Image Slider

Sate Kelinci di Lembang, Tega Gak Makannya?

October 22, 2019
Kalo ke Lembang, gak jauh-jauh wisatanya dari wisata alam. Berderet-deret hotel di Lembang, tamu hotelnya mesti perginya ke tempat yang itu lagi itu lagi. Memang pesona Lembang ini ya kuat banget. Gak pernah kehabisan turis. Selalu ramai. Selalu macet. Hehe.

Nah, di antara Farmhouse dan The Lodge Maribaya, pernah gak benar-benar merhatiin kuliner di Lembang apa aja?

Tahu? Susu? Ada lagi kuliner lainnya yang akan saya rekomendasikan. Salah satunya mungkin bikin kamu agak…ngilu? Hahaha ayok ah gak usah lama-lama.

Kuliner di Lembang yang asoy, nih daftarnya.


Ketan Bakar, Hangat dan Nikmat

Awal mula saya lihat ketan bakar, ya di Lembang. Sekarang pedagang ketan bakar bisa kamu temui sampai di sekitar museum Asia Afrika. Namun, menurut saya sih lembang asal muasal makanan ini.

Bentuknya persegi panjang. Ketan sudah matang. Akan tetapi baru melewati proses kukus saja. Jika ada yang memesan, barulah ketan dibakar. Gak lama sih, biasanya yang penting permukaannya kecoklatan saja. Pas disantap, kres-kres gitu. Bagian dalamnya masih empuk dan basah.




Ketannya dimakan dengan saos sambal kacang atau oncom dan serundeng. Rasanya gurih pedas. Pastilah terasa hangat dua kali. Oleh ketan yang baru kena api dan cabe dari sambalnya.

Nikmat gak? Nikmat banget! Waktu terbaik untuk menikmati ketan bakar adalah pagi-pagi dan malam. Cocok bener dengan hawa Lembang yang super dingin di waktu-waktu kayak gitu.

Pedagang ketan bakar bisa kamu temui di sepanjang Jalan Raya Lembang. Berjejer tuh banyak bener. Tinggal pilih aja mau yang mana. Semua kios sama saja harganya pun rasanya.

Sebab kalo siang sih cocoknya makan ini nih…


Sate Kelinci! Lezat dan Unik!

Udah ngilu-ngilu belum? Hahaha. Kelinci tuh makhluk imut banget sih ya, jadi kesannya kayak jahat banget makan daging kelinci.

Namun kalian tahu kan kalo kelinci ini kerjaannya beranak melulu. Maksudnya, dunia gak akan kekurangan kelinci karena kita makan sate kelinci bukan? :D




Di mana sate kelinci terbaik di Lembang? Ada dua, Sate Sapri di seberang Farmhouse dan sate kelici di Tahu Tauhid. Sate kelinci di Tahu Tauhid lah yang saya rekomendasikan. 

Aneh ya namanya ketahu-tahuan tapi jualannya sate kelinci. Gak juga. Jadi gini, Sate Tauhid itu semacam foodcourt. Dahulu cuma jualan Tahu. Lantas tempatnya makin ramai, dan bertambahlah aneka macam makanan tambahan. Salah satunya sate kelinci.

Di sini ukuran daging satenya kecil-kecil sih, gak kayak sate normal pada umumnya. Terus teksturnya lebih kenyal daripada daging sapi atau ayam. Mirip jando sih, lemak daging. Empuk gak? Yang terempuk yang adanya di Tahu Tauhid ini.

Bumbu satenya juga juara sih. Gurih dan sedikit manis. Gak sekental dan semanis sate ayam/sapi. Namun cukuplah untuk menutup hawa amis daging kelinci.

Tahu Tauhid ada di Jl Kayu Ambon persis di depan seberang D’Ranch. Bukanya sejak pagi-pagi pukul enam.

Btw, info tambahan. Selain sate kelinci, di sini kamu beli Tahu dan Bandrosnya ya. Jaminan mutu. 

Dua kuliner aja yang saya rekomendasikan. Sekarang bila ke Lembang, pergilah cari ketan bakar dan sate kelinci yak!

Menginap di mana di Lembang?

Eh, kalo hotel gimana, kalian udah tahu mau menginap di mana? Hotel mahal ada banyak. Penginapan murah di Lembang pun lebih banyak lagi.

Hotel di Lembang rekomendasi saya, boleh dicatat nih. Saya kasih lihat hotel yang letaknya di jantung kota Lembang ya. Secara Lembang luas banget. Saya cuma kasih rekomendasi hotel yang gak jauh dari Jalan Raya Lembang.



hotel sandalwood
Apa saja?
  • Hotel Grand Lembang. Hotel klasik, ada sejak zaman kolonial.
  • Hotel Sandalwood. Hotel dengan interior ala instagram. Tiap pojok adalah latar untuk berfoto.
  • Hotel Pesona Bambu. Cocok kalo budget penginapan kamu gak besar-besar amat. Ini medium lah harga permalamnya.
Lantas gimana caranya supaya bisa jalan-jalan di Lembang dan menginap di hotel dengan harga yang bersahabat? Ini nih saya kasih tipnya.
  • Nabung. Hahaha. Becanda. Eh tapi kamu nabung dulu kan sebelum jalan-jalan?
  • Survey sejak jauh hari. Kita sedang bicarakan Lembang. Daerah yang gak pernah sepi turis. Mulainya skroling hotel-hotel di Lembang. Pilih yang bentuk penginapannya cocok dengan seleramu.
  • Buka akun Pegipegi dan puas-puasin deh riset hotel di sana. Saya rekomendasiin Pegipegi karena gini deh, saya bahas agak panjang ya. 

Kenapa Memesan Hotel di Pegipegi



  1. Banyak promo di Pegipegi. Abis itu ada fitur Harga Spesial. Dan fitur diskon dari Kartu Debit dan Kredit. Pinter-pinter deh riset harga promo. Karena saya temukan, mereka yang cermat membaca adalah mereka yang menang banyak! Hehe.
  2. Ikut kumpulin PepePoin sebagai potongan harga. Tiap kali abis transaksi pemesanan hotel, kamu akan dapat poin.
  3. Daftar dulu jadi member di Pegipegi untuk dapatkan harga promo yang…beda! Iya lho beneran. Bedan dan lebih banyak. Udah pada install app Pegipegi kan?
  4. Proses pemesanan yang gak ribet. Cari yang mudah dan reliable aja kayak Pegipegi.
  5. Proses pembayaran di Pegipegi pun mudah banget! Sok mau bayar pake apa ada semua fiturnya. Mbanking, bayar di minimarket, transfer. Ada semua.
  6. Terus ceritanya gak jadi nginep nih. Mau refund. Bisa kok gak akan dipersulit pokoknya. Hehe.
cek harga promonya Pegipegi dan dapatkan harga terbaik termurah dan terseru!  


