Social Media

Image Slider

Main di Kebun Belakang, Kebun Organik di Cimahi

August 25, 2016
Saya dan Indra sudah menjadwalkan akan berkunjung ke Kebun Belakang di Cimahi. Saya sudah gak sabar nunggu-nunggu waktu itu datang. Kayak anak kecil yang dijanjikan jalan-jalan ke Trans Studio setelah musim ujian hahaha. Naon deui :D

Warung Belakang adalah kios mungil yang menjual produk-produk sayur organik. Sayurnya berasal dari kebun mereka sendiri yang bernama Kebun Belakang. Lokasi kebunnya ada di belakang kiosnya. 





Setelah beberapa minggu opening, baru pertengahan Agustus lalu saya ke sana. Ke Jalan Pesantren 85 Cimahi. Pemilik Warung Belakang adalah teman sekampus saya, teman sekelas pula. Sejak saya merintis usaha sendiri bersama Indra, kami berikrar akan membeli produk teman-teman dan mendatangi usahanya. Gak akan minta diskon, gak akan minta gratisan hahaha pokoknya beli! - foto! - share! 

Sebenarnya Kebun Belakang lebih dulu muncul, menjual salad-saladnya di Instagram. Produk ini milik pasangan suami istri Misbah Dwiyanto dan Ivana Pratita. 

Saya sudah beberapa kali membeli saladnya sejak pertama kali melihatnya di Instagam. Ivana sering cerita tentang kebunnya di Cimahi sewaktu saya memesan salad. Kebunnya masih berantakan, kelak mau dibuka untuk umum, juga buka warung sayur organik. Begitu kata Ivana. Gak nyangka hari itu tiba juga untuk mereka, punya warung sendiri setelah berbulan-bulan jualan online.




Seru ya. Menanam sendiri. Panen sendiri. Jual sendiri. Makan sendiri. Sustainable dan mandiri. Bagusnya lagi sih bisa dijual untuk orang lain juga. Lagipula saat kami berbincang, Misbah berujar "saya pengen sayur organik teh harganya gak usah mahal-mahal."

Kebun Belakang gak jualan produk sendiri. Mereka juga berkolaborasi dengan produsen produk-produk sehat lainnya. Ada jamu, yoghurt, madu, tepung mokaf, juga roti.

Gak susah sih nyari Warung Belakang di Jalan Pesantren. Cari saja yang lahannya masih terbuka. Masih berbentuk Kebon. Pada bagian depannya bercokol rumah mungil. Nah itu Warung Belakangnya. 

Ngobrol sebentar dengan Ivana di dalam Warung Belakang, kami udah gak nahan mau lihat kebunnya Misbah dan Ivana. Bersama dengan anak mereka, Kiran (2 y.o), Misbah mengajak kami tur di Kebun Belakang. Kiran dan Nabil sudah terbiasa ada di kebun jadi gak canggung lihat tanah dan macam-macam benda yang mengotori tangan. Terutama Kiran sih, kebunnya adalah panggungnya hihihi. 

Pertama kali saya lihat kebunnya, penampakannya gak kayak perkebunan pada umumnya. Lahannya gak terlalu luas. Misbah juga kelihatannya belum menanam terlalu banyak. Bukan produk masal, bukan kebun produksi sekelas pabrik. Semacam kebun yang memenuhi kebutuhan secukupnya saja. 

Di sini tanamannya masih jarang dan acak banget. Macam-macam jenisnya. Gak ada yang bergerombol seragam. Tanaman yang satu selang-seling dengan tanaman lain. Tomat misalnya, bersebelahan dengan Bunga Matahari. Kembang Kol berderet-deret dengan Lettuce. Daun mint dengan Kale. Dan masih ada beberapa lainnya. 

