Image Slider

Kampanye Sehat Lingkungan di Car Free Day Dago

December 06, 2017
Hari minggu akhir November, kami jalan-jalan ke Car Free Day di Jalan Dago. Biasalah di sana jalan kaki terus jajan. Hihi. Tapi ada yang beda nih di CFD Dago pagi itu. Saya ikutan kampanye lingkungan sehat dari Balitbang PUPR :) 

Sekarang pembangunan infrastruktur digenjot tanpa ampun. Tidak lagi berpusat di Jawa saja, kini Sumatera, Kalimantan, termasuk Papua, pembangunan di sana mulai diperhatikan, terutama infrastruktur yang jadi jantung kegiatan warga: jalan raya. Dari satu tongkat pemimpin ke pemimpin lainnya, Jokowi-JS Kalla meneruskan dan menambah target proyek pembangunan Infrastruktur.

Di tahun 2017 saja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR) menargetkan 392 km jalan (tol) yang akan beroperasi.Bagian menarik lainnya, seiring dengan percepatan pembangunan infrastruktur tersebut, Balitbang yang bernaung di bawah Kementrian PUPR melancarkan inovasi. Menariknya inovasi tersebut tidak melulu berhubungan dengan infrastruktur.

Inovasi dari Balitbang PUPR saya ketahui pada hari minggu 19 November 2017 di Car Free Day Dago, Bandung. Pada acara itu lah Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Balitbang PUPR) menyelenggarakan acara bertajuk Ciptakan Lingkungan Sehat dengan Inovasi Balitbang. Acara tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Bakti PU ke-72.


Limbah Plastik Jadi Aspal, Inovasi Balitbang PUPR
Bila ada fakta menarik berhubungan dengan kampanye lingkungan sehat dari Balitbang PUPR di Car Free Day Dago kemarin itu, maka hal tersebut adalah limbah plastik yang dijadikan aspal!

Dengan pembangunan insfratruktur yang masif kayak sekarang, utamanya pembangunan jalan raya, penggunaan plastik sebagai salah bahan campuran aspal dilakukan dalam rangka mendukung aksi nasional pengendalian sampah plastik laut.

Di Indonesia saja diperkirakan ada 3,32 juta metrik ton limbah plastik yang belum terkelola. Tercatat 1,29 juta metrik ton limbah plastiknya dibuang ke laut (Jambeck, 2015).  Angka yang…memalukan bukan? Sekarang nih ada solusinya, kumpulin limbah plastiknya dan jadikan campuran aspal.

Lantas timbul pertanyaan. Memangnya aspal dengan campuran bahan limbah plastik ini berkualitas baik?


Kotak pengumpulan sampah plastik
Dalam kadar tertentu, penggunaan plastik sebagai salah satu campuran aspal meningkatkan stabilitas dan kekuatan yang menambah kualitas umur layan jalan. Campuran beraspal umumnya dimodifikasi dengan polimer, plasti itu salah satu jenis polimer. Jadi gak ada masalah dengan penggunaan plastik sebagai campuran aspal.

Sayangnya pengolahan plastik sebagai aspal ini tidak ditampillkan secara detail. Jenis plastik apa yang cocok untuk campuran aspal? Apakah pengolahan plastinya dengan cara dibakar? Ada efek sampingnya tidak dari campuran plastik dalam aspal ini? Di mana saja inovasi ini sudah diterapkan?

Meski limbah plastik jadi aspal ini bisa jadi solusi tentang pengelolaan sampah, ya bukan berarti kita bisa leluasa menggunakan plastik sih. Tetap lah kurangi pemakaian plastik, bila harus terpaksa ya gak usah pake plastik sekalian. Bahkan saya amat sangat setuju bila kita menggunakan plastik, kita harus bayar :D

Mengembalikan bumi jadi ‘hijau’ tugasnya bukan ada pada hanya ada di pemanfaatkan limbah saja, tapi juga pola pikir kita sebagai penghuni planet bumi ini.

Untuk itulah Balitbang PUPR juga mengkampanyekan kesadaran lingkungan dari pengolahan sampah Rumah Tangga dan Jalan ‘Hijau’.


Kampanye Lingkungan Sehat dari Balitbang PUPR di Car Free Day Dago Bandung
Sejak pukul 6 pagi acara sudah dimulai. Konten acara dari Balitbang PUPR pagi itu sangatlah bergizi. Mulai dari jalan santai dan pungut sampah yang titik berangkatnya dari PUSair di Simpang Dago dan berakhir di titik pos Balitbang di CFD Dago, games, senam zumba, akustik, dan photobooth.



Oh iya bagi pengunjung yang tidak berinteraksi secara langsung dengan acara, Balitbang PUPR meletakkan beberapa poster di titik strategis dan dapat dibaca oleh siapa saja yang melewatinya. Poster tersebut berisi kampanye lingkungan sehat dan inovasi yang dilakukan Balitbang PUPR terkait empat tema: limbah plastik yang dijadikan aspal, sampah, banjir, dan jalan ‘hijau’.

Interaksi dari acara yang berlangsung selama empat jam selama Car Free Day Dago tersebut makin meriah dan berbobot.

Balitbang PURP menyediakan booth warna hijau mencolok. Booth yang menarik mata pengunjung itu merupakan wadah besar berfungsi sebagai tempat pengumpulan sampah plastik. Pengunjung membuang sampah plastiknya pada wadah tersebut. Sampah plastik itu nantinya diangkut dan digunakan sebagai campuran ‘adonan’ aspal jalan.


