Social Media

Image Slider

Melihat Braga Dari Akarnya Bersama Patjarmerah dan Braga Heritage

December 27, 2022

Braga di Bandung, siapa yang tidak tahu. Braga bisa disebut sebagai jantungnya sejarah kolonial kota kembang. 

Saya mengikuti tur jalan kaki berjudul Telusur Gang Braga. Seorang warga lokal memandu kami, Farida namanya. Ia menuntun kami berseluncur ke dalam gang-gang, melihat rupa Braga dari dalam akarnya selama tiga jam pada hari sabtu (10/12/2022).

 

patjarmerah di braga bandung

Telusur Gang Braga bersama Braga Heritage merupakan acara kolaborasi dengan festival literasi keliling Patjarmerah dalam rangka sesi #JelajahPatjar. Para peserta secara acak mendapat satu buku tentang Bandung sebelum tur mulai.

Farida bercerita mula-mulanya di zaman kolonial ada empat orang saudagar kaya raya menguasai kepemilikan tanah di Braga: Alkateri, Asep Berlian, Apandi, dan Yiep Ging. “Apandi pelukis terkenal itu bukan, Teh?” tanyaku lugu dan bodoh.  

Saya masih yakin Apandi yang dimaksud adalah pelukis tersohor. Namun kepikiran juga apa iya dari penjualan lukisan bisa beli tanah banyak banget. Farida tersenyum usil, ia menyimpan rahasia perihal Apandi sampai kami berada di depan Hotel Kedaton.

Di depan pelataran parkir Bank Jabar tempat kami berkumpul, Farida bercerita bahwa wilayah Braga terbagi dua: braga pendek dan braga panjang. “Braga pendek itu kira-kira dari Bank Jabar sampai Museum Konferensi Asia Afrika. Braga panjang meliputi Gedung berita Antara sampai Bank Indonesia,” katanya.

Di belakang braga panjang terdapat pemukiman warga yang padat dan berdesak-desakan dalam gang. Jumlah rukun warganya ada delapan. Farida bermukim di RW 03.  

Braga yang kutengok dalam gang tidak jauh berbeda dengan gang-gang sempit di jantung kota dan kabupaten Bandung: rumah menempel saling berhimpitan, ibu-ibu bercengkrama di depan rumah, sampah berceceran, dan banyak bangunan menyerupai kos-kosan/kontrakan. Bedanya ya tentu saja bobot sejarah si Braga. 


gang braga bandung


Rumah besar dan kecil berdempetan. Ada RW-RW yang terlihat bersih segar nan hijau, banyak tanaman hias. Ada pula yang terlihat kotor dan tidak terurus. Kupikir selain bobot sejarahnya, gang-gang di Braga ini menarik juga penampilannya karena perbedaan mencolok antar rukun warga tersebut.

“Warga di Braga kebanyakan pendatang. Profesinya mayoritas pedagang kecil makanya banyak warung di sepanjang gang,” Farida melanjutkan “tukang bengkel ada, pegawai toko juga ada. Kalo pegawai negeri kayaknya jumlahnya hitungan jari deh.”

Persis di belakang  Braga City Walk, bangunan tinggi menjulang sangat kontras dengan suasana di titik saya berdiri, terdapat puing-puing bangunan yang sudah rata. Warga menggunakan lahan tersebut untuk berkumpul bercengkrama dan parkir motor. Anak-anak memanfaatkan lahannya untuk bermain. Di sana pula Farida menyuguhi kami surabi Surga, Surabi Braga, buatan Teh Nur yang warungnya berada di lokasi kami berkumpul. Kupilih surabi oncom tentu saja.

Sebuah tips: bila kamu berhadapan dengan surabi Bandung, maka pilihlah pertama-tama surabi oncom, pilihan keduanya surabi kinca.

Sambil mengunyah surabi kami mencerna juga cerita Farida seputar sengketa lahan di Braga. Namun detail cerita ini harus saya sensor. Farida dan Braga Heritage secara berkala mengadakan tur berjalan kaki gang braga. Kamu follow saja akun instagramnya dan pantau informasinya di sana. 

