Image Slider

Jasa Ekspedisi Murah, Ninja Xpress Solusinya

November 25, 2019
Sudah berapa paket yang Anda terima bulan ini? November ini saya berbelanja online sebanyak tiga kali. Senang rasanya. Memang tidak ada suara paling merdu selain suara kurir mengantarkan barang kiriman, berbunyi “Paket! Paket!”

Belanja tidak pernah semudah zaman sekarang. Bagian sulitnya hanya bekerja mencari uang. Memang belanja online menambah beban biaya pengiriman. Namun saya kira itu sepadan. Daripada harus keluar rumah dan bermacet-macetan. Kan keluar ongkos juga. Belanja online menurut saya sangatlah menghemat waktu dan irit tenaga.

photo credit: pinterest

Oleh karenanya mencari jasa pengiriman barang yang ongkosnya murah adalah tantangan tersendiri. Umumnya toko online sudah bekerja sama dengan jasa ekspedisi.

Bukan saja toko online yang berdiri sendiri, e-commerce di Indonesia saat ini bekerja sama dengan jasa ekspedisi murah di Indonesia. Salah satunya Ninja Xpress.

Ninja Xpress jasa ekspedisi murah untuk bisnis online

Toko Idekuhandmade di Tokopedia misalnya. Barang-barang DIY yang mereka tawarkan sangatlah menarik. Ada tas, dompet, tas tissue, strap kamera, totebag, dan masih banyak lagi. Meski memiliki akun di instagram, banyak toko online yang bergabung dengan e-commerce sehingga transaksi penjualan di lakukan di sana.

Beragam toko online khusus fesyen hijab dan outer di shopee, salah satunya Ghanimi yang aktif di akun instagram, menjual produknya di e-commerce. Walaupun demikian, layanan pembelian melalui chat ke nomor ponsel juga mereka layani.

Sudah terbayang kan apa saja beragam barang yang ada di marketplace. Dari produk fesyen, alat elektronik, makanan, boneka, alat pertukangan, furnitur, sampai yang aneh sekalipun ada semua. Kesemuanya membutuhkan jasa ekspedisi.

Memangnya apa saja kriteria mencari ekspedisi bagi pebisnis online?

Ongkos kirim terjangkau

Sebagai pembeli, saya ingin ongkos seminimal mungkin. Dengan demikian, uang yang keluar tidak terlalu banyak. Biaya kirim Ninja Xpress termasuk murah untuk hitungan jasa ekspedisi di Indonesia.

Kemudahan cek tarif tanpa telpon ekspedisinya juga penting. Biasanya tarif pengiriman tercantum website. Ada juga yang mencantumkan di media sosial. Dan aplikasi. Selama memudahkan pengguna mengakses informasinya, selama itu juga jasanya terpakai.

Jangkauan Pengiriman

Tidak usah saya jelaskan seberapa luas wilayah di Indonesia. Namun terbayang kan makin luas jangkauan pengiriman makin besar pendapatan sebuah toko online. Pembelinya banyak. Bisa melayani pengiriman ke mana saja.

Sebab itulah jasa ekspedisi murah banyak pula dicari. Murah tapi bisa mengjangkau berbagai wilayah Indonesia tentulah sangat menolong perkembangan bisnis online.

Paket Pengiriman Beragam

Ada pelanggan yang rela bayar lebih agar paketnya lekas sampai. Ada pula yang santai-santai saja, tidak keberatan bila waktu pengiriman paket lebih dari tiga hari. Beragam jenis ongkos pengiriman memungkinkan pelanggan memilih tarif ongkos kirim mana yang cocok dengan dompetnya, jenis barangnya, dan urgensi kita terhadap paket tersebut.

Termasuk paket-paket berisi untuk barang penting. Seperti dokumen, perhiasan, atau barang pecah belah. Untuk mengirimkan barang yang termasuk kategori luar biasa, tentulah adalah tarif lebih besar. Ada harga ada rupa.

Tracking Paket

Paket salah kirim jarang terjadi. Namun bila hal tidak menyenangkan itu menimpa Anda, pastilah no resi paket jadi kuncinya. Menelusuri keberadaan paket dari no resi sangat membantu pelanggan juga ekspedisinya itu sendiri. Tracking paket memberi rasa aman pada pelanggan. Setidaknya mereka mengetahui posisi paketnya berada.

Lantas begitu banyaknya pilihan jasa ekspedisi, Anda memilih ekspedisi yang mana? Bagaimana bila saya rekomendasikan Ninja Xpress.




Rekomendasi Jasa Ekspedisi Ninja Xpress untuk Bisnis Online

Tentang mengapa memilih Ninja Xpress, tentu saja karena ini adalah jasa ekspedisi murah.

Namun ada beberapa hal lain mengenai pengiriman paket dengan Ninja Xpress. Simak yang berikut ini:
  1. Kirim Paket Fleksibel: Ninja Xpress menyediakan opsi antar atau jemput paket. Dengan Ninja Point, kita bisa atur pilihan waktu jemput dan pengiriman paket. 
  2. Fitur COD (cash on delivery): jasa ekspedisi mana yang menyediakan layanan bayar di tempat? Ninja Express tentu saja. 
  3. Kemudahan Mengirim Paket: mengelola pengiriman paket tidak lagi ribet. Status paket secara rel-time dapat Anda ikuti melalui website maupun aplikasinya. 
  4. Flat Rate: bagi pebisnis online, bekerja sama dengan NinjaXpress direkomendasikan karena: 
  • Tarif Jabodetabek waktu pengiriman 1-3 hari sebesar Rp9.000. Jumlah paket yang dikirim minimal 10 bungkus. 
  • Tarif pengiriman ke Pulau Jawa selama 1-3 hari, ongkosnya Rp19.000. Jumlah paket minimal 10 bungkus.
Nah khusus pebisnis online, Ninja Xpress memiliki tiga macam kerja sama seperti ini:

Penjual Online:
  1. Menyediakan Ninja Packs dan biaya pengiriman flat
  2. Anda dapat mengambil langsung paket di Ninja Point mana saja
UKM:
  1. Fasilitas antar jemput paket sesuai permintaan Anda
  2. Menyediakan layanan bayar di tempat (COD) di area jangkauan Ninja Xpress
Perusahaan:
  1. Ninja Xpress menyediakan diskon untuk layanan pengiriman dalam jumlah besar. 

Nah itu dia mengapa Ninja Xpress saya rekomendasikan bagi Anda pebisnis online. Sudah memutuskan mau kirim paket di Ninja Point yang mana?


Dicabut Dari Akarnya

November 22, 2019
September lalu saya singgah ke Gedung Naskah. Sudah sejak lama saya pengen masuk museum tersebut. Baru September lalu kesampaian. Begitu ikonik tempat ini, mengapa sekolah saya dulu gak pernah bawa murid-muridnya ke Gedung Naskah ya?


Pertemuan-pertemuan dengan objek yang dulu dekat denganku, melahirkan pertanyaan.

