Social Media

Image Slider

Buku-Buku Sejarah Bandung: Romantisme Belaka atau Kritik Terhadap Penindasan?

23/01/23

Perkebunan priangan memasok banyak uang ke kantong pemerintahan Belanda di masa kolonial. Bagi pribumi sebaliknya, kehadiran perkebunan komersial tersebut memberi penderitaan. Sistem tanam paksa menjadikan tanaman kopi sebagai kutukan. 

 

Diskusi buku di kedai jante bandung


Namun dari hasil perkebunan Bandung berkembang. Tadinya hutan belantara menjadi kota besar. Jalur transportasi dan komunikasi dibuat dan roda perekonomian berputar cepat, hingga Bandung hampir menjadi ibukota Hindia Belanda.

Perjalanan sejarah Bandung di masa kejayaan perkebunan priangan itu dapat kita baca dalam buku Pesona Sejarah Bandung yang ditulis Ryzki Wiryawan. Buku ini merupakan buku berbabak.

Saya membaca kedua bukunya dan menurutku ini buku yang jenius. Limpahan datanya lengkap dan kronologis rentetan peristiwa sejarahnya ditulis teratur dan ringan. Cocok dibaca sebagai acuan bagi pelajar, mahasiswa-mahasiswi, pemandu perjalanan, peneliti, pecinta sejarah, maupun warga kayak saya pada umumnya.

Babak pertama bukunya terbit tahun 2020 dibuka dengan judul Bandung Hingga Awal Abad 20. Babak kedua rilis tahun 2022 bertajuk Perkebunan di Priangan. Ryzki mengatakan buku Pesona Sejarah Bandung akan terbit sebanyak enam jilid dan tiap jilidnya mempelihatkan babak sejarah Bandung yang berbeda-beda.

Dalam diskusi buku #KajianJumaahan di Kedai Jante pada jumat malam 20/01/2023, Teh Nurul Sisilia secara jeli membahas topik kopi dan teh. Sehingga obrolan buku Pesona Sejarah Bandung mengerucut pada nasib perkebunan di masa kini dan budaya minum air teh dan kopi. 

 

diskusi buku kedai jante bandung
suasana di Kedai Jante, Jl Garut 2


Dalam buku Pesona Sejarah Bandung disebutkan kopi adalah kutukan dan teh merupakan anugerah, sebaliknya hari ini di tahun 2023 tanaman kopi adalah anugerah dan daun teh itu kutukan.

Salah satu pengunjung diskusi, Sopian, mengatakan harga kopi perkilogram mencapai angka Rp16.000. Sementara teh harga perkilogramnya hanya Rp2.200, belum lagi dipotong upah petik buruh teh sebanyak Rp600/kg. “Perkebunan yang ada di buku ini sekarang banyak yang tinggal kenangan,” katanya lagi. Perkebunan teh hari ini memang jumlahnya sedikit dibandingkan di tahun-tahun lampau.  

Lantas bagaimana caranya agar kondisi perkebunan teh kembali bangkit dan mengulang kembali era kejayaannya? Ryzki menjawab “perkebunan dikelola pihak swasta, bukan pemerintah.”

 

Ryzki Wiryawan Pesona Sejarah Bandung
Ryzki Wiryawan penulis buku Pesona Sejarah Bandung


Rifat, wartawan Detik.com dan penulis Atep Kurnia yang hadir ikut bercerita bahwa di masa kecilnya minum teh adalah kebiasaan di kampungnya sehari-hari. Kang Atep bilang bekal air minumnya saat dulu menggembala embe adalah air teh. Sementara Rifat mengatakan “kalo di tempat saya, air putih biasanya dijadiin air doa,” ujar Rifat.

Air doa yang dimaksud adalah air yang dibacakan ayat suci Alquran dan berbagai doa oleh orang pintar atau ulama, ditujukan untuk mengobati penyakit. Saya dan keluarga masih mempercayai praktik minum air doa ini.

Dalam praktik sehari-hari di Bandung, saya sering melihat air putih dijadikan air untuk kesembuhan. Air kopi disajikan sebagai menu pleasure di kafe-kafe, uniknya kopi juga disuguhi sebagai bagian dari ritual sesajen. Dan air teh sebagai air minum sehari-hari warga pada umumnya.

