Social Media

Image Slider

Di Javaco Beli Kopi Arabika dan Memotretnya dari Jalan Kebon Jati

January 15, 2023

Kesal juga kalo foto jepretan kita digunakan orang lain tanpa seizin kita. Namun hal-hal kayak gini sudah lumrah terjadi. Zaman digital namanya juga. Gak apa-apa sih gak permisi kepada pemilik fotonya, tapi cantumkan nama pemilik dan linknya wajib deh kayaknya. Iya gak?

Untuk itulah saya datang ke Toko Kopi Javaco di Kebon Jati. Sengaja saya datang ke sana untuk buat tutorial motret kopi Javaco di depan tokonya. Foto milik saya yang anglenya di seberang toko itulah yang terbanyak direpost dan diambil akun-akun travel. Gak banyak sampai puluhan kali kok, hanya 6x kayakya ada. Hahaha enam kali aja udah ganjen bikin tulisan di blog begini kenapa ya? 

 

kopi javaco bandung


Saya posting tutorial motret Javaco di Kebon Jati tiada lain dalam rangka menyindir mereka yang posting foto Javaco milik saya tanpa permisi. Namun entahlah apakah sindirannya diterima pelaku. Hehe.

Pada malas atau gimana sih? Motretnya gampang banget padahal nih. Saya mulai ya tutorialnya.

1. Datangi Toko Kopi Javaco di Jalan Kebon Jati 69 Bandung. Jangan malas terus modal save picture atau capture foto orang. Ayo keluar rumah, keluar kantor, dan datang ke tokonya. Buka pukul 9 pagi. Tutupnya jam 2 siang. Tidak ada plang nama toko. Hari minggu tutup.

2. Beli kopinya. Jangan minta gratisan, apalagi ditukar dengan exposure instagram dan tiktok. Gak. Jangan. Selalulah beli di tempat-tempat seperti ini.

Ada Arabica, Robusta, dan Melange. Kopi Javaco yang Melange kalo gak salah campuran antara robusta dan arabica (cmiiw). Semua kopi di sini level gilingnya medium alias giling kasar. Jadi menyeduh kopinya harus dengan air ngagolak pisan (air panas mendidih).

Kita bisa beli 1 ons paling sedikit.
1 ons arabica Rp17.000

 

kopi javaco bandung


3. Untuk memotret kopi di Javaco di depan tokonya belilah kemasan 250 gram atau 500 gram agar volume kemasannya cocok dengan tangan kita dan ukuran bangunan toko. Kan ceritanya mau motret di seberang tokonya nih. Kemasan kopinya kita pegang dan latar fotonya adalah bangunan toko Javaco.  

Saya pernah beli 1 ons, 250 gram, dan 500 gram. Tercocok kemasannya bila ingin memotret si kopi berlatar bangunan tokonya dari seberang jalan adalah 500 gram.

4. Waspada saat memotret. Mengingat lokasi kita berada di pinggir jalan raya yang ramai. Khawatirnya kita terserempet kendaraan, menghalangi pengguna jalan, dan kena jambret.

Ajak teman saja dan minta ia menemani. Kita sibuk berfoto dan dia menjaga kita. Beuh dijaga-jaga segala baik pisan kalo ada teman begini yah hehe.

5. Selalu ada kendaraan parkir tepat di seberang Javaco. Sementara menurutku angle terbaik motret kopi Javaco dengan latar bangunan tokonya yang antik adalah tegak lurus dengan bangunannya.

Jadi antara nunggu jalanan kosong banget (berkat lampu merah di perempatan kebonjati-gardujati-pasir kaliki) atau motret dari samping.

Semoga beruntung dapat titik tepat di seberang dan di hadapan toko Javaco ya.


kopi javaco bandung

 

6. Udah fotonya? oke cek dulu barangkali kurang banyak pilihan foto. Kalau sudah okelah bisa cabut. Hehe.

Gitu aja. Gampil ya! Tulisan lama Kopi Javaco yang pernah saya tulis tahun 2016 bisa dibaca di sini yah.

