Image Slider

Waktu Mencari Jam Tangan di Jalan ABC

February 16, 2018
Dari rumah menumpang bis kota. Jam 10 pagi waktu itu. Memperkirakan kepadatan jalan raya di Bandung di akhir pekan jam harusnya sih masih lengang. Masih terlalu pagi untuk macet lah.


Ternyata macet…Hahaha. Saya berencana ke Jalan ABC di dekat Pasar Baru. Niatnya mah mau berburu jam tangan. Terutama yang mereknya Jam Tangan g shock. 

Fyi, Jalan ABC ini segala macam barang ada. Dari jam tangan, kacamata, alat elektronik, keran air, kunci-kunci klasik untuk hiasan, ada semua lah kecuali barang fesyen aja. 

Jam 10 naik Damri (bis kota di Bandung), di daerah Setiabudi udah mpot-mpotan itu bus jalannya. Masuk ke Sukajadi, hahaha manyun. Macet makin menjadi.

Pendek cerita setelah kemacetan bertubi-tubi di pusat keramaian, saya akhirnya turun juga dari bis dengan perut keroncongan dan hati kesal. Mestinya saya pesan ojek online aja kali ya. Mana tahu kirain (belum) gak bakal macet.

Tips 1 bepergian di Bandung di hari Sabtu dan Minggu: cek googlemap.

Dua jam lah  waktu tempuh dari Setiabudi Atas ke Jalan ABC. Mulai dari mulut Jalan ABC, saya udah bisa lihat-lihat jam tangan yang terpajang di gerobak mamang-mamang. Sayang ini perut udah berontak minta makan.

Berjalan kaki sebentar, sekitar 200 m, ketemu lah saya dengan lotek ternikmat sepenjuru bumi parahyangan :D Yes betul, Lotek Alkateri!

Jadinya mamam dulu deh. Sebenernya sih ini lotek porsinya dikit. Si lotek diwadahin ke kertas yang udah dibentuk kayak corong es krim. Tentu aja kurang porsinya buat saya sehingga baso tahu yang ada di sebelahnya saya pesan juga heuheuheu :D

Tips 2 bepergian di Bandung: makanan jalanannya enak-enak, jangan ragu-ragu kalau mau nambah atau pesan makanan lainnya. Stop diet go riot!

Yak sudah makan. Hati juga ikut jadi kalem. Enak nih kalau udah tenang mah berburu jam tangannya juga lebih fokus dan santai. Terus karena di sini banyak yang jual barang-barang ‘aneh’, jadinya mata jelalatan lihat barang lain. Heuheuheu. Terutama kacamata sih kalau saya mah. Jlan ABC ini surganya penggemar kacamata.

Lokasi Jalan ABC strategis untuk belanja dan mencari pengalaman traveling yang menarik di Bandung. Bila kamu termasuk pejalan yang tipenya pengen tahu tempat unik dan otentik, nah di sekitar Pasar Baru ini ada banyak. Antimainstream pokoknya mah.

bersiap belanja dan jajan :D 

Jalan ABC merupakan daerah tuanya kota Bandung. Dahulu menjadi kawasan pecinan, sekarang juga masih. Kawasan Pecinan di Bandung ini luas juga, dari Jalan Sudirman, Jalan Kebon Jati, Jalan Suniaraja, dan beberapa jalan lainnya.

Kalau  perhatikan sisi kanan kiri jalan, masih ada kok rumah-ruam tua ala arsitektur Tionghoa. Itu lho yang atapnya khas bentuknya. Kamu juga pasti bisa menyimpulkan sendiri kalau lihat rumahnya, bahwa itu rumah khas tionghoa.
Jalan ABC diapit Jalan Alkateri dan Pecinan Lama. Di jalan-jalan tersebut ada ‘harta karun’ berupa restoran dan toko kopi.

Di Jalan Alkateri ada Warung Kopi Purnama dan di Jalan Pecinan Lama ada Toko Kopi Aroma.

