Image Slider

30 Hari Menulis

October 04, 2020
Di kepalaku gak ada ide untuk ditulis sama sekali. Suatu kali saya melihat tantangan menulis 30 hari di twitter dan instagram. Beberapa temanku ikutan tantangannya. Namun kubaca topik per harinya, whalah sangat personal sekali. Apakah aman mengumbar data pribadi demikian di media sosial? 



Saya gak bilang tantangannya buruk. Malah menarik banget. Sayanya aja yang overthinking kali nih. 

Lantas suatu kali pula kulihat Tirta -yang kufollow di twitter- menulis tantangan tersebut di blognya. Terus saya baca kan. Wah kupikir-pikir bisa kok gak nulis terlalu rinci yang data pribadi segala ditulis gitu. Di blog pula, bukan di media sosial. 

Akhirnya saya putuskan terjun jadi peserta tantangan tersebut. Rasanya hidupnya pragmatis begini, butuh sentuhan seni (pret hahaha). Maksudku, ada sih buku untuk dibaca. Namun rasanya garing aja gitu. Mungkin karena saya termasuk yang masih bertahan gak jalan-jalan dulu, gak nongkrong dulu. Masih keukeuh physcal distancing dan social distancing gara-gara covid-19. 

Baik, mari kita mulai menulis tantangan ini. 




Enam Bulan #dirumahaja

September 16, 2020

Masih musim covid-19. Hari ini tercatat tenaga medis yang wafat 116 orang. Saya masih diam di rumah. Sesekali keluar rumah lagi-lagi urusan kerja saja. Tidak ada nongkrong, tidak ada mudik. Belum satu detik pun saya berkumpul dengan keluarga, apalagi Ibu. Sedih sih. 

 

Enam bulan ini udah ngapain aja? 

 


Gak ada skill yang bertambah selain latihan sabar dan bersyukur. Sebab saya kena efek pandemi. Bisnis saya di Fish Express baik-baik saja. Malahan omset naik. Hamdalah.   

 

Saya daftar kelas-kelas online. Seru juga ikutan kelas jarak jauh begini. Awalnya saya pesimistis dengan keberadaan kelas online. Mengikuti kelas seperti itu macam orang ambisius yang gak mau kalah dengan zaman. Apa sih. Walah ternyata saya malah menyukainya. Pret dipoyok dilebok ya kamu, Ulu. 

 

Kemudian, saya mulai legowo untuk gak masak. Jujur aja saya capek masak. Sekarang saya berserah diri pada Warung Nasi Ceu Mimin. Chef rumahan yang apik dan bersih. Bismillah semoga makanannya bebas dari covid-19. 

 

Saya masih jalan-jalan. Sesekali saja bersama Indra dan Nabil. Saya gak rekomendasikan jalan-jalan berkelompok kecuali dengan pasangan. Musimnya masih pagebluk begini soalnya. Kami jalan kaki sekitar Cibadak saja. Terakhir kalinya keluar rumah kukurilingan tgl 17 Agustus 2020. Pagi-pagi waktu itu, jalanan kosong melompong kecuali di Alun-alun. 

 

Pernah juga beberapa kali saya ikutan tur virtual. Di Semarang sampai ke Jepang. Tur sejarah dan tur horor. Hahaha seru juga. 

 

Kurasa selama enam bulan ini saya belajar buat gak memberi batasan ke diri sendiri. Jangan apatis. Pun jangan ambisius. Santai saja. Tenang. Namun jangan menganggap hal-hal yang gak kamu gak ketahui adalah hal yang gak mungkin, gak penting. 

 

Menghadapi covid-19 pun saya menempatkan diri pada posisi netral. Saya diam di rumah, namun sesekali keluar rumah. Dengan catatan untuk bekerja saja. Tapi, saya gak bisa julid dengan teman-teman yang sering berkegiatan di luar rumah. Meskipun klise ya 'ekonomi harus tetap berputar' tapi beneran kerasa kok emang kegiatan di luar rumah perlu ada bagi sebagian orang. 

