Social Media

Image Slider

Showing posts with label Bertandang. Show all posts
Showing posts with label Bertandang. Show all posts

Hampir Asar di Masjid Ar-Raudhoh Pekalongan

09/10/25

Hampir pukul tiga sore di kota pekalongan. Di masjid Ar-Raudhoh saya hendak salat, penjaga masjid mengatakan tidak ada mukena di sini. “Gak apa-apa saya bawa mukena, Pak,” begitu jawab saya polos. 




Yang tidak saya ketahui adalah masjid tersebut merupakan masjidnya umat keturunan arab kota pekalongan dan saya sedang berada di jantungnya kawasan arab. Tidak ada perempuan salat di sana. Dalam arti: hanya laki-laki yang beribadah di masjidnya. 


Saya pikir bisa nih sambil nunggu azan yang 20 menitan lagi menjelang, saya foto-foto dulu. Toh kosong ini masjidnya gak ada orang.  


Bagaimanapun, saya minta izin dulu berfoto pada penjaga masjid dan ia membolehkan. 


Masjid Ar-Raudhoh tidak seperti bangunan masjid. Dia nampak seperti rumah. Bila pun disebut tempat ibadah muslim, cocoknya jadi musola. Bangunannya pun klasik. 


Pada fasad bangunan masjid tertulis dalam huruf arab: Masjid Ar-Raudhoh 1352 H. Berarti masjid ini sudah ada sejak tahun masehi 1933. Hampir satu abad lalu. 


Terdiri dari dua bangunan rumah dan banyak jendela besar-besar. Daun jendela terbuka. Beberapa jendela ada kaca patrinya. 


Warna masjid ini krem keputihan. Tidak ada warna menonjol selain karpet masjid berwarna hijau. 




Ternyata betul masjid ini dahulunya rumah seorang habib bernama Ali bin Ahmad Al-Athas. Namun tidak saya ketahui profesi beliau, apakah pendakwah yang juga pedagang seperti sebagaimana pada umumnya orang-orang keturunan arab di nusantara. 


Saya memotret dengan leluasa. Sampai muncul satu orang masuk ke halaman masjid dan parkir motor. Seorang laki-laki, mengenakan sarung dan kopiah haji putih bulat. 


Saya melihatnya, begitu pun dia. Dia tersenyum, saya juga. Dari matanya saya menangkap ada kesan aneh melihat saya di sana. Saya menilik wajahnya, ada garis-garis keturunan arab di sana. 


Dia duduk dekat pintu masjid. Gestur tubuhnya mengajak saya berbicara. Saya duduk dan mengucapkan salam. Ia bertanya saya berasal dari mana. 


Bandung, Pak. Jawab saya berusaha ramah. Rasanya cara berpakaian saya tidak berbeda dengan warlok pekalongan jadi dari mana ia tahu saya bukan warga sini? 


Yang tidak saya duga adalah pertanyaan dia berikutnya. “Udah nikah, Mbak?”

Hah? kaget juga ditanya langsung demikian. 


“Suaminya di mana, Mbak?” tanyanya lagi. 


“Nginepnya di mana?”


“Ke sini sama siapa?”


Saya tidak melihat ia bermaksud buruk. Sepertinya hanya ingin bertanya saja. Saya menjawab tanpa memberinya informasi terlalu rinci. 


Azan asar akan berkumandang dalam beberapa menit saja. Perasaan saya mengatakan sebaiknya segera pergi sana. 


"Salat di kamar hotel saja," bisik saya dalam hati. Saya pamit padanya dan berterima kasih pada penjaga masjid. 


Ada beberapa tukang becak datang dan bergantian mengambil air dari sumur. Mereka melihat saya dan menawarkan jasa becaknya. Iya makasih, Pak. Saya tolak halus. 


Di sisi kiri depan masjid ada sumur, tempat berwudu, dan tiga kamar mandi. Becak terparkir di dekat pintu masjid dan seorang tukang becak tertidur di sana. 




Di kamar hotel saya browsing tentang masjidnya dan menyadari bahwa saya memang bodoh. Pantas saja orang di masjid tahu saya bukan warlok. 


Hanya laki-laki yang salat di Masjid Ar-Raudhoh. Mungkin perempuan bisa salat di sana tapi hanya orang-orang polos dan tidak paham seperti saya yang ‘berani’ salat di sana. Dan orang seperti itu namanya: turis. 


Tidak saja tidak ada mukena, tapi juga tidak ada area khusus salat bagi perempuan. Tempat wudu perempuan juga tidak ada. 


Kultur komunitas keturunan arab  masih mempertahankan ajaran  bahwa wanita di rumah, salat juga di rumah. Makanya orang yang berbincang sebentar dengan saya di masjid itu memberi pandangan aneh pada saya. Mungkin kalau keanehan bisa bicara ia berkata: loh kok ada perempuan di sini, di masjid ini? 


Saya sedang tidak menyalahkan siapapun selain diri saya sendiri karena tidak tahu apa-apa.

 

Sepulangnya di bandung saya browsing buku-buku tentang orang keturunan arab di indonesia di iPusnas (perpus digitalnya perpus nasional). 


Ketemulah buku terjemahan judulnya Mencari Identitas: Orang Arab Hadhrami di Indonesia (1900-1950).


Bukunya ditulis oleh antropolog belanda Huun de Jonge. Diterjemahkan dengan sangat bagus oleh Arif Bagus Prasetyo. Bukunya tentang sejarah komunitas orang arab di Hindia Belanda. Penulis buku meneliti dan mendalami kehidupan orang arab di Indonesia. 




Cikal bakal orang arab di indonesia itu mulainya dari para pedagang negara yaman. 


Para pedagang itu berasal dari daerah di Yaman bagian selatan namanya Hadhramaut. Orang-orangnya disebut Hadhrami. 


Kerasnya kehidupan di Hadhramaut membuat Hadhrami migrasi. Mereka datang ke pesisir nusantara abad 10 M untuk berdagang dan menyebarkan agama islam.  


Namanya pedagang ada yang berpindah ada juga yang menetap. 


Saat Terusan Suez dibuka, jalur transportasi laut lebih pendek bagi orang-orang hadhrami. Sejak itu terjadilah gelombang besar migrasi mereka ke Hindia Belanda. Di buku tertulis seperempat orang-orang hadhrami berlayar ke negara kita. 


Betah di Hindia Belanda, katanya. Karena di Hadhramaut kondisi wilayahnya gersang dan selalu perang antar suku. Makanya mereka pindah dalam rangka mau tinggal di tempat yang subur dan minim konflik. 


Di Hindia Belanda orang-orang hadhrami mengusai sektor bisnis perantara. Ada juga yang bisnisnya rentenir, tekstil, dan bengkel. Dan tentu saja sambil kampanye agama islam. 


Makin banyak gelombang migrasi yang datang ke Hindia Belanda, terjadi juga konflik sosial internal dan eksternal. 


Internalnya gini. Orang hadhrami dalam kehidupannya punya level sosial: 

1. Sayyid

2. Syekh

3. Qabili


Sayyid bangsawan spiritual. Pendakwah. Pemuka agama. Banyak harta. Merekalah kaum mayoritas yang bermigrasi. Gak aneh juga kalau banyak situs ziarah di indonesia 'isinya' orang-orang hadhrami. 


