Membaca Novel Sang Raja

June 02, 2020
"Menggosok tubuh dengan cengkeh untuk asma itu sebetulnya resep tradisional di Jawa. Sesak napasnya reda, tapi pengobatan balur semacam itu kurang manjur. Bagaimana bila cengkeh dirajang, dicampur tembakau, dan diisap seperti rokok?"⁣⁣
⁣⁣
Kretek. Satu benda kecil ini sejarahnya panjang amat.




Kita bisa baca sepenggal perjalanan kretek di novel Sang Raja, tentang pabrik kretek di Kudus, Tjap Bal Tiga. Bosnya bernama Nitisemito. Ceritanya berdasarkan kisah nyata. ⁣⁣Ditulis Iksaka Banu. 
⁣⁣
Pabrik Bal Tiga dianggap fenomenal. Sebab pertamakalinya bisnis milik pribumi karyawannya ribuan dan omsetnya jutaan. Koran-koran Belanda menjuluki Nitisemito: De Koning, De Kretekkoning, Sang Raja.⁣⁣

Isi novelnya tentang perjalanan usaha kretek Bal Tiga. Bisa jadi ini novel membosankan, ritmenya pelan. Karena agak bosan itu saya bacanya perlahan. Hari ini baca, besok enggak, lusa baru lanjut baca lagi. 

Senang juga saya gak putus bacanya. Makin banyak halaman yang kubaca, makin menarik mengikuti perjalanan cerita pabriknya Nitisemito ini.
⁣⁣
Narator novelnya ada dua: Wirosoeseno dan Filipus. Keduanya karyawan pemasaran dan pembukuan kretek Tjap Bal Tiga. ⁣⁣Motor karakter novel ini ada pada mereka. 

Soeseno yang energik. Filipus yang simpatik dan teliti. Membaca karakter mereka melalui narasinya sendiri tentang pabrik tentu mengasyikkan. Saya kayak punya dua kepribadian. Hehe.
⁣⁣
Berhasil melampaui zaman kolonial, Jepang, hingga revolusi, daya tahan pabrik ini ketemu ujungnya. Pabrik tutup. Alasannya seperti kebanyakan kasus di bisnis keluarga: gak ada penerus yang mumpuni kayak Nitisemito. ⁣⁣
Dahulu pernah merebak pandemi flu spanyol yang meresahkan. Pabrik ini gak kena dampaknya. Maju terus laris manis aja sementara bisnis lain bergelimpangan, ada penjarahan, dan kerusuhan. ⁣⁣
⁣⁣
Menekan harga produksi biasanya dihadapi dengan menaikkan harga jual. Dengan ekonomi yang lamban, Bal Tiga gak mau naikin harga. Akhirnya volume penjualan digenjot. Gimana cara? sewa Fokker dan sebarin flyer ke Semarang, Surabaya, Bogor, Batavia, dan Bandung. ⁣⁣
⁣⁣
Belon lagi ini kretek endorse sandiwara keliling, membuat program radio, sampai bioskop dalam rangka penyebaran merek Bal Tiga. Wah saya sampai ikutan semangat mengikuti inovasi-inovasi pemasaran pabrik kreteknya! ⁣⁣
Mempertahankan bisnis dalam tiga bulan aja susah. Tiga tahun apalagi. Tiga zaman gimana cara. Gokil kota Kudus, pernah ada kerajaan besar di sana. Kerajaan kreteknya Nitisemito. ⁣

Kalo diukur dengan inovasi masa kini, ide mereka biasa saja. Tapi itu tahun 20an. Kita masih dipimpin pemerintah Hindia Belanda. Nitisemito bahkan berjalan jongkok bila menghadap pemerintah kolonial. 

Walo saya gak tahu di mana batas fiksi dan fakta tentang pabrik Bal Tiga, selama baca novelnya saya terlalu semangat kebawa suasana. Seolah-olah semua ceritanya nyata. Tapi, di bagian manakah fiksinya ya...
⁣⁣
Begitu covid-19 udahan (semoga kita panjang umur), kita main ke Kudus bawa novelnya. Terus susuri satu per satu tempat yang ada di novel: bekas pabrik di Langgardalem, Kampung Jagalan, gedung Oost Java Bioscoop di Alun-alun, stasiun kereta api Kudus, rumah kosnya Wirosoeseno di Sunggingan, kompleks perumahan Panjunan.


Post Comment
Post a Comment