Image Slider

Berkunjung ke Masjid-masjid Kuno Yogyakarta: Masjid Gede Kauman yang Megah dan Kolosal

August 15, 2017
Wuih, ini belum masuk masjidnya aja udah segini besar ya halamannya hahahahaha. Demikian komentar saya pas ketemu Aan di halaman Masjid Gede Kauman yang dibangun tahun 1773.


Bayangin, pintu gerbang masuk masjidnya aja udah kayak bangunan besar sendiri. Dalam bukunya Emile Leushuis disebutkan kalau pintu gerbang tersebut adalah pintu gerbang tradisional Jawa. Fotonya di bawah yak. 

Masuk ke kompleks masjidnya, ada beberapa bangunan selain bangunan utama (yatu si masjidnya). Bangunan itu berupa dua paviliun yang terpisah namun berdiri saling berhadapan. Gak diperlihatkan sih di buku yang mana paviliunnya, tebakan saya mah bangunannya yang ada di sisi kanan dan kiri masjid.

Dari buku yang saya bawa dalam jalan-jalan ini diceritakan kalau seminggu sebelum perayaan Maulud, dimainkan gamelan setiap hari selama 24 jam dari dalam paviliun tersebut. Dalam kepercayaannya mereka menyebutkan kalau dengerin suara gamelan itu kita bakal panjang umur.

Aan cerita kalau dalam upacara gerebek yang mana berlangsung 3x per tahun, sebuah gunungan dari keraton dibawa ke lapangan masjid ini. Warga bakal berebutan ambil sesajen dalam rangka ngalap berkah.

Waw. Menarik sekali, saya pengen ada di sana saat gamelan itu dilantunkan dan upacara gerebek diselenggarakan! Jogja, aku akan kembali! Huehehehe.

Aan mengajak saya masuk dari pintu gerbang di samping masjid. Bayangin masuk masjidnya aja lewatin pagar lagi. Lha bukannya ini udah kompleks masjidnya ya, kenapa harus ada pagar di dalam pagar lagi 😁

Anw, pas ke sana masjidnya kosong gak ada orang. Kami datang jam 9 pagi, yaiya masih kosong. Saya cuma bisa lihat bagian serambi masjidnya aja. Itu pun rasanya udah cukup banget. Gila serambi masjidnya guedeeee dan mewah sekali! 

Lantainya berkeramik motif kembang. Pilar-pilar serambinya terdiri dari ukiran. Langit-langitnya yang paling heboh, warna-warni mencolok tabrak warna dan banyak dekorasi yang saya gak tahu apa namanya. Saya bisa lihat ada imitasi buah pinus sih. Cakep banget.

Ini masjid apa istana...

Ah kamu harus lihat pintu ke ruang utama masjid. Tinggi, badan pintunya kokoh, dan luar biasa tampan. Saya intip-intip sedikit bagian di ruang utamanya jadi jendela, ternyata di bagian dalam mah gak seheboh serambinya. Langit-langitnya dari kayu aja. Saya mau lihat soko bangunannya tapi gak bisa uhuhuhu. 

Kata Aan tunggu jam sholat dhuhur aja, tapi kelamaan euy. Kami sepakat langsung ke kampung di belakang masjidnya, Kauman. Saya bahas Kauman di tulisan yang berbeda ya.

Baik Masjid Gede Kauman dan kampung Kaumannya sendiri, mereka adalah favorit saya. Tempat di mana sejarah-sejarah terbaik ada di dalamnya dan terwujud dalam rupa arsitektur yang mengagumkan.

Foto-foto masjidnya ada di bawah ini nih. Sori kalo fotonya gak terlalu enak dilihat. Motonya pake hape dan teu puguh lah motona ge heuheuheu 😂

Sekarang kita pindah ke masjid yang terakhir ya, di tulisan berikutnya yak.




setelah gerbang masuk masjid ada kolam ikan ini nih,
kata aan dulunya dipake buat nyuci kaki. sekarang sih isinya ikan-ikan, kolam ikan gitu 








Teks : Ulu
Foto : Ulu

Berkunjung ke Masjid-masjid Kuno Yogyakarta (1) : Masjid Syuhada - Kado Pemerintah RI untuk Yogyakarta

August 13, 2017
Utang kunjungan saya ke Yogyakarta masih tertinggal satu tempat lagi. Dia adalah Kalicode. Ah padahal saya udah deket banget darinya tapi urung ke sana karena tau deh ah biasa lah perempuan impulsif teu puguh heuheuheu. 

