Social Media

Image Slider

Jalan-Jalan di Sekitar Stasiun Garut

June 29, 2022

Kalau pernah terpikir untuk pindah ke kota kecil dan bekerja remote WFA/WFH saja, saya rekomendasikan Kota Garut. Pilih kos-kosan sekitar Alun-Alun. Dekat stasiun kereta api. Ke sana dekat, ke sini dekat. Berjalan kaki masih nyaman, bersepeda apalagi ngegelosornya enakeun. Lalu ini yang mahapenting: udaranya sejuk dan adem. Juga ayam gepreknya enak-enak!

 

jalan-jalan sekitar alun-alun garut


Sayangnya saya tidak tahu tarif hidup di sana. Tiga hari di Garut gak bisa jadi patokan tahu biaya hidup. Harga jajannya lebih murah dari Bandung yang pasti sih. Ah ketang liburan aja dulu ke Garut atuh, meni jauh ngomongin pindah kota segala rek naon sih heuheu. 

 

Mana sekarang ada stasiun kereta api juga. Buat saya warga Bandung, terhubungnya kota saya dengan kota garut melalui jalur kereta api kerasa ngegampangin banget. Emang sempat kepotong pandemi dua tahun sih, pandeminya pun masih ada. 

 

Namun yah udah bisalah sekarang jalan-jalan ke Garut. Hehe. udah pada vaksin tiga kali kan? Anak-anaknya udah pada vaksin dua kali? Kalo sudah ya bisa kayaknya jalan-jalan. Dipake aja maskernya, hand sanitizer bawa terus, kalo jaga jarak sih udah lapur ka mana tea heuheu.

FYI, Garut kotanya enakeun banget ya. Please note yang saya bicarakan adalah sekitar Alun-Alunnya saja. 

 

jalan-jalan sekitar stasiun garut

jalan-jalan sekitar stasiun garut


Untuk berjalan kaki ke sana ke mari di tengah kotanya cukup nyaman. Suasananya juga hidup. Artinya banyak pertokoan yang buka. Hiruk pikuk kota terasa ramai tapi tidak riweuh. Banyak tempat jajan dalam radius berdekatan. Alfamart dan Indomaret ada tapi tidak berceceran seperti di Bandung.

Saya dan Indra berjalan kaki pagi hari, siang, dan sore. Makan buku, jajan baso, menyantap mie ayam, menelan bacil! 

 

Juga tentu saja memoto toko-toko tua di Jalan Ahmad Yani. Bolak-balik ke Toko Buku Merpati dan  bermain di Alun-Alun. Enak deh hype Alun-Alunnya tuh kerasa banget generator kegiatan warga buat leleson. 


Saya jajan kopi juga. Entah buat siapa pokoknya beli aja dulu. Maunya saya bertanya segala macam tentang Toko Ek Bouw Jaya, tapi sungkan nih. Coba kamu aja gimana kalo ke Garut mampir ke Toko Ek Bouw di Jalan Ahmad Yani terus ngobrol sama Oom yang punyanya. Terus ceritakan. Hehe.

Gak ada timeline jalan-jalan yang kami rancang. Secara spontan hanya berkeliling area stasiunnya saja. Begitu-gitu aja kegiatannya, jalan kaki-ngobrol-makan-ngobrol-berfoto-main hape-jalan kaki. Saya jadi mempertanyakan ini: liburannya buat saya atau kubil. Hahah rada ngaco emang.

 

jalan-jalan sekitar stasiun garut


Berikut ini beberapa jalan yang kami susuri:

  • Jl Bank (kami makan paketan ayam di sini, punten saya gak catat nama restonya)
  • Jl Veteran (hotel tempat kami menginap dan ada Mie Ayam Goyang Lidah yang oke juga)
  • Jl Ahmad Yani (saya beli kopi, kopi giling halus di Toko Ek Bouw dan Indra beli lem buat panci. Wkwk)
  • Jl Mandalagiri (belanja teh curahan)
  • Jl Ciledug (jajan bubur namanya Bubur Panin dan mampir ke Toko Buku Merpati -yang mana saya belon berjodoh dengan tokonya)
  • Jl Pasar Baru (Baso Ma Iko dan Restoran Sunda Mang Iki)
  • Alun-Alun (bisa bermain lama di sini: badminton, sewa skuter, baca buku, berfoto, sholat di masjid, dan berkeliling di gang-gang sekitar Alun-Alun dan jajan. Gak ngerti sih kami jajan street food lumayan banyak heuheu).
  • Pasar Ceplak! ini di jalan apa ya saya lupa lagi nama jalannya

Dan beberapa ruas jalan lainnya.

