Social Media

Image Slider

Menolak Tua Bersama MGT Radio

30/09/26

Aneh gak kalau hari gini masih denger radio? Sebab tiap hari senin sampai jumat saya masih aktif mendengar radio, saat bekerja. Supaya tidak boring aja kerjanya. Kadang-kadang saya siapkan playlist sendiri, tapi jujur saja lebih menyenangkan nyalain radio. Setiap lagu yang muncul rasanya seperti kejutan. 


Tape (radio) di rumah, masih nyala!


Namun pilihan radionya dicocokin sama usia juga. Saya tidak lagi masuk dalam kategori remaja. Sehingga stasiun radio yang tipe lagunya masuk ke telinga adalah radio MGT di 101.1 FM. Sekarang denger radio ini bisa online juga di streaming MGT Radio. 


Generasi milenial kelahiran 80an di Bandung seperti saya pasti hapal deh sama MGT Radio. 


Umur radio MGT bahkan lebih tua daripada saya. Dia sudah mengudara di Bandung sejak tahun 1981. 


Rasanya sejak dulu segmentasi radio ini masih sama, yaitu dewasa muda.  Cuma sekarang ditambahin segmen keluarga muda. Yaitulah saya: keluarga muda.


Mostly lagu-lagu yang berlayar di radio ini lagu dari era tahun 90-an, 2000-an. Banyak juga hingga lagu hits terkini agar relevan dengan zamannya. 


Kalau aktif dengerin radio MGT kita bisa tahu komposisi musiknya bercampur ada 80% lagu Indonesia kira-kira 80%, sama dan 20% lagu impor dari barat. Banyakan lagu indonya. 


Ada satu program langganan saya di MGT radio namanya Menolak Tua. Durasinya dua jam segmen pagi. Seperti nama program, sudah pasti lagunya juga seperti nama tengah saya, menolak tua. Hehe. 



Tiba-tiba ada Padi, mendadak masuk intro Nice Dreamsnya Radio Head, lalu muncul harmonisasi suara Rida Sita Dewi yang manis, dan melodi khas om-om dari The Smith. Waghhh! 


Yang bikin senang dari dengar radio adalah kejutan-kejutan lagunya. Kita tidak membuat sendiri plasylistnya. Namun radionya yang memberi kita satu per satu lagu yang tidak kita ketahui apa daftarnya tapi masuk ke selera telinga kita. Nostalgia! 


Kalau dulu dengar radio hanya bisa satu tools di radio, sekarang bisa dengar via streaming di TikTok @MGTRadio. Ini sih visualnya juga kelihatan. Bisa request di komen jugak! Saya pernah coba komen sekali dua kali lho! Langsung disetel lagunya! 



Biasanya program lagu-lagu lawas ini ada di pagi hari. Kalau tidak salah 7-8 pagi. Segmen Menolak Tua ada di program pagi namanya NGPM (New Geng Pagi MGT Radio). Pukul 6-10 pagi. 


Selain Menolak Tua, di program pagi itu ada juga Putus-putus (nelepon orang tapi prank dan on air) yang lumayan bikin ikut deg-degan dan menghibur, Receh in the Morning, sama Ngobrol Seru dan Lapor Pagi (laporan kondisi macet jalanan Bandung, biasanya). 


Itu jadwal siaran pagi yang saya rajin dengerin. Saya pernah cek jadwal siaran MGT di websitenya: 

● 10-16: MGT Play

● 16-19: NGSM (New Geng Sore MGT Radio) | Konten segmen: MGT Menolak Tua

● 19-24: Music Mix

● 19-22: Hot30 (Weekend Program)


Dan karena bisa streaming jadi kalau posisi kita bukan di Bandung, kita masih bisa dengerin radionya. 


Kayaknya kebanyakan orang denger radio sambil mengerjakan hal lainnya. Paling sering saat nyetir mobil. Tapi kalau saya hanya saat bekerja saja. Makanya platform buat denger radio ikut bertambah juga, bisa radio di rumah (saya masih punya tape musik & radio loh!), atau tape di mobil. Sekarang bahkan denger radio bisa dari TikTok dan streaming website. 



