentasinya Imah Babaturan. Sebab dia udah battle proven. Umur restorannya 5 tahun.

 

Bisnis mah kalo baru sebulan, oke menarik.

Jalan tiga bulan, wah bagus.

Masuk enam bulan, hebat bertahan.

Satu tahun, bravooo!

Dua tahun, aaarrghhh mantap!

Tiga tahun, wah gokil gila!

Empat tahun, kok bisa sih?!

Nah ini Imah Babaturan lima tahun dong.

 

Tapi dua-duanya punya cerita menarik sih.

Saya catat nih poin-poin menarik dr Ghea & The Anggi. Kali aja ada yang sedang merintis usaha & bisa kepake info-info ini. 

 

 

Ghea/Tiasa

  • Gak perlu jual produk yang kreatif banget. Dicari aja target pasarnya siapa. Segmennya gimana. Ada di mana. Tipe orangnya seperti apa. Umur berapa.
  • Gak semua orang akan jadi konsumen kita. Gak apa-apa.
  • Passion bukan kunci berbisnis. Kemauan buat mengetahui seluk beluk produk & siap kejar-kejaran dgn waktu adalah kunci. Kalo cuma sekadar suka, bisnisnya gak akan lama.
  • Belajar buat gak menyerah karena kejadian gak baik
  • Supaya konsisten, coba dipikirin life purposenya apa. Paling gampang pikirin: biaya sekolah anak, tabungan pensiun, melunasi KPR, dan sejenisnya. Mau filosofis juga bisa.

 

Teh Anggi/Imah Babaturan

  • Endorsement artis/selebgram bukan segalanya
  • Produk yang bagus akan dipromosikan sukarela oleh pembelinya. Karena itu, Imah Babaturan percaya kalo:
  • Semua orang adalah influencer, dan
  • Rawat akun media sosialnya (instagram) supaya marketing sukarela dari pembeli bisa kita terusin lagi efeknya
  • Kolaborasi dengan pebisnis lain
  • Produk harus bagus. Dalam hal ini makanan ya wajib enak. "Jangan ditanya ke pembeli, enak gak?, makanan wajib enak dong. Yang ditanya, kurangnya apa?" gituh kata Teh Anggi.
  • Kalo bisa jelasin brand bisnis kamu dalam lima kata tanpa kebingungan, berarti udah paham dengan bisnis sendiri.

 

Begitulah sedikit info-info menarik dr kelasnya FYCOM. Penyegaran banget buat saya mah sesekali ikutan kayak gini.

 

 

Warna Pintu Rumah Tua di Bandung

August 15, 2020

Paling enak jalan-jalan adalah berjalan kaki santai di pusat kota. Bawa sebotol air minum. Pake ranselnya. Siapkan kamera hp dan powerbanknya. Boleh dibawa topinya sekalian.  Jadwalkan pagi hari, lebih pagi lebih baik, untuk mulai berjalan. Bisa juga sore-sore. Supaya suasanya masih segar atau adem. 

 

Kalau di Bandung, biasanya saya jalan-jalan santai begini di daerah Braga, Sudirman, Pasar Baru, dan Asia Afrika. Lumayan sih trotoar nyaman dipijak meski yang gak layak kondisinya pun banyak. Warung dan pertokoan ada banyak. Siapa tahu mendadak perut keroncongan, bisa mengkol dulu buat jajan. 

 

Bila berjalan santai begini, saya akan memotret rumah-rumah tua. Rumah pinggir jalan ataupun rumah dalam gang. Pintu dan jendela rumah antik sangatlah sedap dipandang. Jadi latar foto OOTD juga bisa sih. Heuheu. Tapi saya gak lakukan itu sebab tujuan saya emang koleksi foto pintu tua dan jendela antik. 

 

Kalau berjalan kaki dan berburu foto rumah-rumah tua, ada satu hal yang menarik bagiku. Perhatikan pintu utama rumah dan kotak sekring listriknya. Mengapa? sebab warna mereka senada. 

 

 

Rumah lama yang arsitektur bangunannya masih bergaya ala tahun 40-50an, memiliki satu kotak kecil infrastruktur listrik yang berada di dekat pintu masuk. Nah pintu masuk, jendela depan, dan kotak sekring listrik ini warnanya sama. 

 

Iya saya tahu pemandangan tersebut bukan hal istimewa. Namun bukannya hal-hal kecil begini menyenangkan untuk dilihat ya. 

 

Menurut beberapa orang temanku, bukan sengaja pintu rumah dan pintu kotak listrik warnanya sama. Tapi waktu proses pengecatan, ada sisa cat yang sayang bila dibuang atau disimpan.  

 

Meskipun gak sengaja, kelihatannya kayak disengajakan. Warnanya jadi estetis. Enak dilihat. Ada yang warnanya hijau, biru, krem, merah, macam-macam. Warna kalem sampai warna mencolok. Entahlah ada cerita psikologi warna apa di baliknya. Yang pasti warnanya dipilih berdasarkan selera pemiliknya. Iya gak? :D 

 

 

Berdasarkan artikel yang saya baca-baca di web Halodoc, warna adalah medium. Semacam pesan yang ingin diperlihatkan pada pemakainya. Kayak warna merah yang menunjukan arti kuat, percaya diri, dan berani. Warna abu-abu artinya kuat dan stabil. Ada juga warna biru yang diasosiakan dengan kesetiaan dan ketenangan. Hijau diartikan sebagai kesejukan. Ada yang mempercayainya sebagai warna keberuntungan. 

