Image Slider

Situs-Situs Kuno di Cigugur

December 03, 2019
Instagram yang membuatku singgah di Cigugur Kuningan. Terima kasih akun @cirebonheritage, karena dialah saya tahu ada empat situs kuno di sana.

Pertama, makam antik.
Kedua, bangunan ibadah penganut aliran kepercayaan.
Ketiga, gedung tua dengan menara persegi delapan. Unik!
Terakhir, situs megalitikum.




Istimewa sekali Cigugur ini. Maksudnya, ada bebatuan yang datangnya dari zaman purba, tersusun rapi tonggak peradaban manusia. Tidakkah itu menarik banget sekali pisan?

Indonesia ini memang, banyak amat harta karunnya ya!

Tiga dari situs-situs kuno tersebut berlokasi di tepi jalan. Begitu mudah mencapainya, motor dapat diparkir begitu saja. Saya pikir dibutuhkan usaha ekstra seperti waktu saya menggapai Bangbayang Sumedang. Hahaha. Ini enggak! Seru amat!

Unang, teman lama yang juga saya kontak jadi pemandu dadakan sebab ia berdomisili di Kuningan, mengatakan bahwa Cigugur merupakan wilayah yang unik di Kuningan. Area yang pluralis: penganut aliran kepercayaan, muslim, dan katolik ada semua.

"Di sini sekolah kristen ada banyak, Lu," kata dia lagi. Unang juga menambahkan, penganut aliran kepercayaan yang menyebrang keyakinan, mayoritas memasuki agama kristen. Katolik umumnya.

Saya mencari datanya di internet. Tahun 2017, jumlah warga muslim di Cigugur mencapai angka empat ribuan. Sementara katolik berjumlah setengahnya. Dua ribu. Sisanya protestan, penghayat, budha, dan hindu.

Banyak gak sih itu? banyak ya. Barusan saya browsing, maaf kalo perbandingan data kejauhan, tahun 2010 di Bandung muslimnya tiga jutaaan, katoliknya 128ribuan. Porsi di Cigugur lebih seimbang gak sih jadinya? :D

Oke. Kembali ke situs-situs kuno di Cigugur.

Bangunan makam ini terlihat menonjol karena dialah satu-satunya bangunan antik di sana. Di seberangnya rumah warga. Ke belakang ada beberapa nisan bertuliskan Lumantow. Nisan tak terawat. Tak jauh dari sana ada pemukiman. Lantas dominasi pepohonan masih besar. Menambah aura teduh yang agaknya menakutkan bagiku. Entahlah mengapa.




Makam ini tempat bersemayam Van Beck. Tokoh kolonial penting pada masanya. Makamnya saja semewah itu saya kira dia bukan orang biasa. Namun sulit menemukan apa kedudukannya, saya mencarinya di google, gak ketemu. Pejabat kolonial paling mungkin sih, di Kuningan gak ada perkebunan. Paling dekat ada perkebunan gula di kota-kota tetangganya Kuningan: Cirebon dan Majalengka.

Bila kamu tahu siapa Van Beck, beritahu saya ya. Komen saja.

Makamnya berbentuk seperti siput. Masuk ke dalamnya, terlihat macam gudang tak terurus. Gelap dan berantakan. Dari luar terlihat mewah, dari dalam wow megah! Atapnya kubah. Nisan berada di tengah. Namun sepertinya makam tersebut sudah tidak ada. Karena seperti kosong saja nisannya.

Didalamnya, saya merinding. Saya gak memotret bagian dalamnya. Unang yang melakukannya. Dia biasa-biasa saja tidak ketakutan sepertiku. Fiuhhh...gak tahulah. Auranya gak enak sekali di dalam sana. Saya beranjak cepat.

Perasaan yang sama walo gak dalam-dalam amat terjadi di Gedung Marapat Lima dan Paseban Tri Panca Tunggal. Apakah perasaan keueung ini muncul karena efek mendung dan hutan-hutan kecil di tepi jalan? seriusan, pepohonan besar dan lebat berceceran di sini. Adem lihatnya, meski agak ngeri hawanya. Hahaha mungkin perasaan saya saja yang salah.

Paseban Tri Panca Tunggal dan Gedung Marapat Lima adalah cagar budaya yang bersaudara.



