Social Media

Image Slider

Skywalk Cihampelas di Bandung, Beeeuhhhh Heboh Pisan!

02/02/17
Hari ke dua Skywalk Cihampelas dibuka untuk umum, saya datang ke sana. Lokasinya dekat rumah hahaha ☺

Memanfaatkan hari kerja dan jam yang kepagian, saya mampir ke Skywalk Cihampelas. Saya udah tahu sih ini tempat nama resminya Teras Cihampelas. Pas ke sana mah ya emang ada 11 terasnya. Berundak-undak gitu bentuknya dari 1 teras ke teras lain. Cuma dari awal kan gembar-gembornya Skywalk, ya udah keterusan saya sebut Skywalk Cihampelas. 




Mengalami proses pembuatan skywalk ini, rasanya stres juga. Jalan macet dan berdebu. Jalan Cihampelas kan jalur saya ke sana ke mari. Ada sih Jalan Siliwangi dan Sukajadi, ya sama macet juga lantaran daerah favorit komersil dan kampus-kampus ternama ada di sekitaran sini wkwkwwkwk.

Baca juga : Tips Ajak Anak Traveling Adalah Bersabar! Hahaha :D

Jalan Cihampelas sebenarnya jalan yang panjang. Titik paling ramenya ada di sekitar CiWalk (Cihampelas Walk). Padahal kalau ditarik garis panjang, Cihampelas ini memanjang sampai berpotongan dengan Pabrik Kina dekat stasiun. Tapi turis-turis mah tahunya Cihampelas teh ya daerah belanja baju murah, oleh-oleh, banyak hotel, dan tentu aja mall bernama CiWalk. 

Saya gak pernah bayangin wajah Jalan Cihampelas bakal begini. Ada 'terowongan' kayak sekarang. Masalahnya emang Jalan Cihampelas di sekitar CiWalk ini pelik juga sih. Gak ada trotoar karena lahan yang harusnya jadi trotoar jadi tempat parkir dan lahan jualan para PKL. Lebarin jalan pun gak mungkin karena di belakang Jalan Cihampelas kan sungai (namanya Ci Kapundung). Mindahin PKL, ke mana? Atau gak boleh ada kendaraan yang parkir kendaraan, terus parkirnya ke mana? Nah puyeng. 

Bertahun-tahun kondisinya ya dibiarkan saja. Tumbuh secara organik. Ada PKL ya dibiarkan. Ada yang parkir ya dibiarkan. Semrawut buat jalan kaki pokoknya mah. 

Mungkin itu sih alasannya RK bikin Skywalk ini. PKL dipindahin, jualan di Skywalk saja. Para pejalan kaki bisa agak leluasa jalan kaki di Jalan Cihampelas. Trafiknya terbagi di jalan dan di Skywalk. Pas saya ke sana sih belum semua PKL pindah ke Skywalk. Butuh waktu kali ya. Waktu untuk pindahan, juga waktu untuk berpikir heuheuheuheu....

Skywalk ini startnya ada di deket RS. Advent. Finishnya di seberang BJB (Bank Jabar) Cihampelas.

Proses pembuatan Skywalk yang tinggi dari jalannya sekitar 5,6 m ini juga beeeuh heboh bener. Udah mah bikin macet ya. Belum lagi melihat pepohonan dipangkas-pangkas. Gak tahu sih ada enggak pohon yang ditebang. Saya ingetnya sewaktu ada protes keras tentang penebangan pohon di Cihampelas ini, RK konfirmasi kalau pohonnya gak ditebang, tapi dipangkas untuk merapikan saja. Bentuk Skywalk juga disesuaikan dengan lokasi pohonnya. Tapi ya selalu ada yang protes mah. Saya juga awalnya ikut protes sih mengingat untuk trotoar di Jalan Riau tuh, deket Purnawarman, pepohonannya kan ditebang. 

Setelah ributnya proses pembuatan Skywalk yang proyeknya memakan dana 45 miliar ini, ya saya penasaran lah lihat hasilnya. Pergi ke Skywalk teh dalam rangka ngamatin hahahaha. 

Dan ternyata Skywalk yang panjangnya 500 m ini menyenangkan sih. Seru-seru aja. Skywalk ini macam trotoarnya Jalan Cihampelas. Bisa jalan kaki dengan leluasa. Bisa duduk-duduk. Bisa jajan nasi kuning atau batagor. Pepohonan masih lebat. Skywalknya juga cukup nyaman dan aman lah. Banyak kurangnya sih tapi saya pengen menikmati dulu lah. Mana ini tempat gratis juga. Bukan perkara orang Indonesia seneng gratisan sih. Tapi di sebuah kota yang jadi magnetnya turis dan tempat yang lucu-lucu ditiketin terus ada tempat begini lucu dan gratis ya rasanya warga teh masih dianggap lah gitu.

Toilet ada, keamanan ada, trek untuk orang-orang difable juga ada. Liftnya juga disediakan dan saya berharap yang pake bukan orang-orang kayak saya yang sehat kedua kakinya, tapi emang temen-temen difable dan bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah sepuh. Kita mah naik tangga aja lah.

Tangga naik turunnya ada di beberapa titik. Saya gak merhatiin di mana aja selain starting point dan finishnya euy wkwkwkwk. Ntar ya saya balik lagi saya perhatiin bener-bener deh. 

Skywalk pasti menyedot banyak turis juga sih. Ya gak apa-apa. Toh gak setiap hari mereka bisa datang ke sini. Kalau pengen rada sepi mah datangnya pagi hari di jam kerja. Atau pas hujan wkwkwkwk karena di sini gak ada tempat berteduh, kalau hujan pasti sepi sih :D

Cuma yang jadi PR sekarang, kalau banyak orang datang ke sini pengen ke Skywalk terus mereka menumpang kendaraan pribadi, parkirnya di mana wkwkwkwkwk. Kalau motor ya agak fleksibel sih bisa di Jalan Sastra atau di parkiran CiWalk. Tapi kalau pada parkir di pinggir Jalan Cihampelas ya nyusahin orang lain juga. Kalau mobil gimana tuh, ribet soalnya hehehe. Yang pada mulanya ingin mengurai kemacetan, tetep aja bakalnya macet kalau banyak yang ke sini dengan kendaraan pribadinya.

Aslinya sih saya kalau lewat Cihampelas dan lihat proses pembuatan Skywalk ini rasanya agak sedih. Wajah Cihampelas berubah banget dan rasanya kayak ada yang hilang. Tapi di sisi lain emang butuh trotoar sih.

Yah sementara itu mah mari dinikmati dulu Skywalk Cihampelasnya. Lebih detail tentang Skywalknya, baca di tulisan Skywalk Cihampelas: parkir di mana, enaknya hari apa ke sana, tangganya di sebelah mana, boleh bawa sepeda gak, hotel terdekat apa, dll

Mungkin saya balik lagi ke sini. Pengen tahu juga kalau malam hari di sini bagaimana rasanya. Aman gak, terang gak. Mau foto-foto lagi dan meratiin tangga naiknya di mana aja. Selamat menikmati foto-fotonya yak, saya moto pake kamera hape euy jadi ya begini. 




















