Image Slider

Pernah Jatuh Cinta di Yogyakarta

October 16, 2019
Jam makan siang lima tahun yang lalu. Di Kotabaru kamu ajak aku menyantap seporsi bakso malang. “Kita sedang di Jogja, kenapa makan bakso ala malang?” tanyaku, nyolot. Kamu senyum-senyum saja.

“Makan dulu baru komen,” begitu kata kamu, sabar.  

Kita duduk berdua, lesehan, berlatar sebuah masjid yang kau sebut begini: waktu Indonesia merdeka, Sukarno ngasih kota Yogyakarta dua hadiah. Ke satu, dia kasih kampus UGM. Ke dua, dia bikinkan warga Jogja ini masjid. Namanya Masjid Syuhada.

“Memang kota Jogja ini istimewa tho,” katamu lagi sambil menyindir-nyindir kotaku, Bandung.

Begitulah perjalanan kami dimulai. Dari tepi Jalan Prau. Menyusuri Kali Code. Masuk ke Museum Sandi. Berujung memandang rumah-rumah kolonial yang kamu sebut rumahnya bangsawan. Kita berjalan terus hingga Malioboro. Ke sudut-sudut Kauman. Di makam raja-raja Mataram. Dan yang terbaik di penghujung hari itu bersamamu adalah seporsi Brongkos dan Es Degan Tape Handayani!



Yogyakarta kotanya panas durjana. Namun tidak di dalam hatiku ini. Kamu penyebabnya. 

Lima tahun kemudian, aku singgah kembali ke Yogyakarta. Pertama kalinya setelah kamu tak ada. Tanpa kamu, dari mana aku harus mulai perjalanan di Yogyakarta ini lagi…sendiri…

Ini aku sudah sampai di Jogja. Mataharinya sudah tergelincir. Wajahmu mulai nyata bayangannya. Aku pikir itu kamu yang melambaikan tangan dari pintu gerbang stasiun Tugu. Ternyata mamang ojek online. Jaketnya hijau, persis jaketmu dulu itu. Haha. Jangan ngambek! aku bercanda.

Baru saja tadi di kursi kereta api, satu kamar di The Wayang Guesthouse kupesan. Dua hari satu malam. Via traveloka. Terdampar aku di kamar penginapan, memandang langit-langit. Bolak-balik cek layar hp. Hmmm...ke mana ya, apa yang bisa aku lakukan di kota ini, sendiri. 

Merancang perjalanan umumnya kulakukan sebelum keberangkatan. Kamu tahu itu. Namun satu ini berbeda. Aku ingin dadakan saja. Lucu sekali perasaanku ini. Akalku berkata tidak mungkin kamu hadir di sini. Namun hatiku bilang sebaliknya. Ingin aku lihat rupamu dalam jalan-jalan yang kita susuri hari-hari kemarin itu. Rindu. Banget. 

Bantal di pelukan, hp di genggaman. Malam terasa panjang. Aku masih menyusuri Traveloka. Oke...hmmm...Traveloka Eat...Traveloka Gift Voucher...Traveloka Xperience? tunggu, apa yang barusan aku lihat?

Traveloka Xperience?

Setelah aku pantau, Traveloka Xperience adalah daftar ide berlibur, tentang mencari pengalaman-pengalaman baru, seru nan menyenangkan tanpa repot menyusun susunan perjalanan. 

Ratusan ide menarik menikmati perjalanan ada dalam fitur Traveloka Xperience. Ini nampak mengasyikkan! Aku mulai serius memperhatikan. Ada alasan mengapa Traveloka Xperience menarik digunakan. Begini:




Mari saya temani kamu membahas satu persatu kategori di Traveloka Xperience. 

1. Attraction - Menghibur (diri) di keramaian

Mencari atraksi hiburan, kategori inilah tempatnya. Di sini kamu temukan tiket-tiket ke taman hiburan. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di negara tetangga. Buatku ini tempat yang cocok untuk mencari keramaian. Sebab di dalam hati, kamu tahu, rasanya hampa. Siapa tahu di Sindu Kusuma, aku menonton pasangan bercanda ria saling bersentuhan kecil membuatku rada-rada tersentuh kasih. Hatiku jadi ramai. 