Begitulah kira-kira sedikit rekomendasi kuliner dan hotel di Lembang. Selamat berlibur ya! Jangan lupa pesan kamar hotelnya di Pegipegi dan jajan sate kelincinya di Tahu Tauhid!

Berkunjung ke Perkebunan Indonesia Berdaya Dompet Dhuafa di Subang

October 20, 2019
Mau ikutan memantau perkebunan buah nanas dan buah naga gak? Di Subang lokasinya. Yuk! 

Kita gak pergi sendiri. Dompet Dhuafa menemani, karena merekalah yang mengajak saya ikut serta. Tujuan kita berada kira-kira tiga jam dari Bandung. Masuk ke pedalaman Subang. Masuk ke areal perbukitan. Melewati hutan dan lembah. Jalanan mulus dan bertanah-tanah. 





Perkebunan yang kita tuju namanya Kebun Indonesia Berdaya Terpadu. Di Desa Cirangkong Kecamatan Cijambe. Kita akan lihat bagaimana wakaf membuahkan aset produktif, aset yang berkelanjutan.

Tunggu dulu. Perkebunan? Wakaf?

Baru saya tahu ada wakaf dalam bentuk aset keberlanjutan begini. Wakaf produktif istilahnya. Biasanya kan wakaf tuh makam, masjid, dan madrasah. 3-M itu aja muter-muternya.

Eh, teman-teman tahu kan wakaf itu apa?



Perjalanan dari Bandung

Mobil yang kami tumpangi tidak sulit menempuh akses ke sana. Saya kira, kendaraan apa saja sanggup menuju perkebunannya, kecuali sedan dan mobil-mobil citycar yang pendek-pendek posturnya.

Di areal perkebunan. Hawanya panas agak mengigit, terasa segar karena angin berhamburan pelan. Sekeliling kami hamparan nanas dan buah naga. Di sela-selanya ada saung dan beberapa bungalow.

Di saung itulah saya menggelosor dan makan sate nanas yang segar! Juga menyesap jus nanas yang nikmat.

Bila kamu warga perkotaan ingin mencari lokasi yang hening, damai dan lamban, inilah dia tempatnya.


Dompet Dhuafa X Blogget Meet Up

Dompet Dhuafa mengajak blogger berkunjung ke perkebunan. Namun sebelum sesi berkeliling itu tiba, kami berkumpul dan berbincang bersama. Ada tiga orang pembicara di hadapan kami. 

Kamaludin, manajer bidang ekonomi Dompet Dhuafa.
Boby P Manulang, General Manager Wakaf Dompet Dhuafa.
Eman, petani lokal dan pengurus koperasi Indonesia Berdaya. 

Tahun 2014 Dompet Dhuafa merintis perkebunan tanah wakaf. Mulanya 2 hektar. Yang berwakaf tambah banyak, kini ada 10 hektar luasnya. Kebon nanas dan kebon buah naga itu pengelolaannya melibatkan warga sekitar. Ditambah peternakan kambing, warga yang terlibat makin banyak.

Dompet Dhuafa bilang, agak sulit ajak orang berwakaf ke aset-aset produktif seperti perkebunan begini. “Paling gampang tuh kumpulin wakaf buat masjid  tapi masa bikin masjid mulu,” ujar Boby Pamulang.

Oleh karenanya, di tahun 2016 mereka ganti strategi kampanye wakaf dengan membuat Wake Up Wakaf. Bagaimana cara?
  1. Bikin program @tabung_wakaf 
  2. Kampanye Wake Up Wakaf dengan berwakaf Rp10.000 di www.donasi.tabungwakaf.com. Ya, kamu gak salah baca. SEPULUH RIBU RUPIAH.
Kampanye wakaf Rp10.000 ini ide brilian, menurut saya. Mengejar unit besar (baca: wakaf jutaaan, milyaran, dari satu orang) bukan perkara mudah. Kita harus tunggu orang kaya raya dulu. Seolah-olah wakaf adalah barang mahal.

Memang mahal, kalau sendirian. Sekarang kan zamannya kolaborasi. Karenanya muncul ide wakaf Rp10.000.

Apakah cara tersebut berhasil?

Manajer Wakaf Dompet Dhuafa, Boby Manulang, cerita begini. "Transaksi wakaf Rp10.000 di tahun 2018 tercatat 4500. Tahun 2019, angkanya naik jadi 8900."

Jika ada yang bertanya, bisa apa dengan wakaf sepuluh ribu perak? Bisa jadi kebon-kebon produktif! Gokil gak tuh.

Lebih jauh lagi, bila ada yang ingin berwakaf dalam jumlah besar di perkebunan, Dompet Dhuafa menyediakan lahan garapan wakaf produktif 1 kavling sebesar Rp125.000.000.


Keliling Perkebunan Indonesia Berdaya

Dari total 10 hektar lahan garapan, lahan  produktifnya baru 5 hektar. Perkebunan ini berhasil memanen buah nanas 100kg/hari dan buah naga 2-3/ton per 3 bulan. 

"Masih jauh dari kebutuhan yang diminta industri," begitu kata Kamaludin, manajer program ekonomi Dompet Dhuafa. Ada 60 ton permintaan nanas pertahun. Itulah yang ingin dikejar Dompet Dhuafa. 

Berdasarkan target itulah saat ini Dompet Dhuafa segera merampungkan Rumah Industri Pengolahan Nanas. Nantinya semua penampungan, pengolahan, pengepakan, dan pengiriman adanya di bangunan tersebut. “Bangunannya baru 80% jadi, akhir tahun atau Januari 2020 sudah bisa digunakan.”

Lantas timbul pertanyaan. Mengapa nanas? Mengapa buah naga?

Potensi buah nanas sangatlah tinggi. Permintaan industri bahkan belum semuanya terpenuhi. Lahannya cocok. Kenapa harus mulai dari nol dengan menggarap sumber daya yang lain? Begitu kata Kamaludin.

