Social Media

Image Slider

Main ke Anyer

December 03, 2016
Berada di Jakarta, saya sering dibuat penasaran dengan resistensi penghuni kota ini terhadap kemacetannya. Sewaktu saya pergi menuju Cilegon, mau gak mau dari Bandung saya ambil jalur via Jakarta.

Macet sudah menghadang di Tol Cawang. Di Tol Dalam Kota pun sama padat merayap. Saya pilih tidur. Begitu bangun, sudah ada di Tol Jakarta Merak dengan jam perjalanan molor dua jam yang jadwal yang saya perkirakan. Hehehe. 

Perjalanan satu hari yang melelahkan. Letih karena capeknya. Capek karena macetnya. Macet karena mobil-udah-kebanyakan ini baru salam pembuka kok. Hahaha :D 

Sebelum membahas kemacetan berikutnya, saya mau cerita nih. Saya, Indra, dan Nabil abis dari Anyer. Main di pantai, melihat matahari terbenam, menyantap soto sapi dan sate bebek terenak! 




Perjalanan di Cilegon ini murni karena pekerjaan. Begitu kewajiban dengan klien usai terlaksana, kami langsung googling dan mencari pantai-pantai yang direkomendasikan di Cilegon dan Anyer. Setelah berunding, kami sepakat ke Pantai Anyer dan RM Cindelaras. 

Menyusuri jalur Cilegon - Anyer, mulai bingung nih Pantai Anyer yang kami tuju yang mana. Kok beberapa nama pantainya sama. Yah akhirnya kami putuskan cari pantai yang kelihatannya menarik saja (bersih dan indah). Berbelok lah kami ke pantai bernama Tanjung Tum. 


Pantai Karang, Pantai Tanjung Tum

Pantai Tanjung Tum ini kami pilih karena rerumputannya rapi, nampaknya terawat. Udah gitu banyak pohon kelapa. Lucu gitu kayaknya.  Sayangnya kami gak merhatiin informasi bahwa ternyata pantai berkarang, jadi gak bisa leluasa main air deh :D 

Namun kami gak menyesal kok. Pantai Tanjung Tum beneran indah sekali. Tidak ada pengunjung selain kami. Seorang ibu dengan gesit menghampiri dan menawari kami sebuah tikar. Berat hati saya menolak. Rasanya gak akan terlalu lama ada di pantai ini. Dan lagi capek duduk terus di bangku jok mobil. Kami mau berjalan kaki merenggangkan otot kaki. 

Tepi pantainya sangat teduh, pepohonan berderet di sisi karang. Cantik sekali. Di sela-sela antar pohon ada bangku sederhana terbuat dari pelepah pohon kelapa. Matahari bersinar hangat. Langit masih biru. Suasana di sini sangat hening dan syahdu. Suara ombak saja yang menderu-deru. Pukul setengah empat sore dan aIr mulai naik pasang pelan-pelan. 

Batu karangnya bisa diinjak, air lautnya belum pasang-pasang amat. Kami berfoto di situ. Sambil mencari-cari kepiting dan meceritakan tentang makhluk bercapit ini pada Nabil. Gunung Krakatau terlihat di kejauhan, bagian puncaknya tertutup awan putih. 

Sebelum beranjak cari pantai yang lain, kami Sholat Ashar dulu. Sholatnya kami lakukan di saung untuk pengunjung. Ada sih mushola, tapi kata Bapak Penjaga Toilet boleh sholat di saung, toh gak ada pengunjung lain selain kami. Hehehehe. Ini namanya berkah rekreasi di hari kerja hihihihi. 

Hari itu, di menit itu, adalah pengalaman beribadah terbaik yang pernah saya lakukan. Bayangkan saja. Sholat Ashar dengan semilir angin pantai dan suara ombak yang menenangkan. Rasanya sejuk sekali sampai ke hati. 

Sehabis sholat baru bergegas ke luar kawasan Pantai Tanjung Tum dan mencari pantai berpasir. Browsing lagi di Google dan menemukan Pantai Sambolo. Ke sana lah kami menuju.

Tiket masuk Rp50.000 (permobil).


Pantai Pasir di Sambolo 1

Rupanya gak susah ya cari pantai berpasir. Karena istilah 'pantai pasir' dicantumkan di plang pantainya. Beda kalau pantainya karang mah gak dikasihtahu pengunjungnya hahaha. Modus.

Dari jalan raya sudah nampak pasir pantainya. Di Pantai Sambolo 1 saya menambatkan hati. Padahal beberapa pantai yang kami lewati sebelumnya juga berpasir, kan ada Pantai Sambolo 2 juga. Saya sregnya dengan pantai yang ini. Hehehe.

Ke Pantai Sambolo 1, saya melihat Mercusuar. Dari dalam mobil terbaca papan informasinya, dibangun tahun 1865 katanya. Ah euy kalau ada waktu lebih mah mau banget masuk ke mercusuar. Eh boleh gak sih masuk mercusuarnya?

Tapi udah kepepet nih waktunya. Jadinya cuma lihat mercusuar saja dari kendaraan dan terus ke Pantai Sambolo 1.

Dan waktu parkir mobil, rasanya sudah senang banget. Mau cepat-cepat turun dan main air. Matahari pun sinarnya udah kuning keemas-emasan. Cantik sekali! 

Bermain di Pantai Sambolo 1 ini rasanya sangat memuaskan. Pertama-tama berkah rekreasi di hari kerja, sepi pengunjungnya sedikit sekali. Pantainya lengang banget. Kalau akhir minggu pasti padat sih, lha wong saungnya saja berderet rapat memanjang begitu. 

Indra dan Nabil main air, saya cuma jalan-jalan tepi pantai. Ada dermaganya tapi jauh males jalan kaki ke sana hehehe. Sesekali saya berfoto. Sesekali saya simpan kamera ponselnya dan menyerap semua penorama yang memukau di pantai ini.