2. Movies - Menonton Film-film Favorit!

Ya Tuhan, ini kan kegiatan rutin kita. Kamu ingat pernah mengajakku maraton nonton di Ambarukmo. Skripsiku demo menjerit minta diselesaikan. Namun ku harus berterima kasih padamu, sebab di bulan Juni 2014 itulah Chicco Jerikho membuatku jatuh cinta. Filmnya membuat kita berangan-angan ke Ambon. Membuatku memimpikan Chicco yang semrawut tapi tampan! Kamu tidak cemburu. "Chicco gak mungkin mau, satu-satunya di dunia yang tahan terus-terusan sama kamu itu aku," kamu dan muka monyongmu itu memang...

Ngomong-ngomong, kategori Movies ini banyak promonya. Bayangkan maraton nonton film dengan tiket setengah harga? Ah! kenapa yang begini baru ada setelah kamu tiada...

3. Events - Kalender Pentas Wisata 

Pernah penasaran sewaktu traveling kira-kira ada jadwal pentas seni lokal tidak? Nah sajian itulah yang kini dapat kamu cari di Traveloka. Tiket nonton sirkus, konser, seni tari, pewayangan, dan masih banyak lainnya. Gak lagi kita akan misuh-misuh bingung nyari tiket di mana dan belinya bagaimana. Ini akan jadi kategori favoritmu no dua, setelah Movies tadi. 




4. Entertainment - Mencari Hiburan

Haruskah aku mencari tempat karaoke di fitur ini dan menyanyikan lagu-lagu tentang kita? Di kategori Entertainment, aku menemukan barisan tawaran karaoke. Ada juga tempat ber-ice skating. Wah kegiatan bagus untuk tertawa sebab saya tidak bisa berselancar dengan sepatu apapun. Kamu pasti tertawa hingga sakit perut melihatku terjungkal-jungkal dengan sepatu ice skating. 

5. Sports - Membuang Energi Negatif

Aku mau liburan bukan olahraga. Nanti bila balik ke Bandung, mungkin inilah kategori yang kucari duluan. Traveloka Xperience ini memang gudangnya tempat-tempat untuk membuang energi negatif (dan berat badan berlebih). 

6. Beauty & Spa - Memanjakan Diri

Beberapa bulan lalu aku mengecat rambutku. Warnanya cokelat sekarang. Menurutmu, apa cocok bila besok aku cat rambutku dengan warna burgundy? atau sekalian aku luruskan saja rambut-rambut ikalku ini? Lumayan barusan aku temukan salon dengan potongan harga 50%! Gokil memang Traveloka Xperience ini. 

7. Playgrounds - Tentang Menyenangkan Anak-anak

Membawa serta anak jalan-jalan, di tempat inilah surganya. Beli tiket ke wahana bermain di Traveloka Xperience. Senangkan mereka. Kecuali aku, juga bukan kamu. 

8. Transport - Gunakan Angkutan Umum

Kamu pernah mengejekku yang tak bisa menyetir motor, pun mengemudikan mobil. Kamu salah besar. Sekarang aku punya sopir pribadi! Ya ojek-ojek berjaket hijau itulah. Aku senang menggunakan angkutan umum, menambah pengalaman traveling, bertemu orang baru. Temukan tiket-tiket transportasi umum di kategori ini.

9. Tours - Tidak Usah Repot Merancang Agenda Perjalanan

Kegiatan wisata di tahun 2019 ini makin mengasyikkan saja. Mencari pengalaman baru saat traveling? cobalah ikuti tur-tur berjalan kaki. Terasa santai. Menengok pilihan tur di Traveloka Xperience ibarat membuka brosur-brosur wisata. Menariknya, minimal orang mengikuti tur dapat hanya dengan 1 orang. Untuk jalan-jalan di Jogja, aku pilih kategori ini. 

10. Travel Essentials - Perlengkapan Traveling

Urusan sewa menyewa perlengkapan traveling disediakan di sini. Bila butuh sim card atau rental wifi, lekas buka app Travelokanya. Makin canggih memang berwisata sekarang, di zamanmu hanya ada kamera-kamera seberat kulkas dua pintu. Sekarang aku bepergian membawa powerbank, aneka kabel, kindle untuk membaca, bahkan wifi portable! yang terakhir saya sebut barusan, disewakan oleh Traveloka. 

