Social Media

Image Slider

Membaca Dari Toko Buku ke Toko Buku

30 July 2022

Muthia Esfand traveling ke benua Eropa sebelum covid-19 merebak di Indonesia. Ada festival buku yang hendak ia datangi namun gagal karena acaranya dibatalkan sebab wabah korona. Dengan begitu, Muthia membuat rencana baru, yaitu berkunjung ke toko-toko buku lokal di negara yang ia datangi. 


Cara-cara berdagang buku yang saya catat dari buku berjudul Dari Toko Buku ke Toko Buku: 


Dari Toko Buku ke Toko Buku Muthia Esfand


1. Punya koleksi buku-buku langka cetakan pertama (Armchair Books, kota Edinburgh)


2. Menjual buku tematik, seperti Magma Bookshop di kota Manchester, hanya menyediakan buku-buku bertema art. Mereka juga menjual paket-paket prakarya (DIY).


3. Toko buku di Liverpool  mendagangkan buku bertema sosial, budaya, politik, dan ide-ide progresif


4. Membuka program donasi buku dan menjual buku donasi tersebut: satu pembeli boleh ambil maksimal dua buku dan membayarnya pay as you wish


5. Menyediakan kids corner (toko buku Libreria San Gines di Madrid)


6. Membuat rak-rak buku bernama, dgn kategori personal. Seperti: 

Buku bagi kamu yang sedang putus asa

Buku untuk yang sedang sedih

Buku untuk yang ingin merasakan bahagia


7. Membuat merchandise toko


8. Menyediakan buku-buku untuk perempuan only (toko Libreria Mujeres di Madrid dan toko buku di Wina), pemilik tokonya menjelaskan "perempuan itu kadang kalau dikasih tahu pakai mulut, susah untuk mau dengerin. Mesti pakai cara mereka baca sendiri dari buku-buku yang berkualitas." Mereka juga aktif membuat diskusi/acara ttg perempuan. 


9. Menjual satu set box berisi barang-barang yang cocok dijadikan kado untuk cowok (toko buku Elephant di Sofia)


10. Secara rutin membuat program reading, temu penulis, dan penandatanganan buku


11. Menyediakan dua buku yang sedang 'bertanding' dan memajangnya secara terang-terangan dan mencolok. Misalnya nih, buku ttg donald trump dan ttg hillary clinton. 


12. Membuat acara temu penulis dengan konsep beragam, bukan hanya duduk dan diskusi. Jadi terasa seperti pesta kecil aja dan pengunjung senang. "Kami tahu menghidupkan toko buku ini hanya bisa dilakukan kalau kami sendiri sebagai pengelolanya selalu 'hidup'. Yah tidak selalu mudah sih..." (Powerhouse Bookshop di NY)


Muthia Esfand, penulis buku ini, menyimpulkan bahwa acara yang diadakan di toko buku tidak melulu harus bertarget penjualan yang kaku. "Harusnya sih mempertimbangkan aspek menjaga kedekatan dan hubungan baik dengan pembaca setia buku. Karena mereka target utamanya." 


Toko buku yang jiwanya kuat, yang tidak tenggelam dalam samudra stok buku saja, akan menjaga pembelinya setia. 


Buku setebal 500 halaman ini kubeli di Tokopedia. Buku yang ori tentu saja. 

Taman Lalu Lintas Bandung Tiket Masuk Rp10.000 Bukanya Jam 10 Pagi

23 July 2022

Liburan sekolah lalu saya ketitipan sepupunya si kubil. Saya ajaklah dia main ke Taman Lalu Lintas. Mereka kelihatan senang meski wahana permainannya sederhana dan sedikit. Saya? Senang juga. Banyak pohon besar di sana, bangku taman yang fotogenik, udara yang bersih dan sejuk. Cuma itu aja sih, banyak nyamuk! 

 

Harga Tiket Taman Lalu Lintas Bandung

Karena kami datang di musim libur sekolah maka gak heran di pintu loket antrean agak panjang. Tidak masalah sih sebab antrean rombongan udah pegang tiket sendiri jadi geng pelancong mandiri gak terganggu.

Harga tiket masuk Taman Lalu Lintas Rp10.000/orang. Termasuk orang dewasa pun harganya sama. Pembayarannya cash dan mesti uang pas aja deh.

Saya udah atur-atur nih biar sampai Taman Lalu Lintas sebelum pukul 10 pagi. Pokoknya begitu dia buka, kami datang. Biar enak aja waktu bermainnya pas gitu. Dan betul aja mainnya puas banget, azan zuhur kami bersiap pulang.

Ada wahana kereta api, sepeda, dan karosel. Sisanya sih berlari-lari aja. Naik pohon (ada rumah pohon). Dan sebagainya. Saya hanya menunggu mereka sambil duduk membaca buku dan skroling timeline twitter.

Ada kolam renang juga di kompleks Taman Lalu Lintas Bandung. Saya gak ke sana soalnya ribet wkwkwk. Kolam renang ini area paling ramai, banyak betul pengunjungnya. 

 

anak-anak yang mengunjungi Taman Lalu Lintas Bandung


Ada juga sih papan-papan rambu lalu lintas buat pembalajaran anak-anak tentang aturan di jalan. Dan gak ada yang baca wkwkwkwk. Namanya juga Taman Lalu Lintas, jadi emang isinya sesuai namanya lah kebayang ya.

Di Taman lalu Lintas pun ada miniatur jalan raya yang merupakan bagian dari wahana permainan sepeda, nah ini nih baru kepake banget!

Kubil dan sepupunya suka banget main sepeda. Tiket bermain sepeda di Taman Lalu Lintas  10.000/anak dan durasi waktunya 15 menit. Mereka tiga kali main sepedanya! Hehe.

Sayang aja gak ada petugas yang mengajarkan rambu-rambu berlalu lintas. Kalo hanya membaca aja pasti bosan dan gak menarik, tapi kalo pelajaran berlalu lintasnya digabung dengan kegiatan bersepeda begitu anak-anak terlihat menyukainya.

Sementara mereka bermain saya baca buku aja di bawah pohon entah apa namanya. Nyaman banget deh baca buku di Taman Lalu Lintas. Pilih aja bangku yang paling oke posisinya. Jangan lupa oles autan dulu sebab banyak nyamuk di sana. 