Momen matahari terbenam juga berhasil kami dapatkan walau gak paripurna, hingga matahari benar-benar tergelincir dari cakrawalanya. Soalnya mendung. Awan hitam sudah bergelayut nampak keberatan air. Langitnya pun bentar biru, bentar kelabu. Teu puguh kalau kata orang sunda mah.

Tiket masuk Rp60.000 (permobil).

Kami langsung mandi, salin, dan tancap gas menuju Rumah Makan Cindelaras. Sedang lapar-laparnya, ketemu macet lagi hahahaha. Kali ini sebabnya perbaikan jalan. Terjebak macet 45 menit yang membuat kami gusar emosi jiwa, begitu jalanan sudah lengang segera menuju ke lokasi Sate Bebek terbaik di Cilegon berada dituntun Google Map. 

FYI sesampainya di Cindelaras, rasa ragu-ragu menghampiri. Melihat tempatnya, saya dan Indra saling memandang dan berkata melalui telepati. Udah begini aja tempatnya? Beneran ini tempatnya?


Sate Bebek Cindelaras

Sudah terlalu capek untuk cari tempat makan lain, kami mufakat untuk makan di Cidelaras saja. Restorannya seperti rumah hunian biasa. Sederhana banget. Tidak ada bangkunya, hanya ada meja dan karpet pertanda makannya lesehan. Suasananya kusam juga. Mungkin karena malam hari ya jadi efek warna tembok dan warna-warna lainnya beda dengan terang hari. Hehehe. 

Diam-diam saya berdoa semoga rasa makanannya sesuai rekomendasi yang saya baca di internet, rasa makanannya semoga gak sekusam tempatnya. Hehehehe. 

Soto Sapi dan Sate Bebek hinggap tak lama di meja makan lesehan ala Cindelaras. Baru satu suap masuk ke mulut, rasanya GILA ENAK BANGEEEEEEEEEETTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT! ☺

Oke itu berlebihan, tapi buat orang yang datang ke Cilegon dari Bandung, kerja, main air di pantai dan kena macet, Sate Bebek di sini rasanya memukau! Tapi yang jadi juaranya adalah Soto Sapi. Yes, ini Soto Sapi TERENAK TERLEZAT yang pernah saya makan. Kuahnya hangat, sedikit pedas, bening, dan bumbunya kuat, khas sup daerah di dataran rendah kayak Cilegon. 

Sama sekali gak kecewa bisa makan di Cindelaras. Tempatnya biasa banget, rasanya luar biasa! Kamu kalau ke Cilegon, mampir lah ke RM Cindelaras dan pesan Soto Sapi. Mungkin saya berlebihan sih ngasih kesan makanan di sini, tapi kalau kamu tinggal di gunung yang dingin dan berkunjung ke kawasan pantai yang panas, kuah di Cindelaras ini sangat amat mewakili rasa pesisir. Kuat, menonjol, asam dan hangat. 

Kembali ke Bandung, kami masuk ke Tol Cilegon Barat dan kena macet lagi. Hahahaha. Sebabnya apa? ada truk terbakar. Mesin mobil hanya menyala demi AC aja. Sisanya sih dimatikan dan mobil gak bergerak barang seinci. Sabar menunggu, untungnya gak lama hanya 30 menit saja, polisi dan pemadam kebakaran datang dan mengatur lalu lintas. Mobil melaju lagi. Masuk ke Jakarta pukul 11 malam dan masih macet. Astaga, Jakarta! 

Pukul 2 dini hari sampai di rumah. Keesokan harinya, sampai sekarang, saya masih penasaran Tanjung Tum dan Sambolo artinya apa ya? Belum googling sih :D 











Topi dari pelepah pohon kelapa. Dipake ibu-ibu yang jual Jambal Roti
Jambal Roti, beli satu bungkus :D 20ribu harganya. 







Teks : Ulu
Foto : Indra, Ulu, Difoto menggunakan Lenovo A6000


Playlist #9 : Jalan Pulang

December 01, 2016
Perbekalan di jalan buat saya bukan cuma makanan dan uang. Tapi juga playlist ☺ Mau bawa earphone gede tapi kata Indra ngerepotin, jadi bawa earphone standar yang bikin telinga sakit kalo udah kelamaan makenya heuheuheuheu. 

Ini dia playlist saya, FYI saya cuma tampilin 10 lagu aja. Aslinya mah jauhhhh lebih banyak dari ini. 




1. Coldplay - Ghost Stories

2. Maroon 5 - Love Somebody

3. Matajiwa - Semesta

4. Jalan Pulang - Rumah Dijual

5. Joss Stone - Right to be Wrong

6. Pion Hitam - Senanjung Senja

7. Amarante - Brave

8. Seputar Cello - Lullaby

9. Float - Nyiur Hijau

10. Taufanny Nugraha Ph.D - Boeroeng Ketilang


Menjadi Pengusaha Perikanan dengan Hobi Menulis dan Motret, Kenapa Tidak?

November 30, 2016
Penulis buku perjalanan favorit saya adalah Sigit Susanto. Beliau sekarang tinggal di Swiss bersama istrinya. Dalam setahun, Sigit menjadwalkan perjalanan ke beberapa negara. Dia menulis catatan perjalanannya dan menerbitkannya dalam buku berjudul Menyusuri Lorong-lorong Dunia

Di dalam bukunya ia bercerita bahwa profesinya di Swiss berbeda jauh dengan bidang kepenulisan. Tahu tidak, Sigit pernah kerja sebagai pencuci piring. Ia juga bekerja jadi buruh di sebuah pabrik. Gaji yang ia peroleh ia sisihkan di tabungan. Beberapa bulan kemudian, Sigit dan istrinya patungan dan pergi menjelajah dunia. 

Hal yang sama saya rasakan selama ini mirip-mirip dengan Sigit. Memang berlebihan sih menyamakan diri dengan penulis yang sudah menerbitkan kurang lebih lima buah buku itu. Tapi ya untuk tema artikel yang satu ini, saya merasa bagus juga mengangkat Sigit sebagai contoh pertama, sebelum saya yang menjadi sampel keduanya.


