Image Slider

Menyusuri Kauman dan Jajan Lumpia Gang Lombok

July 16, 2019
Abis jalan-jalan di Surabaya, ceritanya saya pengen ke Semarang. Mampir sebentar di kota lumpia itu. Barulah balik ke Bandung. Ternyata di Semarang gak bisa sehari saja. Sebab kota ini menarik banget!

Bila biasanya menumpang kereta api, kali ini saya menumpang bus. Bus Sugeng Rahayu Traveloka, pesan kursi eksekutif ongkosnya Rp100.000 saja. Bus Sugeng Rahayu ini udah pegangannya warga lokal Jawa lah.

Di Semarang kunjungan wajibnya ada beberapa tempat. Makanya gak cukup sehari doang. Extend lah dua hari. Hehe.

Siapin kaki yang kuat.
Siapin perut yang kosong.

Ke mana aja, ngapain aja?


1. Jelajah Kota Lama, Kauman, dan Pecinan

Wisata jalan kaki dulu. Enaknya jalan kaki, bisa lihat, lebih dekat lebih detail dan bisa pegang-pegang. Hehe.

Semarang nih bisa dibilang surganya bangunan klasik. Bandung ketinggalan jauh sih jumlah bangunan kunonya dibanding Semarang.

Tapi saya pikir perhatian pemerintah terhadap bangunan tua ya sama saja. Mau di Bandung atau Semarang, banyak cueknya 😂

Kecuali di pusatnya kota sih. Seenggaknya di jantung kotalah bangunan kategori cagar budaya (agak) diperhatikan oleh yang berkuasa.

Kota Lama pusatnya gedung-gedung kolonial. Sekarang kawasan ini sedang direstorasi. Lebih cakep. Lebih ramah pejalan kaki.

photo source: Traveloka

Pernah lihat bangunan klasik bertuliskan Spiegel wara-wiri di timeline instagram?

Spiegel adalah bangunan kolonial, satu dari banyak gedung klasik di Kota Lama. Dia sedang melejit popularitasnya. Mana ini gedung diisi kafe kopi pula. Segala-galanya instagenic di sini.

Lawang Sewu & Gereja Blenduk gak usah dijelasin lagi lah udah pada tahu semua kan. Hehe.

Dari Kota Lama, pindah ke Kauman.

Di Kauman masi ada peninggalan bangunan kolonial. Pabrik Hygeia salah satunya. Pabrik air minum pertama di Semarang.

Ada juga Pasar Johar. Dahulu ini pasar cakep banget. Indah dan megah. Sayang kondisinya sekarang berbeda jauh sejak bencana kebakaran tahun 2015.

Lantas, di sini kita telusuri rumah-rumah kuno di Kauman. Berjalan kaki saja keluar masuk gang. Mengamati rumah dengan dekorasi unik dan jendela berbuku-buku antik.

Kauman sendiri termasuk kawasan religi. Lokasinya tak pernah jauh dari masjid besar. Dalam hal ini Masjid Agung Kauman Semarang.

Udah capek jalan kakinya? Yok pindah ke kawasan Pecinan! Kalo di sini, banyak jajanannya. Nyam!

Pecinan semarang gak boleh dilewat. Eksotis abis! Klentengnya, rumah-rumah dengan arsitektur pecinannya, dan tentu saja menyusuri kios-kios kulinernya.

photo source: Traveloka

Klenteng Sam Poo Kong yang megah. Jejak Laksamama Cheng Ho ada di sini. Di dalamnya saja ada empat bangunan klenteng lainnya: Kelenteng Dewa Bumi, Kelenteng Juru Mudi, Kelenteng Sam Poo Tay Djien, dan Kelenteng Kyai Jangkar.

Sementara itu kelestarian rumah-rumah tionghoa Semarang emang tidak lebih baik dari kondisi serupa Bandung. Namun bisa menyaksikan meski sisanya saja masih menarik hati kok.


2. Lumpia Gang Lombok nan legendaris

Gak kehitung lagi teman yang rekomendasikan lumpia ini.

Ke Semarang, jajannya lumpia gang lombok! Harus ke sana lho. Lonely Planet aja rekomendasiin kuliner ini.

Gitu kata teman-teman.

Ini kios lumpia pertama di Semarang. Sudah lewat empat generasi, artinya si lumpia udah lebih dari seabad dong ya.