Teks : Ulu
Foto : Ulu, difoto dengan smartphone Lenovo A6000

Imlek di Bandung: Kirab Cap Go Meh yang Mengharukan

27/01/17
Berikut ini adalah cerita lama yang asalnya dari tahun 2011. Melihat perayaan Tahun Baru Cina (Imlek) belum pernah saya lakukan selain mengintip dari luar klenteng saja. Berkunjung ke kota lain yang merayakan Imlek secara besar-besaran pun sama sekali belum saya pikirkan. Namun pada enam tahun lalu itu ada perayaan Imlek yang berbeda di Bandung.

Untuk pertama kalinya sejak saya mendiami kota ini, saya melihat Kirab Cap Go Meh. Kirab Cap Go Meh merupakan puncak dari perayaan Imlek. Biasanya diselenggarakan 15 hari setelah Imlek. Kirab Cap Go Meh dilakukan dengan turun ke jalan dan berjalan membawa atribut khusus.

Di Bandung setahu saya gak ada perayaan Imlek secara meriah sih. Palingan di klenteng masing-masing atau di tempat-tempat komersil. Tapi festivalnya seingat saya tidak ada. Kirab Cap Go Meh ini adalah acara yang termeriah dari perayaan Imlek di Bandung.




Bukan saja menontonnya, saya mengikuti kirabnya sejak awal mulai hingga acara selesai. Rupanya bukan saja perayaan tersebut jadi yang pertama untuk saya. Bagi umat yang menjalankan perayaan Imlek, Kirab Cap Go Meh di Bandung tahun 2011 merupakan kirab pertama setelah hampir 44 tahun ketiadaannya.

Begini ceritanya.


Berjalan Mengikuti Kirab Cap Go Meh


Di tepi Jalan Cibadak sore itu, dua porsi baso tahu siomay tandas, dua gelas air teh tawar habis. Bekal untuk perut saya dan Indra sudah cukup. Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Saatnya meleburkan diri ke dalam sebuah pawai yang saya pikir pada mulanya biasa saja, tapi ternyata memberi kesan yang dalam dan mengharukan.  

Ratusan orang mengenakan pakaian merah-merah di ujung Jalan Cibadak, di depan Vihara Dharma Ramsi. Ratusan orang lainnya berdiri di pinggir jalan hendak menonton pawai tersebut. Pawai yang saya maksud adalah Kirab Cap Go Meh. 

Kamera siap bekerja, kaki-kaki kami siap berjalan dan berlari mengikuti pawai Cap Go Meh. Melihat lautan manusia yang memenuhi jalanan, ponsel dan dompet kami simpan dalam ransel. Tidak ada waktu untuk update status ke Twitter dan Facebook, pikir saya waktu itu. 

Sebelum saya berangkat mengikuti dan menonton pawai Kirab Cap Go Meh, saya membaca sebuah headline portal berita. Perayaan Imlek di tahun 2011 adalah perayaan besar pertama sejak pelarangan Imlek oleh rezim Soeharto di tahun 1967.




Berbeda dengan penganut Konghucu di daerah pesisir. Mereka secara terbuka sudah merayakan Imlek dengan ramai dan mengadakan Kirab Cap Go Meh sejak Presiden Gusdur mencabut Inpres no 14/1967 tentang pelarangan Imlek, di tahun 2001. Sementara di Bandung, perayaan Imlek sudah dilakukan tapi Kirab Cap Go Meh di tahun 2011 adalah kirab pertama kalinya sejak tahun munculnya Inpres itu. 

Mengetahui hal tersebut, saya pikir sayang banget kalau saya melewatkan Kirab Cap Go Meh. Lha bayangkan saja perasaan kamu (kalau kamu muslim) bila dilarang merayakan Lebaran, gak boleh takbiran, dan gak boleh sholat Id di muka publik selama puluhan tahun, bagaimana rasanya?

Jadi bagaikan kembang yang layu dan kembali segar, seperti itu lah kesan yang saya dapatkan sewaktu melihat Kirab Cap Gomeh di Bandung tahun 2011.

Suasananya riuh sekali. Seperti kenduri ala orang kaya zaman dahulu. Ramainya luar biasa. Meriah tiada tara. Ada yang memukul gong. Pasukan Barongsai mulai beratraksi. Liong ditegakkan. Kio mulai diayun-ayun. Wangi hio bertebaran. Musik khas Tionghoa bertabuh keras sekali, gendang ditabuh kuat-kuat dan kompak. Jantung saya berdebar-debar karena terbawa suasananya.


Liong dan Barongsai, Favorit Saya!


Saya tidak tahu atribut yang diarak selama kirab apa artinya. Baru di rumah saya mencari tahu via mecin pencari. Misalnya saja Liong yang bentuknya kepala naga dan badan ular adalah penolak bala, membawa perlindungan, berkah, dan keselamatan.

Terlepas dari maknanya, secara umum saya menikmati arak-arakan Cap Go Meh karena Liong itu sangatlah indah sekali! Warna-warni Liongnya, dominan merah, kuning, dan hijau. Orang yang membawa Liong jumlahnya lebih dari lima. Mereka semua bergerak seperti menari, kompak sekali. Liongnya meliuk-meliuk. Ular naga yang rupawan!






Belum lagi orang yang menggotong-gotong Kio. Kio ini semacam panggung kecil, pada bagian tengahnya terdapat dewa-dewi. Bukan hanya pria yang menggotong Kio, wanita juga. Bahkan banyak ibu-ibu dan wanita manula ikut-ikutan membawa Kio dong. Wadooow! Terbayang beratnya. Namun mereka nampak bahagia dan senang saja. Woow!

Juga ada sosok yang bentuknya besar dan tinggi. Rupanya jelek sekali, menyeramkan seperti hantu. Saya lupa istilah khusus dari makhluk ini. Sepertinya dia ini makhluk antagonis.




Barongsai tentu saja jadi favorit. Bukan saja jadi kesukaan saya, tapi banyak orang lainnya. Sering saya temui Barongsai diajak berfoto bersama. Hahaha seru. Eits, saya juga bawa angpao dong. Saya kasih-kasihin ke Barongsainya. Ternyata ngasih angpao ke Barongsai menimbulkan sensasi yang lucu banget. Ya senang ya lucu. Sayang saya gak bawa tali pancingan, saya lihat gak sedikit yang memberi angpao dengan tali pancing. Angpaonya ditempatkan di ujung tali dan ditarik ke atas agar Barongsainya kesusahan ngambilnya dan loncat-loncat gitu jadinya. Hahaha seruuu!

Makin malam suasana kian semarak namun juga syahdu. Lampion menyala. Warna Liong dan Barongsai semakin mencolok berpendar-pendar.




Berhubung di Bandung masih ada beberapa bangunan tua, maka atraksi terbaik Kirab Cap Go Meh menurut saya kalau arak-arakannya melewati di depan gedung/rumah kuno. Belum lagi kalau rumah kunonya rumah khas arsitektur cina. Hwuidiihhh terbayang suasana Imlek di Bandung tahun 1930an saja.


Kirab Cap Go Meh di Bandung


Sudah jam 4 sore, jalan Cibadak dipenuhi manusia. Untuk berjalan pindah tempat berdiri susahnya bukan main. Harus pintar berkelit dari kaki-kaki yang berdiri, badan yang menghadang, dan tangan-tangan yang sibuk. Saya dan Indra sudah bertekad akan menyusuri kirab berbarengan dengan pesertanya. Kami memutuskan mengambil titik bersama rombongan paling depan agar tidak terseok-seok tergerus penonton yang membludak di sepanjang kirab.

