Image Slider

Dulu Jual Barang Bekas di Halaman Rumah, Sekarang Jual di Prelo!

May 18, 2017
Saya kecapekan. Abis beresin koleksi buku. Satu lemari. Enggak, bukan rak buku yang unyu-unyu mungil ya. Saya lagi ngomongin lemari buku yang lebarnya 2 m, tingginya 3 m 😁

Kalau ada barang-barang numpuk di rumah, buat saya mereka adalah buku. Bukan tas, bukan sepatu, bukan baju, bukan koleksi kosmetik tak terpakai. Tiap sudut rumah pasti mentoknya buat naro buku dan majalah. Buku-buku itu bukan koleksi saya aja, tapi juga Indra, suami saya.

Ngomong-ngomong tentang tumpukan buku yang melahap semua sudut rumah saya, jadi keingetan nih. Beberapa tahun lalu saya pernah bikin pasar barang bekas. Tagline lapak barang bekas saya adalah : barang bekas bermartabat! Hahaha ini bukan saya yang buattaglinenya, tapi salah seorang paman saya yang menyumbang ide taglinenya. 

Sebenarnya pasar barang bekas bukan pasar kayak di pasar banget sih. Toh halaman rumah saya yang saya pake sebagai lapak barang bekas cuma 5 x 3 m :D  


Iya betul, lapak barang bekas yang saya maksud bahasa kerennya Garage Sale. Bahasa Inggrisnya Flea Market.


Garage Sale di Halaman Depan Rumah, Pasar Kutu Namanya

Tahun 2013, 2014, dan 2015 berturut turut saya bikin flea market yang saya kasih judul Pasar Kutu. Tujuannya mau jual buku second aja sih, secara lingkungan saya tinggal kan mahasiswa dan mahasiswi semua. Cocok kali jual buku.

Masalahnya adalah gak semua orang doyan buku. Pasarnya terlalu sempit sementara saya ingin meraup keuntungan sebesar-besarnya (paman gober speaking).



Terus saya mikir…
Mikir lagi…
Dan mikir terus…
Lalu…

Saya kan punya banyak sepupu. LIKE A LOT! Dari mereka lah saya mengumpulkan barang tak terpakai dan menjualnya. Hahahaha.
Saya gak lagi random dengan kosakata ‘banyak’. Sepupu saya ada 69 orang. Katakanlah yang tinggal di Bandung ada hampir 80% jumlahnya. Tinggalnya pun gak jauh-jauh amat dengan rumah saya.

Dan ini yang menarik: mereka gak doyan baca buku. Doyannya apa dong? Macam-macam! Gadget, fesyen, aksesoris, dan film korea! Hahahaha. Ah seru nih.

Saya kontak mereka satu per satu, mengajukan proposal ide dalam bentuk pesan di aplikasi chat. Saya jelasin sistem penjualan dan bagi hasilnya. Bukan cuma mereka mau titip jual, tapi beberapa di antaranya bantu saya nungguin lapak di Pasar Kutu. Malah paman dan bibi saya ikutan juga, salah satu darinya membuatkan saya poster acara!


Merancang Pasar Kutu

Pasar Kutu yang saya gelar gak bentar sih. Tujuh hari aja. Iya, TUJUH HARI hahahaha! Gak cuma buku, saya juga menjual aneka macam pakaian bekas, sepatu second, tas gak terpakai, aksesoris, DVD film Korea, India, dan Hollywood. 

Ya pokoknya preloved items lah. Barang-barang tak terpakai. 

Sepupu saya yang udah beranak dua sampe titip jual baskom bekas bak mandi anaknya yang masih bayi, sepupu yang punya gadget geek titip jual charger kw-nya sebanyak 12 buah, dan sepupu kecil saya yang masih sekolah dasar titip jual aneka macam pinsil warna dan alat sekolahnya yang nganggur di rumah.



Hahahaha saya bahagia!