Tips 3 bepergian di Bandung: datangi tempat-tempat otentik.

Abis belanja di Jalan ABC, tentu aja saya jajan kopi ke Kopi Aroma. Beli kopi di sini mah ngantri euy. Tapi cepet majunya kok antriannya. Dan jangan datang di hari minggu sebab tokonya tutup.



Belanjanya cuma satu jam, jalan-jalannya yang lama. Plus macetnya sih. 

Sebelum pulang, belok ke Warkop Purnama dulu buat makan roti srikaya (highly recommended) dan teh jeruk nipis plum (highly recommeded juga nih hehehe) sambil skroling timeline instagram dan lihat-lihat hasil belanja, termasuk si Jam Tangan g shock itu. 

Colling down di warkop Purnama udah paling pas. Abis itu balik ke rumah, pesen ojek online aja. Byebye macet :D

**********


Foto: dokumen pribadi

Berkunjung ke Kebon Langit Bersama Camp On Farm

February 10, 2018
Hari minggu artinya hari jalan-jalan atau hari bermalas-malasan. Kami pilih yang pertama.

Pagi-pagi tancap gas ke arah Dago. Kelaparan dan rehat sebentar di depan Terminal Dago, makan nasi kuning yang rasanya gak enak 😅 

Berbekal googlemap, sekitar 20 menit lah waktunya dari Terminal Dago ke Kebon Langit. Kami mengendarai motor. Sudah tahu sih medan ke sana bakal nanjak gila, kami isi bensin pake pertamax turbo biar motornya kuat.

Pas mau nyampe banget Kebon Langit, ternyata tanjakannya menggila. Saya turun dari motor aja -sebab gak akan kuat motornya- dan berjalan kaki terseok-seok seperti sapi yang sedang membajak sawah. Khekhekhe.


Acara dimulai jam 9 pagi. Kami datang kayaknya telat 5 menit atau mungkin tepat waktu.

Kebon Langit seperti yang kami duga berdasarkan namanya, emang pas ada di sana dan lihat pemandangan, rasanya kayak nempel sama langit.  

Bersalaman dan berkenalan dengan teman-teman baru penyelenggara acara, Camp On Farm, kami istirahat dulu duduk sambil minum dan ngemil gorengan. Tapi minuman dan gorengannya hari itu beda dari yang biasanya kami santap. 

Minumannya berupa seduhan bunga telang. Rasanya... ya kayak makan bunga. Pernah makan bunga gak? Saya pernah. ya rasanya sepet-sepet wangi. 

Gorengannya : gorengan jamur champignon, bayam merah+hijau, dan pisang goreng. Minyak untuk menggorengnya minyak kelapa. Emang kelihatan gorengannya lebih 'terdidik' lah. Warnanya segar, bersih, dan sehat. Favorit saya: gorengan jamur dong. Semua gorengannya kami makan sih 😅

Abis makan-makan dan terpesona dengan air dari bunga telang, barulah kami turun ke Kebon Langit.

Kang Asep memandu kami. Beliau pemilik sekaligus pengelola warung dan perkebunan. Makanan yang ada di warungnya berasal dari kebonnya sendiri.


Kang Asep mengenalkan kami pada dedaunan herbal: mint, peppermint, mint balm, stevia, oregano, rosemary dan thyme. Empat dari daun itu kami coba makan. Daun mint sih yang tersering kami temui dan konsumsi. Namun baru lah kami ketahui bahwa mint itu ada banyak ragamnya. 

Sorgum, demikian namanya, adalah tanaman berikutnya yang ada di Kebon Langit. Ia sejenis karbohidrat, saudaranya Padi. Hanya saja Sorgum ini lebih tahan banting. Ia dapat tumbuh di tanah yang miskin nutrisi dengan frekuensi panen yang lebih sering dibanding tanaman padi. Kang Asep bercerita bahwa ia mengetahui Sorgum (atau dalam Bahasa Sundanya Rugay) dari buyutnya. 

