Image Slider

Menyusuri Kauman dan Jajan Lumpia Gang Lombok

July 23, 2019
Abis jalan-jalan di Surabaya, ceritanya saya pengen ke Semarang. Mampir sebentar di kota lumpia itu. Barulah balik ke Bandung. Ternyata di Semarang gak bisa sehari saja. Sebab kota ini menarik banget!

Bila biasanya menumpang kereta api, kali ini saya menumpang bus. Bus Sugeng Rahayu Traveloka, pesan kursi eksekutif ongkosnya Rp100.000 saja. Bus Sugeng Rahayu ini udah pegangannya warga lokal Jawa lah.

Di Semarang kunjungan wajibnya ada beberapa tempat. Makanya gak cukup sehari doang. Extend lah dua hari. Hehe.

Siapin kaki yang kuat.
Siapin perut yang kosong.

Ke mana aja, ngapain aja?


1. Jelajah Kota Lama, Kauman, dan Pecinan

Wisata jalan kaki dulu. Enaknya jalan kaki, bisa lihat, lebih dekat lebih detail dan bisa pegang-pegang. Hehe.

Semarang nih bisa dibilang surganya bangunan klasik. Bandung ketinggalan jauh sih jumlah bangunan kunonya dibanding Semarang.

Tapi saya pikir perhatian pemerintah terhadap bangunan tua ya sama saja. Mau di Bandung atau Semarang, banyak cueknya 😂

Kecuali di pusatnya kota sih. Seenggaknya di jantung kotalah bangunan kategori cagar budaya (agak) diperhatikan oleh yang berkuasa.

Kota Lama pusatnya gedung-gedung kolonial. Sekarang kawasan ini sedang direstorasi. Lebih cakep. Lebih ramah pejalan kaki.

photo source: Traveloka

Pernah lihat bangunan klasik bertuliskan Spiegel wara-wiri di timeline instagram?

Spiegel adalah bangunan kolonial, satu dari banyak gedung klasik di Kota Lama. Dia sedang melejit popularitasnya. Mana ini gedung diisi kafe kopi pula. Segala-galanya instagenic di sini.

Lawang Sewu & Gereja Blenduk gak usah dijelasin lagi lah udah pada tahu semua kan. Hehe.

Dari Kota Lama, pindah ke Kauman.

Di Kauman masi ada peninggalan bangunan kolonial. Pabrik Hygeia salah satunya. Pabrik air minum pertama di Semarang.

Ada juga Pasar Johar. Dahulu ini pasar cakep banget. Indah dan megah. Sayang kondisinya sekarang berbeda jauh sejak bencana kebakaran tahun 2015.

Lantas, di sini kita telusuri rumah-rumah kuno di Kauman. Berjalan kaki saja keluar masuk gang. Mengamati rumah dengan dekorasi unik dan jendela berbuku-buku antik.

Kauman sendiri termasuk kawasan religi. Lokasinya tak pernah jauh dari masjid besar. Dalam hal ini Masjid Agung Kauman Semarang.

Udah capek jalan kakinya? Yok pindah ke kawasan Pecinan! Kalo di sini, banyak jajanannya. Nyam!

Pecinan semarang gak boleh dilewat. Eksotis abis! Klentengnya, rumah-rumah dengan arsitektur pecinannya, dan tentu saja menyusuri kios-kios kulinernya.

photo source: Traveloka

Klenteng Sam Poo Kong yang megah. Jejak Laksamama Cheng Ho ada di sini. Di dalamnya saja ada empat bangunan klenteng lainnya: Kelenteng Dewa Bumi, Kelenteng Juru Mudi, Kelenteng Sam Poo Tay Djien, dan Kelenteng Kyai Jangkar.

Sementara itu kelestarian rumah-rumah tionghoa Semarang emang tidak lebih baik dari kondisi serupa Bandung. Namun bisa menyaksikan meski sisanya saja masih menarik hati kok.


2. Lumpia Gang Lombok nan legendaris

Gak kehitung lagi teman yang rekomendasikan lumpia ini.

Ke Semarang, jajannya lumpia gang lombok! Harus ke sana lho. Lonely Planet aja rekomendasiin kuliner ini.

Gitu kata teman-teman.

Ini kios lumpia pertama di Semarang. Sudah lewat empat generasi, artinya si lumpia udah lebih dari seabad dong ya.

Di sini mereka menyediakan hanya lumpia ayam dan udang. Cuma dua doang tapi ramenya luar biasa. Legendaris! Saya aja ante sampe sejam. Capek emang. Tapi begitu makan lumpianya, alamaaaak nikmat parah!

photo source: Traveloka

Rasa rebungnya istimewa. Konon di situlah kunci kelezatannya. Saat lumpia disajikan, disertakan juga bawang daun, selada, dan cabe rawit. Rasa manis, gurih, sekaligus pedas bergemuruh nikmat di mulut.


3. Jajan di Pasar Semawis

Ini pasar kuliner yang adanya malam hari saja. Konon, kuliner Semarang tumplek tumblegh di sini. Pilih aja mau apa. Sebanyak apa.

Hanya saja bagi muslim harus tanya dulu nih sama yang jualnya. Halal atau engga. Beberapa menu di sini menggunakan bahan nonhalal.

Kuliner rekomendasi di Pasar Semawis nih: es hawa yang unik dan langka, jamu jun, es cong lik, dan tahu pong nasi ayam.

Menu makanan berat ada banyak. Kebanyakan ala makanan tionghoa. Kayak nasi goreng babat. Enak-enak semua sih di sini hahaha. Siapin aja perut yang kosong kalo ke Pasar Semawis.

photo source: Kompas
Jalan kaki udah, makan banyak udah. Foto-foto bejibun. Tinggal siapin diri buat pulang ke Bandung.

Kota lumpia memang berkesan.  Termasuk kota yang seru dan ga ada habisnya.

Sampai ketemu lagi, Semarang!

Tahu Gak Ada Banyak Hotel di Jalan Pangarang?

July 13, 2019
Jalan Pangarang adanya di belakang jalan Asia Afrika.

Ibaratnya mah Maliboro sebab kawasan Asia Afrika emang mirip-mirip Malioboro hitsnya, nah Jalan Pangarang ini adalah jalan dagennya.

Baru pertama kalinya saya masuk ke Jalan Pangarang. Ternyata banyak hotel di sana. Saya sendiri menginap di Reddoorz Near Asia Afrika. Nama hotelnya Hotel Mawar.




Menarik lho ternyata hotelnya. Saya kayak apa ya, gak nyangka juga sih ada hotel kayak gini di dalam sebuah jalan yang kebanyakan dari kita gak kenal namanya. Jalan Pangarang. Kalo saya banyak uang, mau juga sih bikin bisnis penginapan di jalan ini. Hehe.

Menariknya, hotel di sini murah-murah. Cocok buat backpacker. Juga bagi yang traveling dengan budget sedikit.

Ada satu hotel besar di sini. Ukuran bangunannya terbesar. Nama hotelnya Raffleshom. Saya cek di OTA, ratenya gak mahal-mahal amat. Masih di bawah 400ribu. Okelah kelihatannya ini hotel pas saya pandang dari luar.

Saya mah nginepnya di Hotel Mawar. Di sebelah hotel Raffleshom. Gimana hotel mawar nih, menarik gak?

Ya gitu aja kamarnya cocok buat tidur. Bukan staycation. Bukan tipe kamar yang istimewa. Apa karena saya bookingnya di kamar termurah ya wkwkwk gak tahu juga nih.

Tapi okelah semuanya gak ada komplen. Enak tidur, AC oke, dan pilihan channel televisi yang gak banyak tapi masih memuaskan anak saya. WIFI gak kenceng-kenceng amat tapi cukup buat cek stories di ig. Hehe.

Kalo gak salah, hotelnya terdiri dari tiga lantai. Semua kamar manghadap ke taman.

Ini hotel cukup impresif juga. Dari luar nampak hotel yang biasa saja. Masuk ke dalamnya, hmmm dia mencoba ngasih view yang enak buat tamunya. Ada taman. Dekorasi pagar kayu juga oke. Ada sedikit balkon yang muat untuk satu orang saja. Ditaronya meja kursi di situ. Cocok buat nunggu atau kalo sepi ya bisa nulis-nulis dan jadi puisi :D

Ada juga perpustakaan. Saya rasa ini bagian terbaiknya. Karena perpustakaannya ditempatkan di lantas bawah, semi outdoor, dengan sofa yang super lembar dan super empuk! Nikmatnya luar biasa pas duduk di sini. Angin semriwing, duduk terasa nyaman. Belum lagi pilihan buku dan majalahnya gak buruk-buruk amat. Ada komik Kungfu Boy juga. Majalahnya ada Tempo dan National Geographic. Juga ada novel-novel lama.


saya dan kubil nih

Sayangnya, tamu lain ikut nongkrong juga. Kan deket sofa ada kursi-kursi ala meja makan gitu.  Dan mereka merokok. Heuuuu bubar deh.