Saya bilang ke Alfian bahwa kami mau ke Kota Baru. Hendak melihat-lihat rumah kuno di sana. Kata Aan (panggilan Alfian), Kota Baru deket banget dengan Kalicode. "Tapi saya mau ajak kamu ke Masjid Syudaha dulu, Lu," kata dia.

Terus Kalicodenya saya lewat aja dan malah ganti rute ke Los Bunder khekhekhekhekhe 😂


Anw, karena diajak ke Masjid Syuhada, ya uwis sekalian aja janjian ketemu di masjid tersebut. Berdua dengan Nabil, saya tancap gas - eh sopir Grabcar yang tancap gas ding hehehe- ke Masjid Syuhada. Sayangnya Indra gak bisa ikutan karena harus kerja. 

Sholat Dhuhur di Masjid Syuhada, Aan cerita kalau Masjid Syuhada ini hadiah dari pemerintah RI pasca proklamasi kemerdekaan. Bukan cuma masjid, pemerintah juga ngasi hadiah lain, yaitu Universitas Gajah Mada.

Dua buah kado itu dikasih dalam rangka ucapan terima kasih kepada Yogyakarta (utamanya Keraton) karena membantu Indonesia mewujudkan kemerdekaan. 

Ulu   : Kenapa sampe segitunya pemerintah harus berterima kasih sama Jogja, An? 
Aan  : Ya kamu bayangin aja, Yogyakarta itu kan sudah ada sebelum republik ini berdiri, Lu. 
Ulu   : Maksudnya Jogja kalau mau bisa jadi negara sendiri. Begitu?
Aan  : Iya, tapi alih-alih memerdekaan diri sendiri, Yogyakarta bantuin Soekarno-Hatta sampai ke pucuk kemerdekaan. Kalau kamu baca Tempo edisi khusus Hamengku Buwono, di situ disebutin sultan ngeluarin dana untuk menyokong Indonesia merebut kemerdekaan. 
Ulu   : Ohoo... karena itu juga Yogyakarta mendapat status daerah istimewa, An?
Aan  : Yup, selain Yogyakarta pernah jadi Ibukota Republik Indonesia juga sih. 

Obrolan terhenti. Kami berpisah sebentar karena harus sholat dulu. Saya ke sayap kiri Masjid Syuhada, Aan entah ke mana. Saya sholat di lantai dasar, lantai utamanya sedang digunakan anak-anak sekolah sholat dhuhur berjamaah. Di sebelah masjid ada sekolah, di sampingnya lagi ada sekolah kanak-kanak.

Di Jogja ini kenapa ya sekolahannya pasti bersandingan dengan masjid. Sama kayak di Karangampel kampung saya itu sih. 

Usai sholat, Aan mengajak saya masuk ke bangunan utama. Wow langit-langit bangunannya tinggi sekali. Hawa masjidnya sejuk untuk ukuran cuaca Jogja yang panas. Di pojok bangunan sebelah kanan dan kiri ada tangga. Tangganya unik sih menurut saya mah. 

Diperhatikan sekilas pun, arsitektur masjidnya gak tua-tua amat. Bagian puncak bangunan ada kubah khas masjid pada umumnya. Warna masjidnya hijau, dari luar bangunan sampai ke interiornya. Aan juga udah ngasitau saya kalau masjid ini bukan masjid kuno-kuno banget. Lha dibangunnya aja tahun 1950. 

