Social Media

Image Slider

Membaca Gadis Minimarket

March 27, 2022

Beberapa hari lalu saya menamatkan novel berjudul Gadis Minimarket. Novel ini membuat saya bersyukur dengan diri saya sendiri yang gak mau mencampuri hidup orang lain. Mengapa? 


Novel Gadis Minimarket


Tokoh utama dalam novel ini namanya Keiko. Hingga usianya 36 tahun dia bekerja di minimarket. Ia tidak berpikir akan bekerja di tempat lain. Tidak mau sih, tepatnya. Keiko juga tidak kepikiran untuk berpacaran, menikah dan bahkan tidak juga ingin berkeluarga. 


Menurut orang-orang di sekelilingnya hal tersebut tidaklah normal. Keiko lalu mencoba hidup normal macam adik dan teman-temannya. Tapi jadinya aneh banget. Gimana ya, bayangin aja harus melakukan sesuatu yang gak kita inginkan itu bagaimana rasanya. 


Keiko bahkan melamar kerja di tempat lain, sementara di dalam hatinya ia sangat mencintai pekerjaannya sebagai kasir dan wiraniaga di minimarket. Namun kayaknya hidup yang normal itu hidup yang ada pencapaiannya kali yah, sehingga bekerja sebagai wiraniaga di usia 36 tahun terlihat menyedihkan bagi banyak orang. Sementara Keiko yang menjalaninya malah bahagia banget.


Dan pencapaian yang lumrah itu adalah menikah, punya anak, bekerja naik jabatan/status. Keiko tidak menghendaki itu semua dalam hidupnya. 


Novel ini tipis aja hanya 159 halaman. Keiko, menurut saya, karakternya cukup 'gering'. Absurd. Walo begitu keabsurdan dia ya untuk dia aja dan gak jadi masalah untuk orang lain. Hidupnya lempeng aja sampai dia harus menjalani kenormalan-kenormalan itu dan masalah bermunculan. 


Udah kebayang sih ini mah novel yang isinya protes penulis, Sayaka Murata, terhadap nilai hidup-normal seperti: bekerja di tempat yang layak (?), menikah, punya anak. 


Menarik novelnya. Bisa jadi kado buat orang-orang yang sibuk mencampuri hidup orang lain aja.


Saya beli novelnya di toko buku Togamas Supratman. 

Makan Siang di Kumari, Dalam Rangka

Pernah kan kamu juga mengalami hari-hari aneh. Hari itu saya ngalamin double attack: kesal dan sedih. Makanan, bagaimanapun juga, adalah pelarian dari masalah-masalah yang tidak bisa kita selesaikan langsung. Begitu ceritanya saya hinggap di Kumari yang dari luarnya saja terlihat mahal ini. Saya pikir saat itu gilaaaa saya kesel banget sekaligus pengen nangis! Okelah makan-makan mewah sekali aja gak apa-apa!

 

review kumari bake and brew bandung

 

Pergilah saya makan siang di Kumari Bake & Brew.

Kumari berada di markas besarnya anak-anak UNPAD. Di Jl Bagus Rangin. Ini tahun 2022, mungkin gak tepat lagi menyebut kawasan ini sebagai markasnya mereka. Secara kampus-kampus lain juga berada di episentrum kegaulan muda mudi bandung ini. Ada Unikom, belon lagi ITB. Namun entahlah saya ingatnya UNPAD mulu kalo masalah gaul-gaulan dan nongkrong-nongkrongan tuh! anak lama emang!

Kembali ke Kumari yang wow ternyata ramai pengunjung, bahkan itu bukan harinya akhir pekan. Saya memilih tempat duduk yang sering saya lihat di instagram. Oke ini dia, ini meja instagram!

 

Seorang wiraniaga cekatan menghampiri dan memandu saya memilih menu yang tersaji online. 

 

review kumari bake and brew bandung


Oke baik. Sat set sat set saya memilih dua menu makanan dan satu minuman. Di meja kasir saat hendak membayar, teteh kasir yang sangat manis dan nyeni itu berkata. Apakah dessertnya mau sekalian dihidangkan sekaligus dengan main coursenya?

Oke boleh, kubilang. Ia lanjut mengatakan kalo jam makan siang di Kumari selalu penuh. Beberapa menu bisa sold out di waktu tersebut jadi bagus juga kalo saya ngecup duluan. Gitu katanya.

Oke baik, kubilang. Wah tempat dengan menu-menu yang tidak murah begini banyak pembelinya? di hari kerja? mengapa lahan bisnis orang lain selalu terlihat lebih moncer di mataku ya.

Ini dia menu makanan saya yang semuanya cantik-cantik. Mantes sama harganya. Piring, gelas, plating, semuanya cakep dan impresif. 

 

Makan siang saya hari ini berdua dengan adik di Kumari. Udah lama mau makan di sini, kata temen sih harganya lumayan. Lumayan mahal. Jadi ya saya mikir dulu nih rada lamaan. Hehehe apa sih.


Spageti yang saya lupa nama lengkapnya
Strawberry Cheesecake
Berry Breeze yang kurang banyak

Selalu deh masalahnya di kafe-kafe ini minumnya dalam porsi kecil. Sementara rasa ingin minumku masih banyak. Kalo makanannya paslah porsinya. 


Anw, all is well alias enak semua di sini, paling gak menu yang saya pilh. Gak ada komplen. Semuanya oke. Bukan yang terbaik rasanya but oke.

Adik saya memesan dessert dan kopi. Katanya biasa aja makanannya bukan yang enak banget sih.

Sepadan harganya? iya. Oke. Ditotal-total habisnya sekitar 300+++

 

review kumari bake and brew bandung


Saya agaknya akan eksplor tempat makan lain di Bandung dan sulit kembali lagi ke Kumari. Bila saya makan lagi di Kumari itu karena saya ingin traktir ibu, sepertinya.

 

Walo begitu ini kafe yang menurut saya cocoknya buat yang muda-muda. Atau dewasa muda lah macam saya. Bangku yang saya duduki di sana tidak nyaman. Saya tidak menyukainya bangkunya, ibuku pun pasti sama. Namun adik saya mengatakan hal yang berbeda. Mungkin karena dia lebih muda? entahlah wkwk.


Oke baik. Cerita makan-makan yang ringkas dan agaknya tidak berguna ini saya sudahi dulu. Perasaan kesal dan sedih yang saya bahas di atas itu gak hilang, tapi ada perasaan membaik dan sedikit lega sehabis makan siang di Kumari. Makasih ya, Kumari!