Peserta Jalan Santai

Gizi acara bertambah dengan diselenggarakannya diskusi ringan seputar banjir, sampah, dan limbah rumah tangga, dan plastik. Menghadirkan beberapa narasumber di bidang lingkungan, pengunjung Car Free Day dapat mendengar dan bertanya mengenai paparan dengan tema lingkungan sehat.

Bila diperhatikan. Bandung termasuk kota yang memberi perhatian terhadap pengolahan limbahnya.

Masih saya ingat kampanye Biopori bertajuk Gerakan Sejuta Biopori yang heboh dan Gerakan Pungut Sampah di tahun 2013. Belum lagi kampanye Biodigester.

Ruang terbuka hijau pun ditambah. Taman-taman di Bandung dipercantik kondisinya. Lebih hidup dan lebih hijau.

Trotoar bagi pejalan kaki diperbaiki dan kondisinya sekarang layak dan menyenangkan! Trotoar di jalan-jalan utama Bandung sekarang lebih lebar. Disediakan pula bangku untuk pejalan kaki istirahat atau pun menunggu angkot datang. Saya berharap kondisi seperti ini merata di seluruh kota Bandung (sampai ke kabupatennya).



Di tahun 2016 dan 2017, Bandung khusus bagian utara membangun infratruktur selokan untuk menampung air hujan.

Ceritanya gini. Kalau musim hujan di Bandung ada penyakit namanya Cileuncang. Alias banjir dadakan, banjir sementara akibat air hujan yang tidak tertampung. Air hujan memenuhi jalanan karena gak ada jalan air macam selokan. Kalau pun ada, selokannya dangkal karena endapan, mampat karena sampah, dan menyempit terhimpit bangunan dan jalan.

Langkah revolusi diambil pemerintah kota. Selokan dibongkar dan digali ulang. Kedalaman ditambah, lebar diperbesar. Bukan itu saja, revolusi terbaru dari pemkot Bandung adalah membangun jalan sungai Citepus di Jalan Pasteur dan kawasan Pagarsih.

Masih ada sih Cileuncang, tapi memang gak separah dulu. Wewenang terkait pembangunan di ruang terbuka hijau dan kawasan serapan air mestinya dipertegas. Gak boleh membangun bangunan komersil atau pemukiman di area serapan air  di KBU(di Bandung namanya Kawasan Bandung Utara) dan sempadan sungai. Bukan hanya kota Bandung sih seharusnya, wilayah lain di tingkat Kabupaten sampai dengan Provinsi juga mesti bahu-membahu menjaga alam serapan air hujan.

Upaya untuk membasmi banjir pun menurut saya datangnya bukan dari pemerintah kota saja, tapi juga dari warganya. Kita masih buang sampah sembarangan gak, sudah memilah sampah belum, sudah bikin biopori di halaman rumah kah, bangunan kita menutup jalan air gak, dan masih banyak lagi.


Limbah Rumah Tangga dan Komposter untuk Mengolahnya
Salah satu diskusi yang saya ikuti di acara gelarannya Balitbang PUPR di Car Free Day Dago ini temanya tentang sampah, khususnya limbah rumah tangga.

“Mengolah sampah dimulai dari sumbernya, paling gampang ya dari rumah, dari dapur kita,” ujar Lia Meilany Setyawati dari Puslitbang Perumahan dan Permukiman yang menjadi narasumber dalam diskusi tersebut.

Selain membahas tentang konsep 3R (reuse, reduse, recycle),  bagi saya salah satu hal menarik tentang konsep recycle dan reuse yang beliau ceritakan tentang komposter. Di rumah saya menggunakan komposter bernama Takakura. Mendengar paparan beliau tentang komposter sederhana dari karung dan pot, kok terdengar lebih mudah diterapkan dibanding komposter Takakura ya. Bahkan komposter yang ditanam ke tanah dan komposter bernama Kascing (bekas cacing) juga menggiurkan untuk saya aplikasikan di rumah.

“Di mana saya bisa beli komposternya, Bu?” tanya saya kepada narasumber. Ia mengatakan untuk mendapat komposter tanam dan Kascing tersebut saya harus memesan terlebih dahulu. Kepada siapa, ia tidak memberi keterangan lebih detail.

Andai saja membeli komposter dan alat-alat yang berhubungan dengan pengolahan limbah rumah tangga semudah jajan beras di minimarket.

Saya menyayangkan kampanye lingkungan, utamanya limbah rumah tangga ini, masih minim penerapannya. Kampanyenya jalan terus, tapi target penerapannya yang gak terlacak. Pada prakteknya banyak yang masih malas menerapkannya. Kenapa coba?

Bila di masa mendatang Balitbang PUPR menyelenggarakan lagi kampanye lingkungan yang sehat, mungkinkah juga memajang komposter-komposter siap beli?

Pengunjung membaca informasi tentang kampanye Jalan Hijau

Orang Indonesia tuh pengennya langsung beli, malas merakitnya :D Termasuk saya, komposter Takakura saja saya membelinya di sebuah markas besar komunitas lingkungan di Bandung. Toko Organik namanya. Bila merakitnya sendiri saya harus menyiapkan satu wadah besar yang ada penutupnya, sekam yang dijadikan bantal, sekam untuk mengeram sampah organik, kardus, dan sekop. Alamak :D

Jujur saja susah banget nyari komposter di Bandung. Bila saja komposter ini dikapitalisasi dan mudah dijangkau seperti kita menjangkau barang-barang di minimarket, praktek pengolahan sampah dapur ini bakal cepat terealisasi.