Kalau kamu orang Islam aliran Muhammadiyah, ya cocok ada di masjid ini. Sebenernya gak mesti Muhammadiyah sih, toh siapa aja bisa sholat di sini. Kalau ikatan batin saya terhadap masjid ini begitu menginjakkan kaki ke dalamnya adalah tiba-tiba ingat almarhum ayah saya. Beliau aktivis Muhammadiyah di kampungnya, di Karangampel. Bakal lebih menyenangkan kalau ayah saya ada bersama saya hari itu. Pokoknya semua yang ada hubungannya dengan Muhammadiyah bikin saya keingetan ayah heuheuheu.

Mungkin karena itu warna masjidnya juga hijau ya. Muhammadiyah kan warna hijau. Tapi kata Aan sih hijau itu identik dengan Yogyakarta. Keratonnya aja dominan warna hijau. Sampai ke gerobak pedagang baso malang di Jogja aja warna hijau.

Ada apa dengan warna hijau ya? 

Anw, abis dari Masjid Syuhada, kami ke Museum Sandi. Tapi saya bahas museumnya di tulisan yang lain saja ya. Sekarang saya mau bahas dikit masjid ke-2 yang kami datangi. Di tulisan berikutnya yaaaak! 😀












Teks: Ulu
Foto : Ulu

Menengok Borobudur (Untuk Pertama Kalinya!)

August 11, 2017
Bila ada satu tempat yang wajib orang Indonesia kunjungi, maka ia adalah Borobudur. Menurut saya mah begitu. Saya cerita sama Indra kalau saya ini nih, belum pernah ke Borobudur. Merespon omongan saya, dia malah ketawa keras sekali. Aheuheuheu. 

Ya akhirnya sampai juga kami ke hari itu, hari bersejarah di mana saya menginjakkan kaki pertama kalinya ke Borobudur! Sementara untuk Indra, itu ketiga kalinya dia berkunjung ke sana. Di jalan pulang dari Borobudur, Indra bertanya pada saya. Entah menyindir atau emang tulus nanya aja. "Jadi gimana, seneng bisa lihat langsung Borobudur?" saya senyum-senyum aja. Heuheuheu. 

Tentu aja saya senang sekali. Senaaaaaaaaaang sekaliiiiiiiiiii! 

Perjalanan ke situs yang pertama kali ditemukan tahun 1812 itu saya pilih di pagi hari. Berangkat pukul 5 subuh dan tiba di parkiran Borobudur sebelum jam 6 pagi.  

Saya, Indra, dan Nabil udah siap berangkat sejak setengah lima pagi. Sungguh tepat waktu sopir datangnya. Kami tertidur di mobil, benar-benar gak kerasa kalau udah sampai lagi di Magelang. Dua penumpang lain yang juga peserta tur ke Borobudur pun sama lelapnya. 

Borobudur berkabut pagi itu. Langitnya kelabu. Hawanya dingin. Kira-kira tidak lebih dingin dari tempat tinggal kami di Bandung Utara. Tak perlu lah pake jaket toh kami gak bawa juga 😅

Pintu masuk masih tertutup. Rupanya pukul 6 tepat Borobudurnya baru dibuka untuk pengunjung. Beberapa turis sudah berkumpul di mulut pintu. Semuanya turis mancanegara. Lagi musim panas di Eropa sehingga bulan Agustus ini nih puncaknya musim liburan orang-orang Eropa. Gak heran Yogyakarta sedang penuh-penuhnya turis dari Perancis, Belanda, Swiss, dsb, dst, dll. Mungkin bulan ini juga waktu yang tepat untuk orang Indonesia liburan ke Eropa ya. Sepi kali di sana, orang-orangnya pada nyari matahari ke Asia 😁


Sampai di mana kita tadi? Oh pintu masuk Borobudur ya. 

Gak nunggu lama, pintu dibuka. Bayar tiketnya murah saja: per orang Rp40.000 (karena akhir minggu, kalau hari kerja Rp35.000). Nabil masih bocah, bayarnya setengah harga dari biaya masuk. Kami memutuskan berjalan tanpa pemandu. Biarlah nanti sambil googling kalau ada yang kami gak ngerti perihal yang kami lihat di Borobudur. 

