Social Media

Image Slider

Bandungdiary yang Menggantung di Toko Monas

29 May 2023

Toko Monas yang berada di Pasar Kanoman itu berubah wajah. Tegel toko yang sebelumnya warna hijau persegi kecil kini keramik mengkilap. Tidak lagi ada jambal roti menggantung-gantung kokoh di pintu toko. Bakasem japuh dalam baskom dan ebi beralas tampah menghilang. Semua ikan asin tersimpan  dalam chiller.

 

toko monas cirebon


Mudik 2023 lalu saya berbelanja di Toko Monas yang sekarang serba modern dan rapi. Wujudnya membuat wajah toko ini sama dengan toko oleh-oleh pada umumnya yang kulihat di Cirebon. Cici yang biasanya menjaga kasir toko wafat tiga tahun lalu. Kini toko diurus generasi ketiga.

Perubahan wajah toko terjadi entah karena efek pandemi atau memang pemiliknya mau renovasi toko saja. Saya menyukai wujud toko sebelumnya yang rapi, sedikit berantakan tapi cantik dan terasa tradisionalnya.

Namun ya sudahlah, saya pembeli bukan pemilik tokonya. Di sini saya belanja bakasem japuh saja. Selain font nama toko yang syukurlah tidak diubah, kualitas produk di toko juga masih sama seperti dulu. Di Bandung kumasak dan makan bakasem japuhnya, duh gusti nikmatnya luar biasa memang bakasem japuh made in toko Monas adalah terbaik!

Btw, saat membayar di kasir, saya melihat ada beberapa pigura terpajang di tembok belakang kasir. Kubaca dan kukenal salah satu foto yang dalam pigura itu: foto Toko Monas yang kujepret dengan kamera hp di tahun 2018 dan saya posting ke instagram Bandungdiary.

Kuminta izin kepada mba-mba kasir untuk melihat piguranya lebih dekat. Ia menolak, tentu saja karena alasan keamanan, tidak mengapa.


Saya mengatakan padanya bahwa foto yang menggantung di belakang meja kasir itu adalah foto jepretanku. Itu pun akun instagram milikku. Hamdalah dibolehin kulihat piguranya dari dekat. 

 

toko monas cirebon


Postingan saya tentang Toko Monas masuk radar tokonya. Juga sangatlah saya terharu atas fakta bahwa mereka mencetak foto beserta captionnya dan memajangnya di toko. Nama akun instagram saya tidak dihilangkan. 


Saya bukannya dari Kompas, Jawa Pos, atau media lainnya yang meliput Toko Monas. Saya hanya pelanggan yang kebetulan punya instagram dan blog. Perlukah saya merasa istimewa mengetahui bahwa mereka memajang postingan instagram Bandungdiary di tokonya? 


toko monas cirebon


Indra bilang saya gak berlebihan. Saya sendiri tidak tahu sejarah dan asal usul tokonya. Hanya saya tebak saja dengan kandungan produk yang terkurasi dan beragam khas pantura itu, kupikir ini toko mungkin sudah ada sejak lama. 

 

Keinginan saya posting foto Toko Monas di instagram semata-mata ingin merekomendasikannya sebagai toko oleh-oleh Cirebon. Maksudku di antara batik trusmi (yang bagus itu) dan empal gentong (yang enak banget itu), ada toko yang menjual produk pangan khas Cirebon berupa bakasem, ebi, emping kwalitet bagus, dan mie homemade yang mereka buat dengan teknik kuno seperti di tiongkok. 


Menurut pendapat saya komponen pangan ala wong Cirebon sangatlah menarik. Mereka bukan jawa juga bukan sunda. Bila kamu plesir ke Cirebon, belanja ke pasar tentu saja jadi pengalaman menyenangkan karena ketemu bahan-bahan pangan yang orisinil. Asem jawa saja ada beberapa macam dari yang mentah sampai yang tanpa biji. Hingga asem jawa ya g difermentasikan jadi obat bernama Asem Kawak. 


 toko monas cirebon


Pada waktu itu saya bisa masukkan toko ini sebagai ‘hidden gem’ Cirebon karena kurasi Toko Monas akan produknya memang sebagus itu. 


Maksudku, di mana bisa kamu temui jambal roti versi manis? Dan bakasem japuhnya Toko Monas…astaga…terbaik sekali dari segi tekstur, ukuran, dan rasa. Penggemar masak memasak niscaya akan bahagia ada di toko ini.

