Image Slider

Pengen ke Pekalongan

September 08, 2019
Gara-gara postingannya Alfian, saya pengen ke Pekalongan. Ngapain? Minum es limun! Ke sananya kayak biasa naik kereta api aja dari Bandung. Cek jadwal keberangkatan kereta api, berangkatnya pagi-pagi. Turun di Pekalongan jam 12 siang. Langsung minum es limun! Wqwq.

Ingat gak dulu es limun adalah minuman yang lumrah kita temui semasa kita anak sekolah dasar. Beli lima puluh perak, dapat es limun satu plastik. Gak tahu di Bandung, kalo di kampung saya dulu sih banyak banget es limun. Hawa panas enaknya kerongkongan dibanjur air gula manis. Dan dingin!

Berapa lama sih enaknya jalan-jalan di Pekalongan? Saya cuma punya waktu di akhir pekan. Apa dua hari satu malam cukup?

Baik kita coba bedah kalo 2D1N di Pekalongan bagaimana dan berapa.

Hari Pertama di Pekalongan

Pesan tiket di Traveloka. Jam 06.15 kereta berangkat. Siang hari sampai di Pekalongan. Lanjut naik ojeg online ke Kedai Oriental.

Puas-puasin dulu di toko limun ini. Mengikuti perkembangan zaman, Kedai Oriental menyediakan tempat untuk duduk bersantai.

Terus gimana kalo mau lihat pabriknya, boleh gak sih? Entahlah. Saya coba nanya ke wiraniaganya aja nanti. Mudah-mudahan boleh mengengok dapur pembuatan limun ini.

Photo Courtesy: Discover Pekalongan

Oke cukup. Kayaknya check in dulu. Nginepnya di The Sidji. Hotel dengan bangunan utama yang legendaris. Sebab dahulu rumahnya milik seorang letnan Tionghoa. Sekaligus saudagar batik. Ia memimpin tahun 1927-1930.

Bangunan hotel ada di belakang bangunan bersejarahnya. Hotelnya modern saja. Seperti bangunan hotel bintang 3 pada umumnya. Ada kolam renang, btw. Cocok untuk merendam hangatnya angin laut.

Kayaknya hari pertaman santai aja. Istirahat bentar di penginapan. Bila keluar pun tujuannya makan-makan. Terus enaknya makan di mana nih?

Ya saya tahu. Kita pergi ke Garang Asem Masduki saja. Reviewnya bagus-bagus. Lokasinya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari The Sidji. Nasi Megono dan Garang Asem jadi target sasaran. Haha.

Semalam di Pekalongan. Nongkrong di Alun-alun Pekalongan seru gak sih? Gak mungkin udah pada tidur kan kalo malam minggu? Kayaknya seru nih lihat-lihat sebentar Alun-alunnya di malam hari. Tapi kalo gak menarik, ya sudah balik saja ke hotel. Lalu tidur zzzttt.....

Hari Kedua di Pekalongan

Keluar penginapan sekaligus checkout. Sore nanti kembali ke Bandung. Jam tujuh malam tepatnya kereta akan berangkat.

Masih ada cukup waktu buat jalan-jalan. Ke mana aja? Museum Batik tentu saja!

Tiket masuknya murah hanya lima ribu per orang. Sebuah tip dari teman, katanya bila ke Museum Batik jangan sendiri. Suasananya agak spooky. Entah benar atau tidak. Haha. Yang pasti saya emang gak akan pergi sendiri. Indra dan Nabil ikut juga (syukurlah haha).

Hasil riset mengatakan mengelilingi museum ini gak makan waktu lama. Satu jam udah paling maksimal. Kita bisa lihat perkembangan batik di Pekalongan. Menempati bangunan klasik di Jl. Jetayu no. 1, museum ini memiliki lebih dari seribu koleksi batik.

photo courtesy: wikipedia

Wikipedia menulis, gedung Museum Batik Pekalongan dulunya adalah bangunan kantor. Kantor keuangan bagi tujuh pabrik gula di Pekalongan. Level kepentingan gedungnya udah tingkat tinggi.

Di tahun 2006 Museum Batik ini diresmikan. Di dalamnya terdapat ruang koleksi batik, perpustakaan, kedai batik, workshop, dan beberapa ruang lainnya. Saya tebak batik pesisir lebih banyak ditampilkan di sini. Senggak-enggaknya batik dari kota tetangga: Cirebon dan Lasem.

Namun bisa jadi ada lebih banyak batik. Secara ini kota ikonnya memang batik.

Kedai limun sudah.
Museum sudah.
Selanjutnya ke mana?

Rumah Makan Bung Kombor! Baca deh review-reviewnya. Disebutkan kepiting di sini juara enaknya. Lokasinya hampir sekilo dari Museum Batik. Bisa gak ya naik becak ke sananya? Eh, masih ada kan becak di Pekalongan? wqwq.

photo courtesy: Garnesia

RM Bung Kombor menyajikan tiga menu saja: udang, kepiting, dan swike. Kepiting adalah yang paling direkomendasikan. Tapi saya suka udang. Yhaaa! Harga agak mahal, tapi ada yang bilang murah. Tapi seafood emang gak mungkin harganya kayak seporsi nasi uduk kan. Hehe.

Satu tujuan terakhir adanya di daerah Kauman. Saya mau susuri kawasan tua dan moto-moto bangunan kunonya. Apa yang gak ada di Bandung, pasti ada di sini nih. Seperti waktu saya ke Yogyakarta, saya kunjungi Kauman juga. Kauman biasanya gak jauh dari Alun-alun dan masjid raya.

apa di dalam jalan kecil ini banyak rumah-rumah antik?
photo courtesy: cintapekalongan.com

Sorenya ke stasiun Pekalongan dan bersiap pulang ke Bandung.

Oya, Indra bertanya pada saya. Apa perlu kami ke pantai. Hmmm...saya gak terlalu menyukai wisata alam. Hahaha. Ditambah, rumah orang tua lokasinya hanya lima kilometer dari rumah. Pantai adalah keseharian saya dulu. Melihatnya lagi saya rasa gak perlu. Saya cuma mau jalan-jalan di jantung kotanya.

Bila kamu warga Pekalongan dan membaca tulisan ini, menurut kamu perlukan saya mengunjungi pantai-pantai di Pekalongan?


Mencari Makam Kapitan

September 07, 2019
Buat apa cari-cari makam kapitan? Apa kaitannya makam tersebut dengan saya?

Tidak ada. Tentang hal-hal yang gak bisa saya jelaskan sekaligus, inilah contohnya.


Pagi itu langitnya biru menyala. Pertanda siang nanti akan panas. Banget! Namun saat kami mulai berjalan, dingin kemarau masih menggigit.

Dewi berjalan paling depan. Dia pemandu kami. Kira-kira ada 20 orang yang ikutan jalan-jalannya Heritage Lovers ini.

Saya seperti biasa. Terseret-seret dalam rombongan. Berjalan paling belakang.

Saat berjalan kaki, temponya pelan saja. Lihat kiri, tengok kanan. Kebanyakan moto.

Dalam perjalanan ini, saya ketemu banyak rumah.

Ada sebuah rumah bergaya tempo dulu. Terbesar di antara rumah sekelilingnya. Resik dan mewah.

Letak rumahnya persis di belakang Gedung Indonesia Menggugat (Landraad). Kata Teh Erna, salah satu peserta, bisa jadi itu rumah dulunya nih milik pegawai Landraad. "Mungkin jaksanya," kata dia lagi.

Tapi kok cuma satu ya. Atau dulu ada kompleks perumahan jaksa atawa hakim di di sini? Lantas cuma satu yang tersisa?

Gak ada yang tahu.

Berjalan ke jantung Babakan Ciamis, pemandangannya rupa-rupa. Dari kutang hingga kandang. Sungai dan lapangan. Toko kelontong baru buka dan ibu-ibu yang nongkrong menyuapi anaknya sarapan.

Babakan ini banyak gangnya. Bukan cuma jalannya datar tapi juga nanjak. Bikin lelah juga haha. Tapi pengalaman eksplor gang ini menarik juga.