Kira-kira jam setengah lima sore kirab mulai bergerak teratur. Langit cerah dan wajah-wajah peserta kirab bahagianya tak terperi. Dari anak-anak sampai dengan nenek-nenek dan para kakek, turun semua ke jalan. Senang sekali! 

Macet? ya sudah pasti. Hahaha. Bukan gara-gara kirabnya sih, melainkan Pemerintah Kota Bandung (waktu itu bukan Ridwan Kamil walikotanya) dan pihak polisi yang tidak melakukan sosialisasi penutupan jalan. Saya bersyukur tidak menjadi mereka yang kena macet dan tidak tahu ada apa gerangan ☺ 

Ya coba bayangkan saja, ini perayaan pertama setelah 44 tahun terabaikan, ya pasti ramailah! Komunitas Tionghoa di Bandung turun semua ke jalan. Jangankan orang Bandung, peserta kirabnya juga banyak yang berasal dari di kota-kota tetangga.

Jalur yang digunakan dalam Kirab Cap Go Meh ini adalah area yang banyak dihuni warga Bandung keturunan Tionghoa: Jalan Cibadak, Jalan Kelenteng, Jalan Kebon Jati, Jalan Otista, Jalan Sudirman, dan kembali ke Jalan Kelenteng.




Hampir semua rumah yang dihuni warga keturunan Tionghoa di pinggir jalan, pintu rumahnya dibuka. Beberapa di antaranya membuat altar kecil. Bukan hanya penganut Konghucu, umat muslim yang juga keturunan Tionghoa keluar rumahnya dan memberi angpao ke hampir semua peserta Kirab, utamanya Barongsai.

Saya berdiri bersama mereka dan melihat sendiri mata-mata yang sedang bahagia. Seperti sedang terharu. Generasi anak cucu mereka yang sebaya dengan saya pasti belum pernah melihat Kirab Cap Go Meh di Bandung. Bisa jadi ibu dan ayahnya juga harus plesir ke kota lain dulu untuk merayakan kirab. Tapi sekarang di Bandung pun sudah bisa berkirab. Horeeee! 

Pukul delapan malam, kirab berakhir. Bekal baso tahu siomay ampuh memberi tenaga kami berjalan dan berlari-lari mengejar arak-arakan peserta kirab yang sebentar diam beratraksi dan sebentar jalan cepat sekali. Usai mengikuti Kirab Cap Go Meh, saya dan Indra kembali mencari restoran dan hendak makan malam. Menu santapan kami waktu itu juga asalnya dari Cina: kwetiaw dan ifumi ☺

Indra menandaskan banyak makanan. Dia memang lapar sekali saking capeknya, karena tugasnya memotret (dan berjalan, sesekali berlari mengejar tempo peserta Kirab). Sementara saya memang lebih santai, hanya mengamati saja (dan tentu saja ikut berlari-lari, hahaha).


Melihat Perayaan Imlek di Kota Lain Bukan Cuma di Bandung? Mauuuu! 


Saya berjilbab dan saya melihat perayaan Imlek sebagai perayaan yang bukan melulu tentang perayaan agama. Saya muslim dan mengapresiasi perayaan tersebut sebagai sebuah budaya. Bagi penganutnya, Imlek berhubungan dengan tuhan dan para leluhurnya. Untuk saya, Imlek merupakan sebuah atraksi budaya yang sangat menarik, indah, sakral, dan magis.

Sejak Kirab Cap Go Meh 2011, saya menyimpan keinginan untuk melihat Festival Imlek Indonesia: di Semarang, Singkawang, Palembang, Cirebon, Surabaya, Lasem, termasuk sampai ke negeri Cina. Sampai saat itu tiba, saya masih setia melihat perayaan Imlek dan Kirab Cap Go Meh di Bandung.

Sejak tahun 2011, tidak tiap tahun Kirab Cap Go Meh diselenggarakan di kota Bandung. Namun bila pengumuman akan diadakannya Kirab Cap Go Meh sudah muncul, saya selalu menyediakan waktu untuk melihatnya.

Kalau kamu ingin melihat perayaan Imlek, coba cek jadwal di kotamu. Beberapa kota biasanya secara berkala mengadakan perayaan Imlek.

Selamat Tahun Baru Cina. Selamat datang, Tahun Ayam Api!






Teks : Nurul Ulu
Foto: Indra Yudha


Halo!

22/01/17
Tulisan pertama untuk blog ini di tahun 2017. Mood ngeblog lagi gak bagus, hilang gitu. Jenuh, mungkin. Sekarang sedang menyibukkan diri dengan pekerjaan saja. Memberi jarak dengan blog sendiri, supaya kembali dengan kondisi semangat. Dan semangatnya mulai muncul dikit demi sedikit. Hehehe. 

Bila kamu memiliki akun Instagram, di sanalah kabar Bandung Diary secara berkala masih dapat diikuti selama blog ini hiatus hampir tiga minggu. 

Awal Januari kami plesir ke Cirebon dan Indramayu. Sudah niat ingin menyusuri bangunan tua di Cirebon, senangnya misi tersebut dapat tercapai. Cirebon memiliki banyak rumah kuno yang aduhai istimewa nian rupanya. 




Kembali ke Bandung. 

Beberapa hari setelah kembali dari Cirebon, kami hiking menyusuri rute Maribaya di Lembang ke Dago Pakar. Sengaja, ingin menghirup lagi udara pegunungan yang sejuk dan asri meski nampaknya sebagian dari trek yang saya susuri itu sudah gak seasri dulu. 

Saya menyempatkan diri berkunjung ke Museum Pendidikan Nasional. Juga akan menulis resensi sebuah hotel lama yang super recommended yang terletak di Dago. Ah saya juga pernah berjanji akan memaparkan beberapa buku yang saya baca di tahun 2016, tanggal sudah bergulir ke angka 22 di tahun 2017 dan janji tersebut belum saya tunaikan. 

Pukul delapan malam minggu, sedang suntuk kami bertiga ingin jalan-jalan santai. Karena sedang butuh raket tenis (bekas saja), kami datang ke sebuah toko barang bekas yang berlokasi di Jalan Riau. Rumah tua, barang-barang bekas semua. Bbrrrrr....saya meremang di lantai dua. Serem :D Barangnya bagus-bagus, mungkin kami akan kembali. Perkara seramnya mah bumbu saja hehehe. 

Tahun ini ada beberapa kota yang ingin (sekali pake banget kuadrat sepuluh!) saya sambangi. Semoga tercapai. 

Seminggu yang lalu, saya mengikuti workshop fotografi khusus Human Interest yang dimentori oleh fotografer kawakan Budhi Ipoeng. Saya gak sengaja ikutan acara ini, karena diajak seorang teman baik saja. Namun saya sangat senang karena paparan Pak Ipoeng tentang fotografi sangatlah menyenangkan dan membuka cakrawala saya akan tema human interest. Selalu membahagiakan mendengar kisah dan petuah dari fotografer yang lahir di zaman kamera analog. Sejenis orang yang menganggap kamera bukan barang keren tapi sebuah alat saja, media untuk berkarya. Orang-orang yang menerapkan praktek one-shoot-one-kill. Orang yang pernah motret secara profesional dengan roll film. Nanti saya ceritain ya apa yang Pak Ipoeng bahas di workshopnya, di artikel khusus #photographytalk. 