 

telusur gang braga bandung


Farida menuturkan dahulu komunitas di Braga terbentuk dari kalangan pendatang. Salah satunya adalah sopir-sopir delman dan pedati. Di masa lalu Braga yang berdekatan dengan Banceuy pernah menjadi istal kuda. Tempat peristirahatan kuda, kerbau, dan kusirnya itu dekat dengan pos pemeriksaan dan bagian dari rangkaian Jalan Raya Pos yang termashyur di zaman kolonial.

Masa istirahat para pengendara kuda, delman, dan pedati ini bisa memakan waktu lebih dari sehari. “Waktu istirahat itu mereka menetap di Braga, mungkin cinta lokasi dengan warga di sini, dan beranak pinak,” katanya lagi.

Begitu pun yang terjadi hari ini. Komposisi pendatang di Braga jumlahnya lebih banyak ketimbang warga lamanya. “Makanya masalah yang ada di sini kompleks banget,” kata Farida yang menetap di Braga sejak usia kecil.

Farida dan keluarganya telah mendiami Braga sejak puluhan tahun lalu. “Ibu saya sendiri lahirnya di sini tahun 1950an,” katanya lagi. Saking komunal dan bertumpuknya pemukiman di lingkungan ini fasilitas MCK umum masih tersedia. 

“Kalo kondisi air bersih di sini gimana, Teh?” tanyaku. Farida bercerita fasilitas air bersih di gang-gang braga disediakan oleh PDAM, tapi warga menampung airnya di jam-jam tertentu saja dan tidak semua RW mendapatkan fasilitas tersebut. Air ledeng baru menyala pukul 5 sore sampai 5 subuh.

Mojang Bandung yang profesinya mengajar ini memberitahu kami bahwa hotel-hotel dan kafe yang berada di Braga membeli air bersih dari wilayah lain. Warga dari RW 06 di Kejaksaan juga melakukan hal yang sama, yakni membeli air bersih ke produsen air kecil berwadah jirigen. 

 

braga heritage bandung


Memang paling menarik berjalan dengan pemandu lokal, dia membawa kami ke akar-akar Braga yang tidak terlihat dari jalanan. Kami masuk terowongan, halaman belakang rumah warga, dan sisi sungai Cikapundung. Farida juga memberitahu kami informasi faktual. Cerita tentang sejarahnya adalah hal yang perlu diketahui, kisah warga sehari-harinya merupakan hal lain yang menjadi penghubung antara masa lalu dan hari ini, imho.

Selain mengajar, dalam kesehariannya Farida mengelola sebuah rumah baca bernama Rumah Baca Kreatif Braga. “Di tahun 2019 untuk keberlangsungan program rumah baca kami coba buat tur jalan kaki. Pemandunya anak-anak karang taruna yang udah kami latih,” Farida cerita panjang lebar tentang asal muasal Braga Heritage.

Farida pernah terlibat kegiatan di Museum Konferensi Asia Afrika bernama Sahabat Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA). Ia berkecimpung dalam anak klab edukator SMKAA. “Saya belajar memandu dari museum KAA, terus saya coba bagikan ilmunya ke anak-anak karang taruna di Braga sini,” ungkapnya lagi. Braga Heritage kini menyediakan tur reguler bernama Ngabaraga.

Pendiri Braga Heritage ini mengaku tidaklah mudah membina warga tertarik ke dunia sejarah. Bilapun ada kebanyakan mereka bersikap pemalu saat harus berbicara di depan orang lain. “Mendobrak malu-malu kucingnya warga ini yang sulit,” katanya. 

 

telusur gang braga bandung
Farida, Braga Heritage


Warga Braga sendiri menyambut peserta tur jalan kaki dengan ramah. Menurut Farida mereka sudah terbiasa kedatangan warga asing. “Cuma masih harus belajar “bersih”, “ungkapnya sambil terkekeh. Saya lupa menanyakan bersih-tanda-kutip yang dimaksudnya apa.

Permasalahan lain di Braga adalah tidak ada sinergi antara pelaku bisnis di jalan besar dan warga di perkampungan belakang jalan. Menurut Farida masalah ini adanya karena kurang komunikasi, "kurang ngobrol," katanya lagi. 


Menghuni pemukiman Braga, Farida punya keinginan melongok dapurnya restoran kuno di Braga bernama Sumber Hidangan.

Sekalian saya kutanya iseng, selama tinggal di Braga yang banyak kafe dan hotelnya, ada gak tempat yang pengen teteh lihat dan kunjungi? 