11. Food & Drink - Berburu Kuliner Seru!

Apa serunya traveling tanpa menikmati kuliner khas? begitu katamu. Aku setuju. Traveloka menyediakan pengalaman traveling kuliner yang menyenangkan di kategori Food & Drink ini. Benar-benar #XperienceSeru memang. 

12. Classes & Workshops - Belajar Hal Baru

Pernah aku lihat di Bali ada workshop memasak. Menarik sekali aku ingin mencobanya, tapi urung karena malu sendirian. Sekarang aku lebih dewasa dan sendiri adalah hari-hariku yang biasa. Hahaha. Kamu yang bilang padaku, "jangan takut sendirian!" Kategori kelas dan workshop ini bisa dipilih sesuai minatmu.  Mulai dari ikut workshop membatik, kelas meracik cokelat, memasak menu-menu lokal yang unik, dan masih banyak lagi. Coba saja skrolling di aplikasinya. 

Dengan demikian, aku simpulkan begini tentang Traveloka Xperience. 


Mengapa Traveloka Xperience? 

  • Tidak usah repot-repot merancang agenda perjalanan. Bermacam-macam tur bisa dipesan dari fitur Xperience.
  • Banyak ide-ide perjalanan seru yang mengasyikkan. Traveloka Xperience bahkan memberi kita ide perjalanan seperti: workshop memasak menu lokal atau tur-tur kuliner mengasyikan. Traveling tidak lagi tentang mengunjungi tempat-tempat hits semata bukan?
  • Kalender wisata online. Event-event reguler menarik di Yogyakarta misalnya, sekarang tiketnya dapat dibeli di Traveloka. Tiket konser tari, tiket sirkus, bahkan tiket konser.
  • Tiket masuk taman hiburan, bisa dibeli jauh-jauh hari.
  • Harga sudah terpampang, gak perlu hitung menghitung riset data.
  • Harga promo! Harga promo! Harga promo!
  • Bila kamu pikir Traveloka Xperience berisi fitur perjalanan besar, maka salah besar. DI sini kamu bisa temukan tempat untuk memanjakan diri di salon kecantikan atau maraton nonton film favorit! Sesederhana itu saja memang.
Lantas bagaimana cara memesan di Traveloka Xperience?

Bagaimana Cara Booking Traveloka Xperience?

Mudah saja. Coba kamu buka ponselmu. Buka aplikasi Traveloka. Sudah?

  1. Cek button dekat-dekat pilihan Hotels, Flights & Hotels. Di sana button Xperience berada. Klik saja.
  2. Bila sudah, nanti muncul pilihan Categories. Normalnya ada 12 kategori, tapi ragam kategori tidak semuanya muncul. Tergantung pilihan kotamu.
  3. Seperti aku nih, pilih Yogyakarta, maka Xperience yang muncul hanya tujuh macam.
  4. Pilih Xperience yang paling kamu minati. Sesuai hobi. Sesuai budget. Sesuai mood dan perasaanmu inginnya bagaimana.
  5. Jangan ragu untuk iseng membaca fitur Xperience. Uang terbatas, keinginan yang tidak. Hehe.

Oh! Apa kamu mau lihat tur yang ku ikuti di Yogyakarta seperti apa?




Agak ramai juga pilihan turnya. Aku ingin ambil hampir semuanya. Namun hanya ada sedikit waktu di kota ini. Aku ambil ini: Yogyakarta Day Historical Walking Tour – 3-Hour-Tour. Biayanya Rp378.000.

Masih lekat dalam ingatan sewaktu kamu mengajakku hunting foto di area pecinan. Kamu yang mengenalkanku pada cantiknya pintu-pintu klasik, elegannya jendela tua. Dan tegel-tegel bercorak bunga itu, aku makin menyukainya! Hingga kini, kebiasaanmu berburu foto-foto bangunan tua aku teruskan. Ya, aku mewarisimu kecintaanmu.




