Image Slider

Cara Membeli Foto di Shutterstock Via idcopy.biz

July 04, 2020
Sekarang zamannya menulis di media sosial dilengkapi ilustrasi atau foto yang seru-seru kan, yang bagus gitu, nyambung dengan tulisan atau maksud kita. Nah kamu biasanya bikin sendiri ilustrasinya, motret, atau download dari web-web penyedia foto dan ilustrasi kayak Shutterstock?

Kayak foto ini. Bukan saya yang memotretnya. Saya membeli fotonya di Shutterstock melalui website idcopy.biz.



Walaupun untuk kebutuhan konten saya biasanya motret sendiri. Akan tetapi sering juga saya butuh foto dan ilustrasi pendukung dan saya gak bisa membuatnya sendiri. Sehingga jalan terbaik adalah download aja fotonya!

Namun nih, foto-foto bagus gak bisa didownload begitu saja. Ada harga ada rupa.

Downloadnya di mana? Pernah dengar Shutterstock kan, salah satu penyedia jasa ilustrasi. Nah kamu bisa download gambar-gambar di Shutterstock gratis. Bagaimana cara? Ikuti cara-cara yang saya pake nih.

Masuk ke idcopy.biz.

Kalo belum punya akun di idcopy.biz, register dulu saja. Pendaftarannya gak ribet sama sekali. Hanya isi data email, hp, dan password. Setelah itu cek email kamu. Nanti klik link verifikasinya dan barulah kamu bisa bisa pake email dan passwordnya untuk login.



Oke sekarang kamu sudah masuk ke idcopy.biz. Sekarang bagaimana cara download foto atau ilustrasinya?

Bila ingin download gratis, lihat sebelah kanan web. Ada kolom Gambar Pilihan Hari ini. Klik saja button ‘unduh’ di sana. Foto otomatis tersimpan di perangkat gadgetmu.




Begitu saja caranya. Mudah kan ya.

Unduh Gambar/Foto Tanpa Watermark dan Resolusi Besar

Nah sekarang bagaimana cara jika ingin download lebih banyak dengan pilhan beragam? Fotonya lebih bagus, gak ada watermark pula. Tentu saja ini berbayar. Web idcopy.biz  membantumu membeli foto-foto tersebut.

Eh tunggu dulu, tarif download foto dan ilustrasi via idcopy.biz sama sekali gak mahal. Tergantung kebutuhanmu berapa banyak. Saya kasih lihat contohnya ya. Cara membeli foto di Shutterstock via idcopy.biz gampang banget!

Cara membeli foto di Shutterstock via idcopy.biz

1. Cek Home
Di sini kamu klik button ‘Beli Paket’ untuk mengaktifkan fitur download. Nanti keluar halaman pilihan paket. Nah kamu pilih mau yang mana.

Saya memilih Paket Kustom. Anggaplah ini pertama kalinya kamu pake idcopy.biz, sebagai percobaan saya beli satuan saja. Beli dua gambar dulu.



Nanti saat kamu sukses register ke idcopy.biz, kamu akan mendapatkan kode voucher. Nah, gunakan kode vouchernya untuk memperoleh potongan harga ya!

2. Salin kode voucher di idcopy.biz
Masukan kode voucher SSBANDUNGDIARY ke kolom yang ditentukan. Kalau mulanya saya harus membayar RP72.000. Setelah saya masukan kode voucher, total pembayaran hanya RP14.000! Yeay!

Oke sekarang, baca panduan pembayaran. Setelah itu lunasi pembayarannya dan tunggu sistem idcopy.biz mengaktifkan fitur downloadmu. Cek emailmu ya! Gak makan waktu lama kok sistem otomatisnya terverifikasi.


Cek email untuk baca verifikasi pembayaran. Seperti ini:



Bila pembayaranmu telah terverifikasi, sekarang waktunya kembali ke web idcopy.biz  dan cek Riwayat Pembelian.

3. Cek Riwayat Pembelian
Nah di sini riwayat pembelian kamu terlihat. Invoice menunjukkan lunas. Dengan demikian, kami bisa salin voucher di sini. Gunakan vouchernya untuk mendownload foto atau ilustrasi yang kamu mau.

Sudah disalin vouchernya?

Sekarang kembali ke Home untuk download.  Klik buton ‘Masukan Voucher’.

4. Download Foto/Ilustrasi
Kembali lagi ke Home. Karena saya pilih paket Kustom 2 gambar, maka saya punya jatah download 2 gambar saja.

Oiya mesti kamu ingat, setiap paket dan jatah yang kita dapatkan ada durasi waktunya. Artinya, kalo gak segera mendownload gambarnya, jatah tersebut akan hangus.

Tenang saja. Masa kadaluarsanya beberapa hari. Cek Home untuk tahu berapa lama durasi waktu yang kamu punya ya.
Oke gini cara download fotonya.

Download Foto dari idcopy.biz

Di halaman Home terpampang kolom untuk download. Tapi, pilih dulu foto mana yang kamu inginkan di Shutterstock.

Buka dulu website Shutterstock. Tenang saja, kamu gak perlu signup atau sign in di sana. Yang kamu perlu lakukan, pilih fotonya, dan copy URL-nya.


Sudah copy URL dari halaman yang kamu buka di Shutterstock?

Oke, sekarang kembali ke web idcopy.biz. Nah kamu salin link yang kamu copy tadi. Kalau sudah, klik Pratinjau. Foto yang kamu mau sudah muncul di bawah kolom Pratinjau.

Sekarang kamu klik download.

idcopy.biz akan memproses fotonya. Gak makan waktu lama hanya beberapa detik. Seperti ini:




Bila foto sudah didownload idcopy.biz, nah sekarang waktunya pindahin ke gadget kamu. Pilih ‘klik untuk menyimpan di komputermu’.

Nah sudah deh beres! Foto-foto terbaik sekarang bisa kamu pake untuk melengkapi presentasimu, artikelmu, atau apa sajalah keperluannya. Gak ribet kan ya beli foto-foto via idcopy.biz. Cocok  nih buat kamu yang mau beli foto internasional tapi gak punya kartu kredit atau paypal. Karena idcopy.biz pembayarannya ke bank lokal dan pake mata uang rupiah pula. Hehe.

Selamat mencoba!


Hobi Fotografi? Dukung Hobimu Dengan digibank KTA

June 12, 2020
Saat ini, fotografi menjadi salah satu hobi yang sedang tren di kalangan milenial. Bagaimana tidak, sejak berkembanganya media teknologi terkhusus media sosial, foto menjadi salah satu faktor penting yang bisa menarik perhatian banyak orang untuk menunjukkan eksistensi diri.
Mengunggah hasil jepretan terbaik ke media sosial dan internet rupanya tidak hanya menarik respon para netizen saja, namun juga mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah. Maka tidak heran apabila fotografi menjadi hobi yang cukup banyak diminati oleh anak muda.
Untuk mendapatkan hasil gambar berkualitas, selain membutuhkan skill pastinya juga akan membutuhkan kamera yang berkualitas. Nah, untuk kamu yang masih pemula di dunia fotografi, berikut ini beberapa merk kamera terbaik yang bisa kamu jadikan pilihan:

1.    Canon

Canon adalah merk kamera yang cukup terkenal di dunia. Produk-produk perusahaan kamera digital asal jepang ini disebut-sebut telah menguasai pasar kamera seluruh dunia. Jenis kamera yang terbaik dari brand ini adalah DSLR dan SLR.

2.   Nikon

Hampir seluruh masyarakat sudah sangat familiar brand kamera satu ini. Nikon menjadi salah satu kamera yang paling sering digunakan oleh fotografer selain canon, dengan ciri khas nama sistem kamera dengan simbol “D” yang artinya digital.  Perusahaan dari negeri sakura ini rupanya tidak hanya memproduksi mikroskop dan teropong.

3.   Sony

Brand kamera satu ini rupanya sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat, khususnya di Indonesia. Mengusung teknologi dan spesifikasi tinggi membuat kamera brand ini cukup mencuri perhatian bagi pecintanya. Beberapa produk top sony adalah DSLR, dan cyber-shot.

