Image Slider

Tur Perhantu-hantuan di Bandung

November 03, 2017
Ini bakal jadi yang pertama dan terakhir kalinya saya ikutan tur macam begini. Berjalan kaki di malam hari, menyusuri rute di mana rumor mengenai hantu legendaris di kota Bandung berada.

Bukan karena acaranya mengecewakan. Tapi karena...sayanya penakut heuheuheu.

Sebagai tambahan, informasi mengenai sejarah lokasi yang kami datangi ikut diceritakan. Walau begitu, cerita mistisnya sih yang menarik buat saya. Haha :D

Bagi beberapa orang, dunia perhantuan dan hidupnya tuh hubungannya kayak love & hate gitu lah. Gak suka tapi bikin penasaran. Heuheu. Macam saya ini lah.

Fyi, dalam tur tersebut kami dapat bonus. Aura mistis di beberapa tempat menguar. Bonusnya kombo. Bagi yang (tidak) beruntung, ada penampakan makhluk halus yang muncul. Nah yang kombo ini saya gak kebagian. HAMDALAH!

Sebelum memulai perjalanan selama dua jam itu, pemandu mengingatkan kami agar tidak melamun dan tetap merapat dengan rombongan. Saya anggap kalimat pengingat itu sebagai kalimat pendek yang  berbunyi: Start!

Mau gak jadi ikutan aja, sayang udah bayar 85ribu. Diterusin kok ya deg-degan. Ah kagok edan lah terusin aja. Hehehe.

Peserta tur dibekali (tujuh lembar) kartu heritage, kopi, pin, dan tote bag

Tur Perhantu-hantuan di Bandung

Jadi malam minggu lalu (28/10/2017) saya dan Indra ikutan walking tournya Mooi Bandoeng. Judulnya Urban Legend (Legenda URang BANdung). 

Acara dimulai jam 20.00, berakhir (mungkin) jam 23.00.

Kami pulang duluan jam 22.00 saat peserta lain masih eksplorasi (hantu-hantu) gedung SMA 3 dan 5 Bandung. 

Rute yang kami tempuh jaraknya sekitar 3 km. Bermula di Taman Musik, berakhir pula di tempat yang sama. 

Rumah Kentang (Rumah Jalan Banda sih istilah yang lebih saya sukai), Gereja Katolik Bebas Albanus, Taman Maluku, Gedung Sabau, dan SMA 3 Bandung jadi titik utama pemberhentian kami. 

Saya cerita apanya nih, hantunya ya? Duh gak usah lah ya. Males cerita hantunya mah heuheuheu. Ya kamu ikutan lah turnya ini kalau dibuat lagi. Follow @mooibandoeng untuk memperoleh kabar terbaru tur-turnya (termasuk kalo mau lihat video dan foto-foto dari tur ini).

Oke, Boleh lah Cerita Dikit tentang Rumah Kentang

Rumah ini berada di Jl Banda. Kalau kamu lihat rumahnya sendiri, bisa saksikan rumah tua ala pemukiman zaman kolonial yang ukurannya besar. Membuat saya bertanya-tanya seperti apa bagian dalam rumahnya bila dari luar saja rumahnya terlihat seperti raksasa. 

Rumah ini dijuluki Rumah Kentang karena bila adzan magrib berlalu, area sekitarnya semerbak wangi kentang (yang abis dimasak). Saya sering lewati rumah ini, tapi gak ingat apa pernah mencium aroma kentang. 

Tahun 2011 saya pernah bekerja di Tobucil. Tobucil ini lokasinya bersebrangan dengan Rumah Kentang. Beberapa kali saya nongkrong di Tobucil sampai malam jam 20.00, gak pernah sih ada wangi kentang. Tiap pulang pasti jalan kaki lewat depan rumah ini, syukurlah gak pernah ada pengalaman aneh.

Mungkin orang-orang terpilih aja yang bisa mencium aroma kentangnya ya :D setahu saya bila ada aroma kentang menguar di malam hari pertanda ada Genderuwo. Hiiii...

Rumah di Jalan Banda di ini beberapa bulan lalu masih terlihat gelap karena rimbunnya pepohonan dan tanaman merambat di pagar. Angkernya begitu terasa meski saya hanya melihatnya dari dalam kursi angkot yang melaju.

Sekarang rumahnya lebih cerah, rerumputan dibersihkan, tanaman merambat dicabut. Dengar-dengar di sana akan ada kafe. 

