Social Media

Gang-Gangan Menyaksikan Sisa Bongpai di Badran

January 03, 2023

Hari sabtu 19/11/2022 adalah hari terakhir saya berada di Jogja. Pagi-pagi check out dari penginapan dan saya meluncur ke Stasiun Tugu. Padahal kereta api datang pukul 11, saya sudah bergegas mau ke mana memangnya? Mau ketemu dengan Gang-Gangan! 

 

gang-gangan bongpai di badran


Janjian bertemu orang baru adalah kegiatan di luar zona nyaman saya yang terbiasa sendirian. Namun Shinta dari Gang-Gangan beberapa kali mengirimiku pesan di instagram. Mulai dari chat berbunyi “sungguh kita harus ketemu” sampai “mba, plis plis plis berkabar kalau ke jogja suatu saat nanti ya”. Sebuah sikap ekstrovert yang gak masuk dalam keseharian saya yang ambivert. Karena sejujurnya saya hampir gak pernah mengontak siapapun saat bertandang ke kota lain. Tidak ada dalam tujuan saya jalan-jalan cari teman baru atau sengaja meet up.

Namun dengan Shinta berbeda. Memanglah gigih sekali orangnya, persisten dan melankolis. Sepertinya semua sagitarius begitu bentuknya. Seperti indra suamiku dia pun sagitarius. Saya merasa nyaman kepadanya meski ketemu juga belum. Jadi saya memberanikan diri mengontak Shinta duluan dan memberitahunya bahwa saya berada di Jogja. Kami bertemu dan ia mengenalkan saya pada teman-temannya.

Baik sampai mana tadi? Gang-Gangan.

Saya dan Shinta janjian di pintu parkir barat Stasiun Tugu. Ada Risna dan Anisa bergabung. Di hari sebelumnya saya telah bertemu Risna dalam tur di pabrik cerutu Taru Martani bersama Alon Mlampah.

Shinta, Risna, dan Anisa membuat Gang-Gangan, sebuah kelompok pengarsip gang. Di Jogja mereka berjalan kaki menyusuri gang-gang dan merekamnya. Arsip itu mereka simpan di akun instagram @gang-gang.an.

Pagi itu mereka mengajakku ke Badran, wilayah perkampungan dekat Stasiun Tugu yang popular sebagai kampung preman. Spesies preman asal Badran ditakuti seantero Jogja. “Tapi kampung ini sekarang dibuat ramah anak, mbak,” ujar Risna.

Namun bukan Badran yang bertransisi sebagai kampung ramah anaknya yang pagi itu kulihat di sana. Melainkan Badran bekas lokasi kompleks pemakaman tionghoa di Jogja.

Badran terdiri dari beberapa gang dan RW. Wilayahnya di pinggir sungai winongo. Rumah-rumah di mulut gang seperti biasa wujudnya agak besar. Makin dalam masuk gangnya rumahnya makin mengecil dan padat. Kutemui ada beberapa lapangan. Ada juga kompleks makam warga. 

 

gang-gangan bongpai di badran


Di era kolonial Badran adalah kompleks makam orang-orang tionghoa. Entah lokasi pemakamannya pindah ke mana, dalam proses pindah-pindah itulah jejak batu nisan di Badran berceceran. Jenazahnya dipindah, sementara itu batu nisannya tertinggal.

Batu nisan makam tionghoa ini bernama Bongpai (cmiiw). Gang-Gangan ke Badran tujuan utamanya mengajakku melihat jejak bongpai.

Mengejutkan sekali karena kulihat ada banyak bongpai di Badran! batu nisan ini tertancap di jalanan gang, di tembok-tembok gang, dan tertanam begitu saja di lapangan permukaan tanah. Secara kasual bongpai menjadi bagian dari keseharian warga. Mereka memperlakukannya sebagai batu biasa.

Kenapa warga menggunakannya sebagai batu-batuan di tembok ya? tanyaku pada Risna. “Kualitas batunya bagus, Mbak,” jawab Risna yang tergabung dalam komunitas Indonesia Graveyard. Jika diperhatikan dan dipegang, bongpai ini memanglah kokoh dan tebal. Bila saya warga Badran memanglah sayang bila disingkirkan batunya, baiknya memang dimanfaatkan saja buat infrastruktur bangunan.