Ada rumah dengan pepohonan sebagai pagarnya. Lebih banyak lagi hunian tanpa pagar. Menempel lengket satu sama lain. Seperti remaja jatuh cinta. Bucin. Bucin kemiskinan.

Kami masih berjalan. Rupanya itu makam gak sedekat yang saya pikir. Kami bahkan menyebrang Jalan Aceh. Lalu masuk lagi ke jalan-jalan kecil macam labirin tak berujung.

Gang di mana saya melihat rumah dengan teras mungil nan sempit. Ada sofa butut di sana. Dekil dan nampak reyot. Anehnya, terlihat nyaman. Pagarnya pagar hidup. Rumahnya tak seberapa besar. Akan tetapi tentang harapan-harapan yang gak boleh putus, saya melihatnya ada di sana.

Apalagi yang saya tengok di Babakan Ciamis ya. Bekas rumah panggung. Rumah jengki. Rumah berdinding bilik.

Juga ada rumah dengan halaman berbentuk lorong. Lebar kurang dari semeter dan panjang. Membayangkan malam-malam pulang ke rumah lewati lorong macam begitu...

Dan ada rumah dengan banyaaaaaak sekali tanaman di halamannya. Rumah pohon perkotaan.

Saya kira, pemandangan terbaik pagi itu adalah bayangan. Ya, bayangan matahari yang menimpa setengah tembok-tembok rumah, pintu, jendela.

Punggung saya berasa hangat dipijat sinar matahari. Nyaman. Menenangkan. Begitu juga perasaan di dalam hati.

Makin jauh kaki melangkah, Dewi bilang tujuan makin dekat.

Begitu dalam kami masuk ke jantung babakan ini, rumah makin kecil, gang makin sempit. Dinding rumah saling menghimpit.

Saya lihat ada banyak mural di Babakan Ciamis. Makin rapat huniannya, makin menarik muralnya.

Ngomong-ngomong, kamu tahu Babakan apa artinya? kampung baru.

Kampung baru ini terbentuk karena perantau yang berkumpul. Komunal.

Misalnya, Babakan Ciamis. Perintis kampung tersebut datangnya dari Ciamis. Pada mulanya hanya orang dari Ciamis yang bermukim di sana.

Namun Babakan gak lagi komunal. Sekarang, siapa saja dari mana saja bisa tinggal di Babakan. Udah nyampur.

Nah, di era kolonial si Babakan Ciamis ini dahulunya Sentiong. Alias, makam warga Tionghoa. Letnan pertama di Bandung makamnya ada di sini.

Eugh, sampai mana tadi? Oh ok. Kembali ke makam. Mana makamnya?

Tidak ada. Hanya ada nisan menempel ke dinding rumah. Nisan warna putih. Bertuliskan gini: Oeij Bouw Hoen (1882).

Gelombang kedatangan orang Tionghoa ke Bandung kira-kira di tahun 1884. Dekat-dekat munculnya jalur kereta api. Sebab pemerintah kolonial butuh tenaga kuli tambahan. Ada juga yang merantau ke Hindia Belanda merintis karir jadi saudagar.

Kapitan atawa letnan adalah jabatan yang ditampuk orang Tionghoa. Ia dipilih pemerintah kolonial untuk memimpin etnisnya. Utamanya sih dalam bidang perdagangan.

Berhubung Bandung yang dulu adalah Bandung yang sedang tumbuh, maka titik-titik di dalam kota ikut berubah. Pabrik kina dan stasiun kereta api saja, itu lokasi tadinya di pinggir kota. Lihat sekarang, jadi jantungnya kota.

Sama kayak pemakaman. Yang tadinya makam, dipindah, jadi babakan. Makam jadi kampung.

Memindahkan makam bukan perkara mudah. Ada keluarga yang kehabisan uang mendanai proses pindahan, atau keluarganya gak datang-datang ngurusin makam keluarga. Ribet! kata Dewi.

Makam tertua di Bandung, dahulu ada di Banceuy. Lantas, makam Tionghoa pindah ke Babakan Ciamis, dekat Balaikota itu.

Makam warga Eropa pindah ke Kebon Jahe. Ya sekarang jadi GOR Pajajaran.

Dewi cerita kalo pemakaman masih dipindah lagi. Makam Tionghoa ke Cikadut. Eropa di Pasteur.

Dalam prosesnya, ada komplek-komplek makam juga. Di antaranya, di Taman Sari yang sekarang jadi UNISBA. Apakah kamu mahasiswa di sana dan pernah mengalami yang namanya penamppppzzttttt...udahudah. Ini bukan Jurnal Risa :D

Baik. Kita sudahi dulu. Dalam acara jalan-jalan mencari makam kapitan ini, kami hanya menemui nisan tertancap di dinding. Bila kita ada di dekatnya, gak akan tahu di situ ada nisan. Yang kelihatan hanya gang sempit, rumah warga, dan toren air.

Masa iya makam sepenting ini tercecer. Ataukah makamnya sudah dipindah tapi nisannya dibiarkan saja?

Yah jawabannya menggantung. Dewi gak tahu. Saya apalagi.

Sudah begitu saja pencarian makamnya.






Nisan di Babakan Ciamis



Gadis Kretek

September 02, 2019
Bukunya terbit tahun 2012. Saya baru baca sekarang. Iya gak apa-apa. Dari judulnya aja, mesti tahulah novel ini temanya apa. Iya betul. Kretek.


Saya gak suka bau tembakau. Tapi setelah baca ini novel, saya pengen cobain kretek. Apa kretek paling enak yang bisa saya beli di Alfamart coba tolong rekomendasikan?

Memangnya kayak gimana rasa kretek lintingan yang manis, gurih, dan harum ala Gadis Kretek, si Dasiyah itu?

Mengapa membaca kretek di novel ini bagi saya bagaikan menikmati seporsi mie ayam dan menyantap rendang!

Di mana saya bisa nyobain kretek yang seenak itu? Mesti ke mana?

Ini novel menyenangkan buat dibaca. Drama bisnis kreteknya berbumbu latar era pra dan pasca kemerdekaan.

Ya, era ramai-ramainya pemberantasan golongin kiri juga ada.

Saya gak akan cerita sinopsis novelnya. Kamu baca aja sendiri. Di googling juga ada banyak.

Gadis Kretek memiliki alur cerita maju mundur. Penokohannya ada banyak. Tutur katanya juga lentur gak sulit dibaca. Gak susah dicerna. Pas ajalah.

Saya suka baca bagian ceritanya Idroes Moeria dan Dasiyah. Ini ada di alur mundur.

Giliran baca di alur majunya, pengen cepet-cepet dilewat aja. Babak di mana kakak beradik Lebas, Karim, dan Tegar muncul ini menurut saya baru kelihatan enak dibaca pas bagian akhir aja. Tapi kan gak mungkin saya loncat-loncat bacanya.

Jadi ya sudah tetap dibaca. Pelan-pelan.

Memang bagian akhir ceritanya gak saya duga. Hahaha. Sangat menyenangkan kisah kasih dua tokoh di buku ini dimenangkan si perempuan. Menurut saya yang menang perempuannya loh ya.

Memang Soeraja yang kaya tujuh turunan. Tapi bayangkan gini: di hari pernikahan kamu, si mantan datang lantas menghajar jidatmu dengan semprong petromaks. Bekas hajarannya membekas. Hingga kamu manula.

Itulah simbol kemenangan yang saya maksud!

Latar daerah dalam novelnya adalah Jawa Tengah. Di kota M. Lantas saya cari Kota M yang dimaksud penulis, itu nama kota apa sih.

Kenapa mesti diinisialkan segala. Sementara kota lain ia tulis lengkap: Yogyakarta, Magelang, Jakarta, Surabaya, Cirebon, Kudus.

Saya sampe gooling buat cari tahu Kota M. Keluar satu nama kota: Muntilan.

Oke baik. Suatu hari nanti saya ke Muntilan. Juga mau ke Kudus. Pokoknya saya mau isap kretek lokal! Gara-gara si Gadis Kretek!

Ibu Berbagi Bijak di Bandung

September 01, 2019
Berapa banyak dari kita yang hidupnya di pinggir jurang? 