 

Gak heran, kata Halodoc, warna bisa jadi alat untuk terapi. Selama menyusuri jalanan dan rumah-rumah tua dengan berjalan kaki, saya pikir ini hobi semata. Namun kalau diperhatikan saya berolahraga juga. Jalan kaki satu jam atau anggap aja 3000 langkah efeknya bagus kan buat tubuh. Belum lagi merhatiin warna-warna pintu dan jendela rumah tua. Lumayan kayak sambil menyelam dapat ikan. Hahaha. Kaki sehat, jiwa bahagia. 

 

Ah iya, Halodoc sendiri adalah aplikasi kesehatan yang memudahkan urusan medis saat kita membutuhkannya. Layanan Halodoc terpercaya dan lengkap. Install aja appnya, sign up, dan jelajahi fitur kesehatan yang ada didalamnya. Mulai dari urusan beli obat, tanya ke dokter, cari dokter yang tepat, dan cek kunjungan ke rumah sakit. 

 

Oke kembali ke rumah tua. 


Umumnya nih rumah-rumah lama yang saya temukan begini ada di daerah Pecinan. Membujur dari Sudirman ke arah Andir. Melebar ke Pasar Baru dan sekitarnya. Bila kalian jalan-jalan ke arah Bandung Utara, di sana banyak peninggalan rumah ala kolonial. Jika ambil arah selatan, banyaknya rumah-rumah masa kini. Nah di tengah-tengah utara dan selatan itulah daerah Pecinannya berada. Suasana dan rumah-rumahnya masih kerasa aura tempo dulu walaupun digempur perubahan. 

 


Agak susah nemu pemandangan begini kalau kita hanya diam di dalam kendaraan. Paling saya rekomendasikan berjalan kaki. Kalau jalan kaki, kita bisa atur tempo kecepatan bahkan berhenti sejenak. Lantas kita bisa melihat dari dekat, menyentuhnya bila properti tidak berpagar atau diizinkan pemiliknya.

 

Nah, protokol kesehatannya udah oke kan? Dipake maskernya, bawa hand sanitazernya, sekalian wadah perbekalan. 

 

Udah siap cuci-cuci mata dengan berjalan kaki? pagi-pagi ya kita ketemu di Asia Afrika di depan museum!

 

Membaca Wanadri

August 03, 2020
Baru saya ketahui, beberapa orang tua mendaftarkan anaknya ke Pendidikan Dasar Wanadri karena anak-anaknya bermasalah dan gagal dididik di pesantren 😅⁣ ⁣ 

"Daripada kamu terkapar di jalanan, kami lebih bangga kamu mati sebagai Wanadri" gitu kata Ayahnya Rara di halaman 81. ⁣ ⁣ 



Buku berjudul Setitik Cahaya di Kegelapan isinya tentang sekumpulan cerita pendek anggota Wanadri. Ceritanya seputar Pendidikan Dasar Wanadri (PDW). Namun ada juga kisah lainnya tentang pertemanan, kenekadan, ketangguhan. Ada cerita yang lucu, sedih, mengharukan, aneh, macam-macamlah. ⁣Juru tulis buku bernama Nondi F. Pertama kali bukunya terbit tahun 2014. ⁣ 

Ada satu cerita berjudul Negosiasi Dengan Jin. Ceritanya Wanadri menggelar lomba Citarum Rally I. Mengingat acara serupa di tahun sebelumnya memakan korban jiwa, agar acaranya lancar berbagai antisipasi dilakukan. Termasuk negosiasi dengan makhluk gaib penghuni sungai. ⁣ 

Dibantu kuncen, hasil negonya begini: 

Makhluk gaib: (1) penyelenggara harus luruskan niat, jangan sombong mau nantang alam, jangan sok jagoan, jangan anggap enteng (2) minta tumbal tiga orang korban. 

Wanadri: (1) jangan ada korban meninggal (2) kalo ada korban, korbannya anggota wanadri aja. ⁣ Melalui kuncen, makhluk gaib bertanya. Emang apa ciri-ciri Wanadri? ⁣ ⁣ 

"Mereka memakai syal oranye," kata Iwan Bungsu, ketua panitia. Bungsu menyanggupi tumbal tiga orang, tapi dia nego jangan meninggal dan harus anggota wanadri aja yang katempuhan. Jangan korbannya warga sekitar atau peserta umum. Si makhluk gaib sepakat 😂⁣ ⁣ 

Korban pertama, terjungkal dari perahu saat mencoba arus. Korban kedua jatuh dari tebing. "Siapa gerangan korban ketiga?" bisik Bungsu dalam hati. ⁣ H-1 acara, Bungsu tertabrak mobil. Masuk rumah sakit. Kaki luka parah. Nah itulah dia korban ketiga. ⁣ ⁣ 

Citarum Rally I di tahun 1977 itu sukses dan lancar. Itulah acara yang menandai bangkitnya olahraga arung jeram di Indonesia. ⁣Bukunya bisa dibeli di Shopee dan Bukalapak.