Beberapa kali sebelum pandemi saya jastipkan produk dari Toko Monas di Bandung. Pembelian saya hanya 2-3 juta. Bila saya minta diskon ke cici, ia memberiku diskon 10.000 sambil berkata “wis tenang bae baka tuku ning kene jaminane wis mutu kabeh laka maning ning toko sejene!” demikianlah kepercayaan diri pemilik toko, cici-cici yang usianya saat terakhir saya bertemu mungkin sekitar 70 tahunan. 

Saat berbelanja dan jastip itulah saya memotret banyak produk Toko Monas dan fasadnya. Saya posting di instagram. Dan foto itulah yang mereka pajang. 


Bandungdiary yang menggantung di Toko Monas adalah salah satu episode ajaib nan menyenangkan dalam hidupku. 


toko monas cirebon

Soto Bu Pujo yang Kutemukan di Twitter

10 May 2023

Begitulah media sosial. Tidak sengaja saya temukan postingan tentang Soto Bu Pujo di timeline twitter. Itu terjadi beberapa bulan lalu. Saat benar-benar berada di Jogja, saya telusuri kembali postingan tentang kuliner jogja, wah itu dia, soto terenak yang ada di Pasar Beringharjo lantai dua! 

 

soto bu pudjo di pasar beringharjo

 

Sehabis ikutan tur jalan kaki dengan Jogja Good Guide, saya menumpang ojeg online ke arah Malioboro. Syukurlah masih kebagian satu porsi soto karena pembeli berikutnya beberapa orang setelah saya malah kehabisan. Kulihat jam tangan, kira-kira belum pukul satu. Hebat betul sudah habis sotonya. 


"Bukanya jam berapa, Bu?" kutanyakan sambil nunggu sotonya datang. Jam 8 pagi jawabnya. Wah kupikir buka sejak jam 6 pagi atau lebih subuh lagi. Berapakah stok porsi soto yang mereka siap jual ataukah sudah dipatok tidak bawa banyak-banyak, ataukah pembelinya sebanyak itu? 


Soto datang, kumakan saja. Kuahnya panas membara. Menyantap soto sepanas ini di tengah pasar dan cuaca Jogja yang menggelora rasanya nikmat sekali. Meski saya kepanasan dan keringatan saat makan, tapi setelah selesai dan menutup sesi dengan segelas es teh manis rasanya agak dingin ke tubuh. 

 

Sebetulnya tidak ada beda santap siang di Pasar Beringharjo dengan Pasar Cihapit. Namun namanya orang liburan, saya merasa ada aura petualangan yang berbeda saja. Semua gerak-gerik awak masak Bu Pujo, semangkok soto, segelas teh manis dingin, suara dangdut koplo entah darimana sumbernya, sudut-sudut pasar yang terasa antik. Wah suasana makan siang (yang basah karena keringatan!) yang menyenangkan. 

 

soto bu pudjo di pasar beringharjo

Dagingnya made in Soto Bu Pujo empuk dan sedikit beraroma. Potongannya tidak terlalu besar. Hanya menyediakan daging sapi saja. Ada bihun, potongan daun kucai, toge, kol, dan bawang goreng. Sejujurnya satu porsi terasa kurang buat saya. Namun mau nambah pun tidak bisa karena mahal. Harga turis. Seporsinya Rp19.000. Menurut pendapat saya ini masih mahal bila dibandingkan (ukuran) satu mangkoknya yang mungil untuk perut saya yang seluas Siberia.

 

Namun tidak ada keluhan berarti. Saya menikmati soto bening ala Bu Pujo ini dengan tentram dan khidmat saja.  

 

Agar rasa kenyang tertancap damai di perut saya beli jeruk setengah kilo. Kembali ke hotel, saya makan jeruk dan tidur siang. Memanglah setelan orang liburan dan jalan-jalan itu damai rasanya. Ada uang yang terpakai tapi ada pekerjaan yang sejenak bisa ditinggalkan bukan? Hehe.


Walo inginnya mencari kuliner lain, tapi bisa jadi saya akan kembali makan di soto yang sama kapan-kapan. Rasanya memang enak. Cobain! Makasih mas-mas yang rekomendasiin Soto Bu Pujo di Twitter! 

 

soto bu pudjo di pasar beringharjo