Dan tahukah adat istiadat yang dibawa kaum sayyid ini apa? Salaman cium tangan. Orang-orang hadhrami bila bertemu Sayyid akan mencium tangan mereka. Simbol dari rasa hormat pada Sayyid. Inilah yang jadi warisan budaya mereka dan masih kita lakukan sampai sekarang. Salaman cium tangan pada mereka yang kita tuakan dan kita hormati. 


Sedangkah kaum syekh adalah 'musuh bebuyutan' kaum sayyid. 


Syekh selalu keberatan dan protes dengan gaya hidup Sayyid yang angkuh, aristokrat, sombong, dan bergelimang harta. 


Hadhrami peranakan dari kalangan Syekh yang juga aktivis adalah: abdurrahman baswedan. Iya betul kakeknya anis baswedan. Beliau juga merupakan tokoh nasional Indonesia. 


Di buku ini ada satu bab yang membedah pergerakan revolusi yang dilakukan Abdurrahman Baswedan terhadap kaum hadhrami kolot dan pemerintah kolonial belanda. 


Hampir semua keturunan orang arab di Indonesia pasti orang-orang hadhrami. Najwa Syihab salah satunya. 


Waghhh buku bagus ini asli. Bacanya sampai terhanyut dari awal sampai akhir. Sepertinya karena saya pun muslim dan menjalani hidup yang agak kerab-araban dalam keseharian jadi agak terhubung sama bukunya. Lebih menarik lagi saya baru pulang dari wilayah pekalongan yang arabnya kental sekali. Hotel saya menginap adalah hotelnya orang arab (nama hotelnya Binumar -dari kata Bin Umar). 


Waktu naik gocar saya ngobrol dengan sopir (dia memakai setelan baju koko dan sarung), bahwa di kota pekalongan jalanannya kosong tidak seperti Bandung yang macet. 


Ia tertawa dan bilang Pekalongan itu macetnya hanya kalau ada tabligh akbar, pengajian, dan acara-acara yang mendatangkan para habib. 


Oya? tanya saya. 


Iya, Mbak. Hotel penuh, parkiran penuh, jalan juga susah soalnya macet. Katanya lagi. 


Di sini hari libur mayoritas hari jumat bukan hari minggu, Mbak. Cuma pegawai negeri sama sekolah negeri yang libur hari minggu. Tambahnya lagi, tanpa saya tanya. 


Hah? Beneran? tanya saya dengan nada tidak yakin. Hari terakhir saya berada di kota pekalongan adalah hari minggu dan suasananya sepi. Mungkin karena cuaca panas terik jadi warga baru keluar rumah sore hari. 


Ternyata sepi di hari minggu itu maybe yes maybe no karena sebagian besar warga di sektor informal tetap bekerja, sebab liburnya di hari jumat. 


Waghhhhh pengaruh arabnya seberpengaruh itu kota pekalongan, ternyata ya. 

Dua Jam Makan Siang dan Ngopi di Sragi

07/10/25

Tiga hari di Pekalongan saya memulainya sendirian di Sragi, 16 km dari pusat kota. Jauh sekali dipikir-pikir untuk apa ke sana. Mungkin di lain waktu saya tidak akan melakukannya lagi bila tanpa bersama siapapun. Makin tua memang makin terasa kalau berjalan sendiri itu rasanya kesepian. 



Padahal di jalan bertemu Mas Badi, driver ojeg online yang santun dan budiman. Bisa saja saya mengajaknya makan siang dan mengobrol agak lama. Tapi mengapa saya tidak melakukannya, ya entahlah! Semakin tua semakin mager bersosialisasi kah? 


Di Sragi ada pabrik gula satu-satunya yang masih beroperasi sejak zaman belanda dulu. Pernah ada 17 pabrik gula di kabupaten Pekalongan, hampir semuanya sudah mati. 


Pergilah saya ke Sragi, sudah sejak lama saya ingin melihat suasana pabrik gula dan rumah-rumah dinasnya. Informasi tentang Sragi saya ketahui dari instagram, dari akunnya Aditya. Makasih, Kang Adit! 



Omah Carkonah adalah tujuan saya di Sragi. Rumah tua yang juga pernah jadi rumah dinas pegawai pabrik gula. Sekarang rumahnya menjadi rumah makan. Saya tiba di sana tepat sebelum waktu sholat jumat. Saya meminta nomor telepon Mas Badi dan memintanya kembali lagi pukul dua siang dan menjemput saya. Ongkosnya saya tanggung PP kali dua. Menumpang bis dan mencari ojeg pangkalan lebih adventurous tapi dengan usia saya dan waktu terbatas lebih baik membayar agak mahal buat Mas Badi. 


Sepertinya memang saya makin menua ada benar ada efek lainnya. Sekelebatan nostalgia saat jalan-jalan juga bermunculan seiring pemandangan yang muncul. Tidak hanya saya menemukan suasana dan pemandangan baru, tapi juga yang lama-lama yang terasa seolah saya pernah di sana. 


Waktu kelas 2 SMA (di Cirebon), saya pernah kerja kelompok di rumah seorang teman di kompleks pabrik gula Tersana Baru. Dari terminal Harjamukti saya menumpang elp bersama Heru, teman sekelompok. Dia berdiri berayun-ayun di pintu elf. Saya duduk tergencet di dekat pintu. Suasana elf di pagi hari selalu ramai penumpang. Tahun 2000 hanya elf satu-satunya angkutan menghubungkan kabupaten ke kota. 


Kami turun di depan komplek pabrik gula dan Rija menjemput. Di Desa Babakan namanya. Dia menuntun kami ke rumahnya yang bentuknya sangat klasik. Rumah ala-ala orang belanda. Saya ternganga, seandainya Rija bisa menjadi saksinya maka ia akan menyatakan melihat saya terbengong-bengong menatap rumahnya dan rumah-rumah tetangganya. 


Karena rumah di sana indah sekali. Halaman berumput agak luas dan berpohon. Rumah tanpa pagar, ada jalan menuju ke teras, di terasnya bisa duduk-duduk memandang jalanan, jendela besar-besar, pintu tinggi-tinggi, langit-langit seperti tak terjangkau. Saya memuji rumahnya sementara Rija terlihat tidak betah. Katanya ada kunti*anak di rumah. 


Hahaha kami tertawa, saya juga sambil menatap langit-langit yang Rija tunjuk di mana kunti itu sering muncul. 


Ayahnya bekerja di PG Tersana Baru dan tahun itu mereka pindah dinas ke Cirebon. Rupanya itulah alasan mengapa Rija menjadi anak baru di sekolah kami. 


Saya kira kenangan itu yang muncul saat saya berada di Sragi. Kenangan bertemu dengan rumah tua rumah dinasnya pegawai pabrik gula Tersana Baru yang teman saya diami. 


Saya masuk ke Omah Carkonah dan menelusurinya sampai ke belakang. Ukuran rumah dan ruang-ruangnya lebih besar daripada rumahnya Rija, saya pikir begitu. Pengunjung terlihat ada banyak. Suara musik mengalun. Pegawainya hilir mudik. 


Makanan di sini tersaji prasmanan. Mbak-mbak Omah Carkonah mengatakan garang asamnya best seller. Namun mulut saya sedang enggan mengunyah daging apapun. Saya ambil piring dan memilih menu nasi, lodeh, dan tempe mendoan. Minumnya harus yang segar jadi es asem jawa saja. 


