Image Slider

Catatan Dari Soft Launching Kios Agro di Bandung

May 23, 2019
Karena latar belakang profesi utama saya adalah pengusaha di bidang perikanan, saya tertarik hadir pada peluncuran Kios Agro. Mengambil ceruk pasar produk agro (dan agri), Kios Agro ini perusahaan baru asal Bandung yang meramaikan industri marketplace di Indonesia.

Fyi, saya kasitahu dulu apa itu Kios Agro.



Dari namanya udah jelas apa sih Kios Agro. Satu hal yang gak kelihatan dari namanya, merek ini bekerja secara online. Kios Agro mempertemukan pembeli dan penjual di ruang digital. Di website www.kiosagro.com dan aplikasinya yang udah bisa diunduh di app store sekarang.

Kios Agro menyediakan produk-produk dari pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, kelautan, hasi olahan, hingga pakan, dan pupuk. Lengkap jenisnya kalo di untuk produk agro dan agri, meski belum semuanya terpajang di appnya.

Sebagai nilai tambah, Kios Agro mengedepankan produk-produk UMKM. Sebuah misi yang patut diacungi jempol saya kira.

Ibu-ibu yang butuh sayur, masuk aja ke app Kios Agro.
Pakbapak yang mau beli beras, tinggal transaksi di Kios Agro.
Akang dan Teteh yang mau jajan camilan produk berbasis bahan pangan lokal, nah browsing aja di Kios Agro.

Soft Launching Kios Agro diberi tajuk 'Agroners Berdigital di Era Milenial'. Fyi, 'agroners' sepertinya merujuk pada istilah pengguna Kios Agro.

Oya, dalam peluncurannya hadir para petinggi Kios Agro. Juga rekan pendamping UMKM dan akademisi di bidang pertanian.

Saya pikir ada dua hal yang menarik untuk disimak pada peluncuran Kios Agro ini.



Pertama, paparan CEO Kios Agro Hadiyan Nursofyan.
Kedua, tentu saja penawaran sistem dagang bagi penjual.

Berkali-kali, CEO Kios Agro mengatakan bahwa marketplace ini dibuat sebagai jembatan antara petani dan pembeli. Sehingga porsi tengkulak bisa diputus. Harga yang sampai ke konsumen murah, petani pun bisa dapat profit lebih banyak.

Saya menyetujuinya. Namun di satu sisi juga pernyataan tersebut terlampau naif. Saya rasa cita-cita kita semua adalah ikut mensejahterakan petani. Lagu lama banget emang petani cuma kebagian porsi kecil dari rantai ekosistem perdagangan.

Tengkulak ada karena akses perputaran dana yang petani gak punya. Isu petani miskin munculnya bukan dari profit mereka sedikit. Tapi sejak dari mereka pake uangnya dan menanam bibit.

Lebih banyak bisnis kayak Kios Agro lebih bagus. Namun yang mesti diingat juga, kita masih kekurangan industri penampungan dan pengolahan. Koperasi apalagi tuh. Sebab petani mah kalo abis panen gak mungkin cuma jual sekilo atau 20 kilo, mainnya udah kwintalan, ton-tonan. Koperasi ada sebagai pagar betis bagi petani yang butuh modal untuk menanam bibitnya.

Perbanyak gudang penampungan, bayar petani di depan. Tambah industri pengolahan. Permudah  peminjaman akses dana. Gitu kira-kira kalo mau meringankan beban stres petani.

Kios Agro meringankan kerja petani gak? Iya, dalam skala yang masih amat sangat kecil menurut saya mah.

Atau gimana kalo Kios Agro bikin sistem Open Order untuk tiap produk holtikultura dan perikanan? Kumpulin pesanan dan distribusikan. Kalo open PO bisa terkumpul banyak kali ya volume komoditinya.

Kios Agro cita-citanya udah bagus, Ada lebih banyak yang kayak Kios Agro lebih bagus lagi. Tapi berjualan langsung ke pembeli bukan satu-satunya jalan memberi kemudahan bagi petani. Sebab drama petani-petani ini panjang emang :D

Namun saat Hadiyan bilang akan terjun juga ke B2B juga (business to business), nah barulah saya melihat agak ada cahaya terang di sana :)

Kalo buat produk siap makan, marketplace kayak Kios Agro udah bagus banget. Nah kalo buat komoditi pangan cepat basi, rantai perjuangannya masih panjang kayaknya heuheu.


Kalo tentang sistem berjualan dan berbelanja di Kios Agro, begini kira-kira:

Penjual di Kios Agro
Sistem 'sewa kios' di sini ada kategorinya. Ada free, bronze, diamond, dan seterusnya.

