Social Media

Image Slider

Membaca Dari Toko Buku ke Toko Buku

July 30, 2022

Muthia Esfand traveling ke benua Eropa sebelum covid-19 merebak di Indonesia. Ada festival buku yang hendak ia datangi namun gagal karena acaranya dibatalkan sebab wabah korona. Dengan begitu, Muthia membuat rencana baru, yaitu berkunjung ke toko-toko buku lokal di negara yang ia datangi. 


Cara-cara berdagang buku yang saya catat dari buku berjudul Dari Toko Buku ke Toko Buku: 


Dari Toko Buku ke Toko Buku Muthia Esfand


1. Punya koleksi buku-buku langka cetakan pertama (Armchair Books, kota Edinburgh)


2. Menjual buku tematik, seperti Magma Bookshop di kota Manchester, hanya menyediakan buku-buku bertema art. Mereka juga menjual paket-paket prakarya (DIY).


3. Toko buku di Liverpool  mendagangkan buku bertema sosial, budaya, politik, dan ide-ide progresif


4. Membuka program donasi buku dan menjual buku donasi tersebut: satu pembeli boleh ambil maksimal dua buku dan membayarnya pay as you wish


5. Menyediakan kids corner (toko buku Libreria San Gines di Madrid)


6. Membuat rak-rak buku bernama, dgn kategori personal. Seperti: 

Buku bagi kamu yang sedang putus asa

Buku untuk yang sedang sedih

Buku untuk yang ingin merasakan bahagia


7. Membuat merchandise toko


8. Menyediakan buku-buku untuk perempuan only (toko Libreria Mujeres di Madrid dan toko buku di Wina), pemilik tokonya menjelaskan "perempuan itu kadang kalau dikasih tahu pakai mulut, susah untuk mau dengerin. Mesti pakai cara mereka baca sendiri dari buku-buku yang berkualitas." Mereka juga aktif membuat diskusi/acara ttg perempuan. 


9. Menjual satu set box berisi barang-barang yang cocok dijadikan kado untuk cowok (toko buku Elephant di Sofia)


10. Secara rutin membuat program reading, temu penulis, dan penandatanganan buku


11. Menyediakan dua buku yang sedang 'bertanding' dan memajangnya secara terang-terangan dan mencolok. Misalnya nih, buku ttg donald trump dan ttg hillary clinton. 


12. Membuat acara temu penulis dengan konsep beragam, bukan hanya duduk dan diskusi. Jadi terasa seperti pesta kecil aja dan pengunjung senang. "Kami tahu menghidupkan toko buku ini hanya bisa dilakukan kalau kami sendiri sebagai pengelolanya selalu 'hidup'. Yah tidak selalu mudah sih..." (Powerhouse Bookshop di NY)


Muthia Esfand, penulis buku ini, menyimpulkan bahwa acara yang diadakan di toko buku tidak melulu harus bertarget penjualan yang kaku. "Harusnya sih mempertimbangkan aspek menjaga kedekatan dan hubungan baik dengan pembaca setia buku. Karena mereka target utamanya." 


Toko buku yang jiwanya kuat, yang tidak tenggelam dalam samudra stok buku saja, akan menjaga pembelinya setia. 


Buku setebal 500 halaman ini kubeli di Tokopedia. Buku yang ori tentu saja. 

Taman Lalu Lintas Bandung Tiket Masuk Rp10.000 Bukanya Jam 10 Pagi

July 23, 2022

Liburan sekolah lalu saya ketitipan sepupunya si kubil. Saya ajaklah dia main ke Taman Lalu Lintas. Mereka kelihatan senang meski wahana permainannya sederhana dan sedikit. Saya? Senang juga. Banyak pohon besar di sana, bangku taman yang fotogenik, udara yang bersih dan sejuk. Cuma itu aja sih, banyak nyamuk! 

 

Harga Tiket Taman Lalu Lintas Bandung

Karena kami datang di musim libur sekolah maka gak heran di pintu loket antrean agak panjang. Tidak masalah sih sebab antrean rombongan udah pegang tiket sendiri jadi geng pelancong mandiri gak terganggu.

Harga tiket masuk Taman Lalu Lintas Rp10.000/orang. Termasuk orang dewasa pun harganya sama. Pembayarannya cash dan mesti uang pas aja deh.