Bye, Javaco!

Bye juga kamu yang suka posting-posting foto milik orang lain dan gak cantumin photo creditnya.

Street Food dan Kipas Anginnya

January 13, 2023

Sejak Bandungdiary punya akun di TikTok dan bikin postingan video di sana, saya rekam banyak sekali video kipas angin di berbagai tempat yang saya datangi. 


Awalnya tujuanku merekam benda itu buat footage aja sih, tapi lama-kelamaan saya menjadikannya kewajiban. Sebab hampir di semua tempat yang saya datangi, yang tidak ber-AC, ada kipas anginnya. Terutama tempat makan ala-ala makanan jalanan gitu. 




Saya perhatikan merek kipas angin terbanyak adalah Cosmos. Diikuti Sanex. Kuitung pake feeling aja. Makin mewah tempatnya makin mahal kipas anginnya, semacam Krisbow gitulah mereknya. 


Saya masih ingat video kipas angin pertama yang saya rekam berlokasi di Batagor Isan Jl. Moh Toha. Saat itu saya butuh transisi video yang bendanya berputar karena saya merekam video sedang mengaduk minuman. Supaya nyambung saya tandem dengan video kipas angin. Cocok kan yah, video ngaduk minuman dan kipas angin yang sedang berputar. Wkwk. 


Nyambung-nyambungin yang saya bayangkan belum tentu sama kesatuannya dengan yang orang lain lihat. Yha memang, tidak mengapa. 


Sejak momen di Batagor Isan itulah saya berkata pada diri sendiri saya akan merekam kipas angin yang banyak.


Saya menulis di instagram bahwa semoga tahun 2023 ini ada banyak video kipas angin yang bisa kurekam. Tentu saja maknanya lebih dari sekadar rekam-rekam aja. Sebab untuk melakukan itu semua saya harus dalam kondisi sehat. Masih hidup, tubuh fit, dan ada uang. 

 

 


Semoga tahun 2023 saya bisa rekam kipas angin gak hanya di Bandung. Tapi juga lintas kota dan lintas negara. Seperti halnya tahun 2022, saya bertemu kipas angin di Jogjakarta dan Cilacap. 


Temanku bilang ini namanya filosofi kipas angin. Hahaha mungkin juga tapi seperti kata Pramoedya: hidup sungguh sangat sederhana, yang hebat-hebat hanya tafsirannya.

Beli Obat Sakit Lambung di Babah Kuya

January 07, 2023

Kalau sakit lambung kambuh, saya bergegas beli jamu di Babah Kuya. Awalnya sih iseng aja coba jamu buat mengobati sakit maagh. Saya membelinya di Babah Kuya Hijau. Wah ternyata cocok sekali, kondisi lambung saya membaik sejak mengonsumsi jamunya. Udah deh saya jadi langganan mereka. 

 

 toko babah kuya pasar baru bandung


Toko Babah Kuya berlokasi di belakang Pasar Baru kota Bandung. Begitu masuk tokonya udah menguar wangi-wangian jamu. Wanginya kayak di rumah orang yang udah sepuh gitu sih. 


Di Pasar Baru ini ada dua toko Babah Kuya dan mereka bersebelahan. Satu toko warnanya hijau dan berukuran besar. Mudah dilihat. Toko satunya lagi warna cat kuning dan berukuran lebih kecil. 


Entahlah apa yang terjadi sehingga ada dua toko dan nampaknya kedua toko tersebut tidak akur. Tokonya sendiri udah tuaaa banget. Udah seumur dengan kota Bandung, kota ini kan resmi berdiri tahun 1810. Nah tahun-tahun segitulah Babah Kuya udah ada. 


Namun mengetahui penyebab mengapa tokonya ada dua bukanlah urusan saya, sebab saya mau beli obat aja di Toko Babah Kuya. Saya pun membeli bergantian di kedua toko tersebut. Meskipun obat sakit lambung yang kubeli di Toko Babah Kuya kuning lebih murah tapi saya tetap menggilirnya.

