Social Media

Image Slider

Makan-makan di Warkop Modjok, Pondok Hijau Indah Bandung

31 December 2015
Well okey, seperti semua tempat keren lainnya di Bandung, dua tahun ini penyebaran informasinya tersebar di Instagram. Warkop Modjok juga sama. Foto-fotonya seliweran di IG saya. Pas lihat alamatnya, lho kok deket banget! Naik motor lima menit juga sampai. Jalan kaki juga bisa, agak jauh sih karena lewat jalan tikus, restoran ini terletak di dalam kompleks perumahan elit di Jalan Sersan Bajuri. 

Karena tempatnya sedang hits banget, saya dan Gele berniat untuk makan pagi di Warung Modjok jam 9 pagi. Pas warungnya buka. Berdasarkan perkiraan, pasti tempatnya masih sepi. Masa iya sih ada yang niat banget ke Warung Modjok pagi-pagi selain kami yang rumahnya dekat?

Sampai di Warkop Modjok, sudah ada lima orang pengunjung. Saya dan Gele lusuh abis penampilannya. Karena rumah berasa dekat jadi ya, mandi belum, dandan enggak, pake baju juga yang ngegantung di gantungan baju. Seadanya lah. Lima orang yang datang sebelum kami, dress up abis! Kayak mau ke kondangan :)))))) i feel like i was in the wrong place. Ealaaa ternyata mau pada poto-poto buat diupload ke Instagram aja mereka teh. Hahahaha. 

Anyway Warkop Modjok tempatnya emang lucu abis! eyecathy banget. Kayak rumah-rumah yang kita suka lihat di buku dongeng. Pagar pendek warna putih, halaman yang ada bunga-bunga cantik, bangku meja warna-warni pastel yang nyeni. Karena bentuknya yang menonjol, gak sulit kok menemukan Warung Modjok. 

Bagian utama dari warungnya berupa rumah kayu. Saya lihat bagian luar dari Warung Modjok aja rasanya udah seneng, pas melongok interiornya waduh lebih senang lagi. Sama lucunya, sama nyeninya. Gak lama bengong lihat tempatnya, saya baca menu browsing makanan dan minuman, Gele dan Nabil keliling Warung Modjok motret ini itu. 

Pesanan saya Jahe Merah, Susu Coklat, dan Laba-laba Cantik (Bala-bala, maksudnya). Menu yang terakhir itu, rasanya wuenak! Bala-bala adalah gorengan. Pada bagian dalamnya terdapat sayuran. Standarnya sih potongan wortel dan kol saja. Di Warung Modjok agak berbeda, gorengannya naik kelas sedikit dari segi harga dan fillingnya. Ada potongan labu! Rasanya jadi lebih kaya. Satu porsi isinya empat, sausnya encer sedikit kental, manis-pedas. 

Susu Coklat dan Jahe Merah standar saja gak ada yang istimewa. Tempatnya yang spesial sih jadi pengalaman menyisip susu coklat hangat dari gelas enamel efeknya sangat begitu mewah. 

Saya dan Gele memilih untuk duduk di bagian luar, di halaman Warkop Modjok. Pagi itu cuaca masih bersahabat. Segar dan sejuk seperti biasa cuaca di Bandung Utara pada umumnya. Ada suara air yang berasal dari sungai Ci Beureum di tepi Warung Modjok. Tadinya mau milih tempat duduk di sayap kanan sih, karena latarnya kayak di hutan, banyak pohon. Tapi gak jadi deh :D 

Jahe Merah 10K
Susu Coklat 15K
Laba-laba Cantik 12K

Warkop Modjok
Buka tiap hari, 09.00 AM - 12.00 PM
Jl. Sersan Bajuri, Kompleks perumahan Pondok Hijau Indah

Cara ke Warung Modjok bisa dibaca di tulisan Petunjuk Arah ke Warkop Modjok.


Say Goodbye to 2015

29 December 2015
Ceritanya mau kontemplatif. Tapi nanti dulu deh. Pending :D

Film Negeri Van Oranje: Film Indonesia atau Film India sih?

28 December 2015
Oke. Kemarin saya jalan-jalan ke BIP bersama dengan teman-teman blogger lainnya. Bandung Indah Plaza. Mau nonton film ceritanya bersama IM3 Ooredoo. Film Negeri Van Oranje judulnya. Saya resensi filmnya di bawah ini. Sinopsis ceritanya begini. 

Lima anak muda Indonesia melanjutkan pendidikan S2 di Belanda. Kelimanya sekolah di kampus yang beda kota. Lima orang ini beda-beda karakternya. Ada Geri yang perhatian dan penyayang, ada Wicak yang pendiam dan cool, Banjar dan Daus yang ngocol dan penghibur, terakhir tentu saja yang jadi pusat jagad maya keempat lelaki tersebut: Lintang. Cantik banget dan cool kayak Wicak. 

Somehow menurut saya film ini harusnya berjudul Princess Lintang :D 

So ceritanya mereka bertemu tidak sengaja di stasiun. Sejak itu jadi dekat, akrab dan membentuk persahabatan yang erat. Cowok-cowok itu pada akhirnya jatuh cinta pada Lintang. Tapi cuma satu orang yang berhasil menikahi Lintang. Siapa orangnya? Kenapa itu orangnya? Begitu klimaks ceritanya. 

Film Negeri Van Oranje ceritanya klise. Percintaan, romantisme tinggal di negara maju, dan wajah-wajah tidak bernoda :D sori, maksudnya wajah-wajah cuantik dan cuakep bangeeeet.

Kok pada bilang ini film isinya tentang pendidikan di Belanda sih? tip-tips jadi mahasiswa di Belanda? Gak ada. Unsur pendidikan yang muncul di film ini cuma numpang lewat doang. Iya paling gak saya sekarang tahu kalau di Belanda ada kampus ala-ala IPB di Bogor gitu. Tapi selebihnya gak ada. Film ini murni tentang percintaan saja. 

Tema persahabatannya juga apa ya, kelihatan buatan banget. Ya namanya juga film sih, apanya yang gak buatan. Tapi ada yang janggal, gak alami. Penonton dipaksa untuk menikmati persahabatan mereka yang terlihat asyik banget. 

Sepanjang filmnya saya sampai mikir Negeri Van Oranje adalah film buatan Departemen Pariwisata Belanda kayaknya. Promosi wisata Belanda dan kota Praha di Ceko berkedok wajah Lintang dan lika-liku kisah percintaannya. 

Tapi bukankah beberapa tahun belakangan ini film tipikal seperti itu yang lagi laku? merantau ke negeri maju, pemandangan yang 'instagram' banget dalam arti bagus, keren, dan indah. Film-film yang menjual mimpi, mimpi ke luar negeri (negara maju, khususnya) dan mimpi ditaksir empat cowok cakep :D 

Photo Credit : www.bintang.com 

Terjebak Kemacetan Brutal di Lembang

26 December 2015
Macet yang saya alami pada Jumat 25 Desember 2015 merupakan macet terparah. Rekornya jadi sejarah dalam hidup saya. DELAPAN JAM untuk jarak 15 km? WTF! 

Dari rumah saya di Ledeng menuju Cikole, jaraknya emang cuma 15 km aja. Pagi hari saat saya menuju Cikole, Lembang, waktu tempuhnya kurang dari 30 menit. Jalanan lowong. Ya normalnya sih kalau lalu lintas cukup padat ya sekitar satu jam lah kalau ke Cikole dengan kendaraan pribadi. 

Semacet-macetnya, paling dua jam aja. Tapi ini delapan jam? OMG! 

Saya pilih hari jumat ke Cikole karena waktu itu Natal. Pikir saya teman-teman kristiani pasti sedang merayakan Natal di gereja dan rumah masing-masing. Jalanan harusnya relatif lowong lah. Ternyata perkiraan saya salah. Salah besar!

Sejak baru keluar dari restoran milik ibu, jalanan sudah macet. Mending mobilnya masih jalan, ini sih diam di tempat. Cuaca Cikole sedikit menolong sih. AC mobil sepanjang macet Gele matikan supaya irit bensin. Gak masalah kepanasan karena cuacanya sejuk. 

Sepanjang perjalanan itu saya tertidur selama 30 menit. Bangun tidur bertanya pada Gele. 

udah sampai mana? 
apa? masih di jalan yang sama kok.
hah?! asem! haahahah

Benar-benar macet terburuk yang pernah saya alami. Kalau dirjen perhubungan mengundurkan diri karena merasa gagal mengatasi kemacetan di libur Natal yang lalu, saya rasa Camat Lembang dan Bupati Bandung Barat juga harus mundur. 

Hampir semua papan petunjuk di jalan hanya memberitahu informasi tentang tempat wisata. Tidak ada papan petunjuk jalur alternatif yang ideal. Papan petunjuk tuh isinya Floating Market, De Ranch, Farmhouse, Tangkubanparahu, nama hotel. Ya ampun apa tidak ada persiapan menghadapi macet selain naro polisi dan melakukan trik buka tutup jalan?

At least jauh-jauh hari mulai memasang papan petunjuk jalan alternatif di beberapa titik. Saya saja sampai sulit menemukan petunjuk tersebut. Mesti nanya dulu tukang parkir dan cek di google map. 

Pemerintah keasyikan memberi izin bangunan komersil tanpa memperhatikan infrastrukturnya. Siap gak menampung wisatawan sejumlah sekian ribu, misalnya. Tempat wisata banyak, tapi bagaimana daya tampungnya? 