Hobi Menulis dan Memotret


Selama ini kamu melihat saya sebagai Bandung Diary. Saya menulis catatan perjalanan di blog ini. Instagram Bandung Diary saya perbarui hampir tiap hari. Pokoknya jalan-jalan terus! Hihihi. 

Santai amat hidupnya. Lantas kapan saya kerjanya?

Oleh teman-teman dan kerabat, saya sudah terbiasa mendengar kalimat berbunyi "enak ya jalan-jalan terus". Tentu saja saya tertawa senang. Bukan salah mereka bila tak tahu bagaimana kusutnya belakang layar pekerjaan saya.


Saya hunting foto untuk blog Bandung Diary (foto koleksi pribadi)


Pekerjaan dan hobi saya bedanya seperti cokelat dan keju. Satunya manis, lainnya asin. Hobi saya ada di bidang digital kepenulisan dan memotret, yaitu blog Bandung Diary ini. Sementara itu pekerjaan saya berada di kolam ikan. 

Menulis dan memotret adalah hobi yang saya lakukan secara berkala. Pada dasarnya saya suka jalan-jalan, tidak bisa diam di rumah. Satu hal yang membuat saya bisa konsisten menjalani peran saya di Bandung Diary adalah langkah awal yang saya dan suami -Indra- mulai di akhir tahun 2012. Kami memulainya bukan karena uang. Bandung Diary adalah wadah tampungan catatan dan foto-foto milik saya dan Indra. Proyek iseng yang lahirnya dari hobi.

Bangunan kuno dan tua merupakan objek foto favorit saya. Berkunjung ke kota-kota lain di Nusantara, kegiatan yang saya dan Indra buat sudah pasti walking tour mendatangi gedung-gedung klasik dan kawasan bersejarah. Gak cuma mengagumi keindahan arsitektur bangunan sih, saya juga suka baca buku yang berkaitan dengan sejarah tempat yang saya datangi.

Dalam sebulan saya luangkan waktu turun ke jalanan kota Bandung paling tidak 2x. Bergabung dengan komunitas sejarah, saya mengikuti kegiatan mereka menyusuri sejarah-sejarah kecil di Bandung. Berjalan kaki sepanjang 4-5 km terlihat sebagai aktivitas yang sia-sia. Tapi kalau sudah suka, ya pasti senang. Selain saya jadi lebih tahu peristiwa di masa lalu, saya juga sering latihan motret.

Setelah kegiatan macam history walking tour begitu, tangan saya sudah gatal ingin menulisnya.


Foto koleksi pribadi
Foto koleksi pribadi
Foto koleksi pribadi


Bukan itu saja. Budaya tradisi juga minat terbesar saya. Rasanya senang kalau melihat cara hidup orang lain yang berbeda dengan saya. Cara mereka makan, cara mereka bertutur, cara mereka bersyukur, ya pokoknya saya ingin tahu cara orang dari suku lain, daerah lain, bangsa lain menjalani kehidupannya.

Hobi saya terangkum di blog ini. Saya senang dan rajin menulis bukan untuk memenuhi keinginan orang lain. Saya menulis untuk diri sendiri. Demi merawat ingatan dan membaca ulang peristiwa yang saya alami.

Dalam setiap catatan perjalanan yang saya buat, saya usahakan menyelipkan interpretasi saya terhadap pengalaman yang saya lalui. Interpretasi itu yang lahir dari obrolan saya dengan banyak orang dan buku-buku yang saya baca. Makanya saya suka membaca ulang tulisan sendiri agar tahu sebenarnya apa sih yang saya pikirkan kala itu.

Saya suka mendongeng, suka bercerita. Tapi saya gak jago mendongeng untuk orang lain. Dongeng saya ya untuk saya sendiri. Kalau ada orang lain ikut senang membaca cerita saya, wah itu bonus yang besaaaaar sekali! Hihihi.

Kalau waktu bisa dibalik, saya mau kembali ke zamannya ujian masuk kampus negeri dan memilih jurusan Antropologi atau Ilmu Budaya. Tapi kuliah saya yang tujuh tahun itu membuktikan kalau kehidupan akademis memang gak cocok untuk saya. Hahaha.

Meski hobi saya seputar menulis dan memotret dengan tema sejarah, saya merasa lebih cocok, sesuai, dan pas menjadi...pedagang.


Menjadi Pengusaha di Bidang Perikanan


Kalau kamu mengenal saya sejak saya dan Indra tujuh tahun sebelum Bandung Diary lahir, kami adalah petani ikan. Profesi ini kami jalani sampai sekarang. Pekerjaan ini kami lakukan murni karena uang. Petani ikan bagi kami merupakan langkah pertama menuju hidup yang kami cita-citakan di masa mendatang: homesteading (menyediakan pangan untuk diri sendiri, secara mandiri). 

Bahkan saya pernah memiliki dua buah rumah makan khusus menu perikanan. Sayangnya usaha rumah makan ini bangkrut meski bisnis perikanan saya masih jalan terus. Jadi sekarang profesi pedagang ikan lebih cocok melekat dengan saya ketimbang petani ikan. 

Saya dan Indra membuat produk filet ikan. Lebih spesifik lagi produknya filet ikan lele. Pekerjaan di bidang ini menuntut tenaga fisik yang tinggi. Semacam kuli, kalau jadwal produksi sedang berlangsung, saya sanggup makan dua porsi lebih banyak dari biasanya. Tidur pun rasanya nikmat sekali. Saking capeknya. Hahaha.

Belum lagi kalau berjualan di darat alias ikutan bazaar! Seru dan capek, tipis bedanya hahaha. 

Saya di pameran Pekan Olahraga Pelajar Nasional :D (foto koleksi pribadi)


Karena bisnisnya masih mungil, pegawai yang saya pekerjakan hanya dua saja. Waktu mereka bekerja pun hanya kalau produksi saja, seminggu paling banyak hanya 3x. 