 

 beli jamu di toko babah kuya


Satu ons obat lambung Rp25.000. Obatnya sudah berbentuk jamu. 


Di Babah Kuya ada banyak simplisia. Simplisia ini bahan alami yang telah dikeringkan. Kalo diperhatiin simplisia di Babah Kuya yang terlihat adalah simplisia nabati: batang, akar, daun, kulit buah, bunga, biji. Gak tahu yang kalo simplisia hewani ada atau enggak. Hehe.


Kalo kamu atau keluargamu ada penyakit apa saja coba deh datangi toko Babah Kuya, tanyakan pada cici dan kokonya semacam konsultasi kecil-kecilan. Nanti mereka akan rekomendasikan obatnya. Namun menurut saya sih kalo penyakitnya akut dan parah, baiknya konsultasi ke dokter dulu yah. Khawatirnya kamu ada alergi bahan tertentu sih. 


Jadi jangan tanyakan pada saya ada racikan obat apa saja di Babah Kuya. Silakan tanyakan langsung di tokonya yah. Kalo obat sakit lambung sih udah kujawab di atas yah. 

 

beli jamu di toko babah kuya


Kehalalan produknya tidak saya ketahui, buatku sih selama masih diracik dari simplisia nabati masih halal kali yah? 


Toko Babah Kuya buka senin-sabtu. Pagi sampai sore. Entah jam berapa. Datang saja sekitar pukul 09.00, bila sore datang sebelum jam 4. Alamatnya google aja. Pembayarannya bisa transfer dan bisa tunai. 


Babah Kuya melayani pembelian online. Sejak pandemi pun saya perhatikan mereka menyediakan nomor wa untuk pembeli jarak jauh. 


Gitu aja. Warga Bandung silakan datangi langsung tokonya dan belanja obat herbal di Babah Kuya. 

 

babah kuya pasar baru bandung

Gang-Gangan Menyaksikan Sisa Bongpai di Badran

January 03, 2023

Hari sabtu 19/11/2022 adalah hari terakhir saya berada di Jogja. Pagi-pagi check out dari penginapan dan saya meluncur ke Stasiun Tugu. Padahal kereta api datang pukul 11, saya sudah bergegas mau ke mana memangnya? Mau ketemu dengan Gang-Gangan! 

 

gang-gangan bongpai di badran


Janjian bertemu orang baru adalah kegiatan di luar zona nyaman saya yang terbiasa sendirian. Namun Shinta dari Gang-Gangan beberapa kali mengirimiku pesan di instagram. Mulai dari chat berbunyi “sungguh kita harus ketemu” sampai “mba, plis plis plis berkabar kalau ke jogja suatu saat nanti ya”. Sebuah sikap ekstrovert yang gak masuk dalam keseharian saya yang ambivert. Karena sejujurnya saya hampir gak pernah mengontak siapapun saat bertandang ke kota lain. Tidak ada dalam tujuan saya jalan-jalan cari teman baru atau sengaja meet up.

Namun dengan Shinta berbeda. Memanglah gigih sekali orangnya, persisten dan melankolis. Sepertinya semua sagitarius begitu bentuknya. Seperti indra suamiku dia pun sagitarius. Saya merasa nyaman kepadanya meski ketemu juga belum. Jadi saya memberanikan diri mengontak Shinta duluan dan memberitahunya bahwa saya berada di Jogja. Kami bertemu dan ia mengenalkan saya pada teman-temannya.

Baik sampai mana tadi? Gang-Gangan.

Saya dan Shinta janjian di pintu parkir barat Stasiun Tugu. Ada Risna dan Anisa bergabung. Di hari sebelumnya saya telah bertemu Risna dalam tur di pabrik cerutu Taru Martani bersama Alon Mlampah.

Shinta, Risna, dan Anisa membuat Gang-Gangan, sebuah kelompok pengarsip gang. Di Jogja mereka berjalan kaki menyusuri gang-gang dan merekamnya. Arsip itu mereka simpan di akun instagram @gang-gang.an.

