Social Media

Pecinan Discovery Bersama Cerita Bandung

June 16, 2022

Dalam tur jalan kaki bertema pecinan ini saya masuk ke dalam gang-gang di pusat kota Bandung. Saya membawa pulang jamu racikan Toko Babah Kuya dan satu pak kopi dari Toko Kapal Selam. Juga ku bungkus dua potong Kompia, sebuah kuliner peninggalan zaman perang. 

 

Tur Cerita Bandung

Ini cerita jalan-jalan kedua yang saya posting pasca pandemic. 

Lama ya vakumnya dua tahun. Seminggu lalu saya mengikut tur jalan kaki di Bandung. Organisator turnya bernama Cerita Bandung. Saya ceritakan tentang mereka di bagian akhir tulisan ini. Sekarang saya bagikan dulu tentang tur pecinannya.


Dua puluh orang termasuk saya ikutan tur jalan kaki ini. Durasi berjalannya lumayan lama, 3,5 jam ada lah. Ditambah makan, jajan, berfoto, dan menyimak storyteller-nya Cerita Bandung, Teh Femis.

Mulai berjalan 8.30. Berakhirnya hampir pukul setengah satu siang. Kerasa agak capeknya di tengah tur. 

 

Saya mengajak anak saya, Kubil, ikutan tur ini dan dia terlihat baik-baik saja menempuh perjalanan modal kaki ini. Jadi saya gak bisa memperlihatkan bahwasanya saya capek. Ntar dia kebawa capek terus bete gimana dong berabe. Anak kecil bila bete bisa merusak kesetimbangan satu alam semesta jagat raya.

Tur jalan kakinya Cerita Bandung hari sabtu pagi 11/6/2022 judulnya Pecinan Discovery.

Udah terbayanglah mau ke mana dan bagaimana. Jalan kaki dari satu tempat ke tempat lain, dari jalan satu ke jalan lainnya. Teh Femis bilang Pecinan Discovery bab I (karena ada bab 2 di tur yang berbeda) memang rute terpanjangnya paket tur Cerita Bandung.

 


Pecinan di Bandung, Awal Mula

Dipikir-pikir hampir semua tempat yang kami lihat dan Teh Femis ceritakan adalah tempat berdagang. Gak heran juga karena orang-orang Tionghoa di Bandung (dan Indonesia pada umumnya) mayoritas memang pedagang. Begitu kan stereotipenya.

Mereka pindah ke negara ini dalam rangka memperbaiki nasib. Faktor ekonomi, sosial, dan politik.

 

Ditambah fakta di era orde baru, ruang gerak mereka digencet abis sehingga pilihan profesinya terbatas, salah satunya ya mau bagaimana lagi jadi pedagang saja.

 

tur pecinan di bandung
 

Jadi bila sektor perdagangan mereka kuasai, jejaring yang kuat, dan terampil dalam berbisnis, maka wajar kayaknya. Sebab sudah terasah zaman. Hehe.


Walo begitu, gak semua wilayah pecinan di Bandung dihuni oleh orang-orang (keturunan) Tionghoa. Ada juga komunitas orang-orang Arab  (dan keturunannya) yang berbagi ruang domisili. Makanya ada jalan namanya Alkateri di sana.

Juga ada sebuah gang kecil bernama Aljabri. Kedua nama tersebut (dan beberapa nama jalan lainnya) diambil dari nama tokoh-tokoh warga keturunan Arab.

 

Di lokasi-lokasi terpencil itulah saya perhatiin ada toko-toko yang barang dagangannya spesifik. Seperti toko ini yang hanya menjual tali temali. 


Merhatiin gak di area pecinan itu toko-tokonya bukan tipe yang toko serba ada, tapi barang dagangannya spesifik. Seolah-olah toko mereka itu saling berhubungan. Sirkular.  


Beli tali ke toko A, beli kancing ke toko B, kain ke toko C. Bila melewati tokonya saya sering mikir ini siapa pembelinya, gimana cara dagangnya, pembeli bisa nyampe ke sini tuh gimana ceritanya? 


Kita suka mikir kan kita harus menjual barang ke semua orang, nah dari orang-orang tionghoa ini saya lihat gak semua orang akan membeli barang daganganmu. Ya sudah gak apa-apa, dibagi-bagi aja jalur rezekinya, seperti rantai saling terhubung. 

 

 

Jamu dari Toko Babah Kuya dan Kompia si Roti Batu!

Teh Femis mengajak rombongan tur ke area Pasar Baru: berkunjung ke Toko Babah Kuya dan Toko Kopi Kapal Selam. Saya jajan di sini, jamu buat sakit lambung dan kopi yang bijinya dari kebon di Lembang.

 

FYI, umur toko babah kuya dua abad. Saya itung-itung, berarti waktu umur kota Bandung baru 11 tahun, toko Babah Kuya buka pertama kalinya. 

 

Saya masih gak ngerti ini bagaimana cara mereka bisa passing usaha toko dari leluhur pionirnya ke keturunan-keturunannya. Bayangin empat generasi dong ya? 


