Image Slider

Pengen ke Pekalongan

September 08, 2019
Gara-gara postingannya Alfian, saya pengen ke Pekalongan. Ngapain? Minum es limun! Ke sananya kayak biasa naik kereta api aja dari Bandung. Cek jadwal keberangkatan kereta api, berangkatnya pagi-pagi. Turun di Pekalongan jam 12 siang. Langsung minum es limun! Wqwq.

Ingat gak dulu es limun adalah minuman yang lumrah kita temui semasa kita anak sekolah dasar. Beli lima puluh perak, dapat es limun satu plastik. Gak tahu di Bandung, kalo di kampung saya dulu sih banyak banget es limun. Hawa panas enaknya kerongkongan dibanjur air gula manis. Dan dingin!

Berapa lama sih enaknya jalan-jalan di Pekalongan? Saya cuma punya waktu di akhir pekan. Apa dua hari satu malam cukup?

Baik kita coba bedah kalo 2D1N di Pekalongan bagaimana dan berapa.

Hari Pertama di Pekalongan

Pesan tiket di Traveloka. Jam 06.15 kereta berangkat. Siang hari sampai di Pekalongan. Lanjut naik ojeg online ke Kedai Oriental.

Puas-puasin dulu di toko limun ini. Mengikuti perkembangan zaman, Kedai Oriental menyediakan tempat untuk duduk bersantai.

Terus gimana kalo mau lihat pabriknya, boleh gak sih? Entahlah. Saya coba nanya ke wiraniaganya aja nanti. Mudah-mudahan boleh mengengok dapur pembuatan limun ini.

Photo Courtesy: Discover Pekalongan

Oke cukup. Kayaknya check in dulu. Nginepnya di The Sidji. Hotel dengan bangunan utama yang legendaris. Sebab dahulu rumahnya milik seorang letnan Tionghoa. Sekaligus saudagar batik. Ia memimpin tahun 1927-1930.

Bangunan hotel ada di belakang bangunan bersejarahnya. Hotelnya modern saja. Seperti bangunan hotel bintang 3 pada umumnya. Ada kolam renang, btw. Cocok untuk merendam hangatnya angin laut.

Kayaknya hari pertaman santai aja. Istirahat bentar di penginapan. Bila keluar pun tujuannya makan-makan. Terus enaknya makan di mana nih?

Ya saya tahu. Kita pergi ke Garang Asem Masduki saja. Reviewnya bagus-bagus. Lokasinya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari The Sidji. Nasi Megono dan Garang Asem jadi target sasaran. Haha.

Semalam di Pekalongan. Nongkrong di Alun-alun Pekalongan seru gak sih? Gak mungkin udah pada tidur kan kalo malam minggu? Kayaknya seru nih lihat-lihat sebentar Alun-alunnya di malam hari. Tapi kalo gak menarik, ya sudah balik saja ke hotel. Lalu tidur zzzttt.....

Hari Kedua di Pekalongan

Keluar penginapan sekaligus checkout. Sore nanti kembali ke Bandung. Jam tujuh malam tepatnya kereta akan berangkat.

Masih ada cukup waktu buat jalan-jalan. Ke mana aja? Museum Batik tentu saja!

Tiket masuknya murah hanya lima ribu per orang. Sebuah tip dari teman, katanya bila ke Museum Batik jangan sendiri. Suasananya agak spooky. Entah benar atau tidak. Haha. Yang pasti saya emang gak akan pergi sendiri. Indra dan Nabil ikut juga (syukurlah haha).

Hasil riset mengatakan mengelilingi museum ini gak makan waktu lama. Satu jam udah paling maksimal. Kita bisa lihat perkembangan batik di Pekalongan. Menempati bangunan klasik di Jl. Jetayu no. 1, museum ini memiliki lebih dari seribu koleksi batik.

photo courtesy: wikipedia

Wikipedia menulis, gedung Museum Batik Pekalongan dulunya adalah bangunan kantor. Kantor keuangan bagi tujuh pabrik gula di Pekalongan. Level kepentingan gedungnya udah tingkat tinggi.

