Image Slider

Membaca Aroma Karsa

November 22, 2020
Saya teh baca semua buku Dewi Lestari. Tapi baru satu yang saya resensi sekarang. Ke mana ajaaaa :D

Terbit: 2018
Judul: Aroma Karsa
Penulis: Dewi Lestari
Penerbit: Bentang
Halaman: 700
Genre: Fiksi 

Sejak halaman pertama, novel ini sudah menjerat saya gak karu-karuan. Tidak ada satupun halaman yang membosankan. Saya bergiliran baca novelnya dengan suami. Saya yang pertama sebab saya istri (emang kenapa kalo istri). Saya selesaikan novelnya dua hari. Suamiku tiga hari. 




Aroma Karsa adalah novel tentang Jati Wesi dan Raras Prayagung. Jati Wesi punya indra penciuman yang super tajam. Raras Prayagung punya obsesi pada Puspa Karsa dan ia pikir Jatilah yang bisa membawa Puspa Karsa padanya. 

Awalnya saya pikir Raras ini tokoh antagonis. Eeeeh gak tahunya garis batas antara antagonis dan protagonis di sini nih tipis amat. Oiya, Raras Prayagung adalah pemilik Kemara, perusahaan parfum nasional kelas internasional. 

Lantas hadir anaknya Raras, yaitu Tanaya Suma. Ia memiliki hidung tikus macam Jati. Suma dan Jati skill nyium-nyium aromanya agak beda. 

Kalau Jati tumbuh di Bantar Gebang yang spektrum aromanya luas dari buah, logam, sampai mayat manusia. Suma justru terbatas banget karena pengaruh obat yang ia konsumsi sejak kecil supaya gak muntah-muntah akibat mencium aroma. 

Kebayang gak? Jati gak bisa minum obat kayak Suma lha wong miskin bagaimana mungkin ke dokter. Hidup saja dengan ada. Karena itu penciuman Jati tumbuh bebas karena keterbatasan. 

Mereka bertiga dan satu tim berisi beberapa orang yang dikumpulkan Raras pergi ke Gunung Lawu untuk ekspedisi Puspa Karsa. Raras sebagai donatur dan pemprakarsa. Jati dan Suma sebagai alat pelacak. Ada juga satu kapten tentara untuk menjaga. Satu profesor arkeolog. Satu ahli taksonomi. 
 
Puspa Karsa apa? Wha baca sendiri novelnya. Panjang soalnya susah jelasinnya lagian nanti spoiler juga :D 

Kehidupan Jati dan TPA Bantar Gebang seru bacanya. Gimana Jati menghalau bau busuk dari kasurnya, gimana dia mengutarakan bau mayat yang ia temukan enam meter di bawah permukaan sampah, misalnya.

"Kalau mayat manusia, seperti ada bau buah-buahan. Mirip nanas. Atau, apel," (hal 40)

Ekspedisi di Lawu juga seru. Kejar-kejaran sama Kiongkong si kelabang raksasa. Terus ketemu penduduk dari desa di gunung yang tidak bisa dilihat mata manusia: Dwarapala. Siapa yang mati, siapa yang bertahan. Ketemu harimau. Jatuh dari tebing. Dimarahin kuncen Lawu. Hilang dua hari di Gunung Lawu nan angker, tapi si Jati merasa hanya pergi beberapa jam.

Walo ini novel fiksi, kuharap cerita itu nyata semua. Kalau mendaki gunung, saya mikir pasti ada penghuni gaib yang tinggal di sana. Setelah baca Aroma Karsa, senang juga apa yang saya bayangkan (kamu juga mungkin ya) tertulis dan jadi cerita yang meyakinkan begitu. Rinci pula. Dan kegaiban itu bukan tentang pocong loncat-loncat di luar tenda kita atau kuntilanak bergelantungan sambil ketawa. 

Baguslah ini novelnya. Paling cepat bisa dibaca tiga hari. Meskipun ada konten ilmu pengetahuan, tapi gak terasa berat dibaca. Ringan aja gaya bahasanya meski ada beberapa kosakata yang gak tahu apa artinya. Ada intrik keluarga. Romantisme Jati dan Suma yang hangat dan manis. Dan kemistisan Gunung Lawu yang mendebarkan, tentu saja. 

Plotnya maju terus dikit mundurnya dan apik gak bercela. Konfliknya seru amaaaatttt dengan akhir cerita yang mengejutkan. Naratornya orang ketiga. Latarnya Bekasi, Jakarta, dan Gunung Lawu. 

Kekurangan novelnya...apa yah. Gak ada. Palingan satu kalimat di halaman 607 agak ganggu sih. Jati dan Suma ternyata saudara sepersusuan. Kalau di agama saya mah yang sepersusuan gak boleh jadi pasangan kan. Yha tapi ini konteks ceritanya bukan tentang islam dan pada dasarnya Jati dan Suma, mereka itu...mereka bukan...maksudku...mereka adalah...yhaaa baca ajalah di novelnya :D 

Pesan moral dari novel baca aja sendiri. Paling bosen dan paling gak suka nulisin pesan moral tuh wkwkwkwk :D 

Saya kasih bintang cepuluuuuh buat Aroma Karsa ⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐



Membaca Kambing dan Hujan

November 03, 2020

Kayaknya saya ketemu satu buku terbaik tahun ini. Sebenarnya ini buku lama terbitan 2015. Namun baru kubaca bulan lalu. Dan saya membacanya ulang dan lagi dan ulang dan lagi. Sungguh pengalaman membaca yang menyenangkan. Saya jatuh cinta pada Mif. Hahaha maaf ya, Fauzia. 


Kambing Dan Hujan adalah novel yang ditulis Ikhwan Mahfud. Saya berkenalan dengan novelnya tahun kemarin, di acaranya Bandung Readers Festival program Taaruf Buku. Terus kupikir, wah menarik juga novelnya. Lantas saya baca dan YA MENARIK AMAT INI NOVELNYA REKOMENDID TOLONG PADA BELI DAN BACA JUGA YA! 




Ceritanya tentang upaya dua anak muda mudi NU dan Muhammadiyah, Mif dan Fauzia, mewujudkan pernikahan mereka. Bapak dari Mif adalah tokoh kaum pembaharu (Muhammadiyah). Fauzia nih bapaknya penganut islam tradisi (NU). Keduanya dari desa yang sama. 


Hayo lho bayangin kamu berasal dari jantung yang sama tapi kulit berbeda. Terus mau nikah. Restu orang tua turun gak nih? Terus islamnya ngikut siapa ntar, kaum pembaharu atau islam tradisional? Satu agamanya, banyak genrenya 😜 


Novelnya ringan aja, membumi kalimatnya sehingga mudah dicerna. Plot maju mundur dengan narator yang berganti-ganti. Saya menyukai perjalanan alur ceritanya (meski toh saya bisa tebak akhirnya bagaimana): santai dan logis. 


Sepanjang membaca novelnya, saya senyum-senyum, sedikit sedih, ada perihnya, tertawa, dan senyum lagi. Senyum lha wong almarhum ayah saya pemuda Muhammadiyah. Hahaha. Alhamdulillah ayahku gak fanatik macam Pak Suyudi. Satu-satunya 'kefanatikan' yang ia tanam di rumah adalah anak perempuannya harus pake jilbab. Wajib gak ada nego. Bila kamu membaca kalimat tadi dan ingin mendebatku soal berjilbab, please gak usah. Sebab saya gak bisa debat balik heu..heu..heu..


Kalo baca judul, ini novel gak ada islam-islamnya. Pas dibaca pun, kisahnya bukan tentang agama juga. Justru indonesia banget sih ceritanya. Ada asal usul kampungnya Mif dan Fauzia, gimana kaum pembaharu masuk kampungnya, kerumitan era PKI, sampai tradisi keluarga Desa Centong. 


Tentang adat tradisi nih seru deh bacanya. Semisal mengapa di Centong gak ada kebiasaan makan bersama. Makan di rumah ya masing-masing aja. Mau bareng ayo, mau sendiri ya gak apa. "Yang penting ada yang dimakan dan yang belum makan mendapat bagian" (halaman 23). 


Saya highlight bagian tersebut karena saya mengalami gegar budaya di Bandung perihal makan bersama. Di kampung panturaku kami memang makan bersama. Namun kami gak saling tunggu. Siapa yang dahulu ada di meja makan, ya sudah dia yang makan. Kecuali ada bapak di rumah, barulah dia yang berhak makan pertama (atau bersama-sama). 


Di Bandung kutemui makan bersama adalah kewajiban. Bila ada salah seorang anggota keluarga yang belum hadir di meja makan padahal dia ada di rumah, itu orang akan dipanggil-panggil hingga wujudnya muncul. Kalo dia gak muncul, seisi rumah akan ngambek, pundung istilahnya. Orang sunda dan hal-hal yang segalanya harus terikat memang :P  


Balik lagi ke novel. 


Walo ada hawa 'pertentangan' NU dan Muhammadiyah di novelnya, tapi gak ada sudut pandang saling menjelekkan. Padahal mereka beda banget kan ya. Niat sholat, cara berdzikir, syariat pernikahan, sampai 1 syawal aja beda. 