Terus di sini ada galon di tiap lantai. Lumayan bisa isi ulang kan gak usah beli-beli air putih lagi.

Keluar Jalan Pangarang, ketemu Jalan Dalem Kaum. Sebrang-sebrang aja nanti masuk ke jalan Asia Afrika deh. Udah gitu aja langsung masuk ke areal wisata. Ke Braga ya tinggi lurus saja dari Jalan Pangarang itu. Gampang lah.

Hotel Raffleshom stratanya tinggi.
Hotel Mawar strata keduanya.
Nah hotel-hotel lain ada yang lebih murah.
Tapi pas kamu browsing penginapan di sini, perhatiin juga review-reviewnya. Rekomendid gak. Hotelnya kayak gimana nih. Bahaya gak buat keluarga dengan anak (siapa tahu sih ada praktek plus-plus :D). Ya usahakan riset selalu lah. Gampang kan riset zaman sekarang mah.

Sejauh ini yang saya rekomendasikan Hotel Raffleshom dan Hotel Mawar. Keduanya pun berafiliasi dengan Reddoorz dan Airy. Sok aja dicek-cek.

Udah lama saya gak review penginapan ya hahaha gini nih pensiunan agen agoda emang :))))








Foto: Ulu

Nice Boys Don't Write Rock n Roll

July 12, 2019
Genre buku yang beda dari yang biasa saya share di instagram. Karena bukunya bahas musik. Dari Guns N' Roses sampai Iwan Fals.

Judulnya Nice Boys Don't Write Rock n Roll. Ditulis sama jurnalisnya Tirto. Nuran Wibisono namanya. Lumayan tebel juga. 450 halaman bahas musik. Terbitan indie. Dan ini yang saya beli cetakan keduanya. 



Ini jenis buku yang saya sukai meski kadangkala saya gak ngerti siapa yang dibahas. Tapi seneng aja bacanya. Terus biasanya saya browsing di youtube musisi yang disebut dalam bukunya.

Buku kayak gini tuh semacam rekomendasi musik. Tapi disertai cerita panjang. Menurut saya disitulah menariknya.

Kayak, sekarang saya tahu William Cohen yang watir pisan kisah cintanya dan kenapa lagu-lagunya gelap. Juga Quiet Riot dengan lagu Thunderbird.

Ini buku terbitan penerbit indie, cetakan ke-2. Halamannya banyak, ada 449 belum termasuk halaman indeks. Hebat bener penerbit indie sekarang berkibar! Sampe pada cetak berulang gini.  

Tulisan di buku ini terbagi dalam lima subjudul, saya baca semua tapi banyak yang saya gak ngertinya sih. Karena saya bukan penggemar band-band hair metal. Sementara di buku ini ada satu subjudul yang isinya bahas Guns N Roses semua.

Nah kalo subjudul Obituari dan Kematian adalah bagian ini saya paling suka.  Begitu juga dengan Musik Indonesia. Pas masuk Hair Metal, saya google dulu nama-nama yang ia bahas. Berulang kali jadi mikir, kenapa ya saya beli buku ini. Haha. Tapi kover bukunya bagus! Tema bukunya juga jarang banget kalo di Indonesia. Bisalah masuk kategori buku koleksi nih.

Walo saya gak bisa ngikutin sebagian isinya, tulisan Nuran bagus sekali: lucu, observatif, unik, penuh cinta (yang ini khusus buat Guns N' Roses). Kalo suka Axl Rose, cocok sama buku ini. Kamu baca & berdebatlah sama penulisnya. Khekhe.

Buku bagus, beli dan bacalah buat rekreasi pikiran.


Sore-sore di Istana Pakuwon

July 10, 2019
Gedung Pakuan maksudnya. Kalo bukan karena acara reuni SMA 3 Bandung, manalah mungkin saya bisa masuk ke areal rumah dinasnya gubernur Jawa Barat ini.

Bukan Ridwan Kamilnya yang mau saya temui. Tapi gedungnya yang klasik banget. Biasanya cuma bisa memandang dari luar pagar. Sekarang bisa masuk ke terasnya. Segitu juga udah lumayan. Khekhekhe.




Temen bilang sih di sini suka ada pengajian. Terbuka untuk umum atawa komunitas pengajian. Wah saya belum tertarik, karena kalo acara kayak gitu suka dipasang panggung dan dekorasi yang nutupin keindahan gedungnya :D

Nah pas banget nih si Indra reunian, saya ikut ngintilin. Lalu berfotolah sepuasnya di sana. Rupanya saya gak sendiri. Emang banyak yang mau foto-foto di sana hehe.

Gedung Pakuan usia bangunannya udah tuaaaa banget. Sejak tahun 1866. Dia bahkan udah ada sejak rel kereta api belum dibuat di Bandung. Oleh karenanya, ini gedung yang jadi saksi sejarah Bandung yang tadinya kampung pedalaman menjelma jadi kota metropolis.

Bergaya Indische Empire, gedungnya emang kelihatan 'menindas' banget. Mewah. Pilar-pilarnya besar ala kerajaan romawi. Gedung yang sama pernah saya lihat di Gedung Negara di Cirebon. ya mirip-mirip begitu. Halaman depan yang ekstra luas, teras yang lebar dan besar, kolom-kolom yang ala istana, dan pintu depan ada beberapa biji dan berbuku-buku.

Ini bangunan termewah pada zamannya kali ya.

Coba perhatiin kantor Polwiltabes Bandung, seberangnya Bank Indonesia itu lho di Jalan Jawa. Nah arsitek Gedung Pakuan dan Polwiltabes orang yang sama. Polwiltabes ini dulunya Sakola Raja. Sekolah buat kaum priyayi. Ndak heran gaya-gaya rancangannya mirip yhaaa.

Nama Pakuan sendiri diambil dari nama kerajaan sunda pajajaran di Bogor.





Dulu waktu wilayah di Hindia Belanda masih dibagi dengan nama karesidenan, nah inilah rumahnya residen Priangan. Status bangunannya sepenting itu. Ibukota Karesidenan Priangan tadinya di Cianjur sih, tapi emang mau dipindahin ke Bandung. Kenapa ya?

Berhubung Gunung Gede meletus, cepet-cepet lah dipindahinlah ke Bandungnya. Nah itulah mulainya titik mula Bandung dilirik sama orang Belanda jadi tempat yang 'boleh juga nih!'

Sebab setelah itu, Daendels yang memimpin Hindia Belanda dan mindahin pusat kota yang tadinya di selatan (Dayeuh Kolot) ke utara di kawasan Jalan Asia Afrika sekarang. Udah deh abis itu merem aja. Bandung melesat pertumbuhannya. Jalan pos dibangun. Jalur rel kereta api dibuka. Moncer pokoknya cuan-cuan lancar masuk keluar Bandung.

Gedung Pakuan ini pernah direstorasi satu kali. Biayanya banyak, hampir satu milyar. Begitu kata artikel-artikel yang saya baca online.

Sejarahnya panjang. Bukan cuma ini gedung jadi pemukiman gubernur, pernah juga bangunannya diinapi kontingen Konferensi Asia Afrika. Kelihatannya sih ya dulu zaman hotel belum banyak dan ada event-event sekelas dunia, Gedung Pakuan dimanfaatkan untuk menjamu tamu. Termasuk kalo ada artis-artis sekelas internasional pada datang ke Bandung. Kayak Raja Siam, Charlie Chaplin, Perdana Menteri Prancis di tahun 1921, dll, dst, dkk. Gitu cenah kata Wikipedia.

Walo gak bisa masuk ke dalam bangunan, bisa melihat lebih dekat kayak gini aja saya seneng sih. Ini lahan luas banget ya. RK cuma berempat kalo dengan istri anak. Lantas asistennya berapa. Ajudannya berapa. Sopirnya berapa. Wow...memang zaman dulu tuh pejabat diperlakukan bak raja. Tapi sekarang gak mungkin petantang-petenteng kayak dulu lagi sih kan zamannya udah beda :D

Atau masih?








Foto: Ulu

Big Bad Wolf di Bandung dan Kesempatan Melihat Dunia

June 28, 2019
Karena udah banyak yang nulis tip ke Big Bad Wolf (BBW) di Bandung, saya mau nulis ini aja. Hasil pengamatan kemaren seharian di BBW.

Fyi, BBW sedang berlangsung saat ini. 28 Juni - 8 Juli 2019. Lokasinya di hotel Mason Pine, Kota Baru Parahyangan di Padalarang. Gak usah saya jelasin lah ya BBW apa. Saya asumsikan sudah pada tahu semua. 

