Social Media

Image Slider

NESCAFE Dolce Gusto di Bandung

September 27, 2016
Hello there! 

Sehat-sehat semuanya? Hari ini terasa menyenangkan and i hope you feel the same way too. Mendung masih merundung Bandung dan hujan mengguyur kota ini tadi sore. Tentu saja cuaca di sini makin dingin. Dan kamu pasti tahu pertanyaan klise yang muncul dengan cuaca seperti ini. Mendung-mendung enaknya ngapain? 

Ayo dijawab semuanya: NGOPI! (atau tidur, atau menamatkan serial terbarunya Empire dan Billions, atau menyantap seporsi bakso, dan atau-atau lainnya :D)

Here's why i typed hari-ini-terasa-menyenangkan. Saya bertemu dengan teman-teman sesama blogger untuk special occasion. 

Jadi kami berkumpul di Vanilla Kitchen and Wine (27/9/2016) dan mencoba kecanggihan NESCAFE Dolce Gusto!  Iya betul, NESCAFE Dolce Gusto mengajak rekan-rekan media dan partner bisnisnya untuk melihat peluncuran DROP, produk terbaru dari seri NESCAFE Dolce Gusto. DROP gak sendirian, karena ada tiga coffe machine maker lainnya: GENIO, MINI ME, dan OBLO. 


This is Genio

FYI, NESCAFE Dolce Gusto merupakan pembuat minuman panas dan dingin menggunakan mesin dan kapsul pintar. Semacam mesin pengganti barista berwujud manusia. Ukurannya mungil dan stylish. Jika sebuah mesin pengolahan minuman (khususnya kopi) yang kamu lihat di kafe ukurannya tidak kecil dan memakan ruang, NESCAFE Dolce Gusto sebaliknya. Bendanya tidak lebih dari 4 kg. Paling imut sekitar 2kg. Bentuknya lucu sekali. Buat saya sih mirip baby alien versi unyu-unyu. 

Dua tahun belakangan ini kopi dan teh sedang seksi-seksinya. Terutama kopi. Kedai kopi menjamur hingga jumlahnya ratusan di Bandung. Tapi saya gak tahu sih ini sekadar tren semata dan nanti meredup hypenya. 

Kalau diperhatikan, kopi untuk banyak orang itu bagaikan agama. Harusnya sih tren kopi ini gak meredup ya. Sebab bagi pecinta kopi, ada jiwanya di secangkir kopi. Gak mungkin kan orang pengen jiwanya hilang :D 

Saya juga terbawa arus kopi ini sih. Jadi sering nongkrong di warung kopi, kedai kopi, kafe kopi. Bertemu dengan barista-barista muda yang lihai menceritakan kopi racikannya. Meracik kopi kalau diperhatikan bukan hal yang mudah. Mengukur suhu air, menakar sendok kopi, menunggu tetes demi tetes. Lihat barista menyeduh kopi terasa sangat sophicticated sekali. Rumit, cerdas, dan berbudaya. 

Dan hari ini NESCAFE Dolce Gusto mengajak saya mencicipi rasanya jadi barista. Meski versi sederhana tapi menyenangkan juga. Hihihi. 

Menyeduh kopi dengan NESCAFE Dolce Gusto mudah sekali caranya. Lihat petunjuk penggunaan. Kopinya sudah disediakan. Jika menyeduh kopi ala barista di kafe-kafe kopi terlihat sangat rumit, maka NESCAFE Dolce Gusto membuat proses tersebut jauh lebih ringkas. 

Jika menyeduh kopi dengan mesin-mesin kopi besar bagaikan menempuh Jakarta - Bandung dengan naik kereta kuda kencana: perlahan, elegan, dan gemulai…maka…menyeduh kopi dengan NESCAFE Dolce Gusto bagaikan mencapai jarak Jakarta - Bandung dengan kereta Shinkansen: cepat, classy, dan canggih. 