4.   Panasonic

Produk kamera panasonic umumnya memiliki keunggulan pada bagian LCD screen, picture, warranty, dan kualitas. Dalam kabar terbarunya panasonic lumix merelease sejumlah kamera digital yakni seri L dan G. Meski tak sepopuler canon dan Nikon, brand satu ini memiliki kualitas yang tak kalah dan bahkan mampu menyaingi produk dari brand lain seperti Casio, Olympus, dan lainnya.
Berbicara tentang kamera berkualitas, tentunya membutuhkan budget yang tinggi untuk mendapatkannya. Maka bukan hal yang aneh apabila banyak yang beranggapan bahwa fotografi adalah hobi mahal.
Nah, buat kamu yang mulai tertarik dengan hobby ini namun memiliki budget yang terbatas, jangan berkecil hati. Masih banyak jalan yang bisa kamu lakukan untuk menjajal hobby ini. Salah satunya adalah kamu bisa mengajukan kredit cepat melalui digibank KTA. Tidak hanya cepat dan mudah, tetapi kamu bisa mendapatkan pinjaman uang hingga 80 juta. Menarik bukan?
Alasan memilih kredit digibank KTA untuk upgrade kamera?
Meski berbasis kredit online, produk dari digibank by DBS ini rupanya sangat jauh berbeda dengan kredit atau pinjaman online pada umumnya. DBS Indonesia berkomitmen menghadirkan digibank sebagai bank digital terbaik. Tidak perlu ragu, karena digibank KTA ini memiliki sejumlah keunggulan yang tidak dimiliki oleh pinjaman online lainnya. Diantara keunggulannya tersebut adalah:
  • Saat hendak mengajukan pinjaman atau kredit, sebagian orang mungkin berpikir keribetan saat pengurusan kredit. Namun tidak untuk produk digibank KTA, yang menawarkan Tanpa ribet karena apply online dimana saja dan kapan saja melalui aplikasi digibank by DBS atau website go.dbs.com/kta
  • Dalam proses persetujuannya pun sangat tidak diragukan. Kamu akan mendapatkan  Approval cepat dalam 60 detik
  • Tidak tanggung-tanggung, kamu bisa meminjam uang puluhan juta, ditambah lagi dana langsung cair ke rekening digibank by DBS hingga Rp. 80 juta
  • Bunga kompetitif mulai dari 0,95%, cukup terjangkau untuk kamu yang takut terjerat cicilan besar.
  • Kalo keamanan, sudah jelas Aman dan terpercaya sudah terdaftar di OJK
Ini prosedur pengajuan kredit digibank KTA!
Dalam prosedur pengajuan kredit digibank KTA sangat mudah, hanya saja terdapat perbedaan antara nasabah dan non-nasabah digibank by DBS. Nah, untuk kamu yang belum menjadi nasabah, Berikut 5 langkah mudah proses pengajuan digibank KTA:
  1. Apply di go.dbs.com/kta
  2. Persetujuan cepat dalam 60 detik
  3.  Download aplikasi digibank by DBS
  4. Verifikasi biometric dengan agen digibank
  5. Cair langsung ke rekening digibank hingga 80 juta
Sedang langkah proses pengajuan digibank KTA untuk nasabah adalah sebagai berikut:
  1. Klik personal loan di menu utama aplikasi digibank by DBS 
  2. Lengkapi data diri
  3. Tunggu konfirmasi persetujuan kredit
  4. Pilih limit pinjaman dan tenor yang diinginkan
  5. Persetujuan cepat dalam 60 detik dan dana cair secara real-time hingga 80 juta
Jadi, tunggu apalagi? Yuk upgrade hobby fotografi dengan memanfaatkan kemudahan dari digibank KTA.


Tempat Foto Menarik di Bandung dan Paling Instagramable

June 07, 2020
Sebagai salah satu kota paling indah di Indonesia, tidak sulit menemukan tempat foto menarik di Bandung yang sangat instagramable. Hampir di setiap objek wisata yang kamu kunjungi, pasti akan cocok dan terlihat bagus untuk dijadikan lokasi pemotretan atau selfie. Setelah kamu upload di media sosial khususnya instagram, dijamin akan menuai banyak pujian.

1. Chinatown

Chinatown merupakan obyek wisata kuliner yang terletak di Jl. Kelenteng 41, Kelurahan Ciroyom, Kecamatan Andir, Bandung. Sambil menikmati aneka hidangan yang disajikan, kamu dapat melakukan sesi pemotretan atau selfie dengan latar belakang panorama khas negeri China.
keterangan photo courtesy di bagian bawah
Lebih dari itu, pihak pengelola juga menyediakan kostum bergaya pangeran dan putri dari kerajaan Tiongkok. 

2. Little Seoul

Sama seperti Chinatown, Little Seoul juga hadir sebagai obyek wisata kuliner dan lokasinya ada di Jl. Sawunggaling 10, Tamansari, Bandung. Ruang makannya didesain dan ditata sedemikian rupa, sehingga mampu menghadirkan suasana khas negeri Korea.
Di tempat foto paling unik di Bandung inilah kamu bisa memuaskan hobi kamu, kemudian diupload di akun instagram.

3. D’Dieuland

Banyak yang menyebutkan jika D’Dieuland merupakan miniaturnya Disneyland karena konsep desain bangunan dan tata ruangnya hampir sama. Di restoran yang terletak di Jl. Pagermaneuh, Punclut, Dago, Bandung ini kamu bisa sepuas hati berselfie ria atau melakukan sesi pemotretan bersama teman.
Hasilnya pasti sangat mengesankan dan membuat siapa saja yang melihatnya merasa takjub.

4. Tafso Barn

Suasana yang agak berbeda namun tetap terasa istimewa akan kamu temukan ketika berkunjung ke Tafso Barn di Jl. Baru Laksana 75, Lembang, Bandung. Rumah makan yang sering dianggap sebagai tempat foto paling cantik di Bandung ini menawarkan spot gaya milenial.
Sebagian besar ruang makannya berbentuk sangkar burung dan dilengkapi tempat duduk dengan tampilan yang tidak kalah unik.

5. Forest Walk

Setelah puas berfoto ria dengan konsel latar belakang bernuansa kekinian, tidak ada salahnya melanjutkan kegiatan ini di alam terbuka. Salah satu pilihan terbaik yang bisa kamu datangi yaitu Forest Walk yang lokasinya ada di daerah Babakan Siliwangi, Bandung.
Hutan kota ini terlihat indah dan di setiap areanya sangat menarik dijadikan lokasi pemotretan.

5. Tebing Keraton

Objek atau tempat foto terindah di Bandung dengan nuansa alami berikutnya adalah Tebing Keraton di Desa Ciburial. Pemandangan alamnya benar-benar indah, mampu membuat mata dan pikiran jadi segar saat memandangnya.
keterangan photo courtesy di bagian bawah
Kamu pasti akan mendapatkan kepuasan yang semakin maksimal setelah menjalani pemotretan di tempat ini baik secara sendirian atau bersama teman.

6. Kawah Putih Ciwidey

Kawah Putih Ciwidey yang terletak di Desa Lebak Muncang, Bandung juga sangat bagus untuk lokasi hunting foto. Di sini kamu bisa menyaksikan pemandangan alam berupa danau yang warna airnya dapat berubah-ubah menurut kondisi cuaca.
Spot foto yang paling sering dikunjungi para pecinta fotografi adalah jembatan kayu yang ada di tengah danau. 

keterangan photo courtesy di bagian bawah
Ketika kamu mendatangi semua obyek wisata yang disebutkan di atas, pasti membutuhkan alat transportasi. Apalagi jika berkunjungnya bersama teman dalam rombongan besar. Apabila ingin mencari transportasi paling terpercaya, langsung saja menghubungi jasa sewa bus Bandung TRAC.
Pelayanannya sangat profesional dan memuaskan. Misalnya ketika ada teman kamu yang sakit ketika sedang menikmati keindahan tempat foto menarik di Bandung, pasti akan dibantu dibawa ke rumah sakit. Keamanan dan kesehatan memang menjadi prioritas utama, jadi sangatlah wajar jika mereka menerapkan prosedur perlindungan yang sangat ketat bagi semua pelanggan.

(photo courtesy: hargatiket.net)

Sayur Online di Bandung, Apa Aja Rekomendasinya?

