Mencari Makam Kapitan

September 07, 2019
Buat apa cari-cari makam kapitan? Apa kaitannya makam tersebut dengan saya?

Tidak ada. Tentang hal-hal yang gak bisa saya jelaskan sekaligus, inilah contohnya.


Pagi itu langitnya biru menyala. Pertanda siang nanti akan panas. Banget! Namun saat kami mulai berjalan, dingin kemarau masih menggigit.

Dewi berjalan paling depan. Dia pemandu kami. Kira-kira ada 20 orang yang ikutan jalan-jalannya Heritage Lovers ini.

Saya seperti biasa. Terseret-seret dalam rombongan. Berjalan paling belakang.

Saat berjalan kaki, temponya pelan saja. Lihat kiri, tengok kanan. Kebanyakan moto.

Dalam perjalanan ini, saya ketemu banyak rumah.

Ada sebuah rumah bergaya tempo dulu. Terbesar di antara rumah sekelilingnya. Resik dan mewah.

Letak rumahnya persis di belakang Gedung Indonesia Menggugat (Landraad). Kata Teh Erna, salah satu peserta, bisa jadi itu rumah dulunya nih milik pegawai Landraad. "Mungkin jaksanya," kata dia lagi.

Tapi kok cuma satu ya. Atau dulu ada kompleks perumahan jaksa atawa hakim di di sini? Lantas cuma satu yang tersisa?

Gak ada yang tahu.

Berjalan ke jantung Babakan Ciamis, pemandangannya rupa-rupa. Dari kutang hingga kandang. Sungai dan lapangan. Toko kelontong baru buka dan ibu-ibu yang nongkrong menyuapi anaknya sarapan.

Babakan ini banyak gangnya. Bukan cuma jalannya datar tapi juga nanjak. Bikin lelah juga haha. Tapi pengalaman eksplor gang ini menarik juga.

Ada rumah dengan pepohonan sebagai pagarnya. Lebih banyak lagi hunian tanpa pagar. Menempel lengket satu sama lain. Seperti remaja jatuh cinta. Bucin. Bucin kemiskinan.

Kami masih berjalan. Rupanya itu makam gak sedekat yang saya pikir. Kami bahkan menyebrang Jalan Aceh. Lalu masuk lagi ke jalan-jalan kecil macam labirin tak berujung.

Gang di mana saya melihat rumah dengan teras mungil nan sempit. Ada sofa butut di sana. Dekil dan nampak reyot. Anehnya, terlihat nyaman. Pagarnya pagar hidup. Rumahnya tak seberapa besar. Akan tetapi tentang harapan-harapan yang gak boleh putus, saya melihatnya ada di sana.

Apalagi yang saya tengok di Babakan Ciamis ya. Bekas rumah panggung. Rumah jengki. Rumah berdinding bilik.

Juga ada rumah dengan halaman berbentuk lorong. Lebar kurang dari semeter dan panjang. Membayangkan malam-malam pulang ke rumah lewati lorong macam begitu...

Dan ada rumah dengan banyaaaaaak sekali tanaman di halamannya. Rumah pohon perkotaan.

Saya kira, pemandangan terbaik pagi itu adalah bayangan. Ya, bayangan matahari yang menimpa setengah tembok-tembok rumah, pintu, jendela.

Punggung saya berasa hangat dipijat sinar matahari. Nyaman. Menenangkan. Begitu juga perasaan di dalam hati.

Makin jauh kaki melangkah, Dewi bilang tujuan makin dekat.

Begitu dalam kami masuk ke jantung babakan ini, rumah makin kecil, gang makin sempit. Dinding rumah saling menghimpit.

Saya lihat ada banyak mural di Babakan Ciamis. Makin rapat huniannya, makin menarik muralnya.

Ngomong-ngomong, kamu tahu Babakan apa artinya? kampung baru.

Kampung baru ini terbentuk karena perantau yang berkumpul. Komunal.

Misalnya, Babakan Ciamis. Perintis kampung tersebut datangnya dari Ciamis. Pada mulanya hanya orang dari Ciamis yang bermukim di sana.

Namun Babakan gak lagi komunal. Sekarang, siapa saja dari mana saja bisa tinggal di Babakan. Udah nyampur.

Nah, di era kolonial si Babakan Ciamis ini dahulunya Sentiong. Alias, makam warga Tionghoa. Letnan pertama di Bandung makamnya ada di sini.

Eugh, sampai mana tadi? Oh ok. Kembali ke makam. Mana makamnya?

Tidak ada. Hanya ada nisan menempel ke dinding rumah. Nisan warna putih. Bertuliskan gini: Oeij Bouw Hoen (1882).

Gelombang kedatangan orang Tionghoa ke Bandung kira-kira di tahun 1884. Dekat-dekat munculnya jalur kereta api. Sebab pemerintah kolonial butuh tenaga kuli tambahan. Ada juga yang merantau ke Hindia Belanda merintis karir jadi saudagar.

Kapitan atawa letnan adalah jabatan yang ditampuk orang Tionghoa. Ia dipilih pemerintah kolonial untuk memimpin etnisnya. Utamanya sih dalam bidang perdagangan.

Berhubung Bandung yang dulu adalah Bandung yang sedang tumbuh, maka titik-titik di dalam kota ikut berubah. Pabrik kina dan stasiun kereta api saja, itu lokasi tadinya di pinggir kota. Lihat sekarang, jadi jantungnya kota.

Sama kayak pemakaman. Yang tadinya makam, dipindah, jadi babakan. Makam jadi kampung.

Memindahkan makam bukan perkara mudah. Ada keluarga yang kehabisan uang mendanai proses pindahan, atau keluarganya gak datang-datang ngurusin makam keluarga. Ribet! kata Dewi.

Makam tertua di Bandung, dahulu ada di Banceuy. Lantas, makam Tionghoa pindah ke Babakan Ciamis, dekat Balaikota itu.

Makam warga Eropa pindah ke Kebon Jahe. Ya sekarang jadi GOR Pajajaran.

Dewi cerita kalo pemakaman masih dipindah lagi. Makam Tionghoa ke Cikadut. Eropa di Pasteur.

Dalam prosesnya, ada komplek-komplek makam juga. Di antaranya, di Taman Sari yang sekarang jadi UNISBA. Apakah kamu mahasiswa di sana dan pernah mengalami yang namanya penamppppzzttttt...udahudah. Ini bukan Jurnal Risa :D

Baik. Kita sudahi dulu. Dalam acara jalan-jalan mencari makam kapitan ini, kami hanya menemui nisan tertancap di dinding. Bila kita ada di dekatnya, gak akan tahu di situ ada nisan. Yang kelihatan hanya gang sempit, rumah warga, dan toren air.

Masa iya makam sepenting ini tercecer. Ataukah makamnya sudah dipindah tapi nisannya dibiarkan saja?

Yah jawabannya menggantung. Dewi gak tahu. Saya apalagi.

Sudah begitu saja pencarian makamnya.






Nisan di Babakan Ciamis



1 comment on "Mencari Makam Kapitan"