Lingkungan saya tinggal dekat dengan kampus negeri terkemuka di Bandung. Tetangga saya hampir 80% statusnya mahasiswa dan mahasiswi. Mereka lah 90% pasar terbesar saya. Sisanya ya penduduk lokal yang kebanyakan ibu-ibu yang kalo nawar sadis bin ngeri lah :D

Tiga tahun berturut-turut saya menggelar garage sale. Semuanya saya selenggarakan di musim kemarau, antara September dan Oktober. Maksudnya sih biar lapak saya gak kehujanan.

Setelah ngerjain sendiri, baru saya menyadari. Buka lapak pasar barang bekas gak sesederhana yang saya bayangin.
👊 Bikin sistem penjualan.
👊 Bikin persentasi bagi hasil.
👊 Mengurus keuangan.
👊 Nyiapin uang kembalian.
👊 Nyiapin mental kalau barangnya ditawar.
👊 Kepanasan.
👊 Barang diacak-acak krucil anak-anak tetangga.
👊 Angkut barang keluar dan ke dalam rumah.
👊 Mengatur display agar menarik.
👊 Ngawasin barang biar gak dimaling orang.
👊 Sebarin informasinya terus menerus di media sosial, khususnya Facebook
👊 Nempelin poster sampai ke kampus deket rumah, masjid, warteg, dan galeri seni dong hahahaha asem.

Pagi hari jam setengah tujuh saya udah berdiri di mulut gang bagiin flyer poster ke mahasiswa/I yang seliweran menuju kampus. Iya sampe segitunya, abis saya ngajakin sepupu untuk titip jual sih, ada ‘beban gak enak’ kalau penjualannya jelek kan. Pokoknya harus banyak yang datang dan jajan di pasar kutu saya!

Bayangin melakukan itu semua dalam waktu tujuh hari. Ahahahaha berat badan saya turun 3 kg dalam seminggu aja!

Fakta menarik lainnya adalah ketika pasar bekasnya udahan, saya manggil sepupu-sepupu untuk ambil barangnya. Yaelah dikit amat yang mau ambil lagi barangnya, kebanyakan pada nitip aja. Saking udah lewat dari dua tahun itu barang gak diambil-ambil, saya sumbangin aja sekalian ke ibu-ibu yang suka bantuin buang sampah dan nyetrika baju di rumah. Iya, saya gak lagi jualin :D

Saya pikir-pikir, para sepupu saya pada dasarnya emang gak butuh barang itu lagi. Jangankan buang, ambil barangnya sendiri dan taro di rumah sendiri aja kayaknya pada males.

Gila saya sampe mikir, suatu hari di dunia ini bakal ada orang yang profesinya membuang barang klien-kliennya.

Tapi masa dibuang? Seriusan dibuang? Negara ini tuh abai banget dengan potensi sampahnya deh. Bila ada usaha terbaik dari saya untuk mengurangi sampah di muka bumi maka itu adalah menjual barang bekas :D

At least itu yang bisa saya lakukan sih. Tindakan nyata walo kadar sadar lingkungannya masih tingkat pemula.


Pensiun Bikin Garage Sale, Pindah ke Online aja

Tahun 2016 saya pensiun dari karir pedagang barang bekas di depan rumah. Karena apa? CAPEK GILA HAHAHAHA. Saya menyerah. Ampun!

Saya gak pernah lagi meremehkan pekerjaan seseorang yang menyelenggarakan garage sale. Tidak pernah. Gila capeknya kerasa sendiri.

Hasrat saya masih tinggi sih untuk menjual barang-barang second. Ditambah saya orangnya pragmatis, saya gak memberi emosi pada barang di rumah. Gak ada romantika terhadap barang. Kalau gak terpakai, antara buang-sumbangin-atau yang terakhir nih: jual.
Udah kepikiran sih saya jual online aja deh daripada capek bolak-balik gelar lapak kayak PKL :D

Sekarang udah banyak situs online yang diperuntukkan bagi penjual kayak saya. Saya anggap angin lalu aja. Saya gak pernah praktekin sih, jual di media sosial pun enggak.

Baru di bulan April kemarin nih dalam rangka Hari Kartini, saya baca artikel tentang 5 Kartini Muda di bidang teknologi. Bacanya di kompas online.