Sepertinya itulah yang dilakukan warga Badran. Bagiku hal yang menarik adalah mereka seperti tidak terganggu dengan keberadaan batu-batu nisan itu. Terlihat tidak ada maksud untuk menyingkirkan sisa bongpai. Warga bahkan tidak membalik permukaan batu nisannya. Dengan demikian saya bisa melihat tulisan berbahasa cina yang terukir pada permukaan batu tersebut.

Unik sekali di tengah kegiatan warga yang bukan etnis tionghoa dan rumah-rumah khas dalam gang ada batu nisan bertuliskan dalam bahasa cina. Pemandangan yang kontras dan solid sekaligus. 


gang-gangan bongpai di badran


Kuitung Bongpainya banyak banget! Jumlahnya lebih dari 15 bongpai Gila seru banget! idk ini kenapa seru tapi memanglah tiap menemukan bongpai saya terpukau terus. Kayak hah, kok bisa, hah beneran, hah kok bisa, wah bagus euy, wah asli sih keren, hah kok bisa!

Saya pernah melakukan hal serupa di Bandung. Berjalan kaki menyusuri sebuah perkampungan tengah kota dalam rangka menyusuri batu nisan ala tionghoa ini. Ada satu bongpai di Babakan Ciamis, dekat Balaikota. Dalam bongpai tersebut tulisannya dalam bahasa latin, bukan bahasa cina.

Di lain waktu saat menyusuri sejarah Dobi di Kebon Kawung saya dipandu Komunitas Aleut dan menyaksikan satu batu nisan yang menjadi alas penggilingan cuci baju oleh warga. Namun si batu nisan ini tergeletak horizontal di lokasi yang tidak bisa kami jangkau, jadi kami melihatnya dari jarak beberapa meter dari bongpai tersebut. Tidak terlihat apapun selain wujud batu aja. 

Jadi saat saya berada di Badran dan terpukau melihat sisa-sisa bongpai di sana kukira itu hal yang wajar, bukan lebay. Mengingat pengalaman saya di Bandung yang demikian tadi saya ceritakan, sementara di Badran semua bongpainya masih berukir tulisan dalam bahasa cina dan saya bisa memegang batunya. Bayangin, megang! Megang bongpai yang asalnya dari zaman belanda begitu coba gimana mungkin saya gak takjub. 

 

gang-gangan bongpai di badran


Shinta cerita dalam bongpai biasanya selain tertera nama orang yang wafat. Lalu ada daftar nama anggota keluarganya yang mengurus pemakaman.

Bila memperhatikan batu nisan dan melihat wujud pemakaman ala tionghoa, kurasa pasti butuh banyak sekali uang untuk mengurus satu makam saja. Karena itulah nama keluarga yang mengurusnya wajib tercantum di bongpai.

Kupikir manusia ini rumit juga, saat hidup butuh biaya, setelah wafat pun masih ada ongkosnya. Tidak hanya kaum tionghoa dan bongpainya, keluarga saya yang etnis sunda pun atau kamu pasti mengalami hal yang sama. Namun nampaknya ongkos makam orang-orang tionghoa pasti mahal, bila kulihat dari bongpainya.

Tidak semua wilayah Badran dapat saya jelajahi. Maklumlah pukul 11 stasiun tugu menanti. Hehe. Kira-kira durasi saya berjalan 2,5 jam.

Sebelum pukul 11 kereta api datang dan saya harus bergegas menuju stasiun. Kami berpamitan di parkiran Stasiun Tugu dan berjanji bertemu lagi. Akan tetapi sebelumnya kami berenam sempat santap Tahu Gimbal Pak Warno. Ditraktir Mba Autine. Makasih, Mba!

 

difoto Risna

 

Terima kasih banyak Shinta, Anisa, dan Risna.

Dalam tur di Badran ini saya bertatap muka dengan Autine dan Radea. Dua orang yang mendiami kawasan jawa timur dan saya mengenali mereka karena foto-foto bangunan tuanya di instagram. Sungguh saya senang sekali bisa gang-gangan dengan mereka semua. Hamdalah makasih ya, Shinta. Bukan hanya saya berjumpa dengannya tapi juga bisa bertemu dengan teman lama-tapi-baru lainnya. Saya beruntung sekali.

Post Comment
Post a Comment