Pernah kejadian ada satu lagu lawas yang lamaaaa sekali tidak saya dengar, tiba-tiba muncul di playlist MGT Radio dan saya lupa siapa yang nyanyikan, saya buru-buru buka websitenya dan ngecek streamingnya. Nama dan penyanyinya kelihatan, saya catat dan bookmark lalu masukin ke playlist sendiri.


Kalau kamu, masih denger radio juga kah? 


Nirwana (Yang T'lah Berlalu) di Aula Barat ITB, Bagus Banget Woooi!

12/09/26

GIGI manggung di Aula Barat ITB sekitar pukul 21.50. Satu jam durasi Armand Maulana nyanyi dan hampir pukul 11 malam gignya usai. Pengalaman nonton GIGI ini segera saja masuk kategori 'a night to remember' dalam hidup saya. Bahagia sekali menonton Nirwana itu dinyanyikan didepanmu langsung! 


GIGI Reuni 96 ITB

Menikahi Indra ternyata membuat saya bisa berada pada titik 10 meter saja jaraknya dari Thomas Ramdan dan Bujana. Beruntung mungkin. 


Menjelang usia indra yang kepala lima, kampusnya bikin reuni 30 tahun (5/09/2026). Acara reuni berlangsung seharian dan puncaknya penampilan GIGI di malam hari. 


Menemani indra dalam acara reuni tentu tidak mungkin. Sebab ngapain. Meski anggota keluarga boleh mendampingi tapi ya, ngapain. Namun beda cerita dengan GIGI. Saya sudah katakan sama indra, mau ikut nonton jika bisa. Ternyata bisa. 


Semua hal yang saya baca di artikel-artikel dan caption tentang pertunjukan musik GIGI itu valid. Saya lihat, dengar, dan rasakan sendiri malam itu. 


Armand (vokalis) sangat enerjik. Dipikir-pikir dia lebih tua daripada angkatannya indra. Jadi harusnya dia lebih jompo. Namun dia menolak tua, dia loncat-loncat ke semua sudut panggung yang mungil panggung Aula Barat. Tidak ada fals. Caranya berinteraksi sama penonton sangat luwes dan akrab. Mungkin karena Armand manggung di markas sendiri (kota Bandung), jadi berasa rumah sendiri.  


Thomas bassist luar biasa tengil dan keren sekali aaarghhh mimpi apa bisa lihat dia dari jarak 10 meteran itu! 


Bujana gitaris terkalem se-indonesia. Syahdu sekaligus sadis banget main gitarnya, dengan wajah yang lempeng. 


Dan Hendy pada drum sangat bertenaga wow mengagumkan sekali! 


Luar biasa GIGI! 


Dan betul yang orang-orang bilang. Gigi mainnya bersih dan rapi. Soundnya buagus sekali. Mungkin saya terbawa suasananya saja mengambil kesimpulan begitu, tapi asli beneran kerasa sekali di telinga, soundnya cakep, jernih, dan bulat. Artwork yang jadi latar panggung pun cakep!


Mimpi apa saya, bisa nonton GIGI di event yang sangat intim, penonton hanya angkatan 96 ITB yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Sebagian orang tidak datang reuni, sebagiannya lagi sudah pulang. Hanya mereka yang kerad sanggup menunggu hingga pukul 10 malam. 


Jangankan indra dan teman-temannya, saya yang sedikit lebih muda saja merasa jompo sekali. Pukul 8 malam sudah terkantuk-kantuk ingin rebahan. 


Namun saat Armand naik ke panggung dan menghentak, semua orang sontak semangat. Saya pun! 


Menyenangkan sekali. Bisa nyanyi sekeras mungkin, joged, bahkan loncat-loncat seolah betis kaki saya ini betis seorang Lamine Yamal! 


Lebih nyaman lagi GIGI manggung di Aula Barat. Ruangan dingin, akustiknya bagus, dan tidak ada asap rokok. Wow luar biasa nikmat nontonnya nyaman.


GIGI reuni 96 ITB

Komposisi track yang dibawakan 10 lagu lawas dan 2 lagu baru.


