Image Slider

Serius Namanya Bukit Teletubies?!

January 23, 2019
Kita yang terlalu malas mencari nama atau otak kita segitu-gitu aja kemampuan berpikirnya?

Serius nama tempatnya Bukit Teletubies? Segitu noraknya nama yang disematkan pada sebuah area perbukitan di Bromo yang maha agung itu dan nama Teletubies yang kalian taro di sana? WWWHHHHHAAATTTTTT THEEEEEEEEE FUUUUUU*******KKK!

Tunggu. Kita mundur dulu ceritanya ke Pasir Berbisik. Saya masih bahas Bromo Trip. Ini catatan ke-2. Bagian pertama bisa di baca di Menggenggam Matahari Terbit.


Saya punya banyak pertanyaan untuk sopir jeep sewaan. Tapi dilihat dari gelagat dan jawabannya yang pendek-pendek, saya putuskan diam saja. Pernah ketemu orang yang sudah bosan bekerja karena pekerjaan (menurutnya) begitu-begitu saja? Nah begitulah kesan saya pada sopir bertubuh gempal itu. 

Jadi dalam susunan perjalanan kami di Bromo, setelah melihat sunrise kami diajak ke tempat-tempat bernama ini: Pasir Berbisik, Bukit Teletubies, padang savana, barulah ke puncak Bromo. Cuaca cerah. Langitnya bagus dan kabut yang tadi merayap sudah hilang ditimpa sinar matahari.

Memasuki area Bromo yang banyak pasir, bukit, dan savananya, saya amati seperti sedang di kuali saja. Seperti sedang di kawah. Iya, saya yang ada di dalam kawahnya. Ini sewaktu-waktu Bromo mbeledos, habislah saya dimakan kuah lava :D

Baiklah. Saya mulai aja review-review penuh emosi ini dari Pasir Berbisik ya.



Di Pasir Berbisik itu saya masih gak ngerti ngapain di sana hahahaha. Gini, lihat pemandangan ya sudah pasti. Menikmatinya ya tentu saja. Tapi apa itu maksudnya pasir berbisik? iya tahu itu diambil dari nama filmnya Dian Sastro. Di bagian mana berisiknya, kapan, fenomena apa itu, gimana mulanya bisa begitu.

Farah bilang seharusnya saya jalan-jalan ditemani geolog. Hahaha. Duh tapi bisa kan menghapal informasi dasar 5W+1H euy.

Nabil, Dhila, dan Byan, trio kwek-kwek itu amat sangat senang dengan Pasir Berbisik. Mereka lari-lari gak berhenti. Anak-anak memang lebih jago menikmati pemandangan, orang dewasa berusaha menghayati tapi jatohnya jadi sok pinter (ya! saya maksudnya!).

Sampai di mana tadi? oh lautan pasir.

Bukit Teletubies berikutnya. Hadeuh menulis namanya saja saya agak enggan nih. Tapi panoramanya...waduh...bikin hati riang dan terkagum-kagum!

oh ternyata teletubbies, dengan dua huruf b :D 


Sekeliling saya gak hanya bukit tapi juga tebing-tebing raksasa. Hijau warnanya. Musim hujan memberi rona warna kesuburan. Semua orang sibuk berfoto, termasuk saya. Indah sekali memang. Pemandangan yang bikin rusak ya kita-kita ini, manusianya heuheuheueheu.

Untuk pemandangan semahaindah itu, betapa kerdil nama teletubies. Memangnya gak ada istilah-istilah dalam jawa kuno yang sepadan dengan bentangan alam di sana ya...*cukup ngomel-ngomelnya, uluuuu!*

Baiklah.

Di padang savana inilah...Bromo ini gak ada habisnya-habisnya bikin hati saya berdecak kagum. Itu rumput dari hijau, kuning, dan merah ada semua warnanya. Gabungkan semuanya jadi satu, saturasi warnanya memukau sekali! Ya Allah saya sampe mikir apa iya saya ada di Bromo dan kenapa saya beruntung sekali bisa ada di sana...