Paseban Tri Panca Tunggal

Bangunan yang saya sebut pertama itu, ada sejak tahun 1840. Tua. Dia rumah ibadah sekaligus rumah pribadi. Milik keluarga Madrais, penyebar aliran kepercayaan di sini. Madrais kurang lebih sama dengan Sunda Wiwitan. Ada juga yang menyebutkan Sunda Jawa.

Tiap tanggal satu suro ada Seren Taun di sini. Acara besarnya Kuningan sejak bertahun-tahun lamanya. Penghayat baru diakui negara di E-KTP, di sini Seren Taun bahkan jadi agenda pemerintah lokal. Lha wong baligo Seren Taun yang saya amati di tepi jalan, begitu banyak logo dinas pemerintahan tercantum di sana. Hahaha.

Di beberapa tempat, penganut aliran kepercayaan tidak termarjinalkan. Cigugur salah satunya. Namun entah bila mereka keluar dari Cigugur.

Bagiku, agama adalah ranah pribadi. Kolom agama di KTP hilangkan saja. Apa perlunya mencantumkan agama di kartu identitas? Kalau kamu punya jawabannya, kasihtahu saya, komen aja.

Sementara Marapat Lima tidak diketahui fungsinya. Arsitekturnya memukau. Cantik sekali bangunannya dilihat dari berbagai penjuru. Pintu masuk ada dua. Bangunannya ada dua saling merapat di bagian bokongnya, di bagian tengah atas ada menara persegi delapan. Cantik sekali.

Perasaan keueung memudar saat saya berada di Cipari. Masih di Cigugur. Ada situs megalitikum di sini. Dikepung pemukiman dan pesawahan.




Situs ini ditemukan tidak sengaja. Tahun 1972. Di tahun tersebutlah penelitian arkelogi bermula. Penggalian dimulai. Makin banyak bermunculan perkakas dari dapur purba, gerabah, perunggu, dan pondasi-pondasi.

Tercatat situs ini ada di era Neolitik. Kisaran tahunnya 1000 SM - 500 SM. Artinya, ini peradaban yang terbilang canggih dong ya. Mereka berorganisasi. Mengasah batu. Menetap lantas bertani dan beternak. Membuat tembikar. Mereka memuja leluhurnya dengan mendirikan bangunan ibadah berupa batu-batu megalitik. Kalo baca-baca di Wikipedia, Cipari seumuran dengan zaman Yunani Kuno. CMIIW.

Di Cipari ada satu bangunan museum. Fyi, museumnya impresif sekali. Bukan koleksinya, tapi bangunannya. Cakep banget!

Lihat deh ke sana, datangi langsung. Koleksi zaman neolitikum di Kuningan disimpan di satu bangunan terdiri dari satu ruang. Bentuk museumnya mengingatkan saya pada rumah-rumah di Indonesia Timur.




Anehnya, itu museum gak jelek hahaha maksudku, gak jomplang dengan situsnya. Bangunannya oval, atapnya dari ijuk dengan ujung meruncing. Jendela memenuhi dinding-dindingnya. Sewaktu saya dan Unang masuk ke museum, hwaduh terasa adem sekali!

Lantainya merah bladus. Langit-langitnya tinggi, plafon dari kayu. Kondisi museumnya baik-baik saja. Tidak ada yang rusak. Sederhana dan impresif. Kayak, less is more.

Adanya situs megalitikum di Cigugur ini menunjukkan kawasan ini bukan saja kota tua, tapi juga daratan tua dong ya! Istimewa sekali! Kuningan bangga amat!

Kesan lain saya terhadap Kuningan adalah hawanya beneran sejuk. Unang membawa saya melewati desa-desa di kaki-kaki Gunung Ciremai. Jalanannya gokil, mudun nanjak berkelok-kelok! Tanah kosong masih banyak. Gak tau kondisi air di sana bagaimana. Unang bilang ada beberapa mata air sih. Banyak yang kering, tapi ya ada juga yang airnya masih curcor.

Pensiun di sini boleh juga. Bila mencari kota kecil untuk didiami dan ingin cuacanya adem gak bikin keringatan, saya rekomendasi Kuningan.

Cerita dari Kuningan belum selesai. Wait.

