Menengok Borobudur (Untuk Pertama Kalinya!)

August 11, 2017
Bila ada satu tempat yang wajib orang Indonesia kunjungi, maka ia adalah Borobudur. Menurut saya mah begitu. Saya cerita sama Indra kalau saya ini nih, belum pernah ke Borobudur. Merespon omongan saya, dia malah ketawa keras sekali. Aheuheuheu. 

Ya akhirnya sampai juga kami ke hari itu, hari bersejarah di mana saya menginjakkan kaki pertama kalinya ke Borobudur! Sementara untuk Indra, itu ketiga kalinya dia berkunjung ke sana. Di jalan pulang dari Borobudur, Indra bertanya pada saya. Entah menyindir atau emang tulus nanya aja. "Jadi gimana, seneng bisa lihat langsung Borobudur?" saya senyum-senyum aja. Heuheuheu. 

Tentu aja saya senang sekali. Senaaaaaaaaaang sekaliiiiiiiiiii! 

Perjalanan ke situs yang pertama kali ditemukan tahun 1812 itu saya pilih di pagi hari. Berangkat pukul 5 subuh dan tiba di parkiran Borobudur sebelum jam 6 pagi.  

Saya, Indra, dan Nabil udah siap berangkat sejak setengah lima pagi. Sungguh tepat waktu sopir datangnya. Kami tertidur di mobil, benar-benar gak kerasa kalau udah sampai lagi di Magelang. Dua penumpang lain yang juga peserta tur ke Borobudur pun sama lelapnya. 

Borobudur berkabut pagi itu. Langitnya kelabu. Hawanya dingin. Kira-kira tidak lebih dingin dari tempat tinggal kami di Bandung Utara. Tak perlu lah pake jaket toh kami gak bawa juga 😅

Pintu masuk masih tertutup. Rupanya pukul 6 tepat Borobudurnya baru dibuka untuk pengunjung.

Beberapa turis sudah berkumpul di mulut pintu. Semuanya turis mancanegara. Lagi musim panas di Eropa sehingga bulan Agustus ini nih puncaknya musim liburan orang-orang Eropa. Gak heran Yogyakarta sedang penuh-penuhnya turis dari Perancis, Belanda, Swiss, dsb, dst, dll. Mungkin bulan ini juga waktu yang tepat untuk orang Indonesia liburan ke Eropa ya. Sepi kali di sana, orang-orangnya pada nyari matahari ke Asia 😁


Sampai di mana kita tadi? Oh pintu masuk Borobudur ya. 

Kami memutuskan berjalan tanpa pemandu. Biarlah nanti sambil googling kalau ada yang kami gak ngerti perihal yang kami lihat di Borobudur. 

Dan karena hari itu bukan musim liburannya orang Indonesia, juga masih pagi jam enam pagi, Borobudurnya masih sepi banget! 

Wah kami senaaaaang! Saya sih terutama. Hati ini rasanya berdebar-debar. Seperti mau ketemu seseorang atau sesuatu yang penting. Kami berjalan kaki pelan-pelan saja.

Dan akhirnya bisa lihat langsung itu Borobudur.

Borobudur is indeed spectacular. Baru melihatnya dari kejauhan saja hati saya sudah berdegup. Menyaksikannya lebih dekat, waduh jatuh cinta hati ini rasanya. Peradaban macam apa yang sanggup membangun mahakarya seperti Borobudur ini...

Satu per satu pelataran Borobudur kami kitari. Dalam papan pengumuman yang kami baca (tercantum dalam bahasa Inggris, kami gak menemukan informasinya dalam bahasa Indonesia), disebutkan bahwa untuk mengapresiasi dan menghormati situs Borobudur, kami diminta untuk berjalan mengelilingi pelataran Borobudur mengikuti arah jam bergerak sebanyak 3x. Pradaksina, begitu istilahnya. 

Masih berjalan pelan, kami melihat reliefnya dengan detail. Gak semua sih. Bisa berjam-jam kayaknya kalau ditelisik satu-satu reliefnya ya. Saya bertanya sama Indra, boleh gak reliefnya dipegang. "Mending gak usah," kata dia. 

Secara diam-diam tanpa Indra tahu, saya pegang dua relief. Gimana ya kalau saya sentuh reliefnya dengan ujung jari terus tahu-tahu saya menghilang dan ada di lokasi yang sama hanya saja di abad 9, abad di mana situs Budha yang monumental ini dibangun. Heuheu.