June 06, 2020
Bisnis sayur online di Bandung lagi tinggi-tingginya nih sejak pandemi covid-19. Kalo dulu yang saya tahu cuma Keranjang Segar, sekarang ada beberapa jasa sayur online lainnya yang rekomendid. Saya udah pake jasanya dan memuaskan.

Kalo dulu belanja sayur online pilhannya sedikit. Sekarang buanyak banget! Sehingga, untuk belanja sayur online saya pilih dari yang jasanya paling cepet aja. Pesen tadi malam, kirim besok pagi. Kayak gitu.

Kalo harga, saya sering gak merhatiin murah dan mahalnya :D gak tahu kenapa heuheueheu.

Kedua, saya perhatiin jarak si sayur online ke rumah. Dekat atau jauh. Meski ongkirnya flat, saya tetap aja pengen milih jasa sayur online yang dekat rumah.

Ketiga. Layanannya bagus gak. Kalo bagus, saya mau pesan lagi. Kalo gak memuaskan, meskipun dekat dengan markas si sayur online, saya males reorder :D

Oke. Apa aja sayur online yang saya rekomendasiin?

1. Keranjang Segar

Ini jasa pasar online paling hits di Bandung sih. Udah gitu bisa pesan tanpa plastik pula. Barang dagangannya pun lengkap sampai yang produk nonpasar juga ada. Keranjang Segar termasuk yang antrean belanjanya rada panjang. Ongkirnya juga flat. Coba aja cek harga barang dan jasanya di instagram mereka @keranjangsegar.



2. Locarvest

Nah ini. Setahu saya mereka pelopor sayur online di Bandung deh. Beberapa tahun lalu saya pernah belanja di sebuah pasar sayur dadakan, terus kulihat Locarvest di sana, kalo gak salah mereka sekumpulan anak-anak UNPAD gitu. Mereka bilang menerima pesanan online juga. Terus entahlah kayaknya ganti pengurus apa gimana. Tokonya ada di instagram. Pengirimannya senins/d sabtu. Sering ada sale buah-buahan bagus di Locarvest, follow deh @locarvest.id.



3. Aya Sayur

Mang Aya, demikian admin tokonya, beneran kayak mamanng-mamang pasar gaya chatnya :D oiya Aya Sayur ada di Arcamanik. Jadi nih warga planet Antapani dan Arcamanik kalo mau belanja kebutuhan dari pasar, pesannya ke Aya Sayur aja ya karena free ongkirnya. Daerah lain juga bisa ke Aya Sayur. Tanya aja ongkirnya ke mereka di @ayasayur. Di instagram yak.



4. Pasar Cikembang

Saya belum belanja di Pasar Cikembang, baru follow dan merhatiin grafis-grafis posternya yang bagus. Kuperhatikan beberapa teman saya belanja ke Pasar Cikembang dan mereka merekomendasikan Pasar Cikembang ini. Follow mereka di @pasarcikembang. Fyi, mereka nih ongkirnya flat 10.000 aja. Whoaaa!



5. Toko Belibu

Ini toko sih bukan jasa belanja di pasar seperti keempat jasa di atas. Akan tetapi, sebagian produk pasar ada di sini juga. Ditambah mereka menyediakan produk organik pun. Tokonya ada, belanja online bisa. Kalo online, pesanannya dibuka jam 9.00-17.00.  Cek instagramnya @belibufreshmart



6. Toko Basila

Sama kayak Belibu, ini toko juga. Banyak yang produknya organik pula. Kalo mau belanja sayur-sayur pilihan yang terkurasi asal dan usulnya, toko-toko kayak Basila dan Belibu ini cocok buat kalian. Pemesanan online di Basila jam 08.00-20.00. Cek ke ig mereka @basilafreshmarket.



Semua tokonya ada di instagram. Cek aja nama tokonya ya saya udah cantumkan tuh. Terus, perhatiin bio mereka. Cek highlightnya. Karena info-info yang kamu butuhkan sebenernya bisa kalian baca sendiri tanpa kalian tanya ke CS mereka. Mulai dari daftar harga, hari pengiriman, ongkos kirim, aneka macam sale, dan lain sebagainya. Pokoknya membaca adalah koentji. Yhaaa, bahkan mau belanja aja baca dulu ya khan :D

Selamat belanja ya. Moga-moga saya dan kamu diberi keistimewaan diam di rumah dulu sampai pandemi ini berakhir. Namun, kalo kalian harus bekerja di luar rumah, hati-hati, jaga kesehatan, pake maskernya dan rajin cuci tangan. Covid-19 is no joke.



Membaca Novel Sang Raja

June 02, 2020
"Menggosok tubuh dengan cengkeh untuk asma itu sebetulnya resep tradisional di Jawa. Sesak napasnya reda, tapi pengobatan balur semacam itu kurang manjur. Bagaimana bila cengkeh dirajang, dicampur tembakau, dan diisap seperti rokok?"⁣⁣
⁣⁣
Kretek. Satu benda kecil ini sejarahnya panjang amat.




Kita bisa baca sepenggal perjalanan kretek di novel Sang Raja, tentang pabrik kretek di Kudus, Tjap Bal Tiga. Bosnya bernama Nitisemito. Ceritanya berdasarkan kisah nyata. ⁣⁣Ditulis Iksaka Banu. 
⁣⁣
Pabrik Bal Tiga dianggap fenomenal. Sebab pertamakalinya bisnis milik pribumi karyawannya ribuan dan omsetnya jutaan. Koran-koran Belanda menjuluki Nitisemito: De Koning, De Kretekkoning, Sang Raja.⁣⁣

Isi novelnya tentang perjalanan usaha kretek Bal Tiga. Bisa jadi ini novel membosankan, ritmenya pelan. Karena agak bosan itu saya bacanya perlahan. Hari ini baca, besok enggak, lusa baru lanjut baca lagi. 

Senang juga saya gak putus bacanya. Makin banyak halaman yang kubaca, makin menarik mengikuti perjalanan cerita pabriknya Nitisemito ini.
⁣⁣
Narator novelnya ada dua: Wirosoeseno dan Filipus. Keduanya karyawan pemasaran dan pembukuan kretek Tjap Bal Tiga. ⁣⁣Motor karakter novel ini ada pada mereka. 

Soeseno yang energik. Filipus yang simpatik dan teliti. Membaca karakter mereka melalui narasinya sendiri tentang pabrik tentu mengasyikkan. Saya kayak punya dua kepribadian. Hehe.
⁣⁣
Berhasil melampaui zaman kolonial, Jepang, hingga revolusi, daya tahan pabrik ini ketemu ujungnya. Pabrik tutup. Alasannya seperti kebanyakan kasus di bisnis keluarga: gak ada penerus yang mumpuni kayak Nitisemito. ⁣⁣
Dahulu pernah merebak pandemi flu spanyol yang meresahkan. Pabrik ini gak kena dampaknya. Maju terus laris manis aja sementara bisnis lain bergelimpangan, ada penjarahan, dan kerusuhan. ⁣⁣
⁣⁣
Menekan harga produksi biasanya dihadapi dengan menaikkan harga jual. Dengan ekonomi yang lamban, Bal Tiga gak mau naikin harga. Akhirnya volume penjualan digenjot. Gimana cara? sewa Fokker dan sebarin flyer ke Semarang, Surabaya, Bogor, Batavia, dan Bandung. ⁣⁣
⁣⁣
Belon lagi ini kretek endorse sandiwara keliling, membuat program radio, sampai bioskop dalam rangka penyebaran merek Bal Tiga. Wah saya sampai ikutan semangat mengikuti inovasi-inovasi pemasaran pabrik kreteknya! ⁣⁣
Mempertahankan bisnis dalam tiga bulan aja susah. Tiga tahun apalagi. Tiga zaman gimana cara. Gokil kota Kudus, pernah ada kerajaan besar di sana. Kerajaan kreteknya Nitisemito. ⁣

Kalo diukur dengan inovasi masa kini, ide mereka biasa saja. Tapi itu tahun 20an. Kita masih dipimpin pemerintah Hindia Belanda. Nitisemito bahkan berjalan jongkok bila menghadap pemerintah kolonial. 

