Social Media

Image Slider

Showing posts with label Jogjakarta. Show all posts
Showing posts with label Jogjakarta. Show all posts

Gang-Gangan Menyaksikan Sisa Bongpai di Badran

03 January 2023

Hari sabtu 19/11/2022 adalah hari terakhir saya berada di Jogja. Pagi-pagi check out dari penginapan dan saya meluncur ke Stasiun Tugu. Padahal kereta api datang pukul 11, saya sudah bergegas mau ke mana memangnya? Mau ketemu dengan Gang-Gangan! 

 

gang-gangan bongpai di badran


Janjian bertemu orang baru adalah kegiatan di luar zona nyaman saya yang terbiasa sendirian. Namun Shinta dari Gang-Gangan beberapa kali mengirimiku pesan di instagram. Mulai dari chat berbunyi “sungguh kita harus ketemu” sampai “mba, plis plis plis berkabar kalau ke jogja suatu saat nanti ya”. Sebuah sikap ekstrovert yang gak masuk dalam keseharian saya yang ambivert. 

Namun dengan Shinta berbeda. Memanglah gigih sekali orangnya, persisten dan melankolis. Saya merasa nyaman kepadanya meski ketemu juga belum. Jadi saya memberanikan diri mengontak Shinta duluan dan memberitahunya bahwa saya berada di Jogja. Kami bertemu dan ia mengenalkan saya pada teman-temannya.

Baik sampai mana tadi? Gang-Gangan.

Saya dan Shinta janjian di pintu parkir barat Stasiun Tugu. Ada Risna dan Anisa bergabung. Di hari sebelumnya saya telah bertemu Risna dalam tur di pabrik cerutu Taru Martani bersama Alon Mlampah.

Shinta, Risna, dan Anisa membuat Gang-Gangan, sebuah kelompok pengarsip gang. Di Jogja mereka berjalan kaki menyusuri gang-gang dan merekamnya. Arsip itu mereka simpan di akun instagram @gang-gang.an.

Pagi itu mereka mengajakku ke Badran, wilayah perkampungan dekat Stasiun Tugu yang popular sebagai kampung preman. Spesies preman asal Badran ditakuti seantero Jogja. “Tapi kampung ini sekarang dibuat ramah anak, mbak,” ujar Risna.

Namun bukan Badran yang bertransisi sebagai kampung ramah anaknya yang pagi itu kulihat di sana. Melainkan Badran bekas lokasi kompleks pemakaman tionghoa di Jogja.

Badran terdiri dari beberapa gang dan RW. Wilayahnya di pinggir sungai winongo. Rumah-rumah di mulut gang seperti biasa wujudnya agak besar. Makin dalam masuk gangnya rumahnya makin mengecil dan padat. Kutemui ada beberapa lapangan. Ada juga kompleks makam warga. 

 

gang-gangan bongpai di badran


Di era kolonial Badran adalah kompleks makam orang-orang tionghoa. Entah lokasi pemakamannya pindah ke mana, dalam proses pindah-pindah itulah jejak batu nisan di Badran berceceran. Jenazahnya dipindah, sementara itu batu nisannya tertinggal.

Batu nisan makam tionghoa ini bernama Bongpai (cmiiw). Gang-Gangan ke Badran tujuan utamanya mengajakku melihat jejak bongpai.

Mengejutkan sekali karena kulihat ada banyak bongpai di Badran! batu nisan ini tertancap di jalanan gang, di tembok-tembok gang, dan tertanam begitu saja di lapangan permukaan tanah. Secara kasual bongpai menjadi bagian dari keseharian warga. Mereka memperlakukannya sebagai batu biasa.

Kenapa warga menggunakannya sebagai batu-batuan di tembok ya? tanyaku pada Risna. “Kualitas batunya bagus, Mbak,” jawab Risna yang tergabung dalam komunitas Indonesia Graveyard. Jika diperhatikan dan dipegang, bongpai ini memanglah kokoh dan tebal. Bila saya warga Badran memanglah sayang bila disingkirkan batunya, baiknya memang dimanfaatkan saja buat infrastruktur bangunan.

Sepertinya itulah yang dilakukan warga Badran. Bagiku hal yang menarik adalah mereka seperti tidak terganggu dengan keberadaan batu-batu nisan itu. Terlihat tidak ada maksud untuk menyingkirkan sisa bongpai. Warga bahkan tidak membalik permukaan batu nisannya. Dengan demikian saya bisa melihat tulisan berbahasa cina yang terukir pada permukaan batu tersebut.

Unik sekali di tengah kegiatan warga yang bukan etnis tionghoa dan rumah-rumah khas dalam gang ada batu nisan bertuliskan dalam bahasa cina. Pemandangan yang kontras dan solid sekaligus. 


gang-gangan bongpai di badran


Kuitung Bongpainya banyak banget! Jumlahnya lebih dari 15 bongpai Gila seru banget! idk ini kenapa seru tapi memanglah tiap menemukan bongpai saya terpukau terus. Kayak hah, kok bisa, hah beneran, hah kok bisa, wah bagus euy, wah asli sih keren, hah kok bisa!

Saya pernah melakukan hal serupa di Bandung. Berjalan kaki menyusuri sebuah perkampungan tengah kota dalam rangka menyusuri batu nisan ala tionghoa ini. Ada satu bongpai di Babakan Ciamis, dekat Balaikota. Dalam bongpai tersebut tulisannya dalam bahasa latin, bukan bahasa cina.