Banner kecil warnanya merah dipasang malas melintang di pintu. Tercantum kalimat berbunyi: Rumah Kentang. Jujur aja banner ini ganggu banget. Gak enak dilihat dan membuat keagungan dan misteri rumah ini jadi kerdil. Ganjen.

Yak udah ya cukup sampai Rumah Kentang aja ceritanya. Hahaha. Detail hantu dan sejarah bangunan mah ntar diceritain pemandunya aja, siapa tau tur ini diadain lagi, kamu mesti ikutan.

Horor di Mana-mana, dari Albanus sampai SMA 3

Di Gereja Katolik Bebas St. Albanus, nah ini ngeri juga. Mana mulai gerimis pula.

Pemandu cerita kalo gedung ini sudah kosong. Yah... Hati saya mencelos. Setau saya di sini ada kelas belajar Bahasa Belanda dan perpustakaan.

Rupanya semua perabotan udah dibawa pergi, termasuk buku-bukunya. Gak tau ke mana mereka pindah. Gedongnya kosong melompong.

Pintunya memanjang dengan jendela kotak-kotak kaca. Hitam pekat di dalam sana. Saya gak mau dekat-dekat.

Yah sejauh-jauhnya kamu membuat jarak dengan dunia gaib, menyaksikan gedung seantik, kosong, dan pekat begitu kamu tahu di dalam sana ada 'sesuatu' lah.

Pemandu mempersilakan kami mengintip bagian dalam gedung lewat jendela. Perserta berhamburan menuju si pintu berjendela itu. Saya diam saja di tempat. Indra di parkiran motor gak tau ngapain.

Takut kalo intip-intip. Gimana kalo hantu di dalam sana juga ikut mengintip kita dari jendela yang sama. Beradu pandang, saling menempel mata di jendela. Ya kalo mereka ada matanya kayak manusia...

Heuheuheuheu.

Pernah gak sih kamu ngerasa kamu gak mau ada di sebuah tempat, bahkan di halamannya, jangankan sendiri lah, berdua bertiga berempat juga gak mau. Nah itu lah perasaan saya waktu berdiri menghadap rumah jalan Banda.

Perasaan yang sama waktu kami melintas di Taman Maluku dan Gedung Sabau. Gerimis makin kencang.

Lebih parah lagi, ada perasaan tertekan gimana gitu. Padahal udara lagi segar-segarnya sebab gerimis dan kami berada di sebuah taman yang banyak pohonnya.

Kabar baiknya adalah, kalo malam hari pepohonan emang gak berfotosintesis dan gak ngeluarin oksigen. Wkwk. Mungkin dari sana lah udara pengap itu berasal.

Horor Masih Berlanjut...

Buat saya sih ada di Rumah Kentang, Taman Maluku, dan Gedung Sabau itu udah paling nyeremin. Gak suka lah pokoknya pengen cepet-cepet cabut dari sana. Ah gak cuma di situ sih tapi hampir di semua tempat ahahahaha. Di tengah jalan saya nanya ke Indra, urang teh nanaon kayak gini. Jirrrr hahahah.

Di Taman Maluku kami berhenti. Berdiri kami semua menghadap sebuah patung berbentuk manusia dalam jubah pastur. Patung ini nih yang dipercaya gentayangan. Matanya bergerak mengikuti mereka yang melintas Jalan Seram. Jiiiirrrr nama jalannya Jalan Seram. Kebetulan macam apa itu heuheuheu...

Di Taman Maluku ini saya memperhatikan pepohonan yang tinggi dan kegelapan yang memeluk kami. Gak ada penerangan sama sekali di Taman Maluku. Entahlah kehidupan macam apa yang ada di taman ini bila malam tiba.

Pada waktu pemandu asyik bercerita di depan Gedung Sabau, saya curi pandang sekali ke arah Taman Lalu Lintas di balik punggung kami. Duh gelapnya bukan main. Malas amat jalan kaki di sini malam hari sendirian ya, bisik saya dalam hati kepada diri sendiri :D

Di SMA 3 dan 5, saya putuskan gak ikut jelajah bangunan. Indra ikut nemenin saya lihat-lihat lobi/ruang di pintu utama. Saya sih sok aja kalo dia mau ke lantai dua. Dia menggeleng dan berkata "udah cukup dulu zaman sekolah," sambil nyengir.