Demikian. Satu hari di Yogyakarta mencari-cari wajahmu di antara keramaian Malioboro. Apa aku menemukanmu di sana? Ya. Pada segelas es degan berwarna merah muda dan jendela rumah-rumah Kauman, ya kutemukan wajahmu. Ku pikir aku sempat kehilanganmu. Rupanya selama ini aku sudah membungkusmu dan memendamnya. Di sini, di hatiku.




Foto : dokumen pribadi

Damai di Istana Gebang

October 13, 2019
Ini adalah tulisan yang tertunda hampir dua tahun. Hahaha sudah cukup mari saya selesaikan. Ini khusus tentang Istana Gebang. Sedangkan catatan perjalanan di kota Blitar, teman-teman dapat membacanya di sini dan di sana.

Pada perjalanan singkat saya di Blitar, saya singgah ke Istana Gebang. Inilah dia lokasi utama mengapa saya sengaja main ke Blitar.

Ada di sini, saya menyadari, Sukarno ini memang bangsawan. Meski dalam biografi yang ditulis Cindy Adams ia mengaku masa kecilnya gak bergelimang harta, namun bila orang tuamu punya aset 1,8 hektar, saya kira kedudukannya tidak sembarang.

Istana Gebang memang sebenar-benarnya istana. Peninggalan kolonial. Dahulu ini rumah milik juragan perkebunan gula. Cmiiw. Rumahnya disebut-sebut dalam berbagai artikel yang saya baca online, didirikan tahun 1860.

kelihatan gak saya di foto ini :D saya bersama Nabil, difoto oleh Pandu

Lantas, rumahnya dibeli (?) oleh ayahnya Sukarno bernama R Soekemi Sosrodihardjo. Mereka mulai mendiami rumahnya di tahun 1914 (ada yang menyebut tahun 1917). Saat itu Sukarno masih kecil.

Kemudian, rumah ini didiami kakaknya Sukarno. Soekarmini namanya.

Istana Gebang ini sekarang milik pemerintah kota Blitar. Bukan lagi properti pribadi. Mengapa? Supaya situsnya dapat lestari. Juga kini akses terhadap rumah tersebut terbuka untuk umum. Kamu bisa masuk ke kamar tidur, dapur, ke mana saja di bagian rumahnya.

Bila memperhatikan Istana Gebang, ini pasti perawatannya gak murah sih. Heuheu. Saya rasa wajar bila pemilik terdahulunya ingin menjual properti sebesar ini. Pemkot Blitar juga baguslah mau beli. Disebut-sebut angka pembelian Istana Gebang adalah 35 M.

Istana Gebang berhalaman luaaaas sekali. Di depan juga belakang. Saat saya ke sana, matahari sudah tergelincir. Pukul empat sore. Sehingga hawanya meski panas, tapi teduh. Ada satu pohon besar di halaman depan. Di bawahnya, ada anak-anak warga sekitar berlarian, berkejar-kejaran. (Update: pohonnya udah gak ada. Ambruk karena lapuk)

Rumahnya bagaimana? Tidak kalah luas dengan halamannya. Ruangan besar-besar. Pintu dan jendela berbuku-buku. Serasa rumah eropa, namun aura kejawennya juga banyak.

Terdiri dari beberapa kamar (kalau tidak salah ada lima kamar). Kamar tidurnya selayaknya kamar bangsawan. Tiap kamar ada jendelanya. Sungguh menyenangkan ada di sana sore-sore, sewaktu mataharinya adem, berkas sinarnya jatuh ke bibir jendela. Mengenai tirai yang tertiup angin pelan. Aduh hati ini lihatnya senang sekali.

Pengen berlama-lama begini. Bagaimana caranya detik ke menit bisa berhenti barang setengah jam? hahaha mau nyetop waktu dengan waktu! Sia-sia amat.

Di bangunan sebelah rumah ada sanggar seni. Di sana sedang berlangsung kelas tari. Bunyi gamelan mengalun berseling suara tawa anak-anak. Duh suasana sore itu damainya menelusup sampai ke nadi-nadi. Seperti habis tersentuh kasih. Hehe.




Kalau saya mesti sebut kapan sore-sore terbaik yang saya pernah alami, di Istana Gebang itulah salah satu sore terbaik dalam hidup saya. Terasa begitu damai, walo juga terkesan asing.