Don't Stop (lagu pembuka)

Terbang

My Facebook

Menari-Nari

Ku Ingin

Nirwana (Yang Tlah Berlalu)

Janji

Ooo..Ooo..Ooo

Jomblo

Nakal

Ya Ya Ya

11 Januari (lagu penutup)


Beberapa lagu yang saya harap dinyanyikan tapi tidak, adalah:

Angan

Andai

Dan Kau Beri

Perihal Cinta

Di Manakah Kau Berada


Lagu pertama tidak kami kenali. Musiknya menghentak keras dan membuat kami bergerombol maju mendekat ke panggung. Adrenalin merambat naik. 


Di lagu kedua intro lagu Terbang masuk. Di situlah saya (atau kami) serentak merasa masuk mesin waktu. Ini melodi yang sangat kami kenal. 


"🎵Kaulah yang dingiiiiin kan aku, dari mimpiku, dari mimpiku🎵


My Facebook adalah salah satu intro lagunya GIGI yang paling saya sukai. Judulnya cringe, tapi musiknya tidak. Gebukan drumnya Hendy sangat cakep di sini. 


Sing a long-nya enak pula. Saya, indra, dan semua orang di sekeliling menyanyi keras-keras. Entah karena memang suka musiknya atau karena terhubung dengan liriknya. 


🎵 Ku hanya bisa membagi

Kisah-kisah lama

Ku hanya bisa membagi

Cerita nostalgia, nooooo 

Cuma itu yang kuberikan

Cuma itu yang kubisa persembahkan

Karna aku ada yang punyaaa, oohh noo

Tapi separuh hati ini untukmu🎵


LOL. Seru! 


Tidak ketinggalan lagu kebangsaan GIGI: Yang T'lah Berlalu (Nirwana). Sebuah komposisi GIGI yang membuat saya merasa surga itu dekat (tapi mati belum mau jangan dulu punten, ya Allah). 


🎵Kau selalu terbayang, oh nirwana

Di dalam cintaku, yang telah berlalu

Kau selalu berharap, berharap

Di dalam cintaku, kembali 🎵


Lalu giliran 'Ku Ingin' membuat kami melolong panjang sejak dari awal liriknya. 


🎵Wajar bila terucap

Namamu malam ini

Bukan sekedar tanya

Dalam diri sendiri


Kuingin hanyut

Dalam pelukanmu

Kuingin cinta oh

Hanya dari dirimu kasih🎵


Semua penonton terlempar balik ke tahun 90an karena pekikan liriknya. 


Pada lagu dengan beat lebih rapat, Armand mengajak kami berlonjak-lonjak. Jomblo, Nakal, dan Ya Ya Ya. 


Waduh luar biasa saya loncat bagai kijang! Enteng sekali badan ini rasanya malam itu hahaha. 


11 Januari menutup pertunjukkan. Lagu dengan lirik yang manis. Cocok dengan audiensnya. 


🎵Bahagia selalu dimiliki

Bertahun menjalani bersamamu

Kunyatakan bahwa engkaulah

Jiwaku


Kau bawa diriku ke dalam hidupmu

Kau basuh diriku dengan rasa sayang

Senyummu juga sedihmu 

adalah hidupku

Kau sentuh cintaku dengan lembut

Dengan sejuta warna🎵


Demikianlah. Sulit sekali move on dari episode GIGI di Aula Barat itu. Tujuh hari pasca pertunjukkan saya masih nyetel playlist GIGI tiap hari. Padahal ini acaranya indra dan angkatan kuliahnya. Namun saya ikut kecipratan bahagianya. Karena GIGI itulah.  


Makasih indra yang ngajakin nonton (ILU) dan kang dhita yang ngasih tiketnya (GBU). Dan makasih juga kepada panitia reuni yang ngide ngundang GIGI (ILU GBU WYATB). 

Selamat Tinggal, Terminal Cicaheum!

15/08/26

Masih ingat kapan pertama kali sendirian menempuh perjalanan jauh antar kota menumpang angkutan umum? Umur saya 17 tahun saat mengalami titik penting pencapaian tersebut. Dan terminal cicaheum jadi saksi perjalanan legendaris itu, terminal yang tahun ini tutup usia.


kenangan terminal cicaheum

Terminal cicaheum tahun 2026 berubah fungsi. Hampir semua bis antar kota antar provinsi arah timur pindah ke terminal leuwipanjang. 