So yeah ini masalah pilihan aja sih. Memajang dan menggunakan NESCAFE Dolce Gusto oke juga. Pertama, bentuknya mirip benda seni. Orang gak akan nyangka itu mesin kopi. Kedua, kamu bisa menyuguhkan tamu-tamu di rumah/kantor dengan minuman yang terlihat rumit ala kafe. Ketiga, NESCAFE Dolce Gusto gak cuma nyeduh kopi tapi juga teh dan minuman coklat. Aha! 

Dengan NESCAFE Dolce Gusto kamu bisa bikin black coffee. Jika itu terdengar biasa maka cobalah membuat racikan Mocha Coffe, Cappucino Latte, Mocha Tea, Peach Tea, Chocolate Espresso, dan lain-lain. Tambahkan bahan-bahan lainnya seperti karamel, buah-buahan dan es batu dan berkreasi sendiri ciptakan Affogato, Iced Caramel Jelly Latte, Strawberry Mocha. Cool, huh! 

The thing is, sumber kopinya harus dari NESCAFE Dolce Gusto itu sendiri. Untuk pembelian produk NESCAFE Dolce Gusto, kamu juga beli kapsul kopi, teh, dan coklat. Ada 11 varian, tiap varian (box) terdiri dari 16 kapsul. Kalau dihitung-hitung, per kapsul harganya RP7.000. So yeah terbilang murah juga dibanding jika harus ngafe minum kopi tiap hari mah. 

Cara pemakaiannya juga gampang. Baca petunjuknya, masukin kapsulnya, dan masukan air matang ke wadah yang sudah ada di NESCAFE Dolce Gusto. Siapkan gelas di tempat yang sudah disediakan. Pencet-pencet/sentuh-sentuh tombolnya, tunggu, done! Intinya sih cuma pop, lock, switch, brew. Air panas dan air dingin bisa diatur. Kalau saya tulis memang sudah bayanginnya sih, cari saja videonya di Youtube deh. Saya saja setelah praktek baru terbayang betapa gampangnya seduh-menyeduh kopi ala kafe ini. Hohohoho. 

NESCAFE Dolce Gusto dapat dibeli di Lazada dan Blibli. Untuk di Bandung, kamu bisa mendapatkannya di Sogo PVJ, Trans Studio Mall (Metro), Log In Store, Setiabudhi Supermarket, Best Denki, dan Yogya Riau Junction. 

Dan ini dia foto-foto dari peluncuran NESCAFE Dolce Gusto di Bandung hari ini. Sejujurnya agak susah motret hari acara ini. 

Pertama lighting acaranya gak jelas hohoho. Lightingnya macam panggung konser: biru, merah, kuning. Backdrop untuk tiap NESCAFE Dolce Gusto di tiap meja warna-warni, gak enak banget jadi latar foto NESCAFE Dolce Gusto. Padahal kalau putih dan bersih pasti produknya jadi lebih menonjol dan instagramable untuk difoto. 

Ketiga, tidak banyak ruang untuk berfoto/selfie karena sebagian ruangan cahayanya kurang banget, sebagian lagi terang. Gak banyak momen dan spot untuk berfoto saking sempit dan hiruk pikuknya berbagai peralatan. Sayang banget nih, entahlah, skill moto saya juga banyak harus ditingkatkan sih heuheuheu. 

Terakhir, acara bincang-bincang bersama tiga narasumbernya juga gak jelas. Kayaknya harus ada konten lain selain promo NESCAFE Dolce Gusto saja. Bukan hardselling aja membicarakan NESCAFE Dolce Gusto. 

Overall, thank you NESCAFE Dolce Gusto! Hari ini saya nyobain bikin beberapa varian kopi sekaligus meminumnya tanpa ampun. Malam ini mata saya terjaga sepenuhnya hahaha. Wish you all the best luck! 


















