Social Media

Image Slider

Berkunjung ke Perkebunan Indonesia Berdaya Dompet Dhuafa di Subang

20/10/19
Saya mau ajak teman-teman memantau perkebunan buah nanas dan buah naga. Tujuan kita berada kira-kira tiga jam dari Bandung. Masuk ke pedalaman Subang. Masuk ke areal perbukitan. Melewati hutan dan lembah. Jalanan mulus dan bertanah-tanah.

Mau apa di Subang? Melihat asa di pucuk-pucuk pepohonan nanas dan buah naga. Asa petani Subang. Ohiya, kita gak pergi sendiri. Dompet Dhuafa menemani, karena merekalah yang mengajak saya ikut serta. 





Perkebunan yang kita kunjungi namanya Kebun Indonesia Berdaya Terpadu. Di Desa Cirangkong Kecamatan Cijambe. Kita akan lihat bagaimana wakaf membuahkan aset produktif, aset yang berkelanjutan.

Tunggu dulu. Perkebunan? Wakaf?

Baru saya tahu ada wakaf dalam bentuk aset keberlanjutan begini. Wakaf produktif istilahnya. Biasanya kan wakaf tuh makam, masjid, dan madrasah. 3-M itu aja muter-muternya.

Eh, teman-teman tahu kan wakaf itu apa?


Sebentar. Saya harus cerita dulu perjalanan dari Bandung ke Subang bagaimana.


Perjalanan dari Bandung

Mobil yang kami tumpangi tidak sulit menempuh akses ke sana. Saya kira, kendaraan apa saja sanggup menuju perkebunannya, kecuali sedan dan mobil-mobil citycar yang pendek-pendek posturnya.

Di areal perkebunan. Hawanya panas agak mengigit, terasa segar karena angin berhamburan pelan. Sekeliling kami hamparan nanas dan buah naga. Di sela-selanya ada saung dan beberapa bungalow.

Di saung itulah saya menggelosor dan makan sate nanas yang segar! Juga menyesap jus nanas yang nikmat.

Bila kamu warga perkotaan ingin mencari lokasi yang hening, damai dan lamban, inilah dia tempatnya.


Dompet Dhuafa X Blogget Meet Up

Dompet Dhuafa mengajak blogger berkunjung ke perkebunan. Namun sebelum sesi berkeliling itu tiba, kami berkumpul dan berbincang bersama. Ada tiga orang pembicara di hadapan kami. 

Kamaludin, manajer bidang ekonomi Dompet Dhuafa.
Boby P Manulang, General Manager Wakaf Dompet Dhuafa.
Eman, petani lokal dan pengurus koperasi Indonesia Berdaya. 

Tahun 2014 Dompet Dhuafa merintis perkebunan tanah wakaf. Mulanya 2 hektar. Yang berwakaf tambah banyak, kini ada 10 hektar luasnya. Kebon nanas dan kebon buah naga itu pengelolaannya melibatkan warga sekitar. Ditambah peternakan kambing, warga yang terlibat makin banyak.

Dompet Dhuafa bilang, agak sulit ajak orang berwakaf ke aset-aset produktif seperti perkebunan begini. “Paling gampang tuh kumpulin wakaf buat masjid  tapi masa bikin masjid mulu,” ujar Boby Pamulang.

Oleh karenanya, di tahun 2016 mereka ganti strategi kampanye wakaf dengan membuat Wake Up Wakaf. Bagaimana cara?
  1. Bikin program @tabung_wakaf 
  2. Kampanye Wake Up! Wakaf dengan berwakaf Rp10.000 di www.donasi.tabungwakaf.com. Ya, kamu gak salah baca. SEPULUH RIBU RUPIAH.
Kampanye wakaf Rp10.000 ini ide brilian, menurut saya. Mengejar unit besar (baca: wakaf jutaaan, milyaran, dari satu orang) bukan perkara mudah. Kita harus tunggu orang kaya raya dulu. Seolah-olah wakaf adalah barang mahal.

Memang mahal, kalau sendirian. Sekarang kan zamannya kolaborasi. Karenanya muncul ide wakaf bernama Wake Up! Wakaf Rp10.000.

Apakah cara tersebut berhasil?

Manajer Wakaf Dompet Dhuafa, Boby Manulang, cerita begini. "Transaksi wakaf Rp10.000 di tahun 2018 tercatat 4500. Tahun 2019, angkanya naik jadi 8900."

Jika ada yang bertanya, bisa apa dengan wakaf sepuluh ribu perak? Bisa jadi kebon-kebon produktif! Gokil gak tuh.

Lebih jauh lagi, bila ada yang ingin berwakaf dalam jumlah besar di perkebunan, Dompet Dhuafa menyediakan lahan garapan wakaf produktif 1 kavling sebesar Rp125.000.000.

Dompet Dhuafa sendiri memiliki empat pilar dalam program wakafnya:

  1. Kesehatan
  2. Pendidikan
  3. Sosial (kebencanaan)
  4. Ekonomi

Kebayang kan kesehatan kayak gimana: membangun rumah sakit (7), klinik (3), optik (2), dan apotek (1). Salah satunya ada di Lampung Tmur, yaitu RS AKA Medika Sribhawono. 

Lantas di bidang pendidikan, Dompet Dhuafa membangun universitas di Bogor bernama Dompet Dhuafa University. Ada pesantren di Sukabumi, Pesantren Hafidz Village. Terakhir,  lembaga pendidikan nonformal di Tangerang Selatan namanya Khadijah Learning Centre. 




Gak berhenti dong. Di bidang kebencanaan, Dompet Dhuafa turun tangan juga. Ada rumah sementara di Lombok Timur dan masjid Al-Majid di Bukit Kemuning Lampung Utara.

Terakhir nih, bidang ekonomi. Tentang pemberdayaan. Misalnya kayak mendirikan minimarket dan bersinergi antara Dompet Dhuafa dengan warga lokal, menciptakan hasil bumi yang berkepanjangan efeknya. Misalnya, Kebun Indonesia Berdaya di Subang ini nih!


Keliling Perkebunan Indonesia Berdaya

Dari total 10 hektar lahan garapan, lahan  produktifnya baru 5 hektar. Perkebunan ini berhasil memanen buah nanas 100kg/hari dan buah naga 2-3/ton per 3 bulan. 

"Masih jauh dari kebutuhan yang diminta industri," begitu kata Kamaludin, manajer program ekonomi Dompet Dhuafa. Ada 60 ton permintaan nanas pertahun. Itulah yang ingin dikejar Dompet Dhuafa. 

Berdasarkan target itulah saat ini Dompet Dhuafa segera merampungkan Rumah Industri Pengolahan Nanas. Nantinya semua penampungan, pengolahan, pengepakan, dan pengiriman adanya di bangunan tersebut. “Bangunannya baru 80% jadi, akhir tahun atau Januari 2020 sudah bisa digunakan.”