Playlist akan saya tambah. Lagunya ya masih gitu-gitu aja hahaha. 




Di Instagram, saya mengikuti perjalanan seorang teman di Jepang. Pimpi nama teman saya. Dia memiliki usaha craft shop di Indonesia, Sawo Kecik namanya. Kalau melihat hasil karyanya, buat saya Pimpi adalah seorang seniman. Dia sedang mendalami teknik Katazome (browsing sendiri Katazome apa ya :D). Kalau baca di akun IG miliknya, Pimpi cerita sudah menerapkan teknik ini pada prakarya yang ia buat setahun belakangan. Dan awal Januari lalu dia ke Jepang untuk belajar Katazome. Serunya melihat perjalanan Pimpi. Datang ke kota-kota kecil untuk berguru pada sensei-sensei yang juga khusus berkarya dengan Katazome. Seneng aja gitu baca ceritanya Pimpi yang tulus, happy, dan memberi sudut pandang baru pada sebuah kegiatan bernama traveling. Jenuh lihat orang-orang unggah foto pemandangan epik dan menclok ke sana-sini dengan tujuan jalan-jalan tok pengen kekinian lah, pengen bertualang lah :D Baca ceritanya Pimpi mah beda, saya jadi agak malu juga sih karena jadi refleksi ke diri sendiri saya traveling buat apaan. Hahaha :D apeeeuuu. 

Hmmm... apalagi ya....

Oh iya. Jadi beberapa hari lalu saya dalam perjalanan dari utara Bandung ke selatan. 28 km saja jaraknya. Sore waktu itu sangatlah dramatis. Gradasi warna kuning, merah muda, dan oranye bersatu dengan warna kelabu dan putih. Senja yang indah, lembayung yang magis. 

Terpikir untuk menghentikan kendaraan yang sedang Indra pacu. Tapi sedetik kemudian saya berpikir, kenapa segala yang saya lihat harus saya foto. Buat apa. Mau dimasukin ke IG? terus kalau udah diunggah apa yang saya rasain, seneng? bangga? 

Terus saya diam saja. Kendaraan melaju, lembayung tertarik berkebalikan arah dengan saya. Berkas-berkasnya masih ada dan tajam warnanya. Lalu saya teringat ayah saya. Dua tahun lalu beliau wafat, tiap kali saya melihat pemandangan-pemandangan magis seperti senja itu, saya selalu ingat padanya. Memang agak aneh, kontradiktif sekali. Pemandangannya indah, tapi sayanya sedih. Saya suka mikir kalau ayah saya ada di sana sekarang, di angkasa, di lautan, di pucuk-pucuk pepohonan yang tinggi dan rindang. Indah tapi tak tergapai, hanya bisa dirasakan saja. 

Ya mungkin sama seperti kalau sedang hujan dalam keadaan ideal, menimbulkan perasaan romantis. Namun yang saya rasakan seiring bertambah umur, romantis adalah istilah yang banyak sayapnya. Iya, Januari ini saya bertambah tua. 

Selamat hari lahir, Ulu. 






Teks : Ulu
Foto : Ulu

Terowongan Flyover Antapani yang....Instagramable!

31/12/16
Tiga tahun dipimpin Ridwan Kamil (RK), di akhir tahun biasanya suka ada aja yang baru dari dia. Yang paling kentara mah taman-taman kota sih. Lain-lainnya apa ya...trotoar, Alun-alun Bandung, signage peta jalan di jalan-jalan utama, pot gantung, lokasi PKL yang dipindahin, ngurus administrasi di kelurahan sekarang relatif gampang, mengubah sedikit wajah kawasan Asia Afrika, perubahan beberapa muka kawasan, bikin rumah susun, pengadaan bis kota ngegantiin bis kota yang udah tua, culinary night, dan beberapa lainnya. 

Gak semuanya bertahan lama sih. Pot gantung ada mulai coplok-coplok. Culinary Night gak ada lagi. Trotoar yang diganti ada yang mulai retak-retak. Angkot yang ada wifi juga udah gak ada. PKL mulai berjualan lagi di pinggir jalan utama, di Purnawarman misalnya, di depan BEC. Ya begitulah :D 

Dipikir-pikir kasihan juga jadi RK. Keinginannya untuk mengubah kota ini jadi kota yang liveable dan cantik memang besar. Kalau perubahan udah dijalankan, mestinya kan konsisten ya. Ini mah kayaknya gak semuanya konsisten dijalankan sih. 

Terus gak dikit juga yang bilang kalau RK cuma mempercantik bagian luar kotanya. Hiasan doang, dalemnya bobrok. Iya gituh? Ya mungkin ada benarnya juga sih. Entah lah, saya sejujurnya mah seneng sih kota ini lebih hidup semenjak dipimpin RK. Bandung secara fisik, terutama di pusatkota, jadi lebih berwarna. Kalau sama walikota yang dulu-dulu mah dibiarkan saja. Lihat kerjanya RK sekarang saya suka mikir, pejabat-pejabat sebelum RK kerjanya apa aja ya...

Tapi ya gitu deh jadi RK. Dikerjain, salah. Gak dikerjain ya salah juga :D Lho nyerocos apa ini saya teh. Mari kembali ke judulnya. 

Awal tahun 2017, di Bandung banyak yang baru-baru. Zebra cross yang unik lah, skywalk di Cihampelas, Museum Kota Bandung, dan ini nih: Flyover Antapani. Pembuatan jalan layang ini bikin repot banyak orang. Macet parah :D


photo courtesy : Dudi Sugandi

Orang Antapani kesabarannya diuji banget selama pembuatan flyover ini. Saya yang bukan orang Antapani juga mengikuti pembuatan proses flyovernya karena emang sering bolak-balik Antapani.

FYI, Antapani ini ibarat Planet Bekasi lah. Hahaha. Di Antapani banyak perumahan, dari yang mewah sampai yang tipe rumahnya lu-lagi-lu-lagi. Kalau udah nyebut Antapani, beuh udah kebayang macetnya. Makanya RK bikin jalan layang untuk mengatasi kemacetan di sana. 

Saya sih mikirnya ini solusi sementara aja. Karena kunci utama mengatasi kemacetan kan ada di transportasi umumnya. Kalau cuma mengandalkan jalan layang aja mah, 1-2 tahun lagi orang berkembang biak tambah banyak, pembelian mobil meningkat seiring betapa mudahnya utang menyicil mobil. 

Ya terlepas dari masalah kemacetan yang sama yang menunggu kita di depan sana, mari kita nikmati dulu flyover Antapani ini.