Dan karena hari itu bukan musim liburannya orang Indonesia, 
juga masih pagi jam enam,
Borobudurnya masih sepi banget! 

Wah kami senaaaaang! Saya sih terutama. Hati ini rasanya berdebar-debar. Seperti mau ketemu seseorang atau sesuatu yang penting. Kami berjalan kaki pelan-pelan saja. Saya memotret dengan kamera hape, Indra dengan kamera yang biasa, dan Nabil kami bekali sebuah smartphone khusus untuk ikut moto aja. Ah the perk of traveling with kid is to keep the kid busy! Karena kalo mereka bosen niscaya sepanjang jalan bakal ngomel-ngomel wkwkwkwk.

Dan akhirnya bisa lihat langsung itu Borobudur.

Borobudur is indeed spectacular. Baru melihatnya dari kejauhan saja hati saya sudah berdegup. Menyaksikannya lebih dekat, waduh jatuh cinta hati ini rasanya. Peradaban macam apa yang sanggup membangun mahakarya seperti Borobudur ini...

Satu per satu pelataran Borobudur kami kitari. Dalam papan pengumuman yang kami baca (tercantum dalam bahasa Inggris, kami gak menemukan informasinya dalam bahasa Indonesia), disebutkan bahwa untuk mengapresiasi dan menghormati situs Borobudur, kami diminta untuk berjalan mengelilingi pelataran Borobudur mengikuti arah jam bergerak sebanyak 3x. Pradaksina, begitu istilahnya. 

Masih berjalan pelan, kami melihat reliefnya dengan detail. Gak semua sih. Bisa berjam-jam kayaknya kalau ditelisik satu-satu reliefnya ya. Saya bertanya sama Indra, boleh gak reliefnya dipegang. "Mending gak usah," kata dia. 

Secara diam-diam tanpa Indra tahu, saya pegang dua relief. Gimana ya kalau saya sentuh reliefnya dengan ujung jari terus tahu-tahu saya menghilang dan ada di lokasi yang sama hanya saja di abad 9, abad di mana situs Budha yang monumental ini dibangun. Heuheu. Dari sumber tulisan yang kami baca disebutkan bahwa relief-relief di dinding Borobudur ini memperlihatkan kehidupan umat Budha. Tiap pelataran kisahnya berbeda-beda. Makin dekat ke puncak Borobudur, makin tinggi tingkat spiritualitas yang terlihat dalam reliefnya. Tapi saya gak bisa lihat satu-satu kayak apa itu perjalanan kronologis reliefnya. 

Borobudur bukan hanya situs umat Budha, saya sih percaya situs tersebut juga mahakarya sebuah peradaban umat manusia. Sebagai muslim, saya mengapresiasinya sebagai keindahan sekaligus kecerdasan. Gimana caranya itu mengukir batu serinci itu, batunya pun dari mana datangnya ya, terus gimana cara mereka bawa batu hingga ke puncak teratasnya, apa mereka mengukir berdasarkan naskah terlebih dahulu, apa reliefnya dibuat sekaligus atau secara bertahap dicicil per kisah? 

Banyak sekali pertanyaan saya ahahahaha. Harusnya sewa jasa pemandu 😂

Berada di Borobudur (meski diinterupsi oleh kicauan si Nabil yang makin lama bikin greget) saya merasa sangat 'kecil'. Tempat ibadah buatan nenek moyang kita selalu dirancang supaya manusianya (umatnya) merasakan sesuatu yang agung, bukan siapa-siapa selain debu di alam semesta. Bukan cuma Borobudur yang megah, masjid yang mungil seperti Masjid Kaliwulu di Cirebon sekalipun terasa begitu suci. 

Pagi itu pun Borobudur terasa begitu hening. Situasinya gak sepi banget juga sih. Banyak turis berdatangan. Tapi gak seramai yang saya bayangin. Semua turis berfoto, terutama turis-turis lokal yang berfoto dan tertawa yang kayaknya bahagia sekali. 

Kami bertiga istirahat di pelataran tertingginya. Sama seperti turis yang lain, kami juga foto-foto. Setelah itu kami duduk saja memilih tempat yang kiranya paling sepi.