Nah kategori 'free' nih misalnya, penjual dapat memajang foto produk sebanyak tiga buah selama satu bulan. Setelah itu fotonya dihapus dan kita harus sign up ulang dengan email baru.

Bila fotonya ingin tayang terus, panjat ketegori berikutnya yang sudah berbayar. Begitu saja sistemnya. Harus dicermati tiap kategori berapa biayanya dan apa benefitnya.

Pembeli di Kios Agro
Kemarin saya coba-coba pake appnya dan beli produk di sana. Tidak sulit, prosesnya sama dengan toko online dan marketplace kebanyakan.

Kalo kamu pernah belanja online di marketplace, nah begitulah step-step di Kios Agro. Sama aja kok.

Namun berikut ini usul saya sebagai pedagang sekaligus pembeli setelah mencoba app Kios Agro:
  1. Kategori free, bronze, diamond sebaiknya tidak perlu ada. Langsung aja potong konsinyasi. Ringkas, tidak menyulitkan, dan lebih efektif. 
  2. Sementara bagi pembeli, loading aplikasinya lama. Directorynya memudahkan. Namun PR bagi tim IT di Kios Agro masih banyak. Loadingnya itu lho, terlalu lama. 
  3. No rekening masih satu dan yang ini mah pasti akan bertambah jumlah pilihan no rekeningnya. Tinggal nunggu waktu mungkin. 
  4. Kerja sama dengan ekspedisinya menarik. Banyak pilihan. Kalo untuk kirim produk segar, mentah dan beku di Bandung rasanya gak ada masalah. Dengan Gosend bisa dikirim. Namun bila harus kirim ke luar Bandung untuk produk segar, nah baru muncul masalahnya. 
  5. Gimana kalo bikin Kios Agro versi darat? alias flagship store. Dimulai dari Bandung dulu.
  6. Sewa jasa digital content & concept strategist. Menurut saya mah konten web/appnya terlalu 'dagang online'. Buat orang milenial yang akses informasinya luas dan sadar punya pilihan banyak, pendekatan kontennya juga harus personal. Mengedepankan nilai sebelum hard selling. Ini kebayang gak sih maksud saya gimana aheuheueheu :D 
Meski yang terpajang produknya belum banyak, tapi varian produk di Kios Agro bagus-bagus. Masih jadi PR besar buat tim marketing dan pengembangan produknya untuk menyebarluaskan aplikasi Kios Agro sehingga banyak pelaku pertanian dan UMKM mau naro barangnya di Kios Agro.

Nah teman-teman yang ingin lihat penampakan Kios Agro dan mencoba belanja di sana, dicoba aja download dan install appnya. Gratis! 



Kenapa Memilih Hunian di Bandung?

May 22, 2019
"Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi" 
- Pidi Baiq

Kutipan sejuta umat yang bertandang ke Bandung. Terima kasih, Ridwan Kamil. Karena ia yang mencantumkan kutipan tersebut di sudut jalan paling hits, Jalan Asia Afrika. 

Kota berjuluk Paris Van Java ini entah kenapa memikat banyak turis. Menurut saya Yogyakarta masih lebih menarik. Hihi. 

Tapi ini masalah 'rumput tetangga lebih hijau' aja sih. Cirebon buat saya kota yang unik, seru, bagus banget konten wisatanya. Tapi sebaliknya bagi warga Cirebon, kota saya -Bandung- pasti lebih memikat. 


Sama kayak Jakarta, magnet kota metropolis gak jauh-jauh dari uang. Bandung punya hampir seluruh segmen dalam aktivitas masyarakat. Kelengkapan itulah yang membuat banyak orang yang ingin bermukim di sana.

Bisa jadi sih tiga alasan ini adalah alasan mengapa Bandung jadi favorit proyek-proyek properti:

Variasi hunian
Label smart city yang telah didapatkan oleh Bandung membuat beragam ketersediaan variasi hunian dikembangkan di kota ini. Tidak sekedar jual rumah Bandung, beberapa hunian vertikal juga kini berdiri baik di wilayah perkotaan maupun di pinggir kota. 

Adapun proyek jual rumah Bandung beserta apartemen dibanderol masih di bawah harga jual properti di Ibukota Jakarta. Dari sejumlah proyek jual rumah Bandung dan apartemen pun diketahui memiliki variasi yang beragam, ada yang tipe ekslusif, ada pula yang termasuk dalam kategori hunian murah.

