Social Media

Image Slider

Main TikTok

August 29, 2022

Bila bukan karena TikTok saya pasti sudah rilis beberapa tulisan di blog ini. Dua minggu ini saya lincah berada di sana alias maceuh di TikTok. Hehe. Hampir tiap hari posting soalnya.

 


Awalnya gara-gara si unis nih ngajakin mulu. Ya udahlah kupikir waktu itu sedang lowong sign up aja deh. Eh keterusan sampai hari ini. Unis kontennya bagus-bagus coba lihat aja akunnya @siunis.

Saya terusan main TikTok, malah asyik sendiri belajar bikin video. Untungnya udah pernah bikin video pake inshot jadi gak gaptek amat. Pun menulis caption juga udah agak terlatih di stories IG.

TikTok gila sih apa-apa harus cepat dan ringkas. Saya terbiasa menulis panjang jadi belajar juga menulis pendek. Singkat. Padahal banyak yang mau diceritakan tapi mana bisaaaa.

Banyak orang yang merekomendasikan saya menggunakan backsound viral. Tau kan ya TikTok tuh identik dengan musik-musik viral sebagai pengiring video.

Sampai hari ini saya masih pake latar musik selera sendiri, bukan selera viral. Gak tau deh ngaruh ke jumlah view tidak. Yang berkecamuk (hadah bahasanya) malahan copyright musiknya. Apakah musisinya mendapat jumlah yang layak atas karya yang kita pakai di TikTok? Maksudku akun saya masih personal dan saya gunakan gratis. Itu gimana musisi dapat hak music courtesynya ya?

Begitu memang, zaman apa ini. Lalu kurasa media sosial selalu memerintah kita bagaimana mencapai angka view tinggi. Pengen ditonton orang banyak pastilah ada ketentuannya. Harus begini, besoknya berubah harus begitu. Hadeh.

Kesal juga sih. Maksudku bila hobi diatur-atur lantas di mana kesenangannya.

Jadi saya masih kompromi sama TikTok. Okelah saya nulis caption pendek itu gak apa. Lain-lainnya belum dulu.

Sama seperti di instagram, gaya nulis gaya cerita dan fotografi Bandungdiary saya bebaskeun aja. Sejauh ini saya tau mau cerita apa dan mau memperlihatkan apa. Saya berusaha taro batasan di sana. Biar rapi kontennya dan terarah.

Terarah gak jelasnya. Hehe. Sejauh ini sih mengerjakan konten Bandungdiary sangat menyenangkan, semacam penyegaran dari riweuhnya ngurusin pekerjaan utama yang tentu saja saya mencintainya.


Silampukau di Bandung!

August 08, 2022

Silampukau manggung di ke Bandung! Gak mikir lama saya langsung transaksi dan mengamankan satu seat untuk diri saya sendiri. Meski gak tahu akan nonton dengan siapa, ya udah sendirian pun tidak mengapa. Silampukau gitu loh, iraha boa ka Bandung!

 

Silampukau di Bandung

 
Dan hamdalah saya ada teman nonton, yaitu Diannya Warkop Udinwati! Saya gak pernah mengasihani orang-orang yang sendirian saat menonton gigs macam begini, tapi nonton seorang diri emang terasa kayaknya enakan berdua sih, atau bertiga. Sebelum konsernya mulai, agak culang cileung sorangan sih.

Gig Silampukau berlokasi di LO.CO, di bukit dago selatan. Gak usah bahas tempatnya ya, makanan dan sistem pelayanannya bintang satu. Namun tempatnya emang surga buat pecinta konten tiktok dan instagram. Ngerti kan? masa gak ngerti. Hehe. 

 

Open gate sejak pukul 3 sore, saya mendarat di sana sekitar setengah lima. Meja tiket dijaga oleh teteh-teteh bermuka masam nan muram. Baru terlihat senyum dan keramahannya setelah ia kedatangan temannya. Wkwk.

 

Ohiya, kertas gelang tanda tiket masuknya gak bisa saya jadikan koleksi, desainnya aduh gak banget. Kulihat tiket masuk di kota lain kok cakep-cakep sih bertuliskan 'safari antar kota antar provinsi' dan ada nama Silampukau. Tiket yang di Bandung adanya nama penyelenggara dan gambar yang kayaknya diambil dari mword. Heuheu...yaudahlah. 

 

Sayang aja, saya koleksi tiket-tiket beginian soalnya. Ya udahlah saya koleksi dalam ingatan aja. Hehe

Molor 30 menit dari jadwal Silampukau naik panggung sekitar pukul 7 malam. Panggungnya super mini. Acaranya outdoor, berlatar pemandangan malam kota Bandung. 

