Social Media

Image Slider

Jalan-Jalan di Sekitar Stasiun Garut

June 29, 2022

Kalau pernah terpikir untuk pindah ke kota kecil dan bekerja remote WFA/WFH saja, saya rekomendasikan Kota Garut. Pilih kos-kosan sekitar Alun-Alun. Dekat stasiun kereta api. Ke sana dekat, ke sini dekat. Berjalan kaki masih nyaman, bersepeda apalagi ngegelosornya enakeun. Lalu ini yang mahapenting: udaranya sejuk dan adem. Juga ayam gepreknya enak-enak!

 

jalan-jalan sekitar alun-alun garut


Sayangnya saya tidak tahu tarif hidup di sana. Tiga hari di Garut gak bisa jadi patokan tahu biaya hidup. Harga jajannya lebih murah dari Bandung yang pasti sih. Ah ketang liburan aja dulu ke Garut atuh, meni jauh ngomongin pindah kota segala rek naon sih heuheu. 

 

Mana sekarang ada stasiun kereta api juga. Buat saya warga Bandung, terhubungnya kota saya dengan kota garut melalui jalur kereta api kerasa ngegampangin banget. Emang sempat kepotong pandemi dua tahun sih, pandeminya pun masih ada. 

 

Namun yah udah bisalah sekarang jalan-jalan ke Garut. Hehe. udah pada vaksin tiga kali kan? Anak-anaknya udah pada vaksin dua kali? Kalo sudah ya bisa kayaknya jalan-jalan. Dipake aja maskernya, hand sanitizer bawa terus, kalo jaga jarak sih udah lapur ka mana tea heuheu.

FYI, Garut kotanya enakeun banget ya. Please note yang saya bicarakan adalah sekitar Alun-Alunnya saja. 

 

jalan-jalan sekitar stasiun garut

jalan-jalan sekitar stasiun garut


Untuk berjalan kaki ke sana ke mari di tengah kotanya cukup nyaman. Suasananya juga hidup. Artinya banyak pertokoan yang buka. Hiruk pikuk kota terasa ramai tapi tidak riweuh. Banyak tempat jajan dalam radius berdekatan. Alfamart dan Indomaret ada tapi tidak berceceran seperti di Bandung.

Saya dan Indra berjalan kaki pagi hari, siang, dan sore. Makan buku, jajan baso, menyantap mie ayam, menelan bacil! 

 

Juga tentu saja memoto toko-toko tua di Jalan Ahmad Yani. Bolak-balik ke Toko Buku Merpati dan  bermain di Alun-Alun. Enak deh hype Alun-Alunnya tuh kerasa banget generator kegiatan warga buat leleson. 


Saya jajan kopi juga. Entah buat siapa pokoknya beli aja dulu. Maunya saya bertanya segala macam tentang Toko Ek Bouw Jaya, tapi sungkan nih. Coba kamu aja gimana kalo ke Garut mampir ke Toko Ek Bouw di Jalan Ahmad Yani terus ngobrol sama Oom yang punyanya. Terus ceritakan. Hehe.

Gak ada timeline jalan-jalan yang kami rancang. Secara spontan hanya berkeliling area stasiunnya saja. Begitu-gitu aja kegiatannya, jalan kaki-ngobrol-makan-ngobrol-berfoto-main hape-jalan kaki. Saya jadi mempertanyakan ini: liburannya buat saya atau kubil. Hahah rada ngaco emang.

 

jalan-jalan sekitar stasiun garut


Berikut ini beberapa jalan yang kami susuri:

  • Jl Bank (kami makan paketan ayam di sini, punten saya gak catat nama restonya)
  • Jl Veteran (hotel tempat kami menginap dan ada Mie Ayam Goyang Lidah yang oke juga)
  • Jl Ahmad Yani (saya beli kopi, kopi giling halus di Toko Ek Bouw dan Indra beli lem buat panci. Wkwk)
  • Jl Mandalagiri (belanja teh curahan)
  • Jl Ciledug (jajan bubur namanya Bubur Panin dan mampir ke Toko Buku Merpati -yang mana saya belon berjodoh dengan tokonya)
  • Jl Pasar Baru (Baso Ma Iko dan Restoran Sunda Mang Iki)
  • Alun-Alun (bisa bermain lama di sini: badminton, sewa skuter, baca buku, berfoto, sholat di masjid, dan berkeliling di gang-gang sekitar Alun-Alun dan jajan. Gak ngerti sih kami jajan street food lumayan banyak heuheu).
  • Pasar Ceplak! ini di jalan apa ya saya lupa lagi nama jalannya

Dan beberapa ruas jalan lainnya.

Banyak jalan kaki membuat si kaki terasa pegal saat sampai di kamar hotel. Namun lagi-lagi namanya juga turis yang everything is new everything is interesting jadi yah senang aja bawaannya. Sing penting tidur enam jam, menetralkan tubuh yang capek. Esok hari bisa tancap ke gigi tiga lagi.

Kami sempat berganti hotel satu kali. Yakni di Hotel Joglo. Booking via Reddoorz. Ada kolam renang di sana jadi yah okelah buat cemplungin si kubil. Dua malam lainnya kami tidur di hotel dekat stasiun, masih di Reddoorz juga yang Near Alun-Alun. Rate kedua hotel tersebut cukup aman buat yang sedang diet finansial seperti kami. 

 

hotel sekitar stasiun garut


Main ke Mal Garut, nonton di bioskop, main di wahana anak-anak. Yah udah kubilang tadi kegiatannya begitu aja hanya beda kota, biasanya di Bandung, ini mah di Garut. Hehe. Seru-seru aja buat kami.

Bila uang gak jadi masalah, kamu bisa pergi ke Cipanas. Ada atraksi air panas alami di sana. Berenang dan berendam di hotel-hotel seperti Tirta Gangga pasti menyenangkan. 

 

Atau liburannya yang ala-ala leisure mewah di Kampung Sampireun juga menarik, kami sendiri sudah pernah mencobanya dan Kampung Sampireun adalah resort yang sangatlah mengesankan. Luar biasa impresif tempat, makanan, dan pengalamannya.

Yah begitu aja. Selamat berlibur sekolahan ya! Bila kamu membaca tulisan ini dan kamu tinggal di Bandung, ayo atuh booking kursi kereta api ke Garut. Rekomendid jalan-jalan di sana, kieu pisan 👍

Makasih ya, Kereta Api Indonesia. Ongkos dari Bandung ke Garut murah banget. Jadi kebantu banyak nih menahan laju pengeluaran. Malah mahalan gocar dari rumah ke stasiun sih hahaha bodor juga. 


Saya pernah menulis tentang Garut yang lainnya dalam tulisan 24 Jam di Garut. Mangga dibaca juga. Makasih yah!

Dari Bandung ke Garut Menumpang Kereta Api Lokal Cibatuan, Ongkosnya 14.000

June 28, 2022

Ke Garut biasanya menumpang apa? Elf atau mobil travel? Kalo saya elf sih. Pernah juga kendaraan pribadi. Berangkatnya via Cijapati soalnya kalo ambil jalan biasa yang via Nagreg pasti macet.

 

kereta api bandung garut


Nah baru aja kemarin saya, Indra, dan Kubil pergi ke Garut naik kereta api! Waduh pengalaman pertama ini sangat menyenangkan! Padahal dipikir-pikir kami gak lihat pemandangan apapun selama di jalan. Lha kami ambil keberangkatan malam hari pukul 19.28. Hehe.

Bisa jadi karena ini kali pertama juga saya naik kereta selama pandemi. Keduanya, tidak kena macet. Durasi perjalanan empat jam (bila dihitung dari rumah). 

 

Di dalam kereta pun nyaman saja seperti pergi ke Cimahi naik kereta hanya kalikan empat aja durasi waktu tempuhnya. Ketiganya, ya ini trek kereta api jalur baru ke Garut. 

 

Rel kereta api ke Garut sebenarnya sudah ada sih sejak zaman kolonial, tapi mati suri. Baru tahun 2019 dibuka lagi.
 

Stasiun Garut diresmikan tepat sebelum pandemi. Lalu terjadilah lockdown. Saat itu wacana jalur kereta diteruskan hingga ke Stasiun Cikajang sudah dimulai. Sayang kini proyek kereta api Cikajangnya berhenti. Sementara Stasiun Garut sudah siap. Jadi Garut ini stasiun terakhir dari mana-mana.

Bandung - Garut via kereta api juga jalur baru (yang lama, tapi baru). Jadi bukan saya aja yang pertama kalinya beginian nih, banyak orang juga mengalami hal yang sama. Cuma saya kan turis ya dan turis selalu ngehe sendiri haha, pokoknya everything is new, everything is interesting. Jadi ya seperti kubilang tadi, naik kereta Bandung - Garut menyenangkan rasanya. 

 

Bila ada kota-kota kecil terhubung ke Bandung via kereta api, pasti deh saya pengen ke sana naik kereta api! Seperti waktu ke rute kereta api Bandung - Tasikmalaya terhubung, saya cobain tuh. Senang banget yah naik kereta api tuh kenapa sih kira-kira heuheu.



Cara Memesan Tiket Kereta Api Bandung - Garut

Satu-satunya cara hanya via aplikasi KAI Access. Ada dua kereta api yang berangkat menuju Garut:

  • KA Cikuray (kereta api jarak jauh) berangkat dari Pasar Senen Jakarta. Ongkosnya 45.000 dari Bandung.
  • KA Lokal Cibatuan, (kereta api lokal), berangkat dari mana saja di stasiun mana saja di Bandung (dan Purwakarta). Ongkosnya dari Bandung 14.000.