Kecelakaan, masuk UGD, gak punya uang, bagaimana bayar biaya rumah sakit...

Anak cerdas mau lanjut pendidikan ke tingkat kuliah. Orang tua gak sanggup membiayai.

Pekerja paruh waktu. Gaji gak seberapa besar. Habisnya buat ongkos adik yang masih sekolah. Juga ayahnya sakit-sakitan.

Bisnis sendiri. Cashflow macet. Utang numpuk.

Hasrat mau liburan. Gaji cukupnya untuk kebutuhan bulanan. Maksa ikutan 'pay later' alias bayar kapan-kapan.

Minggu lalu (28/08/2019) saya ikutan workshop literasi yang diselenggarakan @ibuberbagibijak. Pesertanya perempuan semua.

Emang sejak 2017 Visa aktif kampanye literasi keuangan. Peserta selalu sama, yaitu perempuan. Di acara ini, perempuannya khusus para freelancer dan pelaku UMKM.

Beberapa komunitas hadir sebagai undangan. Ada Buana Belantik. Sekumpulan pengusaha UMKM, mayoritas perempuan. Anggotanya tersebar sejawabarat. 

Ada juga cewek-cewek pekerja paruh waktu dari komunitas Emak-emak Blogger. Gak ketinggalan meramaikan acara, The Urban Mama yang kebanyakan pesertanya ibu-ibu muda. 

Mentor workshop dari Visa, Ibu Berbagi Bijak, ada beberapa orang. 

Selain sambutan dari presdir PT Visa Worldwide, Riko Abdurrahman, ada juga perwakilan dari OJK, Teguh Dinurahayu. 

Sementara itu, workshop finansialnya dipandu Prita Ghozie. Seorang dosen, penulis, ibu, juga konsultan finansial profesional.

Ada beberapa yang saya highlight dari presentasinya. Gini.

Usahakan punya asuransi. Wajib. Sisihkan pendapatan seenggak-enggaknya buat iuran BPJS. Kalo asuransi yang lain sanggup bayarnya, ya udan yang lain aja.

Lantas berhubung di acara ini Visa menargetkan peserta perempuan dari kalangan pengusaha kecil, maka Mba Prita ngasih tips keuangan dasar buat pelaku UMKM. 

Oya, freelancer juga diitungnya pelaku usaha. Usahanya menjual jasa. 


Ada tiga macam catatan keuangan dasar yang mesti kita ketahui dan terapin: 
📝 Neraca
📝 Laba dan rugi
📝 Catatan atas laporan keuangan.

Sementara itu untuk alokasi pendapatan, tingkat pengeluarannya gini: 
1. Zakatin dulu 2,5% dr gaji.
2. Bayar asuransi minimal 5% dr gaji
3. Alokasi bulanan (gak lebih dr 60%)
4. Nabung utk keperluan jangka pendek 
5. Investasi utk keperluan jangka panjang (nabung + investasi jgn lebih dr 30% dr pendapatan).

Oleh Mba Prita, kelima istilah di atas diberi singkatam ZAPFIN: zakat, assurance, present consumption, future spending, dan investment. 

Kalo ada utang gimana nih? Porsi utang jangan lebih dari 30%. Kalo lebih, maka korbanin alokasi bulanannya.

Itu sih yang saya highlight dari penjelasannya Mba Prita. 

Oiya, berkali-kali dia ingatkan, jangan tergiur fitur Pay Later dan skema pinjaman mudah ala pinjaman online.

Mba Prita bahkan bilang, pekerja freelance sebaiknya gak pake fitur cicilan kayak Pay Later. Kecuali ada jaminan perbulan pendapatan pasti. 

Intina mah cenah, pada bisa ngukur diri. Jangan nurutin nafsu dan gengsi. Bahkan kalo pendapatan gak cukup buat investasi, ya udah tahan dulu. "Semua akan indah pada waktunya," gitu Mba Prita bilang.


Pak Teguh juga mengonfirmasi uraian Mba Prita. Katanya, baca dengan seksama terms & agreement kalau u3rusan utang piutang begini.

"Memang banyak fintech yang nakal. Tapi banyak juga laporan kasus yang masuk ke OJK penyebabnya karena si pelapor gak baca terms & agreement dengan teliti," kata Pak Teguh.

Literasi finansial pada dasarnya bukan cuma kemampuan kelola pendapatan ya. Ternyata skill membaca dan menyimak juga sama pentingnya.

Skill dasar manusia banget gak sih itu? Membaca dan memahami. Hehe.

Pulang ke rumah usai acara Ibu Berbagi Bijak ini, saya ngahuleung. Apakah selama ini saya hidup di pinggir jurang? Kalo kamu, gimana?

Toko Buku Akasa Adalah Warung Teh di Cihapit

August 25, 2019
Udah saatnya saya keluar zona nyaman di Bandung Diary ini. Makanya saya kontak Deni bosnya Lawang Buku. 

Saya minta bertemu. Deni ajak nongkrong di Akasa. Ada warung teh di sana. Yang juga merangkap toko buku. 


Berhubung Deni ini teman lama, kami ngobrol kepanjangan. Urusan inti selesai dalam waktu 15 menit. Lain-lainnya 1,5 jam! 

Emang seneng ya bisa ketemu muka gini. Saya rasa yang ngerti kalimat barusan adalah orang-orang yang umurnya kepala tiga, berkeluarga, atau yang serat-serat nadinya habis buat cari uang. 

Memang gak gampang lagi bertemu temen lama. Ya sibuklah. Ya batal. Ya wacana doang. 

Bila saat ini kamu berumur kepala dua dan masih nongkrong-nongkrong selow, wah selamat menikmati. Sebab ada waktu di mana akan terngiang kalimat ini: bila nanti kita tua dan hidup masing-masing, ingatlah hari ini. 

Hahaha apa sih ini saya kan mau ceritain Akasa.

Akasa ini hanya ruang kecil di sudut Pasar Cihapit. Bener-bener mungil. Sajian nongkrongnya hanya air teh. Bila lapar, pesan makanan ke kios-kios sebelah. Ada mie rebus, ada gorengan, juga ada buah-buahan.

Kami memesan Teh Angon made in Pekalongan. Satu ceret bisa saya minum berkali-kali. Untuk itu harganya Rp5.500. 


Lima ribu untuk teh. Lima ratus untuk gula batu. Pantas saja Deni mau traktir saya di sana! Hahaha. 

Kalo sama Deni, ngobrolnya gak jauh dari perbukuan. Memang itu pula tujuan saya ketemu dia. 

Topik dari Bandung Readers Fest, Mocosik, peta perbukuan, penerbitan, hingga rencana-rencana kami yang masih menggantung. 

Seneng bisa ngobrol gini. Rasanya jadi semangat lagi.

Namun Deni bergegas pergi. Katanya ada tadarusan di Museum Konperensi Asia Afrika. Oke baik. 

Karena jalanan masih macet, saya mutusin lebih lama di Akasa. Bonil, wiraniaga Akasa, nemenin saya. Baik banget orangnya emang. Seneng ngobrol jadi saya ga berasa sendiri. Hehe. 

Dari dia saya tahu Akasa baru jalan setahun. Ia juga cerita bikin penerbitan. Dari rak buku di atas meja kerjanya, ia ambil tiga buku. Salah satunya tentang Sanskrit. 

Tunggu tunggu...Sanskrit? 

Orang yang buka kios buku di dalam pasar, hanya berjualan teh, harganya lima ribu saja, bikin penerbitan sendiri, buku yang ia cetak tentang sanskrit?


Untuk hal-hal yang absurd, menarik, dan berani kayak gitu, apa yang telah terjadi dalam  hidupnya?! 

Hahaha. Unik sekali. 

Kalian datanglah ke Akasa. Bukan tempat yang nyaman saya rasa. Baca buku di sana pun gak cocok menurut saya. Sebab rada poek. Namun ia ngasi pengalaman yang beda. Kalo ke sana, mesti buat ngobrol. Hehe. 

