Pukul delapan pagi waktu kota Cianjur. Saya janji bertemu
Fajar. Bukan fajar kepagi-pagian maksudku, melainkan Rachmat Fajar. Nah itu
dia, pria berkacamata berpakaian pangsi biru mbladus menjemput kami di Hotel Kaoem. Dialah pemandu jalan-jalan kami di kota santri ini.
“Halo, sudah sarapan?” tanyanya ramah.
Kami mengangguk.
“Sudah siap?”
Istirahat semalam nyenyak. Makan pagi enak. Tentu saja kami
siap!
Hari itu saya, Indra, dan Kubil jalan-jalan di kota Cianjur.
Lumayan nih ada jatah libur walau dua hari. Dari Bandung kami membawa kendaraan
pribadi. Bandung – Cianjur dekat saja, hanya dua jam jarak tempuhnya.
Saya dan Fajar, kami berkenalan di Instagram melalui akun yang
ia kelola bernama @bumi_ageung_cikidang. Tentang orang-orang yang kembali ke
kampung halaman dan merintis karir di sana, nah begitulah Fajar. Mulanya ia
bekerja di Bandung dan Jakarta sebagai fotografer. Sempat pula ia mengajar di
salah satu kampus ternama. Lantas entah ketiban wangsit apa, Fajar mudik ke
Cianjur.
Di kampung halaman ia mengumpulkan kembali aset keluarganya,
sebab mereka keturunan Bupati Cianjur, Prawiradiredja II, tentu koleksinya
tidak biasa. Koleksi yang tadinya tercecer, kini tersimpan tertib. Apik. Ia
tempatkan barang-barang peninggalan leluhurnya di sebuah rumah keluarga. Rumah
dengan arsitektur kuno tradisional di Jl Moch Ali no 64 Cianjur.
Rumah itulah yang ia jadikan Museum Bumi Ageung Cikidang.
Tidak berhenti sampai di situ. Fajar membuka jasa tur wisata
berjalan kaki keliling pusat kota Cianjur bertema pusaka (heritage). Wah…menarik
bukan?
Menarik sekali bagi saya! Berkali-kali saya melihat
postingan Fajar di instagram, ia membagi foto-foto cagar budaya di Cianjur. Ada
pabrik roti kuno, rumah-rumah antik, kuliner lokal perpaduan budaya pecinan dan
sunda, juga highlight utamanya: Museum Bumi Ageung Cikidang.
Tur Jalan Kaki di Cianjur, Berapa Lama dan Mengapa?
Tur berlangsung dari pagi hingga siang hari. Semua rute kami
jelajahi dengan berjalan kaki. Tenang saja, bila lelah ada tenaga becak siap
mengantar-antar.
Ke mana saja Fajar mengajak kami mengunjungi cagar budaya
kota Cianjur?
1. Museum Bumi Ageung Cikidang
Museum ini berada di bangunan tua, berdiri sejak tahun 1866.
Awalnya ditujukan sebagai rumah peristirahatan Bupati Cianjur dan keluarganya,
yakni RAA Prawiradireja II. Beliau pemilik pertama rumahnya, orang yang
memimpin Cianjur selama 48 tahun.
Rumah bersejarah ini pernah dibom tentara sekutu. Di masa
revolusi, Bumi Ageung Cikidang jadi lokasi rapat-rapat perjuangan. Termasuk
rapat pembentukan tentara PETA.
![]() |
Fajar dan Bumi Ageung Cikidang |
Koleksi museum adalah koleksi pribadi milik keluarga besar.
Di dalamnya kita dapat melihat foto-foto Cianjur tempo dulu. Juga segala macam
perabotan antik dari mulai furnitur sampai cangkir.
Museum Bumi Cikidang memajang sebagian perjalanan sejarah kota Cianjur. Sajian sejarahnya terkemas ulang dengan gaya bertutur yang ringan dan populer. Ditujukan untuk sebanyak-banyaknya orang.
2. Pabrik Roti Tan
Keng Cu
Menuju pabrik ini dari museum kami berjalan kaki masuk
keluar gang. Seru amat! Jadinya malah mengamati rumah-rumah padat kota Cianjur.
Ada rumah antik, lebih banyak rumah modern sih.
Pabrik roti ini istimewa. Bukan saja karena ia tertua, tapi
pada masanya inilah roti penyuplai makanan tentara Belanda se-Jawa Barat. Peperangannya
usai, namun pabriknya masih beroperasi. Rotinya masih diproduksi.