Kota yang Sejuk
"Bumi pasundan lahir ketika tuhan sedang tersenyum", kutipan puisi tentang Kota Bandung yang dikarang oleh M.A.W. Brouwer menafsirkan memang segala hal positif tentang Bandung. Selain diciptakan saat Tuhan tersenyum, Bandung juga dapat memberikan senyum-senyum karena keindahan yang diberikan kepada para pemukimnya.

Dibuai kontur alam yang indah, bagaimana tutur budi gak jadi halus. Iya gak? 

Mungkin saat ini label tata kota Smart City yang kini adalah keunggulan Bandung. Namun, sejak dahulu keunggulan Bandung terletak pada letaknya. Letak Kota Bandung yang dikelilingi oleh beberapa gunung dan dataran tinggi menyebabkan iklim kota kembang tersebut cenderung sejuk. Utamanya di pagi dan malam hari. 

Apalagi ditambah dengan beragam varietas tumbuhan dan pepohonan yang rindang di setiap sudut wilayah kotanya, Anda dapat selalu mendapatkan suplai udara segar yang baik untuk kehidupan Anda sehari-hari. Suhu udara Kota Bandung diketahui bisa mencapai kesejukan di kisaran 18 hingga 27 derajat celcius.

Bagi warga Bandung, kota ini bisa dibilang gak sesejuk dulu. Tapi, kalo kamu pernah traveling ke kota-kota yang hawanya panas membara seperti Surabaya, bahkan Yogyakarta, kota Bandung memang sejuknya juara :D

Potensi Investasi
Tidak hanya sebagai tempat bermukim yang baik, hampir seluruh proyek jual rumah Bandung memiliki potensi investasi yang tinggi. Hal ini dikarenakan Kota Bandung yang menjadi selalu dipadati oleh masyarakat luar kota yang memiliki banyak kepentingan disana. 

Pertama, sudah ihwal rasanya Bandung dikatakan sebagai salah satu kawasan pendidikan ternama di Indonesia. Dapat terlihat dari beberapa perguruan tinggi ternama seperti Insitut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Sekolah Tinggi Pariwisata Enhai, Universitas Parahyangan, Universitas Pendidikan Indonesia, dan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati beserta perguruan tinggi lain yang beroperasi di kota kembang tersebut. Konsumen sewa hunian tentu datang dari kalangan pelajar.


Kedua, Bandung dinyatakan sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di Indonesia. Seluruh komponen wisata, mulai dari wisata alam, budaya, kuliner, dan belanja terdapat disana. Di akhir pekan, Bandung tidak pernah tidak sepi dari para pelancong wisata.

Akses dalam kota masih perlu banyak perbaikan. Namun komponen kota metropolisnya sudah ada. Ditambah lokasinya yang dekat dengan Jakarta. Sepertinya dalam masih banyak tahun ke depan, Bandung adalah kota hunian favorit banyak orang. 


Pengalaman Menggunakan Layanan Paket Ramadan GO-CLEAN

May 21, 2019
Pekerjaan domestik gak beres-beres. Sementara badan lemes dan capek.  Pengennya rajin beribadah. Mumpung Ramadan. Tapi…

Gini deh. Kalo tangan saya ada lima, satu dipake untuk nyuci, satu untuk nyetrika, satu untuk persiapan masak, satu untuk mengepel, dan satu untuk mengaji.

Tapi tangan cuma dua. Cukuplah udah. Saatnya minta bantuan. Kepada siapa bantuan kita minta? GO-CLEAN!


Pada tahu gak selama bulan Ramadan ini, GO-CLEAN menyediakan fitur tambahan. Namanya Paket Ramadan.

Nah saya mau kasih lihat review GO-CLEAN nih. Beberapa hari lalu saya udah pake fiturnya. Terima kasih, Mita, yang rekomendasiin fitur ini di instagramnya.

Jadi gimana? Gimana?


DOWNLOAD DULU GO-LIFE

First thing first. GO-CLEAN ini adanya di aplikasi GO-LIFE. Masih satu perusahaan dengan GOJEK. Tapi, ingat ya beda aplikasi.  Sok pada download dan instal dulu aplikasi GO-LIFE.

GO-LIFE ini menyediakan fitur-fitur yang mempermudah kehidupan kamu, ada GO-MASSAGE (kalo pegel-pegel pengen relaksasi di rumah dipijetin), GO-GLAM (mau cantik-cantikin kuku atau creambath, di rumah!), masih banyak lagi pokoknya.


PAKET RAMADAN GO-CLEAN, PILIH INFAL

Atau ikutan saya aja. Buka aplikasi GO-LIFE. Terus cari fitur GO-CLEAN.

Nanti di sana ada Paket Ramadan GO-CLEAN. Terdiri dari dua pilihan: Infal dan Bukber.

