Masih ingat kapan pertama kali sendirian menempuh perjalanan jauh antar kota menumpang angkutan umum? Umur saya 17 tahun saat mengalami titik penting pencapaian tersebut. Dan terminal cicaheum jadi saksi perjalanan legendaris itu, terminal yang tahun ini tutup usia.
Terminal cicaheum tahun 2026 berubah fungsi. Hampir semua bis antar kota antar provinsi arah timur pindah ke terminal leuwipanjang.
Bersama terminal caheum cerita saya bermula saat jadi anak kuliahan. Pindah dari desa ke kota buat lanjut sekolah.
Bis eksekutif trayek cirebon - bandung ada dua saat itu. Sahabat dan Bhinneka. Ongkos 20.000.
Bisa saja saya menumpang bis trayek indramayu - bandung. Namun bis dari indramayu hanya kelas ekonomi saja, jarang sekali ada bisnya. Dan saya tidak menyukai bis ekonomi karena bau asap rokok dan panas. Memang lebih nyaman menaiki bis dari trayek cirebon.
Waktu itu menumpang mobil shuttle bukan pilihan, ongkosnya kemahalan. Ini memori kolektif anak 90an. Kami tidak bisa adu nasib karena mayoritas mengalami hal yang sama. Seeksekutif-eksekutifnya kami ya menumpang bis sahabat atau bhinneka.
Dari kedawung di cirebon yang datar bis merangkak masuk ke wilayah majalengka. Di tomo pepohonan meranggas. Perlahan menanjak di sumedang.
Di sumedang pemandangannya paling cakep. Sawah-sawah, rumah-rumah tua, pepohonan, dan tahu sumedang. Lalu bis meliuk-liuk hingga cadas pangeran dan kembali lempeng di jatinangor, alun-alun yang ramai di ujung berung. Di ujung berung juga saya lihat ada bioskop, posternya besar-besar, erotis, dan mencolok.
Pemandangan terakhir sebelum tiba di terminal caheum adalah rumah-rumah tua bandung timur.
Di musim liburan dan awal semesteran penumpang bis selalu penuh. Sulit mencari kursi kosong. Sehingga saya berdiri sepanjang jalan di dalam bis pernah, duduk menggunakan kursi cadangan (plastik) pernah. Kehabisan bis dan balik lagi ke rumah, pernah.
Menumpang bisnya sih nyaman-nyaman saja. Yang tidak nyaman itu kita harus menghampiri bisnya dan para penumpang berebutan masuk bis seperti zombie mengejar mangsa. Namanya juga naik angkutan umum di negeri ini, tidak mungkin tertib. Pasti gragas kalau sedang peak season.
Menggunakan tranpostasi umum selalu begitu kalau dulu. Entahlah sekarang bagaimana. Saya sendiri lebih menyukai naik kereta api dan shuttle. Beruntung karena sanggup memilih moda transportasi.
Juni tahun 2018 kali terakhir saya menumpang bis bhinneka jurusan bandung - cirebon, dalam rangka nostalgia dan mengabadikan dua jepretan foto ini. Ternyata inilah memento terakhir saya dengan terminal cicaheum. Bis bhinneka dan sahabat bandung-cirebon berada di sudut terminal cicaheum, paling pojok persis depan jejeran warung.
Wah rasanya baru kemarin jadi remaja yang hendak pergi ke bandung dalam rangka kuliah. Menggendong ransel yang berat karena diisi buah mangga oleh mamah, nunggu bis di kedawung yang berdebu, duduk di bangku bis deret kedua belakang pak sopir, kepala kejedot jendela waktu ketiduran, turun di terminal caheum.
Sebuah kenangan. Penggalan kisah lama. Ditambah sekarang terminal cicaheumnya pun sudah tamat sudah tutup dan kini menjadi pool bis BRT. Selamat tinggal, terminal caheum.