Malahan Mahfud Ikhwan menurutku selera humornya bagus. Dalam novelnya, perbedaan-perbedaan antar umat yang agamanya sama itu kelihatan sedikit pedih, bikin gemas dan kesal, juga lucu. Seperti yang terjadi di halaman-halaman akhir (347). 


"Kalian singkirkan beduk dari masjid karena mengganggapnya bid'ah, lalu membawa masuk pengeras suara dan menyebutnya sebagai kemajuan. Konyol" kata Pak Fauzan dari islam tradisional, NU. 


"Kalau rukyat lebih utama, kenapa kalian lihat jam kalau mau shalat lima waktu? itu hasil hisab, tahu? lucu" sanggah Pak Kandar si figurnya Muhammadiyah di Centong. 


Terus gimana caranya Mif dan Fauzia ngakurin bapak-bapaknya itu? Lantas kalo kita gak ngerti-ngerti amat NU dan Muhammadiyah, apa masih bisa menikmati novel dengan latar agama Islam ini? 


Seriusan menurut saya ini salah satu novel bagus yang pernah saya baca. Teks-teks miring yang rada banyak jatahnya dalam novel rada ganggu, mana ejaan lama pun. Pusing bacanya. Namun butuh juga sih teksnya diketik miring sebagai penanda surat-suratan. 


Satu hal lagi yang membuatku bingung adalah penamaan karakter yang berubah-ubah. Misalnya Mat - Moek - Pak Fauzan. Orangnya sama, namanya berbeda-beda. Gak apa-apa, maklum sebenarnya. Cuma bacanya halamannya jadi bolak-balik aja buat mastiin apakah Kandar = Is, misalnya. 

 

Nah begitulah. REKOMENDID NOVELNYA NIH! AYO BELI & BACA BUKUNYA. Novel Mahfud Ikhwan yang lain mungkin menarik juga ya? *cek gramedia online, cek toko akal buku, cek toko buku berdikari*


ps: Atik, makasih pinjaman novel Kambing dan Hujan-nya. Wkwk

Membaca Parade Hantu Siang Bolong

October 31, 2020

 Judul dan kovernya bagus amat ya. Senang sekali membeli buku rasanya kayak dapat bonus 'artwork' yang cakep begini. ⁣Seolah-olah ini buku fiksi, novel gitu. Ternyata bukan. 


Isi bukunya kumpulan reportase jurnalistik, temanya mitos dan lokalitas. Ditulis oleh Titah AW. Diterbitkan Warning Books. Saya beli di @bukuakik (tokopedia, ada juga di instagram). 

Salah satu yang diceritakan Titah dalam bukunya adalah desa penghasil Ciu di Bekonang. Saya kan muslim. Makan babi haram, minum alkohol dosa. Namun keduanya saya ingin coba. Semacam hasrat terpendam. Dalam doa kusebutkan: Tuhan, izinkan saya masuk surga, saya mau makan babi panggang dan minum bir dingin. ⁣

Maka gak heran saat kubaca reportase tentang Ciu, saya langsung browsing desanya di google dan youtube. Entahlah buat apa, refleks aja sepertinya. 

Saya juga menyukai reportase Golek Garwo. Ajang cari jodoh di Yogyakarta. Wow saya gak bisa bayangkan 'berburu' jodoh bisa tatap muka terang-terangan begitu. Di tengah tawaran bertopeng ala media sosial & tinder, butuh keberanian buat bilang di atas panggung, di depan banyak orang: "nama saya Septi, single, usia 30 tahun. Rumah di Maguwo. Saya mencari calon suami yang umurnya antara 30-35 tahun, punya pekerjaan, tidak merokok, dan harus punya jiwa seni."


Semua tulisan Titah ini pernah dimuat di web Vice. Dalam bukunya tulisan Titah utuh, tidak ada revisi editor. Judulnya pun berbeda sedikit dengan yang tayang di Vice. Saya lebih menyukai judul tulisan dalam buku Parade Hantu Siang Bolong.

Buku ini -dalam episode tahun 2020 hidup bersama covid-19 dan netflix- termasuk kategori dapat dibaca sekali duduk. Pheeew...udah lama rasanya gak pernah menamatkan buku dalam waktu semalam. Begitu tamat bacanya malah bingung, yah kok udahan. Kalo kata Atik temanku, lagi asyik terbang eh disuruh balik menapak. 

Seriusan, beli bukunya. Rekomendid. ⁣

Hari 5: Pake Gentong, Dicacah Badai Hormon

October 18, 2020

Berkerudung sejak masih remaja hingga sekarang, jujur aja ada masanya saya pengen lepas ini jilbab. Saya menutup rambut bukan karena iman, tapi karena ayah. Dia yang 'maksa' saya berkerudung. Adikku mengalami hal yang sama. 


Anehnya aturan yang sama tidak berlaku untuk dua adikku yang lain. Baru saya sadar, saya sebenarnya punya pilihan untuk melepas jilbab. Ayahku gak akan marah atau kecewa (apakah dia diam-diam kecewa? entahlah). Namun gak saya lakukan. Mengapa? Tidak tahu. Hahahaha! 


Lucu ya. Melakukan hal yang sama 19 tahun dan kamu gak punya alasan mengapa selain 'disuruh ayah'. Pernah satu kali saya protes, pake jilbab panas, begitu kubilang. Ayahku hanya menjawab dengan satu kalimat: kalo gak mau pake jilbab, pake gentong juga bisa. 


Kupikir itu kalimat pamungkasnya untuk ngelem mulutku. Ya sudah sejak itu saya gak mempertanyakannya lagi. 


Ibuku? anaknya banyak. Gak pernah saya tahu adat ibu kalo sedang marah akibat baby blues. Mungkin post partum. Entahlah yang mana. Kupikir mental ibuku baja. Namun nun jauh dalam hatinya, ia terkena badai hormon. Saya mengetahuinya sejak saya melahirkan kubil. 



Pernah ada masanya, saya ingin rambut saya kutuan. Iya betul, banyak kutu. Ibuku rajin mengoles kepala dan rambut kami dengan obat kutu Peditox. Kami, anak-anaknya, di malam tertentu akan antre di-peditox-in. Kalau jari jemari ibu menyusuri kulit kepala saya, aduuuhhh rasanya menenangkan. Nikmat sekali, dipijat dengan tenaga ibu bonusnya kasih sayang. Semalaman kami akan tidur dengan rambut basah obat kutu. Besok paginya sampoan.


Ibuku anaknya banyak dan kami semua berkulit bersih-bersih mengkilap. Telinga bersih dari tahi. Gizi terpenuhi. 


Ibuku anaknya banyak. Ia membekali kami dengan adab membersihkan diri di kamar mandi dengan sempurna. Saking sempurnanya, saya gak mau pipis di tempat manapun selain di kamar mandi rumah sendiri. Bagiku kamar mandi lain menjijikkan. 


Ibuku tidak terlalu dekat denganku tapi mengapa saya cerita lebih banyak tentang ibu di sini ya...

Hari 4: Omo Oppa Saranghaeyo Jebal Ottoke Endaseeeee!

October 17, 2020

Korban korean wave ya saya ini contohnya. Memulai debut karir sebagai penonton drama korea sejak Maret 2020, saya telah melahap paling tidak 35 judul kdrama. Minus di mata bertambah, angka silindris makin membesar. Disertai migrain tak berkesudahan, mulai bulan Oktober ini saya mengurangi adat nonton drama-drama korea. 


Indra terkaget-kaget waktu kubilang ingin ke Korea Selatan. Serius? dia tanya begitu. 


foto pinjam dari kompas.com


Di umur yang gak lagi muda-muda amat kupikir gak ada hal-hal baru yang bakal kusukai. Nyatanya kita bisa suka apa saja di umur berapa saja. Mungkin sebuah konteks bisa jadi alasan mengapa. Tapi sudahlah dinikmati saja ketimbang cari-cari alasan dan menceritakannya ke orang-orang. 


Saya pengen menumpang komuternya Seoul. Pengen makan jajangmyeon. Ingin ikutan masak kimchi di rumah-rumah pinggir laut. Keluar masuk kawasan kunonya. Berkunjung ke GyeongBok. Berada di perbatasan korut dan korsel. Mengintip Jeju. Minum soju juga bisa.


Beneran lho ya, korona udahan kita ke korea selatan? 


Iya, iyaaaa! jawab Indra, seolah-olah saja Bandung - Korea Selatan itu bagaikan Bandung - Sumedang. Haha. 


Di antara candaan main ke korea itu, saya selipkan keinginan pulang ke kampung halaman selama satu bulan dan belajar masak menu-menu khas ke Yayu Mas dan Bu Eli, belanja ke pasar, dan menuliskannya dalam sebuah jurnal. Keinginan yang ini bukan candaan. 


Entah yang saya pengenin benar atau guyon saja, kuharap semuanya dapat terwujud. 