Sorgum nih mirip jagung sih, tinggi tanamannya. Sama seperti padi, ada sorgum merah, hitam juga sorgum warna kuning. Makin pekat makin bagus gizinya. Ya mirip beras merah dan hitam itu. 

Saya sih gak menyukai tanam menanam. Berkebalikan dengan Indra, dia seneng kegiatan bercocok tanam. Selama Kang Asep berbagi ilmu berkebunnya, Indra yang menyimak serius. Nabil asyik bermain. Saya mah yah gitu aja lah foto-foto heuheu 😁

Keliling Kebon Langit gak bikin capek, kebonnya gak terlalu luas. Palingan konturnya aja yang naik turun.

Kira-kira pukul 12 siang kami kembali ke warungnya dan makan siang dengan menu Ayam Asap Rosemary. Alamak nikmat nian itu ayam. Hanya saja nasinya kurang pol karena gak pulen. 

Nabil metik jeruk lemon dan membantu Kang Asep bikin Lemon Mint Shake. Kelihatan dari mukanya, si Nabil seneng banget. 

Ikutan acaranya Camp On Farm ini niat awalnya jalan-jalan aja. Mencari udara segar, bertemu teman baru, dan istirahat dulu dari rutinitas. Sekalian juga pengen ajak Nabil main ke kebon. 

Karena pesertanya gak banyak, acaranya juga jadi kayak undangan teman aja gitu. Banyak ngobrolnya, banyak ketawanya.

Dari obrolan itu juga kami baru tahu, teman-teman dari Camp On Farm ini berkolaborasi dengan petani-petani lokal. Semacam apa ya, menggabungkan kegiatan pertanian dan perkebunan dengan wisata. Tapi bukan pertanian/perkebunan yang sengaja dibuat untuk berwisata ya. Juga bukan kayak Farmhouse yang plekketiplek tempat wisatanya banget. 

Ini mah kami diajak datang ke sebuah areal pertanian dan perkebunan lalu diajak keliling perkebunannya serta bercengkrama dengan petaninya secara langsung. Mengenal dalem-dalemnya dunia perkebunan dan mengetahui asal muasal beberapa bumbu yang tersaji di meja makan. 

Kebon Langit ada di utara Bandung, dekat Tebing Keraton. Dari Kebon Langit, pemandangan ke arah kota Bandung indah sekali. Kami bisa menyaksikan pegunungan lainnya di selatan dan timur Bandung. Megah lah. Pemandangan makin dramatis ketika ada pesawat yang melintas karena pesawatnya sejajar dengan tempat kami berdiri. 

Kalau teman-teman ada waktu luang di akhir pekan, coba sesekali ikutan acara kayak gini.

Buat anak-anak setelannya masih cocok. apalagi agi orang dewasa kayak kita ini yang mudah kena serangan lelah batin. Capek kan ngurusin terus laporan keuangan, proposal untuk klien, perjuangan nyari pasangan hidup, nyuci baju, piring kotor, mengetik tanpa henti, jawab-jawabin pesenan di whatsapp, dandanin muka, bikin tutorial, nyetrika hijab, mandiin anak, baca timeline medsos isinya ujaran kebencian dan nyinyir-nyinyiran, dsb, dst, dll.

Jalan-jalan dulu di kota sendiri sebentar aja, ketemu orang baru, menghirup udara segar, lihat warna-warni bunga dan rerumputan.


















Teks : Ulu
Foto : Ulu

Jalan-jalan ke Cianjur, ke Museum dan Lihat Pabrik Roti Legendaris

February 09, 2018
Liburan singkat di Cianjur ini terlalu singkat. Terlalu cepat. Saya harus balik lagi ke sana dengan tempo perjalanam yang lebih pelan.