Walo saya gak tahu di mana batas fiksi dan fakta tentang pabrik Bal Tiga, selama baca novelnya saya terlalu semangat kebawa suasana. Seolah-olah semua ceritanya nyata. Tapi, di bagian manakah fiksinya ya...
⁣⁣
Begitu covid-19 udahan (semoga kita panjang umur), kita main ke Kudus bawa novelnya. Terus susuri satu per satu tempat yang ada di novel: bekas pabrik di Langgardalem, Kampung Jagalan, gedung Oost Java Bioscoop di Alun-alun, stasiun kereta api Kudus, rumah kosnya Wirosoeseno di Sunggingan, kompleks perumahan Panjunan.


Kembali ke Kotagede

May 31, 2020
“Tuh kan kesiangan!” kataku merengut, pada Indra suamiku. Kami melewatkan Pasar Legi. Pasarnya sudah sepi. Kira-kira pukul dua siang waktu kulihat jam tanganku.

Keinginan mencicipi limun bersoda di Warung Sidosemi pun batal sebab warungnya tutup. Kemudian maksud hati menengok Masjid Kotagede yang kuno nan antik mesti diredam, sedang masjidnya ditutup karena renovasi. Ah sial betul plesiran kami ke Kotagede Yogyakarta waktu itu, empat tahun lalu.

Lantas seperti dendam yang kesumatnya belum tamat, saya dan Indra kepingin balik lagi ke sana, ke Kotagede. Itu dia, tempat yang akan kami datangi setelah pandemi covid-19 ini berakhir. Kupikir kembali ke tempat yang kami pernah datangi setelah wabah keparat ini selesai akan memberi pengalaman yang segar. Seperti bertemu kawan lama.

di kompleks makam raja Mataram

Menyenangkan namun tidak memuaskan adalah kesanku pada Kotagede. Seperti memakai baju yang belum pas ukurannya. Sewaktu di sana, kami menyusun itinerary berupa satu paragraf di awal itu, yang gagal semua itu. Ditambah: berjalan kaki menyusuri gang-gang Kotagede dan masuk ke kompleks makam raja-raja Mataram. Dua tempat yang terakhir itu (untungnya) kesampaian kami kunjungi.

Strategi berjalan-jalan di Kotagede akan saya balik susunannya. Kalau dulu, saya dahulukan berjalan kaki masuk keluar gang. Nanti nih, saya mau eksplor Pasar Legi di pagi hari. Cari jajanan pasar. Menyantap sarapannya orang-orang Kotagede. Mungkin belanja, biasanya di pasar-pasar tradisional begini banyak harta karunnya! Betul tidak :D

Lantas Masjid Kotagede sudah beres renovasinya, tentu kami bisa beribadah di sana. Sekalian melongok keantikan masjidnya. Tujuan utamaku sih memotret masjidnya. Juga merasakan pengalaman beribadah di tempat kuno begitu.

Namun untuk Warung Sidosemi sepertinya tidak ada harapan bagi kami ke sana. Secara permanen tempatnya tutup. Ya, untuk selamanya. Entah mengapa. Juga, saya gak bisa beritahu alasan kenapa saya ingin banget ke warung ini. Padahal tempatnya biasa saja. Warung sederhana pada umumnya. Menunya bakso. Juga limun jadul. Mungkin ini yang namanya efek traveling. Tempat-tempat yang biasa, kelihatannya istimewa. Heuheu.

Eh kalo Kipo pasti masih banyak di Kotagede. Whaaaa kangen makan Kipo! 

kipo!

Meski kompleks makam raja Mataram sudah kami sambangi, saya ingin kembali ke sana. Kali ini pengennya berlama-lama, kalo bisa ditemani pemandu berkeliling kompleksnya.

Begitu juga gang-gang yang dipenuhi rumah lama Kotagede, gak ada keraguan  buat saya menyusurinya lagi. Jalan setapak di Kotagede tuh alamak cantik, bersih, dan khidmat. Bahkan sepuntung rokok pun gak saya temui di gang-gang itu. Berulangkali juga kulihat papan pengumuman bagi pengendara motor agar tidak menyalakan mesin motornya.

Jogja dan hal-hal kecil yang tidak kulihat di Bandung adalah Jogja yang menyenangkan. Termasuk Kotagede, tentu saja.
Dahulu di Kotagede saya berburu foto bangunan tua. Namun saya melewatkan banyak sekali detail-detail dekorasi rumah kunonya. Seperti pintu dan jendela tua. Untuk memotret merekalah saya hendak kembali ke Kotagede. Berburu banyaaaaaaaaaakkkk sekali pintu dan jendela.

Sepertinya pemandangan Kotagede yang kami lihat empat tahun lalu akan berbeda dengan tahun ini. Atau tahun depan. Entah kapan pandemi covid-19 ini akan berakhir, moga-moga akhir tahun ini kita sudah bisa plesiran lagi ya! Kalau saya ke Kotagede, kamu mau ke mana?

Nah seingatku, dulu saya menginap di Prawirotaman. Esok nanti ke Kotagede saya pilih penginapan di sana saja, di jantung Kotagede maksudku.

Penginapannya kupilih di Reddoorz . Cari hotel di Jogja saja. Budget menginap harus ditekan, belum bisa bermewah-mewahan. Tahu sendiri sedang pandemi covid-19 begini, biaya apa saja yang ditekan. Meski pekerjaan kami tidak terdampak buruk karena virus korona, tapi pemakaian uang mesti diirit-iirit juga. Heuheuheu.





Mencari hotel murah di Jogja tidak sulit dengan bantuan Reddorz. Apalagi secara spesifik saya ingin menginap di Kotagede. Tinggal masukan nama kotanya di kolom pencarian, nanti muncul kawasan-kawasan di Jogja. Tentu saja saya pilih Kotagede. Wilayah turunannya akan muncul seperti Umbulharjo dan Pandeyan, juga beberapa wilayah lainnya.

Akan tetapi, mencari hotel di Jogja (maupun kota lainnya), mesti kamu riset lokasinya. Disinkronkan lokasi yang ingin dikunjungi dan titik hotelnya berada. Pilihan hotel di Reddoorz ada banyak, biasanya saya cek harga, review dan lokasi hotelnya. Dicocokan dengan googlemap dan ukur jarak.

Selain harga hotel yang murah, Reddoorz juga mudah saya pakai aplikasinya. Pembayaran praktis dengan pilihan pembayaran yang beragam: online dan offline.

Walau murah, Reddoorz memberikan fitur garansi yang menurutku menarik. Seperti wifi gratis, televisi, kamar mandi yang bersih, amenities, linen dan ranjangnya yang nyaman. Juga air mineral.

Cara menggunakan aplikasi Reddoorz mudah saja. Install dulu aplikasinya. Sign up dan login dengan email.

Cara memesan kamar hotel di Reddoorz tidaklah sulit. Ketik kota yang kalian tuju. Atau klik lokasinya saja supaya langsung ketemu hotel yang cocok. Masukan tanggal check in dan check out.



Beberapa Reddoorz tidak akan menanyakan surat nikah. Namun ada pula beberapa hotel di reddoorz yang sistemnya syariah, sehingga bila bukan pasangan suami istri akan ditanyakan surat nikah. Karena itu selalu cek status hotelnya ya. Selama menginap di Reddoorz, saya tidak dipersulit saat check in. Meski menginap sendirian atau berdua dengan anak saya, mentok-mentok hanya ditanya KTP.

Begitu juga dengan uang deposit. Tidak semua hotel di Reddoorz  mencantumkan deposit. Akan tetapi ada pula yang menghendakinya. Sepengalamanku, biasanya deposit diminta dalam bentuk tunai.

Perihal refund di Reddoorz setahu saya gampil saja. Pengembalian dana memakan waktu 14 hari.

Antara sabar dan gak sabar ingin pandemi covid-19 ini berlalu, moga-moga apapun kondisinya kita sehat dan rezeki mengalir lancar! Kereta api sudah menunggu, pesawat terbang siap menanti, bis-bis antar kota sama kangennya dengan kita nih.

Kotegede, kami akan datang!


Belanja Sayur (Online) di Belibu

May 08, 2020
Pandemi ini membuatku, mungkin juga kamu, belanja dari rumah. Terima kasih, teknologi. Kita memang golongan orang-orang yang beruntung.

Salah satu portal belanja sayur yang sering saya pake jasanya di Bandung bernama Belibu Fresh Mart.

belibu


Toko bahan pangan ini lokasinya di Buahbatu dan Cigadung. Belanja langsung di tokonya bisa, tapi sekarang kan zamannya ojeg online. Jadi, belinya via watsap saja. Nanti barang belanjaan dikirim ke rumah.