Namun uraian Ibu Lia berikutnya mencerahkan, “komposter itu bisa sesederhana memanfaatkan karung tak terpakai. Masukan sampah organik ke dalam karung, simpan karung di tempat yang kering dan beralas batu kerikil agar air dari sampah organik mengalir dan tidak menimbulkan bau busuk,” tuturnya lagi.

Komposter karung ini mulai terdengar menarik dan aplikatif untuk saya :D




(Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana.com.)





Foto: Nurul Ulu
Teks: Nurul Ulu

Kerinduan Pada Hidangan Pesisir

December 02, 2017
“Neng, ayo. Sebentar lagi sampai.”

Indra –suami saya- membangunkan. Ia mengemas tas bawaan kami, bersiap turun dari ular besi. Laju kereta api melambat, pertanda akan berhenti. Dalam waktu beberapa menit lagi saya tiba di kampung halaman, bertemu muka dengan hawa panas menyengat.

Dari Bandung kami berangkat pagi-pagi. Hampir empat jam perjalanan, Cirebon kini kami pijaki.

Kedatangan saya di Kota Udang berawal dari sebuah kerinduan. Kangen kampung halaman. Rindu tanah leluhur. 15 tahun bermukim di Parijs Van Java, saya ingin kembali ke Cirebon membawa misi berbeda: membedah perjalanan sejarah kota itu seperti saya mengulik sudut-sudut kota Bandung.

Saya tidak sendiri. Saya ajak tim kecil yang terdiri dari Indra, juga anak kami bernama Nabil yang umurnya lima tahun. 

Berlibur dua hari satu malam di Cirebon, misi saya menuntaskan rasa rindu pada hidangan pesisir. Mengupas sejarah kota yang dahulunya perlintasan bangsa-bangsa ini sepertinya menarik bila dimulai dari sesuatu yang ringan namun legendanya panjang: kuliner.



Aroma kuat khas bumbu pesisir dengan rasa tajam berkelebatan tiga hari sebelum kami berangkat, membuat hati berdesir-desir. Tapi rasa antusias sedikit bercampur dukacita, 35 km dari kota Cirebon, raga ayah saya bersemayam abadi dalam pusara. Tepatnya di Indramayu si Kota Mangga.

Lima tahun saya tidak pulang kampung sejak ayah wafat. Nenek berpulang ke alam kubur setahun setelah ayah meninggal. Ibu memilih pensiun dini dan pindah ke Bandung, kembali pada akarnya sebagai orang sunda.

******

Suara kereta api menderit. Bayangan romantika pulang kampung menguar saat berada di stasiun kereta api Cirebon. Indra menggandeng tangan saya. Saya menggenggam tangan Nabil. Keluar stasiun, bertiga kami menyongsong hawa panas Kota Udang.



"Mau langsung makan?" Indra mengelus-elus perutnya, pria gembul itu bertanya seperti mengajak. Saya mengiyakan, di dalam kereta api cuma makan sedikit.

Saya cek jam tangan "jam setengah sebelas, mau makan besar atau ngemil aja?"

"Makan besar," jawab Indra mantap.

Tiba-tiba saya teringat belum pesan tiket kereta pulang. Mumpung masih di stasiun. “Sebentar!" saya berhenti berjalan, "kita pesan tiket kereta api pulang dulu. Biar langsung print tiket di sini.” Saya raih smartphone yang baterainya menunjukkan satu batang dan buka aplikasi Traveloka.

Indra menyanggah. "Kagok euy. Mending makan dulu. Lagian di Traveloka bisa last minute booking, besok juga bisa pesen tiketnya." Selain ia lapar, baterai ponselnya bernasib sama. Lupa mengisi daya baterai smartphone di dalam kereta api, kebanyakan tidur. Hehe.

Setahu saya pembelian online tiket kereta api berbatas waktunya, kalau tidak salah enam jam sebelum keberangkatan.

"Kan sekarang mah kalau beli tiket kereta api di Traveloka dikasih waktu sampai dengan tiga jam sebelum berangkat secara Traveloka partner resmi KAI," Indra berkata dalam satu helaan napas.

Memangnya kenapa kalo partner resmi KAI? Begitu tanya saya. Iseng tapi penting. Kami berjalan agak cepat sambil ngobrol.

Kata Indra, jika sudah jadi partner resmi Kereta Api Indonesia artinya kita bisa cek semua kelas dan subkelas yang ada di kereta api, termasuk milih jadwal dan milih kursi sendiri gimana maunya kita. Bukan cuma sejak H-90 hari, tapi juga tiga jam sebelum keberangkatan.

Memangnya kelas dan subkelas apa bedanya sih? Kembali saya bertanya lagi. Kali ini tidak iseng sebab saya lah yang selalu memesan moda transportasi tiap kali kami bepergian.

"Nanti dijelasinnya, makan dulu aja yuk, kita makan di mana?"

Saya simpan smartphone ke dalam tas. Nanti saja di kamar hotel beli tiketnya sekalian isi baterainya. Seperti naga di perut Indra, anakonda di perutku pun sama gelisahnya. Di Jalan Siliwangi saya menyetop becak. Hendak ke mana kah kami bertiga?

Menuju sebuah rumah makan di ujung batas utara kota Cirebon!