Waktu ngasih izin usaha ke tempat-tempat komersil, apa gak dipikirin efeknya? Setahu saya Ridwan Kamil saja sudah tidak lagi mengeluarkan izin untuk pembangunan hotel. Kalau ada yang masih dibangun, itu izinnya dari pemerintah yang lama. Bahkan untuk tempat usaha pun sekarang diperketat peraturannya. Makin sulit. RK memilih untuk menghidupkan lagi ruang publik dan merenovasi wajah kota. Pembangunan dilakukan di pinggir-pinggir pusat kotanya. 

Kemarin itu lihat polisi kasihan juga. Karena izin usaha dikasih sembarangan oleh pemerintah setempat, polisi kelabakan. Kayak Farmhouse aja, daya tampung tempat parkirnya gak banyak. Yg berkunjung ke Farmhouse parkir pinggir jalan. Karena itu macetnya sampai 5 km! Parah! Polisi buka tutup jalan di beberapa titik, termasuk Farmhouse. Ckckckck. 

Kenapa sih gak siapin fasilitas umum aja, misalnya sediakan transportasi umum ke tempat-tempat wisata. Daripada ribuan turis naik mobil pribadi ke Tangkubanparahu, minta mereka naik kendaraan yang sudah disiapkan pemerintah. Mobilnya taro aja di parkiran hotel. Atau mulai bikin jalur pendek kereta api dari Lembang - Cikole. Nanti turis diangkut naik mobil angkutan khusus ke Tangkubanparahu. Kepadatan bisa dipecah kan. Ada yang naik kereta, ada yang naik mobil. 

Mesti gerak cepat atuh. Saya yakin sih dari 10.000 orang yang terjebak kemacetan parah di Bandung kemarin itu sebagiannya kapok dan males datang lagi ke Lembang. Tapi penduduk kita ada banyak, 250 juta! 5.000 orang kapok, 10.000 orang lainnya masih penasaran mau ke Lembang. 

Tapi mau sampai kapan tiap musim liburan macetnya brutal? Kalau infrastrukturnya bagus dan siap, menurut saya sih keuntungannya bakal berlipat-lipat. 

Sate Kelinci Sate Sapri di Lembang

23 December 2015
Pertanyaan pertama: tega ya makan daging kelinci? 

Tega sih. Lagipula kan halal. Saya suka sih lihat kelinci, imut-imut dan lucu ya. Gemes gitu lihatnya. Tapi kalau dagingnya enak gimana dong, ya saya makan aja :D 

Saya ini penggemar berat sate ini. Saya punya langganan pedagang Sate Kelinci sih di Lembang. Masalahnya, susah banget nyari penjual sate kelinci yang jago mengolah daging kelinci jadi enak. 

Kalau browsing Sate Kelinci di Lembang di Google informasi yang muncul pasti Sate Sapri. Wah saya belum pernah makan sate kelinci mereka. Sehabis menginap di Sapu Lidi Resort, saya dan Gele menyempatkan diri mampir makan siang di Sate Sapri. 

Lokasinya di pinggir Jalan Raya Lembang. Pemiliknya bernama Sapri. Bersebrangan dengan tempat wisata Farmhouse yang sekarang sedang populer banget itu. Tahu gak, pas sama mampir ke Sate Sapri, itu Farmhouse sedang soft launching. Baru buka di hari itu pas saya makan sate kelincinya Pak Sapri. Sepi banget tempatnya, sekarang sih ramai ya. Kayaknya ngefek ke lapaknya Pak Sapri nih. hehehe :D 

Tidak banyak yang makan siang Sate Sapri siang itu. Sekitar dua - tiga orang sedang asyik menandaskan satenya. Tempat yang saya duduki kondisinya sama seperti warung pinggir jalan pada umumnya. Sederhana, cenderung biasa saja. Bukan restoran, bukan pula kafe. Dindingnya rotan, ruangan semi outdoor, bisa duduk beralaskan kursi atau lesehan. Banyak lalat berterbangan. Gak aneh sih, namanya sate ya pasti dikerubungi lalat. Ibu Sapri menyediakan alat pengusir lalat selama kami makan: lilin. Ampuh tuh lilinnya, pas saya makan mah gak ada lalat-lalatnya.

Lama gak nunggu pesenannya tiba? Enggak, biasa saja. Cukup lah gak yang jadi bete nunggunya. Terus bagaimana dengan rasanya? Naaah ini dia. 

Saya berharap banyak pada Sate Kelinci Sate Sapri. Secara saya fans berat sate kelinci. Sebagai penyuka daging kelinci, saya suka deg-degan tiap mau makan dagingnya. Bakal enak gak nih? Empuk gak nih? Anyir gak nih? 

Ternyata...rasanya biasa saja. Enak? Enggak. Bumbunya gak meresap. Enaknya tuh tertolong rasa bumbunya saja. Saya memesan Sate Kelinci bumbu kacang dan bumbu kecap. Tidak ada rasa yang menonjol selain kecap yang dicampur potongan cabai. 

Entah memang rasanya begitu setiap hari atau pas kebenaran saya yang makan ya. Kecewa aja sih saya. Sate Sapri gak seenak yang saya kira, di google pada nulis enak sih. Harusnya sih enak ya soalnya Sate Sapri kan sudah ada puluhan tahun. Saya baca sertifikat per-daging kelinci-an yang dipajang di dinding rotan Sate Sapri, ini pemilik lapaknya pernah mengimpor daging kelinci di tahun 1982 dari Australia lho. Whuidih! 

Ada dua hal yang saya kasih tepuk tangan buat Sate Sapri, dagingnya yang empuk dan tidak berbau. Apa saya rekomendasikan Sate Sapri? Hmmm yah boleh deh. Lumayan untuk menambah pengalaman rasa memakan daging kelinci. 

Saya baru coba sate kelincinya aja sih, di Sate Sapri kan ada juga Gulai Daging Kelinci. Bisa jadi lebih enak ya. 

Cara Menuju Sate Sapri
  1. Angkot yang lewat cuma dua jurusan: St.Hall - Lembang dan Ciroyom - Lembang. 
  2. Dari arah pusat kota Bandung, Sate Sapri bisa ditempuh via Jl. Setiabudhi, ada di sebelah kiri jalan ya Sate Sapri-nya. Pas di sebrang Farmhouse. Dari Terminal Ledeng (kalau gak macet) waktu tempuhnya kira-kira 5 menit saja. 
Sate Sapri buka setiap hari. 
Jam 08.00 - 19.00
1 porsi sate isi 10 tusuk, Rp 30.000


Berkunjung ke Museum Bio Farma yang Baru!

21 December 2015
Hujan belum berhenti sejak dini hari. Bangun tidur dan sadar kalau hujan di luar sana masih 'hujan anjing dan kucing', rasanya pengen tarik selimut lagi. Dan yah tahu sendiri time flies youre having fun :D 

Anyway, saya gak tidur lagi kok karena saya mau having fun jam 10 pagi di Museum Bio Farma! Iya, ceritanya berkunjung ke Museum Bio Farma yang baru. Lho memang ada yang lama? Ada dong, nih tulisan tentang Museum Bio Farma yang pernah saya buat dulu. 

Museum Bio Farma bukan tempat yang asing untuk saya. Di tahun 2013, Komunitas sejarah bernama Aleut pernah berkunjung ke museum tersebut dan saya ikut serta dengan mereka. Jalan-jalan ke Bio Farma, ternyata menyenangkan juga. 

Oya kalau yang belum tahu tentang Bio Farma, pasti bertanya-tanya, apa istimewanya Museum Bio Farma? 

Pada baca buku sejarah Bandung gak nih? Bio Farma itu salah satu lembaga kesehatan tertua di Bandung. Berkat vaksin yang diproduksi lembaga ini, penyakit seperti Cacar Api bisa musnah dari planet bumi. 

Coba Ibu-ibu, pada ngasih vaksin BCG gak ke anak-anaknya? Saya juga ngasih tuh ke Nabil. Vaksin BCG ini dulu adanya impor doang, harganya ratusan ribu! Bio Farma memproduksi vaksin BCG lokal yang harganya gak lebih dari…30.000. Terakhir sih saya vaksinin Nabil tahun 2012 cuma bayar 27.000. Wuih untungnya Bio Farma cepat-cepat bikin vaksin BCG lokal, kalau mesti pake vaksin impor mah mahal banget! 

Oke balik lagi ke sejarah Bio Farma. Perhatikan arsitektur gedungnya: megah, kokoh, dan terlihat seperti bangsawan konglomerat yang mulai manula tapi masih jumawa. Gedung Bio Farma termasuk dalam daftar Bangunan Cagar Budaya. Artinya bangunan tersebut gak bisa seenak seblak diubah arsitekturnya oleh siapapun. Harus minta izin dulu ke Pemerintah Kota Bandung. 

Dibangun saat nenek kita baru dilahirkan, 1926, Wolf Schoemaker adalah arsitek bangunan Bio Farma. Saat itu Bio Farma namanya Institut Pasteur. Mengingat sejarahnya yang panjang dan perannya gak besar, Bio Farma berupaya melestarikan sejarah bangunan tersebut dengan membuat museum. 

Jika sebelumnya Museum Bio Farma terdiri dari satu ruangan saja, sekarang berbeda. Museum Bio Farma jauh lebih luas dan dapat menampung lebih banyak orang. Museumnya juga lebih interaktif. 