Akasa buka selasa - minggu.
Jam 10-22 atau sekosongnya.
Senin tutup.
Lokasi di Pasar Cihapit. Ya, masuk ke dalam pasarnya, cari Warung Ma Eha, deket-deket situ. 

Pasar Cihapit ini emang oase tengah kota. Saya pernah menulis beberapa kali tentang Cihapit di blog.  Cek ke sini kalo mau baca:

Jalan-jalan di sekitar Cihapit
Surabi Oncom Cihapit, Terenak Se-Bandung!
Itinerary Satu Hari di Bandung
Kuliner di Cihapit
Makasih banyak Deni yang ngenalin saya sama Akasa. Tentu saya akan balik ke sana :) 


WSATCC Adalah Cinta Lama

August 24, 2019
Venue gignya White Shoes & The Couple Company gak jauh dari rumah. Di 372 Coffee. 10 menit dari rumah. 

Acaranya gak tau on time atau tidak. Sebab saya datangnya pun telat 30 menit. Tidak ada ART, suami masih kerja. Emang susah atur-atur waktu keluar rumah sendiri. Heuu. Ya syukurnya bisalah si kubil ditinggal bentar. 

Itu pun dalam kondisi ketinggalan: dompet, tiket, dan kacamata, saya paling sebel barang yang terakhir itu sih. Soalnya sepanjang acara buram nontonnya ahahaha kesel. 


Anw, gig berlangsung 1,5 jam cenah kata penonton sebelah yang udah duduk di sana sejak jam 19.00. Tracklist ada 24. Padat ya. 

Ada 3 lagu yang saya sukaaa banget tapi ga dinyanyiin. 

Kampus Kemarau.
Senja Menggila.
Sunday Memory Lane. 

Entah ga dinyanyikan atau saya aja yang telat datang. 

Walo begitu seneng aja sih apa aja yang dilantunkan nona sari (atau nyonya sekarang?). Rasanya baru kemarin duduk di bangku kuliah dan membeli kaset Skenario Masa Muda. 

Waktu emang bener-bener terbang. 

Terus, gaya manggungnya Sari emang gak ada matinya sih. Seru banget! Vokalis perempuan dengan signature style yang gak ada tanding. Unik, classy, seksi tapi gak geuleuh lihatnya malah kayak...ohhhh ya tuhan tolong lahirkan saya kembali dan jadikan saya seperti diaaaa! wqwqwqwq. 

Oya saya nonton WSATCC barengan sama adek. Si Unis dan Babay pacarnya. Juga sama Mayang. Saya rasa, di umur-umur kayak saya sekarang, sulit mencari teman dateng ke acara kayak gini. Karena, tahu sendirilah. Tentang hal-hal yang kamu lalui setelah kamu berkeluarga dan bekerja. Hahaha. 

Ya begitulah. Malam-malam yang menyenangkan, ya kayak malam kemarin itu, waktu nonton WSATCC. 

SehatQ.com Sebelum Imunisasi

August 23, 2019
Baru aja kemarin ada Vaksin Day di sekolah si Kubil. Dua minggu sebelumnya, pihak sekolah buka pedaftaran vaksin campak. Dari kelas anak saya, yang daftar hanya tiga orang. Termasuk kubil anak saya. Ada 23 anak di kelas tuh, sisanya pada gak mau divaksin apa gimana?

Ternyata mereka pada sakit batuk pilek. Dueng!

kalo gak sakit: manjat-manjat
kalo sakit: murung dan diem aja heuheu kacian

Saat pengumuman vaksin ini saya baca, si kubil emang lagi sakit. Tiba-tiba demam. Duh euy baru juga sekolah belum sebulan masa udah sakit aja heuheuheue. Usut punya usut, dia ketularan temannya. "Temen kamu sakit apa emangnya, Bil?" saya interogasi kubil. Gak apa-apalah demam tapi masih bisa ngomong kah. Heeuu.

"Sakit pilek," jawabnya. Satu enak kena, satu kelas mewabahnya.

Ah elah. Dua minggu ke depan dia akan divaksin sehingga saya ngebut memulihkan kondisinya supaya sehat jagjag waringkas. "Pokoknya tanggal 22 Agustus kamu mesti ikutan vaksin campak, Bil. Ayo kita sembuhin sakit kamu sama-sama!" kata saya gagah. Haha.

Saya belum tahu dia akan sakit apa. Gejalanya baru demam saja. Dalam hati berdoa semoga sakitnya biasa aja gitu bukan yang parah.

Malam itu, saat kubil tertidur, saya browsing di SehatQ.com. Menggunakan kata kunci 'gejala demam' saya coba cek deh 2nd opinion siapa tahu demamnya aneh-aneh heuheuehu.

SehatQ bisa diakses dari smartphone. Maupun desktop. Saya ceknya dari hp sih karena lebih gampang. Tinggal download aja di appstore terus install. Gratis! Lumayan ada layanan kesehatan kayak SehatQ tuh kayak punya dokter pribadi. Saya tahu layanan ini dari Diana yang kemaren lahiran anak keduanya (makasih, Na!). Dia rajin baca-baca artikel kehamilan, persalinan, dan konsultasi masalah kandungan di SehatQ.

Yhaaa lumayanlah, kalo apa-apa mesti ketemu dokter tatap muka langsung repot juga sih.



Oke kembali ke demamnya kubil.

Udah ketik 'gejala demam' nih. Muncul lah aneka macam demam. Mulai dari demam tifoid, demam berdarah, demam rheumatik juga ada! Oke. Setelah baca-baca dan mencocokannya dengan gejala yang dialami si kubil, dia cuma demam biasa. Dini hari, munculah si pilek.

Baik! Kamu cuma kena pilek, Bil!

Saya tetep browsing di SehatQ.com tentang pilek. Rasanya saat itu kami belum perlu ke dokter. Demamnya udah turun dan berganti rupa jadi bunyi idung strooot sroooot. Ditambah suara yang kayaknya mau batuk gimana gitu.

Hasil baca-baca di web yang udah kayak asisten pribadi kesehatan ini bilang, jangan dikasih antibiotik dulu. Ya! Saya pun setuju. Jadi di SehatQ artikelnya yang nulis adalah dokter. Tiap dokternya bisa kita cek profilnya gimana-gimana.

Jadi, mau konsultasi kesehatan di SehatQ juga bisa. Lha tinggal cari dokter aja di sana mana yang kamu butuhkan.

Nah di artikel tentang pilek yang ditulis oleh dr. Indra Wijaya, katanya gini: antibiotik tidak dapat melawan virus pilek dan tidak boleh digunakan kecuali terdapat infeksi bakteri.

Ya udah saya nurut. Si kubil saya siapkan makan enak dan hangat. Lantas minum air putih yang banyak. Dia bilang kepalanya pusing. Entahlah mungkin bawaan pilek kan ngefek ya ke kepala.

Saya suruh dia tidur. Pokoknya gitu aja: makan-minum-tidur-minum-tidur-pipis-makan-pipis-minum-tidur.

Di hari ketiga, pileknya belum usai juga. Hadoh target saya tuh dia sakit seminggu ajalah. Pokoknya kata SehatQ banyakin istirahat dan asupan gizi aja dulu. Kalo 2-3 hari belon ada perubahan, baru bawa ke dokter.

Dokter Indra dari SehatQ cuma ngasih resep Asetaminofen untuk ngilangin rasa sakit nyeri-nyeri di badan. Saya beli buat jaga-jaga. Tapi mengamati gejala dari muka dan badannya kubil, dia belum butuh obat nampaknya.

Nah malam di hari ke-3 kondisinya sehat kembali. Kayak...anehlah hahaha. Suara parau dan batuknya hilang. Pilek masih ada sedikit. Semangatnya kembali. Kebiasaan manjat-manjatnya nongol lagi. Kubil bilang mau ke sekolah.

Berbekal masker, saya kirim kubil ke sekolah. Beberapa temannya masih pilek. Kubil juga berpotensi menularkan virus influenza ke temannya.

Beberapa hari kemudian, dia sembuh total. Kurang dari seminggu alhamdulillah! Tanggal 22 Agustus kemarin dia ikutan vaksin campak di sekolahnya. Disuntik katanya. "Nangis gak?" hahaha karena dia takut jarum suntik.

