Image Slider

Akhirnya ke Farmhouse

October 18, 2017
Mendung di Bandung waktu itu. Sekitar dua minggu lalu hari rabu. Pernah gak sih mood acak-acakan, rasanya kesal dan stress, terus secara acak kamu pergi ke satu tempat tanpa mikir?

Nah ke Farmhouse lah saya hari rabu itu. 

Tanpa macet saya dan Nabil sampai di Farmhouse. Naik angkot dari rumah. Dekat kok cuma 5km jaraknya dari rumah, ongkos angkot cuma 3ribu. 

Sedekat itu jarak saya dengan Farmhouse, baru sekarang saya ke sana. Setelah kehebohan Farmhouse selama dua tahun ini di jagad wisata Bandung. Hahaha.


Farmhouse di hari kerja, bukan musim liburan, dan di bawah jam 12 siang, rupanya sudah ramai pengunjung. Bahkan ada rombongan tur anak sekolah dari Wonosobo :D 

Gila bukan hari libur saja sudah ramai begini. 

Namun kami masih leluasa berjalan kaki. Sesekali berhenti menunggu yang berfoto. 

Farmhouse memang cantik ya. Saya harus akui. Semua sudutnya dirancang jadi latar foto. Legit pemandangannya. 

Dari pintu toko yang cantik dan aneka bunga-bunga menawan warnanya. Saya saja tidak berhenti foto-foto. Hahah. 

Tapi pemandangan kontras dengan keindahan ini saya lihat di dek Farmhouse. Sebuah dek yang menghadap ke perbukitan dan ladang warga. 

Berdiri di sana, semua orang berfoto ria. Sesekali memandang pemandangan kota Bandung di kejauhan. 

Di sisi luar Farmhouse, agak jauh sih jaraknya, saya menyaksikan tumpukan sampah. Bukan sedikit, tapi buanyaaaakkkk. Seperti air terjun bentuknya.

Di sisi kiri dan kanan ada sedikit pemukiman warga. Terbuat dr triplek kayu, rumah-rumahnya doyong seperti mau rubuh. 

Risih juga saya foto-foto di dek tersebut. Kami turun saja dan beranjak ke restoran, mau makan sekalian tukar kupon tiket masuk. Lumayan diskon 25K. 

Ternyata kuponnya cukup untuk nutupin harga pajak makanan. Ahahah. Kami menyantap spagheti carbonara dan grill chicken. Rasanya gak enak. Porsi banyak. Harga mahal. Seporsi 40-50ribu. 

Satu-satunya yang saya sukai dari restorandi Farmhouse adalah dekorasinya. Seperti pemandangan resto yang saya lihat di Eropa (melalui Instagram lah, iraha boa urang ka yurop, can pernah kaditu. Hahah) dengan sentuhan tropis dari tegelnya. 

Lucu banget tegelnya. Membuat saya bertanya-tanya, tegelnya asli atau sengaja bikin gaya tempo dulu gitu yak. 

Keluar restoran dengan perut yang kenyangnya gak jelas (karena rasa makanan yang gak enak), beberapa orang saya perhatikan mengenakan kostum ala peternakan. Beriringan mereka berjalan kaki. Eugh siapa yang mau pake baju kayak gitu selain mereka, pasti gak ada, pikir saya dalam hati. Ternyata banyak sekali yang pake kostumnya dan berkeliling Farmhouse! Heuheuheu. Jujur aja kostumnya terlihat ridiculous atau sayanya aja yang cupet. Idk lah. 

Anyhow, berkeliling Farmhouse membuat saya sadar kalau tempat wisata ini memang menarik. Lucu. Keren. Indah. Bagus. Gak aneh kalau semua paket wisata di Bandung ini itinerarynya pasti aja berkunjung ke Farmhouse. 

Lihat saja, saya yang butuh hiburan sejenak bisa terhibur karenanya. 

Walo begitu, saya pikir Farmhouse bila sedang ramai-ramainya pengunjung sebaiknya hindari saja. Iya yang saya maksud pas musim liburan atau akhir pekan. Bahkan untuk berjalan pun sepertinya bakal sulit. Saking penuhnya orang. Saya beranjak pulang dari Farmhouse tepat jam 12 siang, itu pun suasananya sudah terlalu ramai bagi saya. 

Selain tempatnya yang cantik, saya rasa bunga-bunga yang ada di Farmhouse mengobati rasa stres yang waktu itu melanda saya. Tenang banget bisa lihat warna-warni alami. Seneng. Juga karena datangnya pagi dan di hari kerja, saya bisa berjalan kaki keliling tanpa terhalang-halang kaki orang lain. Mau berfoto juga bebas, gak ada antrian. 