Upaya mengubah wajah museum ini termasuk cara Bio Farma ikut melestarikan sejarah Bandung, utamanya di bidang kesehatan. Di dalam Museum Bio Farma kita bisa melihat asal muasa penemuan vaksin, wabah, peralatan yang digunakan di tahun 1930an, dan beberapa lainnya. 

Serunya lagi saya bisa membaca timeline sejarah Bio Farma dari masa ke masa. Dulu tuh gak ada timeline begini, harus nanya ke pemandunya melulu :D Wah menarik ya, tinggal baca sendiri, catat, dan ingat baik-baik. 

Kalau  saya tidak salah ingat, ada lima ruangan berbeda dalam Museum Bio Farma. Pertama-tama meja resepsionis. Ada layar interaktif yang bisa kita lihat dulu sebelum masuk ke ruangan selanjutnya. 

Di ruangan ke dua suasananya lebih dingin dan temaram. Berjajar foto-foto sketch para pendiri dan pimpinan Bio Farma sejak namanya masih Institut Pasteur. Di situ saya melihat ada foto Nyland dan Otten. Di ruangan yang sama disediakan bangku dan layar televisi. Tamu bisa menonton tayangan tentang sejara Bio Farma di sini. 

Ruangan berikutnya berukuran lebih luas dan mulai bisa kita saksikan benda-benda koleksi Bio Farma. Saya menyukai bagian timeline-nya di sini. Informatif! Lanjut ke ruangan yang lain, lampunya lebih terang dan tipikal benda yang dipajangnya sama. Jarak antara benda satu dengan yang lain tidak berdekatan, jadi saya tidak khawatir nyenggol barangnya. Heuheuheu :D 

Kalo museum yang dulu kan sempit, saya takut ceroboh bikin jatuh meja pajangannya itu lho. Sekarang mah museumnya luaaassss! Tapi luas bukan berarti kamu bisa nari-nari di dalemnya sih. 

Anyway, di ruangan terakhir terpajang prestasi Bio Farma dan kepedulian nyatanya terhadap budaya dan seni. Selain piala-piala penghargaan yang diraih Bio Farma di bidang lingkungan, ada juga aneka macam hasil bumi dari Ciletuh Sukabumi. Seperti keripik mangga dan beras ketan hitam. FYI, Bio Farma membina komunitas di Ciletuh dan sebagaimana yang kita ketahui, Ciletuh sedang dipersiapkan menjadi Geopark Nasional di tahun 2017 nanti. Unesco yang nanti memutuskan Ciletuh layak gak jadi Geopark.

Museum Bio Farma menurut saya mah a must-visit place di Bandung, terutama kalau kamu menyukai sejarah. Kalau buat anak-anak sekolahan malah lebih bagus lagi, nyambung ke tema pendidikan kesehatan. 

Ibu Guru, Bapak Guru, bawa anak didiknya berkunjung ke Museum Bio Farma ya, biar melek tentang pentingnya vaksin, supaya melek tentang sejarah kesehatan di Indonesia dan Bandung. Lagian kita harus bangga, Bio Farma ini satu-satunya di Asia yang memproduksi vaksin untuk manusia. Di dunia cuma ada 23 negara yang boleh impor vaksin, Bio Farma salah satunya dan termasuk yang terbaik! 

Mau lihat Museum Bio Farma? Setahu saya sih gratis. Oiya, ini nomor kontak yang bisa kalian hubungi:

Ibu N.Nurlela
Tlp : 022-203 3755
Email : corcom@biofarma.co.id

Kontak Bio Farma di Twitter juga bisa.

Cara Menuju Museum Bio Farma

  1. Lokasinya di Jalan Pasteur, di bawah Jembatan layang Pasupati, dekat ke arah Jalan Cipaganti. 
  2. Angkot yang lewat : Lembang - St.Hall, Karang Setra - St.Hall
  3. Masuk dari pintu gerbang yang dekat Masjid Bio Farma



Nonton Film WILD, Jadi Keingetan Jalan Raya Pos

13 December 2015
Hello. Saya belum bisa posting lebih banyak lagi tentang Bandung dan kota lainnya karena pekerjaan saya menumpuk dan Nabil yang sakit. So saya cerita tentang film Hollywood yang saya baru tonton aja ya. Gak jauh lah temanya dari jalan-jalan. Dan perempuan. Saya suka kalo tokoh utamanya perempuan, karena saya juga perempuan sih :D 

Eits ntar dulu jangan tutup dulu pagenya, filmnya diambil dari kisah nyata. Kalau fakta itu masih kurang, saya kasih tahu ini. Gara-gara film ini saya kepikiran tentang Jalan Raya Pos, jalan yang terbentang dari Anyer di Barat Jawa dan Panarukan di bagian paling timur pulau Jawa. 

Lho kok bisa? Bentar mau cerita filmnya dulu. Sinopsis ceritanya bisa teman-teman baca di Wikipedia sih. Saya ceritain pendek juga deh di sini hehehehe. 

Photo Credit : http://langleyfilmbox.com/

Jalan Kaki Pagi-pagi ke Punclut

09 December 2015
Pagi yang cerah. Ditambah hari minggu. Sayang kalau cuma tidur-tiduran saja sampai siang hari. Kami sepakat untuk: JALAN-JALAN! Jalan kaki pastinya mah. Ke mana? mendaki gunung, lewati lembah. Tujuan: PUNCLUT.

Pengalaman ke Punclut hari minggu itu saya cukupkan sebagai yang pertama dan terakhir kalinya berjalan kaki ke dataran tinggi tersebut. Capek banget. Tanjakannya gak habis-habis. Kapok hahaha :D

Punclut letaknya di belakang rumah saya. Tapi terpisah beberapa bukit dan lembah. Saya berjalan kaki pukul tujuh pagi. Sampai di Punclut sekitar 2 - 3 jam kemudian. Ada anak kecil umur tiga tahun yang saya ajak sih. Saya dan Gele harus hibur dia biar mau jalan kaki terus, kadang-kadang dihibur dengan nyanyian, terpaksa istirahat, mengikuti ritme jalan kakinya Nabil yang pelan-pelan dan sering kedistraksi dengan laba-laba, rumput, sepeda, burung, kerikil :D Wadow panjang bener! Kalau udah gak kuat sih saya gantian dengan Gele buat gendong Nabil. Hosh! Melakukan itu semua sambil menapaki tanjakan: capek, Jenderal! 



Berkunjung ke Museum Preanger

07 December 2015
Saya, Gele, Nabil datang ke Hotel Grand Preanger demi masuk ke museumnya. Berhubung informasi tentang museum ini belum banyak, kami bertiga agak khawatir gak boleh masuk ke museumnya sih. Terus bayar gak nih, kalau mahal gimana :D 

Oiya, lokasi Museum Preanger ada di dalam gedung Hotel Grand Preanger. Saya bertanya ke resepsionis tentang museum ini. Dengan ramah petugas hotel menunjukkan arah museumnya. Ternyata gratis aja masuk ke museumnya. Wah legaaaa! 

Nah akhirnya bisa melihat Museum Preanger juga. Gak ribet cara masuknya seperti yang saya bayangkan. Petugas resepsionis bilang kalau museum ini boleh didatangi orang umum, gak mesti tamu yang menginap di hotelnya saja. Tidak ada biaya masuk. Tapi sebaiknya minta izin terlebih dahulu kalau ingin memotret bagian dalam museumnya. 

Terdiri dari dua ruangan, Museum Preanger mungil banget ukurannya. Semua barang ada yang terpajang merupakan koleksi pribadi museumnya. Ada foto-foto yang memperlihatkan gedung pada awal berdirinya dahulu di tahun 1920an, lengkap dengan penjelasannya. Ada juga 'artefak' seperti mesin tik, kamera, dan gramophone. Terpampang garis sejarah Hotel Grand Preanger dari tahun ke tahun. 

Walau sudah pernah baca ceritanya, tapi baru saya lihat di Museum Preanger ini kalau Charlie Chaplin dan Amelia Earhart pernah nginep di sini. Ada juga tokoh-tokoh penting lainnya yang pernah bermalam di Preanger. Gak cuma itu, Museum Preanger ini udah kayak tribute to C.P Wolff Schoemaker, arsitektur gedungnya. Karena karya dan profilnya dipajang hampir di satu ruang lainnya lagi. Dalam mengerjakan rancangan Hotel Preanger, Wolff Schoemaker dibantu oleh asistennya yang beberapa tahun kemudian menjadi presiden RI pertama: Soekarno. 

Kita bisa membeli suvenir Hotel Grand Preanger di dalam museum ini. Bisa juga jadi oleh-oleh Bandung. Karena Grand Preanger adalah satu-satunya hotel di Indonesia dan sudah jadi legenda, gak buka cabang di kota lain. Setahu saya sih gitu, boleh koreksi siapa tahu saya salah tentang hal ini :D 

Beberapa menit di dalam museumnya, saya mengobrol dengan petugas museum yang hanya satu orang itu. Dia mengatakan kalau Museum Preanger bukan untuk dimasuki umum, tapi khusus tamu hotel saja. Wah mana yang bener nih :D Resepsionis dan petugas museum mengatakan hal yang berbeda. 

Mungkin harus telepon dulu Hotel Grand Preanger-nya supaya mendapatkan kepastian boleh masuk gaknya ya ke Museum Preanger. 