Bekerja di bidang perikanan, saya bertemu dengan banyak hal yang orang lain tidak akan suka. Misalnya mencium bau amis ikan selama berjam-jam lah, tangan dan kaki saya dipatil ikan lele sampai berdarah lah, menggotong satu wadah berisi ikan-ikan yang gesit dan licin lah, dan berbagai tingkah polah konsumen yang terkadang membuat saya seperti berada di titik nadir. Hahaha.

Lucunya lagi kalau pengiriman produk, saya sering turun tangan sendiri. Dalam perjalanan mengirim-ngirimkan produk, saya melewati berbagai macam tempat. Di antara tempat itu saya sering berhenti sejenak dan memotret. Hasil fotonya saya masukkan ke Instagram Bandung Diary.

Tiap hari saya sering bergonta-ganti status. Sebentar mengerjakan hobi, kemudian bekerja lagi. Semenit lalu motret Gedung Merdeka, semenit kemudian langsung chat minta petunjuk arah pada konsumen agar ngirim ikannya gak nyasar. Switchable banget lah :D 

Memang sih menjadi petani ikan tidak ada hubungannya dengan fotografi dan jalan-jalan macam hobi saya di Bandung Diary. Lantas bagaimana bisa kami menjalani peran di dunia yang jauh berbeda ini? Hahaha iya saya juga masih keheranan sendiri.

Foto koleksi pribadi
Foto koleksi pribadi
Foto koleksi pribadi

Orang Sunda punya kalimat pamungkas sih untuk menghadapi pertanyaan seperti itu. Saya selalu menggunakan kalimat tersebut kalau ada yang bertanya tentang perbedaan identitas hobi dan profesi saya. Kalimat itu berbunyi: Bakat, alias bakat ku butuh. Kalau diartikan maka bunyinya: yah namanya juga butuh, ya harus dikerjakan lah :D butuh uangnya untuk bayar tagihan dan makan hahaha.


Profesi dan Hobi yang Swithcable


My typical day when writing and taking pictures :
Cek email
Menulis dan memasang status di Facebook
Unggah foto ke Instagram
Membaca timeline media sosial
Kirim like dan love di status orang
Komen di status orang lain
Blogwalking
Baca buku
Pergi ke luar rumah
Bawa kamera, hunting foto
Menentukan judul blog post
Menulis
Edit foto
Unggah tulisan dan foto ke blog
Share, share, share
Repeat!


My typical day as a pedagang ikan:
Menjawab pesanan di chat
Cek formulir pembelian
Belanja ikan ke suplier
Produksi filet ikan
Pengiriman ke konsumen
Cek jadwal bazar
Berjualan di bazar
Cek email
Menulis dan memasang status di Facebook
Beriklan di media sosial
Share, share, share
Repeat!

Meski pekerjaannya berbeda bagai siang dan malam, tapi pada dasarnya cara saya memasarkan blog dan produk ikan di zaman sekarang ya sama saja muaranya: internet. 

Terhubung dengan internet, saya butuh teknologi yang lain. Teknologi ini berupa smartphone dan laptop/notebook. Oh tak ketinggalan pula kuota internetnya. 

Mengisi konten Bandung Diary dan pengusaha di bidang perikanan, saya merasa seperti punya double personalities. Aneh adalah perasaan yang kini sudah berkawan dengan saya. Bertemu dengan klien dan konsumen di bidang perikanan, kepada mereka saya suka bercerita kalau saya hobi jalan-jalan dan membuat blog Bandung Diary. Kepada teman-teman sesama blogger dan pembaca blog, apalagi kalau yang pernah bertemu muka, saya juga ungkapkan 'identitas' saya di bidang perikanan. 

Kalau sedang kambuh narsisnya, unik adalah kata yang tepat untuk menggambarkan profesi dan hobi saya itu. Hahaha.

Lucunya lagi saya melengkapi diri untuk memasarkan produk perikanan dan blog Bandung Diary dengan gawai notebook yang sama switchable-nya dengan saya  : Acer Switchable Alpha 12.


photo courtesy : www.acerid.com


Saya pilih notebook hybrid ini karena saya juga hybrid deh kayaknya :D di mana lagi kamu bisa bertemu kombinasi hybrid travel blogger dan pengusaha perikanan seperti saya? 

Pertama-tama tentang Acer Switchable Alpha 12 yang saya sukai adalah bobotnya yang ringan. Sudah cukup saya mengangkut-angkut ikan 20 kg sebanyak lima kali dalam sehari. Hahaha. Saya tidak butuh lagi benda yang membuat punggung saya remuk. Laptop Acer Switchable Alpha 12 ini ukurannya tipis dan bobotnya ringan. Beratnya cuma satu kilogram lebih sedikit! Praktis banget kan dibawa ke mana-mana. 

Kalau sedang capek-capeknya, saya mengetik sambil berbaring. Lampu kamar dimatikan sehingga kalau mau tidur ya tinggal tutup notebooknya dan memejamkan mata. Bagian kedua yang membuat saya memilih Acer Switchable Alpha 12 berhubungan dengan kebiasaan tersebut. Notebook ini dapat digunakan di kala gelap gulita! Docking keyboard-nya dilengkapi dengan backlight. Si docking keyboard ini pula yang membuat Switchable Alpha 12 berubah bentuk dari notebook ke tablet, dan sebaliknya. Kalau mau scrolling dan baca-baca saja kan enaknya mode ala smartphone. Ya macam tablet lah. Jadi gak ribet dengan keyboardnya. Sambil tiduran, bisa baca timeline media sosial. Mau presentasi pun praktis banget. 

Bagian ketiga dari Switchable Alpha 12 yang oke banget adalah kickstand. Kickstand ini yang membuat si layar selebar 12 inci ini miring hingga 165 derajat. Posisi layar dapat saya atur sesuai posisi saya duduk atau berbaring. Leluasa banget lah menggunakannya. Kalau bertemu klien calon reseller atau pembeli skala besar pun, presentasi dengan layar Switchable Alpha 12 ini juga termasuk nyaman banget. 