Saya udah atur-atur nih biar sampai Taman Lalu Lintas sebelum pukul 10 pagi. Pokoknya begitu dia buka, kami datang. Biar enak aja waktu bermainnya pas gitu. Dan betul aja mainnya puas banget, azan zuhur kami bersiap pulang.

Ada wahana kereta api, sepeda, dan karosel. Sisanya sih berlari-lari aja. Naik pohon (ada rumah pohon). Dan sebagainya. Saya hanya menunggu mereka sambil duduk membaca buku dan skroling timeline twitter.

Ada kolam renang juga di kompleks Taman Lalu Lintas Bandung. Saya gak ke sana soalnya ribet wkwkwk. Kolam renang ini area paling ramai, banyak betul pengunjungnya. 

 

anak-anak yang mengunjungi Taman Lalu Lintas Bandung


Ada juga sih papan-papan rambu lalu lintas buat pembalajaran anak-anak tentang aturan di jalan. Dan gak ada yang baca wkwkwkwk. Namanya juga Taman Lalu Lintas, jadi emang isinya sesuai namanya lah kebayang ya.

Di Taman lalu Lintas pun ada miniatur jalan raya yang merupakan bagian dari wahana permainan sepeda, nah ini nih baru kepake banget!

Kubil dan sepupunya suka banget main sepeda. Tiket bermain sepeda di Taman Lalu Lintas  10.000/anak dan durasi waktunya 15 menit. Mereka tiga kali main sepedanya! Hehe.

Sayang aja gak ada petugas yang mengajarkan rambu-rambu berlalu lintas. Kalo hanya membaca aja pasti bosan dan gak menarik, tapi kalo pelajaran berlalu lintasnya digabung dengan kegiatan bersepeda begitu anak-anak terlihat menyukainya.

Sementara mereka bermain saya baca buku aja di bawah pohon entah apa namanya. Nyaman banget deh baca buku di Taman Lalu Lintas. Pilih aja bangku yang paling oke posisinya. Jangan lupa oles autan dulu sebab banyak nyamuk di sana. 

 

kereta api di Taman Lalu Lintas Bandung


Matahari yang terik di kemarau (yang basah) gak usah dikhawatirkan. Pepohonan di sana ibarat payung. Betulan menaungi kami semua pengunjung Taman Lalu Lintas. Cakep banget! Pepohonannya tua-tua pula nih. Taman ini memang warisannya pemerintah Belanda.

Saya banyak bengong sembari lihatin pepohonan. Ada Trembesi ada Beringin. Dua pepohonan yang udah kakek-kakek banget dan kokoh! Pohon lain saya gak ketahui namanya. Pernah saya ikutan walking tour namanya Biotour dan disebut-sebut pohon di Taman Lalu Lintas, apa ya nama pohonnya, yang dagingnya bertekstur seperti mentega. Ah saya lupa lagi namanya!

Anw, karena kubil suka pesawat, saya ajak juga melihat monumen pesawat F5 Tiger. Kebetulan kami pun baru aja nonton Top Gun Maverick. Nyambunglah bisa cerita-cerita tentang pesawat gitu. Monumen pesawat F5 Tiger di Taman Lalu Lintas ada di bagian depan taman.

Ada satu hal yang kulupa di taman ini, bahwa kamu seharusnya bawa makanan berat. Terus *murak timbel deh. Sebab hampir semua orang pada makan-makan *mengampar begitu. Ada yang bawa nasi bungkus, nasi bekal pake boks, dan nasi timbel. Lengkap sampai kerupuk-kerupuknya! Seru banget lihatnya hahaha. 

 

Taman Lalu Lintas Bandung Buka Jam 10 Pagi


Kalo ada waktu kosong seharian saya mau balik lagi ke Taman Lalu Lintas. Bawa buku, nasi rames dari warung nasi Ceu Mimin, dan gelar tikar. Membaca dan piknik. Betapa nikmatnya hidup yang begitu tenang santai dikelilingi pepohonan (dan nyamuknya hehe).

Bawa anak-anak mengunjungi Taman Lalu Lintas di Bandung seru juga. Orang dewasa juga kelihatan menikmatinya.