Museum Preanger
Di Hotel Grand Preanger
Jl. Asia Afrika No. 81 Bandung
Tlp : 022-4231631

Buka : senin - sabtu
Jam : 11.00 - 17.00





Pengalaman Menginap di Sapu Lidi Resort Bandung

04 December 2015
Dalam rangka ulang tahun Gele, kami memutuskan menginap di Lembang, tepatnya menginap di Sapu Lidi Cafe, Resort and Gallery. Karena pesen hotelnya bukan di akhir pekan, Sapu Lidi Resort relatif lebih sepi dari tamunya. Saya dan Gele sih menyukai kondisi tersebut, sepi! Hore! :D

Hujan masih turun rintik-rintik waktu kami check-in. Kamar yang saya pilih tipenya Suite Lake View. Resepsionis hotel memberi saya kamar bernama Kacapi. 

Sebenernya saya berharap di kamar ada fasilitas bathtubnya sih. Tapi di kamar Kacapi adanya shower doang. Oleh resepsionisnya, saya dipersilakan milih barangkali mau pindah kamar yang tersedia bathtubnya. Dan setelah saya survey sebentar, saya pilih kamar Kacapi saja. Walau tidak ada bathtubnya, tapi ukuran kamar Kacapi jauh lebih luas dibanding kamar yang ada bathtubnya. 

Lagian saya suka balkon di kamar Kacapi. Cukup luas, nyaman, dan pemandangannya tepat ke arah danau dan beberapa kamar lainnya. Cantik! Strategis!

Sejujurnya interior kamar Kacapi ini agak aneh. Tapi bukan berarti gak enak dan gak nyaman yah. Cuma aneh aja tata letak meja televisi dan lemari pakaiannya. Pemilihan warna gordennya juga agak…norak. Kayaknya kalau gordennya warna krem lebih bagus deh. Tapi ya overall gak ganggu kenyamanan tidur sih :D 

Amenities yang disediakan resort ini gak banyak. Hanya sepasang sikat gigi dan pasta giginya. Tidak ada sandal hotel seperti biasa. Buat hotel dengan rate 600ribuan sebenarnya fasilitas amenities kurang banget sih. Udah gitu bantalnya ada, tapi gulingnya gak ada. Wawaaaw ini juga aneh deh. Sapu Lidi Resort, sediain guling doooong :D

Kekurangan-kekurangan tersebut ketolong dengan suasana resortnya yang alami. Ada banyak pohon, banyak tanaman. Belum lagi danaunya yang lumayan gede ukurannya. Dari balkon, kami bisa kasih makan ikan. Beuh sehat-sehat banget ikan di Sapu Lidi Resort ini ya. Dari yang terkecil sampai yang terbesar, ada semua! Lucu banget ikan-ikannya. Pada seneng hidup di danau itu, gak ada predatornya kali. 

Kami bertiga sempatkan jalan-jalan mengeliling resort. Sejuk banget di sini. Cenderung dingin sih, karena habis hujan dan sudah sore juga. Sepanjang jalan pasti ada pepohonan. Kamar-kamar tipe standardnya sama seperti kamar yang saya tempati, dominan kayu dan banyak elemen dekorasinya. 

Pas lagi asyik jalan-jalan eh ada sampan lewat. Gak banyak mikir langsung numpang perahu itu, didayung sama mamang sampannya sampai dua kali memutari danau. Suasananya yang hening dan adem selama bersampan itu gak bisa saya lupakan. Senyap banget! 

Kembali ke hotel dan memesan makan malam, hujan turun lagi. Kali ini turunnya deras banget. Agak lama sih nunggu makanan datang, pas hujan agak reda barulah makanan diantar ke kamar. Kami bertiga menyantap makanan di balkon kamar. Dingin sih, tapi gak sampai menusuk banget dinginnya. Mungkin karena kami pada dasarnya tinggal di daerah Setiabudhi yang juga dingin.

Pas bersantai di kasur, nonton televisi, channel tivinya kurang banget! Masih banyakan channel tivi unggulan di rumah saya euy. Lumayan sih ada NatGeo :D Tapi…kayaknya tambahin dikit lah channel kayak FOX Movies atau Star World. Channel buat anak-anak sih ada dan cukup. Buat orang dewasa nih yang kurang. Alhasil kami langsung tidur aja, gak ada yang bisa ditonton di televisinya hehehe.

Sebenernya gak ganggu-ganggu amat, tapi nyamuknya ada sih terbang 3-4 nyamuk gitu. Sapu Lidi Resort mesti sediain Hit Elektrik atau lilin aromatherapy lah gitu. Karena tempatnya yang dikeliling pohon dan padi jadi ya wajar ada nyamuk, tapi mesti ada usaha juga biar tamu gak keganggu dengan nyamuknya toh. 

Bangun pada waktu shubuh, sehabis sholat nunggu langit agak terang baru ke balkon. Wah kabutnya masih bisa dilihat. Segar luar biasa. Agak lama saya dan Gele duduk dan ngobrol di balkon. Menikmati kabut, menikmati udara yang sejuk. 

Terus giliran mandi, air panas di Sapu Lidi Resort bagus banget! Panaaaas :D Hahaha. Baguslah gak usah nunggu waktu lama sampai airnya panas. Kamar mandinya lumayan gede, muat kali kalau ada delapan orang masuk ke kamar mandinya sekaligus.

Makan pagi di Sapu Lidi Resort dimulai pukul 07.00 sampai jam 09.00. Keluar kamar saya, Gele, dan Nabil sempetin jalan-jalan dulu, sekalian hunting foto. Cerah sekali pagi itu, sinar mataharinya tajam dan hangat. Pas kena punggung berasa sedang dipijat. 

Pelayan restoran mempersilakan kami duduk di dalam restorannya, tapi kami milih duduk di saung aja. Makan paginya diantar ke saung, gak ada prasmanan seperti biasa karena tamu hotelnya sedikit. Begitu kata mereka. Menunya juga terbatas banget. Mie goreng tektek, nasi goreng aneka macam, Soto Bandung, dan sekitar dua menu lagi. Minumnya juga gak banyak pilihan euy. Mungkin lain kali nginep pas weekend saja biar lebih meriah menu makan paginya. 

Kami pilih menu Nasi Goreng Spesial dan Soto Bandung. Dua menu yang sangat nikmaaaat sekali rasanya. Sayang aja volumenya sedikit, perut kami masih lapar waktu beres makan. Hehehe :D

Sapu Lidi Resort semacam tempat yang cocok buat yang sedang berbulan madu atau sedang kasmaran. Bawa keluarga besar menginap di sini juga menyenangkan. Suasananya adem banget, banyak pohon, ada padi, berderet-deret tanaman hijau. Ditambah suara serangga bersahut-sahutan. Jangan kaget ya kalau ketemu serangga. Namanya juga resort yang banyak pohonnya sih, konsepnya kan kembali ke alam jadi ya ketemu serangga itu harusnya jadi hal yang emang wajar :D Jadi jangan berharap Sapu Lidi Resort adalah tempat yang steril, karena enggak :D jadi ya nikmati saja.

Sapu Lidi Resort umurnya udah lumayan tua sih, hotel lama di Bandung. Di beberapa titik butuh perawatan tambahan deh. Oiya, rate kamar Sapu Lidi Resort yang saya pesan 600ribuan. Ada kamar standard sih, cuma 500ribuan. 

Kalau diukur dengan angka 1-10 dengan angka 10 sebagai angka terbaiknya, Sapu Lidi Resort:
Hospitality : 9
Kebersihan : 8
Makanan : 7 (enak tapi porsinya dikit)
Lokasi : 9 (Jauh dari pusat kota, tapi lumayan dekat dengan pusat kota Lembang) 
Air panas : 10


Cara Menuju Sapu Lidi Resort Lembang

1. Sapu Lidi Resort bisa dicapai dari dua arah: Jl. Sersan Bajuri dan Jl. Raya Lembang. Kalau naik kendaraan pribadi gampangnya sih aktifkan GPS atau search di Google Map. Saran saya sih kalau pergi pas weekend, pilih yang via Jl. Sersan Bajuri aja biar gak kena macet panjang di Jl. Raya Lembang. 

2. Kalau naik kendaraan umum, paling gampang via Jl. Raya Lembang. Karena dari jalan raya menuju Sapu Lidi Resort-nya kan harus jalan kaki, cuma 200 meter lah. Kalau via Jl. Sersan Bajuri mah jauh banget, harus sewa Ojek.

2. Naik angkot Lembang - St.Hall di Terminal Ledeng. Turun di Pertigaan Pos Polisi Beatrix. Dilanjut naik angkot jurusan Parongpong yang warna kuning. Nanti bilang ke sopirnya minta diturunkan di Sapu Lidi Resort/Kompleks Graha Puspa.

Cara Menuju Ciletuh - Sukabumi

27 November 2015


Petunjuk arah yang saya cantumkan di sini keberangkatannya dari Bandung ya.

Kendaraan Umum
1. Naik bis jurusan Sukabumi di Terminal Leuwi Panjang. Turun di Terminal Sukabumi.
2. Lanjut naik angkot jurusan Cisaat.
3. Turun di Cisaat dan lanjut dengan menumpang Elf sampai di pertigaan desa bernama Surade (benerin ya kalau saya salah tulis nama desanya :D) , bilang ke sopirnya kamu mau ke Ciletuh. Perjalanan dari kota Sukabumi kira-kira 3 - 4 jam. Elf hanya beroperasi sampai pukul 5 sore.
4. Di pertigaan Surade, perjalanan dilanjut naik Ojek. Butuh sekitar 30 menit lagi untuk sampai di Ciletuh.