Terowongannya lucu banget warna-warni. Khas RK lah pokoknya kalau bikin apa-apa pasti lucu dan fotogenik bikin orang mau foto-foto. FYI, mural mozaik di dinding jalan layang ini adalah karya John Martono. Cek aja di Instagram, foto terowongan Flyover Antapani udah bertebaran. Nampaknya Flyover Antapani ini bakal jadi the next instagramable icon di Bandung. Selamat, wahai warga Antapani. Sekarang gak perlu ke Asia Afrika ya buat foto-foto yang ikonik-bandung-banget :D hehehehe.


photo courtesy : Dudi Sugandi

Flyovernya sendiri udah dibuka untuk ujicoba tanggal 28 Desember lalu. Kata RK, jalan ini akan mulai dibuka untuk umum per awal tahun 2017, 1 Januari kali ya maksudnya. Malam tahun baru ini Flyover Antapani udah dibuka tapi untuk pejalan kaki, bukan untuk kendaraan. Wuiiiw kebayang orang foto-foto sampe abis memorinya ya di sini hahahaha.

Saya belum berkesempatan datang ke flyover Antapani euy. Jadi belum foto-foto. Saya pinjam fotonya Kang Dudi Sugandi, fotografer yang saya follow di Instagram.

Rencananya sih tanggal 1 besok subuh-subuh saya mau nongkrong di flyovernya dan hunting foto. We'll see. 


Cara ke Twrowongan Jalan Layang Antapani


1. Naik taksi aja. Hahaha :D Pret banget ah ini petunjuk arahnya.
2. Order UberMOTOR atau Gojek :D
3. Angkot yang lewatin Flyover Antapani:
Margayahu - Ledeng
Antapani - Ciroyom
Cicaheum - Ciwastra
Cicadas - Elang
Riung Bandung - Dago
Dan beberapa angkot lainnya yang jurusannya saya lupa heuheuheu
4. Flyover Anpatani ini ada di perpotongan jalan Antapani - Jalan Jakarta, nama perempatannya perempatan Jalan Jakarta - Kiaracondong. Warga lokal nyebutnya Perempatan Antapani.
5. Atau buka aja googlemap, cek Jalan Antapani - Jalan Jakarta.



Teks : Ulu
Foto : Dudi  Sugandi

Liburan Menyenangkan Dan Mudah Dengan AirAsia

29/12/16
Liburan merupakan suatu kegiatan di mana orang-orang meluangkan waktunya secara bebas dari segala aktifitas yang biasa dilakukan sehari-hari.  Dari pekerjaan lah, dari bangku kuliah lah, rutinitas lainnya.  

Macam-macam gaya liburan tiap orang. Yang paling standar kayaknya mengunjungi rumah sanak saudara. Atau rumah nenek. Iya gak? :D Pergi sendirian atau bersama teman-teman ke tempat wisata yang kita sukai juga seru tuh. 


photo courtesy : dynamichedge.com

Berlibur dapat melepas semua penat yang membebani pikiran kita dalam aktifitas rutin. Biasanya kan liburan dilakukan pada waktu pertengahan tahun dan akhir tahun. Liburan di pertengahan tahun sering dilakukan oleh kaum pelajar dan teman-temannya. Ada juga yang pergi dengan keluarganya . 

Berlibur sebenarnya gak hanya memberi pengalaman baru, tapi juga mengisi energi kembali dan siap menghadapi tahun ajaran berikutnya. Ya itu buat anak-anak sekolahan sih. Biar mereka gak bosen di kelas :D Ada juga liburan juga banyak dilakukan di akhir tahun dan pada saat liburan hari raya. 

Kalau berencana melakukan liburan pada waktu tertentu, apalagi tempatnya jauh, mendingan pilih alat transportasi yang cepat untuk menghemat waktu liburan. Gunakan alat transportasi udara seperti pesawat terbang. Dan armada pesawat terbang yang saya rekomendasikan adalah AirAsia. 

Masalahnya pesawat terbang gak semurah moda transportasi lainnya. Tapi menurut saya sih kalau ada uangnya kenapa enggak. Lagian sekarang banyak rute yang terlampau jauh untuk ditempuh dengan kendaraan darat dan laut. Dengan waktu yang gak leluasa, kayaknya kalau naik kendaraan roda empat mah bakal lama di jalan deh jadinya. Capek pula. Iya gak :D

Terus kenapa harus AirAsia? Gampang, banyak promo tiket murahnya :D Kita bisa mengecek harga tiket pesawat AirAsia di situs resmi milik Traveloka. Di situs tersebut banyak pilihan promo tiket pesawat murah sehingga memudahkan liburan. Lumayan lah liburannya jadi terasa lebih hemat dan efisien. 

Untuk teman-teman yang akan melakukan pemesanan tiket Via Traveloka anda bisa klik di siniCek promo tiket murah untuk mendapatkan liburan hemat yang kalian pengenin ya. 

Terus buat tiket transportasi pergi dan pulang dari lokasi wisata udah ada nih. Tinggal atur-atur liburannya biar seru dan menyenangkan. Ya paling gak sesuai keinginan kan. Gimana caranya? Here goes!

1. Browsing Lokasi

Cek lokasinya via internet. Cari tahu sebanyak-banyaknya informasi tentang lokasi yang kamu tuju. Jadi tahu kan harus bawa apa dan bersikap bagaimana. Termasuk kalau mau cek-cek penginapan dan ongkos ke sana ke mari selama di sana. Ya anggap aja merencanakan liburan dengan riset kecil-kecilan. Kecuali kamu tipenya spontan banget dan masa bodo, ya gih tinggal packing dan pergi :D


2. Pergi sendiri atau bersama orang lain ya?


photo courtesy : https://azkiahhaque.wordpress.com

It's you decide. Pergi barengan, bisa patungan. Pergi sendiri ya semuanya bayar pake uang sendiri. Tiap keputusan ada kelebihan dan kekurangannya sih. Pastikan aja kamu mengajak serta orang-orang yang kamu pikir kamu dekat lah. Minimal tahu orangnya gak rempong :D Kalau pergi sendiri, jangan lupa selalu konfirmasi ke orang-orang di rumah dan terdekat kamu tentang tujuan kamu pergi, berapa lama, dan no kontak yang bisa dihubungi. 

3. Jaga kesehatan

Yup betul, sebelum pergi mendingan cek kesehatan kamu gimana, fit enggak nih. Sekalian jaga diri dari aneka penyakit sebelum pergi lah. Males kan harus batal liburan karena tiba-tiba sakit. Lebih bete lagi kalau sakit waktu liburan. Alamak heuheuheu. Perbanyak makan buah dan sayur, jaga pola tidur dan rajin olahraga bisa jadi bekal stamina yang baik sewaktu liburan. 


4. Terbuka dengan berbagai kemungkinan




Alias dibawa santai aja. Don't be too hard to yourself. Kalau selama liburan ada yang bikin kamu bete, jangan lama-lama betenya. Nikmati saja, gak semua yang terjadi sesuai dengan yang kita inginkan toh. 

5. Abadikan dengan kamera 




Kalau kamu termasuk seneng menyimpan kenangan, maka berfotolah. Atau sekarang lagi zamannya bervideo kan ya, ya nyalain kameranya dong. Yang penting jangan sibuk dengan gawai melulu, nikmati pemandangan yang kamu lihat. Menurut saya sih gak usah bawa segala macam perangkat eksis. Satu jenis kamera selain kamera ponsel juga cukup sih :D 

Gak perlu foto muka sendiri terus sih. Foto juga yang kamu lihat atuh. Hehehe. 