Di BBW, saya merasa udik. Oh jadi gini perasaan orang-orang dengan akses tinggi ke buku-buku bagus. Bagus konten bukunya sih saya kurang tahu, saya gak banyak baca buku sample di sana. Tapi buku-buku yang bagus packagingnya itu bener sekali. Kualitas kertas, desain, kover, sampai tema buku. 


Gila. Gila. Gila. 

Memperhatikan itu semua, membuat saya merasa sangat terbelakang. Majapahit bila bangkit dari kubur dan datang ke BBW, ia akan menampar-nampar muka kita semua. "Sudah saya kasih pijakan peradaban yang agung, kalian robek-robek dengan perang dan kebodohan!" 

Hayam Wuruk lanjut berkata "harusnya peradaban kalian sudah bisa bikin buku-buku kayak di BBW itu wooooiii jiancuuukkkk!" 

LOL. 


pinjem foto ini dari akun resmi BBW di instagram

Banyak orang bilang dari acara ini kelihatan minat baca tinggi. Bagi saya, yang terlihat kemarin adalah acara yang segmented (ayolah ini pameran yg 90% bukunya berbahasa inggris). Minat baca tinggi, tapi ya kalangannya itu-itu aja kok. Namun di satu sisi, BBW juga ngasih kesempatan lebar-lebar bagi mereka yang privilage ke akses menjangkau bukunya kurang. Utamanya buku impor. 

Jadi gini. Kalo eksplorasi jarak traveling kamu seluas Ujung Berung ke Cimahi saja, pergilah ke BBW. Kalo kamu bahkan gak pernah ke Singapura dan menyusuri toko buku-toko buku di sana, jangan legeg bilang buku di BBW gak lebih menarik dari toko langganan kamu di Bandung. 

Ya kita punya Kineruku dan Periplus, ada Cikapundung dan Cihapit. Mereka bakal ada terus meski BBW udahan. Dengan demikian, mumpung BBW lagi ada di Bandung, datangilah. Toh ada toko-toko lokal itu pun, memangnya kapan terakhir kalian ke sana? :D 

Saya sendiri gak pernah lihat selebrasi buku sebesar itu di BBW. Perlukan selebrasi seperti itu? PERLU BANGET! 

Seru gak? Entahlah. Tapi menyusuri buku-buku yang kamu sukai ada di BBW dan kamu pikir kamu gak akan bisa baca bukunya tapi ternyata bisa, itu menyenangkan. 

Di BBW, gak belanja buku gak apa-apa. Bisa baca banyak sekali sampel buku. Buanyakkk sekali. Guru-guru di sekolah, luangkan waktu ajak anak didiknya ke sini. Dosen-dosen, boyong mahasiswanya ke sini. Ibu-ibu PKK dharmawanita, Pak RT & Pak RW, bikin program buat warga-warganya sehari berkunjung ke BBW.


Tanpa mengurangi respek keberadaan toko buku lokal, menurut saya BBW membawa cakrawala baru melihat dunia. Iya kamu bisa buka jendela dunia dari Gramedia. Namun di BBW, banyak buku yang gak ada di toko buku kebanyakan di Bandung. 

Mungkin bila berkunjung ke toko buku (impor) biasa (periplus, misalnya) kamu agak sungkan. Bisa jadi males. Atau emang gak tahu. Bisa juga buku samplenya gak ada jadi kamu gak bisa baca-baca dulu. Nah mumpung buku-buku sedang diselebrasikan sebegini besar, datang aja ke BBW.

Lokasi BBW Bandung emang jauh. Tapi banyak akses ke sana. Damri (kemarin saya naik bis ini). Kereta api lokal. Ojek online. 

Kalo sanggup jajan di kafe-kafe kopi, pasti sanggup pula menjangkau BBW di Kota Baru Parahyangan, yang kita tahu: jauh dari pusat kota. 


Gak usah diniatkan belanja buku kalo emang gak punya uang banyak. Jangan minder. Jangan takut kalap (OMG hentikan frase tersebut. Mau kalap pun kalap apanya kalo kamu cuma punya 200ribu dan harus bayar uang pangkal masuk sekolah anak?). 

Lebih penting lagi, jangan merasa gak terhubung karena di sini buku-bukunya berbahasa inggris. Kamu lihat bukunya dari kover saja, raba kertasnya, perhatikan ilustrasinya. Niscaya kamu bertanya-tanya mengapa jauh amat perbedaan industri buku di sini (negara kita) dan di sana (negara maju).  

Niatkan ke BBW buat lihat 'peradaban lain'. Kesempatan melihat dunia terbuka lebar. 24 jam. Gratis. Sampe 8 Juli 2019.


Waktu Sore-sore di TB Hendra Bandung

June 14, 2019
Indra yang keidean ajak kami ke TB Hendra. Siang itu kami nyantai banget. Mau tidur siang, takut gendut (LOL). Mau jalan-jalan ke mall, ngabisin uang. Tapi hasrat mau keluar rumah gitu. Ya sudah Indra bilang nongkrong di perpustakaan aja mau gak?

Perpustakaan bukan barang langka buat kami. Si Kubil emang doyan baca juga. Cuuuss ke TB Hendra.

Nyampe di sana, digembrong nyamuk! Hahaha. Lupa kalo di sini nyamuknya udah kayak mobil-mobil di Bandung: banyak.

Iya lupa, karena terakhir kami datengin TB Hendra itu sekitar...delapan tahun lalu? atau 10 tahun sudah? Heuuu...ini padahal sekota tapi gak pernah kami jenguk TB Hendra lagi. Tiba-tiba saya mengasihani diri sendiri...


TB Hendra adalah perpustakaan di jantung kota Bandung. Udah ada sejak 1967. Legendaris memang. Tanya aja temen-temen kamu yang bermukim di Bandung dan sekarang umur kepala 3 dan 4. Dahulu pernah berkunjung ke TB Hendra enggak. Pasti pada jawab pernah.

Ya hiburan apalagi buat anak kota zaman dulu. Main kelereng, bersepeda, main rumah-rumahan, dan baca buku. Hal-hal sederhana yang kini udah jarang.

TB Hendra menyewakan novel, komik, buku-buku berbagai genre. Ada 70ribu buku di sini. Baca di tempat bisa, bisa sewa bawa pulang.

Kubil sewa komik Kungfu Boy. Seribu doang baca di tempat. Saya baca Tintin. Indra ngecek email.

Ngomong-ngomong TB Hendra masih sama kayak dulu. Bila ada yang berubah, itu teras depannya yang jadi kafe mungil. Ada wifi. Ada kopi. Ada berbagai macam camilan. Ya bagian dari perubahan zaman.

Pertama kalinya nongolin muka di perpustakaan ini setelah sekian tahun, di perut saya kayak ada kupu-kupu. Begitu juga Indra. Di dalam perpusnya, waktu seperti berhenti. Saya harap, saat saya keluar dari toko tersebut, hari itu adalah tahun 1999. Tahun di mana badan saya setipis triplek dengan idealisme yang gemuk.

Tapi enggak. Keluar dari pintu perpusnya, masih tahun 2019 dan idealisme saya mengering.

Old and new di TB Hendra terbagi dalam dua ruang. Seperti ada dua zaman di sana. Di teras adalah masa kini. Di perpustakaannya merupakan masa lalu.

Yang tua pasti tahu apa. Buku-bukunya, raknya, perabotannya, pintu, gantungan tas, teralis jendela, kipas angin, sampai dengan jejeran kartu anggota perpus. Bapak penunggu perpusnya aki-aki. Seorang diri. Saat saya di sana, ia sedang menyapu. Lihat kami nepak-nepak udara, ia sigap mengamil Baygon. Terus semprot-semprot si nyamuk. Hehe.

Nah bagian yang muda, ketebak apalah. Terasnya. Di sinilah pembaca buku nongkrong. Waktu kami nongkrong di sana, bila pagi-siang kosong. Nah sore ke malam penuh mahasiswa/pelajar. Pada mangkal di sini juga, bawa laptop dan tablet. Wifi di kafenya kenceng :D

Kafenya bernama Ency Koffee.



Sayangnya banyak yang merokok. Kami gak suka asap rokok. Tapi di mana ada kopi dan wifi, di situ ada rokok. Hehe. Jadi pelajaran yang kami catat baik-baik dari kunjungan bulan April kemarin: nongkrongnya pagi aja.

Terus, wiraniaganya masi muda banget. Mahasiswa kayaknya. Bener-bener beda dengan perpusnya. Pas kami sedang baca, baik si bapak maupun si wiraniaga, keduanya nganggur. Sebab gak ada pengunjung lain. Melihat diam-diam, saya amati si bapak ambil kursi dan duduk dekat pintu. Ia membaca koran. Si wiraniaga juga duduk dan membuka laptopnya.

