Membaca Para Priyayi

November 20, 2019
Saya pikir ini novel akan saya tamatkan dalam satu minggu. Nyatanya, dua hari saja! Hamdalah! Memang sulit mengabaikan novelnya. Inginnya baca terus. Kepingin saya tahu ujung perjalanan Lantip bagaimana. 




Jadi gini. Cerita dalam novelnya panjaaaaang memang. Melintasi tiga zaman. Dari si buyut hingga cucu-cucunya. Apik sekali jalinan plot kisahnya, dituturkan secara lamban alurnya maju mundur dengan sudut pandang penutur berbeda-beda. 

Karena pelan, ada bagian-bagian dalam novelnya yang membosankan. Kebanyakan sih mengasyikkan. 

Siapa tokoh utamanya, itu pula pertanyaan saya. Mungkin Lantip ya. Dia ada di semua sektor perjalanan hidup para tokoh. Dia tuh kayak...matahari pagi buat orang-orang di sekitarnya. Bikin anget, bikin nyaman. Tentrem.

Aslinya, apa ada orang kayak Lantip dalam dunia nyata? 

Sinopsis ceritanya begini. 

Sastrodarsono adalah kaum abangan. Ia mengambil karir di jalur pendidikan. Gak lazim. Ayah ibunya petani. Di masa lalu, merintis profesi di bidang pendidikan adalah cara menaikan status derajat sosial. Tadinya petani jadi priyayi. 

Guru pada zaman silam gajinya besar. Sekali tepuk dapat dua: uang dan status sosial. Salah satu tokoh dalam novelnya bilang gini, "kalo mau kaya jadi saudagar saja," memang betul. Berbeda bila sekolah dan jadi pengajar, itu derajat orangnya makin tinggi. Lantas disegani. Dihormati. 

Sastrodarsono orang pertama dalam keluarganya yang jadi guru. Priyayi. 

Lantas ia menikahi priyayi tulen. Aisah namanya. Meski punya anak tiga, ia mengadopsi Lantip. Juga beberapa keponakan. Namun hanya Lantip yang awet. Lainnya rajet matakna teu awet. Heueheu. 

Konflik bermuara dari jalan hidup masing-masing tokoh tersebut. Sastrodarsono, anaknya, hingga cucu-cucunya. Termasuk Lantip.

Nah si konflik itu muternya di era kolonial, jepang, kemerdekaan, revolusi, hingga masa-masa gestapu. Jadi bobot sejarah sudah pastilah jadi bungkusan konfliknya. Eranya gestapu juga ada dalam novel, bukan cuma numpang lewat. Highlight ceritanya besar juga. 

Ada beberapa hal yang saya sukai dalam novelnya. Kebanyakan tentang budaya jawa (priyayi). Seperti misalnya: formula nama priyayi. 

Pertama. Tentang kebiasaan memberi nama tua. Selama ini saya mikir, nama-nama priyayi kok bagus-bagus ya. Bagaimana cara memberi namanya, apakah ada formulanya? 

Melalui novel ini saya rada tercerahkan. Agak terjawablah gitu. 

Pertama. Meski satu kata, nama priyayi ada hubungannya dengan pekerjaannya. Dalam novel ini, Sastrodarsono nama lahirnya Soedarsono. 

Pemberian nama tua berlangsung saat si pria siap berkeluarga. Oleh ayahnya, Darsono diberi nama Sastro. Maka lahirlah nama baru Sastrodarsono. 

Sastro artinya tulis. Nama tersebut dipilih orang tuanya sebab nyambuh dengan pekerjaan Darsoni sebagai guru bantu. "Karena guru akan banyak menulis disamping mengajar," kata bapaknya. 

Kedua. Meski petani, orang tuanya Sastrodarsono senang membaca, menguasai kosakata kromo inggil. Gak heran sanggup memberi nama 'berbobot'. Ada artinya, ada maknanya. Disebut dalam novelnya begini. "Orang tua saya, meskipun hanya petani desa, sangat mementingkan tata krama dan tertib priyayi. Penguasaan bahasa mereka boleh dikata sangat baik. Mereka tahu benar kapan harus memakai bahasa kromo halus, kromo madyo, kapan pula memakai bahasa ngoko yang paing rendah tingkatnya." (halaman 35). 

Kalau bobot adat istiadat orang jawa, tumpah ruah ada di novelnya. Pegangan banget ini buku kalau-kalau jodoh kamu orang jawa tengahan, priyayi pula! :D 

Saya temukan ada beberapa kebiasaan yang juga terjadi di keluarga saya yang orang sunda. Seperti menampung  saudara jauh supaya rumah terasa ramai, berbagi rezeki, menyambung tali keluarga. 

Terus ada kebiasaan membawa banyak oleh-oleh untuk calon besan. Kebiasaan se-Indonesia ini. 

Pepes sembukan makanan desa, makanan petani. 

Buah-buah kecil warna kuning yang namanya Kontol Jembutan (LOLOLOLOL orang dulu kenapa sih jujur banget hahaha).

Panggilan untuk Haji menjadi Kaji, seperti Kaji Mansyur. Ini kebiasaan yang terjadi di kampung saya Karangampel. Kalo manggil Pak Haji di mulut jadinya Pak Kaji, atau Wakaji (uwak haji). 

Istilah-istilah bahasa jawa berhamburan. Ada yang saya ngerti karena sama dengan basa dermayu/cerbon, tapi banyak juga yang saya gak paham. Seperti kata 'Prigel'. Saya sampai mengontak ibu dan bertanya apa dalam bahasa dermayu ada istilah Prigel/keprigelan. 

Sungguh ini buku yang menyenangkan. Meskipun tragedi dalam novelnya membuatku mengasihani Sastrodarsono, tapi ya...manusia mana sih yang setidak-tidaknya pernah gak mengalami nasib buruk? Priyayi maupun petani, bila tertimpa kesusahan bukankan itu hal yang wajar?

Bener gak sih? 

Ngomong-ngomong, novel ini mengingatkan saya pada Orang-Orang Oetimu. Keduanya mirip, sama-sama novel etnografi. Seneng bacanya. Jadi tahu kebiasaan orang, budayanya bagaimana, cara berpikirnya kepriben! Lhooo lho jadi terparapriyayikan :D  

Demikianlah. Bulan Desember makin dekat. Target baca buku di tahun ini telat saya lampaui. Nanti saya ceritakan gimana rasanya membaca dengan target :D 











Post Comment
Post a Comment