 

diskusi buku kedai jante bandung
(ki-ka) Ryzki, Hilal peserta diskusi, dan Nurul Sisila

 
Penutup obrolan diskusinya pun menarik, buku-buku sejarah seperti ini apakah hanya mengandung romantisme belaka ataukah memberi pembacanya insight akan penindasan imperialisme? Menurut saya sih keduanya. Ada buku-buku bertema nostalgia seperti buku yang disusun oleh Katam Sudarsono, misalnya. Namun ada juga buku yang menunjukkan ketimpangan sosial dan politik seperti dalam bukunya Ryzki ini.

T Bachtiar, penulis dan geolog yang memberi kata pengantar dalam buku Pesona Sejarah Bandung, Perkebunan di Priangan, menulis begini: kehadiran buku ini sesungguhnya merupakan kritik yang amat keras dengan cara yang amat lembut.

Di Javaco Beli Kopi Arabika dan Memotretnya dari Jalan Kebon Jati

15/01/23

Kesal juga kalo foto jepretan kita digunakan orang lain tanpa seizin kita. Namun hal-hal kayak gini sudah lumrah terjadi. Zaman digital namanya juga. Gak apa-apa sih gak permisi kepada pemilik fotonya, tapi cantumkan nama pemilik dan linknya wajib deh kayaknya. Iya gak?

Untuk itulah saya datang ke Toko Kopi Javaco di Kebon Jati. Sengaja saya datang ke sana untuk buat tutorial motret kopi Javaco di depan tokonya. Foto milik saya yang anglenya di seberang toko itulah yang terbanyak direpost dan diambil akun-akun travel. Gak banyak sampai puluhan kali kok, hanya 6x kayakya ada. Hahaha enam kali aja udah ganjen bikin tulisan di blog begini kenapa ya? 

 

kopi javaco bandung


Saya posting tutorial motret Javaco di Kebon Jati tiada lain dalam rangka menyindir mereka yang posting foto Javaco milik saya tanpa permisi. Namun entahlah apakah sindirannya diterima pelaku. Hehe.

Pada malas atau gimana sih? Motretnya gampang banget padahal nih. Saya mulai ya tutorialnya.

1. Datangi Toko Kopi Javaco di Jalan Kebon Jati 69 Bandung. Jangan malas terus modal save picture atau capture foto orang. Ayo keluar rumah, keluar kantor, dan datang ke tokonya. Buka pukul 9 pagi. Tutupnya jam 2 siang. Tidak ada plang nama toko. Hari minggu tutup.

2. Beli kopinya. Jangan minta gratisan, apalagi ditukar dengan exposure instagram dan tiktok. Gak. Jangan. Selalulah beli di tempat-tempat seperti ini.

Ada Arabica, Robusta, dan Melange. Kopi Javaco yang Melange kalo gak salah campuran antara robusta dan arabica (cmiiw). Semua kopi di sini level gilingnya medium alias giling kasar. Jadi menyeduh kopinya harus dengan air ngagolak pisan (air panas mendidih).

Kita bisa beli 1 ons paling sedikit.
1 ons arabica Rp17.000

 

kopi javaco bandung


3. Untuk memotret kopi di Javaco di depan tokonya belilah kemasan 250 gram atau 500 gram agar volume kemasannya cocok dengan tangan kita dan ukuran bangunan toko. Kan ceritanya mau motret di seberang tokonya nih. Kemasan kopinya kita pegang dan latar fotonya adalah bangunan toko Javaco.  

Saya pernah beli 1 ons, 250 gram, dan 500 gram. Tercocok kemasannya bila ingin memotret si kopi berlatar bangunan tokonya dari seberang jalan adalah 500 gram.

4. Waspada saat memotret. Mengingat lokasi kita berada di pinggir jalan raya yang ramai. Khawatirnya kita terserempet kendaraan, menghalangi pengguna jalan, dan kena jambret.