 

kereta api di Taman Lalu Lintas Bandung


Matahari yang terik di kemarau (yang basah) gak usah dikhawatirkan. Pepohonan di sana ibarat payung. Betulan menaungi kami semua pengunjung Taman Lalu Lintas. Cakep banget! Pepohonannya tua-tua pula nih. Taman ini memang warisannya pemerintah Belanda.

Saya banyak bengong sembari lihatin pepohonan. Ada Trembesi ada Beringin. Dua pepohonan yang udah kakek-kakek banget dan kokoh! Pohon lain saya gak ketahui namanya. Pernah saya ikutan walking tour namanya Biotour dan disebut-sebut pohon di Taman Lalu Lintas, apa ya nama pohonnya, yang dagingnya bertekstur seperti mentega. Ah saya lupa lagi namanya!

Anw, karena kubil suka pesawat, saya ajak juga melihat monumen pesawat F5 Tiger. Kebetulan kami pun baru aja nonton Top Gun Maverick. Nyambunglah bisa cerita-cerita tentang pesawat gitu. Monumen pesawat F5 Tiger di Taman Lalu Lintas ada di bagian depan taman.

Ada satu hal yang kulupa di taman ini, bahwa kamu seharusnya bawa makanan berat. Terus *murak timbel deh. Sebab hampir semua orang pada makan-makan *mengampar begitu. Ada yang bawa nasi bungkus, nasi bekal pake boks, dan nasi timbel. Lengkap sampai kerupuk-kerupuknya! Seru banget lihatnya hahaha. 

 

Taman Lalu Lintas Bandung Buka Jam 10 Pagi


Kalo ada waktu kosong seharian saya mau balik lagi ke Taman Lalu Lintas. Bawa buku, nasi rames dari warung nasi Ceu Mimin, dan gelar tikar. Membaca dan piknik. Betapa nikmatnya hidup yang begitu tenang santai dikelilingi pepohonan (dan nyamuknya hehe).

Bawa anak-anak mengunjungi Taman Lalu Lintas di Bandung seru juga. Orang dewasa juga kelihatan menikmatinya.



*murak timbel : makan nasi
*mengampar: duduk lesehan

Waroeng Djahe: Kembang Tahu di Cibadak Yang Menyembuhkan

19 July 2022

Kami habis buka puasa dan energi di badan terasa seperti habis dikuras. Belum lagi saya dan Indra harus bermotor di jalanan Bandung yang basah sehabis hujan, pukul delapan malam. Jadi tambahkan: kedinginan. Indra menghentikan motornya di depan warung bernuansa oriental, kami sedang di Cibadak. "Kembang Tahu dulu yuk biar enakeun badannya," ajaknya. 

 

Kembang Tahu di Waroeng Djahe

Kembang Tahu cocok buat kondisi kami yang jompo digigit pekerjaan, usia, dan cuaca. Kok Indra kepikiran aja ya makan di sini, hehe.  Pas aja gitu. Kami lepas jaket dan langsung ambil posisi kursi di pojok, yang ada alas bantalnya. Di Waroeng Djahe kami nongkrong sejenak meredakan letih. 


Kembang Tahu dua

Roti bakar satu

Teh tawar anget dua

 

Begitulah pesanan kami dan semuanya tandas dalam waktu...10 menit? wkwkwkwk aduh kami ini kalau makan seperti tentara. Sat set sat set. Kebiasaan buruk. Padahal magribnya sudah buka puasa dengan makanan berat nih! 

 

Waroeng Djahe berada di jantung kota. Bila kamu berada di Alun-Alun, kamu bisa mencapai warung ini dengan berjalan kaki saja. Kalo gak mau ribet bisa sih naik ojek online aja. Lokasinya persis di perempatan Jalan Astana Anyar dan Jalan Cibadak

 

Tempat ini menurutku suaka dari hiruk pikuk jalanan yang super sibuk itu. Masuk ke dalam Waroeng Djahe terasa hawanya kalem. Mungkin karena efek lampu juga sih. 


Penganan di sini gak ada yang berat-berat. Semuanya makanan pendamping. Mulai dari Kembang Tahu, Wedang Ronde, Bubur Ketan Hitam, dan aneka Dimsum. Jadi menunya menu santai semua. 


Kembang Tahu di Waroeng Djahe


Kalau mampir ke Waroeng Djahe saya selalu pesan Kembang Tahu. Setiap menghabiskan semangkuk makanan (atau minuman?) ini, tenaga di tubuh saya terasa pulih lagi. Seperti habis dicharge. Jahenya itu lho menjalar ke seluruh otot dan tulang. Rasanya ironman siap tempur lagi. Hehe apa sih.

 

Gak ngerti lagi bagaimana dunia tanpa Kembang Tahu ya. Dia punya efek yang menyembuhkan. Sesuatu yang sembuh dalam diri kita itu entah apa namanya. Apakah letih, capek, stres, apa atuh ya. Keruwetan kali ya namanya? Semacam kekacauan yang membuat kepala puyeng dan tubuh pegal-pegal, Kembang Tahu dapat menyembuhkan rasa kacau itu. 

 

Meski begitu sejujurnya Kembang Tahu di sini bukan yang terbaik. Selain jahenya kurang nendang, panas kuahnya kurang gahar. Kembang Tahunya pun tipis saja hanya beberapa lembar. 

 

Kembang Tahu ala mamang-mamang yang gerobaknya dipikul itulah rasa yang terbaik, karena panas kuahnya pas, jahenya nyolot, dan Kembang Tahunya berlembar-lembar. 

 

Namun yaudahlah segitu juga cukuplah. Soalnya susah nangkep mamang-mamang Kembang Tahu di mana coba, seringnya saya temukan gak sengaja. Sulit nyari warung Kembang Tahu yang menetap seperti Waroeng Djahe. 

 

Kuliner Cibadak tanpa babi pasti gak afdol. Tanpa Kembang Tahu apalagi. Hehe. 

 

Kembang Tahu di Waroeng Djahe

Bila ke sini saya selalu duduk di pojok. Alas duduknya berbantal jadi enakeun duduknya. Bisa nyenderin punggung pula. Hehe. Gitu aja sih. 