Hari 3: Sarapan Dulu, Kata Ibu

October 16, 2020

Adikku banyak. Ibuku anaknya banyak. Indikator anak terlalu banyak itu begini kira-kira: saat ibuku merintis karir jadi dosen di kampus kabupaten, ia diminta mundur. 


Yha itu, gara-gara hamil dan cuti melulu. Ibuku cerita begitu. Kampus edan dasar! 


foto dipinjam dari Bobo


Perempuan selalu dihadapkan pada kondisi sulit. Ingin sekolah lagi, dituntut menikah. Sudah menikah, ingin mengejar karir dituntut punya anak. Anak sudah ada, si ibu ingin kembali sekolah eh uangnya bagaimana. Uang gak jadi halangan, bagaimana bila punya anak lagi. Lahir anak ke dua, si ibu pengen kerja lagi. Lantas bagaimana caranya membagi waktu dan perhatian untuk si anak (dan suami?). 


Menjadi dewasa dan mengambil banyak keputusan sulit memang menyebalkan. Entah mengapa begitu banyak yang ingin lekas jadi dewasa. Menjadi dewasa dan perempuan, tentu lebih menyulitkan lagi. 


Eh kenapa saya melantur toh. Kan mau cerita sarapan. 


Begini. Ibuku gak patah arang dalam merintis karir di luar rumah. Maklumlah, ibu mertuaku gak senang lihat menantunya gak bekerja. Kebengisan nenekku pada ibuku baru kupahami setelah saya menikah dan jadi ibu. Kalau ada lomba yang merebutkan medali emas 1000 karat dalam perlombaan kategori menantu terbaik, ibuku yang pasti bawa pulang medalinya. 


Sampai di mana tadi? karir. 


Dalam kondisi harus bekerja senin-sabtu, ibuku adalah pahlawan gizi, jenderalnya meja makan. Kami anak-anaknya gak ada satupun yang boleh absen dari meja makan di pagi hari. Semua wajib makan pagi sebelum berangkat ke sekolah. w-a-j-i-b. 


Seporsi nasi, tempe goreng, dan telor dadar. Itu-itu saja sarapannya. Ternyata cukup-cukup aja ya buat memenuhi gizi pagi hari ala anak kampung kayak saya. 


Kupikir kebiasaan tersebut gak istimewa. Apa bagusnya makan pagi? 


Lantas saat kuliah saya pindah kota. Kebiasaan makan pagi tidak terjadi di tempatku tinggal. Rasanya merana perut tidak terisi nasi pukul tujuh pagi. Berinteraksi dengan banyak orang menyadarkanku satu hal. Tidak ada satupun dari kami (seluruh anggota keluarga) menderita sakit maag. Badan sehat, fokus bagus, lambung ceria. 


Karenanya saya sering bingung di bangku kuliah dulu, mengapa ada yang seusiaku kena penyakit nyeri lambung. 


Selain tidak pernah melewatkan waktu makan pagi, di rumah ibuku gak sering menyajikan sambal. Hasilnya kami bukan penyembah cabai. Sementara teman-teman di sekelilingku (begitupun kerabat), makan sambal seperti minum air. 


Sarapan. Tidak makan sambal. Ibuku berhasil memelihara lambung anak-anaknya. Seperti ayahku yang berhasil mempertontonkan hidup tanpa rokok dan mempengaruhiku dalam mencari suami yang bukan perokok, maka ibuku adalah dewinya kedisiplinan sarapan. 


Sekarang saya ngerti kenapa perasaan bersalah selalu muncul ketika saya gagal menyiapkan sarapan untuk kubil sebelum jam tujuh pagi. 


Hari 2: Teladan Adalah Kita

October 14, 2020

Indra bilang saya berubah jadi monster kalau telat makan. Uring-uringan, muka cemberut, senggol bacok. Apa kamu juga begitu? 


Makin bertambah usia, kebiasaan teladan (telat makan edan) kian membabi buta. Telat sedikit saja, lambung memberontak, amarah murka. Wah kacau. Kupikir bagaimana mereka yang terbiasa kelaparan, apakah terbiasa juga dengan angkara? 


Duh ngeri sekali membayangkan diri ini kelaparan dan mudah marah. Kedamaian ternyata asalnya dari apa-apa yang berasa cukup. Cukup kenyangnya, cukup uangnya. 


foto dipinjam dari Lonely Planet

Ya bukankah untuk makan juga perlu uang? 


Oh maaf saya orang kota. Kebiasaan apa-apa diukur dengan uang. Bagaimana dengan kamu yang di desa? apakah uang masih jadi ukuran bisa hidup atau sengsara? 


Kucoba menanam sayuran di rumah. Ada sawi, kangkung, bayam. Dedaunan pun ada telang, sambung nyawa, mint. Ikan ada banyak wong saya bisnisnya dagang ikan. Dengan yang ada itu semua, mengapa saya masih mencari-cari makanan yang lain ya. 


Indra ingin memelihara ayam. Kami pernah punya beberapa ayam. Ada yang mati dicokok curut. Ada yang mati di tangan kami, berubah jadi ayam goreng-ayam opor-ayam tepung. Satu hal yang tidak saya sukai dari DIY makanan adalah menyembelih ayam. Kalau ikan saya masih sanggup entah mengapa. 


Pengalaman memotong urat leher ayam membuatku takut punya ayam lagi. Apa ini yang dialami teman-teman penganut vegetarian? 


Ah tapi gak lantas saya berubah agama dalam hal makan-makan. Saya masih suka daging ayam, ikan, sapi, kelinci. Masih sewajarnya aja sama seperti orang kebanyakan. Satu hal yang penting ya itu saja: jangan telat makan, sebab kalo telat nanti edannya kambuh. Teladan, telat makan edan. 


Hari 1: Haruskah Aku Berkonfrontir?

October 11, 2020

Jam 9 pagi waktu itu. Saya belum makan. Saya pergi ke Alfamart. Beli makanan di sana. Saat mau antre, seorang ibu setengah baya berdiri di depanku dengan gestur meragukan. "Ibu sedang antre?" tanyaku memastikan. Ia menggeleng. 


Saya melewatinya dan berdiri nomor 2 dalam antrean. Sembari nunggu orang di depanku menyelesaikan transaksinya yang terasa agak lama, saya terbatuk-batuk. Gak tahu mengapa saya batuk padahal sedang gak sakit batuk. 


"Uhuk ehmmmm" tuh kan batuk lagi. Si Kasir melirikku, agak tajam sepertinya. 


Lantas si Ibu tadi tiba-tiba berdiri menyamping tepat di meja kasir. Saat giliranku tiba, si Kasir menegurku, katanya saya sebaiknya antre. Ia mendahulukan si Ibu. 


Dalam kondisi lapar, darah dalam tubuh cepat mendidihnya kalau disenggol. Hahaha. Ibu itu sedang gak antre, saya yang antre. 


Foto pinjam dari pixabay

Namun begitulah. Si Ibu manut saja didahulukan oleh kasir alfamart. Mengapa kebodohan mengalahkan yang benar?  


Saat giliranku tiba, saya ingin balas dendam pada si Kasir. Dia tidak menggunakan maskernya dengan baik. Apakah saya tegur saja? 


Kutahan-tahan keinginan mulutku bicara dengan amarah. Sabar, Ulu. Kamu sedang lapar saja makanya ngambek. Begitu hatiku yang bicara. 


Si Kasir selamat dari omelanku. Saya juga menyelamatkan energi diri sendiri. Untuk apa saya merasa menang untuk hal-hal kayak gitu. Namun anehnya pagi itu saya merasa menang: saya bertanya pada si Ibu, saya antre, saya diserobot, saya tidak balas dendam.


Lama hari-hari berlalu. Saya masuk ke toko alfamart yang sama, sore hari. Kali ini dengan si Kubil, anak saya. 


Lagi-lagi terjadi. Antreanku diserobot ibu-ibu. Kali ini ibu yang lain. Dia bersama anaknya, jajan satu es krim. Anaknya merengek ingin es krimnya cepat dibayar. Si Ibu menuruti anaknya. Itu namanya goblok, Ibuuuuu! 


BUIBU PAKBAPAK JANGAN MENURUTI KEMAUAN ANAK MELULU DOOONGGG TOLONG! 


Si Ibu ingin menyela antreanku. Kubil yang ada di meja kasir bersamaku mengirim gestur kalo "mah, masa ibu itu gak antre?! dia mau nyerobot antrean kita!"


Posisiku terjepit. Haruskah saya konfrontir si Ibu? Saya gak keberatan si Ibu menyela antrean, tapi saya harus kasih contoh ke Kubil. Bahwa kalo belanja harus antre. Bahwa belanjaan kamu satu macam atau sembilan, kamu harus tetap antre. Kamu boleh sela antrean kalo kondisi darurat, misalnya kamu cepirit dan butuh ambil tisu basah. Kamu jatuh dari motor dan kesakitan butuh betadine. 


Namun si Ibu tadi dan anaknya gak dalam kondisi darurat. 


Si Kasir hendak menghitung harga es krim. Saya memotongnya. "Saya antre duluan," saya melirik Kubil. Dia memperhatikan. 