Kenapa sekolah gak pernah mengenalkan saya dengan keraton-keraton di Cirebon?

Mengapa nenek dan orang tua saya tidak mengenalkan saya dengan sistem pertanian di Karangampel?

Kenapa saya gak bisa berenang, bukankan saya anak pantai? Rumah saya hanya 5 km dari bibir pantai!

Mengapa saya buta tentang laut jawa?

Dahulu saya menertawakan Sintren, kok bisa!

Topeng Cirebon begitu eksotis, mengapa saya tidak menguasai tariannya?

Kakek pedagang bako, saya ingin tahu lebih banyak tentang bako, di mana mencari informasinya?

Jadi ingat. Teman saya suatu kali mengemukakan pendapat. Ia berkata saya berasal dari kalangan keluarga mampu. Dijauhkannya kami dari pekerjaan-pekerjaan 'kuli'. Pekerjaan yang dimaksud adalah petani, nelayan.

Kami dimasukkan ke jalur pendidikan formal. Ayah saya bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Begitu juga ibuku.

Nenek saya, bos paren. Kakek saya, pedagang bako. Kenapa mereka gak mendidik ayah saya dan merancangnya untuk meneruskan dinasti pesawahan dan bakonya?

Namun saya rasa kita semua mengalami hal yang sama. Kaya atau biasa-biasa aja. Saya bisa sebutkan teman-teman saya yang profesi orang tuanya petani dan nelayan, tapi mereka sama butanya seperti saya. Buta terhadap budaya lokal.

Pernah gak sih kamu merasa dekat dengan sesuuatu yang kamu sendiri gak kenal mereka itu apa.

Kenapa...kenapa...kenapa...

Pernah suatu kali saya sampai membeli buku saku tentang sistem pertanian ala orang jawa. Pranata Mangsa judulnya. Haha. Lucu.

Saya ini bagai pohon kersen yang dicabut sampai akar-akarnya. Gak ngerti apa-apa tentang kampung halaman sendiri. Lebih fasih cerita tentang Bandung. Sedih. Heuheu.



Membaca Para Priyayi

November 20, 2019
Saya pikir ini novel akan saya tamatkan dalam satu minggu. Nyatanya, dua hari saja! Hamdalah! Memang sulit mengabaikan novelnya. Inginnya baca terus. Kepingin saya tahu ujung perjalanan Lantip bagaimana. 




Jadi gini. Cerita dalam novelnya panjaaaaang memang. Melintasi tiga zaman. Dari si buyut hingga cucu-cucunya. Apik sekali jalinan plot kisahnya, dituturkan secara lamban alurnya maju mundur dengan sudut pandang penutur berbeda-beda. 

Karena pelan, ada bagian-bagian dalam novelnya yang membosankan. Kebanyakan sih mengasyikkan. 

Siapa tokoh utamanya, itu pula pertanyaan saya. Mungkin Lantip ya. Dia ada di semua sektor perjalanan hidup para tokoh. Dia tuh kayak...matahari pagi buat orang-orang di sekitarnya. Bikin anget, bikin nyaman. Tentrem.

Aslinya, apa ada orang kayak Lantip dalam dunia nyata? 

Sinopsis ceritanya begini. 

Sastrodarsono adalah kaum abangan. Ia mengambil karir di jalur pendidikan. Gak lazim. Ayah ibunya petani. Di masa lalu, merintis profesi di bidang pendidikan adalah cara menaikan status derajat sosial. Tadinya petani jadi priyayi. 

Guru pada zaman silam gajinya besar. Sekali tepuk dapat dua: uang dan status sosial. Salah satu tokoh dalam novelnya bilang gini, "kalo mau kaya jadi saudagar saja," memang betul. Berbeda bila sekolah dan jadi pengajar, itu derajat orangnya makin tinggi. Lantas disegani. Dihormati. 

Sastrodarsono orang pertama dalam keluarganya yang jadi guru. Priyayi. 

Lantas ia menikahi priyayi tulen. Aisah namanya. Meski punya anak tiga, ia mengadopsi Lantip. Juga beberapa keponakan. Namun hanya Lantip yang awet. Lainnya rajet matakna teu awet. Heueheu. 

Konflik bermuara dari jalan hidup masing-masing tokoh tersebut. Sastrodarsono, anaknya, hingga cucu-cucunya. Termasuk Lantip.

Nah si konflik itu muternya di era kolonial, jepang, kemerdekaan, revolusi, hingga masa-masa gestapu. Jadi bobot sejarah sudah pastilah jadi bungkusan konfliknya. Eranya gestapu juga ada dalam novel, bukan cuma numpang lewat. Highlight ceritanya besar juga. 

Ada beberapa hal yang saya sukai dalam novelnya. Kebanyakan tentang budaya jawa (priyayi). Seperti misalnya: formula nama priyayi. 

Pertama. Tentang kebiasaan memberi nama tua. Selama ini saya mikir, nama-nama priyayi kok bagus-bagus ya. Bagaimana cara memberi namanya, apakah ada formulanya? 

Melalui novel ini saya rada tercerahkan. Agak terjawablah gitu. 

Pertama. Meski satu kata, nama priyayi ada hubungannya dengan pekerjaannya. Dalam novel ini, Sastrodarsono nama lahirnya Soedarsono. 

Pemberian nama tua berlangsung saat si pria siap berkeluarga. Oleh ayahnya, Darsono diberi nama Sastro. Maka lahirlah nama baru Sastrodarsono. 

Sastro artinya tulis. Nama tersebut dipilih orang tuanya sebab nyambuh dengan pekerjaan Darsoni sebagai guru bantu. "Karena guru akan banyak menulis disamping mengajar," kata bapaknya. 

Kedua. Meski petani, orang tuanya Sastrodarsono senang membaca, menguasai kosakata kromo inggil. Gak heran sanggup memberi nama 'berbobot'. Ada artinya, ada maknanya. Disebut dalam novelnya begini. "Orang tua saya, meskipun hanya petani desa, sangat mementingkan tata krama dan tertib priyayi. Penguasaan bahasa mereka boleh dikata sangat baik. Mereka tahu benar kapan harus memakai bahasa kromo halus, kromo madyo, kapan pula memakai bahasa ngoko yang paing rendah tingkatnya." (halaman 35). 

Kalau bobot adat istiadat orang jawa, tumpah ruah ada di novelnya. Pegangan banget ini buku kalau-kalau jodoh kamu orang jawa tengahan, priyayi pula! :D 

Saya temukan ada beberapa kebiasaan yang juga terjadi di keluarga saya yang orang sunda. Seperti menampung  saudara jauh supaya rumah terasa ramai, berbagi rezeki, menyambung tali keluarga. 

Terus ada kebiasaan membawa banyak oleh-oleh untuk calon besan. Kebiasaan se-Indonesia ini. 

Pepes sembukan makanan desa, makanan petani. 