Mata saya tertumbuk pada satu nama dari kelima perempuan yang disebutkan dalam artikelnya. Fransiska Hadiwijana.

Saya selalu usahain sih mendukung produk yang dibuat, diurus, dibentuk, diinisiasi perempuan. Kalo baca blog ini, saya pernah nulis tentang Dewi Sartika dan Inggit Garnasih. Pokoknya orang-orang revolusioner, kreatif, produsen, yang wujudnya perempuan mah saya ada di garda terdepan untuk mendukung mereka.


Dan karena situs ini menyinggung titik terlemah saya sebagai perempuan, saya jadi termotivasi lihat Prelo.id. Gak sampai lima menit, saya udah install Prelo di hape. Hahahaha.


Prelo - Jual Barang Bekas 

Prelo adalah situs jual beli barang bekas. Terdengar biasa ya? Buat saya sih enggak, karena foundernya perempuan. Hihihi. Prelo gak cuma ada dalam format website, tapi juga aplikasi.

Dengan warna dominan hijau mint, begitu buka app prelo ntar nongol taglinenya MENYEDIAKAN BARANG BEKAS YANG AMAN DAN BERKUALITAS.

Uh wow mulai agak menjelaskan kalau barang yang dijual di Prelo adalah barang asli bukan produk kw. Jarang ada situs jual beli barang bekas yang menjunjung nilai orinisil sebuah produk. Dan oleh karenanya misi menyediakan barang berkualitas dan asli ini patut diacungi jempol. Seenggaknya pasarnya sendiri mulai berceruk sih.

Begitu buka app, mulai bisa belanja. Banyak kategori barangnya. Tapi saya mah kan maunya jual. Gampang gak nih kalau mau jual di Prelo?

Buka app Prelo :
  1. Klik Jual
  2. Masukin foto barang. Nanti ada pilihan kelengkapan foto mulai dari: tampak belakang, dipakai, tampilan label, dan kecacatan barang.
  3. Nanti kita isi detail barangnya. Sampai ke special storynya yang mana menarik untuk saya karena saya bisa ceritain hal-hal personal kenapa barangnya dijual. Lumayan mendongkrak penjualan hahaha. Ya nebak aja sih, zaman sekarang kan gaya jualan yang menarik peminat gaya story telling.
Yang mesti diperhatiin adalah:
  1. Berat barang, jangan dikira-kira deh. Mending ditimbang dulu
  2. Ongkir mau tanggung oleh kamu sendiri atau pembeli?
  3. Charge Prelo berkisar 0-10% dari harga jual. Lumayan lah paling tinggi ya 10% dari barangnya.
  4. Barang harus asli deh beneran gak boong. Karena pada saat mau upload barang yang kita jual, ada warning dari Prelo, bila barang bukan produk asli maka pembeli berhak memperoleh uang kembali. Ouch.
  5. Barang dijual harus mencantumkan harga lama. Masalahnya adalah saya lupa berapa harga buku yang saya beli :D  alhasil saya browsing dulu harga bukunya di toko-toko online dan toko kayak gramedia berapa sih. Sayangnya harga buku juga berubah deh kayaknya. Buku yang tahun 2008 saya beli seharga 60ribuan, sekarang cuma 40ribuan. Agak kesulitan menerka harga lama bukunya sih.
Kelebihan Perlo dibanding situs sejenis lainnya adalah :

💖 pengembalian uang bila pembeli merasa barangnya tidak asli sesuai yang dijanjikan penjual. Sebenernya sih filter barang asli dan barang kw bisa dimulai sejak sebelum transaksi dimulai. Entah bagaimana cara Prelo menyaring barang asli dan palsu. Harusnya ada penjelasan lebih lanjut tentang penyaringan produknya.



💖 Kalau kita share produk dagangan ke media sosial, fee sharing Prelo dipotong sekitar 3%. Lumayan itu, kalau kita bisa dapat untung tiga ribu rupiah lebih banyak, kenapa enggak. Beda akun media sosial, beda pula persentase komisi Prelo yang didapatkan. Tapi gak beda jauh sih. 

