Social Media

Image Slider

Beli Es Krim Ridwan Kamil di Es Krim Cantina Braga

September 03, 2022

Hari minggu waktu itu, kami sekeluarga makan pagi bersama di Kumari. Ibuku ikut serta, begitu juga adik-adik. Kupikir langsung pulang nih abis makan, ternyata enggak. Ibu minta diantar ke Braga. Katanya mau jajan es krim ridwan kamil. Eh es krim apa? kutanya lagi. 

 

es krim cantina braga


Es krim Ridwan Kamil, gak salah baca. Di Braga kulihat ramai betul suasananya pukul 10 pagi. Maklum sih hari minggu juga. Ada antrean panjang, nah itulah es krim si ridwan kamil.

Beneran itu es krimnya? yang antre itu?

Adikku mengiyakan. Kami antre sekitar 15 menit. Lama ya! Ibuku duduk di bangku seberang kios es krim.

Es krim yang dimaksud bernama toko Sweet Cantina. Saya mengingatnya sebagai toko es krim yang biasa aja, maksudku tidak seramai itu. Mengapa sekarang bahkan ada antreannya segala?

Mengapa dalam tulisan ini banyak tanda tanyanya? Hahaha

Gara-gara viral di TikTok dan muncul beberapa detik dalam video reels RIdwan Kamil, es krim Cantina meledak penjualannya. Ibuku melihat es krim ini di video RK. Ibu-ibu kolot jawa barat mana yang gak jadi penggemarnya RK, ibuku nih salah satu fansnya dia. Haha.

Tahu tidak saking banyaknya yang nanya es krim ridwan kamil di Cantina, salah satu varian di sana es krimnya dinamakan es krim ridwan kamil! udah gila ahahah.

Es krim itu varian es krim biskuit marie regal. Kata pedagangnya itulah es krim yang dipilih RK waktu ia jajan es krim di sini bersama anaknya.

Tentu saja ibuku memilih es krim marie regal. Es krim cone dan cup, keduanya!  


es krim cantina braga

 

Saya mencoba juga es krimnya dong dan memang enak. Es krim menak gitulah yang rasanya agak mewah. Begitupunn penampilannya.

Harga 12.000-18.000. Lokasi di braga utara dekat pengkolan veteran.

Ada tiga kios es krim di sepanjang jalan braga ini, bila kamu gak mau antre di Cantina maka bisa cari es krim di kios lainnya saja yang berdekatan.

Sate Pelana di Astana Anyar Satu Tusuknya Rp1.900

September 01, 2022

Pagi itu kami belanja di pasar loak astana anyar. Waktu kapan lewat sini lihat ada ring basket, harganya 200.000. Kami pikir bolehlah nanti dibeli, sayang ring basketnya keburu terjual dan kini kami menyesal kenapa gak beli langsung aja. Berjalan dalam penyesalan kami melihat ada asap mengepul dan bau sate. Jam 8.30 pagi udah ada yang jual sate? Oke lihat dulu yuk satenya, kata Indra. 

 

sate pelana astana anyar


Sate Pelana. Kuingat ada nasi kuning beken namanya naskun pelana di sini, tapi gak kulihat ada naskunnya. Sepanjang jalan pelana yang super pendek itu hanya ada pedagang makanan sate pelana.

Gokil sih sate ini.

Satu gerobak kecil ini yang kerjanya lima orang bapak-bapak semua. Kalo pernah nonton serial Preman Pensiun, nah dalam bayangan saya bapak-bapak ini adalah sekumpulan preman pensiun kayak kang mus dan duo pipit murad, yang jadi pedagang sate sapi.

Ataukah mereka intel? Ah intel modusnya dagang nasi goreng bukan sate, ya gak sih?

Kembali ke sate sapi pelana yang satenya ya tuhaaaannnn tolong! Kalo dine in ku kasih bintang sembilan, bila take away rasa satenya jadi bintang delapan.

Makan di sini piringnya kita pegang sendiri. Kita duduk melingkar saling berhadapan dengan pembeli lain, asap sate mengepul-ngepul sangar.

Ada satu meja di tengah-tengah sepetak kecil kiosnya, tapi si meja berfungsi menyimpan gelas dan aneka macam barang entah apa.

Bila dine in si sate tersaji tanpa tusuknya, sudah dilepas dari tusuknya. Jadi kita tinggal menyendoknya saja ke mulut.

Pembeli di sini tipikal old customer. Bukan old tua aja tapi juga pelanggan setia dan bedegong alias gak pada inget kolesterol apa yak. Hehe. 

 

sate pelana astana anyar


Mungkin terkesan biasa ajalah makan sate pagi-pagi emang kenapa. Iya memang. Namun di Bandung dalam kesehariannya, menyantap sate pukul 9 pagi bisa dibilang makanan mewah. Menu sarapan orang bandung tuh bukan sate melainkan nasi kuning, gorengan, nasi uduk, bubur, dan kupat tahu. Ringan dan santai.

Sate terbilang makanan berat dari segi terkstur dan harga. Jadi kusebut ini makanan pemberani karena emang bukan makanan pagi dalam keseharian orang Bandung sih. Gak mungkin kan kamu makan beginian terus tiap pagi? tapi mungkin banget kamu makan nasi kuning dan bala-bala tiap hari.