Produk yang disediakan Belibu menurutku bagus-bagus. Sayurnya organik. Segar-segar pun. Aneka bumbu dapur rempah dan botolan bisa dibeli di sini. Ada juga macam-macam daging mentah sampai olahan. Ikan, sapi, ayam. Kalian pernah tahu ada filet ikan lele? Di Belibu ada dong filet ikan lele. Unik juga nih. Oiya sebangsa sosis, nuget, dan sejenisnya tersedia. Buah-buahan sudah pasti ada.

Sampai barang perintilan skincare bisa dibeli juga di Belibu. Saya beli Botanina di sini. Skincare dan health bodycare kualitasnya pun oke, kebanyakan yang kulihat produknya indie semua. Alias produk lokal dan rumahan.

Terus, tahu apa yang kubeli juga di Belibu? Kitchen supply. Lebih spesifiknya: sumpit. Seperti yang udah kuceritakan di postingan sebelumnya, pandemi covid-19 ini membuat saya demam drama korea. Apa yang kusukai dari kdrama? adegan makannya. Hahaha. Sehingga, kuputuskan membeli sumpit dan makan seperti cara mereka makan. Kesusahan memang. Hahaha. Ya namanya juga cinta-mendadak. Belakangan sumpitnya jarang saya pake lagi. Cintanya agak memudar emang :D

Roti! Ah ya terakhir saya belanja di Belibu, saya jajan roti juga.

Bahan pangannya memang gak selengkap yang ada di pasar. Namun Belibu bisalah menjawab kebutuhan saya untuk memasak dan kebutuhan pangan yang sehat. Toh sekarang gak leluasa belanja di pasar juga.


fish express


Ada banyak platform belanja sekarang. Saya usahakan menggunakan beberapa jasa. Beli ini ke sana. Beli itu ke situ. Emang cocok-cocokan. Dengan Belibu sudah cocok.

Lokasi Belibu di Bandung:
Jl Reog 10
Jl Cigadung Raya Timur 54

Buka 08.00-17.00
Buka online jam 09.00 - 17.00

Buka tiap hari, btw :D

Terpukau dan Terpukul di Masjid Sang Saka Ratu di Cirebon

May 05, 2020
Berada di Masjid Kaliwulu, rasa gak nyaman yang saya rasakan muncul karena hawa gaib. Di Masjid Sang Saka Ratu, perasaan terganggu adanya karena ulah manusia.

Oya, karantina covid-19 membuatku menulis catatan lama ini. Penelusuran saya akan masjid-masjid kuno di Cirebon ini udah lama berlalu. Beberapa masjid udah saya tulis di blog. Nah sekarang saya tulis satu masjid populer di kalangan peziarah, yaitu Sang Saka Ratu.

Masjid Sang Saka Ratu adalah nama resmi yang tercantum di artikel dan buku-buku sejarah. Nama lain masjidnya ada dua:
Masjid Dog Jumeneng
Masjid Syekh Syarif Hidayatullah

Akan tetapi nih, waktu saya bertanya ke warga lokal di pinggir jalan lokasi masjidnya, mereka gak familiar dengan nama-nama tersebut.

Begitu kutanya "di manakah Masjid Gunung Jati?" barulah mereka jawab. Sementara itu, di tulisan ini, saya menyebut masijdnya dengan nama Dog Jumeneng saja ya. 

Ngomong-ngomong, Sang Saka Ratu artinya apa ya, di buku yang kubaca gak ada penjelasannya. 


Tiap masjid kuno di Cirebon menguarkan rasa kagumku yang levelnya beda-beda. Maksudku, harusnya saya bisa lempeng aja dan biasa aja melihat masjidnya. Tapi gak tahu kenapa nih, begitu masuk masjid-masjid kuno ini, whoaaaa rasa kagum, respek, bangga, sekaligus bete tumplek tumbleugh.

Akan tetapi, di Masjid Jumeneng ini, rasa betenya terlampau banyak. Mengapa? Saya ceritakan nanti di bagian akhir tulisan. Saya ceritakan dulu tentang masjid berusia 5,5 abad ini ya.

Terpukau Bangunan Masjid Dog Jumeneng

Masjid Jumeneng berlokasi di lereng bukit. Karena itu kontur masjidnya unik: dibangun berjenjang. Didirikan tahun 1452 M, mulanya area ini adalah taman. Setelah Pangeran Cakrabuana wafat, barulah areanya berubah jadi makam. Beliau dan Sunan Gunung Jati, dimakamkan di sana.

Ohiya, Pangeran Cakrabuana adalah orang yang mendirikan Cirebon. Ia putra Prabu Siliwangi. Ya betul, darah kerajaan Pajajaran mengalir di tubuhnya. Gak heran Cirebon ini setengah sunda, setengah jawa. Atau tepatnya bukan sunda dan bukan jawa ya. Heuu.

Berada di satu kompleks yang sama dengan makam Sunan Gunung Jati dan makam keluarga keraton, lumrah sekali ini masjid ramai pengunjung. Peziarah, tepatnya. Kompleksnya berada di Gunung Sembung, Cirebon. 

Sewaktu saya dan Indra berkunjung ke kompleks Gunung Jati, ramainya bukan main. Gak sengaja ke sana pas kliwonan. Baru nyadar hari itu menjelang kliwon setelah berada di masjidnya :D

Mencapai masjidnya gak perlu menanjak. Hanya melewati jalan setapak, gang kecil di antara rumah warga. Begitu masuk ke dalam masjidnya, barulah terlihat konturnya yang berjenjang.

Sejujurnya saya gak tahu bangunan asli masjidnya yang mana.

Setelah berada di dalam masjidnya barulah kelihatan ada empat jenjang serambi masjid. Jenjang paling atas, kita sebut saja serambi 1.

Gak ada pembatas antar jenjang serambi kecuali di serambi paling bawah. Di serambi ke-3 dan ke-4 ada pembatas tembok setinggi satu meter. Tiap jenjang serambinya dihubungkan dengan tangga yang berada tegak lurus dengan pintu masuk masjid.

Apakah bangunan asli masjidnya adalah serambi paling atas itu? Bisa jadi.

Tiap serambi menjadi ruang sholat. Ruang utama sholat untuk laki-laki adalah di tiga serambi teratas. Ruang paling sakral ada di serambi teratas. Mimbar kuno pun diletakkan di sana. Atapnya berbentuk tajug tumpang dua. Atap serambi ini ditopang 16 tiang kayu. 16 tiang ini terdiri dari 6 sakaguru dan 12 sakarawa. Tiap tiang diameternya kira-kira 30 cm.

*Sakaguru: tiang peyangga struktur banguna utama. Sakarawa: tiang penyangga struktur bangunan tepi atap.
*Atap tajug: atap bentuk limas, dasarnya persegi dengan satu puncak di tengah.

Gimana cerita saya gak bisa sholat di serambi paling atas tapi saya tahu serinci itu? baca di buku Masjid Kuno di Cirebon tulisan Bambang Setia Budi. Indra juga ikut ngasihtahu, dia sholat di serambi utama, yang paling atas itu. Sungguh dia beruntung! Serambi atas dibuka hanya di hari Jumat saja. Seingatku, kami ke sana hari kamis ashar. Tapi Indra bilang itu hari jumat.

Untuk perempuan ruang sholatnya ada di serambinya di paling bawah. Gak perlu naik-naik tangga. Ini membuatku gak bisa melihat serambi yang tertutup tembok pembatas. Namun kulihat serambi ini ada sayapnya di sisi kiri. Kulihat ada tangga kecil menuju serambi atasnya. Kupikir hanya ada satu tangga, ternyata ada yang lainnya.

Kekagumanku pada masjid ini ada pada dekorasi dinding dan pintu. Banyak sekali dekorasi kelopak bunga yang tertanam di dinding. Formasi kelopaknya 4-8. Pintunya pun tidak biasa. Eksotik dekorasinya. Terutama, pintu masuk ke teras masjid.





Gak ketinggalan ornamen piring-piring cantik nan antik yang dinding khas bangunan kolosal di Cirebon. Ada buanyak sekali! Masjid ini kalo diperhatikan mewah juga dekorasinya.

