Cerita Dari Gedung Naskah

September 16, 2019
Pagi-pagi di Gedung Naskah. Di kaki Gunung Ciremai. Di Kuningan. Bersama Unang, teman yang dulu saya kenal di Sahabat Kota. 

Ada beberapa tempat yang kami datangi di Kuningan. Namun, saya ceritain satu dulu ya.

Highlight perjalanan saya di Kuningan, inilah tempatnya. Museum Perundingan Linggarjati. Atau Gedung Naskah. Museumnya sudah buka sejak pukul 8 pagi. Tiketnya Rp2.000.

Tempat ini ada di travel wishlist sejak saya baca biografinya Sjahrir. Ya, si Bung Kecil itu!





Perundingan Linggarjati, Buat Apa? Mengapa?

Di bangunan bergaya kolonial inilah berlangsung perundingan resmi pertama Indonesia dengan Belanda setelah proklamasi. Eh? Kan kita udah merdeka, ngapain berunding segala? 

Kita udah merdeka memang. Kata siapa? Kata kita sendiri. Gak apa-apa ngaku-ngaku merdeka? Gak apa-apa. Akan tetapi begini lho.

Dunia belum kenal kita. Gak ada yang tahu negara kita namanya Indonesia. Dunia taunya kita ini Hindia Belanda, koloninya negara Belanda yang sedang dicaplok Jepang. 

Ditambah fakta, mana maulah Belanda lihat kita merdeka.

Setelah 17 Agustus 1945 itu, Belanda gak terima kemerdekaan kita. Kan waktu itu Jepang kalah di Perang Dunia II, tersingkirlah dari Indonesia.

Terus Belanda datang lagi ke Indonesia. Angkat senjata, mereka melancarkan agresi militer. Gak bisa kamu merdeka, kamu kan koloni saya. Gitu meureun kalo Belanda bisa ngomong. Hehe. 

Bandung kena tuh agresi militernya Belanda. Pasti tahu kan peristiwa Bandung Lautan Api? Saya pernah nulis tentang peristiwa tersebut. Link di sini.

Kita melawan Belanda lagi. Dengan senjata juga. Jendral Soedirman, Bung Tomo, Tan Malaka. Pokoknya kita gak mau balik lagi jadi budak-budak Belanda! Soedirman bilang gini: lebih baik di (bom) atom daripada tidak merdeka seratus persen! 

Etapi apa iya kita harus ambil cara itu terus-terusan? Angkat senjata dan secara frontal berperang dengan Belanda dan sekutunya? 

Enggak. Ada cara lain. Yaitu cari pengakuan kemerdekaan Indonesia dari kancah internasional. Berdiplomasi.

Hatta dan Sjahrir adalah otak-otak dibalik diplomasi Indonesia ke dunia. 


Diplomasi Sjahrir, Mundur untuk Loncat! 

Jadi, setelah proklamasi itu pahlawan-pahlawan kita berbagi tugas. 

Pertama, ada yang melawan Belanda dengan senjata. Soedirman contohnya. 

Kedua, ada yang melawan dengan diplomasi. Sjahrir orangnya. 

Ketiga, ada yang nonstop menggelorakan kemerdekaan. Siapa lagi kalo bukan Sukarno. 

Jangan abaikan juga peran Tan Malaka yang perjuangannya dari balik layar.

Di sini nih, di Gedung Naskah yang dulunya vila bekas hotel perundingan berlangsung empat hari. November 1946. Sjahrir otak di balik terjadinya perundingan ini. 

Ingat gak pelajaran sejarah di sekolah dulu? Perundingan Linggarjati dianggap nguntungin Belanda aja. Kita kalah.

Sjahrir diece-ece gagal. Tapi apa iya dia gagal? 

Hasil perundingannya gini: wilayah Indonesia secara de facto hanya Jawa dan Sumatera, Belanda mengakuinya. Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat yang tergabung dalam Uni Indonesia Belanda. 

Namun gak banyak yang tahu, bahwa dalam hasil perundingan Linggarjati, Sjahrir dengan cerdiknya mengusulkan satu pasal yang jadi batu loncatan. Pijakan  yang membawa kita ke kancah internasional. 

Kayak main catur, langkah Sjahrir dalam perjalanan politik kelihatannya hati-hati, sabar, cerdik, dan tentu saja elegan.

Emang bunyi pasalnya gimana?