"Bu, belanja satu atau sepuluh macem, tetep aja harus antre" kataku pada si Ibu. Mas-mas Kasir yang dulu menegurku -karena dia pikir saya gak antre- melihatku. Lirikannya gak lagi tajam. Saya balik menatapnya. Apa kamu akan menolongku? tanyaku dalam hati padanya. Mana kamu yang dulu teguh pada aturan? tanyaku padanya tanpa bicara. Hahaha. Momen yang aneh. 


Si Ibu ngambek. Bodo amat, pikirku. Saya males berkonfrontir begini sebenarnya. Namun anak saya menonton itu semua kupikir inilah masa-masa di mana dia memperhatikan, apakah saya mempraktekkan apa-apa yang saya ajarkan padanya.


Hah. 


Transaksi hampir beres. "400 rupiahnya boleh didonasikan?" tanya Kasir. Biasanya saya tolak, tapi sudah cukuplah saya bikin adegan di meja kasir sore itu. 


30 Hari Menulis

October 04, 2020
Di kepalaku gak ada ide untuk ditulis sama sekali. Lagi pandemi pula. Gak leluasa jalan-jalan. Suatu kali saya melihat tantangan menulis 30 hari di twitter dan instagram. Beberapa temanku ikutan tantangannya. Namun kubaca topik per harinya, whalah sangat personal sekali. Apakah aman mengumbar data pribadi demikian di media sosial? 



Saya gak bilang tantangannya buruk. Malah menarik banget. Sayanya aja yang overthinking kali nih. 

Lantas suatu kali pula kulihat Tirta -yang kufollow di twitter- menulis tantangan tersebut di blognya. Terus saya baca kan. Wah kupikir-pikir bisa kok gak nulis terlalu rinci yang data pribadi segala ditulis gitu. Di blog pula, bukan di media sosial. 

Akhirnya saya putuskan terjun jadi peserta tantangan tersebut. Rasanya hidupnya pragmatis begini, butuh sentuhan seni (pret hahaha). Maksudku, ada sih buku untuk dibaca. Namun rasanya garing aja gitu. Mungkin karena saya termasuk yang masih bertahan gak jalan-jalan dulu, gak nongkrong dulu. Masih keukeuh physcal distancing dan social distancing gara-gara covid-19. 

Baik, mari kita mulai menulis tantangan ini. 




Membaca Chairil

October 01, 2020

Ini biografi ke-2 Chairil Anwar yang saya baca. Buku ini memanglah tebal, 300 halaman lebih, gak heran ceritanya lebih rinci. Terbayang rasanya riset dan wawancara yang dilakukan penulis, Hasan Aspahani. Bukunya terbit tahun 2016. 




Seperti halnya buku biografi, ceritanya dimulai sejak Chairil kecil. Namun yang berbeda, ini buku citarasanya novel. Tiap bab mengemukakan perjalanan hidup Chairil, tentu saja lengkap dengan asal muasal puisi-puisinya. 


Saya nih serasa jalan-jalan ngikutin hidupnya Chairil. Dari Medan ke Jakarta, lalu ke Yogyakarta. Seru kali ya kalo ada tur napak tilas Chairil. Agak susah kalau harus berpindah kota. Di Jakarta saja bagaimana, dari buku ini saya baca banyak sekali jejaknya di ibukota. 


Waktu saya ke Malang, di sana ada patung Chairil. Tidak saya ketahui mengapa patung penyair ini berada di sana. Sebab di buku tidak ada satupun cerita yang menyebutkan Chairil pernah ke Malang. 


Saya membaca buku catatan perjalanan Sigit Susanto, Menyusuri Lorong-Lorong Dunia. Terus dalam bukunya ia cerita beberapa kali ikut tur sastrawan. Salah satunya James Joyce di Dublin. Kupikir Jakarta bisa juga melakukan hal yang sama dengan Chairil Anwar. Rumah pertama Chairil, Balai Pustaka, rumahnya Sjahrir (yang ternyata pamannya Chairil), sampai dengan rumah sakit Chairil dirawat kan bisa dibuat rutenya. 


Saya merangkum sedikit cerita dari novel biografi ini. 


1. Chairil Anwar otaknya cemerlang. Brilian. Kutu buku. Polyglot. 


2. Terbiasa hidup berkecukupan. Anak tunggal, gak pernah minder dengan status pribumi. 


3. Merantau ke Jakarta dari Medan. Sangat dekat dengan ibunya. 


4. Royal


5. Finansial seret, Chairil mencoba cari uang sendiri. Gagal. Sepanjang hidupnya di perantauan, gak banyak uang. Gak mau kerja kantoran. 


6. Womanizer


7. Lieur orangnya. Bukan gila maksudnya. Unik aja gitu. Unik yang mengganggu. Tipikal orang yang kalo ada bikin kagum sekaligus geuleuh, kalo gak ada malah dicari-cari. 


8. Tangan kanan Sjahrir dalam kirim mengirim berita perjuangan. Semacam kurir informasi. 


Dalam buku disebutkan gini: 


Ada satu hal yang membuat Sjahrir bisa mengandalkan Chairil: daya ingatnya tinggi. Chairil adalah penghapal hebat. Ia tak perlu membawa kabar dalam bentuk tertulis, untuk menghindari kebocoran informasi. Karena kalaupun Chairil tertangkap dan digeledah, tak ada bukti tertulis yang bisa ditemukan. 


9. Suami yang menyebalkan, gak heran Hapsah menceraikannya. Suatu kali istrinya minta Chairil cari uang buat kebutuhan di rumah. Ia sarankan Chairil kirim sajaknya, kan lumayan honor tiga puisi buat uang makan sebulan. Begitu maksud Hapsah.


Terus, Chairil bilang gini pada istrinya: 

"saya tidak dapat dipaksa mengarang untuk cari duit. Jadi janganlah dipaksa saya untuk mencari duit dengan jalan membuat sajak-sajak itu".


Hmmmhhhh...


10. Chairil sayaaaaaaang banget sama anaknya. Evawani Alissa. 


Usai bercerai, Chairil pernah 'menculik' Evawani. Namun Hapsah yang berhasil mendapatkan hak pengasuhan. Lantas Chairil berniat menikahi lagi Hapsah dan ingin membesarkan Eva. 


Sebelum wafatnya, Chairil banyak menerjemahkan puisi-puisi soal kematian. Salah satunya berbunyi: 

Dan jika untung malang menghamparkan

Aku dalam kuburan dangkal

Ingatlah sebisamu segala yang baik

Dan cintaku yang kekal. 




Enam Bulan #dirumahaja

September 16, 2020

Masih musim covid-19. Hari ini tercatat tenaga medis yang wafat 116 orang. Saya masih diam di rumah. Sesekali keluar rumah lagi-lagi urusan kerja saja. Tidak ada nongkrong, tidak ada mudik. Belum satu detik pun saya berkumpul dengan keluarga, apalagi Ibu. Sedih sih. 

 

Enam bulan ini udah ngapain aja? 

 


Gak ada skill yang bertambah selain latihan sabar dan bersyukur. Sebab saya kena efek pandemi. Bisnis saya di Fish Express baik-baik saja. Malahan omset naik. Hamdalah.   

 

Saya daftar kelas-kelas online. Seru juga ikutan kelas jarak jauh begini. Awalnya saya pesimistis dengan keberadaan kelas online. Mengikuti kelas seperti itu macam orang ambisius yang gak mau kalah dengan zaman. Apa sih. Walah ternyata saya malah menyukainya. Pret dipoyok dilebok ya kamu, Ulu. 

 

Kemudian, saya mulai legowo untuk gak masak. Jujur aja saya capek masak. Sekarang saya berserah diri pada Warung Nasi Ceu Mimin. Chef rumahan yang apik dan bersih. Bismillah semoga makanannya bebas dari covid-19. 

 

Saya masih jalan-jalan. Sesekali saja bersama Indra dan Nabil. Saya gak rekomendasikan jalan-jalan berkelompok kecuali dengan pasangan. Musimnya masih pagebluk begini soalnya. Kami jalan kaki sekitar Cibadak saja. Terakhir kalinya keluar rumah kukurilingan tgl 17 Agustus 2020. Pagi-pagi waktu itu, jalanan kosong melompong kecuali di Alun-alun. 

 

Pernah juga beberapa kali saya ikutan tur virtual. Di Semarang sampai ke Jepang. Tur sejarah dan tur horor. Hahaha seru juga. 

 

Kurasa selama enam bulan ini saya belajar buat gak memberi batasan ke diri sendiri. Jangan apatis. Pun jangan ambisius. Santai saja. Tenang. Namun jangan menganggap hal-hal yang gak kamu gak ketahui adalah hal yang gak mungkin, gak penting. 

 

Menghadapi covid-19 pun saya menempatkan diri pada posisi netral. Saya diam di rumah, namun sesekali keluar rumah. Dengan catatan untuk bekerja saja. Tapi, saya gak bisa julid dengan teman-teman yang sering berkegiatan di luar rumah. Meskipun klise ya 'ekonomi harus tetap berputar' tapi beneran kerasa kok emang kegiatan di luar rumah perlu ada bagi sebagian orang. 