Di sini mereka menyediakan hanya lumpia ayam dan udang. Cuma dua doang tapi ramenya luar biasa. Legendaris! Saya aja ante sampe sejam. Capek emang. Tapi begitu makan lumpianya, alamaaaak nikmat parah!

photo source: Traveloka

Rasa rebungnya istimewa. Konon di situlah kunci kelezatannya. Saat lumpia disajikan, disertakan juga bawang daun, selada, dan cabe rawit. Rasa manis, gurih, sekaligus pedas bergemuruh nikmat di mulut.


3. Jajan di Pasar Semawis

Ini pasar kuliner yang adanya malam hari saja. Konon, kuliner Semarang tumplek tumblegh di sini. Pilih aja mau apa. Sebanyak apa.

Hanya saja bagi muslim harus tanya dulu nih sama yang jualnya. Halal atau engga. Beberapa menu di sini menggunakan bahan nonhalal.

Kuliner rekomendasi di Pasar Semawis nih: es hawa yang unik dan langka, jamu jun, es cong lik, dan tahu pong nasi ayam.

Menu makanan berat ada banyak. Kebanyakan ala makanan tionghoa. Kayak nasi goreng babat. Enak-enak semua sih di sini hahaha. Siapin aja perut yang kosong kalo ke Pasar Semawis.

photo source: Kompas
Jalan kaki udah, makan banyak udah. Foto-foto bejibun. Tinggal siapin diri buat pulang ke Bandung.

Kota lumpia memang berkesan.  Termasuk kota yang seru dan ga ada habisnya.

Sampai ketemu lagi, Semarang!

Tahu Gak Ada Banyak Hotel di Jalan Pangarang?

July 13, 2019
Jalan Pangarang adanya di belakang jalan Asia Afrika.

Ibaratnya mah Maliboro sebab kawasan Asia Afrika emang mirip-mirip Malioboro hitsnya, nah Jalan Pangarang ini adalah jalan dagennya.

Baru pertama kalinya saya masuk ke Jalan Pangarang. Ternyata banyak hotel di sana. Saya sendiri menginap di Reddoorz Near Asia Afrika. Nama hotelnya Hotel Mawar.




Menarik lho ternyata hotelnya. Saya kayak apa ya, gak nyangka juga sih ada hotel kayak gini di dalam sebuah jalan yang kebanyakan dari kita gak kenal namanya. Jalan Pangarang. Kalo saya banyak uang, mau juga sih bikin bisnis penginapan di jalan ini. Hehe.

Menariknya, hotel di sini murah-murah. Cocok buat backpacker. Juga bagi yang traveling dengan budget sedikit.

Ada satu hotel besar di sini. Ukuran bangunannya terbesar. Nama hotelnya Raffleshom. Saya cek di OTA, ratenya gak mahal-mahal amat. Masih di bawah 400ribu. Okelah kelihatannya ini hotel pas saya pandang dari luar.

Saya mah nginepnya di Hotel Mawar. Di sebelah hotel Raffleshom. Gimana hotel mawar nih, menarik gak?

Ya gitu aja kamarnya cocok buat tidur. Bukan staycation. Bukan tipe kamar yang istimewa. Apa karena saya bookingnya di kamar termurah ya wkwkwk gak tahu juga nih.

Tapi okelah semuanya gak ada komplen. Enak tidur, AC oke, dan pilihan channel televisi yang gak banyak tapi masih memuaskan anak saya. WIFI gak kenceng-kenceng amat tapi cukup buat cek stories di ig. Hehe.

Kalo gak salah, hotelnya terdiri dari tiga lantai. Semua kamar manghadap ke taman.

Ini hotel cukup impresif juga. Dari luar nampak hotel yang biasa saja. Masuk ke dalamnya, hmmm dia mencoba ngasih view yang enak buat tamunya. Ada taman. Dekorasi pagar kayu juga oke. Ada sedikit balkon yang muat untuk satu orang saja. Ditaronya meja kursi di situ. Cocok buat nunggu atau kalo sepi ya bisa nulis-nulis dan jadi puisi :D

Ada juga perpustakaan. Saya rasa ini bagian terbaiknya. Karena perpustakaannya ditempatkan di lantas bawah, semi outdoor, dengan sofa yang super lembar dan super empuk! Nikmatnya luar biasa pas duduk di sini. Angin semriwing, duduk terasa nyaman. Belum lagi pilihan buku dan majalahnya gak buruk-buruk amat. Ada komik Kungfu Boy juga. Majalahnya ada Tempo dan National Geographic. Juga ada novel-novel lama.


saya dan kubil nih

Sayangnya, tamu lain ikut nongkrong juga. Kan deket sofa ada kursi-kursi ala meja makan gitu.  Dan mereka merokok. Heuuuu bubar deh.