Jasa Ekspedisi Murah, Ninja Xpress Solusinya

November 25, 2019
Sudah berapa paket yang Anda terima bulan ini? November ini saya berbelanja online sebanyak tiga kali. Senang rasanya. Memang tidak ada suara paling merdu selain suara kurir mengantarkan barang kiriman, berbunyi “Paket! Paket!”

Belanja tidak pernah semudah zaman sekarang. Bagian sulitnya hanya bekerja mencari uang. Memang belanja online menambah beban biaya pengiriman. Namun saya kira itu sepadan. Daripada harus keluar rumah dan bermacet-macetan. Kan keluar ongkos juga. Belanja online menurut saya sangatlah menghemat waktu dan irit tenaga.

photo credit: pinterest

Oleh karenanya mencari jasa pengiriman barang yang ongkosnya murah adalah tantangan tersendiri. Umumnya toko online sudah bekerja sama dengan jasa ekspedisi.

Bukan saja toko online yang berdiri sendiri, e-commerce di Indonesia saat ini bekerja sama dengan jasa ekspedisi murah di Indonesia. Salah satunya Ninja Xpress.

Ninja Xpress jasa ekspedisi murah untuk bisnis online

Toko Idekuhandmade di Tokopedia misalnya. Barang-barang DIY yang mereka tawarkan sangatlah menarik. Ada tas, dompet, tas tissue, strap kamera, totebag, dan masih banyak lagi. Meski memiliki akun di instagram, banyak toko online yang bergabung dengan e-commerce sehingga transaksi penjualan di lakukan di sana.

Beragam toko online khusus fesyen hijab dan outer di shopee, salah satunya Ghanimi yang aktif di akun instagram, menjual produknya di e-commerce. Walaupun demikian, layanan pembelian melalui chat ke nomor ponsel juga mereka layani.

Sudah terbayang kan apa saja beragam barang yang ada di marketplace. Dari produk fesyen, alat elektronik, makanan, boneka, alat pertukangan, furnitur, sampai yang aneh sekalipun ada semua. Kesemuanya membutuhkan jasa ekspedisi.

Memangnya apa saja kriteria mencari ekspedisi bagi pebisnis online?

Ongkos kirim terjangkau

Sebagai pembeli, saya ingin ongkos seminimal mungkin. Dengan demikian, uang yang keluar tidak terlalu banyak. Biaya kirim Ninja Xpress termasuk murah untuk hitungan jasa ekspedisi di Indonesia.

Kemudahan cek tarif tanpa telpon ekspedisinya juga penting. Biasanya tarif pengiriman tercantum website. Ada juga yang mencantumkan di media sosial. Dan aplikasi. Selama memudahkan pengguna mengakses informasinya, selama itu juga jasanya terpakai.

Jangkauan Pengiriman

Tidak usah saya jelaskan seberapa luas wilayah di Indonesia. Namun terbayang kan makin luas jangkauan pengiriman makin besar pendapatan sebuah toko online. Pembelinya banyak. Bisa melayani pengiriman ke mana saja.

Sebab itulah jasa ekspedisi murah banyak pula dicari. Murah tapi bisa mengjangkau berbagai wilayah Indonesia tentulah sangat menolong perkembangan bisnis online.

Paket Pengiriman Beragam

Ada pelanggan yang rela bayar lebih agar paketnya lekas sampai. Ada pula yang santai-santai saja, tidak keberatan bila waktu pengiriman paket lebih dari tiga hari. Beragam jenis ongkos pengiriman memungkinkan pelanggan memilih tarif ongkos kirim mana yang cocok dengan dompetnya, jenis barangnya, dan urgensi kita terhadap paket tersebut.

Termasuk paket-paket berisi untuk barang penting. Seperti dokumen, perhiasan, atau barang pecah belah. Untuk mengirimkan barang yang termasuk kategori luar biasa, tentulah adalah tarif lebih besar. Ada harga ada rupa.

Tracking Paket

Paket salah kirim jarang terjadi. Namun bila hal tidak menyenangkan itu menimpa Anda, pastilah no resi paket jadi kuncinya. Menelusuri keberadaan paket dari no resi sangat membantu pelanggan juga ekspedisinya itu sendiri. Tracking paket memberi rasa aman pada pelanggan. Setidaknya mereka mengetahui posisi paketnya berada.