Bagi saya, di hari itu sewaktu kelelahan udah mencapai titik nadir (yaelah :D), saya pilih Infal. Sebab apa? Durasi kerja mamang dan bibi GO-CLEAN lama banget!


Berapa lama durasi kerjanya GO-CLEAN di paket Infal?

4 JAM DAN ITU MINIMALNYA!

Batas durasi terlamanya 6 jam. Whoaaaa! Langsung saya booking!

Bayangkan dengan waktu minimal 4 jam kamu bisa rikwes apa saja sama mamang/bibi GO-CLEAN? Semua kegiatan domestik! Mulai dari jasa bersih-bersih, jasa cuci piring, sampai dengan jasa setrika.

Berhubung saya udah praktekin layanan Infal. Ini adalah pekerjaan yang mamang GO-CLEAN lakukan di rumah saya.
  1. Mencuci perwadahan. Dari sendok sampai panci dan wajan!
  2. Merapikan dapur (dengan rikwes beberapa benda gak boleh disentuh sebab itu teritorial saya ahahahaha)
  3. Elap-elap dari teras hingga dapur
  4. Menyapu dari ujung depan rumah hingga belakang
  5. Lantas mengepelnya
  6. Menyikat kamar mandi OH MY GOD kamar mandiku ada yang  nyikatin!
  7. Bersihin dan rapikan isi kulkas juga dia mau whaaawaaaaa!
  8. Ganti sprei cooooooy! Mau dia gantiin sprei pun hahaha
  9. Kalo saya punya alat penyedot debu, saya akan rikwes dia pake alatnya dan bersihin semua sofa-sofa di rumah :D
  10. Mamang GO-CLEAN yang saya booking siap bantu bersihin rumah. Ini-itu segala bis. 
“Soalnya minimal kerja kan 4 jam, bisa sampe 6 jam,” kata Pak Uus, tulus.



“Gak apa-apa, Pak. Ini juga udah 4 jam sih,” saya pikir udahlah cukup kok rumah saya yang mungil udah mengkilap :D

Pak Uus menambahkan “pokoknya kalo ada yang kurang, kasihtahu saya aja, Bu. Mumpung masih di sini.” Fyi, dia membawa peralatan kerjanya sendiri. Satu-satunya barang kerja domestik saya yang dipinjam adalah sapu.

Lap pel? Dia bawa sendiri!

Rasanya hari itu saya beruntung. Karena profesi Pak Uus sebelumnya, gak heran ia lincah banget mengerjakan tugas domestik. Gercep dan lihai.

Sambil ia bekerja dan saya memantau, sesekali saya ajak ngobrol. Ia bilang sebelum resign dari kantornya, profesinya adalah petugas housekeeping di hotel bintang lima di Bandung.

“8 tahun saya kerja di hotel, Bu,” begitu katanya. “Saya mah bisa kerjain apa aja asal bukan nyetrika,” ia berkata lagi sambil ketawa sedikit.

Hahaha ya memang itu hari keberuntungan saya. Dikirim mamang GO-CLEAN yang dulunya housekeeping man!

Ibu-ibu biasanya punya standar kebersihan sendiri. Saat itu, saya gak keberatan dengan standar kerja Pak Uus. Ia sendiri bilang, kalo kurang bersih, bilang aja nanti dia ulang kerjanya. Segitu juga saya makasih banget. Saya gak perlu punya tangan lima.

Saya hanya harus kerja lebih keras. Supaya cuan bisa dapet lebih banyak. Pos-pos cuan itu bisa pake dan bagikan lewat pos-pos kayak gini, kayak GO-CLEAN. 

Intinya tentang berbagi peran. Kalo ada tugas yang bisa didelegasikan, ya sudah oper saja. Bagi saya, harga tersebut masih terjangkau. Gak nyusahin.


PAKET RAMADAN  GO-CLEAN PERSIAPAN LEBARAN DAN MENYAMBUT SI BIBI MUDIK

Ini ya, berhubung mau Lebaran, waktu yang benar-benar cocok untuk beberes rumah agar kinclong dan segar. Udahlah kalian pesen aja tenaga GO-CLEAN. 

Saya adalah pelanggan yang terpuaskan.


Tip bila teman-teman ingin sewa tenaga GO-CLEAN. Bisa pilih perempuan kalo di dalamnya ada tugas menyetrika.

Besok saya booking Infal lagi dan pilih perempuan. Tugasnya selama 4 jam cuma nyuci piring. Bersihin dapur. Lalu nyetrika tiga keranjang cucian bersih saya yang sudah menumpuk dan tak tersentuh dua minggu lamanya itu. Wheuheuheu.

