Image Slider

Mewarnai dengan Faber-Castell di Teras Vila Isola

August 05, 2018
Hari Sabtu kemarin, saya ajak Nabil ke Vila Isola. Biasanya kami bermain di kompleks bangunan kuno yang epik itu dalam rangka nongkrong dan ngasih makan ikan di kolam. Tapi agenda kali ini beda.

Di teras Vila Isola, kami mencicipi Faber-Castell! No, bukan makanan.

Faber-Castell yang saya maksud adalah seperangkat alat untuk mewarnai. Ada 20 spidol (connector pen) dan 15 halaman buku gambar yang Augmented Reality.


Nabil selalu seneng menggambar dan mewarnai. Cuma yang sekarang ini semangatnya nambah. Moodnya lebih apa ya, lebih ceria aja gitu hahaha. Sebab pengalaman mewarnainya beda banget. Augmented Reality Colouring Booksnya itu yang bikin jadi unik.

Begini bagian menariknya: apa yang kami gambar bisa 'disulap' jadi bentuk 3D alias bendanya jadi 'hidup'!

Nabil terkagum-kagum banget pake serial  Faber-Castell bernama Colour To Life ini. Baginya, pesawat terbang yang ia warnai dan bisa 'keluar' dari kertas gambar itu ajaib. Hahaha. Buat saya juga ding, ya baru tahu aja ada yang kayak begini.

Oke. Here goes paket Faber Castle yang kami gunakan.

1. Pada dasarnya kamu tinggal mewarnai saja di buku yang telah disediakan  Faber-Castell. Terserah warna mah bebas! Harus pake connector pen dari  Faber-Castell tapinya ya.

2. Kali ini, gawai bisa kita libatkan dalam Colour To Life sebagai media bersenang-senang bersama anak tanpa nontonin yutub. Caranya:

3. Install aplikasi  Faber-Castell - Colour To Life. Di Playstore ada, di Appstore juga yak.

4. Nanti ikuti petunjuk yang tertera dalam aplikasinya ya. Mudahnya sih begini, arahkan kamera aplikasi ke gambar yang telah kita warnai. Kamera akan scan gambar kita.

5. Ingatingat! frame gambar mesti masuk semua. Memang awal-awal ngerjain agak ribet sih, lama-lama terbiasa.

6. Tunggu indikator warna hijau muncul. Tring! gambar yang kita warnai jadi 'benda hidup'! udah deh tinggal berinteraksi aja dengan gambar tersebut.

7. So, jangan ditutup dulu aplikasinya. Si gambar yang sudah hidup itu bisa kamu pake untuk: properti swafoto dan bermain (games). Buat foto, tap fitur Photo Mode. Untuk games tap bagian Play The Game.

Setelah saya dan Nabil gunakan Colour To Life ini, rasanya ya seneng aja gitu. Pengalaman mewarnai yang baru untuk kami. Baru dan canggih :)


Connector Pen mudah digunakan. Kertas yang tebal. Proses scanning aja sih yang agak bikin senewen, tapi kalau kita udah paham caranya ya mudah saja.

Waktu gambarnya jadi 3D, si Nabil jadi kayak mikir adegan foto yang seru kayak gimana. Kayak mancing kreativitas aja gitu. Apakah kami duduk sambil pura-pura lihat ke langit tempat kami naro gambar pesawat di sana atau berdiri sambil nunjuk kuda yang ceritanya sih ada di samping kami. Pokoknya ide dia semua lah. Hahaha.