6. Ada kenalan atau saudara? kunjungi! 




Ah ini nih. Kalau kamu punya teman atau kerabat di sekitar lokasi yang kamu kunjungi, kontak mereka. Kalau perlu ajak ketemuan. Namanya silaturahmi mah gak ada yang rugi. Pengalaman saya mah biasanya saya suka ditraktir makan atau malahan nginep hehehe. Ya tapi jangan berharap banyak-banyak sih. Yang penting kan silaturahminya. Iya gak :D 

Yak semoga kepake ya tipsnya. Happy holiday dan selamat bersenang-senang!




Teks : Nurul Ulu
Foto selain yang namanya disebutkan : Nurul Ulu

Ke Asia Afrika naik UberMOTOR yang Pengemudinya Biru-Biru Karena #BiruItuBandung

27/12/16
Siapa yang udah pernah pake UberMOTOR di Bandung? Hwuidihhh gak tahu Uber sekarang ada layanan motornya di Bandung? Hueheehehe gak apa-apa. Bulan Oktober lalu saya pernah nulis dikit tentang UberMotor, bisa dibaca di tulisan Uber Motor di Bandung, emang ada? Adaaaa!

Saya termasuk pengguna moda transportasi online. Pertama, saya gak bisa nyetir motor. Kedua, saya gak bisa nyetir mobil. Ketiga, naik angkot sering kelamaan di jalan. Hehehe.





Kebeneran kemarin dari rumah saya pergi menuju Asia Afrika menumpang UberMOTOR. Secara masih musim libur dan jalanan Bandung super macet.

Menumpang moda transportasi begini banyak serunya sih. Kalau doyan ngobrol ya pengemudinya pasti ngeladenin kita ngobrol juga. Saya pernah diboncengin pengemudi UberMOTOR yang mahasiswa tingkat akhir Akuntansi di Widyatama. Terus dia nanya-nanya tentang lamaran kerja di Bank. Hahaha. Pernah juga drivernya menjabat profesi sebagai pemandu wisata dong. Terus kami tukeran kartu nama deh. Hahaha. Ada juga yang bapak-bapak nganggur, orang kantoran, dan Akang-akang tukang bengkel :D Macam-macam lah.

Driver UberMOTOR yang buat saya paling berkesan namanya Yana. Sepanjang jalan kami ngobrol-ngobrol. Rupanya dia teh aktivis sosial, kerjaan dia ngurusin anak-anak putus sekolah, anak-anak yang dinikahkan dini, anak-anak yang berprofesi sebagai PSK, dan sejenisnya. November lalu kontraknya di sebuah NGO sudah habis. Karena nganggur, dia daftar jadi driver UberMOTOR deh.

Banyak cerita dari jok motor :D hehehe.

Kalau naik transportasi model begini, saya selalu pastiin ke pengemudinya tahu rute gak. Karena kalau mereka gak tahu, mending saya arahin dari awal sebelum berangkat. Kebanyakan sih udah pada tahu rutenya, yang gak tahu pun biasanya cek jalur via google map.

Tiap pesen UberMOTOR atau mobilnya saya gak pernah nunggu lama. Mungkin karena lokasi rumah saya emang ada di tempat yang strategis juga sih, banyak UberMOTOR yang berkeliaran di jalan Setiabudi. Yang ada malah mereka nunggu saya aheuheuheuheu :D 




Per akhir Oktober 2016, Uber membuka layanan UberMOTOR di Bandung. Saya tahu karena follow mereka di Instagram. Kebetulan pas saya lagi di jalan, langsung aja order UberMOTOR. Waktu baru mereka baru meluncurkan layanan motor di Bandung dan kasih promo potongan ongkos 50% ke mana aja, so ya saya gak pake mikir langsung aja pake UberMOTOR ke mana-mana hahahaha. 

Pembayarannya gak pake kartu kredit. Cash aja langsung ke driver Uber. Waktu awal-awal Uber Mobil dulu muncul kan emang sistem pembayarannya cuma kartu kredit aja. Tapi abis itu mereka langsung bikin sistem pembayaran tunai kok. Uber Mobil dan UberMOTOR sama aja sekarang bayarnya bisa tunai diakses dari aplikasi yang sama. 

Dari Setiabudi ke Asia Afrika kemarin, estimasi waktu sampai di tujuan sekitar 20 menit dengan biaya perkiraan Rp15.000 - Rp19.000an. Pukul 15.55 saya berangkat. Jam 16.30 saya sudah sampai. Hahahaha senangnya cepat sampai. Kalau naik kendaraan roda empat waduh satu jam di jalan kali, atau lebih. 




Sekarang UberMOTOR di Bandung meluncurkan promo terbarunya berupa kontes foto dengan tagar #BiruItuBandung. Gimana cara ikutan kontes fotonya UberMOTOR ini? Cek detailnya nih:

1. Buka aplikasi Uber, UberMOTOR dan mobil aplikasinya sama aja kok. Tinggal geser-geser button bagian bawah pas ordernya. begitu buka aplikasi nanti cek bagian bawah aplikasi, ada UberMOTOR, dan ada UberX (mobil). Tarik garisnya ke UberMOTOR
2. Pesan UberMOTOR
3. Pilih fitur Cash ya
4. Berfoto dengan pengemudinya. Boleh wefie, boleh juga foto pengemudinya aja
5. Fotonya diupload ke Twitter dan Instagram, disertakan caption yang seru-seru dan menarik
6. Tag dan mention @uber_idn
7. Batas waktu unggah fotonya 31 Desember 2016
8. Nanti Uber pilih pemenangnya dan si pemenang akan mendapatkan hadiah berupa credit sebesar Rp500.000! 

#BiruItuBandung cuma ada di Bandung lho. Warna biru emang identik dengan Bandung. Besar kemungkinan sih diambil dari warna PERSIB, tim sepakbola kebanggaan Bandung. Tapi dipikir-pikir emang Bandung dan warna biru itu cocok. Iya gak? ☺

Lebih lengkap tentang #BiruItuBandung dapat kamu baca di t.uber.com/biruitubandung.

Atribut biru-biru yang ada di UberMOTOR bisa dilihat dari jaket dan helm pengemudinya. Yah saya dapetnya pengemudi yang jaketnya biru, tapi helmnya enggak :D

Gak apa-apa deh, tetep foto bareng hehehe.







So ingat-ingat apa kata Pak Walikota Ridwan Kamil, "put your car at home!" hihihi. Yup betul, pergilah menumpang transportasi umum.

Selamat berkeliling Bandung menumpang UberMOTOR. Jangan lupa foto-foto driver UberMOTORnya, kalau perlu foto bareng sama kamunya juga biar tambah seruuuuuu! 




Teks : Nurul Ulu
Foto: Indra Yudha Andriawan, Uber Indonesia

Zebra Cross Unik dan Lucu-lucu di Bandung, Ada Zebra Cross Ular Tangga Hihihi :D

26/12/16
Kayaknya walikota Bandung ini emang menjadikan kota sebagai tempat bermainnya. Juga mungkin latar belakang pendidikannya desain (arsitektur), jadi hasratnya membuat kota ini jadi well-designed juga gede. 