Kendaraan Pribadi
1. Aktifkan google map atau GPS. Arahkan kendaraan menuju Sukabumi. 
2. Setir kendaraan ke arah Cisaat. Nah dari sini saya gak ingat mesti ambil jalan yang mana, yang pasti sih arahnya sama dengan Ujung Genteng. Nanti di Surade kalian belok kanan. 

Oiya, untuk Wisata di Ciletuh, saran saya kontak teman-teman di PAPSI (Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi). Cek facebook PAPSI dengan klik yang ini.  Baca paket wisata di Ciletuh di sini.  Selama saya di sana, mulai dari penginapan, makan, kendaraan, air minum, sampai foto-foto dan bantuan perjalanan di medan-medna yang sulit disediakan oleh PAPSI. 

Saya gak saranin pergi pulang hari. Mendingan menginap satu atau dua malam di Ciletuh. Satu hari aja mah kurang banget euy, belum lagi durasi perjalanan ke Ciletuh yang panjang. Saya dan teman-teman ambil paket wisata yang 3D2N, tiga hari dua malam. Sekitar Rp 750.000/orang. 


Teks : Nurul Ulu

Trip to Ciletuh 4 : Memanjat Pohon di Curug Tengah

26 November 2015

Hari terakhir berada di Ciletuh yang pagi itu langitnya mendung. Jadwal hari ini mengunjungi dua curug dan satu tempat bernama Panenjoan. Lagi-lagi Land Rover jadi kendaraan pengangkut orang-orang kota Bandung ke lokasi air terjun. 

Curug Tengah. Saya menobatkan jalur jalan ke curug ini sebagai meda tersulit dan terberat. Awalnya sih cuma berjalan kaki di garis-garis pematang sawah. Panorama alamnya di sini aduh gustiiii bagusnyaaaa! Air terjunnya sudah nampak, tapi bukan penampakan air terjun itu yang kami tuju. Curug Tengah masih berada di bagian bawah dari tanah yang kami pijak. 

Sekitar 15 menit berjalan kaki di pematang sawah kami mulai menerjang turunan yang curam dan offroad alias permukaannya bertanah.

Hujan semalam membuat tanahnya kian lunak dan licin. Atas usulan PAPSI, Biofarma membantu menyediakan sarana tali tambang di sepanjang trek tersebut hanya pada satu sisi. Sambil berjalan turun, pengunjung dapat bertopang pada tali tambang tersebut. Talinya berukuran tebal dan sangat cocok untuk digunakan dalam aktivitas 'ekstrim' yang saya dan teman-teman lakukan menuju Curug Tengah. 

Awalnya sih jalurnya masih gampang aja, lama-lama kok makin curam yah :D Bagian tersulit adalah pada waktu harus memanjat/turun dari pohon. Tangan kiri saya yang pernah patah dan bengkok ini terasa nyut-nyutan. Untuk memindahkan badan dan kaki, tangan kiri saya harus bekerja lebih keras :D Alamak…senang rasanya bisa melalui itu semua dengan…anu… apa ya… dengan deg-degan, berat tapi lancar :D heuheu. 

Curug Tengah ini cantik sekali! Meski katanya hujan baru empat kali turun di Ciletuh, tapi debit airnya sudah terbilang kencang sih menurut saya mah. Apalagi nanti ya di bulan Maret dan April. Wohooo ada lagi alasan untuk kembali ke Ciletuh. 

Saya bersalaman dengan Curug Tengah. Saya juga motret. Saya juga melamun :D gak melamun ketang, mikirin banyak hal sambil ngamatin air terjunnya. Oiya kedalaman air di curug ini mencapai delapan meter. Eeewww dalam sekali…

Abis itu kami ke Curug Awang. 

Perjalanan ke Curug Awang terasa sangat ringan mengingat jalur terjal di Curug Tengah. Memang setelah kesusahan, pasti ada kemudahan ya hehehe :D

Curug Awang sama indahnya dengan semua curug yang saya kunjungi di Ciletuh. Tapi kedalamannya dong paling juara, 12 meter aja gitu. Karena ini curug terakhir yang kami datangi, jadi kami berlama-lama di pelataran curugnya. Dipuas-puasin banget lah. Motret sampai lemes! Hihihi. 

Kembali ke Landy dan berangkat ke Panenjoan. Wah ini tempatnya terrrrgampang buat diakses. Gak ribet, gak susah, cuma 30 detik dari tempat parkir hehehe. Dari sini saya bisa memandang Ciletuh dengan sudut yang berbeda dengan yang saya lihat di Puncak Darma tapi dengan objek pemandangan yang sama. Megahnya ya ampun…

Panenjoan merupakan tempat terakhir kami berwisata di Ciletuh. Padahal masih ingin menghabiskan waktu lebih banyak di sini. Tapi pekerjaan dan keluarga menanti.

Ciletuh kawasan yang kaya raya, bukan untuk ditambang sih, bukan sumber daya yang mineralnya bisa dikeruk sampai habis. Ciletuh surganya ilmu bumi. Untuk saya yang bukan peminat ilmu alam, pesona alam Ciletuh terlalu indah dan terlalu luar biasa untuk disimpan sendirian. Orang se-Indonesia harus tahu. Seluruh dunia harus tahu Ciletuh. 

Saat ini Ciletuh sedang disiapkan menjadi Geopark nasional yang diakui UNESCO di tahun 2017. Biofarrma dengan CSR-nya membantu warga di sana merintis jalan menuju pengesahan geopark tersebut. Semoga cita-cita tersebut terwujud. Indonesia punya potensi besar di bidang pariwisata, sayang kalau diabaikan.

Batu-batu purbanya yang sarat ilmu pengetahuan. Air terjunnya yang buanyak dan eksotis. Titik penglihatan yang megah dan epik seperti Puncak Darma dan Panenjoan.

Beruntung banget saya bisa mengunjungi Ciletuh. Terima kasih Biofarma dan teman-teman PAPSI.




Trip to Ciletuh 3 : Matahari Terbenam di Puncak Darma

25 November 2015
Perahu kembali membawa kami ke Ciletuh bagian-ada-peradaban. Saya masih jadi roti bakar hangus di sini. Tapi anehnya, sedang panas-panasnya, sedang haus-hausnya, sedang lapar-laparnya, saya tertidur perahu. Terbangun pun karena dipanggil teman. Lu, udah nyampe. Bangun, Lu.

Perahu merapat. Gak bisa dijelaskan betapa senangnya saya melihat warung dan segera membeli satu botol air garam yang kemasannya biru itu lho. Habis tiga kali teguk. Bisa nih balik lagi ke Pantai Cikepek :D hahahaha belagu.

Sesi yang ditunggu-tunggu tiba: makan. Sholat sudah, istirahat sudah, tiga botol minuman habis sudah. Saya dan teman-teman sudah cukup segar dan berenergi untuk menuju situs wisata berikutnya: Air Terjun Cimarinjung! 

Air terjunnya tinggi dan gak jauh dari areal parkir. Curug Cimarinjung saya nobatkan sebagai tempat wisata yang paling gampang dijangkau di Ciletuh. Gak ada halangan berarti lah pokoknya, enteng banget jalan kakinya. 

Bebatuan di sini besar-besar. Raksasa gitu ukurannya. Guedeee banget! Eksotis lah batunya. Gurat di tebing sekitar air terjunnya juga seksi banget. Rasanya seperti ada di teras sebuah Gua. Emang dulunya Ciletuh ini gimana bentuknya ya, banyak bebatuan yang unik deh. Dari yang kecil sampai yang raksasa. 

Di air terjun ini ada pintu airnya. Mungkin airnya dibelokin untuk mengairi lahan pesawahan ya soalnya di sekitar curug banyak sawah. Sepatu saya kembali basah di sini. Masa bodo lah hahaha yang penting bisa kecipratan air terjunnya dan motret dalam jarak dekat tapi aman. 

Kalau berkunjung ke air terjun saya selalu celupin entah tangan atau kaki ke dalam air terjunnya. Semacam perkenalan dengan mereka. Saya gak datang untuk motret saja. Saya juga pengen kenalan dengan air dari curug-curug itu. Agak lebay sih tapi ya ibaratnya kamu kenalan sama orang kan pasti bersalaman, nah cara saya bersalaman dengan benda kayak air terjun itu adalah mencelupkan tangan saya ke dalam airnya. Gak lebay ah. Cuma sedikit sentimentil gitu :D

Satu lagi kunjungan berikutnya sebelum menutup hari. Land Rover mengangkut kami ke Puncak Darma. "Cuma 30 menit aja, Teh," kata Akang-akang PAPSI. Dan saya cuma yang ah gampang 30 menit doang mah, deket dong. 

30 menit terlama dalam hidup saya hahahahaa :D

Jalan ke Puncak Darma offroad abis! Mending tanah datar doang gitu, ini mah berlubang lah, berbatu lah, sampai yang jembatan kayu doang ya ampun! Jalannya cuma muat satu mobil, jadi supir berkali-kali memencet klakson, siapa tahu ada kendaraan dari arah berlawanan. Saya gak bisa bayangin sih ada kendaraan lain di situ selain Landy yang kami naiki. Jalannya kayak gitu, mobil jenis apa lagi yang sanggup melintasinya selain Land Rover! Ada sih motor-motor, tapi motornya juga udah dimodifikasi.  