******

Empal Gentong Krucuk jadi pembuka jelajah kuliner kami di Cirebon. Menumpang becak, lima menit waktu tempuhnya dari stasiun.

Hampir jam makan siang. Tiga porsi empal gentong tersaji. Kepul panas dari kuah empalnya menguar. Kami endus wanginya, lapar semakin liar.


Banyak orang menyamakan empal gentong dengan gulai. Saya sendiri merasa makanan legendaris ini serupa soto bersantan. Empal Gentong terdiri kuah dan bahan-bahan daging berlemak sapi. Di permukaan kuahnya ada potongan daun kucai, membuat aromanya lebih istimewa.

Memandang empal gentong rasanya seperti bertemu kawan lama. "Hello again, my old friend!" ucap saya sebelum makan.

“Gak ada yang kayak gini di Bandung,” Indra berseri-seri. Sendok demi sendok nasi dan empal ia jejalkan ke mulut sembari mendengar ocehan saya tentang masa kecil, bahwa nenek saya adalah petani dan berkebun daun kucai yang beliau jual perikat Rp1.000. Daun kucai bisa kita temui juga dalam seporsi nasi lengko.

Berjam-jam empal dimasak dalam kuali (gentong), bergolak selama 4-7 jam, apinya berasal dari kayu bakar. Kayunya mesti lah kayu pohon asam, kayu dari pohon mangga pun jadi. Bumbu meresap kuat-kuat di dagingnya, melekat dalam pada kuahnya. Barulah ideal disantap.

"Kalo bukan di Cirebon mah empal gentong gak akan seenak ini ya," kata dia lagi yang disambung dengan penjelasan istilah kelas dan subkelas kereta api.

Cuaca dan makanan memang sepaket. Dalam dekapan hawa Cirebon yang hangat dan empal gentong yang mahanikmat, keringat kami bercucuran seperti air terjun Cibodas di musim hujan. Anehnya, usai makan badan ini terasa lebih sejuk.

Naga dan ular di perut kami tenang sudah. Tapi saya tahu kali ini mereka ingin sesuatu yang manis, dingin, dan menyegarkan. Penawar lemak-lemak empal gentong.

Krucuk kami tinggalkan. Menuju Jalan Karanggetas kami menumpang angkot warna telur asin. Es Kopyor 4848 menanti kami di sana.


Satu gelas es kopyor ditukar dengan tiga lembar uang sepuluh ribu. “Mahal,” Indra kembali berkata. Jelas saja mahal namanya juga es kopyor.

“Tapi enak banget, kan? mana bisa nemu yang kayak gini di Bandung,” saat saya berkata demikian, Indra sudah mau nambah satu gelas.

Es kopyor terenak di dunia ada di sini. Ramuan sirup warna merah adalah kunci kelezatannya.  Mirip sirup tjampolay warna dan rasanya, namun pemilik toko mengatakan (gula) sirupnya buatan sendiri. Kita bisa membeli sirupnya bila mau.

Siang itu di sudut kota Cirebon, sambil menyeruput es kopyor saya membagi kisah pergi-pulang perjalanan SMA pada Indra. Termasuk tentang cinta monyet yang saya patahkan hatinya di sisi sungai Sukalila, di seberang toko Es Kopyor 4848.


Seharian tanpa ampun kami menyantap sega (nasi) lengko di Pagongan dan Mie Koclok di Panjunan. Di penghujung hari kami masuk ke penginapan, lunglai kekenyangan dan bahagia.

Saya melewatkan sega jamblang, tahu gejrot, dan docang. Biar saja. Selalu ada yang tertinggal agar ada alasan kembali bukan?

Di dalam kamar sebelum tidur, Indra bertanya "udah pesen tiket kereta api belum?"

"Duh gak kuat euy ngantuk banget, besok aja deh!" saya membanting badan ke kasur dan langsung tidur.

******

Esok siang saya meminta Indra pindah kota. “Kita ke Indramayu.”

Indramayu adalah kampung halaman pertama sebab masa kecil hingga SMP saya habiskan di sana. Salah satu makanan yang saya rindukan dari Indramayu adalah hidangan bernama rumba.

Bila di Bandung, rumba ini saudara kembarnyanya lotek. Kalau di Surabaya mirip pecel lah. Sayurannya dikukus atau direbus. Terdiri dari beberapa sayuran, dalam seporsi rumba ada kangkung, timun, daun semanggi, dan tauge. Juga terdapat sayuran langka: kembang turi dan buah lamtoro.



Rumba dimakan dengan bumbu yang tidak manis dan tidak asin, tapi pedas. Pedas yang durjana itu bernama sambel asem. Saking pedasnya, tubuh berkeringat. ‘Bukan makan rumba kalo gak keringatan’ begitulah prinsip makan rumba. Kombinasi kerupuk dan minum air hangat membuat rumba mendarat damai di dalam perut.

Sehabis gempuran pedas yang biadab, tubuh terasa lebih sejuk. Paradoks. Saya sering menemui makanan pedas di Cirebon dan Indramayu. Rupanya rasa pedas memiliki khasiat mendinginkan tubuh. Seperti memasak nasi di rice cooker, energi panasnya akan berhenti di satu titik. Habis itu temperaturnya turun sedikit dan rice cookernya mengeluarkan uap dan sedikit air.

"Gimana, udah belum?"

"Apaan?" sedetik kemudian saya menyadari. Oh iya pesen tiket kereta api! Kembali ke smartphone. Jam empat sore, cek ricek jadwal pulang menuju Bandung.