"Ya enggaklah," kata kubil bangga. Oke baik kamu resmi jadi anak kelas 1 SD kalo gitu. Haha.

Yok pada jaga kesehatan. Istirahat yang cukup. Makan minum yang bergizi. Dan gak lupa download SehatQ biar ada teman ngobrol masalah medis begini nih.

Oiya, teman-teman bisa cek SehatQ di sini nih.
IG: @sehatq_id
Twitter: @sehatq
Facebook: SehatQ Indonesia


Melihat Gedung Eks Interlink Lebih Dekat

August 07, 2019
Pernah melintas Jalan Wastukencana dan membaca signage di atas sebuah gedung antik berbunyi: Interlink?

Warga Bandung sih pasti pernah. Siganagenya gede gitu lho. Pasti terbaca mudah.

interlink

Interlink ini kantor agen wisata. Rasa-rasanya sih belum lama saya lihat signagenya dicopot. Entah ke mana kantor Interlink pindah. Kini gedung berasitektur ala kolonial itu tak lagi bertuan. Kosong.

Dewi dan Isma dari komunitas Heritage Lover merancang kegiatan berkunjung ke Eks Interlink. Tentu saja saya gak mau melewatkannya. Hari minggu waktu itu (14/7/2019).

Gedung eks-interlink adanya di Jalan Wastukencana no. 5. Gak jauh dari Gereja Bethel. Di seberangnya Balaikota.

Bisa masuk ke dalamnya, saya semangat banget! Senang! Gak tahu nih gimana harus berterima kasih pada Dewi dan Isma :)

Bagian paling mencolok dari gedung ini adalah tegelnya. Di satu bangunan ini ada lima motif tegel! Gokil banyak ya. Sekaya apa ini orang yang punya gedung hahaha.

Di dalam gedung gak ada perabotan. Kosong blas. Hanya ada seperangkat alat tidur dan berjaga. Itu pun di ruang depan saja. Sisanya hampa. Langit-langit tinggi dan pintu ukuran besar.

Ada dua kamar utama. Terlalu sedikit ya jumlah kamarnya buat rumah sebesar itu. Tapi ini gedung memang bukan rumah. Melainkan kantor, perusahaan.

Berdasarkan tulisan Kodar Solihat yang saya baca di web Jabar Agro, gedung ini dahulu bekas perusahannya Pirelli. Pirelli memiliki perkebunan karet di Bunisari - Lendra di Garut.

Ya, Pirelli yang dimaksud adalah sponsor yang namanya nempel terus di seragamnya Intermilan! Siapa sangka nama yang sering penggemar sepakbola liga italia lihat ini ada hubungannya dengan Bandung, Garut, Indonesia!

Gimana cerita Pak Kodar tahu kalau gedungnya pernah jadi kantor perusahaan Pirelli? Baca ada di websitenya. Saya rasa gak sopan juga kalau saya salin semua informasinya di sini.

Di sini mah saya pajang foto-foto aja ya. Sejarah lengkap bacanya di sini: Perkebunan Bunisari-Lendra Dulunya Milik Industri Ban Pirelli.

interlink

Dari risetnya, Dewi membaca kalau di buku telpon tahun 1941 tercatat ada enam orang yang alamatnya di jalan yang sama: Logeweg no 5. Alias jalan wastukencana.

Ke enam orang ini punya nama belakang yang berbeda. Artinya, bukan kerabat dong. Mereka bekerja di alamat yang berbeda-beda. Ada yang kerjanya di apotek, PLN (dulu Gebeo namanya), juga ada yang kerjanya di sekolah (di St Augustinus). Lantas mengapa di buku telpon alamat mereka sama. Apa mereka ngontrak di Logeweg 5?

Di era kemerdekaan, bangunan ini jadi kantor Departemen Perdagangan Jawa Barat. Setelah itu entah dimiliki siapa dan disewakan pada Interlink. Sekarang pun gedungnya terbuka untuk disewa dan dijual.

Siapa sangka ya. Di sudut kota pegunungan ini ada asetnya produsen ban salah satu yang terbesar di dunia.

Ruang depan
Masih di ruang paling depan
Di ruang tengah
Di ruangan belakang, kamar
Di kamar satunya lagi








Teks & foto: Ulu

Main ke Pasar Komik Bandung dan Beli Komik Malika

August 01, 2019
Kalo ke Pakoban, pasti saya ketemu Ozora. Hahaha. Si Oz ini temen kantor dulu di Mahanagari. Beberapa kali ke Pakoban emang kayak tali kasih gitu. Ketemu temen lama kayak OZ, Yori, dan Kuke.


Pasar Komik Bandung alias Pakoban ini event tahunan yang wajib sih saya datangi. Yang tahun ini acaranya tanggal 14 Juli kemaren. Lokasi di Braga City Walk. Biasanya dia berlangsung selama dua hari, sabtu minggu.

Saya sih sering nemu harta karun di sini. harta karun berupa cerita yang seru-seru. Bayangin aja komikus ilustrator lokal tumplek tublegh di Pakoban. Ngapain? Pajang karya dong. Dijual juga malahan.

Mana cerita komiknya lucu-lucu. Bukan cuma lucu bikin ketawa, tapi juga lucu dalam arti keren. Udah gitu, komik yang saya beli ditandatangani sama komikusnya. Whoaaa senang bukan main! Makasih banyak, Oz dan Mba Sherika!

Saya sih bayangin ya, mereka kan bikin cerita sendiri tuh. Ngeprint sendiri kan. Semuanya serba DIY lah walo meureun weh mereka perginya ke Polar atau Angkasa Putra buat ngeprint hahahaha. Ya tapi tetep aja kan dikerjain sendiri.

Ini gak ada event buat penulis nih yang kayak gini. Kalo ada, saya mau ikutan. Heuheuehu. Ngeprint tulisan sendiri, jilid sendiri, jual sendiri.

Di sini saya gak bisa gak belanja komik. Dikit sih belinya: komik buatan Oz, komik Malika - Maliha, dan postcard bagus-bagus! 150 ribu habis buat jajan dan saya merasa masih kurang. Ada komik Banggaber yang saya gak beli dan nyesel. Kebanyakan mikir sih.

Walo demikian, saya kan beli komik Catatan Maliha Malika. Dan saya rasa ini pembelian terbaik di Pakoban. Komiknya bagus banget! Saya suka, Nabil juga seneng bacanya.



Catatan Maliha Malika tuh memperlihatkan problematika anak-anak. Yang mana relevan dengan kita dan masalah orang dewasa: minder karena rambut keriting, malu punya tahi lalat di muka, hambur-hamburin air, rakus pas dapet gratisan, cuek sama makanan padahal udah capek-capek dimasakin deh.

Baca buku kayak komik Maliha Malika, saya seneng banget. Ringan ceritanya udah pasti. Gambarnya lucu, terasa hangat dilihat. Bagus nih, dibaca anak buat nambahin bekalnya dalma berperilaku. DIbaca orang dewasa kayak saya juga cocok, buat...ngaca?

Oiya, buku Maliha Malika ini bisa dibeli online di akun instagram @maliha.malika.

Untuk Pakoban, kamu bisa cek juga di IG @pasarkomikbdg. Tahun depan ada lagi, jangan dilewatin.


Masihkah Ada yang Membaca Blog?

July 25, 2019
Apa orang masih baca blog?

Saya masih. Media sosial dengan caption pendek-pendek nampaknya lebih disukai sih. Saya sendiri rajin menulis caption di IG dibanding menulis di blog. Haha.

Photo Courtesy  di sini
Pembaca blog Bandung Diary per hari 200 view. Kalo musim liburan bisa naik sampe 300. Berarti masih ada dong yang baca blog. Namun di satu sisi, saya akui saya gak sering nulis di blog lagi kayak dulu. Kenapa?