Keseringan berhadapan dengan layar digital, saya juga memikirkan kesehatan mata atuh. Ada hari-hari di mana saya tidak berhadapan dengan layar notebook. Tapi ada pula hari di mana secara berturut-turut mata saya menyalak di depan layar Switchable Alpha 12. Biasanya sih per 30 menit saya mengalihkan mata ke titik lain selain layar notebook selama 10 detik saja dan memejamkannya pula beberapa detik. Kebiasaan ini saya teruskan walaupun Switchable Alpha 12 menyediakan fitur Acer BlueLight Shield. Fitur tersebut melindungi mata dari emosi cahaya biru sehingga mata tidak cepat kering dan letih. 

FYI yang lebih epik lagi tentang Switchable Alpha 12 ini jaminan umurnya yang panjang. Malas kan punya gawai yang umurnya pendek. Saya mesti nabung untuk beli gawai baru di tahun mendatang sementara rencana saya nabung demi berkunjung ke jalur jalan raya pos sepanjang pantai utara Jawa. Mewujudkan rencana saya menyusuri jalur tersebut, Notebook Switchable Alpha 12 ini sudah membantu banget. Bagaimana bisa?


photo courtesy : www.acerid.com


Switchable Alpha 12 tak ada kipasnya! Berani amat ya laptop tidak ada kipasnya. Kalau mesinnya panas bagaimana? Tenang, Saudara-saudari. Switchable Alpha 12 dilengkapi dengan LiquidLoop. Fitur tersebut menyediakan pendingin yang menstabilkan suhu mesin. Tidak ada lagi suara mesin ala notebook yang meraung. Karena tidak ada kipas, maka Switchable Alpha 12 tak butuh ventilasi. Alhasil debu-debu yang membuat mesin kelebihan panas dan rusak tak masuk ke dalam mesin notebooknya. Mesin jadi tahan lama. Umur notebooknya pun panjang. Saya bisa nabung secara leluasa untuk rencana saya yang lain yang mana bukan jajan gawai terbaru hahaha asyik! 

Notebook untuk hobi blogging, paling banter saya menggunakan software photo editing. Untuk pekerjaan biasanya tidak lebih rumit dari keperluan blogging. Jadi saya tidak menyiksa notebook dengan berbagai software. Akan tetapi performa yang kencang mutlak saya butuhkan. Berpindah-pindah jendela browser dengan laporan keuangan dan software foto kan ya ribet juga. Intel Core 1 Series yang ada di dalam Switchable Alpha 12 ini sangat membantu. Kerja notebooknya lebih kencang dan sebaliknya energi yang terpakai lebih hemat. 

Cek spesifikasi Switchable Alpha 12 secara lengkap berikut ini.

Photo Credit : www.shintaries.com


Membaca tentang profesi penulis favorit saya, Sigit Susanto, saya berasa sedang berkaca. Sigit adalah orang yang mencari uang dengan menjadi buruh pabrik, namun pekerjaan tersebut tidak menjauhkannya dari hal-hal yang ia sukai: dunia sastra dan perjalanan.

Saya pun sama. Saya bekerja dengan ikan-ikan yang ya-ampun-bau-dan-bikin-capek itu melelahkan tapi saya butuh uangnya hahaha. Setelah berletih-letih di urusan perikanan, saya kembali pada hobi menulis dan memotret. Lucu juga hidup ini. Bekerja dan hobi bisa berbeda wujudnya. Tapi saya bersyukur akan hal tersebut. Keduanya memberi saya sudut pandang berbeda. Saling mengisi, saling melengkapi.

Menjalani hobi dan profesi yang switchable ini dengan tulus dan bahagia, perbedaan itu membuat saya tetap waras dan pada akhirnya semoga selalu membuat saya selalu rendah hati dan menghargai hal-hal kecil maupun besar di sekeliling saya. 





Menginap di ZEN Rooms Dangdeur di Pasteur

November 29, 2016
Halow! Kalau sering baca blog ini, ada kategori yang namanya Hotel. Yup betul saya secara berkala meresensi hotel-hotel di Bandung. Beberapa kali juga saya pernah membahas hotel di kota lain. Saya membuat resensi hotel bukan cuma untuk rekomendasi saja, tapi saya juga menjual voucher hotelnya (by Agoda). 

Nah penginapan yang satu ini jenisnya agak beda. Di Agoda kamu bisa cek penginapannya kok. Tapi sebenarnya jaringan penginapan yang satu ini punya aplikasi sendiri dan banyak promonya. So mari saya mulai resensinya. 

ZEN Rooms namanya, saya menginap di ZEN Rooms Dangdeur lebih tepatnyanya. Saya gak staycation sendirian karena seperti biasa ada Indra -suami- dan Nabilkubil -anak- yang menemani. 




FYI, sekarang bila kamu skroling daftar penginapan di situs booking online, bakal muncul tuh yang namanya ZEN Rooms.  Terus suka merhatiin gak kalau di banyak penginapan di Bandung, di dekat plang nama hotelnya ada juga plang berlogo merah dengan tulisan ZEN Rooms? 

Jadi ZEN Rooms itu hotel bukan sih? Kok kayak hotel di dalam hotel ya? 

ZEN Rooms bukan bangunan hotel yang berdiri sendiri. Pendek kata ZEN Rooms bukan hotel, tapi kamar. ZEN Rooms berpartner dengan banyak hotel budget di Indonesia dan beberapa negara lain kayak Singapura, Thailand, Filipina, Sri Lanka, sampai dengan Brazil. 

Di Indonesia sendiri,  ZEN Rooms menyebarkan jaringan kamarnya di Jakarta, Bandung, Bali, Yogyakarta, Surabaya, Batam, dan Malang. Karena 'jenis' penginapan ini baru, jadi saya penasaran kan pengen nyobain. 