Tahu gak berapa hari saya ada di Cianjur? 24 jam 😂



Target tujuan saya ke Cianjur ada dua: Sate Maranggi Cianjur dan ke Museum Bumi Ageung Cikidang.

Hamdalahnya gak cuma dua tujuan tersebut yang terlunaskan tapi juga ada tiga tempat lainnya nih yang kami datangi. Apa aja? (fyi, saya kayaknya bakal tulis beberapa tempat secara detail di postingan terpisah).


1. Pabrik Roti Tan Keng Cu

Mesti ke sini sebelum jam 1 siang. Dari museum Bumi Ageung kami berjalan kaki. Fajar memandu kami lewatin gang-gang kecil. Lewat pinggir jalan raya mah berisik banyak mobil dan panas, gitu katanya. 

Bila ada yang menarik dari pabrik ini, itu adalah ruang pemanggangan roti. Sekarang saya tahu gimana itu roti-roti dipanggang. 

Waktu masuk ke pabrik roti Dji Seng (yang ini di Bandung), saya juga lihat ruang yang sama tapi gak ngerti gimana cara mereka bakar rotinya ya.

Ruangannya kecil gitu. Cuma ada bolongan di tembok, di balik si tembok ada ruangan besar buat nari roti-rotinya.


Sekarang mah jadi tahu. Mereka panggang roti kayak masukin pizza ke tempat pembakaran, roti ditaro ke 'oven' pake sendok ceper panjang dan besar dari kayu itu lho kayak sosodok. 

Tapi sebelum rotinya masuk, ini ruang mungil dibakar pake api. Kalau kita ada di pemanggangan itu kayaknya tinggal tengkorak aja heuheuheu. 

20 menitan api menyala (apinya keluar dari alat, gede kayak gunshot tapi lebih gede lagi), matiin apinya, masukin rotinya. 

Dan saya ada di sana dari rotinya dibuat, apinya nyala, roti dimasukin, sampe rotinya matang! Sungguh proses yang menakjubkan hahahaha. Terutama proses bakar rotinya, wow baru lihat yang kayak gitu. 

Terus saya beli rotinya, tahu gak berapa harganya? 1500. SERIBU LIMA RATUS! Dalam hati menghitung profit mereka berapa heuheuheu. 

Saya beli roti tawarnya, TIGA RIBU RUPIAH! Emang sih ukurannya kecil, tapi saya gak mengira semurah itu juga...

Fyi, Roti Tan Keng Cu ini tertua di Cianjur. Udah ada sejak tahun 1926. Lebih tua dari almarhum kakek saya. 

Hatur nuhun udah ajak kami ke sini, Fajar. Kayaknya kalo gak sama dia, gak mungkin deh bisa masuk sampe ikutan bikin rotinya heuheuheu.


2. Museum Bumi Ageung Cikidang

Dari kapan mau ke museum ini sejak pertama kali melihatnya di Instagram. Nah barulah kesampaian di bulan Desember 2017! 

Kontak dulu Fajar via WA. Tentuin hari dan jam. Ketemu lah kami akhirnya. Fajar menjemput kami di penginapan. Kami berjalan kaki bentar lihat pusat kota, makan bubur, barulah ke museum.


This museum is awesooommmeee! Ini tuh milik pribadi, keluarga dari keturunan Prawirediredja II, Bupati Cianjur dahulu kala. Menempati rumah yang dibangun tahun 1866, museum ini ada di jantung kota Cianjur. 

Terus isi museumnya apik tenan. Saya rasa latar belakang ilmu Fajar (dia fotografer dan lulusan desain interior kalo gak salah), mendukung seleranya untuk naro dan majang barang. Enak banget lihat penempatan-penempatan koleksi di sini. Rapi, apik, terawat, dan yah terlihat dicintai lah. 

Koleksinya ya sudah pasti koleksi keluarga Prawiradiredja. Walo begitu gak pribadi-pribadi amat karena peran beliau sebagai bupati kan pasti memperlihatkan banyak Cianjur di masa lalu kayak apa. Jadi ada tuh foto-foto lama Cianjur di sini. 