Duduk menghadap jendela paling besar saya menyantap makan siang. Enak juga. Menu yang ratingnya 8 dari 10. Memuaskan kalau menyantap makanan enak yang kita pilih sendiri tanpa rekomendasi siapa-siapa. 


Makanan habis saya minta izin memotret. Boleh, kata pegawainya. 


Terdiri dari tiga kamar besar, satu ruang tamu, dua teras, satu garasi, dan dua ruangan lainnya, Omah Carkonah sangatlah luas! Belum lagi halaman depan dan belakang. Secara keseluruhan rumahnya memang tua tapi pintu, jendela, dan ornamen di teras sepertinya sudah mengalami perubahan. Tidak nampak seklasik itu soalnya. 


Saya berpindah ke rumah sebelah yang berfungsi sebagai coffeeshop: Teman Semeja. Di sini lebih sedikit pengunjung dan ruangannya banyak kosong, hawa rumah kolonial lebih terasa. Juga saya rasakan angker atau saya memang penakut, jadi saya duduk di teras saja menunggu pesanan datang. 



Namanya juga kofisop, karyawannya anak-anak muda berpakaian hitam. Lengkap dengan mbak-mbak cantik sebagai barista.  Pemandangan skena di Sragi siang itu saya lihat di Teman Semeja.  


Dua rumah dinas pabrik gula Sragi inilah yang mengalami perubahan fungsi. Rumah-rumah sebelahnya ada yang kosong dan ada juga yang masih berpenghuni. 


Saya berjalan menyusuri sepotong Sragi dan melihat pabrik gula dari luar. Asap cerobong pabrik sedang bekerja. Rupanya saya datang di saat pabriknya sedang giling tebu. 


Mas Badi -driver ojeg online- cerita kalau pabrik gula tersebut hanya aktif kalau panen tebu. “Cuma lima bulan aja, mbak” katanya.


Terus sisa tujuh bulan ngapain, Mas? 

Ya pabriknya kosong saja, Mbak. Sambil nunggu panen tebu yang berikutnya.


Saya tanyakan kembali padanya apakah ia bekerja di pabrik gula juga, sebab Mas Badi memberitahu kalau rumahnya berlokasi di Sragi dekat pabrik gula. 


“Enggak, kalo kepingin kerja di pabrik gula mesti orangtuanya pegawai juga di sana,” jawabnya lagi. 


Oh gitu, baru saya ketahui fakta tersebut. 



Saya meninggalkan Sragi yang (sangat) panas cuacanya. Truk-truk pengangkut tebu hilir mudik melindas jalanan dan debunya. Luar biasa sibuk sekali. Motor Mas Badi beberapa kali berpapasan dan menyalip truknya. Bagaimana sibuknya jalanan Sragi dan jalanan pantura di masa lalu saat pabrik gula sedang jaya-jayanya ya! 


Tidak hanya pabrik gula yang ada di Sragi, ada juga pabrik konveksi dan entah apalagi. Saya melihat setidaknya ada lima pabrik di antara pesawahan luas dan pepohonan pinggir jalan itu. 


Dari Sragi saya meminta Mas Badi mengarahkan motor ke kota. Saya turun di depan masjid Ar-Raudhah, hanya beberapa meter saja dari Binumar, penginapan yang saya booking kamarnya tiga hari dua malam di Pekalongan. 


Mas Badi, matur nuwun ya. Saya betulan sangat berterima kasih padanya karena mau mengantar jemput dari kota-kabupaten-kota. Ia pun dengan santun mengatakan yang sama. Katanya jangan segan-segan mengontak lagi kalau butuh bantuan. Saya cek ratingnya di aplikasi, pantas layanannya mantap. Ratingnya 5.0. 


Sore itu saya tidur di kamar hotel, Pekalongan hari pertama selesai. 


Bersama Cerita Bandung, Berjalan Kaki ke Gunung Padang Cianjur

10/05/25

Harus sih cerita ini di mana-mana dan kepada siapa saja, bahwa saya berhasil tiba di gunung padang cianjur melalui rute hiking dan trekking yang levelnya intermediate, di umur 40 tahun, dengan terseok-seok dan selamat. 



Rasa-rasanya saya termasuk rajin olahraga. Setidaknya berjalan kaki. Akan tetapi saat diterjunkan di perbukitan cianjur dan hiking 8 km tubuh ini berasa sempoyongan, malu kalau pingsan jadi saya menguatkan diri sendiri saat menempuh perjalanan tersebut. Lol. Capek. 


Trip ke gunung padang cianjur (22/02/2025) saya ikuti bersama geng Cerita Bandung. Mereka membuat tur jalan kaki merambah hutan, sungai, perbukitan, bahkan kaki-kaki gunung dalam tajuk #JalaninAja. 


Meski berulang kali saya mengikuti tur jalan kaki Cerita Bandung, tapi ini pertama kali saya mendaftar tur bertema petualangan mereka. Tentu saja demografi profil peserta tur mayoritas muda mudi cekas berotot super. Langkah kaki mereka lebar dan gagah-gagah. 


Ada juga saya perhatikan tiga peserta yang lebih tua, tapi mereka tidak kalah cekasnya dengan yang berusia muda. Gokil. 



Bila ada peserta tur yang termasuk kategori jompo maka itu adalah saya: berjalan selalu di urutan paling belakang.


Bahkan dengan belagunya saya tidak merasa butuh tongkat bantuan menopang badan, semacam trekking pole. Uwie, rekan perjalanan terbaik, berhasil meyakinkan dan memberi saya tongkat yang terbuat dari batang pohon entah apa. Terima kasih, Uwie! Sepertinya ia sengaja berjalan paling belakang buat menemani saya, bukan karena dia sama jomponya dengan saya. 


Kami tidak menaiki ratusan anak tangga gunung padang cianjur yang legendaris itu. Melainkan hiking dan trekking, masuk dari jalan belakang, melalui perbukitan dan perkampungan tembus jalan masuknya langsung ke undakan ke-5 gunung padang. 


Normalnya bila kamu mengunjungi situs kuno ini adalah bayar tiket di depan, naik tangga batu ratusan jumlahnya mungkin hanya 15 menit durasinya kalau stamina kamu bagus, dan ketemu dengan undakan ke-1. Ada lima undakan di gunung padang cianjur. 


Rute jalan kaki menuju Gunung Padang Cianjur bersama Cerita Bandung sangat berbeda dengan rute yang saya tempuh dulu di tahun 2007 dan 2010 (bisa baca di sini). Jalan kakinya 8 km terasa seperti 20 km. Waktu tempuh tiga jam. Satu jam terakhir konturnya tanjakan tanpa henti. 



Saya berjalan kaki membelah perkebunan teh, menyisir rumah warga di pedalaman kampung Ciukir, menyebrang kali (harfiah di sungai, bukan lewat jembatan), menapak di pematang sawah, masuk leuweung, dan tanjakan demi tanjakan yang bikin jantung merosot. 


Selama di jalan saya mengutuk diri sendiri mengapa sign-in dalam tur ini. Hahaha. Berat badan dan kenyamanan kota membuat saya menjadi manusia urban yang menyebalkan: terpisah dari tanah berbatu, berjarak dengan jalan rerumputan, kesakitan saat lengan bersentuhan ranting-ranting pohon teh, takut dengan jalanan terjal bukit, dan khawatir tisoledat di rute menurun. 