Pabrik Tan Keng Cu memanggang rotinya dengan oven kuno.
Tahu tidak berapa harga roti-roti Tan Keng Cu? Hanya tiga
ribu saja. Murah amat! Enak pula. Banyak porsinya. Saya jatuh cinta. Bila tidak bersama Fajar, saya kira gak mungkin bisa masuk
ke dapur Tan Keng Cu begitu.
3. Mengunyah Geco
Jam makan siang. Fajar mengajak kami ke Kantin 81. Tak jauh
dari pabrik roti. Tempatnya biasa saja, mirip warteg alias tidak mewah. Pertama kalinya saya makan Geco dan saya pengen nambah dua
kali! Enak sekali Geco ini ya Tuhan tolong!
Dalam seporsi kuliner perpaduan pecinan dan sunda ini ada tahu, kentang, tauge, dan mie.
Kuahnya warna kuning kemerah-merahan. Bumbu ala pepes cianjur jadi toppingnya.
Campuran itu semua menghasilkan rasa kecut, gurih, dan manis. Sungguh rasa yang
ramai.
Sebagai pendamping ada es markisa. Alamak meleleh mulut saya
dibuatnya. Nikmat sekali makan siang kami. Terima kasih mengenalkan kami pada
Geco, Fajar!
4. Tauco Cap Meong
Sebelum masuk botol dan dibawa pembeli, Tauco disimpan dalam
kendi. Tahu tidak, si kendi umurnya lebih tua dari usia almarhumah nenek saya. “Tauco
Meong gak pake pengawet. Awet disimpan hanya lima hari. Kalo udah masuk botol awetnya
tiga bulan,” kata Fajar.
Tur berakhir ditandai dengan kembalinya kami ke titik mula,
yaitu Bumi Ageung. Di sela-sela menuju museum, Fajar mengajak kami jajan
di toko-toko kelontong yang bangunannya tua. Kami hanya membeli minuman dan
berbincang kecil dengan pemilik toko.
Sebelum pamit, Fajar menawarkan diri jika kami berlibur lagi
ke Cianjur ia akan mengantar kami ke Gunung Padang. “Dari kota tinggal naik
kereta api sampai Stasiun Lampegan. Abis itu kita naik ojeg. Gunung Padangnya
gak jauh dari stasiun Lampegan,” ucap pria lulusan desain interior itu lagi.
Saya pernah dengar situs megalitikum Gunung Padang. Rupanya
dari kota Cianjur, akses ke sana tidaklah sesulit yang saya bayangkan.
Tidak saya kira kota kecil ini ada tur wisata
berjalan kaki. Selama ini apa yang kamu bayangkan tentang jalan-jalan di kota
Cianjur? Mentok-mentok berkuliner dan plesir ke taman bunga. Betul tidak? Hari
itu saya melihat wajah Cianjur yang lain. Sebagai tambahan, bisa ngobrol rupa-rupa topik dengan
beberapa warga lokal. Seru! Terima kasih Fajar!
Merawat Cagar Budaya Kota Cianjur
Melalui Fajar, saya melihat upaya merawat cagar budaya Indonesia yang nyata. Bukan cuma wacana. Dari tadi nulis 'cagar budaya', teman-teman tahu apa artinya?
Wikipedia menulis gini: benda cagar budaya adalah benda alami atau buatan manusia, baik bergerak atau tidak. Cagar budaya punya hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia.
Coba kita amati wisata alternatif yang Fajar tawarkan dan hubungannya dengan merawat cagar budaya:
- Dia membangun museumnya sendiri.
- Fajar menambahkan layanan paket wisata pusaka. Masih nyambung dengan kegiatannya di museum bukan?
- Menggunakan media sosial untuk menyebarluaskan berita cagar budaya.
Bayangkan bila ada lebih banyak kota-kota kecil yang
memungut potensi kekayaan pusakanya. Hitung-hitung merawat cagar budaya dan
mendapatkan pendapatan darinya. Sambil menyelam dapat ikan, kenapa gak. Saya
senang, Fajar bahagia, objek wisatanya langgeng. Bangunan cagar budaya ikut
terawat.
Cagar budaya itulah yang
jadi jembatan kepada kita di masa kini. Melalui Fajar, benda-benda dari masa
lalu bercerita tentang apa yang dibangun dan tersisa, mengapa
Cianjur dipilih jadi ibukota residen Priangan, dan bagaimana rupa kota di masa lalu.