Kalau bagian mewarnai-scan-foto, Nabil saya perbolehkan memegang hp. Tapi untuk pake fitur Games, tetap yah hari Minggu aja bolehnya :D

Selain yang oke-okenya, ada beberapa hal yang menurut saya perlu perbaikan dalam aplikasinya. Seperti:

1. Pada waktu anak melakukan scanning, mesti ditemani orang dewasa. Agak susah untuk mengendalikan gerakan tangan mereka supaya sesuai ketentuan dari aplikasinya. Hehe. Udah gitu gak sabaran ya adeuh anak-anak :D

2. Pada waktu gambarnya jadi 3D, kan kita bisa swafoto tuh. Sayangnya harus dengan wajah jarak dekat dengan kamera. Saya dan Nabil menggunakan tripod dan hasil fotonya buram, kecuali bagian gambarnya. Kemungkinan sih karena jarak antara kamera (hp) dengan kami cukup jauh. Sekitar tiga meteran.

3. Countdown Timer cuma 3 detik. Bentar banget buat kami yang berfoto dengan tripod :)) Setelah take frame ke 28 baru hasilnya memuaskan, walo buram heuheu.

4. Buku gambarnya khusus, gak bisa buku gambar dapat beli di fotokopian. 15 halaman untuk Nabil, ludes dalam hitungan kurang dari seminggu. Bukunya bisa refill gak yah? atau mesti beli lagi sepaket dengan connector pennya?

5. Ternyata buat kami yang gak suka swafoto, fitur photo mode masih berguna kok. Fotonya jadi lebih...apa ya...niat banget sampe lari-lari hahaha. Cuma ya jarak antara kamera (hp) dengan kami harusnya lebih dekat kali ya, supaya gak blur gitu fotonya.

Ohiya, bagi teman-teman yang pengen beli  Faber-Castell edisi Colour To Life ini, beli di Tokopedia, Gramedia, atau toko buku terdekat.

Fyi, ini hasil foto dengan Colour To Lifenya Faber-Castell. Neneknya Nabil ikutan pengen foto bareng pesawat 3D. Hahaha.

Nabil dan Ibunya, pura-pura megang kuda. Haha :D

Nabil dan neneknya, pura-pura ngamatin pesawat lewat di atas Vila Isola :D






Teks: Ulu
Foto: Ulu

Museum Bio Farma, Sejarah Vaksin di Bandung Satu Abad Lalu

July 25, 2018
Kesan pertama baca/denger Bio Farma pasti cuek-cuek aja. Apa istimewanya nama yang terkesan medis, biologis, dan berbau ilmu pengetahuan alam itu?

Ohooo istimewa banget!

Bio Farma punya sejarah panjang di Bandung. Wait, bahkan di Indonesia!

Gimana bisa?



Bio Farma adalah BUMN yang memproduksi vaksin dan antisera. Dahulu bernama Institute Pasteur & lembaga ini yang merintis pembuatan vaksin di Hindia Belanda.

Kamu tahu lah pasti Jalan Pasteur, orang Jakarta nih pasti tahu wkwkwk. Pasteur adalah ilmuwan yang menemukan (cara pembuatan) vaksin. Karena jasanya, namanya diabadikan jadi nama jalan di Bandung. Tepat di lokasi Bio Farma berada, di mana pekerjaannya Pasteur diteruskan sampai sekarang.

Sebenernya sih nama jalan Pasteur diubah jadi Jl. Dr Djundjunan. Tapi warga Bandung dan kebanyakan tulisan wisata tahunya ya Jalan Pasteur.

Sejak awal mula berdirinya 1890 di Batavia, mereka turun tangan mengatasi wabah penyakit di nusantara. Cacar Api salah satu penyakit yang berhasil ditumpas dengan imunisasi (vaksin). Vaksinnya dibuat di Institute Pasteur dong.

Faktanya sekarang, lembaga yang ada di Bandung sejak tahun 1923 ini memproduksi vaksin dan menyuplainya ke seluruh Indonesia. Termasuk memenuhi 10% kebutuhan vaksin dunia: 137 negara, 49 negara Islam (OIC).

Gileee Bio Farma! Mantap! Satu-satunya negara di Asia Tenggara yang kayak gini nih!

Karena sejarah yang panjang dan aset-aset medis yang mereka simpan baik-baik dan umurnya sudah satu abad, Bio Farma memuseumkan benda-benda bersejarah tersebut.