"Jadwal terakhir ke Bandung jam sembilan malam, Ciremai Express! Kelasnya eksekutif, gak apa-apa?" kami biasa plesir menumpang kereta api dan mengambil kelas bisnis.

"Berapaan?" tanya Indra

"160.000"

"Bungkuuuusss!"

Indra memberi KTPnya. Saya kembalikan. "Gak usah kali, data kita udah tersimpan di aplikasinya, Jadi gak usah ngetik ulang."

Indra belum tahu. Di Traveloka ada fitur bernama Passenger QuickPick. Setelah login ke aplikasinya (bila belum login kita gak bisa gunakan fitur ini), kita isi data nama, tempat tanggal lahir, dan nomor identitas. Traveloka akan menyimpan data yang sudah kita masukan.

Bila kita memesan tiket kereta api, setelah menentukan tanggal keberangkatan tinggal klik kolom nama, nanti muncul data kita. Jadi tidak usah mengetik nomor identitas berulang-ulang tiap kali memesan tiket.

Kurang dari lima menit, transaksi pemesanan kereta api selesai. Pembayarannya saya lunasi via mobile banking. Dunia sebenar-benarnya ada di genggaman bila kita gunakan aplikasi yang benar dan memudahkan. Traveloka membuat kami #jadibisa pergi pulang ke kampung halaman, menandaskan rasa rindu pada tanah leluhur.

Satu jam waktu tempuh dari Indramayu ke Cirebon. Kami putuskan nongkrong di Grage Mall, 2 km dari stasiun Cirebon, mencari udara dingin buatan sembari menunggu waktu berangkat kereta api tiga jam lagi.

Di dalam kereta api menuju Bandung, perut terpuaskan, hati senang. Makanan adalah mesin waktu, dibawanya kita menyusuri kenangan dalam aroma dan rasa.

Kami akan datang lagi, demi semangkuk gombyang dan sega jamblang. Tak lupa saya menyisipkan agenda utama: menyusuri masjid-masjid kuno di Cirebon yang eksotis.



Foto oleh Indra Yudha

Main ke Hotel Sandalwood di Lembang

November 27, 2017
Lembang di akhir pekan gak mungkin saya datangi kalau bukan karena teman baik. Ceritanya Noe dan Pungky plesir ke Bandung. Mereka langsung ke Lembang aja gitu gak main dulu di kota Bandungnya. Ya kayak Ungaran kalau di Semarang mah, kayak Bogor kalau di daerah Jabodetabek mah. 

Mereka berdua mau nginep 3 hari 2 malam di hotel lucu di Lembang. Hotel Sandalwood namanya. Saya gak ikut nginep sih. Saya datengin mereka pagi-pagi aja, berangkat dari rumah jam tujuh pagi. Dan Lembang lagi dingin banget pagi itu! Asooooy!


Saya tinggalin Nabil di rumah, titip ke adek. Sementara itu Indra mah ke Surabaya ada kerjaan di sana selama dua hari. Terakhir dia kirim foto via whatsapp, dia lagi makan Rujak Cingur Surabaya. Duh! kalo aja Rujak Cingur Surabaya ini bisa dibungkus dan bawa ke Bandung euy...

Anyway balik ke Lembang. 

Saya bawain Noe dan Pungky oleh-oleh khas Bandung. Belinya di toko Tahu Tauhid aja, pas di seberang hotel yang mereka inapi. Ini riya bukan sih hahaha maksudnya gak ke sana da. Ya intinya mah saya pengen ketemu sama kembaran yang bengis itu (Noe nama depannya Nurul, sama kayak saya. Tapi dia mah ketus, saya mah ramah *naon :P*). 

Pendek kata, Noe ajak saya ikut sarapan. Dan sarapan lah kami berempat. Bersama Pungky dan teman baru bernama Jose. 

(Baca juga : Rujak Cingur Surabaya)

Duh itu ya Sandalwood, dari pintu masuk di lobi aja udah lucu banget dekorasinya juga rumahnya, begitu masuk ke dalam, hwaduuhhhh halaman di tengah itu bagus sekali. Banyak pohonnya, ada rumputnya, dan rumputnya bisa diinjak-injak horeeeee gak diusir :D 

Terus ada kolam renangnya juga. Saya celupin jari tangan, hwaduh airnya dingin! Siapa orang gila yang mau berenang di sini. Eh pas kami makan, ada dong tamu hotel yang berenang hahahaha. 


Di tempat sarapannya nih, bisa lihat pemandangan pegunungan di Bandung Utara dan sedikit ke arah timur. Saya tuh suka sentimentil gimana gitu kalau bisa lihat puncak gunung. Apa kamu juga begitu, merasa romantis waktu melihat puncak gunung dari dekat? 

Agak lama kami berdiam di restoran. Mulut sih gak diam ya karena makan terus hahaha. Ya biasa lah temen lama ketemu ngapain, ngobrol-makan-ngobrol-makan. Dan lagi mereka blogger pula yang mendamba feed Instagram yang rapi, hayoh weh terus popotoan. Abis makan juga tetep popotoan. Banyak sudut menarik sih di Sandalwood yang sudah pasti gak ada di rumah kita :D Ya baguslah saya ada gunanya juga di sana bantuin motoin. Wkwk. 
 