Teks dan foto: Nurul ulu

Makan Siang di Kacarita di Soreang

September 25, 2016
Jarang-jarang saya bahas tempat di daerah Bandung Selatan. Bukan gak mau sih, kebanyakan waktu saya habiskan di daerah Bandung Utara euy. Heuheuheu. 

Nah sekarang saya mau bahas tempat makan di selatan Bandung. Yipiiiw! Kebetulan sih hari itu sedang berkeliaran di Soreang. Pas lapar, pas cari makan, eh lihat ada tempat yang lumayan oke euy. Cobain ah masuk ke dalamnya. 

Kacarita nama rumah makannya. Tempatnya sederhana tapi homey deh. Kayak datang ke rumah nenek di kampung. Bah alasan ini klise amat ya, khas anak kota :D 




Anyway, latar belakang rumah makannya adalah sebuah bukit. Di sampingnya ada sawah. Letak rumah makannya di pinggir jalan, tapi kawasannya masih sepi rumah. Masih banyak sawah. Seru banget lah cuacanya. Pas siang mah adem. Eh begitu masuk malam hari dinginnya ampun deh. Angin gunung mulai turun. 

Menu andalan Kacarita adalah Pindang Ikan Mas. Maka saya memesannya. Ternyata bener rasanya enak. Menu lain ada tempe tahu, karedok, sayur asam, dan aneka makanan khas sunda lainnya. Ayam goreng dan bakar juga ada. Tapi...

Satu-satunya menu yang enak cuma pindang ikan mas. Lainnya enggak. Makanannya mengenyangkan namun tidak memuaskan. Pindang ikan masnya juara, saya sampai beli lagi, bungkus, dan bawa pulang. 

Saya baru lihat sih ada tempat nyeni di Soreang. Cantik seperti di kota-kota dan sentuhan dekorasinya ala di kampung. Ada saung untuk makan lesehan. Ada juga bangku-bangku tua untuk yang mau makannya duduk ala bule. Eh iya da kita mah aslinya teh makan sambil lesehan, kompeni aja pada masuk ke Hindia Belanda, orang-orang Tionghoa juga. Budaya mereka makan sambil duduk di bangku/kursi. Kita budayanya makan sambil lesehan. 

Di bagian belakang rumah makannya ada taman dong. Lucu banget. Emang banyak pohonnya nih Kacarita. Cuma itu, tanaman di bagian pintu masuk yang di kolam, tanaman Lotus, saya lihat bolong-bolong bakal bunganya bikin merinding. Ah ngetik ini aja saya merinding aheuheuheuheu linu lihatnya adududuhhhhh :D 

Pas saya ke sana, rumah makannya sepi pengunjung. Padahal akhir minggu. Ada sih satu keluarga sedang menyantap makanan di saung. Habis itu gak banyak yang datang. Wah sayang banget, tempatnya bagus ih padahal. Cocok buat yang mau ngisi galeri instagram. 

Abis sholat magrib, baru saya pulang. Tahu gak di dekat mushola ada apa? KUNANG-KUNANG! Oh so sweet :D Nabil seneng banget lihat kunang-kunang. Saya juga sih. Katanya kalau ada kunang-kunang pertanda udara di situ masih bagus. Emang kerasa sih masih segar dan sejuk. Soreang kan setahu saya daerah berhawa panas. Eh di Kacarita mah enggak panas tuh. 

Kacarita berada di sisi jalan yang bukan jalan utama sih. Yang mau ke Ciwidey gak lewat jalan raya Sadu Soreang ini. Kalau gak salah sih tol baru nanti, Seroja, bakal dibuka di dekat jalan Sadu. Begitu tol sudah dibuka, jalan raya sadu soreang bakal jadi jalan utama. Wah Kacarita mendingan siap-siap menghadapi keramaian itu. Emang sih proyeknya molor tapi ya kan pastinya bakal jadi. So ya it's about time aja untuk restoran cantik ini ramai pengunjung. Amin. Cuma anu, menu-menu lainnya kalau bisa mah rasanya perbaiki dulu. Pindang ikannya oke, yang lainnya enggak :D 














Teks & Foto : Ulu
Difoto dengan Lenovo A6000, diedit dengan aplikasi VSCO. Kok penampilan foto di smartphone dengan di laptop beda yak heuheuheuheu. Di hape mah keren, di layar laptop nampak kumuh :D apanya yang salah heuheuheuheu....