Saya pilih Cibatuan aja karena murahlah apalagi. Berangkatnya dari Stasiun Bandung. Paling dekat dengan rumah soalnya. Namanya juga kereta lokal, jadi gak ada nomor kursi alias bebas mau duduk di mana aja.

Ada dua jam keberangkatan kereta api ke Garut dari Bandung:
06.43
10.55

Namun sayangnya dari Garut ke Bandung gak ada waktu yang cocok nih buat perjalanan pergi-pulang same day. Dari Garut ke Bandung berangkatnya:
06.05
10.55 


bandung garut naik kereta api cibatuan


Jadi kayaknya mesti nginep di Garut kalo kamu jalan-jalan di sana. Saya pun begitu. Saya booking satu kamar di Redddoorz Near Alun-Alun. Permalamnya 230+++. Lokasi strategis dan kamarnya cukup okelah buat menumpang tidur. Bukan kamar fancy, seperti kamar kos aja. Kayaknya seru deh kalo ada hostel di Garut.

Ayo Garut, disambut nih potensi turis-turis ngehe dari Jakarta dan Bandung. Hehehe apa sih ngehe, maksudku turis-turis bageur.

Sebaliknya warga Garut diuntungkan banget dengan kereta api Cibatuan ini. Mereka bisa pergi pagi dari Stasiun Garut, dan pulang malam dari Bandung. Seru ya! Gak apa-apa deh, saling bergiliran aja buang uangnya hehehe orang Bandung buang uang menginap di Garut. Orang Garut buang uang jalan-jalan sehari aja di kota Bandung.

Gitu aja. Cerita jalan-jalan di Garut saya buat di postingan berbeda yah! Bisa dibaca di tulisan Jalan-Jalan Sekitar Stasiun Garut. 


Ayo dibooking tiket kereta api dari Bandung ke Garut di aplikasi KAI Access ya! Lesgow, lesgooow!

Pecinan Discovery Bersama Cerita Bandung

June 16, 2022

Dalam tur jalan kaki bertema pecinan ini saya masuk ke dalam gang-gang di pusat kota Bandung. Saya membawa pulang jamu racikan Toko Babah Kuya dan satu pak kopi dari Toko Kapal Selam. Juga ku bungkus dua potong Kompia, sebuah kuliner peninggalan zaman perang. 

 

Tur Cerita Bandung

Ini cerita jalan-jalan kedua yang saya posting pasca pandemic. 

Lama ya vakumnya dua tahun. Seminggu lalu saya mengikut tur jalan kaki di Bandung. Organisator turnya bernama Cerita Bandung. Saya ceritakan tentang mereka di bagian akhir tulisan ini. Sekarang saya bagikan dulu tentang tur pecinannya.


Dua puluh orang termasuk saya ikutan tur jalan kaki ini. Durasi berjalannya lumayan lama, 3,5 jam ada lah. Ditambah makan, jajan, berfoto, dan menyimak storyteller-nya Cerita Bandung, Teh Femis.

Mulai berjalan 8.30. Berakhirnya hampir pukul setengah satu siang. Kerasa agak capeknya di tengah tur. 

 

Saya mengajak anak saya, Kubil, ikutan tur ini dan dia terlihat baik-baik saja menempuh perjalanan modal kaki ini. Jadi saya gak bisa memperlihatkan bahwasanya saya capek. Ntar dia kebawa capek terus bete gimana dong berabe. Anak kecil bila bete bisa merusak kesetimbangan satu alam semesta jagat raya.

Tur jalan kakinya Cerita Bandung hari sabtu pagi 11/6/2022 judulnya Pecinan Discovery.

Udah terbayanglah mau ke mana dan bagaimana. Jalan kaki dari satu tempat ke tempat lain, dari jalan satu ke jalan lainnya. Teh Femis bilang Pecinan Discovery bab I (karena ada bab 2 di tur yang berbeda) memang rute terpanjangnya paket tur Cerita Bandung.

 


Pecinan di Bandung, Awal Mula

Dipikir-pikir hampir semua tempat yang kami lihat dan Teh Femis ceritakan adalah tempat berdagang. Gak heran juga karena orang-orang Tionghoa di Bandung (dan Indonesia pada umumnya) mayoritas memang pedagang. Begitu kan stereotipenya.

Mereka pindah ke negara ini dalam rangka memperbaiki nasib. Faktor ekonomi, sosial, dan politik.

 

Ditambah fakta di era orde baru, ruang gerak mereka digencet abis sehingga pilihan profesinya terbatas, salah satunya ya mau bagaimana lagi jadi pedagang saja.

 

tur pecinan di bandung
 

Jadi bila sektor perdagangan mereka kuasai, jejaring yang kuat, dan terampil dalam berbisnis, maka wajar kayaknya. Sebab sudah terasah zaman. Hehe.


Walo begitu, gak semua wilayah pecinan di Bandung dihuni oleh orang-orang (keturunan) Tionghoa. Ada juga komunitas orang-orang Arab  (dan keturunannya) yang berbagi ruang domisili. Makanya ada jalan namanya Alkateri di sana.

Juga ada sebuah gang kecil bernama Aljabri. Kedua nama tersebut (dan beberapa nama jalan lainnya) diambil dari nama tokoh-tokoh warga keturunan Arab.

 

Di lokasi-lokasi terpencil itulah saya perhatiin ada toko-toko yang barang dagangannya spesifik. Seperti toko ini yang hanya menjual tali temali. 


Merhatiin gak di area pecinan itu toko-tokonya bukan tipe yang toko serba ada, tapi barang dagangannya spesifik. Seolah-olah toko mereka itu saling berhubungan. Sirkular.  


Beli tali ke toko A, beli kancing ke toko B, kain ke toko C. Bila melewati tokonya saya sering mikir ini siapa pembelinya, gimana cara dagangnya, pembeli bisa nyampe ke sini tuh gimana ceritanya? 


Kita suka mikir kan kita harus menjual barang ke semua orang, nah dari orang-orang tionghoa ini saya lihat gak semua orang akan membeli barang daganganmu. Ya sudah gak apa-apa, dibagi-bagi aja jalur rezekinya, seperti rantai saling terhubung. 

 

 

Jamu dari Toko Babah Kuya dan Kompia si Roti Batu!

Teh Femis mengajak rombongan tur ke area Pasar Baru: berkunjung ke Toko Babah Kuya dan Toko Kopi Kapal Selam. Saya jajan di sini, jamu buat sakit lambung dan kopi yang bijinya dari kebon di Lembang.

 

FYI, umur toko babah kuya dua abad. Saya itung-itung, berarti waktu umur kota Bandung baru 11 tahun, toko Babah Kuya buka pertama kalinya. 

 

Saya masih gak ngerti ini bagaimana cara mereka bisa passing usaha toko dari leluhur pionirnya ke keturunan-keturunannya. Bayangin empat generasi dong ya? 


Ada keluarga yang mau ngurusin tempat yang sama, barang yang sama, selama ratusan tahun. Saya tuh mikirnya kok bisa, kenapa, WHY! DARIMANA ILMU KEBATINAN INI BERASAL! 

 

tur pecinan di bandung

Begitupun Toko Osin yang legendaris. Saya jajan seporsi bubur kacang tanah, signature dishnya Toko Osin, selain Cakue. Rasanya manis dan ada tekstur sedikit renyah karena kacangnya utuh gak remek macam bubur. 


Namun di Toko Osin ada menu yang tidak halal. Dan menurut saya itulah yang paling enak, Bapianya itu loh! hadeuhhhh gimana cara ya makan bapianya tanpa saya tahu bahwa makanan ini mengandung potongan daging babi…hehe becanda (tapi berharap). 


Cerita tentang asal muasal keberadaan orang-orang Tionghoa di Bandung gak bisa saya ceritakan. Sebab saya banyak gak tahunya. Hehe. Teh Femis juga cerita sinopsisnya aja. Memang gak mungkin dijelaskan dalam satu tur. Terlalu panjang. 

 

Intinya mah mereka teh ingin memperbaiki nasib saat migrasi dari Cina. Mendarat di Hindia Belanda yang dikuasai VOC, ruang gerak mereka dibatasi. Ditugasi berkebun dan bertani pada gak mau. Sepertinya mereka menyukai kegiatan perdagangan dan jasa karena senangnya berkomunal di tempat-tempat ramai. 


Di penghujung tur pecinan, saya melihat tempat pembakaran kue (atau roti) Kompia. Dari cerita Teh Femis, satu-satunya di Bandung yang membuat Kompia dengan cara kuno ya di sini. Seru amat bisa tahu yang beginian! 


“Toko lain juga ada yang jualan kompia, tapi cara masaknya pake oven,” kata teteh-teteh enerjik yang gak kelihatan capek ini padahal jalan kaki ongkoh, ngomong sambil pake masker juga ongkoh. 


Saya ngobrol sebentar dengan Cici Elis, pembuat kompianya. Cici bilang buat makan kompia enaknya ditandemin dengan bapia, semacam gorengan berisi bawang daun dan potongan daging babi. “Dicelup ke cikopi juga bisa kan, Ci? enak?” tanya saya. 


