Terpukau dan Terpukul di Masjid Sang Saka Ratu di Cirebon

May 05, 2020
Berada di Masjid Kaliwulu, rasa gak nyaman yang saya rasakan muncul karena hawa gaib. Di Masjid Sang Saka Ratu, perasaan terganggu adanya karena ulah manusia.

Oya, karantina covid-19 membuatku menulis catatan lama ini. Penelusuran saya akan masjid-masjid kuno di Cirebon ini udah lama berlalu. Beberapa masjid udah saya tulis di blog. Nah sekarang saya tulis satu masjid populer di kalangan peziarah, yaitu Sang Saka Ratu.

Masjid Sang Saka Ratu adalah nama resmi yang tercantum di artikel dan buku-buku sejarah. Nama lain masjidnya ada dua:
Masjid Dog Jumeneng
Masjid Syekh Syarif Hidayatullah

Akan tetapi nih, waktu saya bertanya ke warga lokal di pinggir jalan lokasi masjidnya, mereka gak familiar dengan nama-nama tersebut.

Begitu kutanya "di manakah Masjid Gunung Jati?" barulah mereka jawab. Sementara itu, di tulisan ini, saya menyebut masijdnya dengan nama Dog Jumeneng saja ya. 

Ngomong-ngomong, Sang Saka Ratu artinya apa ya, di buku yang kubaca gak ada penjelasannya. 


Tiap masjid kuno di Cirebon menguarkan rasa kagumku yang levelnya beda-beda. Maksudku, harusnya saya bisa lempeng aja dan biasa aja melihat masjidnya. Tapi gak tahu kenapa nih, begitu masuk masjid-masjid kuno ini, whoaaaa rasa kagum, respek, bangga, sekaligus bete tumplek tumbleugh.

Akan tetapi, di Masjid Jumeneng ini, rasa betenya terlampau banyak. Mengapa? Saya ceritakan nanti di bagian akhir tulisan. Saya ceritakan dulu tentang masjid berusia 5,5 abad ini ya.

Terpukau Bangunan Masjid Dog Jumeneng

Masjid Jumeneng berlokasi di lereng bukit. Karena itu kontur masjidnya unik: dibangun berjenjang. Didirikan tahun 1452 M, mulanya area ini adalah taman. Setelah Pangeran Cakrabuana wafat, barulah areanya berubah jadi makam. Beliau dan Sunan Gunung Jati, dimakamkan di sana.

Ohiya, Pangeran Cakrabuana adalah orang yang mendirikan Cirebon. Ia putra Prabu Siliwangi. Ya betul, darah kerajaan Pajajaran mengalir di tubuhnya. Gak heran Cirebon ini setengah sunda, setengah jawa. Atau tepatnya bukan sunda dan bukan jawa ya. Heuu.

Berada di satu kompleks yang sama dengan makam Sunan Gunung Jati dan makam keluarga keraton, lumrah sekali ini masjid ramai pengunjung. Peziarah, tepatnya. Kompleksnya berada di Gunung Sembung, Cirebon. 

Sewaktu saya dan Indra berkunjung ke kompleks Gunung Jati, ramainya bukan main. Gak sengaja ke sana pas kliwonan. Baru nyadar hari itu menjelang kliwon setelah berada di masjidnya :D

Mencapai masjidnya gak perlu menanjak. Hanya melewati jalan setapak, gang kecil di antara rumah warga. Begitu masuk ke dalam masjidnya, barulah terlihat konturnya yang berjenjang.

Sejujurnya saya gak tahu bangunan asli masjidnya yang mana.

Setelah berada di dalam masjidnya barulah kelihatan ada empat jenjang serambi masjid. Jenjang paling atas, kita sebut saja serambi 1.

Gak ada pembatas antar jenjang serambi kecuali di serambi paling bawah. Di serambi ke-3 dan ke-4 ada pembatas tembok setinggi satu meter. Tiap jenjang serambinya dihubungkan dengan tangga yang berada tegak lurus dengan pintu masuk masjid.

Apakah bangunan asli masjidnya adalah serambi paling atas itu? Bisa jadi.