Cagar budaya memberitahu kita tentang apa yang hilang dan
apa yang diwariskan.
Ini terbaca klise, tapi sejarah adalah pengingat. Membaca sejarah artinya mengingatkan diri sendiri. Cagar
budaya seharusnya ada dan dirawat sebagai pengingat apa yang kita lakukan dan
alami di masa lalu, mana yang bisa dikenang baik dan mana yang dikenang tanpa
harus kita ulang.
Bolehlah saya sedikit berbangga. Turis-turis seperti saya membantu Fajar meneruskan tongkat estafet bertuliskan 'ayo rawat cagar budaya kita'. Kita datang, kita menyimak, kita menikmati, kita memotret, kita mengunggah foto-fotonya di media sosial, dan kita beritahu orang lain. Hanya saja kampanye berwisata yang baik harus pula disuarakan: tidak meninggalkan sampah, bertutur sesuai adat istiadat setempat, tidak merusak, tidak banal.
Tentang merawat cagar budaya, bila dikerjakan bersama-sama, harusnya tidak ada lagi berita cagar budaya yang musnah. Sepakat?
Foto-foto: dokumen pribadi
Paling suka lihat-lihat dan mengetahui peninggalan nenek moyang. Museum Buni Ageung Cikidang bagus sekali. AKu langsung follow akun IGnya hehe. Ide-ide mas Fajar bisa menginspirasi yang lain, sebagai salah satu langkah menjaga cagar budaya. Salut. Postingan ini keren sekali ^^
ReplyDeleteIya. Bikin museumnya kita susah tiru. Tapi ide walking tournya bisa nih dicontek ehehehe
Deletewisata seperti ini harus kita jaga dan di lestarikan. agar kelak anak dan cucu kita tetap bisa menikmati segala yang ada
ReplyDeleteIya. Biar anak cucu ngaca dr peristiwa di masa lalu :D
DeleteWaah senang sekali ya mbak bisa jalan jalan dan melihat cagar budaya Cianjur.
ReplyDeleteWah tauco awet juga ya 3 bulan kalau disimpen di botol. Saya belum pernah masak pakai tauco
Tauco ada di beberapa kota, di medan juga ada klo ga salah. Di purwakarta juga.
DeleteKeren banget, baru tahu di Cianjur ada cagar budaya seperti itu. Heritage walking tour memang menyenangkan ya, bisa ketemu hal-hal baru yang gak semua orang tahu.
ReplyDeletePengalaman baru lihat kota lebih dekat hehe
DeleteRotinya... ginukginuk bikin ngences.
ReplyDeleteRasa & harganya juga bikin ngeces :D
DeleteDi Cianjur pun ada banyak wisata ya.. jerih payah Fajar patut diapresiasi, selain melestarikan kebudayaan juga semakin mengenalkan Cianjur kpd banyak orang.. semoga bisa jadi contoh yang baik
ReplyDeleteiya. di kota-kota kecil sekarang tumbuh jasa wisata jalan kaki begitu. kayak kudus, solo, madiun, bahkan makassar. alternatif wisata yang bagus hehe
DeleteBumi Ageung Cikidang ini lokalitasnya kuat ya teh jadi tahu Indonesia dulu, dan rotinya sama makanannya atulah jadi pengen 😍 pengen main juga kesana insyaAllah
ReplyDeleteiya, tiap tempat bersejarah memiliki cerita penting untuk didengar/dibaca/dilihat. kitu cenah kata UNESCO, badan PBB yang ngurusin cagar budaya se-dunia.
DeleteWow ternyata Cianjur menyimpan pesona yang luar biasa
ReplyDeleteSalut sama orang-orang seperti mas Fajar yang meninggalkan karir di kota besar untuk kembali ke kampung halaman dan berkarya di sana
Semoga cagar budaya Indonesia bertemu lebih banyak Fajar-Fajar yang lain
Amin!
DeleteWah ternyata ada banyak banget cagar budaya yang ada di Cianjur yaa kak. Ini nih peranan kita semua untuk merawat dan melestarian apa yang sudah ditinggalkan (cagar budaya) agar anak cucu nanti masih bisa melihat aslinya :)
ReplyDeleteiya betul
DeleteSaya beberapa kali melewati Cianjur, tapi nggak pernah kepikiran untuk mampir. Jadi penasaran dengan roti Tan Keng Cu. Saya penggemar roti-roti jadul.
