Social Media

Image Slider

Nonton GIGI di Aula Barat ITB, Bagus Banget Woooi!

12/09/26

GIGI manggung di Aula Barat ITB sekitar pukul 21.50. Satu jam durasi Armand Maulana nyanyi dan hampir pukul 11 malam gignya usai. Pengalaman nonton GIGI secara langsung ini segera saja masuk kategori 'a night to remember' dalam hidup saya. Menyenangkan sekali! 


GIGI Reuni 96 ITB

Menikahi Indra ternyata membuat saya bisa berada pada titik 10 meter saja jaraknya dari Thomas Ramdan dan Bujana. Beruntung mungkin. 


Menjelang usia indra yang kepala lima, kampusnya bikin reuni 30 tahun (5/09/2026). Acara reuni berlangsung seharian dan puncaknya penampilan GIGI di malam hari. 


Menemani indra dalam acara reuni tentu tidak mungkin. Sebab ngapain. Meski anggota keluarga boleh mendampingi tapi ya, ngapain. Namun beda cerita dengan GIGI. Saya sudah katakan sama indra, mau ikut nonton jika bisa. Ternyata bisa. 


Semua hal yang saya baca di artikel-artikel dan caption tentang pertunjukan musik GIGI itu valid. Saya lihat, dengar, dan rasakan sendiri malam itu. 


Armand (vokalis) sangat enerjik. Dipikir-pikir dia lebih tua daripada angkatannya indra. Jadi harusnya dia lebih jompo. Namun dia menolak tua, dia loncat-loncat ke semua sudut panggung yang mungil panggung Aula Barat. Tidak ada fals. Caranya berinteraksi sama penonton sangat luwes dan akrab. Mungkin karena Armand manggung di markas sendiri (kota Bandung), jadi berasa rumah sendiri.  


Thomas bassist luar biasa tengil dan keren sekali aaarghhh mimpi apa bisa lihat dia dari jarak 10 meteran itu! 


Bujana gitaris terkalem se-indonesia. Syahdu sekaligus sadis banget main gitarnya, dengan wajah yang lempeng. 


Dan Hendy pada drum sangat bertenaga wow mengagumkan sekali! 


Luar biasa GIGI! 


Dan betul yang orang-orang bilang. Gigi mainnya bersih dan rapi. Soundnya buagus sekali. Mungkin saya terbawa suasananya saja mengambil kesimpulan begitu, tapi asli beneran kerasa sekali di telinga, soundnya cakep, jernih, dan bulat. Artwork yang jadi latar panggung pun cakep!


Mimpi apa saya, bisa nonton GIGI di event yang sangat intim, penonton hanya angkatan 96 ITB yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Sebagian orang tidak datang reuni, sebagiannya lagi sudah pulang. Hanya mereka yang kerad sanggup menunggu hingga pukul 10 malam. 


Jangankan indra dan teman-temannya, saya yang sedikit lebih muda saja merasa jompo sekali. Pukul 8 malam sudah terkantuk-kantuk ingin rebahan. 


Namun saat Armand naik ke panggung dan menghentak, semua orang sontak semangat. Saya pun! 


Menyenangkan sekali. Bisa nyanyi sekeras mungkin, joged, bahkan loncat-loncat seolah kaki saya ini berusia 25 tahun! 


Lebih nyaman lagi GIGI manggung di Aula Barat. Ruangan dingin, akustiknya bagus, dan tidak ada asap rokok. Wow luar biasa nikmat nontonnya nyaman.


GIGI reuni 96 ITB

Komposisi track yang dibawakan 10 lagu lawas dan 2 lagu baru.


Don't Stop (lagu pembuka)

Terbang

My Facebook

Menari-Nari

Ku Ingin

Nirwana (Yang Tlah Berlalu)

Janji

Ooo..Ooo..Ooo

Jomblo

Nakal

Ya Ya Ya

11 Januari (lagu penutup)


Beberapa lagu yang saya harap dinyanyikan tapi tidak, adalah:

Angan

Andai

Dan Kau Beri

Perihal Cinta

Di Manakah Kau Berada


Lagu pertama tidak kami kenali. Musiknya menghentak keras dan membuat kami bergerombol maju mendekat ke panggung. Adrenalin merambat naik. 


Di lagi kedua intro lagu Terbang masuk. Di situlah saya (atau kami) serentak merasa masuk mesin waktu. Ini melodi yang sangat kami kenal. 


"🎵Kaulah yang dingiiiiin kan aku, dari mimpiku, dari mimpiku🎵


My Facebook adalah salah satu intro lagunya GIGI yang paling saya sukai. Judulnya cringe, tapi musiknya tidak. Gebukan drumnya Hendy sangat cakep di sini. 


Sing a long-nya enak pula. Saya, indra, dan semua orang di sekeliling menyanyi keras-keras. Entah karena memang suka musiknya atau karena terhubung dengan liriknya. 


🎵 Ku hanya bisa membagi

Kisah-kisah lama

Ku hanya bisa membagi

Cerita nostalgia, nooooo 

Cuma itu yang kuberikan

Cuma itu yang kubisa persembahkan

Karna aku ada yang punyaaa, oohh noo

Tapi separuh hati ini untukmu🎵


LOL. Seru! 


Tidak ketinggalan lagu kebangsaan GIGI: Nirwana (Yang Tlah Berlalu). Sebuah komposisi GIGI yang membuat saya merasa surga itu dekat (tapi mati belum mau jangan dulu punten, ya Allah). 


🎵Kau selalu terbayang, oh nirwana

Di dalam cintaku, yang telah berlalu

Kau selalu berharap, berharap

Di dalam cintaku, kembali 🎵


Lalu giliran 'Ku Ingin' membuat kami melolong panjang sejak dari awal liriknya. 