Ia menambahkan “ada 60 ton kebutuhan nanas per tahun yang ingin kami penuhi. Oleh karenanya kami menargetkan lahan garapan hingga 22 hektar. Bila Rumah Industri Pengolahan Nanas sudah jadi, kami akan bekerja sama dengan banyak petani dari 12 desa di sini.”

Dompet Dhuafa melibatkan warga lokal sebagai penggarap dengan sistem pembayaran yang adil. Melalui program berdaya, tujuan akhirnya petani keluar dari garis kemiskinan. Tidak lagi tercekik rentenir. 

Pak Eman, warga setempat yang juga petani dan bagian dari Koperasi Indonesia Berdaya mengatakan sangat terbantu setelah ikut dalam pengolahan perkebunan Indonesia Berdaya. “Apalagi permodalan, saya kebantu pisan,” Pak Eman tidak lagi memusingkan harus beli bibit di mana sebab Dompet Dhuafa sudah menyediakan bibitnya.

Demikian hasil jalan-jalan di perkebunan nanas hasil wakaf produktif. Kami pulang membawa buah nanas dan pengetahuan baru. Bahwa bisa kok wakaf dengan uang sepuluh ribu perak. 

Berada di sana dan mengetahui program wakaf produktif ini, saya kira masih ada asa di pundak-pundak petani Subang.

Asa yang kita mulai dengan wakaf Rp10.000. Yuk ikut berwakaf di donasi.tabunganwakaf.com! 


Yak sampai di Perkebunan Indonesia Berdaya Dompet Dhuafa
Buah Naga yang panennya November nanti
Sesi sharing Dompet Dhuafa
Pak Eman - Boby P Manulang - Kamaludin
Mulai berkeliling perkebunan
Hamparan tanaman nanas
dan pohon buah naga yang bagi saya rupanya mirip alien :D
wakaf peternakan menampung kambing 500 ekor

Rumah Industri Pengolahan Nanas, januari nanti bangunannya  rampung 
Pulang ke rumah bawa nanas


Rumah Rajeg Ijo

October 19, 2019
Saya gak pernah merasa perlu moto rumah ini. Sampai saya ada di sana, di hari pemakaman nenek saya. Saat itu saya pikir, bagaimana nasib rumah ini setelah Emak (panggilanku pada nenekku) wafat. Inilah dia, Rumah Rajeg Ijo.

Saya memotonya di hari yang sama, setelah nenek saya dimakamkan. Agak menyesal mengapa tidak memotret sudut-sudut rumah lebih banyak. Namun yah, beginilah.




Ini dia Rumah Rajeg Ijo, yang dahulu tegelnya warna kuning ukuran 20x20cm.

Lima tahun pertama dalam hidup saya, tinggalnya di rumah rajeg ijo. Dikasih nama demikian karena ragejnya emang ijo.

Dalam bahasa jawa panturanya jawa barat, rajeg artinya pagar. Ijo tahu kan artinya apa? hijau. Rumah dengan pagar berwarna hijau.

Itu rumah bukan hanya kami sebagai keluarga yang menamainya demikian. Namun, para tetangga dan siapa sajalah yang lewat depan rumah, menjuluki rumah kami begitu.

Rumah tersebut, menurut cerita paman saya, dibangun tahun 50. Saya kira, itulah rumah terbaik yang pernah saya diami. Nomor dua, setelah rumah orang tua saya di gang dua selatan. Rumah orang tua saya modern, dibangun tahun 1990.

Rumah rajeg ijo ini legendaris.

Desain rumahnya klasik. Bukan rumah kolonial, tapi rumah ala-ala yang desainnya transisi gitu kali ya. DIsebut jengki, bukan. Gaya kolonial juga bukan. Di jendela kamar depan, bagian luarnya ada kanopi melengkung. Cantik banget deh kalo dipandang.

Jendela rumah terdiri dua lapis. Jendela luar dari kayu berbuku-buku. Jendela dalam kayu juga tapi setengah bagian atas ada kaca patri. Belum tirainya nih. Belum lagi teralisnya. Banyak amat ya jendela doang. Hahaha.



Jadi gini filosofi jendelanya.

Tirainya hanya setengah tinggi jendela. Kalo mau privasi rapat, tutup semua jenedelanya (ini kalo malam).
Kalo pengen menyepi di siang hari, buka jendela luar, tutup jendela kaca patri.
Bila kepanasan tapi gak pengen terlalu terbuka privasinya, buka semua jendela tapi tirai dibentangkan. Angin masuk masuk semliwir. Kamunya terserah mau ngapain. Hehehe.

Seru ya jendela doang tapi dirancang sedemikian intim dengan penghuni rumahnya.

Saya sudah cerita terasnya belum? Aduh cakep nian teras rumah rajeg ijo ini. Dulu, sebelum direnovasi.

Di teras ada yang namanya Buk. Semacam tempat duduk yang terhubung dengan bangun terasnya. Gak perlu kursi. Cukup nangkring di Buk aja kalo mau nongkrong. Duduknya menghadap jalan (rumah rajeg ijo di pinggir jalan raya besar) atau menghadap rumah. Emak naro kursi tambahan buat Midang, istilah lokal buat 'nongkrong santai di depan rumah'.

Kalo panen buah mangga, midangnya sambil ngupas-ngupas mangga. Petik, kupas, makan. Sekalinya panen mangga bisa berkarung-karung. Waktu terbaik untuk memetik mangga? Pas adzan magrib. Karena pas magrib, semut-semut merah yang ganas pada masuk ke batang pepohonan. Jadi aman metiknya gak digigiti semut.

Nongkrong di teras rumah biasanya sore hari. Saat kegiatan intensitasnya turun. Ayah saya kalo pulang kerja nih, cuma pake sarung, gak pake baju, nyiram-nyiramin tanaman. Di sana, biasa banget cowok-cowok gak pake baju alias telanjang dada. Bau ketek? apa itu bau ketek! Haha.

Karena dari gerbang ke pintu rumah ada halaman yang rada luas, jadi midang tuh gak terganggu suasana jalanan sih.

Di halaman itu dulu banyak tanaman berbunga-bunga kemarau, namanya juga daerah pesisir. Walo begitu, bunganya cantik-cantik amat. Ada pohon kertas bougenvile. Satu lagi bunga merah muda. Lupa namanya. Juga bunga-bunga yang bentuknya kayak ulet warna merah.