 

Kembang Tahu ini harganya 18.000. Gak tahu nih udah naik belum harganya secara abis Lebaran harga-harga naiknya gila semua.

Membaca Trocoh

15 July 2022

Pertama-tama, isi buku Trocoh ini lumayan membuatku tersesat. Trocoh ditulis Budi Warsito. Jujur aja saya pusing ngikutin alurnya Mas Budi bertutur. Terlalu banyak yang dia ceritakan: dari satu penemuan ke penemuan lain, data ke data lain, satu analisa ke analisa lain. Loncat sana loncat sini. Keder bacanya.


Trocoh adalah kumpulan tulisannya Budi Warsito


Gak ada paragaf pula. Tulisannya lempeng kayak tol cipali. Berlembar-lembar baca tulisan tanpa paragraf lumayan ruwet juga. Hahaha. Tapi keren tulisannya! Aneh banget ya, cenah ruwet, tapi keren. Gimana sih! 


Iya gimana sih hahaha


Tulisan Mas Budi tentang Doni dan Nirvana yang paling menarik buatku. 


Coba bayangin, Mas Budi membahas romantisme seorang anak yang mencoba kenal almarhum ayahnya lewat band bernama Nirvana. 


Si anak ini namanya Doni. Dia berseluncur ke blognya Mas Budi yang, tentu saja, membahas Nirvana. Ia bertanya via email ke Mas Budi, "Almarhum Papa kayaknya paling suka album Bleach deh, Oom. Kasetnya paling lecek. Lecek berarti sering diputar kan?"


Mas Budi nyambungin pertanyaan Doni dengan pembahasan: album pertamanya Nirvana itu Bleach, tapi album Nevermind (album kedua mereka) yang pertama muncul di Indonesia. 


Sebuah fakta yang saya teu paduli, suka Nirvana juga enggak. Namun, ada namun nih. Ceritanya Doni, Nirvana, dan almarhum ayahnya Doni sangat enak dibaca. 


Doni bahkan baru tahu belakangan kalo nama tengahnya, Donald, diambil dari nama Kurt Donald Cobain. "Jangan-jangan aku dinamain dari nama tengahnya idola Papa ya, Oom!" 


Haduu...bagaimana itu ya merekonstruksi kehidupan ayah, yang gak pernah ditemui, dari kaset-kaset Nirvana. Maksudnya, dari kenangan yang masih teronggok di rumah. 


Udah gitu Mas Budi bisaan lagi nyambung-nyambunginnya dengan pembahasan album Nirvana. Walo gak ngerti dan gak mau dengar lagunya, tapi saya baca aja tulisan Mas Budi sampai tamat. 


Kenapa ya. Ini buku ada peletnya kali nih. Tulisan tentang Kirana Dewa 19 juga keren abis! Segitu doang saya ngertinya deh, sebatas Dewa 19. Hehe. 


Ada 41 tulisan dalam buku ini, tiap tulisan dikasih semacam lagu pengiring oleh Mas Budi. Saya dengar semuanya. Musiknya beragam banget, emang beda dan unik Budi Warsito nih orangnya kenapa bisa ada orang kayak gini, keren banget!


Bukunya bisa dibeli online. Saya beli di Gramedia.

Bandung For Beginners

08 July 2022

Secara iseng saya membuat konten #bandungforbeginners di instagram. Sebagai pendatang saya sih ngerasa banget banyak bedanya antara saya sama orang bandung asli. Saya catat nih kebiasaan warga Bandung. Bukan buat dibanding-bandingin siapa yang lebih baik, bukan untuk menjelek-jelekkan. Ini hanya catatan saja. Jangan semua-mua dijadiin bahan berantemlah please banget nih. 

 

bandung for beginners


Tentang budaya ngopinya.
Kecintaan mereka pada asin peda. Istilah murak-timbel.
Kegemarannya pada berpancakaki. Kelihaian orang bandung berdiplomasi.
Cara mereka memberi petunjuk arah.
Bagaimana membedakan panggilan ‘aa’ sebagai kekasih atau ‘aa’ sebagai sapaan generik saja.
Cara memesan nasi kuning take away tanpa sambal.
Ada loh kebiasaan makan gorengan dan minumnya segelas air susu.

 
Mengapa Tahu dari Bandung enak-enak.
Surabi Oncom dan Surabi Kinca, kupikir itulah surabi signaturenya orang Bandung.
Istilah dalam obrolan sehari-hari, seperti Jurig Seblak.
Hingga makanan dalam keseharian orang sunda (orang Bandung sih)

Kayaknya kalo aja saya gak pernah tinggal di Indramayu dan bersekolah di Cirebon, agak susah memperhatikan budaya orang Bandung tersebut. Utamanya warga Bandung itu sendiri.

Indramayu kan setengah jawa setengah sunda. Cirebon juga sama. Atau mungkin bukan keduanya hahaha. Maksudku, jawa bukan sunda juga bukan.

Anyway karena ada jarak kultur yang saya alami, maka perbedaan tersebut terlihat jelas banget. Bukannya saya pengamat dan tukang memperhatikan, tapi memang kerasa sendiri dalam keseharian saya bersama Indra dan keluarganya yang bandung banget, juga teman-teman saya. 

 

Perbedaan itulah yang sering saya catat di note hp. Menarik soalnya kalau dituliskan. Bila kita mengganggapnya sebagai hal yang biasa-biasa aja ya jadi biasa aja. Namun di mata saya sebaliknya sih, hal kayak gini justru menarik buat kalau ditulis, karena jadi terasa istimewa.

Kadang kala kurasakan lidah saya yang terlalu pantura ini tidak cocok dengan perspektif orang bandung. Jadi pernah ada beberapa pengalaman saya salah dipersepsikan. Padahal tujuannya ke sana, dikiranya begitu.

Gegar budaya antar suku aja sering jadi masalah. Gimana gegar budaya antar pulau, antar negara. Hehe. Kupikir konten #bandungforbeginners yang saya tulis di blog dan instagram buat bahan pengetahuan aja. Pengetahuan tuh serius banget kayaknya ya, buat seru-seruan aja deh.

