Image Slider

Menari dan Menyepi di Papua

March 23, 2020
Ini akan terbaca klise. Bila ada tiga tempat di dunia yang ingin kudatangi seklaigus, Lembah Baliem, Pulau Biak, dan Taman Nasional Lorentz. Kalian pasti tahu di mana itu semua. Ah betul sekali: Papua.

Besar banget potensi sebuah pulau bernama Papua ini. Yang kumaksud adalah potensi wisata, sekaligus potensi sumberdaya energi berbasis alam. Alamnya masih hijau. Pegunungan, perbukitan, hingga tebing-tebing eksotis dan pantainya.

Bila membahas wisata di Papua, mau cari pantai, ada. Hendak melongok indahnya pegunungan, banyak. Eksotisme sebuah pulau yang didamba warga-warga metropolis yang hidupnya garing seperti saya, ya Papua jawabannya.

Keistimewaan Lembah Baliem

Lembah Baliem ada di ketinggian 1600 mdpl. Termasuk dalam kabupaten Jayawijaya. Areal pegunungan. Hutan-hutan tebal penuh oksigen, hijau sejauh mata memandang. Begitu pemandangan yang kulihat di foto-foto perjalanan.

Dengan suhu tidak lebih dari 15 derajat celcius, kurasa suasana Lembah Baliem mirip Bandung dua abad yang lalu.

credit photo: genpi

Lembah Baliem populer dengan festival tahunan di bulan Agustus: Festival Lembah Baliem. Festival Lembah Baliem diselenggarakan oleh Kabupaten Jayawijaya. Ya betul, festival reguler ini jadi program resmi pemerintah.

Ada tiga suku besar bermukim di sini. Suku Dani, Suku Lani dan Suku Yali. Dalam festival itulah mereka memberikan pertunjukan istimewa. Yakni simulasi perang antar suku dan keluarga. Termasuk beberapa tarian tradisional. Siapa sangka peperangan yang dahulu berlangsung betulan dan mengerikan, sekarang berubah menjadi pertunjukan wisata.

Kurasa budaya memang patut dipertahankan. Bukan untuk ditiru keburukannya, tapi buat belajar. Sekaligus menjadi ajang mengenalkan budaya suku-suku setempat.

Adegan pertunjukan perang di Festival Lembah Baliem normalnya berlangsung dua hari. Biasanya ada 26 kelompok yang bermain. Tiap kelompok ini terdiri 30 sampai dengan 50 pejuang. Musik mengiringi pertunjukkan. Papua Pikon nama alat musiknya, terbuat dari kulit kayu dan berbunyi bila ditiup. Alat musik langka ini tidak banyak yang bisa memainkannya sekarang.

Pertunjukan simulasi perang dan tarian bukan hanya sajian Festival Lembah Baliem. Ada juga pertunjukan budaya lainnya: balap babi, lempar tombak rotan puradan, dan pertunjukan seni musik. Bahkan pengunjung dipersilakan menggunakan kostum tradisional. Bahkan ikut menghitamkan kulit! Wow menarik sekali!

Kombinasi pertunjukan budaya dan panorama alam yang hijau mempesona, itulah Lembah Baliem. Beruntung sekali Indonesia memiliki situs seperti ini. Dan betapa belum beruntungnya saya karena belum memiliki kesempatan mengunjunginya.

Menyepi di Pulau Biak

Surganya pantai Indonesia Timur. Kira-kira ada tiga pantai yang sering kulihat seliweran di media sosial. Mereka adalah Pantai Segara Indah Biak, Pantai Maraw, dan Pantai Yendidori.

credit photo: phinemo

Definisi mencuci mata dan membasuh jiwa ya di sini tempatnya, di pulau yang pernah jadi rebutan di masa perang dunia ke-II. Di pulau yang terletak di pesisir utara Papua. Air di garis pantai yang bening, udara bersih, dan pasir-pasir yang cakepnya bagai berlian. Ah iya, kuingin makan ikan di sana. Ikan dari hasil pancingan, ikan bubara yang baru mati sekali! Mengerti kan maksudku? ya betul, ikan segar!

Lalu ingin kumasuki Hutan Samares dan mencari surga tersembunyi di sana, namanya Air Terjun Warsa dan Air Terjun  Karmon. Pernah dengan atau membaca tentang 'danau terbiru' se-Indonesia? ya di sinilah tempatnya.