Eh saya udah cerita belum? Di gedung SMA 3 dan 5 (beda nama sekolah tapi satu bangunan) kalau sore jendela-jendela kelas ditutup. Namun ada daun jendela yang gak bisa ditutup. Bukan kerena rusak, tapi jendelanya 'emang gak mau ditutup'.

Ngerti kan maksudnya?

Konon jendela itu ada di ruangan si hantu legendaris Nancy berada. Ruangan itu pula yang jadi kelasnya Indra waktu sekolah di sini.

"Dulu temen sekelas pernah kerasukan, ngakunya Nancy, terus Nancynya bilang naksir & nyebut nama salah satu anak cowok di kelas," Indra cerita sambil ketawa asem. Sungguh gak lucu buat saya mah heuheuheu.

"Sebenernya selain Nancy, ada lagi yang nyeremin di sini," lanjut Indra lagi.

Saya mengedarkan pandangan ke lorong sekolah "ya pasti lah, gedungnya tua gini."

Indra menunjuk lonceng. "Lonceng itu tuh, sering bunyi sendiri," Indra mengajak saya memegang loncengnya. Eeewwww...

Cukup ah. Abis ngobrol pendek dengan Fajar dan Wine, juga Irfan, kami putuskan pulang duluan karena udah malem banget (padahal baru jam 22.00 aja sih, yes kamu yang belum punya anak, nikmati baik-baik ya keleluasaan waktu bermain wkwk).

Saya gak mau ceritain detail hantu-hantunya ya. Takut euy ngetiknya juga. Inget-inget kisahnya juga gak mau karena keingetan mulu tiap lagi sendiri di rumah.

Kalo kalian tipenya pemberani dan lempeng-lempeng aja sama yang namanya hantu, wah cocok lah ikutan tur ini. Cetek lah da dipikir-pikir mah di tur ini gak ada uji nyali sih, berjalannya pun ramean.

Tapi kalo penakut mah ya sebaiknya ikutan juga. Hahaha. Daripada penasaran. Hahaha.

Ohiya sori ya gak foto banyak. Saya foto-foto sih, tapi udah saya hapus hampir semuanya :D dilihat-lihat lagi fotonya kok ya perasaan gak enak. Hahaha deletedeletedelete!




teks: Ulu
foto : Ulu

Mampir ke Toko Jamu Ginggang di Yogyakarta

October 31, 2017
Cerita dari Yogyakarta masih berlanjut. Hari Jumat. Rencana kami gagal semua. Seharian semalaman kerjaan kami cuma tidur. Indra baru beres dengan pekerjaannya di Yogyakarta. Saya dan Nabil kecapekan jalan kaki. 

Mengalah dengan umur dan anak kecil umur lima tahun, kami putuskan seharian itu istirahat saja di kamar hotel. Tidur seperti kebo. Bangun hanya untuk makan. Habis itu tidur lagi. Haha. 

Begitu sore datang, punggung saya udah kecapekan karena tidur melulu. Haha. Saya putuskan pesan Gojek dan pergi ke toko jamu. Indra dan Nabil milih gak ikut. Ya uwis saya pergi sendiri. 


Agak canggung juga sih berada di toko jamu ini. Entahlah ini saya aja yang ngerasain atau kamu juga. Di Bandung orangnya murah senyum, di Yogyakarta ini orang-orangnya agak-agak kaku sama kayak di Cirebon sih. Memang hanya sebatas beda budaya aja. Saya juga gak ada masalah dengan sikap kayak gitu. Hehe. 

Sama kayak di Toko Jamu Ginggang ini. Seorang ibu dan satu orang bapak duduk dengan muka seperti manyun. Aduh hati saya mencelos dan berkata dalam hati 'bukan di Bandung...bukan di Bandung. Hahaha. 

Kosong di dalam toko, gak ada siapa-siapa lagi. Pengunjungnya saya seorang. Saya memesan Es Beras Kencur Biasa. Harganya 6.000 segelas. Gelasnya besar kok bukan gelas-gelas kecil alam mba jamu gendong. 

Dan itu adalah jamu beras kencur terenak yang saya pernah minum. Gila segarnya bukan main. ENAAAAAKKKK! Saya lagi capek kali ya, jadi pas minum es beras kencur ini rasanya kayak dibanjur air. Mantap! 