 

Saya punya pilihan. Akan tetapi saat saya berhadapan dengan pilihan keluar rumah, itu jalan terakhir. Saat itulah saya pikir kasihan amat yang gak ada pilihan buat diam di rumah aja ya. Mau gak mau mesti keluar rumah dan bekerja, kalau tidak....

 

Jadi, saya gak bisa bersikukuh dengan bilang 'ayo diam di rumah'. Kupikir, ya kalo harus keluar rumah yasudahlah. Kalian pake masker lah. Jaga jaraklah. Keluar rumah buat kerja ajalah. Tahan-tahan dulu ketemu keluarga bila kondisi darurat sajalah. Maksudku, kalo mau keluar rumah, jangan lupa tanggung jawab physcal distancingnya. Zaman masih begini soalnya. 

 

Pada sehat-sehat semua ya. Kalo kamu masih bertekad diam di rumah saja, bagus. Kalo kamu adalah tenaga medis yang kebetulan nyasar ke blog ini dan membaca tulisan ini: terima kasih banyak, semoga sehat-sehat terus ya, detik per detik yang kalian lakukan selama pagebluk ini adalah jaminan yang membawa kalian ke surga. Amin. 

 

Dan, semoga kita dikasih banyak rezeki, beneran buanyaaaak sekali rezeki. Mari kita gunakan rezeki ini untuk belanja. Belanja produk teman, jajan produk siapa saja yang ada di instagram dan twitter dan facebook dan status wa. 

 

Amin. Amin. Amin.

Pinjaman Online untuk Modal Usaha

September 05, 2020

Sobat pengusaha apa kabarnya nih selama pandemi berlangsung? Gak sedikit temanku yang wiraswasta digempur efek covid-19. Bahkan yang kerja kantoran aja pada kena efeknya. Gaji tinggal pokok, kena laid off. Yang dagang pun sepi pembeli.Yang arsitek nih misalnya banting setir dagang ayam frozen. Yang pedagang, mulai aktif berjualan pake tools digital. 

 

Perlahan dengan era new normal, perbisnisan mulai bangkit kembali. Dunia perkantoran mulai aktif. Meski menggeliat lagi, tapi seret-seretnya masih terasa. Apalagi yang pengusaha nih, modal nol untuk merintis usaha. Kondisi finansial sangat terbatas. 

 

Lantas gimana solusinya nih biar bisa berbisnis di era susah begini? 

 

1. Ajukan Kredit ke Fintech

Ini jenis pinjaman yang paling mudah. Pinjaman online alias fintech. Modalnya internet saja. Pengajuan dikirim secara online. Tidak ada proses tatap muka. Oleh karenanya sistem peminjaman ala fintech tidak rumit. Bahkan dana dapat cair dalam waktu kurang dari 24 jam. 

 

Salah satu fintech yang direkomendasikan adalah Tunaiku. Situs peminjaman online ini dapat diunduh aplikasinya dan dicek websitenya. 


Tunaiku merupakan situs peminjaman online yang ada sejak 2014 dan sudah terdaftar serta diawasi di OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Produk fintech Tunaiku berasal dari Amar Bank, bank resmi di Indonesia yang telah beroperasi sejak 1991. 

 

Keamanan dan fleksibilitas adalah dua fitur utama dalam layanan Tunaiku. Syarat meminjam di Tunaiku mudah saja. Hanya dibutuhkan KTP. Dengan jaminan aman, data kita gak akan keluar. Fasilitas tenornya pun fleksibel dan mencapai angka maksimum 20 bulan. Pinjamannya hingga 20 juta. 

 

 


 

Hal utama yang teman-teman harus perhatikan dalam peminjaman ke fintech adalah: pilih angka pinjaman yang paling dibutuhkan dan jangan telat bayar. Intinya sih meminjam tidak apa-apa untuk modal usaha, tapi bukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ya.

 

2. Gadai Aset

Coba ditilik lagi, aset apa yang kamu punya dan masih oke kondisinya. Dari gadget, perhiasan, kendaraan, surat-surat berharga, termasuk rumah. Aset tersebut dalam digadaikan untuk memperoleh uang tunai. Selanjutnya uang tersebut dapat kamu putar sebagai modal usaha. 

 

Namun bila menyangkut jaminan properti, pertimbangkan secara masak. Sepadan gak, seterpojok apa kondisi keuangan kita, seperlu apa modal tersebut kita butuhkan. Lagi-lagi carilah pegadaian yang sudah terdaftar dan diawasi OJK. 

 

Meski proses peminjamannya tidak serumit pinjam ke bank, tetap saja dibutuhkan waktu agak lama untuk petugas pegadaian mengonfirmasi data kita. Juga apabila aset yang kita gadaikan termasuk besar (rumah, misalnya). Petugas pegadaian akan memeriksa dan mendatangi rumah kita untuk cek ricek data aset. 


3. Pinjam dari Bank

Setahu saya di masa korona begini susah bakalnya pinjam ke bank. Seleksi makin ketat karena bank harus lebih berhati-hati dalam mencairkan pinjaman. Pinjam di bank angkanya besar, bukan sereceh bila kita meminjam via fintech yang bisa 5 jutaan. Ditambah bila meminjam ke bank kamu juga harus menyiapkan jaminan seperti halnya meminjam ke pegadaian.

 

Proses peminjamannya butuh waktu lama. Memakan waktu hingga berhari-hari. Kalian juga harus datang ke bank dan tatap muka dengan petugas di sana, serta mengisi banyak dokumen. Kerumitan itulah yang agaknya jadi masalah kalau kamu butuh kecepatan dana cair. 

 

Proses pengecekan kesehatan finansial peminjam juga bank lakukan serinci mungkin. Mereka akan mengecek riwayat keuangan rekening tabungan kita. Pengukuran finansial ini dilakukan agar mereka bisa mengukur apakah kita sanggup membayar cicilan atau tidak. 

 

Nah itu dia solusi mencari modal untuk usaha. Mudah-mudahan binis teman-teman sekalian lancar dan sukses. Semoga rezeki kita di era pandemi ini mengalir terus. Amin.

Kelas Zoom FYCOM: Semua Orang Adalah Influencer

August 19, 2020

Annyeong! (udah anak drakor banget nyapanya heheh).

 

Udah ikutan zoom apa aja euy di zamannya korona ini? Bulan lalu saya daftar kelas zoom wirausaha gitu. Abis temanya menarik. Kayaknya bakal kepake di Fish Express, bisnis perikanan yang saya tekuni.

 

Gara-garanya nih, kelas zoom itu narasumbernya pemilik resto Imah Babaturan. Teh Anggi namanya. Kalo tahu ini restoran, seru banget hypenya. Bayangin ada restoran yang tiap minggu ganti menu dan rame aja gitu. Pelanggan loyalnya banyak banget. Menunya makanan sunda sih kebanyakan. Trus kopinya disebut-sebut juara.

 

Lebih banyak tentang Imah Babaturan, kamu browsing aja.

 

Terus narasumber ke dua, pemilik Tiasa namanya Ghea. Semacam 'warung' tapi warung kota gitulah. Makanannya bertema sehat & vegan. Plantbased gitu.

 

Acaranya sendiri diselenggarakan oleh FYCOM. Fina Yudharisman yang bikin. Cek Instagramnya aja, event buatan Fina bagus-bagus menurutku. 

 

 

 

Di kelas zoom yang saya ikuti, dua narasumber beda banget ngurus bisnisnya:

Ghea based on data

Teh Anggi gayanya koboy abis

 

Dibanding Tiasa yang baru mau setahun umurnya, saya nunggu presentasinya Imah Babaturan. Sebab dia udah battle proven. Umur restorannya 5 tahun.

 

Bisnis mah kalo baru sebulan, oke menarik.

Jalan tiga bulan, wah bagus.

Masuk enam bulan, hebat bertahan.

Satu tahun, bravooo!

Dua tahun, aaarrghhh mantap!

Tiga tahun, wah gokil gila!

Empat tahun, kok bisa sih?!

Nah ini Imah Babaturan lima tahun dong.

 

Tapi dua-duanya punya cerita menarik sih.

Saya catat nih poin-poin menarik dr Ghea & The Anggi. Kali aja ada yang sedang merintis usaha & bisa kepake info-info ini. 

 

 

Ghea/Tiasa

  • Gak perlu jual produk yang kreatif banget. Dicari aja target pasarnya siapa. Segmennya gimana. Ada di mana. Tipe orangnya seperti apa. Umur berapa.
  • Gak semua orang akan jadi konsumen kita. Gak apa-apa.
  • Passion bukan kunci berbisnis. Kemauan buat mengetahui seluk beluk produk & siap kejar-kejaran dgn waktu adalah kunci. Kalo cuma sekadar suka, bisnisnya gak akan lama.
  • Belajar buat gak menyerah karena kejadian gak baik
  • Supaya konsisten, coba dipikirin life purposenya apa. Paling gampang pikirin: biaya sekolah anak, tabungan pensiun, melunasi KPR, dan sejenisnya. Mau filosofis juga bisa.