Bersama terminal caheum cerita saya bermula saat jadi anak kuliahan. Pindah dari desa ke kota buat lanjut sekolah. 


Bis eksekutif trayek cirebon - bandung ada dua saat itu. Sahabat dan Bhinneka. Ongkos 20.000. 


Bisa saja saya menumpang bis trayek indramayu - bandung. Namun bis dari indramayu hanya kelas ekonomi saja, jarang sekali ada bisnya. Dan saya tidak menyukai bis ekonomi karena bau asap rokok dan panas. Memang lebih nyaman menaiki bis dari trayek cirebon. 


Waktu itu menumpang mobil shuttle bukan pilihan, ongkosnya kemahalan. Ini memori kolektif anak 90an. Kami tidak bisa adu nasib karena mayoritas mengalami hal yang sama. Seeksekutif-eksekutifnya kami ya menumpang bis sahabat atau bhinneka. 


Dari kedawung di cirebon yang datar bis merangkak masuk ke wilayah majalengka. Di tomo pepohonan meranggas.  Perlahan menanjak di sumedang. 


Di sumedang pemandangannya paling cakep. Sawah-sawah, rumah-rumah tua, pepohonan, dan tahu sumedang. Lalu bis meliuk-liuk hingga cadas pangeran dan kembali lempeng di jatinangor, alun-alun yang ramai di ujung berung. Di ujung berung juga saya lihat ada bioskop, posternya besar-besar, erotis, dan mencolok.


Pemandangan terakhir sebelum tiba di terminal caheum adalah rumah-rumah tua bandung timur. 


Di musim liburan dan awal semesteran penumpang bis selalu penuh. Sulit mencari kursi kosong. Sehingga saya berdiri sepanjang jalan di dalam bis pernah, duduk menggunakan kursi cadangan (plastik) pernah. Kehabisan bis dan balik lagi ke rumah, pernah. 


Menumpang bisnya sih nyaman-nyaman saja. Yang tidak nyaman itu kita harus menghampiri bisnya dan para penumpang berebutan masuk bis seperti zombie mengejar mangsa. Namanya juga naik angkutan umum di negeri ini, tidak mungkin tertib. Pasti gragas kalau sedang peak season. 


Menggunakan tranpostasi umum selalu begitu kalau dulu. Entahlah sekarang bagaimana. Saya sendiri lebih menyukai naik kereta api dan shuttle. Beruntung karena sanggup memilih moda transportasi. 


kenangan terminal caheum

Juni tahun 2018 kali terakhir saya menumpang bis bhinneka jurusan bandung - cirebon, dalam rangka nostalgia dan mengabadikan dua jepretan foto ini. Ternyata inilah memento terakhir saya dengan terminal cicaheum. Bis bhinneka dan sahabat bandung-cirebon berada di sudut terminal cicaheum, paling pojok persis depan jejeran warung. 


Wah rasanya baru kemarin jadi remaja yang hendak pergi ke bandung dalam rangka kuliah. Menggendong ransel yang berat karena diisi buah mangga oleh mamah, nunggu bis di kedawung yang berdebu, duduk di bangku bis deret kedua belakang pak sopir, kepala kejedot jendela waktu ketiduran, turun di terminal caheum. 


Sebuah kenangan. Penggalan kisah lama.  Ditambah sekarang terminal cicaheumnya pun sudah tamat sudah tutup dan kini menjadi pool bis BRT. Selamat tinggal, terminal caheum. 

Pertama Kali Touring 200 Km Bolak Balik Bandung Sukabumi

08/05/26

231 km adalah jarak yang kami tempuh dalam rute Bandung - Sukabumi - keliling kota sukabumi - Bandung menumpang motor. Pertamax yang habis totalnya 80ribu, masih sangat terjangkau (beberapa hari kemudian harga pertamax naik!).  


Ini pengalaman pertama saya touring sejauh ini. Sebelumnya kami trip bermotor Bandung - Garut saja. Yah lumayan nambah sedikit demi sedikit portfolio touring. Mungkin habis ini kami akan melalap rute Pangandaran. Aminkan saja dulu. 