Gak cuma minum jamu, di sini bisa cemal-cemil juga. Tapi saya gak niat mau berlama-lama. Cuma pengen rasain jamunya dan suasana di tokonya. Hanya saja karena sendirian dan sebentar lagi adzan magrib berkumandang, rasanya pengen cepet balik ke hotel.

Gak kerasa banget suasananya wong sayanya buru-buru. Huuffttt. 

Pengen balik lagi ke Toko Ginggang kalo ke Jogja lagi. Siang-siang sih pengennya. Pas Yogyakarta sedang panas-panasnya. Saya pengen berlama-lama sih di sini. Tapi gak mau kesorean dan gak mau sendirian ahahahaha. 

Jalanan di depan tokonya sepi. Lokasinya masuk ke dalam jalan, bukan di pinggir jalan utama. Pintu toko masih berupa pintu lipat. Bangku dan meja dari kayu dan sepertinya berasal dari tahun di mana ibu saya lahir. Dapur pembuatan jamunya pun sama antiknya. Yah toko ini udah mengalami segala macam pergantian sejarah sepertinya. 

Saat hendak membayar, saya menghampiri si bapak yang berada dekat dengan jendela dapur. Saya lihat ada barisan botol sarsaparila. Oh itu kan minuman favoritkuuuuu! Tapi perut udah kembung minum jamu segelas.

Ah ya sudahlah saya niatkan dalam hati nanti balik lagi ke sini. Indra sih gak mungkin suka deh minum jamu. Ajak siapa ya ke sini? :D

Toko jamu Ginggang
Jl. Masjid no 32
Yogyakarta






Tulisan tentang perjalanan kami di Yogyakarta ini saya sudahi di sini yak. Eh sebenarnya ada satu lagi sih, resensi penginapan kami selama ada di sana. Haha :D 

Bagi yang ingin membaca tulisan saya tentang Yogyakarta, klik ke Keluar Bandung ini. Thanks! 






Foto : Ulu
Teks : Ulu







Soto di Cibadak yang Gila Enak Banget dan BUANYAK BANGET!

October 30, 2017
Udah lama gak bikin tulisan tentang makanan di blog ini. Halooooooo, kuliner Bandung!

Padahal saya dan Indra kerjaannya makan mulu nih. Tapi udah jarang kami foto-foto dan tulis reviewnya di blog.  Lebih sering nulis di Instagram. Enak ya media sosial tuh, gak usah nulis panjang-panjang. Wkwk.

Ah kembali ke bahasan tulisan ini. Saya mau bahas SOTO MADURA DI CIBADAK! (Fyi, kami makan soto ini setelah menggilas seporsi Bakso Astagfirullah 😂).



Biasanya ada harga ada rupa. Soto yang ini mah enggak. Rasanya enak, harganya murah, dan porsinya buanyaaaaakkkkk! Saya dan Indra sampe saling memandang ragu, apa iya harga 15K itu sudah termasuk nasi dan kerupuknya? 

Hahahaha. Gila masa 15ribu udah dapet semangkuk soto (dengan isinya yang buanyak), nasi, dan kerupuk dua potong. Bah!

Sejak hari itu tuh, hari di mana kami baru aja dihajar seporsi bakso di Bakso Astagfirullah dan mondar-mandir dari Cibadak, Kalipah Apo, dan Gardujati tanpa sengaja makan (lagi) di sini, kami jadi pelanggan setianya.

(Saya nanti bahas Bakso Astagfirullah di postingan berbeda yak :D)

Tiap kali berkeliaran di Cibadak, ke sana lah kami menyantap seporsi makanan berat.

Sebenernya ada lotek enak sih gak jauh dari lokasi Soto Cibadak ini. Ya saya gilir aja lah wkwkwk. Gak cuma soto dan lotek, ada juga Leupeut (semacam lontong dan ada isinya, biasanya isi oncom atau daging ayam). Oh iya, kalo pagi hari ada juga bubur terenak di Bandung, adanya di Cibadak ini.

Terang aja, di Cibadak ada banyak kuliner yang enyak-enyak. Dari pagi sampai malam ada terus kulinernya, bahkan makin malam makin menggila :D (fyi, buat yang gak tau Cibadak tuh apa sih, bisa baca tulisan saya yang ini ya)

Walo begitu bagi yang muslim harus hati-hati karena ada makanan yang mengandung babi. Kalau saya sih enaknya pake jilbab, sehingga pas mau pesen, mamangnya ngasitau duluan kalau di situ makanannya bukan buat yang muslim.