Banyak jalan kaki membuat si kaki terasa pegal saat sampai di kamar hotel. Namun lagi-lagi namanya juga turis yang everything is new everything is interesting jadi yah senang aja bawaannya. Sing penting tidur enam jam, menetralkan tubuh yang capek. Esok hari bisa tancap ke gigi tiga lagi.

Kami sempat berganti hotel satu kali. Yakni di Hotel Joglo. Booking via Reddoorz. Ada kolam renang di sana jadi yah okelah buat cemplungin si kubil. Dua malam lainnya kami tidur di hotel dekat stasiun, masih di Reddoorz juga yang Near Alun-Alun. Rate kedua hotel tersebut cukup aman buat yang sedang diet finansial seperti kami. 

 

hotel sekitar stasiun garut


Main ke Mal Garut, nonton di bioskop, main di wahana anak-anak. Yah udah kubilang tadi kegiatannya begitu aja hanya beda kota, biasanya di Bandung, ini mah di Garut. Hehe. Seru-seru aja buat kami.

Bila uang gak jadi masalah, kamu bisa pergi ke Cipanas. Ada atraksi air panas alami di sana. Berenang dan berendam di hotel-hotel seperti Tirta Gangga pasti menyenangkan. 

 

Atau liburannya yang ala-ala leisure mewah di Kampung Sampireun juga menarik, kami sendiri sudah pernah mencobanya dan Kampung Sampireun adalah resort yang sangatlah mengesankan. Luar biasa impresif tempat, makanan, dan pengalamannya.

Yah begitu aja. Selamat berlibur sekolahan ya! Bila kamu membaca tulisan ini dan kamu tinggal di Bandung, ayo atuh booking kursi kereta api ke Garut. Rekomendid jalan-jalan di sana, kieu pisan 👍

Makasih ya, Kereta Api Indonesia. Ongkos dari Bandung ke Garut murah banget. Jadi kebantu banyak nih menahan laju pengeluaran. Malah mahalan gocar dari rumah ke stasiun sih hahaha bodor juga. 


Saya pernah menulis tentang Garut yang lainnya dalam tulisan 24 Jam di Garut. Mangga dibaca juga. Makasih yah!

Dari Bandung ke Garut Menumpang Kereta Api Lokal Cibatuan, Ongkosnya 14.000

June 28, 2022

Ke Garut biasanya menumpang apa? Elf atau mobil travel? Kalo saya elf sih. Pernah juga kendaraan pribadi. Berangkatnya via Cijapati soalnya kalo ambil jalan biasa yang via Nagreg pasti macet.

 

kereta api bandung garut


Nah baru aja kemarin saya, Indra, dan Kubil pergi ke Garut naik kereta api! Waduh pengalaman pertama ini sangat menyenangkan! Padahal dipikir-pikir kami gak lihat pemandangan apapun selama di jalan. Lha kami ambil keberangkatan malam hari pukul 19.28. Hehe.

Bisa jadi karena ini kali pertama juga saya naik kereta selama pandemi. Keduanya, tidak kena macet. Durasi perjalanan empat jam (bila dihitung dari rumah). 

 

Di dalam kereta pun nyaman saja seperti pergi ke Cimahi naik kereta hanya kalikan empat aja durasi waktu tempuhnya. Ketiganya, ya ini trek kereta api jalur baru ke Garut. 

 

Rel kereta api ke Garut sebenarnya sudah ada sih sejak zaman kolonial, tapi mati suri. Baru tahun 2019 dibuka lagi.
 

Stasiun Garut diresmikan tepat sebelum pandemi. Lalu terjadilah lockdown. Saat itu wacana jalur kereta diteruskan hingga ke Stasiun Cikajang sudah dimulai. Sayang kini proyek kereta api Cikajangnya berhenti. Sementara Stasiun Garut sudah siap. Jadi Garut ini stasiun terakhir dari mana-mana.

Bandung - Garut via kereta api juga jalur baru (yang lama, tapi baru). Jadi bukan saya aja yang pertama kalinya beginian nih, banyak orang juga mengalami hal yang sama. Cuma saya kan turis ya dan turis selalu ngehe sendiri haha, pokoknya everything is new, everything is interesting. Jadi ya seperti kubilang tadi, naik kereta Bandung - Garut menyenangkan rasanya. 