Bagi teman-teman yang ART-nya mudik, layanan Infal ini udah paling cocok. Pakelah layanan Infal ini. Beneran sangat meringankan beban ibu-ibu sekalian. Kayak saya.

Yok mari install aplikasi GO-LIFE ke hapenya. Abis itu pesan GO-CLEAN, pilih paket Ramadan dan layanan Infal.

Jangan lupa juga buat pake kode referral NURULULUBAIK buat dapetin diskon 50% ya! Btw, ini cuma berlaku buat pengguna baru aja. Selamat menikmati bersihnya rumah tanpa kitanya bercapek-capek :D 




Foto: Ulu
Teks: Ulu
Lokasi: Rumah sendiri

Jejak Mata Pyongyang, Review Pendek

May 18, 2019
Bila ada top 10 buku kategori ‘saya suka banget’ nah ini buku termasuk ke daftarnya.

Judul: Jejak Mata Pyongyang
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Halaman: 156 halaman
Penerbit:  Mizan
Tahun: 2015



Kedatangan Seno Gumira Ajidarma ke Pyongyang bukan untuk jalan-jalan. Namun jadi juri festival film Internasional Pyongyang 2002. Lantas apa menariknya ini buku?

Satu. Penulisnya.
Dua. Seno yang biasanya menulis fiksi kali ini menulis esai. Buku ini menyajikan 10 esai pendek. Kesannya SGA terhadap tempat dan manusia yang ia temui selama 17 hari di sana. Lengkap dengan foto-foto.

Nah, menurut saya mah foto-foto jepretan SGA inilah highlight utama bukunya.

Buku ini ditulis dan terbit 10 tahun usai perjalanan. Menyesal, kata Seno. Sebab ia baru menulis dengan ingatan yang memudar.

Di buku ini esainya pendek-pendek. Fotonya banyak. Seno memotret, awalnya terbuka saja. Setelah ditegur penerjemahnya, ia moto diam-diam. Sebanyak-banyaknya. Dengan kamera analog SLR Nikon FM2. One shot one kill. Fotonya bagus-bagus sekali.

Kata Seno "betapapun, ketika ingatan memudar, dan daya ingat terpengaruh usia, justru foto-foto itulah yang saya harapkan membantu. Artinya, alih-alih foto menjadi ilustrasi cerita, dalam beberapa hal adalah dari foto-foto tersebut saya menyusun kembali ingatan saya."

Esai pertama tentang alasannya ke Pyongyang. Di esai keduanya ia mulai memotret. Karenanya ia diawasi ketat penerjemah sekaligus intel. Sebab ia motret. Dan di sana, waktu itu sih, gak boleh moto sembarangan.

Pindah ke esai ketiga. Seno bertanya pada penerjemahnya: dahulu kala bangsa Korea kan jelas beragama, sejak kapan kepercayaan ditinggalkan?

Penerjemahnya menjawab."Ketika kami dijajah Jepang, kami sangat menderita, dan kami semua berdoa terus menerus, tapi perubahan tak kunjung tiba."

Ia melanjutkan. "Maka pemimpin besar Kim II Sung berkata bahwa perubahan hanya bisa terjadi dengan usaha manusia. Jadi kami lebih percaya kepada manusia."

Ada dua esai yang menyinggung rupa-rupa pakaian yang dikenakan warga Pyongyang. Di sini Seno mulai spesifik menulis tentang potret kehidupan warga Pyongyang.

17 hari di Korea Utara, ia diajak jalan-jalan melihat suasana kota dan daerah pinggiran.

Di esai terakhir, Seno menyajikan kesimpulan. "Memang tidak terlalu keliru bahwa Kim Jong-II telah membangun negeri itu seperti membangun studio film."

Buku bagus. Masuk daftar koleksi. Termasuk kategori buku: gak boleh dipinjemin.

Jalan-jalan di Surabaya, ke Sana Menumpang Kereta

May 17, 2019
Menumpang kereta api ke Surabaya, rentang waktunya lama. Bisa seharian. Dibanding pesawat, saya milih moda darat ini saja. Sebab saya takut ketinggian heuheuheu.

Tip pertama naik kereta api bila berangkat dari Bandung ke ibukota provinsi Jawa Timur adalah: lakukan perjalanan di malam hari. Supaya sepanjang jalan, badan terkondisikan tidur.

Kedua. Beli tiket kereta api kelas eksekutif. Mudah-mudahan saya dan teman-teman sekalian ada rezeki jajan tiket termahal ini ya. Heuheu.

Tiga. Beli tiket kereta api online. Belinya di Pegipegi aja.