Saya nanti tulis panjang lebar tentang museumnya di postingan berikutnya yah. Fotonya juga banyak nih. Hahaha.

Sementara itu follow akunnya di Instagram ya, @bumi_ageung_cikidang. 


3. Geco

Fajar ajak kami makan siang di Kantin 81. Deket banget sama Roti Tan Ken Cu. Ini nih tempatnya ya kayak warteg biasa sih cuma gak ala warteg jualan makanannya. 

Geco itu ya makanan yang ENAK BANGET SAYA BISA NAMBAH DUA PORSI! Tapi harganya mahal jadi satu porsi cukup hahahaha. Rasanya manis kecut gurih. Loteknya juga aduduh nikmat tiada tara. Minumnya es markisa. Wagh porsi makan siang yang lezatnya terkenang.


Geco ini isinya mie, tahu goreng, kentang goreng (bentuknya wedges), dan tauge. Kuahnya rada asem warnanya kuning merah.

Kayak biasa ya makan di Cianjur mah selalu ada bumbu pepes, yaitu potongan bawang daun dan bumbu entah apa mungkin kunyit yang dikukus. Bubur yang saya makan di pagi hari ada juga bumbu ala pepes begitu.


4. Sate Maranggi Cianjur

Sebentar saya harus ketik ini pake capslock. SATE MARANGGI TERENAK DI PENJURU GALAKSI BIMA SAKTI. 

Parah ini enaknya. Saya dan Indra makan dua porsi. Dua porsi! 

Lezatnya luar biasa. Dagingnya mungil-mungil, empuknya alamak mantap nian, bumbunya hwaadduuuhhhh ngetik ini aja rasanya air liur saya udah luber. Manis rasanya. Sambelnya sambel oncom. Sate dimakan dengan nasi kuning atau ketan bakar. Saya rekomendasikan ketan bakar. 

Delapan tahun lalu saya ke Gunung Padang Cianjur, sebelum pulang ke Bandung makan di sini nih di Sate Maranggi Cianjur di Warung Jajar. Hari terbaik kala itu, saya menemukan harta karun kuliner yang nikmatnya melekat di hati (lebay, ceu :D). 

Pokoknya ke Cianjur mah ini kuliner wajibnya. Sate Maranggi Cianjur. Belinya mesti di Warung Jajar, sebelah Baso Senggol (fyi, basonya enak paraaahhh! Dulu tahun 2010 saya makan sate maranggi dua porsi, plus basonya satu porsi. Wong edan!)


Demikian tempat-tempat utama yang kami datangi.

Di antara itu kami juga mampir ke: toko kelontong yang tegelnya kuno banget, jajan tauco di toko Tauco Cap Meong, makan bubur di Bubur Sampurna, ke Stasiun Kereta Api Cianjur yang jadul gedungnya, melihat bekas bioskop tempo dulu, termasuk merhatiin dikit rumah-rumah tua yang penampakannya udah mengkhawatirkan. 

Sebentar. Ada yang kelupaan diketik gak yah. Kayaknya udah deh. Banyak juga ya dalam sehari doang hahaha. Ini pun masih sempet jalan kaki muter kota moto-moto bangunan lama. Gak semuanya sih ya tapi dapet lah. 

Oiya, ini pun kepotong hujan, mestinya kami ke Pendopo. Tapi karena ada si Nabil yang udah capek dan kehujanan, kami balik ke hotel dan istirahat. 

Kota-kota kecil tuh menarik ya untuk dijelajahi. Terutama kalo kita ditemani warga lokal. Kayak saya waktu di Jogja ditemani Aan, di Cianjur ini ditemani Fajar. Enak gitu jadi lebih cair waktu ngobrol dengan warga lokal lainnya. Bagian menarik lainnya sih, bisa dapet perspektif lain tentang kotanya. 