Ada satu tema tentang orang bandung yang ingin saya tuliskan, yaitu tentang pundungan. Walo begitu masih kutahan-tahan nih nulisnya karena khawatir salah. Hehe.

Pundung itu sifat mudah tersinggung, mudah ngambek dan tidak berkenan atas sesuatu. Di hati orang Bandung, sifat mudah tersinggung ini tidak terwujud dalam kelakuan senggol-bacok. Sebaliknya mereka dapat menahan hati tidak marah. Namun di balik itu mereka menahan kesal karena tersinggung.

Pundungan itu akan terlihat dalam bentuk kalimat yang berputar-putar dan halus, meski tetap terasa menusuk ke dalam lawan bicaranya. Lebih parah lagi mereka tidak akan menunjukkannya, wajah dan gesturnya ramah banget. Hanya dapat dipastikan aja kita akan sulit bertemu dengannya lagi. Hehe.

Pundungan berbeda dengan temperamen. Pundungan itu sifat ngambek yang ditahan. CMIIW.

Sebagai orang Bandung, apakah kamu pundungan? Saya menemukan sifat ini pada ibuku, saudara-saudara ibuku (hampir semuanya), dan sedikit dari keluarganya Indra. Bagaimana dengan saya? Hmmm coba kita tanya Indra aja. Haha. 


Di daerah kamu ada gak istilah buat menjelaskan sifat mudah marah dan mudah tersinggung seperti halnya orang Bandung yang memiliki kosakata khusus tersebut?

Menginap di Sekitar Stasiun Garut, Kami Tidur di RedDoorz Near Alun-Alun Garut

05 July 2022

Langsung aja. Namanya RedDoorz Near Alun-Alun. Ini hotel modern terdekat dengan Stasiun Garut. Kuperhatikan ada juga hotel lainnya, tapi hotel lama yang kayaknya udah ada sejak tahun 80an deh kalo diukur dari gaya bangunannya. 

 

reddoorz hotel di sekitar stasiun garut

Saya dan Indra milih Reddoorz Near Alun-Alun Garut aja. Batas waktu check in pukul 4 dini hari. Kami masuk ke sana pukul 11 malam. Hehe lumayan kemalaman. Abisnya kami naik kereta malam.

Kereta api tujuan Bandung - Garut rada kagok sih jam kedatangannya. Mesti pagi banget dari Bandungnya atau malam hari. Alhasil buat yang gak ada rencana menginap di kota Garut rada ribet sih.

Langsung aja saya bahas penginapan nih. 



ROOM

Kayak kamar kos. Hehe. Katanya ada harga ada rupa. Dibandrol Rp230.000+++ per malam, saya ambil yang standar aja tipenya. Alias tipe termurah. Sing penting tidur enak dan ada AC. Kamar mandi bersih. Ekspektasinya sih gitu.

Kenyataannya? Ya so-so. Cukuplah. Kamarnya sempit tapi cukup buat kami tidur satu kasur. Tiga orang (dua orang ndut dan satu anak kecil kegencet. Hehe enggak yah gak kegencet kok).

Bantal ada dua dan itu saja sudah. Tambahan bantal RedDoorz sih yang signature dia banget warna merah. Total tiga bantal.

AC menyala dengan baik. Masih baru soalnya, masih segar.

Kasur melenoy tapi yeah okelah dari saya gak ada keluhan. Kasurnya spring bed cuma ya itu melenoy aja.

 

reddoorz hotel dekat stasiun garut

 

TV? oke tv kabelnya mantap! Dia pake indihome kalo gak salah. WIFI? Mantap juga. Gak ada buffering loading munding.

Tidak ada pemandangan dari jendela. Kan sudah saya sebut tadi ini mirip kamar kos-kosan.

Ada lemari untuk simpan pakaian. Ada meja untuk simpan barang lainnya.

Colokan hp tersedia di pinggir tempat tidur, hanya di satu sisinya saja. Bila kamu tipe pembawa segala macam alat digital lebih dari tiga macam, biasakan aja bawa sendiri terminal listriknya ya. 



KAMAR MANDI

Wah kamar mandinya luas jadi tidak dukdek riweuh saat berada di dalamnya. Ada air panas meski agak lama nunggu angetnya. Pun kamar mandinya bersih. Tidak wangi tapi bersih.

Closetnya oke lancar semua. Shower mulus ngocornya. Tidak ada bau-bauan pada airnya. Tersedia wastafel.

Amenities dari penginapan ada satu set: sampoo, sabun, dan pasta gigi sikat gigi. Semuanya versi ekonomis.

Kalo kamu pernah menginap di RedDoorz di awal kemunculan penginapan jenis ini, pasti tahu kalo amenities mereka terbilang mewah. Peralatan mandinya diwadahin pouch. Sampo dan sabunnya botolan. Nah sekarang tidak lagi, kini formatnya sachetan kayak di warung. Tetap terlihat fancy but yeah kurasa begini lebih efisien buat ongkos produksi. Hehe. 

 

reddoorz hotel dekat stasiun garut


LOKASI

Strategis banget! Beneran deh. Dari penginapan menuju Alun-Alun aja tinggal menggelinding. 500 meter jaraknya. Dari penginapan ke stasiun garut hanya 150 meter. Dekat banget kan.

Mau cari tempat makan pun mudah dan dekat. Ke Pasar Ceplak, surganya jajanan malam hari, pun sama dekatnya. Memudahkan bangetlah.

Beda cerita kalo kamu mau beraktivitas di Cipanas. Nah baiknya menginap di hotel-hotel sekitar Cipanas aja. 



SERVICE

Saya hanya ketemu resepsionis aja satu orang. Hospitality okelah, seperti bertemu ibu kos. Hehe. Di sini ada uang deposit Rp100.00.  Juga ada warung jadi bisa jajan tapi ibu warungnya pergi-pergi mulu deh saya mau jajan gak ada yang ngaladangan kan gak jadi jajannya.

Bagi yang membawa kendaraan sendiri di sini ada parkiran luas! Halaman parkirnya dikasih sun shading semacam waring. Menarik juga dipikirin pake waring segala.