Btw, makanan di kafe ini enak-enak banget! begitu juga minumannya. Antara pemiliknya jago masak atau bahan bakunya bagus-bagus. Beneran di luar dugaan. Cuma roti gandum cokelat aja tapi nikmatnya eugh! Milkshake stroberi juga waduh segar dan mencerahkan. Hahaha beneran. Jadinya antara mau baca atau mau makan, fokus terbelah. Wk.

Berada di TB Hendra dan menyaksikan semua itu, saya berkata pada Indra. Kalo kita gak tinggal di kampung, sebaliknya malah pensiun di kota, kita bikin perpustakaan aja yuk. Dengan teras di depannya. Pasang wifi. Tapi harus ada larangan merokok.

Indra mengiyakan sambil tertawa. Saya juga.

Ini sungguhan. Kelak kami pensiun, pengen punya tempat kayak gini aja. Ketemu tamu-tamu penyewa buku. Terus ngobrol biar gak pikun. Dikelilingi buku. Mencium aroma kopi. Pasang  kipas angin yang banyak. Juga nanam bunga lavender supaya gak usah ngusir nyamuk pake baygon. Hehe.

TB Hendra
Jl Sabang 28 Cihapit Bandung

Perpustakaannya buka jam 10, tutup jam 19.
Kalo kafenya buka jam 10 sampai jam 22.

Bawa Autan dan datang jam 10 pagi, tip kalo mau nongkrong di TB Hendra. Oh iya, isi ovonya biar dapet diskon kalo jajan di kopisopnya.



Braga Travel Guide (ke mana aja, ngapain aja)

June 12, 2019
Jalan Braga ini pendek saja. Sekira 1 km panjangnya. Tapi sejarahnya kental sekali. Bila ditulis, panjang teksnya bisa lebih dari sekilo. Gak deng.

Cobacoba komen di bawah, kalo ke Braga pada ngapain aja?


Sebagai warga lokal, saya pengen ngasitahu kami ngapain aja di Braga. Apa sama dengan turis kebanyakan?

Beberapa kali saya baca artikel yang bilang Braga itu wisata mainstream. Benar sekali. Braga tuh udah kayak studio foto. Saya dan Indra sering lewat sana dan yang berfoto emang gak ada habisnya. Ada terus. Ya latarnya bagus sih, bangunan kolonial gitu. Walo banyak yang gak terawatnya, ironis juga.

Kira-kira nih, selain berfoto, di Braga enaknya ngapain aja?

1. Jajan Roti Granat di French Bakery

Roti yang unik. Gak ada di tempat lain sok cari aja. Rasa dan teksturnya bener-bener berbeda. Saya pernah panjang lebar nulis tentang Roti Granat. Baca di Tentang Roti Granat.

Kira-kira setahun lalu saya ke sana, untuk membeli Roti Granat harus memesan dulu di hari sebelumnya. Sekarang mah enggak. French Bakery punya stok Roti Granat siap beli. Horeee!

Terakhir saya beli harganya Rp20.000. Bila ke Bandung dan kamu ngotot pengen berburu hal-hal yang antimainstream, ya Roti Granat inilah jawabannya. Braganya mainstream, rotinya enggak :D

Lagipula kenapa sih emangnya sama yang mainstream haduh orang-orang ini ya pengennya jadi berbeda supaya apa aheuheueheu :D



2. Makan Suikerbol di Sumber Hidangan

Wah ini mah restoran legendaris. Udah terkenal pokoknya. Orang Bandung pasti tahu. Begitu juga turis-turis domestik. Semua menunya ala kolonial. Bangunannya pun apalagi. Udahlah ini restoran menang semuanya ahahaha.

Rekomendasi kalo ke Sumber Hidangan beli apa aja? Kalo saya mah ini nih:

  1. Suikerbol. Roti bulet bentuknya. Rasanya manis karena bertabur gula. Dan ada aroma kayu manisnya. Enak kalo anget-anget makannya. 
  2. Roti kadet dan es krim Noga. Rotinya polos gak ada rasa. Tapi empuuuk banget. Terus makannya dicocol ke es krim Noga. Noga ini menurut saya paling enak es krimnya, karena taburan kacang di atasnya sih. Kacang apa sih itu kok enak banget!
  3. Kaasstok. Roti panjang bentuknya. Isinya krim keju. Krimnya agak pahit. Namun entah kenapa enak banget. Terus kalo diperhatiin, krimnya selapis doang gak yang bergumpal-gumpal dan bikin mulut penuh krim. Ini mah tipis aja. Cocok banget kalo teman minumnya teh manis anget.
  4. Risoles kentang. Ini menu favorit keluarga kami. Tekstur kentangnya aduh gak ada tandingan. Lembut dan halus. Dan halal.
  5. Roti Soes bertabur gula putih. Aduuuhhhh nikmat parah ini rotinya! beli! beli! beli! 
  6. Krentenbrood juga enak (roti kismis)
  7. Roti manisnya juga adududu dibeli aja sok sekalian
  8. Cakenya pilih yang ada kacang. Saya lupa nama kuenya apa, pokoknya itu kue jadul banget. Kedoyanan ibu saya. 
Suikerbol

3. Makan-makan fancy perginya ke Braga Permai

Terakhir kali makan di sini, tahun 2009 ahahahaha udah lama banget. Waktu itu restorannya sedang menapak dunia baru. Mereka bikin promo makan siang. Harganya murah banget. 

Nah terhitung sejak tahun 2009-2010 itu restonya lepas landas alias rame bangeeeet! gak pernah lihat Braga Permai sepi kayak tahun-tahun sebelum 2009. 

Restoran legendaris ini menyajikan menu-menu kolonial. Ala western. Dari makanan berat sampai yang ringan buat camilan. Saya gak bisa review karena belum makan di sana lagi. 

Ya kalo uang gak jadi masalah buat kamu, mampir ke Braga Permai. Tanya aja yang bestseller di sana apa. Atau rikwes menu-menu legendarisnya.


4. Toko Kopi Djawa dan Cookiesnya yang Enyaaakkk!

Toko kopi yang kemunculannya menggebrak dunia wisata di Braga. Halah naon sih :D 

Emang toko kopi ini populer banget. Padahal baru nih tokonya. Entah karena instagramgenic atau karena tempatnya yang legendaris. Dulunya toko buku Djawa. Mereka gak ubah nama Djawanya. 

Di sini yang enak adalah cookiesnya! cobain beli.

Kalo kopinya saya gak bisa review karena saya bukan penikmat kopi. Adek-adek saya sih doyan banget nongkrong di Kopi Djawa ini. Katanya kopi awan apaaa gitu & enak. Pas saya coba mah ya kopi-kopi juga sih aheuheuheu gak bisa bedain. 

Tapi cookiesnya ya, beli! beli! beli! 



5. Menonton Pohon Tabebuya Bermekaran

Kalo lagi mekar daunnya, waduuhhhh cakep banget pemandangan Braga! Semarak bunga warna kuning. Waktu yang tepat buat berfoto sih. Atau sekedar duduk dan menikmati Braga.

Paling enak datang ke Braga kalo nonwiken. Pagi atau siang. Jajan dulu di tempat yang udah saya sebutin di atas, terus cari bangku taman yang kosong. Duduklah di sana. Nikmati suasana Braga yang rame. Hehehe. 

pepohonan Tabebuya yang belon mekar :D

6. Stilasi Bandung Lautan Api di Depan BJB


Ada satu tugu kecil, stilasi namanya. Letaknya di Jalan Braga. Di depan Bank Jabar.

Sebenernya stilasi ini kayak puzzle sih. Dia nyambung ke 9 stilasi lainnya di Bandung. Tapi ya layak untuk kamu lihat. Siapa tahu memicu rasa ingin tahu dan akhirnya menyusuri 9 stilasi lainnya. Hehehe. 

Stilasi ini bertutur tentang sejarah Bandung Lautan Api. Gedung Bank Jabar ini kan legendaris banget. Pernah ada kejadian penyobekan bendera Belanda di atapnya. Saya pernah tulis sejarah Bandung Lautan Api, klik linknya dan mangga dibaca :D

Nah itu deh kira-kira yang seru di Braga buat saya. Siapa tahu mau menambah memori perjalanan di Braga selain berfoto doang kan, boleh didatengin semua tempatnya tuh. 

Ada lagi sih Rumah Seni Ropih, tapi mereka jarang bikin pameran. Kalo sering mah bisa saya masukin di daftar tujuan di Braga. Dulu mereka bikin pameran judulnya Pameran Potret Keluarga Penghuni Lama

Anyway, selamat jalan-jalan di Braga! Ayo komen dan kasihtahu kesan teman-teman waktu nongkrong di Braga gimana nih. Hehe. 


Museum Konperensi Asia Afrika dan Bandung di Mata Dunia

June 11, 2019
Gak banyak museum gratis di Bandung. Tapi juga gak ada museum dengan tarif mahal di Bandung. Karenanya, kondisi museumnya begitu-begitu aja :D

Becanda. Museum yang gratis di Bandung malahan yang terbaik kondisinya sih menurut saya. Museum apa emang?