Bagian menyenangkan dari  ZEN Rooms adalah harganya yang lebih murah dari kamar termurahnya hotel budget itu sendiri. Kayak saya nih menginap di ZEN Rooms Dangdeur, harga per kamarnya 390K sudah termasuk sarapan, tax dan service. Kalau book kamar di Hotel Amiranya sendiri, per kamar termurah ratenya di atas 400K. Dan publish rate kamar-nya 560K. 


ROOM

Bedroom

Proses check in kasual banget. Gak makan waktu lama, saya dikasih kunci kamar no 106. Kamar ini memiliki jendela yang pemandanganya ke arah pepohonan. Samar-samar suara Sungai Citepus terdengar. Jendela kamarnya dapat dibuka. 

Ukuran kamarnya kecil tapi gak sesak. Kira-kira 3x4 m persegi. Kamar yang saya tiduri ini sayangnya smoking room, pantasan saja jendelanya dapat dibuka. Hehehe. Saya lupa mau request kamar non smoking :D mau pindah sudah malas duluan karena emang lagi capek heuheuheu. 

Lemari pakaian dan meja kerja tersedia di kamar. Ada AC, layar tivi datar dengan channel yang oke-oke. Kebetulan saya sedang menamatkan seri film Harry Potter yang tayang di Channel Warner. Bulan November ini kan tiap weekend film Harry Potter ditayangkan ulang. Gak bosen-bosen saya mah nontonnya. Hahaha. Syukurlah di Zen Rooms Dangdeur ini ada channel Warner wkwkwkwk :D 

Ranjangnya ukuran queen. Bantal ada dua. Ada juga cussion warna merah berlogo Zen Rooms dua buah. Bednya serba standar baik itu ranjang maupun bantal dan selimutnya. 

Amenities kamarnya juga standar. Hote budgetlnya sendiri menyediakan handuk, sabun, shampoo, sikat gigi dan pasta giginya. Kalau dari  ZEN Rooms menyediakan satu pouch berisi alat tulis, handuk kecil, dan hand sanitizer. Seru nih bisa dibawa pulang paket pouchnya oleh si tamu. Lucu juga berasa dapat goodie bag hihihihi. 

Cuma satu aja sih kekurangan kamar di sini, wifinya super lelet. Susah banget mau online di sini. Mungkin ada password yang lain, tapi saya gak nanya. Udah mager nonton Harry Potter :D 

Bathroom

Fasilitas kamar mandinya standar juga ala-ala hotel budget. Fasilitasnya shower, toilet, dan water sink. Air panasnya mantap! 

Secara keseluruhan kebersihan dan kenyamanan di kamar ini oke. Gak ada keluhan.


FOOD

Ini highlight dari menginap di Zen Rooms Dangdeur. Saya dan Indra makan nasi kuning, Nabil makan cornflake dan roti panggang. Minumnya ada aneka jus Jambu dan Jeruk. Menu sarapan di sini rasanya enak-enak. Ada kue-kue juga, kata mbak-mbak dari hotel, kue itu dibeli di toko Prima Rasa. Prima Rasa gitu lho, surganya kue-kue enak. Selain nasi kuning, ada juga lontong kari. Saya mau nyobain sih tapi perut udah kenyang heuheuheu. Makanan di sini sangat memuaskan rasanya. 

Restorannya pun cantik banget. Ada di lantai basement dan semi outdoor. Lucu deh interiornya. Bangku dan kursi makannya sederhana tapi apik, meja makannya beralaskan taplak meja yang lucu-lucu. Modelnya ala taplak meja untuk piknik. 

Banyak kembang-kembang yang ditanam dan digantung. Pagi yang udah segar itu tambah sejuk saja rasanya. 


SERVICE

Standar dan memuaskan. 


LOCATION

ZEN Rooms Dangdeur berada di sebuah hotel budget di Jalan Dangdeur kompleks Dangdeur Indah. Kalau kamu browsing di situs online, cek pake nama Zen Rooms Dangdeur ya. 

Lokasinya berada di kawasan Pasteur. Tempatnya menjorok ke dalam kompleks pemukiman mewah. Dari jalan raya ke hotel jaraknya sekitar 500 m. Di sekitar Dangdeur ini banyak tempat makan, karena lokasinya memang dekat dengan kampus Maranatha dan banyak kosan mahasiswa. Jadi banyak kafe, restoran, termasuk warteg dan aneka minimarket dan supermarket. Tapi ya butuh jalan kaki dulu sih ke lokasi makan-makannya. Dan juga konturnya menurun dan menanjak hehehe :D 

Kalau saya sudah bawa perbekalan dulu sebelum check in. Jadi sesampainya di hotel, masuk kamar, dan mager :D 

Dan karena lokasinya yang jauh dari jalan raya utama yakni Jalan Surya Sumantri, suasananya asri banget. Jauh dari bising. Ya sejuk aja kan rasanya telinga berasa 'dingin'. Mau tidur pun tenang. Hehehe. 

Kalau mau turun jalan-jalan ke kota, pake taksi konvensional dan taksi online saja.  ZEN Rooms Dangdeur masih di dalam kota, tapi kalau kamu mau ke kawasan mainstream wisata di kota Bandung, ya mesti menumpang kendaraan. Ada kendaraan umum macam angkot, tapi mesti paling sedikit dua kali ganti angkot. 

Apa? Mau ke Lembang? Nah jalur Dangdeur ini justru lebih dekat ke arah Setiabudi, yang mana jalur utama ke Lembang.


DEPOSIT

No, gak ada deposit. 


Cara menuju ke  ZEN Rooms Dangdeur:

1. Masuk ke pintu Tol Pasteur
2. Setelah lampu merah di tol pasteur, belok ke kiri ke Jalan Surya Sumantri
3. Lurus saja mengikuti jalannya sampai mentok belok ke kiri setelah Pom Bensin. 
4. Ikuti jalannya, nanti ada tanjakan setelah tanjaka belok ke kanan
5. Ikuti jalannya, ambil lurus saja
6. Nanti kontur jalannya turun lagi dan ketemu Pom Bensin yang sama dengan yang kamu lewati tadi. Yak betul, rutenya memang muter karena jalannya satu arah :D
7. Siap-siap Jalan Dangdeur ada di sebelah kiri jalan, tak jauh dari Pom Bensin.
8. Harusnya gak usah takut kelewat jalannya, Plang Hotel Amira yang berpatner dengan  ZEN Rooms Dangdeur ini ada di mulut masuk ke Jalan Dangdeur. 

