Wisata Pusaka di Cianjur dan Upaya Merawat Cagar Budaya Indonesia

November 19, 2019
Pukul delapan pagi waktu kota Cianjur. Saya janji bertemu Fajar. Bukan fajar kepagi-pagian maksudku, melainkan Rachmat Fajar. Nah itu dia, pria berkacamata berpakaian pangsi biru mbladus menjemput kami di Hotel Kaoem. Dialah pemandu jalan-jalan kami di kota santri ini. 

“Halo, sudah sarapan?” tanyanya ramah.
Kami mengangguk.
“Sudah siap?”
Istirahat semalam nyenyak. Makan pagi enak. Tentu saja kami siap!

Hari itu saya, Indra, dan Kubil jalan-jalan di kota Cianjur. Lumayan nih ada jatah libur walau dua hari. Dari Bandung kami membawa kendaraan pribadi. Bandung – Cianjur dekat saja, hanya dua jam jarak tempuhnya.

Saya dan Fajar, kami berkenalan di Instagram melalui akun yang ia kelola bernama @bumi_ageung_cikidang. Tentang orang-orang yang kembali ke kampung halaman dan merintis karir di sana, nah begitulah Fajar. Mulanya ia bekerja di Bandung dan Jakarta sebagai fotografer. Sempat pula ia mengajar di salah satu kampus ternama. Lantas entah ketiban wangsit apa, Fajar mudik ke Cianjur.




Di kampung halaman ia mengumpulkan kembali aset keluarganya, sebab mereka keturunan Bupati Cianjur, Prawiradiredja II, tentu koleksinya tidak biasa. Koleksi yang tadinya tercecer, kini tersimpan tertib. Apik. Ia tempatkan barang-barang peninggalan leluhurnya di sebuah rumah keluarga. Rumah dengan arsitektur kuno tradisional di Jl Moch Ali no 64 Cianjur.

Rumah itulah yang ia jadikan Museum Bumi Ageung Cikidang.

Tidak berhenti sampai di situ. Fajar membuka jasa tur wisata berjalan kaki keliling pusat kota Cianjur bertema pusaka (heritage). Wah…menarik bukan?

Menarik sekali bagi saya! Berkali-kali saya melihat postingan Fajar di instagram, ia membagi foto-foto cagar budaya di Cianjur. Ada pabrik roti kuno, rumah-rumah antik, kuliner lokal perpaduan budaya pecinan dan sunda, juga highlight utamanya: Museum Bumi Ageung Cikidang.

Tur Jalan Kaki di Cianjur, Berapa Lama dan Mengapa?

Tur berlangsung dari pagi hingga siang hari. Semua rute kami jelajahi dengan berjalan kaki. Tenang saja, bila lelah ada tenaga becak siap mengantar-antar.

Ke mana saja Fajar mengajak kami mengunjungi cagar budaya kota Cianjur?

1. Museum Bumi Ageung Cikidang

Museum ini berada di bangunan tua, berdiri sejak tahun 1866. Awalnya ditujukan sebagai rumah peristirahatan Bupati Cianjur dan keluarganya, yakni RAA Prawiradireja II. Beliau pemilik pertama rumahnya, orang yang memimpin Cianjur selama 48 tahun.

Rumah bersejarah ini pernah dibom tentara sekutu. Di masa revolusi, Bumi Ageung Cikidang jadi lokasi rapat-rapat perjuangan. Termasuk rapat pembentukan tentara PETA.


Fajar dan Bumi Ageung Cikidang

Koleksi museum adalah koleksi pribadi milik keluarga besar. Di dalamnya kita dapat melihat foto-foto Cianjur tempo dulu. Juga segala macam perabotan antik dari mulai furnitur sampai cangkir.

Museum Bumi Cikidang memajang sebagian perjalanan sejarah kota Cianjur. Sajian sejarahnya terkemas ulang dengan gaya bertutur yang ringan dan populer. Ditujukan untuk sebanyak-banyaknya orang.

2. Pabrik Roti Tan Keng Cu

Menuju pabrik ini dari museum kami berjalan kaki masuk keluar gang. Seru amat! Jadinya malah mengamati rumah-rumah padat kota Cianjur. Ada rumah antik, lebih banyak rumah modern sih.