Secara mengejutkan si teteh manis ini menjawab antusias: Nyonya Manis! “Kabita pengen masuk ke dalamnya, Nyonya Manis kalau siang jualan dimsum, kalau malam berubah jadi klab malam!” katanya sumringah.

Tak kusangka. Haha. Langsung saya search itu Nyonya Manis di Instagram dan kufallaawwww!

Ohiya teka-teki Apandi itu akhirnya diceritakan Farida saat kami berada di depan lokasi bekas rumah keluarga Apandi. Terbukti memang pertanyaan saya ada bodohnya.

Demikian sepotong cerita dari tur jalan kaki menengok Braga dari dalam akarnya. Betulan sepotong saja karena Farida tidak membawa kami ke ruang-ruang bawah tanah Braga. Durasi tur ada batasnya. 


Kurasa Braga memang panjang dan beragam kisahnya. Hari itu yang kutengok cuma sepotong akarnya saja.

Luntang-Lantung di Kroya

December 06, 2022

Tepatnya sih terluntang-lantung di sekitar stasiun kereta api Kroya. Saya, Indra, dan Kubil transit di sini sekitar empat jam sampai kereta api yang membawa kami ke Bandung tiba. 

 



Jadi kalo mau pergi ke atau dari Cilacap menuju Bandung menumpang kereta api mau gak mau akan transit di Stasiun Kroya. Habis itu lanjut naik mobil (sewa/online) ataukah menunggu kereta yang berangkat ke Cilacap. Saya sih nunggu kereta aja.

Kupikir daripada bengong dan ngecekin hape melulu bagaimana kalo lihat suasana sekitar stasiun. Dan pergilah kami berjalan kaki tanpa arah dan tujuan.

Hasilnya adalah kepanasan dan tertawa bareng-bareng. Sebab bingung sendiri ini kita ngapain ya di sini. Hehe.

Tentu saja kami browsing dulu dan cari tahu ada apa sih yang menarik di Kroya. Hampir semua artikel merekomendasikan wilayah pantai. Sayang terlalu jauh. Ya sudah kami berpegangan pada googlemap saja.

Alun-Alun Kroya jadi tujuan, menurut saya bisa jadi ada generator aktivitas warga di sana. Memang ada: kantor kecamatan dan kantor samsat. Wkwkwkwk.

Lain-lainnya begitu saja, seperti sedang berada di Majalaya sih rasanya. Tidak banyak yang bisa dilihat selain pertokoan usang dan pasar yang hangus karena kebakaran tahun 2021.

Karena kepanasan kami ngadem di toko roti O. Lalu masuk angin karena kena kipas angin terlalu lama wkwkwkwk parah.

Ya sudah kami menyerah dan memutuskan kembali ke stasiun. Di warteg saya beli makan siang dulu, lumayan ngirit daripada beli di kereta api harganya mahal banget deh. 

 

 

 


 

Kami berjalan kaki menuju stasiun, seorang tukang becak gigih menawari kami jasanya. Kutolak berkali-kali dan ia pun berhenti menawarkan becaknya setelah berkata pada kami “oh mau olahraga ya,” wajahnya kecewa dan kalimatnya bernada sarkas. Kami hanya tertawa saja setelah mamang becak menjauh. Sesungguhnya yang terjadi adalah benar, kami memang seperti sedang berolahraga jalan kaki!

Ohiya kami menitipkan tas di toko sebelah stasiun. Rupanya ada tempat penitipan motor di sana, mungkin yang nitip motor adalah warga lokal yang kerjanya di kota sebelah ya. Saat kami mengambil tas dan hendak membayar, pemilik toko menolak. “Gak usah,” katanya dengan muka datar.

Ya sudah saya beli makanan saja di toko tersebut. Itung-itung ucapan terima kasih. Lumayan kan nitipin tiga ransel. Saya harap saya kembali lagi transit ke Kroya, karena saya harap saya kembali lagi ke Cilacap. Aminkan, Wankawan!

Tidak Ada Macet di Cilacap

December 02, 2022

Dari Yogyakarta saya tidak langsung kembali ke Bandung. Namun bersambang ke kota kecil yang jaraknya tiga jam dari kota Jogja, menumpang kereta api Joglosemar. Ongkosnya Rp75.000. Di kota kecil itulah terdapat kilang minyak Pertamina terbesar se-Indonesia, di Cilacap. 