 

Saya punya pilihan. Akan tetapi saat saya berhadapan dengan pilihan keluar rumah, itu jalan terakhir. Saat itulah saya pikir kasihan amat yang gak ada pilihan buat diam di rumah aja ya. Mau gak mau mesti keluar rumah dan bekerja, kalau tidak....

 

Jadi, saya gak bisa bersikukuh dengan bilang 'ayo diam di rumah'. Kupikir, ya kalo harus keluar rumah yasudahlah. Kalian pake masker lah. Jaga jaraklah. Keluar rumah buat kerja ajalah. Tahan-tahan dulu ketemu keluarga bila kondisi darurat sajalah. Maksudku, kalo mau keluar rumah, jangan lupa tanggung jawab physcal distancingnya. Zaman masih begini soalnya. 

 

Pada sehat-sehat semua ya. Kalo kamu masih bertekad diam di rumah saja, bagus. Kalo kamu adalah tenaga medis yang kebetulan nyasar ke blog ini dan membaca tulisan ini: terima kasih banyak, semoga sehat-sehat terus ya, detik per detik yang kalian lakukan selama pagebluk ini adalah jaminan yang membawa kalian ke surga. Amin. 

 

Dan, semoga kita dikasih banyak rezeki, beneran buanyaaaak sekali rezeki. Mari kita gunakan rezeki ini untuk belanja. Belanja produk teman, jajan produk siapa saja yang ada di instagram dan twitter dan facebook dan status wa. 

 

Amin. Amin. Amin.

Pinjaman Online untuk Modal Usaha

September 05, 2020

Sobat pengusaha apa kabarnya nih selama pandemi berlangsung? Gak sedikit temanku yang wiraswasta digempur efek covid-19. Bahkan yang kerja kantoran aja pada kena efeknya. Gaji tinggal pokok, kena laid off. Yang dagang pun sepi pembeli.Yang arsitek nih misalnya banting setir dagang ayam frozen. Yang pedagang, mulai aktif berjualan pake tools digital. 

 

Perlahan dengan era new normal, perbisnisan mulai bangkit kembali. Dunia perkantoran mulai aktif. Meski menggeliat lagi, tapi seret-seretnya masih terasa. Apalagi yang pengusaha nih, modal nol untuk merintis usaha. Kondisi finansial sangat terbatas. 

 

Lantas gimana solusinya nih biar bisa berbisnis di era susah begini? 

 

1. Ajukan Kredit ke Fintech

Ini jenis pinjaman yang paling mudah. Pinjaman online alias fintech. Modalnya internet saja. Pengajuan dikirim secara online. Tidak ada proses tatap muka. Oleh karenanya sistem peminjaman ala fintech tidak rumit. Bahkan dana dapat cair dalam waktu kurang dari 24 jam. 

 

Salah satu fintech yang direkomendasikan adalah Tunaiku. Situs peminjaman online ini dapat diunduh aplikasinya dan dicek websitenya. 


Tunaiku merupakan situs peminjaman online yang ada sejak 2014 dan sudah terdaftar serta diawasi di OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Produk fintech Tunaiku berasal dari Amar Bank, bank resmi di Indonesia yang telah beroperasi sejak 1991. 

 

Keamanan dan fleksibilitas adalah dua fitur utama dalam layanan Tunaiku. Syarat meminjam di Tunaiku mudah saja. Hanya dibutuhkan KTP. Dengan jaminan aman, data kita gak akan keluar. Fasilitas tenornya pun fleksibel dan mencapai angka maksimum 20 bulan. Pinjamannya hingga 20 juta. 

 

 


 

Hal utama yang teman-teman harus perhatikan dalam peminjaman ke fintech adalah: pilih angka pinjaman yang paling dibutuhkan dan jangan telat bayar. Intinya sih meminjam tidak apa-apa untuk modal usaha, tapi bukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ya.