Lantas timbul pertanyaan. Mengapa nanas? Mengapa buah naga?

Potensi buah nanas sangatlah tinggi. Permintaan industri bahkan belum semuanya terpenuhi. Lahannya cocok. Kenapa harus mulai dari nol dengan menggarap sumber daya yang lain? Begitu kata Kamaludin.

Ia menambahkan “ada 60 ton kebutuhan nanas per tahun yang ingin kami penuhi. Oleh karenanya kami menargetkan lahan garapan hingga 22 hektar. Bila Rumah Industri Pengolahan Nanas sudah jadi, kami akan bekerja sama dengan banyak petani dari 12 desa di sini.”

Dompet Dhuafa melibatkan warga lokal sebagai penggarap dengan sistem pembayaran yang adil. Melalui program berdaya, tujuan akhirnya petani keluar dari garis kemiskinan. Tidak lagi tercekik rentenir. 

Pak Eman, warga setempat yang juga petani dan bagian dari Koperasi Indonesia Berdaya mengatakan sangat terbantu setelah ikut dalam pengolahan perkebunan Indonesia Berdaya. “Apalagi permodalan, saya kebantu pisan,” Pak Eman tidak lagi memusingkan harus beli bibit di mana sebab Dompet Dhuafa sudah menyediakan bibitnya.

Seru ya. Setelah berkeliling kebun ini, saya unggah foto-foto ke stories instagram. Lantas saya membuka sesi tanya jawab. Dibantu menjawab oleh Teh Annisa dari Dompet Dhuafa, pertanyaan netizen seputar wakaf di perkebunan ini begini. 





Tanya Jawab Wakaf Perkebunan Indonesia Berdaya

Q:. Siapa yang boleh berkunjung ke Perkebunan Indonesia Berdaya? Apa yang wakaf saja?
A:  Bisa siapa aja. Selama janjian dulu sebelum berkunjung. Sebab saat berkeliling kebunnya nanti ada yang memandu.

Q:  Kalo bukan muslim, bisa ikutan wakaf gak sih?
A:  Bisa banget. Secara fiqih dan undang-undang, tidak ada larangannya.

Q:  Hasil penjualan perkebunan untuk siapa? digunakan untuk apa?
A:  Untuk memenuhi biaya operasional (termasuk gaji nih di sini semua posnya), pembebasan lahan, dan pengembangan produk. Meski lahirnya dari wakaf, namun perkebunan hasil menghasilkan profit. Harus surplus malahan," kata Boby. Karena lahannya berkelanjutan, secara perenomian uangnya harus muter sih. Gitu singkatnya.

Q:  Petani yang berasal dari warga sekitar berperan sebagai pengelola perkebunan, apakah seperti itu?
A:  Sebagai petani dan pengupas kulit nanas. Ada juga yang berperan sebagai pengelola koperasi. Bila Rumah Industri Nanas rampung dan dapat beroperasi, makin banyak warga yang terlibat dan berperan lebih jauh.

Demikian hasil jalan-jalan di perkebunan nanas hasil wakaf produktif. Kami pulang membawa buah nanas dan pengetahuan baru. Bahwa bisa kok wakaf dengan uang sepuluh ribu perak. 

Berada di sana dan mengetahui program wakaf produktif ini, saya kira masih ada asa di pundak-pundak petani Subang. Asa yang kita mulai dengan wakaf Rp10.000. Yuk ikut berwakaf di donasi.tabunganwakaf.com! 


Yak sampai di Perkebunan Indonesia Berdaya Dompet Dhuafa
Buah Naga yang panennya November nanti
Sesi sharing Dompet Dhuafa
Pak Eman - Boby P Manulang - Kamaludin
Mulai berkeliling perkebunan
Hamparan tanaman nanas
dan pohon buah naga yang bagi saya rupanya mirip alien :D
wakaf peternakan menampung kambing 500 ekor

Rumah Industri Pengolahan Nanas, januari nanti bangunannya  rampung 
Pulang ke rumah bawa nanas


Rumah Rajeg Ijo

19/10/19
Saya gak pernah merasa perlu moto rumah ini. Sampai saya ada di sana, di hari pemakaman nenek saya. Saat itu saya pikir, bagaimana nasib rumah ini setelah Emak (panggilanku pada nenekku) wafat. 

Saya memotonya di hari yang sama, setelah nenek saya dimakamkan. Agak menyesal mengapa tidak memotret sudut-sudut rumah lebih banyak. Namun yah, beginilah.




Ini dia Rumah Rajeg Ijo, yang dahulu tegelnya warna kuning ukuran 20x20cm.

Lima tahun pertama dalam hidup saya, tinggalnya di rumah rajeg ijo. Dikasih nama demikian karena ragejnya emang ijo.

Dalam bahasa jawa panturanya jawa barat, rajeg artinya pagar. Ijo tahu kan artinya apa? hijau. Rumah dengan pagar berwarna hijau.

Itu rumah bukan hanya kami sebagai keluarga yang menamainya demikian. Namun, para tetangga dan siapa sajalah yang lewat depan rumah, menjuluki rumah kami begitu.

Rumah tersebut, menurut cerita paman saya, dibangun tahun 50. Saya kira, itulah rumah terbaik yang pernah saya diami. Nomor dua, setelah rumah orang tua saya di gang dua selatan. 

Rumah rajeg ijo ini legendaris.

Desain rumahnya klasik. Bukan rumah kolonial, tapi rumah ala-ala yang desainnya transisi gitu kali ya. Disebut jengki, bukan. Gaya kolonial juga bukan. 

Di jendela kamar depan, bagian luarnya ada kanopi melengkung. Cantik banget deh kalo dipandang.

Jendela rumah terdiri dua lapis. Jendela luar dari kayu berbuku-buku. Jendela dalam kayu juga tapi setengahnya ada kaca patri. Belum tirainya nih. Belum lagi teralisnya. Banyak amat ya jendela doang. Hahaha.



Jadi gini filosofi jendelanya.

Tirainya hanya setengah tinggi jendela. Kalo mau privasi rapat, tutup semua jenedelanya (ini kalo malam).

Kalo pengen menyepi di siang hari, buka jendela luar, tutup jendela kaca patri.

Bila kepanasan tapi gak pengen terlalu terbuka privasinya, buka semua jendela tapi tirai dibentangkan. Angin masuk masuk semliwir. 

Seru ya jendela doang tapi dirancang sedemikian intim dengan penghuni rumahnya.

Saya sudah cerita terasnya belum? Aduh cakep nian teras rumah rajeg ijo ini. Dulu, sebelum direnovasi.

Di teras ada yang namanya Buk. Semacam tempat duduk pagar. Cukup nangkring di Buk aja kalo mau nongkrong. Duduknya menghadap jalan (rumah rajeg ijo di pinggir jalan raya besar) atau menghadap rumah. Emak naro kursi tambahan buat Midang, istilah lokal buat 'nongkrong santai di depan rumah'.