Sjahrir mengajukan pasal perundingan di tingkat PBB apabila  terjadi perselisihan lagi. Belanda nurut. Mereka udah kesenengan merasa menang. Gak sadar, ia masuk jebakan Sjahrir. 

Sjahrir tahu, usai perundingan, kita gak akan berhenti melawan. Soedirman dan simpul-simpul perjuangan terus bergerak. Gak mau ditindas. Belanda ya sudah pasti nyerang terus.

Hasilnya? Tahun 1947 Belanda melancarkan agresi militer. Yak perselisihan!

Prediksi Sjahrir terjadi. Belanda masuk 'perangkap' Sjahrir. Dilaporin lah Belanda ke PBB. "Nih mantan penguasa koloni kami  -Belanda- menindas kami nih!"

Dueng! Belanda baru nyadar taktik Sjahjrir. Sjahrir membuat dunia internasional melek bahwa ada negara namanya Indonesia, sudah merdeka, tapi masih ditindas mantan(penguasa koloni)nya. 

Di tingkat PBB itulah kita berunding lagi. Sjahrir memanfaatkan momentum tersebut. Sambil berunding, sambil juga ia berjejaring dengan berbagai negara. Mencari simpati. 

Lantas Belanda terbukti melanggar perjanjian. Akhirnya Belanda harus menuntaskan persengketaan atas wilayah Indonesia di sidang Internasional di PBB. Ya, sambil... ditonton...dunia…

Akhir perundingannya gini. PBB mengakui eksistensi RI dan menyebut nama “Indonesia”, bukan “Netherlands Indies” atau “Hindia Belanda” dalam setiap keputusan resminya. 

Perundingan berlanjut di Konferensi Meja Bundar di Hague Belanda. Kali itu, Hatta yang jadi peluru menghabisi Belanda di meja perundingan. 




Museum dan Artefak

Itu ya, cerita yang saya kasih lihat tadilah yang saya harap ada di Gedung Naskah. Tapi gak ada. 

Museum ini membosankan setengah mati. Artefaknya aja yang dipajang. Konteksnya enggak. Bahkan Sjahrir gak kelihatan penting di sini.

Ada foto, tanggal, tahun, nama, hasil perundingan. Namun menurut saya gak cukup museum hanya menyajikan info apa dan siapa. 

Tidak ada keterangan mengapa dan bagaimana. Mengapa perundingan harus berlangsung. Bagaimana perundingan berjalan. Apa efeknya bagi kemerdekaan kita. Mengapa masih ada perundingan setelah Linggarjati. Blablablabla….

Cerita yang saya perlihatkan di atas pun hanya cuplikan saja. Teman-teman mesti baca sendiri kronologisnya. Termasuk taktik Sjahrir mengirim hampir setengah juta ton beras ke India. Itu ada hubungannya dengan diplomasi mencari kedaulatan. Dan menaklukan boncengannya Belanda, yaitu Inggris.

Saat saya membaca kisah yang saya paparkan ulang ini, kok saya jadi lebih ngerti ya. Tanggal dan tahun gak lagi angka-angka sekedar hapalan. Nama Sjahrir saja buat saya gak lagi sama. Ia terbaca begitu…keren!


Mungkin gitu bagusnya pendekatan belajar ya. Dengan pendekatan bercerita. Terima kasih banyak buku-buku biografi. Hahaha. Harusnya buku sekolahan tuh buku biografi ajalah. Jadi gak kaku. 


Bangunan Museumnya sih Cakep! Banget!

Terpisah dari konten sejarahnya, bangunan Gedung Naskah ini cuakeepppp banget! Pintu jendela dicat hijau. Dindingnya putih. Ala kolonial. 

Dahulunya ini bangunan hotel namanya Rustoord. Tahun 1935. Pernah jadi markas belanda, pernah jadi sekolahan. Juga pernah...terbengkalai. 

Tahun 1976, gedungnya direstorasi. Lantas jadi museum. Hingga sekarang. 

Bila ke Kuningan, saya rekomendasikan Gedung Naskah. Bukan untuk berfoto saja, tapi untuk menyadari ini lokasi legendaris. Dan tentang Sjahrir, baca-baca dulu tentangnya sebelum ke museum ini. Dialah orang yang membuka jalan pengakuan kedaulatan Indonesia dari dunia. Ya, dari kaki gunung Ciremai ini mulanya. 







Menteri Sosial RI yang pertama, orang yang mengusulkan lokasi perundingan di Linggarjati


Unang yang sedang merintis sekolah dasar di Kuningan bernama Linimasa




Post Comment
Post a Comment