Betapa mudahnya berwisata alam di Bromo. Keluar dari jeep, jalan dikit, nyampelah. Area pegunungan ini gak memberi medan sulit layaknya gunung-gunung. Begitu pikir saya pada mulanya.

Sampai saya meniti jalan di tujuan terakhir nanti.

Kemudahan-kemudahan yang kami alami di sana digilas habis dengan perjalanan menuju puncak Bromo. Di sini saya merasa modyaaaarrrrr! Modar gimana nih maksudnya?



(bersambung)

Menggenggam Matahari Terbit (Bromo Trip 1)

January 20, 2019
Saya belum cerita tentang perjalanan kami di Bromo.

Saya dan Nabil gak jalan-jalan berdua aja. Kami diajak Farah, teman kuliah saya yang bermukim di Singapura. Dia juga bawa anaknya, dua-duanya.

Saya berangkat dari Bandung, Farah dari Singapura. Kami janjian ketemu di Surabaya. Agak selow, Farah pengen lihat di Jembatan Suramadu. Ke sanalah kami sebentar saja. Menginjak tanah Madura yang tandus. Untuk berfoto. Ya berfoto saja.

Setelah itu barulah tancap gas menuju Bromo via Pasuruan. Aduh jangan ditanya ya perasaan saya gimana lewatin Pasuruan. Pengennya mah turun dari mobil dan moto rumah-rumah tua di sana yang cantik banget! pengennya mah nongkrong dulu di Alun-alun Pasuruan!

Tapi gak bisa :D Sebab sudah pukul dua siang dan Farah yang mengorganisir perjalanan ini. Saya mah tahu beres aja (tengkyu, Far!).

Pendek kata, berbekal googlemap kami menempuh jalan menuju Tosari, lokasi homestay kami berada. Desa Tosari gak jauh dari Bromo. Waktu tempuh dari pintu gerbang taman nasional Bromo Tengger dari homestay cuma 30 menit saja.

Sopir sewaan saya, ia gak tahu jalan menuju Tosari. Kami apalagi.

Satu hal yang tidak kami ketahui, Tosari ini adalah kampung di puncak pegunungan. Hasilnya, dua jam perjalanan kami tempuh dengan perut teraduk-aduk isinya. Sebab jalannya gak ada yang lurus. Tapi berbelok semua. Untunglah saya selamat gak sampai muntah wkwkwkwk. Karena biasanya ketemu jalan kayak gitu mah isi lambung saya keluar semua :D




Bagian terbaik dan terburuk ada di satu jam terakhir mencapai penginapan. Hujan turun. Gak besar, tapi menambah suasana kelam aja. Lampu jalan ada banyak. Rambu jalan lengkap. Kondisi jalan mulus. Dan ada marka jalan.

Hujan masih turun. Pepohonan berderai-derai. Kabut memeluk. Jalanan gak lagi berbelok-belok, tapi menanjak dan menurun tajam.

Sampai di homestay, waduh rasanya lega luar biasa. Pukul 6 sore waktu itu, rasanya seperti jam 8 malam. Bergegas kami masuk kamar, bongkar tas, cari baju ganti, mandi. Lantas makan.

Anak-anak sudah tidur sementara saya dan Farah saling curhat sampai jam 11 malam. Baru deh tidur. Jam 2 sudah bangun lagi bersiap nonton sunrise di Bromo.

Anak-anak ribet gak diajak ke Bromo? Enggak sama sekali.

Jam 3 subuh udah bersiap, jeep menjemput. Seseorang (yang sepertinya warga lokal) berdiri di depan homestay kami. Rupanya jualan topi dan syal. Waduh saya kan kasihan, dini hari dia udah nongkrong depan homestay berharap kami beli barang dagangannya. Mana gak ada yang nginep selain kami.