Ada dua rumah kaca yang isinya tanaman-tanaman sayur untuk memenuhi persediaan stok salad Kebun Belakang. Kami masuk ke dalamnya, Misbah mendongeng banyak tentang permakultur. Permakultur adalah konsep berkebun (atau bertani) yang alih-alih menanam satu macam tanaman, ini malah sebaliknya menanam beragam tanaman di satu lahan yang sama. 

Kalau diperhatiin sebenarnya konsep permakultur lebih ramah lingkungan. Burung dan serangga yang kerap datang ke kebun dan makan tanaman, gak dianggap sebagai musuh. Tapi sebagai sesama makhluk hidup yang cari makan. Makanya Misbah menanam beberapa bunga matahari, bunga kamboja, juga menebar banyak daun mint. Maksudnya sih menghadang serangga dan burung agar mereka tidak menyerang tanaman sayurannya. Kayak "nih saya kasih makan bunga matahari, jangan serang kembang kol saya ya" :D

Saya perhatiin sih di banyak daun bunga matahari ada banyak ulet bulu. Hiiiii getek :D






Untuk pupuknya Misbah membuat kompos sendiri. Dari pelepah batang pisang, bubuk kayu, kebanyakan sih sampah organik dari tumbuhan. Belum lagi pembibitan sendiri. Saya bayangin ini bukan pekerjaan gampang. Well okay memang tidak ada pekerjaan yang gampang. Tapi menurut saya, bekerja mengurus makhluk hidup itu capek banget :D 

Resiko mati lah. Harus dipantau terus lah. Disayang-sayang seperti kita menyayangi manusia lah. Diajak ngobrol lah. Mana saya sih percaya kalau urusan tanam-menanam kayak gini ini tuh 'gimana orangnya'. Pasti kenal istilah "tangan dingin". Apa aja yang ditanam pasti jadi. Nah Misbah itu orang kayak gitu. Magic lah orang-orang yang suka bercocok tanam dan tanamannya tumbuh sampai bisa dipanen. 

Ya emang sih urusan bakat alami cuma 1%. Sisanya 99% adalah kerja keras. Dikata gampang nyangkul tanah di bawah terik matahari dan berjam-jam mengurus tanaman atau harus nyenggol ulat bulu gitu :D 

Bertemu orang-orang seperti Misbah dan Ivana, saya merasa dunia ini akan baik-baik saja. Hari itu saya pulang setelah mencium wangi daun mint, memotret kembang kol merah, merinding lihat banyak ulat di pohon Bunga Matahari, menyantap Roti Gandum, Yoghurt rasa anggur, dan membawa pulang 3 ikat Pakcoy.






Kunjungi juga Warung Belakang
Di Jalan Pesantren 85 Cimahi
Di depan Sugih Jaya Motor/Clean 8

Buka Sabtu dan Minggu
07.30 - 15.00

Cek Instagramnya di @kebunbelakang


Cara Menuju ke Kebun Belakang


1. Berhubung saya dari Setiabudi - Bandung, saya ambil jalur ke Gegerkalong - Cihanjuang. Angkotnya Cimahi - Ledeng. Turunnya di Cimahi, habis itu jalan kaki deh sampai ke Jalan Pesantren dan naik angkot ke arah Jalan Raya Cimahi. Tidak saya sarankan ambil jalur ini sih kecuali sudah terbiasa berjalan kaki. 

2. Pergi ke arah Cimahi. Cari Jalan Pesantren. Cek di Google Map :D 


Teks : Nurul Ulu
Foto : Indra Yudha




Oiya, follow Bandung Diary di Facebook. Thank you so much!



Makan-makan di Keuken #7

August 23, 2016
Asyik makan-makan lagi di Keuken! Cari festival makanan di Bandung, Keuken sudah pasti saya rekomendasikan. Pokoknya kalau Keuken sudah rilis tanggal acara, buat kamu yang di luar kota silakan book hotel terdekat dengan lokasi Keuken dan kunjungi Keuken. 