Kebersihan penginapannya oke. Tidak boleh merokok di kamar. Bolehnya di luar kamar. Tapi janganlah merokok dekat kamar kasihan penghuni kamar lainnya. Soalnya asap rokoknya masuk kamar. Merokok di halaman parkir ajalah tolong para perokok nih dipikirin nasib para perokok pasifnya seperti kami ini. 



PRICE

Sudah saya sebut di awal tadi, ongkos tidurnya 230ribuan. Bookingnya di aplikasi RedDoorz aja karena murah. Di aplikasi hotel lainnya kulihat-lihat harganya lebih mahal.

Penginapannya gak melayani pemesanan langsung di meja resepionis. Harus online.

Begitu aja resensi penginapan dekat Stasiun Garut ini. Saya pernah menginap di beberapa hotel lainnya di Garut, hanya saja lokasi hotel jauh dari stasiun dan alun-alun. Nanti saya sambung resensi hotel lainnya ya.

Postingan tentang rekomendasi jalan-jalan di sekitar Stasiun Garut bisa dibaca di sini.

Jalan-Jalan di Sekitar Stasiun Garut

29 June 2022

Kalau pernah terpikir untuk pindah ke kota kecil dan bekerja remote WFA/WFH saja, saya rekomendasikan Kota Garut. Pilih kos-kosan sekitar Alun-Alun. Dekat stasiun kereta api. Ke sana dekat, ke sini dekat. Berjalan kaki masih nyaman, bersepeda apalagi ngegelosornya enakeun. Lalu ini yang mahapenting: udaranya sejuk dan adem. Juga ayam gepreknya enak-enak!

 

jalan-jalan sekitar alun-alun garut


Sayangnya saya tidak tahu tarif hidup di sana. Tiga hari di Garut gak bisa jadi patokan tahu biaya hidup. Harga jajannya lebih murah dari Bandung yang pasti sih. Ah ketang liburan aja dulu ke Garut atuh, meni jauh ngomongin pindah kota segala rek naon sih heuheu. 

 

Mana sekarang ada stasiun kereta api juga. Buat saya warga Bandung, terhubungnya kota saya dengan kota garut melalui jalur kereta api kerasa ngegampangin banget. Emang sempat kepotong pandemi dua tahun sih, pandeminya pun masih ada. 

 

Namun yah udah bisalah sekarang jalan-jalan ke Garut. Hehe. udah pada vaksin tiga kali kan? Anak-anaknya udah pada vaksin dua kali? Kalo sudah ya bisa kayaknya jalan-jalan. Dipake aja maskernya, hand sanitizer bawa terus, kalo jaga jarak sih udah lapur ka mana tea heuheu.

FYI, Garut kotanya enakeun banget ya. Please note yang saya bicarakan adalah sekitar Alun-Alunnya saja. 

 

jalan-jalan sekitar stasiun garut

jalan-jalan sekitar stasiun garut


Untuk berjalan kaki ke sana ke mari di tengah kotanya cukup nyaman. Suasananya juga hidup. Artinya banyak pertokoan yang buka. Hiruk pikuk kota terasa ramai tapi tidak riweuh. Banyak tempat jajan dalam radius berdekatan. Alfamart dan Indomaret ada tapi tidak berceceran seperti di Bandung.

Saya dan Indra berjalan kaki pagi hari, siang, dan sore. Makan buku, jajan baso, menyantap mie ayam, menelan bacil! 

 

Juga tentu saja memoto toko-toko tua di Jalan Ahmad Yani. Bolak-balik ke Toko Buku Merpati dan  bermain di Alun-Alun. Enak deh hype Alun-Alunnya tuh kerasa banget generator kegiatan warga buat leleson. 


Saya jajan kopi juga. Entah buat siapa pokoknya beli aja dulu. Maunya saya bertanya segala macam tentang Toko Ek Bouw Jaya, tapi sungkan nih. Coba kamu aja gimana kalo ke Garut mampir ke Toko Ek Bouw di Jalan Ahmad Yani terus ngobrol sama Oom yang punyanya. Terus ceritakan. Hehe.

Gak ada timeline jalan-jalan yang kami rancang. Secara spontan hanya berkeliling area stasiunnya saja. Begitu-gitu aja kegiatannya, jalan kaki-ngobrol-makan-ngobrol-berfoto-main hape-jalan kaki. Saya jadi mempertanyakan ini: liburannya buat saya atau kubil. Hahah rada ngaco emang.

 

jalan-jalan sekitar stasiun garut


Berikut ini beberapa jalan yang kami susuri:

  • Jl Bank (kami makan paketan ayam di sini, punten saya gak catat nama restonya)
  • Jl Veteran (hotel tempat kami menginap dan ada Mie Ayam Goyang Lidah yang oke juga)
  • Jl Ahmad Yani (saya beli kopi, kopi giling halus di Toko Ek Bouw dan Indra beli lem buat panci. Wkwk)
  • Jl Mandalagiri (belanja teh curahan)
  • Jl Ciledug (jajan bubur namanya Bubur Panin dan mampir ke Toko Buku Merpati -yang mana saya belon berjodoh dengan tokonya)
  • Jl Pasar Baru (Baso Ma Iko dan Restoran Sunda Mang Iki)
  • Alun-Alun (bisa bermain lama di sini: badminton, sewa skuter, baca buku, berfoto, sholat di masjid, dan berkeliling di gang-gang sekitar Alun-Alun dan jajan. Gak ngerti sih kami jajan street food lumayan banyak heuheu).
  • Pasar Ceplak! ini di jalan apa ya saya lupa lagi nama jalannya

Dan beberapa ruas jalan lainnya.

Banyak jalan kaki membuat si kaki terasa pegal saat sampai di kamar hotel. Namun lagi-lagi namanya juga turis yang everything is new everything is interesting jadi yah senang aja bawaannya. Sing penting tidur enam jam, menetralkan tubuh yang capek. Esok hari bisa tancap ke gigi tiga lagi.

Kami sempat berganti hotel satu kali. Yakni di Hotel Joglo. Booking via Reddoorz. Ada kolam renang di sana jadi yah okelah buat cemplungin si kubil. Dua malam lainnya kami tidur di hotel dekat stasiun, masih di Reddoorz juga yang Near Alun-Alun. Rate kedua hotel tersebut cukup aman buat yang sedang diet finansial seperti kami. 