Di lain waktu saat menyusuri sejarah Dobi di Kebon Kawung saya dipandu Komunitas Aleut dan menyaksikan satu batu nisan yang menjadi alas penggilingan cuci baju oleh warga. Namun si batu nisan ini tergeletak horizontal di lokasi yang tidak bisa kami jangkau, jadi kami melihatnya dari jarak beberapa meter dari bongpai tersebut. Tidak terlihat apapun selain wujud batu aja. 

Jadi saat saya berada di Badran dan terpukau melihat sisa-sisa bongpai di sana kukira itu hal yang wajar, bukan lebay. Mengingat pengalaman saya di Bandung yang demikian tadi saya ceritakan, sementara di Badran semua bongpainya masih berukir tulisan dalam bahasa cina dan saya bisa memegang batunya. Bayangin, megang! Megang bongpai yang asalnya dari zaman belanda begitu coba gimana mungkin saya gak takjub. 

 

gang-gangan bongpai di badran


Shinta cerita dalam bongpai biasanya selain tertera nama orang yang wafat. Lalu ada daftar nama anggota keluarganya yang mengurus pemakaman.

Bila memperhatikan batu nisan dan melihat wujud pemakaman ala tionghoa, kurasa pasti butuh banyak sekali uang untuk mengurus satu makam saja. Karena itulah nama keluarga yang mengurusnya wajib tercantum di bongpai.

Kupikir manusia ini rumit juga, saat hidup butuh biaya, setelah wafat pun masih ada ongkosnya. Tidak hanya kaum tionghoa dan bongpainya, keluarga saya yang etnis sunda pun atau kamu pasti mengalami hal yang sama. Namun nampaknya ongkos makam orang-orang tionghoa pasti mahal, bila kulihat dari bongpainya.

Tidak semua wilayah Badran dapat saya jelajahi. Maklumlah pukul 11 stasiun tugu menanti. Hehe. Kira-kira durasi saya berjalan 2,5 jam.

Sebelum pukul 11 kereta api datang dan saya harus bergegas menuju stasiun. Kami berpamitan di parkiran Stasiun Tugu dan berjanji bertemu lagi. Akan tetapi sebelumnya kami berenam sempat santap Tahu Gimbal Pak Warno. Ditraktir Mba Autine. Makasih, Mba!

 

difoto Risna

 

Terima kasih banyak Shinta, Anisa, dan Risna.

Dalam tur di Badran ini saya bertatap muka dengan Autine dan Radea. Dua orang yang mendiami kawasan jawa timur dan saya mengenali mereka karena foto-foto bangunan tuanya di instagram. Sungguh saya senang sekali bisa gang-gangan dengan mereka semua. Hamdalah makasih ya, Shinta. Bukan hanya saya berjumpa dengannya tapi juga bisa bertemu dengan teman lama-tapi-baru lainnya. Saya beruntung sekali.

Makan Bakmoy di Kedai Rukun

24 November 2022

Waktu kapan itu saya baca buku judulnya Jogja Bawah Tanah, ada satu artikel tentang Kedai Rukun berjudul Cita-Cita Bapak, Resep Ibu, dan Janji Anak. Ibunya jago meracik masakan. Almarhum ayahnya mengajak buka kedai. Si anak inilah, bernama Muhammad Bagus Panutun, yang membuat Kedai Rukun.

Karena membaca artikel tersebut saya ancang-ancang akan mampir ke Rukun (begitu orang Jogja menyebutnya) kalo sedang berada di Jogjakarta. 

 

kedai rukun jogja


Hamdalah nyampe juga saya di Rukun. Kupesan Bakmoy dan segelas teh di sana. Menurut artikelnya, Bakmoy dan Brongkos merupakan dua menu yang pertama hadir, buatan ibunya Bagus. Dan Bakmoy favorit almarhum ayahnya.

Bakmoy adalah makanan berkuah. Ada potongan tahu, daging ayam, dan telor pindang dalam kuah kaldu. Nasinya tenggelam di dalam kuah.

Sebelum wafat, si ayah mengatakan pada Bagus, bagaimana kalau ia keluar saja dari tempatnya bekerja dan menyarankannya membuat kedai sendiri. Meski gak banyak ayahnya juga memberi sejumlah uang untuk mewujudkan cita-cita kedai tersebut.

Bila kedainya tutup, ibunya Bagus bakal protes karena ibu kepingin ada kegiatan, kegiatan masak dan ngurusin pelanggan itulah sekarang yang dikerjakan ibunya. 

 

bakmoy kedai rukun


Begitulah ceritanya mengapa saya datang ke Rukun dan memilih menu Bakmoy. Gara-gara baca buku itu. 


Saat saya bersambang ke Rukun, saya baru saja selesai mengikuti tur di Taru Martani. Kedua kakiku capek, badan capek, dan inginnya langsung ke penginapan saja. Namun Kang Farhan dari Cerita Bandung meyakinkan saya agar mampir dulu ke Rukun. Iya, saya bertemu Kang Farhan di turnya Alon Mlampah - Taru Martani padahal gak janjian. 


Wah syukurlah saya mengikuti sarannya. Hehe. Suapan pertama bakmoy terasa merontokkan rasa capeknya. Hangat kuahnya itu loh. Belon lagi seporsi bikin waregregreg!