Kayak Fajar yang sedikit cerita tentang moto kota Cianjur sekarang, Cianjur Jago. Tapi yah itu dibahasnya ntar deh. 

Kayaknya kalo kamu ke Bandung, ditemani warga lokal juga pasti nambah cerita. Bukan cuma bagian senengnya aja, tapi juga ada sisi lain yang turis susah dapetin lah. Kayaknya sekarang kan Bandung di mata turis tuh nyenengin banget ya (kecuali macetnya heuheu), tapi ada gak sih sisi lain Bandung yang bisa menambah sudut pandang kamu melihat kota ini. Ada atuh, tapi mesti warga lokal deh yang bisa ceritain.

Balik lagi ke Cianjur, kontak Fajar ya kalau kalian main ke Cianjur. Highly recommended.














Foto: Ulu

The Wayang Homestay di Yogyakarta: Murah dan Menyenangkan (ps: wifinya jelek)

February 08, 2018
Selamat datang di postingan pertama tahun 2018 :D 

Saya belum kasihtahu ya, terakhir kali jalan-jalan di Yogyakarta kami menginap di The Wayang Homestay. Anggaran tidur yang terbatas, saya cari penginapan yang ramah anak dan ada AC. Cari-cari daftarnya di Agoda dan baca reviewnya, pilihan jatuh ke Wayang Homestay di Jl. DI Panjaitan. 



Kesan pertama menginjakkan kaki ke tempat ini, aduduhhhhhhhhh hangatnya...Bukan hangat cuaca yah itu  mah udah pasti :D

Seharian itu kami gak berhenti berkegiatan dari jam 8 pagi. Saya dan Nabil abis jalan kaki dipandu teman baik melihat-lihat masjid antik dan kampung kuno

Terus saya boyong anak kecil ini ke Gembira Loka. Wow Jogja punya kebun binatang terbaik! Kami berdua menyukai kebun binatang tersebut dan merekomendasikannnya buat teman-teman sekalian. Keren!

Kami ada di Gembira Loka sampai tempat itu tutup hahaha. Janjian ketemu sama Indra, dia ajak kami ke daerah Imogiri. Ya deket-deket situ lah buat makan Sate Klathak yang terkenal. Apa ya nama satenya saya lupa lagi. 

Kaki capek. Perut kenyang. Tapi ya rasanya ini badan udah letih. Jam 9 malam baru nyampe The Wayang Homestay. Saya bawa ransel. Indra menggendong Nabil yang tidur. Baru buka pintu, ada mas-mas yang melihat kami, dia lagi nyapu, dan senyumnya LEBAR BANGET :D

Detik itu di mana saya melihat si masnya senyum menyambut kami, rasanya kayak lagi mau numpang nginep di rumah sodara. Hahahaha. Mana ini hotel juga sebenernya rumah sih, terasnya mungil. Sederhana tapi apik.  

Orang itu bernama Mas Jack. Proses check in gak lama. Dia bahkan, menurut saya ini thoughtful, komen kami kelihatan capek hahahaha. Kamar kami di lantai 2. Pas di ujung tangga. 

Kamar Deluxe, dapet sarapan, ada AC, kamar mandi shower, ranjangnya twin dan kami minta ranjangnya disatuin aja. Menginap dua malam totalnya cuma 400ribu. 

Kamarnya luas juga. Faedahnya kamar agak luas ya terasa lapang aja gak sesek. Secara saya dan Indra ukuran badan gak kecil. Si Nabil mau main di kasur bisa, di lantai juga leluasa. Terus naro barang juga cuek hahaha. Berantakan to the max masa bodo :D

Kamar mandinya kayak di rumah sendiri. Biasa banget lah. Bersih aja mantap. Ada air anget. Enyaaaak. 

Fyi, air minum-kopi-teh tersedia 24 jam. Sarapannya nasi goreng dan rasanya enak.