Rabu 18 Juli 2018, Bandung Diary dan banyak teman dari komunitas sejarah, blogger, dan museum menghadiri undangan acara dari Bio Farma. Ada talkshownya dan tur ke museum Bio Farma.

Museum Bio Farma sudah ada sejak tahun 2015. Namun karena datanya diperbarui & ada perubahan tata letak pameran, mereka ajak kami melongok kembali museum medis mungil dengan sejarah panjang ini.

Upaya menghadirkan museum ini adalah cara Bio Farma ikut melestarikan sejarah Bandung, utamanya di bidang kesehatan.

Di dalam Museum Bio Farma kita bisa melihat asal muasal penemuan vaksin,  wabah penyakit, 'pembuatan' vaksin, dan peralatan medis yang digunakan di tahun 1930an, serta beberapa alat medis lainnya. Cocok nih museumnya bagi kamu, kamu, dan kamu yang antivaksin. Ketahui asal usul vaksin, kenal vaksin lebih dekat. Supaya apa? Agar paham dan tobat dari antivaksin.

Display benda koleksinya bagus-bagus. Modern & dirancang apik sehingga enak dibaca dan bagus buat foto-foto. Khekhe.

Ada empat area di dalam museum. Dimulai dari data bos-bos Bio Farma sejak 1 abad lalu. Abis itu timeline perjalanan Bio Farma sejak zaman kolonial sampai kemerdekaan. Banyak foto yang merekam pembuatan vaksin dan imunisasi di era kolonial. Memang orang-orang Belanda ini ya arsip dokumentasinya bagus banget. Salut juga kepada Bio Farma yang menyimpan dan menjaga 'harta karun' tersebut baik-baik.

Oke. Dari area 1 dan 2 yang bahasnya fokus ke sejarah, di area 3 masuk ke area yang bahas vaksin. Banyak Taksidermi (cmiiw). Di antaranya saya melihat ular. Kamu pernah bertanya-tanya gak sih vaksin itu bikinnya gimana? kalau meratiin dari museumnya Bio Farma, saya jelasin dikit nih. Benerin ya kalo ada yang salah.

Jadi bikin vaksin itu ibarat ternak ikan lele. Bakteri baik diternakan. Untuk mengembakbiakan bakteri tersebut, butuh media. Media ini nih aneh-aneh sih. Ya namanya juga bakteri sih ya apa yang gak aneh darinya :D

Kayak vaksin untuk cacar api nih, dikembangbiakannya di perut kerbau. Memang hanya bisa di perut kerbau. Terus pas panen, diambil lah bakterinya terus entah gimana cara ekstraknya, buang zat buruknya, ambil zat baiknya. Butuh waktu sekitar hampir 10 bulan untuk proses pembuatan vaksin tersebut. Ceunah kata pemandu museumnya.

Hamdalah ya cacar api udah musnah.



Btw balik ke museum. Di bagian akhir museum ada area yang memajang prestasi Bio Farma. Juga ada profil kerja tim CSRnya mereka.

Pernah denger Ciletuh kan, yang sekarang udah resmi jadi Geopark Nasional. Nah, Bio Farma dengan tim CSRnya turun tangan mendampingi warga di sana mewujudkan status geopark tersebut sejak tahun 2014. Kamu bisa baca tulisan jalan-jalan saya di Ciletuh di sini yak.

Btw, setelah talkshow dan tur ke museum, kami juga diimunisasi, disuntik vaksin Flubio. Vaksin Influenza. Wah terima kasih, Bio Farma!

Bila ingin berkunjung ke Museum Bio Farma, reservasi dulu ke webnya. Cek ke bio akun @biofarmaid dan klik websitenya.

Museumnya terbuka untuk umum & gratis, namun datangnya gak bisa perorangan gitu.

Museum menerima kunjungan di hari rabu & kamis, jam 09.00-11.30.