Dua jam yang menyenangkan di Farmhouse. 
















Foto: Ulu
Teks : Ulu

Upeti untuk Nabil: Gembira Loka

October 16, 2017
Ini gak tahu ya saya dan Indra orang tua egois atau enggak. Tiap kali bepergian Nabil kan selalu kami ajak. Masalahnya kami sangat jarang mengunjungi tempat yang khusus untuk anak-anak.

Begitu juga kalau sedang main ke mall. Sesekali saja ke Gamemaster ajak Nabil main di sana, sebulan sekali juga jarang. Seperti di Yogyakarta, semua tempat yang saya kunjungi bukan children friendly banget.

Tapi buat saya mah konsep children friendly seringnya masalah perspektif aja. Kalau Nabil bisa lari-lari di lapangan di depan Masjid Gedhe Kauman, ya buat saya dia sedang bermain dan senang-senang. Nabil juga saya biarkan injek-injek kubangan air. Airnya juga bersih lah. Heuheu.

Walo begitu, ada juga bisikan dalam batin yang bilang sebaiknya saya kasih upeti untuk Nabil. Sebagai ungkapan terima kasih karena sudah berbaik hati menemani ibu dan ayahnya jalan-jalan ke tempat yang gak-anak-kecil-banget.

Setelah kami ke Masjid Syuhada, Kota Baru, Los Bunder, Kauman, dan beberapa masjid lainnya, di hari ke tiga saya putuskan ajak Nabil ke Gembira Loka. Kebun binatangnya Yogyakarta.



Di atas angkutan Grab yang melaju, saya bilang sama Nabil. "Kita mau ke kebon binatang, Bil,".

"Hah? Beneran, Mah? Asyiiiiikkk!" Mukanya lucu banget lol!

Hahaha. Aduh Bil, maaf ya jarang nih ibu kamu ajak-ajak ke tempat kayak gitu. Heuheu.

Gembira Loka tutup jam 4 sore. Kami ke sana pukul dua siang. Cuaca di Yogyakarta sedang bersahabat. Adem. Lucunya bukan cuma Nabil yang seneng keliling Gembira Loka. Saya jugaaaaa hahahahahah.

Gembira Loka ini gak kayak yang saya harepin. Ah paling biasa aja lah kayak kebon binatang kebanyakan. Nyatanya adalah dia bagus banget. Eh ralat: BAGUUUUUSSSS BANGEEETTT!

Bersih, teratur, layak, aman, luaaasss, rindang, informatif, banyak tempat sampah, ada bis kalau capek, banyak stasiun bis, aneka koleksi binatangnya juga banyak ya.

Di mana-mana ada pepohonan sehingga berjalan kaki pun rasanya teduh. Kalau capek, bisa selonjoran. Ada beberapa titik kantin dan semua kantinnya rapi dan bersih.

Ngomong-ngomong kebaikan Gembira Loka di atas itu saya lagi bandingin dengan kebon binatang di Bandung sih yang busuknya luar biasa. Heuheuheuheu...

Masuk ke Gembira Loka, kami dibekali peta lokasi. Saya ajak Nabil naik bis dulu, pemetaan lokasi gitu lah biar saya tahu seberapa jauh nih kalau jalan kaki. Beres keliling 1 putaran, saya ajak Nabil lagi, mau gak keliling lagi tapi jalan kaki. Eh dia mau. Ya uwis kami keliling Gembira Loka dua kali deh. Wkwk.

Paling seneng bisa lihat Harimau Sumatera. Kebanyakan binatang di sana yang saya lihat kayaknya sedang leyeh-leyeh :D males-malesan gitu kayak abis makan kekenyangan. Makna-tidur-makan-tidur. Life is good, eh?

Sore yang menyenangkan di Gembira Loka. Nabil seneng banget dan selama satu bulan lamanya sejak plesiran kami itu, dia bahas Gembira Loka melulu wkwk.

Tolong jangan sebut kasihan lihat binatang dikrangkeng, oh saya juga kasihan. Seharusnya mereka ada di habitat aslinya. Tapi lihat kondisinya di Gembira Loka, saya pikir mereka akan baik-baik saja.














Foto : Ulu
Teks : Ulu

Terpukau Kauman Yogyakarta

October 10, 2017
Sudah saya niatkan hari kamis itu waktunya mengunjungi beberapa masjid kuno di Jogja. Saya pergilah ke Masjid Gedhe Kauman. 