Keuken #7 berlokasi di Cikapundung Timur pada hari minggu 21 Agustus 2016. Festival makanan yang cuma sehari ini diselenggarakan setahun sekali. Tiap tahun temanya beda-beda. Tahun ini temanya Revisiting The River. Ci Kapundung kan nama sungai yang membelah kota Bandung. Sungai yang ikonik. Cikapundung juga nama tempat. Ya cocok sih lokasi dengan temanya walau saya agak bosan juga dengan lokasi ini karena kebanyakan acara di Bandung sekarang ini ya diadakan di sini. Heuheuheuheu :D 




Maksud temanya sih kembali membangun koneksi dengan sungai kali ya. Namun entahlah di acaranya menurut saya sih gak ada koneksi yang terbangun sama sekali, gak ada penyadaran tentang sungai sebaiknya diperlakukan seperti sungai Thames di London :D

But anyway, tema Revisiting The River adalah langkah yang udah bagus. 

Seperti biasa ada banyak kios makanan di Keuken. Tapi Keuken gak pernah naro booth makanan banyak-banyak sih. Secukupnya saja dan selalu dikurasi. Kalau diperhatikan di Keuken ini yang tampil dominan makanan modern. Western gitu. Ada juga Batagor dan Pepes Ikan kok, cocok untuk yang doyannya kuliner tradisi. 

Datang ke Keuken mah kudu nyiapin perut yang kosong, waktu yang luang, dan uang yang banyak. Hahaha :D Ya bayangin aja banyak kios makanan dan kayaknya enak-enak semua. 

Terus bagaimana cara milih makanan di Keuken ya. 

Kalau saya mulai dengan browsing semua kios dulu. Lihat satu-satu kiosnya, scanning, perhatikan menu dan harganya. Baru di pada ronde kedua sudah saya putuskan mau makan apa. Biasanya sih saya beli dari menu yang sudah saya kenal duluan. Saya beli burger Ima Mobs karena saya pernah makan dan rasanya emang enak. Semacam gak akan nyesel gitu deh. Habis itu baru deh hunting makanan lain-lainnya. Ya sesekali keluar dari zona nyaman dengan membeli makanan yang gak biasa. Kalau saya nyobain makanan yang dibeli teman saya Kuke, Burger Crabs dan Stereo Dessert.

Baca juga : Keuken #5 di Balaikota Bandung, Seru Banget!


Beberapa produk merek lama masih ada di Keuken. Kayak Aromanis, Ima Mobs, Pampidou, Batagor Hanimun, dan Pesgobar. Tapi ada juga yang produknya saya baru lihat euy. Burger Crabs, Es Krim Paleta, Burito, dan masih banyak lagi nama-namanya saya gak ingat. Sampai Sate Klathak juga ada lho di sini. Hahaha efek AADC memang mantap :D

Makanan yang jadi highlight buat saya adalah Burger dan steak fries Brother Jonn & Sons, es krim Paleta, Co Drink Premium, dan cupcake Pampidou. Enaknya bikin mau terjun ke Ci Kapundung :D Enggak ding, rasanya worth the price banget. 

Buat saya enaknya lagi di Keuken itu seru buat hunting foto. Panitia nyiapin beberapa dekorasi acara yang bagus untuk difoto. Itu sih yang saya ingat dari Keuken, acaranya simpel tapi enak untuk foto-foto. Terutama waktu Keuken #5 di Balaikota itu udah paling juara lah. Enak makan, enak duduk, enak foto-foto.  

Kalau kamu doyan street photography khusus fashion, mesti lah datang ke Keuken. Karena muda-mudi Bandung (juga yang gak muda) berdatangan dan biasanya pada tampil okeh-okeh. Chic dan egdy. Enak dilihat, bagus difoto :D 

Kalau di dunia internet, Keuken ini semacam Instagram khusus acara kuliner di Bandung. 