Bangunan utama terpisah dengan bangunan dapur dan ruang makan. Di tengahnya ada taman kecil. Terhubung dengan serambi berbentuk koridor.

Paling belakang ada dapur dan kamar mandi. Di situ saya melihat sumur. Di muka rumah saya masuk berbarengan dengan pengunjung lain. Saya heran mengapa mereka membawa beberapa botol air minum kemasan plastik kosong. Ternyata sumur itulah penyebabnya. Mereka ambil air sumur yang dipercaya membawa berkah. Air keramat.

Entah ada hubungan apa orang Indonesia dan air sumur ini. Hahaha. Tunggu dulu, saya sedang tidak mengejek. Sebaliknya, saya menyukai pemandangan itu masih ada. Tentang air-air yang dikeramatkan, tentang situs yang dianggap membawa keberkahan, saya kira itu namanya harapan. Gak ada yang salah dengan itu.

Hanya saja, saya mau orang-orang yang demikian, membawa harapan itu dalam kesehariannya. Dalam sikapnya berkendara di jalan. Dalam caranya bertutur. Dalam caranya menyikapi masalah. Dalam menjalani peran sebagai umat beragama.

Pandu bertanya, apa saya mau ikut ambil airnya. Tentu tidak. Saya hanya melongok sumurnya saja. Agak menyesal sih kenapa saya gak raupan di sana. Tahu gak raupan? Hehehe.

Di sisi kanan rumah ada garasi dengan mobil tua di sana. Mobil bersejarah kelihatannya. Mewah pula.

Perabotannnya sama mewahnya. Kelihatan bukan perabotan rakyat jelata. Lemari, ranjang, foto-foto tua, guci, aneka benda-benda aksesoris klasik, berderet buku-buku tua, lampu. Sangatlah indah semuanya, juga menunjukkan status pemilik rumah. Menak.

Istana Gebang dibuka untuk dikunjungi sejak pukul tujuh pagi. Tutupnya pukul lima sore. Mungkin ini informasi yang salah saya lupa tidak mencatat. Tidak ada biaya. Gratis saja kecuali kalo ada pemandu. Kasih honor seikhlasnya.

Dalam perjalanan keluar parkiran Istana Gebang, saya bertanya dalam hati. Mengapa jauh-jauh saya berkunjung ke Istana Gebang. Hahaha. Entahlah, saya pikir kalo ada rumah-rumah klasik yang dimuseumkan, dibuka untuk warga umum pula, serasa harus wajib saya ke sana.

Di sini pula saya menyadari wajah Sukarno yang saya pikir sangat lekat dengan Blitar, ternyata terasa begitu asing.
















Mengapa Pintu-Pintu Tua?

October 11, 2019
Tiga tahun ini saya rajin memotret pintu-pintu lama dan jendela tua. Bila ditanya kenapa, saya gak punya jawaban menarik. Mengapa ya? Kalo jawabannya karena saya suka, apa itu cukup?




Bagi saya foto adalah suvenir perjalanan bagi diri sendiri. Saat jalan-jalan, saya menantikan pemandangan rumah-rumah klasik. Foto pintu dan jendela itulah yang saya anggap suvenir. Senang aja lihatnya. Buat koleksi dan memuaskan diri sendiri aja sih. Gak ada niat menyenangkan orang lain atau keinginan disebut keren. 

Kebetulan saja sekarang ada media sosial. Instagram. Saya pake buat naro foto-foto tersebut. Gak semua yang terpajang di media sosial karena ribuan foto tersimpan di hardisk. 

Sewaktu kecil, saya tinggal di kampung berjarak tujuh jam dari Bandung (sekarang empat jam saja, terima kasih infrastruktur!). Rumah-rumah yang saya pernah diami adalah rumah bergaya tempo dulu. Sama seperti rumah kamu. Rumah kebanyakan di tahun 80an, 90an. 