Nongkrong di teras rumah biasanya kami lakukan sore hari. Saat kegiatan intensitasnya turun. Ayah saya kalo midang nih, cuma pake sarung, gak pake baju. Di sana, biasa banget cowok-cowok gak pake baju alias telanjang dada. Bau ketek? apa itu bau ketek! Haha.

Karena dari gerbang ke pintu rumah ada halaman yang rada luas, jadi midang tuh gak terganggu suasana jalanan sih.

Di halaman itu dulu banyak tanaman berbunga-bunga kemarau, namanya juga daerah pesisir. Walo begitu, bunganya cantik-cantik amat. Ada pohon kertas bougenvile. Satu lagi bunga merah muda. Lupa namanya. Juga bunga-bunga yang bentuknya kayak ulet warna merah.

Oke, kita pindah ke dalam.

Seingat saya, perabotan di rumah rajeg ijo sangatlah klasik. Bahkan sebelum emak wafat, perabotannya masih apik terjaga semua.

Ciri khas perabotan di rumah keluarga kami adalah: sebuah kursi santai. Terbuat dari rotan.

Ada tiga kamar tidur di rumah. Dua kamar yang tiap ranjangnya masih besi berkelambu. Terakhir kali saya tidur menginap di rumah ini di tahun 2015. Kami tidur di kamar depan. Saya gak tahu itu malam terakhir saya melihat langsung wajah emak. Setahun setelah malam itu, emak wafat.

Rumah rajeg ijo memanjang bentuknya. Kayak bentuk manusia aja dari ujung kepala sampe ujung kaki, semua ada urutannya.

Halaman depan
Halaman samping
Halaman belakang
Teras
Ruang tamu
Kamar tidur
Ruang keluarga
Ruang makan
Tempat sholat
Gudang
Dapur bersih
Dapur kotor
Sumur
Kamar mandi

Nenek saya pengusaha paren. Dulu saya mikir buat apa rumah kok lahannya luas amat. Ternyata untuk menjemur paren dan naro karung-karung gemuk. 

Kakek saya? Pedagang bako.

Rumah itulah cikal bakal darah pantura saya. Rumah di daerah berhawa panas anehnya di rumah terasa adem saja. Rumah yang membentuk logat saya. 17 tahun kutinggal di Bandung, logat sunda saya masih hancur. Logat jawa? kurang medhok katanya. Haha.

Setengah jawa setengah sunda, yang saya rasakan saya bukan keduanya. Saya orang Karangampel.











Note: terima kasih Hernadi Tanzil yang membuat saya kepikiran bikin tulisan ini.

Mau Memulai Bisnis Food Truck? Ketahui Dulu Tantangan Yang Akan Dihadapi

17/10/19
Sesuai dengan namanya, food truck merupakan suatu inovasi bisnis baru dengan konsep truk makanan berjalan. Berbeda dengan restoran dan cafe yang telah memiliki lokasi tetap, pelaku bisnis food truck tidak berdiam di satu tempat saja, melainkan berjalan-jalan sambil mencari para calon pelanggan. Di Jakarta itu sendiri, bisnis food truck masih tergolong jarang dan asing. Sulitnya mencari lokasi yang murah, strategis dan legal membuat food truck belum banyak terlihat di jalanan Jakarta.

Dikarenakan belum banyak pelaku bisnis yang tertarik, bisnis food truck memiliki peluang usaha yang masih terbuka lebar bagi siapapun. Bagi kamu yang masih bingung menentukan konsep unik dalam usaha kuliner yang tengah kamu bangun, bisnis food truck bisa dijadikan sebagai solusi. Modal yang diperlukan pun tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan bisnis kuliner biasa yang perlu mengeluarkan modal untuk biaya sewa dan pembangunan.

Namun, seperti bisnis-bisnis lainnya, bisnis food truck pun juga memiliki tantangannya tersendiri. Penasaran?




Tantangan Bisnis Food Truck

1. Sulit Mendapatkan Pelanggan
Untuk di cafe dan restoran, biasanya para konsumen akan datang mengunjungi restoran tersebut lagi jika mereka merasa cocok dengan menu atau suasana yang ditawarkan. Berbeda dengan food truck yang memiliki konsep 'berjalan' membuat pelaku bisnis ini cenderung sulit untuk mendapatkan pelanggan tetap. Ditambah lagi bahwa loyalitas pelanggan merupakan salah satu aspek terpenting agar suatu bisnis dapat berkembang dengan pesat.

Namun, tentu saja hal tersebut dapat diatasi dengan strategi marketing yang kuat. Hampir seluruh masyarakat Indonesia sudah memiliki media sosial. Manfaatkanlah kekuatan dari media sosial sebagai instrumen mu untuk berpromosi.

2. Masih Cenderung Musiman
Dikarenakan masih sulitnya menemukan lokasi yang strategis dan legal, khususnya di Jakarta, membuat banyak pelaku bisnis food truck lebih memilih untuk mengikuti event atau acara-acara besar dalam meraup keuntungan, seperti konser musik, pameran atau car free day, sehingga food truck itu sendiri masih cenderung musiman.

3. Dituntut untuk Menjadi Unik
Pada dasarnya seluruh golongan bisnis memang memerlukan para pelakunya untuk menjadi unik dan kreatif. Hal tersebut agar bisnis yang diciptakan memiliki ciri khas yang mampu menarik perhatian para calon pelanggan. Prinsip tersebut pun juga berlaku bagi pelaku bisnis food truck. Walaupun cita rasa di sebuah bisnis kuliner sangatlah penting, merencanakan konsep yang unik juga merupakan hal yang penting. Apalagi bisnis food truck yang pastinya memiliki pelanggan yang berbeda-beda dikarenakan konsepnya sebagai 'restoran berjalan'. Disamping itu, bentuk dari mobil atau truk yang digunakan pun harus mendukung.

4. Perizinan yang Sulit
Bisnis food truck tidak memiliki lokasi tetap dan hanya mengandalkan mobil, sehingga mengurus perizinan pun akan cenderung sulit. Bila restoran biasa hanya memerlukan perizinan dari dinas pariwisata dan dinas kesehatan saja, maka untuk bisnis food truck harus memiliki izin dari dinas pariwisata, dinas kesehatan dan dinas perhubungan terkait dengan lahan parkir.

Setiap bisnis pasti memiliki tantangan yang berbeda-beda, tergantung dari jenis bisnis yang dilakukan. Walau begitu, janganlah jadikan tantangan tersebut sebagai kendala mu dalam memulai bisnis. Bukan hanya bisnis saja, di dalam hidup yang kita jalani ini bahkan selalu terdapat tantangan-tantangan yang perlu dihadapi. Tanpa tantangan, maka kita tidak akan belajar dan berkembang.