Saya diajak Noe masuk ke kamar yang dia tiduri. Ada tiga ranjang di dalamnya: queen dan twin bed. Jose nawarin saya ke balkon kamar. "Luas banget balkonnya!," begitu katanya. Pas saya lihat sendiri, hwuidiihhhh aslinya luas amat bisa jadi satu kamar sendiri! 


Enakeun sih kamarnya. Jendelanya banyak, ada balkon yang luaaaas banget, juga ada balkon mungil. Kamar Noe menghadap langsung ke kolam renang. Saya poto nih pemandangan yang saya lihat dari balkon mungilnya. Ucul banget! 

Lain kali saya mau ah nginep di Hotel Sandalwood ini. Main aja mah kurang hahahaha. Juga pengen berenang deh, tapi ntar deh nunggu matahari mulai muncul rada sering huhuhu dingin dan berangin di Bandung nih, termasuk Lembang. Hujan terus. 


Selamat menikmati foto-fotonya, kalau ke Lembang, nginepnya di Sandalwood yaaaa :)



Teks: Ulu
Foto: Ulu

Di Jatinangor, Berkenalan dengan SINTA: Rancangan untuk Mempermudah Perizinan Bagi UMKM

November 19, 2017
Kamu pernah gak bertanya-tanya, kalo lihat feed instagram orang yang kesannya jalan-jalan mulu, ini orang apa ya kerjanya? uangnya dari mana? sambung nyawanya kayak apa?

Kalo kamu nanya saya, nanya ke Bandung Diary, kami jawabnya ya jualan ikan. 

Sejak tahun 2009 kami udah bergelut di dunia perikanan. Bangkrut mah udah biasa (tapi gak mau dibiasakan hahaha). Bikin peternakan, tutup. Bikin rumah makan, tutup. Baru nih usaha yang ke tiga ini jalan terus, Fish Express namanya. Berkat dunia digital. 

Saya dan Indra adalah pelaku usaha mikro kecil dan menengah, alias UMKM. Saat ini saya kami tercatat sebagai UMKM binaan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bandung. Kamu udah baca catatan perjalanan saya di Yogyakarta beberapa waktu lalu? sebenarnya kami ke Yogyakarta dalam rangka ikut pelatihan teknologi olahan perikanan 😅  Indra yang ikut pelatihan, saya yang pergi jalan-jalan (dengan uang pribadi yoooww). 

Jadi, waktu Teh Efi pengurus komunitas Blogger Bandung mengajak saya ke acara bertajuk Kampanye Nasional Reformasi Perizinan UMKM Dalam Rangka Mendorong Daya Saing Ekonomi Daerah, saya merasa wajib datang. Walau status saya pada waktu hadir adalah blogger, tapi selama acara saya merasa sebagai pelaku usaha kecil. 

Kampanye dalam bentuk seminar tersebut berlangsung pada hari Sabtu 18 November 2017, bertempat di Grha Giri Wisesa PKP2A I LAN, di Jalan Kiarapayung, Jatinangor. Yup Jatinangor yang di Sumedang. Perjalanan kami hari Sabtu itu lintas kota demi melihat reformasi kayak apa sih yang udah dilakukan pada perizinan UMKM ini.

Dalam acara tersebut beberapa UMKM dilibatkan sebagai pengisi tenan. Ada batik, kuliner, aneka pakaian dari kulit, sampaia dengan mainan untuk anak-anak terbuat dari kayu.




60% UMKM Belum Punya Izin

Tercatat saat ini di Indonesia ada 56,7 juta jumlah UMKM. Sayangnya 60% dari mereka belum memiliki izin usaha. Saya sendiri merasa gak termasuk di antaranya karena saya sudah punya akta perusahaan dan sertifikasi halal. 

Tapi saya lagi kesulitan urus perizinan BPOM nih 😁 berbekal izin legal kayak BPOM, saya bisa mengembangkan usaha perikanan saya dengan masuk ke pasar yang lebih besar kayak supermarket. Sayangnya urus BPOM ini batu sandungannya gak sedikit. 

Kembali ke angka lagi deh. 

Dari jumlah puluhan juta itu, 98% usahanya termasuk usaha mikro. Penyerapan tenaga kerjanya mencapai jumlah 90%. Bayangkan jumlah sebanyak itu seharusnya bisa jadi simbiosis mutualisme antara pemerintah dan UMKM. 

Masalahnya bagi UMKM, pemerintah tuh rese banget. Urus izin berbelit-belit dan bolak-balik. Perlu uang, butuh waktu, dan capek hati. Sementara bagi pemerintah, UMKM pernah dianggap sebagai pintu pendapatan aja. 

Berkaca dari data tersebut, pemerintah (akhirnya) menyadari harus ada reformasi di bidang perizinan UMKM. Daya saing Indonesia di mata dunia ada di urutan ke 37. Kalah dari Thailand apalagi Malaysia yang ada di urutan ke 20an. 

Bila Malaysia sudah berlari kencang dalam urusan UMKM, Indonesia masih jalan terseok. 

Sebab itu lah Lembaga Aparatur Negara (lengkapnya Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur Lembaga Aparatur Negara, PKP2A I LAN) membuat pelatihan bertajuk Reform Leader Academy yang disingkat RLA. Pelatihan ini ditujukan membuat sinergi antar kementrian dan lembaga. Sinergi ini lah yang jadi bekal reformasi perizinan UMKM. 