Terbaru di Bandung ada Zebra Cross yang lucu-lucu. Pertama kali lihat, saya pikir jalannya sedang dicat untuk funwalk atau lomba lari apaaaa gitu. Ternyata bukan, sadarnya pas lihat feed di IG. Oh ternyata yang saya lihat waktu itu adalah zebra cross. Hahahaha. Abisnya aneh sih bentuknya, baru tahu ada zebra cross kayak gitu desainnya. 


Di Jalan Braga - Foto oleh Ulu

Zebra Cross yang lucu-lucu ini ada di sekitar Balaikota. Lokasi tepatnya gini, ini yang saya tahu ya. Boleh nambahin kalau ada yang tahu lebih banyak. Komen aja, nanti saya edit daftar ini. 
1. Jalan Merdeka - Aceh, deket BIP
2. Jalan Naripan - Braga
3. Jalan Wastukencana - Braga

Zebra Crossnya ada yang gambar seruling, ular tangga, bagan permainan Engkle, terus apa lagi namanya gambarnya saya lupa :D Wakwaw heuheuheuheu. Pada nyadar gak yah orang-orang ada zebra cross kayak gini di Bandung. Yang lewatin jalannya juga pada nyadar gak ya. 

Desainnya emang lucu, tapi ya buat lucu-lucuan aja. Kelakuan pengemudi mah masih sama, harus kita kasih tanda tangan lebar-lebar lima jari terbuka gitu sebagai tanda berhenti. Ya tapi lumayan sih buat hiasan kota mah kepake banget, lucu aja gitu. Palingan mesti sering-sering dicat ulang lantaran udah ada yang kusam warnanya, kegilas terus :D 


Masih di Braga - Foto oleh Ulu

Pas ngelihat zebra crossnya, saya udah kepikiran itu zebra cross mestinya difoto dari atas biar kelihatan utuh. Pake drone atau naik ke gedung tinggi di dekatnya. Tapi saya gak punya drone, saya gak punya waktu hunting dan ijin ke gedung tua. Bisa kayaknya naik ke jembatan penyebrangan di Jalan Merdeka. Tapi belon ada waktu aheuheuheueheu. 

Terus saya lihat di Instagram, fotografer yang saya follow upload foto zebra cross. Bagus banget fotonya. Dudi Sugandi nama fotografernya. Kalau gak salah, beliau ini fotografer pribadinya Ridwan Kamil juga. Pernah jadi fotografer harian surat kabar Pikiran Rakyat juga. 

Saya pinjam foto-foto beliau. Kunjungi Instagram Dudi Sugandi dan follow beliau juga yak. Berikut ini foto zebra cross di Bandung yang lucu-lucu, yang beliau jepret. 








Kalau mau foto-foto di zebra cross itu mendingan gak usah sih :D Repot soalnya trafiknya tinggi-tinggi. Bisa sih bangun lebih pagi. Jam setengah 6 pagi misalnya di hari minggu udah berpose di sini. Ya atur-atur aja, yang penting gak nyusahin pengguna jalan. Okey? :D



#photographytalk 5 : Fotografer Favorit

25/12/16
Halo! Ini dengan Ulu. Ini artikel dengan tema #photographytalk yang ke lima! 

Enggak, saya gak punya fotografer favorit. Pertama karena saya kan suka motonya baru sekarang aja. Kedua, sumber fotografi saya sekarang banyak banget. Pusing lah banyak yang bagus-bagus. Ketiga, saya gak pernah benar-benar merhatiin seorang fotografer. 

Jadi sebagai anak baru di dunia fotografi, saya banyak lihat foto jepretan orang. Tapi mengidolakan satu fotografer, saya belum sampai ke sana levelnya karena bingung mau suka sama karya yang mana euy. Sebagai anak milenial saya ngerasa hidup saya ini mirip dunia youtube. Baru nonton video, udah kepengen nonton video baru lainnya. Hingar bingar, hiruk pikuk banget. Berderet hal-hal yang mau saya lihat, tapi baru juga mulai udah baris hal-hal baru lainnya. Ah euy matak lieur heuheuheu. 

Jadi untuk tema '#photographytalk 5 : Fotografer Favorit' ini, saya meminta bantuan Indra Yudha Andriawan. Dia ini orang yang banyak bantu saya menyediakan suplai foto untuk blog Bandung Diary. 

Pertama, umur Indra jauh lebih tua dari saya (heuheuheu maap harus sebut umur). Kedua, dia bisa motret pake kamera analog sekaligus bisa juga cuci cetak filmnya sendiri di kamar gelap. Ketiga, dia menjalani hobi fotografi di era fotografi belum seheboh sekarang. Keempat, Indra suka baca buku dan majalah fotografi. Walo dia dan fotografi sekarang perkembangannya stagnan alias gak catch up dengan dunia fotografi kekinian, Indra tahu siapa-siapa aja fotografer favoritnya. Sekaligus ngasihtahu alasannya kenapa.

Kalau alasannya karena hasil fotonya baguus mah sekarang semua orang bisa motret bagus ya. Canggih-canggih lah. Tapi menurut saya mah ada alasan selain foto bagus lah. Dan orang yang paling tepat ngomongin ini bukan saya, tapi Indra. 

Berikut ini saya menyadur semua percakapan saya dengan Indra perihal fotografer favoritnya ya. Oleh karenanya kalau adakata 'saya' maka itu untuk kata ganti yang merujuk kepada 'indra' ya.

Ayo kita mulai. 


1. James Nachtwey

"I used to call myself a war photographer. Now i consider myself as an antiwar photographer - James Nachtwey

Nachtwey adalah fotografer perang dan konflik. Kebanyakan foto-fotonya warna hitam putih. Pertama kali mengetahui tentang James Natchwey dari DVD War Photographer yang dibeli tahun 2003.


James Nachtwey
(photo courtesy : https://naceyphotojournalistfri.wordpress.com/the-photojournalist/)

Dari video dokumenter tentangnya itu saya baru tahu kalau James Nachtwey orangnya amat sangat pendiam. Pengalamannya berinteraksi dengan konflik dan peperangan menyebabkan sikap dia yang tertutup. Kalau lihat fotografer lain, mukanya paling tidak lebih 'berisi', lebih joyfull. Kalau James Nachtwey mah enggak. Orangnya gak banyak senyum, gak banyak omong. 

Saya mengagumi komitmen dia yang kuat terhadap proses menceritakan konflik dan perang melalui fotografi. Makanya miris suatu kali melihat iklan rokok pada baligo di Jalan Riau di Bandung. Si model yang berprofesi sebagai fotografer perang yang terlihat sangat dandy dan gaya. Fotografer perang di situ dijual sebagai barang yang macho dan keren. Padahal kalau lihat fotografer spesialis perang yang asli seperti James Nachtwey, orangnya nampak pemurung dan menarik diri dari dunia luar.


Photo courtesy : @jamesnachtweyofficial

Pernah nonton film tentang veteran perang Vietnam gak? Nah mirip-mirip gitu lah James Nachtwey. Tapi James Nachtwey mah lebih terkendali kondisi jiwanya. Ya mungkin sih. Bayangkan saja kalau jadi James Natchwey yang terus-terusan melihat tragedi, kematian, kepedihan, kehancuran...

"i have been a witness, and these pictures are my testimony. The events i have recorded should not be forgotten and must not be repeated." -  James Natchwey.