Apakah kamu tertarik untuk memulai bisnis food truck dan ingin mengetahui tips & trick sukses menjalani bisnis food truck? Baca dulu di https://www.cekaja.com/info/sukses-bisnis-food-truck/ dan raih kesuksesan mu.

Selain Minum Jus Seledri, Sayuran Tinggi Serat Ini Juga Bisa Dibuat Camilan

Seperti yang kita tahu bahwa sayur seledri merupakan salah satu bahan pelengkap yang bisa membuat olahan makanan menjadi lezat dan wangi. Tidak hanya melezatkan, daun seledri ternyata bermanfaat untuk kesehatan tubuh loh. Hanya dengan minum jus seledri setiap hari atau dengan langsung memakannya, Anda sudah bisa merasakan manfaat yang luar biasa.

Namun, jika belum pernah mengolah daun seledri untuk kesehatan, tips mengolah daun seledri berikut ini mungkin bisa Anda praktekkan di rumah.




Cara Mengolah Daun Seledri Menjadi Camilan Sehat

1. Dibuat Jus



Pertama, Anda bisa mengolahnya dengan cara dibuat jus segar. Untuk membuat jus seledri sangat mudah, cukup cuci satu ikat seledri, potong kecil-kecil, masukan ke dalam blender, dan tambahkan sedikit air. Saring jus seledri, dan sudah bisa Anda minum.
Namun, jika Anda kurang suka dengan rasa dan baunya, Anda bisa tambahkan bahan lain sebagai penambah rasa. Anda bisa tambahkan bahan lain seperti perasan jeruk lemon, buah pir, atau buah-buahan lainnya dan madu. Setelah itu, Anda juga bisa tambahkan es batu atau soda agar rasanya semakin segar dan nikmat.


2. Dibuat stick, dan dimakan langsung



Cara mengolah daun seledri untuk kesehatan yang kedua adalah dengan memakannya langsung. Tidak hanya di jus, daun seledri juga bisa dijadikan sebagai camilan sehat. Caranya, ambil beberapa batang seledri, cuci bersih, potong-potong menjadi stick, lalu Anda bisa memakannya langsung atau boleh ditambahkan toping seperti selai kacang, mayonaise, atau madu.

Nah, jika Anda belum tahu, manfaat apa saja sih yang ada di dalam daun seledri. Yuk intip beragam manfaatnya untuk kesehatan tubuh kita. Memang belum banyak yang tahu bahkan tak sedikit yang tidak suka dengan rasa dan aroma daun seledri, namun tanaman yang satu ini memiliki banyak kandungan yang baik untuk tubuh.

Kandungan yang Terdapat dalam Daun Seledri

Daun seledri diketahui kaya akan vitamin A, K, dan C, asam folat, serat makanan, zat besi, kalsium, potassium, air, dan masih banyak lagi. Saking banyaknya kandungan baik, daun seledri pun ampuh digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, mulai dari menurunkan berat badan, peradangan, bahkan hingga kanker.

Dihimpun dari berbagai sumber, banyak para peneliti yang menyarankan untuk mengonsumsi atau minum jus seledri agar Anda bisa merasakan manfaatnya langsung dari sayuran yang satu ini. Disebut-sebut, seledri juga bisa membuang racun, patogen mati seperti virus dan bakteri, neurotoksin dan zat-zat negatif dalam tubuh lainnya.

Bahkan, kegiatan minum jus seledri kini menjadi tren karena banyak yang membuat tantangan atau "challenge" meminum jus seledri. Bagi yang belum tahu kalau seledri mempunyai banyak manfaat, pasti akan menolak tantangan ini ya. Apa termasuk Anda?

Namun, ternyata tidak sedikit yang ikut berpartisipasi untuk mengikuti tantangan ini. Bahkan, mereka berbagi cerita tentang kondisi tubuh mereka sebelum dan setelah rutin meminum jus seledri selama 5 hari berturut-turut. Jika Anda ingin melihat partisipasi mereka, Anda bisa cek lewat hashtag #celeryjuice dan #celeryjuicebenefits di Instagram.

Banyak dari mereka yang merasa puas dan merasakan perubahan dalam diri mereka setelah minum jus seledri. Mulai dari persoalan tekstur kulit hingga berat badan. Sehingga, minum jus seledri kini bukan hanya sekadar tantangan, tetapi sudah menjadi gaya hidup sehat yang banyak dipakai berbagai penggiat kebugaran dunia.

Jika Anda ingin tahu, spesifikasi manfaat dari minum jus seledri rutin setiap hari, Anda bisa baca artikel selengkapnya, di link berikut ini: https://www.cekaja.com/info/tantangan-minum-jus-seledri-berani-coba/



Damai di Istana Gebang

13/10/19

Pada perjalanan singkat saya di Blitar, saya singgah ke Istana Gebang. Ada di sini saya menyadari Sukarno orkay juga. Sori, maksudku cukup berada lah. Meski dalam biografi yang ditulis Cindy Adams ia mengaku masa kecilnya gak bergelimang harta, tapi bila orangtuamu punya aset 1,8 hektar, saya kira kedudukannya tidak sembarang. Istana Gebang memang sebenar-benarnya istana. 




 

Istana Gebang adalah rumah keluarganya Sukarno. Bangunannya peninggalan kolonial. Dahulu ini rumah milik juragan perkebunan gula. Cmiiw. Rumahnya disebut-sebut dalam berbagai artikel yang saya baca online, didirikan tahun 1860.

 

Lantas, rumahnya dibeli (?) oleh ayahnya Sukarno bernama R Soekemi Sosrodihardjo. Mereka mulai mendiaminya di tahun 1914 (ada yang menyebut tahun 1917). Saat itu Sukarno masih kecil.

Kemudian, rumah ini dihuni kakaknya Sukarno. Soekarmini namanya.

Istana Gebang sekarang milik pemerintah kota Blitar. Bukan lagi properti pribadi. Mengapa? Supaya situsnya dapat lestari. Kini akses terhadap rumah tersebut terbuka untuk umum. Kamu bisa masuk ke kamar tidur, dapur, ke mana saja di bagian rumahnya.

Memperhatikan Istana Gebang pasti terlihat kalo perawatannya gak murah sih. Heuheu. Saya rasa wajar bila pemilik terdahulunya ingin menjual properti sebesar ini. Pemkot Blitar juga baguslah mau beli. Disebut-sebut angka pembelian Istana Gebang adalah 35 M.

Istana Gebang berhalaman luaaaas sekali. Di depan juga belakang. Saat saya ke sana, matahari sudah tergelincir. Pukul empat sore. Sehingga hawanya meski panas, tapi teduh. Ada satu pohon besar di halaman depan. Di bawahnya, ada anak-anak warga sekitar berlarian, berkejar-kejaran. (Update: pohonnya udah gak ada. Ambruk karena lapuk)

Rumahnya bagaimana? Tidak kalah luas dengan halamannya. Ruangan besar-besar. Pintu dan jendela berbuku-buku. Serasa rumah eropa, namun aura kejawennya juga banyak.