Tangguh banget emang Land Rover. Saya duduk di paling belakang dan masih menahan badan takut jatuh. Tiap nanjak kan gak ada ampun ya, gravitasi tetap aja menarik badan saya. Tapi saya udah capek jadi gak teriak-teriak ketakutan, malah ketawa. Teman-teman yang lain juga pada tertawa. Seru banget! 

Pemandangan laut terlihat dari kejauhan, menyembul di tengah dua bukit atau batang pohon bambu. Badan kami semua terguncang-guncang di dalam Landy, seperti sarden dalam kemasan yang dibawa lari anjing. Jalan seperti tak berujung. Lutut gemetar dan jantung saya pindah lokasinya entah di mana.

Sepanjang perjalanan berulang kali lihat pohon bambu dan tanah-tanah kosong, siapa yang menanam kebon di tempat seperti ini? 

Satu tanjakan terakhir dan hup! Sampai. Tiba-tiba tidak ada tanah yang lebih tinggi dari tanah yang kami pijak. Udara terasa lebih sejuk. Pemandangan menakjubkan. Rasanya seperti di puncak dunia. Langit berawan dengan sedikit biru di atas sana. Kami berada di Puncak Darma.

Terima kasih namanya Puncak Darma. Bukan bukit teletubbies atau nama norak lainnya. Puncak Darma adalah nama yang indah. 

Pengalaman terpanggang matahari di perjalanan pertama membuat saya sangat bahagia bisa ada di Puncak Darma. Seperti klimaksnya. Mungkin harus jadi roti bakar dulu sebelum merasakan momen rileks yang membahagiakan di ujung daratan ini. Hehe :D 

Ciletuh terlihat megah dari Puncak Darma. Lautan yang menjorok ke daratan. Dan daratan yang luas terbentang dengan perbukitan di tiap sisinya. Rumah-rumah bergerombol menandakan satu desa. Bagaikan Drone, saya bisa melepas pandangan dari satu desa ke desa yang lainnya dengan pandangan mata burung. 

Saya harus kembali ke Ciletuh tahun depan ketika musim hujan sedang sibuk-sibuknya. Pasti daratan Ciletuh lebih hijau dan lebat dari yang saya lihat sekarang. Pertunjukkan alamnya akan lebih dramatis! Kayaknya Maret dan April bisa dibilang best time buat berkunjung ke Ciletuh ya. 

Walaupun jejak kemarau masih dominan pada pemandangan yang saya lihat, saya gak bisa berhenti memotret. Tetap saja indah. Tapi saya harus berhenti moto euy. Saya harus menikmati panorama tersebut tanpa kamera. Duduk dan diam saja, melihat ujung cakrawala,dan berusaha merekam kuat-kuat momen perasaan berada Puncak Darma. Foto gak bisa merekam perasaan. 

Motret sudah, melamun sudah. Waktunya….makan! Ada dua warung bercokol (((bercokol)))) di Puncak Darma. Saya makan mie rebus di sini. Teman-teman juga menyantap sajian sederhana yang super gurih dan enak ini. Senangnya bisa makan mie rebus di tempat seindah Puncak Darma. Terima kasih, Tuhan! 

Gak tahu kebaikan macam apa yang sudah kami (kloter dua) lakukan sampai muncul satu bonus lainnya: SUNSET! Matahari. Terbenam. Matahari. Terbenam. Matahari. Terbenam. Matahari. Terbenam. Matahari terbenam di Puncak Darma. 

Hanya tinggal kami berenam yang ada di Puncak Darma. Tiba-tiba suasana terasa lebih hening. Kecuali bahwa Irfan menyetel Payung Teduh, ya untunglah bukan Koil :D 

Saking indahnya sinar matahari sore yang menyorot ke laut, saya kira bakal ada sesuatu yang turun dengan anggun di sepanjang arah cahaya tersebut. Bidadari mungkin :D Tapi gak ada, sinar matahari yang nampak lembut dan magis itu secara perlahan redup, menarik dirinya dari batas garis pantai hingga terus ke arah laut di tengah lalu menghilang. Tinggal semburatnya yang masih menggantung. Berwarna jingga.

Dan saya rasa saya melihat ayah saya di sana. Di ujung cakrawala. Kami saling memandang tapi gak bicara apa-apa. 

Saya perkirakan durasi matahari itu terbenam sebelum benar-benar tenggelam ke bumi bagian lain tidak lebih dari 10 menit. 10 menit yang melarutkan. 10 menit yang...magis.

Pertunjukan alam selesai. Waktunya pulang dan kembali mengarungi setengah jam dengan Landy ke titik pertama kami berangkat di Curug Cimarinjung. 

Sepanjang perjalanan turun dari Puncak Darma saya gak bisa gak sentimentil (lagi). Kenapa ya setiap habis menginjakan kaki di tempat yang jauh dari rumah dan ketika saya harus pergi dari tempat itu, rasanya kayak ada yang tertinggal. Saya cuma mampir gak lebih dari dua jam, bukan seumur hidup saya tinggal di situ, tapi perasaan sentimentilnya masih terkenang sampai detik saya menulis ini.


Trip to Ciletuh 2: Meloncat-loncat di Batu Naga

24 November 2015

Dua perahu berukuran sedang mendekat ke pantai. Kami menaiki perahu bermesin Honda tersebut. 1,5 jam kami habiskan berperahu di lautan menuju Pantai Cikepek untuk mengunjungi Batu Naga. Kami gak berlayar ke tengah lautan sih. Masih di pinggir-pinggir aja.

Di perjalanan berangkat ini, euforia masih memeluk kami. Teman-teman sibuk berselfie di atas perahu. Begitu juga saya. Setelah beberapa saat, kamera (ponsel) saya simpan di tas. Waktunya menikmati pemandangan tanpa layar kamera dan beberapa lainnya masih asyik berpose. 

Sepanjang perjalanan berperahu, kami melewati beberapa bebatuan yang bentuknya unik. Batu-batu purba ini rupanya ada yang mirip kodok sehingga namanya Batu Kodok. Ada juga Batu Badak, juga ada batu yang dinamakan sama dengan alat kelamin laki-laki. Tiap nama sesuai bentuknya sih :D

Berdasarkan literatur yang saya baca, batu-batu purba di Ciletuh ini termasuk yang tertua di pulau Jawa. Ada sejak 50-60 juta tahun lalu. Kami gak mendekat ke batu-batu unik tersebut, cuma bisa motret dari kejauhan. 

Pantai Cikepek yang dituju mulai nampak. Para nelayan menepikan perahunya, saya turun dari perahu dan lupa membuka sepatu. Basah deh. Tapi panas siang itu durjana kok hingga sepatu saya kering lagi. Kering dan lengket tepatnya mah.

Turun dari perahu, masih semangat. Perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki menyusuri garis pantai. Pasirnya putih dan pemandangannya indaaaah sekali! banyak kerikil batu karang dan fosil terumbu karang.

Rasanya udah jauh dari mana-mana. Kayak lagi berada di pulau gak berpenghuni. 

Matahari sudah tepat di atas kepala saat saya masih harus berjalan kaki sejauh 2 km. Menuju situs Batu Naga, sedikit tempat berteduhnya, saya bagaikan roti yang dipanggang hidup-hidup oleh matahari. Air minum sudah habis, perbekalan makanan lupa dibawa, dan topi tanpa tali yang saya pakai terbang-terbang ditiup angin pantai yang kencang. 

Tiba di Batu Naga. Sepatu yang basah saya buka dan jemur. Nyeker, saya loncat di bongkahan batu-batu. Panas gila permukaan batunya. Tapi enak juga ya nyeker, kaki saya lebih kuat mencengkram bebatuannya dibanding kalau saya pakai sepatu. Berasa kayak cicak di sini, loncat dari satu batu ke batu lainnya. Emang harus loncat karena…batunya panas banget! :D

Batu Naga adalah sebutan dari penduduk setempat. Batunya berpunduk seperti kulit naga. Ada juga yang menyebutkan Batu Batik karena motifnya seperti batik. Terinspirasi dari motif bebatuan ini, warga lokal menciptakan kain batik bermotif Batu Naga/Batu Batik. 

Saya belum sempat mencarinya di Google euy, itu kenapa batunya bisa kayak gitu ya bentuknya? kayak batik, kayak punduk naga. Aneh banget! Bukan aneh jelek sih, ini lebih ke aneh yang eksotis. Apa yang terjadi dengan bumi sampai-sampai bisa membentuk rupa batu seperti itu?

Pemandunya gak cerita asal muasal batu berdasar ilmu pengetahuan. Nanti lah saya cari di google aja. 

So, cukup lama juga kami berfoto ria di Batu Naga. Cuaca sudah puaanassssss sekali. Merasa sudah cukup melihat batu tersebut, kami beristirahat di bawah pepohonan mangrove. Sambil makan permen dan minum perbekalan air yang sudah menipis, saya berusaha ngumpulin lagi energi yang habis karena sebagian besar disedot matahari sih.

Waktunya kembali ke perahu, saya mengenakan sepatu lagi. Berjalan lagi ke perahu rasanya seperti berjalan dengan kaki terantai. Euforia jalan-jalan sirna sudah. Semua orang mukanya capek kepanasan. Kelaparan juga. Dua kilometer kembali pulang ke perahu. Panas, berat, dengan alas kaki yang hampir selalu terbenam di pasir pantai Cikepek. 

Kang Asep, pemandu kami, berjalan santai seperti tidak kepanasan, juga tidak kecapekan. Sementara orang kota seperti saya, berjalan terengah-engah. Saya bukan lagi roti panggang, saya mulai terbakar. Roti bakar. Pokoknya saya berusaha berjalan secepatnya, ingin lekas sampai di perahu dan kembali ke daratan yang ada rumah makan dan warung yang menjual minuman. 