Bila kita cermat memantau kode promo, harga tiketnya bisa ditekan kok. Lumayan. Nanti saya kasih tahu cara nyari kode promo gimana di bawah. Hehe.

Kalo berkereta api jarak jauh lebih dari tujuh jam, saya pilih (dan anjurkan) eksekutif. Kursinya nyaman. Ruang kaki luas. Enak bobo pokoknya hehehe.

Ketiga. Bila sulit tidur, bawa perbekalan film dan buku. Digital juga oke karena di tiap bangku sudah tersedia stop kontak. Kalo saya, pasti bawa buku fisik. Sebab baca buku cara konvensional membuat mata lekas mengantuk dan badan rileks.

Camilan gak penting-penting amat bagi saya. Yang penting makan menu berat udah terlaksana.

Okeh tip udah siap semua. Perjalanan ke Surabaya dimulai!

Pesona wisata Surabaya ada banyak. Kalo disortir, saya pilih dari tema yang sama dengan kota-kota yang saya kunjungi sebelumnya. Pusat kota lama, surganya bangunan klasik.

Nah acara kalo diurutin, jalan-jalan saya terakhir di Surabaya, mainnya ke :

1. Ampel. Pusatnya wisata religius di Surabaya.

Namun saya ke sana bukan untuk berziarah. Di Ampel, saya sengaja mampir untuk sholat di masjidnya. Masjid bersejarah ratusan tahun umurnya. Tebak berapa tahun usia masjidnya?




Lebih dari 500 tahun! Didirikan atas pimpinan Sunan Ampel. Sungguh menyenangkan bisa menunaikan ibadah di situs legenda, saksi sejarah penyebaran agama Islam.

Waktu saya berada di sana, tepat di hari Jumat siang. Pas banget waktu sholat jumat. Alhasil ramainya luar biasa. Tumplek tumpleg!

Pemandangan masjidnya agak sulit dinikmati. Sebab seramai itu. Bila teman-teman ada niat ke sini, datangnya jangan di hari jumat. Whehehe. Tapi mau hari jumat atau hari-hari lainnya, kelihatannya ramai saja. Banyak peziarah.

Abis itu keliling kampung Arab.

2. Kampung Arab Surabaya

Di sinilah keinginan lama saya terwujud. Menengok rumah-rumah lama bergaya arab. Keunikan rumah-rumah ini adalah dekorasi rumahnya yang tidak menggunakan gambar makhluk hidup.

Pola-pola dekor pagar dan teralis jendelanya geometris. Khas pola dari wilayah dengan budaya keislaman yang tinggi. Utamanya ada pengaruh dari timur tengah setahu saya (cmiiw). Sebab gambar makhluk hidup emang dilarang.



Masjid Ampel ini dikelilingi gang-gang kecil. Di beberapa gang itulah pemukiman arab berada. Selain rumah hunian yang berderet saling menempel, ada juga kios-kios kuliner. Seperti roti maryam dan toko kelontong yang menjual kopi rempah-rempah.

Oh! ada juga sekelompok ibu-ibu madura yang jualan es dawet. Gokil murah amat semangkuk es dawetnya. Cuma tiga ribu! Saya habisin dua mangkuk. Matahari Surabaya ada 10, panas amat heuheuheu.

3. Bis Wisata Heritage

Surabaya pelopor wisata heritage yang layanannya menggunakan bis. Iya sih organisatornya bukan pemerintah, tapi swasta. Saat itu, saya iri mengetahui ada wisata kayak gini di Surabaya. Karena di Bandung gak ada :D

Belakangan di Bandung ada bis serupa, Bandros namanya. Walo demikian, tingkat layanan, konsistensi, dan kontennya, bis wisata heritage ala sampoerna ini yang terbaik menurut saya.

Kalo mau baca lebih banyak tentang perjalanan wisata dengan bis ini, baca di tulisan wisata heritage di Surabaya.

Terus abis keliling naik bis ini, berkunjung juga ke museumnya ya. Museum Sampoerna yang kesohor itu lho.



Mencari Kode Promo Tiket Kereta Api di Pegipegi

Aplikasi andalan untuk beli tiket dan menginap adalah Pegipegi. Download appnya di google playstore dan install.

Udah siap pake appnya? yok kita buka sama-sama.

Tiap mau browsing dan booking, fitur pertama yang saya wajib cek adalah fitur promo. Tiap hari adaaaa aja promonya. Diskon untuk pengguna kartu kredit/debit bank tertentu, diskon hari-hari besar, malah diskon reguler juga ada.




Kayak beli tiket kereta api, promo regulernya ada banget di Pegipegi. Coba nih disimak cara saya ngakalin tiket di Pegipegi harga agak ekonomis.