Sayangnya lantai masjid berupa keramik putih biasa. Begitu juga atapnya. Kayaknya maklum juga karena serambi-serambi lain selain yang paling atas kelihatannya bangunan tambahan. Entah ini masjid diperluas tahun berapa.

Di teras masjid ada bedug tua, asalnya dari abad 16. Saya juga menengok koleksi mushaf Al Quran yang ditulis tangan yang tersimpan di lemari kaca. Konon usianya ratusan tahun.

Sama dengan situs sakral religius lainnya di Indonesia, di sini juga ada sumur keramat. Saya hanya melihat satu sumur saja. Total ada empat sumur keramat di kompleks ini.

pintu ini maksudku yang cakep banget.
tambahan atap seng itu ganggu pemandangan masjid, tapi butuh untuk menghalau air hujan dan panas, mungkin

Pengalaman Bete di Masjid Dog Jumeneng

Ongkos parkir Rp10.000. Tak apa. Oke. Masih wajar. Saat kami berjalan menuju masjid, ada pos tiket dijaga dua petugas. Bentuk posnya kasual banget. Kotak terbuat dari kaca (plastik? berbentuk persegi), kayak kotak sumbangan. Kami diminta Rp5.000/orang. Gak apa-apa. Kupikir itu tiket masuknya, mungkin bagiku kesan tiket box-nya terlalu informal untuk situs ziarah sepenting dan sekolosal itu sih.

Masjidnya berada di tengah pemukiman padat. Menuju ke pintu masjidnya saja, kamu harus jalan berbelok-belok menelusuri gang. Melewati rumah penduduk, warung-warung kelontong, dan...barisan pengemis.

Ya betul. Barisan pengemis duduk di tepi jalan gang ini yang membuatku terganggu. Bukan saya gak nyumbang. Atau saya risih kehadiran mereka. Akan tetapi, pemandangan pengemis duduk bersila rapi dan tiap pengemis itu naro baskom kecil buat nampung uang sumbangan, itu...maksudku, itu pemandangan macam apa...

Kuhitung mereka. Satu..dua...lima..tujuh..sepuluh.., berbelok jalan lho masih ada pengemisnya. Empat belas...tujuh belas...

Dua puluh? tidak, angkanya masih banyak.
Tiga puluh pengemis? ah jantung saya menyusut memikirkan betapa menyedihkannya situasi ini.
Empat puluh? hampir.

EMPAT PULUH ENAM ORANG DUDUK BERSILA NUNGGU SUMBANGAN alias ngemis.

Saat kuceritakan ini pada seorang teman, ia tertawa. Apakah aku membayar mereka sekaligus dengan uang lima puluh ribuan dan kembaliannya Rp4000?

Bah! Saya menghitungnya, beneran heuheueheu. Belum pernah kulihat pemandangan pengemis dengan formasi yang koordinatif begitu.

Kamu tahu apa yang paling ironis dari itu semua? Saat kubaca pengumuman donasi masjid di papan pengumuman. Jumlahnya mencapai angka...TIGA RATUS JUTA.

Dikemanakan tiga ratus juta, mengapa harus ada pengemis sebegitu banyak dan terkoordinir begitu rapi. Mengapa mereka harus jadi bagian dari sistem wisata ziarah yang justru melimpah ruah donasi dari umatnya ini.

Pemandangan tersebut hanya terjadi saat kliwonan atau tiap hari? begitu tanyaku dalam hati. Kacau sekali.

Saat berjalan melewati 46 pengemis itu, perasaan gak nyaman mulai memuncak. Inginnya bergegas kembali ke parkiran. Lalu pergi.

Kami membawa kamera DSLR, tapi kamera itu diam saja dalam tas. Melihat kondisi begitu, kurasa paling bijak memang gak ngeluarin kamera model serius. Petugas patroli di mana-mana. Ratusan (atau ribuan tepatnya) orang berjejalan di semua sudut kompleks situs. Bahkan saya moto dengan kamera hp saja diperhatikan petugas terus. Melihat orang memotret tembok, pintu, jendela, dan motif-motif di dinding bagi mereka terasa aneh dan mencurigakan. Entahlah. Waktu itu pikiranku terlalu buram untuk berpikir yang bagus-bagus.

Terlintas sih keinginan untuk kembali ke situs Gunung Jati ini di hari biasa, bukan kliwon. Namun, sepulang dari masjidnya rasanya saya gak mau balik lagi ke situs tersebut.

Di parkiran saat kami bersiap pulang, mesin mobil baru menyala dan kami didekati banyak ibu-ibu berperawakan sehat. Kalung di leher. Anting-antingnya menggantung di kedua telinganya. Entah emas betulan atau bohongan. Mereka meminta-minta. Anak-anak seliweran menadahkan tangan meniru orang dewasa di sekitarnya. Pada ngapain? Mengemis juga.

Lalu seorang mas-mas bertubuh tegap mengetok jendela mobil kami. Tahu ia minta apa? uang parkir. Indra protes dan menjelaskan kami sudah bayar parkir blablablabla. Kukasih saja uang parkir lima ribu padanya. Abis dia udah melotot dan nyolot. Sudahlah, berdamai dengan situasi saja. Kami cuma orang asing di sana.

Sungguh mengenaskan hal-hal yang gak islami terjadi justru di situs yang seharusnya paling islami. Kupikir agama islam memang mayoritas penganutnya di negara ini, namun bepergian ke tempat-tempat semacam Masjid Dog Jumeneng maupun sholat di masjid dekat rumahku memperlihatkan kalau penganut agama mayoritas ini hanya menjalankan ritual. Agama sekadar pakaian yang menempel di badan.

Terlepas dari pengalaman tersebut, apakah saya rekomendasikan situs kuno untuk dikunjungi? YA TENTU SAJA :)




ps: sori untuk kualitas foto-fotonya yang gak bagus

Saat Harus Keluar Rumah dan Pencegahan Virus Korona

May 01, 2020
Hai apa kabar, hari ke berapa karantina di rumah akibat virus korona, 48 hari?

Hari ini kuputuskan ikut virtual walking tour di Semarang. Ya, bayangkan saya berdiam diri di Bandung tapi bisa jalan-jalan ke salah satu kota pesisir pantai utara Jawa Tengah? menarik bukan. Pandemi ini membuat hal-hal yang tidak sangka akan terjadi, malah terwujud. Kayak jalan-jalna virtual, misalnya. Hehe.

kami siap jalan-jalan beneran begitu pandemi korona ini udahan! 

Bosan di rumah membuatku ingin traveling ke kota-kota kecil kayak kemarin-kemarin. Namun mana bisa, karantina ini hampir membuatku sedikit gila. Apa kamu juga merasakan hal yang sama?

Saat kupikir saya akan bertahan berada di rumah terus, bahkan berbelanja pun kulakukan via tukang sayur online, ternyata beberapa hari yang lalu takdir mengatakan saya harus setor muka ke...bank. Semakin saya tunda, makin ribet urusannya. Jadi, selain ke minimarket sebelah rumah, saya akhirnya menjebloskan diri ke ruang publik bernama: bank.

Sebelum keluar rumah, kubuka aplikasi Halodoc untuk memastikan beberapa informasi terkait Virus Korona. Begini, dalam kondisi normal, kupikir perlu ada satu app medis di dalam ponsel pintarmu. Apalagi situasi pandemi begini. Apa kamu melakukan hal yang sama denganku, memasang aplikasi Halodoc di smartphone-mu? Jika belum, download dan segeralah install sekarang. Aplikasi ini sangat membantu.



Dengan kondisi tubuhku yang sehat, ketentuan apa yang harus saya lakukan bila ingin berkunjung ke bank di masa-masa pandemi begini. Itulah yang kucari di Halodoc. Lantas saya temukan beberpaa informasi berguna seperti:

1. Menggunakan masker
Dalam artikel yang kubaca di Halodoc, penggunaan masker akan efektif bila dibarengi dengan kebersihan tangan. Oleh karenanya saya mengenakan masker (sesuai standar pencegahan Virus Korona) dan membawa hand sanitazer. Meski di bank disediakan pembersih tangan, saya juga jaga-jaga membawanya sendiri.