Saya beli aja dah kupluknya. Gak nawar. Farah protes. Ya gimana dong saya gak biasa nawar-nawaran wkwkwkwk. Kepikiran aja itu si bapak udah berdiri ngarep-ngarep ada yang beli kan. Kupluk harga 25ribu itu udah saya kasih ke sepupunya Nabil sih. Gak kepake kalo di Bandung. Terlalu tebal.


Menuju Bukit, Menyaksikan Matahari Terbit

Bromo jam 4 subuh penuuuuuh banget! Gila. Jeep sepanjang jalan. Manusia di mana-mana. Ini kita ganggu habitat hutan gak sih kok gini amat penuhnya.

Jeep sewaan parkir di bawah dan kami berjalan hingga kaki bukit. Setengah lima subuh, kami sudah duduk nyaman di sebuah puncak. Entah puncak apa, kami ikuti aja orang-orang berjalan.

Terdengar suara bayi, anak-anak menangis (anak orang bukan anak kami). Hingga pukul lima, makin berjejalan. Nabil kedinginan dan mulai merengek. Kami berpelukan. Saya juga mengigil apalagi anak kecil.

Lantas, gelombang manusia masih berdatangan. Semua orang ingin duduk di posisi paling depan. Saya pikir posisi kami sudah strategis. Sampai datang lagi turis lainnya dan berdiri di depan kami.

Menikmati pemandangan matahari terbit ini seperti pertandingan saja. Semua turis berlomba-lomba ingin paling dekat, ingin berfoto paling bagus, daaaan lain-lain. Menyebalkan. Saya bagaimana? Masih berdiri di posisi yang sama dan terhalang punggung orang lain.

Ada juga yang naik ke pagar. Naik ya, bukan duduk tapi di pagar itu mereka berdiri. BERDIRI. Wong edan manusia-manusia ini. Banal sekali.

Farah minta difotokan. Saya juga memotret diri sendiri. Gelap bergulir agak terang, saya turun mencari titik strategis memotret sunrisenya. Dapat memang. Tapi malahan muncul rasa terharu. Indah sekali pemandangannya. Satu menit kemudian baru saya foto.

Setelah itu ya sudah pemandangannya tinggal dinikmati tanpa kamera. Tapi masih susah duduk bersantai menikmatinya. Sebab orang-orang masih berdiri. Bila saya duduk, hanya lutut dan bokong yang nampak. Hahaha.

Saya harus cari uang lebih banyak. Niat kaya raya akhirnya satu aja: menggenggam matahari yang sedang terbit untuk diri sendiri, saya bungkus, saya bawa pulang. Kalo mau lihat lagi, tinggal buka aja bungkusnya.

Tertawa juga saya saat pikiran tersebut melintas. Sebab apa bedanya saya dengan mereka, sama-sama ingin menggenggam matahari untuk diri sendiri.

Kenapa ya manusia ini. Kejar-kejaran dengan alam. Tinggal duduk aja dinikmati suasananya. Kenapa harus berebutan, mengacung-acungkan tongkat swafoto seperti mencolok-colok langit. Monyet-monyet di hutan Bromo geleng-geleng kepala lihat kita.

Ada di sana menonton kebanalan manusia memang kesal. Tapi di satu sisi, panorama matahari terbit ini juga magis sekali. Matahari lahir di antara perbukitan. Kabut yang tadinya tebal, pelan menipis seperti selendang, ya memang bagai selendang. Sejauh mata memandang cuma bukit, savana, kabut, dan berkas matahari. Wah indahnya luar biasa. Membuat kamu merasa kecil dan gak berarti apa-apa.




Pukul enam langit sudah terang benderang. Barulah terlihat sebanyak apa manusia di sana. Banyak sekali hahaha. Ini apa, CiWalk atau Taman Nasional?