 

hotel sekitar stasiun garut


Main ke Mal Garut, nonton di bioskop, main di wahana anak-anak. Yah udah kubilang tadi kegiatannya begitu aja hanya beda kota, biasanya di Bandung, ini mah di Garut. Hehe. Seru-seru aja buat kami.

Bila uang gak jadi masalah, kamu bisa pergi ke Cipanas. Ada atraksi air panas alami di sana. Berenang dan berendam di hotel-hotel seperti Tirta Gangga pasti menyenangkan. 

 

Atau liburannya yang ala-ala leisure mewah di Kampung Sampireun juga menarik, kami sendiri sudah pernah mencobanya dan Kampung Sampireun adalah resort yang sangatlah mengesankan. Luar biasa impresif tempat, makanan, dan pengalamannya.

Yah begitu aja. Selamat berlibur sekolahan ya! Bila kamu membaca tulisan ini dan kamu tinggal di Bandung, ayo atuh booking kursi kereta api ke Garut. Rekomendid jalan-jalan di sana, kieu pisan 👍

Makasih ya, Kereta Api Indonesia. Ongkos dari Bandung ke Garut murah banget. Jadi kebantu banyak nih menahan laju pengeluaran. Malah mahalan gocar dari rumah ke stasiun sih hahaha bodor juga. 


Saya pernah menulis tentang Garut yang lainnya dalam tulisan 24 Jam di Garut. Mangga dibaca juga. Makasih yah!

Dari Bandung ke Garut Menumpang Kereta Api Lokal Cibatuan, Ongkosnya 14.000

28 June 2022

Gimana kalo ke Garut naik kereta api. Emang ada kereta api dari Bandung ke Garut? 

 

kereta api bandung garut


Ada! baru aja kemarin saya, Indra, dan Kubil pergi ke Garut naik kereta api


Waduh pengalaman pertama ke Garut dengan transportasi kereta api ini sangat menyenangkan! Padahal dipikir-pikir kami gak lihat pemandangan apapun selama di jalan. Lha kami ambil keberangkatan malam hari pukul 19.28. Hehe.


Biasanya ke Garut transportasinya mobil. Ada elf di kendaraan umum. Ada kendaraan pribadi. Kena macet di Nagreg. Kalo tidak mau kena macet bisa ambil jalur ke Kamojang atau Japati.   

 

Rel kereta api ke Garut sebenarnya sudah ada sih sejak zaman kolonial, tapi mati suri. Puluhan tahun mati, bangkit lagi di tahun 2019. Stasiun Garut diresmikan tepat sebelum pandemi. Lalu terjadilah lockdown. 


Saat itu wacana jalur kereta hingga ke Stasiun Cikajang sudah ada. Sayang kini proyek kereta api Cikajangnya berhenti. Sementara Stasiun Garut sudah siap. Jadi Garut ini stasiun terakhir dari Jakarta dan Bandung. 

 

Bila ada kota-kota kecil terhubung ke Bandung via kereta api, pasti deh saya pengen ke sana naik kereta api! Seperti waktu ke rute kereta api Bandung - Tasikmalaya terhubung, saya cobain tuh. 


Begitupun Garut. Saya coba juga nih. 



Cara Memesan Tiket Kereta Api Bandung - Garut

Satu-satunya cara hanya via aplikasi KAI Access. Ada dua kereta api yang berangkat menuju Garut:

  • KA Cikuray (kereta api jarak jauh) berangkat dari Pasar Senen Jakarta. Ongkosnya 45.000 dari Bandung.
  • KA Lokal Cibatuan, (kereta api lokal), berangkat dari mana saja di stasiun mana saja di Bandung (dan Purwakarta). Ongkosnya dari Bandung 14.000.

Saya pilih Cibatuan aja karena murahlah apalagi. Berangkatnya dari Stasiun Bandung. Paling dekat dengan rumah soalnya. Namanya juga kereta lokal, jadi gak ada nomor kursi alias bebas mau duduk di mana aja.

Ada dua jam keberangkatan kereta api dari Bandung ke Garut (updated Juni 2023): 
07.00
18.44

Namun sayangnya dari Garut ke Bandung gak ada waktu yang cocok nih buat perjalanan pergi-pulang same day. Dari Garut ke Bandung berangkatnya:
05.35
10.45 


bandung garut naik kereta api cibatuan


Jadi kayaknya mesti nginep di Garut kalo kamu jalan-jalan di sana. Saya pun begitu. Saya booking satu kamar di Redddoorz Near Alun-Alun. Permalamnya 230+++. Lokasi strategis dan kamarnya cukup okelah buat menumpang tidur. Bukan kamar fancy, seperti kamar kos aja. Kayaknya seru deh kalo ada hostel di Garut.

Ayo Garut, disambut nih potensi turis-turis ngehe dari Bandung. Hehehe apa sih ngehe, maksudku turis-turis bageur.

Sebaliknya warga Garut diuntungkan banget dengan kereta api Cibatuan ini. Mereka bisa pergi pagi dari Stasiun Garut, dan pulang malam dari Bandung. Seru ya! Gak apa-apa deh, saling bergiliran aja buang uangnya hehehe orang Bandung buang uang menginap di Garut. Orang Garut buang uang jalan-jalan sehari aja di kota Bandung.

Gitu aja. Cerita jalan-jalan di Garut saya buat di postingan berbeda yah! Bisa dibaca di tulisan Jalan-Jalan Sekitar Stasiun Garut. 


Ayo dibooking tiket kereta api dari Bandung ke Garut di aplikasi KAI Access ya! Lesgow, lesgooow!

Pecinan Discovery Bersama Cerita Bandung

16 June 2022

Dalam tur jalan kaki bertema pecinan ini saya masuk ke dalam gang-gang di pusat kota Bandung. Saya membawa pulang jamu racikan Toko Babah Kuya dan satu pak kopi dari Toko Kapal Selam. Juga ku bungkus dua potong Kompia, sebuah kuliner peninggalan zaman perang. 

 

Tur Cerita Bandung

Ini cerita jalan-jalan kedua yang saya posting pasca pandemic. 

