Social Media

Bandung For Beginners

July 08, 2022

Secara iseng saya membuat konten #bandungforbeginners di instagram. Sebagai pendatang saya sih ngerasa banget banyak bedanya antara saya sama orang bandung asli. Saya catat nih kebiasaan warga Bandung. Bukan buat dibanding-bandingin siapa yang lebih baik, bukan untuk menjelek-jelekkan. Ini hanya catatan saja. Jangan semua-mua dijadiin bahan berantemlah please banget nih. 

 

bandung for beginners


Tentang budaya ngopinya.
Kecintaan mereka pada asin peda. Istilah murak-timbel.
Kegemarannya pada berpancakaki. Kelihaian orang bandung berdiplomasi.
Cara mereka memberi petunjuk arah.
Bagaimana membedakan panggilan ‘aa’ sebagai kekasih atau ‘aa’ sebagai sapaan generik saja.
Cara memesan nasi kuning take away tanpa sambal.
Ada loh kebiasaan makan gorengan dan minumnya segelas air susu.

 
Mengapa Tahu dari Bandung enak-enak.
Surabi Oncom dan Surabi Kinca, kupikir itulah surabi signaturenya orang Bandung.
Istilah dalam obrolan sehari-hari, seperti Jurig Seblak.
Hingga makanan dalam keseharian orang sunda (orang Bandung sih)

Kayaknya kalo aja saya gak pernah tinggal di Indramayu dan bersekolah di Cirebon, agak susah memperhatikan budaya orang Bandung tersebut. Utamanya warga Bandung itu sendiri.

Indramayu kan setengah jawa setengah sunda. Cirebon juga sama. Atau mungkin bukan keduanya hahaha. Maksudku, jawa bukan sunda juga bukan.

Anyway karena ada jarak kultur yang saya alami, maka perbedaan tersebut terlihat jelas banget. Bukannya saya pengamat dan tukang memperhatikan, tapi memang kerasa sendiri dalam keseharian saya bersama Indra dan keluarganya yang bandung banget, juga teman-teman saya. 

 

Perbedaan itulah yang sering saya catat di note hp. Menarik soalnya kalau dituliskan. Bila kita mengganggapnya sebagai hal yang biasa-biasa aja ya jadi biasa aja. Namun di mata saya sebaliknya sih, hal kayak gini justru menarik buat kalau ditulis, karena jadi terasa istimewa.

Kadang kala kurasakan lidah saya yang terlalu pantura ini tidak cocok dengan perspektif orang bandung. Jadi pernah ada beberapa pengalaman saya salah dipersepsikan. Padahal tujuannya ke sana, dikiranya begitu.

Gegar budaya antar suku aja sering jadi masalah. Gimana gegar budaya antar pulau, antar negara. Hehe. Kupikir konten #bandungforbeginners yang saya tulis di blog dan instagram buat bahan pengetahuan aja. Pengetahuan tuh serius banget kayaknya ya, buat seru-seruan aja deh.

Ada satu tema tentang orang bandung yang ingin saya tuliskan, yaitu tentang pundungan. Walo begitu masih kutahan-tahan nih nulisnya karena khawatir salah. Hehe.

Pundung itu sifat mudah tersinggung, mudah ngambek dan tidak berkenan atas sesuatu. Di hati orang Bandung, sifat mudah tersinggung ini tidak terwujud dalam kelakuan senggol-bacok. Sebaliknya mereka dapat menahan hati tidak marah. Namun di balik itu mereka menahan kesal karena tersinggung.

Pundungan itu akan terlihat dalam bentuk kalimat yang berputar-putar dan halus, meski tetap terasa menusuk ke dalam lawan bicaranya. Lebih parah lagi mereka tidak akan menunjukkannya, wajah dan gesturnya ramah banget. Hanya dapat dipastikan aja kita akan sulit bertemu dengannya lagi. Hehe.

Pundungan berbeda dengan temperamen. Pundungan itu sifat ngambek yang ditahan. CMIIW.

Sebagai orang Bandung, apakah kamu pundungan? Saya menemukan sifat ini pada ibuku, saudara-saudara ibuku (hampir semuanya), dan sedikit dari keluarganya Indra. Bagaimana dengan saya? Hmmm coba kita tanya Indra aja. Haha. 


Di daerah kamu ada gak istilah buat menjelaskan sifat mudah marah dan mudah tersinggung seperti halnya orang Bandung yang memiliki kosakata khusus tersebut?

Post Comment
Post a Comment