Buah-buah kecil warna kuning yang namanya Kontol Jembutan (LOLOLOLOL orang dulu kenapa sih jujur banget hahaha).

Panggilan untuk Haji menjadi Kaji, seperti Kaji Mansyur. Ini kebiasaan yang terjadi di kampung saya Karangampel. Kalo manggil Pak Haji di mulut jadinya Pak Kaji, atau Wakaji (uwak haji). 

Istilah-istilah bahasa jawa berhamburan. Ada yang saya ngerti karena sama dengan basa dermayu/cerbon, tapi banyak juga yang saya gak paham. Seperti kata 'Prigel'. Saya sampai mengontak ibu dan bertanya apa dalam bahasa dermayu ada istilah Prigel/keprigelan. 

Sungguh ini buku yang menyenangkan. Meskipun tragedi dalam novelnya membuatku mengasihani Sastrodarsono, tapi ya...manusia mana sih yang setidak-tidaknya pernah gak mengalami nasib buruk? Priyayi maupun petani, bila tertimpa kesusahan bukankan itu hal yang wajar?

Bener gak sih? 

Ngomong-ngomong, novel ini mengingatkan saya pada Orang-Orang Oetimu. Keduanya mirip, sama-sama novel etnografi. Seneng bacanya. Jadi tahu kebiasaan orang, budayanya bagaimana, cara berpikirnya kepriben! Lhooo lho jadi terparapriyayikan :D  

Demikianlah. Bulan Desember makin dekat. Target baca buku di tahun ini telat saya lampaui. Nanti saya ceritakan gimana rasanya membaca dengan target :D 











Wisata Pusaka di Cianjur dan Upaya Merawat Cagar Budaya Indonesia

November 19, 2019
Pukul delapan pagi waktu kota Cianjur. Saya janji bertemu Fajar. Bukan fajar kepagi-pagian maksudku, melainkan Rachmat Fajar. Nah itu dia, pria berkacamata berpakaian pangsi biru mbladus menjemput kami di Hotel Kaoem. Dialah pemandu jalan-jalan kami di kota santri ini. 

“Halo, sudah sarapan?” tanyanya ramah.
Kami mengangguk.
“Sudah siap?”
Istirahat semalam nyenyak. Makan pagi enak. Tentu saja kami siap!

Hari itu saya, Indra, dan Kubil jalan-jalan di kota Cianjur. Lumayan nih ada jatah libur walau dua hari. Dari Bandung kami membawa kendaraan pribadi. Bandung – Cianjur dekat saja, hanya dua jam jarak tempuhnya.

Saya dan Fajar, kami berkenalan di Instagram melalui akun yang ia kelola bernama @bumi_ageung_cikidang. Tentang orang-orang yang kembali ke kampung halaman dan merintis karir di sana, nah begitulah Fajar. Mulanya ia bekerja di Bandung dan Jakarta sebagai fotografer. Sempat pula ia mengajar di salah satu kampus ternama. Lantas entah ketiban wangsit apa, Fajar mudik ke Cianjur.




Di kampung halaman ia mengumpulkan kembali aset keluarganya, sebab mereka keturunan Bupati Cianjur, Prawiradiredja II, tentu koleksinya tidak biasa. Koleksi yang tadinya tercecer, kini tersimpan tertib. Apik. Ia tempatkan barang-barang peninggalan leluhurnya di sebuah rumah keluarga. Rumah dengan arsitektur kuno tradisional di Jl Moch Ali no 64 Cianjur.

Rumah itulah yang ia jadikan Museum Bumi Ageung Cikidang.

Tidak berhenti sampai di situ. Fajar membuka jasa tur wisata berjalan kaki keliling pusat kota Cianjur bertema pusaka (heritage). Wah…menarik bukan?

Menarik sekali bagi saya! Berkali-kali saya melihat postingan Fajar di instagram, ia membagi foto-foto cagar budaya di Cianjur. Ada pabrik roti kuno, rumah-rumah antik, kuliner lokal perpaduan budaya pecinan dan sunda, juga highlight utamanya: Museum Bumi Ageung Cikidang.

Tur Jalan Kaki di Cianjur, Berapa Lama dan Mengapa?

Tur berlangsung dari pagi hingga siang hari. Semua rute kami jelajahi dengan berjalan kaki. Tenang saja, bila lelah ada tenaga becak siap mengantar-antar.

Ke mana saja Fajar mengajak kami mengunjungi cagar budaya kota Cianjur?

1. Museum Bumi Ageung Cikidang

Museum ini berada di bangunan tua, berdiri sejak tahun 1866. Awalnya ditujukan sebagai rumah peristirahatan Bupati Cianjur dan keluarganya, yakni RAA Prawiradireja II. Beliau pemilik pertama rumahnya, orang yang memimpin Cianjur selama 48 tahun.

Rumah bersejarah ini pernah dibom tentara sekutu. Di masa revolusi, Bumi Ageung Cikidang jadi lokasi rapat-rapat perjuangan. Termasuk rapat pembentukan tentara PETA.


Fajar dan Bumi Ageung Cikidang

Koleksi museum adalah koleksi pribadi milik keluarga besar. Di dalamnya kita dapat melihat foto-foto Cianjur tempo dulu. Juga segala macam perabotan antik dari mulai furnitur sampai cangkir.

Museum Bumi Cikidang memajang sebagian perjalanan sejarah kota Cianjur. Sajian sejarahnya terkemas ulang dengan gaya bertutur yang ringan dan populer. Ditujukan untuk sebanyak-banyaknya orang.

2. Pabrik Roti Tan Keng Cu

Menuju pabrik ini dari museum kami berjalan kaki masuk keluar gang. Seru amat! Jadinya malah mengamati rumah-rumah padat kota Cianjur. Ada rumah antik, lebih banyak rumah modern sih.




Pabrik roti ini istimewa. Bukan saja karena ia tertua, tapi pada masanya inilah roti penyuplai makanan tentara Belanda se-Jawa Barat. Peperangannya usai, namun pabriknya masih beroperasi. Rotinya masih diproduksi.

Pabrik Tan Keng Cu memanggang rotinya dengan oven kuno.

Tahu tidak berapa harga roti-roti Tan Keng Cu? Hanya tiga ribu saja. Murah amat! Enak pula. Banyak porsinya. Saya jatuh cinta. Bila tidak bersama Fajar, saya kira gak mungkin bisa masuk ke dapur Tan Keng Cu begitu.

3. Mengunyah Geco

Jam makan siang. Fajar mengajak kami ke Kantin 81. Tak jauh dari pabrik roti. Tempatnya biasa saja, mirip warteg alias tidak mewah. Pertama kalinya saya makan Geco dan saya pengen nambah dua kali! Enak sekali Geco ini ya Tuhan tolong!




Dalam seporsi kuliner perpaduan pecinan dan sunda ini ada tahu, kentang, tauge, dan mie. Kuahnya warna kuning kemerah-merahan. Bumbu ala pepes cianjur jadi toppingnya. Campuran itu semua menghasilkan rasa kecut, gurih, dan manis. Sungguh rasa yang ramai.