 

Bila ada kota-kota kecil terhubung ke Bandung via kereta api, pasti deh saya pengen ke sana naik kereta api! Seperti waktu ke rute kereta api Bandung - Tasikmalaya terhubung, saya cobain tuh. Senang banget yah naik kereta api tuh kenapa sih kira-kira heuheu.



Cara Memesan Tiket Kereta Api Bandung - Garut

Satu-satunya cara hanya via aplikasi KAI Access. Ada dua kereta api yang berangkat menuju Garut:

  • KA Cikuray (kereta api jarak jauh) berangkat dari Pasar Senen Jakarta. Ongkosnya 45.000 dari Bandung.
  • KA Lokal Cibatuan, (kereta api lokal), berangkat dari mana saja di stasiun mana saja di Bandung (dan Purwakarta). Ongkosnya dari Bandung 14.000.

Saya pilih Cibatuan aja karena murahlah apalagi. Berangkatnya dari Stasiun Bandung. Paling dekat dengan rumah soalnya. Namanya juga kereta lokal, jadi gak ada nomor kursi alias bebas mau duduk di mana aja.

Ada dua jam keberangkatan kereta api ke Garut dari Bandung:
06.43
10.55

Namun sayangnya dari Garut ke Bandung gak ada waktu yang cocok nih buat perjalanan pergi-pulang same day. Dari Garut ke Bandung berangkatnya:
06.05
10.55 


bandung garut naik kereta api cibatuan


Jadi kayaknya mesti nginep di Garut kalo kamu jalan-jalan di sana. Saya pun begitu. Saya booking satu kamar di Redddoorz Near Alun-Alun. Permalamnya 230+++. Lokasi strategis dan kamarnya cukup okelah buat menumpang tidur. Bukan kamar fancy, seperti kamar kos aja. Kayaknya seru deh kalo ada hostel di Garut.

Ayo Garut, disambut nih potensi turis-turis ngehe dari Jakarta dan Bandung. Hehehe apa sih ngehe, maksudku turis-turis bageur.

Sebaliknya warga Garut diuntungkan banget dengan kereta api Cibatuan ini. Mereka bisa pergi pagi dari Stasiun Garut, dan pulang malam dari Bandung. Seru ya! Gak apa-apa deh, saling bergiliran aja buang uangnya hehehe orang Bandung buang uang menginap di Garut. Orang Garut buang uang jalan-jalan sehari aja di kota Bandung.

Gitu aja. Cerita jalan-jalan di Garut saya buat di postingan berbeda yah! Bisa dibaca di tulisan Jalan-Jalan Sekitar Stasiun Garut. 


Ayo dibooking tiket kereta api dari Bandung ke Garut di aplikasi KAI Access ya! Lesgow, lesgooow!

Pecinan Discovery Bersama Cerita Bandung

June 16, 2022

Dalam tur jalan kaki bertema pecinan ini saya masuk ke dalam gang-gang di pusat kota Bandung. Saya membawa pulang jamu racikan Toko Babah Kuya dan satu pak kopi dari Toko Kapal Selam. Juga ku bungkus dua potong Kompia, sebuah kuliner peninggalan zaman perang. 

 

Tur Cerita Bandung

Ini cerita jalan-jalan kedua yang saya posting pasca pandemic. 

Lama ya vakumnya dua tahun. Seminggu lalu saya mengikut tur jalan kaki di Bandung. Organisator turnya bernama Cerita Bandung. Saya ceritakan tentang mereka di bagian akhir tulisan ini. Sekarang saya bagikan dulu tentang tur pecinannya.


Dua puluh orang termasuk saya ikutan tur jalan kaki ini. Durasi berjalannya lumayan lama, 3,5 jam ada lah. Ditambah makan, jajan, berfoto, dan menyimak storyteller-nya Cerita Bandung, Teh Femis.

Mulai berjalan 8.30. Berakhirnya hampir pukul setengah satu siang. Kerasa agak capeknya di tengah tur. 

 

Saya mengajak anak saya, Kubil, ikutan tur ini dan dia terlihat baik-baik saja menempuh perjalanan modal kaki ini. Jadi saya gak bisa memperlihatkan bahwasanya saya capek. Ntar dia kebawa capek terus bete gimana dong berabe. Anak kecil bila bete bisa merusak kesetimbangan satu alam semesta jagat raya.

Tur jalan kakinya Cerita Bandung hari sabtu pagi 11/6/2022 judulnya Pecinan Discovery.