Selain di ZEN Rooms Dangdeur, kamu juga bisa memilih berbagai macam  ZEN Rooms yang ada di Bandung. Tinggal cocokan saja dengan tujuan tempat kamu selama di Bandung.  ZEN Rooms di Bandung itu ada di daerah Wastukencana (dekat dengan mall BIP, Dago, Braga). Ada juga kok ZEN Rooms yang letaknya di jantung kawasan Asia Afrika. 

Penginapan kayak  ZEN Rooms ini cocok banget untuk kamu dan saya yang ke mana-mana anggaranannya sesuai dengan hotel budget. Plus ditambah fakta lagi kalau rate kamar ZEN Rooms bisa lebih murah dari hotel budgetnya itu sendiri. 

Seperti yang sudah saya sebut di bagian atas, pemesanan kamar ZEN Rooms dapat dilakukan di situs booking online. Tapi kayaknya bakal lebih seru kalau memesannya di aplikasi ZEN Rooms. Karena apa? karena ada program member yang gak akan ada di situs booking online yang lain. 


photo credit: ZEN Rooms


Salah satu programnya bernama ZEN Rewards. Kalau sudah memesan kamar ZEN Rooms sebanyak 6kali/6malam, ada 1 bonus menginap 1 malam gratis! 

Ya mirip-mirip aplikasi taksi online sebenarnya. Seru ya.  ZEN Rewards ini salah satunya saja. Ada kode promo diskon untuk menginap juga di aplikasi ZEN Rooms. 

Unik juga sistem penginapan ala ZEN Rooms ini. Saya sudah hampir 3 tahun menjadi agen sebuah situs booking online, gak pernah saya kepikiran bakal lahir sistem baru penginapan macam yang sekarang dilakukan ZEN Rooms. 

Follow ZEN Rooms di Instagram untuk mendapat promo terbarunya. 








photo credit @clarissaeunike













Teks : Nurul Ulu
Foto : Indra Yudha, Nurul Ulu. Difoto menggunakan kamera ponsel Lenovo A6000
Edit App: VSCO

Belajar Motret Makanan di Dapur Hangus Playdate

November 21, 2016
Ini pertama kalinya saya mengikuti workshop fotografi. Yeah saya gak pernah daftar ke kelas fotografi mana pun. Dan setelah saya belajar motret di Dapur Hangus Playdate, selanjutnya saya mau deh ikut workshop fotografi lainnya. Senang belajarnya. Ke mana aja saya teh. Hahaha :D





Dapur Hangus Playdate adalah acara yang diselenggarakan oleh Dapur Hangus. Pernah ada yang dengar atau baca Dapur Hangus? Ah cek Instagramnya saja. Foto-foto makanan di akun tersebut cantik, tajam, dan bagus banget!

Saya kenal orang di belakang merek Dapur Hangus sejak tahun 2012. Ika Rahma namanya. Mantan wartawan lulusan jurnalistik UNPAD ini memulai Dapur Hangus dari blognya. Saya termasuk pembaca setianya. Tulisannya lucu-lucu, kocak gitu. Dan waktu itu Ika udah mulai motret makanan.

Di Dapur Hangus, Ika menjual properti food photography. Gak cuma untuk properti aja sih, kalau barangnya mau dipake untuk kebutuhan sehari-hari pun bisa. Awalnya hanya menjual produk dapur dan meja makan, Ika juga menyediakan jasa food photography. 

Ika gak main-main dengan food photography. Dia nyicil kamera DSLR dan belajar motret makanan. Belajarnya non stop, sampai sekarang. 

Anyway Dapur Hangus Playdate adalah sesi workshop fotografi sekaligus foto produk dan endorse di Instagram. Playdate ini diadakan di rumah Ika.

Yeah saya punya produk. Iya betul Fish Express :D Ada 32ribu followers Dapur Hangus, sayang banget kalau acara begini saya lewatin gitu aja.

Dalam workshop yang hanya untuk 6 orang ini, suasananya kasual banget. Dan iya saya bersyukur banget karena pesertanya dibatasi kurang dari 8 orang. Orang yang hadir empat saja jumlahnya. Saya jadi bebas mau nanya apa aja kepada Ika. Hehehe.

Sebenarnya saya udah tahu sih sesi motret bakal kayak bagaimana. Tapi sejujurnya apa yang saya ketahui sama sekali gak menyamai kejadian aslinya. Food photography yang saya lihat di studionya Ika terlihat sangat pro. Sederhana  sih studionya tapi dari situ saya tahu keseriusan Ika terhadap food photography. Dan tiba-tiba saya jadi malu dengan skill motret saya yang jauuuuuhhhhh dengan kemampuan motonya Ika.

Di studionya Ika, lampu softbox ada 4 : 2 lampu kuning dan 2 lampu putih. Reflektor ada 2. Belum cermin yang fungsinya reflektor juga. Ada juga alas foto yang terbuat dari kayu, bukan kertas. Berat pula itu alas fotonya. Sebagai tambahan, lampu meja juga tersedia.

Dengan peralatan seserius itu, saya menerka-nerka bakal kayak apa fotonya nanti. DAN TERNYATA FOTONYA JADI BAGUS-BAGUS BANGEEEETTTTT! 





Anyway, saya kenalin dulu dengan peserta di Dapur Hangus Playdate (20/112016) ya :
Tia punya produk kukis cokelat, namanya Rocky Bars.
Ari yang produknya bakso dan cilok.
Mail dengan produk katering diet mayo dan es mambo.
Peserta terakhir saya, yang bawa filet ikan lele. Yesss Bandung Diary ini project sampingan doang. Aslinya mah saya dan Indra mendapat pendapatan utama di bidang perikanan :D

Setiap sesi pemotretan, saya ngintilin Ika. Saya motret di titik Ika berdiri untuk moto. Produk orang lain juga saya ikut memotretnya. Ya pokoknya jiplak angle foto ika 100% hahaha. Gak cuma saya, peserta yang lain juga sama. Cuma saya yang motret pake DSLR. Tia, Ari, dan Mail motret menggunakan smartphone. Sesekali Ika juga motret pake smartphonenya.