Lantas begitu banyaknya pilihan jasa ekspedisi, Anda memilih ekspedisi yang mana? Bagaimana bila saya rekomendasikan Ninja Xpress.




Rekomendasi Jasa Ekspedisi Ninja Xpress untuk Bisnis Online

Tentang mengapa memilih Ninja Xpress, tentu saja karena ini adalah jasa ekspedisi murah.

Namun ada beberapa hal lain mengenai pengiriman paket dengan Ninja Xpress. Simak yang berikut ini:
  1. Kirim Paket Fleksibel: Ninja Xpress menyediakan opsi antar atau jemput paket. Dengan Ninja Point, kita bisa atur pilihan waktu jemput dan pengiriman paket. 
  2. Fitur COD (cash on delivery): jasa ekspedisi mana yang menyediakan layanan bayar di tempat? Ninja Express tentu saja. 
  3. Kemudahan Mengirim Paket: mengelola pengiriman paket tidak lagi ribet. Status paket secara rel-time dapat Anda ikuti melalui website maupun aplikasinya. 
  4. Flat Rate: bagi pebisnis online, bekerja sama dengan NinjaXpress direkomendasikan karena: 
  • Tarif Jabodetabek waktu pengiriman 1-3 hari sebesar Rp9.000. Jumlah paket yang dikirim minimal 10 bungkus. 
  • Tarif pengiriman ke Pulau Jawa selama 1-3 hari, ongkosnya Rp19.000. Jumlah paket minimal 10 bungkus.
Nah khusus pebisnis online, Ninja Xpress memiliki tiga macam kerja sama seperti ini:

Penjual Online:
  1. Menyediakan Ninja Packs dan biaya pengiriman flat
  2. Anda dapat mengambil langsung paket di Ninja Point mana saja
UKM:
  1. Fasilitas antar jemput paket sesuai permintaan Anda
  2. Menyediakan layanan bayar di tempat (COD) di area jangkauan Ninja Xpress
Perusahaan:
  1. Ninja Xpress menyediakan diskon untuk layanan pengiriman dalam jumlah besar. 

Nah itu dia mengapa Ninja Xpress saya rekomendasikan bagi Anda pebisnis online. Sudah memutuskan mau kirim paket di Ninja Point yang mana?


Dicabut Dari Akarnya

November 22, 2019
September lalu saya singgah ke Gedung Naskah. Sudah sejak lama saya pengen masuk museum tersebut. Baru September lalu kesampaian. Begitu ikonik tempat ini, mengapa sekolah saya dulu gak pernah bawa murid-muridnya ke Gedung Naskah ya?


Pertemuan-pertemuan dengan objek yang dulu dekat denganku, melahirkan pertanyaan.

Kenapa sekolah gak pernah mengenalkan saya dengan keraton-keraton di Cirebon?

Mengapa nenek dan orang tua saya tidak mengenalkan saya dengan sistem pertanian di Karangampel?

Kenapa saya gak bisa berenang, bukankan saya anak pantai? Rumah saya hanya 5 km dari bibir pantai!

Mengapa saya buta tentang laut jawa?

Dahulu saya menertawakan Sintren, kok bisa!

Topeng Cirebon begitu eksotis, mengapa saya tidak menguasai tariannya?

Kakek pedagang bako, saya ingin tahu lebih banyak tentang bako, di mana mencari informasinya?

Jadi ingat. Teman saya suatu kali mengemukakan pendapat. Ia berkata saya berasal dari kalangan keluarga mampu. Dijauhkannya kami dari pekerjaan-pekerjaan 'kuli'. Pekerjaan yang dimaksud adalah petani, nelayan.

Kami dimasukkan ke jalur pendidikan formal. Ayah saya bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Begitu juga ibuku.

Nenek saya, bos paren. Kakek saya, pedagang bako. Kenapa mereka gak mendidik ayah saya dan merancangnya untuk meneruskan dinasti pesawahan dan bakonya?

Namun saya rasa kita semua mengalami hal yang sama. Kaya atau biasa-biasa aja. Saya bisa sebutkan teman-teman saya yang profesi orang tuanya petani dan nelayan, tapi mereka sama butanya seperti saya. Buta terhadap budaya lokal.