Dari sumber tulisan yang kami baca disebutkan bahwa relief-relief di dinding Borobudur ini memperlihatkan kehidupan umat Budha. Tiap pelataran kisahnya berbeda-beda. Makin dekat ke puncak Borobudur, makin tinggi tingkat spiritualitas yang terlihat dalam reliefnya. Tapi saya gak bisa lihat satu-satu kayak apa itu perjalanan kronologis reliefnya. 

Borobudur bukan hanya situs umat Budha, saya sih percaya situs tersebut juga mahakarya sebuah peradaban umat manusia. Sebagai muslim, saya mengapresiasinya sebagai keindahan sekaligus kecerdasan.

Gimana caranya itu mengukir batu serinci itu, batunya pun dari mana datangnya ya, terus gimana cara mereka bawa batu hingga ke puncak teratasnya, apa mereka mengukir berdasarkan naskah terlebih dahulu, apa reliefnya dibuat sekaligus atau secara bertahap dicicil per kisah? 

Banyak sekali pertanyaan saya ahahahaha. Harusnya sewa jasa pemandu 😂

Berada di Borobudur (meski diinterupsi oleh kicauan si Nabil yang makin lama bikin greget) saya merasa sangat 'kecil'. Tempat ibadah buatan nenek moyang kita selalu dirancang supaya manusianya (umatnya) merasakan sesuatu yang agung, bukan siapa-siapa selain debu di alam semesta. Bukan cuma Borobudur yang megah, masjid yang mungil seperti Masjid Kaliwulu di Cirebon sekalipun terasa begitu suci. 

Pagi itu pun Borobudur terasa begitu hening. Situasinya gak sepi banget juga sih. Banyak turis berdatangan. Tapi gak seramai yang saya bayangin.

Kami bertiga istirahat di pelataran tertingginya. Sama seperti turis yang lain, kami juga foto-foto. Setelah itu kami duduk saja memilih tempat yang kiranya paling sepi.

Bersantai kami memandang ke arah perbukitan Menoreh. Langitnya sudah membiru. Mataharinya mulai muncul. Bagi peserta tur yang mengikuti tur sunrise Borobudur gimana perasaannya ya, sebab pagi itu mendung tidak ada pemandangan matahari terbit. 

Sambil menyaksikan pemandangan yang permai, bukit-bukit hijau di antara patung dan stupa Borobudur, pikiran saya ke mana-mana perginya. Ingat pekerjaan, ingat keluarga, ingat almarhum ayah, ingat perjalanan pernikahan saya dan Indra, ingat rencana ke Solo dan belum beli tiket kereta, ah macam-macam melanturnya. 

Tapi enak ya bisa duduk diam. Cuma diam aja sambil lihat pemandangan yang syahdu. Terbayang zaman dahulu, pagi yang sejuk dan permai, perbukitan sejauh mata memandang, tidak ada kamera, tidak ada turis, Borobudur sebagai tempat ibadah saja. Hening dan khusyuk, sungguh pengalaman (spritual) yang magis. 

Sampai kemudian Nabil mulai bosan dan kesyahduan saya pecah. Hehehe. Saya memberinya buku dan pinsil untuk menggambar. Saya dan Indra ngobrol.

Kami dilarang bawa makanan, hanya boleh minuman saja. Tapi turis dari Perancis di sebelah kami, mereka menyantap sepotong roti. Saya saksikan lagi turis mancanegara yang lain, mereka juga asyik melahap bekal makanan di pelataran Borobudur. 

Apa turis lokal aja yang dilarang bawa makanan dan makan-makan di Borobudur, ya? Tanya saya ke Indra.

Mungkin. Kalau turis bule kan gak nyampah. Jawab Indra. Heuheu. 

Karena lapar, kami putuskan beranjak dan meninggalkan Borobudur. Sopir dari tur yang kami book meminta kami kumpul di restoran Manohara. Pas ke sana, semua meja terisi peserta tur yang 99% turis mancanegara. Di resto ini juga kami 'terpaksa' jajan menu sarapan. Sebab gak ada warung satu pun dan kami lapar sekali, terutama Nabil sih aheuheuheu. 