Di workshop ini saya sering ambil angle yang berbeda dengan yang Ika jepret. Hasil foto-foto saya dengan Ika beda jauh banget hahaha. Saya mah buram dan gak jelas mau memperlihatkan apa. Kalau Ika fokus banget. Saya mah masih bermain-main dengan angle makanannya. Kalau Ika mah enggak, dia motretnya kalem banget, secukupnya saja tapi komposisinya matang banget. 

First thing first yang saya pelajari di workshop ini adalah: LIGHTING. Mengetahui arah datangnya cahaya adalah penting banget! Biar apa? Agar cahayanya kena ke makanan yang mau kita foto dan makanannya jadi glowing. Kalau udah tahu arah cahaya, kita juga jadi tahu mesti motret dari mana, jadi pas kita berdiri kita gak nutupin cahaya.

Hal berikutnya adalah PROPERTI. Ika ini terkenal dengan gaya motretnya yang cantik dan penuh detail. Perintilan propertinya banyak tapi gak norak. Sebaliknya malah lucu banget. Fotonya tuh kayak cewek yang stylish abis, colorful tapi elegan. Kayak siapa ya, Eva Celia lah sosok paling tepat menggambarkan kecantikan foto makanan jepretan Ika versi manusia. 

FYI, kata Ika kalau mau naro makanan di wadah, cari yang bentuknya berlawanan dengan bentuk makanannya. Misal nih makanannya bulet, wadahnya persegi aja agar dalam foto nanti volume makanannya menonjol.

Hal seremeh melipat kain elap untuk properti aja saya baru belajar di workshop ini. Coba, untel-untel kain elap doang apa susahnya kan. Ternyata susah hahaha. Saya sampai mikir kalau ketekunan Ika lah yang membuatnya terampil menguntel-untel kain buat jadi properti. Konsistensi dia yang membuatnya lincah menata manekin dan teko di antara cookiesnya Tia. Sementara saya masih berdiri dan berpikir mesti naro piring di mana, Ika sudah membayangkan secara visual di kepalanya itu piring bakal ada di posisi seperti apa.

Terakhir: KOMPOSISI. Ah euy ini susah banget. Saya biasanya motret benda mati, landscape, moto muka orang, itu komposisinya aja sudah sulit. Makanan apalagi susah banget, apalagi Ika doyan naro properti yang perintilan gitu. Kata Ika sih properti foto itu masalah gaya aja. Ada food photographer yang gayanya super simple, bersih dari properti yang kecil-kecil. Tapi ada juga yang penuh perhatian terhadap detail kayak Ika.

Secara garis besar buat pemula mah ilmu komposisi Rule of Third udah cukup sih.






Saya menyukai warna-warna pilihan properti Ika. Saya juga cinta banget dengan mood foto jepretan Ika. Warnanya tajam, dan tegas. Dan gak norak. Saturasinya gak berlebihan, gak bikin mata ‘sakit’. Sambil menata properti dan makanannya, Ika cerita tentang belajar menyetel selera. Selera ini maksudnya menyatukan warna di satu frame. Kerjaan Ika dulu sering lihat foto-foto di Pinterest. Tapi kayaknya bukan cuma Pinterest yang menajamkan selera warna Ika deh. Jam terbang juga ngaruh.

FYI walau sudah terkenal dengan Dapur Hangus, Ika masih suka daftar workshop food photography. Saya gak nyangka :D “ya kalau saya gak ikut workshop nanti yang saya omongin di workshop yang saya  buat ya itu-itu aja,” kata Ika.

Di workshop food photography, Ika cerita dia gak cuma nyari ilmu fotografi. Ibu satu anak ini juga ngaku kalau properti-properti terbaru yang dia dapat, dia tahunya dari workshop yang dia ikuti.

Kalau kamu nanti ikutan workshop Dapur Hangus ini, perhatiin deh kedetailan Ika pada makanan yang ia foto. Setelah menata makanan, biasanya dia mengulas makanan biar kelihatan lebih glowing dengan kuas dan semprotan air. Atau pas dia mau motret produknya Mail, kentangnya dia bakar biar kelihatan lebih hangus dan menggugah selera. Terus waktu motret produk bakso, kuahnya kurang banyak, Ika ambil teko khusus untuk menuang air ke mangkok yang sudah tertata rapi. Nah ilmu kayak gitu dia dapat dari workshop food photography.

Hari itu saya senang banget ikutan Dapur Hangus Playdate. Mana produk saya difoto pula oleh Ika. Di zaman semua orang bisa jadi apa saja, termasuk fotografer, menjadi konsisten dan persisten adalah barang yang langka. Workshop bersama Dapur Hangus, saya melihat keduanya di diri orang yang telah membangun Dapur Hangus selama empat tahun ini.

Empat tahun memberi hidup untuk Dapur Hangus dan di akhir tahun 2016 ini Ika akan menerbitkan sebuah buku food photography. Wow.

Usai dari Dapur Hangus Playdate, di jalan pulang saya mikir ulang. Saya kira saya belajar motret makanan ala foto katalog dari Ika, ternyata lebih dari itu ilmunya. Senang rasanya bisa kenal dan belajar dari orang-orang kayak Ika yang fokus, konsisten, dan persisten. 

Kalau Ika membuka pendaftaran untuk Dapur Hangus Playdate lagi, ikutan ya. Highly recommended. Cek jadwalnya di akun Instagram Dapur Hangus. FYI yang terdekat tanggal 10 Desember nanti ada workshop food photography Dapur Hangus. 































Teks : Ulu
Foto : Ulu