 

Teh Anggi/Imah Babaturan

  • Endorsement artis/selebgram bukan segalanya
  • Produk yang bagus akan dipromosikan sukarela oleh pembelinya. Karena itu, Imah Babaturan percaya kalo:
  • Semua orang adalah influencer, dan
  • Rawat akun media sosialnya (instagram) supaya marketing sukarela dari pembeli bisa kita terusin lagi efeknya
  • Kolaborasi dengan pebisnis lain
  • Produk harus bagus. Dalam hal ini makanan ya wajib enak. "Jangan ditanya ke pembeli, enak gak?, makanan wajib enak dong. Yang ditanya, kurangnya apa?" gituh kata Teh Anggi.
  • Kalo bisa jelasin brand bisnis kamu dalam lima kata tanpa kebingungan, berarti udah paham dengan bisnis sendiri.

 

Begitulah sedikit info-info menarik dr kelasnya FYCOM. Penyegaran banget buat saya mah sesekali ikutan kayak gini.

 

 

Warna Pintu Rumah Tua di Bandung

August 15, 2020

Paling enak jalan-jalan adalah berjalan kaki santai di pusat kota. Bawa sebotol air minum. Pake ranselnya. Siapkan kamera hp dan powerbanknya. Boleh dibawa topinya sekalian.  Jadwalkan pagi hari, lebih pagi lebih baik, untuk mulai berjalan. Bisa juga sore-sore. Supaya suasanya masih segar atau adem. 

 

Kalau di Bandung, biasanya saya jalan-jalan santai begini di daerah Braga, Sudirman, Pasar Baru, dan Asia Afrika. Lumayan sih trotoar nyaman dipijak meski yang gak layak kondisinya pun banyak. Warung dan pertokoan ada banyak. Siapa tahu mendadak perut keroncongan, bisa mengkol dulu buat jajan. 

 

Bila berjalan santai begini, saya akan memotret rumah-rumah tua. Rumah pinggir jalan ataupun rumah dalam gang. Pintu dan jendela rumah antik sangatlah sedap dipandang. Jadi latar foto OOTD juga bisa sih. Heuheu. Tapi saya gak lakukan itu sebab tujuan saya emang koleksi foto pintu tua dan jendela antik. 

 

Kalau berjalan kaki dan berburu foto rumah-rumah tua, ada satu hal yang menarik bagiku. Perhatikan pintu utama rumah dan kotak sekring listriknya. Mengapa? sebab warna mereka senada. 

 

 

Rumah lama yang arsitektur bangunannya masih bergaya ala tahun 40-50an, memiliki satu kotak kecil infrastruktur listrik yang berada di dekat pintu masuk. Nah pintu masuk, jendela depan, dan kotak sekring listrik ini warnanya sama. 

 

Iya saya tahu pemandangan tersebut bukan hal istimewa. Namun bukannya hal-hal kecil begini menyenangkan untuk dilihat ya. 

 

Menurut beberapa orang temanku, bukan sengaja pintu rumah dan pintu kotak listrik warnanya sama. Tapi waktu proses pengecatan, ada sisa cat yang sayang bila dibuang atau disimpan.  

 

Meskipun gak sengaja, kelihatannya kayak disengajakan. Warnanya jadi estetis. Enak dilihat. Ada yang warnanya hijau, biru, krem, merah, macam-macam. Warna kalem sampai warna mencolok. Entahlah ada cerita psikologi warna apa di baliknya. Yang pasti warnanya dipilih berdasarkan selera pemiliknya. Iya gak? :D 

 

 

Berdasarkan artikel yang saya baca-baca di web Halodoc, warna adalah medium. Semacam pesan yang ingin diperlihatkan pada pemakainya. Kayak warna merah yang menunjukan arti kuat, percaya diri, dan berani. Warna abu-abu artinya kuat dan stabil. Ada juga warna biru yang diasosiakan dengan kesetiaan dan ketenangan. Hijau diartikan sebagai kesejukan. Ada yang mempercayainya sebagai warna keberuntungan. 

 

Gak heran, kata Halodoc, warna bisa jadi alat untuk terapi. Selama menyusuri jalanan dan rumah-rumah tua dengan berjalan kaki, saya pikir ini hobi semata. Namun kalau diperhatikan saya berolahraga juga. Jalan kaki satu jam atau anggap aja 3000 langkah efeknya bagus kan buat tubuh. Belum lagi merhatiin warna-warna pintu dan jendela rumah tua. Lumayan kayak sambil menyelam dapat ikan. Hahaha. Kaki sehat, jiwa bahagia. 

 

Ah iya, Halodoc sendiri adalah aplikasi kesehatan yang memudahkan urusan medis saat kita membutuhkannya. Layanan Halodoc terpercaya dan lengkap. Install aja appnya, sign up, dan jelajahi fitur kesehatan yang ada didalamnya. Mulai dari urusan beli obat, tanya ke dokter, cari dokter yang tepat, dan cek kunjungan ke rumah sakit. 

 

Oke kembali ke rumah tua. 


Umumnya nih rumah-rumah lama yang saya temukan begini ada di daerah Pecinan. Membujur dari Sudirman ke arah Andir. Melebar ke Pasar Baru dan sekitarnya. Bila kalian jalan-jalan ke arah Bandung Utara, di sana banyak peninggalan rumah ala kolonial. Jika ambil arah selatan, banyaknya rumah-rumah masa kini. Nah di tengah-tengah utara dan selatan itulah daerah Pecinannya berada. Suasana dan rumah-rumahnya masih kerasa aura tempo dulu walaupun digempur perubahan. 

 


Agak susah nemu pemandangan begini kalau kita hanya diam di dalam kendaraan. Paling saya rekomendasikan berjalan kaki. Kalau jalan kaki, kita bisa atur tempo kecepatan bahkan berhenti sejenak. Lantas kita bisa melihat dari dekat, menyentuhnya bila properti tidak berpagar atau diizinkan pemiliknya.

 

Nah, protokol kesehatannya udah oke kan? Dipake maskernya, bawa hand sanitazernya, sekalian wadah perbekalan. 

 

Udah siap cuci-cuci mata dengan berjalan kaki? pagi-pagi ya kita ketemu di Asia Afrika di depan museum!

 

Membaca Wanadri

August 03, 2020
Baru saya ketahui, beberapa orang tua mendaftarkan anaknya ke Pendidikan Dasar Wanadri karena anak-anaknya bermasalah dan gagal dididik di pesantren 😅⁣ ⁣ 

"Daripada kamu terkapar di jalanan, kami lebih bangga kamu mati sebagai Wanadri" gitu kata Ayahnya Rara di halaman 81. ⁣ ⁣ 



Buku berjudul Setitik Cahaya di Kegelapan isinya tentang sekumpulan cerita pendek anggota Wanadri. Ceritanya seputar Pendidikan Dasar Wanadri (PDW). Namun ada juga kisah lainnya tentang pertemanan, kenekadan, ketangguhan. Ada cerita yang lucu, sedih, mengharukan, aneh, macam-macamlah. ⁣Juru tulis buku bernama Nondi F. Pertama kali bukunya terbit tahun 2014. ⁣ 

Ada satu cerita berjudul Negosiasi Dengan Jin. Ceritanya Wanadri menggelar lomba Citarum Rally I. Mengingat acara serupa di tahun sebelumnya memakan korban jiwa, agar acaranya lancar berbagai antisipasi dilakukan. Termasuk negosiasi dengan makhluk gaib penghuni sungai. ⁣ 

Dibantu kuncen, hasil negonya begini: 

Makhluk gaib: (1) penyelenggara harus luruskan niat, jangan sombong mau nantang alam, jangan sok jagoan, jangan anggap enteng (2) minta tumbal tiga orang korban. 

Wanadri: (1) jangan ada korban meninggal (2) kalo ada korban, korbannya anggota wanadri aja. ⁣ Melalui kuncen, makhluk gaib bertanya. Emang apa ciri-ciri Wanadri? ⁣ ⁣ 

"Mereka memakai syal oranye," kata Iwan Bungsu, ketua panitia. Bungsu menyanggupi tumbal tiga orang, tapi dia nego jangan meninggal dan harus anggota wanadri aja yang katempuhan. Jangan korbannya warga sekitar atau peserta umum. Si makhluk gaib sepakat 😂⁣ ⁣ 

Korban pertama, terjungkal dari perahu saat mencoba arus. Korban kedua jatuh dari tebing. "Siapa gerangan korban ketiga?" bisik Bungsu dalam hati. ⁣ H-1 acara, Bungsu tertabrak mobil. Masuk rumah sakit. Kaki luka parah. Nah itulah dia korban ketiga. ⁣ ⁣ 

Citarum Rally I di tahun 1977 itu sukses dan lancar. Itulah acara yang menandai bangkitnya olahraga arung jeram di Indonesia. ⁣Bukunya bisa dibeli di Shopee dan Bukalapak.