Udah terbayanglah mau ke mana dan bagaimana. Jalan kaki dari satu tempat ke tempat lain, dari jalan satu ke jalan lainnya. Teh Femis bilang Pecinan Discovery bab I (karena ada bab 2 di tur yang berbeda) memang rute terpanjangnya paket tur Cerita Bandung.

 


Pecinan di Bandung, Awal Mula

Dipikir-pikir hampir semua tempat yang kami lihat dan Teh Femis ceritakan adalah tempat berdagang. Gak heran juga karena orang-orang Tionghoa di Bandung (dan Indonesia pada umumnya) mayoritas memang pedagang. Begitu kan stereotipenya.

Mereka pindah ke negara ini dalam rangka memperbaiki nasib. Faktor ekonomi, sosial, dan politik.

 

Ditambah fakta di era orde baru, ruang gerak mereka digencet abis sehingga pilihan profesinya terbatas, salah satunya ya mau bagaimana lagi jadi pedagang saja.

 

tur pecinan di bandung
 

Jadi bila sektor perdagangan mereka kuasai, jejaring yang kuat, dan terampil dalam berbisnis, maka wajar kayaknya. Sebab sudah terasah zaman. Hehe.


Walo begitu, gak semua wilayah pecinan di Bandung dihuni oleh orang-orang (keturunan) Tionghoa. Ada juga komunitas orang-orang Arab  (dan keturunannya) yang berbagi ruang domisili. Makanya ada jalan namanya Alkateri di sana.

Juga ada sebuah gang kecil bernama Aljabri. Kedua nama tersebut (dan beberapa nama jalan lainnya) diambil dari nama tokoh-tokoh warga keturunan Arab.

 

Di lokasi-lokasi terpencil itulah saya perhatiin ada toko-toko yang barang dagangannya spesifik. Seperti toko ini yang hanya menjual tali temali. 


Merhatiin gak di area pecinan itu toko-tokonya bukan tipe yang toko serba ada, tapi barang dagangannya spesifik. Seolah-olah toko mereka itu saling berhubungan. Sirkular.  


Beli tali ke toko A, beli kancing ke toko B, kain ke toko C. Bila melewati tokonya saya sering mikir ini siapa pembelinya, gimana cara dagangnya, pembeli bisa nyampe ke sini tuh gimana ceritanya? 


Kita suka mikir kan kita harus menjual barang ke semua orang, nah dari orang-orang tionghoa ini saya lihat gak semua orang akan membeli barang daganganmu. Ya sudah gak apa-apa, dibagi-bagi aja jalur rezekinya, seperti rantai saling terhubung. 

 

 

Jamu dari Toko Babah Kuya dan Kompia si Roti Batu!

Teh Femis mengajak rombongan tur ke area Pasar Baru: berkunjung ke Toko Babah Kuya dan Toko Kopi Kapal Selam. Saya jajan di sini, jamu buat sakit lambung dan kopi yang bijinya dari kebon di Lembang.

 

FYI, umur toko babah kuya dua abad. Saya itung-itung, berarti waktu umur kota Bandung baru 11 tahun, toko Babah Kuya buka pertama kalinya. 

 

Saya masih gak ngerti ini bagaimana cara mereka bisa passing usaha toko dari leluhur pionirnya ke keturunan-keturunannya. Bayangin empat generasi dong ya? 


Ada keluarga yang mau ngurusin tempat yang sama, barang yang sama, selama ratusan tahun. Saya tuh mikirnya kok bisa, kenapa, WHY! DARIMANA ILMU KEBATINAN INI BERASAL! 

 

tur pecinan di bandung

Begitupun Toko Osin yang legendaris. Saya jajan seporsi bubur kacang tanah, signature dishnya Toko Osin, selain Cakue. Rasanya manis dan ada tekstur sedikit renyah karena kacangnya utuh gak remek macam bubur. 


Namun di Toko Osin ada menu yang tidak halal. Dan menurut saya itulah yang paling enak, Bapianya itu loh! hadeuhhhh gimana cara ya makan bapianya tanpa saya tahu bahwa makanan ini mengandung potongan daging babi…hehe becanda (tapi berharap). 


Cerita tentang asal muasal keberadaan orang-orang Tionghoa di Bandung gak bisa saya ceritakan. Sebab saya banyak gak tahunya. Hehe. Teh Femis juga cerita sinopsisnya aja. Memang gak mungkin dijelaskan dalam satu tur. Terlalu panjang. 