Ada warung, ada kamar mandi. Turis dimanjakan. Lapar tinggal jajan. Pengen pipis ada tempatnya. Taman Nasional Bromo Tengger ini beneran wisata kesukaan banyak orang.

Lima mangkuk mie rebus habis. Lima jagung bakar tandas. Farah bergegas, katanya ayo cepat. Kasihan sopir jeep udah nunggu. Tujuan berikutnya: Bukit Teletubbies katanya.

Hah? Bukit apa?




(bersambung)

Buku-buku yang Saya Baca di 2018

January 19, 2019
Tahun 2018 sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Buku yang saya baca masih itu-itu saja temanya. Jumlahnya gak nambah. Ya segitu-gitu juga. Gak itung berapa. Di atas 10 mungkin.

Tiap habis baca buku, otak saya bilang saya harus menulis. Semacam menulis ulang apa yang saya baca. Supaya saya tahu membaca itu gak percuma.

Makin tua, otak rasanya menyusut. Apa yang saya baca, hilang semua. Ya, semua. Karenanya saya mesti tulis hasil bacaan itu, seperti nempelin tombol huruf kuat-kuat di ingatan, bagai mesin tik yang mencetak tinta di kertas.

Sayang waktu juga gak mau jalan pelan-pelan. Waktu terbang. Tahu-tahu sudah sore. Tahu-tahu sudah berganti hari. Tahu-tahu pekerjaan menumpuk. Semuanya jadi tahu-tahu.




Dulu saya menertawakan orang yang bilang 24 jam gak cukup. Sekarang kena karmanya. Tidak ada waktu yang cukup. Manusia yang gak pernah ngerasa cukup. Tiap hari kayak berkejar-kejaran tapi gak dapat apa-apa. Kalo kata Kunto Aji: yang dicari, hilang. yang dikejar, lari.

Ini saya nulis apa sih. Saya kembaliin ke judul di atas. Buku-buku yang saya baca di tahun 2018:

1. Aroma Karsa - Dee Lestari
Tiga hari tamatin bukunya. Cerita yang brilian! Ga ada pola cerita yang baru ya kayaknya. Isi bukunya mirip-mirip Supernova yang terakhir. Tapi ya tetap aja gelo kisahnya si Jati ini. Dee Lestari ga pernah gagal kalo bikin novel. Saya teh satu aja yang gak suka dari mba dee: puisinya.

2. Seri tokoh: Chairil Anwar
Membaca buku-buku seri tokoh dari penerbit GPU ini, saya bertanya-tanya. Waktu di sekolah dulu kenapa gak belajar sejarah kayak gini aja sih. Hiks. Kalian tahu gak sejarah hidupnya Chairil Anwar? Parah ini orang nyentrik abis. Saya bahkan gak tahu kalau ia adalah bangsawan!

3. Midah Simanis Bergigi Emas
Kisah yang tragis. Bukunya tipis karenanya bisa baca sekali duduk. Kisahnya pahit. Latarnya Jakarta di tahun 50an.

Midah anak pak haji kaya raya dinikahkan dengan orang yang ia gak cinta. Kabur, Midah sudah berbadan dua. Ia hidup di jalanan, bergabung dengan grup pengamen. Terus terang aja capek baca kisah-kisah perempuan seperti Midah. Capek batin.

4. Seri tokoh: Sjahrir
Baca buku ini tuh makin menjelaskan bahwa yang namanya politik ribet abis!

Siapa yang bermasalah dengan tokoh manalah, cara ambil keputusan yang berbeda-bedalah, sudut pandang yang bersebranganlah, perspektif yang sama tapi bedalah. Rumit banget.



"Sjahrir adalah pemimpin besar yang pantas memimpin republik," kata Jenderal Soedirman pada Hamengku Buwono IX. Sementara itu Sjahrir dan Soedirman adalah orang yang selalu bersebrangan dalam mengambil keputusan. Yang satu senengnya selesaikan masalah secara frontal, yang satu lagi lebih seneng berdiplomasi.