Google aja Kedai Rukun lokasinya di mana. Selama di Jogja saya ke sana ke sini pake gojek aja, arah lokasinya gak tau-tau acan.

Artikel yang bagus tentang Kedai Rukun  itu dapat kalian baca pada buku berjudul Jogja Bawah Tanah. Beli saja di Tokopedia, nih saya cantumkan linknya: beli di sini.


buku jogja bawah tanah
kedai rukun jogja

kedai rukun jogja

kedai rukun jogja

Di Sudut-sudut Antik Kotagede

11 April 2018
Dalam tubuh saya mengalir darah Pantura, Indramayu dan Cirebon. Ketika saya sampai di Kotagede, Yogyakarta, agak aneh geli sendiri rasanya. Karena Kotagede yang dahulunya kerajaan Mataram ini pernah mencaplok kawasan nenek moyang saya. Bergiliran dengan kerajaan Pajajaran, Mataram menguasai  Cirebon jauh sebelum Belanda datang. Sampai pada akhirnya Belanda yang menjajah kita semua. 

Mungkin begini ya rasanya orang Indonesia yang berkunjung ke negara Belanda. Hahaha perumpamaan yang gak terlalu tepat sih tapi ya kira-kira begitu lah. 

Masih lekat dalam ingatan, saya pernah berkunjung ke Yogyakarta untuk pertama kali -selama 10 hari- di tahun 2007. Umur saya 22 tahun waktu itu. Lama tak bersua dengan Kota Pelajar, bulan Juni di tahun 2015 saya kembali ke Yogyakarta. 

Wajah Yogyakarta sekarang banyak berubah. Yhaaa serupa Bandung lah. Lebih riuh, makin padat. Tapi tidak dengan rindu saya padanya yang masih sama sejak terakhir kali saya meninggalkannya. Masih sama segitu-gitu aja. Hehe. 

Berada di Yogyakarta, saya berlibur bersama dua orang lainnya, anak (nabilkubil) dan suami (indra). Satu tempat yang sudah kami niatkan untuk kunjungi namanya adalah Kotagede. 

Di sana kami bertiga hendak menikmati segelas es dawet di Warung Sido Semi, melongok makam-makam Raja Mataram, dan menyusuri bangunan antik sepanjang Kotagede.





Ke Jogja, saya dan Indra membawa bekal peta perjalanan buatan Emile Leushuis. Karena kami gak berencana belanja atau wisata kuliner, tujuannya satu: gedung-gedung kuno di Kotagede.

Kotagede pernah menjadi sentranya kerajinan dan perdagangan. Wilayah ini merupakan pusat kota Mataram. Banyak jejak pemukiman bangsawan yang pernah atau masih tinggal di sini. 

Mengingat statusnya, ini kawasan berarti tua banget. Sudah ada sejak Sultan Agung masih hidup. Sekitar 5 abad lalu.

Berbekal sebuah peta yang kami fotokopi dari buku Panduan Jelajah Kota-kota Pusaka di Indonesia yang ditulis oleh ahli geografi dan pemandu wisata Emile Leushuis, kami menapaki satu demi satu gedung bersejarah di Kotagede. 

Perjalanan di Kotagede kami mulai pukul sembilan pagi. Cuaca masih segar meski panasnya sudah begitu terasa menggigit. Titik keringat sudah bermunculan. Maklumlah, kami orang gunung. Datang dari Bandung yang suhunya sejuk, ke Yogyakarta yang temperaturnya hangat. 

Belum banyak langkah kaki kami alun sejak Jalan Tegalgendu, beberapa bangunan tua sudah dapat dilihat. 

Berdasarkan buku yang saya baca, itu rumah tua Rumah Kalang namanya. Orang Kalang asalnya dari zaman Majapahit yang ada campuran etnis Bali. Ini saya baca di internet aja sih asal-usulnya. Orang Kalang ini profesinya saudagar. Kaya raya pula. Cerita menarik tentang orang Kalang bisa kamu baca di sini ya. 

Bangunan di Kotagede gaya arsitekturnya ala kolonial campur jawa. Itu rumah-rumah di tepi jalan. Kalau kamu masuk ke gang-gang kecil, nah baru kelihatan rumah-rumah tradisionalnya. Ada sih bangunan modern, tapi ada juga yang bentuknya masih joglo. 

Dapat memasuki sebuah bangunan tua menjadi pengalaman yang saya tunggu-tunggu. Di toko perhiasan silver bernama Silver Anshor saya melakukannya. Wah indah sekali gedungnya. Warna bangunan putih, lantainya masih model tempo dulu, interiornya yang megah, dan pilar-pilar gedungnya mencirikan pemiliknya yang berasal dari kaum bangsawan. Kebanyakan gedung-gedung kuno di Kotagede cat dindingnya berwarna putih. Warna yang sama dengan bangunan sejenis di Eropa, khususnya Belanda. 




Dari satu rumah ke rumah yang lain, dari satu gedung ke gedung yang lain, Kotagede sungguh memikat. Saya tidak melihat ada bangunan komersil yang lebih tinggi dari rumah-rumah (kuno) di sini. Kelestariannya cukup terjaga (bila dibanding Bandung). 