Oke, kita pindah ke dalam.

Seingat saya, perabotan di rumah rajeg ijo sangatlah klasik. Bahkan sebelum emak wafat, perabotannya masih apik terjaga semua.

Ciri khas perabotan di rumah keluarga kami adalah: sebuah kursi santai. Bentuknya panjang, sehingga saat duduk di situ, kita juga bisa tiduran. Terbuat dari rotan. Sisi kanan dan kiri ada kayu yang digeser-geser. Secara mekanik ia akan menambah rangka untuk menopang kaki kita. Duduk di kursi tersebut sambil melamun, nikmat sekali. Biasanya itu kursi dipake ayah saya untuk istirahat yang bukan tidur.

Dari tiga kamar, ada dua kamar yang tiap ranjangnya masih besi berkelambu. Terakhir kali saya tidur menginap di rumah ini di tahun 2015. Kami tidur di kamar depan. Saya gak tahu itu malam terakhir (yaiyalah!) saya melihat langsung wajah emak. Setahun setelah malam itu, emak wafat.

Saya ingat malam itu saya gak bisa tidur. Satu: takut. Hahaha sudahlah akui saja itu rumah tua yang dihuni nenek-nenek toh!

Kedua: sejarah saya berada di rumah itu seliweran. Saya kangen almarhum ayah. Saya ingat siang-siang di dapur saya membakar paha saya sendiri akibat bermain-main bakar bungkus indomi. Bungkusnya jatoh ke paha. Saya masih kelas 1 SD. Waktu main bakar-bakaran, cuma pake kaos dalem & kolor. Kebakar langsung deh pahanya. LOL. Bodoh. Juga saya ingat ibu mengurung saya di gudang paren yang gelap dan luas. Dikerem istilahnya. Sewaktu kecil, ibu sering melakukan kerem mengerem pada saya. Ngeri sekali. Mungkin saya terlampau nakal baginya. Entahlah. Sedih sih yang pasti. Terbayang-bayang juga saya sedang menangis jerit-jerit minta dibelikan buku tulis warna warni pada ayah. Dia gak mau belikan, lantas pergi, menutup pintu. Saya selonjoran, nangis sampe capek. Hehe.

Rumah rajeg ijo memanjang bentuknya. Kayak bentuk manusia aja dari ujung kepala sampe ujung kaki, semua ada urutannya.

Halaman depan
Halaman samping
Halaman belakang
Teras
Ruang tamu
Kamar tidur
Ruang keluarga
Ruang makan
Tempat sholat
Gudang
Dapur bersih
Dapur kotor
Sumur
Kamar mandi

Nenek saya pengusaha paren. Dulu saya mikir buat apa rumah lahannya luas amat. Ternyata untuk menjemur paren dan naro karung-karung gemuk isinya paren. Waktu kecil saya seneng guling-guling di atas karung. Ekstrimnya ya awur-awurin paren. Terus dimarahin. Terus gatal sebadan-badan. Heuuu.

Kakek saya? Pedagang bako. Tapi gak jelas ceritanya gimana.

Rumah itulah cikal bakal darah pantura saya. Rumah di daerah berhawa panas namun di rumah terasa adem saja. Rumah yang membentuk logat saya. 17 tahun tinggal di Bandung, logat sunda saya masih hancur. Logat jawa? gak diakui warga Karangampel. Kurang medhok katanya. Haha.

Setengah jawa setengah sunda, yang saya rasakan saya bukan keduanya. Saya orang Karangampel.










Aduh. Cirambay deh jadinya.

Parts of me were made by you, you're gonna live forever in me, kata saya minjem kalimatnya John Mayer kepada Rumah Rajeg Ijo.

Halah. Jare wong karangampel! Dika selawase ana ning ati kula...



Note: terima kasih Hernadi Tanzil yang membuat saya kepikiran bikin tulisan ini.

Selain Minum Jus Seledri, Sayuran Tinggi Serat Ini Juga Bisa Dibuat Camilan

October 17, 2019
Seperti yang kita tahu bahwa sayur seledri merupakan salah satu bahan pelengkap yang bisa membuat olahan makanan menjadi lezat dan wangi. Tidak hanya melezatkan, daun seledri ternyata bermanfaat untuk kesehatan tubuh loh. Hanya dengan minum jus seledri setiap hari atau dengan langsung memakannya, Anda sudah bisa merasakan manfaat yang luar biasa.

Namun, jika belum pernah mengolah daun seledri untuk kesehatan, tips mengolah daun seledri berikut ini mungkin bisa Anda praktekkan di rumah.




Cara Mengolah Daun Seledri Menjadi Camilan Sehat

1. Dibuat Jus



Pertama, Anda bisa mengolahnya dengan cara dibuat jus segar. Untuk membuat jus seledri sangat mudah, cukup cuci satu ikat seledri, potong kecil-kecil, masukan ke dalam blender, dan tambahkan sedikit air. Saring jus seledri, dan sudah bisa Anda minum.
Namun, jika Anda kurang suka dengan rasa dan baunya, Anda bisa tambahkan bahan lain sebagai penambah rasa. Anda bisa tambahkan bahan lain seperti perasan jeruk lemon, buah pir, atau buah-buahan lainnya dan madu. Setelah itu, Anda juga bisa tambahkan es batu atau soda agar rasanya semakin segar dan nikmat.


2. Dibuat stick, dan dimakan langsung



Cara mengolah daun seledri untuk kesehatan yang kedua adalah dengan memakannya langsung. Tidak hanya di jus, daun seledri juga bisa dijadikan sebagai camilan sehat. Caranya, ambil beberapa batang seledri, cuci bersih, potong-potong menjadi stick, lalu Anda bisa memakannya langsung atau boleh ditambahkan toping seperti selai kacang, mayonaise, atau madu.

Nah, jika Anda belum tahu, manfaat apa saja sih yang ada di dalam daun seledri. Yuk intip beragam manfaatnya untuk kesehatan tubuh kita. Memang belum banyak yang tahu bahkan tak sedikit yang tidak suka dengan rasa dan aroma daun seledri, namun tanaman yang satu ini memiliki banyak kandungan yang baik untuk tubuh.

Kandungan yang Terdapat dalam Daun Seledri

Daun seledri diketahui kaya akan vitamin A, K, dan C, asam folat, serat makanan, zat besi, kalsium, potassium, air, dan masih banyak lagi. Saking banyaknya kandungan baik, daun seledri pun ampuh digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, mulai dari menurunkan berat badan, peradangan, bahkan hingga kanker.