Buku panduan yang saya baca menyarankan untuk mengunjungi Kauman, letaknya di belakang Masjid Gedhe Kauman. Sekalian gitu lah. 

Ini pertama kalinya saya ke Kauman, kampung kecil di dekat Keraton. Begitu juga Alfian a.k.a Aan, kawan sekaligus pemandu saya yang wong asli Jogja. 

Kauman Yogyakarta ini melebihi ekspektasi saya. Saya pikir kampungnya kecil sajalah, terdiri dari segelintir rumah. 

Eh gak tahunya banyak juga ya rumah di sana. Saya juga kira yah paling gitu-gitu aja lah rumah kunonya. Ternyata rumah kunonya banyak banget dan bagus-bagus sekali! Dan juga jendela pintunya itu lho, wow cantik banget. Gak pernah lihat yang kayak gitu, selain di Kauman.


Kesan pertama saya terhadap kampung kuno nan mungil ini adalah : BERSIH BANGET! Sepuntung rokok pun gak ada. Seonggok plastik nihil. Bersih dan resik. Rumah di sini saling menempel dan padat tapi rapi banget. 

Jalan di dalam kampungnya hanya muat untuk motor. Bahkan motor pun gak boleh nyala mesinnya, dorong aja. Orang Jogja ini nurut ya kalau dikasih aturan. Gak kayak orang Bandung, ngeyel banget, gak boleh nyalain mesin motor di dalam gang eh tetep aja tuh pada nyalain. 

Kesan ke dua tentu saja pada deretan rumah kunonya. Kalau ditilik-tilik, gak ada rumah berjendela dan berpintu sama. Warna warni catnya tapi kalem tonenya. Dekorasinya juga aduh sedap dipandang. Craftmanship orang zaman dulu ini bikin geleng-geleng kepala. 

Kauman dihuni oleh ulama-ulama yang jadi imam di Masjid Gede Kauman atau masjid di dalam Keraton. Entah sejak kapan kampung ini mulai ada. Masjid Gedhe sendiri berdiri sejak tahun 1773. Berarti Kauman udah setua itu ya. 

Di tahun 1900-1930, produksi dan penjualan batik sedang bagus-bagusnya. Istri-istri para ulama ini berbisnis batik dan menuai hasil yang banyak. Hasilnya kesejahteraan warga di Kauman meningkat dan mereka mulai memperbaiki penampilan rumahnya. 

Rumah yang tadinya ala-ala rumah kampung yang sederhana berubah jadi rumah yang lebih mewah. 

Dindingnya dibangun dari tembok. Temboknya bertingkat. Ada serambi terbuka. pilar-pilar khas Eropa, sampai dengan jendela dan pintu ganda. Kampung yang tadinya tertutup, mulai terbuka apalagi terhadap pembatik dari luar wilayah Kauman. 

Menyusuri Kauman, kami sering berhenti untuk menatap lekat daun jendela dan pintunya. Mengagumi bentuk terasnya yang mungil dan meneduhkan. Terasnya dibuat seolah-olah mempersilakan siapa saja untuk duduk di sana. Warga Kauman kalau sore hari pada nongkrong kali ya di teras rumah dan ngobrol dengan tetangganya, dari teras rumah masing-masing tentu saja. 

Kami juga berfoto (tentu aja hahaha, Aan yang motoin saya dan Nabil).

Di Bandung juga ada Kauman, namanya Dalem Kaum. Lokasinya di belakang Masjid Agung di Alun-alun Bandung. Tapi kondisinya beda jauh dengan yang saya saksikan di Yogyakarta.

Dalem Kaum sekarang modern banget, jadi tempat belanja. Tempat bersejarah di sini hanyalah kompleks makam bupati Bandung, Wiranatakusumah II (cmiiw).

Kok ya sedih ya kalo membandingkan kondisi kauman di Jogja dengan di Bandung...

Kembali ke Kauman Jogja deh.

Kami mampir ke warung kelontong, sengaja sih karena si warung menempati rumah yang sangatlah antik. Ya siapa tau bisa ngobrol dengan pemilik rumah

Untung ngajak Aan ke sini, sebab dia yang ngobrol dengan penjual sekaligus pemilik rumah. Seorang nenek yang mengaku membeli rumah dua lantai di Kauman seharga 70 juta di awal tahun 2000an. Beliau sendiri mengaku bukan orang asli Kauman.

Pintu rumah beliau ini tercantik di Kauman menurut saya mah. Ada tiga pintu yang triplet (iya pintunya lapis tiga) berjajar, tinggi-tinggi. Satu pintunya terbuka dan jadi warung. Dua lainnya tertutup. Tiap pintu dekorasinya berbeda. Indahnya luar biasaaaaa! 