Pernah gak sih kamu merasa dekat dengan sesuuatu yang kamu sendiri gak kenal mereka itu apa.

Kenapa...kenapa...kenapa...

Pernah suatu kali saya sampai membeli buku saku tentang sistem pertanian ala orang jawa. Pranata Mangsa judulnya. Haha. Lucu.

Saya ini bagai pohon kersen yang dicabut sampai akar-akarnya. Gak ngerti apa-apa tentang kampung halaman sendiri. Lebih fasih cerita tentang Bandung. Sedih. Heuheu.



Membaca Para Priyayi

November 20, 2019
Saya pikir ini novel akan saya tamatkan dalam satu minggu. Nyatanya, dua hari saja! Hamdalah! Memang sulit mengabaikan novelnya. Inginnya baca terus. Kepingin saya tahu ujung perjalanan Lantip bagaimana. 




Jadi gini. Cerita dalam novelnya panjaaaaang memang. Melintasi tiga zaman. Dari si buyut hingga cucu-cucunya. Apik sekali jalinan plot kisahnya, dituturkan secara lamban alurnya maju mundur dengan sudut pandang penutur berbeda-beda. 

Karena pelan, ada bagian-bagian dalam novelnya yang membosankan. Kebanyakan sih mengasyikkan. 

Siapa tokoh utamanya, itu pula pertanyaan saya. Mungkin Lantip ya. Dia ada di semua sektor perjalanan hidup para tokoh. Dia tuh kayak...matahari pagi buat orang-orang di sekitarnya. Bikin anget, bikin nyaman. Tentrem.

Aslinya, apa ada orang kayak Lantip dalam dunia nyata? 

Sinopsis ceritanya begini. 

Sastrodarsono adalah kaum abangan. Ia mengambil karir di jalur pendidikan. Gak lazim. Ayah ibunya petani. Di masa lalu, merintis profesi di bidang pendidikan adalah cara menaikan status derajat sosial. Tadinya petani jadi priyayi. 

Guru pada zaman silam gajinya besar. Sekali tepuk dapat dua: uang dan status sosial. Salah satu tokoh dalam novelnya bilang gini, "kalo mau kaya jadi saudagar saja," memang betul. Berbeda bila sekolah dan jadi pengajar, itu derajat orangnya makin tinggi. Lantas disegani. Dihormati. 

Sastrodarsono orang pertama dalam keluarganya yang jadi guru. Priyayi. 

Lantas ia menikahi priyayi tulen. Aisah namanya. Meski punya anak tiga, ia mengadopsi Lantip. Juga beberapa keponakan. Namun hanya Lantip yang awet. Lainnya rajet matakna teu awet. Heueheu. 

Konflik bermuara dari jalan hidup masing-masing tokoh tersebut. Sastrodarsono, anaknya, hingga cucu-cucunya. Termasuk Lantip.

Nah si konflik itu muternya di era kolonial, jepang, kemerdekaan, revolusi, hingga masa-masa gestapu. Jadi bobot sejarah sudah pastilah jadi bungkusan konfliknya. Eranya gestapu juga ada dalam novel, bukan cuma numpang lewat. Highlight ceritanya besar juga. 

Ada beberapa hal yang saya sukai dalam novelnya. Kebanyakan tentang budaya jawa (priyayi). Seperti misalnya: formula nama priyayi. 

Pertama. Tentang kebiasaan memberi nama tua. Selama ini saya mikir, nama-nama priyayi kok bagus-bagus ya. Bagaimana cara memberi namanya, apakah ada formulanya? 

Melalui novel ini saya rada tercerahkan. Agak terjawablah gitu. 

Pertama. Meski satu kata, nama priyayi ada hubungannya dengan pekerjaannya. Dalam novel ini, Sastrodarsono nama lahirnya Soedarsono. 

Pemberian nama tua berlangsung saat si pria siap berkeluarga. Oleh ayahnya, Darsono diberi nama Sastro. Maka lahirlah nama baru Sastrodarsono. 

Sastro artinya tulis. Nama tersebut dipilih orang tuanya sebab nyambuh dengan pekerjaan Darsoni sebagai guru bantu. "Karena guru akan banyak menulis disamping mengajar," kata bapaknya. 