Saya dan Indra bolak-balik ke Cibadak. Suplier barang-barang yang berhubungan dengan pekerjaan kami ada di Cibadak, Kalipah Apo, dan Gardujati. Dan ini tuh wilayahnya surga makanan enak-enak, beragam, dan terjangkau harganya. Horeee!

Kembali ke si soto. Bukan cuma kami yang doyan makan di sini. Sekarang adik saya yang tukang-bikin-segala-macam-buat-kawinan-orang-lain-itu juga jadi langganan sotonya. Adik saya gak sendiri, beberapa kawan saya sekarang juga sering pada makan soto Cibadak. Wkwk.

Di dekat situ ada soto juga sih, terkenal banget. Soto Ojolali namanya. Enak mah ya enak banget. Tapi harganya yang gak enak. Hiks. Jadi saya selalu kembali ke Soto Cibadak ituh saja.



Soto Cibadak yang ini gak menyajikan soto khas Bandung. Dari isinya saja campur aduk ada segala macam dan warna kuahnya kuning. Kalo yang namanya soto Bandung mah kuahnya bening. Lha nama di gerobaknya aja udah tercantum: Soto Madura :D

Tak apalah, soto mana aja saya suka. Soto nusa soto bangsa!

Bila teman-teman berada di Cibadak dan kelaparan, langsung cusss ke Soto Madura langganan saya ini. Lokasinya di dekat mulut gang yang namanya gangnya lupa (ahahahah maap heuheu).

Si Soto nongkrong di depan toko yang warna temboknya pink. Lebih deket ke arah Jalan Otista sih lokasinya. Dia mulai berjualan dari jam 10 pagi sampai dengan sehabisnya. Biasanya sih jam 4 sore udah abis sotonya.

Duh kalo nanya pedagang makanan mereka tutup jam berapa dan mereka jawab: seabisnya aja, saya suka mikir ya, saya kerja apa sih kok capek banget tapi gak tahu limitnya. Saya gak bisa bilang ‘seabisnya aja’. Kadangkala saya iri sama mereka. Sesama pedagang tapi level mereka ada jauh di atas saya. Kenapa jadi ngelantur :D heuheuheu….





Teks : Ulu
Foto: Ulu

Mampir ke Pabrik Roti Kampung: Roti Djie Seng

October 28, 2017
Pertama-tama, saya mampir ke pabrik roti Djie Seng ini gak sengaja. Gak niat. Gak ada kepengen beli rotinya. Cuma karena kakak ipar yang bahas pabriknya waktu kami melaju di Jalan Rajawali itu. Dia ngomong "nih di sini aa dulu beli rotinya anget-anget abis pulang kerja."

Seisi mobil semuanya ngomong "gimana kalo sekalian mampir aja yuk, jajan rotinya."

Ya udah jadinya berjodoh dengan pabrik roti Djie Seng. Wkwk. Yah begitulah hal-hal acak yang saya percaya juga terjadi dalam hidup kalian :D *naon sih*


Pertama kalinya nih saya sebagai warga Bandung jajan roti di pabrik roti Djie Seng. Pabriknya (mohon maaf kosa kata saya ini): jelek. Bukan pabrik roti yang fancy. Pabrik roti kampung namanya juga. Langit-langit ada yang mau copot, penerangan yah begitu aja. Ya pokoknya mah sederhana banget. 

Buat saya gak masalah, sebab rasa adalah koentji. Juga harganya. Hahaha. 

Di sana lah saya kalap beli segala macam rotinya. Dari tawar sampai yang kadet sampe yang aneka rasa. Abisnya murah hahaha. 

Sampai di rumah baru nyadar, cuma bertiga di rumah, gimana ngabisin rotinya. Jadilah kami makan dengan menu roti melulu huhuhuhu. Lumayan sih yang tawar dan kadet dibuat sandwich.

Masalahnya masa kadaluarwasanya sekitar seminggu kalau gak salah. Itu udah disimpan di kulkas. Jadi terpaksa ngabisin roti hasil belanja kalap. Wkwk.

Roti Djie Seng termasuk roti legendaris di Bandung. Roti kampung gitu yang jadi menu sarapan di Bandung.

Penjualnya mamang-mamang bersepeda. Di belakang sepedanya ada gerobak isi roti. Biasanya kami jajan roti Djie Seng kalau saya dan Indra sedang berkeliaran di sekitaran Cibadak.