Selesai baca buku-buku kayak gini memberi kesan pada saya: banyak politisi zaman sekarang yang sangat amatir dan bodoh.

5. Mata yang Enak Dipandang: Ahmad Tohari
Haduh baca buku kayak gini perlu sekali, supaya kaki tetap berpijak ke bumi. Target pekerjaan diraih, pencapaian hidup berhasil, traveling keliling dunia, followers banyak, jadi panutan. Banyak hal membuat kita bangga dan jumawa. Kita lupa kita orang yang beruntung. Sebab kita bisa milih. Bisa memilih adalah rezeki.

Ini saya nulis apaan sih...zztttt...

6. Yang Kuat Yang Kalah : Rama Surya (buku fotografi)
"dari tiga rol yang saya pakai, hanya empat foto yang didapat" - Rama Surya

7. Alaya Cerita Dari Negeri Atap Dunia - Daniel Mahendra
Ah buku ini saya bikin resensinya. Cukup panjang tulisannya untuk orang yang lama sudah gak nulis resensi buku. Buku menarik yang juga rada-rada narsis. Maafkan istilah bila terkesan kasar. Baca resensinya di sini.

8. Tanah Air yang Hilang - Martin Aleida
Ini buku terbaik yang saya baca di tahun 2018. Buku yang mengagumkan. Saya menulis resensinya. Baca di sini. Panjang mah enggak, tapi lebih panjang dari semua tulisan berita di Tribunnews.com.

Buku yang berkesan sebab penulisnya sendiri korban keganasan 65. Kisah eksil ditulis dengan romantis dan bergaya masa lampau.

9. Rijsttafel - Fadly Rahman
Bukunya sudah saya baca tapi belum saya review. Akan saya tulis resensinya. Entah kapan. Bulan depan mungkin hueheuheu. Dalam buku disebutkan ada empat makanan favorit orang kolonial, satu di antaranya adalah pisang goreng.

10. Jelajah Rusia dengan Trans Siberia - Kurniawati Setyaningrum
Saya ingat membeli buku ini dengan poin traveloka. Bila ada buku yang judulnya menyinggung-nyinggung 'kereta api', sudah saya gak akan mikir untuk beli bukunya.

30 hari, 13 kota, penulis menjelajahi daratan Rusia dengan transportasi kereta api. Dan itu kali kedua ia bepergian dengan rute yang hampir sama dengan sebelumnya, hanya beda kota berangkat/titik finisih. Lupa lagi kota yang ia maksud, Beijing apa ya.

Selain tripnya yang menarik, cerita yang jadi latar perjalanannya bagi saya cenderung membosankan. Buku bagus jadi pegangan untuk jalan-jalan. Tapi sebagai buku yang menuturkan kisah manusia, tidak banyak yang saya pungut ceritanya.

Walo begitu, saya menjadikannya koleksi. Suatu hari saya akan gunakan rute penulisnya untuk saya praktekan.

Dan beberapa buku lainnya:

Kisah Para Preanger Planters
Nice Boys Dont Write Rock n Roll
Sepercik Keindahan Dalam Kegelapan
Semasa
Cerita Dari Digul
Ada dua buku lagi, lupa judulnya.

Saya tulis resensi pendek buku-buku tersebut di instagram @bandungdiary. Memang enak nulis di media sosial, gak perlu buka-buka dashboard seperti ini blog.

Ngomong-ngomong, ada buku-buku yang saya tidak selesaikan. Alasannya kenapa, saya juga lupa. Gila sudah setua ini saya bahkan saya lupa kenapa lupa. Menyedihkan memang.

Tahun 2019 sudah berjalan 19 hari, saya sudah membaca dua buku. Buku seperti tombol 'pause'. Rehat. Seperti mendengar musik dan menghayatinya, begitulah definisi rehat bagi saya.