Ohiya, di sini WIFInya jelek, gak kepake lah. Simpan aja hapenya terus tidur. Nonton tivi aja gimana, channel tv kabelnya menurut saya mah oke punya, kayak di rumah sendiri cuma tanpa BBC aja. 

Apalagi ya, udah sih gitu aja. Tempatnya palingan yah bukan di pinggir jalan yang ramai. Justru masuk ke daerah pemukiman warga. Sepi suasananya. 

The Wayang Homestay punya stok sepeda buat dipinjem tamu. Kami kepikiran sih pake sepedanya dan jalan-jalan sekitar hotel. Tapi rencana doang sebab sehari semalam pertama kami cuma tidur melepas rasa capek. Makan-tidur-makan-tidur. Begitu aja. Baru lah di hari ke dua berangkat lagi, plesir ke Borobudur

Penginapan mungil yang menyenangkan ini saya rekomendasikan banget kalau teman-teman ke Yogyakarta. Tempatnya apa ya...Jogja banget lah. Duh kota yang satu ini kenapa ngangenin banget yah, artistik, tradisional, dan pesona 'jawa' yang hangat. Kecuali orang Jogja yang naik motor tuh ya gak santey banget dan makanan jalanan yang menurut saya rasanya gak seenak di Bandung. Walo demikian, aku cinta padamu, Jogjaaaaaa! 

Saya gak foto banyak di sini. Kamar pun gak difoto. Kayaknya foto saya ini gak nolong banget untuk menggambarkan suasana penginapannya hahahaha sori ya. Cari aja di google foto hotelnya :D 

Pabrik Teh di 1246++++ mdpl

February 07, 2018
Tidur baru tiga jam saja. Semangat liburan lumayan gak bikin kepala pening walo porsi tidur berkurang banyak malam itu. 

Indra bilang di depan rumah yang kami inapi (rumah bibinya Indra), ada perkebunan teh. Diskusi bentar, kami sepakat hiking ke kebun teh. 

Sekitar 20 menit berjalan kaki, gak sengaja ketemu sebuah bangunan besar mirip gudang. Iseng aja sih masuk ke dalamnya. Wangi teh menguar. Barulah paham itu pabrik teh. 


Sebelum masuk ke pabrik terlalu dalam, Indra masuk ke ruangan yang kayaknya sih kantor. Meminta izin kepada seorang bapak tua, ia memberi restu. Bahkan Pak Udung menemani kami berkeliling pabrik, sekalian curhat. Heuheuheu. 

Pabrik Teh Mekarwangi namanya dan berdiri tahun 90an. Bukan pabrik tua peninggalan Belanda. Walo gak tua-tua amat, proses pembuatan tehnya masih konvensional sih. 

Proses sortir daun teh, dilakukan manual. Kata Pak Udung, pemetik teh sekarang gak perhatian sama daun teh yang mereka petik. Ilalang dan daun tanaman lain juga kepetik banyak. Makanya harus disortir. 

Abis itu daun teh dimasukkan ke sebuah mesin yang berputar-putar. Daun teh dipanggang sambil teraduk. 

Daun yang udah kering, dikirim ke bagian sortir lagi. Sortirnya masih manual juga, dilakukan gadis-gadis Cikajang yang belia nan cantik. Daun dipisah dari batangnya. Si batang bakal masuk ruangan lain dan diproses lagi jadi teh, yakni teh celup (teh bubuk). 

Sementara daunnya entah dikemanakan, langsung dibungkus apa dipanggang lagi, saya gak tahu. 

Saya rasa pagi itu adalah pagi yang penuh berkah. Mataharinya hangat. Hawa pabrik teh yang dingin dan senyap, tapi saya suka. Seperti makanan, teh juga  mesin waktu. Cikajang sama kayak Sukawana di Lembang, Gambung, Malabar. Sama-sama perkebunan teh yang digalakkan di zaman kolonial. Bicara Teh di negeri ini artinya bicara sejarah yang panjang. 

