Damai di Istana Gebang

October 13, 2019
Ini adalah tulisan yang tertunda hampir dua tahun. Hahaha sudah cukup mari saya selesaikan. Ini khusus tentang Istana Gebang. Sedangkan catatan perjalanan di kota Blitar, teman-teman dapat membacanya di sini dan di sana.

Pada perjalanan singkat saya di Blitar, saya singgah ke Istana Gebang. Inilah dia lokasi utama mengapa saya sengaja main ke Blitar.

Ada di sini, saya menyadari, Sukarno ini memang bangsawan. Meski dalam biografi yang ditulis Cindy Adams ia mengaku masa kecilnya gak bergelimang harta, namun bila orang tuamu punya aset 1,8 hektar, saya kira kedudukannya tidak sembarang.

Istana Gebang memang sebenar-benarnya istana. Peninggalan kolonial. Dahulu ini rumah milik juragan perkebunan gula. Cmiiw. Rumahnya disebut-sebut dalam berbagai artikel yang saya baca online, didirikan tahun 1860.

kelihatan gak saya di foto ini :D saya bersama Nabil, difoto oleh Pandu

Lantas, rumahnya dibeli (?) oleh ayahnya Sukarno bernama R Soekemi Sosrodihardjo. Mereka mulai mendiami rumahnya di tahun 1914 (ada yang menyebut tahun 1917). Saat itu Sukarno masih kecil.

Kemudian, rumah ini dihuni kakaknya Sukarno. Soekarmini namanya.

Istana Gebang sekarang milik pemerintah kota Blitar. Bukan lagi properti pribadi. Mengapa? Supaya situsnya dapat lestari. Juga kini akses terhadap rumah tersebut terbuka untuk umum. Kamu bisa masuk ke kamar tidur, dapur, ke mana saja di bagian rumahnya.

Bila memperhatikan Istana Gebang, ini pasti perawatannya gak murah sih. Heuheu. Saya rasa wajar bila pemilik terdahulunya ingin menjual properti sebesar ini. Pemkot Blitar juga baguslah mau beli. Disebut-sebut angka pembelian Istana Gebang adalah 35 M.

Istana Gebang berhalaman luaaaas sekali. Di depan juga belakang. Saat saya ke sana, matahari sudah tergelincir. Pukul empat sore. Sehingga hawanya meski panas, tapi teduh. Ada satu pohon besar di halaman depan. Di bawahnya, ada anak-anak warga sekitar berlarian, berkejar-kejaran. (Update: pohonnya udah gak ada. Ambruk karena lapuk)

Rumahnya bagaimana? Tidak kalah luas dengan halamannya. Ruangan besar-besar. Pintu dan jendela berbuku-buku. Serasa rumah eropa, namun aura kejawennya juga banyak.

Terdiri dari beberapa kamar (kalau tidak salah ada lima kamar). Kamar tidurnya selayaknya kamar bangsawan. Tiap kamar ada jendelanya. Sungguh menyenangkan ada di sana sore-sore, sewaktu mataharinya adem, berkas sinarnya jatuh ke bibir jendela. Mengenai tirai yang tertiup angin pelan. Aduh hati ini lihatnya senang sekali.

Pengen berlama-lama begini. Bagaimana caranya detik ke menit bisa berhenti barang setengah jam? hahaha mau nyetop waktu dengan waktu! Sia-sia amat.

Di bangunan sebelah rumah ada sanggar seni. Di sana sedang berlangsung kelas tari. Bunyi gamelan mengalun berseling suara tawa anak-anak. Duh suasana sore itu damainya menelusup sampai ke nadi-nadi. Seperti habis tersentuh kasih. Hehe.




Kalau saya mesti sebut kapan sore-sore terbaik yang saya pernah alami, di Istana Gebang itulah salah satu sore terbaik dalam hidup saya. Terasa begitu damai, walo juga terkesan asing.

Bangunan utama terpisah dengan bangunan dapur dan ruang makan. Di tengahnya ada taman kecil. Terhubung dengan serambi berbentuk koridor.

Paling belakang ada dapur dan kamar mandi. Di situ saya melihat sumur. Di muka rumah saya masuk berbarengan dengan pengunjung lain. Saya heran mengapa mereka membawa beberapa botol air minum kemasan plastik kosong. Ternyata sumur itulah penyebabnya. Mereka ambil air sumur yang dipercaya membawa berkah. Air keramat.

Entah ada hubungan apa orang Indonesia dan air sumur ini. Hahaha. Tunggu dulu, saya sedang tidak mengejek. Sebaliknya, saya menyukai pemandangan itu masih ada. Tentang air-air yang dikeramatkan, tentang situs yang dianggap membawa keberkahan, saya kira itu namanya harapan. Gak ada yang salah dengan itu.

Hanya saja, saya mau orang-orang yang demikian, membawa harapan itu dalam kesehariannya. Dalam sikapnya berkendara di jalan. Dalam caranya bertutur. Dalam caranya menyikapi masalah. Dalam menjalani peran sebagai umat beragama.

Pandu bertanya, apa saya mau ikut ambil airnya. Tentu tidak. Saya hanya melongok sumurnya saja. Agak menyesal sih kenapa saya gak raupan di sana. Tahu gak raupan? Hehehe.

Di sisi kanan rumah ada garasi dengan mobil tua. Mobil bersejarah kelihatannya. Mewah pula.

Perabotannnya sama mewahnya. Kelihatan bukan perabotan rakyat jelata. Lemari, ranjang, foto-foto tua, guci, aneka benda-benda aksesoris klasik, berderet buku-buku tua, lampu. Sangatlah indah semuanya, juga menunjukkan status pemilik rumah. Menak.

Istana Gebang dibuka untuk dikunjungi sejak pukul tujuh pagi. Tutupnya pukul lima sore. Mungkin ini informasi yang salah saya lupa tidak mencatat. Tidak ada biaya. Gratis saja kecuali kalo ada pemandu. Kasih honor seikhlasnya.

Dalam perjalanan keluar parkiran Istana Gebang, saya bertanya dalam hati. Mengapa jauh-jauh saya berkunjung ke Istana Gebang. Hahaha. Entahlah, saya pikir kalo ada rumah-rumah klasik yang dimuseumkan, dibuka untuk warga umum pula, serasa harus wajib saya ke sana.

Di sini pula saya menyadari wajah Sukarno yang saya pikir sangat lekat dengan Blitar, ternyata terasa begitu asing.
















1 comment on "Damai di Istana Gebang"
  1. Waaaw fantastis juga ya nilainya 35 M. Tapi setara lah ya sama kualitas dan sejarah bangunannya.

    Tauu.. Raup itu cuci muka kan. hehehehe.

    Udah lama ga ke Blitar. Terakhir kesana waktu acara lulusan liburan pas SD. Time flies.
    Jadi pengen mampir blitar lagi.

    Btw. Jadi inget, aku jg ada draft post yang belum di post sejak 2 tahun lalu *hahah malu*

    ReplyDelete