Trip pertama di Ciletuh: 1,5 jam menumpang mobil. 1,5 jam naik perahu. Dua kilometer berjalan kaki. Semuanya kalikan dua dengan bonus dipanggang matahari. Saya bukan lagi roti bakar, saya adalah roti bakar yang hangus. Hahaha :D 

Trip to Ciletuh I : Pasir Putih di Pantai Mandrajaya

23 November 2015

Delapan jam perjalanan dari Bandung ke Sukabumi terasa begitu lama pada empat jam pertamanya. Mual. Pusing. Pengen muntah rasanya.

Setelah menyantap seporsi nasi, soto ayam, dan pepes jamur di kota Sukabumi (Restoran Bunut), sisa perjalanan dilalui dengan perasaan yang lebih enteng. Lapar rupanya saya tuh. Hehehe :D 

Ciletuh merupakan tujuan wisata yang saya datangi pada 20-22 November 2015. Bersama dengan  PT. Bio Farma, pihak yang mengajak saya dan 11 orang lainnya ke Ciletuh kabupaten Sukabumi ini, kami siap menjelajahi kawasan yang sedang disiapkan menjadi Geopark nasional tersebut.

Ohiya saya cerita dulu. Saya menang kuis yang diselenggarakan oleh Biofarma di instagram (selanjutnya saya tulis PT. Bio Farma dengan Biofarma ya). Lomba foto gitu sih. Pemenangnya ada tiga. Saya, Ayu, dan Irfan. Kami bertiga boleh bawa teman satu orang untuk ikut ke Ciletuh.

Biofarma melalui CSR-nya membina PAPSI (Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi). PAPSI ini lah yang jadi organisator wisata di kawasan Ciletuh.

Targetnya tahun 2017 kawasan Ciletuh menjadi kawasan Geopark yang diakui UNESCO (PBB). Karena apa sampe segitunya mau diakui salah satu lembaga pusakanya perserikatan bangsa-bangsa?

Karena potensi kawasan Ciletuh sangat bagus bukan hanya untuk ilmu pengetahuan tapi juga wisata alam. Pendek kata mah: Ciletuh itu daratan tertua di Pulau Jawa. 

Jumat 20 November pukul 10 malam, kami sampai di Ciletuh dan langsung bertemu dengan beberapa teman yang akan menjadi pendamping perjalanan kami di Ciletuh, ya teman-teman dari PAPSI.

Udara malam itu di Ciletuh terasa sangat sejuk. Mungkin karena habis hujan. Saya membayangkan cuacanya jauh lebih panas, seperti di Cirebon lah, ternyata jauh lebih segar tuh. Efek terkurung delapan jam di dalam mobil kali ya :D

Kami menginap di homestay, penginapan  yang juga rumah penduduk. Wow homestay, pikir saya saat itu. Ini di Yogyakarta atau di Nepal nih? :D Wah serius juga sampai mereka menyiapkan homestay segala.

Peserta perempuan tidur di rumah Ibu Marsonah. Peserta laki-laki entah di rumah siapa. Malam itu saya sulit tidur, mungkin karena jatah tidurnya sudah habis sebab hampir empat jam perjalanan menuju Ciletuh dari Kota Sukabumi saya tertidur pulas seperti kebo. 

Homestay yang saya inapi adalah rumah yang bersih dan resik. Menunjukkan karakter pemiliknya yang apik. Ekspektasi kedua yang gak saya perkirakaan sebelumnya, yaitu rumah yang nyaman dan kamar mandi yang bersih. Kalimat berikut ini terbaca klise tapi emang benar adanya : rasanya seperti menginap di rumah sendiri.



Di Pantai Mandrajaya

Sabtu 21 November 2015. Pagi-pagi nongkrong di bagian belakang rumah Ibu Marsonah sambil menyantap makan pagi. Aduhai senangnya tinggal di Ciletuh. Duduk melamun melihat pekarangan yang masih banyak pohonnya. Kalau saya harus tinggal di Ciletuh, saya pilih ngontrak di rumah Ibu Marsonah saja. Hehehe :D

Hari sabtu ini jadwalnya melihat Batu Batik/Batu Naga di Pantai Cikepek. Kami terbagi dalam dua kloter. Satu tim diboyong dengan mobil Avanza modifikasi. Satu tim lainnya diangkut mobil Land Rover. Saya pilih Avanza karena ada 1,5 jam perjalanan dari markas PAPSI menuju pantai terdekat, belum mau badan saya masuk angin hahaha :D 

Kemarau masih menancapkan taringnya kuat-kuat di Ciletuh. Pepohonan masih banyak yang kering. Areal pesawahan kondisinya kerontang seperti lahan yang diabaikan berbulan-bulan lamanya. Pemandangan tanah coklat dan gersang mulai membosankan. 

Tapi di beberapa titik pepohonan sudah mulai menghijau. Daun-daunnya sehat. Ada Cebreng, Jabon, Jati, Kelapa Sadap, juga Kelapa Sawit. Hebat ya saya tahu namanya, lha pemandunya yang ngasitahu dan saya mencatat. Ehehe.

Pohon Mangga lebih banyak lagi di sini.  Baru tahu nih, buah mangga dijagokan jadi salah satu komoditi utama Ciletuh. Sayangnya kalau masa panen, harga mangga perkilogram jadi murah banget. Petani/pemilik (pohon mangga) yang rugi sih. Ibu Marsonah cerita harganya bisa sampai Rp 2.000 perkilogram kalau sedang panen. Ya ampun kemurahan itu mah!

Kenapa bisa gitu ya, saya kok gak nemu masalah kayak gitu di Indramayu yang juga menjadikan buah mangga jadi jagoan.

Anyway, mobil terus melaju, kadang ngebut kadang perlahan. Disesuaikan jalannya karena ada yang kondisi jalannya beraspal mulus, ada juga jalanan tanah berlubang. Ada tanjakan dan ada jalan yang menurun meski tidak curam. 

Sampai di Pantai Mandrajaya. Sinar matahari seperti sudah tepat di atas kepala. Padahal waktu masih menunjukkan jam setengah sebelas siang. Perut saya mulai lapar lagi. Tapi pemandangan pantai berpasir putih dan sepi orang ini lebih menggiurkan daripada acuh pada perut yang keroncongan.

Kami semua terpesona pemandangan pantai Mandrajaya dan mulai sibuk merekamnya dengan semua gawai yang berlensa.


homestay saya nginep nih

Berkunjung ke Dago Dairy

19 November 2015
Selasa 17 November 2015. Di hari dan tanggal tersebut saya melihat sisi Bandung yang baru. Berlokasi di desa Buniwangi, sekitar 20 menit saja berkendara motor dari Terminal Dago, kami berempat sampai di sebuah peternakan sapi perah: Dago Dairy.

Buniwangi memberikan sambutan pertamanya kepada saya, Gele, Nabil, dan Unis. Yaitu jalan yang menanjak seperti tak ada putusnya. Motor yang kami tumpangi harus berjuang keras untuk sampai ke Dago Dairy. Pepohonan di sini masih lumayan jumlahnya, tapi vila-vila juga bermunculan seperti Bekicot di musim hujan. 

Seperti melintas dari satu bukit ke bukit lainnya, perjalanan menuju Dago Dairy makin menegangkan sekaligus menakjubkan. Mungkin karena saya takut ketinggian ya, jadi kalau lihat jurang di beberapa tepi jalan, rasanya ngilu banget. Jantung seperti merosot sampai ke perut waktu motor tancap gas kuat-kuat menerjang tanjakan :D

Tapi pemandangannya waduh baguuus! Sayang aja sih banyak lahan hutan yang berubah jadi kebon. Tapi ya overall panorama alamnya indah. Beberapa bulan ke depan bakal lebih syahdu lagi deh perbukitannya karena musim hujan. Pepohonannya bakal lebih lebat, hijau, dan sehat.

Sampai di Dago Dairy, udaranya dingin dan sejuk khas pegunungan. Langit mulai berawan, bersiap kapan saja menumpahkan air hujannya. Saking segar dan nyamannya udara di Buniwangi, langsung lupa dengan jalanan berbatu dan tanah liat sesudah jalan beraspalnya habis tadi. Meski hujan sudah berlangsung hampir tiap hari selama tiga minggu ini di Bandung, sisa kemarau masih terlihat. Pepohonan yang meranggas dan rerumputan yang baru menghijau. Sekering apa ya daerah ini di musim kering kemarin. Tanya saya dalam hati. 

Dago Dairy pukul sembilan pagi, masih tampak sepi. Ke mana nih orang-orangnya? tanya saya ke Gele. Ke belakang aja, orangnya di dalem rumah kali, kata Gele. 

Eh benar saja, kesibukan terjadi di kandang sapi. Mark, orang yang mengundang kami ke peternakannya itu, sedang asyik menggobrol dengan seorang pegawai. Sapi-sapi sedang asyik makan rumput. Saya masuk ke area kandang hendak menyapa Mark. Lalu di dekat saya berdiri, seekor sapi, kencing dan airnya mengalir seperti air terjun. Byuuuuurrrr! Hahahaha :D 

Kami dan Mark berkenalan, saling bersalaman. Selama ini hanya bertemu di ruang Instagram. Sejak bulan Maret Mark mengundang kami datang mengunjungi Dago Dairy, baru di penghujung tahun ini kami menunaikan janji. 