*murak timbel : makan nasi
*mengampar: duduk lesehan

Waroeng Djahe: Kembang Tahu di Cibadak Yang Menyembuhkan

July 19, 2022

Kami habis buka puasa dan energi di badan terasa seperti habis dikuras. Belum lagi saya dan Indra harus bermotor di jalanan Bandung yang basah sehabis hujan, pukul delapan malam. Jadi tambahkan: kedinginan. Indra menghentikan motornya di depan warung bernuansa oriental, kami sedang di Cibadak. "Kembang Tahu dulu yuk biar enakeun badannya," ajaknya. 

 

Kembang Tahu di Waroeng Djahe

Kembang Tahu cocok buat kondisi kami yang jompo digigit pekerjaan, usia, dan cuaca. Kok Indra kepikiran aja ya makan di sini, hehe.  Pas aja gitu. Kami lepas jaket dan langsung ambil posisi kursi di pojok, yang ada alas bantalnya. Di Waroeng Djahe kami nongkrong sejenak meredakan letih. 


Kembang Tahu dua

Roti bakar satu

Teh tawar anget dua

 

Begitulah pesanan kami dan semuanya tandas dalam waktu...10 menit? wkwkwkwk aduh kami ini kalau makan seperti tentara. Sat set sat set. Kebiasaan buruk. Padahal magribnya sudah buka puasa dengan makanan berat nih! 

 

Waroeng Djahe berada di jantung kota. Bila kamu berada di Alun-Alun, kamu bisa mencapai warung ini dengan berjalan kaki saja. Kalo gak mau ribet bisa sih naik ojek online aja. Lokasinya persis di perempatan Jalan Astana Anyar dan Jalan Cibadak

 

Tempat ini menurutku suaka dari hiruk pikuk jalanan yang super sibuk itu. Masuk ke dalam Waroeng Djahe terasa hawanya kalem. Mungkin karena efek lampu juga sih. 


Penganan di sini gak ada yang berat-berat. Semuanya makanan pendamping. Mulai dari Kembang Tahu, Wedang Ronde, Bubur Ketan Hitam, dan aneka Dimsum. Jadi menunya menu santai semua. 


Kembang Tahu di Waroeng Djahe


Kalau mampir ke Waroeng Djahe saya selalu pesan Kembang Tahu. Setiap menghabiskan semangkuk makanan (atau minuman?) ini, tenaga di tubuh saya terasa pulih lagi. Seperti habis dicharge. Jahenya itu lho menjalar ke seluruh otot dan tulang. Rasanya ironman siap tempur lagi. Hehe apa sih.

 

Gak ngerti lagi bagaimana dunia tanpa Kembang Tahu ya. Dia punya efek yang menyembuhkan. Sesuatu yang sembuh dalam diri kita itu entah apa namanya. Apakah letih, capek, stres, apa atuh ya. Keruwetan kali ya namanya? Semacam kekacauan yang membuat kepala puyeng dan tubuh pegal-pegal, Kembang Tahu dapat menyembuhkan rasa kacau itu. 

 

Meski begitu sejujurnya Kembang Tahu di sini bukan yang terbaik. Selain jahenya kurang nendang, panas kuahnya kurang gahar. Kembang Tahunya pun tipis saja hanya beberapa lembar. 

 

Kembang Tahu ala mamang-mamang yang gerobaknya dipikul itulah rasa yang terbaik, karena panas kuahnya pas, jahenya nyolot, dan Kembang Tahunya berlembar-lembar. 

 

Namun yaudahlah segitu juga cukuplah. Soalnya susah nangkep mamang-mamang Kembang Tahu di mana coba, seringnya saya temukan gak sengaja. Sulit nyari warung Kembang Tahu yang menetap seperti Waroeng Djahe. 

 

Kuliner Cibadak tanpa babi pasti gak afdol. Tanpa Kembang Tahu apalagi. Hehe. 

 

Kembang Tahu di Waroeng Djahe

Bila ke sini saya selalu duduk di pojok. Alas duduknya berbantal jadi enakeun duduknya. Bisa nyenderin punggung pula. Hehe. Gitu aja sih. 

 

Kembang Tahu ini harganya 18.000. Gak tahu nih udah naik belum harganya secara abis Lebaran harga-harga naiknya gila semua.

Membaca Trocoh

July 15, 2022

Pertama-tama, isi buku Trocoh ini lumayan membuatku tersesat. Trocoh ditulis Budi Warsito. Jujur aja saya pusing ngikutin alurnya Mas Budi bertutur. Terlalu banyak yang dia ceritakan: dari satu penemuan ke penemuan lain, data ke data lain, satu analisa ke analisa lain. Loncat sana loncat sini. Keder bacanya.