Cicinya ketawa, kata dia kalo dicelup ke air kopi mah jadi manis sih. Kompia ini roti keras, seperti batu. Jadi emang makannya harus ditandemin dengan makanan lain yang lebih empuk. 

 

Ci Elis rekomendasiin dimakan gurih aja. Baik, kupikir. Di rumah saya makan kompia dengan soto madura. Sobek kompianya kecil-kecil, cocol ke kuah soto. Asli euy bener enak cobain geura! Wkwk. Secara saya tidak bisa makan bapia the pig khaaannnnn! 


Aduh saya kelamaan cerita deh kayaknya. Masih pada baca? Oke terakhir nih. 


Kami digiring menuju lokasi yang saya gak bisa sebut namanya. Cukup menegangkan saat berjalan melewatinya, meski sebentar. Mesti sih pada ikutan Pecinan Discovery ini. Pengalaman jalan kakinya menarik dan beneran sebuah 'discovery' yang unik. 


Di akhir tur kami melihat sebuah bangunan ibadah. Bukan lihat dari luar aja, tapi beneran masuk ke dalam viharanya. Agak sungkan saya teh kalo masuk tempat ibadah, tapi dipandu Teh Femis yang juga keturunan Tionghoa jadi berasa tenang. Hehe.


Seperti biasa kalo dalam tur selalu ada sesi berfoto. Tidak ada foto dengan spanduk dalam tur ini. 

 

tur pecinan di bandung

 

Tentang Cerita Bandung

Cerita Bandung adalah organisator tur yang basednya perusahaan. Bukan komunitas. Dari segi layanan menurut saya oke. Hospitalitynya baik. Penceritaannya gak dalam dan gak banyak. Bukan yang tipenya in-depth, seperti tur-tur yang pernah saya ikuti sebelumnya daari komunitas di Bandung. 

 

Beberapa orang yang saya tahu, ikutan tur untuk berjalan-jalan saja, saya pun begitu. Bobot cerita sejarah menurut saya mah nomor tiga. Nomor duanya berfoto dan jajan tidak mengapa. 


Brandingnya Cerita Bandung juga rapi. Well-designed. Cakep sih, emang diniatkan basednya ke bisnis. Turnya pun berbayar. 


Tur di Bandung ala Cerita Bandung ada banyak, silakan dipilih aja mau yang mana. Pecinan Discovery adalah tur saya yang ke dua. Pilihan turnya ada di instagram, coba kamu klik ada di sini

 

Mereka mengadakan tur berulang-ulang dan terjadwal tiap sabtu dan minggu. Varian turnya menarik semua. Jagoan yang bikin paket turnya sih ini bisa motong fragmen sejarah dan membungkusnya dalam format tur jalan kaki. Bravo!


Saya numpang lewat sebentar ya. Makasih baca sampai sini. 


tur pecinan di bandung

Teman Bus di Bandung, Bayarnya Pake QRcode atau e-Money

June 07, 2022

Sejak awal April 2022 saya lihat bis angkutan umum wara-wiri di jalanan kota Bandung. Bahkan sampai ke kabupaten, domisiliku sendiri. Seru sih lihat bisnya mirip banget sama Bis Tayo itu loh yang ada di televisi. Hehe. 

 

Teman Bus Bandung
 

Padahal gak diniatkan nih, saya dan Kubil menumpang bis ini di hari pertama lebaran. Hahaha aneh banget. Bisnya kosong pula penumpangnya hanya tiga orang, termasuk kami berdua. Ya lagian dipikir-pikir siapa juga yang menumpang angkutan umum di hari pertama lebaran yak! 

 

Di dalam bis kulihat si bis ini ada namanya, yakni Teman Bus. Ada hashtag segala loh #kamiadauntukanda. Pikir saya serius juga nih! 

 

Karena bisnya sepi, maka saya wawancara aja sopirnya. Tanpa bertanya namanya aduh punten pisan lupa bertanya nama. 

 

Oke. Saya kasih lihat FAQ tentang Teman Bus ini, kayaknya sih pertanyaan saya adalah pertanyaan sejuta umat lainnya. Berhubung koridor bis saya adalah jurusan Baleendah - BEC jadi, nama jurusan ini paling sering disebut dalam FAQ di bawah. 

 

Here goes. 


Pak, bisnya kenapa ongkosnya gratis?

Kurang tahu, Neng. Dalam rangka sosialisasi mungkin. Gratisnya sampai tiga bulan aja (berarti sampai Juni, artinya Juli mulai ada pembayaran)

 

Kira-kira nanti ongkosnya berapa, Pak?

Nah ini mah saya juga belum tahu

 

Bapaknya ngomong duluan sebelum saya bertanya.

Pembayarannya pake e-money. Jadi penumpang kudu punya e-money, walo masih gratis wajib tap kartunya dulu. (Wah dicatat nih, wajib punya e-money).

 

(Karena saya sudah menumpang bis ini beberapa kali, saya bisa kasih informasi tambahan. Kita bisa scan barcode untuk pembayaran, barcodenya ada di aplikasi Teman Bus. Kita sign up dulu, nanti cek aja tab 'setting', nongol deh tab QR Code. Bisa nih dipake kalo gak punya e-money).

 

Satu kartu e-money bisa dipake berapa orang, Pak?

Maksimal tiga orang

 

Teman Bus Bandung
 

Bisnya ada berapa koridor/jurusan, Pak?

Ada Lima. 

 

Leuwipanjang - Soreang

Kota Baru Parahyangan - AlunAlun

Baleendah - BEC

Leuwipanjang - Dago

Dipatiukur - Jatinangor

 

Kapasitas bis berapa penumpang maksimalnya?

Kira-kira mah 40 orang muat, tapi gak akan diangkut sebanyak itu juga. Kan armadanya juga banyak, Neng.


Armadanya ada berapa, Pak?

Jurusan Baleendah - BEC ada 15 armada (sepengamatan saya kurang dari 15 deh). 

 

Keberangkatan bis tiap 15 menit sekali (yang sayangnya sering meleset karena bis sering kecegat macet).

 

Bisnya akan menaikkan dan menurunkan penumpang di 57 halte. Daftar haltenya bisa dicek di aplikasi Teman Bus. 

 

Jadi gak bisa naik turun sembarangan ya, Pak? harus di 57 halte itu?

Iya wajib. 

 

Ada peraturan khusus gitu gak buat yang mau naik Teman Bus, Pak?

Penumpang dan sopir dilarang merokok dan makan di dalam bis. Sama pembayarannya pake kartu.

 

Jam keberangkatan gimana, Pak?

Kalo dari Baleendah paling pagi berangkat jam 4.30. Kalo dari BEC paling malam jam 20.30 berangkat menuju Baleendah. 

 


Informasi Tambahan Tentang Teman Bus

Saya kasih informasi tambahan lagi yah. Di bis ada voiceover dan ada running text halte. Jadi buat teman kita yang tuli dan tuna netra, bisa jadi ketolong banget. Voiceovernya mirip dengan suara di gerbong kereta api. Canggih sih menurut saya mah, sebagai warga kabupaten nih. 

 

Teman Bus nih, buat orang kabupaten, bisalah disebut sebagai semacam revolusi transportasi umum yang cemerlang gemilang. Hehe. Agak menyedihkan sih karena baru muncul sekarang, di tahun 2022, di tengah isu metaverse apalah apalah itu. Hehe. 

 

Teman Bus Bandung

 

Teman Bus di Beberapa Kota Lainnya

Belakangan saya baru mengetahui, saat saya upload Teman Bus di stories Instagram, beberapa teman dari kota lain mengatakan hal yang sama. Katanya di kota mereka juga ada Teman Bus. 


Rupanya Teman Bus ini proyeknya Kementrian Perhubungan dan dibuat serempak di beberapa kota. Selain Bandung, ada Bogor, Solo, Surabaya, Medan Denpasar, Palembang, Yogyakarta, Makassar, Banyumas, Banjarmasin!

 

 

CONS

Kekurangan armada bis ini ada di peralatan pembayarannya. Parah sih responnya lama banget kalo tap kartu. Bisa pake barcode juga, lebih cepet juga, tetap saja kehitungnya makan waktu banget. 


Bibit ribetnya sudah terlihat jelas. Kalo operatornya baca tulisan ini, please banget itu mesin pembayarannya dibetulin. 

 

Kalo nonton drakor atau series western kok tap kartu gampang banget ya. Tinggal tempel gak sampai satu detik langsung direspon mesin. Kalo versi Teman Bus ini mah ahelah lama luar biasa wkwkwk. 

 

Lalu saat saya pikir armadanya udah banyak, ternyata enggak juga. Terutama di hari libur atau weekend. Kerasa deh penumpangnya buanyak. Jadi emang yah armadanya kurang sebab permintaan mah tinggi. 

 

Kalo bis sedang penuh-penuhnya penumpang, saya kembali naik angkot. Pertama, malas rebutan masuk ke bis sebab tidak pada kenal yang nama antrean ih sebel. Kedua, gak ada kedua. Itu adalah satu-satunya yang membuatku hoream naik bis ini. Hoream rebutan masuknya. Hehe. 

 

Jadi emang pemilihan waktu mesti diperhatiin buat warga pengguna transportasi umum yang super introvert kayak saya hueheheheh apa sih bawa-bawa introvert segala asa teu nyambung.