Sebagai nilai plus sebuah festival, Keuken biasanya menyiapkan tenaga relawan bersih-bersih. Semacam tim pembersih sampah. Mereka keliling cari sampah berserakan dan mengingatkan pengunjung untuk buang sampah ke tempat sampah. Ada juga booth khusus penukaran sampah. Saya gak tahu sih tim ini bekerja sampai malam atau tidak karena saya ke Keuken hanya di pagi sampai siang saja. Kalau sore ke malam Keuken sudah terlalu penuh dan acaranya terlalu gemerlapan ajeb-ajeb gimana gitu :D 
Semoga aja tema acara Keuken ini sampai ke hati para pengunjungnya ya. Kalau buat saya sih tema Keuken yang paling ngena adalah waktu Keuken #5 di Balaikota: The Cityhall Fairground. Banyak tempat duduk, banyak pohon rindang. Jadi adem dan leluasa bergerak.

Tema besarnya Keuken adalah Reclaim The Street. Semacam penyadaran kalau area publik adalah milik warga dan sudah seharusnya kita meramaikan area tersebut. Meski toh pada akhirnya makan-makan gak gratis tapi proses menikmati ruang publiknya itu yang seru. 

Tema Keuken yang sekarang ini -Revisiting The River- saya gak rasain apa efeknya. Biasa aja heuhuehueuheu :D Sejujurnya juga acaranya gak yang kayak saya kira. Gak sebaik Keuken #4 dan #5. Keuken udah dapat tempat di hati banyak orang yang sesuai kalangannya. Kalau ada Keuken, pasti rame banget. 

Cikapundung lokasi Keuken #7 kemarin itu udah kekecilan untuk menampung umatnya Keuken. Lagipula setahu saya Keuken adalah festival yang menghidupkan banyak ruang publik yang sebelumnya orang gak pernah kepikiran. Sayang aja sih harus balik ke Cikapundung (Riverspot) lagi. 
Masih banyak ruang publik di Bandung yang belum kesorot. Waktu Keukeun bikin di kompleks KAI kan itu unik banget. Juga waktu di kompleks Bandara Husein (cuma akses aja yang susah, macet dan gak ada transportasi umum). 

Sebagai sebuah festival, Keuken udah paling juara. Keuken adalah festival yang mengenalkan konsep good design. Cuma sayang di Keuken #7 itu kayaknya salah tempat :D heuheuheuheu. 

















Lebih banyak foto dapat kamu lihat di album foto fanpage Bandung Diary di Facebook. Please also kindly follow my page :)

Foto oleh Nurul Ulu dan Indra Yudha



Beli Kopi di Javaco

August 19, 2016
Kopi dari Bandung, kebanyakan orang tahunya Kopi Aroma. Namun ada beberapa tempat lainnya yang setipe dengan Kopi Aroma, kios yang menjual kopi sejak zaman dahulu kala. Kopi Javaco nih salah satunya. Penjualnya sekarang adalah generasi yang ke-4. 

Biasanya toko kopi tempo dulu tempatnya ya tua juga. Javaco menempati sebuah rumah berlantai dua yang arsitekturnya klasik banget. Macam rumah-rumah di tahun 1920an. Rumah Javaco ini salah satu 'harta karun' yang bertahan di Bandung. Kenapa ya rumah-rumah tempo dulu enak dilihat...

Toko kopi kayak begini terpusat di daerah Pecinan Bandung sih. Kopi Aroma, Kopi Javaco, Kopi Kapal Selam, dan Kopi Malabar. Semuanya ada di sekitar Pasar Baru, gak jauh dari stasiun kereta api. Pemiliknya juga rata-rata keturunan Tionghoa. Gak heran sih karena pertumbuhan penduduk dari warga Tionghoa memang terpusat di kawasan dekat stasiun. Pada awalnya mereka datang ke Bandung bekerja untuk membangun rel kereta. Selanjutnya ya berkembang jadi kuli dan kebanyakan jadi pedagang. 