Trocoh adalah kumpulan tulisannya Budi Warsito


Gak ada paragaf pula. Tulisannya lempeng kayak tol cipali. Berlembar-lembar baca tulisan tanpa paragraf lumayan ruwet juga. Hahaha. Tapi keren tulisannya! Aneh banget ya, cenah ruwet, tapi keren. Gimana sih! 


Iya gimana sih hahaha


Tulisan Mas Budi tentang Doni dan Nirvana yang paling menarik buatku. 


Coba bayangin, Mas Budi membahas romantisme seorang anak yang mencoba kenal almarhum ayahnya lewat band bernama Nirvana. 


Si anak ini namanya Doni. Dia berseluncur ke blognya Mas Budi yang, tentu saja, membahas Nirvana. Ia bertanya via email ke Mas Budi, "Almarhum Papa kayaknya paling suka album Bleach deh, Oom. Kasetnya paling lecek. Lecek berarti sering diputar kan?"


Mas Budi nyambungin pertanyaan Doni dengan pembahasan: album pertamanya Nirvana itu Bleach, tapi album Nevermind (album kedua mereka) yang pertama muncul di Indonesia. 


Sebuah fakta yang saya teu paduli, suka Nirvana juga enggak. Namun, ada namun nih. Ceritanya Doni, Nirvana, dan almarhum ayahnya Doni sangat enak dibaca. 


Doni bahkan baru tahu belakangan kalo nama tengahnya, Donald, diambil dari nama Kurt Donald Cobain. "Jangan-jangan aku dinamain dari nama tengahnya idola Papa ya, Oom!" 


Haduu...bagaimana itu ya merekonstruksi kehidupan ayah, yang gak pernah ditemui, dari kaset-kaset Nirvana. Maksudnya, dari kenangan yang masih teronggok di rumah. 


Udah gitu Mas Budi bisaan lagi nyambung-nyambunginnya dengan pembahasan album Nirvana. Walo gak ngerti dan gak mau dengar lagunya, tapi saya baca aja tulisan Mas Budi sampai tamat. 


Kenapa ya. Ini buku ada peletnya kali nih. Tulisan tentang Kirana Dewa 19 juga keren abis! Segitu doang saya ngertinya deh, sebatas Dewa 19. Hehe. 


Ada 41 tulisan dalam buku ini, tiap tulisan dikasih semacam lagu pengiring oleh Mas Budi. Saya dengar semuanya. Musiknya beragam banget, emang beda dan unik Budi Warsito nih orangnya kenapa bisa ada orang kayak gini, keren banget!


Bukunya bisa dibeli online. Saya beli di Gramedia.

Bandung For Beginners

July 08, 2022

Secara iseng saya membuat konten #bandungforbeginners di instagram. Sebagai pendatang saya sih ngerasa banget banyak bedanya antara saya sama orang bandung asli. Saya catat nih kebiasaan warga Bandung. Bukan buat dibanding-bandingin siapa yang lebih baik, bukan untuk menjelek-jelekkan. Ini hanya catatan saja. Jangan semua-mua dijadiin bahan berantemlah please banget nih. 

 

bandung for beginners


Tentang budaya ngopinya.
Kecintaan mereka pada asin peda. Istilah murak-timbel.
Kegemarannya pada berpancakaki. Kelihaian orang bandung berdiplomasi.
Cara mereka memberi petunjuk arah.
Bagaimana membedakan panggilan ‘aa’ sebagai kekasih atau ‘aa’ sebagai sapaan generik saja.
Cara memesan nasi kuning take away tanpa sambal.
Ada loh kebiasaan makan gorengan dan minumnya segelas air susu.

 
Mengapa Tahu dari Bandung enak-enak.
Surabi Oncom dan Surabi Kinca, kupikir itulah surabi signaturenya orang Bandung.
Istilah dalam obrolan sehari-hari, seperti Jurig Seblak.
Hingga makanan dalam keseharian orang sunda (orang Bandung sih)

Kayaknya kalo aja saya gak pernah tinggal di Indramayu dan bersekolah di Cirebon, agak susah memperhatikan budaya orang Bandung tersebut. Utamanya warga Bandung itu sendiri.