Sebagai pendamping ada es markisa. Alamak meleleh mulut saya dibuatnya. Nikmat sekali makan siang kami. Terima kasih mengenalkan kami pada Geco, Fajar!

4. Tauco Cap Meong

Sebelum masuk botol dan dibawa pembeli, Tauco disimpan dalam kendi. Tahu tidak, si kendi umurnya lebih tua dari usia almarhumah nenek saya. “Tauco Meong gak pake pengawet. Awet disimpan hanya lima hari. Kalo udah masuk botol awetnya tiga bulan,” kata Fajar.




Tur berakhir ditandai dengan kembalinya kami ke titik mula, yaitu Bumi Ageung. Di sela-sela menuju museum, Fajar mengajak kami jajan di toko-toko kelontong yang bangunannya tua. Kami hanya membeli minuman dan berbincang kecil dengan pemilik toko.

Sebelum pamit, Fajar menawarkan diri jika kami berlibur lagi ke Cianjur ia akan mengantar kami ke Gunung Padang. “Dari kota tinggal naik kereta api sampai Stasiun Lampegan. Abis itu kita naik ojeg. Gunung Padangnya gak jauh dari stasiun Lampegan,” ucap pria lulusan desain interior itu lagi.

Saya pernah dengar situs megalitikum Gunung Padang. Rupanya dari kota Cianjur, akses ke sana tidaklah sesulit yang saya bayangkan. 

Tidak saya kira kota kecil ini ada tur wisata berjalan kaki. Selama ini apa yang kamu bayangkan tentang jalan-jalan di kota Cianjur? Mentok-mentok berkuliner dan plesir ke taman bunga. Betul tidak? Hari itu saya melihat wajah Cianjur yang lain. Sebagai tambahan, bisa ngobrol rupa-rupa topik dengan beberapa warga lokal. Seru! Terima kasih Fajar!

Merawat Cagar Budaya Kota Cianjur

Melalui Fajar, saya melihat upaya merawat cagar budaya Indonesia yang nyata. Bukan cuma wacana. Dari tadi nulis 'cagar budaya', teman-teman tahu apa artinya? 

Wikipedia menulis gini: benda cagar budaya adalah benda alami atau buatan manusia, baik bergerak atau tidak. Cagar budaya punya hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia. 

Coba kita amati wisata alternatif yang Fajar tawarkan dan hubungannya dengan merawat cagar budaya:
  1. Dia membangun museumnya sendiri. 
  2. Fajar menambahkan layanan paket wisata pusaka. Masih nyambung dengan kegiatannya di museum bukan? 
  3. Menggunakan media sosial untuk menyebarluaskan berita cagar budaya. 



Bayangkan bila ada lebih banyak kota-kota kecil yang memungut potensi kekayaan pusakanya. Hitung-hitung merawat cagar budaya dan mendapatkan pendapatan darinya. Sambil menyelam dapat ikan, kenapa gak. Saya senang, Fajar bahagia, objek wisatanya langgeng. Bangunan cagar budaya ikut terawat. 

Cagar budaya itulah yang jadi jembatan kepada kita di masa kini. Melalui Fajar, benda-benda dari masa lalu bercerita tentang apa yang dibangun dan tersisa, mengapa Cianjur dipilih jadi ibukota residen Priangan, dan bagaimana rupa kota di masa lalu.

Cagar budaya memberitahu kita tentang apa yang hilang dan apa yang diwariskan.

Ini terbaca klise, tapi sejarah adalah pengingat. Membaca sejarah artinya mengingatkan diri sendiri. Cagar budaya seharusnya ada dan dirawat sebagai pengingat apa yang kita lakukan dan alami di masa lalu, mana yang bisa dikenang baik dan mana yang dikenang tanpa harus kita ulang. 

Bolehlah saya sedikit berbangga. Turis-turis seperti saya membantu Fajar meneruskan tongkat estafet bertuliskan 'ayo rawat cagar budaya kita'. Kita datang, kita menyimak, kita menikmati, kita memotret, kita mengunggah foto-fotonya di media sosial, dan kita beritahu orang lain. Hanya saja kampanye berwisata yang baik harus pula disuarakan: tidak meninggalkan sampah, bertutur sesuai adat istiadat setempat, tidak merusak, tidak banal.  

Tentang merawat cagar budaya, bila dikerjakan bersama-sama, harusnya tidak ada lagi berita cagar budaya yang musnah. Sepakat? 


Foto-foto: dokumen pribadi

Delicious Rot: Menengok Menu-Menu Fermentasi Nusantara

November 17, 2019
Melongok menu-menu tradisi di delapan kota di Indonesia, empat orang di Parti Gastronomi mencatat, merekam, dan memasak. Hasil akhirnya: literasi kuliner yang ringan. Menyenangkan untuk disimak, nikmat disantap.

Empat orang gemar masak dan doyan makan membentuk perkumpulan. Parti Gastronomi itulah namanya.  Mereka adalah Arifin Windarman, Hardian Eko Nurseto, Reyza Ramadhan, dan Sandiyuda Dananjaya.

Berawal dari kegemaran kuliner kegiatan Parti Gastronomi berkembang jadi aktivitas literasi. Mulanya hanya menggemari, kini eksplorasi. Berupa Telusurasa, Masak Akhir Pekan, Party Lab, dan Open Table. Di Telusurasa lahir proyek bernama Delicious Rot.

Di Delicious Rot, keempatnya mencari rasa berdasarkan kegemaran serupa, yaitu makanan. Namun yang satu ini sangatlah unik, mereka mencari-cari makanan fermentasi.

pinjam foto dari @parti_gastronomi

Delicious Rot merupakan rangkaian acara Bandung Design Biennale 2019. Acaranya tersaji dalam bentuk food tasting, pameran, dan screening film dokumenter. Pemutaran film berdurasi 50 menit ini berlangsung pada Sabtu (12/10/2019) di House of The Sun.

Sedangkan pamerannya diselenggarakan 12-26 Oktober 2019 di lokasi yang sama, Jl Karang Tinggal no 24 Bandung. Di sanalah pengunjung dapat melihat karya fotografi dan delapan makanan fermentasi yang tersimpan dalam toples kaca.

Makanan fermentasi dalam Delicious Rot digambarkan sebagai benda budaya yang ragam rasa, penuh cerita.

Di Medan mereka eksplor Tauco.
Di Padang berburu Dadiah.
Banjarmasin ada Pakasam.
Melahap Tempoyak di Palembang.
Belanja Ikan Jambrong di Samarinda.
Menyaksikan pembuatan Tempe Mendoan di Purwokerto.
Menyusuri menu pecinan Sawi Asin di Semarang.
Melihat fermentasi perut ikan bernama Bakasang di Manado.