Lama ya vakumnya dua tahun. Seminggu lalu saya mengikut tur jalan kaki di Bandung. Organisator turnya bernama Cerita Bandung. Saya ceritakan tentang mereka di bagian akhir tulisan ini. Sekarang saya bagikan dulu tentang tur pecinannya.


Dua puluh orang termasuk saya ikutan tur jalan kaki ini. Durasi berjalannya lumayan lama, 3,5 jam ada lah. Ditambah makan, jajan, berfoto, dan menyimak storyteller-nya Cerita Bandung, Teh Femis.

Mulai berjalan 8.30. Berakhirnya hampir pukul setengah satu siang. Kerasa agak capeknya di tengah tur. 

 

Saya mengajak anak saya, Kubil, ikutan tur ini dan dia terlihat baik-baik saja menempuh perjalanan modal kaki ini. Jadi saya gak bisa memperlihatkan bahwasanya saya capek. Ntar dia kebawa capek terus bete gimana dong berabe. Anak kecil bila bete bisa merusak kesetimbangan satu alam semesta jagat raya.

Tur jalan kakinya Cerita Bandung hari sabtu pagi 11/6/2022 judulnya Pecinan Discovery.

Udah terbayanglah mau ke mana dan bagaimana. Jalan kaki dari satu tempat ke tempat lain, dari jalan satu ke jalan lainnya. Teh Femis bilang Pecinan Discovery bab I (karena ada bab 2 di tur yang berbeda) memang rute terpanjangnya paket tur Cerita Bandung.

 


Pecinan di Bandung, Awal Mula

Dipikir-pikir hampir semua tempat yang kami lihat dan Teh Femis ceritakan adalah tempat berdagang. Gak heran juga karena orang-orang Tionghoa di Bandung (dan Indonesia pada umumnya) mayoritas memang pedagang. Begitu kan stereotipenya.

Mereka pindah ke negara ini dalam rangka memperbaiki nasib. Faktor ekonomi, sosial, dan politik.

 

Ditambah fakta di era orde baru, ruang gerak mereka digencet abis sehingga pilihan profesinya terbatas, salah satunya ya mau bagaimana lagi jadi pedagang saja.

 

tur pecinan di bandung
 

Jadi bila sektor perdagangan mereka kuasai, jejaring yang kuat, dan terampil dalam berbisnis, maka wajar kayaknya. Sebab sudah terasah zaman. Hehe.


Walo begitu, gak semua wilayah pecinan di Bandung dihuni oleh orang-orang (keturunan) Tionghoa. Ada juga komunitas orang-orang Arab  (dan keturunannya) yang berbagi ruang domisili. Makanya ada jalan namanya Alkateri di sana.

Juga ada sebuah gang kecil bernama Aljabri. Kedua nama tersebut (dan beberapa nama jalan lainnya) diambil dari nama tokoh-tokoh warga keturunan Arab.

 

Di lokasi-lokasi terpencil itulah saya perhatiin ada toko-toko yang barang dagangannya spesifik. Seperti toko ini yang hanya menjual tali temali. 


Merhatiin gak di area pecinan itu toko-tokonya bukan tipe yang toko serba ada, tapi barang dagangannya spesifik. Seolah-olah toko mereka itu saling berhubungan. Sirkular.  


Beli tali ke toko A, beli kancing ke toko B, kain ke toko C. Bila melewati tokonya saya sering mikir ini siapa pembelinya, gimana cara dagangnya, pembeli bisa nyampe ke sini tuh gimana ceritanya? 


Kita suka mikir kan kita harus menjual barang ke semua orang, nah dari orang-orang tionghoa ini saya lihat gak semua orang akan membeli barang daganganmu. Ya sudah gak apa-apa, dibagi-bagi aja jalur rezekinya, seperti rantai saling terhubung. 

 

 

Jamu dari Toko Babah Kuya dan Kompia si Roti Batu!

Teh Femis mengajak rombongan tur ke area Pasar Baru: berkunjung ke Toko Babah Kuya dan Toko Kopi Kapal Selam. Saya jajan di sini, jamu buat sakit lambung dan kopi yang bijinya dari kebon di Lembang.

 

FYI, umur toko babah kuya dua abad. Saya itung-itung, berarti waktu umur kota Bandung baru 11 tahun, toko Babah Kuya buka pertama kalinya. 

 

Saya masih gak ngerti ini bagaimana cara mereka bisa passing usaha toko dari leluhur pionirnya ke keturunan-keturunannya. Bayangin empat generasi dong ya? 


Ada keluarga yang mau ngurusin tempat yang sama, barang yang sama, selama ratusan tahun. Saya tuh mikirnya kok bisa, kenapa, WHY! DARIMANA ILMU KEBATINAN INI BERASAL! 

 

tur pecinan di bandung

Begitupun Toko Osin yang legendaris. Saya jajan seporsi bubur kacang tanah, signature dishnya Toko Osin, selain Cakue. Rasanya manis dan ada tekstur sedikit renyah karena kacangnya utuh gak remek macam bubur. 


Namun di Toko Osin ada menu yang tidak halal. Dan menurut saya itulah yang paling enak, Bapianya itu loh! hadeuhhhh gimana cara ya makan bapianya tanpa saya tahu bahwa makanan ini mengandung potongan daging babi…hehe becanda (tapi berharap). 


Cerita tentang asal muasal keberadaan orang-orang Tionghoa di Bandung gak bisa saya ceritakan. Sebab saya banyak gak tahunya. Hehe. Teh Femis juga cerita sinopsisnya aja. Memang gak mungkin dijelaskan dalam satu tur. Terlalu panjang. 

 

Intinya mah mereka teh ingin memperbaiki nasib saat migrasi dari Cina. Mendarat di Hindia Belanda yang dikuasai VOC, ruang gerak mereka dibatasi. Ditugasi berkebun dan bertani pada gak mau. Sepertinya mereka menyukai kegiatan perdagangan dan jasa karena senangnya berkomunal di tempat-tempat ramai. 


Di penghujung tur pecinan, saya melihat tempat pembakaran kue (atau roti) Kompia. Dari cerita Teh Femis, satu-satunya di Bandung yang membuat Kompia dengan cara kuno ya di sini. Seru amat bisa tahu yang beginian! 