  1. Platform karakternya seolah-olah meminta saya nulis panjang. Padahal pendek juga gak masalah. Jadi kita udah mikir ribet duluan nulis juga belum. Iya kan? :D
  2. Lebih ribet dari medsos dan gak ada interaksi langsung dengan pembaca selain tombol share dan komen.
  3. Media sosial lebih seru sih hahaha

Lantas, saya membuat survey di stories IG. Pemicunya karena di Twitter, ada yang share 50 hal yang mati di era milenial. #MillenialsKillEverything cenah hesteknya. Di no 49 ada: blog.

Milenial membunuh blog, katanya. Hmmm... apa iya?

Survey saya dan jawaban netizen saya urai di sini ya.

Masih pada baca blog gak?
Baca : 64%
Enggak : 36%
124 voted

Gimana kalo format blog saya pindahin ke stories?
Pindahin : 38%
Gak perlu : 62%
84 voted

Saya bertanya kepada yang menjawab ENGGAK BACA BLOG, alasannya kenapa?

  • Terlalu panjang tulisannya
  • Baca kalo perlu aja, misal kalo mau traveling, browsing dulu cari rekomendasi tempat yang oke
  • Membosankan
  • Sulit cari waktu untuk baca, baca blog menyita waktu banyak
  • Enakan baca di stories IG
  • Seringnya baca IG
  • Loading blog lebih lama dibanding medsos
  • Kalah sama wattpadd
  • Susah nemu blog yang beneran 'unik' karena kebanyakan cuma iklan
  • Males baca blog di hp, enakan baca di PC/laptop, masalahnya lebih sering buka hp daripada laptop
  • Blog mah kebanyakan intro
  • Baca kalo suka topiknya aja

Kesimpulan saya nih, blog masih ada nyawanya. Masih panjang usianya. Dia bagian dari google dan tahu kan mesin pencari apa yang paling laku? Google dong. Kalo kamu search nih, browsing-browsing gitu, google akan merekomendasikan blog dulu ketimbang media sosial. Bener gak sih? Sotoy amat saya haha.

Blog organik memang ketimpa banyak sama web-web dengan teknik SEO canggih. Tulisan saya pun yang dua tahun lalu bertengger di google page 1, tenggelam jauh karena web-web travel seo. Gak apa-apa, namanya juga persaingan haha.

Saya sendiri masih membaca blog, dengan topik yang saya sukai aja. Atau saya suka branding orangnya sehingga apapun yang dia upload mau di mana pun dalma bentuk apapun, saya pasti klik.

Bila menulis untuk kepuasan diri sendiri tanpa repot mencari pembaca/klik, terus aja ngeblog. Namun sebaliknya, bisa mencari pembaca atau perhatian bahkan cari uang dari blog (selain iklan adsense) mau gak mau ikutan tren sih. Maka gunakan media sosial sebagai pelengkap. Ibaratnya mah tulangnya media sosial, dagingnya itu blog.

Saya rasa gak ada yang salah menjadi blogger yang idealis maupun blogger yang mencari uang dari kontennya.

Lantas, gak usah bingung mau mulai darimana bila ingin menulis di planet digital. Platformnya ada banyak. Tiap platform beda karakternya. Blog hanya salah satunya. Seenggak-enggaknya, yang bertahan sejak 1990 ya? Platform lain jatuh bangun dan tutup. Platform blog ada terus. Entah 3 tahun lagi, 5 tahun lagi, 7 tahun lagi. Haha. Mudah-mudahan mah ada terus.


Menyusuri Kauman dan Jajan Lumpia Gang Lombok

July 23, 2019
Abis jalan-jalan di Surabaya, ceritanya saya pengen ke Semarang. Mampir sebentar di kota lumpia itu. Barulah balik ke Bandung. Ternyata di Semarang gak bisa sehari saja. Sebab kota ini menarik banget!

Bila biasanya menumpang kereta api, kali ini saya menumpang bus. Bus Sugeng Rahayu Traveloka, pesan kursi eksekutif ongkosnya Rp100.000 saja. Bus Sugeng Rahayu ini udah pegangannya warga lokal Jawa lah.

Di Semarang kunjungan wajibnya ada beberapa tempat. Makanya gak cukup sehari doang. Extend lah dua hari. Hehe.

Siapin kaki yang kuat.
Siapin perut yang kosong.

Ke mana aja, ngapain aja?


1. Jelajah Kota Lama, Kauman, dan Pecinan

Wisata jalan kaki dulu. Enaknya jalan kaki, bisa lihat, lebih dekat lebih detail dan bisa pegang-pegang. Hehe.

Semarang nih bisa dibilang surganya bangunan klasik. Bandung ketinggalan jauh sih jumlah bangunan kunonya dibanding Semarang.

Tapi saya pikir perhatian pemerintah terhadap bangunan tua ya sama saja. Mau di Bandung atau Semarang, banyak cueknya 😂

Kecuali di pusatnya kota sih. Seenggaknya di jantung kotalah bangunan kategori cagar budaya (agak) diperhatikan oleh yang berkuasa.

Kota Lama pusatnya gedung-gedung kolonial. Sekarang kawasan ini sedang direstorasi. Lebih cakep. Lebih ramah pejalan kaki.

photo source: Traveloka

Pernah lihat bangunan klasik bertuliskan Spiegel wara-wiri di timeline instagram?

Spiegel adalah bangunan kolonial, satu dari banyak gedung klasik di Kota Lama. Dia sedang melejit popularitasnya. Mana ini gedung diisi kafe kopi pula. Segala-galanya instagenic di sini.

Lawang Sewu & Gereja Blenduk gak usah dijelasin lagi lah udah pada tahu semua kan. Hehe.

Dari Kota Lama, pindah ke Kauman.

Di Kauman masi ada peninggalan bangunan kolonial. Pabrik Hygeia salah satunya. Pabrik air minum pertama di Semarang.

Ada juga Pasar Johar. Dahulu ini pasar cakep banget. Indah dan megah. Sayang kondisinya sekarang berbeda jauh sejak bencana kebakaran tahun 2015.

Lantas, di sini kita telusuri rumah-rumah kuno di Kauman. Berjalan kaki saja keluar masuk gang. Mengamati rumah dengan dekorasi unik dan jendela berbuku-buku antik.

Kauman sendiri termasuk kawasan religi. Lokasinya tak pernah jauh dari masjid besar. Dalam hal ini Masjid Agung Kauman Semarang.

Udah capek jalan kakinya? Yok pindah ke kawasan Pecinan! Kalo di sini, banyak jajanannya. Nyam!

Pecinan semarang gak boleh dilewat. Eksotis abis! Klentengnya, rumah-rumah dengan arsitektur pecinannya, dan tentu saja menyusuri kios-kios kulinernya.

photo source: Traveloka

Klenteng Sam Poo Kong yang megah. Jejak Laksamama Cheng Ho ada di sini. Di dalamnya saja ada empat bangunan klenteng lainnya: Kelenteng Dewa Bumi, Kelenteng Juru Mudi, Kelenteng Sam Poo Tay Djien, dan Kelenteng Kyai Jangkar.

Sementara itu kelestarian rumah-rumah tionghoa Semarang emang tidak lebih baik dari kondisi serupa Bandung. Namun bisa menyaksikan meski sisanya saja masih menarik hati kok.


2. Lumpia Gang Lombok nan legendaris

Gak kehitung lagi teman yang rekomendasikan lumpia ini.

Ke Semarang, jajannya lumpia gang lombok! Harus ke sana lho. Lonely Planet aja rekomendasiin kuliner ini.

Gitu kata teman-teman.

Ini kios lumpia pertama di Semarang. Sudah lewat empat generasi, artinya si lumpia udah lebih dari seabad dong ya.

Di sini mereka menyediakan hanya lumpia ayam dan udang. Cuma dua doang tapi ramenya luar biasa. Legendaris! Saya aja ante sampe sejam. Capek emang. Tapi begitu makan lumpianya, alamaaaak nikmat parah!

photo source: Traveloka

Rasa rebungnya istimewa. Konon di situlah kunci kelezatannya. Saat lumpia disajikan, disertakan juga bawang daun, selada, dan cabe rawit. Rasa manis, gurih, sekaligus pedas bergemuruh nikmat di mulut.


3. Jajan di Pasar Semawis

Ini pasar kuliner yang adanya malam hari saja. Konon, kuliner Semarang tumplek tumblegh di sini. Pilih aja mau apa. Sebanyak apa.