 

2. Gadai Aset

Coba ditilik lagi, aset apa yang kamu punya dan masih oke kondisinya. Dari gadget, perhiasan, kendaraan, surat-surat berharga, termasuk rumah. Aset tersebut dalam digadaikan untuk memperoleh uang tunai. Selanjutnya uang tersebut dapat kamu putar sebagai modal usaha. 

 

Namun bila menyangkut jaminan properti, pertimbangkan secara masak. Sepadan gak, seterpojok apa kondisi keuangan kita, seperlu apa modal tersebut kita butuhkan. Lagi-lagi carilah pegadaian yang sudah terdaftar dan diawasi OJK. 

 

Meski proses peminjamannya tidak serumit pinjam ke bank, tetap saja dibutuhkan waktu agak lama untuk petugas pegadaian mengonfirmasi data kita. Juga apabila aset yang kita gadaikan termasuk besar (rumah, misalnya). Petugas pegadaian akan memeriksa dan mendatangi rumah kita untuk cek ricek data aset. 


3. Pinjam dari Bank

Setahu saya di masa korona begini susah bakalnya pinjam ke bank. Seleksi makin ketat karena bank harus lebih berhati-hati dalam mencairkan pinjaman. Pinjam di bank angkanya besar, bukan sereceh bila kita meminjam via fintech yang bisa 5 jutaan. Ditambah bila meminjam ke bank kamu juga harus menyiapkan jaminan seperti halnya meminjam ke pegadaian.

 

Proses peminjamannya butuh waktu lama. Memakan waktu hingga berhari-hari. Kalian juga harus datang ke bank dan tatap muka dengan petugas di sana, serta mengisi banyak dokumen. Kerumitan itulah yang agaknya jadi masalah kalau kamu butuh kecepatan dana cair. 

 

Proses pengecekan kesehatan finansial peminjam juga bank lakukan serinci mungkin. Mereka akan mengecek riwayat keuangan rekening tabungan kita. Pengukuran finansial ini dilakukan agar mereka bisa mengukur apakah kita sanggup membayar cicilan atau tidak. 

 

Nah itu dia solusi mencari modal untuk usaha. Mudah-mudahan binis teman-teman sekalian lancar dan sukses. Semoga rezeki kita di era pandemi ini mengalir terus. Amin.

Kelas Zoom FYCOM: Semua Orang Adalah Influencer

August 19, 2020

Annyeong! (udah anak drakor banget nyapanya heheh).

 

Udah ikutan zoom apa aja euy di zamannya korona ini? Bulan lalu saya daftar kelas zoom wirausaha gitu. Abis temanya menarik. Kayaknya bakal kepake di Fish Express, bisnis perikanan yang saya tekuni.

 

Gara-garanya nih, kelas zoom itu narasumbernya pemilik resto Imah Babaturan. Teh Anggi namanya. Kalo tahu ini restoran, seru banget hypenya. Bayangin ada restoran yang tiap minggu ganti menu dan rame aja gitu. Pelanggan loyalnya banyak banget. Menunya makanan sunda sih kebanyakan. Trus kopinya disebut-sebut juara.

 

Lebih banyak tentang Imah Babaturan, kamu browsing aja.

 

Terus narasumber ke dua, pemilik Tiasa namanya Ghea. Semacam 'warung' tapi warung kota gitulah. Makanannya bertema sehat & vegan. Plantbased gitu.

 

Acaranya sendiri diselenggarakan oleh FYCOM. Fina Yudharisman yang bikin. Cek Instagramnya aja, event buatan Fina bagus-bagus menurutku. 

 

 

 

Di kelas zoom yang saya ikuti, dua narasumber beda banget ngurus bisnisnya:

Ghea based on data

Teh Anggi gayanya koboy abis

 

Dibanding Tiasa yang baru mau setahun umurnya, saya nunggu presentasinya Imah Babaturan. Sebab dia udah battle proven. Umur restorannya 5 tahun.