Terus di sini ada galon di tiap lantai. Lumayan bisa isi ulang kan gak usah beli-beli air putih lagi.

Keluar Jalan Pangarang, ketemu Jalan Dalem Kaum. Sebrang-sebrang aja nanti masuk ke jalan Asia Afrika deh. Udah gitu aja langsung masuk ke areal wisata. Ke Braga ya tinggi lurus saja dari Jalan Pangarang itu. Gampang lah.

Hotel Raffleshom stratanya tinggi.
Hotel Mawar strata keduanya.
Nah hotel-hotel lain ada yang lebih murah.
Tapi pas kamu browsing penginapan di sini, perhatiin juga review-reviewnya. Rekomendid gak. Hotelnya kayak gimana nih. Bahaya gak buat keluarga dengan anak (siapa tahu sih ada praktek plus-plus :D). Ya usahakan riset selalu lah. Gampang kan riset zaman sekarang mah.

Sejauh ini yang saya rekomendasikan Hotel Raffleshom dan Hotel Mawar. Keduanya pun berafiliasi dengan Reddoorz dan Airy. Sok aja dicek-cek.

Udah lama saya gak review penginapan ya hahaha gini nih pensiunan agen agoda emang :))))








Foto: Ulu

Nice Boys Don't Write Rock n Roll

July 12, 2019
Genre buku yang beda dari yang biasa saya share di instagram. Karena bukunya bahas musik. Dari Guns N' Roses sampai Iwan Fals.

Judulnya Nice Boys Don't Write Rock n Roll. Ditulis sama jurnalisnya Tirto. Nuran Wibisono namanya. Lumayan tebel juga. 450 halaman bahas musik. Terbitan indie. Dan ini yang saya beli cetakan keduanya. 



Ini jenis buku yang saya sukai meski kadangkala saya gak ngerti siapa yang dibahas. Tapi seneng aja bacanya. Terus biasanya saya browsing di youtube musisi yang disebut dalam bukunya.

Buku kayak gini tuh semacam rekomendasi musik. Tapi disertai cerita panjang. Menurut saya disitulah menariknya.

Kayak, sekarang saya tahu William Cohen yang watir pisan kisah cintanya dan kenapa lagu-lagunya gelap. Juga Quiet Riot dengan lagu Thunderbird.

Ini buku terbitan penerbit indie, cetakan ke-2. Halamannya banyak, ada 449 belum termasuk halaman indeks. Hebat bener penerbit indie sekarang berkibar! Sampe pada cetak berulang gini.  

Tulisan di buku ini terbagi dalam lima subjudul, saya baca semua tapi banyak yang saya gak ngertinya sih. Karena saya bukan penggemar band-band hair metal. Sementara di buku ini ada satu subjudul yang isinya bahas Guns N Roses semua.

Nah kalo subjudul Obituari dan Kematian adalah bagian ini saya paling suka.  Begitu juga dengan Musik Indonesia. Pas masuk Hair Metal, saya google dulu nama-nama yang ia bahas. Berulang kali jadi mikir, kenapa ya saya beli buku ini. Haha. Tapi kover bukunya bagus! Tema bukunya juga jarang banget kalo di Indonesia. Bisalah masuk kategori buku koleksi nih.

Walo saya gak bisa ngikutin sebagian isinya, tulisan Nuran bagus sekali: lucu, observatif, unik, penuh cinta (yang ini khusus buat Guns N' Roses). Kalo suka Axl Rose, cocok sama buku ini. Kamu baca & berdebatlah sama penulisnya. Khekhe.

Buku bagus, beli dan bacalah buat rekreasi pikiran.


Sore-sore di Istana Pakuwon

July 10, 2019
Gedung Pakuan maksudnya. Kalo bukan karena acara reuni SMA 3 Bandung, manalah mungkin saya bisa masuk ke areal rumah dinasnya gubernur Jawa Barat ini.

Bukan Ridwan Kamilnya yang mau saya temui. Tapi gedungnya yang klasik banget. Biasanya cuma bisa memandang dari luar pagar. Sekarang bisa masuk ke terasnya. Segitu juga udah lumayan. Khekhekhe.