Playlist Tahun Baru: Seperti Rahim Ibu

January 18, 2019
Waktu untuk menulis gak banyak. Sekalinya ada, rasanya pengen nulis segala macam. Ini saya aja yang kayak gini atau kalian yang umurnya di atas 30 merasa hal yang sama? kayak energi terkuras lebih cepat. Betapa saya kangen energi di kala umur 20an yang gak habis-habis, ide ngocor seperti keran jebol, dan penuh antusiasme optimisme. Menggebu-gebu.

Ke mana perginya itu semua? disedot cucian piring? dimakan tagihan listrik? digilas uang bulanan untuk mengisi naga-naga di perut? ke manaaa coba saya tanya...


Sekarang nih udah dipaksa banget untuk bikin post di blog. Aslinya sih saya mau ngurusin blog-blog yang copy paste semua tulisan dan foto-foto saya. Mau dibiarin, kepikiran terus. Dilaporin ke google pun ada waktu yang terpakai.

Ujung-ujungnya di sinilah saya, naro playlist...

Ya. Saya juga mempertanyakan prioritas. Ah persetan prioritas lah. Nih playlist saya barangkali mau tahu. Heuheuheu.

1. The Joke - Brandi Carlile
2. Seperti Rahim Ibu - Efek Rumah Kaca
3. Bicara - TheOvertunes feat. Monita Tahalea
4. I'll Never Love Again - Lady Gaga
5. Antara Kita - Monita
6. Yellow - Katherine Ho (i know...ini lagunya sweet sekali, mesti nonton filmnya untuk suka versi Yellow berbahasa mandarin ini :D).
7. Say Something - Justin Timberlake & Chris Stapleton
8. Rehat - Kunto Aji
9. Sign of The Times - Harry Styles
10. Blackbird - Sarah Mclachan

Selamat tahun baru!

Review De Braga by Artotel di Bandung

January 13, 2019
Hotel baru di Bandung. Lokasinya tepat berada di gedung Sarinah dahulu berada. Pada tahu Sarinah kan? Toko legendaris di Indonesia, department store pertama di negara ini. Idenya berasal dari Soekarno. Sarinah yang saya ingat adalah toko yang luas banget dalemnya dan memajang produk-produk kerajinan lokal.

Setelah 7 tahun (atau 10 tahun?) Sarinah 'tidur', nah sekarang Sarinah muncul lagi. Namun keberadaannya gak sendiri. Sebab ia berkolaborasi dengan hotel bernama De Braga by Artotel.



Ke sanalah saya berkunjung, melongok hotel tesebut dan Sarinah sekaligus. Baiklah gak perlu berlama-lama, ini review hotel De Braga by Artotel.

ROOM

Ada tiga tipe kamar di sini: Studio 25, Studio 35, dan de Braga Suite. Angka tersebut menunjukkan luas kamarnya. Suite tentu saja yang terluas dan ternyaman. Coba saya jabarin satu-satu kayak apa kamarnya. Let's go!

Studio 25

Kamar yang harganya paling ekonomis. Luasnya kira-kira 5x5m (kurang dikit). Untuk mendapat kamar dengan jendela yang mengarah ke pemandangan oke, kamu cantumin aja di remarks/special request pemesanan kamar hotel. Mudah-mudahan dikasih kamar dengan best view. Waku saya lihat kamarnya, jendela mengarah ke kolam renang.

Untuk keluarga kecil atau pasangan muda tanpa anak, kamar ini terbilang cocoklah. Kalo diperhatiin, kamar hotel di sini dibuat ala milenial: compact. Gak ada ruang yang kebuang percuma. Dibilang sempit ya memang.

Ranjang ukuran queen dengan bantal dua biji. Jarak dari ranjang ke televisi enak juga, gak bikin mata jereng atau leher pegal.

Lantas kamar mandinya bagaimana? standar aja shower+toilet. Kamar mandinya gak sempit, leluasa kalau mau pake berdua sekaligus.