 

Bisnis mah kalo baru sebulan, oke menarik.

Jalan tiga bulan, wah bagus.

Masuk enam bulan, hebat bertahan.

Satu tahun, bravooo!

Dua tahun, aaarrghhh mantap!

Tiga tahun, wah gokil gila!

Empat tahun, kok bisa sih?!

Nah ini Imah Babaturan lima tahun dong.

 

Tapi dua-duanya punya cerita menarik sih.

Saya catat nih poin-poin menarik dr Ghea & The Anggi. Kali aja ada yang sedang merintis usaha & bisa kepake info-info ini. 

 

 

Ghea/Tiasa

  • Gak perlu jual produk yang kreatif banget. Dicari aja target pasarnya siapa. Segmennya gimana. Ada di mana. Tipe orangnya seperti apa. Umur berapa.
  • Gak semua orang akan jadi konsumen kita. Gak apa-apa.
  • Passion bukan kunci berbisnis. Kemauan buat mengetahui seluk beluk produk & siap kejar-kejaran dgn waktu adalah kunci. Kalo cuma sekadar suka, bisnisnya gak akan lama.
  • Belajar buat gak menyerah karena kejadian gak baik
  • Supaya konsisten, coba dipikirin life purposenya apa. Paling gampang pikirin: biaya sekolah anak, tabungan pensiun, melunasi KPR, dan sejenisnya. Mau filosofis juga bisa.

 

Teh Anggi/Imah Babaturan

  • Endorsement artis/selebgram bukan segalanya
  • Produk yang bagus akan dipromosikan sukarela oleh pembelinya. Karena itu, Imah Babaturan percaya kalo:
  • Semua orang adalah influencer, dan
  • Rawat akun media sosialnya (instagram) supaya marketing sukarela dari pembeli bisa kita terusin lagi efeknya
  • Kolaborasi dengan pebisnis lain
  • Produk harus bagus. Dalam hal ini makanan ya wajib enak. "Jangan ditanya ke pembeli, enak gak?, makanan wajib enak dong. Yang ditanya, kurangnya apa?" gituh kata Teh Anggi.
  • Kalo bisa jelasin brand bisnis kamu dalam lima kata tanpa kebingungan, berarti udah paham dengan bisnis sendiri.

 

Begitulah sedikit info-info menarik dr kelasnya FYCOM. Penyegaran banget buat saya mah sesekali ikutan kayak gini.

 

 

Warna Pintu Rumah Tua di Bandung

August 15, 2020

Paling enak jalan-jalan adalah berjalan kaki santai di pusat kota. Bawa sebotol air minum. Pake ranselnya. Siapkan kamera hp dan powerbanknya. Boleh dibawa topinya sekalian.  Jadwalkan pagi hari, lebih pagi lebih baik, untuk mulai berjalan. Bisa juga sore-sore. Supaya suasanya masih segar atau adem. 

 

Kalau di Bandung, biasanya saya jalan-jalan santai begini di daerah Braga, Sudirman, Pasar Baru, dan Asia Afrika. Lumayan sih trotoar nyaman dipijak meski yang gak layak kondisinya pun banyak. Warung dan pertokoan ada banyak. Siapa tahu mendadak perut keroncongan, bisa mengkol dulu buat jajan. 

 

Bila berjalan santai begini, saya akan memotret rumah-rumah tua. Rumah pinggir jalan ataupun rumah dalam gang. Pintu dan jendela rumah antik sangatlah sedap dipandang. Jadi latar foto OOTD juga bisa sih. Heuheu. Tapi saya gak lakukan itu sebab tujuan saya emang koleksi foto pintu tua dan jendela antik. 

 

Kalau berjalan kaki dan berburu foto rumah-rumah tua, ada satu hal yang menarik bagiku. Perhatikan pintu utama rumah dan kotak sekring listriknya. Mengapa? sebab warna mereka senada. 