Itu juga kalau gak sengaja papasan dengan Mamang Djie Seng bersepeda.


Rotinya ya gitu aja sih rasa roti gimana. Yang pasti mah lebih enak dari semua roti yang ada di minimarket. Wkwk.

Rotinya empuk. Isiannya juga gak dikit. Tapi keempukan rotinya ada masa waktunya. Kalau itungan sehari baru keluar dari pabrik masih empuk lah. Kalau lebih dari sehari mah rada keras sih.

Favorit saya rasa susu dan keju. Sepertinya kejunya bukan keju yang biasa kita makan sih. Wkwk. Yah apapun jenis kejunya, buat saya mah enak-enak aja. Lha wong rasanya murah, gak ada yang lebih dari 5ribu untuk roti yang ukurannya lebih besar dari semua roti-roti isi di minimarket itu lho :D

Roti Djie Seng mewakili masa kecil orang Bandung sih. Jadi kalau ada sepeda pedagang Roti Djie Seng, saya udah kayak auto-pesen aja. Langsung cegat mamangnya atau saya datengin langsung. Beli barang satu atau dua roti. Biasanya saya borong sih :D mumpung ketemu.

Saya sendiri gak ingat apa waktu kecil pernah jajan roti ini. Indra yang ngenalin rotinya ke saya waktu kami pacaran.

Bagian serunya kalau jajan roti Djie Seng: mumpung ketemu. Ditambah harganya murah dengan rasa yang masih oke.


Dengan saya tahu pabriknya di mana, saya gak lantas beli di pabriknya sih. Malas juga beli ke sana, mesti ngangkot dulu. Mana jalannya satu arah pula. Hehehe.

Pabriknya buka 24 jam. Mamang pedagang Roti Djie Seng sih entah jualannya sampai jam berapa. Yang pasti mah dari pagi-pagi sampai siang ada lah mereka keliling naik sepeda. Hampir gak pernah saya lihat mereka jualan sore hari, paling gak di atas jam 2 siang mah gak pernah lihat.

Paling enak memang pagi hari sih makan rotinya. Sarapan di Bandung tuh menunya bisa banget pake Roti Djie Seng. Eh bukan sarapan ding kalau orang sunda mah mesti makan pake nasi soalnya :D

Kalau kamu mau jajan roti Djie Seng ini, bisa datang ke pabriknya di Jalan Rajawali Timur. Ada juga pabrik lainnya di dekat Pasar Astana Anyar dan Caringin. Lho dipikir-pikir pabriknya dekat pasar tradisional ya. Pabrik yang saya datangi dekat dengan Pasar Ciroyom.

Kalau belum pernah ke pabriknya, agak susah sih nemu pabriknya. Tempatnya gak kayak pabrik, lebih mirip teras ruko jadul.

Ngomong-ngomong, saya udah pernah bahas tentang Sarapan di Bandung belum sih di blog ini? Menarik kali ya kalo saya ngomongin apa aja sih yang orang Bandung makan di pagi hari. Kepikiran karena bahas Roti Djie Seng nih :D 

ps: kalau mau jajan roti fresh from the oven, datang jam 11 malam. 





Teks : Ulu
Foto : Ulu

Disclosure

October 23, 2017
Halo, saya Ulu. 

Blog Bandung Diary ditulis oleh saya sendiri. Sebagai pelengkap tulisan, foto-foto diambil oleh saya dan pasangan saya Indra Yudha Andriawan. Bila ada foto milik orang lain yang terpajang di blog, saya mencantumkan photo credit di caption fotonya. 

Bandung Diary telah dibaca sebanyak hampir satu juta views (tepatnya 979ribu+++). Per bulannya Bandung Diary memiliki 5400+++ views. 

Dalam beberapa postingan blog ini, terdapat pesan sponsor dalam bentuk : link, review produk, review penginapan, reportase acara, review kafe dan restoran. Bandung Diary menerima kompensasi pembayaran dari para sponsor tersebut. Semua tulisan bersponsor dibuat oleh saya dan opini yang saya cantumkan murni merupakan pendapat saya yang jujur, seimbang, terpercaya, dan sesuai pengalaman sendiri. 

Untuk klaim produk, penawaran, pertanyaan, dan hal lain yang berkaitan dengan produk atau jasa silakan ditujukan kepada pemilik produk atau jasa tersebut. Blog Bandung Diary hanya memberikan opini dan review. 

Terima kasih.