Tiap serambi menjadi ruang sholat. Ruang utama sholat untuk laki-laki adalah di tiga serambi teratas. Ruang paling sakral ada di serambi teratas. Mimbar kuno pun diletakkan di sana. Atapnya berbentuk tajug tumpang dua. Atap serambi ini ditopang 16 tiang kayu. 16 tiang ini terdiri dari 6 sakaguru dan 12 sakarawa. Tiap tiang diameternya kira-kira 30 cm.

*Sakaguru: tiang peyangga struktur banguna utama. Sakarawa: tiang penyangga struktur bangunan tepi atap.
*Atap tajug: atap bentuk limas, dasarnya persegi dengan satu puncak di tengah.

Gimana cerita saya gak bisa sholat di serambi paling atas tapi saya tahu serinci itu? baca di buku Masjid Kuno di Cirebon tulisan Bambang Setia Budi. Indra juga ikut ngasihtahu, dia sholat di serambi utama, yang paling atas itu. Sungguh dia beruntung! Serambi atas dibuka hanya di hari Jumat saja. Seingatku, kami ke sana hari kamis ashar. Tapi Indra bilang itu hari jumat.

Untuk perempuan ruang sholatnya ada di serambinya di paling bawah. Gak perlu naik-naik tangga. Ini membuatku gak bisa melihat serambi yang tertutup tembok pembatas. Namun kulihat serambi ini ada sayapnya di sisi kiri. Kulihat ada tangga kecil menuju serambi atasnya. Kupikir hanya ada satu tangga, ternyata ada yang lainnya.

Kekagumanku pada masjid ini ada pada dekorasi dinding dan pintu. Banyak sekali dekorasi kelopak bunga yang tertanam di dinding. Formasi kelopaknya 4-8. Pintunya pun tidak biasa. Eksotik dekorasinya. Terutama, pintu masuk ke teras masjid.





Gak ketinggalan ornamen piring-piring cantik nan antik yang dinding khas bangunan kolosal di Cirebon. Ada buanyak sekali! Masjid ini kalo diperhatikan mewah juga dekorasinya.

Sayangnya lantai masjid berupa keramik putih biasa. Begitu juga atapnya. Kayaknya maklum juga karena serambi-serambi lain selain yang paling atas kelihatannya bangunan tambahan. Entah ini masjid diperluas tahun berapa.

Di teras masjid ada bedug tua, asalnya dari abad 16. Saya juga menengok koleksi mushaf Al Quran yang ditulis tangan yang tersimpan di lemari kaca. Konon usianya ratusan tahun.

Sama dengan situs sakral religius lainnya di Indonesia, di sini juga ada sumur keramat. Saya hanya melihat satu sumur saja. Total ada empat sumur keramat di kompleks ini.

pintu ini maksudku yang cakep banget.
tambahan atap seng itu ganggu pemandangan masjid, tapi butuh untuk menghalau air hujan dan panas, mungkin

Pengalaman Bete di Masjid Dog Jumeneng

Ongkos parkir Rp10.000. Tak apa. Oke. Masih wajar. Saat kami berjalan menuju masjid, ada pos tiket dijaga dua petugas. Bentuk posnya kasual banget. Kotak terbuat dari kaca (plastik? berbentuk persegi), kayak kotak sumbangan. Kami diminta Rp5.000/orang. Gak apa-apa. Kupikir itu tiket masuknya, mungkin bagiku kesan tiket box-nya terlalu informal untuk situs ziarah sepenting dan sekolosal itu sih.

Masjidnya berada di tengah pemukiman padat. Menuju ke pintu masjidnya saja, kamu harus jalan berbelok-belok menelusuri gang. Melewati rumah penduduk, warung-warung kelontong, dan...barisan pengemis.

Ya betul. Barisan pengemis duduk di tepi jalan gang ini yang membuatku terganggu. Bukan saya gak nyumbang. Atau saya risih kehadiran mereka. Akan tetapi, pemandangan pengemis duduk bersila rapi dan tiap pengemis itu naro baskom kecil buat nampung uang sumbangan, itu...maksudku, itu pemandangan macam apa...