Indramayu kan setengah jawa setengah sunda. Cirebon juga sama. Atau mungkin bukan keduanya hahaha. Maksudku, jawa bukan sunda juga bukan.

Anyway karena ada jarak kultur yang saya alami, maka perbedaan tersebut terlihat jelas banget. Bukannya saya pengamat dan tukang memperhatikan, tapi memang kerasa sendiri dalam keseharian saya bersama Indra dan keluarganya yang bandung banget, juga teman-teman saya. 

 

Perbedaan itulah yang sering saya catat di note hp. Menarik soalnya kalau dituliskan. Bila kita mengganggapnya sebagai hal yang biasa-biasa aja ya jadi biasa aja. Namun di mata saya sebaliknya sih, hal kayak gini justru menarik buat kalau ditulis, karena jadi terasa istimewa.

Kadang kala kurasakan lidah saya yang terlalu pantura ini tidak cocok dengan perspektif orang bandung. Jadi pernah ada beberapa pengalaman saya salah dipersepsikan. Padahal tujuannya ke sana, dikiranya begitu.

Gegar budaya antar suku aja sering jadi masalah. Gimana gegar budaya antar pulau, antar negara. Hehe. Kupikir konten #bandungforbeginners yang saya tulis di blog dan instagram buat bahan pengetahuan aja. Pengetahuan tuh serius banget kayaknya ya, buat seru-seruan aja deh.

Ada satu tema tentang orang bandung yang ingin saya tuliskan, yaitu tentang pundungan. Walo begitu masih kutahan-tahan nih nulisnya karena khawatir salah. Hehe.

Pundung itu sifat mudah tersinggung, mudah ngambek dan tidak berkenan atas sesuatu. Di hati orang Bandung, sifat mudah tersinggung ini tidak terwujud dalam kelakuan senggol-bacok. Sebaliknya mereka dapat menahan hati tidak marah. Namun di balik itu mereka menahan kesal karena tersinggung.

Pundungan itu akan terlihat dalam bentuk kalimat yang berputar-putar dan halus, meski tetap terasa menusuk ke dalam lawan bicaranya. Lebih parah lagi mereka tidak akan menunjukkannya, wajah dan gesturnya ramah banget. Hanya dapat dipastikan aja kita akan sulit bertemu dengannya lagi. Hehe.

Pundungan berbeda dengan temperamen. Pundungan itu sifat ngambek yang ditahan. CMIIW.

Sebagai orang Bandung, apakah kamu pundungan? Saya menemukan sifat ini pada ibuku, saudara-saudara ibuku (hampir semuanya), dan sedikit dari keluarganya Indra. Bagaimana dengan saya? Hmmm coba kita tanya Indra aja. Haha. 


Di daerah kamu ada gak istilah buat menjelaskan sifat mudah marah dan mudah tersinggung seperti halnya orang Bandung yang memiliki kosakata khusus tersebut?

Menginap di Sekitar Stasiun Garut, Kami Tidur di RedDoorz Near Alun-Alun Garut

July 05, 2022

Langsung aja. Namanya RedDoorz Near Alun-Alun. Ini hotel modern terdekat dengan Stasiun Garut. Kuperhatikan ada juga hotel lainnya, tapi hotel lama yang kayaknya udah ada sejak tahun 80an deh kalo diukur dari gaya bangunannya. 

 

reddoorz hotel di sekitar stasiun garut

Saya dan Indra milih Reddoorz Near Alun-Alun Garut aja. Batas waktu check in pukul 4 dini hari. Kami masuk ke sana pukul 11 malam. Hehe lumayan kemalaman. Abisnya kami naik kereta malam.

Kereta api tujuan Bandung - Garut rada kagok sih jam kedatangannya. Mesti pagi banget dari Bandungnya atau malam hari. Alhasil buat yang gak ada rencana menginap di kota Garut rada ribet sih.

Langsung aja saya bahas penginapan nih. 



ROOM

Kayak kamar kos. Hehe. Katanya ada harga ada rupa. Dibandrol Rp230.000+++ per malam, saya ambil yang standar aja tipenya. Alias tipe termurah. Sing penting tidur enak dan ada AC. Kamar mandi bersih. Ekspektasinya sih gitu.