Dihimpun dari berbagai sumber, banyak para peneliti yang menyarankan untuk mengonsumsi atau minum jus seledri agar Anda bisa merasakan manfaatnya langsung dari sayuran yang satu ini. Disebut-sebut, seledri juga bisa membuang racun, patogen mati seperti virus dan bakteri, neurotoksin dan zat-zat negatif dalam tubuh lainnya.

Bahkan, kegiatan minum jus seledri kini menjadi tren karena banyak yang membuat tantangan atau "challenge" meminum jus seledri. Bagi yang belum tahu kalau seledri mempunyai banyak manfaat, pasti akan menolak tantangan ini ya. Apa termasuk Anda?

Namun, ternyata tidak sedikit yang ikut berpartisipasi untuk mengikuti tantangan ini. Bahkan, mereka berbagi cerita tentang kondisi tubuh mereka sebelum dan setelah rutin meminum jus seledri selama 5 hari berturut-turut. Jika Anda ingin melihat partisipasi mereka, Anda bisa cek lewat hashtag #celeryjuice dan #celeryjuicebenefits di Instagram.

Banyak dari mereka yang merasa puas dan merasakan perubahan dalam diri mereka setelah minum jus seledri. Mulai dari persoalan tekstur kulit hingga berat badan. Sehingga, minum jus seledri kini bukan hanya sekadar tantangan, tetapi sudah menjadi gaya hidup sehat yang banyak dipakai berbagai penggiat kebugaran dunia.

Jika Anda ingin tahu, spesifikasi manfaat dari minum jus seledri rutin setiap hari, Anda bisa baca artikel selengkapnya, di link berikut ini: https://www.cekaja.com/info/tantangan-minum-jus-seledri-berani-coba/



Mau Memulai Bisnis Food Truck? Ketahui Dulu Tantangan Yang Akan Dihadapi

Sesuai dengan namanya, food truck merupakan suatu inovasi bisnis baru dengan konsep truk makanan berjalan. Berbeda dengan restoran dan cafe yang telah memiliki lokasi tetap, pelaku bisnis food truck tidak berdiam di satu tempat saja, melainkan berjalan-jalan sambil mencari para calon pelanggan. Di Jakarta itu sendiri, bisnis food truck masih tergolong jarang dan asing. Sulitnya mencari lokasi yang murah, strategis dan legal membuat food truck belum banyak terlihat di jalanan Jakarta.

Dikarenakan belum banyak pelaku bisnis yang tertarik, bisnis food truck memiliki peluang usaha yang masih terbuka lebar bagi siapapun. Bagi kamu yang masih bingung menentukan konsep unik dalam usaha kuliner yang tengah kamu bangun, bisnis food truck bisa dijadikan sebagai solusi. Modal yang diperlukan pun tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan bisnis kuliner biasa yang perlu mengeluarkan modal untuk biaya sewa dan pembangunan.

Namun, seperti bisnis-bisnis lainnya, bisnis food truck pun juga memiliki tantangannya tersendiri. Penasaran?




Tantangan Bisnis Food Truck

1. Sulit Mendapatkan Pelanggan
Untuk di cafe dan restoran, biasanya para konsumen akan datang mengunjungi restoran tersebut lagi jika mereka merasa cocok dengan menu atau suasana yang ditawarkan. Berbeda dengan food truck yang memiliki konsep 'berjalan' membuat pelaku bisnis ini cenderung sulit untuk mendapatkan pelanggan tetap. Ditambah lagi bahwa loyalitas pelanggan merupakan salah satu aspek terpenting agar suatu bisnis dapat berkembang dengan pesat.

Namun, tentu saja hal tersebut dapat diatasi dengan strategi marketing yang kuat. Hampir seluruh masyarakat Indonesia sudah memiliki media sosial. Manfaatkanlah kekuatan dari media sosial sebagai instrumen mu untuk berpromosi.

2. Masih Cenderung Musiman
Dikarenakan masih sulitnya menemukan lokasi yang strategis dan legal, khususnya di Jakarta, membuat banyak pelaku bisnis food truck lebih memilih untuk mengikuti event atau acara-acara besar dalam meraup keuntungan, seperti konser musik, pameran atau car free day, sehingga food truck itu sendiri masih cenderung musiman.

3. Dituntut untuk Menjadi Unik
Pada dasarnya seluruh golongan bisnis memang memerlukan para pelakunya untuk menjadi unik dan kreatif. Hal tersebut agar bisnis yang diciptakan memiliki ciri khas yang mampu menarik perhatian para calon pelanggan. Prinsip tersebut pun juga berlaku bagi pelaku bisnis food truck. Walaupun cita rasa di sebuah bisnis kuliner sangatlah penting, merencanakan konsep yang unik juga merupakan hal yang penting. Apalagi bisnis food truck yang pastinya memiliki pelanggan yang berbeda-beda dikarenakan konsepnya sebagai 'restoran berjalan'. Disamping itu, bentuk dari mobil atau truk yang digunakan pun harus mendukung.

4. Perizinan yang Sulit
Bisnis food truck tidak memiliki lokasi tetap dan hanya mengandalkan mobil, sehingga mengurus perizinan pun akan cenderung sulit. Bila restoran biasa hanya memerlukan perizinan dari dinas pariwisata dan dinas kesehatan saja, maka untuk bisnis food truck harus memiliki izin dari dinas pariwisata, dinas kesehatan dan dinas perhubungan terkait dengan lahan parkir.

Setiap bisnis pasti memiliki tantangan yang berbeda-beda, tergantung dari jenis bisnis yang dilakukan. Walau begitu, janganlah jadikan tantangan tersebut sebagai kendala mu dalam memulai bisnis. Bukan hanya bisnis saja, di dalam hidup yang kita jalani ini bahkan selalu terdapat tantangan-tantangan yang perlu dihadapi. Tanpa tantangan, maka kita tidak akan belajar dan berkembang.

Apakah kamu tertarik untuk memulai bisnis food truck dan ingin mengetahui tips & trick sukses menjalani bisnis food truck? Baca dulu di https://www.cekaja.com/info/sukses-bisnis-food-truck/ dan raih kesuksesan mu.