Ayam Semar Pandawa, Edan Enak Pisan!

September 23, 2016
Ceritanya kami bertiga nginep semalam di Summerbird. Seperti biasa lah malam hari berburu hunting kuliner di sekitar hotel. Sering sih merasakan momen di mana kamu gak yakin dengan tempat makanan yang kamu lihat? Pas lihat restorannya, feeling kamu bilang itu bukan tempat yang kamu cari. Waktu lewat warung sate, kamu cium asap bakar satenya tapi lubuk hati kamu berbisik kamu harus berjalan lagi. Nah itu teh saya banget hohohoho. 

Gak rese cari makan sih, cuma kebetulan aja lagi nyantai so ya agak selektif gak ada salahnya. Nah sama kasusnya dengan pertemuan Ayam Semar Pandawa. 

Dari Summerbird, kami berjalan melewati lapak ayam bakar (khusus ayam kampung pula), warung pernasigorengan, perpecel-lelean, kwetiaw dan sejenisnya, sate ayam dan sapi. Baru deh pas lihat Ayam Semar Pandawa, saya dan Indra saling melirik dan berkata tanpa bicara: INI TEMPATNYA! 

Hahahaha :D 

Well terbukti ayam bakarnya enak parah parah parah! Ukuran ayamnya kecil sih, dibakar pake bumbu manis. Dan pastinya di ayam sudah direndam di bumbu dulu deh. Mungkin bumbu koneng (kunyit). Lalu entah apa itu bumbu kok manisnya sangat paripurna ya. Gak ada cela sama sekali. 




Makanan ini nih tipikal yang harus kamu makan dengan jari tangan, bukan sendok. Terus begitu makanan sudah habis, kamu jilat-jilatin jari jemari kamu saking enaknya itu ayam. 

Kekurangan ayam ini adalah porsinya yang terlalu sedikit dan harganya yang lebih dari kedai sejenis. Yah ada harga ada rupa kali ya. Saya sih jelas akan kembali ke Ayam Semar Pandawa. Gila aja enak gitu masa dicuekin :D 

Btw, teh manisnya juga nikmat. Tipikal es teh manis dari tanah jawa (non-priangan). Kayak es teh manis di Cirebon, Yogyakarta gitu deh. Enak, pake gula batu apa ya? Ah entahlah. Recommended sih teh manisnya. Sebenarnya ada free drink teh anget tawar. Tapi ya pesan juga lah es teh manis/teh manis anget. Pasti suka. Pasti bertanya-tanya, apa istimewanya teh manis? hohoho ada atuh. Cobain aja tinggal di daerah pesisir kayak saya, terus pindah ke Bandung. Niscaya benda seremeh teh manis itu ada bedanya :D 

Ayam Bakar 18K
Nasi Putih 3K
Nasi Merah 5K
Es teh manis 5K


Cara Menuju Ayam Semar Pandawa

1. Arahkan kendaraan ke Pasir Kaliki bagian bawah alias yang jalannya satu arah menuju ke atas (Sukajadi).

2. Ada belokan kedua setelah pertigaan Stasiun - Pasir Kaliki. Sebelah kiri jalan, sebelahnya Alfamart. Nah masuk ke situ yak. Ayam Semar Pandawa ada di ujung jalan Pandawanya. 