Perjalanan di Biak belum selesai bila saya belum menginjak tanah Taman Burung dan Anggrek.

Salju di Taman Nasional Lorentz

Ini dia taman nasional terbesar se...Asia Tenggara! kalau kulihat foto-fotonya, cakep banget pemandangannya. Bayangkan di taman nasional ini kamu berada dalam kendaraan dan di sebelah kaki kirimu, eh tidak maksudku, sekelilingmu adalah hutan melulu! Hutan gambut, hutan hujan, hutan rawa, hutan pegunungan!

Dengan luas mencapai 2,4 juta hektar, Taman Nasional Lorentz menyajikan panorama eksotis ala Papua. Kamu baca tentang Lembah Baliem yang sedikit kubahas di atas kan? Nah mereka berada di wilayah yang sama.

credit photo: ig santofreddy
Jangankan pemandangan hijau, di taman nasional juga terdapat pegunungan bersalju. Akan tetapi, sepertinya tidak mudah mencapai tempat-tempat berpuncak tersebut. Kurasa, pecinta aktivitas mendaki gunung level profesional yang dapat meraih puncaknya.

Panorama alam apa yang gak ada di Papua. Kurasa inilah tempat terbaik pemandangannya dan terbersih udaranya di Indonesia.

Jalan wisata masih panjang di Papua. Melihat arah wisata yang makin mengerucut ke tren ekowisata, Papua juga punya kesempatan yang sama untuk menggali potensi ekowisatanya. Dalam hal ini, salah satu contoh lembaga yang turun tangan mengelola potensi tersebut bernama EcoNusa. Mereka ikut memfasilitasi pengelolaan sumberdaya yang berkelanjutan di wilayah timur Indonesia, termasuk Papua.

Apa kamu pernah berkunjung ke Papua, ke mana saja? Atau kamu sama nasibnya denganku, masih menggenggam Papua dalam angan-angan?


Satu Tahun Dua Belas Buku

February 18, 2020
Di tahun 2019, saya pasang target ke diri sendiri. Saya harus baca buku sebanyak 12. Ya, dua belas buku!

Kupikir, apa susahnya membaca satu bulan satu buku. Target ini kutiru dari programnya Puty. Kalo target membacaku di bawah angka 15, Puty udah naro angka sampai 40. Gokil!

Terus bagaimana, apakah terkejar targetnya?


photo credit: nbc san diego
Entah apa ku harus bangga dengan pencapaian ini. Saya berhasil melampaui target tersebut. Seingatku, buku yang lahap kubaca ada 18 jumlahnya. Lebih baik dari tahun 2018 yang kayaknya cuma 12 buku. Target yang kubuat gak jauh-jauh dari yang jumlah yang normalnya saya baca dalam setahun sih.

Inilah evaluasi yang harus kutanamkan di tahun 2020: mencatat dan memotret buku. Dan keluar zona nyaman (tapi tentang zona nyaman ini nanti saja tahun 2021 :D).

Apa saja judul buku-bukunya, itulah yang saya lupa rinciannya. Coba saya catat seingatku ini ya:
Oeroeg
Di Kaki Bukit Cibalak
Para Priyayi
Na Willa
Gadis Kretek
Malika Maliha
Orang-Orang Oetimu
Njoto, Peniup Saksofon di Tengah Prahara
Aidit, Dua Wajah Dipa Nusantara
Sjam, Lelaki Dengan Lima Alias
Bukan Pasar Malam
Kota Djawa Tempo Doeloe
Pada Suatu Hari Ada Ibu dan Radian (Kumcer Kompas 2009)
Everything In Between
La Barka
Plantungan Pembuangan Tapol Perempuan
Kubah
Bandung Dalam Perangko
Nice Boys Dont Write Rock n Roll

Ada beberapa buku lainnya yang kubaca tapi belum selesai. Lantas kulupakan saja. Karena belum merasa tertarik saja.

Novel Oeroeg dan Orang-Orang Oetimu adalah bacaan terbaikku di tahun 2019.

Tahun 2020 ini saya pasang target baru. Gak muluk-muluk, saya belum berani mamatok angka besar. 15 buku aja dulu. Moga-moga buku yang saya baca bisa lebih banyak.

Sejujurnya ada perubahan yang saya rasakan dengan target membaca.

Pertama, saya gak merasa tertekan sama sekali. Justru sebaliknya, semangat dan antusias banget membacanya. Ada energi besar buat melahap buku-buku. Namun anehnya, kalau sedang banyak pekerjaan sehingga pikiran kusut, ya sudah saya pilih tidur aja. Baca palingan 3 halaman.