 

Intinya mah mereka teh ingin memperbaiki nasib saat migrasi dari Cina. Mendarat di Hindia Belanda yang dikuasai VOC, ruang gerak mereka dibatasi. Ditugasi berkebun dan bertani pada gak mau. Sepertinya mereka menyukai kegiatan perdagangan dan jasa karena senangnya berkomunal di tempat-tempat ramai. 


Di penghujung tur pecinan, saya melihat tempat pembakaran kue (atau roti) Kompia. Dari cerita Teh Femis, satu-satunya di Bandung yang membuat Kompia dengan cara kuno ya di sini. Seru amat bisa tahu yang beginian! 


“Toko lain juga ada yang jualan kompia, tapi cara masaknya pake oven,” kata teteh-teteh enerjik yang gak kelihatan capek ini padahal jalan kaki ongkoh, ngomong sambil pake masker juga ongkoh. 


Saya ngobrol sebentar dengan Cici Elis, pembuat kompianya. Cici bilang buat makan kompia enaknya ditandemin dengan bapia, semacam gorengan berisi bawang daun dan potongan daging babi. “Dicelup ke cikopi juga bisa kan, Ci? enak?” tanya saya. 


Cicinya ketawa, kata dia kalo dicelup ke air kopi mah jadi manis sih. Kompia ini roti keras, seperti batu. Jadi emang makannya harus ditandemin dengan makanan lain yang lebih empuk. 

 

Ci Elis rekomendasiin dimakan gurih aja. Baik, kupikir. Di rumah saya makan kompia dengan soto madura. Sobek kompianya kecil-kecil, cocol ke kuah soto. Asli euy bener enak cobain geura! Wkwk. Secara saya tidak bisa makan bapia the pig khaaannnnn! 


Aduh saya kelamaan cerita deh kayaknya. Masih pada baca? Oke terakhir nih. 


Kami digiring menuju lokasi yang saya gak bisa sebut namanya. Cukup menegangkan saat berjalan melewatinya, meski sebentar. Mesti sih pada ikutan Pecinan Discovery ini. Pengalaman jalan kakinya menarik dan beneran sebuah 'discovery' yang unik. 


Di akhir tur kami melihat sebuah bangunan ibadah. Bukan lihat dari luar aja, tapi beneran masuk ke dalam viharanya. Agak sungkan saya teh kalo masuk tempat ibadah, tapi dipandu Teh Femis yang juga keturunan Tionghoa jadi berasa tenang. Hehe.


Seperti biasa kalo dalam tur selalu ada sesi berfoto. Tidak ada foto dengan spanduk dalam tur ini. 

 

tur pecinan di bandung

 

Tentang Cerita Bandung

Cerita Bandung adalah organisator tur yang basednya perusahaan. Bukan komunitas. Dari segi layanan menurut saya oke. Hospitalitynya baik. Penceritaannya gak dalam dan gak banyak. Bukan yang tipenya in-depth, seperti tur-tur yang pernah saya ikuti sebelumnya daari komunitas di Bandung. 

 

Beberapa orang yang saya tahu, ikutan tur untuk berjalan-jalan saja, saya pun begitu. Bobot cerita sejarah menurut saya mah nomor tiga. Nomor duanya berfoto dan jajan tidak mengapa. 


Brandingnya Cerita Bandung juga rapi. Well-designed. Cakep sih, emang diniatkan basednya ke bisnis. Turnya pun berbayar. 


Tur di Bandung ala Cerita Bandung ada banyak, silakan dipilih aja mau yang mana. Pecinan Discovery adalah tur saya yang ke dua. Pilihan turnya ada di instagram, coba kamu klik ada di sini

 

Mereka mengadakan tur berulang-ulang dan terjadwal tiap sabtu dan minggu. Varian turnya menarik semua. Jagoan yang bikin paket turnya sih ini bisa motong fragmen sejarah dan membungkusnya dalam format tur jalan kaki. Bravo!


Saya numpang lewat sebentar ya. Makasih baca sampai sini. 


tur pecinan di bandung

Membaca Things Left Behind

June 11, 2022

Ada drama korea berisi 10 episode, judulnya Move To Heaven. Ceritanya tentang seorang pria, single parent, berbisnis biro cleaning service, berdua dengan anaknya. Jasanya dia khususkan utk lokasi TKP saja. 


Buku berjudul Things Left Behind tentang jasa orang membersihkan tempat kejadian perkara


TKP yang dimaksud lokasi di mana ada orang meninggal dalam kondisi janggal. Mendiang yang wafatnya tidak diketahui. Jenazah terlantar berhari-hari. Ada yang sendiri karena memang hidupnya sendiri, ada juga yang suicide. 