Pada waktu itu saya pikir selamanya saya akan memilih tur jalan kaki di kota saja yang ada alfamartnya dan ada gojeknya. Memang di momen-momen traveling seperti ini kita bisa mengenal diri sendiri dan boundaries-nya.


Tapi apakah iya saya menyesali perjalanan ini? Mengapa saya mau datang lagi ke Gunung Padang Cianjur untuk yang ke-3 kalinya?


Terjawab sudah saat menginjakkan kaki di Gunung Padang Cianjur yang sangat memukau pemandangannya. Saya menepuk pundak diri sendiri. Terima kasih membawa saya pada perjalanan ini, Lu. Tidak menyesal. The beauty of gunung padang cianjur dan nostalgia berjarak 15 tahun meluluhkan rasa lelah dan pegal-pegal. 


Pukul dua siang, sinar matahari bengkok. Meski langit kelabu sejak pagi hari, tapi di gunung padang langit sebagian membiru. Awan bergumpalan. Angin berhembus pelan, anginnya menyisip ke sela-sela kerudung dan pakaian saya. Suara daun bergesekan. Mulut burung-burung berkicau. Semua yang saya dengar, lihat, dan rasakan di sana sangat menyentuh kalbu. Indah sekali. 


Ada beberapa orang seliweran, selain kami. Namun rasa tentram menyusup ke sanubari meski kamu tahu kamu tidak sendirian di sana. 



Pukul lima pagi saya memulai trip ini di Stasiun Bandung, jam tiga sore saya bersandar di rerumputan menatap langit dan membasuh wajah dengan energi gunung padang yang tidak kasat mata. Betul-betul terasa sebagai puncaknya perjalanan. Pukul empat sore kami harus beranjak kembali ke Stasiun Lampegan. 


Tahun 2011 muncul desas-desus gunung padang cianjur yang disebut situs kuno terbesar di dunia. Bagi saya ini situs yang menarik dan ya sudah berhenti di situ saja. Fakta bombastisnya yang viral -dan masih diperdebatkan itu- tidak berpengaruh terlalu signifikan secara pribadi. 


Namun karena perhatian dari pemerintah, peneliti, bahkan liputannya juga tayang di serial dokumenter Netflix, Gunung Padang Cianjur memanglah terawat pemeliharaannya. Berbeda sekali kondisinya di tahun 2007, saya harus ketok-ketok pintu rumah kuncennya, meminta izin naik ke gunung padang. Sekarang? saya itung ada enam pemandu yang siap sedia di pintu loket. Ya, bahkan ada pintu loketnya! 


Kekaguman saya ada pada pemandangan bukit ini dan energi yang entah bagaimana membuat saya merasa tentram dan sentosa hanya dengan berdiri/duduk/berbaring di sana. Semua bebatuan heksagonal bergelimpangan secara teratur, dikelilingi pepohonan. Perbukitan dan Gunung Pangrango bisa terlihat.  Indah sekali. 




Gunung Padang Cianjur terdiri dari lima undakan. Tiap undakan menandakan lima ruang.  Undakan ke-5 adalah yang tertinggi, ada bebatuan yang ditancapkan menyerupai nisan, entah itu makam ataukah bebatuan yang sengaja disimpan dengan formasi tertentu agar terlihat sakral. 


Di undakan ke-2 ada pohon kemenyan yang dilingkari tali. Tidak jauh darinya ada sesajen. Ada papan larangan berbunyi dilarang memakai alas kaki saat menginjakkan batu di sekeliling pohon tersebut. Begitulah kepercayaannya. 


Namun terlepas dari kesakralannya, kita bisa duduk bersantai di sini. Melepas lelah, membebaskan diri sendiri dari penat, mengisi tangki udara bersih ke paru-paru, atau membayangkan bagaimana kehidupan kuno berlangsung di gunung padang, sebelum kembali ke kota dengan terbengong-bengong dan terguncang, kembali pada kehidupan yang padat pekerjaan dan tayangan di layar kaca ponsel, tanpa henti. 




dokumentasi:

Foto 1-2-6 dokumentasi Cerita Bandung

Foto 3-4-5 dokumentasi pribadi

Di Sukabumi Beberapa Malam

06/02/25

Dari Stasiun Sukabumi ke hotel di Jalan Siliwangi jaraknya hanya 1,4 km. Kita jalan kaki? tanya saya pada Indra. Iya, jalan kaki, katanya semangat. 




Otw Hotel


Yang tidak kami ketahui adalah kontur jalanan di kota tersebut nanjak (tanpa mudun). Bila di Bandung bayangkan berjalan kaki dari Gandok ke Siliwangi dan teruskan ke kampus Unpar di Ciumbuleuit. Sambil gendong ransel bekal nginap dua malam tiga hari. 


Keluar stasiun kereta api kami bertemu dengan Jalan Stasiun Timur yang astaganaga tanjakannya! Masih belum cukup kami berjodoh dengan Jalan Gudang yang masih nanjak juga. Hwarakadah! 


Napas mau putus rasanya tapi kami seperti kerasukan semangat pasukan galia jadi maju terus pantang pesan taksi online. 


Tiba di kamar hotel kami langsung terjun ke kasur. Semaput. 


Kalau kamu berpikir anjirlah segitu doang kayak mau mati, maka katakan hal yang sama pada dirimu sendiri saat kamu berusia paruh baya nanti yang baru aja selesai melakukan perjalanan dari pukul 8 pagi sampai 5 sore: naik bis, naik kereta, naik angkot, naik kereta, jalan kaki pake nanjak. Modyar.



Makan Malamnya


Makan-makan di sukabumi kami mampirnya ke restoran makanan chinese sebelah hotel. Rumah Makan Haroemsari namanya. Halal jadi kami sikat ayolah. 


Kami pilih menu ayam jahe, ifumi, dan kwetiaw. Hamdalah enak-enak semua khas masakan tionghoa yang beraroma bawang putih dan citarasa saos tiramnya. Hehe. 





Jajan Oleh-Oleh


Buat oleh-oleh kami belanja penganan tersohor ala sukabumi: mochi. 


Tentang kenapa mochi jadi kuliner khasnya saya pun tidak tahu. Yang pasti orang-orang keturunan tionghoa yang meracik makanan ini, begitupun tokonya milik mereka juga. Mulanya saya pergi ke toko mochi 39 yang cenah toko tua permochian di sukabumi. 


Sayang stok mochi mereka habis. Belum jam 12 siang loh padahal. Ternyata kita harus order dulu pagi harinya, gokil sih mochi limited judulnya. 


Jadi kami belanja ke toko Mochi A Yani. Bungkus mochi kacang aja seperti biasa. Enak gak? Enaaakkkk! hehe



Sekitar Stasiun Sukabumi


Setelah membungkus dua kotak mochi di Toko Mochi A Yani saya hanya perlu berjalan lima menit menuju Toko Nyonya. Menuju ke sana saya harus sebrangi satu perempatan jalan yang sibuk, angkot-angkot warna merah muda seliweran. Kota Sukabumi agak panas siang itu. 




Awalnya saya kira Toko Nyonya adalah toko kelontong, semacam toko serba ada. Saya akan masuk ke tokonya dan beli minuman botol di sana! Demikian rencananya. 


Sampailah saya di lokasi tujuan. Kulihat-lihat dan terbengong. Toko Nyonya bukan toko kelontong melainkan toko yang menjual pakaian dalam perempuan. 