Kuhitung mereka. Satu..dua...lima..tujuh..sepuluh.., berbelok jalan lho masih ada pengemisnya. Empat belas...tujuh belas...

Dua puluh? tidak, angkanya masih banyak.
Tiga puluh pengemis? ah jantung saya menyusut memikirkan betapa menyedihkannya situasi ini.
Empat puluh? hampir.

EMPAT PULUH ENAM ORANG DUDUK BERSILA NUNGGU SUMBANGAN alias ngemis.

Saat kuceritakan ini pada seorang teman, ia tertawa. Apakah aku membayar mereka sekaligus dengan uang lima puluh ribuan dan kembaliannya Rp4000?

Bah! Saya menghitungnya, beneran heuheueheu. Belum pernah kulihat pemandangan pengemis dengan formasi yang koordinatif begitu.

Kamu tahu apa yang paling ironis dari itu semua? Saat kubaca pengumuman donasi masjid di papan pengumuman. Jumlahnya mencapai angka...TIGA RATUS JUTA.

Dikemanakan tiga ratus juta, mengapa harus ada pengemis sebegitu banyak dan terkoordinir begitu rapi. Mengapa mereka harus jadi bagian dari sistem wisata ziarah yang justru melimpah ruah donasi dari umatnya ini.

Pemandangan tersebut hanya terjadi saat kliwonan atau tiap hari? begitu tanyaku dalam hati. Kacau sekali.

Saat berjalan melewati 46 pengemis itu, perasaan gak nyaman mulai memuncak. Inginnya bergegas kembali ke parkiran. Lalu pergi.

Kami membawa kamera DSLR, tapi kamera itu diam saja dalam tas. Melihat kondisi begitu, kurasa paling bijak memang gak ngeluarin kamera model serius. Petugas patroli di mana-mana. Ratusan (atau ribuan tepatnya) orang berjejalan di semua sudut kompleks situs. Bahkan saya moto dengan kamera hp saja diperhatikan petugas terus. Melihat orang memotret tembok, pintu, jendela, dan motif-motif di dinding bagi mereka terasa aneh dan mencurigakan. Entahlah. Waktu itu pikiranku terlalu buram untuk berpikir yang bagus-bagus.

Terlintas sih keinginan untuk kembali ke situs Gunung Jati ini di hari biasa, bukan kliwon. Namun, sepulang dari masjidnya rasanya saya gak mau balik lagi ke situs tersebut.

Di parkiran saat kami bersiap pulang, mesin mobil baru menyala dan kami didekati banyak ibu-ibu berperawakan sehat. Kalung di leher. Anting-antingnya menggantung di kedua telinganya. Entah emas betulan atau bohongan. Mereka meminta-minta. Anak-anak seliweran menadahkan tangan meniru orang dewasa di sekitarnya. Pada ngapain? Mengemis juga.

Lalu seorang mas-mas bertubuh tegap mengetok jendela mobil kami. Tahu ia minta apa? uang parkir. Indra protes dan menjelaskan kami sudah bayar parkir blablablabla. Kukasih saja uang parkir lima ribu padanya. Abis dia udah melotot dan nyolot. Sudahlah, berdamai dengan situasi saja. Kami cuma orang asing di sana.

Sungguh mengenaskan hal-hal yang gak islami terjadi justru di situs yang seharusnya paling islami. Kupikir agama islam memang mayoritas penganutnya di negara ini, namun bepergian ke tempat-tempat semacam Masjid Dog Jumeneng maupun sholat di masjid dekat rumahku memperlihatkan kalau penganut agama mayoritas ini hanya menjalankan ritual. Agama sekadar pakaian yang menempel di badan.

Terlepas dari pengalaman tersebut, apakah saya rekomendasikan situs kuno untuk dikunjungi? YA TENTU SAJA :)




ps: sori untuk kualitas foto-fotonya yang gak bagus
1 comment on "Terpukau dan Terpukul di Masjid Sang Saka Ratu di Cirebon"
  1. diatara situs walisongo, disini emang paling bar2 menurutku. dan itu sejak lama hingga jaman se moderen ini. bahkan tengah malam kesanapun ada pengemis...heuuu

    ReplyDelete