Hanya saja bagi muslim harus tanya dulu nih sama yang jualnya. Halal atau engga. Beberapa menu di sini menggunakan bahan nonhalal.

Kuliner rekomendasi di Pasar Semawis nih: es hawa yang unik dan langka, jamu jun, es cong lik, dan tahu pong nasi ayam.

Menu makanan berat ada banyak. Kebanyakan ala makanan tionghoa. Kayak nasi goreng babat. Enak-enak semua sih di sini hahaha. Siapin aja perut yang kosong kalo ke Pasar Semawis.

photo source: Kompas
Jalan kaki udah, makan banyak udah. Foto-foto bejibun. Tinggal siapin diri buat pulang ke Bandung.

Kota lumpia memang berkesan.  Termasuk kota yang seru dan ga ada habisnya.

Sampai ketemu lagi, Semarang!

Stories dengan Ilustrasi, Terima Kasih Eri!

July 21, 2019
Bulan ini menyenangkan dan bersejarah buat Bandung Diary.

Saya pernah cerita kan ya tentang blog versi stories instagram. Ya, saya mindahin tulisan di blog ke stories IG @bandungdiary.

Udah ada 5 blog instagram stories yang saya highlight. Bisa cek ke highlight @bandungdiary. Nah di tulisan ke-6 saya gak ngerjain sendiri.

Ada Erri The Third (@errithethird) yang melengkapi tulisan saya dengan ilustrase ciamik. Terima kasih ajakan kolaborasinya, Eri! Saya gak pernah meragukan ilustrasinya, saya fans berat karya-karyanya Eri (hint: buku Salam Matahari, Sundea).


Karena ilustrasinya lah, versi baru blog IG stories saya lebih menarik. Jauuuuuhh sama sebelumnya yang garing.

Blog stories ke-6 ini judulnya Pusaka di Jayagiri.

Baca teks di stories jadi lebih menarik. Gak bosenin. Lucu. Keren. Whoaa gila si eri lah warna desain dia bagus banget. Eklektik gitu. Bener gak itu istilahnya? Haha. Tabrak-tabrak warnanya brilian!

Uwuwuw saya seneng! Terima kasih, Eri!

Oiya, Eri tinggal di Bintaro. Saya di Bandung. Kami tukeran ide dan menyamakan frekuensi via watsap aja.

Serunya nih, proyek yang kami pikir bakal berjalan sederhana dan cepat ini ternyata makan waktu lama hahaha. Saya pikir kirim tulisan ke eri udah beres. Begitu pun dia, kirim desain ke saya. Udah.

Gak gitu.

Bikin blog IG stories dengan ilustrasi gak semudah yang saya lakukan sebelumnya. Bolak-balik ngecek desain. Revisi. Mana yang dibenerin bukan cuma gambar tapi juga tulisan saya. Haha.

Seru!

Begitu udah siap tayang storiesnya nih, waduh perut saya tuh mulesnya luar biasa. Jantung kenceng degupnya.

Si Eri lebih aneh. Dia bilang semangat banget sampe penyakit herinya kambuh. Heri = heboh sendiri.

Hahahaha seru banget. Beginilah rasanya mengalami hal-hal untuk pertama kalinya. Kalo kalian masih mikir-mikir untuk melakukan sesuatu pertama kali nih, udah kerjain aja. Mana tahu gimana hasilnya kan. Mules mah mules deh. Hehe.

Kamis 18 Juli 2019 jam 6 pagi, storiesnya saya upload.

Deg-degannya hilang. Berganti rasa cemas.

Apa netizen akan menyukainya?
Banyak yang lihat gak?
Berapa angka Reachnya?

Saking cemasnya, saya sampe nanya ke diri sendiri. Buat siapa saya membuat ini semua, memuaskan diri sendiri atau menyenangkan orang lain?

Saat saya ngaca dan berkata, "ini mah proyek pribadi buat saya aja. Saya keluar zona nyaman dan saya menyukainya" nah rasa cemas itu hilang.

Senang melihat diri sendiri sampai di titik ini. Saya harap hal-hal kayak gini gak berhenti. Pasti gak akan terjadi tiap hari, saya menyadari itu. Sebab ini bukan pekerjaan utama saya.

Tapi kita kan gak pernah tau. Jalanin aja dulu seseru-serunya. Dari stories kemaren aja banyak catatan evaluasinya. Dipikir-pikir, untunglah kami menelurkan proyek kolaborasi ini meski masih banyak cacatnya. Hahaha. Jadi tahu kan salah-salahnya di mana.

Untuk kolaborasi kemaren dengan Eri, saya harus apresiasi karyanya dan karya saya sendiri. Selamat, Ulu. Selamat, Eri.

Juga, terima kasih banyak, Eri! Mudah-mudahan kolaborasi kita gak berhenti sampai di sini.

Terima kasih netizen yang baca storiesnya dari halaman pertama sampe tamat. Juga ikutan interaksi ngisi pooling dan kirim response. Wah saya senang sekali dan karenanya saya mules juga 😂😂



Tahu Gak Ada Banyak Hotel di Jalan Pangarang?

July 13, 2019
Jalan Pangarang adanya di belakang jalan Asia Afrika.

Ibaratnya mah Maliboro sebab kawasan Asia Afrika emang mirip-mirip Malioboro hitsnya, nah Jalan Pangarang ini adalah jalan dagennya.

Baru pertama kalinya saya masuk ke Jalan Pangarang. Ternyata banyak hotel di sana. Saya sendiri menginap di Reddoorz Near Asia Afrika. Nama hotelnya Hotel Mawar.




Menarik lho ternyata hotelnya. Saya kayak apa ya, gak nyangka juga sih ada hotel kayak gini di dalam sebuah jalan yang kebanyakan dari kita gak kenal namanya. Jalan Pangarang. Kalo saya banyak uang, mau juga sih bikin bisnis penginapan di jalan ini. Hehe.

Menariknya, hotel di sini murah-murah. Cocok buat backpacker. Juga bagi yang traveling dengan budget sedikit.

Ada satu hotel besar di sini. Ukuran bangunannya terbesar. Nama hotelnya Raffleshom. Saya cek di OTA, ratenya gak mahal-mahal amat. Masih di bawah 400ribu. Okelah kelihatannya ini hotel pas saya pandang dari luar.

Saya mah nginepnya di Hotel Mawar. Di sebelah hotel Raffleshom. Gimana hotel mawar nih, menarik gak?

Ya gitu aja kamarnya cocok buat tidur. Bukan staycation. Bukan tipe kamar yang istimewa. Apa karena saya bookingnya di kamar termurah ya wkwkwk gak tahu juga nih.

Tapi okelah semuanya gak ada komplen. Enak tidur, AC oke, dan pilihan channel televisi yang gak banyak tapi masih memuaskan anak saya. WIFI gak kenceng-kenceng amat tapi cukup buat cek stories di ig. Hehe.

Kalo gak salah, hotelnya terdiri dari tiga lantai. Semua kamar manghadap ke taman.

Ini hotel cukup impresif juga. Dari luar nampak hotel yang biasa saja. Masuk ke dalamnya, hmmm dia mencoba ngasih view yang enak buat tamunya. Ada taman. Dekorasi pagar kayu juga oke. Ada sedikit balkon yang muat untuk satu orang saja. Ditaronya meja kursi di situ. Cocok buat nunggu atau kalo sepi ya bisa nulis-nulis dan jadi puisi :D

Ada juga perpustakaan. Saya rasa ini bagian terbaiknya. Karena perpustakaannya ditempatkan di lantas bawah, semi outdoor, dengan sofa yang super lembar dan super empuk! Nikmatnya luar biasa pas duduk di sini. Angin semriwing, duduk terasa nyaman. Belum lagi pilihan buku dan majalahnya gak buruk-buruk amat. Ada komik Kungfu Boy juga. Majalahnya ada Tempo dan National Geographic. Juga ada novel-novel lama.


saya dan kubil nih

Sayangnya, tamu lain ikut nongkrong juga. Kan deket sofa ada kursi-kursi ala meja makan gitu.  Dan mereka merokok. Heuuuu bubar deh.

