Social Media

Image Slider

Liburan Singkat 3 Hari 2 Malam di Yogyakarta: ArtJog, Museum Ullen Sentalu, dan Makam Raja Mataram

April 27, 2017
Sebagai orang yang tinggal di Bandung, saya suka penasaran kalau ada yang bilang: kangen Banduuuuung! Lho memangnya bisa ya bukan orang Bandung, gak tinggal di Bandung, dan malah kangen Bandung?

Ternyata bisa! Dan itu kejadian banget sama saya sejak mengunjungi Yogyakarta pertama kalinya 10 tahun yang lalu. Setelah menghabiskan waktu selama 7 hari di Kota Gudeg itu, saya kembali ke Bandung. Di jalan rasanya senang bisa pulang, tapi sesampainya di Bandung ya teringat-ingat juga ke Yogyakarta.





Kalau sudah status pekerja begini, susah cari waktu libur ke luar kota. Beda kayak dulu waktu masih mahasiswi yang jatah libur semester bisa nyampe sebulan 😁

Jadi begitu ada waktu buat liburan, saya mau ke Yogyakarta lagi! Dan begitu kesempatan itu datang, saya mau jalan-jalan di Yogyakarta singkat saja, 3 hari 2 malam. Kalau cuma 2 hari 1 malam di Yogyakarta kayaknya kecepatan deh. Secara Bandung - Yogyakarta aja jauh jaraknya, sayang kan kalau cuma numpang tidur semalam. Jadi ya 3 hari cukup lah ya. Bisa lah di hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Atau ambil hari libur di long weekend kayak di bulan April 2017 kemarin lah. 

Jadi ke mana aja rencana tujuan saya jalan-jalannya nih kalau ke Yogyakarta?


Hari I: Ullen Sentalu, Museum Terbaik di Indonesia

Sampai di Yogyakarta! Pemanasan nih makan-makan dulu di sekitar Malioboro. Saya mau makan Nasi Pecel di depan Pasar Beringhardjo. Abis itu tancap gas ke Museum Ullen Sentalu di Kaliurang.

Berdasarkan resensi di blog-blog yang saya baca, Museum Ullen Sentalu nih museum terbaik se-Indonesia. Dikelola dengan baik, dirawat penuh kasih sayang, cara pengunjung masuk keluarnya pun teroganisir. Belum lagi pemandu-pemandunya yang fasih bercerita riwayat keluarga keraton. Emang sih tiketnya mahal, kalau gak salah Rp30.000/orang. Tapi ya sepadan sih harusnya ya. 

Berkunjung ke museum kayak Ullen Sentalu ini bisa jadi pengalaman saya mengapresiasi sejarah dan sebuah tempat yang legendaris. Jadi ya ke Yogyakarta mah wajib ke museum ini. 

Kembali ke pusat kota, check in ke penginapan. Istirahat. Malam menjelang, badan capek karena perjalanan. Pesan makanan dari penginapan saja atau jasa antar makanan.



Hari II: Main ke Pantai dan Berkunjung ke ArtJog!

Pagi-pagi ke Gunung Kidul. Mau ke pantai yang mana tinggal pilih, lha wong pantai melulu di sana. Hohohoh. Kalau saya maunya ke Pantai Siung.

Memang perginya harus pagi-pagi supaya udara masih segar dan panas matahari Yogyakarta belum menyengat. Pantai paling mainstream ya di antaranya Pantai Parangtritis dan Pantai Baron. Pantai Siung saya pilih karena  pasir pantainya yang putih dan kuning dan air di pantainya jernih, di bagian dasar garis pantainya ada batu-batu kerikil. Unik lah. Tahun 2007 saya pernah ke Pantai Siung dan rasanya ingin kembali ke sana.

Di pantai sampai jam 10 deh, abis itu balik lagi ke kota. Kembali ke hotel. Bersih-bersih badan dan istirahat. Sesudahnya siap-siap ke…Artjog!