Udah sih begitu doang, gampang aja. Jadi, saya permisi dulu. Saya mau foto buku saya satu per satu dan menjualnya di Prelo.id. Dibeli yaaaaaa buku-buku bekas sayaaaaaa 😃 

Nah sekarang kalau mau beli gimana.

Saya belum coba bener-bener sampai pembayaran sih. Baru cek-cek sampai cara bayar. Sejauh ini menurut aplikasi Prelo dilengkapi fitur yang ramah untuk pengguna. Gak ribet. Gak banyak tombol directory yang membingungkan. So far so good.

Memang terasa jauuuuhhhhh lebih ringan jual barang bekas via aplikasi Prelo. Saya gak usah ngurusin banyak hal yang bikin turun berat badan 3 kg dalam seminggu . Palingan foto produk, kasih keterangan, dan upload ke Prelo. Abis itu share ke media sosial biar banyak yang lihat. 

Sejauh ini saya masih fokus untuk jadi penjual, so ya energinya sedang diarahkan ke sana. Kunjungi toko saya di Prelo, cek @nurulw yaaaa :D





Cerita Dari Sebuah Rumah Tua di Jalan Hata

May 14, 2017
Pada sebuah rumah tua di Jalan Hata yang senyap, yang entah berapa tahun umur rumahnya. Jendelanya besar-besar. Lantainya seperti marble berwarna hitam putih keabu-abuan. Kursi dan meja yang jompo, membisu di sudut-sudut ruang. Kalau bisa bicara, mereka punya segudang cerita yang datangnya sejak zaman kolonial.

Cerita tentang tiga pemuda asal Italia, yang menambatkan hatinya di Hindia Belanda. Tiga Ursone bersaudara datang ke Bandung. Gemar bermain musik, mereka kerap menerima panggilan di hotel-hotel dan restoran tempat orang-orang Belanda berpesta. Tiga Ursone kerasan tinggal di tanah priangan.

Lantas mereka berpikir untuk menetap di Bandung lebih serius. Bermain musik adalah hobi, Ursone butuh pendapatan yang kekal untuk menyambung nyawa di tanah Jawa.

Selanjutnya yang terjadi, mereka membeli sapi. Memilih Lembang sebagai tempat peternakan, beternak sapi perah adalah bisnis yang mereka tekuni. Bisnis melejit, pesaing sedikit.

Tiga Ursone jadi juragan. Membeli tanah, membeli rumah. Berpesta pora sekaligus berderma.

Dua Ursone tidak menikah hingga akhir hayat. Satu Ursone jatuh cinta pada wanita lokal dari sebuah kampung di belakang Jalan Braga, Nyi Oekri namanya. Tak punya anak, mereka mengadopsi anak perempuan.

Sebuah pabrik cokelat didirikan Ursone. Mafalda nama pabriknya. Iya, serupa nama anak perempuannya.  

Ursone wafat, makamnya yang indah seperti istana ada di Taman Pemakaman Pandu.

Perkenalan saya dengan sejarah Ursone hanya selintas saja. Pengetahuan saya terhadap mereka hanya sepotong-sepotong. Tenggelam di antara ketenaran juragan teh di Malabar, yakni Bosscha. Buku yang saya baca hanya itu-itu saja nampaknya :D

Sampai saya mengikuti acara bertajuk Jelajah Cipaganti buatan komunitas Heritage Lover dan Lembang Heritage. Bersama mereka, saya dan teman-teman lainnya diajak bertemu muka dengan keluarga yang istimewa. Keluarga Ursone. Tepatnya keluarga Pietro Antonio Ursone.

Sampai di mana tadi saya cerita tentang Ursone? Oh, Mafalda ya.

Mafalda menikah. Mafalda punya anak. Anaknya Mafalda menikah dan punya anak juga.

Nah, dengan anak dari anaknya Mafalda ini kami berbincang. Ronnie Nouma namanya, cicit Ursone. Melihat paras wajahnya Om Ronnie, ada gurat garis yang tak biasa. Bukan lazimnya wajah orang Indonesia. Perawakannya tinggi, di atas 1,75 m.