Drama koreanya diadaptasi dari buku berjudul Things Left Behind. Ditulis berdasarkan kisah nyata.


Penulis membagikan catatan tentang persiapan menghadapi kematian. Ia menulis catatan ini berdasarkan pengalaman membersihkan peninggalan orang-orang yang wafat. 


Apa aja? 


1. Biasakan hidup tertib


Rumah bersih, tidak menumpuk barang yang tidak digunakan.


Di bukunya tertulis gini: yang membuat kita bisa bertahan hidup setiap hari adalah hal-hal sepele seperti mencuci piring sehabis makan, mengelap debu di perabotan, mengepel lantai, dan sebagainya. 


Di halaman 195: semakin indah (bersih) tempat tinggal kita sesudah kita meninggal, kesedihan orang-orang yang ditinggalkan pun akan berkurang. 


2. Sampaikan maksud hati, bila terasa sulit sampaikan lewat tulisan


3. Simpan barang penting di tempat yang mudah ditemukan


Buatlah surat wasiat. Bereskan masalah finansial sebelum wafat agar tidak menyulitkan keluarga. Jangan simpan barang berharga di tempat yang sulit ditemukan. 


4. Jangan rahasiakan bila punya penyakit


Beritahu orang terdekat bila kita mengidap penyakit. Jangan disembunyikan karena mereka akan merasa terpukul bila mengetahuinya belakangan. 


5. Nikmati apa yang kamu miliki


Hemat tidak mengapa, tapi gak usah menghabiskan energi berhemat mati-matian. Pake barangnya, gunakan uangnya. Menyimpan barang tidak terpakai karena disayang-sayang hanya membuat hidup makin rumit.


6. Jalani hidup demi diri sendiri


7. Buatlah kenangan indah


Hal yang tersisa dari hidup adalah kenangan saling mengasihi. Bukan harta atau kehormatan. Namun kenangan menyayangi seseorang atau disayangi oleh seseorang. 


Buatlah banyak kenangan bersama orang-orang yang kita kasihi. Kenangan itu akan memberikan kehangatan saat ajal kelak menjemput kita.

Teman Bus di Bandung, Bayarnya Pake QRcode atau e-Money

June 07, 2022

Sejak awal April 2022 saya lihat bis angkutan umum wara-wiri di jalanan kota Bandung. Bahkan sampai ke kabupaten, domisiliku sendiri. Seru sih lihat bisnya mirip banget sama Bis Tayo itu loh yang ada di televisi. Hehe. 

 

Teman Bus Bandung
 

Padahal gak diniatkan nih, saya dan Kubil menumpang bis ini di hari pertama lebaran. Hahaha aneh banget. Bisnya kosong pula penumpangnya hanya tiga orang, termasuk kami berdua. Ya lagian dipikir-pikir siapa juga yang menumpang angkutan umum di hari pertama lebaran yak! 

 

Di dalam bis kulihat si bis ini ada namanya, yakni Teman Bus. Ada hashtag segala loh #kamiadauntukanda. Pikir saya serius juga nih! 

 

Karena bisnya sepi, maka saya wawancara aja sopirnya. Tanpa bertanya namanya aduh punten pisan lupa bertanya nama. 

 

Oke. Saya kasih lihat FAQ tentang Teman Bus ini, kayaknya sih pertanyaan saya adalah pertanyaan sejuta umat lainnya. Berhubung koridor bis saya adalah jurusan Baleendah - BEC jadi, nama jurusan ini paling sering disebut dalam FAQ di bawah. 

 

Here goes. 


Pak, bisnya kenapa ongkosnya gratis?

Kurang tahu, Neng. Dalam rangka sosialisasi mungkin. Gratisnya sampai tiga bulan aja (berarti sampai Juni, artinya Juli mulai ada pembayaran)

 

Kira-kira nanti ongkosnya berapa, Pak?

Nah ini mah saya juga belum tahu

 

Bapaknya ngomong duluan sebelum saya bertanya.

Pembayarannya pake e-money. Jadi penumpang kudu punya e-money, walo masih gratis wajib tap kartunya dulu. (Wah dicatat nih, wajib punya e-money).

 

(Karena saya sudah menumpang bis ini beberapa kali, saya bisa kasih informasi tambahan. Kita bisa scan barcode untuk pembayaran, barcodenya ada di aplikasi Teman Bus. Kita sign up dulu, nanti cek aja tab 'setting', nongol deh tab QR Code. Bisa nih dipake kalo gak punya e-money).