Kayak di jaman kompeni, a. Kata saya ke Indra. Hahahaha. Dia ketawa aja. 

Di Borobudur ada 6 pelataran, sekitar 3000 relief dan 500 patung. Pernah diguncang gempa, dibom teroris, terkubur zaman, Borobudur adalah survivor. Sekarang Borobudur resmi jadi bagian dari kenangan-kenangan kami. Mudah-mudahan situs yang mengagumkan ini lestari selama-lamanya ya. Amin.

Tiket masuk akhir pekan: Rp40.000 untuk orang dewasa dan Rp20.000 untuk anak-anak.

Tiket masuk hari kerja turun 5.000 dari harga di atas.

Jam buka : 06.00
Jam tutup : 17.00

Saya gak bisa kasih tahu cara menuju Borobudur karena emang gak tahu. Hehe.

Bila menginap di hotel-hotel Yogyakarta, nampaknya hampir semua penginapan punya paket tur ke Borobudur. Begitu juga homestay yang kami inapi. Saya ambil paket 'Good Morning Borobudur', per orang bayar Rp70.000. Harga yang sepadan. 












Teks: Ulu
Foto: Indra Yudha, Nurul Ulu 

17 comments on "Menengok Borobudur (Untuk Pertama Kalinya!)"
  1. Excellent pics Lu, as usual! Dan aku jadi liat dikit pose2 Mudranya, ahahaha.. Happy holiday, Nabil

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha makasih, teh ayuuu! emang keliatan mudranya, teh?

      Delete
  2. foto2nya meni bagus teeh. sha juga udah dua kali, tapi ga punya foto bagus buat di pajang haha

    teh putu, jeli pisan liat pose mudra :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha makasih, saaaa! ah gimana selera foto mah, sa :D

      Delete
  3. Borobudur dulu menyediakan paket melihat sunrise dari puncaknya. Sekarang udah enggak ada kali ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ga tau tah, mit. paket sunrise mah masih ada, tapi ga tau dari mana lihatnya

      Delete
  4. Momen nangkep bulenya, keren.

    Wahaha itu bener-bener imajinatif banget dah teh, megang relief langsung balik ke abad 9. Udah kaya di pilem-pilem :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih (kata Indra :D). emang kebanyakan nonton film ahahaha

      Delete
  5. Aaaak aku belom pernah sekalipun ke borobudur. Baru lewatin doang T.T

    Magis banget ya mbak, enak sih pas pagi-pagi gitu. Belum banyak anak alay hehe. Betul bulan-bulan ini memang lg banyak turis, ga cuma di Borobudur, di daerah lain juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaaakkkk kamuh harus ke sana :D magiiissss & alhamdulillah gak ada alay wkwkwkwk

      Delete
  6. bagus teh foto-fotonya,, ke borobudur gak pernah bosen deh, pingin lagi-pingin lagi walaupun yang dilihat gak berubah juga,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih (kata Indra, yang motonya :D). Wuih udah berapa kali ke Borobudur?

      Delete
  7. Selamat tehhh, akhirnya ke Borobudur juga. Btw asik nih bisa nyampe jam 6 pagi. Tehhh, kapan-kapan coba berburu matahari terbit di Borobudur, katanya aksesnya harus dari hotel terdekat atau dari bukit mana gitu, ayo Teh Ulu cobain dehhh, hehehe... (lho kok nyuruh).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengen, Noniq. Jogja kemarn itu mendung terus, makanya ga ambil paket sunrise euy. Noniq pernah ya? kata orang2 mah magis banget lihat sunrise di sana. Uwuwuwuwuw pengennnn!

      Delete
  8. Ikut bahagia dan senyum2 baca cerita ini

    ReplyDelete
  9. Ahhh happy holiday ulu! Iya ya asyik juga ke sana pagi2. Kalo siang panaseee pol...

    ReplyDelete
  10. Hahaha, pengen ikut ketawa karenaaaa, psssssttt aku belum pernah samsek ke Borobudur jugaaa :D :P

    Dulu pas SD mau tour ke sana trus batal, pas gedhe bbrp kali ke Yogya tp gk pernah ke Borobudur #malahcurcol :))

    Wah baru tau ada diskriminasi gk boleh bawa makanan. Hmm mungkin jg turis Perancisnya gk mudeng aturannya kali ya hehe TFS

    ReplyDelete