Coba dilihat poster ini untuk tahu fasilitas di kamarnya apa saja. Ada hair dryer dan bisa rikwes bathrobe.



Studio 35

Nah ini luas kamarnya oke. Udah gitu ruangannya terbagi tiga: ranjang, meja kursi (semacam dining table), kamar mandi.

Sepengalaman saya menginap di hotel, saya gak butuh dining table seperti itu. Tapi mungkin kerasa fungsinya ya, buat naro barang belanjaan misalnya. Atau tas-tas kita. Lemari untuk simpan barang mah ada, tapi kita cenderung suka naro begitu aja di alas yang terdekat dengan pintu. Iya gak sih :D

Ranjang di sini masih ukuran queen. Tapi mungkin bisa rikwes kalua mau ranjang ukuran king, coba aja dulu :D

Jendela di kamar ini viewnya oke. Karena lantainya lebih tinggi dari kamar Studio 25 kali ya. Suasana kamarnya juga nyaman. Artotel ini menyediakan kamar dengan dekorasi mural di satu/dua dinding. Jadi ya, menambah semarak mood kamar tapi gak bikin kita terganggu. Lebih artsy aja jadinya.

Fasilitas di kamarnya apa aja?



de Braga Suite

Kalo mau kamar dengan kamar mandi yang ada bathtubnya, nah bookinglah kamar ini. Cocok untuk pasangan bulan madu, traktir orang tua, booking untuk bos dan keluarganya :D

Pemandangan dari kamarnya, wuih jangan ditanya. Hahaha. Seru! Bisa lihat Braga dan Asia Afrika.

Harga memang gak bohong. Kalau di apartemen, kamar ini udah disewa jadi 'rumah'. Sofanya aduduh enak banget! Kalo mau tidur tinggal naik ke ranjangnya yang ukuran king.

Fasilitasnya di kamarnya lebih semarak juga, termasuk ada bathrobe, complimentary berupa buah-buahan. Amenities juga jauh lebih lengkap, termasuk fasilitas buat nyetrika.





FOOD

Saya nyicipin sarapan di Artotel Braga. Oh tunggu, 'nyicipin terdengar irit. Saya makan besar di sini! Apa aja menu sarapan di hotel de Braga by Artotel?

Buanyak!


makan ronde pertama


Prasmanan menu lokal ada. Ada dua table malahan.
Menu sarapan ala western juga pasti ada.
Buah-buahan.
Aneka salad.
Dessert berupa puding dan pastry bakery (sampe kue Ali Agrem juga ada, hayooo tahu gak Ali Agrem kayak apa? hihihi).
Air minum standar mah ada, tapi ada pilihan jus tiga macam: apel, jeruk, mangga.

Ditambah di weekend ada menu nasi tumpeng. Sarapan mewah meriah!

Restonya juga nyeni. Muralnya sampe ke sini. Seperti hangout di kafe. Resto terbagi dua ruangan: indoor dan outdoor. Kalau cuaca cerah, cobalah makan di outdoornya. Kemarin saya dan teman-teman bersantap di sini. Rasanya seperti sedang piknik.

Sewaktu sarapan di sana, saya mencoba Ayam Mentega dan Kailan Saus Tiram. Terima kasih, Chef Artotel Braga. Enak banget masakannya saya nambah duakali!


LOCATION

Lokasi de Braga by Artotel sudah jelas ada di Jalan Braga. Di seberang Museum Konperensi Asia Afrika. Kalo kamu mau jalan-jalan di kota dan menginap di sini, posisi hotelnya udah strategis banget.

Gak usah kena macet, kamu udah bisa jelajah bangunan kuno sepanjang Jalan Asia Afrika, masuk ke museum, nongkrong di Alun-alun. Lalu kamu susuri Jalan Braga. Masih jalan kaki, dekat banget soalnya. Eh bukan dekat lagi lha hotelnya ada di Jalan Braga kok. Hehehe.