Pabrik roti ini istimewa. Bukan saja karena ia tertua, tapi pada masanya inilah roti penyuplai makanan tentara Belanda se-Jawa Barat. Peperangannya usai, namun pabriknya masih beroperasi. Rotinya masih diproduksi.

Pabrik Tan Keng Cu memanggang rotinya dengan oven kuno.

Tahu tidak berapa harga roti-roti Tan Keng Cu? Hanya tiga ribu saja. Murah amat! Enak pula. Banyak porsinya. Saya jatuh cinta. Bila tidak bersama Fajar, saya kira gak mungkin bisa masuk ke dapur Tan Keng Cu begitu.

3. Mengunyah Geco

Jam makan siang. Fajar mengajak kami ke Kantin 81. Tak jauh dari pabrik roti. Tempatnya biasa saja, mirip warteg alias tidak mewah. Pertama kalinya saya makan Geco dan saya pengen nambah dua kali! Enak sekali Geco ini ya Tuhan tolong!




Dalam seporsi kuliner perpaduan pecinan dan sunda ini ada tahu, kentang, tauge, dan mie. Kuahnya warna kuning kemerah-merahan. Bumbu ala pepes cianjur jadi toppingnya. Campuran itu semua menghasilkan rasa kecut, gurih, dan manis. Sungguh rasa yang ramai.

Sebagai pendamping ada es markisa. Alamak meleleh mulut saya dibuatnya. Nikmat sekali makan siang kami. Terima kasih mengenalkan kami pada Geco, Fajar!

4. Tauco Cap Meong

Sebelum masuk botol dan dibawa pembeli, Tauco disimpan dalam kendi. Tahu tidak, si kendi umurnya lebih tua dari usia almarhumah nenek saya. “Tauco Meong gak pake pengawet. Awet disimpan hanya lima hari. Kalo udah masuk botol awetnya tiga bulan,” kata Fajar.




Tur berakhir ditandai dengan kembalinya kami ke titik mula, yaitu Bumi Ageung. Di sela-sela menuju museum, Fajar mengajak kami jajan di toko-toko kelontong yang bangunannya tua. Kami hanya membeli minuman dan berbincang kecil dengan pemilik toko.

Sebelum pamit, Fajar menawarkan diri jika kami berlibur lagi ke Cianjur ia akan mengantar kami ke Gunung Padang. “Dari kota tinggal naik kereta api sampai Stasiun Lampegan. Abis itu kita naik ojeg. Gunung Padangnya gak jauh dari stasiun Lampegan,” ucap pria lulusan desain interior itu lagi.

Saya pernah dengar situs megalitikum Gunung Padang. Rupanya dari kota Cianjur, akses ke sana tidaklah sesulit yang saya bayangkan. 

Tidak saya kira kota kecil ini ada tur wisata berjalan kaki. Selama ini apa yang kamu bayangkan tentang jalan-jalan di kota Cianjur? Mentok-mentok berkuliner dan plesir ke taman bunga. Betul tidak? Hari itu saya melihat wajah Cianjur yang lain. Sebagai tambahan, bisa ngobrol rupa-rupa topik dengan beberapa warga lokal. Seru! Terima kasih Fajar!

Merawat Cagar Budaya Kota Cianjur

Melalui Fajar, saya melihat upaya merawat cagar budaya Indonesia yang nyata. Bukan cuma wacana. Dari tadi nulis 'cagar budaya', teman-teman tahu apa artinya? 

Wikipedia menulis gini: benda cagar budaya adalah benda alami atau buatan manusia, baik bergerak atau tidak. Cagar budaya punya hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia. 

Coba kita amati wisata alternatif yang Fajar tawarkan dan hubungannya dengan merawat cagar budaya:
  1. Dia membangun museumnya sendiri. 
  2. Fajar menambahkan layanan paket wisata pusaka. Masih nyambung dengan kegiatannya di museum bukan? 
  3. Menggunakan media sosial untuk menyebarluaskan berita cagar budaya. 



Bayangkan bila ada lebih banyak kota-kota kecil yang memungut potensi kekayaan pusakanya. Hitung-hitung merawat cagar budaya dan mendapatkan pendapatan darinya. Sambil menyelam dapat ikan, kenapa gak. Saya senang, Fajar bahagia, objek wisatanya langgeng. Bangunan cagar budaya ikut terawat. 