Udah gitu aja, gampang ya hohoho :D 


#photographytalk 1 : Pegang-Kamera Adalah Kunci

September 20, 2016
Baca tulisan sebelumnya: #photographytalk

Memotret adalah hobi yang lahir sejak saya mengenal kamera digital versi pocket. Saat pertama kali benda itu saya lihat di kampus dulu, kamera digital merupakan benda yang tidak terjangkau untuk saya. Lalu saya kenalan dengan kamera DSLR dan menganggap benda ini istimewa banget. Mau fotonya bagus ya pake DSLR. 

Di tahun 2009 saya mengenal cewek bernama Kuke. Di saat hobi saya baru sampai di senang-lihat-kamera, Kuke sudah menjalani hobi fotografinya dengan serius. Kameranya pocket aja kok. Di setiap pertemuan saya dengan Kuke, dia gak berhenti memotret. Dia rajin unggah ke media sosial dan jadilah album-album foto cerita, tiap foto di albumnya tersusun secara kronologis dan diberi judul. Foto-fotonya juga rapi, bukan habis motret lalu langsung diunggah. Terlihat dari foto-fotonya kalau dia pilih foto-foto terbaik dan dirapikan. Jadi kalau kamu lihat album foto saya dan tiap foto terjalin secara berurutan dan sudah rapi, nah saya contek itu dari Kuke :D 

Kuke adalah orang yang mematahkan mantra saya: kalau fotonya mau bagus motretnya pake DSLR. Salah besar. Kamera pocket juga bisa bagus kok.




Di waktu yang sama saya bertemu Indra. Orang yang gak pernah upload foto-fotonya ke media sosial. Sama kayak Kuke, Indra juga gak pernah berhenti motret. Bedanya, kamera Indra adalah DSLR. Bukan buat gaya tapi buat kerja. Perbedaan lainnya, Indra sangat jarang mengunggah karya fotonya ke media sosial. Dia simpan saja di harddisknya. Baginya photography is like fishing. Catching the fish is more exciting than eating it. Indra dan fotonya adalah dunia yang sunyi. Kecuali kamu kenal dia dan minta difotoin, kamu gak akan tahu kalau Indra bisa memotret :D 

Waktu kami putuskan berkolaborasi tugas saya dulu memberi kata pengantar untuk foto-foto yang Indra yang potret. 

Terus suatu hari saya bilang sama Indra kalau saya mau belajar moto. Dia gak melarang atau bilang saya gak bisa. Dia ngajarin saya motret, sabar banget ngajarinnya. Tapi di satu sisi juga kejam banget :D 

Hasil foto jepretan saya di era sebelum tahun 2015 itu jelek luar biasa. Komposisi kacrut, ketajaman kendor, dan yang paling utama adalah gak ada cerita dalam foto saya. Saya pengen gaya foto saya terlihat artsy, tapi hasilnya norak. Namun Indra gak nyuruh saya berhenti motret. Sebaliknya dia malah menyarankan saya motret terus, do not stop, katanya. Kuncinya cuma satu yang saya lakukan waktu itu: gunakan kamera yang sama terus-terusan. 

Suatu kali dia ngajarin saya teknis kamera karena saya daftar jadi relawan foto di Kelas Inspirasi. Ceritanya belajar motret tapi ngebut gitu lah hahaha. Belajar shutter lah, diafragma lah, apperture lah, ISO lah, noise lah, dan sejenisnya. Otak saya menggendut dan menyadari bahwa hasil foto saya esok hari akan lebih berbobot dengan ilmu yang saya dapat itu. Well, besoknya saya lupa lagi itu semua hahahaha. Otak saya mengempis dan foto saya sama aja hasilnya. Kacrut. 

Terus Indra nyuruh saya baca buku dan majalah fotografi. So i did. Hasilnya? Saya putuskan gak belajar teknis kamera. Saya memilh mempertajam rasa. Saya juga tonton video tutorial di yutub dan tentu saja mengamati foto-foto di Instagram. Abis itu sering-sering moto dan saya minta Indra kasih tahu saya apa yang salah dengan fotonya.