Di tahun 2006 Museum Batik ini diresmikan. Di dalamnya terdapat ruang koleksi batik, perpustakaan, kedai batik, workshop, dan beberapa ruang lainnya. Saya tebak batik pesisir lebih banyak ditampilkan di sini. Senggak-enggaknya batik dari kota tetangga: Cirebon dan Lasem.

Namun bisa jadi ada lebih banyak batik. Secara ini kota ikonnya memang batik.

Kedai limun sudah.
Museum sudah.
Selanjutnya ke mana?

Rumah Makan Bung Kombor! Baca deh review-reviewnya. Disebutkan kepiting di sini juara enaknya. Lokasinya hampir sekilo dari Museum Batik. Bisa gak ya naik becak ke sananya? Eh, masih ada kan becak di Pekalongan? wqwq.

photo courtesy: Garnesia

RM Bung Kombor menyajikan tiga menu saja: udang, kepiting, dan swike. Kepiting adalah yang paling direkomendasikan. Tapi saya suka udang. Yhaaa! Harga agak mahal, tapi ada yang bilang murah. Tapi seafood emang gak mungkin harganya kayak seporsi nasi uduk kan. Hehe.

Satu tujuan terakhir adanya di daerah Kauman. Saya mau susuri kawasan tua dan moto-moto bangunan kunonya. Apa yang gak ada di Bandung, pasti ada di sini nih. Seperti waktu saya ke Yogyakarta, saya kunjungi Kauman juga. Kauman biasanya gak jauh dari Alun-alun dan masjid raya.

apa di dalam jalan kecil ini banyak rumah-rumah antik?
photo courtesy: cintapekalongan.com

Sorenya ke stasiun Pekalongan dan bersiap pulang ke Bandung.

Oya, Indra bertanya pada saya. Apa perlu kami ke pantai. Hmmm...saya gak terlalu menyukai wisata alam. Hahaha. Ditambah, rumah orang tua lokasinya hanya lima kilometer dari rumah. Pantai adalah keseharian saya dulu. Melihatnya lagi saya rasa gak perlu. Saya cuma mau jalan-jalan di jantung kotanya.

Bila kamu warga Pekalongan dan membaca tulisan ini, menurut kamu perlukan saya mengunjungi pantai-pantai di Pekalongan?


Mencari Makam Kapitan

September 07, 2019
Buat apa cari-cari makam kapitan? Apa kaitannya makam tersebut dengan saya?

Tidak ada. Tentang hal-hal yang gak bisa saya jelaskan sekaligus, inilah contohnya.


Pagi itu langitnya biru menyala. Pertanda siang nanti akan panas. Banget! Namun saat kami mulai berjalan, dingin kemarau masih menggigit.

Dewi berjalan paling depan. Dia pemandu kami. Kira-kira ada 20 orang yang ikutan jalan-jalannya Heritage Lovers ini.

Saya seperti biasa. Terseret-seret dalam rombongan. Berjalan paling belakang.

Saat berjalan kaki, temponya pelan saja. Lihat kiri, tengok kanan. Kebanyakan moto.

Dalam perjalanan ini, saya ketemu banyak rumah.

Ada sebuah rumah bergaya tempo dulu. Terbesar di antara rumah sekelilingnya. Resik dan mewah.

Letak rumahnya persis di belakang Gedung Indonesia Menggugat (Landraad). Kata Teh Erna, salah satu peserta, bisa jadi itu rumah dulunya nih milik pegawai Landraad. "Mungkin jaksanya," kata dia lagi.

Tapi kok cuma satu ya. Atau dulu ada kompleks perumahan jaksa atawa hakim di di sini? Lantas cuma satu yang tersisa?

Gak ada yang tahu.

Berjalan ke jantung Babakan Ciamis, pemandangannya rupa-rupa. Dari kutang hingga kandang. Sungai dan lapangan. Toko kelontong baru buka dan ibu-ibu yang nongkrong menyuapi anaknya sarapan.

Babakan ini banyak gangnya. Bukan cuma jalannya datar tapi juga nanjak. Bikin lelah juga haha. Tapi pengalaman eksplor gang ini menarik juga.

Ada rumah dengan pepohonan sebagai pagarnya. Lebih banyak lagi hunian tanpa pagar. Menempel lengket satu sama lain. Seperti remaja jatuh cinta. Bucin. Bucin kemiskinan.