Di tengah perjalanan kami mampir ke suatu warung sederhana. Seorang teman -sebelum kami berangkat ke Kotagede- menyarankan begini: kalau ke Kotagede harus jajan Kipo! 

Di warung tersebut saya hendak menunaikan pesan dari teman. Tugas mulia bernama makan Kipo! 

Oala ternyata bentuknya sangat kecil sekali. Sebesar ibu jari. Tak terbayang sebelumnya bahwa Kipo adalah kue yang ukurannya mini. Warnanya hijau. Terbuat dari tepung beras dan pada bagian dalamnya campuran gula merah dan kelapa parut. Kipo serupa dengan kue Dadar Gulung. Konon Kipo adalah kue yang dahulu menjadi suguhan di Keraton. 



Kipo sudah habis. Istirahat cukup. Energi sudah kembali. Perjalanan kembali dilanjut. 

Kali ini kami memasuki gang kecil, menyelami Kotagede lebih dalam, mengenalnya lebih dekat. Bahkan di dalam ruang yang lebih sempit semacam gang, Kotagede memiliki pemandangan yang sama seksinya dengan panorama yang kami lihat di pinggir jalan raya. Bahkan ada gedung tua yang megah di dalam gang. Rumah Rudi Pesik, misalnya. Juga ada beberapa rumah tradisional Jawa, yaitu Joglo, dan rumah-rumah sederhana yang kuno dan apik. 

Saya melihat pintu rumah antik terbuka. Sungguh menggoda untuk saya ketok pintunya dan ngobrol dengan penghuninya. Suara ibu-ibu terdengar sedang bicara. Medok dan merdu. Saya intip dari jendela, mereka kayak lagi asyik masak begitu. 



Warung Sido Semi yang saya tuju tutup sudah. Tutup selama-lamanya. Tetangganya berkata demikian. Waduh sayang uhuhuhu....

Ya sudah kami berjalan saja ke Pasar Legi. Dan sudah terlalu siang untuk belanja atau jajan. Uhuhuhuhu. Rencananya mau melongok isi pasar. Tapi pasarnya kayak udah agak sepi. Agak menyesal juga saya langsung tinggalin pasarnya. Lebih baik saya masuk saja dulu mana tahu di dalam pasar bagaimana pemandangannya.

Pasar Legi Kotagede sudah ada sejak abad 16.

Kami berbelok saja ke Makam Raja-raja Mataram. Menapaki Gerbang Paduraksa rasanya terasa begitu syahdu. Ini pertama kalinya saya mengunjungi makam Raja-raja Mataram. 

Sinar matahari meredup. Langit berawan. Angin semilir di kompleks pemakaman tersebut menyambut kami bertiga. Jalur jalan pelancong dan peziarah di makam ini sangat berkelok. Jalan lurus - ketemu tembok - belok kiri - lurus - belok kanan - lurus. Serupa adat orang Jawa yang kalau sedang bicara terdengar berputar-putar. Cara orang membangun sebuah tempat konon persis sama dengan adat budaya cara berpikirnya. 

Tentu saja makam seorang raja berbeda dengan makam orang-orang kebanyakan. Tempat yang saya kunjungi itu sangat mewah, bukan hanya gapuranya tinggi-tinggi dan megah, tapi juga ada tempat pemandian bernama Sendang Seliran. Sungguh ini kompleks pemakaman yang luas, sakral, dan eksotik. 

Berada di kompleks Makam Raja Mataram saya harus melewati pintu-pintu (gapura) berukuran besar dan pepohonan beringin. Makamnya sendiri tidak boleh dilihat sembarangan. Butuh orang dengan status tertentu untuk melihat langsung makam para Raja Mataram. 

Waktu saya ke sana sih sepi banget. Karena bukan hari akhir pekan dan hari libur. Saya gak merasa ada yang angker di sini. Tiap sudutnya cantik dan tradisional. Di pintu masuk gapura agak terganggu pemandangan jemuran warga sih. 

Rencananya kami ingin beristirahat lagi di Masjid Besar Mataram, sayang masjidnya ditutup karena renovasi. Kami beranjak keluar dari kompleks tersebut. Matahari kembali terang dan panas. Aneh sekali. Di dalam kompleks pemakaman Raja Mataram tadi rasanya sangat sejuuuuk banget. 


Kembali ke luar masuk gang, kami sempat tersesat. Tapi tak sulit keluar dari labirin gang-gang Kotagede. Papan nama jalan terpancang rapi. Penduduk lokal pun selalu menjawab ramah jika kami tanya. 

Dua jam sudah berlalu sejak jam makan siang berlaku. Kami sudah berada di Kotagede sejak jam 9 pagi. 

Pukul dua siang perjalanan di Kotagede kami akhiri. Restoran atau warung makan menjadi destinasi kami berikutnya. Memesan taksi, kami putuskan kembali ke pusat kota. 

Dari dalam taksi kami kembali menyusuri jalanan Kotagede, kembali melewati Jalan Tegalgendu. Saya menyaksikan lagi bangunan-bangunan yang kami saksikan dari dalam jendela kendaraan, sekilas rasanya seperti sedang me-review perjalanan yang kami lakukan dari tadi pagi. Mengkaji ulang dan merekam baik-baik pemandangan dan rasa Kotagede. 