Rokok Dua Ribuan dan Alasan #RokokHarusMahal

July 23, 2018
Bukan tentang jalan-jalan, tapi benda ini ada melulu sekalipun saya lagi jalan-jalan, belanja ke pasar, atau kumpul-kumpul acara keluarga: rokok

Baru-baru ini ada kampanye #RokokHarusMahal. Bagus nih kampanyenya. Emang harusnya rokok dikasi harga mahal. Setuju banget. 

30% dari jumlah 20 juta anak Indonesia udah merokok, umurnya tau gak berapa pas mereka ngerokok? Di bawah 10 tahun. Terima kasih orang dewasa yang merokok di depan anak-anak, nyuruh mereka beliin rokok, dan harga rokok yang murah! (ps: data didapet dari Tobacco Control Atlas ASEAN). 

Terus selain mahalin harga rokok, gimana nih caranya biar anak-anak gak menjangkau rokok?

Kampanye #RokokHarusMahal ini sedang gencar digaungkan pada serial talkshow ruang publik KBR. 



Fyi, KBR adalah portal yang menyediakan konten berita berbasis jurnalisme independen. Teman-teman bisa buka webnya di KBR.id. 

Kampanye #RokokHarusMahal udah masuk serial ke-6. Berbentuk talkshow, serial ini bisa didengar di 100 jaringan radion KBR. 

Selain mengudara di radio, serial #RokokHarusMahal bisa kita dengar streaming di KBR.id / KBR apps. Mau nonton juga bisa banget, ada di LIVE FB Kantor Berita Radio-KBR. 

Siapa tau mau denger/tonton serial ke-7 #RokokHarusMahal kan. 

Pada Rabu 18 Juli 2018, tema mengerucut tentang rokok ini bertajuk Lindungi Anak Indonesia. 

Berangkat dari harga rokok yang murah -anak sekolahan bisa jajan rokok saking murahnya- maka muncul ide sederhana: kenapa gak kita mahalin aja rokoknya. Satu bungkus 50ribu udah paling murah tuh. Gimana? 

Dalam talkshow tersebut, penyiar diskusi bersama tiga narasumber dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Ketua Yayasan Lentera Anak Indonesia, dan Ketua Majelis Kesehatan Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur. 

"Kenapa prevalansi merokok terus meningkat, karena rokok itu mudah dijangkau oleh anak-anak," Lisda Sundari dari Lentera Anak Indonesia mengemukakan fakta. 

Ia melanjutkan, "survei yang dilakukan oleh Lentera Anak pada tahun lalu, Industri rokok mempromosikan rokok dengan menyebutkan harganya per batangan. Seribu per batang, atau misalnya 12 ribu per 12 batang. Jadi promosinya sudah promosi harga batangan."

Menunjang fakta tersebut, Dr Santi Martini,dr. M Kes dan Dr Sophiati Sutjahjani, M Kes mengungkapkan bahwa terdapat 12 indikator keluarga sehat. Satu diantaranya tidak merokok. 

Dari survey yang telah dan masih dilakukan di puskesmas seluruh Indonesia, tercatat angka keluarga sehat masih di bawah 50% yang memenuhi 12 indikator sehat tersebut. 

"Karena yang paling berat adalah masih banyaknya yang merokok dalam satu keluarga," ungkap dr. Sophi. 

Rokok memang ada di mana-mana. Tentu saja gak heran. Harga saja satu batang Rp2.000. 

Di rumah, di kantor, sekolah, bahkan di tempat ibadah sekalipun, rokok adalah pemandangan biasa. 

Bagian ngerinya, perokok pasif terpapar asap rokok yang destruktif. Lalu dari pasif jadi aktif, anak-anak yang -bahkan yang miskin sekalipun- sanggup menjangkau rokok per batang, akan mengalami kerusakan dalam tubuh, salah satunya stunting (postur tubuh pendek dan kecerdasan menurun). 