Membeli pakaian dalam menurutku tidak bisa dilakukan secara spontan. Harus ada persiapan. Harus ada niat dari rumah. Jadi siang itu saya putuskan melihat tokonya dari luar saja. Besok-besok jika ada kesempatan ke Sukabumi lagi saya pasti sudah persiapkan diri belanja kutang atau celana dalam di Toko Nyonya.


Tahun 2025 dan seterusnya kami akan lebih sering jalan-jalan di Sukabumi. Ya sepertinya bakal begitu. 




Tulisan lainnya tentang Sukabumi

Menginap di Tanakita 

Menumpang kereta api dari Cipatat Bandung ke Sukabumi

Geotrek Dua Hari Tiga Malam di Ciletuh

Sore-Sore di Kotagede Makan Gudeg Krecek

15/01/25

Tur jalan kaki di Kotagede selesai pukul 17.30. Kupikir daripada kembali ke penginapan lebih baik saya cari makan dulu. Ke arah Pasar Legi saya berjalan dan berhenti di sana menyantap makan malam lezat bernama gudeg krecek. 




Makan malam yang nikmat. Duduknya menghadap bangunan pasar. Langit menghitam, magrib sudah menjelang. Selesai makan saya beranjak jalan kaki lagi sambil memotret bangunan tua di pinggir jalan. 


Terakhir kali saya menyisir jalanan kotagede di tahun 2016. Sudah berlalu terlalu lama. 


Saya mencari satu pintu tua diantara jalanan tersebut, yang pernah saya jadikan latar berfoto. Meski agak ragu apakah bakal menemukannya karena hari sudah gelap dan tidak yakin otak saya akan mengingatnya. 


Ternyata ingat. Bahkan warna cat pintunya masih sama. Hijau tua. Tapi agaknya jalanan aspal mengalami peninggian. Mungkin diaspal beberapa kali, entahlah. Di gedung pintu tersebut berada ada spanduk bertuliskan DIJUAL. 




Sembilan tahun lalu saya menggendong nabil di punggung. Indra berada di seberang jalan dan memotret kami berdua. Saya memandang pintu itu dari seberang dan membayangkan berada di sana bersama nabil. Memang betul waktu terbangnya cepat sekali padahal hari demi hari dan tahun demi tahun berlalunya bukankah lama. 


Sedikit berjalan lagi saya bertemu toko buku Natan. Sayang tokonya baru tutup, waktu sudah menunjukkan pukul hampir 19.00 sedangkan tokonya tutup saat magrib. 


Tahun 2022 saya pernah berkunjung ke toko tersebut siang-siang di hari jumat yang mendung. Niatnya mau mampir lagi, apa daya kemalaman. 



Saya berjalan lagi sebentar. Tanggung. Ada toko es kelapa muda, saya jajan dulu satu butir. Seperti di bandung, trotoar di sini sama buruknya. Tidak dirancang buat pejalan kaki.   


Azan isya terdengar. Barulah saya pesan ojeg online, waktunya pulang, sori maksudnya kembali lagi ke penginapan.Kapan-kapan saya datang lagi ke Kotagede tapi tidak sendirian. 


 

Obrolan Makan Siang Bersama Tante Wiwin di Gang Kimto Kota Tegal

18/10/24

Pengalaman paling berkesan di Tegal yang sangat panas itu adalah makan siang di kantin Lima Sari. Lokasinya di Gang Kimto. Kami berkenalan dengan pemilik sekaligus koki yang memasakkan kami nasi goreng yancho dan mie ayam: Tante Wiwin. Ia, dengan penuh simpati, menaruh kipas angin tambahan dekat meja makan agar kami tidak kegerahan. 

 

kantin lima sari tegal

 

Mulanya saya dan Retna hendak menuju Nasi Lengko Lumayan di Gang Kimto. Dari stasiun kereta api kami gunakan googlemap untuk menuntun ke sana. Namun yang tidak kami ketahui, kami berjalan memutar menjauhi jalan utama dan membelah pasar. 


Saat mulai mempertanyakan apakah kami ini kesasar, ketemulah gang yang dimaksud dan saya langsung kalap bersukacita.



 

Karena sepanjang gang tersebut berjajar dan saling menempel rumah-rumah tua. Kira-kira mirip di Kauman Jogjakarta.


Rupanya kami masuk ke Gang Kimto dari arah belakang. Bukan mulut gang bagian depan. Padahal rencananya mau makan nasi lengko - banyak direkomendasikan warga tiktok dan reels- berlokasi di depan gangnya. 

 

Di gang itulah saya keluarkan hp dan motret jendela-jendela rumah. Retna memotret pintunya. Kami berusaha tidak berisik dan tidak mengganggu para penghuni. Gangnya sempit, lebarnya hanya muat dua motor. Sesekali motor dan pejalan kaki lewat. 

 

kantin lima sari tegal


Tidak sengaja di gang tersebut kami bertemu sebuah rumah tua yang juga warung makan bernama Kantin Lima Sari. Saya putuskan makan siang di situ saja. Retna sepakat. Suasana yang hening dan dikelilingi rumah tua menambah kesan makan siang yang istimewa.


Tante Wiwin menyambut ramah turis-turis basah kuyup karena keringat ini. "Darimana?" tanyanya. Kami menyebut Bandung dan ia menyambar "ohhh Bandung! Bandung tuh enak tapi sayang jalanannya sempit! macet!" kami tertawa. Tanda perkenalan yang manis. 


Saya memesan nasi goreng dan Retna memilih mie ayam. 


Saat menyantap makan siang itu, suara ‘dug—dug-dug’ dari tembok sebelah terdengar keras, rapi, bertempo, dan gagah. Suaranya berlangsung agak lama, bertalu-talu sepanjang kami berada di sana 1,5 jam. Suara apakah itu, tanya saya pada Tante Wiwin. 

 

kantin lima sari tegal
kantin lima sari tegal
kantin lima sari tegal


Tante Wiwin cerita bahwa ibunya pedagang bakso sejak tahun 1969. Produksi baksonya rumahan dan ia lakukan sendiri. Ia dan ibunya masih tinggal serumah. Kantin dan produksi baksonya bersebelahan. Suara yang kami dengar adalah suara pisau golok mencincang daging sapi dan ikan dari balik dinding. 



 

“Maksudnya, ibunya Tante Wiwin yang cincang daging? sendiri?” tanya saya memastikan. Maksud saya sih, sepertinya usia Tante Wiwin tidak muda. Lantas berapa usia ibunya? 

 

"Iya, ibu saya masih cincang daging sapi sendiri," katanya lagi. "Umurnya 84 tahun, tangannya kuat wong kalau nonton tv sambil olahraga barbel,” Tante Wiwin cerita sambil memperagakan adegan angkat barbel ke atas kepala dan bawah. 



 

kantin lima sari tegal

Hah, saya dan Retna berpandangan seolah-olah mata kami berkata 'kok bisa!'


"Gak pake mesin aja, Tante? kayak blender kan ada yang khusus buat daging," tanya sambil elus-elus lengan saya yang berlemak itu. 

 

Ibunya Tante Wiwin tidak mau mencincang dengan blender/chopper karena dagingnya nanti akan berair. “Gak bagus buat adonan bakso,” ucapnya. 



 

Saya bertanya lagi. Kalau boleh tahu berapa berat barbel yang digunakan ibunya Tante Wiwin. “Ah paling sekiloan aja,” jawabnya. Ia menambahkan “jualan baksonya juga sehari sekarang paling banyak lima kilo.” 