Kenyataannya? Ya so-so. Cukuplah. Kamarnya sempit tapi cukup buat kami tidur satu kasur. Tiga orang (dua orang ndut dan satu anak kecil kegencet. Hehe enggak yah gak kegencet kok).

Bantal ada dua dan itu saja sudah. Tambahan bantal RedDoorz sih yang signature dia banget warna merah. Total tiga bantal.

AC menyala dengan baik. Masih baru soalnya, masih segar.

Kasur melenoy tapi yeah okelah dari saya gak ada keluhan. Kasurnya spring bed cuma ya itu melenoy aja.

 

reddoorz hotel dekat stasiun garut

 

TV? oke tv kabelnya mantap! Dia pake indihome kalo gak salah. WIFI? Mantap juga. Gak ada buffering loading munding.

Tidak ada pemandangan dari jendela. Kan sudah saya sebut tadi ini mirip kamar kos-kosan.

Ada lemari untuk simpan pakaian. Ada meja untuk simpan barang lainnya.

Colokan hp tersedia di pinggir tempat tidur, hanya di satu sisinya saja. Bila kamu tipe pembawa segala macam alat digital lebih dari tiga macam, biasakan aja bawa sendiri terminal listriknya ya. 



KAMAR MANDI

Wah kamar mandinya luas jadi tidak dukdek riweuh saat berada di dalamnya. Ada air panas meski agak lama nunggu angetnya. Pun kamar mandinya bersih. Tidak wangi tapi bersih.

Closetnya oke lancar semua. Shower mulus ngocornya. Tidak ada bau-bauan pada airnya. Tersedia wastafel.

Amenities dari penginapan ada satu set: sampoo, sabun, dan pasta gigi sikat gigi. Semuanya versi ekonomis.

Kalo kamu pernah menginap di RedDoorz di awal kemunculan penginapan jenis ini, pasti tahu kalo amenities mereka terbilang mewah. Peralatan mandinya diwadahin pouch. Sampo dan sabunnya botolan. Nah sekarang tidak lagi, kini formatnya sachetan kayak di warung. Tetap terlihat fancy but yeah kurasa begini lebih efisien buat ongkos produksi. Hehe. 

 

reddoorz hotel dekat stasiun garut


LOKASI

Strategis banget! Beneran deh. Dari penginapan menuju Alun-Alun aja tinggal menggelinding. 500 meter jaraknya. Dari penginapan ke stasiun garut hanya 150 meter. Dekat banget kan.

Mau cari tempat makan pun mudah dan dekat. Ke Pasar Ceplak, surganya jajanan malam hari, pun sama dekatnya. Memudahkan bangetlah.

Beda cerita kalo kamu mau beraktivitas di Cipanas. Nah baiknya menginap di hotel-hotel sekitar Cipanas aja. 



SERVICE

Saya hanya ketemu resepsionis aja satu orang. Hospitality okelah, seperti bertemu ibu kos. Hehe. Di sini ada uang deposit Rp100.00.  Juga ada warung jadi bisa jajan tapi ibu warungnya pergi-pergi mulu deh saya mau jajan gak ada yang ngaladangan kan gak jadi jajannya.

Bagi yang membawa kendaraan sendiri di sini ada parkiran luas! Halaman parkirnya dikasih sun shading semacam waring. Menarik juga dipikirin pake waring segala.

Kebersihan penginapannya oke. Tidak boleh merokok di kamar. Bolehnya di luar kamar. Tapi janganlah merokok dekat kamar kasihan penghuni kamar lainnya. Soalnya asap rokoknya masuk kamar. Merokok di halaman parkir ajalah tolong para perokok nih dipikirin nasib para perokok pasifnya seperti kami ini. 



PRICE

Sudah saya sebut di awal tadi, ongkos tidurnya 230ribuan. Bookingnya di aplikasi RedDoorz aja karena murah. Di aplikasi hotel lainnya kulihat-lihat harganya lebih mahal.

Penginapannya gak melayani pemesanan langsung di meja resepionis. Harus online.

Begitu aja resensi penginapan dekat Stasiun Garut ini. Saya pernah menginap di beberapa hotel lainnya di Garut, hanya saja lokasi hotel jauh dari stasiun dan alun-alun. Nanti saya sambung resensi hotel lainnya ya.

Postingan tentang rekomendasi jalan-jalan di sekitar Stasiun Garut bisa dibaca di sini.