Terdiri dari beberapa kamar (kalau tidak salah ada lima kamar). Kamar tidurnya selayaknya kamar bangsawan. Tiap kamar ada jendelanya. Sungguh menyenangkan ada di sana sore-sore, sewaktu mataharinya adem, berkas sinarnya jatuh ke bibir jendela. Mengenai tirai yang tertiup angin pelan. Aduh hati ini lihatnya senang sekali.

Pengen berlama-lama begini. Bagaimana caranya detik ke menit bisa berhenti barang setengah jam? hahaha mau nyetop waktu dengan waktu! Sia-sia amat.

Di bangunan sebelah rumah ada sanggar seni. Di sana sedang berlangsung kelas tari. Bunyi gamelan mengalun berseling suara tawa anak-anak. Duh suasana sore itu damainya menelusup sampai ke nadi-nadi. Seperti habis tersentuh kasih. Hehe.




Kalau saya mesti sebut kapan sore-sore terbaik yang saya pernah alami, di Istana Gebang itulah salah satu sore terbaik dalam hidup saya. Terasa begitu damai, walo juga terkesan asing.

Bangunan utama terpisah dengan bangunan dapur dan ruang makan. Di tengahnya ada taman kecil. Terhubung dengan serambi berbentuk koridor.

Paling belakang ada dapur dan kamar mandi. Di situ saya melihat sumur. Di muka rumah saya masuk berbarengan dengan pengunjung lain. Saya heran mengapa mereka membawa beberapa botol air minum kemasan plastik kosong. Ternyata sumur itulah penyebabnya. Mereka ambil air sumur yang dipercaya membawa berkah. Air keramat.

Entah ada hubungan apa orang Indonesia dan air sumur ini. Hahaha. Tunggu dulu, saya sedang tidak mengejek. Sebaliknya, saya menyukai pemandangan itu masih ada. Tentang air-air yang dikeramatkan, tentang situs yang dianggap membawa keberkahan, saya kira itu namanya harapan. Gak ada yang salah dengan itu.

Hanya saja, saya mau orang-orang yang demikian, membawa harapan itu dalam kesehariannya. Dalam sikapnya berkendara di jalan. Dalam caranya bertutur. Dalam caranya menyikapi masalah. Dalam menjalani peran sebagai umat beragama.

Pandu bertanya, apa saya mau ikut ambil airnya. Tentu tidak. Saya hanya melongok sumurnya saja. Agak menyesal sih kenapa saya gak raupan di sana. Tahu gak raupan? Hehehe.

Di sisi kanan rumah ada garasi dengan mobil tua. Mobil bersejarah kelihatannya. Mewah pula.

Perabotannnya sama mewahnya. Kelihatan bukan perabotan rakyat jelata. Lemari, ranjang, foto-foto tua, guci, aneka benda-benda aksesoris klasik, berderet buku-buku tua, lampu. Sangatlah indah semuanya, juga menunjukkan status pemilik rumah. Menak.

Istana Gebang dibuka untuk dikunjungi sejak pukul tujuh pagi. Tutupnya pukul lima sore. Mungkin ini informasi yang salah saya lupa tidak mencatat. Tidak ada biaya. Gratis saja kecuali kalo ada pemandu. Kasih honor seikhlasnya.

Dalam perjalanan keluar parkiran Istana Gebang, saya bertanya dalam hati. Mengapa jauh-jauh saya berkunjung ke Istana Gebang. Hahaha. Entahlah, saya pikir kalo ada rumah-rumah klasik yang dimuseumkan, dibuka untuk warga umum pula, serasa harus wajib saya ke sana.

Di sini pula saya menyadari wajah Sukarno yang saya pikir sangat lekat dengan Blitar, ternyata terasa begitu asing.

Ini adalah tulisan yang tertunda hampir dua tahun. Hahaha sudah cukup mari saya selesaikan. Ini khusus tentang Istana Gebang. Sedangkan catatan perjalanan di kota Blitar, teman-teman dapat membacanya di sini dan di sana.
















Mengapa Pintu-Pintu Tua?

11/10/19
Tiga tahun ini saya rajin memotret pintu-pintu lama dan jendela tua. Bila ditanya kenapa, saya gak punya jawaban menarik. Mengapa ya? Kalo jawabannya karena saya suka, apa itu cukup?




Bagi saya foto adalah suvenir perjalanan bagi diri sendiri. Saat jalan-jalan, saya menantikan pemandangan rumah-rumah klasik. Foto pintu dan jendela itulah yang saya anggap suvenir. Senang aja lihatnya. Buat koleksi dan memuaskan diri sendiri aja sih. Gak ada niat menyenangkan orang lain atau keinginan disebut keren. Apalagi melestarikan bangunan tua, waduh berat sekali. 

Kebetulan saja sekarang ada media sosial. Instagram. Saya pake buat naro foto-foto tersebut. Gak semua yang terpajang di media sosial karena ribuan foto tersimpan di hardisk. 

Sewaktu kecil di Karangampel, saya tinggal di rumah tua. Ayahku bilang si rumah didirikan tahun 1950an. Rumah itu milik nenekku. 

Jendelanya lapis dua. Jendela kayu berbuku-buku, jendela setengah yang masih dari kayu dengan dekorasi kaca patri. Setelah itu ada tirai dan teralis vertikal. 

Setiap pintu kamarnya berlapis tirai. Pintunya berbuku-buku. Ranjangnya besi berkelambu. 

Kamar mandi berada di paling belakang. Sebelahnya sumur. Bila mandi ayah ibuku menimba air dulu. 

Ada mushola di dalam rumah itu. Berbentuk panggung, kata nenekku supaya air dari kamar mandi tidak nyiprat dari kaki ke lantai musola. Najis, katanya. 

Di terasnya ada buk, dirancang agar penghuni rumah sering nongkrong pagi dan sore hari.

Tegel rumah 20x20 cm. 

Pintu dapur ya, aih hampir aja lupa, terdiri dari dua daun pintu. Kunci pintunya bukan kunci besi seperti zaman sekarang. Tapi kunci kayu mekanik. 

Saya mengingat rumah tersebut sebagai rumah rajeg ijo. Rumahnya seperti manusia. Dari kepala sampai kaki posisinya jelas dan urut. 

Melihat kembali ke masa lalu, rumah yang pernah saya diami begitu indah, teduh, dan klasik. Cantik sekali. Kalau sekarang membuat benda yang sama, kayaknya bakal repot ya. Selain mahal, perawatannya juga gak mudah. Seperti pintu berbuku-buku itu, sewaktu kecil saya bertugas mengelap tiap bukunya dengan elap basah. Hah tugas menyebalkan. 