Setelah delapan tahun akhirnya saya bisa bertemu lagi denganmu, Yogyakarta. Di Kotagede, saya menuntaskan rindu itu. Semoga kita bersua lagi ya. Masih ada sudut-sudut Yogyakarta yang ingin saya saksikan, sudut yang sama, sudut-sudut kota yang tradisonal dan bersahaja (kecuali bangunan miliknya Keraton dan Raja-raja Mataram :D). 

Disclaimer: tulisan ini adalah tulisan lama yang saya buat di tahun 2016. Saya perbaiki tulisannya dan saya unggah ulang per bulan April 2018 ini. 





Teks : Nurul Ulu W
Foto : Indra Yudha

The Wayang Homestay di Yogyakarta: Murah dan Menyenangkan (ps: wifinya jelek)

08 February 2018
Selamat datang di postingan pertama tahun 2018 :D 

Saya belum kasihtahu ya, terakhir kali jalan-jalan di Yogyakarta kami menginap di The Wayang Homestay. Anggaran tidur yang terbatas, saya cari penginapan yang ramah anak dan ada AC. Cari-cari daftarnya di Agoda dan baca reviewnya, pilihan jatuh ke Wayang Homestay di Jl. DI Panjaitan. 



Kesan pertama menginjakkan kaki ke tempat ini, aduduhhhhhhhhh hangatnya...Bukan hangat cuaca yah itu  mah udah pasti :D

Seharian itu kami gak berhenti berkegiatan dari jam 8 pagi. Saya dan Nabil abis jalan kaki dipandu teman baik melihat-lihat masjid antik dan kampung kuno

Terus saya boyong anak kecil ini ke Gembira Loka. Wow Jogja punya kebun binatang terbaik! Kami berdua menyukai kebun binatang tersebut dan merekomendasikannnya buat teman-teman sekalian. Keren!

Kami ada di Gembira Loka sampai tempat itu tutup hahaha. Janjian ketemu sama Indra, dia ajak kami ke daerah Imogiri. Ya deket-deket situ lah buat makan Sate Klathak yang terkenal. Apa ya nama satenya saya lupa lagi. 

Kaki capek. Perut kenyang. Tapi ya rasanya ini badan udah letih. Jam 9 malam baru nyampe The Wayang Homestay. Saya bawa ransel. Indra menggendong Nabil yang tidur. Baru buka pintu, ada mas-mas yang melihat kami, dia lagi nyapu, dan senyumnya LEBAR BANGET :D

Detik itu di mana saya melihat si masnya senyum menyambut kami, rasanya kayak lagi mau numpang nginep di rumah sodara. Hahahaha. Mana ini hotel juga sebenernya rumah sih, terasnya mungil. Sederhana tapi apik.  

Orang itu bernama Mas Jack. Proses check in gak lama. Dia bahkan, menurut saya ini thoughtful, komen kami kelihatan capek hahahaha. Kamar kami di lantai 2. Pas di ujung tangga. 

Kamar Deluxe, dapet sarapan, ada AC, kamar mandi shower, ranjangnya twin dan kami minta ranjangnya disatuin aja. Menginap dua malam totalnya cuma 400ribu. 

Kamarnya luas juga. Faedahnya kamar agak luas ya terasa lapang aja gak sesek. Secara saya dan Indra ukuran badan gak kecil. Si Nabil mau main di kasur bisa, di lantai juga leluasa. Terus naro barang juga cuek hahaha. Berantakan to the max masa bodo :D

Kamar mandinya kayak di rumah sendiri. Biasa banget lah. Bersih aja mantap. Ada air anget. Enyaaaak. 

Fyi, air minum-kopi-teh tersedia 24 jam. Sarapannya nasi goreng dan rasanya enak.



Ohiya, di sini WIFInya jelek, gak kepake lah. Simpan aja hapenya terus tidur. Nonton tivi aja gimana, channel tv kabelnya menurut saya mah oke punya, kayak di rumah sendiri cuma tanpa BBC aja. 

Apalagi ya, udah sih gitu aja. Tempatnya palingan yah bukan di pinggir jalan yang ramai. Justru masuk ke daerah pemukiman warga. Sepi suasananya. 

The Wayang Homestay punya stok sepeda buat dipinjem tamu. Kami kepikiran sih pake sepedanya dan jalan-jalan sekitar hotel. Tapi rencana doang sebab sehari semalam pertama kami cuma tidur melepas rasa capek. Makan-tidur-makan-tidur. Begitu aja. Baru lah di hari ke dua berangkat lagi, plesir ke Borobudur

Penginapan mungil yang menyenangkan ini saya rekomendasikan banget kalau teman-teman ke Yogyakarta. Tempatnya apa ya...Jogja banget lah. Duh kota yang satu ini kenapa ngangenin banget yah, artistik, tradisional, dan pesona 'jawa' yang hangat. Kecuali orang Jogja yang naik motor tuh ya gak santey banget dan makanan jalanan yang menurut saya rasanya gak seenak di Bandung. Walo demikian, aku cinta padamu, Jogjaaaaaa! 

Saya gak foto banyak di sini. Kamar pun gak difoto. Kayaknya foto saya ini gak nolong banget untuk menggambarkan suasana penginapannya hahahaha sori ya. Cari aja di google foto hotelnya :D 

Mampir ke Toko Jamu Ginggang di Yogyakarta

31 October 2017
Cerita dari Yogyakarta masih berlanjut. Hari Jumat. Rencana kami gagal semua. Seharian semalaman kerjaan kami cuma tidur. Indra baru beres dengan pekerjaannya di Yogyakarta. Saya dan Nabil kecapekan jalan kaki. 