Lima Bulan #DiRumahAja

July 29, 2020
Gak bisa cerita banyak selama pandemi ini. Gak ada kegiatan selain bekerja saja. Lalu tidur. Netflikan. Begitu aja terus. Gak banyak buku yang kubaca, waktuku habis dilalap netflix hahah. Ini pantesnya dinangisin apa diketawain sih :)))



Bila saya keluar rumah, itu karena urusan pekerjaan. Bukan karena ketemu keluarga atau teman. Pernah sekali waktu bertemu Dimas, dalam rangka rapat darurat menyelamatkan kebaperan hahaha apa atuh baper.

Selama pandemi ini, tempat yang paling sering saya datangi adalah Cibadak di pagi hari. Sebab di sana saya belanja segala keperluan Fish Express. Seminggu sekali enggak juga, palingan sebulan 3x.

Kalo lewatin jalan-jalan di Bandung pagi hari, rasanya kangen berjalan kaki jelajah masuk keluar gang. Korona bangcat kapan kelarnya. Sampai kapan harus nahan-nahan eungap maskeran dan menahan hobi ya.

Sampai kapan begini terus. 2022?

Blog saya belakangan seringan sponsored post ketimbang tulisan sendiri. Mau selektif, butuh pemasukan. Saya masih menahan diri gak coba-coba apply ke penawaran sponsor susu formula. Namun otomotif, udah jebol pertahanan. Hahaha.

Agak aneh gak sih saya ngomongin postingan iklan. Seolah-olah kalian gak saya anggap begitu. Postingan iklan yang ada di blog ini ditujukan untuk google. Untuk mesin pencari. Bila kamu tidak menyukainya, maksudku tulisan mengandung iklan, bisa cari tulisan yang lain.

Gak tahu lagi saya mau cerita apa. Mungkin saya posting aja tentang Cibadak gimana?

Cerita-cerita ada sih di instagram @bandungdiary. Apa saya pindahin aja ke blog ya captionnya. Hahah.

Riding di Tengah New Normal? Tips Otomotif Sederhana Ini Bisa Diterapkan

July 23, 2020
Masa pandemik yang begitu panjang pastinya membuat semua orang merasa jenuh karena harus beraktivitas di dalam rumah demi kesehatan dan keamanan bersama. Yang terbiasa melakukan aktivitas di luar, di masa new normal ini pasti menyambutnya dengan luar biasa sebab terdapat kelonggaran untuk melakukan aktivitas di luar, tentunya dengan mengikuti beberapa protokol kesehatan, social distancing dan tips otomotif untuk mendukung performa.



Bagi pecinta dunia riding, masa new normal ini dapat dimanfaatkan untuk kembali melakukan aktivitas tersebut. Namun, terdapat beberapa hal penting yang harus diperhatikan agar riding yang dilakukan tidak menghadapi masalah. Berikut adalah tips tentang riding aman dan nyaman dari berbagai sumber yang dapat diterapkan:

1. Pastikan Kondisi Tubuh dalam Keadaan Sehat

Untuk siap melakukan riding tidak hanya berbekal rencana yang matang. Kondisi tubuh sebelum melakukan riding juga harus dipersiapkan dengan baik. Apalagi di masa new normal ini, dimana Covid-19 belum sepenuhnya hilang dari negara ini.

2. Cek Juga Kondisi Kendaraan

Kondisi tubuh sudah fit, maka persiapan selanjutnya adalah kendaraan yang akan digunakan untuk riding. Berdasarkan tips otomotif terbaru, kendaraan yang akan digunakan untuk riding harus lah prima dan tidak ada kerusakan di bagian mesin atau yang lainnya. Oleh karena itu, jika ingin riding berjalan lancar, maka cek secara seksama keadaan kendaraan.

3. Hindari Zona Merah

Tidak semua daerah memberlakukan new normal. Apabila kebetulan rute yang akan dilalui selama riding melintasi zona merah, sebaiknya yang paling aman adalah menghindar terlebih dahulu untuk mengantisipasi adanya sesuatu yang tidak diinginkan. Untuk mengetahui wilayah mana yang masuk zona merah, Anda bisa menghimpun banyak informasi dari berbagai sumber terpercaya.

3. Tetap Memakai Masker dan Siapkan Hand Sanitizer

Walaupun sudah berlaku new normal, bukan berarti selama riding Anda bebas menanggalkan masker. Tips otomotif selanjutnya, demi keamanan bersama, selama riding usahakan untuk selalu memakai masker dan membawa hand sanitizer selama perjalanan. Masker yang digunakan harus yang lapis 2 karena kondisi yang belum pulih maksimal sehingga perlu banyak waspada.

4. Kelengkapan Surat Tidak Boleh Dilupakan

Paling penting dan vital adalah surat-surat kendaraan. Misalnya saja STNK. Selama perjalanan tidak akan pernah tahu apakah di satu tempat akan terjadi pemeriksaan. Agar terhindar dari tilang, maka sebaiknya Anda menyiapkan kelengkapan surat sejak jauh hari. Termasuk tanggal kadaluarsa.

5. Selalu Cek Suhu Tubuh

Selama melakukan perjalanan, kelelahan fisik sudah pasti akan dialami. Kelelahan tersebut bisa berpotensi menaikkan suhu tubuh. Untuk memantau suhu tubuh agar tidak melebihi batas normal, ada baiknya apabila Anda selalu mengecek suhu tubuh selama di perjalanan. Jika mendekati ambang batas, sebaiknya Anda lekas beristirahat karena kondisi pandemic yang belum sepenuhnya pulih.

6. Jangan Lupa Bawa Helm

Tidak hanya berupa surat ijin saja yang paling vital. Pemakaian helm selama melakukan perjalanan riding pun tak kalah penting. Helm yang digunakan juga harus berstandar SNI. Sebelum riding dimulai, pastikan kondisi helm tidak mengalami kerusakan karena akan berakibat fatal.

Masih banyak sekali tips otomotif tentang persiapan riding di masa new normal yang dapat diterapkan. Anda dapat mencari informasi tips yang lainnya di otoloka.id yang memang khusus sebagai website otomatif dan menyediakan tidak hanya tips bermanfaat, tapi juga informasi penting lainnya. Beberapa poin di atas hanya sebagian contoh kecil dan mudah Anda lakukan sebelum melakukan riding. Semoga informasi tersebut bermanfaat dan jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan.


Cara Membeli Foto di Shutterstock Via idcopy.biz

July 04, 2020
Sekarang zamannya menulis di media sosial dilengkapi ilustrasi atau foto yang seru-seru kan, yang bagus gitu, nyambung dengan tulisan atau maksud kita. Nah kamu biasanya bikin sendiri ilustrasinya, motret, atau download dari web-web penyedia foto dan ilustrasi kayak Shutterstock?

Kayak foto ini. Bukan saya yang memotretnya. Saya membeli fotonya di Shutterstock melalui website idcopy.biz.



Walaupun untuk kebutuhan konten saya biasanya motret sendiri. Akan tetapi sering juga saya butuh foto dan ilustrasi pendukung dan saya gak bisa membuatnya sendiri. Sehingga jalan terbaik adalah download aja fotonya!

Namun nih, foto-foto bagus gak bisa didownload begitu saja. Ada harga ada rupa.

Downloadnya di mana? Pernah dengar Shutterstock kan, salah satu penyedia jasa ilustrasi. Nah kamu bisa download gambar-gambar di Shutterstock gratis. Bagaimana cara? Ikuti cara-cara yang saya pake nih.

Masuk ke idcopy.biz.

Kalo belum punya akun di idcopy.biz, register dulu saja. Pendaftarannya gak ribet sama sekali. Hanya isi data email, hp, dan password. Setelah itu cek email kamu. Nanti klik link verifikasinya dan barulah kamu bisa bisa pake email dan passwordnya untuk login.



Oke sekarang kamu sudah masuk ke idcopy.biz. Sekarang bagaimana cara download foto atau ilustrasinya?

Bila ingin download gratis, lihat sebelah kanan web. Ada kolom Gambar Pilihan Hari ini. Klik saja button ‘unduh’ di sana. Foto otomatis tersimpan di perangkat gadgetmu.




Begitu saja caranya. Mudah kan ya.

Unduh Gambar/Foto Tanpa Watermark dan Resolusi Besar

Nah sekarang bagaimana cara jika ingin download lebih banyak dengan pilhan beragam? Fotonya lebih bagus, gak ada watermark pula. Tentu saja ini berbayar. Web idcopy.biz  membantumu membeli foto-foto tersebut.

Eh tunggu dulu, tarif download foto dan ilustrasi via idcopy.biz sama sekali gak mahal. Tergantung kebutuhanmu berapa banyak. Saya kasih lihat contohnya ya. Cara membeli foto di Shutterstock via idcopy.biz gampang banget!

Cara membeli foto di Shutterstock via idcopy.biz

1. Cek Home
Di sini kamu klik button ‘Beli Paket’ untuk mengaktifkan fitur download. Nanti keluar halaman pilihan paket. Nah kamu pilih mau yang mana.