Intinya sih pelatihan ini menyatukan isi kepala tiap kementrian dan lembaga agar membuat sistem yang membuat pemerintah kompak, bersinergi, dan gak bikin pelaku UMKM bolak-balik urus perizinan (baca: mempermudah layanan perizinan UMKM). 

Bagian menariknya adalah dalam acara ini salah seorang pembicara mengatakan dengan sadar kalau pemerintah harus saling legowo dan mengesampingkan ego masing-masing kementrian dan lembaga agar reformasi terkait perizinan UMKM ini dapat segera dilakukan.

Pelatihan dari negara untuk negara. Karena kesulitan perizinan itu seringnya datang dari negara/pemerintah itu sendiri.


SINTA UMKM, Rancangan Sistem Mempermudah Perizinan UMKM

Peserta pelatihan RLA ke-8 jumlahnya ada 11 institusi. Masing-masing institusi pemerintah mengirim wakilnya, mulai dari :

Kementrian Dalam Negeri, 
Kementrian Keuangan, 
Kementrian Perdagangan, 
Kementrian Perindustrian, 
Kementrian BUMN, 
Kementrian Pariwisata, 
Kementrian Kominfo, 
Lembaga Administrasi Negara, 
LIPI, 
POLRI, dan 
Pemprov Lampung. 

(Fyi, saya masih bertanya-tanya Pemprov Lampung dipilih sebagai perwakilan pemerintah provinsi di situ). 

Bayangkan segenap kunci institusi ada di pelatihan tersebut dan urun rembuk tentang gimana caranya nih mereformasi layanan perizinan UMKM. Saya harap pelatihan ini gak sia-sia alias hasilnya dijadiin. 

Dalam acara seminar -yang untuk saya terlihat sebagai FGD (forum grup discussion) dan bukannya seminar ini-, perwakilan peserta maju ke panggung dan presentasi konsep yang mereka godog selama satu bulan pelatihan: SINTA UMKM. 

SINTA UMKM merupakan Sistem Izin Terpadu Usaha Mikro Kecil dan Menengah skala nasional. 

SINTA adalah rancangan dalam bentuk digital yang menampilkan informasi skema perizinan, termasuk akses data kebutuhan pendanaan dan kapasitas UKM. SINTA dapat diakses dalam bentuk website dan aplikasi. Bukan saja menampilkan lokasi detail data UMKM, SINTA juga terhubung dengan kantor kecamatan. 

Oh iya saya harus tekankan lagi, SINTA ini bentuknya masih konsep dan ide. Artinya SINTA ini belum jadi. 

Konsep SINTA ini digelontorkan di depan para narasumber dalam seminar tersebut. Para penilai (alias dosen sidangnya) terdiri dari Bappenas, Kemenpan, Kemendagri, Kadin, Kepala Pkp2A I LAN, dan BRI. 

Ke-6 institusi tersebut menilai apakah SINTA ini sistem yang bagus atau enggak, cocok atau enggak, sesuai atau enggak. Masing-masing perwakilan memaparkan penilaiannya yang panjang dan birokratis ala-ala pejabat. 

Sementara itu penilaian menarik buat saya datangnya dari perwakilan BRI (Bank Rakyat Indonesia) sebagai pemberi kredit mikro untuk UMKM (ngomong-ngomong usaha saya pernah jadi krediturnya BRI di tahun 2015, udah lunas hamdalah 😁). Penilaian beliau pendek, lugas, padat, dan fokus pada solusi. "Saya tunggu kapan SINTA ini akan diluncurkan," kata Agung Setyabudi, BRI, disambut tepuk tangan tulus peserta lain, termasuk saya. 

Sayang sekali UMKM gak dilibatkan dalam seminar ini sebagai penilai. Tidak ada pertanyaan atau penilaian dari UMKM. Gak ada yang nanya UMKM ini butuh apa sih dari sebuah rancangan sistem terpadu kayak SINTA. 

Saya pikir dalam acara ini akan ada sesi terbuka tanya jawab, dari rumah saya sudah siapkan pertanyaan untuk kementrian-kementrian yang duduk di sana. Tapi yang ada komunikasinya satu arah dari penilai terhadap SINTA UMKM. 

Fyi, untuk urus perizinan kami pernah dipingpong antara Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan Dinas Perikanan dan Kelautan. Belum selesai, kami juga harus urus dokumen ke dinas lingkungan. Repotnya melelahkan. Kenapa sih antar dinas gak saling telpon aja dan konfirmasi. Kenapa sih harus kami yang bolak-balik ke masing-masing dinas. 

SINTA UMKM ini bisa jadi pintu masuk reformasi layanan perizinan. Sebagai pelaku UMKM sih saya merasa butuh banget sistem seperti SINTA. Biar apa? biar izin usaha cepat beres dan gak perlu bolak-balik ke kantor dinas dan antar dinas. Udah gitu bisa ngembangin usaha lebih luas lagi skalanya.

Kota Bandung udah punya sistem mirip SINTA. Namanya Gampil dan gak melulu buat UMKM sih, lebih untuk keperluan perizinan warga kota Bandung. Saya udah cek aplikasinya dan directorynya gampang banget. Hanya aja sering eror 😅 segitu juga udah bagus sih. Tercantum dalam aplikasinya daftar syarat perizinan mulai dari berapa biayanya dan kelengkapan surat yang dibutuhkan.

Tapi itu kan levelnya daerah ya. SINTA kan diproyeksikan skala nasional. 