Museum Konperensi Asia Afrika.



Lokasi di Jalan Asia Afrika.
Buka Selasa - Minggu.
Tutup hari Senin.

Jam Buka Museum KAA


Selasa - kamis: 08.00 - 16.00
Jumat: 14.00 - 16.00
Sabtu Minggu: 09.00 - 16.00

Masuknya gratis. Pintu museum selalu tertutup. Tapi ada keterangan di depan pintu kalo museum emang buka. Tinggal dorong aja pintunya.



Di dalam museum, ada pemandu. Bila kamu datang sendiri atau jumlah sedikit (2-3 orang) jarang ditawari pemandu. Tapi kalo rombongan sih pasti ada pemandunya dan wajib konfirmasi sebelum kedatangan.

Bukan berarti sendirian gak bisa dipandu. Kalo ada petugas yang sedang nganggur, mereka bersedia mendampingi tamunya kok. Gratis? ya gratis. Tapi saya kurang tahu kalo ngasi tip apa diperbolehkan.

Btw, saya gah usah jelasin kan Museum Konperensi Asia Afrika isinya apa? Udah pada tau kali kan.

Gini deh. Museum KAA ini memajang koleksi sejarah dari peristiwa besar Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Satu tonggak penting negara ini. Sebab negara-negara Asia dan Afrika berkumpul di Bandung dan kompak melawan imperialisme, apartheid, dan perang dunia II.

Lokasi konferensi ini di Bandung, di Gedung Merdeka.

Gedung ini dahulu milik pemerintah kolonial. Cuma orang kolonial yang boleh masuk. Warga pribumi dilarang.

Oleh karena itu Soekarno milih Gedung Merdeka, sebagai perlambang imperialisme sudah musnah. Tak ada lagi penjajahan.

Pemilihan kota Bandung sebagai lokasi konferensinya juga subjektif sih. Karena Soekarno cinta sama Bandung. Kuliah di sini, jadi aktivis di sini, menulis di sini, dipenjara di sini. Juga jatuh cinta di Bandung.

"Kota yang menyenangkan hati," kata Soekarno ke Cindy Adams dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat.


Di dalam museumnya boleh foto-foto gak? 

Setahu saya boleh tapi gak boleh pake blitz. Sebab blitz merusak koleksi foto tua di sana.

Boleh megang koleksi museum gak? 

Sebagaian besar ditutup kaca sih koleksinya. Tapi ada juga yang enggak, ditaro di tempat yang gak kejangkau pengunjung.

Menarik gak museumnya buat anak-anak?

Kalo anak balita yang belum bisa baca sih enggak. Mereka akan anggap ruangan di museum sebagai playground aja. Buat lari-lari. Seperti anak saya. Ehehehe.

Tapi kalo anak kamu udah bisa baca, interaksi dengan museum bisa lebih seru. Bisa baca-baca caption poster. Bisa ngutak-ngatik komputer yang isinya lagu-lagu kemerdekaan bangsa-bangsa Asia Afrika. Anak saya gitu soalnya.

Buat orang dewasa menarik gak?

Menarik banget! Di museum ini kamu akan lihat betapa besarnya nama Indonesia dahulu! Kita dihormati banget lho sama negara-negara tetangga negara senasib, dan dipantau negara-negara maju yang soksok mau menguasai dunia. Hehehe.

Bayangin aja kita bisa memprakarsai pertemuan besar antar negara Asia Afrika. Di Indonesia. Di Bandung. Kita pernah sehebat itu dulu. Dan masih sampai sekarang (kelihatannya begitu setelah hasil pilpres kemaren sih :D).

Jadi nih wahai kampret dan cebong yang berisik dan fanatik, datanglah ke museum ini dan tobat kalian semua. Ngaca di museum KAA. Perhatiin kebesaran negara kita kayak gimana. Serap pesan-pesan Soekarno.

Nih coba hirup kutipan dari Jawaharlal Nehru.

"...and Bandung has been the focal centre perhaps I might ever say the capital of Asia and Africa during this period."

Gitu kata Nehru. Bayangkan negara lain serespek apa sama kita sampe diakui kayak gitu.



Satu lagi nih buat antek-antek khilafah sekalian yang melihat dunia dari warna hitam dan putih aja, coba disedot ucapan Sir John Kotelawala: "apapun agama yang kita anut, kita tidak bisa lain kecuali bersatu dalam masalah-masalah perdamaian..."

Gimana udah cukup kebuka hatinya buat tobat? Belum?

Coba disimak kalimat-kalimat yang datangnya dari U Nu: "Walaupun kita tidak mencapai keputusan-keputusan yang membuka zaman baru namun kenyataan bahwa kita dapat mengemukakan perbedaan-perbedaan kita secara bebas dan terbuka sudah merupakan hal yang berguna. Pertukaran pikiran semacam itu pasti akan menghasilkan pengertian yang lebih baik di antara kita. Dalam dunia yang penuh kesulitan ini, yang penuh prasangka, kecurigaan, dan salah paham, tercapainya pengertian yang sedikit lebih baik pun sudah dapat dianggap sebagai upaya ke arah kemantapan dan perdamaian."

OMG saya menyalin isi museum aja sekalian di sini ya hahahaha.

Gak lah. Saya cuma ngutip dikit. Kalian datengin museumnya. Kalo udah pernah, datang lagi. Perhatiin bener-bener maksud penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika buat apa. Sebab, 64 tahun sejak penyelenggaraannya, ternyata masih relevan dengan kehidupan yang kita jalani sekarang.

Btw sebenernya saya mau nulis edisi Museum Gratis di Kota Bandung. Kenapa jadi semangat nulis satu museum ini ya, padahal saya pernah nulis kok tentang Museum Konperensi Asia Afrika.

Museum yang pernah saya tulis juga reviewnya adalah Museum Kota Bandung. Sok dibaca klik linknya. Sementara itu, saya tulis dulu museum yang lainnya ya. Hehe.

Museum favorit kalian apa di Bandung coba ayo komen silakan :)




Foto : Ulu
teks : Ulu

Oeroeg Adalah Kita

June 10, 2019
Begitu bukunya saya tamatkan, saya merasa Oeroeg adalah kita. Ya kita semua yang tumbuh dimakan usia dengan otak berjejalan idealisme. Kita semua yang menonton ketidakadilan namun diam saja. Kita yang umurnya sudah dewasa ini dan menengok ke belakang dan berkata "dahulu hidup terasa enteng saja." Tunggu begitu masuk ke umur dewasa. Perubahan adalah satu-satunya kepastian dalam hidup ini. 

Oeroeg adalah novel yang terbit tahun 1948. Ditulis seorang Belanda, Hella S. Haasse. 

Novelnya mengisahkan persahabatan antara orang Belanda dan pribumi. Latarnya di Kebon Jati, Sukabumi. Tahunnya 1930-1940an. 



Tokoh utama tidak bernama. Disebut 'aku'. Sahabatnya bernama Oeroeg. Hubungan keduanya dimulai sejak masih bayi. Masih kanak-kanak. 

Periode perkawanan mereka dimulai pada umur 6 tahun. Berlanjut hingga usia mereka 17 tahun. Di umur-umur masanya pencarian jati diri itulah, Si Aku dan Oeroeg merenggang. Menemukan perbedaan. 

Si Aku berdiri di kutub kolonial. 
Oeroeg jadi pejuang. 

Novel ini menurut saya indah sekali cara bertuturnya. Tidak bertele-tele namun bila diperhatikan, kalimatnya panjang-panjang. Membacanya tidak membuat lelah sama sekali. Sebaliknya, tiap kata merangsang ingin tahu. Tiap kata mengandung emosi yang bertalian dengan saya.

Bagian yang saya suka ialah penggambaran Kebon Jati yang terasa begitu tenang, begitu damai. Desa yang permai. Air sungai mengalir bening. Desa tertutup hutan. Telaga dengan air hitam pekat dengan akar-akar tumbuhan di dalamnya yang menjerat.

Ada halaman yang saya bolak-balik bacanya. Bagian di mana Si Aku menyadari bahwa masa kecilnya berlalu, terlalu indah dan emosional. Seperti sedang mengucap selamat tinggal pada masa-masa terbaik dan ajaib. Saat kepiting dan capung yang beragam warnanya dan memikat, namun tak lagi menggelitik fantasi, saat itulah kita bukan lagi kanak-kanak. Begitu kata Si Aku.

Ada di halaman 82-84. Sok aja baca. 

Dunia ajaib tempat kami berperan sebagai pahlawan dan penjelajah telah lenyap. 
Gua-gua temaram tak lebih dari tempat berbayang di bawah dedaunan yang tergantung rendah di tepi sungai.
Daerah perburuan di dataran tinggi dan jeram yang tak bisa dilewati hanyalah sungai gunung sempit yang beriak melalui dasar kerikil dan bongkahan-bongkahan batu yang lebih besar. 