Kedua. Meski petani, orang tuanya Sastrodarsono senang membaca, menguasai kosakata kromo inggil. Gak heran sanggup memberi nama 'berbobot'. Ada artinya, ada maknanya. Disebut dalam novelnya begini. "Orang tua saya, meskipun hanya petani desa, sangat mementingkan tata krama dan tertib priyayi. Penguasaan bahasa mereka boleh dikata sangat baik. Mereka tahu benar kapan harus memakai bahasa kromo halus, kromo madyo, kapan pula memakai bahasa ngoko yang paing rendah tingkatnya." (halaman 35). 

Kalau bobot adat istiadat orang jawa, tumpah ruah ada di novelnya. Pegangan banget ini buku kalau-kalau jodoh kamu orang jawa tengahan, priyayi pula! :D 

Saya temukan ada beberapa kebiasaan yang juga terjadi di keluarga saya yang orang sunda. Seperti menampung  saudara jauh supaya rumah terasa ramai, berbagi rezeki, menyambung tali keluarga. 

Terus ada kebiasaan membawa banyak oleh-oleh untuk calon besan. Kebiasaan se-Indonesia ini. 

Pepes sembukan makanan desa, makanan petani. 

Buah-buah kecil warna kuning yang namanya Kontol Jembutan (LOLOLOLOL orang dulu kenapa sih jujur banget hahaha).

Panggilan untuk Haji menjadi Kaji, seperti Kaji Mansyur. Ini kebiasaan yang terjadi di kampung saya Karangampel. Kalo manggil Pak Haji di mulut jadinya Pak Kaji, atau Wakaji (uwak haji). 

Istilah-istilah bahasa jawa berhamburan. Ada yang saya ngerti karena sama dengan basa dermayu/cerbon, tapi banyak juga yang saya gak paham. Seperti kata 'Prigel'. Saya sampai mengontak ibu dan bertanya apa dalam bahasa dermayu ada istilah Prigel/keprigelan. 

Sungguh ini buku yang menyenangkan. Meskipun tragedi dalam novelnya membuatku mengasihani Sastrodarsono, tapi ya...manusia mana sih yang setidak-tidaknya pernah gak mengalami nasib buruk? Priyayi maupun petani, bila tertimpa kesusahan bukankan itu hal yang wajar?

Bener gak sih? 

Ngomong-ngomong, novel ini mengingatkan saya pada Orang-Orang Oetimu. Keduanya mirip, sama-sama novel etnografi. Seneng bacanya. Jadi tahu kebiasaan orang, budayanya bagaimana, cara berpikirnya kepriben! Lhooo lho jadi terparapriyayikan :D  

Demikianlah. Bulan Desember makin dekat. Target baca buku di tahun ini telat saya lampaui. Nanti saya ceritakan gimana rasanya membaca dengan target :D 











Wisata Pusaka di Cianjur dan Upaya Merawat Cagar Budaya Indonesia

November 19, 2019
Pukul delapan pagi waktu kota Cianjur. Saya janji bertemu Fajar. Bukan fajar kepagi-pagian maksudku, melainkan Rachmat Fajar. Nah itu dia, pria berkacamata berpakaian pangsi biru mbladus menjemput kami di Hotel Kaoem. Dialah pemandu jalan-jalan kami di kota santri ini. 

“Halo, sudah sarapan?” tanyanya ramah.
Kami mengangguk.
“Sudah siap?”
Istirahat semalam nyenyak. Makan pagi enak. Tentu saja kami siap!

Hari itu saya, Indra, dan Kubil jalan-jalan di kota Cianjur. Lumayan nih ada jatah libur walau dua hari. Dari Bandung kami membawa kendaraan pribadi. Bandung – Cianjur dekat saja, hanya dua jam jarak tempuhnya.

Saya dan Fajar, kami berkenalan di Instagram melalui akun yang ia kelola bernama @bumi_ageung_cikidang. Tentang orang-orang yang kembali ke kampung halaman dan merintis karir di sana, nah begitulah Fajar. Mulanya ia bekerja di Bandung dan Jakarta sebagai fotografer. Sempat pula ia mengajar di salah satu kampus ternama. Lantas entah ketiban wangsit apa, Fajar mudik ke Cianjur.