Emang sih SINTA ini masih rancangan, masih dalam bentuk konsep. Dari acara tersebut, saya perhatiin reformasi layanan perizinan UMKM ini baru beranjak ke tingkat kesadaran dan ide. Di lapangan, saya sendiri merasakan ada perubahan layanan. Punglinya gak ada dan ada upaya dari masing-masing dinas untuk membantu kami para pelaku UMKM. 

Hanya saja sistem antar dinasnya yang mesti ditinjau lagi. Ya masa saya bikin SPPL, surat yang berhubungan dengan pengolahan limbah, mesti bolak-balik dari Dinas Perikanan ke Dinas Lingkungan (juga Dinas Perindustrian). Atuhlah...

Menurut saya jadiin dulu aja SINTA-nya. Luncurkan. Pada prakteknya nanti pasti ada evaluasi toh, bisa kali per periode ada perbaikan fitur layanan. Kalo mengendap terlalu lama khawatirnya cuma jadi wacana. Di era kayak gini, perubahan adalah pasti dan percepatan adalah kunci. Ayo pemerintah Indonesia, saatnya berlari!



Nginep di Hotel Utari dan Main ke Car Free Day Dago

November 15, 2017
Hotel Utari di Dago murah banget! Ini nih yang penting juga: LOKASINYA BAGUS. 

Sebenernya saya numpang nginep sih. Kakaknya Indra (kami menyapanya Teteh) datang ke Bandung (dia tinggal di Garut, fyi). Mendadak harus menginap dan dia pengennya di kota, sekalian jalan-jalan. Skroling di aplikasi hotel, saya dapet nih Hotel Utari. Lah dia pengennya hotel dengan budget 300ribuan gitu. Hotel Utari saya bisa book dengan harga di bawah 300ribu, Sodara-sodari :) 


Selain rikwes pengen nginep di hotel yang murah tapi lumayan lah gak kelas bekpeker banget, si teteh juga minta diantar ke Ayam Gepuk Pak Gembus. 

Anyway, terus menginaplah mereka sekeluarga di Hotel Utari. Kami sebagai pemandu dan pengantar kok ya males pulang. Mana malamnya kami ikutan walking tour dari Mooi Bandoeng tentang hantu-hantu di Bandung. Baru beres jam 10 malam. Mana hujan. Akhirnya kami menyambangi si kakak di Hotel Utari dan pesen aja extra bed lah. Hahahaha. 

Hotel ini mungil banget. Ya kalo dibandingin dengan hotel di sebelah dan di seberangnya yang bertingkat-tingkat itu. Cuma terdiri dari tiga lantai tanpa lift, hotel ini termasuk hotel senior di Bandung. Pegawainya kebanyakan laki-laki, bapak-bapak kayak di film 80an gitu. Khekhekhe :D

ini bukan bapak-bapak yang saya maksud ya, ini mah Nabil anak saya da sepupunya dari garut wkwk
Lokasinya pas di Jalan Dago. Itu pun strategis pas di perempatan Sulandaja - Dago. Di sebelah Utari masa ada aneka macam restoran fast food macam Pizza Hut. Mau berobat, tinggal nyeberang ada Kimia Farma. Mau jalan-jalan tinggal pesen ojek/taksi online atau angkot. Sok sebutin mau ke mana, di mana-mana tempat wisata.

Macet? oh sudah pasti :D 

Karena itu kami nongkrong aja di hotelnya. Secara pas sorenya tuh ada karnaval Light Fest. Teteh seneng banget bisa lihat kota Bandung dalam waktu terbaiknya. Nonton festival dari pinggir jalan Dago, kalo capek atau mau pipis, tinggal balik ke hotel dan masuk kamar. Asoy :D 

Kamarnya pun gak buruk. Malah terbilang luas. Hanya saja ACnya berisik dan channel televisi itu-itu aja, banyaknya saluran televisi lokal. Oh wifinya juga gak bagus kecuali di lobi hotel. 

Pagi harinya, kami langsung ke Car Free Day. Gak dapet sarapan di hotel, kami cari makan di CFD aja. Sekalian jalan-jalan pagi, jajan, belanja, cuci mata. Gak cuma ke CFD, si Teteh juga belanja edan-edanan ke...Gasibu! 



Seperti biasa si teteh kalo ke Bandung terkesima dengan perkembangan wisata kuliner dan belanja. Kalap hahaha.

Sebagai tukang makan, dia (dan kami semua sebenernya tukang makan :D) rikwes pengen makan ayam gepuk, "yang kayak Ayam Gepuk Pak Gembus anu aya di tipi tea," kepengen si teteh. 

Saya juga pernah nonton sih liputan tentang Ayam Gepuk Pak Gembus, tapi rasanya belum ada di Bandung ya? Eh ada gak sih? Kayaknya belum deh. Akhirnya kami makan-makan di Toko You aja deh. Cari yang deket hotel aja masih kisaran Dago. 

Kalap belanja dan jajan, di satu sisi juga teteh dan keluarganya mengeluhkan macetnya Bandung. "Mendingan di Garut," begitu katanya. Saya pikir keputusannya buat nginep aja di pusat kota juga karena alasan itu, biar ke mana-mana tinggal jalan kaki aja daripada naik kendaraan terus macet terus bete. Fiiuuhhh....

Ah ya namanya juga ibukota Jawa Barat. Bandung emang terasa banget tambah macetnya. Kayaknya butuh strategi khusus gitu kalo mau jalan-jalan. Gila udah mah strategi, khusus pula. Wew...



Teks : Ulu
Foto : Ulu