 

Udara sejuk khas wilayah perbukitan dago. Eki dan Kharis mulai terlihat di panggung, saya deg-degan. Wah ini dia orang-orang yang sering saya dengar dan tonton aja dari layar hape. Hehe.

Untunglah Dian ngajak saya duduk di deretan terdepan. Jadi saat Kharis minta penonton berdiri aja, kami gak tenggelam di antara cowok-cowok yang posturnya raksasa. 

 

Panggungnya kecil banget jadi Silampukau agak ketutupan penonton lain bila dilihat orang-orang berpostur rata-rata kayak saya. Walo terhalang dua orang di depan, saya bisa enjoy dan jelas nonton Silampukau manggung.

Semua lagu di album Dosa, Kota, dan Kenangan muncul semua. Penonton ikut bernyanyi keras-keras dan hampir melolong. Menjerit-jerit mengeluarkan isi hatinya mungkin. Terutama di lirik-lirik berbunyi kayak gini:

waktu memang jahanam
kota kelewat kejam
dan pekerjaan
menyita harapan

demi tuhan
atau demi setan!

Emang agak susah tidak ikut bernyanyi, sebab semua liriknya mewakili isi hati. Mulai dari kebosanan rutinitas hidup, ditinggal orang yang dicintai, dan kesusahan karena harga miras naik. Hehe.


Silampukau di Bandung



Gig berlalu terlalu cepat. Satu jam saja durasinya. Usai acara saya ikut antre, orang-orang pada berfoto dengan Eki. Saya pun mau, tapi tidak foto bareng. Saya bawa buku harian saya dan satu bolpen. Mau minta tanda tangan mereka.

Sayang saat itu Kharis entah ke mana, hanya ada Eki. Saat bertatap muka dengannya saya gemetaran banget. Saya minta tanda tangannya, dia tersenyum (tentu saja, default wajahnya begitu) dan bertanya siapa nama saya. BAYANGIN DIA NANYA SIAPA NAMA SAYA!

“Nama saya Nurul, Mas Eki,” jawabku gugup bukan main.

Lalu dia tulis di buku harian saya: halo, Nurul. Dan tandatangan. Dian ikut juga minta tandatangan di halaman buku sebuah novel berjudul Pasar yang ia beli dari saya. Ceritanya kami nonton gig sembari transaksi perbukuan. Wkwkwkwk siapa sangka bisa dapat tandatangan Silampukau di novel Pasar-Kuntowijoyo! Gila keren banget, Dian!

Juga saya senang di halaman novel Pasar tersebut nama dan tulisan tangan saya satu halaman dengan tulisan tangan Silampukau. Novel yang, sebelum konsernya mulai, saya berikan pada Dian.

Haha.



Foto pertama, photo credit Dian Irawati

Foto gignya gak ada, burem nih! heuheu

Ngagabrug Teman Lama di Mie Ayam Goyang Lidah

August 01, 2022

Saya dari Bandung. Intan dari Bogor. Kami bertemu di Garut berkat mie ayam. Berkat takdir kehidupan, maksudku, dibantu rasa lapar dan warung Mie Ayam Goyang Lidah. 


Mie Ayam Goyang Lidah di Jalan Veteran Garut


Aneh banget bisa ketemu teman lama di sini, di warung kecil di kota yang sama-sama bukan domisili kami. 


Sayang saya hanya bisa ngobrol sebentar karena Intan, yang udah beres makan mie ayamnya, harus cabut duluan. 


Saya makan buru-buru supaya bisa berfoto bareng sebelum ia pergi. Saya paham banget gak bisa berlamban-lamban dengan ibu yang anaknya dua balita. 


Kumakan baso cepat-cepat. Nelan mie ayamnya ngebut. Minum air satu botol glekglekglek. Kami berfoto dengan mulut saya mingkem, khawatir ada daun seledri yang nyangkut di gigi.


Mie Ayam Goyang Lidah di Jalan Veteran Garut


Bagian teranehnya adalah saya memikirkan Intan beberapa hari itu dan berencana mengirimnya pesan di dm instagram. 


Lebih aneh lagi, saat saya utarakan itu padanya, Intan menimpali "aku tuh kepikiran loh mau ngontak teteh nanya tempat makan di garut."


Ada-ada aja. Saling memikirkan dan akhirnya tatap muka tanpa sengaja. 


Intan sedang menjalani masa-masa istimewa bersama anak sulungnya. Karena itulah saya memikirkan dia. Jadi saya senang bisa bertemu dengannya secara langsung dan tentu saja ku memeluknya. Ngagabrug caritana mah. Take care, Intan!


Mie Ayam Goyang Lidah

Jl Veteran, Garut

Ongkos makan 45.000 (dua mangkok, dua teh botol)