Di kampung halaman ia mengumpulkan kembali aset keluarganya, sebab mereka keturunan Bupati Cianjur, Prawiradiredja II, tentu koleksinya tidak biasa. Koleksi yang tadinya tercecer, kini tersimpan tertib. Apik. Ia tempatkan barang-barang peninggalan leluhurnya di sebuah rumah keluarga. Rumah dengan arsitektur kuno tradisional di Jl Moch Ali no 64 Cianjur.

Rumah itulah yang ia jadikan Museum Bumi Ageung Cikidang.

Tidak berhenti sampai di situ. Fajar membuka jasa tur wisata berjalan kaki keliling pusat kota Cianjur bertema pusaka (heritage). Wah…menarik bukan?

Menarik sekali bagi saya! Berkali-kali saya melihat postingan Fajar di instagram, ia membagi foto-foto cagar budaya di Cianjur. Ada pabrik roti kuno, rumah-rumah antik, kuliner lokal perpaduan budaya pecinan dan sunda, juga highlight utamanya: Museum Bumi Ageung Cikidang.

Tur Jalan Kaki di Cianjur, Berapa Lama dan Mengapa?

Tur berlangsung dari pagi hingga siang hari. Semua rute kami jelajahi dengan berjalan kaki. Tenang saja, bila lelah ada tenaga becak siap mengantar-antar.

Ke mana saja Fajar mengajak kami mengunjungi cagar budaya kota Cianjur?

1. Museum Bumi Ageung Cikidang

Museum ini berada di bangunan tua, berdiri sejak tahun 1866. Awalnya ditujukan sebagai rumah peristirahatan Bupati Cianjur dan keluarganya, yakni RAA Prawiradireja II. Beliau pemilik pertama rumahnya, orang yang memimpin Cianjur selama 48 tahun.

Rumah bersejarah ini pernah dibom tentara sekutu. Di masa revolusi, Bumi Ageung Cikidang jadi lokasi rapat-rapat perjuangan. Termasuk rapat pembentukan tentara PETA.


Fajar dan Bumi Ageung Cikidang

Koleksi museum adalah koleksi pribadi milik keluarga besar. Di dalamnya kita dapat melihat foto-foto Cianjur tempo dulu. Juga segala macam perabotan antik dari mulai furnitur sampai cangkir.

Museum Bumi Cikidang memajang sebagian perjalanan sejarah kota Cianjur. Sajian sejarahnya terkemas ulang dengan gaya bertutur yang ringan dan populer. Ditujukan untuk sebanyak-banyaknya orang.

2. Pabrik Roti Tan Keng Cu

Menuju pabrik ini dari museum kami berjalan kaki masuk keluar gang. Seru amat! Jadinya malah mengamati rumah-rumah padat kota Cianjur. Ada rumah antik, lebih banyak rumah modern sih.




Pabrik roti ini istimewa. Bukan saja karena ia tertua, tapi pada masanya inilah roti penyuplai makanan tentara Belanda se-Jawa Barat. Peperangannya usai, namun pabriknya masih beroperasi. Rotinya masih diproduksi.

Pabrik Tan Keng Cu memanggang rotinya dengan oven kuno.

Tahu tidak berapa harga roti-roti Tan Keng Cu? Hanya tiga ribu saja. Murah amat! Enak pula. Banyak porsinya. Saya jatuh cinta. Bila tidak bersama Fajar, saya kira gak mungkin bisa masuk ke dapur Tan Keng Cu begitu.

3. Mengunyah Geco

Jam makan siang. Fajar mengajak kami ke Kantin 81. Tak jauh dari pabrik roti. Tempatnya biasa saja, mirip warteg alias tidak mewah. Pertama kalinya saya makan Geco dan saya pengen nambah dua kali! Enak sekali Geco ini ya Tuhan tolong!




Dalam seporsi kuliner perpaduan pecinan dan sunda ini ada tahu, kentang, tauge, dan mie. Kuahnya warna kuning kemerah-merahan. Bumbu ala pepes cianjur jadi toppingnya. Campuran itu semua menghasilkan rasa kecut, gurih, dan manis. Sungguh rasa yang ramai.

Sebagai pendamping ada es markisa. Alamak meleleh mulut saya dibuatnya. Nikmat sekali makan siang kami. Terima kasih mengenalkan kami pada Geco, Fajar!