2. Social Distancing
Jaga jarak dengan orang-orang sekelilingku. Menyebalkan memang harus menghindari orang dalam jarak tertentu. Akan tetapi, saya belum siap mati. Jadi, yasudahlah.

Dipikir-pikir agak paranoid juga harus berjaga diri menjaga jarak. Semoga pandemi ini segera berlalu. Saya gak bisa berlama-lama harus mencurigai orang yang berdiri di sebelahku, apakah dia terpapar virus korona atau tidak. Argh!

3. Minum suplemen
Saya jarang minum suplemen vitamin tambahan. Makanan yang saya santap di rumah kupikir sudah menyehatkan. Ditambah, saya gak ke mana-mana selain berdiam diri di rumah. Namun, berhubung harus keluar rumah saya putuskan minum suplemen tambahan saja untuk menjaga daya tahan tubuh. Bagian jadi menjaga diri.

4. Survei lokasi tujuan
Saya membaca partikel terkait pencegahan penularan virus korona di Halodoc, disebutkan saya harus menghindari keramaian dan jangan bepergian ke daerah atua wilayah yang terpapar wabah.

Karena itulah saya survei lokasi bank yang tidak berada di zona merah. Agak sulit sih karena banyak bank-bank cabang yang tutup. Tapi syukurlah saya temukan satu bank yang berada di zona hijau. Saya datangi bank di jam pertamanya buka. Kupikir, makin cepat urusan makin baik.

5. Sterilisasi
Beres urusan, sampai di rumah saya sterilkan semua pakaian yang kukenakan. Langsung masuk mesin cuci. Saya bahkan langsung mandi. Barang yang kubawa kusemprot cairan desinfektan. Sebut saja, dompet, uang, smartphone, tas kupakai, sampai sandal! Sebegitunya memang bagaimana lagi.

Artikel-artikel yang saya baca di Halodoc benar-benar menolong di situasi seperti ini. Googling juga membantu kita mencari informasi. Namun, terlalu banyak informasi yang masuk ke kepalamu, mana yang bisa kamu terima? Paling tidak ada satu sumber medis yang terpercaya, cepat, dan ada di genggamanmu, ya itulah aplikasi Halodoc. Bayangkan rumah sakit online, nah kira-kira hampir seperti itulah caranya bekerja.


Dalam aplikasi Halodoc, saya bisa membuat janji temu dengan dokter, bahkan konsultasi online dengan dokter, membeli obat (banyak diskon pula :D), daftar untuk pemeriksaan lab, menggunakan fasilitas asuransi, dan layanan yang berhubungan medis lainnya. Seru ya dunia digital ini bekerja.

Nah. Sekarang saya siap-siap dulu jalan-jalan ke Semarang, via internet tentu saja. Hehe. Sehat-sehat selalu ya, semoga kita diparengi kesehatan yang baik dan tidak terpapar virus korona ya. Amin!

45 Hari #DiRumahAja

April 29, 2020
Fish Express, worksheet sekolah, dan drama korea. Mereka yang mengisi hari-hariku di rumah. Selama 45 hari karantina akibat Covid-19, saya pergi keluar rumah...berapa kali ya. Lima kali? Dalam rangka bekerja saja, gak ke mana-mana kecuali selesaikan pekerjaan.

Ada satu hari kupergi ke pasar karena stok makanan di rumah habis, nah itulah hari pertama dan terakhir ku bersumpah gak akan ke pasar lagi selama pandemi covid-19 ini. Saya gak punya anxiety disorder, tapi di pasar itu saya mengalami hal yang aneh. Seperti mendadak merasa pengap luar biasa, cemas berlebihan, sesak napas, dan gak bisa mikir. Aneh banget. Mau beli tempe, belinya kembang kol. Mau nyetok Tahu, dapatnya pindang tongkol. Gokil kebanyakan baca berita tentang corona membuatku gila.

Akhirnya kuputuskan belanja di Belibu atau Locarvest aja. Saya menyuplai kebutuhan perikanan mereka. Sambil kirim stok, sambil kubelanja di sana.

Sekolah kubil gak ada masalah. Karena masih kecil, pelajarannya juga gak seabrek-abrek. Masih bisa diikuti dengan pelan. Cuma materi belajarnya saya tambah sendiri. Kasihan juga sih dia satu-satunya anak kecil di rumah. Bosan ketemunya saya dan Indra mulu. Dia kangen temen sebayanya.

Corona keparat kapan pergi dari planet bumi...heugh...

Blog bagaimana? Wah, ini gak keurus. Kalo ada waktu luang, saya milih nonton drama korea. Ini hobi baruku yang gak tahu sampai kapan durasinya hahaha. Temanku bilang hobi baruku ini aneh. Menurutku enggak. Semua orang akan nonton drama korea, tunggu saja waktunya akan datang. Hahaha.

Gak ada rencana saya mau ikut kelas-kelas belajar online. Entahlah, rasanya enak sekali jadi setengah pengangguran begini. Fokusku hanya kerja dan...yah di rumah saja. Maksudku gak ada tuntutan gaya hidup selain menyelesaikan cucian piring, memastikan pakaian bersih dari kuman, dan sprei rajin diganti.

Memasak? sudah kulakukan sehari-hari.
Jajan? masih meski gak sesering biasanya.

Begitulah hari-hariku yang garing selama karantina. Kubilang bosan, enggak juga. Sehari-hari sudah biasa bekerja dari rumah.

Kangen bioskop, ada. Kangen jalan kaki menyusuri trotoar rusak perkotaan, ada. Kangen moto-moto rumah antik, ada banget. Sungguh tahun ini tahun yang aneh.

Mudah-mudahan umurku panjang supaya masih bisa merayakan hidup ini, bersama Indra dan Kubil. Bersama kamu juga.





Menari dan Menyepi di Papua

March 23, 2020
Ini akan terbaca klise. Bila ada tiga tempat di dunia yang ingin kudatangi seklaigus, Lembah Baliem, Pulau Biak, dan Taman Nasional Lorentz. Kalian pasti tahu di mana itu semua. Ah betul sekali: Papua.

Besar banget potensi sebuah pulau bernama Papua ini. Yang kumaksud adalah potensi wisata, sekaligus potensi sumberdaya energi berbasis alam. Alamnya masih hijau. Pegunungan, perbukitan, hingga tebing-tebing eksotis dan pantainya.

Bila membahas wisata di Papua, mau cari pantai, ada. Hendak melongok indahnya pegunungan, banyak. Eksotisme sebuah pulau yang didamba warga-warga metropolis yang hidupnya garing seperti saya, ya Papua jawabannya.

Keistimewaan Lembah Baliem

Lembah Baliem ada di ketinggian 1600 mdpl. Termasuk dalam kabupaten Jayawijaya. Areal pegunungan. Hutan-hutan tebal penuh oksigen, hijau sejauh mata memandang. Begitu pemandangan yang kulihat di foto-foto perjalanan.

Dengan suhu tidak lebih dari 15 derajat celcius, kurasa suasana Lembah Baliem mirip Bandung dua abad yang lalu.

credit photo: genpi

Lembah Baliem populer dengan festival tahunan di bulan Agustus: Festival Lembah Baliem. Festival Lembah Baliem diselenggarakan oleh Kabupaten Jayawijaya. Ya betul, festival reguler ini jadi program resmi pemerintah.

Ada tiga suku besar bermukim di sini. Suku Dani, Suku Lani dan Suku Yali. Dalam festival itulah mereka memberikan pertunjukan istimewa. Yakni simulasi perang antar suku dan keluarga. Termasuk beberapa tarian tradisional. Siapa sangka peperangan yang dahulu berlangsung betulan dan mengerikan, sekarang berubah menjadi pertunjukan wisata.

Kurasa budaya memang patut dipertahankan. Bukan untuk ditiru keburukannya, tapi buat belajar. Sekaligus menjadi ajang mengenalkan budaya suku-suku setempat.

Adegan pertunjukan perang di Festival Lembah Baliem normalnya berlangsung dua hari. Biasanya ada 26 kelompok yang bermain. Tiap kelompok ini terdiri 30 sampai dengan 50 pejuang. Musik mengiringi pertunjukkan. Papua Pikon nama alat musiknya, terbuat dari kulit kayu dan berbunyi bila ditiup. Alat musik langka ini tidak banyak yang bisa memainkannya sekarang.