Artjog ini pemeran terbesar se-Indonesia raya. Durasi pamerannya sekitar 1 bulan. Karya-karya yang epik ada di sini. Berkunjung ke Artjog ada tiket masuknya, tahun kemarin kalau tidak salah Rp50.000/orang. Tahun ini entah berapa. Bukan cuma pameran karya lukis, di ArtJog segala macam seni ada semua. Lengkap dan epik banget. Aaarrrgggh cita-cita banget saya pergi ke Yogyakarta dan berkunjung pas di bulan yang mana ada acara ArtJog ini. 



Sumber foto: Facebook ArtJog

Yogyakarta buat saya adalah kota yang rendah hati dan arsty, perhatiin aja galeri seninya banyak banget sampai-sampai ada peta khusus galeri seni di Yogyakarta. Makanya sayang aja kalau melewatkan pameran kayak Artjog ini. 

Sehabis dari ArtJog, saya cari tempat makan dan kayaknya pengen ke Alun-alun deh, nongkrong malam-malam sebelum kembali ke penginapan.

Ngapain di Alun-alun? Ya jalan-jalan di sana. Merasakan suasana malamnya Yogyakarta dan mengontel mobil kerlap-kerlipnya. Ehehehe. Belum pernah deh gowes mobilnya yang lucu itu. Seru pastinya ya 😆



Hari III: Kotagede Melihat Kompleks Makam Raja Mataram

Sekalian check out, bersiap ke arah Kotagede. Terlepas dari banyaknya toko perhiasan dan aksesori di sana, tujuan saya ke Kotagede bukan belanja perhiasan saja. Melainkan melihat kompleks makam Raja Mataram. Nah ini nih tujuan utama saya ke Kotagede. 

Urusan di Kotagede sudah tunai, lanjutkan ke kota lagi. Tepatnya ke situs-situs milik keraton.  Kayak misalnya Tamansari.





Abis itu siap-siap pulang deh. Beres sudah liburan 3 hari 2 malamnya di Yogyakarta. Lumayan padat berisi lah sepanjang perjalanan pulang naik kereta ke Bandung saya tinggal tidur pulas ehehehehehehe. 




Menginap di Yogyakarta

Urusan tidur di kota ini mah gampang banget. Tapi saking gampangnya ya mesti selektif juga. Pilihan saya menginap selama liburan singkat di Yogyakarta adalah: harganya murah tapi penginapannya gak murahan. Hohohoho. Syarat lainnya: ada AC. Hehehe abisnya panas di sana. Pengen tidur dengan cuaca kayak Bandung (baca: dingin). Mewah-mewah amat juga gak perlu, yang penting nyaman tidur dan kamar mandi bersih. Tapi ya sebenarnya ke mana-mana di Yogyakarta udah gampang karena sudah ada ojeg online di sana. Horeeee! 

Hasil cari-cari di mesin pencari internet, saya ketemu website namanya RedDoorz. RedDoorz ini semacam situs booking online khusus penginapan. Selain di Yogyakarta, RedDoorz juga tersedia di beberapa kota besar lainnya kayak Jakarta, Bali, Bandung, dan juga Bogor. 

Di Yogyakarta, saya pengen menginap di RedDoorz Plaza Ambarukmo. Sesuai anggaran saya, total biaya buat 2 malam 3 hari cuma Rp250.000. Dan tentu aja RedDoorz ada aplikasinya. Saya unduh dari Google Store sekalian. 

Bookingnya gampang banget, cara bayarnya juga gak ribet mesti pake kartu kredit. Pake ATM juga bisa. Cobain deh app ini, seru juga ehehehe. Lebih lengkap kamu bisa baca di blognya RedDoorz ya. Foto berikut ini saya skrinsyut dari appnya. 



1



2






Kalau kamu mau liburan singkat ke mana dan ngapain aja? 





Teks : Nurul Ulu
Foto: dokumen pribadi

Jalan-jalan Menyusuri 10 Stilasi Bandung Lautan Api

April 09, 2017
Tahun 2005. Gile udah lama banget. Tahun pertama kali saya tahu kalau di Bandung ada yang namanya Stilasi Bandung Lautan Api. Jumlah stilasinya ada 10. Tahun berikutnya, saya baca buku berjudul Saya Pilih Mengungsi yang mengupas tuntas tentang Bandung Lautan Api.