 

Saya dan Retna berpandangan. Sepertinya di Bandung nanti kita harus rajin olahraga barbel, Na. Retna setuju. Mungkin angkat barbelnya sambil nonton drakor atau skroling reels. Retna menggangguk. Rencana olahraga itu kami wacanakan saat mulut ini sibuk dengan nasi goreng dan tangan Retna menabur sambal ke mie ayamnya. 

 

kantin lima sari tegal
kantin lima sari tegal


Berarti sudah 55 tahun mereka berdagang bakso. Sudah puluhan tahun juga ibunya Tante Wiwin olahraga angkat beban -sambil nonton tv- agar kekuatan otot tangannya terbangun dan sanggup mencincang daging sapi sendiri. Walah betapa ini fakta yang menakjubkan. 



 

Saat pamit pada Tante Wiwin, kami mengintip-ngintip ke jendela sebelah. Di sanalah ada sosok perempuan sedang berjalan perlahan, agak bungkuk, tersenyum pada kami, dan sedang siap-siap mau mencincang daging sapi entah batch cincangan yang ke berapa. 



Usia pensiun, masih olahraga angkat beban sambil nonton tv, masih bekerja mencincang sendiri daging sapi, masih berjualan. Inikah yang namanya slow living itu? 

Kereta Tiba Pukul Lima di Stasiun Tegal

16/10/24

Dari Cirebon kami menumpang kereta api pagi ke Stasiun Tegal. Pukul 10.41 kami tiba di tujuan dan wow terbengong-bengong memandang interior arsitektur bangunan stasiunnya, cantik sekali! 

 

 


Berjodoh juga saya dengan kota ini. Seperti Cirebon, ketinggian Tegal dari permukaan air laut hanya 4 m. Dengan begitu saya pun sudah siap menghadapi hawa panasnya, dengan payung!

Namun sebelum menginjakkan kaki keluar stasiun, saya dan Retna melihat-lihat bangunan utama stasiunnya. Walah indah sekali. Bangunan utama berbentuk kubus. 

 

Di dinding timur dan barat ada dekorasi kaca patri. Pada dinding bagian barat ada satu kaca patri besar melengkung. Semua orang diarahkan langsung masuk ke gate tiket atau duduk di ruang sebelah. Kami memandang interior Stasiun Tegal itu dengan berdiri. 

Mungkin hanya petugas tiket dan punggung kitalah yang akan menyaksikan betapa menawannya dinding barat tersebut. Sebab gate keberangkatan membuat penumpang berdiri membelakangi dinding tersebut.

 

Orang-orang pun hanya mondar-mandir dari sayap kiri gedung ke kanan dan sebaliknya. Jadi teman-teman, bila nanti ada kesempatan mengunjungi Tegal melalui jalur kereta api, tengoklah sebentar keindahan interior arsitekturnya itu. Luar biasa cakepnya.

Karena dinding berkaca patri di pintu masuk itu mengarah ke barat, kalau cahaya senja meluap-luap tentu terbayang bagaimana bayangan dan berkasnya jatuh ke dalam gedung stasiun. Sewaktu saya di sana matahari sorenya tidak terlalu berkilau, sore yang kelabu. Padahal siang harinya panas mentrang. 

 


atap stasiun tegal

Walau demikian saya kebagian sedikit berkas cahaya suci itu dan kamera hp android megap-megap memotretnya. Sedangkan mata saya  menangkap keindahan senja di Stasiun Tegal itu dengan manis.


Bagian atap stasiun tidak kalah manisnya. Atapnya menjulang tinggi dan terbuat dari susunan balok kayu. Mirip tumpangsari. Jujur saja itulah langit-langit bangunan stasiun tercantik yang pernah saya lihat. Saya beruntung bisa menyaksikan itu semua.  

Stasiun Tegal dibangun tahun 1885. Beda setahun dengan umurnya Stasiun Bandung. Tapi umur kota beda jauh. Umur kota tegal 444 tahun sedangkan kota bandung masih anak-anak yakni 214 tahun. Info lain-lainnya tentang stasiun ini bisa teman-teman baca di wikipedia. Namun ada satu fakta menarik yang saya temukan waktu googling arsitek bangunan Stasiun Tegal: Henri Maclaine Pont.

Maclaine Pont adalah juga arsiteknya bangunan ikonik nan cantik di Bandung bernama Aula Barat dan Aula Timur ITB. Menarik sekali sebagai orang bandung saya bisa terhubung dengan kota tegal karena ada jejak arsitek kolonial yang sama, selain warteg dan teh pocinya itu. Hehe. 

 

stasiun tegal


Retna dan saya memotret habis-habisan bangunan Stasiun Tegal. Namun saat berfoto di luar saya tidak bisa berkutik. Mataharinya serasa di atas kepala. Payung masih saya simpan dalam tas. Temperatur saat itu 34 derajat celsius. Pukul 11 siang. Panas ngabetrak!

Dari Bandung ke Tegal pergi - pulang satu hari:
1. Naik shuttle Bhinneka jurusan kota Cirebon pukul 6.15
2. Di Cirebon, naik gojek ke Stasiun Prujakan
3. Beli tiket goshow ke Tegal, Rp35.000
4. Menumpang KA Kaligung pukul 9.10
5. Sampai di Tegal pukul 10.41
6. Kembali ke Stasiun Tegal naik KA Airlangga tujuan Cirebon pukul lima sore
7. Turun di Stasiun Prujakan pukul 18.45
8. Naik gojek ke pool travel/shuttle
9. Otw ke Bandung naik shuttle Bhinneka pukul 19.30
10. Sampai di Bandung 21.30

 

stasiun tegal sore hari
stasiun tegal kala senja


Jam keberangkatan dan kepulangan bisa berubah tergantung jadwal kereta api yang sewaktu-waktu bisa berubah juga. Namun bila teman-teman ada rencana trip ke Tegal sebagaimana saya, maka bisa contek jadwal di atas. Kalau ketemu shortcut Bandung-Tegal yang lebih cepat juga boleh dibagikan infonya di komen.

Pergi pulang satu hari memang melelahkan. Idealnya menginap dan menikmati Tegal seluas-luasnya. Namun tidak semua orang memiliki keistimewaan yang ideal itu. Waktu tidak banyak, budget tidak berlebih. Adanya segitu ya dinikmati dan dijalani saja yang ada. Tujuh jam di Tegal bagi saya sendiri sangat terasa nikmatnya.

Jadi jalan-jalan ke Tegal kan? Jadilah hayuk!

Tujuh Jam Melancong di Sekitar Alun-Alun Tegal

15/10/24

Hanya tujuh jam saja kami mubeng-mubeng 13.000 langkah sekitar stasiun kereta api dan alun-alun. Menu utama plesiran yang saya dan Retna lakukan adalah melihat rumah-rumah kuno kota Tegal.

jalan-jalan di alun-alun tegal
photo courtesy: Retna


Jalanan Tegal lengang.  Meski hawa terik matahari langsung membantai kami sejak keluar dari pintu stasiun rasanya hati ikut kebawa lega karena kondisi trafik yang tenang. Kira-kira pukul 11 siang waktu kami menapaki trotoar jalan.
 

Enak ya gak macet, pikir kami. Lalu kesadaran itu datang, bahwa sepertinya kami saja yang jalan-jalan di siang bolong nan terik. Bahkan di Bandung pun saya akan berpikir hal yang sama sebagaimana warga Tegal: ngapain siang-siang panas-panas keliaran di jalan.