Cagar budaya itulah yang jadi jembatan kepada kita di masa kini. Melalui Fajar, benda-benda dari masa lalu bercerita tentang apa yang dibangun dan tersisa, mengapa Cianjur dipilih jadi ibukota residen Priangan, dan bagaimana rupa kota di masa lalu.

Cagar budaya memberitahu kita tentang apa yang hilang dan apa yang diwariskan.

Ini terbaca klise, tapi sejarah adalah pengingat. Membaca sejarah artinya mengingatkan diri sendiri. Cagar budaya seharusnya ada dan dirawat sebagai pengingat apa yang kita lakukan dan alami di masa lalu, mana yang bisa dikenang baik dan mana yang dikenang tanpa harus kita ulang. 

Bolehlah saya sedikit berbangga. Turis-turis seperti saya membantu Fajar meneruskan tongkat estafet bertuliskan 'ayo rawat cagar budaya kita'. Kita datang, kita menyimak, kita menikmati, kita memotret, kita mengunggah foto-fotonya di media sosial, dan kita beritahu orang lain. Hanya saja kampanye berwisata yang baik harus pula disuarakan: tidak meninggalkan sampah, bertutur sesuai adat istiadat setempat, tidak merusak, tidak banal.  

Tentang merawat cagar budaya, bila dikerjakan bersama-sama, harusnya tidak ada lagi berita cagar budaya yang musnah. Sepakat? 


Foto-foto: dokumen pribadi
42 comments on "Wisata Pusaka di Cianjur dan Upaya Merawat Cagar Budaya Indonesia"
  1. Paling suka lihat-lihat dan mengetahui peninggalan nenek moyang. Museum Buni Ageung Cikidang bagus sekali. AKu langsung follow akun IGnya hehe. Ide-ide mas Fajar bisa menginspirasi yang lain, sebagai salah satu langkah menjaga cagar budaya. Salut. Postingan ini keren sekali ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Bikin museumnya kita susah tiru. Tapi ide walking tournya bisa nih dicontek ehehehe

      Delete
  2. wisata seperti ini harus kita jaga dan di lestarikan. agar kelak anak dan cucu kita tetap bisa menikmati segala yang ada

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Biar anak cucu ngaca dr peristiwa di masa lalu :D

      Delete
  3. Waah senang sekali ya mbak bisa jalan jalan dan melihat cagar budaya Cianjur.

    Wah tauco awet juga ya 3 bulan kalau disimpen di botol. Saya belum pernah masak pakai tauco

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tauco ada di beberapa kota, di medan juga ada klo ga salah. Di purwakarta juga.

      Delete
  4. Keren banget, baru tahu di Cianjur ada cagar budaya seperti itu. Heritage walking tour memang menyenangkan ya, bisa ketemu hal-hal baru yang gak semua orang tahu.

    ReplyDelete
  5. Rotinya... ginukginuk bikin ngences.

    ReplyDelete
  6. Di Cianjur pun ada banyak wisata ya.. jerih payah Fajar patut diapresiasi, selain melestarikan kebudayaan juga semakin mengenalkan Cianjur kpd banyak orang.. semoga bisa jadi contoh yang baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya. di kota-kota kecil sekarang tumbuh jasa wisata jalan kaki begitu. kayak kudus, solo, madiun, bahkan makassar. alternatif wisata yang bagus hehe

      Delete
  7. Bumi Ageung Cikidang ini lokalitasnya kuat ya teh jadi tahu Indonesia dulu, dan rotinya sama makanannya atulah jadi pengen 😍 pengen main juga kesana insyaAllah

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, tiap tempat bersejarah memiliki cerita penting untuk didengar/dibaca/dilihat. kitu cenah kata UNESCO, badan PBB yang ngurusin cagar budaya se-dunia.