Satu-satunya solusi yang aplikatif saat ini adalah menaikkan harga rokok. 

Jadi ayo ikut meramaikan kampanye #RokokHarusMahal ini di media sosial. 

Sebarkan hashtag:
#Rokokharusmahal
#Rokok 50ribu
#Rokokmemiskinkan 

Lalu ikut tanda tangan petisinya juga ya di change.org/rokokharusmahal.

Harga rokok sudah sepatutnya mahal. Harga telur dan brokoli dibuat murah. Heuheu. 


Piala Dunia dan Mimpi Nonton Final di Rusia #Spon

July 08, 2018
Kamu tahu gak sih definisi patah hati buat saya apa? Negara Amerika Latin tersingkir dari Piala Dunia 2018. Eheee. Jagoin Uruguay, oala kok kandas di kaki-kaki anak Prancis! 

Walo kompetisi masih berjalan dan pegangan saya udah gak ada, Piala Dunia masih seru buat ditonton. Empat tahun sekali ateuh meuni sayang kalau dilewatkan. 

Selama laga Piala Dunia 2018, saya baru sekali aja ikut nobar alias nonton bareng. Yakni di tanggal Uruguay kalah dari Prancis (ahahaha watir), 6 Juli 2018. Berlokasi di kafe One Eighty Music Coffee di Jl Ganesha no. 3 Bandung, Bandung Diary dan beberapa rekan media cetak dan digital diundang untuk nobar sekaligus menghadiri acara bertajuk Race to Moscow yang diselenggarakan perusahaan ekspedisi tersohor seNusantara: JNE. 



Jadi gini. JNE bikin undian berhadiah nonton final piala dunia. NONTON LANGSUNG DI RUSIA LHOOOO! Bisi weh pada nyangka nonton di lapangan Gasibu kan :D 

Terus program undian ini dikasi tajuk Race to Moscow. Pesertanya hanyalah member JNE yang sudah terdaftar di JNE Loyal Card (JLC). Hayoooo yang sering-sering kirim paket via JNE, apakah kalian merasa melewatkan sesuatu? Ekhekhekhe. Ntar yah saya ceritain si JLC di bagian paling bawah. 

Sampai mana tadi teh? 
Oh iya Race to Moscow. 

Sistem lombanya gini. Member JNE nuker poin sebanyak-banyaknya. 1 poin bernilai 25.000. Terus JNE undi nih siapa yang dapet hadiah ke Moscow. Jumlah pemenang ada enam orang. EMPAT PEMENANG DI ANTARANYA ORANG BANDUNG SEMUA AAAAHHHEEUUU! 

Karena itu JNE bikin seremonial penyerahan hadiah Race to Moscow di Bandung. Dibarengin dengan nonton bareng duel perempat final Piala Dunia. 

penyerahan hadiah
kira-kira 30 menit sebelum gol Uruguay bobol :D

20 menit sebelum Prancis jebol gawang Uruguay :D

Di waktu yang sama, pukul 19.00, di kota Malang juga diselenggarakan acara yang serupa. Kenapa? karena satu orang pemenang lainnya dari Malang. 

Sisa satu pemenang kan, asalnya dari Jakarta. Ya kan Jakarta udah dikasih kantor pusat, jadi gak diselenggarakan seremoni penyerahan hadiah Race to Moscow di sana. *ngarang :D*

Nya intina mah pemenang teh aya genep. Lalaki opat, istrina dua. Pemenang yang empat orang hasil diundi dari transaksi member di JNE. nah kalo dua orang lainnya, diundi dari hasil transaksi JNE di Shopee. Iya JNE sama Shopee kolaborasi. 