Pernah Jatuh Cinta di Yogyakarta

October 16, 2019
Jam makan siang lima tahun yang lalu. Di Kotabaru kamu ajak aku menyantap seporsi bakso malang. “Kita sedang di Jogja, kenapa makan bakso ala malang?” tanyaku, nyolot. Kamu senyum-senyum saja.

“Makan dulu baru komen,” begitu kata kamu, sabar.  

Kita duduk berdua, lesehan, berlatar sebuah masjid yang kau sebut begini: waktu Indonesia merdeka, Sukarno ngasih kota Yogyakarta dua hadiah. Ke satu, dia kasih kampus UGM. Ke dua, dia bikinkan warga Jogja ini masjid. Namanya Masjid Syuhada.

“Memang kota Jogja ini istimewa tho,” katamu lagi sambil menyindir-nyindir kotaku, Bandung.

Begitulah perjalanan kami dimulai. Dari tepi Jalan Prau. Menyusuri Kali Code. Masuk ke Museum Sandi. Berujung memandang rumah-rumah kolonial yang kamu sebut rumahnya bangsawan. Kita berjalan terus hingga Malioboro. Ke sudut-sudut Kauman. Di makam raja-raja Mataram. Dan yang terbaik di penghujung hari itu bersamamu adalah seporsi Brongkos dan Es Degan Tape Handayani!



Yogyakarta kotanya panas durjana. Namun tidak di dalam hatiku ini. Kamu penyebabnya. 

Lima tahun kemudian, aku singgah kembali ke Yogyakarta. Pertama kalinya setelah kamu tak ada. Tanpa kamu, dari mana aku harus mulai perjalanan di Yogyakarta ini lagi…sendiri…

Ini aku sudah sampai di Jogja. Mataharinya sudah tergelincir. Wajahmu mulai nyata bayangannya. Aku pikir itu kamu yang melambaikan tangan dari pintu gerbang stasiun Tugu. Ternyata mamang ojek online. Jaketnya hijau, persis jaketmu dulu itu. Haha. Jangan ngambek! aku bercanda.

Baru saja tadi di kursi kereta api, satu kamar di The Wayang Guesthouse kupesan. Dua hari satu malam. Via traveloka. Terdampar aku di kamar penginapan, memandang langit-langit. Bolak-balik cek layar hp. Hmmm...ke mana ya, apa yang bisa aku lakukan di kota ini, sendiri. 

Merancang perjalanan umumnya kulakukan sebelum keberangkatan. Kamu tahu itu. Namun satu ini berbeda. Aku ingin dadakan saja. Lucu sekali perasaanku ini. Akalku berkata tidak mungkin kamu hadir di sini. Namun hatiku bilang sebaliknya. Ingin aku lihat rupamu dalam jalan-jalan yang kita susuri hari-hari kemarin itu. Rindu. Banget. 

Bantal di pelukan, hp di genggaman. Malam terasa panjang. Aku masih menyusuri Traveloka. Oke...hmmm...Traveloka Eat...Traveloka Gift Voucher...Traveloka Xperience? tunggu, apa yang barusan aku lihat?

Traveloka Xperience?

Setelah aku pantau, Traveloka Xperience adalah daftar ide berlibur, tentang mencari pengalaman-pengalaman baru, seru nan menyenangkan tanpa repot menyusun susunan perjalanan. 

Ratusan ide menarik menikmati perjalanan ada dalam fitur Traveloka Xperience. Ini nampak mengasyikkan! Aku mulai serius memperhatikan. Ada alasan mengapa Traveloka Xperience menarik digunakan. Begini:




Mari saya temani kamu membahas satu persatu kategori di Traveloka Xperience. 

1. Attraction - Menghibur (diri) di keramaian

Mencari atraksi hiburan, kategori inilah tempatnya. Di sini kamu temukan tiket-tiket ke taman hiburan. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di negara tetangga. Buatku ini tempat yang cocok untuk mencari keramaian. Sebab di dalam hati, kamu tahu, rasanya hampa. Siapa tahu di Sindu Kusuma, aku menonton pasangan bercanda ria saling bersentuhan kecil membuatku rada-rada tersentuh kasih. Hatiku jadi ramai. 

2. Movies - Menonton Film-film Favorit!

Ya Tuhan, ini kan kegiatan rutin kita. Kamu ingat pernah mengajakku maraton nonton di Ambarukmo. Skripsiku demo menjerit minta diselesaikan. Namun ku harus berterima kasih padamu, sebab di bulan Juni 2014 itulah Chicco Jerikho membuatku jatuh cinta. Filmnya membuat kita berangan-angan ke Ambon. Membuatku memimpikan Chicco yang semrawut tapi tampan! Kamu tidak cemburu. "Chicco gak mungkin mau, satu-satunya di dunia yang tahan terus-terusan sama kamu itu aku," kamu dan muka monyongmu itu memang...

Ngomong-ngomong, kategori Movies ini banyak promonya. Bayangkan maraton nonton film dengan tiket setengah harga? Ah! kenapa yang begini baru ada setelah kamu tiada...

3. Events - Kalender Pentas Wisata 

Pernah penasaran sewaktu traveling kira-kira ada jadwal pentas seni lokal tidak? Nah sajian itulah yang kini dapat kamu cari di Traveloka. Tiket nonton sirkus, konser, seni tari, pewayangan, dan masih banyak lainnya. Gak lagi kita akan misuh-misuh bingung nyari tiket di mana dan belinya bagaimana. Ini akan jadi kategori favoritmu no dua, setelah Movies tadi. 




4. Entertainment - Mencari Hiburan

Haruskah aku mencari tempat karaoke di fitur ini dan menyanyikan lagu-lagu tentang kita? Di kategori Entertainment, aku menemukan barisan tawaran karaoke. Ada juga tempat ber-ice skating. Wah kegiatan bagus untuk tertawa sebab saya tidak bisa berselancar dengan sepatu apapun. Kamu pasti tertawa hingga sakit perut melihatku terjungkal-jungkal dengan sepatu ice skating. 

5. Sports - Membuang Energi Negatif

Aku mau liburan bukan olahraga. Nanti bila balik ke Bandung, mungkin inilah kategori yang kucari duluan. Traveloka Xperience ini memang gudangnya tempat-tempat untuk membuang energi negatif (dan berat badan berlebih). 