Selain melihat pembuatan makanan fermentasi, keempat orang di Parti Gastronomi merekonstruksi makanan fermentasi tersebut. Melahirkan produk kuliner baru. “Tujuannya memberi warna pada makanan setempat dari bahan-baku tempat tersebut berada,” ucap Hadian Eko Nurseto yang sehari-harinya bekerja sebagai dosen antropologi di Universitas Padjadjaran.

Rekonstruksi makanan tersebut bukan dibuat di Bandung. Melainkan di daerah asal makanan tersebut. Setelah turun ke pasar-pasar tradisional, mengamati dan berbelanja, mereka mempelajari teknik fermentasi. Kemudian membuat menu reka ulang.

Terinspirasi Tempoyak di Pasar Kuto di Palembang, Parti Gastronimi meracik makanan baru bernama Kroket Tempoyak. Pempek dibungkus adonan kroket. Bila disantap terasa renyah bagian luar, moist di bagian dalam. Isiannya adalah tempoyak yang sengaja disiapkan jadi kejutan.

Dalam perjalanan di Semarang, pencarian kuliner khas digali hingga di Pasar Gang Baru. “Kami menemukan toleransi di Semarang,” ujar Reyza Ramadhan yang sehari-harinya bekerja di Badan Pangan Dunia (UNFAO).  Ia menambahkan “di Pasar Gang Baru ada pedagang ayam yang pedagangnya ibu-ibu berhijab terus di sebelahnya ada pedagang daging babi, enci-enci, keturunan tionghoa," di pasar itulah mereka menemukan Sawi Asin.”

Sawi Asin merupakan menu khas Pecinan. Lazimnya ia bersanding di meja makan dengan seporsi daging babi. Pembuatan Sawi Asin makan waktu 4-5 hari. Sawi direndam air kelapa dan garam. Dibolak-balik itu sawi dalam prosesnya.

Dalam menu reka ulang  ala Parti Gastronomi, sawi asin menjelma jadi makanan baru. Tidak mengubah rasa, hanya menambah komponen bahan baku. Dicampurnya sawi asin dengan rebung dan udang. Lantas dibungkus kulit kebab yang sengaja dipilih sebagai resepresentasi komunitas arab di Semarang. Rasanya? Nikmat melenakan.

Kemudian di Manado, mereka menciptakan Rujak Cuka Bakasang. Makanan yang muaranya Bakasang, fermentasi perut ikan cakalang. 

Rujak Cuka Bakasang perpaduan bahan baku tiga daerah: asinan ala Jakarta, tahu gejrot dari Cirebon. Ditambah cuka gohu nan segar ala Manado. Semuanya bersatu dalam mulut, dilumerkan saos Bakasang. Bayangkan campuran aroma yang kuat, asam, pedas, sekaligus manis! Sungguh ramai mematikan.

Purwokerto dan tempe mendoannya menjadi mendoan roll ala vietnam. Mengamati kuliner di kota kecil di Jawa Tengah ini, ada satu menu sejuta umat bernama Pecel. Oleh mereka, tempe mendoan dicampur dengan sayuran pecel. Lantas dibungkus dengan paper rice. Siap santap setelah mencocolnya ke bumbu pecel khas Purwokerto. Sederhana memang, siapa sangka tempe dan pecel bersatu bukan beralas daun pisang semata.

Perjalanan TelusurRasa Delicious Rot memberi dampak personal pada tiap personel Parti Gastronomi. Bahwa makanan bukan sekadar rasa. Namun juga perjalanan panjang rantai makanan, dari produsennya, pedagang di pasar, orang-orang yang memasaknya, dan kita yang menyantapnya. Sandiyuda Dananjaya, chef dan kreator di balik  Gang Nikmat mengatakan “Delicious Rot membuat gua makin kecil aja, gua teh belum ada apa-apanya. Gua masak harus lebih rajin,” tuturnya.

Sementara Arifin Windarman, desainer produk UNKL347, mengatakan perjalanan Delicious Rot ini mengubah paradigmanya "lu harus eksplor Indonesia, ternyata Indonesia kaya tuh bener di sini (kuliner),” ujarnya mantap. 

Parti Gastronomi dapat teman-teman temui di instagram @parti_gastronomi. Saat ini mereka sudah meluncurkan jurnal Delicious Rot, saya juga pengen beli. Namun harus nabung dulu sebab harganya Rp250.000. Bukan bukunya yang kemahalan, sayanya yang kere! Hahaha. Tunggu ya, saya pasti beli! 


Pameran Delicous Rot 

Pagi-pagi DIDAGO Cafe, Dahulu Hotel Dago

November 15, 2019
Memang sengaja saya singgah jam delapan pagi. Selain ada urusan dengan Paxel, saya mau foto bangunan tua DIDAGO. Lokasinya di Dago nomor 21. Tidak jauh dari lampu merah, ada di belakang gedung Dekranasda.

Awalnya sih karena instagram. Duh apa sih yang gak gara-gara instagram sekarang ini tuh!


DIDAGO cafe



Lihat postingan Teh Asih dan Kang Andhika, saya pikir ini bangunan apa kok bagus amat. Di Dago ada memangnya ya bangunan tua begitu bentuknya? Ya sudah saya ontrog aja biar rasa penasaran ini hilang. Namun seorang teman berkata baiknya saya ke sana pagi-pagi. Karena ini kafe DIDAGO ini ramai pengunjungnya bukan main. Siapa tahu kan pagi masih kosong.

Ternyata bukan hanya kosong. Kafenya belum buka! Hahaha kepagian saya datang.  Gak apa-apa. Kafenya masih tutup tapi bangunannya bisa saya masuki atas seizin karyawan DIDAGO. Mereka beres-beres, bersih-bersih, saya berkeliling bangunannya.

Menarik sekali ada bangunan tua mungil di balik gedung-gedung modern tepi Jalan Dago. Tertancap plakat di dinding bagian depan. Bangunannya didirikan tahun 1954 tanggal 2 Februari. Nama bangunannya: Hotel Dago.

Hotel ini pula yang jadi salah satu lokasi menginap delegasi Konferensi Asia Afrika 1955, selain Preanger, Homann, dan Swarha. Informasi ini saya dapatkan dari Deni bosnya Lawang Buku. Deni bilang informasi tersebut dia dapat dari buku saku delegasi KAA. Sementara di plakat yang kafenya cantumkan, tidak ada keterangan lain selain bangunan tersebut dulunya hotel bernama Hotel Dago.

Saya gak ngerti bagaimana jelasin arsitektur bangunannya. Wkwkwk. Jengki mungkin ya?

Jendelanya khas bangunan lampau, ada banyak! Gak besar, bentuknya persegi. Ada yang kaca tunggal aja ada juga yang bertumpuk sampai enam jendela. Pintu depan berkaca-kaca. Pintu samping setengah kaca. Entah baru, entah masih asli. Dindingnya dibiarkan 'mentah' macam gaya industrial tapi yang ini mentahnya asli deh kayaknya. Alias, emang cat dindingnya mengelupas di sana sini. Tidak jadi buruk kelihatannya, malahan tambah bagus. Arsty. Bagus lah buat latar foto. Gak heran instagenic.