 

 

Rumah lama yang arsitektur bangunannya masih bergaya ala tahun 40-50an, memiliki satu kotak kecil infrastruktur listrik yang berada di dekat pintu masuk. Nah pintu masuk, jendela depan, dan kotak sekring listrik ini warnanya sama. 

 

Iya saya tahu pemandangan tersebut bukan hal istimewa. Namun bukannya hal-hal kecil begini menyenangkan untuk dilihat ya. 

 

Menurut beberapa orang temanku, bukan sengaja pintu rumah dan pintu kotak listrik warnanya sama. Tapi waktu proses pengecatan, ada sisa cat yang sayang bila dibuang atau disimpan.  

 

Meskipun gak sengaja, kelihatannya kayak disengajakan. Warnanya jadi estetis. Enak dilihat. Ada yang warnanya hijau, biru, krem, merah, macam-macam. Warna kalem sampai warna mencolok. Entahlah ada cerita psikologi warna apa di baliknya. Yang pasti warnanya dipilih berdasarkan selera pemiliknya. Iya gak? :D 

 

 

Berdasarkan artikel yang saya baca-baca di web Halodoc, warna adalah medium. Semacam pesan yang ingin diperlihatkan pada pemakainya. Kayak warna merah yang menunjukan arti kuat, percaya diri, dan berani. Warna abu-abu artinya kuat dan stabil. Ada juga warna biru yang diasosiakan dengan kesetiaan dan ketenangan. Hijau diartikan sebagai kesejukan. Ada yang mempercayainya sebagai warna keberuntungan. 

 

Gak heran, kata Halodoc, warna bisa jadi alat untuk terapi. Selama menyusuri jalanan dan rumah-rumah tua dengan berjalan kaki, saya pikir ini hobi semata. Namun kalau diperhatikan saya berolahraga juga. Jalan kaki satu jam atau anggap aja 3000 langkah efeknya bagus kan buat tubuh. Belum lagi merhatiin warna-warna pintu dan jendela rumah tua. Lumayan kayak sambil menyelam dapat ikan. Hahaha. Kaki sehat, jiwa bahagia. 

 

Ah iya, Halodoc sendiri adalah aplikasi kesehatan yang memudahkan urusan medis saat kita membutuhkannya. Layanan Halodoc terpercaya dan lengkap. Install aja appnya, sign up, dan jelajahi fitur kesehatan yang ada didalamnya. Mulai dari urusan beli obat, tanya ke dokter, cari dokter yang tepat, dan cek kunjungan ke rumah sakit. 

 

Oke kembali ke rumah tua. 


Umumnya nih rumah-rumah lama yang saya temukan begini ada di daerah Pecinan. Membujur dari Sudirman ke arah Andir. Melebar ke Pasar Baru dan sekitarnya. Bila kalian jalan-jalan ke arah Bandung Utara, di sana banyak peninggalan rumah ala kolonial. Jika ambil arah selatan, banyaknya rumah-rumah masa kini. Nah di tengah-tengah utara dan selatan itulah daerah Pecinannya berada. Suasana dan rumah-rumahnya masih kerasa aura tempo dulu walaupun digempur perubahan. 

 


Agak susah nemu pemandangan begini kalau kita hanya diam di dalam kendaraan. Paling saya rekomendasikan berjalan kaki. Kalau jalan kaki, kita bisa atur tempo kecepatan bahkan berhenti sejenak. Lantas kita bisa melihat dari dekat, menyentuhnya bila properti tidak berpagar atau diizinkan pemiliknya.

 

Nah, protokol kesehatannya udah oke kan? Dipake maskernya, bawa hand sanitazernya, sekalian wadah perbekalan. 

 

Udah siap cuci-cuci mata dengan berjalan kaki? pagi-pagi ya kita ketemu di Asia Afrika di depan museum!