Terus di sini ada galon di tiap lantai. Lumayan bisa isi ulang kan gak usah beli-beli air putih lagi.

Keluar Jalan Pangarang, ketemu Jalan Dalem Kaum. Sebrang-sebrang aja nanti masuk ke jalan Asia Afrika deh. Udah gitu aja langsung masuk ke areal wisata. Ke Braga ya tinggi lurus saja dari Jalan Pangarang itu. Gampang lah.

Hotel Raffleshom stratanya tinggi.
Hotel Mawar strata keduanya.
Nah hotel-hotel lain ada yang lebih murah.
Tapi pas kamu browsing penginapan di sini, perhatiin juga review-reviewnya. Rekomendid gak. Hotelnya kayak gimana nih. Bahaya gak buat keluarga dengan anak (siapa tahu sih ada praktek plus-plus :D). Ya usahakan riset selalu lah. Gampang kan riset zaman sekarang mah.

Sejauh ini yang saya rekomendasikan Hotel Raffleshom dan Hotel Mawar. Keduanya pun berafiliasi dengan Reddoorz dan Airy. Sok aja dicek-cek.

Udah lama saya gak review penginapan ya hahaha gini nih pensiunan agen agoda emang :))))








Foto: Ulu

Nice Boys Don't Write Rock n Roll

July 12, 2019
Genre buku yang beda dari yang biasa saya share di instagram. Karena bukunya bahas musik. Dari Guns N' Roses sampai Iwan Fals.

Judulnya Nice Boys Don't Write Rock n Roll. Ditulis sama jurnalisnya Tirto. Nuran Wibisono namanya. Lumayan tebel juga. 450 halaman bahas musik. Terbitan indie. Dan ini yang saya beli cetakan keduanya. 



Ini jenis buku yang saya sukai meski kadangkala saya gak ngerti siapa yang dibahas. Tapi seneng aja bacanya. Terus biasanya saya browsing di youtube musisi yang disebut dalam bukunya.

Buku kayak gini tuh semacam rekomendasi musik. Tapi disertai cerita panjang. Menurut saya disitulah menariknya.

Kayak, sekarang saya tahu William Cohen yang watir pisan kisah cintanya dan kenapa lagu-lagunya gelap. Juga Quiet Riot dengan lagu Thunderbird.

Ini buku terbitan penerbit indie, cetakan ke-2. Halamannya banyak, ada 449 belum termasuk halaman indeks. Hebat bener penerbit indie sekarang berkibar! Sampe pada cetak berulang gini.  

Tulisan di buku ini terbagi dalam lima subjudul, saya baca semua tapi banyak yang saya gak ngertinya sih. Karena saya bukan penggemar band-band hair metal. Sementara di buku ini ada satu subjudul yang isinya bahas Guns N Roses semua.

Nah kalo subjudul Obituari dan Kematian adalah bagian ini saya paling suka.  Begitu juga dengan Musik Indonesia. Pas masuk Hair Metal, saya google dulu nama-nama yang ia bahas. Berulang kali jadi mikir, kenapa ya saya beli buku ini. Haha. Tapi kover bukunya bagus! Tema bukunya juga jarang banget kalo di Indonesia. Bisalah masuk kategori buku koleksi nih.

Walo saya gak bisa ngikutin sebagian isinya, tulisan Nuran bagus sekali: lucu, observatif, unik, penuh cinta (yang ini khusus buat Guns N' Roses). Kalo suka Axl Rose, cocok sama buku ini. Kamu baca & berdebatlah sama penulisnya. Khekhe.

Buku bagus, beli dan bacalah buat rekreasi pikiran.


Sore-sore di Istana Pakuwon

July 10, 2019
Gedung Pakuan maksudnya. Kalo bukan karena acara reuni SMA 3 Bandung, manalah mungkin saya bisa masuk ke areal rumah dinasnya gubernur Jawa Barat ini.

Bukan Ridwan Kamilnya yang mau saya temui. Tapi gedungnya yang klasik banget. Biasanya cuma bisa memandang dari luar pagar. Sekarang bisa masuk ke terasnya. Segitu juga udah lumayan. Khekhekhe.




Temen bilang sih di sini suka ada pengajian. Terbuka untuk umum atawa komunitas pengajian. Wah saya belum tertarik, karena kalo acara kayak gitu suka dipasang panggung dan dekorasi yang nutupin keindahan gedungnya :D

Nah pas banget nih si Indra reunian, saya ikut ngintilin. Lalu berfotolah sepuasnya di sana. Rupanya saya gak sendiri. Emang banyak yang mau foto-foto di sana hehe.

Gedung Pakuan usia bangunannya udah tuaaaa banget. Sejak tahun 1866. Dia bahkan udah ada sejak rel kereta api belum dibuat di Bandung. Oleh karenanya, ini gedung yang jadi saksi sejarah Bandung yang tadinya kampung pedalaman menjelma jadi kota metropolis.

Bergaya Indische Empire, gedungnya emang kelihatan 'menindas' banget. Mewah. Pilar-pilarnya besar ala kerajaan romawi. Gedung yang sama pernah saya lihat di Gedung Negara di Cirebon. ya mirip-mirip begitu. Halaman depan yang ekstra luas, teras yang lebar dan besar, kolom-kolom yang ala istana, dan pintu depan ada beberapa biji dan berbuku-buku.

Ini bangunan termewah pada zamannya kali ya.

Coba perhatiin kantor Polwiltabes Bandung, seberangnya Bank Indonesia itu lho di Jalan Jawa. Nah arsitek Gedung Pakuan dan Polwiltabes orang yang sama. Polwiltabes ini dulunya Sakola Raja. Sekolah buat kaum priyayi. Ndak heran gaya-gaya rancangannya mirip yhaaa.

Nama Pakuan sendiri diambil dari nama kerajaan sunda pajajaran di Bogor.





Dulu waktu wilayah di Hindia Belanda masih dibagi dengan nama karesidenan, nah inilah rumahnya residen Priangan. Status bangunannya sepenting itu. Ibukota Karesidenan Priangan tadinya di Cianjur sih, tapi emang mau dipindahin ke Bandung. Kenapa ya?

Berhubung Gunung Gede meletus, cepet-cepet lah dipindahinlah ke Bandungnya. Nah itulah mulainya titik mula Bandung dilirik sama orang Belanda jadi tempat yang 'boleh juga nih!'

Sebab setelah itu, Daendels yang memimpin Hindia Belanda dan mindahin pusat kota yang tadinya di selatan (Dayeuh Kolot) ke utara di kawasan Jalan Asia Afrika sekarang. Udah deh abis itu merem aja. Bandung melesat pertumbuhannya. Jalan pos dibangun. Jalur rel kereta api dibuka. Moncer pokoknya cuan-cuan lancar masuk keluar Bandung.

Gedung Pakuan ini pernah direstorasi satu kali. Biayanya banyak, hampir satu milyar. Begitu kata artikel-artikel yang saya baca online.

Sejarahnya panjang. Bukan cuma ini gedung jadi pemukiman gubernur, pernah juga bangunannya diinapi kontingen Konferensi Asia Afrika. Kelihatannya sih ya dulu zaman hotel belum banyak dan ada event-event sekelas dunia, Gedung Pakuan dimanfaatkan untuk menjamu tamu. Termasuk kalo ada artis-artis sekelas internasional pada datang ke Bandung. Kayak Raja Siam, Charlie Chaplin, Perdana Menteri Prancis di tahun 1921, dll, dst, dkk. Gitu cenah kata Wikipedia.

Walo gak bisa masuk ke dalam bangunan, bisa melihat lebih dekat kayak gini aja saya seneng sih. Ini lahan luas banget ya. RK cuma berempat kalo dengan istri anak. Lantas asistennya berapa. Ajudannya berapa. Sopirnya berapa. Wow...memang zaman dulu tuh pejabat diperlakukan bak raja. Tapi sekarang gak mungkin petantang-petenteng kayak dulu lagi sih kan zamannya udah beda :D

Atau masih?








Foto: Ulu