Social Media

Membaca Parade Hantu Siang Bolong

31 October 2020

Judul dan kovernya bagus amat ya. Senang sekali membeli buku rasanya kayak dapat bonus 'artwork' yang cakep begini. ⁣Seolah-olah ini buku fiksi, novel gitu. Ternyata bukan. 


Isi bukunya kumpulan reportase jurnalistik, temanya mitos dan lokalitas. Ditulis oleh Titah AW. Diterbitkan Warning Books. Saya beli di @bukuakik (tokopedia, ada juga di instagram). 

Salah satu yang diceritakan Titah dalam bukunya adalah desa penghasil Ciu di Bekonang. Saya kan muslim. Makan babi haram, minum alkohol dosa. Namun keduanya saya ingin coba. Semacam hasrat terpendam. Dalam doa kusebutkan: Tuhan, izinkan saya masuk surga, saya mau makan babi panggang dan minum bir dingin. ⁣

Maka gak heran saat kubaca reportase tentang Ciu, saya langsung browsing desanya di google dan youtube. Entahlah buat apa, refleks aja sepertinya. 

Saya juga menyukai reportase Golek Garwo. Ajang cari jodoh di Yogyakarta. Wow saya gak bisa bayangkan 'berburu' jodoh bisa tatap muka terang-terangan begitu. Di tengah tawaran bertopeng ala media sosial & tinder, butuh keberanian buat bilang di atas panggung, di depan banyak orang: "nama saya Septi, single, usia 30 tahun. Rumah di Maguwo. Saya mencari calon suami yang umurnya antara 30-35 tahun, punya pekerjaan, tidak merokok, dan harus punya jiwa seni."


Semua tulisan Titah ini pernah dimuat di web Vice. Dalam bukunya tulisan Titah utuh, tidak ada revisi editor. Judulnya pun berbeda sedikit dengan yang tayang di Vice. Saya lebih menyukai judul tulisan dalam buku Parade Hantu Siang Bolong.

Buku ini -dalam episode tahun 2020 hidup bersama covid-19 dan netflix- termasuk kategori dapat dibaca sekali duduk. Pheeew...udah lama rasanya gak pernah menamatkan buku dalam waktu semalam. Begitu tamat bacanya malah bingung, yah kok udahan. Kalo kata Atik temanku, lagi asyik terbang eh disuruh balik menapak. 

Seriusan, beli bukunya. Rekomendid. ⁣

Post Comment
Post a Comment