Mengalah dengan umur dan anak kecil umur lima tahun, kami putuskan seharian itu istirahat saja di kamar hotel. Tidur seperti kebo. Bangun hanya untuk makan. Habis itu tidur lagi. Haha. 

Begitu sore datang, punggung saya udah kecapekan karena tidur melulu. Haha. Saya putuskan pesan Gojek dan pergi ke toko jamu. Indra dan Nabil milih gak ikut. Ya uwis saya pergi sendiri. 


Agak canggung juga sih berada di toko jamu ini. Entahlah ini saya aja yang ngerasain atau kamu juga. Di Bandung orangnya murah senyum, di Yogyakarta ini orang-orangnya agak-agak kaku sama kayak di Cirebon sih. Walo Cirebon lebih mantap kakunya hahahaha. Memang hanya sebatas beda budaya aja. Kalo diajak ngobrol ya ramah juga.

Sama kayak di Toko Jamu Ginggang ini. Seorang ibu dan satu orang bapak duduk dengan muka seperti manyun. Aduh hati saya mencelos dan berkata dalam hati 'bukan di Bandung...bukan di Bandung. Hahaha. Lagi pada kecapekan apa yak udah sore banget heuheu. 

Kosong di dalam toko, gak ada siapa-siapa lagi. Pengunjungnya saya seorang. Saya memesan Es Beras Kencur Biasa. Harganya 6.000 segelas. Gelasnya besar kok bukan gelas-gelas kecil alam mba jamu gendong. 

Dan itu adalah jamu beras kencur terenak yang saya pernah minum. Gila segarnya bukan main. ENAAAAAKKKK! Saya lagi capek kali ya, jadi pas minum es beras kencur ini rasanya kayak dibanjur air. Mantap! 

Gak cuma minum jamu, di sini bisa cemal-cemil juga. Tapi saya gak niat mau berlama-lama. Cuma pengen rasain jamunya dan suasana di tokonya. Hanya saja karena sendirian dan sebentar lagi adzan magrib berkumandang, rasanya pengen cepet balik ke hotel.

Gak kerasa banget suasananya wong sayanya buru-buru. Huuffttt. 

Pengen balik lagi ke Toko Ginggang kalo ke Jogja lagi. Siang-siang sih pengennya. Pas Yogyakarta sedang panas-panasnya. Saya pengen berlama-lama sih di sini. Tapi gak mau kesorean dan gak mau sendirian ahahahaha. 

Jalanan di depan tokonya sepi. Lokasinya masuk ke dalam jalan, bukan di pinggir jalan utama. Pintu toko masih berupa pintu lipat. Bangku dan meja dari kayu dan sepertinya berasal dari tahun di mana ibu saya lahir. Dapur pembuatan jamunya pun sama antiknya. Yah toko ini udah mengalami segala macam pergantian sejarah sepertinya. 

Saat hendak membayar, saya menghampiri si bapak yang berada dekat dengan jendela dapur. Saya lihat ada barisan botol sarsaparila. Oh itu kan minuman favoritkuuuuu! Tapi perut udah kembung minum jamu segelas.

Ah ya sudahlah saya niatkan dalam hati nanti balik lagi ke sini. Indra sih gak mungkin suka deh minum jamu. Ajak siapa ya ke sini? :D

Toko jamu Ginggang
Jl. Masjid no 32
Yogyakarta






Tulisan tentang perjalanan kami di Yogyakarta ini saya sudahi di sini yak. Eh sebenarnya ada satu lagi sih, resensi penginapan kami selama ada di sana. Haha :D 

Bagi yang ingin membaca tulisan saya tentang Yogyakarta, klik ke Keluar Bandung ini. Thanks! 






Foto : Ulu
Teks : Ulu







Upeti untuk Nabil: Gembira Loka

16 October 2017
Ini gak tahu ya saya dan Indra orang tua egois atau enggak. Tiap kali bepergian Nabil kan selalu kami ajak. Masalahnya kami sangat jarang mengunjungi tempat yang khusus untuk anak-anak.

Begitu juga kalau sedang main ke mall. Sesekali saja ke Gamemaster ajak Nabil main di sana, sebulan sekali juga jarang. Seperti di Yogyakarta, semua tempat yang saya kunjungi bukan children friendly banget.

Tapi buat saya mah konsep children friendly seringnya masalah perspektif aja. Kalau Nabil bisa lari-lari di lapangan di depan Masjid Gedhe Kauman, ya buat saya dia sedang bermain dan senang-senang. Nabil juga saya biarkan injek-injek kubangan air. Airnya juga bersih lah. Heuheu.

Walo begitu, ada juga bisikan dalam batin yang bilang sebaiknya saya kasih upeti untuk Nabil. Sebagai ungkapan terima kasih karena sudah berbaik hati menemani ibu dan ayahnya jalan-jalan ke tempat yang gak-anak-kecil-banget.

Setelah kami ke Masjid Syuhada, Kota Baru, Los Bunder, Kauman, dan beberapa masjid lainnya, di hari ke tiga saya putuskan ajak Nabil ke Gembira Loka. Kebun binatangnya Yogyakarta.



Di atas angkutan Grab yang melaju, saya bilang sama Nabil. "Kita mau ke kebon binatang, Bil,".