Dominasi warna putih di sini gak membuat mata jereng. Pintu, jendela, bangku, meja, hampir semuanya deh putih. Enak lihatnya. Bersih dan sederhana. Namun juga terasa mahal.


DIDAGO cafe



Oiya, bila berkunjung ke DIDAGO cafe, kamu harus lihat tangganya. Cantik sekali! Tanpa rasa takut (karena masih pagi hantu-hantu masih tidur :P) sendirian saya tapaki anak tangganya. Hinggap di lantai atas, saya temui ruangan hangat nan mungil dengan meja kursi. Kata akang-akang wiraniaga, itu ruangan meeting. Ada satu pintu tertutup, sepertinya mengarah ke balkon. Jendela memenuhi dua dinding.

Terasa hangat karena matahari jam delapan pagi sedang menyembur-nyembur itu bangunan. Dan ini gedung royal dengan jendela. Siapa yang dahulu duduk di ruangan ini memunggungi matahari dan membiarkan punggungnya dielus-elus sinar mentari itu?

Bila diperhatikan, ini bangunan terlalu kecil untuk jadi hotel. Apa dulunya ada bangunan lain? atau ukurannya lebih besar dan luas? Gak tahulah. Yang pasti sih luas halaman parkirnya lebih besar dari gedungnya. Tanah kosongnya bisa dibuat jadi apartemen hahaha tapi semoga enggak.

Oya, saya sarapan di sini. Gak enak rasanya sudah berkeliling dan berfoto lantas pergi begitu saja. Saya memesan setangkup roti gandum isi filet daging ayam. Juga milkshake stroberi. Tidak mengenyangkan, rasanya juga gak istimewa. Untuk menu tersebut saya menebusnya dengan uang enam puluh ribu rupiah. Sarapan yang mewah.


DIDAGO cafe

DIDAGO cafe


DIDAGO cafe

DIDAGO cafe

DIDAGO cafe

DIDAGO cafe

DIDAGO cafe

DIDAGO cafe

DIDAGO cafe

DIDAGO cafe

Membaca Bukan Pasar Malam

November 13, 2019
Saya baca novel Bukan Pasar Malam karena kehebohan debat film Bumi Manusia. Aslinya saya gak peduli-peduli amat novelnya Pram diangkat ke layar lebar. Sebab saya bukan pembaca loyalnya, pun bukan penggemarnya.




Walo begitu, saya tamatkan beberapa novelnya. Seperti Gadis Pantai, Larasati, dan Midah. Dari tetraloginya, baru Bumi Manusia yang saya baca. Tiga lainnya masih impian heuheueheu.

Nah dari keramaian pro kontra film Bumi Manusia, muncul rekomendasi novel Bukan Pasar Malam. Kalo gak salah, Budiman Sudjatmiko yang merekomendasikannya dalam sebuah wawancara. Saya menonton interviewnya di youtube. Ya sudah, mumpung waktu itu tanggal 19 bulan 9 tahun 2019, cukup cantik tanggalnya untuk beli buku toh!

Hamdalah ini novel tipis amat ya. Dalam pikiran saya, tipis tebal novel memang ngaruh pada durasi membaca. Begitu lihat Bukan Pasar Malam, bisalah saya tamatin dalam satu malam aja. 104 halaman saja.

Sinopsis cerita begini. Si Aku pulang kampung menemui ayahnya yang sakit parah. Mereka miskin semua. Ikut merawat ayahnya sebentar dan bercengkrama dikit-dikit, tak lama ayahnya meninggal. Si Aku pikir ayahnya mati sendirian, kesepian. Namun tidak. Sewaktu tahlilan, datang teman-temannya. Banyak. Rupanya ia dicintai banyak orang. Hanya saja si ayah ini gak mau ditengok-tengok. Ia melarang kawannya menjenguk. Si Aku pikir ayahnya bukan siapa-siapa. Nyatanya, ia orang penting. Pernah jadi pejuang lalu jadi guru.

Dalam novel Bukan Pasar Malam, tidak ada satupun tokoh bernama. Penuturnya si Aku. Tokoh utama yang merantau ke Jakarta. Terpaksa ia mudik ke Blora setelah menerima telegram ayahnya sakit keras. Adiknya banyak, ibunya wafat, rumahnya di Blora rusak-rusak, dan ia beristri orang sunda. Disebut-sebut dalam sinopsis novelnya si istri cerewet. Pas saya baca novelnya, apanya yang cerewet!

Titik pusat konflik ada pada ayahnya yang sakit TBC. Sakit yang mulanya karena banyak pikiran, dibungkus kemiskinan dan penderitaan zaman revolusi. Ayahnya dulu pejuang, begitu juga teman-temannya. Namun berbalik dengan kondisi si ayah yang masih idealis, teman-temannya jadi pejabat. Bergelimang harta. Ayahnya prihatin, mengapa orang-orang yang dahulu bersamanya memperjuangan perlawanan kini berbalik jadi simbol-simbol kekuasaan.

"Perwakilan rakyat? perwakilan rakyat hanya panggung sandiwara. Dan aku tidak suka menjadi badut, sekalipun badut besar," gitu kata si ayah.

Banyak kekecewaan dipendam dalam hati jadinya sakit keras. Pejabat negara memperkaya diri sendiri. Dan si ayah yang menjaga api idealismenya terpuruk dalam kemiskinan, kekecewaan, dan umur renta.

Dipikir-pikir, novel Pram yang saya baca temanya selalu "udah merdeka nih lantas gimana? perjuangannya melawan apa?"

Memang bagus novelnya. Di sini saya menengok orang-orang yang sekarat karena miskin tapi berusaha bahagia saja, gak ada pilihan. Dan Blora, suatu hari saya mau ke sana.



Review Ninja Xpress : Ekspedisi Terbaik Untuk Mengirim Paketmu

November 11, 2019
Kapan terakhir kali Anda menerima paket? Paket saya baru saja tiba minggu lalu. Saya membeli dua buku dan satu skincare dari e-commerce andalan. 





Tentang proses kirim-mengirim dan terima paket, saya kerap menemui beberapa masalah. Mulai dari paket yang telat datang, hingga status kirim paket yang tak jelas.

Berikut saya akan membahas mengenai Ninja Xpress review sebagai layanan pengiriman barang yang saya gunakan.

Industri logistik di Indonesia makin ramai dengan kehadiran Ninja Xpres. Perusahaan jasa ekspedisi ini lahir di Singapura tahun 2014 dengan nama Ninja Van. Di tahunnya yang kedua, saat mereka melebarkan sayap di Indonesia, namanya menjadi Ninja Xpress.

Sebelum ekspansi ke Indonesia, Ninja Van telah membuka bisnisnya di beberapa negara Asia Tenggara. Yakni Malaysia, Vietnam, Filipina, dan Thailand. Hingga saat ini, mereka  mulai menunjukkan taringnya sebagai ekspedisi terbesar dan tercepat.