Terus di ujung Kauman kami jajan makanan. Warungnya doyong ke depan seperti mau rubuh. Makanannya mulai dari bihun, ayam goreng, ikan lele goreng, tahu baem, sayur asam, dan aneka makanan berat lainnya. Dapurnya kelihatan alias open kitchen dan mereka masih masak pake anglo. Menyesal saya jajan dikit, gila enak semua makanannya uhuhuhuhu salah satu warung makan terenak di Yogyakarta! 

Di sini pula saya bisa menyaksikan jejak Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Wah apa kata almarhum ayah saya kalau dia tahu saya menginjakkan kaki di tanah kelahiran dari orang yang beliau kagumi ya...

Woh jujur aja rasanya ajaib juga sih, seumur hidup saya merasakan jadi anak dari keluarga yang Muhammadiyah banget, baca sejarahnya Ahmad Dahlan pula, terus saya ada di sebuah tempat di mana Muhammadiyah lahir. Saat itu rasanya kangeeeeen sekali sama almarhum ayah saya... 

Padahal niatnya mau lihat Kauman aja, gak nyangka perasaan saya saat mengunjunginya terasa jauh dan dalam dari sekadar melihat rumah antik. Senang tapi ada sedihnya. 

Ngomong-ngomong, kalau ke Yogyakarta, mampirlah ke Kauman. Hirup udara sejarah di sana. Tip dari saya: jangan berisik, tetap hormati warganya dan keheningan di sana. 




























Teks : Ulu
Foto : Ulu, kecuali foto kami berdua itu difoto Aan

Sebentar Saja di Kota Baru dan Berlama-lama di Los Bunder

October 09, 2017
Berjalan kaki di kota Yogyakarta itu sulit, kawan :D

Wilayah yang ramai turis sih nyaman jalan kakinya. Keluar dari sekitar Malioboro, ah semacam pertaruhan nyawa. Baru mau nyeberang sudah diberondong klakson. Orang Jogja nih kalau sudah naik motor gak ada yang selow.

Ngomong-ngomong, kembali ke jalan-jalannya Bandung Diary di Yogyakarta. Kami menghabiskan sore pada hari rabu di awal Agustus di sekitar Kota Baru. Alfian Widi masih jadi penunjuk jalan dan pemandu.

Dari Museum Sandi, jalan kaki ke kawasan Kota Baru deket banget. Masih di wilayah yang sama sih.

Kota Baru ini dahulunya pusat pemukiman orang-orang Belanda di Jogja. Wilayah kolonial. Karena itu kawasannya kental rumah-rumah bernuansa Eropa. Beda dengan wilayah Jogja lainnya yang diperuntukkan bagi pribumi.

Memang tata kotanya di sini terasa lebih rapi. Di sisi jalan banyak pohon besar. Suasananya asri dan teduh. Kalau di Bandung mirip daerah sekitar Gedung Sate atau Dago.

Di sini ada rumah yang dibangun tahun 1918. Kalo dari buku yang saya baca, rumah tersebut dibangun untuk anggota keluarga keraton dan sampai sekarang masih dihuni keturunannya. Memang selain orang kolonial, kawasan Kota Baru jadi tempat tinggal kaum menak pribumi juga saudagar Tionghoa.

Susteran Darah Mulia

Terus ada juga gereja katolik, Kolese St Ignatius, dibangun tahun 1923. Bagus bangunannya ada menaranya gitu. Di seberang gereja tersebut ada bangunan yang amat sangat cantik. Menaranya dua dan pintu gerbangnya terbuka, masuklah kami ke dalamnya. Ke dalam halamannya saja.

Dahulunya vila milik Liem Han Tjioe, dibangun tahun 1920. Baru deh tahun 1966, bangunan ini diambil alih Suster-suster Darah Mulia jadi biara.

Bangunan lainnya entah apa dan bagaimana sejarahnya. Kami hanya melihat sebentar abis itu pergi. Bagus-bagus sih yang pasti mah arsitekturnya. Banyak yang tertutup pohon besar dan pintu gerbangnya tertutup.

Gak banyak berfoto di sini kami mah euy. Sebentar aja di Kota Baru. Gak ada satu rumah/gedung yang kami masuki. Mampir sebentar ke biara karena bangunannya cantik sekali. Seperti semua bangunan yang dipelihara yayasan kristen, kondisinya sangat terawat.