Bersantai kami memandang ke arah perbukitan Menoreh. Langitnya sudah membiru. Mataharinya mulai muncul. Bagi peserta tur yang mengikuti tur sunrise Borobudur gimana perasaannya ya, sebab pagi itu mendung tidak ada pemandangan matahari terbit. 

Sambil menyaksikan pemandangan yang permai, bukit-bukit hijau di antara patung dan stupa Borobudur, pikiran saya ke mana-mana perginya. Ingat pekerjaan, ingat keluarga, ingat almarhum ayah, ingat perjalanan pernikahan saya dan Indra, ingat rencana ke Solo dan belum beli tiket kereta, ah macam-macam melanturnya. 

Tapi enak ya bisa duduk diam. Cuma diam aja sambil lihat pemandangan yang syahdu. Terbayang zaman dahulu, pagi yang sejuk dan permai, perbukitan sejauh mata memandang, tidak ada kamera, tidak ada turis, Borobudur sebagai tempat ibadah saja. Hening dan khusyuk, pengalaman spritual yang magis gak sih? 

Sampai kemudian Nabil mulai bosan dan kesyahduan saya pecah. Hehehe. Saya memberinya buku dan pinsil untuk menggambar. Saya dan Indra ngobrol. Kami dilarang bawa makanan, hanya boleh minuman saja. Tapi turis dari Perancis di sebelah kami, mereka menyantap sepotong roti. Saya saksikan lagi turis mancanegara yang lain, mereka juga asyik melahap bekal makanan di pelataran Borobudur. 

Apa turis lokal aja yang dilarang bawa makanan dan makan-makan di Borobudur, a? Tanya saya ke Indra. 
Mungkin. Kalau turis bule kan gak nyampah. Jawab Indra.

Terus terang aja kami kelaparan. Nabil sudah crancky minta makan. Padahal di mobil tadi kami sudah mengemil-ngemil demi mengganjal jam makan pagi. Kami putuskan beranjak dan meninggalkan Borobudur. Sopir dari tur yang kami book meminta kami kumpul di restoran Manohara. Pas ke sana, semua meja terisi peserta tur yang 99% turis mancanegara. Di resto ini juga kami 'terpaksa' jajan menu sarapan. Sebab gak ada warung satu pun dan kami lapar sekali, terutama Nabil sih aheuheuheu. 

Kayak di jaman kompeni, a. Kata saya ke Indra. 
Hahahaha. Dia ketawa aja. 

Di Borobudur ada 6 pelataran, sekitar 3000 relief dan 500 patung. Pernah diguncang gempa, dibom teroris, terkubur zaman, Borobudur adalah survivor. Sekarang Borobudur resmi jadi bagian dari kenangan-kenangan kami. Mudah-mudahan situs yang mengagumkan ini lestari selama-lamanya ya. Amin.

Saya gak bisa kasih tahu cara menuju Borobudur karena emang gak tahu. Bila menginap di hotel-hotel Yogyakarta, nampaknya hampir semua penginapan punya paket tur ke Borobudur. Begitu juga homestay yang kami inapi. Saya ambil paket 'Good Morning Borobudur', per orang bayar Rp70.000. Harga yang sepadan. 












Teks: Ulu
Foto: Indra Yudha, Nurul Ulu 

Trip to Yogyakarta (Again!) and Surakarta

August 09, 2017
Kami baru saja kembali dari perjalanan satu minggu di Yogyakarta dan Solo. Senang rasanya bisa kembali ke Kota Pelajar dan menjelajahinya sesuai keinginan kami. Belum lagi ada bonus ke Solo sebelum balik lagi ke Bandung. 

Perjalanan ini bukan murni jalan-jalan. Indra ada urusan kerja di sana selama empat hari dan dia mengajak saya ikut serta. Kami menginap di hotel yang berbeda. Saya dan Nabil jalan-jalan berdua saja (plus seorang teman yang saya minta jadi pemandu) berkeliling tempat seru di Jogja. Indra baru gabung dengan kami selepas jam 2 siang. 