Kembali ke Kopi Javaco yang udah ada di Bandung sejak tahun 1928. Di sini ada tiga pilihan kopi: Tip-top, Robusta, dan Arabica. Semuanya kopi giling kasar. Kalau kamu penggemar berat kopi, cocoknya Arabica karena masuknya kategori Grade I. Kalau gak suka yang terlalu asam, pilih yang Robusta. Penjualnya gak nyaranin saya beli yang kopi berlabel Tip-top, katanya kurang bagus untuk penggemar kopi.




Proses penggilingan kopi dilakukan di sebuah rumah di Jalan Sudirman Bandung, tepatnya di Jalan Kasmin. Rumah di Jalan Kebon Jati ini hanya berfungsi sebagai toko kopi saja. 

Saya bukan penggemar berat kopi sih. Kalau ketemu tempat-tempat kuno yang bisa saya masuki, saya pasti masuk ke dalamnya. Saya usahakan juga belanja di dalamnya. Meski sedikit tapi senang sudah merasakan sedikit sensasi berada di dalam sebuah rumah kuno. 

Harga kopi per 250 gram:
Robusta : 27.000
Arabica : 32.500

Kopi Javaco
Jalan Kebon Jati no. 65

Buka hari senin - sabtu
Jam 09.00 - 14.00

Baca tulisan dari Komunitas Aleut berikut ini yang mengupas lebih dalam tentang sejarah pemilik Kopi Javaco. 

Kamu dapat memesan Kopi Javaco ini via Bandung Diary. Kirim email ke bandungdiary@gmail.com atau wa ke 0812.2005.4556. Thank you!













Teks : Ulu
Foto : Indra Yudha

Review Hotel Fabu, Hotel Dekat Pasar Baru Bandung

August 16, 2016
Ketemu lagi dengan kategori resensi hotel di Bandung. Kali ini bahas hotel yang letaknya di sekitar area Pasar Baru. Sebelumnya ada Hotel Pasar Baru Square yang posisinya pas bersebrangan dengan Pasar Baru. Sekarang saya mau review Hotel Fabu yang ada di belakang Pasar Baru. 

Harganya lebih murah dari Hotel Pasar Baru Square. Here goes.




LOCATION

Ada di Jalan Kebonjati. Tetanggaan dengan Rumah Sakit Santosa. Bisa mencapai Pasar Baru dengan berjalan kaki, 5 menit sampai. Jajan ke minimarket ada di sebrangnya dan jalan dikit doang. Mau ke kawasan Asia Afrika gampang, kalau mau naik angkot ya sekali saja dari depan hotelnya. Ke arah pusat kota di Dago, Setiabudi, atau Cihampelas yang agak repot. Agak muter gitu deh rutenya. 


ROOM

So far ini kamar tersimpel yang pernah saya inapi. Gak banyak cingcong gitu deh dekorasinya. Saya sih suka kamar begini. Hotel Fabu banyak memasang warna biru sebagai akses dan identitas. Bagusnya warna biru gak berlebihan. 

Seperti di kamar deluxe yang saya book via Agoda. Kamarnya luas euy, ini luasnya oke banget. Gerak saya bisa leluasa hehehe emang mau ngapain :D 

Ranjangnya standar dan nyaman. Bantalnya sih yang oke banget, pengen bawa pulang. Saya pesan kamar yang bednya double, dikasihnya kamar yang bednya twin tapi bednya digabung gitu. Ya gak apa-apa sih. Abis kali kamar yang bednya double, sayanya juga check in telat. 

AC kamar lumayan gitu. Gak kencang juga gak terlalu dingin. So so lah speednya. TV kabel agak kurang sih channelnya, cuma buat saya yang penting ada channel film-film macam Fox Movies Premium :D Jendela kamar gede bentuknya persegi panjang. Pemandangannya bagus banget ketika sunrise dan malam hari kalau langit cerah bintang. 