Entah bagaimana kebiasaan di Purwakarta (dengan sate marangginya) bahkan kota lainnya. Kalo ingin memulai hari yang istimewa dengan sarapan istimewa, bila meluncur ke Jalan Pelana. Ada Sate Pelana di sana. 

 

sate pelana astana anyar

sate pelana astana anyar

 

Harga terjangkau, satu tusuknya 1.900. Rasa? Bintang lima! Beneran bintang lima.

Lalu di sini air minumnya tersaji dalam gelas kaca. Air teh, cienteh yang dikucurin dari ketel beneran. Beuh! Air minum dalam kemasan? Apa itu air minum dalam kemasan?!

Sate Pelana alamatnya googling aja tinggal buka googlemap. Terima kasih kembali.

Main TikTok

August 29, 2022

Bila bukan karena TikTok saya pasti sudah rilis beberapa tulisan di blog ini. Dua minggu ini saya lincah berada di sana alias maceuh di TikTok. Hehe. Hampir tiap hari posting soalnya.

 


Awalnya gara-gara si unis nih ngajakin mulu. Ya udahlah kupikir waktu itu sedang lowong sign up aja deh. Eh keterusan sampai hari ini. Unis kontennya bagus-bagus coba lihat aja akunnya @siunis.

Saya terusan main TikTok, malah asyik sendiri belajar bikin video. Untungnya udah pernah bikin video pake inshot jadi gak gaptek amat. Pun menulis caption juga udah agak terlatih di stories IG.

TikTok gila sih apa-apa harus cepat dan ringkas. Saya terbiasa menulis panjang jadi belajar juga menulis pendek. Singkat. Padahal banyak yang mau diceritakan tapi mana bisaaaa.

Banyak orang yang merekomendasikan saya menggunakan backsound viral. Tau kan ya TikTok tuh identik dengan musik-musik viral sebagai pengiring video.

Sampai hari ini saya masih pake latar musik selera sendiri, bukan selera viral. Gak tau deh ngaruh ke jumlah view tidak. Yang berkecamuk (hadah bahasanya) malahan copyright musiknya. Apakah musisinya mendapat jumlah yang layak atas karya yang kita pakai di TikTok? Maksudku akun saya masih personal dan saya gunakan gratis. Itu gimana musisi dapat hak music courtesynya ya?

Begitu memang, zaman apa ini. Lalu kurasa media sosial selalu memerintah kita bagaimana mencapai angka view tinggi. Pengen ditonton orang banyak pastilah ada ketentuannya. Harus begini, besoknya berubah harus begitu. Hadeh.

Kesal juga sih. Maksudku bila hobi diatur-atur lantas di mana kesenangannya.

Jadi saya masih kompromi sama TikTok. Okelah saya nulis caption pendek itu gak apa. Lain-lainnya belum dulu.

Sama seperti di instagram, gaya nulis gaya cerita dan fotografi Bandungdiary saya bebaskeun aja. Sejauh ini saya tau mau cerita apa dan mau memperlihatkan apa. Saya berusaha taro batasan di sana. Biar rapi kontennya dan terarah.

Terarah gak jelasnya. Hehe. Sejauh ini sih mengerjakan konten Bandungdiary sangat menyenangkan, semacam penyegaran dari riweuhnya ngurusin pekerjaan utama yang tentu saja saya mencintainya.


Silampukau di Bandung!

August 08, 2022

Silampukau manggung di ke Bandung! Gak mikir lama saya langsung transaksi dan mengamankan satu seat untuk diri saya sendiri. Meski gak tahu akan nonton dengan siapa, ya udah sendirian pun tidak mengapa. Silampukau gitu loh, iraha boa ka Bandung!

 

Silampukau di Bandung

 
Dan hamdalah saya ada teman nonton, yaitu Diannya Warkop Udinwati! Saya gak pernah mengasihani orang-orang yang sendirian saat menonton gigs macam begini, tapi nonton seorang diri emang terasa kayaknya enakan berdua sih, atau bertiga. Sebelum konsernya mulai, agak culang cileung sorangan sih.

Gig Silampukau berlokasi di LO.CO, di bukit dago selatan. Gak usah bahas tempatnya ya, makanan dan sistem pelayanannya bintang satu. Namun tempatnya emang surga buat pecinta konten tiktok dan instagram. Ngerti kan? masa gak ngerti. Hehe. 

 

Open gate sejak pukul 3 sore, saya mendarat di sana sekitar setengah lima. Meja tiket dijaga oleh teteh-teteh bermuka masam nan muram. Baru terlihat senyum dan keramahannya setelah ia kedatangan temannya. Wkwk.

 

Ohiya, kertas gelang tanda tiket masuknya gak bisa saya jadikan koleksi, desainnya aduh gak banget. Kulihat tiket masuk di kota lain kok cakep-cakep sih bertuliskan 'safari antar kota antar provinsi' dan ada nama Silampukau. Tiket yang di Bandung adanya nama penyelenggara dan gambar yang kayaknya diambil dari mword. Heuheu...yaudahlah. 