6. Beauty & Spa - Memanjakan Diri

Beberapa bulan lalu aku mengecat rambutku. Warnanya cokelat sekarang. Menurutmu, apa cocok bila besok aku cat rambutku dengan warna burgundy? atau sekalian aku luruskan saja rambut-rambut ikalku ini? Lumayan barusan aku temukan salon dengan potongan harga 50%! Gokil memang Traveloka Xperience ini. 

7. Playgrounds - Tentang Menyenangkan Anak-anak

Membawa serta anak jalan-jalan, di tempat inilah surganya. Beli tiket ke wahana bermain di Traveloka Xperience. Senangkan mereka. Kecuali aku, juga bukan kamu. 

8. Transport - Gunakan Angkutan Umum

Kamu pernah mengejekku yang tak bisa menyetir motor, pun mengemudikan mobil. Kamu salah besar. Sekarang aku punya sopir pribadi! Ya ojek-ojek berjaket hijau itulah. Aku senang menggunakan angkutan umum, menambah pengalaman traveling, bertemu orang baru. Temukan tiket-tiket transportasi umum di kategori ini.

9. Tours - Tidak Usah Repot Merancang Agenda Perjalanan

Kegiatan wisata di tahun 2019 ini makin mengasyikkan saja. Mencari pengalaman baru saat traveling? cobalah ikuti tur-tur berjalan kaki. Terasa santai. Menengok pilihan tur di Traveloka Xperience ibarat membuka brosur-brosur wisata. Menariknya, minimal orang mengikuti tur dapat hanya dengan 1 orang. Untuk jalan-jalan di Jogja, aku pilih kategori ini. 

10. Travel Essentials - Perlengkapan Traveling

Urusan sewa menyewa perlengkapan traveling disediakan di sini. Bila butuh sim card atau rental wifi, lekas buka app Travelokanya. Makin canggih memang berwisata sekarang, di zamanmu hanya ada kamera-kamera seberat kulkas dua pintu. Sekarang aku bepergian membawa powerbank, aneka kabel, kindle untuk membaca, bahkan wifi portable! yang terakhir saya sebut barusan, disewakan oleh Traveloka. 

11. Food & Drink - Berburu Kuliner Seru!

Apa serunya traveling tanpa menikmati kuliner khas? begitu katamu. Aku setuju. Traveloka menyediakan pengalaman traveling kuliner yang menyenangkan di kategori Food & Drink ini. Benar-benar #XperienceSeru memang. 

12. Classes & Workshops - Belajar Hal Baru

Pernah aku lihat di Bali ada workshop memasak. Menarik sekali aku ingin mencobanya, tapi urung karena malu sendirian. Sekarang aku lebih dewasa dan sendiri adalah hari-hariku yang biasa. Hahaha. Kamu yang bilang padaku, "jangan takut sendirian!" Kategori kelas dan workshop ini bisa dipilih sesuai minatmu.  Mulai dari ikut workshop membatik, kelas meracik cokelat, memasak menu-menu lokal yang unik, dan masih banyak lagi. Coba saja skrolling di aplikasinya. 

Dengan demikian, aku simpulkan begini tentang Traveloka Xperience. 


Mengapa Traveloka Xperience? 

  • Tidak usah repot-repot merancang agenda perjalanan. Bermacam-macam tur bisa dipesan dari fitur Xperience.
  • Banyak ide-ide perjalanan seru yang mengasyikkan. Traveloka Xperience bahkan memberi kita ide perjalanan seperti: workshop memasak menu lokal atau tur-tur kuliner mengasyikan. Traveling tidak lagi tentang mengunjungi tempat-tempat hits semata bukan?
  • Kalender wisata online. Event-event reguler menarik di Yogyakarta misalnya, sekarang tiketnya dapat dibeli di Traveloka. Tiket konser tari, tiket sirkus, bahkan tiket konser.
  • Tiket masuk taman hiburan, bisa dibeli jauh-jauh hari.
  • Harga sudah terpampang, gak perlu hitung menghitung riset data.
  • Harga promo! Harga promo! Harga promo!
  • Bila kamu pikir Traveloka Xperience berisi fitur perjalanan besar, maka salah besar. DI sini kamu bisa temukan tempat untuk memanjakan diri di salon kecantikan atau maraton nonton film favorit! Sesederhana itu saja memang.
Lantas bagaimana cara memesan di Traveloka Xperience?

Bagaimana Cara Booking Traveloka Xperience?

Mudah saja. Coba kamu buka ponselmu. Buka aplikasi Traveloka. Sudah?

  1. Cek button dekat-dekat pilihan Hotels, Flights & Hotels. Di sana button Xperience berada. Klik saja.
  2. Bila sudah, nanti muncul pilihan Categories. Normalnya ada 12 kategori, tapi ragam kategori tidak semuanya muncul. Tergantung pilihan kotamu.
  3. Seperti aku nih, pilih Yogyakarta, maka Xperience yang muncul hanya tujuh macam.
  4. Pilih Xperience yang paling kamu minati. Sesuai hobi. Sesuai budget. Sesuai mood dan perasaanmu inginnya bagaimana.
  5. Jangan ragu untuk iseng membaca fitur Xperience. Uang terbatas, keinginan yang tidak. Hehe.

Oh! Apa kamu mau lihat tur yang ku ikuti di Yogyakarta seperti apa?




Agak ramai juga pilihan turnya. Aku ingin ambil hampir semuanya. Namun hanya ada sedikit waktu di kota ini. Aku ambil ini: Yogyakarta Day Historical Walking Tour – 3-Hour-Tour. Biayanya Rp378.000.

Masih lekat dalam ingatan sewaktu kamu mengajakku hunting foto di area pecinan. Kamu yang mengenalkanku pada cantiknya pintu-pintu klasik, elegannya jendela tua. Dan tegel-tegel bercorak bunga itu, aku makin menyukainya! Hingga kini, kebiasaanmu berburu foto-foto bangunan tua aku teruskan. Ya, aku mewarisimu kecintaanmu.




Demikian. Satu hari di Yogyakarta mencari-cari wajahmu di antara keramaian Malioboro. Apa aku menemukanmu di sana? Ya. Pada segelas es degan berwarna merah muda dan jendela rumah-rumah Kauman, ya kutemukan wajahmu. Ku pikir aku sempat kehilanganmu. Rupanya selama ini aku sudah membungkusmu dan memendamnya. Di sini, di hatiku.