Bagian itulah yang saya baca dan memberi kesan paling menyesakkan. Saya juga pernah ada di sana, di masa kanak-kanak itu. Tapi saya gak pernah menyadari sedetail itu seperti yang tertulis dalam novel. Membacanya seperti habis dipalu godam kepala saya. 

Indah sekali. Tapi membuat mata saya berkaca-kaca. Juga tak bisa beralih dari bukunya. 

Lantas bagaimana nasib Si Aku dan Oeroeg?

Novelnya secara cantik menghubungkan Telaga Hideung di waktu mereka kanak-kanak dan pada usia mereka dewasa. Brilian dan dramatis sekaligus. Cakep sekali penulisnya naro plot cerita secara rapi dan tepat menusuk-nusuk sanubari pembaca. Heuu.

Baca bukunya. Novel Oeroeg ini memberi kesan dalam bagi saya. Melihat Oeroeg, saya menemukan diri saya padanya. Memperhatikan Si Aku, saya juga berasa ada cermin di sana.

Novelnya tipis saja, 144 halaman. Tapi isinya gemuk.


Udahlah Jajan ke Pasar Cihapit Saja...

June 08, 2019
Sebagai warga Setiabudi, saya mau bilang: kalau musim liburan tiba, jangan ke Lembang.

Juga, jangan ke Dago Giri.
Jangan ke Ciwidey.

Yha destinasi di sana bagus-bagus. Tapi emang mau macet-macetan? Tiap kali lihat kemacetan durjana saya sering bertanya dalam hati. Siapaaa yang mau macet-macetan kayak gituuuu?

Ada banyak ternyata.



Di tahun 2016, saya pernah kena macet yang jujur aja bikin trauma. Saya meluncur dari restoran ibu saya di Cikole Lembang. Di sana tuh bukan abis makan-makan. Tapi abis bantuin cuci piring yang nonstop nyucinya ahahaha teklok tangan dan pinggang saya, tapi karena ibu saya udah bertaruh nyawa untuk brojolin saya, maka sakit pinggang saya anggep aja gak ada. Whehehe.

Terus pas pulang, kena macet huhuhuh. Lupa banget kalo itu musim liburan. Lempeng aja bawa mobil. Taunya....9 jam dari Cikole ke Setiabudi. Tahu gak waktu tempuh normal berapa? satu jam juga enggak.

Satu jam kalo normal.
Sembilan jam di musim liburan.

Sinting.

Jadi, udahlah warga Bandung, kita jalan-jalan ke Lembang, Ciwidey, dan Dago Giri kalo turis-turis udah pada pulang. Biar aja kita piknik di kota deh. Cari taman-taman kota. Nongkrong di ITB. Telusuri jajanan pasar. Serbu kios baso dan mie ayam. Berkunjung ke rumah teman. Masak bareng di rumah siapa gitu.

Saya sendiri gak nyangka nyampe ke titik di mana bagi saya liburan adalah waktunya bersantai. Diam di rumah, bangun pagi tanpa berpikir pekerjaan udah sampe mana, tidur siang, tamatin 1-2 novel :D

Ya saya sadari keistimewaan saya dengan liburan bersantai ini. Sebab gak dikit orang-orang yang ingin menghibur anaknya, orang tuanya, kerabatnya dan membawanya ke tempat-tempat berlibur yang sering disebut di web-web wisata. Perlu perjuangan emang, mudah-mudahan jadi pahala ya. Pasti jadi pahala. Amin.

Dan iya, saya bersyukur untuk keistimewaan bersantai ini. Lain waktu mungkin saya kebagian harus ngangon keluarga. Sementara itu, saya kan kembali tidur siang dulu...


Playlist 17: Kala Senja dan Jackie Chan

June 07, 2019
Halo! Selamat lebaran 1 Syawal 1440 H. Mohon maaf ya bila kami pernah bikin salah dan gak menyadarinya. Juga atas kesalahan yang kami ingat kami pernah buat, kami minta maaf.

Lebaran tahun ini kami di Bandung aja. Gak ada cerita mudik kayak tahun-tahun sebelumnya. Yang mau saya mudiki udah wafat. Ayah, nenek. Tapi kerabat masih banyak di sana, di kampung halaman. Mudah-mudahan abis musim libur Lebaran ini kami bertandang ke Karangampel!

So, sebelum libur lebaran saya bikin playlist. Ada beberapa lagu tentang kesedihan, kematian, dan hal-hal yang berhubungan dengan itu. Ini bukan karena mood saya lagi buruk sih. Cuma saya abis baca buku aja dan di bukunya ada obituari musisi. Nah saya cari tuh musik yang penulisnya sebut. Pas didenger, wha iya ini enakeun lagunya :)


Dan bulan lalu saya nonton John Wick! Film yang saya tunggu-tunggu! Bah kenapa sih film lanjutan model gini mesti bertahun-tahun nunggunya wheeee! Terus saya kira yang ke-3 ini film terakhir John Wick. Ternyata masih ada dong yang ke-4 di Mei 2021 nanti. OMG! Seneng ya bikin-bikin orang nunggu...

Selesai nonton John Wick, saya dan Indra bicara tentang legacy film dan musik yang kami ingin turunkan ke anak kami. Dan saya menghitung: Harry Potter aja ada 7. Belon The Hobbit. Tambah trilogi LOTR. Terus Avengers ada 22 film ooohhhhhmmyyyygoooddd! Then belum selesai. Gimana dengan Godfather? terus ini John Wick.

Indra sih ambisius mengenalkan film-filmnya Jackie Chan dan Stephen Chow. Dan anak kami sudah menyukainya. Yhaaaa dia suka Jackie Chan!

Anyway. Kembali ke playlist. Saya masukin Eva Celia di playlist ke-17 ini. Wow musik dia bagus banget! Idk elaborasi musiknya kayak gimana. Saya ga bisa jelasinnya. Cuma musiknya enak didenger aja gitu berasa enteng, sejuk, calm, dan indah. Susah buat sing a long sih tapinya :D

Oh playlistnya ini:

1. John Mayer - Edge of Desire
2. Leo Kristi - Lewat Kiaracondong
3. The Doors - People Are Strange
4. The Adams - Timur
5. Quiet Riot - Thunderbird
6. Mondo Gascoro - Apatis
7. George Ezra - Hold My Girl
8. The 1975 - The Sincerity is Scary
9. Eva Celia - Kala Senja
10. Antique Gun Assembly - John Wick OST


Rekomendasi Libur Lebaran di Jawa Barat Untuk Keluarga

June 03, 2019

Libur lebaran telah tiba! Bagi yang mudik atau gak mudik, ini saatnya merancang liburan mau ngapain aja. Dan ini bagian serunya sih: makin jauh dari kota, pilihan aktivitas liburannya makin eksotis. Setuju gak? 

Nah Bandung Diary bekerja sama dengan Gurilaps. Kami menyusun destinasi yang kami rekomendasikan bagi teman-teman yang mudik lebaran di Bandung, Sukabumi, dan Pangandaran. 


Gurilaps adalah startup yang menyediakan paket wisata di Jawa Barat. Lengkap destinasinya: gunung, rimba, laut, pantai, sungai, gua. Reservasinya mudah, banyak pilihan paket wisatanya, dan harganya terbaik. 

Oke gak usah lama-lama. Here goes destinasi wisata Jabar yang kami rekomendasikan!


Wisata Edukasi 'Museum Perut Bumi' di Sukabumi

Meeting point: BAT CAVE (Buniayu Adventure & Training) Jl. Cipicung, Kertaangsana, Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat 43187 Indonesia
Lokasi: Gua Buni Ayu
Durasi: 3 jam


Pernah membayangkan museum bawah tanah? Yhaaa! museum yang satu ini beda banget dengan museum pada umumnya. Museum di Cipicung Cave Horizontal Buniayu ini rekomended banget buat dijadikan tujuan liburan. 

Sensasinya unik karena kamu akan berjalan di lorong gelap. Tenang, nanti disediakan senter kok. Penelusuran gua ini berlangsung satu jam. Radiusnya 200 meter. Meski gelap-gelapan, dengan bantuan senter kamu akan melihat stalaktit, stalagmit, dan ornamen alami lainnya yang terbentuk selama ribuan tahun. 


Wisata Petualangan Offroad dan Tubing di Pondok Halimun

Meeting Point: Boendoel Cafe & Resto depan RS. R Syamsudin SH Jl Rumah Sakit CIkole Kota Sukabumi Jawa Barat 43113 Indonesia
Lokasi: Pondok Halimun Camping Ground Selabintana
Durasi: 6 jam


Petualangan di sini adalah paket kombo bagi penyuka tantangan. Pertama, menumpang kendaraan four wheel drive sebab jalurnya offroad. Melalui desa dan perkebunan. Bayangkan pemandangan menawan yang ada di sana, kamu lihat sambil seru-seruan diaduk mobil jeep. 