  1. Tip pertama kalo mau dapetin promo tiket kereta: booking di hari kerja.
  2. Kedua, pastikan booking via aplikasi. Sering banget saya temui, promo hanya berlaku untuk pemesanan via app.
  3. Ketiga nih, koleksi kartu debit. Promo pengguna kartu kredit lebih banyak lagi.
  4. Kalo udah sign up di app/web Pegipegi, otomatis kabar seputar promo masuk ke smartphone. Dalam bentuk email atau notifikasi.

Gitu aja cara memperoleh tiket harga promo. Gampang kalo kita mau menyimak informasinya. Mau baca. Hehe.

Yok booking tiket kereta api di Pegipegi!


Halo, Min

May 15, 2019
Sepanjang usia bermedia sosial, saya paling risih kalo ada yang menyapa saya dengan sebutan mimin.

Wajar aja sebenernya disapa 'mimin'. Dengan nama akun @bandungdiary, netizen mikirnya ini akun pasti seputar wisata. Gak salah. Memang itu konten foto-foto dan caption media sosial saya.

Namun, saya sudah sebutkan ini berkali-kali. Bandungdiary bukan akun wisata plekketiplektiplek. Ini akun personal. Artinya, saya menulis, meresensi, memotret hal-hal yang saya sukai dan semua hak ciptanya milik saya.

Gak ada tuh foto-foto repost-an.

Saya juga gak minta ditag foto.

Saya bahkan gak punya hashtag sendiri.

Persepektif saya, persepsi saya, opini saya, tertuang dalam tulisan di blog dan caption @bandungdiary. Ada tulisan dan post sponsor, tapi hal tersebut tidak mengubah identitas akun saya.

Saat menerima sponsored post (yang tidak banyak, sebab siapalah saya ini :D) saya usahakan sortir agar brand dan akun saya masih satu napas.

Beberapa teman yang saya keluhi tentang drama sapaan mimin ini bilang, saya terima saja takdir yang sudah berjalan. Sebab namanya netizen baca akun namanya @bandungdiary ya wajar kalo mereka mau nanya seputar wisata di Bandung dan menyapa saya pake nama mimin.

Saya rasa saya harus menerima panggilan tersebut. Di bio saja, saya tak pasang nama sendiri. Jadi ya sudahlah. You do it to yourself, kata Metallica.

Dalam hati mah saya kepingin banget netizen membaca lebih banyak sebelum mereka mengirim dm dan menyapa saya: halo, min.


Review Everything In Between, Bersepeda dari Belanda ke Indonesia

May 10, 2019
Ini buku tentang dua orang bersepeda dari Nijmegen ke Jakarta. Setahun lamanya. Satunya orang Belanda tulen. Satu lagi warga Indonesia.

Judul: Everything In Between, Bersepeda dari Belanda ke Indonesia dan Cerita Diantaranya
Penulis: Marlies Fennema
Penerbit: Mizan
Tahun: 2019
Halaman: 212


Penulisnya yang orang Belanda, Marlies Fennema. Foto-foto dipotret Diego Yanuar.

Tulisannya tayang di blog mereka. Dalam Bhs Inggris. Tapi setelah dibukukan, tulisan di blog dihapus & diterjemahkan ke Bhs Indonesia. Saya beruntung bisa baca versi Inggrisnya.

Jadi apa menariknya ini buku?

Ya gitu weh kayak catatan perjalanan pada umumnya. Walo yang ini isinya lebih mirip kayak merunut jalan pikiran penulisnya. Isinya penuh hal-hal detail dan berloncatan. Pada benda dan cerita kecil.

Dari yang serius (misal ttg dua muka komunis dan kapitalis di Cina dan ttg kenapa gak puasa di bulan Ramadan) sampe ke hal yang 'naon sih' (tentang celana yang ada ritsleting di bagian lutut). Seru sih. Romantika keduanya juga diceritakan di sini. Walo gak banyak. 

Tiga tahun nabung, perjalanan ini sepenuhnya mereka biaya sendiri. Selama bersepeda, mereka bikin donasi untuk organisasi kemanusiaan, tumbuhan, dan hewan.

Saat proyek bersepeda ini rangkum, donasi yang terkumpul 329 juta.

Buku yang menarik. Persepsi penulisnya unik-unik. Banyak yang saya sepakati. Ada juga yang saya gak setuju, kayak pas dia bahas kerudung dan jadi vegan.

Saya harap saya menulis resensi buku ini lebih banyak ketimbang hanya salin dari caption saya di Instagram. Tapi ya sementara, segini aja dulu.