Dua tahun itu mencerahkan banget lah. Oh ternyata jalan-jalan di Bandung bisa kali menyusuri stilasi-stilasi itu. Terus jadi tahu kayak apa sih Bandung Lautan Api pas kejadiannya. Bukan cuma tentang bakar rumah aja soalnya.

Lalu ada yang nanya. Stilasi itu apa, Lu?


10 Stilasi Bandung Lautan Api

Bandung Lautan Api yang puncaknya terjadi pada 24 Maret 1946 ada rekam jejaknya dalam bentuk stilasi. Stilasi ini semacam monumen setinggi 1,5 m. Ada 10 stilasi di Bandung, stilasi 1 di Dago & stilasi 10 di Tegalega (Jl. Moh Toha).

Kalau diperhatiin, stilasi tampak depan kelihatan kayak persegi, kalau dilihat dr samping bentuknya mengerucut kayak segitiga. Di tiap dindingnya terpampang plakat yang isinya lirik Halo Halo Bandung, peta stilasi, dan nama penyandang dana stilasi beserta lembaga yang berinisiatif membuatnya.




Di bagian atas stilasi ada bunga patrakomala (simbol flora kota Bandung). Ada 3 plakat di tiap sisi (lirik Halo Halo Bandung, rute 10 stilasi, dan sponsornya yaitu America Express & inisiatornya Bandung Heritage). Belakangan plakatnya nambah 1 bertuliskan Djarum Foundation, belum tahu apa perannya thd stilasi Bandung Lautan Api.

Bagian paling bawah ada material kayak metal yang belum jadi yang ditaplokin ke stilasinya. Bentuk kayak gitu menyimbolkan bangunan terbakar.

Stilasi ini dirancang seniman bernama Sunaryo. Iya betul, seniman pemilik Selasar Sunaryo.

Coba deh sesekali jalan-jalan di Bandung ngikutin stilasi ini. Hitung-hitung olahraga jalan kaki (atau bersepeda). Jalannya bisa mulai dari Dago, lanjut ke Braga, Asia Afrika, Jalan Simpang, di depan SD Kautamaan Istri, Jalan Dewi Sartika, Lengkong Kecil, Jalan Lengkong, SD Asmi, & Tegalega. Gempor jalan kaki, bisa naik angkot.

Tiap stilasi menandakan ada peristiwa penting berkaitan dengan Bandung Lautan Api di sekitarnya. Stilasi no 5 ini berdiri di depan Sekolah Keutamaan Istri, sekolahnya Dewi Sartika.




Pada peristiwa Bandung Lautan Api, Dewi Sartika, guru-guru, para siswi ikut mengungsi. Kebanyakan mengungsi ke arah selatan Bandung. Garut tujuannya. Ada juga yg berjalan hingga ke Tasikmalaya.

Di dekat stilasi no 5 ini ada stilasi no 4 menandakan sebuah rumah yang dijadikan markas tentara berdiskusi : perangi tentara belanda atau mundur dengan catatan Bandung dibakar. Pilihan kedua yg diambil. Dengan demikian Belanda menduduki Bandung dengan kondisi kota yang luluh lantak.

Saya ulangi lagi ya posisi Stilasi Bandung Lautan Api:

1. Dago, depan Bank BTN
2. Braga, depan Bank BJB
3. Asia Afrika, depan kantor Jiwasraya seberang Alun-alun
4. Rumah Jalan Simpang no. 7
5. Depan SD Kautamaan Istri
6. Jalan Dewi Sartika, depan toko (nama tokonya lupa) dan PKL, dekat Jalan Simpang
7. SD Asmi
8. Kompleks Perumahan di Lengkong Kecil
9. Jembatan Lengkong
10. Tegalega, Jl. Moh Toha di trotoar depan Gereja

Kalau saya jalan-jalan nyusurin stilasi, saya mulai dari stilasi no. 2 aja sampai stilasi di Jalan Dewi Sartika. Abis itu lanjut naik angkot atau motor. Bisa sih jalan kaki, tapi jauh. 