Setelah itu kamu menyebrang sungai Cipelang yang airnya segar. Kamu gak akan nyebrang polos dibantu tali temali atau perahu. Tapi menggunakan ban dan seperangkat alat keselamatan. Seru abis! 


Mengintip Ikan di Laut Pangandaran

Meeting point: Pantai Timur Pangandaran Jawa Barat 463396, Indonesia
Lokasi: Pantai Timur Pangandaran
Durasi: 4 jam


Pernah mengintip ikan-ikan berenang di lautan? yhaaa, ini laut beneran bukan kolam atau garis pantai. Nah di Pantai Pasir Putih Timur Pangandaran, kamu bisa ikut kegiatan snorkeling. Bukan hanya dapat menyaksikan pemandangan laut yang memukau, snorkeling di sana juga bagian dari petualangan tersendiri. 

Beragam jenis ikan cantik dan terumbu karang bisa kamu lihat dari dekat. Ikan warna-warni berkeliaran bebas. Bila ingin berfoto di bawah air pun tentu saja bisa. Ingat-ingat tidak menyentuh terumbu karang yak. Lihat boleh, sentuh jangan. 


Mengambang Menikmati Green Canyon

Meeting point: Jl Raya Cijulang RT02/RW10 Kertayasa Cijulang Pangandaran Jawa Barat
Lokasi: Sungai Cijulang, Desa Kertayasa Kecamatan Cijulang, 28 km dari Pangandaran
Durasi: 4 jam


Bermain air, berenang, melintasi jeram, dan menyusuri arus sungai? Whaaaa pasti seru! Meski gak jago berenang, namun bila mengenakan perangkat keselamatan yang benar kamu masih bisa mengikuti kegiatan petualangan tersebut. 

Ayo ikutan body rafting di Sungai Cijulang. Sensasinya tak terlupakan. Di sana trek body rafting sepanjang 5 km dengan total perjalanan 2-3 jam. Bukan hanya menyusuri sungai langsung di sungainya, pemandangan Green Canyon yang akan kamu lalui juga luar biasa indah. 

Bukan hanya body rafting, di sini juga bisa bertualangan dengan perahu. 


Body Rafting di Citumang

Meeting point: parkiran Citumang
Lokasi: Citumang
Durasi: 4 jam


Nah di sini liburannya masih sama, masih main dengan air. Di sungai Citumang bisa lho body rafting. Total jaraknya 1 km aja. Ditempuh selama 1,5-2 jam. Arus sungainya tenang dengan tepian hutan jati. Nanti ketemu jeram juga yang beragam ketinggiannya. 

Selama menyusuri Citumang, jangan lupa beraksi loncat dengan berbagai gaya dari atas bebatuan. Dan nyebur lagi ke sungai. Byurrrr! Bayangkan semua stres ikut luntur saat kamu berteriak dan masuk air. Hehehe. 

Bila bertemu dengan tali tambang menjuntai diikat ke pohon, talinya jangan dibiarkan nganggur. Bergelantungan saja di sana seperti Tarzan. Berayun, terjun bebas, hempaskan diri ke sungai. Nikmatnya luar biasa! 

Body rafting di sini gak mesti sendirian, lebih rame lebih seru. Berenangnya bisa beriringan. Makanya ajak keluarga, teman-teman untuk liburan di Citumang. 


Santai Bareng Keluarga di Situ Cileunca

Meeting point: parkiran Situ Cileunca
Lokasi: Situ Cileunca Pangalengan Bandung
Durasi: 1 hari


Situ Cileunca berada 40 km dari batas kota Bandung. Tepatnya di Pangalengan, lokasi di kamu akan menemui udara dingin, perkebunan teh, dan sebuah danau buatan bernama Citu Cileunca. 

Nah di Situ Cileunca inilah kamu bisa liburan dengan cara berkemah dan berperahu keliling danau. Karena lokasinya yang jauh dari pusat kota, suasana di sini hening dan damai. Udaranya bersih. Di tengah pemandangan khidmat ini, kamu dan keluarga dapat merayakan kebersamaan dengan beragam kegiatan. 

Misalnya nih, bikin api unggun. Menyantap kudapan tradisional. Jalan-jalan keliling danau. Bila malam hari, langit cerah tak berawan adalah bonus. 


Rafting Dulu Baru Ngopi di Sungai Palayangan

Meeting point: parkiran Situ Cileunca
Lokasi: Situ Cileunca, Pangalengan Bandung
Durasi: 4 jam


Menikmati teh atau kopi panas setelah rafting itu rasanya tak terlupakan. Enaaaak banget! Jadi terbayang, sewaktu rafting melintas keindahan hutan pinus, perkebunan kopi dan teh, bisa jadi biji kopi dan pucuk daun teh asalnya dari sana. 

Rafting di sungai Palayangan sepanjang 5 km terasa seru. Airnya bersih dan jernih. Juga segar. Selama dua jam badan bertarung dengan jeram, namun mata dimanjakan oleh panorama alam. Jangan khawatir bagi yang pertama kali berarung jeram, jeram di Palayangan cocok bagi pemula. 


Libur Lebaran Seru Bersama Keluarga di Pangalengan

Meeting point: parkiran Situ Cileunca
Lokasi: Situ Cileunca
Durasi: 1 hari


Kemping dan rafting di Pangalengan adalah pengalaman tak terlupakan. Ajak keluarga berlibur di dataran tinggi Bandung tersebut. Sejenak lupakan stres akibat pekerjaan di kota. 

Di tempat yang indah ini, pikiran kembali jernih. Berkemah, api unggun, menyantap hidangan bersama-sama dengan keluarga. Diselimuti hawa sejuk pegunungan. 

Suasana terasa makin hangat bila acara api unggun dan makan-makan dilakukan selepas rafting di Palayangan. Terletak di ketinggian 1.550 mdpl, sungai Palayangan berada di Desa Wanasari Pangalengan Kabupaten Bandung. Kira-kira dua jam jarak tempuhnya dari Bandung. 

Libur Lebaran Hot Promo Potongan Harga dari Gurilaps

Bagi teman-teman yang mudik lebaran ke Bandung, Sukabumi, dan Pangandaran, dapatkan potongan harga untuk pembelian paket wisata di Gurilaps sampai 9 Juni 2019. 

Yok ayok beli sekarang paketnya dan nikmati paket wisatanya bersama keluarga dan teman-teman. 

Bagi kamu yang mudiknya ke daerah lain di Jawa Barat, cek ke Gurilaps untuk mendapatkan paket wisata Jabar dan promo-promonya. 

Selamat libur lebaran, salam hangat untuk keluarga dan teman-teman. 

Museum Gratis di Bandung

June 01, 2019
Museum gratis di Bandung ada sedikit. Tapi sebenernya sih museum yang ada tiket masuknya pun gak mahal-mahal amat. Gak nyampe 5ribu. Tapi ya kita bahas yang gratisan aja dulu nih.

Museum gratis di Bandung apa aja?

1. Museum Konperensi Asia Afrika

Wah siapa yang gak tahu museum ini. Museum sejuta amat ini mah. Lokasinya strategis. Dimasukin ke daftar kunjungan study tour. Ada di itinerary travel and tour. Udah kayak kunjungan wajib aja.

Tapi emang bagus sih museumnya. Keberadaannya juga amat sangat penting. Kalo dapat pemandu yang bagus, kamu bisa tahu peran Konferensi Asia Afrika dan Indonesia di mata dunia saat itu bagaimana.

Lebih banyak tentang Museum KAA ada di tulisan Bandung di Mata Dunia. 



2. Museum Kota Bandung

Museum setengah jadi sih ini. Belum selesai pembangunannya. Maksudnya, gedungnya sih udah siap. Tapi koleksinya yang belum. Entah tersendat masalah apa.

Kalo ke sana, kita bisa baca sejarah kota Bandung. Dari zaman dulu masih dusun sampai sekarang kota besar. Kita bisa lihat dan baca grafisnya aja berikut foto-foto. Tapi ya sudah itu aja. Ga ada koleksi 3D.

Saya semangat banget sih nunggu koleksi museum ini dilengkapin.

Meski museumnya masih kayak setengah-setengah, tapi mereka aktif menyelenggarakan kegiatan. Kayak pameran-pameran gitu. Juga diskusi. Cek aja ke akun IG @museumkotabandung. Lebih banyak tentang museum ini, baca di artikel Museum Sejarah Kota Bandung. 



3. Museum Pos Indonesia


Nah ini museumnya satu kompleks dengan Gedung Sate. Artinya, kamu bisa juga berkunjung ke Museum Gedung Sate. Tapi yang itu mah ada tiket masuknya. Murah kok lima ribu. Kalo Museum Pos ini gratis.