Teman Bus Bandung


Sudah mau dua bulan saya menggunakan jasa Teman Bus, saya juga masih pake angkot. Keduanya membantu mobilitas saya di tengah jasa taksi dan ojeg online yang berhenti bakar duit sehingga ongkosnya terasa lebih mahal dari biasanya. Hehe. Emang segalagala lagi mahal sih sekarang jadi yah...


Ayo menumpang Teman Bus!

Berjalan Kaki Dari Astana Anyar, Sampai di Gedung Pakuan

June 06, 2022

Ke Tegalega, kira-kira itulah ajakan saya pada Indra. Dari kapan deh dia mau hunting perkakas bekas di Jalan Astana Anyar. "Ya udah ayo sekalian aja besok," ajak saya, hari jumat waktu itu. 

 

Sabtu pagi kami sudah berada di Tegalega, pukul delapan pagi. Udara masih sejuk dan panas matahari belum mengigit. 

 

pasar loak tegalega
 

Bila belum tahu, saya jelaskan sedikit. Jalan Astana Anyar ini langganan macet. Ada terminal Tegalega di sana. Ada Pasar Anyar. Tambahan kalau pagi hari ada pasar loak perkakas, sorenya ada pasar loak produk fesyen. Beuh gimana gak macet. 

 

Namun kami bertiga pergi ke sana di pagi hari akhir minggu, menggunakan angkutan umum dan berjalan kaki. Jadi, bye macet! Hehe. 

 

Menyusuri pasar loak pastilah menyenangkan. Seenggaknya buat beberapa orang. Mungkin kamu di antaranya. Seperti saya, samaan dong kita. Hehe. 

 

Kenapa ya senangnya tuh apa penyebabnya? 

 

Mungkin karena saya gak menyetel espektasi apapun. Sehingga meski barangnya loak tapi dalam persepsi kita di sana everything is new, everything is interesting. Ada barang yang membangkitkan kenangan lama, ada juga yang malah baru ketahui kayak "ada ya barang kayak gini?!". Saya berucap demikian saat saya melihat ada kios yang menjual ring basket bekas. Rasanya seperti sedang beraksi seperti Mike dan Frank di The Pickers. 

 

Meski ada di pasar loak perkakas, Indra tidak belanja barang bekas. Dia beli sikat besi buat nyikat karatan di stang sepeda. Dia juga membeli celurit. Lalu saya membungkus satu alat asahan 10.000 saja harganya. Si Kubil membawa pulang mainan helikopter. Semua orang belanja, semua senang. 

 

pasar loak tegalega
 

Tinggal makan. 

 

Kami berjalan kaki dari Jalan Astana Anyar, melewati Jalan Ciateul, melintas ke Jalan Otista, dan berbelok ke Jalan Pungkur. Wilayah Kebon Kalapa di sana, seperti biasa kami menyantap sarapan pagi di Susu Ijan. 

 

Dipikir-pikir ya, ada banyak rekomendasi makanan. Coba saja lihat di instagram, twitter, dan sebagainya itu. Berpuluh-puluh rekomendasi kubaca, berlabuhnya selalu ke tempat yang sama. Otak tuh kayak udah malas mikir dan bertualang rasa. 

 

Kurasa ini bagian dari usia juga. Yah bagaimana lagi dijalani saja prosesnya. Haha apa sih. 


Kenyang di Ijan, kami berjalan kaki. Niatnya ke area Pasar Baru mencari stik kayu penggaruk punggung. Namun saya tidak serius mencarinya jadi saya pikir lupakan saja tujuan tersebut. Lantas saya mengajak Indra dan Kubil ke arah sana, ke arah Cicendo. "Mumpung searah," ucapku. 

 

Susu Ijan

 

Dari wilayah Otista, kami menyebrang ke Cicendo via jembatan durjana. Jembatan penyebrang yang melintas rel kereta api. 

 

Nah itu dia kulihat di ujung Otista nomor 1 ada rumah dinas gubernur Jawa Barat. Saat saya menulis ini, berita tentang kematian anaknya Ridwan Kamil masih lewat di timeline media sosial. Sebagai netizen, saya ikut sedih yang mendalam. Semoga keluarganya kuat dan tabah melewati masa-masa berduka ini. Innalillahi wainnailaihi rojiun. Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah, dan kepada Allah jugalah kami kembali. 

 

Kurasa inilah tujuanku sebenarnya pagi itu, ke Gedung Pakuan meski hanya melintas di luarnya. Kuanggap sebagai layatan. 

 

Kami bertiga berjalan kaki hingga depan stasion. Bis kami akan berhenti di haltenya. Kami pulang ke rumah. 

 

Makan Ramen di Pasar Cihapit

May 31, 2022

Berdua dengan Indra, saya pergi ke Cihapit. Mau makan ramen di sana. Gara-gara apa ya saya tahu ramen ini, instagram deh kayaknya. 

 

Kami parkir motor di Jalan Cihapit, kira-kira abis sholat isya waktu itu. Lalu berjalan ke dalam pasar via jalan belakang. Indra meragukan, beneran jam segini masih buka? tanyanya. Ayo aja, jawabku. Kita ke Rama Ramen!

 

rama ramen pasar cihapit
 

Pasarnya sih rada gelap ya. Remang-remang gitu. Sepertinya bila datang sendiri saya sudah mundur duluan balik ke tempat parkir. Hehe. 

 

Tidak sulit mencari Rama Ramen tujuanku itu. Sat set sat set aja ikuti labirin kios. Nah ketemu. 

 

Sayangnya wiraniaga bilang stok ramennya habis bila untuk dua porsi. "Gimana kalo satu porsi dibagi dua?" katanya. Saya dan Indra berpandangan saling mengucap setuju tanpa bicara. 

 

Langsung aja kami ambil posisi duduk. Indra sih udah nancap duduknya, saya berdiri lagi dan berfoto untuk instagramnya @bandungdiary. Gak lama-lama, dua porsi mini Rama Ramen terhidang di depan hidung kami. 

 

rama ramen
 

Saya pesan curry ramen dan miso ramen. Keduanya enak. Ramen kan gitu yah kuahnya halus aja. Saya suka, Indra juga. Namun menurut saya, si kuahnya baru terasa meledak rasanya setelah saya santap bersamaan dengan tambahan sambal yang baru dibuat oleh wiraniaganya. Semacam acar sambal (?) terdiri dari potongan bawang, cabe rawit, dan minyak. 

 

Lalu menurut  kami jagoannya adalah baso goreng. Menu add on di sana. Bila berkunjung ke Rama Ramen, pesanlah baso gorengnya dan minta sambal cabe rawitnya ya. Kurasa memang alaminya kuah ramen itu tidak meledak-ledak rasanya, jadi bukannya tidak enak, justru enak. Cuma lidah saya aja yang condong ke cabe dan bawang yang ikut dikunyah. Hehe. 

 

Suasana pasar tradisional sangat berpengaruh dalam menambah pengalaman santap di Rama Ramen. Beda kerasanya memang. Meski saya datang malam hari saat kebanyakan kios pasar sudah tutup, tetap aja terasa beda. Karena bulan Ramadan aja sih bukanya malam hari. Saya lihat jadwal regulernya buka sampai magrib aja. 


rama ramen pasar cihapit

 

Saya akan balik lagi ke sana, saat terang hari biar kerasa nih bedanya bagaimana. Hehe. 

 

Harganya rada mahal menurut saya mah. Seporsi mini itu 32.000. Porsi reguler 55.000. Bolehlah buat jajan buat pleasure. 

 

Rame Ramen (ig @rama.ramen)

Buka Selasa - Minggu

10.00-18.00 di Pasar Cihapit

Mudik After Three Years

May 24, 2022

Mudik gak sama lagi artinya. Rumah tujuan saya sudah kosong. Ibu pulang kampung ke tanah kelahirannya. Ayah meninggal. Adik-adik sudah lepas landas alias sudah pada bekerja, tidak bermukim di rumah.


Dulu mudik ketemu orang tua. Kini mudik tujuannya untuk bertemu kerabat. Memperpanjang nama keluarga. 

 

 

Sepanjang usia hingga tahun 2018 mudik adalah ritual hari raya. Sekarang? agak garing terasanya. Tidak ada ketegangan berburu tiket mudik. Tidak ada huru hara membeli oleh-oleh. Tidak ada pertanyaan, "rencana kapan mudiknya?". Juga tidak ada ritual ngepak pakaian.

 

Garing. Persis seperti yang orang-orang selalu bilang: seperti kanebo kering. 


Namun tahun ini berbeda. Ibuku mengajak mudik dalam rangka urusan keluarga. Kami berangkat semua. Semuanya. Hanya kurang satu personel yang masih berjibaku di tanah Sumatera. Tiga hari dua malam trip keluarga ini berjalan, tentu saja ada dramanya. 


Kami menginap di hotel. Aneh betul ada rumah, yang mana besar ukurannya, tapi kami semua tidur di bangunan dan ranjang yang asing. Toh bagaimana lagi, rumah induk sudah kosong. Tidak ada lagi ranjang tempat saya dahulu mengompol sewaktu kelas 5 SD. Yap, fakta memalukan yang sudahlah bodo amat. Hehe. 


 

Rumah induk itu bernama Rumah Karangampel, rumah tanpa nama sebetulnya tapi saya beri nama saja di sini. Dua pohon mangga besar menaungi halaman depan, tampak (dan memang) adem jadinya. Pohon mangga ini berumur sama dengan rumahnya. 32 tahun. Mangga Cengkir dan Mangga Harumanis. 