Kedua, saya rajin beli buku. Jujur saja buku yang menumpuk belum terbaca saya gak bisa hitung jumlahnya. Lemari buku bentuknya seperti ibu-ibu hamil 9 bulan, mau brojol. Merasa ada target, saya beli saja buku yang kayaknya bakal saya baca. Buku yang saya sukai. Lihat saja nanti, dibaca atau enggak. Benar kata suamiku, bila ada benda yang kami tidak merasa sia-sia membelinya itulah buku.

Ketiga, ada alarm bawah sadar di kepalaku yang berkata, saya gagal di bidang lain setidaknya target membaca buku janganlah gagal. Hahaha kurasa ini paradoksnya alasan pertamaku di atas. Katanya tidak tertekan, tapi ingat terus. Lho bagaimana sih!

Ya..ya...alarm itu tidak mempersulitku kok. Saya ingat, tapi dibawa santai saja. Pokoknya cari saja buku yang kamu sukai, itulah yang dibaca. Mau tebal, mau tipis, tidak masalah. Saya nih makin sadar kalau buku fiksilah yang saya cintai. Nonfiksi yang kubaca, pasti muter-muternya di tema sejarah dan perjalanan aja.

Saya juga sadar saya gak punya cukup uang untuk memenuhi hobi jalan-jalanku. Ditambah anak saya udah sekolah pula, biaya dan tabungan larinya untuk dia seorang. Oleh karenanya, buku kujadikan sarana hiburan. Sarana melarikan diri dari kepenatan hidup, meski yang kubaca kadang-kadang bikin penat juga. Setidaknya itu bukan masalahku hahaha.

Oh, saya punya target yang gagal. Saya pernah bilang mau nulis review buku-buku yang kubaca. Hasilnya? Sedikit yang berhasil kutuliskan. Itu juga tulisannya gak lengkap. Hanya kesan-kesan pendek. Gak apa-apa deh. Udah berusaha, masih berusaha.

Demikianlah cerita membacaku di tahun 2019! Beberapa resensi buku dapat kamu baca di kategori Books. Bisa juga dibaca di instagram @bandungdiary.


Simak Tips Sukses Berbisnis Online dengan Ninja Xpress

February 17, 2020
Bisnis online adalah profesi baru di tengah melesatnya perkembangan internet. Selain bisa disambi dengan pekerjaan utama, berjualan di internet dapat juga jadi profesi utama. Bila ada yang sangat terbantukan dengan membuka bisnis online, salah satu jawabannya adalah ibu-ibu rumah tangga.

Untuk menjadi ibu dan memilih mengurus keluarga sepenuhnya hingga tak dapat bekerja ala pegawai kantoran, mereka memanfaatkan teknologi untuk berjualan dari rumah. Modalnya kemauan, smartphone dan kuota saja. Tinggal dipilih, membuat bisnis apa, menjual produk apa. Kapan waktu yang bagus untuk berjualan. Kepada siapa Anda memasarkan produk secara online. Lantas bagaimana cara memulai bisnis online itu?

photo credit

Cara Mulai Bisnis Online 

Mulai dari yang kita sukai 

Memulai bisnis, orang-orang bingungnya dagangin apa. Apa yang bakal laku? Harganya bagaimana? Pengen jual segala macam produk, memungkinkan tidak? Bila belum terbayang produk apa yang mau dibisniskan, perhatikan hal-hal yang kita suka. Suka ber-makeup? Nah bisa coba menjual produk-produk makeup dan skincare.

Gemar memasak? Sepertinya menarik kalau menjual jasa katering atau buka purchase order untuk menu tertentu. Sering traveling? Bagaimana jika buka jastip produk dari kota atau negara yang Anda kunjungi. Prinsip pertama jualan online adalah lakukan tanpa beban. Sambil menyelam dapat ikan, alias hobi dilakoni tapi juga untuk mendapatkan uangnya kembali. Lebih
menyenangkan kalau hobi justru menghasilkan untung.

Optimasi media sosial

Media sosial memuluskan bisnis. Orang yang terjangkau informasi bisnis kita bisa lebih banyak, kita gak hanya mengandalkan jaringan pertemanan. Media sosial juga dapat digunakan untuk beriklan. Anda dapat beriklan. Sesuaikan target pasarnya dengan profil produk.