🎵Wajar bila terucap

Namamu malam ini

Bukan sekedar tanya

Dalam diri sendiri


Kuingin hanyut

Dalam pelukanmu

Kuingin cinta oh

Hanya dari dirimu kasih🎵


Semua penonton terlempar balik ke tahun 90an karena pekikan liriknya. 


Pada lagu dengan beat lebih rapat, Armand mengajak kami berlonjak-lonjak. Jomblo, Nakal, dan Ya Ya Ya. 


Waduh luar biasa saya loncat bagai kijang! Enteng sekali badan ini rasanya malam itu hahaha. 


11 Januari menutup pertunjukkan. Lagu dengan lirik yang manis. Cocok dengan audiensnya. 


🎵Bahagia selalu dimiliki

Bertahun menjalani bersamamu

Kunyatakan bahwa engkaulah

Jiwaku


Kau bawa diriku ke dalam hidupmu

Kau basuh diriku dengan rasa sayang

Senyummu juga sedihmu 

adalah hidupku

Kau sentuh cintaku dengan lembut

Dengan sejuta warna🎵


Demikianlah. Sulit sekali move on dari episode GIGI di Aula Barat itu. Tujuh hari pasca pertunjukkan saya masih nyetel playlist GIGI tiap hari. Padahal ini acaranya indra dan angkatan kuliahnya. Namun saya ikut kecipratan senangnya. Karena GIGI itulah.  


Makasih indra yang ngajakin nonton (ILU) dan kang dhita yang ngasih tiketnya (GBU). Dan makasih juga kepada panitia reuni yang ngide ngundang GIGI (ILY GBU WYATB). 

Selamat Tinggal, Terminal Cicaheum!

15/08/26

Masih ingat kapan pertama kali sendirian menempuh perjalanan jauh antar kota menumpang angkutan umum? Umur saya 17 tahun saat mengalami titik penting pencapaian tersebut. Dan terminal cicaheum jadi saksi perjalanan legendaris itu, terminal yang tahun ini tutup usia.


kenangan terminal cicaheum

Terminal cicaheum tahun 2026 berubah fungsi. Hampir semua bis antar kota antar provinsi arah timur pindah ke terminal leuwipanjang. 


Bersama terminal caheum cerita saya bermula saat jadi anak kuliahan. Pindah dari desa ke kota buat lanjut sekolah. 


Bis eksekutif trayek cirebon - bandung ada dua saat itu. Sahabat dan Bhinneka. Ongkos 20.000. 


Bisa saja saya menumpang bis trayek indramayu - bandung. Namun bis dari indramayu hanya kelas ekonomi saja, jarang sekali ada bisnya. Dan saya tidak menyukai bis ekonomi karena bau asap rokok dan panas. Memang lebih nyaman menaiki bis dari trayek cirebon. 


Waktu itu menumpang mobil shuttle bukan pilihan, ongkosnya kemahalan. Ini memori kolektif anak 90an. Kami tidak bisa adu nasib karena mayoritas mengalami hal yang sama. Seeksekutif-eksekutifnya kami ya menumpang bis sahabat atau bhinneka. 


Dari kedawung di cirebon yang datar bis merangkak masuk ke wilayah majalengka. Di tomo pepohonan meranggas.  Perlahan menanjak di sumedang. 


Di sumedang pemandangannya paling cakep. Sawah-sawah, rumah-rumah tua, pepohonan, dan tahu sumedang. Lalu bis meliuk-liuk hingga cadas pangeran dan kembali lempeng di jatinangor, alun-alun yang ramai di ujung berung. Di ujung berung juga saya lihat ada bioskop, posternya besar-besar, erotis, dan mencolok.


Pemandangan terakhir sebelum tiba di terminal caheum adalah rumah-rumah tua bandung timur. 


Di musim liburan dan awal semesteran penumpang bis selalu penuh. Sulit mencari kursi kosong. Sehingga saya berdiri sepanjang jalan di dalam bis pernah, duduk menggunakan kursi cadangan (plastik) pernah. Kehabisan bis dan balik lagi ke rumah, pernah. 


Menumpang bisnya sih nyaman-nyaman saja. Yang tidak nyaman itu kita harus menghampiri bisnya dan para penumpang berebutan masuk bis seperti zombie mengejar mangsa. Namanya juga naik angkutan umum di negeri ini, tidak mungkin tertib. Pasti gragas kalau sedang peak season. 


Menggunakan tranpostasi umum selalu begitu kalau dulu. Entahlah sekarang bagaimana. Saya sendiri lebih menyukai naik kereta api dan shuttle. Beruntung karena sanggup memilih moda transportasi. 


kenangan terminal caheum

Juni tahun 2018 kali terakhir saya menumpang bis bhinneka jurusan bandung - cirebon, dalam rangka nostalgia dan mengabadikan dua jepretan foto ini. Ternyata inilah memento terakhir saya dengan terminal cicaheum. Bis bhinneka dan sahabat bandung-cirebon berada di sudut terminal cicaheum, paling pojok persis depan jejeran warung. 


Wah rasanya baru kemarin jadi remaja yang hendak pergi ke bandung dalam rangka kuliah. Bawa ransel yang berat karena diisi buah mangga oleh mamah, nunggu bis di kedawung yang berdebu, duduk di bangku bis deret kedua belakang pak sopir, kepala kejedot jendela waktu ketiduran, turun di terminal caheum. 


Sebuah kenangan. Penggalan kisah lama.  Ditambah sekarang terminal cicaheumnya pun sudah tamat sudah tutup dan kini menjadi pool bis BRT. Selamat tinggal, terminal caheum.