 

Satu kartu e-money bisa dipake berapa orang, Pak?

Maksimal tiga orang

 

Teman Bus Bandung
 

Bisnya ada berapa koridor/jurusan, Pak?

Ada Lima. 

 

Leuwipanjang - Soreang

Kota Baru Parahyangan - AlunAlun

Baleendah - BEC

Leuwipanjang - Dago

Dipatiukur - Jatinangor

 

Kapasitas bis berapa penumpang maksimalnya?

Kira-kira mah 40 orang muat, tapi gak akan diangkut sebanyak itu juga. Kan armadanya juga banyak, Neng.


Armadanya ada berapa, Pak?

Jurusan Baleendah - BEC ada 15 armada (sepengamatan saya kurang dari 15 deh). 

 

Keberangkatan bis tiap 15 menit sekali (yang sayangnya sering meleset karena bis sering kecegat macet).

 

Bisnya akan menaikkan dan menurunkan penumpang di 57 halte. Daftar haltenya bisa dicek di aplikasi Teman Bus. 

 

Jadi gak bisa naik turun sembarangan ya, Pak? harus di 57 halte itu?

Iya wajib. 

 

Ada peraturan khusus gitu gak buat yang mau naik Teman Bus, Pak?

Penumpang dan sopir dilarang merokok dan makan di dalam bis. Sama pembayarannya pake kartu.

 

Jam keberangkatan gimana, Pak?

Kalo dari Baleendah paling pagi berangkat jam 4.30. Kalo dari BEC paling malam jam 20.30 berangkat menuju Baleendah. 

 


Informasi Tambahan Tentang Teman Bus

Saya kasih informasi tambahan lagi yah. Di bis ada voiceover dan ada running text halte. Jadi buat teman kita yang tuli dan tuna netra, bisa jadi ketolong banget. Voiceovernya mirip dengan suara di gerbong kereta api. Canggih sih menurut saya mah, sebagai warga kabupaten nih. 

 

Teman Bus nih, buat orang kabupaten, bisalah disebut sebagai semacam revolusi transportasi umum yang cemerlang gemilang. Hehe. Agak menyedihkan sih karena baru muncul sekarang, di tahun 2022, di tengah isu metaverse apalah apalah itu. Hehe. 

 

Teman Bus Bandung

 

Teman Bus di Beberapa Kota Lainnya

Belakangan saya baru mengetahui, saat saya upload Teman Bus di stories Instagram, beberapa teman dari kota lain mengatakan hal yang sama. Katanya di kota mereka juga ada Teman Bus. 


Rupanya Teman Bus ini proyeknya Kementrian Perhubungan dan dibuat serempak di beberapa kota. Selain Bandung, ada Bogor, Solo, Surabaya, Medan Denpasar, Palembang, Yogyakarta, Makassar, Banyumas, Banjarmasin!

 

 

CONS

Kekurangan armada bis ini ada di peralatan pembayarannya. Parah sih responnya lama banget kalo tap kartu. Bisa pake barcode juga, lebih cepet juga, tetap saja kehitungnya makan waktu banget. 


Bibit ribetnya sudah terlihat jelas. Kalo operatornya baca tulisan ini, please banget itu mesin pembayarannya dibetulin. 

 

Kalo nonton drakor atau series western kok tap kartu gampang banget ya. Tinggal tempel gak sampai satu detik langsung direspon mesin. Kalo versi Teman Bus ini mah ahelah lama luar biasa wkwkwk. 

 

Lalu saat saya pikir armadanya udah banyak, ternyata enggak juga. Terutama di hari libur atau weekend. Kerasa deh penumpangnya buanyak. Jadi emang yah armadanya kurang sebab permintaan mah tinggi. 

 

Kalo bis sedang penuh-penuhnya penumpang, saya kembali naik angkot. Pertama, malas rebutan masuk ke bis sebab tidak pada kenal yang nama antrean ih sebel. Kedua, gak ada kedua. Itu adalah satu-satunya yang membuatku hoream naik bis ini. Hoream rebutan masuknya. Hehe. 

 

Jadi emang pemilihan waktu mesti diperhatiin buat warga pengguna transportasi umum yang super introvert kayak saya hueheheheh apa sih bawa-bawa introvert segala asa teu nyambung.