Bagaimana menjelaskan sensasi yang saya alami saat saya kembali masuk ke dalam rumah yang kosong ini ya. Rasanya dalam hati ikut kosong juga. Kamar tidur apalagi. 


Kamar di mana saya membaca surat cinta dari kakak kelas. Tempat saya belajar dan menulis, mendengar berbagai kaset dari Spice Girls, Rhoma Irama, SO7, dan The Beatles. Lokasi ternyaman untuk membaca. Tempat yang membuat saya 'asyik sendiri'. Itulah yang terasa paling, paling apa ya, paling melangut.


Di ruang tamu sudah tidak ada sofa. Hanya tersisa satu lemari raksasa yang menua. Sudut-sudutnya patah, pintu rak copot. 


Di ruang meja makan lebih hampa lagi. Kosong semua. Ada lampu kuno menggantung miring. Rak sepatu debunya tebal. Kursi-kursi antik yang terlalu besar ukurannya buat orang-orang yang rumahnya milenial seperti saya, tidak terangkut. 


Saya foto semua titik di rumah ini, dari pintu gerbang sampai kamar belakang. Semuanya. 


Berada di sana dan menelan berbagai memori yang melintas tidak membuat saya sedih. Justru saat harus kembali ke Bandung terasa mulai sedihnya. 


Bukannya saya ingin tinggal lagi sana, saya sudah tidak kerasan dengan cuaca pantura yang panasnya tajam. Hanya saja, berada di rumah itu membuatku merasa tua dan hampa. Dan agaknya menyedihkan juga saya tidak menyukai udara panas di Karangampel sementara udara ini yang ikut membesarkan saya. 

 

 


Pengalaman dengan Karangampel membuatku teringat novel berjudul Semasa. 


Di halaman 101 dalam novel tersebut Bibi Sari berkata: hidup memang seperti itu, kamu melepaskan sesuatu, lalu memulai sesuatu. Rumah ini, bagaimanapun, ya benda mati. Yang hidup itu kenangan di dalamnya, juga alasan-alasanannya berdiri. Semua kedekatan emosional yang muncul darinya, juga terhadapnya, itu tidak akan lepas, tidak akan hilang. Aku akan memegangnya terus-menerus, memeluknya di hatiku, sampai kapan pun.


Biografi Ramsih dan Sedikit Tentang Parakan Kopo Padalarang

April 05, 2022

Ramsih adalah nama Ibu dari penulis bukunya. Jadi bisa dibilang buku ini adalah biografi. 


Ceritanya si penulis, Iwan Yuswandi, punya proyek nulis mengenai ibunya sendiri. Tulisannya rampung sejak 10 tahun lalu. Tahun 2021 mulai dia rapi-rapiin lagi tulisannya. Di Hari Ibu tahun lalu, bukunya dia cetak sebanyak 10 eksemplar aja. 
 
 
Buku Ramsih Iwan Yuswandi

 
Saya beli bukunya gara-gara gak sengaja baca resensi di instagram. Peresensinya kenal si penulis.  Kebetulan nama penulis dimention. Juga untungnya penulis mencantumkan nomor hp di bio instragam. 
 

Rupanya buku ini hanya tersebar di lingkaran kecil penulisnya. Namanya juga proyek independen, proyek pribadi. Gak heran cuma dibaca teman/keluarga sendiri. Saya orang di luar lingkaran si penulis. Hehe. Beruntung dong bisa beli bukunya! 
 

Ceritanya buku Ramsih ini berlatar dusun Parakan Kopo dan Cikubang. Ada juga Tagog Apu. Lokasi cerita dalam buku ini semuanya di Padalarang. Setingan tahun 1950-1960an. 
 

Ramsih yang ditulis dalam buku adalah Ramsih usia 8-12 tahun. Penulisnya menjalaskan desanya Ramsih, Parakan Kopo dan Cikubang, secara rinci: 
 

"Irigasi itu mengalir tenang sepanjang hari. Dari mulai habis kampung terakhir, setelah menuruni jalan setapak, jembatan yang menghubungkan aliran air irigasi terlihat kokoh. 
 

Kurang lebih lima kilometer dari jembatan tua itu untuk menuju rumah Ramsih. 
 

Dari sisi kiri tembok lapuk irigasi, jalan sempit tampak menggurat ke depan dan berkelok-kelok. Jika menuju Kampung Parakan Kopo dari arah Kampung Cipulus, tepian irigasi sebelah kanan merupakan tebing dan bukit-bukit landai."
 

Keseharian Ramsih bisa kita baca di buku ini. Lengkap dan detail. Pukul dua dini hari Ramsih bangun tidur dan bantu ibunya menumbuk padi. Dilanjut jalan kaki dan gegeroh di sungai, sekalian nyuci baju. Abis itu cari jukut buat makanan kambing-kambing asuhan Ramsih. 
 

Gak bisa bayangin sih saya, anak kecil umur delapan tahun udah bangun pukul dua malam. Kenyataannya begitu ada. 
 

Ada juga satu bab menarik, cerita tentang DI/TII. Di Cikubang para pria akan mengungsi ke arah dayeuh (kota) bila malam tiba. Sementara di rumah hanya ada istri, ibu, dan anak-anak. Di buku ini dikasihtahu mengapa terjadinya demikian, kok bisa malah perempuan yang ada di rumah sementara para pria bersembunyi. Baca aja sendiri. Hehe. 
 

Terus banyak kelakuan orang di zaman dahulu kayak adopsi anak dari keluarga sendiri. Ramsih diadopsi kakaknya sendiri dan dibawa keluar kampung gitu. Diingat-ingat lagi, budaya menitipkan anak memang budaya kita gak sih? Saya pun dahulu diasuh oleh kakaknya nenek sebab ibuku hamil besar dan harus mengurus satu anak bayi. 


Kembali ke Ramsih, di rumah kakaknya ia membantu menyelesaikan pekerjaan domestik. Usia 10 tahun baru masuk sekolah. Lalu umur 12 harus berhenti sekolah karena sesuatu hal. Di buku ini dijelaskan alasannya dan pilu banget. 
 

Bayangin, pengen sekolah tapi gak bisa lanjut sekolah. Ramsih cuma bisa natap anak-anak pergi-pulang sekolah dari warung kakaknya. 
 

Namun anak Ramsih nih, Iwan Yuswandi yang menulis buku ini, adalah pekerja di bidang perbukuan. Dia adalah ilustrator, penulis buku anak-anak, dan menjadikan ibunya sebuah buku. 
 

Wah di surga ibunya bangga banget kali yah! 
 

Bagus bukunya. Kekurangannya hanya gak ada dialog dalam bahasa sunda, itu aja. 
 
 
Mungkin saat mengetahui buku ini kamu akan bertanya, siapa dan mengapa Ramsih. Saya pun demikian, tida mengenali penulis apalagi kenal ibunya. Buku yang sangat terasa personal bagi penulis bukan saya.  
 
 
Namun di sisi lainnya, penggambaran penulis akan Padalarang tempo dulu itulah yang saya ingin ketahui. Kita gak akan memperoleh deskripsi Tagog Apu seperti di buku ini bukan kalau bukan warga setempat yang menulisnya. 
 

Deskripsi tentang DI/TII. Perbukitan di sana. Pekerjaan warga apa saja. Peran perempuannya bagaimana. Binatang peliharaannya apa. Transportasi umumnya ada gak. Dan sebagainya. Memang terlihat gak menarik, tapi relevan atau tidak menurutku pasti ada yang membuat pembaca dan cerita saling terhubung. Kurasa itu makanya saya tamatin bukunya. 


Kalo mau beli bukunya di IG penulis @iwan.yuswandi.

Makan Siang di Kumari, Dalam Rangka

March 27, 2022

Pernah kan kamu juga mengalami hari-hari yang mengesalkan. Saat itu saya ngalamin yang namanya double attack: bikin kesal juga membuat sedih. Makanan, bagaimanapun juga, adalah pelarian kita dari masalah-masalah yang tidak bisa kita selesaikan saat itu juga. 

 

review kumari bake and brew bandung


Begitulah ceritanya saya hinggap di Kumari yang dari luarnya saja terlihat mahal ini. Hehe. Saya pikir saat itu gilaaaa saya kesel banget sekaligus pengen nangis! Okelah makan-makan mewah sekali aja gak apa-apa!


Pergilah saya makan siang di Kumari Bake & Brew.

Kumari berada di markas besarnya anak-anak UNPAD. Di Jl Bagus Rangin. Ini tahun 2022, mungkin gak tepat lagi menyebut kawasan ini sebagai markasnya mereka. Secara kampus-kampus lain juga berada di episentrum kegaulan muda mudi bandung ini. Ada Unikom, belon lagi ITB. Namun entahlah saya ingatnya UNPAD mulu kalo masalah gaul-gaulan dan nongkrong-nongkrongan tuh! anak lama emang!

Kembali ke Kumari yang wow ternyata ramai pengunjung, bahkan itu bukan harinya akhir pekan. Saya memilih tempat duduk yang sering saya lihat di intagram. Oke ini dia, ini meja instagram!

 

Seorang wiraniaga cekatan menghampiri dan memandu saya memilih menu yang tersaji online. 