Yha begitulah. Tan hana huni, tan hana mangke, begitu kata orang sunda. Gak ada hari ini bila gak ada hari-hari kemarin. Gak ada saya yang memotret pintu-pintu lama, jendela tua, rumah tempo dulu bila dahulu saya gak pernah jadi bagian mereka. 

Matur kesuwun buat leluhur-leluhur saya di Karangampel. Saya berterima kasih sekali atas memento tersebut dan merasakan sedikit-sedikit ada gelombang kenangan pada waktu melihat banyak rumah tua lainnya. 







foto jendela sebelah kiri dipotret oleh Indra


Rencana Libur Akhir Tahun di Jakarta

09/10/19
Bulan ini ibukota memanggil saya. Sampai dengan akhir tahun, Jakarta adalah rumah kedua. Mulai dari jadi asisten sepupu yang menikahi warga Jakarta, menyelesaikan beberapa pekerjaan, hingga merencanakan libur akhir tahun. Tugas pertama: membantu persiapan resepsi sepupu.

Dari Bandung bawa banyak perlengkapan. Kami menginap di hotel Whiz. Mempermudah urusan angkut mengangkut perlengkapan pribadi dan para sesepuh keluarga, saya cari sewa mobil di daerah Jakarta Pusat saja. Syukurlah acara berlangsung lancar. Drama ada, banyak! Hahaha. Ya tapi saya senang acara keluarga ini sudah berlalu. Dilalui dengan drama, diakhiri dengan tawa. 

Di minggu kedua Oktober kemarin, saya kembali ke Jakarta. Kali ini urusan percuanan. Kalo bukan karena urusan yang penting-penting banget, saya gak berminat datang ke ibukota nih. Macet dan panas. Di Bandung saja saya mulai gak betah karena macet jalanan, apalagi Jakarta :D 

Akan tetapi, Jakarta itulah tujuan saya berlibur akhir tahun di Desember nanti. Ada waktu dua minggu libur sekolah anak. 

Kenapa Jakarta? Karena murah bisa menginap di rumah adik di Duren Sawit. Dari situ tinggal menumpang LRT ke sana ke mari. Ha! Terpikir tidak untuk liburan di Jakarta? Memangnya ke mana saja ya bila ingin rekreasi di jantungnya pulau Jawa itu?

Mari saya kasih lihat tujuan jalan-jalan kami Desember nanti. Gak jauh-jauh dari museum sih :D 

1. Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Tujuan utama ke sini karena pengen lihat bangunannya yang klasik. Gedung bersejarah. Lokasinya di Jl Imam Bonjol no. 1 Jakarta Pusat. 


photo credit: kompas.com

Sesuai namanya, ini museum tempat naskah proklamasi dibuat. Oleh siapa lagi kalo bukan tokoh-tokoh kemerdekaan, utamanya Sukarno Hatta. Naskahnya diketik Sayuti Melik. Fakta-fakta sejarah yang umum banget ya. Namun, bagaimana latar sejarah di balik hari itu, 16-17 Agustus 1945? Apa cerita yang gak ada di buku sejarah tapi ada di museum in?

2. Kota Tua 

Pengakuan. Baru satu kali saya berkunjung ke Kota Tua. Namun, sewaktu ke Kota Tua tahun 2016 di sana tak lebih dari 10 menit saja! Argggh sebel gak sih. Oleh karenanya, bila ada waktu luang (utamanya di musim libur sekolahan nanti), saya udah niat banget mau eksplor Kota Tua. Dipuas-puasin deh di sana. 


Gak tahu sih bakal selama ana jelajah Kota Tua Jakarta, secara saya baca daftar gedung-gedung tuanya ada banyak amat. Mulai dari Gedung Arsip Nasional sampai Glodok, Museum Fatahilan dan Museum Bahari, Museum Bank Mandiri, VIhara Dharma Bhakti, Gereja Sion, dan masih banyak lagi. 

Akan jadi hari yang panjang sepertinya jika berkunjung ke Kota Tua ya. 

3. Jelajah Cikini

Di Cikini saya pernah melancong ke Planetarium. Itu saja sudah. Juga Monas dan Balaikota Jakarta. Sayangnya, vibe area Cikini saya lewat begitu saja. Nah itulah mengapa saya mau balik lagi ke Cikini. Ngapain? 

Meyantap Mie Ayam Gondangdia. Slurrrppp Es Podeng. Gak ketinggalan Nasi Uduk Gondangdia juga. Dan tentu saja dong: makan ketoprak Jakarta! 

Apakah saya sudah sebut Gado-gado Bonbin? Jakarta yang kita pikir kering kerontang itu punya harta karun juga. Di Cikini ini menurut 'hartanya' berada. 

Banyak bangunan bersejarah di sekitar Cikini. Buat saya yang koleksi foto gedung cagar budaya, Cikini surganya sih. Mulai dari Lembaga Eijkman, eks Bioskop Metropole, RSUP Dr Ciptomangunkusumo, sampai dengan Tugu Proklamasi. 

4. Museum Tekstil 

Bangunan museum biasanya menempati bangunan tua. Sama kayak Museum Proklamasi, alasan saya pengen ke Museum Tekstil karena pengen lihat bangunannya. 

Lokasinya di Petamburan. Dibangun tahun 1840. Dahulu rumah hunian milik orang Prancis. Lantas pemiliknya berganti kepada saudagar timur tengah. Belakangan ia jadi markas besar Barisan Keamanan Rakyat. Berganti nasib, pemiliknya seorang keturunan Tionghoa. Tahun 1976, bangunannya beralih fungsi jadi museum. 

photo credit: kompas.com

Bila melihatnya dari foto-foto di blog orang lain atau feed instagram, waduh cakep amat gedungnya! perpaduan bangunana ala eropa dan tropis. 

Disebut-sebut pula ini museum sepi pengunjung. Sayang juga ya. Kenapa museum kita sepi mulu sih? Anak sekolah datang kalo study tour doang. Heuheuheu. Marilah kita ramaikan museum. 

5. Dufan! 

Apalah artinya liburan tanpa senang-senang di wahana permainan! Hahaha. Bila ibunya (ya, saya :D) ke museum, anaknya dikasih Dufan deh. Mainlah sepuas-puasnya. 

Kalo musim liburan begitu, Dufan penuh gak sih? Ada saran waktu terbaik mengunjungi Dufan jam berapa?

Demikian cerita akhir tahun berikut rencananya. Kalo akhir tahun begini suka excited gak sih? Aura natal dan liburannya menyenangkan aja gitu. Namun di satu sisi, terasa waktu begitu cepat. Tahun-tahun 2020 di depan mata. 

Gimana rencana kegiatan menghabiskan akhir tahun kalian? Share di komen yok! 

Titik Renung Mukti Mukti di Selasar Sunaryo

08/10/19
Rasanya baru kemarin nanya Kuke, kapan ya Mukti Mukti konser lagi. Gak lama kemudian dia kirim saya poster informasi konser musisi favorit saya itu!