Pada malam kami menginap kami matikan semua lampu kamar dan gadget. Tirai jendela kami buka. Langit gak cerah-cerah amat sih, tapi enak aja gitu suasana sangat sepi, hening, dan kami berbicang semalaman tentang banyak hal sampai ngantuk dan tertidur. Pada waktu subuh bangun hampir kesiangan hehehehe :D Lihat ke jendela sunrisenya bagus sekaliiii!








Ada sofa merah yang empuk banget, cocok buat nongkrong di tepi jendela (tepatnya di bawah jendela hehehe) sambil update status dan skroling feed Instagram :D 

Kondisi kamar mandi not bad. Luas juga. Air panas cepet on dan tarikannya mantap. Hotel Fabu membatasi durasi air hangatnya 5 menit dan akan menyala kembali pada 15 menit kemudian. Katanya dalam rangka mengurangi dampak buruk pada lingkungan. 

Amenities standar dan cukup untuk saya. 


FOOD

Menu sarapan standar. Prasmanan makanan berat terdiri dari tiga macam lauk pauk. Roti, buah-buahan, cornflakes, dan air minum jus. Rasanya tidak mengecewakan.




Mau makan di luar, gak terlalu banyak tempat makannya. Kalau saya makan di RM Padang, di sebelah hotelnya. Enak banget hahahaha baru nemu restoran Padang ini nih. Ada sih kafe di hotel Gino Feruci, gak jauh dari Hotel Fabu. Bisa ditempuh jalan kaki. Restoran lain mah gak ada. Kayaknya hotel ini cocoknnya untuk numpang tidur aja sih. Terutama kalau jadwalnya mau belanja di Pasar Baru. 


SERVICE

Pelayanan agak garing sih :D Gak terlalu hangat, terkesan dingin. 


RATE

Di Agoda tarif untuk kamar deluxe include breakfast sekitar 400.000+++. Tersedia juga beberapa tipe kamar lainnya, Junior Suite dan Suite.




Untuk wilayah sekitar Pasar Baru, saya baru nyicip 2 hotel. Menurut saya sih Hotel Fabu lebih oke dalam hal makanan dibanding Hotel Pasar Baru Square. Tapi kalau lokasi lebih menang si Hotel Pasar baru Square sih :D 

Rating di Agoda 7,3 sih. Terhitung lumayan segitu mah. Hotel ini bisa kamu pesan via Agoda, untuk harga yang lebih murah bisa pesan via Bandung Diary (yang mana saya book pake Agoda juga :D). Selengkapnya baca di sini.



Cara Menuju Hotel Fabu


Lokasi di Jalan Kebon Jati yang satu arah. 

Kalau kamu datang dari arah Bandara Husein Sastranegara : keluar bandara - Jalan Pajajaran - nanti ada perempatan, belok kanan ke Jalan Pasir Kaliki - lurus saja nanti setelah melewati Paskal Hypersquare ada perempatan lagi, kamu belok kiri dan kamu sudah ada di Jalan Kebon Jati. Hotel Fabu ada di sebelah kiri jalan.



Kalau kamu datang dari arah stasiun, ini lebih dekat lagi : keluar dari pintu stasiun belakang (selatan), naik becak sampai hotelnya. Bisa sih jalan kaki, tapi agak muter gitu rutenya. Atau keluar dari pintu stasiun depan (utara) dan naik angkot jurusan Lembang - St Hall arah stasiun (harus ditanya ke sopirnya dan pastikan arahnya ke stasiun).


Hotel Fabu
Jalan Kebonjati 32
Bandung







Teks : Ulu
Foto : Nurul Ulu dan Indra Yudha

Makan Siang di Skylight Dago

August 14, 2016
Browsing dengan kata kunci Skylight Dago, banyak restoran yang bermunculan. Apalagi kalau browsingnya di Instagram. Beuh berderet-deret restoran dan kafe yang menawarkan pemandangan oke. Nah yang ini namanya memang beneran Skylight Dago. Saya dan teman-teman makan siang di Skylight yang pada hari itu benar-benar sky lights! alias langitnya terang benderang. 