Biasanya orang membuka media sosial untuk mencari informasi. Termasuk info berbelanja. Bila bisnis berjalan mulus, buka lowongan admin dan biarkan dia yang bekerja. Anda dapat fokus mengerjakan hal lainnya. Meski terlihat mudah, mengurus konten media sosial kalau dilakukan tiap hari pasti menantang. Delegasikan tugas pada orang lain untuk membantu Anda mengembangkan bisnis.

Membuat website

Toko online kebanyakan mengandalkan media sosial dan ecommerce. Namun, nilai lebih akan Anda peroleh bila toko dilengkapi website. Mengapa? Saat pembeli bertransaksi, mereka sign up terlebih dahulu. Di situlah data mereka akan Anda dapatkan. Dengan data yang ada di toko online website tersebut, pemetaan profil pembeli untuk mengembangkan bisnis lebih mudah dilakukan. Termasuk jika ingin membuat promo-promo menarik.

Website juga dapat menjadi media pengumpul email pelanggan. Saat Anda membuat newsletter harian atau waktu tertentu untuk menginfokan berbagai promo dan kegiatan seputar produk, data email pelanggan sudah di tangan.

Sesekali Mengikuti Bazar

Berjualan online memang menarik. Sesekali turun dari layar dan berdagang langsung, mengapa tidak. Ikutan bazar, misalnya. Berjualan di bazar seringnya tidak melulu bertujuan cari tambahan uang. Selain menambah portofolio pengalaman dan konten untuk media sosial, di bazar Anda dapat berjejaring dengan sesama pebisnis lainnya. Termasuk berinteraksi dengan pembeli secara langsung.

Konsistensi adalah kata kunci 

Memulai bisnis tidaklah sulit. Mempertahankan bisnis, itu yang lebih susah. Kebebasan berbisnis online adalah Anda dapat berhenti kapanpun Anda mau. Bisnis loyo, bisa langsung stop. Malas mengerjakan hal yang sama terus-terusan, bisa berhenti kalau mau. Bosan?Ya pindah haluan saja. Namun apa iya memilih berhenti tanpa dipikir matang adalah jalan keluar? Karenanya kesulitan bekerja dengan diri sendiri adalah mengalahkan diri sendiri pula. Sabar, tekun, dan giat adalah kunci.


Memilih partner jasa pengiriman 

Bisnis online pasti menggunakan jasa pengiriman. Cari ekspedisi yang terpercaya dan dapat diandalkan. Pilih Ninja Xpress untuk pengiriman barang. Paket yang dikirim dengan Ninja Xpress akan aman sampai tujuan. Pilihan pengiriman barang tersedia lebih dari satu macam. Kita bisa atur pilihan waktu jemput dan pengiriman paket.

Lokasi Ninja Point terdapat di mana-mana. Dengan menggunakan aplikasi Ninja Xpress, bantuan untuk penjemputan paket juga tersedia. Anda tak perlu repot keluar rumah. Status paket yang sedang dikirim secara real-time, dapat Anda telusuri melalui website maupun aplikasinya.

Tarif Pengiriman Ninja Xpress

Tarif flat bagi pebisnis online: Tarif Jabodetabek waktu pengiriman 1-3 hari sebesar Rp9.000. Jumlah paket yang dikirim minimal 10 bungkus. Tarif pengiriman ke Pulau Jawa selama 1-3 hari, ongkosnya Rp19.000. Jumlah paket minimal 10 bungkus.

Nah itu dia tips sukses bisnis online Ninja Xpress. Terima kasih sudah membaca kiat-kiat di atas. Selamat mencoba!


Cerita dari Konser Dewa di Bandung

February 16, 2020
Malam itu saya gugup. Efek kegugupanku? Dompet ketinggalan. Padahal kubutuh KTP yang ada di dalamnya. Tiket konser jatuh entah di mana. Untung ku ingat di mana tiketnya kukeluarkan dari tas. Nah, jatuhnya dekat saja, 10 meter dariku. Masih rezeki emang dasar!

Kegugupanku yang ketiga: asam lambung naik. Saya hentikan dengan makan tepat waktu dan cemal-cemil. Juga kubawa minyak buatan Botanina yang dari judulnya saja sudah membantu meredakan sakit lambungku: Jaga Sukma.


Sungguh ribet nonton konser band kesukaan di umur kepala tiga ini. Badanku, saking antusiasnya, merespon dengan hal-hal yang tidak menyenangkan.