Kami masih berjalan. Rupanya itu makam gak sedekat yang saya pikir. Kami bahkan menyebrang Jalan Aceh. Lalu masuk lagi ke jalan-jalan kecil macam labirin tak berujung.

Gang di mana saya melihat rumah dengan teras mungil nan sempit. Ada sofa butut di sana. Dekil dan nampak reyot. Anehnya, terlihat nyaman. Pagarnya pagar hidup. Rumahnya tak seberapa besar. Akan tetapi tentang harapan-harapan yang gak boleh putus, saya melihatnya ada di sana.

Apalagi yang saya tengok di Babakan Ciamis ya. Bekas rumah panggung. Rumah jengki. Rumah berdinding bilik.

Juga ada rumah dengan halaman berbentuk lorong. Lebar kurang dari semeter dan panjang. Membayangkan malam-malam pulang ke rumah lewati lorong macam begitu...

Dan ada rumah dengan banyaaaaaak sekali tanaman di halamannya. Rumah pohon perkotaan.

Saya kira, pemandangan terbaik pagi itu adalah bayangan. Ya, bayangan matahari yang menimpa setengah tembok-tembok rumah, pintu, jendela.

Punggung saya berasa hangat dipijat sinar matahari. Nyaman. Menenangkan. Begitu juga perasaan di dalam hati.

Makin jauh kaki melangkah, Dewi bilang tujuan makin dekat.

Begitu dalam kami masuk ke jantung babakan ini, rumah makin kecil, gang makin sempit. Dinding rumah saling menghimpit.

Saya lihat ada banyak mural di Babakan Ciamis. Makin rapat huniannya, makin menarik muralnya.

Ngomong-ngomong, kamu tahu Babakan apa artinya? kampung baru.

Kampung baru ini terbentuk karena perantau yang berkumpul. Komunal.

Misalnya, Babakan Ciamis. Perintis kampung tersebut datangnya dari Ciamis. Pada mulanya hanya orang dari Ciamis yang bermukim di sana.

Namun Babakan gak lagi komunal. Sekarang, siapa saja dari mana saja bisa tinggal di Babakan. Udah nyampur.

Nah, di era kolonial si Babakan Ciamis ini dahulunya Sentiong. Alias, makam warga Tionghoa. Letnan pertama di Bandung makamnya ada di sini.

Eugh, sampai mana tadi? Oh ok. Kembali ke makam. Mana makamnya?

Tidak ada. Hanya ada nisan menempel ke dinding rumah. Nisan warna putih. Bertuliskan gini: Oeij Bouw Hoen (1882).

Gelombang kedatangan orang Tionghoa ke Bandung kira-kira di tahun 1884. Dekat-dekat munculnya jalur kereta api. Sebab pemerintah kolonial butuh tenaga kuli tambahan. Ada juga yang merantau ke Hindia Belanda merintis karir jadi saudagar.

Kapitan atawa letnan adalah jabatan yang ditampuk orang Tionghoa. Ia dipilih pemerintah kolonial untuk memimpin etnisnya. Utamanya sih dalam bidang perdagangan.

Berhubung Bandung yang dulu adalah Bandung yang sedang tumbuh, maka titik-titik di dalam kota ikut berubah. Pabrik kina dan stasiun kereta api saja, itu lokasi tadinya di pinggir kota. Lihat sekarang, jadi jantungnya kota.

Sama kayak pemakaman. Yang tadinya makam, dipindah, jadi babakan. Makam jadi kampung.

Memindahkan makam bukan perkara mudah. Ada keluarga yang kehabisan uang mendanai proses pindahan, atau keluarganya gak datang-datang ngurusin makam keluarga. Ribet! kata Dewi.

Makam tertua di Bandung, dahulu ada di Banceuy. Lantas, makam Tionghoa pindah ke Babakan Ciamis, dekat Balaikota itu.

Makam warga Eropa pindah ke Kebon Jahe. Ya sekarang jadi GOR Pajajaran.

Dewi cerita kalo pemakaman masih dipindah lagi. Makam Tionghoa ke Cikadut. Eropa di Pasteur.