Memang Leica gak pernah failed. Hasselblad juga gak pernah jelek hasil fotonya tuh. Kamera seharga 50 juta gak pernah gagal. Tapi kebanyakan dari kita ini apa punya uang untuk membeli kamera semahal itu? 

Ada harga memang ada rupa. Ada kamera produksi, ada kamera konsumsi. Kamu mau motret untuk produksi, wajib cari kamera termahal yang bisa kamu beli. Ada klien yang harus kamu puaskan. Kamu motret sebatas untuk konsumsi, kamera terbaik adalah kamera yang kamu punya saat ini. 

Kuke pernah menyarankan kalau punya kamera, baca juga buku manualnya. Kenali semua fitur-fiturnya. Baca dulu sebelum praktek itu sangat amat penting baginya. Dulu waktu dia masih motret dengan kamera pocket, banyak yang gak ngeuh kalau foto-fotonya dihasilkan dari kamera pocket saja. Termasuk saya. Bukankah memang demikian adanya, kita mengira foto yang bagus dihasilkan dari kamera yang bagus. Dan kamera bagus itu kita pikir adalah DSLR (dan mirrorless). Ternyata enggak.  

Ada banyak cara menyiasati kualitas sebuah foto dengan kamera yang kita punya. Mahal atau kamera sekelas entry level sekalipun, do not stop taking pictures, belajar, dan hilangkan label-label pengen artsy. Lakukan karena kamu suka, bukan ingin terlihat keren. Sepengamatan saya, belajar merendahkan hati saat memotret menghasilkan foto yang lebih enak dilihat. Lebih sejuk dipandang. Kalau istilah teman saya Kuke bilang sih, 'gak meninggikan dinding'. 




Dan ini tahun 2016 bulan ke sembilan. Foto saya sekarang dibanding foto jepretan di dua tahun ke belakang jauh mendingan. Ada lah peningkatan. Masih jelek ya pasti, tapi lebih rapi mah iya. Satu hal yang saya rasakan sih sekarang foto saya lebih puguh hasilnya. Puguh dalam bahasa Indonesia artinya lebih jelas, lebih terarah, lebih rapi.

Sekarang saya sadar kalau dalam belajar memotret, kamera bukan kunci. Memegang kamera adalah kuncinya. Membiasakan diri memegang kamera, memotret terus-terusan, adalah kunci. Ala karena biasa. 

Foto lagi, foto lagi, foto lagi dan foto lagi. Henri Cartier-Bresson, rajanya Street Photography pernah mengatakan: your first 10.000 photography are your worst. 

Jangan berhenti karena kamera kamu murahan. Jangan menunda karena kamera kamu butut. Pegang kameranya dan mulailah memotret.




Teks : Nurul Ulu
Foto : Indra Yudha

Pertigaan Map, Peta Jalan Kaki di Surabaya

September 18, 2016
Helow! Kumaha damang? Saya mau cerita tentang Pertigaan Map nih. Peta jalan kaki di Surabaya. Eh, sebentar dulu. Kok Surabaya? Ini kan Bandung Diary, ngapain bahas Surabaya?

Wah ketinggalan banyak ya, Bos :D Blog ini puya kategori Outside Bandung. Artinya perjalanan saya, Indra, dan Nabil di luar Bandung kami muat di sini. It's personal blog about food and travel, bukan portal tentang wisata Bandung saja. Yeah that's different :D

Well anyway, kembali ke Pertigaan Map.

Dua minggu lalu saya hadir di Spasial, Gudang Selatan, lokasi di mana kreator peta jalan kaki ini presentasi. Rupanya Anita Silvia dan Celcea Tifani roadshow presentasi tentang Pertigaan Map di beberapa kota. Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta adalah kota yang mereka datangi.




Peta jalan kaki yang mereka buat ada tiga macam. Terbagi dalam tiga kawasan yang kental aroma sejarahnya, Pertigaan Map adalah peta jalan kaki di: kawasan pecinan, kawasan eropa, dan kawasan arab.