Teman Bus Bandung


Sudah mau dua bulan saya menggunakan jasa Teman Bus, saya juga masih pake angkot. Keduanya membantu mobilitas saya di tengah jasa taksi dan ojeg online yang berhenti bakar duit sehingga ongkosnya terasa lebih mahal dari biasanya. Hehe. Emang segalagala lagi mahal sih sekarang jadi yah...


Ayo menumpang Teman Bus!

Berjalan Kaki Dari Astana Anyar, Sampai di Gedung Pakuan

June 06, 2022

Ke Tegalega, kira-kira itulah ajakan saya pada Indra. Dari kapan deh dia mau hunting perkakas bekas di Jalan Astana Anyar. "Ya udah ayo sekalian aja besok," ajak saya, hari jumat waktu itu. 

 

Sabtu pagi kami sudah berada di Tegalega, pukul delapan pagi. Udara masih sejuk dan panas matahari belum mengigit. 

 

pasar loak tegalega
 

Bila belum tahu, saya jelaskan sedikit. Jalan Astana Anyar ini langganan macet. Ada terminal Tegalega di sana. Ada Pasar Anyar. Tambahan kalau pagi hari ada pasar loak perkakas, sorenya ada pasar loak produk fesyen. Beuh gimana gak macet. 

 

Namun kami bertiga pergi ke sana di pagi hari akhir minggu, menggunakan angkutan umum dan berjalan kaki. Jadi, bye macet! Hehe. 

 

Menyusuri pasar loak pastilah menyenangkan. Seenggaknya buat beberapa orang. Mungkin kamu di antaranya. Seperti saya, samaan dong kita. Hehe. 

 

Kenapa ya senangnya tuh apa penyebabnya? 

 

Mungkin karena saya gak menyetel espektasi apapun. Sehingga meski barangnya loak tapi dalam persepsi kita di sana everything is new, everything is interesting. Ada barang yang membangkitkan kenangan lama, ada juga yang malah baru ketahui kayak "ada ya barang kayak gini?!". Saya berucap demikian saat saya melihat ada kios yang menjual ring basket bekas. Rasanya seperti sedang beraksi seperti Mike dan Frank di The Pickers. 

 

Meski ada di pasar loak perkakas, Indra tidak belanja barang bekas. Dia beli sikat besi buat nyikat karatan di stang sepeda. Dia juga membeli celurit. Lalu saya membungkus satu alat asahan 10.000 saja harganya. Si Kubil membawa pulang mainan helikopter. Semua orang belanja, semua senang. 

 

pasar loak tegalega
 

Tinggal makan. 

 

Kami berjalan kaki dari Jalan Astana Anyar, melewati Jalan Ciateul, melintas ke Jalan Otista, dan berbelok ke Jalan Pungkur. Wilayah Kebon Kalapa di sana, seperti biasa kami menyantap sarapan pagi di Susu Ijan. 

 

Dipikir-pikir ya, ada banyak rekomendasi makanan. Coba saja lihat di instagram, twitter, dan sebagainya itu. Berpuluh-puluh rekomendasi kubaca, berlabuhnya selalu ke tempat yang sama. Otak tuh kayak udah malas mikir dan bertualang rasa. 

 

Kurasa ini bagian dari usia juga. Yah bagaimana lagi dijalani saja prosesnya. Haha apa sih. 


Kenyang di Ijan, kami berjalan kaki. Niatnya ke area Pasar Baru mencari stik kayu penggaruk punggung. Namun saya tidak serius mencarinya jadi saya pikir lupakan saja tujuan tersebut. Lantas saya mengajak Indra dan Kubil ke arah sana, ke arah Cicendo. "Mumpung searah," ucapku. 

 

Susu Ijan

 

Dari wilayah Otista, kami menyebrang ke Cicendo via jembatan durjana. Jembatan penyebrang yang melintas rel kereta api. 

 

Nah itu dia kulihat di ujung Otista nomor 1 ada rumah dinas gubernur Jawa Barat. Saat saya menulis ini, berita tentang kematian anaknya Ridwan Kamil masih lewat di timeline media sosial. Sebagai netizen, saya ikut sedih yang mendalam. Semoga keluarganya kuat dan tabah melewati masa-masa berduka ini. Innalillahi wainnailaihi rojiun. Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah, dan kepada Allah jugalah kami kembali. 

 

Kurasa inilah tujuanku sebenarnya pagi itu, ke Gedung Pakuan meski hanya melintas di luarnya. Kuanggap sebagai layatan. 

 

Kami bertiga berjalan kaki hingga depan stasion. Bis kami akan berhenti di haltenya. Kami pulang ke rumah.