Warna Pintu Rumah Tua di Bandung

August 15, 2020

Paling enak jalan-jalan adalah berjalan kaki santai di pusat kota. Bawa sebotol air minum. Pake ranselnya. Siapkan kamera hp dan powerbanknya. Boleh dibawa topinya sekalian.  Jadwalkan pagi hari, lebih pagi lebih baik, untuk mulai berjalan. Bisa juga sore-sore. Supaya suasanya masih segar atau adem. 

 

Kalau di Bandung, biasanya saya jalan-jalan santai begini di daerah Braga, Sudirman, Pasar Baru, dan Asia Afrika. Lumayan sih trotoar nyaman dipijak meski yang gak layak kondisinya pun banyak. Warung dan pertokoan ada banyak. Siapa tahu mendadak perut keroncongan, bisa mengkol dulu buat jajan. 

 

Bila berjalan santai begini, saya akan memotret rumah-rumah tua. Rumah pinggir jalan ataupun rumah dalam gang. Pintu dan jendela rumah antik sangatlah sedap dipandang. Jadi latar foto OOTD juga bisa sih. Heuheu. Tapi saya gak lakukan itu sebab tujuan saya emang koleksi foto pintu tua dan jendela antik. 

 

Kalau berjalan kaki dan berburu foto rumah-rumah tua, ada satu hal yang menarik bagiku. Perhatikan pintu utama rumah dan kotak sekring listriknya. Mengapa? sebab warna mereka senada. 

 

 

Rumah lama yang arsitektur bangunannya masih bergaya ala tahun 40-50an, memiliki satu kotak kecil infrastruktur listrik yang berada di dekat pintu masuk. Nah pintu masuk, jendela depan, dan kotak sekring listrik ini warnanya sama. 

 

Iya saya tahu pemandangan tersebut bukan hal istimewa. Namun bukannya hal-hal kecil begini menyenangkan untuk dilihat ya. 

 

Menurut beberapa orang temanku, bukan sengaja pintu rumah dan pintu kotak listrik warnanya sama. Tapi waktu proses pengecatan, ada sisa cat yang sayang bila dibuang atau disimpan.  

 

Meskipun gak sengaja, kelihatannya kayak disengajakan. Warnanya jadi estetis. Enak dilihat. Ada yang warnanya hijau, biru, krem, merah, macam-macam. Warna kalem sampai warna mencolok. Entahlah ada cerita psikologi warna apa di baliknya. Yang pasti warnanya dipilih berdasarkan selera pemiliknya. Iya gak? :D 

 

 

Berdasarkan artikel yang saya baca-baca di web Halodoc, warna adalah medium. Semacam pesan yang ingin diperlihatkan pada pemakainya. Kayak warna merah yang menunjukan arti kuat, percaya diri, dan berani. Warna abu-abu artinya kuat dan stabil. Ada juga warna biru yang diasosiakan dengan kesetiaan dan ketenangan. Hijau diartikan sebagai kesejukan. Ada yang mempercayainya sebagai warna keberuntungan. 

 

Gak heran, kata Halodoc, warna bisa jadi alat untuk terapi. Selama menyusuri jalanan dan rumah-rumah tua dengan berjalan kaki, saya pikir ini hobi semata. Namun kalau diperhatikan saya berolahraga juga. Jalan kaki satu jam atau anggap aja 3000 langkah efeknya bagus kan buat tubuh. Belum lagi merhatiin warna-warna pintu dan jendela rumah tua. Lumayan kayak sambil menyelam dapat ikan. Hahaha. Kaki sehat, jiwa bahagia. 

 

Ah iya, Halodoc sendiri adalah aplikasi kesehatan yang memudahkan urusan medis saat kita membutuhkannya. Layanan Halodoc terpercaya dan lengkap. Install aja appnya, sign up, dan jelajahi fitur kesehatan yang ada didalamnya. Mulai dari urusan beli obat, tanya ke dokter, cari dokter yang tepat, dan cek kunjungan ke rumah sakit. 

 

Oke kembali ke rumah tua. 


Umumnya nih rumah-rumah lama yang saya temukan begini ada di daerah Pecinan. Membujur dari Sudirman ke arah Andir. Melebar ke Pasar Baru dan sekitarnya. Bila kalian jalan-jalan ke arah Bandung Utara, di sana banyak peninggalan rumah ala kolonial. Jika ambil arah selatan, banyaknya rumah-rumah masa kini. Nah di tengah-tengah utara dan selatan itulah daerah Pecinannya berada. Suasana dan rumah-rumahnya masih kerasa aura tempo dulu walaupun digempur perubahan. 

 


Agak susah nemu pemandangan begini kalau kita hanya diam di dalam kendaraan. Paling saya rekomendasikan berjalan kaki. Kalau jalan kaki, kita bisa atur tempo kecepatan bahkan berhenti sejenak. Lantas kita bisa melihat dari dekat, menyentuhnya bila properti tidak berpagar atau diizinkan pemiliknya.

 

Nah, protokol kesehatannya udah oke kan? Dipake maskernya, bawa hand sanitazernya, sekalian wadah perbekalan. 

 

Udah siap cuci-cuci mata dengan berjalan kaki? pagi-pagi ya kita ketemu di Asia Afrika di depan museum!

 

Post Comment
Post a Comment