Mengapa Pintu-Pintu Tua?

October 11, 2019
Tiga tahun ini saya rajin memotret pintu-pintu lama dan jendela tua. Bila ditanya kenapa, saya gak punya jawaban menarik. Mengapa ya? Kalo jawabannya karena saya suka, apa itu cukup?




Bagi saya foto adalah suvenir perjalanan bagi diri sendiri. Saat jalan-jalan, saya menantikan pemandangan rumah-rumah klasik. Foto pintu dan jendela itulah yang saya anggap suvenir. Senang aja lihatnya. Buat koleksi dan memuaskan diri sendiri aja sih. Gak ada niat menyenangkan orang lain atau keinginan disebut keren. 

Kebetulan saja sekarang ada media sosial. Instagram. Saya pake buat naro foto-foto tersebut. Gak semua yang terpajang di media sosial karena ribuan foto tersimpan di hardisk. 

Sewaktu kecil, saya tinggal di kampung berjarak tujuh jam dari Bandung (sekarang empat jam saja, terima kasih infrastruktur!). Rumah-rumah yang saya pernah diami adalah rumah bergaya tempo dulu. Sama seperti rumah kamu. Rumah kebanyakan di tahun 80an, 90an. 

Tegelnya 20x20 cm. Ada satu rumah, pintunya berteralis ketupat. Satu lagi, pintunya berlapis dua: kaca dan kayu berbuku-buku. Jendelanya lebar-lebar dan berkaca patri. Tiap pintu ke kamar ada tirainya. Pintu dapur ada dua, bagian atas dan bawah. Bila siang hari, pintu bagian atas yang dibuka. Ayam gak masuk rumah, rumah gak kepanasan. Sebuah win win solution kelas lokal. 

Oiya! Di rumah ada sumur. Paling belakang sih lokasinya. Masih bagian dalam rumah hanya saja atapnya bolong. Kalo hujan, air masuk ke sumur. Sumur dekat kamar mandi. Tiap mau mandi/buang air, isi air dulu dari sumur. Timba...timba...masukin ke lubang yang terhubung ke bak mandi. 

Rumah-rumah yang menyenangkan dengan halaman luas di depan dan belakang. Ada pohon mangga. Rumah orang tua saya, nenek saya pasti ada pohon di depan rumahnya. Hingga hari ini, pepohonannya masih ada. Dahulu, ada kerikil sebagai dekorasi di sisi kanan kiri jalan masuk ke rumah. 

Teras dirancang untuk nongkrong. Biasanya sore hari. Midang istilahnya. 

Melihat kembali ke masa lalu, rumah yang pernah saya diami begitu indah, teduh, dan klasik. Cantik sekali. Kalau sekarang membuat benda yang sama, kayaknya bakal repot ya. Selain mahal, perawatannya juga gak mudah. Seperti pintu berbuku-buku itu, sewaktu kecil saya bertugas mengelap tiap bukunya dengan elap basah. Hah tugas menyebalkan! Haha. 

Yha begitulah. Tan hana huni, tan hana mangke, begitu kata orang sunda. Gak ada hari ini bila gak ada hari-hari kemarin. Gak ada saya yang memotret pintu-pintu lama, jendela tua, rumah tempo dulu bila dahulu saya gak pernah jadi bagian mereka. 

Matur kesuwun buat leluhur-leluhur saya di Karangampel. 






foto jendela sebelah kiri dipotret oleh Indra


2 comments on "Mengapa Pintu-Pintu Tua? "
  1. kl foto2 rumah tinggal teh ulu di masa lalu sdh pernah diupload belum ya? sepertinya menarik. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pernah diupload di instagram, Pak. Kalo di blog belum nih.

      Delete