Sesuai namanya lah udah kebayang isi museumnya. Sejarah pos dan logistik di Indonesia ada di sini.

Buat orang yang pertama kali datang ke sini, seru sih. Baca-baca perjalanan pos di negara ini kayak gimana. Angkutan pos dulu apa. Perangko zaman dahulu gambarnya apa.

Tapi kalo udah sering ke museumnya mah agak bosen emang, kecuali kamu punya minat di bidang filateli misalnya.

Kalo kamu gak borangan (bukan penakut), gak masalah datang ke sini sendiri. Tapi kalo penakut, tempatnya agak-agak 'dingin' sih. Mungkin karena tempatnya di bawah tanah, mana bangunan kolonial pula kan.

Dan pemandunya gak selalu ada alias ya kamu sendiri aja yang ada di museum. Gak ada pendamping. Kecuali kalo rombongan sih kayaknya.

Museum Pos ini saya gak tayangin fotonya karena saya belum foto museumnya ahahahaha. Sering ke sana, tapi gak moto tuh kenapaaaaa! wekekekekek.


Udah deh kayaknya tiga museum kota Bandung itu aja yang gratis. Lainnya berbayar. Museum Mandala Wangsit sebenernya gratis sih. Tapi saya mah gak tega ke sana gak bayar. Pasti saya kasi tip ke pemandunya yang juga tentara. Jadi saya anggap aja berbayar :D aheuheuehu ini review museum apaan sih aheuheueheu.

Musim libur sekolah anak nih. Ayo ajak anak-anak ke museum. Pasti belum pernah kan semua museum di Bandung dijelajahi. Nah sekarang saatnya kita datangi museum-museum di Bandung!



Catatan Dari Soft Launching Kios Agro di Bandung

May 23, 2019
Karena latar belakang profesi utama saya adalah pengusaha di bidang perikanan, saya tertarik hadir pada peluncuran Kios Agro. Mengambil ceruk pasar produk agro (dan agri), Kios Agro ini perusahaan baru asal Bandung yang meramaikan industri marketplace di Indonesia.

Fyi, saya kasitahu dulu apa itu Kios Agro.



Dari namanya udah jelas apa sih Kios Agro. Satu hal yang gak kelihatan dari namanya, merek ini bekerja secara online. Kios Agro mempertemukan pembeli dan penjual di ruang digital. Di website www.kiosagro.com dan aplikasinya yang udah bisa diunduh di app store sekarang.

Kios Agro menyediakan produk-produk dari pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, kelautan, hasi olahan, hingga pakan, dan pupuk. Lengkap jenisnya kalo di untuk produk agro dan agri, meski belum semuanya terpajang di appnya.

Sebagai nilai tambah, Kios Agro mengedepankan produk-produk UMKM. Sebuah misi yang patut diacungi jempol saya kira.

Ibu-ibu yang butuh sayur, masuk aja ke app Kios Agro.
Pakbapak yang mau beli beras, tinggal transaksi di Kios Agro.
Akang dan Teteh yang mau jajan camilan produk berbasis bahan pangan lokal, nah browsing aja di Kios Agro.

Soft Launching Kios Agro diberi tajuk 'Agroners Berdigital di Era Milenial'. Fyi, 'agroners' sepertinya merujuk pada istilah pengguna Kios Agro.

Oya, dalam peluncurannya hadir para petinggi Kios Agro. Juga rekan pendamping UMKM dan akademisi di bidang pertanian.

Saya pikir ada dua hal yang menarik untuk disimak pada peluncuran Kios Agro ini.



Pertama, paparan CEO Kios Agro Hadiyan Nursofyan.
Kedua, tentu saja penawaran sistem dagang bagi penjual.

Berkali-kali, CEO Kios Agro mengatakan bahwa marketplace ini dibuat sebagai jembatan antara petani dan pembeli. Sehingga porsi tengkulak bisa diputus. Harga yang sampai ke konsumen murah, petani pun bisa dapat profit lebih banyak.

Saya menyetujuinya. Namun di satu sisi juga pernyataan tersebut terlampau naif. Saya rasa cita-cita kita semua adalah ikut mensejahterakan petani. Lagu lama banget emang petani cuma kebagian porsi kecil dari rantai ekosistem perdagangan.

Tengkulak ada karena akses perputaran dana yang petani gak punya. Isu petani miskin munculnya bukan dari profit mereka sedikit. Tapi sejak dari mereka pake uangnya dan menanam bibit.

Lebih banyak bisnis kayak Kios Agro lebih bagus. Namun yang mesti diingat juga, kita masih kekurangan industri penampungan dan pengolahan. Koperasi apalagi tuh. Sebab petani mah kalo abis panen gak mungkin cuma jual sekilo atau 20 kilo, mainnya udah kwintalan, ton-tonan. Koperasi ada sebagai pagar betis bagi petani yang butuh modal untuk menanam bibitnya.

Perbanyak gudang penampungan, bayar petani di depan. Tambah industri pengolahan. Permudah  peminjaman akses dana. Gitu kira-kira kalo mau meringankan beban stres petani.

Kios Agro meringankan kerja petani gak? Iya, dalam skala yang masih amat sangat kecil menurut saya mah.

Atau gimana kalo Kios Agro bikin sistem Open Order untuk tiap produk holtikultura dan perikanan? Kumpulin pesanan dan distribusikan. Kalo open PO bisa terkumpul banyak kali ya volume komoditinya.

Kios Agro cita-citanya udah bagus, Ada lebih banyak yang kayak Kios Agro lebih bagus lagi. Tapi berjualan langsung ke pembeli bukan satu-satunya jalan memberi kemudahan bagi petani. Sebab drama petani-petani ini panjang emang :D

Namun saat Hadiyan bilang akan terjun juga ke B2B juga (business to business), nah barulah saya melihat agak ada cahaya terang di sana :)

Kalo buat produk siap makan, marketplace kayak Kios Agro udah bagus banget. Nah kalo buat komoditi pangan cepat basi, rantai perjuangannya masih panjang kayaknya heuheu.


Kalo tentang sistem berjualan dan berbelanja di Kios Agro, begini kira-kira:

Penjual di Kios Agro
Sistem 'sewa kios' di sini ada kategorinya. Ada free, bronze, diamond, dan seterusnya.

Nah kategori 'free' nih misalnya, penjual dapat memajang foto produk sebanyak tiga buah selama satu bulan. Setelah itu fotonya dihapus dan kita harus sign up ulang dengan email baru.

Bila fotonya ingin tayang terus, panjat ketegori berikutnya yang sudah berbayar. Begitu saja sistemnya. Harus dicermati tiap kategori berapa biayanya dan apa benefitnya.

Pembeli di Kios Agro
Kemarin saya coba-coba pake appnya dan beli produk di sana. Tidak sulit, prosesnya sama dengan toko online dan marketplace kebanyakan.

Kalo kamu pernah belanja online di marketplace, nah begitulah step-step di Kios Agro. Sama aja kok.

Namun berikut ini usul saya sebagai pedagang sekaligus pembeli setelah mencoba app Kios Agro:
  1. Kategori free, bronze, diamond sebaiknya tidak perlu ada. Langsung aja potong konsinyasi. Ringkas, tidak menyulitkan, dan lebih efektif. 
  2. Sementara bagi pembeli, loading aplikasinya lama. Directorynya memudahkan. Namun PR bagi tim IT di Kios Agro masih banyak. Loadingnya itu lho, terlalu lama. 
  3. No rekening masih satu dan yang ini mah pasti akan bertambah jumlah pilihan no rekeningnya. Tinggal nunggu waktu mungkin. 
  4. Kerja sama dengan ekspedisinya menarik. Banyak pilihan. Kalo untuk kirim produk segar, mentah dan beku di Bandung rasanya gak ada masalah. Dengan Gosend bisa dikirim. Namun bila harus kirim ke luar Bandung untuk produk segar, nah baru muncul masalahnya. 
  5. Gimana kalo bikin Kios Agro versi darat? alias flagship store. Dimulai dari Bandung dulu.
  6. Sewa jasa digital content & concept strategist. Menurut saya mah konten web/appnya terlalu 'dagang online'. Buat orang milenial yang akses informasinya luas dan sadar punya pilihan banyak, pendekatan kontennya juga harus personal. Mengedepankan nilai sebelum hard selling. Ini kebayang gak sih maksud saya gimana aheuheueheu :D 
Meski yang terpajang produknya belum banyak, tapi varian produk di Kios Agro bagus-bagus. Masih jadi PR besar buat tim marketing dan pengembangan produknya untuk menyebarluaskan aplikasi Kios Agro sehingga banyak pelaku pertanian dan UMKM mau naro barangnya di Kios Agro.

Nah teman-teman yang ingin lihat penampakan Kios Agro dan mencoba belanja di sana, dicoba aja download dan install appnya. Gratis!