Membaca Bukan Pasar Malam

November 13, 2019
Saya baca novel Bukan Pasar Malam karena kehebohan debat film Bumi Manusia. Aslinya saya gak peduli-peduli amat novelnya Pram diangkat ke layar lebar. Sebab saya bukan pembaca loyalnya, pun bukan penggemarnya.




Walo begitu, saya tamatkan beberapa novelnya. Seperti Gadis Pantai, Larasati, dan Midah. Dari tetraloginya, baru Bumi Manusia yang saya baca. Tiga lainnya masih impian heuheueheu.

Nah dari keramaian pro kontra film Bumi Manusia, muncul rekomendasi novel Bukan Pasar Malam. Kalo gak salah, Budiman Sudjatmiko yang merekomendasikannya dalam sebuah wawancara. Saya menonton interviewnya di youtube. Ya sudah, mumpung waktu itu tanggal 19 bulan 9 tahun 2019, cukup cantik tanggalnya untuk beli buku toh!

Hamdalah ini novel tipis amat ya. Dalam pikiran saya, tipis tebal novel memang ngaruh pada durasi membaca. Begitu lihat Bukan Pasar Malam, bisalah saya tamatin dalam satu malam aja. 104 halaman saja.

Sinopsis cerita begini. Si Aku pulang kampung menemui ayahnya yang sakit parah. Mereka miskin semua. Ikut merawat ayahnya sebentar dan bercengkrama dikit-dikit, tak lama ayahnya meninggal. Si Aku pikir ayahnya mati sendirian, kesepian. Namun tidak. Sewaktu tahlilan, datang teman-temannya. Banyak. Rupanya ia dicintai banyak orang. Hanya saja si ayah ini gak mau ditengok-tengok. Ia melarang kawannya menjenguk. Si Aku pikir ayahnya bukan siapa-siapa. Nyatanya, ia orang penting. Pernah jadi pejuang lalu jadi guru.

Dalam novel Bukan Pasar Malam, tidak ada satupun tokoh bernama. Penuturnya si Aku. Tokoh utama yang merantau ke Jakarta. Terpaksa ia mudik ke Blora setelah menerima telegram ayahnya sakit keras. Adiknya banyak, ibunya wafat, rumahnya di Blora rusak-rusak, dan ia beristri orang sunda. Disebut-sebut dalam sinopsis novelnya si istri cerewet. Pas saya baca novelnya, apanya yang cerewet!

Titik pusat konflik ada pada ayahnya yang sakit TBC. Sakit yang mulanya karena banyak pikiran, dibungkus kemiskinan dan penderitaan zaman revolusi. Ayahnya dulu pejuang, begitu juga teman-temannya. Namun berbalik dengan kondisi si ayah yang masih idealis, teman-temannya jadi pejabat. Bergelimang harta. Ayahnya prihatin, mengapa orang-orang yang dahulu bersamanya memperjuangan perlawanan kini berbalik jadi simbol-simbol kekuasaan.

"Perwakilan rakyat? perwakilan rakyat hanya panggung sandiwara. Dan aku tidak suka menjadi badut, sekalipun badut besar," gitu kata si ayah.

Banyak kekecewaan dipendam dalam hati jadinya sakit keras. Pejabat negara memperkaya diri sendiri. Dan si ayah yang menjaga api idealismenya terpuruk dalam kemiskinan, kekecewaan, dan umur renta.

Dipikir-pikir, novel Pram yang saya baca temanya selalu "udah merdeka nih lantas gimana? perjuangannya melawan apa?"

Memang bagus novelnya. Di sini saya menengok orang-orang yang sekarat karena miskin tapi berusaha bahagia saja, gak ada pilihan. Dan Blora, suatu hari saya mau ke sana.



Post Comment
Post a Comment