Minggu lalu adalah minggu panjang buat saya. Kerja terus-terusan. Banting tulang. Peras otak. Haha. Namun saya tahu di ujung minggu ada acara istimewa. Sehingga walo capek, rasanya semangat terus. Senang ya kalo ada yang ditunggu-tunggu.

Lantas hari itu datang juga. Sore yang cerah di penghujung kemarau. Lokasi konsernya Mukti Mukti di Selasar Sunaryo. Bayangkan betapa indahnya di sana. Dengan berkas-berkas sinar matahari yang masuk di sela pepohonan. Angin sesekali kencang, seringnya diam. Hawa sejuk mengudara. 




Kamu tahu, Mukti Mukti adalah musisi yang tertib. Kalau dia bilang acaranya mulai jam 16, maka mulailah acaranya. Gak akan molor.

Saya sendiri tentu saja. Mengambil tempat duduk paling strategis. Pokoknya pusat semesta saya cuma ini musisi. Jantung saya deg-degan.

Dan itu dia, Mukti Mukti mulai mengambil gitarnya. Saya deg-degan. Ini dia. Ini yang saya tunggu-tunggu.

Mulailah dia menyanyi. Mulanya sendiri. Dibalut tubuh yang kurus itu, ia memetik gitar seolah-olah itulah pasangannya. Anggun, bergairah, dan penih cinta. Suaranya masih bulat sempurna merdu nian. Satu-satunya di dunia ini yang suaranya kayak dia ya dia seorang.

Cuma dua lagu yang saya hapal dari ratusan lagunya Mukti Mukti. Meski demikian, menontonnya memang gak perlu singalong, sebab kamu bakal terbius. Terpukau. Kena hipnotis. Diam-diam merenung, diam-diam tercenung.

Terpukaunya dengar ia menyanyi sampai bisa bikin...nangis! Mudah-mudahan sehat selalu ya, Mang Mukti!

Sampai hari ini rasanya saya mau minta tolong sama mesin waktu. Kembalikan saya ke tanggal enam oktober hari minggu sore-sore pukul empat di Selasar Sunaryo. Mukti Mukti ada di sana. Dia bilang konsernya bernama Titik Renung. Menonton konser kemarin, saya jatuh cinta berkali-kali pada senja belukar yang senyap, air mata di jemari, selembar daun kering yang pasrah, jantung yang masih berdegup, permukaan danau nan sunyi, dan malam-malam yang kisahnya manis mudah-mudahan...

Pernah Ada Pengalaman Horor Mengunjungi Bangunan Tua?

07/10/19
Situs-situs tua tepatnya, bukan cuma bangunan tua.

Saya bukan indigo. Juga gak sensitif terhadap hal-hal yang demikian. Kecuali aura gaibnya kuat banget sampai-sampai orang biasa kayak saya juga merinding, nah pernah sih ngerasain gitu. 

Di Gunung Padang Cianjur waktu itu. Siang-siang terang benderang. Di sana kan ada lima undakan/teras. Di teras paling tinggilah saya dengar suara perempuan cekikikan ala mba kunti. Saat itu saya sedang berdiri menghadap bebatuan. Kuncen ada tidak jauh dari posisi saya berdiri.

Gunung Padang Cianjur, photo courtesy: Zahra Fatimatuz

Saya bertanya padanya. Apa dengar suara tawa tadi? Pak Kuncen, sambil tertawa, bilang ada yang lewat di bawah mungkin. Warga sekitar katanya. Lalu saya cek sekeliling, rasanya gak mungkin ada orang lewat berjalan kaki. Jauh bener dari teras puncak ke area bawah. 

Ah yasudahlah saya gak pernah memikirkannya lagi. Namun saya yakin yang cekikikan itu bukanlah manusia. Hehe.

Di Gedung Gas Negara di Jalan Braga, sewaktu gedung itu belum dipugar. Saya masuk dalam rangka apa entahlah lupa lagi. Kayaknya ada pameran di lantai dua.

Sewaktu mencari kamar mandi di lantai 1, saya belum menginjak benar-benar ruang toiletnya.  Lantas saya berhenti.  Bayangan gelap apa itu di hadapanku. Hati kecil saya bilang jangan lanjut masuk ke sana. Gelap. Dan becek banget. Jadi saya mundur saja dan cari kamar mandi ke...Alfamart! 

Benar saja. Seorang temanku yang indigo mengatakan di kamar mandi tersebut ada penunggu bertubuh besar hitam warnanya. "Ah yang bener, Malia?" Kadang sebagai nonindigo saya merasa istimewa kalau tubuh saya mengeluarkan radar hantu. 

Hahaha teu hayang ketang! 

Terakhir kali kudatang ke Gedung Gas Negara, kondisi gedung sudah bagus sekali. Terang benderang dan hangat. Saya pun ngecek kamar mandinya. Wah sudah terang, gak becek, bersih pula. Gak lagi ada perasaan horor membayangi walo saya masih takut sih ada di toiletnya sendirian. Hehe. 

Baik. Sekarang tentang Gunung Padang di Ciwidey. Di sini ada situs antik berupa batu-batu raksasa. Yang kumaksud raksasa adalah batunya berukuran kira-kira seperti sebesar mobil travel Bandung - Jakarta. Guedeeeee banget. 

Situs kesukaan petapa ini aura mistisnya kuat sekali. Maksudku, begitu kakiku masuk ke sana langsung semriwing bulu kuduk. 

Di sini bagian paling gak enak hawanya berasal dari bawah batu-batu raksasa. Di situlah saya lihat berbagai macam sesajen.

Pulang ke rumah, kurasakan ada perasaan angker yang membayangi. Suasana senyap di antara batu dan pepohonan masih terbawa sampai kasur tempatku tidur. 

Saat kuceritakan perasaan tersebut pada Taufanny, kawanku yang juga ikut ke sana, dia mengatakan bahwa sebaiknya saya simpan barang di atas lemari pakaian. "Jangan kosongin bagian atas lemari, Lu. Nanti ada yang nongkrong di sana,". 

Ah elah! 

Terakhir. Inilah tempat yang hingga kini masih mengekori saya dengan aura angker. Masjid Kaliwulu. Membahas ini artinya membangkitkan perasaan itu kembali. Seolah-olah kami sudah terikat oleh entah apa? apa ya? Hahaha lebay amat. 




Suasananya senyap. Hawanya sejuk. Begini, Masjid Kaliwulu lokasinya di belakang pemukiman warga. Halaman depannya ada pohon besar. Beringin mungkin. Di situ juga ada juga pemakaman warga. 

Di belakang masjid ada hutan kecil dan pesawahanan luas sekali. Di antara hutan dan sawah ada sungai kecil. Kulihat sawahnya seperti gak berujung. Benar-benar sunyi di Masjid Kaliwulu. Waktu seperti berhenti. Bila siang hari terasa teduh. Entah kalau malam.