4. Tauco Cap Meong

Sebelum masuk botol dan dibawa pembeli, Tauco disimpan dalam kendi. Tahu tidak, si kendi umurnya lebih tua dari usia almarhumah nenek saya. “Tauco Meong gak pake pengawet. Awet disimpan hanya lima hari. Kalo udah masuk botol awetnya tiga bulan,” kata Fajar.




Tur berakhir ditandai dengan kembalinya kami ke titik mula, yaitu Bumi Ageung. Di sela-sela menuju museum, Fajar mengajak kami jajan di toko-toko kelontong yang bangunannya tua. Kami hanya membeli minuman dan berbincang kecil dengan pemilik toko.

Sebelum pamit, Fajar menawarkan diri jika kami berlibur lagi ke Cianjur ia akan mengantar kami ke Gunung Padang. “Dari kota tinggal naik kereta api sampai Stasiun Lampegan. Abis itu kita naik ojeg. Gunung Padangnya gak jauh dari stasiun Lampegan,” ucap pria lulusan desain interior itu lagi.

Saya pernah dengar situs megalitikum Gunung Padang. Rupanya dari kota Cianjur, akses ke sana tidaklah sesulit yang saya bayangkan. 

Tidak saya kira kota kecil ini ada tur wisata berjalan kaki. Selama ini apa yang kamu bayangkan tentang jalan-jalan di kota Cianjur? Mentok-mentok berkuliner dan plesir ke taman bunga. Betul tidak? Hari itu saya melihat wajah Cianjur yang lain. Sebagai tambahan, bisa ngobrol rupa-rupa topik dengan beberapa warga lokal. Seru! Terima kasih Fajar!

Merawat Cagar Budaya Kota Cianjur

Melalui Fajar, saya melihat upaya merawat cagar budaya Indonesia yang nyata. Bukan cuma wacana. Dari tadi nulis 'cagar budaya', teman-teman tahu apa artinya? 

Wikipedia menulis gini: benda cagar budaya adalah benda alami atau buatan manusia, baik bergerak atau tidak. Cagar budaya punya hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia. 

Coba kita amati wisata alternatif yang Fajar tawarkan dan hubungannya dengan merawat cagar budaya:
  1. Dia membangun museumnya sendiri. 
  2. Fajar menambahkan layanan paket wisata pusaka. Masih nyambung dengan kegiatannya di museum bukan? 
  3. Menggunakan media sosial untuk menyebarluaskan berita cagar budaya. 



Bayangkan bila ada lebih banyak kota-kota kecil yang memungut potensi kekayaan pusakanya. Hitung-hitung merawat cagar budaya dan mendapatkan pendapatan darinya. Sambil menyelam dapat ikan, kenapa gak. Saya senang, Fajar bahagia, objek wisatanya langgeng. Bangunan cagar budaya ikut terawat. 

Cagar budaya itulah yang jadi jembatan kepada kita di masa kini. Melalui Fajar, benda-benda dari masa lalu bercerita tentang apa yang dibangun dan tersisa, mengapa Cianjur dipilih jadi ibukota residen Priangan, dan bagaimana rupa kota di masa lalu.

Cagar budaya memberitahu kita tentang apa yang hilang dan apa yang diwariskan.

Ini terbaca klise, tapi sejarah adalah pengingat. Membaca sejarah artinya mengingatkan diri sendiri. Cagar budaya seharusnya ada dan dirawat sebagai pengingat apa yang kita lakukan dan alami di masa lalu, mana yang bisa dikenang baik dan mana yang dikenang tanpa harus kita ulang. 

Bolehlah saya sedikit berbangga. Turis-turis seperti saya membantu Fajar meneruskan tongkat estafet bertuliskan 'ayo rawat cagar budaya kita'. Kita datang, kita menyimak, kita menikmati, kita memotret, kita mengunggah foto-fotonya di media sosial, dan kita beritahu orang lain. Hanya saja kampanye berwisata yang baik harus pula disuarakan: tidak meninggalkan sampah, bertutur sesuai adat istiadat setempat, tidak merusak, tidak banal.  

Tentang merawat cagar budaya, bila dikerjakan bersama-sama, harusnya tidak ada lagi berita cagar budaya yang musnah. Sepakat? 


Foto-foto: dokumen pribadi