“Toko lain juga ada yang jualan kompia, tapi cara masaknya pake oven,” kata teteh-teteh enerjik yang gak kelihatan capek ini padahal jalan kaki ongkoh, ngomong sambil pake masker juga ongkoh. 


Saya ngobrol sebentar dengan Cici Elis, pembuat kompianya. Cici bilang buat makan kompia enaknya ditandemin dengan bapia, semacam gorengan berisi bawang daun dan potongan daging babi. “Dicelup ke cikopi juga bisa kan, Ci? enak?” tanya saya. 


Cicinya ketawa, kata dia kalo dicelup ke air kopi mah jadi manis sih. Kompia ini roti keras, seperti batu. Jadi emang makannya harus ditandemin dengan makanan lain yang lebih empuk. 

 

Ci Elis rekomendasiin dimakan gurih aja. Baik, kupikir. Di rumah saya makan kompia dengan soto madura. Sobek kompianya kecil-kecil, cocol ke kuah soto. Asli euy bener enak cobain geura! Wkwk. Secara saya tidak bisa makan bapia the pig khaaannnnn! 


Aduh saya kelamaan cerita deh kayaknya. Masih pada baca? Oke terakhir nih. 


Kami digiring menuju lokasi yang saya gak bisa sebut namanya. Cukup menegangkan saat berjalan melewatinya, meski sebentar. Mesti sih pada ikutan Pecinan Discovery ini. Pengalaman jalan kakinya menarik dan beneran sebuah 'discovery' yang unik. 


Di akhir tur kami melihat sebuah bangunan ibadah. Bukan lihat dari luar aja, tapi beneran masuk ke dalam viharanya. Agak sungkan saya teh kalo masuk tempat ibadah, tapi dipandu Teh Femis yang juga keturunan Tionghoa jadi berasa tenang. Hehe.


Seperti biasa kalo dalam tur selalu ada sesi berfoto. Tidak ada foto dengan spanduk dalam tur ini. 

 

tur pecinan di bandung

 

Tentang Cerita Bandung

Cerita Bandung adalah organisator tur yang basednya perusahaan. Bukan komunitas. Dari segi layanan menurut saya oke. Hospitalitynya baik. Penceritaannya gak dalam dan gak banyak. Bukan yang tipenya in-depth, seperti tur-tur yang pernah saya ikuti sebelumnya daari komunitas di Bandung. 

 

Beberapa orang yang saya tahu, ikutan tur untuk berjalan-jalan saja, saya pun begitu. Bobot cerita sejarah menurut saya mah nomor tiga. Nomor duanya berfoto dan jajan tidak mengapa. 


Brandingnya Cerita Bandung juga rapi. Well-designed. Cakep sih, emang diniatkan basednya ke bisnis. Turnya pun berbayar. 


Tur di Bandung ala Cerita Bandung ada banyak, silakan dipilih aja mau yang mana. Pecinan Discovery adalah tur saya yang ke dua. Pilihan turnya ada di instagram, coba kamu klik ada di sini

 

Mereka mengadakan tur berulang-ulang dan terjadwal tiap sabtu dan minggu. Varian turnya menarik semua. Jagoan yang bikin paket turnya sih ini bisa motong fragmen sejarah dan membungkusnya dalam format tur jalan kaki. Bravo!


Saya numpang lewat sebentar ya. Makasih baca sampai sini. 


tur pecinan di bandung

Membaca Things Left Behind

11 June 2022

Ada drama korea berisi 10 episode, judulnya Move To Heaven. Ceritanya tentang seorang pria, single parent, berbisnis biro cleaning service, berdua dengan anaknya. Jasanya dia khususkan utk lokasi TKP saja. 


Buku berjudul Things Left Behind tentang jasa orang membersihkan tempat kejadian perkara


TKP yang dimaksud lokasi di mana ada orang meninggal dalam kondisi janggal. Mendiang yang wafatnya tidak diketahui. Jenazah terlantar berhari-hari. Ada yang sendiri karena memang hidupnya sendiri, ada juga yang suicide. 


Drama koreanya diadaptasi dari buku berjudul Things Left Behind. Ditulis berdasarkan kisah nyata.


Penulis membagikan catatan tentang persiapan menghadapi kematian. Ia menulis catatan ini berdasarkan pengalaman membersihkan peninggalan orang-orang yang wafat. 


Apa aja? 


1. Biasakan hidup tertib


Rumah bersih, tidak menumpuk barang yang tidak digunakan.


Di bukunya tertulis gini: yang membuat kita bisa bertahan hidup setiap hari adalah hal-hal sepele seperti mencuci piring sehabis makan, mengelap debu di perabotan, mengepel lantai, dan sebagainya. 


Di halaman 195: semakin indah (bersih) tempat tinggal kita sesudah kita meninggal, kesedihan orang-orang yang ditinggalkan pun akan berkurang. 


2. Sampaikan maksud hati, bila terasa sulit sampaikan lewat tulisan


3. Simpan barang penting di tempat yang mudah ditemukan


Buatlah surat wasiat. Bereskan masalah finansial sebelum wafat agar tidak menyulitkan keluarga. Jangan simpan barang berharga di tempat yang sulit ditemukan. 


4. Jangan rahasiakan bila punya penyakit


Beritahu orang terdekat bila kita mengidap penyakit. Jangan disembunyikan karena mereka akan merasa terpukul bila mengetahuinya belakangan. 


5. Nikmati apa yang kamu miliki


Hemat tidak mengapa, tapi gak usah menghabiskan energi berhemat mati-matian. Pake barangnya, gunakan uangnya. Menyimpan barang tidak terpakai karena disayang-sayang hanya membuat hidup makin rumit.


6. Jalani hidup demi diri sendiri


7. Buatlah kenangan indah


Hal yang tersisa dari hidup adalah kenangan saling mengasihi. Bukan harta atau kehormatan. Namun kenangan menyayangi seseorang atau disayangi oleh seseorang. 


Buatlah banyak kenangan bersama orang-orang yang kita kasihi. Kenangan itu akan memberikan kehangatan saat ajal kelak menjemput kita.