Ada keluarga yang mau ngurusin tempat yang sama, barang yang sama, selama ratusan tahun. Saya tuh mikirnya kok bisa, kenapa, WHY! DARIMANA ILMU KEBATINAN INI BERASAL! 

 

tur pecinan di bandung

Begitupun Toko Osin yang legendaris. Saya jajan seporsi bubur kacang tanah, signature dishnya Toko Osin, selain Cakue. Rasanya manis dan ada tekstur sedikit renyah karena kacangnya utuh gak remek macam bubur. 


Namun di Toko Osin ada menu yang tidak halal. Dan menurut saya itulah yang paling enak, Bapianya itu loh! hadeuhhhh gimana cara ya makan bapianya tanpa saya tahu bahwa makanan ini mengandung potongan daging babi…hehe becanda (tapi berharap). 


Cerita tentang asal muasal keberadaan orang-orang Tionghoa di Bandung gak bisa saya ceritakan. Sebab saya banyak gak tahunya. Hehe. Teh Femis juga cerita sinopsisnya aja. Memang gak mungkin dijelaskan dalam satu tur. Terlalu panjang. 

 

Intinya mah mereka teh ingin memperbaiki nasib saat migrasi dari Cina. Mendarat di Hindia Belanda yang dikuasai VOC, ruang gerak mereka dibatasi. Ditugasi berkebun dan bertani pada gak mau. Sepertinya mereka menyukai kegiatan perdagangan dan jasa karena senangnya berkomunal di tempat-tempat ramai. 


Di penghujung tur pecinan, saya melihat tempat pembakaran kue (atau roti) Kompia. Dari cerita Teh Femis, satu-satunya di Bandung yang membuat Kompia dengan cara kuno ya di sini. Seru amat bisa tahu yang beginian! 


“Toko lain juga ada yang jualan kompia, tapi cara masaknya pake oven,” kata teteh-teteh enerjik yang gak kelihatan capek ini padahal jalan kaki ongkoh, ngomong sambil pake masker juga ongkoh. 


Saya ngobrol sebentar dengan Cici Elis, pembuat kompianya. Cici bilang buat makan kompia enaknya ditandemin dengan bapia, semacam gorengan berisi bawang daun dan potongan daging babi. “Dicelup ke cikopi juga bisa kan, Ci? enak?” tanya saya. 


Cicinya ketawa, kata dia kalo dicelup ke air kopi mah jadi manis sih. Kompia ini roti keras, seperti batu. Jadi emang makannya harus ditandemin dengan makanan lain yang lebih empuk. 

 

Ci Elis rekomendasiin dimakan gurih aja. Baik, kupikir. Di rumah saya makan kompia dengan soto madura. Sobek kompianya kecil-kecil, cocol ke kuah soto. Asli euy bener enak cobain geura! Wkwk. Secara saya tidak bisa makan bapia the pig khaaannnnn! 


Aduh saya kelamaan cerita deh kayaknya. Masih pada baca? Oke terakhir nih. 


Kami digiring menuju lokasi yang saya gak bisa sebut namanya. Cukup menegangkan saat berjalan melewatinya, meski sebentar. Mesti sih pada ikutan Pecinan Discovery ini. Pengalaman jalan kakinya menarik dan beneran sebuah 'discovery' yang unik. 


Di akhir tur kami melihat sebuah bangunan ibadah. Bukan lihat dari luar aja, tapi beneran masuk ke dalam viharanya. Agak sungkan saya teh kalo masuk tempat ibadah, tapi dipandu Teh Femis yang juga keturunan Tionghoa jadi berasa tenang. Hehe.


Seperti biasa kalo dalam tur selalu ada sesi berfoto. Tidak ada foto dengan spanduk dalam tur ini. 

 

tur pecinan di bandung

 

Tentang Cerita Bandung

Cerita Bandung adalah organisator tur yang basednya perusahaan. Bukan komunitas. Dari segi layanan menurut saya oke. Hospitalitynya baik. Penceritaannya gak dalam dan gak banyak. Bukan yang tipenya in-depth, seperti tur-tur yang pernah saya ikuti sebelumnya daari komunitas di Bandung. 

 

Beberapa orang yang saya tahu, ikutan tur untuk berjalan-jalan saja, saya pun begitu. Bobot cerita sejarah menurut saya mah nomor tiga. Nomor duanya berfoto dan jajan tidak mengapa. 


Brandingnya Cerita Bandung juga rapi. Well-designed. Cakep sih, emang diniatkan basednya ke bisnis. Turnya pun berbayar. 


Tur di Bandung ala Cerita Bandung ada banyak, silakan dipilih aja mau yang mana. Pecinan Discovery adalah tur saya yang ke dua. Pilihan turnya ada di instagram, coba kamu klik ada di sini

 

Mereka mengadakan tur berulang-ulang dan terjadwal tiap sabtu dan minggu. Varian turnya menarik semua. Jagoan yang bikin paket turnya sih ini bisa motong fragmen sejarah dan membungkusnya dalam format tur jalan kaki. Bravo!


Saya numpang lewat sebentar ya. Makasih baca sampai sini. 


tur pecinan di bandung
Post Comment
Post a Comment