Mark langsung nyerocos cerita tentang peternakannya. Jam berapa sapi-sapinya makan, mulai usaha tahun berapa, sempat berjualan sapi potong, pengen fokus ke bisnis sapi perah, sampai jenis rumput yang dijadikan makanan buat sapinya. Banyak banget yang Mark yang ceritain! 

Sapi perahnya ada banyak, sekitar 20 ekor deh kalau gak salah. Belum lagi yang sapi kecil-kecilnya. Sapi perahnya Mark ukuran badannya besar banget! bahkan lebih besar dari Mark yang tubuhnya paling bongsor diantara kami semua. Para sapi di sini nampaknya sehat dan bahagia. Sebahagia Mark membagi ceritanya beternak sapi pada kami. 

Mark juga memelihara ayam. Ayam-ayam asyik menunduk mencari makan dengan bebas. Kayaknya ayam sama bahagianya dengan para sapi. Mereka pun serupa gendutnya. Ayamnya bebas berkeliaran, kalau malam sih kayaknya masuk kandang. 

Di depan peternakan Mark ada sebidang tanah yang kata pria asal Australia ini sih hutan. Terus dia ajak kami ke hutan itu. Mark gak cuma fasih cerita tentang peternakan saja ternyata. Di hutan dia ngomongin tumbuhan dan pepohonan. "Jangan makan Kaliandra putih, rasanya pahit sekali," kata Mark dengan muka mengernyit menandakan mimik muka seperti habis minum jamu pahit. Mark juga tahu jadwal binatang yang sering berkunjung ke pepohonan di sekitar peternakannya. "Lihat lihat, itu Tupai! Tuh lihat tuh Tupainya lagi pindah ke pohon lain," semangat banget nunjukin Tupainya. "Pokoknya kalau ada pohon bergerak-gerak, pasti sedang ada binatang di situ," kata Mark lagi. 

Orangnya antusias banget cerita segala macam deh. Gak berhenti ngomong kecuali kalau saya atau Gele bertanya. Hihihi :D 

Lalu berikutnya Mark ajak kami melihat ladang rumputnya di tanah yang gak jauh dari peternakannya. Menurut Mark, rumput lokal nutrisinya sangat kurang untuk memenuhi gizi sapi-sapinya. "Rumput lokal cepat tumbuhnya, tapi kurang nutrisinya," tutur Mark. Makanya dia menanam sendiri Rumput Brazil yang kandungan gizinya lebih banyak dibanding rumput lokal, terutama Proteinnya. Warna rumput Brazil lebih hijau sih ya. Lebih cerah.

Mark meminta Gele memotretnya dengan rumput Brazil. Saya pikir dia bakal ambil posisi jongkok waktu difoto. Ternyata dia…tiduran :D ambil posisi hampir setara dengan rumputnya. Kayaknya Mark sayang banget ya dengan semua yang ada di peternakannya. Ya sapinya, ya ayam-ayamnya, ya rumputnya. 

Mark sudah merasa cukup mengajak kami tur di peternakannya, kami beranjak ke bagian meja dan bangku kayu. Istirahat, meminum susu dan yoghurt stroberi yang Mark sudah siapkan. Hmmm susunya segar banget! Enaaak! Rasanya sapi banget dan teksturnya sedikit encer, tidak sekental susu UHT atau susu murni pada umumnya. Saya memanaskan air susunya di suhu 63 celcius selama 30 menit, jadi rasa originalnya gak rusak. Kira-kira dia ngomongnya gitu. 

Produk Dago Dairy dapat dibeli di beberapa supermarket di Bandung, diantaranya di Yogya Riau Junction. Mark dan Yanti istrinya juga memasarkan Dago Dairy ke hotel-hotel di Bandung. Produksi mereka saat ini perharinya 300 liter. 

Kunjungan yang menyenangkan di Dago Dairy. Sayang kami harus cepat pulang karena langit makin kelam pertanda akan turun hujan. Belum sempat mengambil banyak foto. Pada waktu keasyikan ngobrol jadi pas sadar harus pulang karena hujan keburu datang. 

Sebelum kembail ke rumah, Mark membekali kami dengan susu Dago Dairy. Pamit pada Mark, kami pulang kehujanan. Wangi tanah Buniwangi menyeruak, udara makin terasa dingin. Kami berempat kehujanan di gunung karena memutuskan berjalan kaki sepanjang 500 meter di jalur offroad. Kami tidak keberatan basah-basahan. Rasanya…segar luar biasa. Tidak ada wangi tanah sesegar ini kecuali di gunung, tidak ada hujan sesehat ini kecuali di gunung.

Anyway, kalau teman-teman tertarik mengunjungi Dago Dairy kontak ke yanti@dagodairy.com. Gak bisa datang mendadak ya, kontak dulu mereka beberapa hari sebelum rencana kedatangan kalian.

Anyway lagi, Dago Dairy bukan tempat wisata yang dirancang untuk turis. Jadi ekspektasi 'kenyamanan ala turis' jangan dibawa ke sini. Ini mah peternakan 'alami'. Tempat parkir seadanya, malah kalo kendaraan gak bisa naik sampai ke pelataran Dago Dairy, kalian harus jalan kaki 500 meter menanjak lah. Buat saya sih seru-seru aja, seneng malahan :D

Oiya, kalau ke Dago Dairy gunakan sepatu ya, pake sandal mah repot euy, kecuali sandal gunung!

Dago Dairy
Buniwangi Wetan Desa Mekarwangi Lembang 40391
yanti@dagodairy.com

Facebook: Dago Dairy
Instagram : @dago_dairy
Website : http://www.dagodairy.com/


Petunjuk Arah ke Dago Diary

1. Naiklah kendaraan umum. Naik angkot sampai terminal Dago. Lalu lanjut dengan naik Ojek, umumnya mereka tahu lokasi Dago Diary. Tarifnya kalau sampai jalan beraspal saja 15.000. Kalau sampai tepat di muka Dago Dairy 30.000.

2. Naik kendaraan pribadi: masuk ke Jl. Dago Giri - Buniwangi (Dalemwangi) - dan cari di google map :D Kontak Yanti aja, saya diberi peta petunjuk jalannya sampai ke Dago Dairy. 


Petunjuk Arah ke Surabi Cihapit

14 November 2015
Kalau saya selalu datang dari arah jalan Riau. Buka Google Mapnya, cari Jalan Riau. Cari perempatan jalan Riau - jalan Cihapit - jalan Citarum. Lokasi lapak surabinya gak jauh dari Jalan Riau. Kira-kira 100 meter aja. 



Gak ada angkot yang lewat ke Jalan Cihapit. Semua angkot lewatnya ke Jalan Riau. Jadi naik angkotnya : Margahayu - Ledeng. Atau naiklah Gojek :D 





Foto : Indragele
Teks : Ulu

Surabi Oncom Terenak di Bandung Ada di Jalan Cihapit

Ke Bandung terus jajan Surabi Keju atau yang coklat? Yaaah justru kalau menurut saya sih harusnya jajan Surabi Oncom. Keju dan coklat sih banyak tersedia di minimarket dan supermarket. Kamu udah tau rasanya kayak gimana.  Tapi oncom? Susah dapetin oncom yang enak. 

Surabi Oncom tuh udah yang paling orisinil dan Bandung banget! Jadi saya saranin sih Surabi Keju atau yang rasanya 'ngota' gitu mah piilhan kedua aja. Buruan pertamanya: SURABI ONCOM! 

Oncom tuh cara bikinnya sama kayak Tempe. Melalui proses peragian dan dibantu bakteri. Kalau tempe bahan utamanya kacang kedelai, kalau Oncom bahan utamanya kacang tanah. Kadang-kadang dicampur dengan ampas kelapa juga sih.


Oncom yang enak itu tergantung dari kualitas kacang tanahnya. Juga kualitas air yang digunakan selama proses pembuatan oncom. Oncom dari daerah pegunungan relatif lebih empuk dan enak dibanding Oncom dari daerah dataran rendah. Kayak di Cirebon, ada yang namanya Dage. Sama aja kayak Oncom, cuma sepengalaman saya, Dage rasanya gak selezat Oncom. 

Makanya Oncom Bandung itu lumayan terkenal. Tapi gak semua tempat yang jualan Oncom itu kualitas Oncomnya bagus. Keluarga saya aja kalau beli Oncom pasti di Pasar Anyar, dekat Tegalega. Penjualnya pun itu-itu saja sejak ibu masih muda. Udah langganan. Oncomnya kualitas oke. Lembut, kenyal, dan gak ada kerikilnya. 


Surabi Oncom yang enak di Bandung adanya di Jalan Cihapit. Saya belum nemu surabi oncom yang lebih enak dari Surabi Cihapit. Tiap kali makan Surabi Oncom di sana, saya meleleh. Abisnya enak banget. Banyak street food di Bandung yang jenis makanannya sesuai denga hawa Bandung yang dingin. Surabi Cihapit ini salah satunya. 

Rekomendasi saya kalau kalian ke Bandung dan pengen makanan yang khas banget rasanya, khas Bandung, ya pergilah ke Surabi Cihapit ini.

Surabi Cihapit
Jalan Cihapit di depan Toko Djitu

Buka setiap hari : 06.00 - 12.00 terus dilanjut buka lagi jam 14.00 - 21.00

Surabi Oncom 2.000
Surabi Kinca 2.000
Surabi Keju 5.000











Teks : Nurul Ulu
Foto : Indragele