Saya cerita dulu sedikit. Setahun lalu saya ke Surabaya, tulisannya bisa dibaca dalam judul A Quick Trip to Surabaya. Saya udah niat banget mau jalan kaki di tempat-tempat bersejarahnya. Termasuk foto-foto dan lihat rumah tuanya. Saya searching di internet peta jalan kaki dan rutenya, termasuk itinerary. Sampai saya baca sejarah kota Surabaya segala. Hasilnya saya berlabuh di situs bernama C2Olibrary. Masalahnya saya butuh rute nama jalan juga, bukan cuma itinerary dari ke A lalu ke B. Saya butuh petunjuk arah, bukan cuma susunan kunjungan. 

Karena saya punya buku Jelajah Kota Pusaka karya Emile Leeshuis, saya pake peta dari buku ini untuk berjalan kaki menyusuri bangunan tua di Surabaya. Yes, 1 dari 9 kota yang ia bahas di bukunya adalah Surabaya. Peta jalan kakinya sangat detail dan runut. Sayang sekali bukunya gak praktis untuk saya tenteng selama perjalanan di Surabaya. Jadi saya fotokopi petanya dan bawa ke Surabaya sebagai panduan perjalanan. Hal yang sama saya lakukan juga waktu ke Yogyakarta. Tulisannya bisa dibaca di judul Kotagede

Berbekal informasi yang saya baca di situs CO2library dan peta dari bukunya Emile Lesshuis, saya-Indra-Nabil melenggang di kawasan bersejarah zaman kolonial di Surabaya. Sayang waktu berkunjung di Surabaya cuma 4 hari, itu juga kepotong harus lihat pameran dalam rangka kerjaan di sebuah gedung yang saya lupa namanya. 

Makanya saya pengen balik lagi ke Surabaya nih. Belum banyak rumah kuno yang saya lihat. Setelah tahu tentang peta jalan kaki buatan Peta Pertigaan Map ini, ya makin pengen saya ke Surabaya. Sudah jelas terbagi per kawasan pula petanya.

Menariknya lagi, Anita dan Celcea membagi rute ke dalam tiga tipe: short, medium, dan long. Berikut pilihan estimasi durasi dan itinerarynya. Wuah! Ini kok bagus banget sih heuheuheuheu....




Penjelasan sejarah per kawasan tercantum dalam peta, namun secara umum saja. Keterangan perbangunannya ada juga kok di daftar tempat. Sebenarnya kalau mau lihat dan memotret bangunan kuno aja sih gak masalah gak tahu latar cerita bangunannya apa. Saya juga sering begitu, sampai di rumah saya lihat lagi fotonya dan browsing tentang sejarahnya. Namun tahu nama gedungnya apa dan berdiri tahun berapa merupakan informasi perkenalan yang bagus juga sih. Paling enggak kebayang itu teh gedung apa dan setua apa.  

Dalam peta tercantum sapaan dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Saya malah pengen banget ada bahasa lokal surabaya di situ, pasti kepake kalau saya mau jajan atau nanya arah dan minta izin foto kan. Ucapan terima kasih, permisi, mau nanya, dan sejenisnya itu. Karena emang kerasa banget sih kalau sedang berkunjung ke kota lain yang bukan berbahasa sunda, saya agak canggung kalau mau nanya-nanya dan kesannya orang kota banget. Kesannya songong gimana gitu :D so yeah, belajar berbahasa lokal sedikit sebelum bertandang ke kotanya menurut saya mah perlu.