Pagi itu mereka mengajakku ke Badran, wilayah perkampungan dekat Stasiun Tugu yang popular sebagai kampung preman. Spesies preman asal Badran ditakuti seantero Jogja. “Tapi kampung ini sekarang dibuat ramah anak, mbak,” ujar Risna.

Namun bukan Badran yang bertransisi sebagai kampung ramah anaknya yang pagi itu kulihat di sana. Melainkan Badran bekas lokasi kompleks pemakaman tionghoa di Jogja.

Badran terdiri dari beberapa gang dan RW. Wilayahnya di pinggir sungai winongo. Rumah-rumah di mulut gang seperti biasa wujudnya agak besar. Makin dalam masuk gangnya rumahnya makin mengecil dan padat. Kutemui ada beberapa lapangan. Ada juga kompleks makam warga. 

 

gang-gangan bongpai di badran


Di era kolonial Badran adalah kompleks makam orang-orang tionghoa. Entah lokasi pemakamannya pindah ke mana, dalam proses pindah-pindah itulah jejak batu nisan di Badran berceceran. Jenazahnya dipindah, sementara itu batu nisannya tertinggal.

Batu nisan makam tionghoa ini bernama Bongpai (cmiiw). Gang-Gangan ke Badran tujuan utamanya mengajakku melihat jejak bongpai.

Mengejutkan sekali karena kulihat ada banyak bongpai di Badran! batu nisan ini tertancap di jalanan gang, di tembok-tembok gang, dan tertanam begitu saja di lapangan permukaan tanah. Secara kasual bongpai menjadi bagian dari keseharian warga. Mereka memperlakukannya sebagai batu biasa.

Kenapa warga menggunakannya sebagai batu-batuan di tembok ya? tanyaku pada Risna. “Kualitas batunya bagus, Mbak,” jawab Risna yang tergabung dalam komunitas Indonesia Graveyard. Jika diperhatikan dan dipegang, bongpai ini memanglah kokoh dan tebal. Bila saya warga Badran memanglah sayang bila disingkirkan batunya, baiknya memang dimanfaatkan saja buat infrastruktur bangunan.

Sepertinya itulah yang dilakukan warga Badran. Bagiku hal yang menarik adalah mereka seperti tidak terganggu dengan keberadaan batu-batu nisan itu. Terlihat tidak ada maksud untuk menyingkirkan sisa bongpai. Warga bahkan tidak membalik permukaan batu nisannya. Dengan demikian saya bisa melihat tulisan berbahasa cina yang terukir pada permukaan batu tersebut.

Unik sekali di tengah kegiatan warga yang bukan etnis tionghoa dan rumah-rumah khas dalam gang ada batu nisan bertuliskan dalam bahasa cina. Pemandangan yang kontras dan solid sekaligus. 


gang-gangan bongpai di badran


Kuitung Bongpainya banyak banget! Jumlahnya lebih dari 15 bongpai Gila seru banget! idk ini kenapa seru tapi memanglah tiap menemukan bongpai saya terpukau terus. Kayak hah, kok bisa, hah beneran, hah kok bisa, wah bagus euy, wah asli sih keren, hah kok bisa!

Saya pernah melakukan hal serupa di Bandung. Berjalan kaki menyusuri sebuah perkampungan tengah kota dalam rangka menyusuri batu nisan ala tionghoa ini. Ada satu bongpai di Babakan Ciamis, dekat Balaikota. Dalam bongpai tersebut tulisannya dalam bahasa latin, bukan bahasa cina.

Di lain waktu saat menyusuri sejarah Dobi di Kebon Kawung saya dipandu Komunitas Aleut dan menyaksikan satu batu nisan yang menjadi alas penggilingan cuci baju oleh warga. Namun si batu nisan ini tergeletak horizontal di lokasi yang tidak bisa kami jangkau, jadi kami melihatnya dari jarak beberapa meter dari bongpai tersebut. Tidak terlihat apapun selain wujud batu aja. 