Anak 90an mana yang gak cinta dengan Dewa 19 dan Dewa?

Maksudku, lagu-lagu mereka yang mengiringi masa remajaku. Di umur-umur keemasan itulah mereka ada dan melekat kuat-kuat dalam ingatan. Ini pertama kalinya saya nonton langsung Dewa. Kurasa wajar kalau ku gugup.

Konser Dewa di Bandung berlangsung di ballroom Hotel Trans Luxury pada hari Sabtu (15/02/2020). Dalam jadwalnya tercantum, konser dimulai pukul 20.00 dan berakhir pada 22.30.

Pada kenyataannya, molor hampir satu jam. Mendekati jam 21.00 konser pun mulai. Dewa membuka pertunjukkannya dengan Arjuna Mencari Cinta. Beugh semua kegugupanku bukan saja hilang, entah energi darimana padahal saya lagi capek banget, saya langsung loncat-loncat dan ikut mengejar suara Once yang tinggi banget!

Lagu berikutnya yang menghantam telinga kami tanpa ampun: Angin, Dewi, dan Kosong.

Once gak banyak ngomong. Sekalinya ngomong juga garing. Hahaha. Kaku sekali, Once. Gak apa-apa, saya tetap menyukaimu, Maz Once! 

Lantas Ahmad Dhani yang kukira ada di panggung, ternyata baru muncul di lagu ke-5. Ya maaf saja, saya bisa melihat panggung, tapi bagian atasnya. Hahaha. Personel Dewanya sama sekali gak terlihat!

Dhani muncul dengan lagu Queen berjudul Now I’m Here. Heboh sekali. Ini konser pertamanya setelah ia keluar dari penjara. Makanya ia setel kemunculannya di konser agak istimewa begitu.


Lagu-lagu yang dinyanyikan Dewa setelah Queen itu:
Mati Aku Mati,
Pupus,
Perempuan Paling Cantik,
Sedang Ingin Bercinta,
Cinta Gila,
Kangen,
dan Mistikus Cinta. 

Sebisa mungkin saya ikut nyanyi semua lagu tersebut. Saya sadar betapa kumenjiwai semua lirik-liriknya ahahahahahaha. Gokil aku senang!

Ada yang saya gak hapal liriknya. Bahkan ada lagu yang saya gak sukai sama sekali (Sedang Ingin Bercinta terutama sih, sebab pas lagu itu pas Dhani proses berpisah dengan Maia. Kurasa itu lagu buat Mulan Jameela. GEULEUH!).

Kupikir waktu akan terasa lama saat kuikut bernyanyi dengan Once. Ternyata waktu terbang ya. Satu jam terasa lima menit saja. Konser ini dibagi jadi dua sesi. Sesi pertama yang kusebut di atas lagu-lagunya.

Sesi kedua adalah lagu-lagu Bintang Lima.

Di antara sesi tersebut ada sesi istirahat selama 15 menit. Selama nunggu sesi-2, penonton kembali duduk selonjoran dan minum air banyak-banyak. Tenggorokan kering hahaha.

Nah di sesi kedua dimulai, suasana makin panas. Lagu dari album Bintang Lima keluar. Urutannya juga sama dengan album kaset.

Waktu intro Roman Picisan yang mana langsung masuk ke lirik, uuuuuuhhhh saya kembali bergejolak. Apakah saya sedang bermimpi, mengapa ini terasa sureal, kubernyanyi dengan mata tertutup…

“Cintaku tak haruuuuuuussss…miliki dirimuuuuu….meski perih mengiris-iriiiisss…iris segala janjiiii….”

Bahagianya saya malam itu udah gak jelas lagi bentuknya bagaimana. Bintang Lima adalah salah satu album terbaik dalam hidupku sepanjang sejarahku dengerin musik. Rasanya ku ingin singgah sebentar ke tahun 2000 dan berkata pada Ulu yang sedang nunggu-nunggu videoklip Roman Picisan ditayangkan di program acara RCTI Clear Top 10 terus bilang: Lu, kamu nonton konser mereka di tahun 2020! 

Saya cuma yang...saya gak ngerti lagi...saya senang...saya kayak...duh gimana jelasinnya ini ya....

Meski sound dalam ballroom itu kacau menurutku, tapi rasa sentimentil yang muncul karena Bintang Lima dinyanyikan di hadapanku langsung begitu...saya tuh...aduh gimana ya...mau nangis! mau ketawa! mau teriak sekencang-kencangnya!