Dalam prosesnya, ada komplek-komplek makam juga. Di antaranya, di Taman Sari yang sekarang jadi UNISBA. Apakah kamu mahasiswa di sana dan pernah mengalami yang namanya penamppppzzttttt...udahudah. Ini bukan Jurnal Risa :D

Baik. Kita sudahi dulu. Dalam acara jalan-jalan mencari makam kapitan ini, kami hanya menemui nisan tertancap di dinding. Bila kita ada di dekatnya, gak akan tahu di situ ada nisan. Yang kelihatan hanya gang sempit, rumah warga, dan toren air.

Masa iya makam sepenting ini tercecer. Ataukah makamnya sudah dipindah tapi nisannya dibiarkan saja?

Yah jawabannya menggantung. Dewi gak tahu. Saya apalagi.

Sudah begitu saja pencarian makamnya.






Nisan di Babakan Ciamis



Gadis Kretek

September 02, 2019
Bukunya terbit tahun 2012. Saya baru baca sekarang. Iya gak apa-apa. Dari judulnya aja, mesti tahulah novel ini temanya apa. Iya betul. Kretek.


Saya gak suka bau tembakau. Tapi setelah baca ini novel, saya pengen cobain kretek. Apa kretek paling enak yang bisa saya beli di Alfamart coba tolong rekomendasikan?

Memangnya kayak gimana rasa kretek lintingan yang manis, gurih, dan harum ala Gadis Kretek, si Dasiyah itu?

Mengapa membaca kretek di novel ini bagi saya bagaikan menikmati seporsi mie ayam dan menyantap rendang!

Di mana saya bisa nyobain kretek yang seenak itu? Mesti ke mana?

Ini novel menyenangkan buat dibaca. Drama bisnis kreteknya berbumbu latar era pra dan pasca kemerdekaan.

Ya, era ramai-ramainya pemberantasan golongin kiri juga ada.

Saya gak akan cerita sinopsis novelnya. Kamu baca aja sendiri. Di googling juga ada banyak.

Gadis Kretek memiliki alur cerita maju mundur. Penokohannya ada banyak. Tutur katanya juga lentur gak sulit dibaca. Gak susah dicerna. Pas ajalah.

Saya suka baca bagian ceritanya Idroes Moeria dan Dasiyah. Ini ada di alur mundur.

Giliran baca di alur majunya, pengen cepet-cepet dilewat aja. Babak di mana kakak beradik Lebas, Karim, dan Tegar muncul ini menurut saya baru kelihatan enak dibaca pas bagian akhir aja. Tapi kan gak mungkin saya loncat-loncat bacanya.

Jadi ya sudah tetap dibaca. Pelan-pelan.

Memang bagian akhir ceritanya gak saya duga. Hahaha. Sangat menyenangkan kisah kasih dua tokoh di buku ini dimenangkan si perempuan. Menurut saya yang menang perempuannya loh ya.

Memang Soeraja yang kaya tujuh turunan. Tapi bayangkan gini: di hari pernikahan kamu, si mantan datang lantas menghajar jidatmu dengan semprong petromaks. Bekas hajarannya membekas. Hingga kamu manula.

Itulah simbol kemenangan yang saya maksud!

Latar daerah dalam novelnya adalah Jawa Tengah. Di kota M. Lantas saya cari Kota M yang dimaksud penulis, itu nama kota apa sih.

Kenapa mesti diinisialkan segala. Sementara kota lain ia tulis lengkap: Yogyakarta, Magelang, Jakarta, Surabaya, Cirebon, Kudus.

Saya sampe gooling buat cari tahu Kota M. Keluar satu nama kota: Muntilan.

Oke baik. Suatu hari nanti saya ke Muntilan. Juga mau ke Kudus. Pokoknya saya mau isap kretek lokal! Gara-gara si Gadis Kretek!

Ibu Berbagi Bijak di Bandung

September 01, 2019
Berapa banyak dari kita yang hidupnya di pinggir jurang? 


Kecelakaan, masuk UGD, gak punya uang, bagaimana bayar biaya rumah sakit...

Anak cerdas mau lanjut pendidikan ke tingkat kuliah. Orang tua gak sanggup membiayai.

Pekerja paruh waktu. Gaji gak seberapa besar. Habisnya buat ongkos adik yang masih sekolah. Juga ayahnya sakit-sakitan.