"Hah? Beneran, Mah? Asyiiiiikkk!" Mukanya lucu banget lol!

Hahaha. Aduh Bil, maaf ya jarang nih ibu kamu ajak-ajak ke tempat kayak gitu. Heuheu.

Gembira Loka tutup jam 4 sore. Kami ke sana pukul dua siang. Cuaca di Yogyakarta sedang bersahabat. Adem. Lucunya bukan cuma Nabil yang seneng keliling Gembira Loka. Saya jugaaaaa hahahahahah.

Gembira Loka ini gak kayak yang saya harepin. Ah paling biasa aja lah kayak kebon binatang kebanyakan. Nyatanya adalah dia bagus banget. Eh ralat: BAGUUUUUSSSS BANGEEETTT!

Bersih, teratur, layak, aman, luaaasss, rindang, informatif, banyak tempat sampah, ada bis kalau capek, banyak stasiun bis, aneka koleksi binatangnya juga banyak ya.

Di mana-mana ada pepohonan sehingga berjalan kaki pun rasanya teduh. Kalau capek, bisa selonjoran. Ada beberapa titik kantin dan semua kantinnya rapi dan bersih.

Ngomong-ngomong kebaikan Gembira Loka di atas itu saya lagi bandingin dengan kebon binatang di Bandung sih yang busuknya luar biasa. Heuheuheuheu...

Masuk ke Gembira Loka, kami dibekali peta lokasi. Saya ajak Nabil naik bis dulu, pemetaan lokasi gitu lah biar saya tahu seberapa jauh nih kalau jalan kaki. Beres keliling 1 putaran, saya ajak Nabil lagi, mau gak keliling lagi tapi jalan kaki. Eh dia mau. Ya uwis kami keliling Gembira Loka dua kali deh. Wkwk.

Paling seneng bisa lihat Harimau Sumatera. Kebanyakan binatang di sana yang saya lihat kayaknya sedang leyeh-leyeh :D males-malesan gitu kayak abis makan kekenyangan. Makna-tidur-makan-tidur. Life is good, eh?

Sore yang menyenangkan di Gembira Loka. Nabil seneng banget dan selama satu bulan lamanya sejak plesiran kami itu, dia bahas Gembira Loka melulu wkwk.

Tolong jangan sebut kasihan lihat binatang dikrangkeng, oh saya juga kasihan. Seharusnya mereka ada di habitat aslinya. Tapi lihat kondisinya di Gembira Loka, saya pikir mereka akan baik-baik saja.














Foto : Ulu
Teks : Ulu

Terpukau Kauman Yogyakarta

10 October 2017
Kampung Kauman berada di jantung kota Yogyakarta. Saya menemukannya dalam buku Jelajah Kota-Kota Pusaka di Indonesia halaman 187, ditulis geograf asal Belanda Emile Leushuis. Disebut sebagai kampung kuno, Emile memaparkan Kauman sebagai dunia yang berbeda. Kupikir, maksudnya beda gimana ya? 
 

rumah kuno di kauman yogyakarta

Ceritanya waktu di Yogyakarta saya berkunjung ke masjid-masjid kuno yang ada di sana. Saya buat daftarnya. Masjid Gede di dekat Keraton salah satunya. 

Di belakang masjidnya ada kampung kauman. Lumrah di belakang masjid raya suatu kota ada perkampungan islam. Seperti Kauman ini. 

Di Bandung juga ada namanya Dalem Kaum. Sayang di kota saya jejaknya tinggal nama jalan dan kompleks pemakaman. Sementara di Jogja, kampungnya masih ada. 

Kubaca di bukunya Emile itu, katanya Kauman mulanya adalah lokasi ulama-ulama besar bermukim, imamnya Masjid Gede. 
 
Para istri ulamanya berbisnis batik. Produksi dan penjualan batik makmur dan membuat Kauman menjadi kampung eksklusif. 

Kemakmuran itulah yang mengubah wajah rumah-rumah di Kauman seperti sekarang: padat dan rumah-rumah bergaya kolonial campur lokal (baca: mewah kali yah). 
 
Mungkin dahulunya di Kauman hanya ada sedikit rumah ya? Rumah-rumahnya bergaya tradisional entah bagaimana. 
 
Dalam buku tersebut ditulis rumah-rumah asli berganti menjadi bangunan tembok bertingkat, serambi terbuka, pilaster-pilaster klasik, konsol besi, bingkai atap hias, gable yang dilapisi kayu hias, bovenlicht yang indah, daun jendela dan pintu ganda. 

Memanglah itu yang saya lihat di Kauman. Rumah-rumah bergaya klasik yang dekorasi arsitekturnya cantik-cantik semua! Seperti melihat banyak wanita yang dandanannya grandeur, santun, anggun, dan berbeda satu sama lain. Saya sampai melongo lihatnya.

Pintunya, jendelanya, serambi rumahnya, semua penampakan depannya membuatku terpukau. Bila kamu sama seperti saya, sama-sama menyukai pintu jendela kuno, Kauman inilah surganya. Rumah-rumahnya tuh packed, tersusun rapi, klasik, dan beragam banget penampakannya. 