Tegelnya 20x20 cm. Ada satu rumah, pintunya berteralis ketupat. Satu lagi, pintunya berlapis dua: kaca dan kayu berbuku-buku. Jendelanya lebar-lebar dan berkaca patri. Tiap pintu ke kamar ada tirainya. Pintu dapur ada dua, bagian atas dan bawah. Bila siang hari, pintu bagian atas yang dibuka. Ayam gak masuk rumah, rumah gak kepanasan. Sebuah win win solution kelas lokal. 

Oiya! Di rumah ada sumur. Paling belakang sih lokasinya. Masih bagian dalam rumah hanya saja atapnya bolong. Kalo hujan, air masuk ke sumur. Sumur dekat kamar mandi. Tiap mau mandi/buang air, isi air dulu dari sumur. Timba...timba...masukin ke lubang yang terhubung ke bak mandi. 

Rumah-rumah yang menyenangkan dengan halaman luas di depan dan belakang. Ada pohon mangga. Rumah orang tua saya, nenek saya pasti ada pohon di depan rumahnya. Hingga hari ini, pepohonannya masih ada. Dahulu, ada kerikil sebagai dekorasi di sisi kanan kiri jalan masuk ke rumah. 

Teras dirancang untuk nongkrong. Biasanya sore hari. Midang istilahnya. 

Melihat kembali ke masa lalu, rumah yang pernah saya diami begitu indah, teduh, dan klasik. Cantik sekali. Kalau sekarang membuat benda yang sama, kayaknya bakal repot ya. Selain mahal, perawatannya juga gak mudah. Seperti pintu berbuku-buku itu, sewaktu kecil saya bertugas mengelap tiap bukunya dengan elap basah. Hah tugas menyebalkan! Haha. 

Yha begitulah. Tan hana huni, tan hana mangke, begitu kata orang sunda. Gak ada hari ini bila gak ada hari-hari kemarin. Gak ada saya yang memotret pintu-pintu lama, jendela tua, rumah tempo dulu bila dahulu saya gak pernah jadi bagian mereka. 

Matur kesuwun buat leluhur-leluhur saya di Karangampel. 






foto jendela sebelah kiri dipotret oleh Indra


Dinamika Blog Bandung Readers Festival 2019: Masihkah Ada yang Membaca Blog?

October 10, 2019
Acaranya sudah berlalu sebulan lalu. Saya baru tulis sekarang. Kemarin-kemarin ke mana aja ya :D

Saya diajak Ayu jadi pembicara dalam tema Dinamika Blog. Sejujurnya saya bisa bayangin Ayu berdebat di atas meja diskusi panitia hingga saya yang dipilih jadi narasumber :D terima kasih banyak untuk perjuangannya, Ayu! Haha.

Bersama saya, ada Nike Prima foundernya Living Loving. Ia menulis mengenai acara tersebut di sini, baca dalam tulisan Menulis Blog dengan Keras Kepala.

Baik, kita bahas apa yang diobrolkan tentang blog dalam sesi Dinamika Blog tersebut ya.


foto dapet capture dari akun IG @bdgreadersfest

Masihkah Ada yang Membaca Blog?

Ada. Banget. Jika kamu berpikir media sosial merebut semua perhatian netizen, itu tidak tepat. Porsi blog masih ada. Masih banyak. Gimana bisa?

Yha kamu masih browsing kan? Masih googling? Itulah pintu masuk para netizen ke blog-blog kayak saya.

Kuncinya begini: blog menyajikan data. Jangan bayangin data kayak tugas kuliah atau angka-angka di laporan laboratorium. Data dalam blog yang saya maksud begini:

Data tentang pengalaman jalan-jalan ke Bali
Data tentang menyiapkan resepsi pernikahan
Data tentang cerita anak masuk sekolah pertama kalinya
Data tentang memilih jodoh
Data tentang resep memasak
Data tentang kisah mendiami rumah hasil beli sendiri
Data tentang berbagi pengalaman kerja di Kuwait
Data tentang traveling ke Korea Utara
Data tentang biaya melahirkan
Data tentang profil pemilik rumah berarsitektur industrial
Data tentang kafe di Bandung yang harganya terjangkau
Data tentang Khangcul dan drama-drama dia lainnya
Dan masih banyak banyak banyak lagi.