Di Balik Bandung Lautan Api

Keputusan Bandung yang memilih mundur dan mengungsi banyak dinyinyirin kota lain. Yang paling santer nyinyirnya adalah pejuang-pejuang dari Surabaya. Dimaklumi sih mengingat mereka bertempur habis-habisan di November 1945. 

Jenderal Sudirman memerintahkan Bandung untuk berjuang melawan Belanda sampai titik darah penghabisan. Sementara itu Kolonel A.H Nasution berpendapat memberi perlawanan pun Belanda pasti menduduki Bandung. Bukan pesimis, tapi realistis.

Dalam waktu 7 jam, tgl 24 Maret 1946, ada 200ribu rakyat Bandung meninggalkan rumahnya dan berjalan kaki jauh sekali. Rumah-rumah diledakkan, dibakar. Di sela-sela perjalanan banyak yang melihat kembali ke arah utara, memandang rumahnya di batas garis cakrawala yang merah berkobar-kobar. Antara takut, sedih, semangat, tapi juga pasrah, rasanya campur aduk.

Konfrontasi langsung dengan Belanda kayak peristiwa 10 November 1945 di Surabaya atau 15 Desember 1945 di Ambarawa sama ngerinya dengan yang terjadi di Bandung. Tapi emang Bandung Lautan Api ini kalau gak tahu kisah didalamnya bakal dinyinyirin sih.

"Walaupun kami bertempur, akhirnya kami tidak akan menghindarkan pendudukan oleh musuh. Karena itu, kalau memang musuh harus memperolehnya, mereka hanya memperoleh puing-puing" A.H Nasution.


Asal Muasal Nama Bandung Lautan Api

Ada beberapa versi yang menceritakan asal muasal istilah Bandung Lautan Api. Salah satunya dr artikel berjudul Bandung Jadi Lautan Api di koran Suara Merdeka.

Nama wartawan yang menulisnya adalah Atje Bastaman. Pak Atje, entah ikut mengungsi atau meliput atau keduanya, melihat pemandangan Bandung dari kejauhan, tepatnya dari sekitar Garut. Latar belakang pemandangan Bandung terbakar yang dia lihat dijadikannya judul tulisan.


10 stilasi Bandung Lautan Api ini gak semuanya dalam kondisi baik. Ada yg lokasinya di depan bank, depan toko, di tengah perumahan, di halaman depan sebuah SD, di halaman samping rumah, di pinggir jalan. Walo kelihatannya kayak acak banget lokasinya, tapi tiap lokasi emang bersejarah & ada hubungannya dgn Bandung Lautan Api.

Bahas Bandung Lautan Api ini panjang banget sih. Mulainya malah dari tahun 1945. Belum lagi dua Ultimatum yang diturunkan sekutu (dalam hal ini Inggris) untuk Bandung, perang-perang kecil yang terjadi sebelum Bandung Lautan Api, peran etnis lain terhadap perjuangan rakyat dan tentara, dan masih banyak lagi. 

Kalau mau tahu mah baca bukunya juga, Saya Pilih Mengungsi. Belinya di Toko Kelana Buku, cek di Instagram. Fakta yang saya cantumkan di sini gak seberapanya informasi yang bisa kamu baca dalam bukunya. 


buku cetakan pertama/lama

Kalau saya emang tertarik hal-hal kayak gini, pasti baca bukunya, diusahakan datangi jejak-jejaknya. Menarik tahu cerita masa lalu, somehow saya ngerasa masih relevan dengan masa kini. Walau pengetahuan ini gak berpengaruh terhadap harga beras, tagihan listrik, dan kondisi keuangan saya, tapi secara batin rasanya terpuaskan aja gitu. Hahaha apa sih 😁


Tahun 2014 saya pernah nulisin Bandung Lautan Api. Bisa dibaca di:



Saya emang gak mahir dalam membuat judul ya hahahaha. Ah yasudahlah. Hehehe. Telat juga sih baru tayangin ini di bulan April. Ah yasudahlah. Hohohoh. 



Foto: Ulu, difoto pake kamera HP
Teks: Ulu