Saya ingat sekali di mana saya jatuh cinta dengan album Bintang Lima di tahun 2000 waktu itu! 

Konser ditutup dengan lagunya Queen berjudul Radio Gaga. Kuperhatikan, gak banyak yang hapal lagu tersebut, kecuali suamiku dan orang-orang seumurnya. Hahaha!

Konser band apa yang ditutup sama lagunya Queen? Ya konser Dewa semalem itu. Sebegitu cintanya Dhani dengan Queen. Iya, saya setuju Queen adalah legenda, cuma...gimana ya nutup konser sendiri pake lagu orang. Sekelas Dewa pula. Kurasa, lagu Sayap-Sayap Patah udah cakep buat nutup konsernya dan membuat puncak konser terasa monumental.

Konser Dewa memanglah menyenangkan! Tapi gak setinggi harapanku, gak terlalu memikat dari segi teknis acara, sebab:
(1) Ballroom hotel adalah tempat yang amat sangat buruk untuk pertunjukan konser musik.
(2) Konser semalem adalah konser Dewa. Bukan Dewa 19.

Feelingku bilang saya akan nonton konser Dewa lainnya, termasuk yang konsernya featuring Ari Lasso. Gak tahu kapan :D 

Mengutip Felix Dass, berhentilah bikin lagu baru, Dhani. Sering-sering saja konser dan membawakan lagu-lagu lawasmu yang brilian jenius luar biasa itu.




Hujan Sore-Sore di Kota Tasikmalaya

February 14, 2020
Sore-sore waktu itu. Hujan kecil-kecil. Kami berjalan kaki sepanjang jalan HZ. Mustofa. Di kota Tasikmalaya.

Payung cuma bawa satu. Kecil pula. Untuk kami bertiga mana muat. Akhirnya payung disimpan saja di tas. Kena gerimis bersama-sama lebih menyenangkan.

Hari minggu sore, sebelum kami pulang ke Bandung. Kusempatkan berjalan kaki karena...ya ingin saja. Sepanjang jalan ini sibuk betul. Toko-toko tutup. Trotoar bebas PKL. Lengangnya seperti kota Bandung di hari pertama bulan puasa.

Kami bebas berjalan kaki di trotoar. Kemewahan yang jarang kami peroleh di Bandung. Kecuali di Dago bawah atau Asia Afrika. Hanya saja, di sini trotoarnya licin amat.

Kami berjalan lamban. Rencana pertama: beli oleh-oleh, tokonya tutup.

Ya sudah. Intip-intip cengkih saja di pertokoan hasil bumi. Tokonya tutup juga. Ada empat toko hasil bumi, semuanya tutup.



Bagaimana bila nongkrong sambil menyesap segelas teh anget tawar? Kami melihat ada warung yang kelihatannya nyaman ditongkrongi. Tapi dipunten-punten, gak ada orang yang muncul dari warungnya. Ya sudah kami jalan terus.

Haha bagaimana ini? Gak ada satu rencana pun terwujud. Malah kaki mulai pegal.

Nah akhirnya ada kerumunan. Keramaian. Di mall. Gak heran :D

Di mall Asia kami makan sebanyak-banyaknya. Kehujanan bikin perut ekstra lapar. Obat kehujanan adalah makan, minum, dan istirahat. Mengusap-usap debu-debu gerimis di pakaian adalah mustahil. Kuminum antangin. Suamiku akan sehat-sehat saja selama perutnya terisi makanan. Anakku kekenyangan, satu-satunya pula yang berganti pakaian.

Kulirik jam di pergelangan tangan. "Jam 5, cabut yuk?"

Menuju stasiun kereta api, kami memesan taksi online saja. Jalan kaki lagi gak mungkin, sebab kaki-kaki ini macam dirantai: berat dan pegal.

Seringkali kuingin punya banyak waktu bila sedang berkunjung ke kota lain. Supaya bisa jalan kaki lebih jauh. Melihat lebih banyak. Namun saya harus belajar puas hati bahwa yang kutengok dari dekat hanya secuilnya Tasikmalaya, Gak apa-apa.

Besok mungkin kembali lagi. Bertemu kue Puli dan makan Kembang Gedang di Lapangan Dadaha. Terus beli oleh-oleh Tasikmalaya di Toko Rahma. Juga toko hasil bumi itu, ku penasaran toko macam apa itu.