Cek Instagram James Nachtwey untuk melihat foto-fotonya lebih banyak. 


2. Steve Mccurry

Pertama kali mengetahui bapak ini dari majalah National Geographic versi Bhs Inggris di tahun awal 2000an. Ya betul, foto cover yang terkenal dengan julukan 'Afgan Girl' populer sekali. Tahun 1985 majalah NG menerbitkan majalah dengan cover foto seorang gadis Afganistan bernama Sharbat Gula.

Steve Mccurry
Photo courtesy : http://alchetron.com/Steve-McCurry-239106-W


Setelahnya saya mulai mengikuti karya Steve Mccurry. Dari foto-foto jepretan beliau, saya paling senang mengamati foto portraitnya. Setiap dia motret orang, saya amat sangat menyukai bagian matanya. Semua orang yang difoto Steve Mccurry selalu menunjukkan 'sesuatu' di matanya. Ada kesan misterius, tapi juga ada kesan lain yang mendalam dari orang yang ia foto. Kesan mendalam itu ada di bagian matanya, seolah-olah tiap subjek fotonya mengalami kehidupan penuh perjuangan.


Photo courtesy : @stevemccurryofficial

Jadi penasaran apa yang Steve Mccurry lakukan waktu memotret hingga ia dapat sorotan mata dari subjeknya yang begitu dalam. Apa ia mengajak subjeknya ngobrol? Apa dia berkenalan dulu atau langsung motret?

Teknik editing foto-fotonya juga mengerikan. Ah pokoknya editing fotonya sadis!

Cek foto-fotonya di Instagram Steve Mccurry.


3. Norbert Wu

Norbert Wu adalah fotografer wildlife khusus kehidupan laut. Pertama kali tahu tentang Norbert Wu dari majalah Photoasia (majalah yang sekarang sudah saya gak lihat lagi, tutup kali ya?). Di samping foto-fotonya yang bagus, hal yang paling saya suka dari Norbert Wu adalah tips dan triknya dalam teknik fotografi dan...bisnis!


Photo courtesy : http://www.norbertwu.com/nwp/subjects/seals_web/gallery-06.html

Misalnya gini, zaman dulu motret bawah laut belum ada peralatan secanggih, sevariatif, dan seterjangkau sekarang. Si Norbert Wu ini dia bikin sendiri alatnya karena anggarannya terbatas. Kita sekarang dimanjakan berbagai macam filter foto, dulu Norbert Wu menyusun sendiri filternya. Ribetnya lagi dia motret di dalam air, bukan di darat. Kebayang repotnya berkali-kali lipat dan dia bahagia melakukan semua itu. 'orang gila' :D 

Dari Norbert Wu pula saya belajar teknik Piggy Packing. Cmiiw ya. Piggy Packing adalah cara untuk mengatasi jadwal selama kita mengerjakan assignment dengan menyisipkan jadwal untuk pekerjaan yang lain, tanpa mengganggu pekerjaan utama. Misalnya, Norbert Wu ada assignment motret Manta Ray. Tapi dia juga menyisipkan jadwal untuk motret kehidupan Anjing Laut. Terus terang aja saya dan Ulu mempraktekan teknik Piggy Packing ini dalam kehidupan kami sehari-hari.

Piggy Packing juga sempet dibahas dikit kok di novel Supernova yang Partikel. Walau gak disebut Piggy Packing, tapi pekerjaan Paul The A Team ya gak jauh-jauh dari Piggy Packing :D

FYI, saya gak menemukan akun Instagram Norbert Wu. Mencari foto profilnya di internet juga susah. Hasil fotonya lebih mudah kita dapatkan ketimbang foto mukanya :D

Cek websitenya di http://www.norbertwu.com/


4. Sebastiao Salgado

Orang ini super sakti :D Sakti dan sakit lah hehehe. Lebih tepatnya sih 'sakit' dalam makna positif. Dia adalah seorang doktor di bidang ekonomi yang beralih menjadi fotografer. Spesifiknya mah jurnalis fotografer. Sebastiao Salgado mendapatkan highlight dalam karirnya sewaktu memotret peristiwa penembakan Ronald Reagan. 

Sebastiao Salgado membuat beberapa proyek fotografi yang rentang waktu pengerjaannya tahunan. Saya baca malah ada yang 1 proyek buku yang ia kerjakan, makan waktu pembuatan 10 tahun. Hasilnya? luar biasa! Cek buku fotografinya berjudul Genesis.


Sebastiao Salgado
Photo courtesy : https://id.pinterest.com/kskittyfrog7/sebasti%C3%A3o-salgado/

Sebastiao Salgado pernah datang ke Indonesia dan memotret di sini. Beberapa fotografer Indonesia mendampinginya memotret di Indonesia. Di majalah Fotomedia yang saya baca (majalahnya udah gak ada, by the way), beberapa fotografer lokal itu menulis testimoninya tentang bagaimana rasanya bekerja bersama Sebastiao Salgado. Salah satu fotografer menceritakan kalau Sebastiaou Salgado tidak makan dan tidak minum sewaktu memotret. Katanya supaya fokus motret, Salgado puasa. 

Untuk mengenali objek lokasi fotonya, Sebastiao Salgado pernah berjalan mengelilinginya selama 10x. Determinasinya kuat. Ia sendiri pernah mengatakan begini: tidak ada satu pun kamera di dunia ini yang dapat menyaingi kerja keras saya.

Baca tentang Sebastiao Salgado lebih banyak di link yang saya kasih ya. Atau browsing aja langsung di Google. 


5. Michael Yamashita

Beliau adalah seorang travel photographer. Dari Michael Yamashita saya belajar menangkap spirit of the place. Pertama kali tahu tentang Michael Yamashita dari proyek fotografi yang beliau buat, yaitu tentang Laksamana Cheng Ho. Buku fotografinya itu berjudul ZHENG HE, Tracing The Epic Voyages of China's Greatest Explorer.


Photo courtesy : https://www.amazon.com/Michael-S.-Yamashita/e/B001JOKG3C

Selain memuat foto perjalanan di dalam buku Laksamana Cheng Ho, beliau juga pernah menerbitkan buku fotografi perjalanan menyusuri sejarah Marcopolo, tentang Great Wall China, juga tentang New York, dan beberapa lainnya.

Jauh sebelum travel photography muncul di Instagram dan begitu memuakkan (sorry, begitu kata Indra :D), foto-foto jepretan seorang Michael Yamashita sangat amat menggugah dan bergelora. Tak ketinggalan setiap karyanya disertai sentuhan human interest yang mengagumkan.




Belasan tahun lalu saya pernah menghadiri workshop fotografinya di Jakarta, yes Michael Yamashita pernah mampir ke Jakarta dan menjadi pembicara pada sebuah workshop fotografi.Follow Instagramnya di @yamashitaphoto.

Saya belum bahas fotografer Indonesia favorit saya. Ada Ramasurya, Nicoline, Sonny Sandjaya, dan beberapa lainnya. Saya bahas di postingan berikutnya ya. Cek dan silakan baca semua tulisan bertagar #photographytalk juga ya di label Photography. Terima kasih dan selamat Natal bagi teman-teman yang merayakannya ☺




Tulisan ini diceritakan oleh Indra Yudha dan ditulis kembali oleh Nurul Ulu.