 

Sayang aja, saya koleksi tiket-tiket beginian soalnya. Ya udahlah saya koleksi dalam ingatan aja. Hehe

Molor 30 menit dari jadwal Silampukau naik panggung sekitar pukul 7 malam. Panggungnya super mini. Acaranya outdoor, berlatar pemandangan malam kota Bandung. 

 

Udara sejuk khas wilayah perbukitan dago. Eki dan Kharis mulai terlihat di panggung, saya deg-degan. Wah ini dia orang-orang yang sering saya dengar dan tonton aja dari layar hape. Hehe.

Untunglah Dian ngajak saya duduk di deretan terdepan. Jadi saat Kharis minta penonton berdiri aja, kami gak tenggelam di antara cowok-cowok yang posturnya raksasa. 

 

Panggungnya kecil banget jadi Silampukau agak ketutupan penonton lain bila dilihat orang-orang berpostur rata-rata kayak saya. Walo terhalang dua orang di depan, saya bisa enjoy dan jelas nonton Silampukau manggung.

Semua lagu di album Dosa, Kota, dan Kenangan muncul semua. Penonton ikut bernyanyi keras-keras dan hampir melolong. Menjerit-jerit mengeluarkan isi hatinya mungkin. Terutama di lirik-lirik berbunyi kayak gini:

waktu memang jahanam
kota kelewat kejam
dan pekerjaan
menyita harapan

demi tuhan
atau demi setan!

Emang agak susah tidak ikut bernyanyi, sebab semua liriknya mewakili isi hati. Mulai dari kebosanan rutinitas hidup, ditinggal orang yang dicintai, dan kesusahan karena harga miras naik. Hehe.


Silampukau di Bandung



Gig berlalu terlalu cepat. Satu jam saja durasinya. Usai acara saya ikut antre, orang-orang pada berfoto dengan Eki. Saya pun mau, tapi tidak foto bareng. Saya bawa buku harian saya dan satu bolpen. Mau minta tanda tangan mereka.

Sayang saat itu Kharis entah ke mana, hanya ada Eki. Saat bertatap muka dengannya saya gemetaran banget. Saya minta tanda tangannya, dia tersenyum (tentu saja, default wajahnya begitu) dan bertanya siapa nama saya. BAYANGIN DIA NANYA SIAPA NAMA SAYA!

“Nama saya Nurul, Mas Eki,” jawabku gugup bukan main.

Lalu dia tulis di buku harian saya: halo, Nurul. Dan tandatangan. Dian ikut juga minta tandatangan di halaman buku sebuah novel berjudul Pasar yang ia beli dari saya. Ceritanya kami nonton gig sembari transaksi perbukuan. Wkwkwkwk siapa sangka bisa dapat tandatangan Silampukau di novel Pasar-Kuntowijoyo! Gila keren banget, Dian!

Juga saya senang di halaman novel Pasar tersebut nama dan tulisan tangan saya satu halaman dengan tulisan tangan Silampukau. Novel yang, sebelum konsernya mulai, saya berikan pada Dian.

Haha.



Foto pertama, photo credit Dian Irawati

Foto gignya gak ada, burem nih! heuheu

Ngagabrug Teman Lama di Mie Ayam Goyang Lidah

August 01, 2022

Saya dari Bandung. Intan dari Bogor. Kami bertemu di Garut berkat mie ayam. Berkat takdir kehidupan, maksudku, dibantu rasa lapar dan warung Mie Ayam Goyang Lidah. 


Mie Ayam Goyang Lidah di Jalan Veteran Garut


Aneh banget bisa ketemu teman lama di sini, di warung kecil di kota yang sama-sama bukan domisili kami. 


Sayang saya hanya bisa ngobrol sebentar karena Intan, yang udah beres makan mie ayamnya, harus cabut duluan. 


Saya makan buru-buru supaya bisa berfoto bareng sebelum ia pergi. Saya paham banget gak bisa berlamban-lamban dengan ibu yang anaknya dua balita. 


Kumakan baso cepat-cepat. Nelan mie ayamnya ngebut. Minum air satu botol glekglekglek. Kami berfoto dengan mulut saya mingkem, khawatir ada daun seledri yang nyangkut di gigi.


Mie Ayam Goyang Lidah di Jalan Veteran Garut


Bagian teranehnya adalah saya memikirkan Intan beberapa hari itu dan berencana mengirimnya pesan di dm instagram. 


Lebih aneh lagi, saat saya utarakan itu padanya, Intan menimpali "aku tuh kepikiran loh mau ngontak teteh nanya tempat makan di garut."


Ada-ada aja. Saling memikirkan dan akhirnya tatap muka tanpa sengaja. 


Intan sedang menjalani masa-masa istimewa bersama anak sulungnya. Karena itulah saya memikirkan dia. Jadi saya senang bisa bertemu dengannya secara langsung dan tentu saja ku memeluknya. Ngagabrug caritana mah. Take care, Intan!


Mie Ayam Goyang Lidah

Jl Veteran, Garut

Ongkos makan 45.000 (dua mangkok, dua teh botol)