Temen bilang sih di sini suka ada pengajian. Terbuka untuk umum atawa komunitas pengajian. Wah saya belum tertarik, karena kalo acara kayak gitu suka dipasang panggung dan dekorasi yang nutupin keindahan gedungnya :D

Nah pas banget nih si Indra reunian, saya ikut ngintilin. Lalu berfotolah sepuasnya di sana. Rupanya saya gak sendiri. Emang banyak yang mau foto-foto di sana hehe.

Gedung Pakuan usia bangunannya udah tuaaaa banget. Sejak tahun 1866. Dia bahkan udah ada sejak rel kereta api belum dibuat di Bandung. Oleh karenanya, ini gedung yang jadi saksi sejarah Bandung yang tadinya kampung pedalaman menjelma jadi kota metropolis.

Bergaya Indische Empire, gedungnya emang kelihatan 'menindas' banget. Mewah. Pilar-pilarnya besar ala kerajaan romawi. Gedung yang sama pernah saya lihat di Gedung Negara di Cirebon. ya mirip-mirip begitu. Halaman depan yang ekstra luas, teras yang lebar dan besar, kolom-kolom yang ala istana, dan pintu depan ada beberapa biji dan berbuku-buku.

Ini bangunan termewah pada zamannya kali ya.

Coba perhatiin kantor Polwiltabes Bandung, seberangnya Bank Indonesia itu lho di Jalan Jawa. Nah arsitek Gedung Pakuan dan Polwiltabes orang yang sama. Polwiltabes ini dulunya Sakola Raja. Sekolah buat kaum priyayi. Ndak heran gaya-gaya rancangannya mirip yhaaa.

Nama Pakuan sendiri diambil dari nama kerajaan sunda pajajaran di Bogor.





Dulu waktu wilayah di Hindia Belanda masih dibagi dengan nama karesidenan, nah inilah rumahnya residen Priangan. Status bangunannya sepenting itu. Ibukota Karesidenan Priangan tadinya di Cianjur sih, tapi emang mau dipindahin ke Bandung. Kenapa ya?

Berhubung Gunung Gede meletus, cepet-cepet lah dipindahinlah ke Bandungnya. Nah itulah mulainya titik mula Bandung dilirik sama orang Belanda jadi tempat yang 'boleh juga nih!'

Sebab setelah itu, Daendels yang memimpin Hindia Belanda dan mindahin pusat kota yang tadinya di selatan (Dayeuh Kolot) ke utara di kawasan Jalan Asia Afrika sekarang. Udah deh abis itu merem aja. Bandung melesat pertumbuhannya. Jalan pos dibangun. Jalur rel kereta api dibuka. Moncer pokoknya cuan-cuan lancar masuk keluar Bandung.

Gedung Pakuan ini pernah direstorasi satu kali. Biayanya banyak, hampir satu milyar. Begitu kata artikel-artikel yang saya baca online.

Sejarahnya panjang. Bukan cuma ini gedung jadi pemukiman gubernur, pernah juga bangunannya diinapi kontingen Konferensi Asia Afrika. Kelihatannya sih ya dulu zaman hotel belum banyak dan ada event-event sekelas dunia, Gedung Pakuan dimanfaatkan untuk menjamu tamu. Termasuk kalo ada artis-artis sekelas internasional pada datang ke Bandung. Kayak Raja Siam, Charlie Chaplin, Perdana Menteri Prancis di tahun 1921, dll, dst, dkk. Gitu cenah kata Wikipedia.

Walo gak bisa masuk ke dalam bangunan, bisa melihat lebih dekat kayak gini aja saya seneng sih. Ini lahan luas banget ya. RK cuma berempat kalo dengan istri anak. Lantas asistennya berapa. Ajudannya berapa. Sopirnya berapa. Wow...memang zaman dulu tuh pejabat diperlakukan bak raja. Tapi sekarang gak mungkin petantang-petenteng kayak dulu lagi sih kan zamannya udah beda :D

Atau masih?








Foto: Ulu

Big Bad Wolf di Bandung dan Kesempatan Melihat Dunia

June 28, 2019
Karena udah banyak yang nulis tip ke Big Bad Wolf (BBW) di Bandung, saya mau nulis ini aja. Hasil pengamatan kemaren seharian di BBW.

Fyi, BBW sedang berlangsung saat ini. 28 Juni - 8 Juli 2019. Lokasinya di hotel Mason Pine, Kota Baru Parahyangan di Padalarang. Gak usah saya jelasin lah ya BBW apa. Saya asumsikan sudah pada tahu semua. 