Aom Ronnie tak banyak bercerita. Beliau senangnya bercanda gurau. Sang Menantu , Muhammad Taufik, yang berdiri di samping Ursone menggantikan beliau bicara, mewakili kisah Ursone.

“Dulu rumah kami di sini ada 11, semua susu yang datang dari Lembang ditampung dulu di sini di Jalan Hata.”

Edan 11 rumaaaaahhhhhh? Jerit saya dalam hati hahahahahaha.

“Sekarang rumahnya tinggal 1 yang ini,” maksudnya rumah yang kami masuki.

“Bapak trauma. Pernah ngurusin tanah Ursone di Dago, gak taunya malah beliau yang dipenjara. Abis itu bapak gak mau ngurus tanah ursone lagi,” ungkap menantunya Aom Ronnie.  


Kang Taufik menggiring kami ke sebuah kamar. Di sana ia membuka koper. Foto-foto lama berhamburan dari dalam kopernya, kebanyakan hitam putih warnanya.

Saya melihat sebuah foto hitam putih. Tiga orang duduk dalam foto tersebut: P. A Ursone, Nyi Oekri, dan Mafalda. Duduk di kursi (sepertinya) tamu. Foto diambil di ruangan tempat saya berdiri. Saya pegang fotonya dan membayangkan pindah ke masa itu.

Diceritakan oleh anak (menantu) Om Ronnie tentang kehidupan mereka kini. Apa yang mereka alami, ketidakadilan macam apa yang harus mereka hadapi sejak pemerintah menasionalisasikan semua asetnya. Perusahaan yang Ursone dirikan menjadi satu dari banyak perusahaan milik orang nonindonesia yang dinasionalisasikan. Asetnya diambil pemerintah. Puncak kejayaan memang selalu ada masanya ya, yang keluarga Ursone alami memang pahit sekali.

Ironisnya, Ursone menikah dengan orang Indonesia. Perusahaan, rumah, dan tanahnya banyak yang diatasnamakan Nyi Oerki, saking sayangnya sama sang Istri. Tapi tetep aja ya walau atas nama orang Indonesia, tetap aja dinasionalisasikan. 

Menurut saya mah Ursone adalah orang-orang yang jadi korban sistem. Saat Pemerintah Kolonial menduduki Hindia Belanda, orang-orang kayak Ursone (menurut saya) mempunyai kemudahan untuk memiliki usaha. Minimal izin usaha dan urusan jual beli tanah. Begitu Indonesia merdeka, mereka jadi korban amukan. Dianggap sebagai bagian dari kolonialisme, asetnya diambil 'paksa', pabrik  cokelatnya dibakar.

Serba salah ya.

Saya gak tahu kalau ada di posisi mereka mesti gimana. Keturunan pertamanya yang tinggal di Indonesia mengalami masa kejayaan, namun setiap hujan pun ada redanya. Keturunan berikutnya harus mengurai benang kusut akibat sistem yang berganti-ganti dan berantakan. 

Beranjak pulang dari rumah tua di Jalan Hata, saya termasuk yang paling akhir keluar. Dari jalan saya memandangi lagi rumahnya. Di dalam Jalan Hata, tak sangka ada legenda.

Panjang sejarah keluarga Ursone, saya melongok keluarga saya sendiri, apa kabar sejarahnya? Siapa leluhur saya? Apa pekerjaannya? Di mana tinggalnya? Dari mana asalnya?

Terkadang saya iri pada mereka yang punya kesempatan untuk mencatat silsilah keluarga dan mampu cerita riwayat keluarga. Apalagi melengkapi sejarah dengan koleksi foto-foto. Akan tetapi saya dan keluarga memang rakyat biasa, kaya raya banget enggak, miskin juga saya gak tahu. Nasib rakyat biasa pada dahulu memang berada pada level yang kira-kira begini: kerja-aja-yang-penting-bisa-makan-tidak- kelaparan.


Yha. Mungkin sih.