 

review kumari bake and brew bandung


Oke baik. Sat set sat set saya memilih dua menu makanan dan satu minuman. Di meja kasir saat hendak membayar, teteh kasir yang sangat manis dan nyeni itu berkata. Apakah dessertnya mau sekalian dihidangkan sekaligus dengan main courcenya?

Oke boleh, kubilang. Ia lanjut mengatakan kalo jam makan siang di Kumari selalu penuh. Beberapa menu bisa sold out di waktu tersebut jadi bagus juga kalo saya ngecup duluan. Gitu katanya.

Oke baik, kubilang. Wah tempat dengan menu-menu yang tidak murah begini selalu penuh di jam makan siang? di hari kerja? mengapa lahan bisnis orang lain selalu terlihat lebih moncer di mataku ya.

Ini dia menu makanan saya yang semuanya cantik-cantik. Mantes sama harganya. Piring, gelas, plating, semuanya cakep dan impresif. 

 

Makan siang saya hari ini berdua dengan adik di Kumari. Udah lama mau makan di sini, kata temen sih harganya lumayan. Lumayan mahal. Jadi ya saya mikir dulu nih rada lamaan. Hehehe apa sih.


Spageti yang saya lupa nama lengkapnya
Strawberry Cheesecake
Berry Breeze yang kurang banyak

Selalu deh masalahnya di kafe-kafe ini minumnya dalam porsi kecil. Sementara rasa ingin minumnya masih banyak. Makanannya paslah porsinya. 


Anw, all is well alias enak semua di sini, paling gak menu yang saya pilh. Gak ada komplen. Semuanya oke. Bukan yang terbaik rasanya but oke.

Adik saya memesan dessert dan kopi. Katanya biasa aja makanannya bukan yang mengesankan.

Sepadan harganya? iya. Oke. Ditotal-total habisnya sekitar 300+++

 

review kumari bake and brew bandung


Saya agaknya akan eksplor tempat makan lain di Bandung dan sulit kembali lagi ke Kumari. Bila saya makan lagi di Kumari itu karena saya ingin traktir ibu sepertinya.

 

Walo begitu ini kafe yang menurut saya cocoknya buat yang muda-muda. Atau dewasa muda lah macam saya. Bangku yang saya duduki di sana tidak nyaman. Saya tidak menyukainya bangkunya, ibuku pun pasti sama. Namun adik saya mengatakan hal yang berbeda. Mungkin karena dia lebih muda? entahlah wkwk.


Oke baik. Cerita makan-makan yang ringkas dan agaknya tidak berguna ini saya sudahi dulu. Perasaan kesal dan sedih yang saya bahas di atas itu gak hilang, tapi ada perasaan membaik dan sedikit lega. Makasih ya, Kumari!

Menyantap Sosis Merguez The Good Life di Dago

February 27, 2022

Udah saya rencanakan nih mau makan siang di Good Life. Jadi dari arah Ledeng saya tancap motor, sopir grab sih yang ngegas saya duduk aja diboncengnya, hehe. Dari bukit satu ke bukit lainnya, kira-kira itu penggambaran lokasi dari Ledeng ke Dago. 

 

The Good Life Bandung


Saya pesan dua menu makan siang di sini. Pertama: Beef merguez sausage and pesto sauce. Saya pernah satu kali makan di Good Life dan rasanya memang makanan mereka itu aneh. Bukan aneh jelek ya tapi aneh yang tidak biasa. Bukan rasa mecin maupun rasa asin yang umum. Rasanya tuh...hambar dan enak. Hahaha gimana coba hambar tapi enak. 


Rasanya clean, bersih gitu. Sosisnya homamade, mereka membuatnya sendiri. Daging sosisnya gak halus, masih ada gerinjel. Justru enak banget sensasi mengunyahnya bagai mengigit daging steak tapi kan bukan. 


Saosnya pesto parsley, segar nih saosnya! Lalu karbonya baby potato yang dipanggang/bakar. Saladnya ada potongan timun, salada, serutan kecombrang (?), dan kacang merah.


The Good Life Bandung


Menu kedua adalah pizza mushroom cajun. Ya betul saya santap semuanya sendirian. What? 


Hehehe. Pizzanya kayak pizza rumahan aja, tipis, crunchy, dan rasa jamur sedikit asam. Bukan asam basi ya tapi asam ala jamur kebayang gak. Bumbunya rempah-rempah. Rasanya seperti sedang santap pizza buatan teman di rumah teman yang sedang bereksperimen bikin pizza. 

 

Pokoknya mah makanan di sini beda rasanya dengan yang kita santap di rumah. Bukan bumbu yang umum kita pake juga di rumah. Gak ada yang begini di Bandung selain di The Good Life kayaknya. Kafe lain ada kali tapi gimana tangan chefnya kan. Kalo ibu saya bilang, makanan yang rasanya seperti ini adalah makanan menak. Hehe.


Ohiya minuman yang saya pilih adalah es lemon kecombrang yang gila enak banget pengen beli versi satu liter! 

 

The Good Life Bandung
 

Makanan enak dan bersih, suasana sejuk dan dingin. Udahlah Bukit Dago Pakar juara buat suasana sejuknya Bandung. 


Sori saya lupa harga masing-masing menunya, bila ditotal sekitar 120-140K. Cocok ajak pasangan ke sini bedua aja ngobrol ngalor ngidul, tapi bawa jaket ya soalnya dingin. Hehe.


The Good Life (ig @thegoodlife_bdg)

Dago Pakar dekat banget sama Dago Tea House (googlemap aja tulis nama tempatnya)

Buka hari selasa-minggu

10.00-20.00

Menginap di Hotel Koening Cirebon yang Oke Juga

January 28, 2022

Pernah suatu kali di kota Cirebon saya menginap di hotel Koening. Hotel biasa aja bukan yang fancy. Kupilih karena harganya murah. Sekitar 200.000+++ tanpa sarapan. Waktu itu saya balik ke kota udang ini dalam rangka reuni. 

 

hotel koening cirebon


Lokasi hotelnya di Jalan Tuparev. Bila malam di sekitar hotel banyak jajanan. Jalanan pun ramai, tapi bisingnya gak sampai ke kamar yang saya inapi (di lantai 2, btw).

Dari hotel ke pusat kota mesti dicapai dengan kendaraan. Ini anggapannya pusat kota itu Alun-Alun Kejaksan. Juga kalo kamu cari toko oleh-oleh yang berada di Pasar Pagi dan Pasar Kanoman, maka lokasi hotel ini cukup jauh dari mereka. Naik ojek online nyampe lah 10 menitan ke Pasar Kanoman. Ditambah macet jadi 20 menit bisa kali.

Cirebon sekarang macet deh! terutama di perempatan Tuparev-Wahidin. Dan iya betul, Jalan Tuparev sendiri macet. Ramainya bukan main sih. Di Bandung bisalah mirip Dipati Ukur bawah area Unpad. 

 

hotel koening cirebon


Banyak furnitur tua di lobi hotel. Entah ini dahulunya bekas rumah tua atau emang sengaja dirancang gaya vintage.   

Ini bisa jadi hotel yang cocok buat kamu kalau hanya singgah untuk tidur. Sebab hotelnya bukan dirancang untuk senang-senang di hotel. Menurut saya, Hotel Koening buat anak kecil akan membosankan jika seharian hanya di kamar. Saya sendiri menginap sendirian dan hanya numpang tidur. Hehe.

Kamarnya nyaman walo ranjangnya gak empuk-empuk amat.
AC nyala.
Air gak ada masalah.  
Hot water tersedia.
Amenities ada (sabun mandi, sampo, dan sikat gigi dan pastanya).
Handuk bersih.

Televisi ada tapi gak kunyalakan sebab wifinya kencang. Seingat saya tidak ada channel tivi kabel. Channel televisiinya lokal dan nasional. Sebagai catatan saya menginap di sana tahun 2019 jadi mungkin ada yang berubah. 

 

hotel koening cirebon

hotel koening cirebon


Overall semua yang ada di sini serba cukuplah. Gak ada yang kurang, juga gak berlebih. Kebersihan kamar dan hotelnya juga oke.

Gitu aja ceritanya numpang tidur berbayar di Cirebon.

Makan Siang di Jalan Sancang, Murah Banget!

January 17, 2022

Jalan Sancang jam 12 siang itu tanda bukti kalo Tuhan menciptakan Bandung saat sedang tersenyum. Sebab di sana jalanan adem gak rusuh, teduh pula ada pepohonan. Terus kalo jajan nasi, sayur mayur, lauk pauk, kerupuk, dan sambal hangat hanya tujuh ribu perak, minumnya air teh panas dalam gelas kaca. Punya uang 17.000 aja bisa makan berdua ditambah sate ampela. 

 



 

Bayangin makanan lezat yang dimakan tanpa keringatan karena cuaca panas atau jalanan yang sangar. Hehe. Harganya ramah sampai-sampai nih kalo kamu nanya berapa total harga pada pedagangnya sebelum makan, dia akan berkata "sok atuh tuang weh heula amanlah."

Dicatat yah kali-kali pas tanggal tua sedang berkeliaran di tengah kota Bandung : Nasi Timbel Hatiku, Jl Sancang depan Masjid Sancang, pukul 9.00 s/d 15.00.

Ntar kalo kamu udah balik lagi ke Kopo, Bojongsoang, dan Cicadas baru deh kelihatan bahwasanya Tuhan menciptakan Bandung saat Ia sedang manyun. Hahaha. 