Mereka merupakan perusahaan jasa pengiriman dan penerimaan berbasis teknologi. Kemudahan dan ketepatan waktu menjadi kekuatan layanan. Di tahun 2019, Ninja Xpress menjadi ekspedisi yang dapat diandalkan. Tidak heran bila saat ini pihak Ninja Xpress telah bekerja sama dengan 10 e-commerce di Indonesia. Di antaranya start-up e-commerce raksasa Indonesia, yaitu BukaLapak, Hijup, dan Tokopedia.

Saat ini layanan  dapat diakses melalui aplikasi Ninja Easy. Mudah saja, Anda tinggal mencarinya di Google App Store lantas menginstallnya pada ponsel.

Bagaimana dan apa saja layanan yang ditawarkan? Berikut ini penjelasannya.

Ninja Xpress menawarkan tiga macam jasa pengiriman

Ninja Reg

Layanan pengiriman standar. Waktu pengiriman bergantung pada lokasi pengirim dan lokasi penerima (jarak).

Ninja Fast

Layanan dengan janji waktu pengiriman tiba dengan cepat (rentang waktu paket terkirim adalah 24 jam).

Ninja Super

Layanan yang memungkinkan paket diterima di hari yang sama. Layanan yang cocok digunakan apabila Anda diburu waktu atau memiliki usaha frozen food.




Ninja Xpress Review dan Kelebihan Yang Ditawarkan


  • Aplikasi Ninja Easy (juga di websitenya) memungkinkan pengirim paket dan penerima paket dapat melacak status pengiriman secara real time dengan menggunakan nomor resi pengiriman. Rasa penasaran maupun panik dapat reda bila kita tahu di mana posisi paket berada bukan?
  • Notifikasi pengiriman jasa Ninja Xpress dikirim melalui SMS setiap pagi saat paket siap dikirim.  Konfirmasi berita paket akan dikirim setidak-tidaknya membantu para pemilik usaha memberi konfirmasi yang sama pada para pelangganya.
  • Bila kurir Ninja Xpress telah sampai lokasi pengiriman namun tak ada penerima, secara otomatis sistem  akan mengirim email untuk jadwal ulang proses pengiriman. Sehingga pertanyaan-pertanyaan seputar status paket dapat segera terjawab oleh sistem.
  • Selain itu, mereka  memiliki seribu armada motor yang tersebar di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Malang, dan Medan.
  • Memiliki layanan bayar di tempat (Cash on Delivery).kiriman Paket dapat dibayar secara tunai saat paketnya tiba. Pembayaran dilakukan pada kurir paket. Namun umumnya layanan ini baru tersedia di poin-poin yang berdekatan.
  • Ninja Xpress melayani pengiriman internasional. Cakupan negaranya baru di tingkat Asia Tenggara. Yaitu Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, dan tentu saja Singapura. Lebih jauh lagi.  Mereka memiliki misi menghubungkan Asia Tenggara ke dunia. Pelan-pelan, langkah itu dirajut dengan menghubungkan antarnegara Asia Tenggara.
  • Layanan Customer Service yang dapat diandalkan. Bila ingin mengirim pertanyaan atau keluhan,  Anda dapat menghubungi di salah satu nomor  WA 0811.9691.2613.
  • Lebih daripada itu, layanan khusus pelanggan juga menyediakan fitur Q & A. Jika Anda menemui kesulitan terhadap paket-paket yang Anda kirim atau terima, Anda dapat membaca solusinya di fitur Q & A. Misalnya, kita bisa ubah alamat tidak, paket dalam kondisi rusak dan apa yang harus kita lakukan, mengapa pesanan dibatalkan, ada bisa refund, di mana saja lokasi poin Ninja Xpress berada, dan masih banyak lagi. Namun bagi saya sebagai pengguna jasa ekspedisi, bila terjadi sesuatu di luar ekspektasi, mengontak nomor khusus layanan pelanggan terasa lebih cepat menuntaskan rasa penasaran. Bukankah demikian?

Menarik bukan? Untuk paket-paketmu esok hari, gunakan saja jasa pengiriman layanan Ninja Xpress, terbaik dan dapat diandalkan. Sekian pembahasan mengenai Ninja Xpress review dan semoga bermanfaat.


Wisata Kuliner Satu Hari di Bandung

November 04, 2019
Satu hari itu sebentar terasanya. Iya kan? Apalagi bila kita sedang berlibur. Waktu terbang kalau kita bersenang-senang. Waktu melambat jika kita kesusahan. Hahaha dunia dan ironinya ini memang!

Bila teman-teman hanya punya waktu satu hari di Bandung, kira-kira perginya mana? ngapain saja? menumpang apa?

Sebagai warga lokal, saya coba kasih susunan kegiatan di Bandung selama satu hari. Meskipun pendek, bukan berarti gak bisa ngapa-ngapain.

Saran saya sih, cari tahu dulu kesenengan kamu apa. Mau ikutan saran web-web travel pada umumnya, bisa. Mau riset sendiri berdasarkan minat, bisa banget!

Misal nih, kesukaanmu adalah kuliner. Nah kita susuri Bandung dengan kulinernya saja bagaimana?

Perginya berkuliner, makan-makan, dan dari satu tempat ke tempat lain menumpang apa saja boleh. Angkot, motor, maupun mobil. Kalau kamu sudah sewa mobil, misalnya saya rekomendasikan sewa mobil online TRAC, karena hendak plesir lebih dari satu hari di Bandung, ya gak apa-apa juga. Saya setel tur kulinernya semudah dan sepagi mungkin kok.

Mulainya dari Pasar Cihapit yuk! Ini surga kuliner jantung kota Bandung di pagi hari. Nanti di penghujung hari, petualangan kuliner kita berakhir di warung kopi. Di antara semuanya, kita sisipkan makan siang beraroma nusantara yang nikmat di mulut namun menyiksa usus-usus kamu itu. Haha.

Yok mulai!


Surabi Oncom di Pasar Cihapit


Mencari camilan warga Bandung di pagi-pagi, ya inilah jawabannya. Surabi. Udah tahu kan surabi bagaimana bentuknya, gak usah saya jelaskan lagi.




Bila berburu surabi di Bandung, Cihapit jawabannya. Cari rasa oncom dan kinca. Keduanya saya kira rasa-rasa tradisional yang...bandung banget!

Ada sih rasa-rasa modern, surabi dengan topping keju atua cokelat misalnya. Namun, hidup dikelilingi keju apa salahnya mengigit surabi dengan oncom yang enak itu. Saya bilang enak, memang di sini yang terenak se-Bandung.

Makan dikit saja. Surabi oncom satu, surabi kinca satu. Habis itu kita ke...

Kupat Tahu Gempol


Nah ini. Kita beranjak ke makanan agak berat. Kuliner yang mengenyangkan. Kupat Tahu Gempol yang biadab enaknya!