Saya memilih Paket Kustom. Anggaplah ini pertama kalinya kamu pake idcopy.biz, sebagai percobaan saya beli satuan saja. Beli dua gambar dulu.



Nanti saat kamu sukses register ke idcopy.biz, kamu akan mendapatkan kode voucher. Nah, gunakan kode vouchernya untuk memperoleh potongan harga ya!

2. Salin kode voucher di idcopy.biz
Masukan kode voucher SSBANDUNGDIARY ke kolom yang ditentukan. Kalau mulanya saya harus membayar RP72.000. Setelah saya masukan kode voucher, total pembayaran hanya RP14.000! Yeay!

Oke sekarang, baca panduan pembayaran. Setelah itu lunasi pembayarannya dan tunggu sistem idcopy.biz mengaktifkan fitur downloadmu. Cek emailmu ya! Gak makan waktu lama kok sistem otomatisnya terverifikasi.


Cek email untuk baca verifikasi pembayaran. Seperti ini:



Bila pembayaranmu telah terverifikasi, sekarang waktunya kembali ke web idcopy.biz  dan cek Riwayat Pembelian.

3. Cek Riwayat Pembelian
Nah di sini riwayat pembelian kamu terlihat. Invoice menunjukkan lunas. Dengan demikian, kami bisa salin voucher di sini. Gunakan vouchernya untuk mendownload foto atau ilustrasi yang kamu mau.

Sudah disalin vouchernya?

Sekarang kembali ke Home untuk download.  Klik buton ‘Masukan Voucher’.

4. Download Foto/Ilustrasi
Kembali lagi ke Home. Karena saya pilih paket Kustom 2 gambar, maka saya punya jatah download 2 gambar saja.

Oiya mesti kamu ingat, setiap paket dan jatah yang kita dapatkan ada durasi waktunya. Artinya, kalo gak segera mendownload gambarnya, jatah tersebut akan hangus.

Tenang saja. Masa kadaluarsanya beberapa hari. Cek Home untuk tahu berapa lama durasi waktu yang kamu punya ya.
Oke gini cara download fotonya.

Download Foto dari idcopy.biz

Di halaman Home terpampang kolom untuk download. Tapi, pilih dulu foto mana yang kamu inginkan di Shutterstock.

Buka dulu website Shutterstock. Tenang saja, kamu gak perlu signup atau sign in di sana. Yang kamu perlu lakukan, pilih fotonya, dan copy URL-nya.


Sudah copy URL dari halaman yang kamu buka di Shutterstock?

Oke, sekarang kembali ke web idcopy.biz. Nah kamu salin link yang kamu copy tadi. Kalau sudah, klik Pratinjau. Foto yang kamu mau sudah muncul di bawah kolom Pratinjau.

Sekarang kamu klik download.

idcopy.biz akan memproses fotonya. Gak makan waktu lama hanya beberapa detik. Seperti ini:




Bila foto sudah didownload idcopy.biz, nah sekarang waktunya pindahin ke gadget kamu. Pilih ‘klik untuk menyimpan di komputermu’.

Nah sudah deh beres! Foto-foto terbaik sekarang bisa kamu pake untuk melengkapi presentasimu, artikelmu, atau apa sajalah keperluannya. Gak ribet kan ya beli foto-foto via idcopy.biz. Cocok  nih buat kamu yang mau beli foto internasional tapi gak punya kartu kredit atau paypal. Karena idcopy.biz pembayarannya ke bank lokal dan pake mata uang rupiah pula. Hehe.

Selamat mencoba!


Hobi Fotografi? Dukung Hobimu Dengan digibank KTA

June 12, 2020
Saat ini, fotografi menjadi salah satu hobi yang sedang tren di kalangan milenial. Bagaimana tidak, sejak berkembanganya media teknologi terkhusus media sosial, foto menjadi salah satu faktor penting yang bisa menarik perhatian banyak orang untuk menunjukkan eksistensi diri.
Mengunggah hasil jepretan terbaik ke media sosial dan internet rupanya tidak hanya menarik respon para netizen saja, namun juga mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah. Maka tidak heran apabila fotografi menjadi hobi yang cukup banyak diminati oleh anak muda.
Untuk mendapatkan hasil gambar berkualitas, selain membutuhkan skill pastinya juga akan membutuhkan kamera yang berkualitas. Nah, untuk kamu yang masih pemula di dunia fotografi, berikut ini beberapa merk kamera terbaik yang bisa kamu jadikan pilihan:

1.    Canon

Canon adalah merk kamera yang cukup terkenal di dunia. Produk-produk perusahaan kamera digital asal jepang ini disebut-sebut telah menguasai pasar kamera seluruh dunia. Jenis kamera yang terbaik dari brand ini adalah DSLR dan SLR.

2.   Nikon

Hampir seluruh masyarakat sudah sangat familiar brand kamera satu ini. Nikon menjadi salah satu kamera yang paling sering digunakan oleh fotografer selain canon, dengan ciri khas nama sistem kamera dengan simbol “D” yang artinya digital.  Perusahaan dari negeri sakura ini rupanya tidak hanya memproduksi mikroskop dan teropong.

3.   Sony

Brand kamera satu ini rupanya sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat, khususnya di Indonesia. Mengusung teknologi dan spesifikasi tinggi membuat kamera brand ini cukup mencuri perhatian bagi pecintanya. Beberapa produk top sony adalah DSLR, dan cyber-shot.

4.   Panasonic

Produk kamera panasonic umumnya memiliki keunggulan pada bagian LCD screen, picture, warranty, dan kualitas. Dalam kabar terbarunya panasonic lumix merelease sejumlah kamera digital yakni seri L dan G. Meski tak sepopuler canon dan Nikon, brand satu ini memiliki kualitas yang tak kalah dan bahkan mampu menyaingi produk dari brand lain seperti Casio, Olympus, dan lainnya.
Berbicara tentang kamera berkualitas, tentunya membutuhkan budget yang tinggi untuk mendapatkannya. Maka bukan hal yang aneh apabila banyak yang beranggapan bahwa fotografi adalah hobi mahal.
Nah, buat kamu yang mulai tertarik dengan hobby ini namun memiliki budget yang terbatas, jangan berkecil hati. Masih banyak jalan yang bisa kamu lakukan untuk menjajal hobby ini. Salah satunya adalah kamu bisa mengajukan kredit cepat melalui digibank KTA. Tidak hanya cepat dan mudah, tetapi kamu bisa mendapatkan pinjaman uang hingga 80 juta. Menarik bukan?
Alasan memilih kredit digibank KTA untuk upgrade kamera?
Meski berbasis kredit online, produk dari digibank by DBS ini rupanya sangat jauh berbeda dengan kredit atau pinjaman online pada umumnya. DBS Indonesia berkomitmen menghadirkan digibank sebagai bank digital terbaik. Tidak perlu ragu, karena digibank KTA ini memiliki sejumlah keunggulan yang tidak dimiliki oleh pinjaman online lainnya. Diantara keunggulannya tersebut adalah:
  • Saat hendak mengajukan pinjaman atau kredit, sebagian orang mungkin berpikir keribetan saat pengurusan kredit. Namun tidak untuk produk digibank KTA, yang menawarkan Tanpa ribet karena apply online dimana saja dan kapan saja melalui aplikasi digibank by DBS atau website go.dbs.com/kta
  • Dalam proses persetujuannya pun sangat tidak diragukan. Kamu akan mendapatkan  Approval cepat dalam 60 detik
  • Tidak tanggung-tanggung, kamu bisa meminjam uang puluhan juta, ditambah lagi dana langsung cair ke rekening digibank by DBS hingga Rp. 80 juta
  • Bunga kompetitif mulai dari 0,95%, cukup terjangkau untuk kamu yang takut terjerat cicilan besar.
  • Kalo keamanan, sudah jelas Aman dan terpercaya sudah terdaftar di OJK
Ini prosedur pengajuan kredit digibank KTA!
Dalam prosedur pengajuan kredit digibank KTA sangat mudah, hanya saja terdapat perbedaan antara nasabah dan non-nasabah digibank by DBS. Nah, untuk kamu yang belum menjadi nasabah, Berikut 5 langkah mudah proses pengajuan digibank KTA:
  1. Apply di go.dbs.com/kta
  2. Persetujuan cepat dalam 60 detik
  3.  Download aplikasi digibank by DBS
  4. Verifikasi biometric dengan agen digibank
  5. Cair langsung ke rekening digibank hingga 80 juta
Sedang langkah proses pengajuan digibank KTA untuk nasabah adalah sebagai berikut:
  1. Klik personal loan di menu utama aplikasi digibank by DBS 
  2. Lengkapi data diri
  3. Tunggu konfirmasi persetujuan kredit
  4. Pilih limit pinjaman dan tenor yang diinginkan
  5. Persetujuan cepat dalam 60 detik dan dana cair secara real-time hingga 80 juta
Jadi, tunggu apalagi? Yuk upgrade hobby fotografi dengan memanfaatkan kemudahan dari digibank KTA.