Di BBW, saya merasa udik. Oh jadi gini perasaan orang-orang dengan akses tinggi ke buku-buku bagus. Bagus konten bukunya sih saya kurang tahu, saya gak banyak baca buku sample di sana. Tapi buku-buku yang bagus packagingnya itu bener sekali. Kualitas kertas, desain, kover, sampai tema buku. 


Gila. Gila. Gila. 

Memperhatikan itu semua, membuat saya merasa sangat terbelakang. Majapahit bila bangkit dari kubur dan datang ke BBW, ia akan menampar-nampar muka kita semua. "Sudah saya kasih pijakan peradaban yang agung, kalian robek-robek dengan perang dan kebodohan!" 

Hayam Wuruk lanjut berkata "harusnya peradaban kalian sudah bisa bikin buku-buku kayak di BBW itu wooooiii jiancuuukkkk!" 

LOL. 


pinjem foto ini dari akun resmi BBW di instagram

Banyak orang bilang dari acara ini kelihatan minat baca tinggi. Bagi saya, yang terlihat kemarin adalah acara yang segmented (ayolah ini pameran yg 90% bukunya berbahasa inggris). Minat baca tinggi, tapi ya kalangannya itu-itu aja kok. Namun di satu sisi, BBW juga ngasih kesempatan lebar-lebar bagi mereka yang privilage ke akses menjangkau bukunya kurang. Utamanya buku impor. 

Jadi gini. Kalo eksplorasi jarak traveling kamu seluas Ujung Berung ke Cimahi saja, pergilah ke BBW. Kalo kamu bahkan gak pernah ke Singapura dan menyusuri toko buku-toko buku di sana, jangan legeg bilang buku di BBW gak lebih menarik dari toko langganan kamu di Bandung. 

Ya kita punya Kineruku dan Periplus, ada Cikapundung dan Cihapit. Mereka bakal ada terus meski BBW udahan. Dengan demikian, mumpung BBW lagi ada di Bandung, datangilah. Toh ada toko-toko lokal itu pun, memangnya kapan terakhir kalian ke sana? :D 

Saya sendiri gak pernah lihat selebrasi buku sebesar itu di BBW. Perlukan selebrasi seperti itu? PERLU BANGET! 

Seru gak? Entahlah. Tapi menyusuri buku-buku yang kamu sukai ada di BBW dan kamu pikir kamu gak akan bisa baca bukunya tapi ternyata bisa, itu menyenangkan. 

Di BBW, gak belanja buku gak apa-apa. Bisa baca banyak sekali sampel buku. Buanyakkk sekali. Guru-guru di sekolah, luangkan waktu ajak anak didiknya ke sini. Dosen-dosen, boyong mahasiswanya ke sini. Ibu-ibu PKK dharmawanita, Pak RT & Pak RW, bikin program buat warga-warganya sehari berkunjung ke BBW.


Tanpa mengurangi respek keberadaan toko buku lokal, menurut saya BBW membawa cakrawala baru melihat dunia. Iya kamu bisa buka jendela dunia dari Gramedia. Namun di BBW, banyak buku yang gak ada di toko buku kebanyakan di Bandung. 

Mungkin bila berkunjung ke toko buku (impor) biasa (periplus, misalnya) kamu agak sungkan. Bisa jadi males. Atau emang gak tahu. Bisa juga buku samplenya gak ada jadi kamu gak bisa baca-baca dulu. Nah mumpung buku-buku sedang diselebrasikan sebegini besar, datang aja ke BBW.

Lokasi BBW Bandung emang jauh. Tapi banyak akses ke sana. Damri (kemarin saya naik bis ini). Kereta api lokal. Ojek online. 

Kalo sanggup jajan di kafe-kafe kopi, pasti sanggup pula menjangkau BBW di Kota Baru Parahyangan, yang kita tahu: jauh dari pusat kota. 


Gak usah diniatkan belanja buku kalo emang gak punya uang banyak. Jangan minder. Jangan takut kalap (OMG hentikan frase tersebut. Mau kalap pun kalap apanya kalo kamu cuma punya 200ribu dan harus bayar uang pangkal masuk sekolah anak?). 

Lebih penting lagi, jangan merasa gak terhubung karena di sini buku-bukunya berbahasa inggris. Kamu lihat bukunya dari kover saja, raba kertasnya, perhatikan ilustrasinya. Niscaya kamu bertanya-tanya mengapa jauh amat perbedaan industri buku di sini (negara kita) dan di sana (negara maju).  

Niatkan ke BBW buat lihat 'peradaban lain'. Kesempatan melihat dunia terbuka lebar. 24 jam. Gratis. Sampe 8 Juli 2019.