Pengen jalan-jalan rada menjauh, kunjungi Balaikota. Menurut saya sih dari Artotel Braga ke Balaikota masih dekat, tapi bila malas berjalan kaki tinggal pesan ojeg online. Ongkosnya palingan 5ribu doang, dengan promo bisalah 2ribu :D

Mau ke Dago? Haduh ini masih dekatlah. Jika terasa jauh ke mana-mana sewaktu kamu berlibur di Bandung, itu karena macet saja. Dari Braga ini relatif dekat ke mana aja sekitar kota. Ke Lembang mah baru jauh. Heuheu.

Coba dibaca dulu tulisan saya tentang Jalan-jalan di Bandung 2 Hari 1 Malam ini, ada itinerary segala termasuk jalan-jalan di Braga.


SERVICE

Saya baru mencicipi fasilitas sarapan di sini dan menurut saya pelayanannya oke. Gak ada komplen. Ramah sudah pasti. Sigap tentu saja.


FACILITES

Kolam renangnya! Mesti disebut duluan hahaha. Ukurannya gak besar-besar amat tapi masih cukup. Kayaknya kalo weekend bakal penuh sih kolamnya. Tersedia kolam renang untuk anak-anak.



Sepeda yang bisa kita pinjam untuk jalan-jalan. Gratis.

Terrace Caffee sebagai tempat nongkrong di tepi Jalan Braga.

Sarinah tentu saja. Dengan bobot legendanya, menurut saya lebih oke kalau Sarinah ditempatkan di depan hotel, sebelah-sebelahan mungkin dengan Terrace Caffe. Sebab namanya menyedot perhatian, bagus untuk berfoto dan dijamin ramai di media sosial. Begitu juga isi tokonya. Produknya bagus-bagus banget! Jadi pejalan kaki dan pengunjung umum bisa berbelanja di sana. Saat ini posisi tokonya ada di dalam hotel. Hanya tamu hotel saja yang dapat masuk ke Sarinah.



Meetspace yang artsy. Ada empat ruang meeting di sini dan semuanya bagus-bagus banget! Tiap ruangan terpisah sekat dan bisa dipake untuk resepsi pernikahan.



semacam art gallery yang dikelilingi meetspace

Saya suka ruang meetingnya. Gak sempit, well-designed, warna dinding dan dekorasi ruangan yang simpel tapi gak terkesan kosong dan gak membosankan. Belum lagi lokasi meetspace ini satu lantai dengan artspacenya Artotel Braga. Kesannya jadi jauh dari kaku dan dingin. Ini kalo kamu suka bikin acara, saya rekomendasikan tempat ini. Coba dikontak Artotel Braga berapa gitu harga sewanya :D

Dolce Gusto. Saya udah sebut belum sih di tiap kamar disediakan Dolce Gusto? Itu lho mesin kopi masa kini. Harganya kopinya sudah termasuk harga kamar jadi gak ada biaya tambahan. Ini fasilitas unik yang juga tambahan sih, sebab fasilitas standar tiap kamar seperti kopi, teh, gula, dan air putih udah ada.



PRICE

Harga kamar mulai dari 500.000+++ sampai 1.300.000+++. Harga termasuk sarapan. Bukan harga yang fantastis untuk ukuran Braga. Tinggal dicocokan dengan isi dompet kita.

de Braga by Artotel
Jl. Braga no. 10
www.debragahotel.com


Petunjuk Arah ke de Braga by Artotel?

  1. Minta bantuan googlemap, ketik aja de Braga by Artotel di mapnya.
  2. Atau pesan taksi online/konvensional.
  3. Lokasi hotel tepat bersebelahan dengan Bank Jabar, bersebrangan dengan Museum KAA.
  4. Gak ada angkot yang lewat tepat di depan hotelnya. Bila menginap di sini, asumsi saya bilang kamu gak mungkin naik angkot :D