Bisnis sendiri. Cashflow macet. Utang numpuk.

Hasrat mau liburan. Gaji cukupnya untuk kebutuhan bulanan. Maksa ikutan 'pay later' alias bayar kapan-kapan.

Minggu lalu (28/08/2019) saya ikutan workshop literasi yang diselenggarakan @ibuberbagibijak. Pesertanya perempuan semua.

Emang sejak 2017 Visa aktif kampanye literasi keuangan. Peserta selalu sama, yaitu perempuan. Di acara ini, perempuannya khusus para freelancer dan pelaku UMKM.

Beberapa komunitas hadir sebagai undangan. Ada Buana Belantik. Sekumpulan pengusaha UMKM, mayoritas perempuan. Anggotanya tersebar sejawabarat. 

Ada juga cewek-cewek pekerja paruh waktu dari komunitas Emak-emak Blogger. Gak ketinggalan meramaikan acara, The Urban Mama yang kebanyakan pesertanya ibu-ibu muda. 

Mentor workshop dari Visa, Ibu Berbagi Bijak, ada beberapa orang. 

Selain sambutan dari presdir PT Visa Worldwide, Riko Abdurrahman, ada juga perwakilan dari OJK, Teguh Dinurahayu. 

Sementara itu, workshop finansialnya dipandu Prita Ghozie. Seorang dosen, penulis, ibu, juga konsultan finansial profesional.

Ada beberapa yang saya highlight dari presentasinya. Gini.

Usahakan punya asuransi. Wajib. Sisihkan pendapatan seenggak-enggaknya buat iuran BPJS. Kalo asuransi yang lain sanggup bayarnya, ya udan yang lain aja.

Lantas berhubung di acara ini Visa menargetkan peserta perempuan dari kalangan pengusaha kecil, maka Mba Prita ngasih tips keuangan dasar buat pelaku UMKM. 

Oya, freelancer juga diitungnya pelaku usaha. Usahanya menjual jasa. 


Ada tiga macam catatan keuangan dasar yang mesti kita ketahui dan terapin: 
📝 Neraca
📝 Laba dan rugi
📝 Catatan atas laporan keuangan.

Sementara itu untuk alokasi pendapatan, tingkat pengeluarannya gini: 
1. Zakatin dulu 2,5% dr gaji.
2. Bayar asuransi minimal 5% dr gaji
3. Alokasi bulanan (gak lebih dr 60%)
4. Nabung utk keperluan jangka pendek 
5. Investasi utk keperluan jangka panjang (nabung + investasi jgn lebih dr 30% dr pendapatan).

Oleh Mba Prita, kelima istilah di atas diberi singkatam ZAPFIN: zakat, assurance, present consumption, future spending, dan investment. 

Kalo ada utang gimana nih? Porsi utang jangan lebih dari 30%. Kalo lebih, maka korbanin alokasi bulanannya.

Itu sih yang saya highlight dari penjelasannya Mba Prita. 

Oiya, berkali-kali dia ingatkan, jangan tergiur fitur Pay Later dan skema pinjaman mudah ala pinjaman online.

Mba Prita bahkan bilang, pekerja freelance sebaiknya gak pake fitur cicilan kayak Pay Later. Kecuali ada jaminan perbulan pendapatan pasti. 

Intina mah cenah, pada bisa ngukur diri. Jangan nurutin nafsu dan gengsi. Bahkan kalo pendapatan gak cukup buat investasi, ya udah tahan dulu. "Semua akan indah pada waktunya," gitu Mba Prita bilang.


Pak Teguh juga mengonfirmasi uraian Mba Prita. Katanya, baca dengan seksama terms & agreement kalau u3rusan utang piutang begini.

"Memang banyak fintech yang nakal. Tapi banyak juga laporan kasus yang masuk ke OJK penyebabnya karena si pelapor gak baca terms & agreement dengan teliti," kata Pak Teguh.

Literasi finansial pada dasarnya bukan cuma kemampuan kelola pendapatan ya. Ternyata skill membaca dan menyimak juga sama pentingnya.

Skill dasar manusia banget gak sih itu? Membaca dan memahami. Hehe.