1 Mei Hari Buruh waktu itu jatuh di hari jumat. Libur tanggal merah. Indra mulai memacu motor pukul 5.30. Jalanan sepi sehingga pukul 6.30 kami sudah lewati kota Padalarang dan berhenti sejenak cari sarapan, yaitu kupat tahu padalarang di dekat Situ Ciburuy. Kalau tidak macet, Bandung sangat enak dijelajahi. 


Juga baru saya bisa rasakan udara dan hawa pagi saat hari libur di wilayah lintas priangan. Pukul 7 sejuk sekali. Karena naik motor jadi tangan saya bisa bersentuhan dengan udara langsung. Punggung juga dipijat matahari kemarau yang belum panas. 


Padalarang yang biasanya macet malah lengang. Gunung-gunung kapur masih sunyi. Citatah yang padat truk-truk bayawak juga kosong jalanannya. Jadi ingat puisinya Ramadhan K.H. 


"Harum madu di mawar merah,

mentari di tengah-tengah.

Berbelit jalan ke gunung kapur,

antara Bandung dan Cianjur."


Betul sekali Bandung - Cianjur pemandangan paginya indah. Masih ada pesawahan di antara pabrik dan warung-warung doyong pinggir jalan. 


Di jembatan Rajamandala terngiang-ngiang lagu pop sunda berjudul Sasak Rajamandala buatan Asep Darso. 


"Di beh kuloneun pengkolan nu ka Saguling

Aya sasak anu jadi panineungan kuring

Sasak panjang nu nepungkeun Bandung-Cianjur

Liliwatan balarea, meuntas Walungan Citarum"


Di rute Cianjur - Sukabumi lebih grandeur dengan latar Gunung Gede Pangrango. Pada jalur ini saya membayangkan seorang naturalis Junghuhn yang berkuda jarambah dari Sukabumi ke Cianjur, menuju Bandung dan sebaliknya. Bedanya saya naik kuda besi, Junghuhn menumpang kereta kuda betulan. 


"Udara pagi yang menyegarkan membangkitkan gairah bepergian dalam diri saya," tulis Junghuhn pada catatan perjalanannya. 


Dalam trip bermotor ini Indra menyiapkan intercom di helm-helm yang kami kenakan. Jadi sepanjang jalan kami bisa ngobrol dengan leluasa. 


Begitulah romantisasi ala warga bandung yang baru pertama kali menempuh Bandung - Sukabumi dengan motornya. Namanya juga newbie. Hehe. 


Tidak ada yang ripuh di jalan. Namun saat kembali ke Bandung esok harinya, sabtu, kami berangkat pukul 9 pagi dari Sukabumi. Siang datang begitu cepat. Di Citatah Kabupaten Bandung muncul problema klise: macet, macet, macet. Nestapanya kota metropolitan bandung yang rudet sampai ke kabupaten-kabupatennya.


Ada 89 kelokan di Citatah Padalarang. Saya menghitungnya sendiri, mungkin salah tapi bisa jadi benar. Motor kami menyantap rute Citatah selama 20 menit. 


Jalan yang menghubungkan Bandung dengan Cianjur ini selalu macet merayap di jam tertentu karena padat kendaraan. Berikut ini jenis kendaraan yang paling horor: truk pasir, truk batu, truk kayu gelondongan, truk batu hebel, truk isi mobil, truk isi mesin steam, truk sampah, truk tangki minyak, truk air, dan bis-bis 60 seat antar kota antar provinsi. 


Kendaraan tipe 'final destination' itu merayap di jalan citatah yang konturnya berkelok nanjak dan mudun. Akibatnya selama perjalanan 20 menit bermotor itu: kepala pindah ke jantung, jantung pindah ke lutut, dan lutut nyur-nyuran menanggung rasa tegang. 


Namun bila berhasil menaklukan rute Citatah yang sadis itu, kamu akan disambut sawah-sawah juga bubur cianjur (jika tujuan ke Cianjur) dan dijamu macet demi macet demi macet demi macet (kalau arah ke Bandung).


Terlepas perjalanan kembali ke Bandung yang dramatis (karena macetsuracet), touring adalah pengalaman traveling yang menyenangkan. Mungkin karena saya melaluinya bersama dengan Indra (skill nyetirnya nyekil sekali, jajan enak, dan kami ngobrol sepanjang jalan). Pangandaran gimana?