Tidak ada yang mewah dari kios ini selain rasanya. Kupat Tahu ini mirip ketoprak. Hanya saja bumbu kacangnya sudah disiapkan jauh hari dan sedikit berair. Rasanya gurih dan manis. Harus dimakan dengan kerupuk pun supaya gak bosan dan makin menggelinjang lidah kita.

Lokasinya gak jauh-jauh amat dari Cihapit. Namun bila ditempuh berjalan kaki, ya agak kepayahan juga. Pagi di Bandung tidak semacet di siang hari. Kalau kamu menggunakan mobil, ya masih amanlah dari kemacetan.

Oke apakah sudah kenyang? Bagaimana bila sekejap mampir ke Roti Gempol dan membungkus setangkup roti gandum telur-keju-daging? Oh oke, perutmu sudah mulai penuh. Kita pesan roti manis saja.

Roti Gempol


Berdekatan dengan Kupat Tahu Gempol, menuju warung rotinya berjalan kaki saja. Hitung-hitung menurunkan surabi dari lambung ke usus. Hehe.

Di sini kamu bisa belanja roti tawar. Juga aneka macam roti homemade rasa lainnya. Enak? Sudah pasti, lebih enak dari roti-roti pabrikan pada umumnya. Di sini, rotinya dibuat semalam atau pagi tadi. Sehingga masih segar rotinya enak banget!



Masih sanggup makan-makan? oke, kita istirahat dulu dari kuliner dan bersepeda ria di Taman Cibeunying sembari menunggu episode makanan lainnya siang nanti.

Sewa Sepeda Boseh di Taman Cibeunying


Mobil diparkir saja, di mana saja di sini ada banyak area parkir. Lantas pergi ke Taman Cibeunying. Di sana ada shelter Boseh, sebuah program sewa sepeda warisan walikota Ridwan Kamil.

Gak sulit sih sewa sepeda di sini selama ada operatornya. Dia akan bantu kita daftar. Nanti kita peroleh kartu yang digunakan untuk sewa sepeda. Berkeliling di sekitar Taman Cibeunying dengan sepeda sangatlah menyenangkan. Ada banyak pohon besar-besar. Tidak akan kepanasan. Bila ingin istirahat, selonjoran saja di taman sambil memandang aktivitas warga. Bisa juga sambil sekrol-sekrol timeline instagram.



Sudah keringatan. Haus. Belum capek. Tidak lapar. Mari kita pancing rasa lapar dengan singgah ke Museum Gedung Sate! Lagi-lagi ini lokasi dekat sekali dengan Taman Cibeunying. Setir sebentar, langsung sampai.

Halo Museum Gedung Sate


Ini dia gedung ikonnya provinsi Jawa Barat dan kota Bandung. Secara dia kantornya gubernur sih. Gedung bersejarah ini umurnya lebih tua dari kakek nenekmu. Bisa jadi.

Walaupun berfungsi sebagai kantornya aparatur negara, tapi ada ruangan yang diperuntukan jadi museum. Gak luas-luas amat. Isinya tentang sejarah pembangunan Gedung Sate. Seru juga sih jadi tahu gedung ini lebih banyak setelah berkunjung ke museumnya. Seperti, pernah amati jumlah sate di tusuk puncak gedungnya ada berapa? ada enam! Coba dicari-cari informasinya mengapa ada enam.

Nanti ada ruangan nonton. Kursinya empuk. Ruangannya berAC adem sekali. Cocok buat istirahat, sambil nonton tentu saja. Gak lama sih durasinya sekitar 10 menitan saja. Wqwq ya kali masa satu jam itu mah pergi ke bioskop saja :D

Oke. Apakah rasa lapar sudah datang? kalau saya sih pasti sudah meggebu-gebu! Ayo kita kemudikan kendaraan ke satu tempat di dekat jalan layang Pasupati. Namanya Imah Babaturan.

Makan Apa di Imah Babaturan?


Gak bisa ditentukan makannya apa, tapi yang ada di sini pasti enak. Hahaha. Setiap minggu mereka berganti menu. Minggu ini oseng cumi cabe ijo. Minggu depan sop patin. Minggu depannya lagi pecel. Beragam menu, citarasanya sama. Citarasa sunda walo makanannya nonsunda, kayak pecel kan bukan asli Bandung. Namun terasanya ya...sunda banget! Gurih-gurih gitulah sunda mah. Hehe.

Cocok sih makan di sini untuk mengisi jadwal makan siang. Menunya berat. Porsinya mantap. Cukup jadi bekal menunggu sore nanti.

Habis dari Imah Babaturan, saya ajak ke Kineruku yuk! Kita baca-baca apa gitu kek di sana. Jika ingin mencamil-camil, tenang saja di Kineruku bisa jajan. Yes!

Bersantai di Kineruku


Pilih mau baca buku apa. Cari kursi kosong. Sedang gak mood membaca? Ya sudah kita pesan makanan saja. Pisang goreng misalnya.

Alasan saya memilihkan tempat ini karena simply ini tempat bandung banget. Ada di tempat yang hawanya sejuk. Bandung memang sejuk, tapi sayang gak semua tempat sedingin Hegarmanah, lokasi Kineruku berada.

Ditambah, Kineruku pelopor toko buku slash film slash perpustakaan di Bandung. Tempatnya juga cozy banget.

Sore menjelang. Waktunya ngopi-ngopi. Di mana enaknya?

Toko Kopi Jawa 


Karena adanya di Braga. Sekalian bisa jalan kaki sekitaran Braga. Atau menatap lalu lalang jalan Braga yang ramainya bukan main. Sambil menyesap es kopinya.

Cookies Kopi Jawa tak kalah enak dengan kopi-kopinya. Saya rekomendasikan earl grey cookies. Betapa berbudayanya menggigit biskuit homamade di pinggir jalan Braga. Turis lyfe banget yang pasti mah. Hahaha.

Mumpung di Braga juga, mampir ke French Bakery. Di ada roti namanya Roti Granat. Kalau kamu cari makanan otentik, Roti Granat ini salah satunya.



Yak begitulah satu hari berkuliner di Bandung. Beneran satu hari ya, mulainya pagi-pagi. Tamatnya maghrib. Moga-moga pengalaman kulinernya gak hanya ada di mulut dan perut. Namun juga dalam ingatan. Dalam bentuk pengalaman.

Untuk itinerary perjalanan di Bandung 3 hari 2 malam, saya pernah buatkan. Boleh dibaca juga siapa tahu memerlukannya.

Sewa kendaraan dapat teman-teman lakukan di TRAC, sebuah promo rental mobil dan sewa bis. Sewanya online via website atau aplikasi. Menyewa kendaraan di TRAC bisa lepas kunci maupun sekalian sewa supir. Saat ini TRAC tersedia di 50 kota di Indonesia.

Selamat jalan-jalan di Bandung, selamat makan-makan!