Ada dua lokasi yang terasa keueungnya. 

Satu, di dalam masjid di ruang utama. Di balik paduraksa. Saya gak masuk ke dalamnya tapi mengintip dari luar, dari celah pintu. Beberapa saat setelah ngintip,  kupikir "eh kayaknya saya salah deh ngintip-ngintip! gimana kalo ada yang gak suka saya curi-curi lihat dan makhluk itu mengikutiku pulang!" 

Dua, di sumur. Sumur di Kaliwulu ada di sisi kanan dan kiri bangunan utama. Sumurnya dikasih sedikit bangunan ruang terbuka berbata merah. Lebih tertutup jadinya, orang gak akan lihat aktivitasmu di sumur itu. 

Saya menengok sumurnya. Secara situs tua, pengen megang aja gitu situsnya. Juga ingin lihat airnya masih ada gak, bagus gak. Dan ya begitulah saya lihat airnya bagus jernih dan gak berbau. 

Gak lama ku berada di situ radar tubuh saya berkata sebaiknya saya bergegas menjauh dari sana. 

Perasaan horor di Kaliwulu mengekor hingga...sekarang. Ya, gak boong. Sampai sekarang. Sesungguhnya saya gak keberatan ke sana lagi. Berkawan dengan perasaan horor ya sudah terima saja yang penting makhluknya gak muncul. Namanya juga mengunjungi tempat-tempat tua yang dikeramatkan, begitu memang.  

Saya kira, tidak sensitif terhadap hal-hal gaib adalah berkah. Kupikir-pikir nih, saya gak bawa misi aneh. Gak ada niat jahat. Jadi rasa percaya diri dan kerendahan hati  kujadikan bekal aja. Ditambah doa-doa sih heuheu. 

Namun nalar saya pun cukup waras untuk bilang: sudah lihat dari jauh saja gak usah dekat-dekat. Hehe. Emang paling bener tuh denger apa kata tubuh kita sih. Jangan percaya diri banget atuh jatohnya legeg nantinya. 

Oke satu lagi!

Pernah saya pergi ke Batuloceng. Indra dan Nabil ikut serta. Seperti biasa kami selalu jadi peserta paling belakang bila berjalan kaki. Sebab ada Nabil anak kecil kan kalo jalan distraksinya banyak. 

Saat kami beranjak pulang dari situs tersebut, gak ada perasaan aneh-aneh nih kurasa. Biasa saja. Di angkot pun normal saja.

Lantas Malia, pemandu turnya yang juga indigo, bilang bahwa saat kami berjalan pulang kami diikuti oleh 'nenek-nenek'. Ia menyukai anak saya. Ia bahkan ikut dalam angkot hingga Cibodas, sebelum kami pindah angkot menuju Lembang.




Saya bertanya pada Nabil. Kamu lihat ada nenek-nenek ngikutin kamu gak?
Gak ada, katanya.
Saya pun merasa gak ada perasaan horor nih. Kecuali waktu berada di situs Batulocengnya sih. Terasa banget keangkeran tempatnya. 

Ya sudah. Nampaknya bukan saya saja, Nabil pun diberkahi mata yang biasa-biasa saja. Syukurlah. Selama jalan-jalan bawa anak, dia gak pernah tantrum atau sawan aneh pun. Semuanya normal saja buat kami. Syukur hamdalah. 

Mudah-mudahan selamanya begini saja. Saya mengapresiasi sebuah situs bukan untuk berburu hal-hal gaib. 

Kalo ditanya tempat yang paling horor? jawaban saya adalah Masjid Kaliwulu dan Gunung Padang Ciwidey.

Begitu kira-kira. Kalo pengalaman horor kamu di situs-situs bersejarah ada gak?



Bolu Susu Lembang dan Tokonya yang ke Sepuluh

06/10/19
Pernah beli Bolu Susu Lembang? 1,5 tahun belakangan ini, oleh-oleh Bandung yang naik daun adalah Bolu Susu Lembang.




Sekarang cabang resminya sudah banyak. Artinya, gak perlu antri panjang untuk membungkus Bolu Susu Lembang.

Kemarin saja (05/10/2019), mereka baru meresmikan tokonya yang ke-10! Lokasi cabang barunya di Lembang, di Jalan Raya Lembang no. 202 KM 14,4. Gak jauh dari Farmhouse.

Itu artinya di Lembang saja toko resmi Bolu Susu Lembang ada dua!

Wow untuk toko yang berhasil menjual 6000 box/hari, saya rasa gak heran dengan jumlah total tokonya. Sebab kalo kamu pernah menyantap bolunya, memang enak sekali! Bagian bolu susunya itu lho, lembab dan empuk. Manisnya tidak berlebihan. Kejunya berlimpah ruah!

Rasa favorit saya masih sama sejak 2017: original! Belakang saya pun menyukai varian bolu colenaknya. Unik memang!

Gokil ya. Mereka baru buka Desember 2017 dan lihat sekarang perkembangannya.

Pada grand opening storenya di Lembang tersebut, digelar beberapa kegiatan menarik. Seperti games bagi para pengunjung.

Hadir pula perwakilan warga setempat lokasi store berada, utamanya Karang Taruna. Lantas dari Bolu Susu Lembang ada General Manager Istiana Yudha Pratama. Bagus juga melihat waega lokal dilibatkan. Kerja sama yang idealnya terwujud ya begitu.




Merayakan lahirnya toko ke-10 tersebut pula Bolu Susu Lembang memberi diskon pada semua varian produknya:
Original
Vanila
Cokelat
Colenak

Saat ini varian ukuran Bolu Susu Lembang ada tiga macam:
Size reguler Rp33.000
Size family Rp25.000
Size small Rp18.000

Di semua toko resminya, Bolu Susu Lembang bekerja sama dengan UMKM. Produk-produk pilihan UMKM se-Bandung itu nantinya ikut dipajang di toko.

Ohiya bila kamu bertanya-tanya, di mana saja toko resmi Bolu Susu Lembang, ini daftarnya:

  1. Lembang: Jl Raya Lembang no.275
  2. Cihampelas: Jl Cihampelas no. 186
  3. Dago: Jl. Dago no. 186
  4. Riau: Jl. Riau no. 58
  5. Riau: Jl. Riau no. 57
  6. Terminal Ledeng
  7. Stasiun Bandung: pintu selatan
  8. Stasiun Bandung: pintu utara
  9. Stasiun Kiaracondong
  10. Bandara Husein

Saat ini Bolu Susu Lembang menargetkan buka toko baru di Cihampelas. Jadi besok-besok masih akan ada toko ke-11, 12, atau ke-20! Itu di Bandung saja lho!

Bandung dan budaya kulinernya yang terus-terusan berinovasi ini memang...