      Delete
  8. Wow ternyata Cianjur menyimpan pesona yang luar biasa
    Salut sama orang-orang seperti mas Fajar yang meninggalkan karir di kota besar untuk kembali ke kampung halaman dan berkarya di sana
    Semoga cagar budaya Indonesia bertemu lebih banyak Fajar-Fajar yang lain

    ReplyDelete
  9. Wah ternyata ada banyak banget cagar budaya yang ada di Cianjur yaa kak. Ini nih peranan kita semua untuk merawat dan melestarian apa yang sudah ditinggalkan (cagar budaya) agar anak cucu nanti masih bisa melihat aslinya :)

    ReplyDelete
  10. Saya beberapa kali melewati Cianjur, tapi nggak pernah kepikiran untuk mampir. Jadi penasaran dengan roti Tan Keng Cu. Saya penggemar roti-roti jadul.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dicoba, mba. Enak rotinya, empuk & manis adonannya.

      Delete
  11. "merawat cagar budaya, bila dikerjakan bersama-sama, harusnya tidak ada lagi berita cagar budaya yang musnah" betul sekali, sebenarnya banyak hal kecil yang bisa kita lakukan agar cagar budaya bisa lestari. btw aku penasaran sama rotinya, murah pula ya..

    ReplyDelete
  12. Duh jadi penasaran dg tour jalan kaki ini..kalau berminat kontaknya di mana y mba?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ke akun IG yg saya cantumkan dalam tulisan di atas, Mba. @bumi_ageung_cikidang.

      Delete
  13. Waaa, menarik ini kak! Aku suka banget wisata heritage jalan kaki di dalam kota seperti ini. Temen-temenku yang dari Cianjur nggak banyak cerita tentang wisata kotanya, mungkin karena nggak banyak tau juga ya.

    Salut sama mas Fajar, orang berada yang mau eksekusi sendiri bisnis wisata yang digeluti. Penasaran aja, apakah beliau juga ada keturunan Tionghoa?

    Kamu nggak ada foto-foto bangunan dari luar ya, kak? Aku penasaran sama desain arsitektur fasad dan keseluruhannya, kemungkinan art deco sih. Boleh nih buat weekend getaway :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan art deco kayaknya, foto pertama di paling atas itu museumnya.

      Saya gak tahu dia keturunan tionghoa atau bukan hahaha sipit emang, tapi kayaknya bukan deh :D

      Delete
  14. pabrik roti kayaknya aku juga pernah mampir deh. Rotinya empuk dan wanginya bikin laper hehehe

    ReplyDelete
  15. duh saya salfok sama tegel nya. masih terawat. bagus2 motifnya. kepengen juga nyobain roti tankecu yg legendaris

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tegel di toko kelontong :D banyak yg mau beli tegelnya kata pakbapak di toko tersebut

      Delete
  16. Duh! Itu saya langsung naksir ma ubinnya. Ubin kayak gitu gak cuma cantik, tetapi juga adem banget.

    ReplyDelete
  17. Saya berujung penasaran sama rasa rotinya. Masih sama seperti rasa roti yang dulunya jadi ransum para tentara di masa perang nggak ya?

    ReplyDelete
  18. Banyak ya yang bisa di eksplor di Kota Cianjur, sekarang bagaimana kita merawatnya.

    ReplyDelete
  19. Keren yang dikerjakan Fajar ini. Dengan membuka jasa tour guide begini, dia tidak hanya merawat warisan keluarganya, tetapi juga melestarikan cagar budaya nasional.

    Itu pabrik rotinya menarik. Saya jadi follow @bumi_ageung_cikidang lho :)

    ReplyDelete
  20. Wih, mantep ini mas Fajar. Saya juga sukanya wisata model gini nih, sambil jalan-jalan lalu didongengin.
    Katanya sih, kalau tempat bersejarah itu rajin dikunjungi, bangunannya senang dan jadi lebih tahan lama.
    Semoga banyak daerah yang pemudanya mengikuti jejak Mas Fajar ya :)

    ReplyDelete
  21. Banyak hal yang menarik ternyata di Cianjur. Rumahnya keren ininkhas sunda zaman dulu banget. Jadi kangen berada di rumah seperti itu.

    ReplyDelete
  22. Cianjur seru juga ya utk dijelajah.
    Aku tahunya ikan bakar Cianjur aja. Wkwkwkwk.

    Kapan2 aku akan mengagendakan jalan-jalan ke Cianjur juga ah. Sekalian ke Gunung Padang

    ReplyDelete
  23. Menarik nih eksplor Cianjur lengkap dengan kuliner nya.. kangen banget sama rasanya tauco..

    ReplyDelete