ReplyDeleteIya dicoba, mba. Enak rotinya, empuk & manis adonannya.
Delete"merawat cagar budaya, bila dikerjakan bersama-sama, harusnya tidak ada lagi berita cagar budaya yang musnah" betul sekali, sebenarnya banyak hal kecil yang bisa kita lakukan agar cagar budaya bisa lestari. btw aku penasaran sama rotinya, murah pula ya..
ReplyDeleteYhaaa termurah emang :D
DeleteDuh jadi penasaran dg tour jalan kaki ini..kalau berminat kontaknya di mana y mba?
ReplyDeleteKe akun IG yg saya cantumkan dalam tulisan di atas, Mba. @bumi_ageung_cikidang.
DeleteWaaa, menarik ini kak! Aku suka banget wisata heritage jalan kaki di dalam kota seperti ini. Temen-temenku yang dari Cianjur nggak banyak cerita tentang wisata kotanya, mungkin karena nggak banyak tau juga ya.
ReplyDeleteSalut sama mas Fajar, orang berada yang mau eksekusi sendiri bisnis wisata yang digeluti. Penasaran aja, apakah beliau juga ada keturunan Tionghoa?
Kamu nggak ada foto-foto bangunan dari luar ya, kak? Aku penasaran sama desain arsitektur fasad dan keseluruhannya, kemungkinan art deco sih. Boleh nih buat weekend getaway :)
Bukan art deco kayaknya, foto pertama di paling atas itu museumnya.
DeleteSaya gak tahu dia keturunan tionghoa atau bukan hahaha sipit emang, tapi kayaknya bukan deh :D
pabrik roti kayaknya aku juga pernah mampir deh. Rotinya empuk dan wanginya bikin laper hehehe
ReplyDeleteTul hehehe
Deleteduh saya salfok sama tegel nya. masih terawat. bagus2 motifnya. kepengen juga nyobain roti tankecu yg legendaris
ReplyDeleteTegel di toko kelontong :D banyak yg mau beli tegelnya kata pakbapak di toko tersebut
DeleteDuh! Itu saya langsung naksir ma ubinnya. Ubin kayak gitu gak cuma cantik, tetapi juga adem banget.
ReplyDeleteIya betul, mba chi
DeleteSaya berujung penasaran sama rasa rotinya. Masih sama seperti rasa roti yang dulunya jadi ransum para tentara di masa perang nggak ya?
ReplyDeleteMasih. Resep yg dipake masih sama
DeleteBanyak ya yang bisa di eksplor di Kota Cianjur, sekarang bagaimana kita merawatnya.
ReplyDeleteTul :D
DeleteKeren yang dikerjakan Fajar ini. Dengan membuka jasa tour guide begini, dia tidak hanya merawat warisan keluarganya, tetapi juga melestarikan cagar budaya nasional.
ReplyDeleteItu pabrik rotinya menarik. Saya jadi follow @bumi_ageung_cikidang lho :)
Wah! Makasi banyak, Mba Vicky :)
DeleteWih, mantep ini mas Fajar. Saya juga sukanya wisata model gini nih, sambil jalan-jalan lalu didongengin.
ReplyDeleteKatanya sih, kalau tempat bersejarah itu rajin dikunjungi, bangunannya senang dan jadi lebih tahan lama.
Semoga banyak daerah yang pemudanya mengikuti jejak Mas Fajar ya :)
Banyak hal yang menarik ternyata di Cianjur. Rumahnya keren ininkhas sunda zaman dulu banget. Jadi kangen berada di rumah seperti itu.
ReplyDeleteCianjur seru juga ya utk dijelajah.
ReplyDeleteAku tahunya ikan bakar Cianjur aja. Wkwkwkwk.
Kapan2 aku akan mengagendakan jalan-jalan ke Cianjur juga ah. Sekalian ke Gunung Padang
Menarik nih eksplor Cianjur lengkap dengan kuliner nya.. kangen banget sama rasanya tauco..
ReplyDeleteSelalu salut deh sama orang2 kayak mas Fajar ini, bisa merawat cagar budaya dengan tangan sendiri gini. Bener2 mulia ya niatnya
ReplyDeleteAnw, aku jadi ngiler banget sama Geco nya nih, ahaha.