Buku yang menarik sih saya rasa. Sebab perjalanan ini ditempuh dua orang dengan latar budaya yang beda. Satu orang tropis dari negara berkembang, satunya lagi orang yang dimanja insfrastruktur.

Saya mengikuti perjalanan mereka via instagram @everythinginbetween.journal. Selama satu tahun. Ikut senang, ikut tegang. Hahaha. Menarik sih ngikutin proyek-proyek kayak gini. Soalnya saya gak bisa. Mau, tapi gak bisa :D



Makan Siang di Kedai Berkati, Ada Jejak Soekarno di Sana

May 03, 2019
Saya harus makasih dulu nih sama Kang Hasan dari Historical Trips. Postingannya tentang Kedai Berkati di Facebook, membawa saya ke sana. Ke sebuah rumah yang juga warung nasi bernama Kedai Berkati ini. 




Menu di Kedai Berkati sama kayak di warung nasi umumnya. Menu-menu khas sunda, dengan citarasa oriental. Malah cenderung manis, kata Indra. 

Harga makanannya di atas warung nasi yang lain. Gak aneh sih saya rasa. Warungnya aja ada di dalam rumah besar nan klasik. Ada harga ada rupa.

Bila diperhatikan tak perlu dalam-dalam, kelihatan kok tempatnya bersih dan apik. Biasanya nih di tempat kayak gini makanannya pasti enak. 

Eh bener dong! Makanannya enak-enak, minumnya gratis free flow teh anget. Dalam gelas kaca bukan gelas plastik.

Fyi, di sini makanannya halal.

Ada kisah lain tentang rumah Kedai Berkati ini. Kami ketahui dari Ibu Yeyen, pengurus Kedai Berkati. 

Ini rumah milik keluarga saudagar kain di Bandung yang udah nyampe ke 4 generasi.



Kedai Berkati Bandung

Ibu Bos (begitu ia menyebut pemilik rumah) gak mau rumahnya kosong. Pernah disewakan dan akibatnya kondisi rumahnya hancur.


Perlu waktu 2 tahun revitalisasi ke kondisi semula. Tegel asli. Kaca patri di dalam rumah orisinil. Frame jendela juga masih sama kayak dulu. 

Aaarrgghhh rumahnya cantik banget! Perabotannya apalagi!

Supaya rumahnya gak kosong, Ibu Lung ngajak Ibu Yeyen bisnis bareng dan memintanya bermukim di sana.

Termenarik dari semuanya adalah fakta berikut ini: keluarga saudagar ini berkawan baik dengan Soekarno dan Inggit Garnasih (dan istri Soekarno yang lain).
Yaaa. Kedai Berkati ada hubungannya Soekarno. Juga dengan Inggit Garnasih.

Sewaktu Soekarno jatuh mlarat di pengasingan, Tan Koen Joau (cmiiw, saya gak tahu apa ini penulisan nama yang benar) dari toko kain Tan Djoei Gin mengirim kain ke Bengkulu dan Flores. Gratis. Di sana Soekarno berdagang kain-kain kiriman Tan. 


Uang hasil jualan dipake buat bekal hidup, bersama Inggit.

Rumah Ibu Inggit di Ciateul, selain dibangun dari hasil jerih payah Ibu Inggit sendiri, juga hasil udunan beberapa orang. Termasuk keluarga Tan ini.

Saat Soekarno jadi presiden, belanja kainnya pasti di toko keluarga Tan. Mereka baru belanja saat toko kainnya tutup. Gak ke tokonya, Soekarno dan Fatmawati langsung ke rumah Tan. Yang sekarang jadi warung nasi ini.

Begitulah sejarah di balik Kedai berkati. Bener-bener tampat yang unik, menarik. Dia gak mencoba jadi tempat yang kekinian. Karenanya saya rekomendasikan.

Btw, di sini gak ada wifi. Gak ada colokan. Alhamdulillah mudah-mudahan begitu aja selawasnya. Heuheu.


Buka jam 09.00
Tutup jam 16.00
Hari minggu tutup.

Di Jalan H Syarief  no 321.


Kami bertiga makan siang, air minum cuma nambah jus stroberi. Total makan siang di Kedai Berkari 60ribuan. 

Masih gak nyangka, cuma 100 m dari Warung Kopi Purnama ada tempat kayak gini. Gak jauh pula dari Jalan Otista.

Kedai Berkati Bandung

Kedai Berkati Bandung

Kedai Berkati Bandung

Kedai Berkati Bandung

Kedai Berkati Bandung

Kedai Berkati Bandung

Kedai Berkati Bandung



Foto: Ulu
Teks: Ulu