Bila dahulu orang baca blog untuk menikmati sebuah karya tulis, saat ini kelakuannya berubah. Pada waktu mereka googling, mereka mencari data. Bila blog kita terbaca google dan masuk halaman pertama, besar kemungkinan mereka masuk ke blog kita. Merekalah pembaca blog kita. 

Jadi kalau tulisan kita generik temanya, seperti blog saya ini, cuma masalah waktu aja menunggu pembaca datang. Kalo malas nunggu, ada cara lain mendatangkan pembaca. Gimana? Gunakan media sosial. Cross platform. Blog gak lagi berdiri sendiri. 

Share link tulisan di Instagram, twitter, dan facebook turut membantu pembaca datang. Karenanya bagi saya penting memupuk media sosial, agar ketika saya share tulisan, ada yang mau klik linknya. Namun, dengan angka followers saya yang gak banyak-banyak amat, jumlah pembaca blog saya yang datang dari media sosial gak sebanyak yang singgah karena google.

Saya rasa nih, banyak komponen yang mendatangkan pembaca ke blog. Jenis tulisan kita lah, jumlah followers kita, ada kata kunci yang tiba-tiba yang sedang banyak digoogling, peristiwa yang sedang trending, dan lain-lainnya. 

Bila menulis untuk diri sendiri dan gak butuh pembaca, abaikan tulisan saya ini. Namun, jika kamu pengen blogmu dibaca, tulisan saya bisa jadi ada manfaatnya. Hehe.

Nah sekarang, mulailah menulis. Upload ke blog, dan share ke media sosial. Bergabunglah dengan akun-akun komunitas blog dan saling berkunjung ke blog. 

Perkara tulisannya terindex google atau tidak, itu masalah waktu saja. Kecuali kamu niat banget pengen masuk halaman google, maka belajarlah teknik SEO, teknik optimasi tulisan agar terindex google dengan cepat. Yha gimana dong, namanya juga era digital. Dahulu mudah saja bagi saya ada di daftar pertama halaman google. Sekarang? Susah banget! wqwqwq. 

Oke. Udah nih ya. Gak usah takut gak ada pembaca. 

Lantas kita pindah ke pertanyaan berikutnya, saya nulis apa ya di blog? tulisan saya banyak gak jelasnya, apa bakal ada pembacanya? 




Rencana Libur Akhir Tahun di Jakarta

October 09, 2019
Bulan ini ibukota memanggil saya. Sampai dengan akhir tahun, Jakarta adalah rumah kedua. Mulai dari jadi asisten sepupu yang menikahi warga Jakarta, menyelesaikan beberapa pekerjaan, hingga merencanakan libur akhir tahun. Tugas pertama: membantu persiapan resepsi sepupu.

Dari Bandung bawa banyak perlengkapan. Kami menginap di hotel Whiz. Mempermudah urusan angkut mengangkut perlengkapan pribadi dan para sesepuh keluarga, saya cari sewa mobil di daerah Jakarta Pusat saja. Syukurlah acara berlangsung lancar. Drama ada, banyak! Hahaha. Ya tapi saya senang acara keluarga ini sudah berlalu. Dilalui dengan drama, diakhiri dengan tawa. 

Di minggu kedua Oktober kemarin, saya kembali ke Jakarta. Kali ini urusan percuanan. Kalo bukan karena urusan yang penting-penting banget, saya gak berminat datang ke ibukota nih. Macet dan panas. Di Bandung saja saya mulai gak betah karena macet jalanan, apalagi Jakarta :D 

Akan tetapi, Jakarta itulah tujuan saya berlibur akhir tahun di Desember nanti. Ada waktu dua minggu libur sekolah anak. 

Kenapa Jakarta? Karena murah bisa menginap di rumah adik di Duren Sawit. Dari situ tinggal menumpang LRT ke sana ke mari. Ha! Terpikir tidak untuk liburan di Jakarta? Memangnya ke mana saja ya bila ingin rekreasi di jantungnya pulau Jawa itu?