Pertunjukan simulasi perang dan tarian bukan hanya sajian Festival Lembah Baliem. Ada juga pertunjukan budaya lainnya: balap babi, lempar tombak rotan puradan, dan pertunjukan seni musik. Bahkan pengunjung dipersilakan menggunakan kostum tradisional. Bahkan ikut menghitamkan kulit! Wow menarik sekali!

Kombinasi pertunjukan budaya dan panorama alam yang hijau mempesona, itulah Lembah Baliem. Beruntung sekali Indonesia memiliki situs seperti ini. Dan betapa belum beruntungnya saya karena belum memiliki kesempatan mengunjunginya.

Menyepi di Pulau Biak

Surganya pantai Indonesia Timur. Kira-kira ada tiga pantai yang sering kulihat seliweran di media sosial. Mereka adalah Pantai Segara Indah Biak, Pantai Maraw, dan Pantai Yendidori.

credit photo: phinemo

Definisi mencuci mata dan membasuh jiwa ya di sini tempatnya, di pulau yang pernah jadi rebutan di masa perang dunia ke-II. Di pulau yang terletak di pesisir utara Papua. Air di garis pantai yang bening, udara bersih, dan pasir-pasir yang cakepnya bagai berlian. Ah iya, kuingin makan ikan di sana. Ikan dari hasil pancingan, ikan bubara yang baru mati sekali! Mengerti kan maksudku? ya betul, ikan segar!

Lalu ingin kumasuki Hutan Samares dan mencari surga tersembunyi di sana, namanya Air Terjun Warsa dan Air Terjun  Karmon. Pernah dengan atau membaca tentang 'danau terbiru' se-Indonesia? ya di sinilah tempatnya.

Perjalanan di Biak belum selesai bila saya belum menginjak tanah Taman Burung dan Anggrek.

Salju di Taman Nasional Lorentz

Ini dia taman nasional terbesar se...Asia Tenggara! kalau kulihat foto-fotonya, cakep banget pemandangannya. Bayangkan di taman nasional ini kamu berada dalam kendaraan dan di sebelah kaki kirimu, eh tidak maksudku, sekelilingmu adalah hutan melulu! Hutan gambut, hutan hujan, hutan rawa, hutan pegunungan!

Dengan luas mencapai 2,4 juta hektar, Taman Nasional Lorentz menyajikan panorama eksotis ala Papua. Kamu baca tentang Lembah Baliem yang sedikit kubahas di atas kan? Nah mereka berada di wilayah yang sama.

credit photo: ig santofreddy
Jangankan pemandangan hijau, di taman nasional juga terdapat pegunungan bersalju. Akan tetapi, sepertinya tidak mudah mencapai tempat-tempat berpuncak tersebut. Kurasa, pecinta aktivitas mendaki gunung level profesional yang dapat meraih puncaknya.

Panorama alam apa yang gak ada di Papua. Kurasa inilah tempat terbaik pemandangannya dan terbersih udaranya di Indonesia.

Jalan wisata masih panjang di Papua. Melihat arah wisata yang makin mengerucut ke tren ekowisata, Papua juga punya kesempatan yang sama untuk menggali potensi ekowisatanya. Dalam hal ini, salah satu contoh lembaga yang turun tangan mengelola potensi tersebut bernama EcoNusa. Mereka ikut memfasilitasi pengelolaan sumberdaya yang berkelanjutan di wilayah timur Indonesia, termasuk Papua.

Apa kamu pernah berkunjung ke Papua, ke mana saja? Atau kamu sama nasibnya denganku, masih menggenggam Papua dalam angan-angan?


Satu Tahun Dua Belas Buku

February 18, 2020
Di tahun 2019, saya pasang target ke diri sendiri. Saya harus baca buku sebanyak 12. Ya, dua belas buku!

Kupikir, apa susahnya membaca satu bulan satu buku. Target ini kutiru dari programnya Puty. Kalo target membacaku di bawah angka 15, Puty udah naro angka sampai 40. Gokil!

Terus bagaimana, apakah terkejar targetnya?


photo credit: nbc san diego
Entah apa ku harus bangga dengan pencapaian ini. Saya berhasil melampaui target tersebut. Seingatku, buku yang lahap kubaca ada 18 jumlahnya. Lebih baik dari tahun 2018 yang kayaknya cuma 12 buku. Target yang kubuat gak jauh-jauh dari yang jumlah yang normalnya saya baca dalam setahun sih.

Inilah evaluasi yang harus kutanamkan di tahun 2020: mencatat dan memotret buku. Dan keluar zona nyaman (tapi tentang zona nyaman ini nanti saja tahun 2021 :D).

Apa saja judul buku-bukunya, itulah yang saya lupa rinciannya. Coba saya catat seingatku ini ya:
Oeroeg
Di Kaki Bukit Cibalak
Para Priyayi
Na Willa
Gadis Kretek
Malika Maliha
Orang-Orang Oetimu
Njoto, Peniup Saksofon di Tengah Prahara
Aidit, Dua Wajah Dipa Nusantara
Sjam, Lelaki Dengan Lima Alias
Bukan Pasar Malam
Kota Djawa Tempo Doeloe
Pada Suatu Hari Ada Ibu dan Radian (Kumcer Kompas 2009)
Everything In Between
La Barka
Plantungan Pembuangan Tapol Perempuan
Kubah
Bandung Dalam Perangko
Nice Boys Dont Write Rock n Roll

Ada beberapa buku lainnya yang kubaca tapi belum selesai. Lantas kulupakan saja. Karena belum merasa tertarik saja.

Novel Oeroeg dan Orang-Orang Oetimu adalah bacaan terbaikku di tahun 2019.

Tahun 2020 ini saya pasang target baru. Gak muluk-muluk, saya belum berani mamatok angka besar. 15 buku aja dulu. Moga-moga buku yang saya baca bisa lebih banyak.

Sejujurnya ada perubahan yang saya rasakan dengan target membaca.

Pertama, saya gak merasa tertekan sama sekali. Justru sebaliknya, semangat dan antusias banget membacanya. Ada energi besar buat melahap buku-buku. Namun anehnya, kalau sedang banyak pekerjaan sehingga pikiran kusut, ya sudah saya pilih tidur aja. Baca palingan 3 halaman.

Kedua, saya rajin beli buku. Jujur saja buku yang menumpuk belum terbaca saya gak bisa hitung jumlahnya. Lemari buku bentuknya seperti ibu-ibu hamil 9 bulan, mau brojol. Merasa ada target, saya beli saja buku yang kayaknya bakal saya baca. Buku yang saya sukai. Lihat saja nanti, dibaca atau enggak. Benar kata suamiku, bila ada benda yang kami tidak merasa sia-sia membelinya itulah buku.

Ketiga, ada alarm bawah sadar di kepalaku yang berkata, saya gagal di bidang lain setidaknya target membaca buku janganlah gagal. Hahaha kurasa ini paradoksnya alasan pertamaku di atas. Katanya tidak tertekan, tapi ingat terus. Lho bagaimana sih!

Ya..ya...alarm itu tidak mempersulitku kok. Saya ingat, tapi dibawa santai saja. Pokoknya cari saja buku yang kamu sukai, itulah yang dibaca. Mau tebal, mau tipis, tidak masalah. Saya nih makin sadar kalau buku fiksilah yang saya cintai. Nonfiksi yang kubaca, pasti muter-muternya di tema sejarah dan perjalanan aja.

Saya juga sadar saya gak punya cukup uang untuk memenuhi hobi jalan-jalanku. Ditambah anak saya udah sekolah pula, biaya dan tabungan larinya untuk dia seorang. Oleh karenanya, buku kujadikan sarana hiburan. Sarana melarikan diri dari kepenatan hidup, meski yang kubaca kadang-kadang bikin penat juga. Setidaknya itu bukan masalahku hahaha.

Oh, saya punya target yang gagal. Saya pernah bilang mau nulis review buku-buku yang kubaca. Hasilnya? Sedikit yang berhasil kutuliskan. Itu juga tulisannya gak lengkap. Hanya kesan-kesan pendek. Gak apa-apa deh. Udah berusaha, masih berusaha.

Demikianlah cerita membacaku di tahun 2019! Beberapa resensi buku dapat kamu baca di kategori Books. Bisa juga dibaca di instagram @bandungdiary.