Teman saya jalan kaki di Kauman, Alfian, bilang saya kalap. Hahaha iya betul saya kalap. Di sisi lainnya saya harus menjaga kelakuan diri agar tidak berisik dan heboh sendiri. Bagaimanapun juga saya memasuki wilayah pribadi orang lain, wilayah orang-orang Kauman.

Kauman sendiri terkenal karena cikal bakalnya gerakan sosial Muhammadiyyah didirikan K.H Ahmad Dahlan. Islam pembaharu. Ia pun khatib di Masjid Gede. 
 

Kauman dan Ahmad Dahlan - Muhammadiyyah

Ahmad Dahlan mau ngasih alternatif selain yang ditawarkan (pada saat itu kebanyakan) oleh lembaga-lembaga kristen, katolik, dan umum. Karenanya Muhammadiyah mendirikan sekolah, panti asuhan, klinik, rumah penampungan orang miskin, sampai organisasi perempuan. 

Mulanya Muhammadiyah tidak bertujuan sebagai organisasi politik. Sekarang sih sudah berubah ya. Maksudku, ah ya itulah tahu kan ya? hehe.
 
Di Kauman saya lihat ada musola khusus perempuan. Musola Wedhok istilahnya. Saya masuk ke dalamnya. Dan anak saya diusir marbot musolanya karena dia laki-laki meski usianya 5 tahun. Okesip gak apa-apa saya yang salah waktu itu.  
 
Kurasa bisa juga napak tilas jejak Ahmad Dahlan di sini. Sayang sekali saya berjalan tanpa panduan, hanya mengandalkan peta dari bukunya Emile dan beberapa keterangan deskriptif pendek. 
 
Kuharap suatu hari nanti saya kembali ke Kauman dan berjalan ditemani seseorang yang paham betul Kauman. Tentang Muhammadiyahnya maupun mengenai rumah-rumah di sini. 

Meski saya sudah pernah ke Kauman, tapi rasanya seperti melintas aja, numpang lewat aja. Sekembalinya di Bandung saya membaca-baca ulang tentang Kauman dan waduh banyak sekali yang saya lewatkan di sana. 
 

Kauman di Jogja Bersih Banget! 

Satu hal lainnya yang membuat saya terpukau di Kauman: semua lorong gang di Kauman bersih apik. Tidak ada sampah sekecil puntung rokok sekalipun.

Saya bertanya pada Alfian, bagaimana mungkin ini bisa terjadi? mengapa tidak ada yang menyampah? kita ini sedang di mana, apakah ini planet jawa? masa iya? mengapa gak ada yang membuang sampah sembarangan?

Satu hal lainnya, beberapa kali saya papasan dengan bapak-bapak tua yang mendorong motornya. Mesin motor dimatikan karena peraturannya begitu. Tidak boleh berisik.  

Saya, Alfian, dan Kubil pun ngobrol pelan aja karena memang harusnya begitu. Masa iya tertawa cekakakan dan sibuk berfoto selfie terus seolah-seolah Kauman adalah tempat wisata. 

Kauman bukan tempat wisata dan saya hanya tamu. 

Jajan

Sesi jajan selalu ada. Saya lihat ada rumah yang pintunya tiga. Dua pintu tertutup, satu pintu terbuka dan berisi toko kelontong. Di situ saya jajan banyak cokelat superman. 

Untungnya saya ajak warga lokal buat jalan di Kauman. Teman saya Alfian Widi mendampingi saya dan Kubil selama jalan-jalan di Jogja. Menggunakan bahasa jawa, Alfian ngobrol dengan pemilik rumah/warung. 

Katanya ia membeli rumah tersebut di Kauman seharga 70 juta di awal tahun 2000an. Beliau sendiri mengaku bukan orang asli Kauman. 

Setelah jajan, saya minta izin berfoto di depan rumahnya. Rumah itu sangatlah cantik. Pintu rumahnya ada tiga berjajar dicat abu-abu dan semuanya pintu ganda. Dua pintu dengan pintu koboinya (maaf saya tidak tahu apa istilah akademisnya pintu koboi) dan satu pintu terbuka yang ada warungnya. 

Rumah kuno yang sangat indah! "An, apa saya beli aja rumah di sini satu ya?" Alfian tertawa meringis. Saya pun sama. Bila ucapan adalah doa, maka kalimat pertanyaan saya itu sedang sungguh-sungguh.

Di ujung gang kami jajan lagi ke warung berbilik. Warungnya doyong seperti mau rubuh. Di dapurnya kulihat mereka masak pake anglo. Saya beli bihun, ayam goreng, ikan lele goreng, tahu bacem. Makanan yang kubeli lezat semua! Kalau tidak ingat masih mau jalan kaki lebih jauh, saya sudah bungkus sayur lodehnya!

Keademan, keheningan, keberagaman rumah tuanya, wah iya betul. Kauman terasa berbeda hawanya dengan suasana di luar wilayah Kaumannya. Melangkah keluar dari gapura Kauman, saya ketemu lagi wajah kota Yogyakarta. 

Semua-mua yang ada di kota Jogja berkesan. Kauman ini ada di urutan ke satu terimpresif. Keduanya Kotagede. Bila ada kesempatan saya ke Jogja lagi saya pasti kembali ke sana. 

Satu-satunya yang misleuk di Jogja adalah sopir bis transjog dan wiraniaga di Tip Top yang judes abis. Hehe.





























Teks : Ulu
Foto : Ulu, kecuali foto kami berdua yang motret Alfian