Keenam pemenang bakal berangkat dari Indonesia tanggal 13 Juli 2018. Di Rusia nonton final Piala Dunia sekalian jalan-jalan. Totalnya 4 hari 3 malam di sana. Tiket pergi-pulang gratis, akomodasi dikasih, logistik gak usah khawatir, visa diurusin sama JNE. Hayah kari bawa badan jeung koper buat buka jastip weh meureun :D 

Beruntung banget yah 6 orang pemenang Race to Moscow JNE. Perbuatan baik apa yang mereka sudah lakukan sampe segitu beruntungnya yah...

Kabita teu? Ah kan ada pengen jadi member JNE kan? Saya juga mau. Melalui program membershipnya ini, setiap transaksi kita dibarter dengan poin. Makin banyak poin nanti dikasi hadiah macam-macam sama JNE. Ada hadiah gawai, mobil, jalan-jalan! Hweeeee jangan dilewatkan! 

Siapa tahu nanti ada Race to Piala Eropa atau ke Copa America, pada siap-siap dari sekarang. Kebetulan mah gak ada, adanya persiapan. Tah kitu. 

Gini kalau mau daftar jadi member JNE di JNE Loyal Card:

1. Buka website JNE di http://jlc.jne.co.id
2. Isi data
3. Nanti JNE mengirim kartu melalui email yang terdaftar saat kalian registrasi
4. Prosesnya gratis
5. Nanti kalo udah dapet kartunya, tiap transaksi di konter JNE tunjukin kartu membernya ya

Pertanyaan dan jawaban seputar member JNE Loyal Card bisa dibaca di webnya JNE. Silakan dibaca teliti dulu supaya paham. Hehe. 
Coba difollow akun membernya JNE di @JNE_JLC. 

Selamat mendaftar jadi membernya JNE.
Selamat bagi enam orang yang berangkat ke Rusia.
Dan ayo kirim paket via JNE terus dapetin poinnya! 





Teks: Ulu
Foto: Ulu

Waktu Mudik Menumpang 4848 dan Kebanyakan Penumpang di Terminal Bis Kelakuannya Kayak Zombie

June 08, 2018
Mudik tuh udah kayak medan perjuangan. Gini ceritanya. 

Anak sulung bukan cuma kebagian barang-barang baru yang masih segar, anak sulung tuh saksi perekonomian keluarga. Kayak saya.

Dari jadi guru, kepala sekolah, sampai jadi pengawas tingkat provinsi, saya mengikuti perjalanan karir Bapak. Uangnya cukup buat beli televisi tabung ukuran 14 inch sampai ia sanggup naro 1 tv di ruang tengah dan 1 tv di kamarnya, ya saya mengalami juga perkembangan itu.

Dalam hal mudik, sama juga. Transisi kemampuan finansial Bapak dan Ibu, saya ikut jadi saksi matanya.

Mudik -sewaktu saya masih bocah cilik- adalah menumpang bis. Bisnya kelas ekonomi. Rasanya awut-awutan banget. Duduk tertindih sebagian badan penumpang lain. Belum lagi harus jaga barang atau adik-adik. Ruwet! Paling gak suka deh dengan bis kayak gini. Saya udah cerita bagian rebutan masuk bisnya belum? Deuh kesel banget lah kalau bapak udah bilang "bisnya udah dateng, siap-siap". Heuheu. 

Jadi penumpang elf, pernah juga. Tapi samar-samar ingatnya. Gak bisa cerita banyak tentang angkutan ini.

Lantas perekonomian bapak bergerak naik, kami bisa duduk di kursi bis AC yang nyaman. Tapi kalau musim mudik mah bisnya tetap penuh saja sampai ada penumpang yang berdiri. Udah gitu masuknya pun masih berebutan. Yah lumayan gak semenyiksa bis ekonomi sih tapinya.