Namun semangat turis beda. Kami rela berjalan kaki jauh dan panas-panasan. Bagaimana lagi. Kalau sudah cinta pasti senang hati melakukannya. Kata Alberto Camus "cinta adalah keinginan yang menyengsarakan tapi jangan berpikir kalau cinta tidak berguna". 

Dan tentang panasnya Tegal saya tidak bisa bercerita banyak. Luar biasa. Orang Bandung darah murni seperti Indra, suami saya, pasti akan kalang kabut dibuatnya. Kalau darah campuran ala saya dan Retna masih sanggup menghadapinya tanpa lolongan keluh kesah.

Retna merupakan teman yang saya kenal di tur jalan kaki kota parakan tahun 2023. Ia juga menginisiasi grup jalan-jalan santai di Bandung bernama Mapah Sareng. Hamdalah dalam trip tegal ini saya berjodoh dengannya dan dia banyak memotret saya (dari belakang). Mungkin retna bisa nyambi dari profesi apotekernya dengan merintis usaha fotografi traveling. Ada bakat motret soalnya. Semua foto yang ada dalam artikel ini dijepret olehnya. Makasih banyak, Retna!

 

 

Berkat bantuan teman lainnya pula tujuan perjalanan ke tegal ini jadi konkrit. Saya mencontek hampir semua lokasi tujuan berdasarkan foto-foto di instagram Aditya Indi. Makasih ya, Kang Adit! Postingan tentang rumah tua dan kota-kota kecil yang paling banyak saya save post di media sosial pasti dari feednya beliau. Bantuannya sangat detail sampai-sampai mengirim link googlemap. Dengan mudah saya membuat perkiraan waktu dan jarak antar lokasi.

Pada prakteknya ada beberapa tujuan yang kami lewat. Seperti nasi lengko gang kimto dan kue tempel yang berada di Jl. HOS Cokroaminoto. Semua lokasi tujuan ini kami sambangi berjalan kaki, sesuai urutan.

  1. Stasiun Tegal
  2. Gedung SCS yang antik, berada di seberang stasiun kereta api
  3. Gedung menara air
  4. Makan siang di Kantin Lima Sari di gang kimto
  5. Toko kue Pia Ny. Liao
  6. Kelenteng Tek Hay Kiong
  7. Kedai teh Baharia
  8. Jajan kue tempel seketemunya di pinggir jalan
  9. Kembali ke Stasiun Tegal


Wajah kota tegal sepertinya sedang berbenah. Proses revitalisasi stasiun oleh KAI menyambut kedatangan kami di Tegal. Saya lihat di foto stasiun sebelum renovasi, ada pohon besar yang menaungi area depan stasiun. Sepertinya pepohonan tersebut ditebang. Moga-moga nanti ada ditanam pohon lagi ya. 

Trotoar jalan dari stasiun ke arah alun-alun bisa dibilang mewah. Lumayan nyaman dan leluasa bagi pejalan kaki karena lebar, tapi level ketinggian trotoar dari permukaan jalan terlalu tinggi. 

 

Terlihat ada ruang terbuka hijau di Taman Pancasila dan lahan alun-alun. Pemerintah Tegal merevitalisasi kawasan tersebut sejak tahun 2019 dan rampung pada 2021.

Saat saya menyusuri gang kimto dan beberapa gang lain terlihat di tengah jalannya ada jalur (selokan) air ditutup batu beton. Batunya dibolongi ventilasi (apa ya istilahnya?).

Di Gang Kimto kami ngobrol dengan Tante Wiwin, pemilik kantin Lima Sari. Saya bertanya padanya tentang jalan gang yang terbilang cukup mewah karena permukaan jalannya dari batu. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya jalan gang berupa tanah. Sekarang di gang-gang kota tegal wajib ada selokan di tengahnya. Namun proyek infrastruktur jalan gang ini membuat level jalan lebih tinggi dan selevel dengan pintu rumah warga. “Sekarang suka kecium bau juga dari selokannya,” kata Tante Wiwin.

pecinan tegal
photo courtesy: Retna

 

Sepertinya ada perbaikan sarana infrastruktur cukup masif di Tegal ya. Saya googling beritanya dan munculah artikel tentang revitalisasi kawasan alun-alun dan sekitarnya. Biaya perbaikan aspal di alun-alun 4 milyar, ongkos perbaikan trotoar di Jl Ahmad Yani yang disebut malioboronya kota tegal habis 9 milyar.

Mungkin saya beruntung kebagian wajah kota yang sudah layak kondisinya bagi pejalan kaki ini. Namun karena keterbatasan waktu (juga karena googlemap mengarahkan kami ke jalan-jalan kecil), kami tidak melihat alun-alun dari dekat.  

Terlepas dari infrastukturnya, berjalan di kota tegal cukup menyenangkan. Meski kepanasan tapi kalau ketemu tempat teduh terasa ademnya. Di ruang tamu toko pia Ny. Liao kami agak lama duduk-duduk di sana. Angin dari luar masuk ke rumah dan semriwing nikmat sekali. Dan pia sari buahnya sangat enak!

Juga di kedai teh artisan Baharia. Saya dan Retna nongkrong dan ngobrol sambil minum teh dingin. Kami duduk di teras. 

 

Langit sore yang biru, angin berhembus, suara daun bergesekan, warga sesekali lewat mengayuh sepeda berlatar tembok gedung tua ala pecinan, ada burung-burung walet terdengar kicaunya. Yang pasti suasana healingnya terasa sekali. Baharia buka pukul 3 sore dan kami satu-satunya pengunjung saat itu.

 

pecinan tegal
photo courtesy: Retna


Namun kami harus beranjak pulang.

Kereta api Airlangga membawa kami kembali ke kota cirebon. Saat kereta berangkat saya menatap jendela dan mengucapkan sampai jumpa lagi pada tegal.

Siapa tahu bisa berjumpa lagi karena saya ingin kembali ke sana, mengajak indra, nabil, dan unis. Tentu saja nanti akan menginap satu malam di Tegal, saya belum mencicipi tradisi minum teh poci ala tegal yang tersohor itu. Hunting buku bekas di pasar alun-alun. Juga belum menyantap nasi lengko, soto tauco, dan sate kambingnya yang aduhai konon lezat.

Tegal, sampai ketemu lagi ya!



*Tulisan tentang makan siang di kantin Lima Sari di Gang Kimto dapat dibaca di sini dan tulisan tentang cakepnya interior arsitektur stasiun tegal dapat dibaca di sini

Dari Stasiun Cipatat Menumpang Kereta Api Bandung ke Sukabumi

24/09/24

Stasiun Cipatat terasa asing dan jauh sekali, seperti di kota berbeda. Padahal masih di Bandung. Stasiun kecil inilah titik keberangkatan kereta api jurusan Bandung - Sukabumi. Menumpang kereta di jalur rel ini berarti merasakan rute kuno yang pertama kali menghubungkan Bandung dengan Batavia bermoda kereta api. 

 

stasiun cipatat


33 km dari Stasiun Bandung dan berjarak 16 km dari stasiun terdekatnya di Padalarang. Terasa betul terpencilnya Stasiun Cipatat dan makin besar keinginan saya mendatanginya. 