Lokasinya di Dago Atas, Skylight terdiri dari dua tempat di satu bangunan. Satu restoran di lantai dasar, ruangan semi outdoor. Satu restoran lagi di lantai teratas. Nah di lantai 3 ini lah saya bisa mengerti kenapa nama restorannya Skylight. Awalnya sih kami bersantap di resto yang lantai dasar, makanan sudah kami habiskan gitu. Terus habis itu pindah ke lantai atas dan makan lagi :D

Menu yang ada di Skylight lantai dasar dan lantai tiga sama saja. Tapi kalau di lantai tiga, ada tambahan menu-menu premium. Saya makan banyak hari itu. Paket nasi standar (seperti menu Nasi Timbel), pizza, nyicipin Rib Eye Steak, dan melototin menu pesanan teman-teman yang lain. Ada Sop Buntut Anglo dan Iga Bakar Madu. Ini belum dengan minumnya. Jagoan saya Virgin Mojito. Sempat juga sih nyicipin Skylight Fiesta yang warna merah membara. Aduduh perut saya siang itu kekenyangan banget.

Secara keseluruhan sih rasa makananannya oke. Buat saya yang jadi highlight adalah Cheeze Pizza dan Rib Eye Steak yang medium well. Cheeze Pizza unggul di kejunya, apa ya itu kejunya, saya gak nanya pula. Rasa kejunya strong, gurih, dan sayang taburan keju terlalu sedikit. Rib Eye Steak amat sangat empuk dengan saus mushroom shitake yang kental dan banyak potongan shitakenya. Kalau saya penyuka jamur, jadi saus jamur yang ada jamurnya bukan kuahnya doang jelas saya kasih jempol 3. Kalau enak, saya kasih jempol lima+++ :D 

Sementara itu untuk minumannya saya suka Virgin Mojito. Sudah pasti rasanya segar luar biasa. Apalagi siang itu di Bandung panasnya bukan main, padahal di Dago yang notabene sejuk ya. Mojito asam sih, cocok diminum setelah menyantap menu berat macam iga bakar dan steak. 

Tempatnya oke bangeeet! Lucu sih. Semua dindingnya berbentuk jendela. Bisa lihat pemandangan 360 derajat. Ini khusus yang di Skylight lantai 3 ya. Ada pemandangan ke arah kota Bandung. Ada juga yang panoramanya ke pepohonan. Saya kan udah ke sini siang hari, pengen juga lihat pemandangannya di malam hari. Sepertinya saya akan kembali untuk kedua kalinya. Ajak Indra ah dinner di sini, romantis-romantis gitu kayaknya kalau malam hihihi :D 

Kalau Skylight di lantai dasar oke juga sih, tapi gak ada pemandangan seru seperti di lantai 3. 




Anyway beres makan di Skylight saya dan teman-teman berkunjung melihat proses pembuatan perhiasan berlian yang lokasinya masih di satu gedung dengan Skylight. Hanya beda entrance saja. Maksud hati sih sekalian mumpung di satu tempat. Cerita tentang wisata berlian di Dago ini bisa dibaca di tulisan sebelumnya ya, atau klik linknya aja langsung. 


Skylight Dago
Kompleks Citra Green Dago
Blok N 1-10 Dago





Cara Menuju Skylight Dago

1. Arahkan kendaraan ke Terminal Dago
2. Setelah Terminal Dago ada belokan ke kiri (menurun gitu jalannnya), belok ke situ ya
3. Ikuti terus jalannya, nanti masuk ke Kompleks Citra Green
4. Lurus saja, Skylight ada di gedung Indo Wisata Permata Building di sebelah kiri jalan, setelah Stanford School. 

















ps: sorry ya foto-fotonya pizzaporn abis :D heuheuheuehu




Foto : Nurul Ulu
Teks : Nurul Ulu