Shuttle 4848. Ah ini mah saya ingat. Menumpang di kursi paling belakang dan kartu profil pesepakbola favorit saya tertinggal di saku kursi. Dennis Bergkamp kalau gak salah nama pemainnya. Sedang ramai piala dunia rasanya waktu itu. Pas nyadar kartunya ketinggalan, yah sedih banget…

Photo credit: 4848 Transportasi

Menumpang mobil keluarga yang kebetulan mau atau lewat ke Bandung. Rasanya? Kayak tamu :D mau rikwes berhenti sebab perut mual dan pengen muntah, gak bisa. Cuma bisa diam aja. Diajak makan, hayuk. Mau jalan terus juga saya ikut aja. Manut wae lah judulnya.

Dikirim mobil jemputan oleh nenek dari Bandung lengkap dengan sopirnya. Biasanya di dalam mobilnya bau ayam. Sebab kakek saya pedagang ayam kan. Mobilnya suka dipake buat antar jemput kakek dari-ke pasar. Yah bau banget mobilnya! Kami suka bersihin dulu sih sampe disemprot pewangi. Tapi seneng aja sih pake mobil gini, lebih mending daripada angkutan massal.  

Mobil angkutan ilegal. Biasanya bentuknya Carry atau Zebra. Satu mobil ditumpuk penumpangnya sampai 18-20 orang. Cih mobil durjana! Susah duduk. Keluar mobil, lutut tuh udah kayak stek, tinggal ditanem aja.  

Mobil dinas dari kantor bapak saya. Aheuuuu. Mobilnya gede banget kayak Hiace lah tapi versi jelata. Adik saya yang ada 8 itu muat ditaro di mana aja bisa. Wkwk. Luas banget bagian dalamnya. Kacanya dong bening. Kami udah kayak ikan di dalam aquarium. Terus di badan mobilnya tercantum tulisan besar sekali: DINAS PENDIDIKAN BLABLABLABLA (blablabla merujuk ke kantor ayah saya). Sampai awal saya jadi anak kuliah, ini mobil masih dipake. Kalau udah masuk Ujung Berung, saya tenggelemin kepala sampe bawah jendela. Sebab malu pake mobil dinas. Kampungan banget. Bapak saya ya entahlah. Dia cuek bebek aja kelihatannya. Atau ditegar-tegarin :,)

Mobil pribadi. AKHIRNYA! Memang gak ada yang bisa ngalahin nyamannya naik mobil sendiri. Kecuali: pertengkaran domestik antara kakak dan adik di dalam mobil juga mood si sopir alias bapak saya :D Nah kalau udah berantem sama adek, saya mah milih naik bis aja wkwk.

Kereta Api. ANGKUTAN TERBAIK! Baru muncul di tahun 2013, setelah PT. KAI mereformasi sistem dan pelayanannya itu lho. Rute Bandung-Cirebon baru lahir. Gila ini angkutan terberadab tersuci dan terislami! Bersih, tertib, dan gak kena macet! Saya cinta kereta api!

Kenapa kalian baru muncul sih, wahaaaaiiii gerbong-gerbong kereta api!

Kalian pernah nonton Train To Busan kan? Itu zombie-zombie yang ngejer kereta persis sama dengan kelakuan para penumpang yang rebutan naik bis. Sikut-sikutan. Hukum rimba banget. Heeuuugh. 

Bapak saya sih seringnya masuk dari pintu supir :D 

Saya tuh suka mikir ini kapan Dishub mau berbenah. Kapan mau pasang loket dan karcis. Biar tertib masuknya. Biar penumpang tenang aja, naik bis gak usah sikut-sikutan sebab udah dapet tempat duduk juga toh.

Terus muncul lah shuttle yang sistemnya persis yang saya pikirin. Ahahahaha. Ongkos lebih mahal daripada bis tapinya. Ahahahaha. Ada harga ada rupa.

Memang selalu ada harga untuk sebuah kenyamanan. Perjuangan banget buat dapetin kenyamanannya. Beda usia, beda juga kenyamanan yang saya dapat waktu mudik. Seru sih kalau saya review lagi perjalanan mudiknya sekarang. Kalo pas ngalamin banget mah antara seneng dan kesel yang terasa eheee.