 

 

Saya gak usah jelasin situasi tempatnya bagaimana, lihat saja fotonya. Kebayang lah meureun. Ada harga ada rupa, tenang saja kalo dari segi rasa mah sudah pasti nikmat. Kalo tempat mah selera saja preferensinya bagaimana. Hehe.

Menonton Love Story

January 15, 2022

Pertama-tama, saya harus beritahu bahwa tulisan ini berisi spoiler film. Hati-hati. Udah saya ingetin nih, jangan ngambek. Hehe.

 

 

Yang seumuran saya mungkin ingat awal tahun 2000 di Metro TV pernah ada program pemutaran film satu minggu satu kali. Saat itu kutonton film judulnya Love Story. Film lama tahun 1970.

Muda mudi bernama Jenny dan Oliver, mereka berasal dari bibit keluarga berbeda. Si Oliver bangsawan, nama belakangnya Barret IV. Jenny rakyat biasa.

Kuliahnya Oliver jurusan hukum, ia menjalani hidup sesuai standar prosedur keluarga. Jenny ambil jurusan musik, sesuai kehendaknya sendiri. Tidak heran Jenny berjiwa free spirit dan Oliver menyukainya.

Oliver sangat memuja, mencintai, dan mengagumi Jenny.

Lalu ceritanya bergulir standar saja: pacaran bucin. Setelah menikah lebih banyak berantemnya, mulai dari cari kontrakan sampai kehabisan uang. Meski berantem melulu, mereka bucin banget. Gemes!

Pendek cerita Jenny sakit. Oliver mati-matian cari uang, memberi pengobatan untuk istrinya. Sementara Oliver sendiri kesusahan cari kerja. 

 



Menggenggam tangan Oliver di sebuah kamar rawat di rumah sakit, Jenny menghembuskan napas terakhirnya. Damai dan tenang.

Oliver bergegas pergi keluar rumah sakit. Berjalan dia ke arah taman (lapangan?) yang tertimbun salju. Pemandangan sekelilingnya warna putih, salju semua.

Suara piano sebagai backsound masuk. Pernah dengar lagu berjudul Where Do I Begin - Andy Williams? Instrumental solo piano bermelodi lagu itulah yang mendampingi duka mendalam Oliver sejak ia berjalan dari rumah sakit sampai dia duduk termenung di bangku taman.

Di ujung film, Oliver duduk di sebuah bangku panjang. Kamera menyorot zoom out punggungnya saja.

Monolog Oliver berkata, "what can you say about a 25 year old girl who died? That she was beautiful. And brilliant. That she loved Mozart and Bach. And the Beatles. And me."

Begitulah. Bila dilihat dari sudut pandang saya hari ini, bukan di tahun 2000, Love Story adalah film yang cringe sebetulnya. Namun entah mengapa tiap kali saya menceritakan ulang filmnya, terutama di bagian akhir, tubuh saya meresponnya berbeda: dengan air mata 🥺

Jajan Keripik Kiloan

January 13, 2022

Udah beberapa kali nih saya beli keripik cireng. Tahu kan cireng, aci digoreng. Nah itu teh ada versi keripiknya.

Kira-kira tujuh bulan lalu sehabis vaksinasi covid-19 yang pertama, di tengah jalan pulang saya dan Indra mampir ke toko keripik kiloan. Di sanalah saya melihat keripik aci. Tokonya di sekitar Masjid PUSDAI.

Saya belilah sedikit. Gak tahunya keterusan abis enak, hehe. Namun kutemukan fakta bahwa gak semua toko keripik kiloan menyediakan keripik aci yang enak. Definisi enak adalah tidak floury, keripiknya tipis dan keras, bantat lah gitu. 

 


Terakhir kali saya jajan keripik kira-kira tiga hari lalu. Di Bojongsoang lokasinya. Toko Chika Cemerlang namanya. Ini toko yang kuperhatikan gak jarang bikin macet sebab pembelinya yang datang dengan mobil, parkirnya di jalan menghalangi kendaraan lain. Lha memang tidak ada area parkirnya di sini, orang-orang males kali cari parkiran di Bojongsoang di mana coba, paling ke supermarket terdekat.

Kucatat dan kubeli:

Kerupuk seblak 250 gram harganya 12.000
Gurilem manis 250 gram harganya 10.000

Rekomendasi keripik lainnya: keripik cireng tentu saja! Enak wkwkwk apalagi kalo ditaburi mie goreng telor. Cuma masih kalah rasa dari keripik cireng yang kubeli tujuh bulan lalu itu.

Antara satu toko dengan toko lain mungkin beda harga tapi harusnya gak beda jauh. Kitu weh atuh! Sok tah dipeser dipeser dipeser!
 

Membaca Yuni

January 10, 2022

Biasanya, biasanya nih, film-film yang masuk kelas festival adalah film yang jujur, kelas sosial dan konfliknya diperlihatkan apa adanya. Tahu sendiri ya kejujuran macam begitu seringnya bikin sesak napas.

Dengan demikian saya sering menghindar dari film-film festival, lebih spesifik lagi yang kisahnya melibatkan konflik perempuan sebagai tokoh utama. Seperti film yang judulnya Yuni ini.

 


Beda dengan format buku. Sepedih apapun ceritanya saya sanggup baca. Nah begitu film Yuni rilis dalam bentuk novel saya langsung ikutan preorder.

Ceritanya gini. Yuni kelas 3 SMA. Tinggalnya di kota kecil, daerah Cilegon. Di sana lazim perempuan menikah usia muda (di bawah umur 20 tahun). Yuni menghadapi isu yang sama, begitupun teman-temannya.

Masih duduk di bangku sekolah saja, Yuni sudah dilamar 2x. Gadis ini mengalami kebimbangan, apakah teruskan sekolah atau menikah. Dia juga dihadapkan pada banyak kenyataan bahwa stigma sosial banyak dijatuhkan pada perempuan. Misal: menolak lamaran menikah itu pamali.

Meski gak seperti Yuni, saya sendiri sebagai perempuan sering ketemu peristiwa yang membuatku berpikir, mungkin Tuhan itu laki-laki ya? Ataukah jangan-jangan dunia ini dirancang untuk laki-laki saja?

Demikian. Saat saya membaca bagian akhir ceritanya, saya bertanya-tanya apakah Yuni: ***** **** ataukah ia jadinya *******?

Gini nih ciri khas film-film festival, bagian akhirnya sering berada di tangan penonton. Atau dalam kasus saya, di mata pembaca.

Ayo ditonton filmnya, atau seperti saya, dibaca novelnya 💜💜💜


Di Vila Isola

January 08, 2022

Ini dia gedung tua favoritku di Bandung. Udah gak kehitung berapa kali saya lihat Vila Isola dan baru aja minggu lalu saya berkunjung ke sana. Terakhir kali main ke Vila Isola sebelum ada pandemi.

Dulu saya gak tahu ini gedung bagian depannya mana, sebab depan belakang kok ya sama cakep semua.

Orang kan bikin rumah depannya aja yang dirancang estetik, bagian belakang ya embuh. Tidak kalo Vila Isola yang ada di Bandung bagian utara ini.

 



Keistimewaan Vila Isola adalah skala ruangnya yang seperti kompleks istana. Ada gedung dan ada taman. Tamannya dua sisi pula depan belakang. Tiap taman ada kolamnya. Kamu tidak bisa memasuki gedungnya tapi kamu bisa nongkrong di tamannya.

Kesukaan saya banget nih duduk melamun di pinggir kolam yang menghadap ke kota Bandung. Bila cuaca cerah Gunung Malabar terlihat di ujung selatan.

Jika sore tiba sebaiknya sudah pulang sebelum magrib, lain nanaon banyak nyamuk aja jaba tirissss!

Sebelum kamu bertanya pada saya, “Vila Isola ada di mana?” silakan buka hapenya dan ketik ini google search engine: vila isola bandung.


Membaca Rapijali

January 06, 2022

Nyampe juga ke seri terakhirnya Rapijali. Wah gak sangka bisa baca novelnya Dewi Lestari 3x di tahun yang sama. Hehe.

Udah saya tamatin nih buku terakhir dari trilogi Rapijali. Buku ini terdiri dari 745 halaman. Edan tebel pisan beda tipis sama novel Musashi.  



Dalam Rapijali kutemukan bahwa Buto dan Inggil adalah dua karakter komedi paling seru. Saya suka keduanya. Plot yang bertumpuk dan konflik yang terasa berat jadi agak ringan karena Inggil.

Ada juga yang namanya Sobariansyah, walo muncul sebentar tapi berkesan. Memang Dewi Lestari itu lihai banget menambah karakter baru yang numpang lewat dan mudah diingat.

Interaksi berbahasa sunda antara Ping dan Oding juga selalu saya tunggu-tunggu dalam Rapijali. Sebab lucu amaaat ya ampun! Beungeut Khong Guan itu loh disebut-sebut dalam novelnya.

Biasanya juga dalam novelnya Dewi Lestari pasti ada tempat yang jadi latar cerita. Gak cuma kampung, tapi juga kota. Di Rapijali ke-3 ini gak kerasa mendalam latarnya. Ada Jakarta, Lombok dan Sungai Kampar tapi yah selewat aja. Batu Karas Pangandaran udah puguh dari seri pertama juga ada.