 

jalan-jalan ke cilacap


Indra dan Kubil sudah duluan berada di sana. Sore-sore kereta api sampai di Stasiun Cilacap, Indra menjemputku dan langsung mengajakku keliling Alun-Alun. “Kotanya sepi banget, jalannya lebar-lebar, mulus, dan kosong!” katanya semangat.

Begitulah memang warga metropolis di kota kecil, kami memperhatikan kondisi jalanan. Bagaimana lagi sehari-hari yang kami lihat adalah kemacetan jahanam, trafik yang ruwet di Bandung. Di Cilacap semuanya terasa leluasa dan lega. Rasa-rasanya damai. Tidak ada cerita jemput anak pulang sekolah berangkatnya satu jam lebih awal supaya tidak kena macet. Tidak ada kemacetan di Cilacap.

Tiga hari dua malam di sini gak terlalu banyak kegiatan jalan-jalan yang kami lakukan. Makan dan bermotor keliling kota saja. Santai sesantai-santainya.

Highlight dari jalan-jalannya adalah menyusuri jalanan yang bersebelahan dengan Samudera Hindia. Wah kulihat ombaknya bergulung-gulung besar. Berbeda dengan ombak kalem nan tenang yang kulihat di pantai Tirtamaya, Indramayu. 

 

makan ikan bakar di teluk penyu


Kami menyambangi pantai sebanyak dua kali. Hari pertama ke Pantai Teluk Penyu. Di sana kami lihat pantai sebentar dan makan siang. Menunya ikan bakar, kupilih bawal hitam saja.

Rasa makanannya enak-enak. Namun hintnya ada pada rasa kecap, lezat sekali kecapnya! ada rasa manis dan gurih sekaligus, manisnya lebih kuat. Kutanya ibu pemilik warung makan, apa nama kecapnya. “Kecap Cap Kuntul,” jawabnya.

Sewaktu saya menyantap mie ayam di malam hari, di warung mie ayam yang kami pilih acak saja, kecap cap kuntul ada juga di sana.

Keesokan harinya kami meluncur lagi menyusuri jalanan tepi pantai. Kira-kira tiga jam saja bermotor mengelilingi kota dan pantai yang menjadi batas jawa tengah dan jawa barat ini.

 

jalan-jalan di cilacap


Bahkan gak sengaja saya lihat layang-layang naga. Ada sekitar tujuh orang yang memegang tali. Layang-layang dilempar ke udara dan wuzzzz terbawa angin kencang ala samudera. Ketujuh pria memegang tali kuat-kuat dan mengikatnya ke batang pohon.

Kami gak merencanakan kegiatan khusus di sini. Acak saja, kebanyakan tempat kami datangi karena ingin makan saja. Seperti yang terjadi di hari minggu pagi. Niatnya mau berjalan kaki ke arah Alun-Alun. Tahunya ada pasar kaget meriah di depan hotel kami menginap.

Ya sudah! Kami jajan saja di pasar kagetnya. Kami bertiga jajan makanan: cumi bakar, martabak ayam (enak banget), mencoba bakery buatan warga Cilacap (yang lezat!), menyantap kembang tahu bertopping bubur kacang tanah (unik yha!).

Sekilas dalam tiga hari melihat Cilacap memanglah gak cukup. Sebagai turis boleh kusebut kota ini menenangkan. Meskipun kotanya kota industri -ada Pertamina, Antam, PLTU, dan Semen Cibinong- tapi entah mengapa sepi-sepi saja.  

 

jalan-jalan di cilacap

 bangunan tua cilacap

 

Hawanya saja yang panas khas kota tepi laut. Lumayan membuat senewen buat orang Bandung yang terbiasa hawanya sejuk. Meski begitu saya gak akan menolak bila ada kesempatan kembali lagi ke Cilacap.

Oh ya kami menginap di hotel NS, dekat sekali dengan Alun-Alun dan bersebelahan dengan toko kue legendaris, Gayawati. Ada deh kayaknya saya jaja ke toko Gayawati empat kali. Hehe. Di malam hari di toko tersebut ada wedang ronde. Semangkok Rp15.000, harganya mirip harga-harga di Bandung.

Dari penginapan kami berjalan kaki sampai stasiun kereta api. Dekat banget! Kota yang menyenangkan. Kuharap kita bertemu lagi, Cilacap.