Karena Los Bundar di Indonesia Hanya Ada Dua, Salah Satunya di Yogyakarta

Abis itu ceritanya sore masih terlalu muda. Aan ajak kami ke Los Bunder (Los Bundar istilahnya dalam Bahasa Indonesia, orang Jogja bilangnya Los Bunder).

Kami putuskan ikut ajakannya. Sayang kalau langsung balik ke hotel mah euy.

Los Bunder itu bangunan milik Kereta Api Indonesia yang digunakan untuk menyimpan lokomotif. Bayangkan sebesar apa bangunannya :D

Kalau teman-teman pernah lihat serial kartun Chuggington, nah tempat si para lokomotif itu pulang dan istirahat namanya Los Bundar.

Kalau kami lihat dari luar, bentuk bangunannya mirip stadion sepakbola. Bentuk bangunannya bulat, tinggi, dan besar. Berkedok ingin memotret dalam rangka lomba fotografi, oleh satpamnya kami dibolehkan masuk ke dalam Los Bunder.

Dan di dalamnya saya bisa lihat Turntable!

Aaahhhkkkk senangnya bisa lihat langsung jejak peninggalan kereta api di masa lampau! Turntable ini dipake untuk memutar lokomotif atau menggeser rel. Turntable biasanya ada di tengah los bunder. Saya pernah lihat juga Turntable di Bandung, tapi los bundernya udah gak ada.

Di dalam Los Bunder, turntable di tengahnya

Los Bunder ini cuma ada dua di Indonesia. Satu di Yogyakarta, satunya lagi di Sumatera, di Tebing Tinggi kalau gak salah (cmiiw).

Terus kami gak bisa foto Los Bunder secara keseluruhan. Butuh kamera lensa besar sementara kami bawa lensa 35mm ajah :D

Ah yasudahlah. Melihat Los Bunder dan Turntable sepuasnya, kami merasa cukup dan beranjak ke tempat berikutnya: rumahnya Aan!

"Rumah saya dibangun tahun 1929, Lu." Semacam kalimat pemancing itu mah euy hahaha. Ternyata rumahnya berada di lingkungan pegawai Kereta Api Indonesia. Sejak tadi Aan ini emang mengobral cerita masa kecilnya dengan kereta api.

Rupanya bapaknya Aan ini pensiunan PJKA (nama dulu sebelum KAI). Sekeluarga mereka menempati rumah dinas yang umurnya hampir satu abad. Rumahnya pun masih 80% asli kayak dulu.

Khas banget lah rumahnya. Pagarnya aja masih kayu. Halaman depannya ada pohon asam yang guedeeeee banget.

Dari teras sampai dapur, Aan bawa kami room tour. Bahkan ke kamarnya yang gila luas amat. "Pernah ada 15 orang tidur di kamar ini," kata Aan. Ranjangnya saja masih super jadul dengan kelambu. Bahkan chandeliernya juga klasik amat. Dari lantai sampai langit-langit, masih orisinil.

Jendela rumahnya tinggi dan besar. Saya coba buka jendelanya, buset berat amat ya. Bukan karena rusak dan sudah tua, tapi karena kayunya yang berat.

Rumahnya Aan, in frame adalah Aan dan Nabil
Lantai rumahnya Aan

Balai Yasa, bengkelnya kereta api

Pohon Kenari yang dicagarkan

Bagian paling seru: sebuah batu di pojok kamarnya.

Di bagian tengah batu terdapat besi, seperti kumparan. Kata Aan, batu itu sudah ada sejak ia kecil. Dari ceritanya, si batu digunakan untuk mengusir makhluk halus.

Wow baru tahu benda kayak gitu untuk usir hantu :D

Sebelum pulang, Aan bawa kami ke bengkel kereta api. Deket banget sama rumahnya.

Di sana saya lihat deretan pohon kenari yang dicagarbudayakan. Suasananya teduuuhh sekali. Damai banget. Kecuali pas motor-motor lewat :D

Kami nongkrong di tepi rel, di depan Balai Yasa Yogyakarta, semacam bengkelnya kereta api. Kami ngobrolin banyak hal yang sekarang saya lupa apa aja yang kita obrolin waktu itu ya, An? Hahahaha :D

Jogja yang hangat (secara harfiah tentu saja :D) dan sinar matahari yang bersahabat. Sore yang menyenangkan di sudut Yogyakarta. Jauh dari keramaian wisata, saya bisa lihat wajah lain dari kota idola turis-turis domestik dan mancanegara ini.

Berikutnya saya mau cerita perjalanan kami di kampung Kauman. Besok ya!




Teks : Ulu
Foto : Ulu, Indra