Juga bicara tentang kesedihan. Abainya pemerintah terhadap industri teh ini menyebabkan penjualan yang lesu. Bukan pemerintah yang sekarang aja sih, tapi sejak pemerintah yang dulu-dulu itu. 

Di pabrik ini aja, Pak Udung lebih banyak cerita yang sedih-sedihnya daripada senengnya. Kayaknya gak ada cerita seneng deh. Penjualan menurun lah, ekspor dilibas Thailand lah, pabrik dipertahankan untuk menggaji pegawainya aja lah. Hiks. 

Untuk mendongkrak penjualan, mereka bikin diversifikasi produk. Produk untuk dijual ke pasar, ke toko oleh-oleh, sampai ke supermarket. 

Produk buat ke pasar, tehnya teh bubuk. Buat toko oleh-oleh, daun tehnya masih campur-campur dengan batangnya. Teh kelas premium murni daun teh aja isinya. 

Saya beli semuanya. Murah kok, yang premium kalo gak salah 20 ribu deh (apa 30ribu gitu ya). Sebagai yang gak ngerti rasa Teh, teh yang bubuk kok ya enak-enak aja. Terus saya coba teh berikutnya yang daun+batang, rasanya lebih maknyus. Pekat gitu kali ya. Teh yang termahal saya gak coba sebab saya kasih buat bibinya Indra. 

Kenapa sih industri teh melapuk begini? 

Apa gak bisa kirim petugas-petugas pengurus perkebunan ke Jepang gitu untuk studi banding. Kayaknya di sana, segala macam yang mereka kerjakan abadi dan lestari. Kenapa kita gak bisa kayak mereka...saaaddddd. Apa yang gak ada di kita tapi ada di orang-orang Jepang? Apresiasi? Ketulusan?Kecintaan? Ketekunan? Apa sih...

Indra bilang tingkat konsumsi teh di negara ini masih rendah. Apa iya? Terus saya browsing deh. Di tahun 2016, konsumsi per kapita Indonesia 500gr aja. Dibanding Inggris, mereka konsumsinya 2kg/kapita. 

Setengah tahun pertama di tahun 2017, ekspor teh turun sebanyak 17%. Padahal di tahun 2014, pemerintah menaikkan anggaran untuk revitalisasi perkebunan teh. Bahkan perbaikan dan penambahan infrastruktur salah satunya digalakkan untuk menekan biaya logistik yang mana salah satunya untuk teh ini. Ngomong-ngomong saya dapet beritanya dari kompas.com dan situs-situs berita ekonomi. 

Baca-baca aja deh sendiri tentang peliknya industri teh di negeri ini. Kayaknya sih, butuh orang-orang sekelas Bu Susi buat memperbaiki ekosistem kerja dan menggenjot penjualan. Orang yang ngerti dari hulu ke hilir perkebunan teh. Perubahan yang radikal dan revolusioner. 

Kalo perlu, kenapa gak taro anak-anak muda di kursi-kursi penting perkebunan teh dan minta mereka bikin program yang realistis tapi dinamis dan cepat. Eh bisa gak sih hahahaha ngaco. 

Kok kayaknya kalo lihat pesatnya industri startup Indonesia seneng gitu, masa iya gak bisa diaplikasikan ke industri-industri lama kayak perkebunan teh ini. 

Atau mungkin itu sebabnya ya, startup yang tumbuh sekarang, skala industrinya mungil-mungil. Sementara ngurusin perkebunan teh ibaratnya ngurusin panti asuhan. Kecil-kecil, banyak, terabaikan puluhan tahun, masalah yang berakar bererentet puanjang, dll, dst, dkk, dsb. 

Saya juga makin ngaco ngetiknya. Emang lebih gampang ngomong (nulis) ketimbang ngerjain. Bah. 














Teks: Ulu
Foto : Ulu