Jadi saat saya berada di Badran dan terpukau melihat sisa-sisa bongpai di sana kukira itu hal yang wajar, bukan lebay. Mengingat pengalaman saya di Bandung yang demikian tadi saya ceritakan, sementara di Badran semua bongpainya masih berukir tulisan dalam bahasa cina dan saya bisa memegang batunya. Bayangin, megang! Megang bongpai yang asalnya dari zaman belanda begitu coba gimana mungkin saya gak takjub. 

 

gang-gangan bongpai di badran


Shinta cerita dalam bongpai biasanya selain tertera nama orang yang wafat. Lalu ada daftar nama anggota keluarganya yang mengurus pemakaman.

Bila memperhatikan batu nisan dan melihat wujud pemakaman ala tionghoa, kurasa pasti butuh banyak sekali uang untuk mengurus satu makam saja. Karena itulah nama keluarga yang mengurusnya wajib tercantum di bongpai.

Kupikir manusia ini rumit juga, saat hidup butuh biaya, setelah wafat pun masih ada ongkosnya. Tidak hanya kaum tionghoa dan bongpainya, keluarga saya yang etnis sunda pun atau kamu pasti mengalami hal yang sama. Namun nampaknya ongkos makam orang-orang tionghoa pasti mahal, bila kulihat dari bongpainya.

Tidak semua wilayah Badran dapat saya jelajahi. Maklumlah pukul 11 stasiun tugu menanti. Hehe. Kira-kira durasi saya berjalan 2,5 jam.

Sebelum pukul 11 kereta api datang dan saya harus bergegas menuju stasiun. Kami berpamitan di parkiran Stasiun Tugu dan berjanji bertemu lagi. Akan tetapi sebelumnya kami berenam sempat santap Tahu Gimbal Pak Warno. Ditraktir Mba Autine. Makasih, Mba!

 

difoto Risna

 

Terima kasih banyak Shinta, Anisa, dan Risna.

Dalam tur di Badran ini saya bertatap muka dengan Autine dan Radea. Dua orang yang mendiami kawasan jawa timur dan saya mengenali mereka karena foto-foto bangunan tuanya di instagram. Sungguh saya senang sekali bisa gang-gangan dengan mereka semua. Hamdalah makasih ya, Shinta. Bukan hanya saya berjumpa dengannya tapi juga bisa bertemu dengan teman lama-tapi-baru lainnya. Saya beruntung sekali.

Melihat Braga Dari Akarnya Bersama Patjarmerah dan Braga Heritage

December 27, 2022

Braga di Bandung, siapa yang tidak tahu. Braga bisa disebut sebagai jantungnya sejarah kolonial kota kembang. 

Saya mengikuti tur jalan kaki berjudul Telusur Gang Braga. Seorang warga lokal memandu kami, Farida namanya. Ia menuntun kami berseluncur ke dalam gang-gang, melihat rupa Braga dari dalam akarnya selama tiga jam pada hari sabtu (10/12/2022).

 

patjarmerah di braga bandung

Telusur Gang Braga bersama Braga Heritage merupakan acara kolaborasi dengan festival literasi keliling Patjarmerah dalam rangka sesi #JelajahPatjar. Para peserta secara acak mendapat satu buku tentang Bandung sebelum tur mulai.

Farida bercerita mula-mulanya di zaman kolonial ada empat orang saudagar kaya raya menguasai kepemilikan tanah di Braga: Alkateri, Asep Berlian, Apandi, dan Yiep Ging. “Apandi pelukis terkenal itu bukan, Teh?” tanyaku lugu dan bodoh.  

Saya masih yakin Apandi yang dimaksud adalah pelukis tersohor. Namun kepikiran juga apa iya dari penjualan lukisan bisa beli tanah banyak banget. Farida tersenyum usil, ia menyimpan rahasia perihal Apandi sampai kami berada di depan Hotel Kedaton.