Foto : dokumen pribadi

Damai di Istana Gebang

October 13, 2019
Ini adalah tulisan yang tertunda hampir dua tahun. Hahaha sudah cukup mari saya selesaikan. Ini khusus tentang Istana Gebang. Sedangkan catatan perjalanan di kota Blitar, teman-teman dapat membacanya di sini dan di sana.

Pada perjalanan singkat saya di Blitar, saya singgah ke Istana Gebang. Inilah dia lokasi utama mengapa saya sengaja main ke Blitar.

Ada di sini, saya menyadari, Sukarno ini memang bangsawan. Meski dalam biografi yang ditulis Cindy Adams ia mengaku masa kecilnya gak bergelimang harta, namun bila orang tuamu punya aset 1,8 hektar, saya kira kedudukannya tidak sembarang.

Istana Gebang memang sebenar-benarnya istana. Peninggalan kolonial. Dahulu ini rumah milik juragan perkebunan gula. Cmiiw. Rumahnya disebut-sebut dalam berbagai artikel yang saya baca online, didirikan tahun 1860.

kelihatan gak saya di foto ini :D saya bersama Nabil, difoto oleh Pandu

Lantas, rumahnya dibeli (?) oleh ayahnya Sukarno bernama R Soekemi Sosrodihardjo. Mereka mulai mendiami rumahnya di tahun 1914 (ada yang menyebut tahun 1917). Saat itu Sukarno masih kecil.

Kemudian, rumah ini didiami kakaknya Sukarno. Soekarmini namanya.

Istana Gebang ini sekarang milik pemerintah kota Blitar. Bukan lagi properti pribadi. Mengapa? Supaya situsnya dapat lestari. Juga kini akses terhadap rumah tersebut terbuka untuk umum. Kamu bisa masuk ke kamar tidur, dapur, ke mana saja di bagian rumahnya.

Bila memperhatikan Istana Gebang, ini pasti perawatannya gak murah sih. Heuheu. Saya rasa wajar bila pemilik terdahulunya ingin menjual properti sebesar ini. Pemkot Blitar juga baguslah mau beli. Disebut-sebut angka pembelian Istana Gebang adalah 35 M.

Istana Gebang berhalaman luaaaas sekali. Di depan juga belakang. Saat saya ke sana, matahari sudah tergelincir. Pukul empat sore. Sehingga hawanya meski panas, tapi teduh. Ada satu pohon besar di halaman depan. Di bawahnya, ada anak-anak warga sekitar berlarian, berkejar-kejaran. (Update: pohonnya udah gak ada. Ambruk karena lapuk)

Rumahnya bagaimana? Tidak kalah luas dengan halamannya. Ruangan besar-besar. Pintu dan jendela berbuku-buku. Serasa rumah eropa, namun aura kejawennya juga banyak.

Terdiri dari beberapa kamar (kalau tidak salah ada lima kamar). Kamar tidurnya selayaknya kamar bangsawan. Tiap kamar ada jendelanya. Sungguh menyenangkan ada di sana sore-sore, sewaktu mataharinya adem, berkas sinarnya jatuh ke bibir jendela. Mengenai tirai yang tertiup angin pelan. Aduh hati ini lihatnya senang sekali.

Pengen berlama-lama begini. Bagaimana caranya detik ke menit bisa berhenti barang setengah jam? hahaha mau nyetop waktu dengan waktu! Sia-sia amat.

Di bangunan sebelah rumah ada sanggar seni. Di sana sedang berlangsung kelas tari. Bunyi gamelan mengalun berseling suara tawa anak-anak. Duh suasana sore itu damainya menelusup sampai ke nadi-nadi. Seperti habis tersentuh kasih. Hehe.




Kalau saya mesti sebut kapan sore-sore terbaik yang saya pernah alami, di Istana Gebang itulah salah satu sore terbaik dalam hidup saya. Terasa begitu damai, walo juga terkesan asing.

Bangunan utama terpisah dengan bangunan dapur dan ruang makan. Di tengahnya ada taman kecil. Terhubung dengan serambi berbentuk koridor.

Paling belakang ada dapur dan kamar mandi. Di situ saya melihat sumur. Di muka rumah saya masuk berbarengan dengan pengunjung lain. Saya heran mengapa mereka membawa beberapa botol air minum kemasan plastik kosong. Ternyata sumur itulah penyebabnya. Mereka ambil air sumur yang dipercaya membawa berkah. Air keramat.

Entah ada hubungan apa orang Indonesia dan air sumur ini. Hahaha. Tunggu dulu, saya sedang tidak mengejek. Sebaliknya, saya menyukai pemandangan itu masih ada. Tentang air-air yang dikeramatkan, tentang situs yang dianggap membawa keberkahan, saya kira itu namanya harapan. Gak ada yang salah dengan itu.

Hanya saja, saya mau orang-orang yang demikian, membawa harapan itu dalam kesehariannya. Dalam sikapnya berkendara di jalan. Dalam caranya bertutur. Dalam caranya menyikapi masalah. Dalam menjalani peran sebagai umat beragama.

Pandu bertanya, apa saya mau ikut ambil airnya. Tentu tidak. Saya hanya melongok sumurnya saja. Agak menyesal sih kenapa saya gak raupan di sana. Tahu gak raupan? Hehehe.

Di sisi kanan rumah ada garasi dengan mobil tua di sana. Mobil bersejarah kelihatannya. Mewah pula.

Perabotannnya sama mewahnya. Kelihatan bukan perabotan rakyat jelata. Lemari, ranjang, foto-foto tua, guci, aneka benda-benda aksesoris klasik, berderet buku-buku tua, lampu. Sangatlah indah semuanya, juga menunjukkan status pemilik rumah. Menak.

Istana Gebang dibuka untuk dikunjungi sejak pukul tujuh pagi. Tutupnya pukul lima sore. Mungkin ini informasi yang salah saya lupa tidak mencatat. Tidak ada biaya. Gratis saja kecuali kalo ada pemandu. Kasih honor seikhlasnya.

Dalam perjalanan keluar parkiran Istana Gebang, saya bertanya dalam hati. Mengapa jauh-jauh saya berkunjung ke Istana Gebang. Hahaha. Entahlah, saya pikir kalo ada rumah-rumah klasik yang dimuseumkan, dibuka untuk warga umum pula, serasa harus wajib saya ke sana.

Di sini pula saya menyadari wajah Sukarno yang saya pikir sangat lekat dengan Blitar, ternyata terasa begitu asing.