Sejak melihat postingan perjalanan Bandung-Sukabumi via kereta api Siliwangi pada stories instagramnya Matheus dan Yanti, saya langsung tulis di buku jurnal: PENGEN KE SUKABUMI NAIK KERETA API!

Tiga tahun berlalu keinginan itu terwujud pertengahan tahun 2024. Saya mengajak indra dan nabil. Berhubung kami ada keperluan ke Sukabumi juga. Mereka setuju. Namun indra mengajukan syarat, “jalannya santai ya jangan rusuh.”

Siap, jawab saya mantap. Mulailah saya riset menggunakan aplikasi KAI dan googlemap, mencatat waktu keberangkatan kereta api, dan sebagainya.

Begini konteks ‘betapa jauhnya’ stasiun cipatat: untuk menjangkaunya harus menumpang angkot dari Padalarang atau bis antar kota dari Terminal Leuwipanjang. Sebut nama Padalarang saja sudah terasa jauhnya, tambahkan Cipatat.

Setelah diskusi dengan indra, kami pilih jadwal kereta api siang. Pukul 14.00 dari Stasiun Cipatat. Sebab kalau pagi harus berantem dengan trafik jalanan, bila malam ya poek. Ada 3x jam keberangkatan KA Siliwangi dari Stasiun Cipatat.

Dari Bandung ke Sukabumi menumpang kereta api ongkos tenaganya banyak. Sedangkan ongkos uangnya murah. Itinerary perjalanannya dari rumah saya di kabupaten bandung (selatan):

  1. Pagi pukul 8.00 naik bis Teman Bus, menuju Stasiun Bandung
  2. Berhenti di halte rajawali dan berjalan ke stasiun selatan (kereta lokal)
  3. Menumpang kereta api lokal pukul 10.15
  4. Turun di Stasiun Padalarang, sekitar pukul 11.00
  5. Makan siang di foodcourt Stasiun Whoosh
  6. Naik angkot kuning jurusan Padalarang - Rajamandala
  7. Beritahu sopirnya kita mau turun di Stasiun Cipatat
  8. Angkot berangkat setelah ngetem lama, sekitar pukul 12.10
  9. Sampai di stasiun cipatat pukul 13 lebih sedikit
  10. Makan siang di warung sekitar stasiun
  11. KA Siliwangi datang, pintu tiket dibuka
  12. Pukul 14.00 kereta berangkat menuju Sukabumi
  13. Sampai di Stasiun Sukabumi pukul 4 sore

Total ongkos transport per orang dari rumah sampai Sukabumi: Rp26.900. Murah sekali. Lebih mahal ongkos makan. 

 

beli tiket di stasiun cipatat


Transportasi ini sangat membantu warga dan turis seperti saya. Bila saja Stasiun Cipatat bisa terhubung dengan Stasiun Padalarang via jalur rel lagi, pasti sangat amat membantu mobilitas masyarakat. Mangkas banyak waktu dan mempermudah akses.

Ada dua stasiun nonaktif yang menghubungkan padalarang dan cipatat. Relnya pun mati suri.

 
Penyebabnya (kata KAI) sih kontur yang terlalu terjal dan berkelok. Namun selama di dunia ini masih ada insinyur, bukan hal mustahil mewujudkan kembali jalur kereta padalarang - cipatat itu. Zaman dulu bisa, mengapa sekarang tidak. Masalahnya pemerintahnya saja sih mau gak nih.  

Sebelum tahun 2013, pusat kota bandung terhubung langsung dengan kereta api jurusan cianjur. Saya pernah menjajal jalur kereta bandung - cianjur. Saat itu rel kereta cianjur - sukabumi masih nonaktif. 

Tahun 2010 saya menumpang KA Argo Peuyeum dengan ongkos Rp2.000 menuju Cianjur. Kereta ini terdiri dari dua gerbong. Di Bandung saya naik dari Stasiun Ciroyom. Saat itu saya dan teman-teman hendak pergi ke Gunung Padang. Beruntung saya bisa mencipip jalur kuno kereta api ini sebelum ditutup. 

 

bandung ke sukabumi naik kereta


Pengalaman menumpang KA Argo Peuyeum sangat menyenangkan. Saya menulis sedikit tentangnya, bisa baca di sini.

Sedangkan pengalaman baru saya dengan KA Siliwangi juga tidak kalah mengasyikkan. Sebab saya berkesempatan mencicip jalur rel Cianjur-Sukabumi yang sebelumnya saya baca di buku.

Dalam perjalanan Bandung - Sukabumi pemandangan berupa pesawahan, hutan, balong, dan seisi alam semesta. Highlightnya ada di trek selepas dari kota cianjur ke arah sukabumi, yakni antara Stasiun Cibeber, Stasiun Lampegan, dan Stasiun Cireungas.

Dari stasiun cibeber ke stasiun lampegan kereta melaju hanya 5 km/jam. Suara antar gerbong berderit-derit. Jalan menanjak. Membuat ngeri sekaligus seru berdebar-debar karena kereta seolah-olah miring dan oleng ke kanan dan kiri. Sepertinya di jalur ini laju kereta paling pelan yang pernah saya naiki, selain kereta api mainan di taman lalu lintas kota bandung.
 
Di stasiun lampegan kereta berhenti sebentar. Saya duduk di gerbong 5 dan harus berjalan agak jauh sampai dekat gerbong depan agar bisa memandang bangunan stasiun lampegan (439 mdpl). 

 

bandung ke sukabumi naik kereta
stasiun lampegan


Saya keluarkan kepala dari pintu gerbong. Celingak-celinguk ke luar dan melihat panorama manis di stasiun mungil ini. Hawanya sejuk.

Sayang kereta cepat berangkat. Ya sudah saya berdiri di bordes menanti terowongan lampegan yang tersohor itu. Terowongan kereta api pertama di Indonesia yang panjangnya 686 m atau sekitar 2,5 menit durasi waktu menempuhnya.

Selepas stasiun lampegan saya dan indra mencari-cari letak posisi gunung padang. Apakah yang itu? tanya saya menunjuk bukit. Bukan, tapi yang itu, kata indra menunjuk bukit yang lain. Kami cocokan dengan posisinya di googlemap, yang mana sih gunung padangnya. “Itu, di balik bukit yang itu!” kata indra lagi.

Kami tiba tepat waktu di stasiun sukabumi pukul 4 sore. Stasiunnya sibuk sekali. Penumpang duduk di hampir semua sudut. Saya ingin memperhatikan detail-detail stasiunnya tapi sulit karena ada indra dan nabil. Mereka bergegas pergi ke luar stasiun sementara saya masih berfoto.

Sepertinya saya akan kembali menyusuri jalur KA Siliwangi ini, sendiri atau bersama teman-teman seagama #ytta. 

 

suasana stasiun sukabumi

bandung ke sukabumi naik kereta 

 

Bila saya teruskan perjalanan keretanya dari Sukabumi akan ketemu kota bogor. Kemudian dari Bogor masuk ke Jakarta. Maka artinya saya menempuh jalur kuno kereta api zaman hindia belanda jurusan Bandung - Batavia.

Saking lamanya perjalanan kereta api itulah pemerintah Belanda membuka jalur kereta baru, yaitu jalur Cikampek Purwakarta. Jalur ini yang sekarang jadi perlintasan kereta api pada umumnya. Sedangkan jalur antiknya, Bandung - Cianjur - Sukabumi, kini seperempat relnya mati dan sisanya dilintasi hanya KA Siliwangi.