Di depan pelataran parkir Bank Jabar tempat kami berkumpul, Farida bercerita bahwa wilayah Braga terbagi dua: braga pendek dan braga panjang. “Braga pendek itu kira-kira dari Bank Jabar sampai Museum Konferensi Asia Afrika. Braga panjang meliputi Gedung berita Antara sampai Bank Indonesia,” katanya.

Di belakang braga panjang terdapat pemukiman warga yang padat dan berdesak-desakan dalam gang. Jumlah rukun warganya ada delapan. Farida bermukim di RW 03.  

Braga yang kutengok dalam gang tidak jauh berbeda dengan gang-gang sempit di jantung kota dan kabupaten Bandung: rumah menempel saling berhimpitan, ibu-ibu bercengkrama di depan rumah, sampah berceceran, dan banyak bangunan menyerupai kos-kosan/kontrakan. Bedanya ya tentu saja bobot sejarah si Braga. 


gang braga bandung


Rumah besar dan kecil berdempetan. Ada RW-RW yang terlihat bersih segar nan hijau, banyak tanaman hias. Ada pula yang terlihat kotor dan tidak terurus. Kupikir selain bobot sejarahnya, gang-gang di Braga ini menarik juga penampilannya karena perbedaan mencolok antar rukun warga tersebut.

“Warga di Braga kebanyakan pendatang. Profesinya mayoritas pedagang kecil makanya banyak warung di sepanjang gang,” Farida melanjutkan “tukang bengkel ada, pegawai toko juga ada. Kalo pegawai negeri kayaknya jumlahnya hitungan jari deh.”

Persis di belakang  Braga City Walk, bangunan tinggi menjulang sangat kontras dengan suasana di titik saya berdiri, terdapat puing-puing bangunan yang sudah rata. Warga menggunakan lahan tersebut untuk berkumpul bercengkrama dan parkir motor. Anak-anak memanfaatkan lahannya untuk bermain. Di sana pula Farida menyuguhi kami surabi Surga, Surabi Braga, buatan Teh Nur yang warungnya berada di lokasi kami berkumpul. Kupilih surabi oncom tentu saja.

Sebuah tips: bila kamu berhadapan dengan surabi Bandung, maka pilihlah pertama-tama surabi oncom, pilihan keduanya surabi kinca.

Sambil mengunyah surabi kami mencerna juga cerita Farida seputar sengketa lahan di Braga. Namun detail cerita ini harus saya sensor. Farida dan Braga Heritage secara berkala mengadakan tur berjalan kaki gang braga. Kamu follow saja akun instagramnya dan pantau informasinya di sana. 

 

telusur gang braga bandung


Farida menuturkan dahulu komunitas di Braga terbentuk dari kalangan pendatang. Salah satunya adalah sopir-sopir delman dan pedati. Di masa lalu Braga yang berdekatan dengan Banceuy pernah menjadi istal kuda. Tempat peristirahatan kuda, kerbau, dan kusirnya itu dekat dengan pos pemeriksaan dan bagian dari rangkaian Jalan Raya Pos yang termashyur di zaman kolonial.

Masa istirahat para pengendara kuda, delman, dan pedati ini bisa memakan waktu lebih dari sehari. “Waktu istirahat itu mereka menetap di Braga, mungkin cinta lokasi dengan warga di sini, dan beranak pinak,” katanya lagi.

Begitu pun yang terjadi hari ini. Komposisi pendatang di Braga jumlahnya lebih banyak ketimbang warga lamanya. “Makanya masalah yang ada di sini kompleks banget,” kata Farida yang menetap di Braga sejak usia kecil.

Farida dan keluarganya telah mendiami Braga sejak puluhan tahun lalu. “Ibu saya sendiri lahirnya di sini tahun 1950an,” katanya lagi. Saking komunal dan bertumpuknya pemukiman di lingkungan ini fasilitas MCK umum masih tersedia. 