Kayak biasanya saya udah nyiapin daftar mau ke mana aja selama di Jogja dan Solo. Yah gak jauh-jauh dari historical places wkwkwk. Mulai terbaca membosankan belum? :D


Highlight perjalanan ini adalah BOROBUDUR! Karena ini pertama kalinya saya melihat mahakarya satu dari tujuh keajaiban dunia ituh.

Saya beruntung banget selama perjalanan di Yogyakarta, seorang teman menemani kami. Alfian Widi adalah fotografer dan penulis lepas yang jadi pemandu saya selama di Jogja. Kamu bisa baca dan lihat karyanya di blog www.alfianwidi.com

Dengan waktu yang Alfian punya nemenin kami selama dua hari aja, itu pun kepotong hal darurat yang mendadak terjadinya, kami benar-benar memanfaatkan waktu yang tersisa dengan sepenuh hati *halah :P*. 

Alfian mengajak saya ke Kota Baru (lihat rumah kuno), ke Museum Sandi, dan mengunjungi beberapa situs kereta api. Termasuk rumahnya yang ternyata antik banget. Pada hari ke dua, saya rikwes jelajah ke daerah Kauman dan dua masjid kuno. Dalam setengah hari saja misi tercapai. 

Namanya traveling bersama anak kecil, kasihan juga kalau hanya ibu dan ayahnya yang senang-senang :D oleh karena itu saya bawa Nabil ke Gembira Loka dan dia senang banget ahahahahahah. Niatnya sih habis itu mau balik ke hotel, tapi Indra mengajak kami ikut rombongannya ke Imogiri untuk makan Sate Klathak. Nyampe hotel jam 9 malam dan ini badan terasanya capek banget. 

Di hari ke tiga, Alfian harus pergi ke Pekalongan, saya dan Nabil istirahat saja di penginapan. Begitu juga Indra yang udah bebas dari kerjanya. Apa yang kami lakukan: tidur seharian. Capek :D Stamina kami jelek amat ya heuheuheu. Sorenya sih ke toko jamu, tapi itu juga saya doang yang pergi. Indra dan Nabil tidur mulu. 

Baru deh besoknya tancap gas ke Borobudur. Siang hari berkeliaran di Malioboro itung-itung nunggu jadwal kereta ke Solo karena dapet tiket yang sore. Saya pengen ceritain satu-satu sih gimana kesan-kesan selama berkunjung.

(Lha yang mengunjungi masjid-masjid kuno di Cirebon aja belum saya tulis di blog. Ahuhuhuhuh)


Sementara itu, berikut ini cuplikan foto dari tempat-tempat yang sekarang jadi bagian dari kenangan kami :) Tulisan dan foto lebih banyak menyusul ya hehehe.

istirahat di stasiun yang hawa di sekitarnya segar dan sejuk
 Berkunjung ke Masjid Syuhada
Dan berjalan kaki menuju Museum Sandi 

Melongok sedikit rumah-rumah tua di kawasan Kota Baru
Mengekor Alfian merunut jejak kereta api di masa lalu
Lalu mampir ke rumahnya (yang antik!)


Di Masjid Gede Kauman
Dan menjelajahi kawasan kampung kuno Kauman
Sholat Dhuhur di Masjid Margo Yuwono yang cantik
Dan sejenak menjadi anak gaul Jokteng -Pojok Benteng-
Menghabiskan sisa siang hari di kebun binatang
Mencicipi es jamu beras kencur di kedai jamu yang ada sejak tahun 1950
Esok harinya ke Borobudur
Dan jarang-jarang membuat foto keluarga ini :D 
Lalu menuju ke Surakarta a.k.a Solo!
Rumah Turi, salah satu penginapan terbaik yang pernah kami singgahi
Menyaksikan jejak keraton Raja Surakarta
Dan menuju Pasar Gedhe mencari kuliner-kuliner terbaiknya Solo
Terakhir: singgah ke Laweyan






Teks : Ulu
Foto : Indra, Ulu, & Alfian