Lebih nyaman lagi kalau ada penduduk lokal yang mau menemani saya jalan-jalan sih :D 

Satu hal lain yang saya suka di peta ini adalah bagian kovernya. Kovernya bergambar teralis dan pagar dari rumah-rumah tiap kawasan. Saya baru ngeuh, di tiap kawasan, pagar dan teralisnya berbeda. Pecinan dengan gayanya sendiri, Arab juga, Eropa apalagi. Masing-masing kawasan ada signature style dan kita bisa lihat dari bentuk pagar dan teralis rumahnya. Yang lucu cover kawasan Pecinan gak persisi, miring-miring gitu dan beda ukuran. Ternyata emang begitu aslinya, kata Celcea, desainer peta ini.

Warna tiap peta juga beda-beda. Celcea cerita tiap warna di kover adalah ciri khas yang mereka tangkap dari tiap kawasan. Pecinan dengan warna merah, Eropa warna Oranye, dan Arab dengan warna hijaunya.

Dari desainnya, peta ini terlihat matang sih. Saya baru lihat peta jalan kaki yang se-hip ini. Covernya dipikirkan segitu matang. Isi petanya ringkas sih, gak terlalu detail, tapi ya cukup untuk bekal berjalan kaki. Peta dan daftar tempat ada di halaman yang sama, jadi gak ribet bolak-balik. Penggunaan petanya juga cukup efisien. Masuk ke kantong saku celana bagian belakang.

Oya satu lagi, Pertigaan Map mencantumkan informasi yang masa kini banget sih: SPOT WIFI. Gak itu aja, ada informasi rumah makan yang menyediakan makanan berdaging babi, dan toilet. Oya satu lagi yang menurut saya sebagai orang gunung nih perlu banget, informasi tempat yang ber-AC! Hihihih terus terang aja, Surabaya adalah tempat yang buat saya tuh kayaknya mataharinya ada sepuluh. Panas banget. Waktu di Surabaya, kami sering ngadem ke tempat-tempat minimarket demi nyari AC. Fasilitas sedetail ini ternyata ada di peta Pertigaan Map. Gak nyangka hohoho.




Anita dan Celcea juga naro ikon jari berbentuk huruf dua yang artinya 2-minutes-walking-distance. Saya masih belum ngerti cara menerapkan jari berangka dua saya ke dalam peta ini sih. Masih bingung :D hehehe.

Begitulah peta jalan kaki di Surabaya dari Pertigaan Map. Saya belum tahu kekurangannya apa hahaha harus praktek kali ya. Cuma saya gak tahu kapan ke Surabaya lagi. Semoga dalam waktu dekat ya :D

Masih lama adan sebentar lagi ke Surabayanya gak masalah. Mengetahui bahwa ada peta kayak gini aja saya sih udah senang. Kota-kota lain juga semestinya bikin juga peta jalan kaki kayak gini. Emang sih gak banyak wisatawan yang mau strolling di pinggir jalan dan keluar masuk gang. Eh tapi ada kok. Saya, Indra, Nabil pasti jadi deretan orang yang pertama beli peta jalan kaki di kota mana pun di Indonesia.

Kesadaran mau berjalan kaki saat berwisata menurut saya sih perlu juga. Kalau sepengalaman saya, mesti meluangkan paling enggak satu hari untuk eksplorasi kota dengan berjalan kaki. Memang merepotkan dibanding tinggal naik kendaraan dan berkunjung ke satu-dua tempat sekaligus.

Tapi entahlah, saya dan Indra suka bangunan tua. Kami suka melihat hal-hal kecil dan detail sewaktu berjalan kaki. Motret enak, ngobrol enak, lihatnya juga enak. Gak semua orang suka wisata sejarah yang ditempuh dengan berjalan kaki, tapi bukan berarti gak ada. Dan menurut saya sih jumlah turis yang segmented kayak gini makin bertambah saja. 

Seru ah. Kreatif nih wong suroboyo. Senangnya lagi mereka datang ke Bandung jadi saya bisa beli petanya langsung. Oiya, satu paket isi 3 peta, harganya Rp 50.000. Cek ke Instagram @pertigaanmap atau email ke pertigaanmap@gmail.com untuk pembelian petanya ya.




Teks dan foto : Ulu