Mari saya kasih lihat tujuan jalan-jalan kami Desember nanti. Gak jauh-jauh dari museum sih :D 

1. Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Tujuan utama ke sini karena pengen lihat bangunannya yang klasik. Gedung bersejarah. Lokasinya di Jl Imam Bonjol no. 1 Jakarta Pusat. 


photo credit: kompas.com

Sesuai namanya, ini museum tempat naskah proklamasi dibuat. Oleh siapa lagi kalo bukan tokoh-tokoh kemerdekaan, utamanya Sukarno Hatta. Naskahnya diketik Sayuti Melik. Fakta-fakta sejarah yang umum banget ya. Namun, bagaimana latar sejarah di balik hari itu, 16-17 Agustus 1945? Apa cerita yang gak ada di buku sejarah tapi ada di museum in?

2. Kota Tua 

Pengakuan. Baru satu kali saya berkunjung ke Kota Tua. Namun, sewaktu ke Kota Tua tahun 2016 di sana tak lebih dari 10 menit saja! Argggh sebel gak sih. Oleh karenanya, bila ada waktu luang (utamanya di musim libur sekolahan nanti), saya udah niat banget mau eksplor Kota Tua. Dipuas-puasin deh di sana. 


Gak tahu sih bakal selama ana jelajah Kota Tua Jakarta, secara saya baca daftar gedung-gedung tuanya ada banyak amat. Mulai dari Gedung Arsip Nasional sampai Glodok, Museum Fatahilan dan Museum Bahari, Museum Bank Mandiri, VIhara Dharma Bhakti, Gereja Sion, dan masih banyak lagi. 

Akan jadi hari yang panjang sepertinya jika berkunjung ke Kota Tua ya. 

3. Jelajah Cikini

Di Cikini saya pernah melancong ke Planetarium. Itu saja sudah. Juga Monas dan Balaikota Jakarta. Sayangnya, vibe area Cikini saya lewat begitu saja. Nah itulah mengapa saya mau balik lagi ke Cikini. Ngapain? 

Meyantap Mie Ayam Gondangdia. Slurrrppp Es Podeng. Gak ketinggalan Nasi Uduk Gondangdia juga. Dan tentu saja dong: makan ketoprak Jakarta! 

Apakah saya sudah sebut Gado-gado Bonbin? Jakarta yang kita pikir kering kerontang itu punya harta karun juga. Di Cikini ini menurut 'hartanya' berada. 

Banyak bangunan bersejarah di sekitar Cikini. Buat saya yang koleksi foto gedung cagar budaya, Cikini surganya sih. Mulai dari Lembaga Eijkman, eks Bioskop Metropole, RSUP Dr Ciptomangunkusumo, sampai dengan Tugu Proklamasi. 

4. Museum Tekstil 

Bangunan museum biasanya menempati bangunan tua. Sama kayak Museum Proklamasi, alasan saya pengen ke Museum Tekstil karena pengen lihat bangunannya. 

Lokasinya di Petamburan. Dibangun tahun 1840. Dahulu rumah hunian milik orang Prancis. Lantas pemiliknya berganti kepada saudagar timur tengah. Belakangan ia jadi markas besar Barisan Keamanan Rakyat. Berganti nasib, pemiliknya seorang keturunan Tionghoa. Tahun 1976, bangunannya beralih fungsi jadi museum. 

photo credit: kompas.com

Bila melihatnya dari foto-foto di blog orang lain atau feed instagram, waduh cakep amat gedungnya! perpaduan bangunana ala eropa dan tropis. 

Disebut-sebut pula ini museum sepi pengunjung. Sayang juga ya. Kenapa museum kita sepi mulu sih? Anak sekolah datang kalo study tour doang. Heuheuheu. Marilah kita ramaikan museum. 

5. Dufan! 

Apalah artinya liburan tanpa senang-senang di wahana permainan! Hahaha. Bila ibunya (ya, saya :D) ke museum, anaknya dikasih Dufan deh. Mainlah sepuas-puasnya. 

Kalo musim liburan begitu, Dufan penuh gak sih? Ada saran waktu terbaik mengunjungi Dufan jam berapa?

Demikian cerita akhir tahun berikut rencananya. Kalo akhir tahun begini suka excited gak sih? Aura natal dan liburannya menyenangkan aja gitu. Namun di satu sisi, terasa waktu begitu cepat. Tahun-tahun 2020 di depan mata. 

Gimana rencana kegiatan menghabiskan akhir tahun kalian? Share di komen yok!