“Kalo kondisi air bersih di sini gimana, Teh?” tanyaku. Farida bercerita fasilitas air bersih di gang-gang braga disediakan oleh PDAM, tapi warga menampung airnya di jam-jam tertentu saja dan tidak semua RW mendapatkan fasilitas tersebut. Air ledeng baru menyala pukul 5 sore sampai 5 subuh.

Mojang Bandung yang profesinya mengajar ini memberitahu kami bahwa hotel-hotel dan kafe yang berada di Braga membeli air bersih dari wilayah lain. Warga dari RW 06 di Kejaksaan juga melakukan hal yang sama, yakni membeli air bersih ke produsen air kecil berwadah jirigen. 

 

braga heritage bandung


Memang paling menarik berjalan dengan pemandu lokal, dia membawa kami ke akar-akar Braga yang tidak terlihat dari jalanan. Kami masuk terowongan, halaman belakang rumah warga, dan sisi sungai Cikapundung. Farida juga memberitahu kami informasi faktual. Cerita tentang sejarahnya adalah hal yang perlu diketahui, kisah warga sehari-harinya merupakan hal lain yang menjadi penghubung antara masa lalu dan hari ini, imho.

Selain mengajar, dalam kesehariannya Farida mengelola sebuah rumah baca bernama Rumah Baca Kreatif Braga. “Di tahun 2019 untuk keberlangsungan program rumah baca kami coba buat tur jalan kaki. Pemandunya anak-anak karang taruna yang udah kami latih,” Farida cerita panjang lebar tentang asal muasal Braga Heritage.

Farida pernah terlibat kegiatan di Museum Konferensi Asia Afrika bernama Sahabat Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA). Ia berkecimpung dalam anak klab edukator SMKAA. “Saya belajar memandu dari museum KAA, terus saya coba bagikan ilmunya ke anak-anak karang taruna di Braga sini,” ungkapnya lagi. Braga Heritage kini menyediakan tur reguler bernama Ngabaraga.

Pendiri Braga Heritage ini mengaku tidaklah mudah membina warga tertarik ke dunia sejarah. Bilapun ada kebanyakan mereka bersikap pemalu saat harus berbicara di depan orang lain. “Mendobrak malu-malu kucingnya warga ini yang sulit,” katanya. 

 

telusur gang braga bandung
Farida, Braga Heritage


Warga Braga sendiri menyambut peserta tur jalan kaki dengan ramah. Menurut Farida mereka sudah terbiasa kedatangan warga asing. “Cuma masih harus belajar “bersih”, “ungkapnya sambil terkekeh. Saya lupa menanyakan bersih-tanda-kutip yang dimaksudnya apa.

Permasalahan lain di Braga adalah tidak ada sinergi antara pelaku bisnis di jalan besar dan warga di perkampungan belakang jalan. Menurut Farida masalah ini adanya karena kurang komunikasi, "kurang ngobrol," katanya lagi. 


Menghuni pemukiman Braga, Farida punya keinginan melongok dapurnya restoran kuno di Braga bernama Sumber Hidangan.

Sekalian saya kutanya iseng, selama tinggal di Braga yang banyak kafe dan hotelnya, ada gak tempat yang pengen teteh lihat dan kunjungi? 


Secara mengejutkan si teteh manis ini menjawab antusias: Nyonya Manis! “Kabita pengen masuk ke dalamnya, Nyonya Manis kalau siang jualan dimsum, kalau malam berubah jadi klab malam!” katanya sumringah.

Tak kusangka. Haha. Langsung saya search itu Nyonya Manis di Instagram dan kufallaawwww!

Ohiya teka-teki Apandi itu akhirnya diceritakan Farida saat kami berada di depan lokasi bekas rumah keluarga Apandi. Terbukti memang pertanyaan saya ada bodohnya.

Demikian sepotong cerita dari tur jalan kaki menengok Braga dari dalam akarnya. Betulan sepotong saja karena Farida tidak membawa kami ke ruang-ruang bawah tanah Braga. Durasi tur ada batasnya. 


Kurasa Braga memang panjang dan beragam kisahnya. Hari itu yang kutengok cuma sepotong akarnya saja.