Yah begitulah. Kalo pernah baca Perahu Kertas nah mirip begitu konflik ceritanya novel Rapijali. Saya lebih menyukai Aroma Karsa dan Supernova. Walo demikian semua seri Rapijali saya baca dan terhibur karenanya meski kupikir membuat trilogi dengan dasar cerita Ping dan Rakai agaknya berlebihan.

Tapi tolong ini bukan berarti saya tidak menyukai Rapijali. Gitu aja. Salam Kuah Lodeh! 😌

 

Tamasya Tiga Jam di Piknik Kopi Lembang

January 05, 2022

 Saya dan keluarga jalan-jalan ke Lembang dan kami mampir ke @pikniklembang.  Kami ber-18 orang, berangkat dari rumah jam enam pagi (males kena macet).

Sebelum pukul tujuh sudah mendarat di tanah favoritnya turis-turis domestik ini nih. Kami sarapan dulu di Tahu Tauhid (Sate Kelinci, ada di foto sebelumnya). Naga-naga di perut rada kalem , barulah lepas landas ke Piknik Kopi Lembang. 

 



Sebelum kamu bertanya pada saya “Lembangya di mana, Teh?” coba dibuka hapenya dan cek sendiri di google map. Hehe.

Di sana kami hadir sebagai pengunjung pertama. Dipinjamkan tikar. Dibolehkan pakai bantalduduk. Dipasangkan hammock. Sekeliling kami padang rumput dan pepohonan. Ah damai sekali rasanya. Mengingat itu Lembang di hari minggu dan kami berada di sana tanpa kena macet dan tidak berebut tempat.

Hasilnya: tiga jam leyeh-leyeh. Pesan kopi, makan pisang goreng. Tamasya ditutup dengan menyantap ayam asap yang ibuku bilang pedagang ayam asapnya ganteng. Haha. Terus kami lihat kan ah iya betul ganteng amat!

Di antara kegiatan memamah itu kami tentu saja ngobrolin hal-hal yang kelewat selama kami menjalani hidup masing-masing.

Digitalisasi Aksara Nusantara oleh Merajut Indonesia

January 04, 2022

Dahulu di bangku sekolah kita pernah belajar aksara nusantara, benar tidak? Sewaktu SMP saya memperoleh pelajaran aksara jawa. Hanya satu caturwulan dan proses belajarnya juga tidak intens.

 

Sayang pembelajaran aksara ini hanya formalitas kurikulum pendidikan saja. Pada akhirnya tentu saya lupa bagaimana menulis dan membaca dalam aksara jawa. Dalam keseharian pun kita tidak menggunakan aksara tersebut. Demikianlah budaya lokal tenggelam dalam hidup kita sehari-hari. Kamu juga mungkin mengalami hal yang sama denganku.

 

Bila diperhatikan, upaya digitalisasi aksara nusantara bukanlah hal yang baru. Meski segelintir saja orang yang mau mengusahakannya, tekad untuk menerapkan aksara nusantara ke berbagai perangkat gawai masih terus dilakukan.

 

Nah baru saja beberapa hari lalu saya menyaksikan instagram live dari sebuah akun bernama @merajut_indonesia. Judul IG livenya adalah Perjalanan Digitalisasi Aksara Nusantara dengan dua narasumber: Ratih Ayu (Divisi Pengembangan Usaha dan Kerja Sama PANDI) dan Ilham Nurwansyah (pegiat Aksara Digital).  


Karena IG live tersebut pula saya mengetuk web di tautan di bio @merajut_indonesia.  


Merajut Indonesia menampilkan upaya digitalisasi aksara nusantara sejak tahun 2020 yang dibentuk oleh PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia). Program digitalisasi tersebut disingkat menjadi MIMDAN (Merajut Indonesia Digitalisasi Aksara Nusantara).



Dipikir-pikir yah kapan sih kita gak pake smartphone dan laptop? Smartphone saja kita gunakan tiap hari.

 

Perangkat elektronik sudah jadi bagian hidup kita sehari-hari. Maka sudah saatnya (atau harusnya dari dulu :D) aksara nusantara mudah digunakan di platform smartphone dan windows, paling tidak . Bayangkan mengetik status di media sosial dengan aksara nusantara. Hehe.

  

 

MERAJUT INDONESIA - DIGITALISASI AKSARA NUSANTARA

 

Program Merajut Indonesia melalui digitalisasi aksara nusantara (MIMDAN) bersentuhan dengan hal-hal yang sifatnya digital. Misalnya: aplikasi web, aplikasi smartphone, basis data, pengarsipan digital, dan semacamnya.

 

Oleh karena itu kegiatan yang MIMDAN terus menerus lakukan adalah pengumpulan referensi aksara nusantara, pembuatan dan pengumpulan font, standarisasi aksara, pendaftaran aksara ke UNICODE, implementasi aksara dalam berbagai perangkat elektronik, dan masih banyak lagi.

 

Jadi digitalisasi aksara nusantara ini tujuannya gak hanya memindahkan font manual ke bentuk elektronik, tapi tujuan panjangnya justru lebih penting. Salah satu tujuannya adalah mengalihaksarakan sumber literasi aksara nusantara ke bahasa latin.

 

Contoh nih mau scan buku lebih mudah, kebayang gak ilmu pengetahuan dan pencatatan sejarah yang ada di kitab-kitab lama. Dengan bantuan digitalisasi aksara nusantara, proses pengalihaksara tersebut dapat dilakukan dengan efisien. Pengembangan ilmu pengetahuan bisa mengakar ke berbagai bidang.

 

Jadi nantinya aksara nusantara relevan dengan masa kini dan menjadi rujukan untuk digunakan peneliti dan akademisi.

 

Lebih dari itu, MIMDAN berupaya agar penggunaan aksara nusantara menjadi lebih popular. Dengan demikian usaha pelestarian budaya gak hanya sekadar jargon dan wacana.

 

 

Pengajuan Standarisasi Aksara Nusantara oleh PANDI – PENGELOLA NAMA DOMAIN INTERNET INDONESIA

 

PANDI adalah organisasi yang menginisasi pengawalan proses digitalisasi aksara nusantara ini. Prosesnya cukup Panjang, seperti mengajukan SNI (standar Nasional Indonesia) aksara nusantara kepada BSN (Badan Standarisasi Nasional). Nantianya standar tersebut menjadi acuan bagi produsen papan ketik komputer dan pengembang font.

 

Pengumpulan datanya juga tidak mudah. PANDI melalui program Merajut Indonesia (MIMDAN) bekerjasama dengan pemerintah lokal, pegiat budaya, akademisi, dan komunitas. Salah satu upayanya melalui kolaborasi seperti Kongres Aksara Jawa, Sunda, dan Bali. Hasil kongresnya menjadi bahan catatan dalam proposal yang diajukan ke Badan Standarisasi Nasional.

 

Ratih Ayu yang juga merupakan tim konsep Merajut Indonesia menjelaskan bahwa saat ini kegiatan digitalisasi aksara nusantara oleh PANDI juga didukung UNESCO. “BSN dan Unesco sudah setahun ini mendukung program Merajut Indonesia dengan memberikan speech di setiap program yang berjalan,” ujarnya.




Saat ini ada tujuh aksara nusantara yang bias diakses melalui platform digital:

Aksara Jawa

Aksara Sunda

Aksara Bali

Aksara Batak

Aksara Bugis

Aksara Rejang

Aksara Makassar

 

Tujuan standarisasi ini untuk menyeragamkan bentuk di berbagai platform digital. Ilham Nurwansyah selaku peneliti naskah kuno dan pengajar filolog di UIN Jakarta mengatakan bahwa aksara jawa, sunda, dan bali sudah dapat diakses melalui android. “Namun masih ada beberapa kekeliruan dalam tata tulisnya,” kata Ilham. Menurutnya kaidah penulisan aksara dalam platform digital perlu dibuat standarisasi dari segi font (tampilan kombinasi posisi aksara, rasio ukuran aksara).

 

Karenanya langkah yang diambil untuk standarisasi proses tersebut juga termasuk penyusunan tata letak papan tombol.



Dalam proses berbulan-bulan dari satu rapat ke rapat lainnya, proses mediasi, pengajuan, dan sebagainya, saat ini terdapat Surat Penetapan SNI untuk digitalisasi aksara nusantara yang dikeluarkan pada 30 November 2021.

 

SNI no. 9047 :2021 Fon Aksara Nusantara ditetapkan di Jakarta tanggal 30 November 2021 oleh Kepala Badan Standarisasi Nasional Indonesia: Kukuh S Achmad

 

SNI no. 9048 :2021 Tata Letak Papan Tombol Aksara Nusantara ditetapkan di Jakarta tanggal 30 November 2021 oleh Kepala Badan Standarisasi Nasional Indonesia: Kukuh S Achmad

 

Upaya yang panjang dan berbelit. Kebayang bila mengerjakannya sendiri pasti kesusahan bukan main. Namun Merajut Indonesia melakukannya Bersama-sama, merangkul pemerintah hingga komunitas. Semoga nantinya gak hanya tujuh aksara lokal yang dapat diakses di perangkat digital.  

 

Negara seluas dan beragam suku seperti kita kebayang gak sih aksara nusantara ada berapa banyak, pasti lebih dari tujuh, dan tentu saja tidak sedikit.

 

Lebih banyak dan detail tentang digitalisasi aksara nusantara dapat dibaca di merajutindonesia.id.