Pulang ke rumah usai acara Ibu Berbagi Bijak ini, saya ngahuleung. Apakah selama ini saya hidup di pinggir jurang? Kalo kamu, gimana?

Toko Buku Akasa Adalah Warung Teh di Cihapit

August 25, 2019
Udah saatnya saya keluar zona nyaman di Bandung Diary ini. Makanya saya kontak Deni bosnya Lawang Buku. 

Saya minta bertemu. Deni ajak nongkrong di Akasa. Ada warung teh di sana. Yang juga merangkap toko buku. 


Berhubung Deni ini teman lama, kami ngobrol kepanjangan. Urusan inti selesai dalam waktu 15 menit. Lain-lainnya 1,5 jam! 

Emang seneng ya bisa ketemu muka gini. Saya rasa yang ngerti kalimat barusan adalah orang-orang yang umurnya kepala tiga, berkeluarga, atau yang serat-serat nadinya habis buat cari uang. 

Memang gak gampang lagi bertemu temen lama. Ya sibuklah. Ya batal. Ya wacana doang. 

Bila saat ini kamu berumur kepala dua dan masih nongkrong-nongkrong selow, wah selamat menikmati. Sebab ada waktu di mana akan terngiang kalimat ini: bila nanti kita tua dan hidup masing-masing, ingatlah hari ini. 

Hahaha apa sih ini saya kan mau ceritain Akasa.

Akasa ini hanya ruang kecil di sudut Pasar Cihapit. Bener-bener mungil. Sajian nongkrongnya hanya air teh. Bila lapar, pesan makanan ke kios-kios sebelah. Ada mie rebus, ada gorengan, juga ada buah-buahan.

Kami memesan Teh Angon made in Pekalongan. Satu ceret bisa saya minum berkali-kali. Untuk itu harganya Rp5.500. 


Lima ribu untuk teh. Lima ratus untuk gula batu. Pantas saja Deni mau traktir saya di sana! Hahaha. 

Kalo sama Deni, ngobrolnya gak jauh dari perbukuan. Memang itu pula tujuan saya ketemu dia. 

Topik dari Bandung Readers Fest, Mocosik, peta perbukuan, penerbitan, hingga rencana-rencana kami yang masih menggantung. 

Seneng bisa ngobrol gini. Rasanya jadi semangat lagi.

Namun Deni bergegas pergi. Katanya ada tadarusan di Museum Konperensi Asia Afrika. Oke baik. 

Karena jalanan masih macet, saya mutusin lebih lama di Akasa. Bonil, wiraniaga Akasa, nemenin saya. Baik banget orangnya emang. Seneng ngobrol jadi saya ga berasa sendiri. Hehe. 

Dari dia saya tahu Akasa baru jalan setahun. Ia juga cerita bikin penerbitan. Dari rak buku di atas meja kerjanya, ia ambil tiga buku. Salah satunya tentang Sanskrit. 

Tunggu tunggu...Sanskrit? 

Orang yang buka kios buku di dalam pasar, hanya berjualan teh, harganya lima ribu saja, bikin penerbitan sendiri, buku yang ia cetak tentang sanskrit?


Untuk hal-hal yang absurd, menarik, dan berani kayak gitu, apa yang telah terjadi dalam  hidupnya?! 

Hahaha. Unik sekali. 

Kalian datanglah ke Akasa. Bukan tempat yang nyaman saya rasa. Baca buku di sana pun gak cocok menurut saya. Sebab rada poek. Namun ia ngasi pengalaman yang beda. Kalo ke sana, mesti buat ngobrol. Hehe. 

Akasa buka selasa - minggu.
Jam 10-22 atau sekosongnya.
Senin tutup.
Lokasi di Pasar Cihapit. Ya, masuk ke dalam pasarnya, cari Warung Ma Eha, deket-deket situ. 

Pasar Cihapit ini emang oase tengah kota. Saya pernah menulis beberapa kali tentang Cihapit di blog.  Cek ke sini kalo mau baca:

Jalan-jalan di sekitar Cihapit
Surabi Oncom Cihapit, Terenak Se-Bandung!
Itinerary Satu Hari di Bandung
Kuliner di Cihapit
Makasih banyak Deni yang ngenalin saya sama Akasa. Tentu saya akan balik ke sana :)