Ajak teman saja dan minta ia menemani. Kita sibuk berfoto dan dia menjaga kita. Beuh dijaga-jaga segala baik pisan kalo ada teman begini yah hehe.

5. Selalu ada kendaraan parkir tepat di seberang Javaco. Sementara menurutku angle terbaik motret kopi Javaco dengan latar bangunan tokonya yang antik adalah tegak lurus dengan bangunannya.

Jadi antara nunggu jalanan kosong banget (berkat lampu merah di perempatan kebonjati-gardujati-pasir kaliki) atau motret dari samping.

Semoga beruntung dapat titik tepat di seberang dan di hadapan toko Javaco ya.


kopi javaco bandung

 

6. Udah fotonya? oke cek dulu barangkali kurang banyak pilihan foto. Kalau sudah okelah bisa cabut. Hehe.

Gitu aja. Gampil ya! Tulisan lama Kopi Javaco yang pernah saya tulis tahun 2016 bisa dibaca di sini yah.

Bye, Javaco!

Bye juga kamu yang suka posting-posting foto milik orang lain dan gak cantumin photo creditnya.

Street Food dan Kipas Anginnya

13/01/23

Sejak Bandungdiary punya akun di TikTok dan bikin postingan video di sana, saya rekam banyak sekali video kipas angin di berbagai tempat yang saya datangi. 


Awalnya tujuanku merekam benda itu buat footage aja sih, tapi lama-kelamaan saya menjadikannya kewajiban. Sebab hampir di semua tempat yang saya datangi, yang tidak ber-AC, ada kipas anginnya. Terutama tempat makan ala-ala makanan jalanan gitu. 




Saya perhatikan merek kipas angin terbanyak adalah Cosmos. Diikuti Sanex. Kuitung pake feeling aja. Makin mewah tempatnya makin mahal kipas anginnya, semacam Krisbow gitulah mereknya. 


Saya masih ingat video kipas angin pertama yang saya rekam berlokasi di Batagor Isan Jl. Moh Toha. Saat itu saya butuh transisi video yang bendanya berputar karena saya merekam video sedang mengaduk minuman. Supaya nyambung saya tandem dengan video kipas angin. Cocok kan yah, video ngaduk minuman dan kipas angin yang sedang berputar. Wkwk. 


Nyambung-nyambungin yang saya bayangkan belum tentu sama kesatuannya dengan yang orang lain lihat. Yha memang, tidak mengapa. 


Sejak momen di Batagor Isan itulah saya berkata pada diri sendiri saya akan merekam kipas angin yang banyak.


Saya menulis di instagram bahwa semoga tahun 2023 ini ada banyak video kipas angin yang bisa kurekam. Tentu saja maknanya lebih dari sekadar rekam-rekam aja. Sebab untuk melakukan itu semua saya harus dalam kondisi sehat. Masih hidup, tubuh fit, dan ada uang. 

 

 


Semoga tahun 2023 saya bisa rekam kipas angin gak hanya di Bandung. Tapi juga lintas kota dan lintas negara. Seperti halnya tahun 2022, saya bertemu kipas angin di Jogjakarta dan Cilacap. 


Temanku bilang ini namanya filosofi kipas angin. Hahaha mungkin juga tapi seperti kata Pramoedya: hidup sungguh sangat sederhana, yang hebat-hebat hanya tafsirannya.

Beli Obat Sakit Lambung di Babah Kuya

07/01/23

Kalau sakit lambung kambuh, saya bergegas beli jamu di Babah Kuya. Awalnya sih iseng aja coba jamu buat mengobati sakit maagh. Saya membelinya di Babah Kuya Hijau. Wah ternyata cocok sekali, kondisi lambung saya membaik sejak mengonsumsi jamunya. Udah deh saya jadi langganan mereka. 

 

 toko babah kuya pasar baru bandung


Toko Babah Kuya berlokasi di belakang Pasar Baru kota Bandung. Begitu masuk tokonya udah menguar wangi-wangian jamu. Wanginya kayak di rumah orang yang udah sepuh gitu sih. 


Di Pasar Baru ini ada dua toko Babah Kuya dan mereka bersebelahan. Satu toko warnanya hijau dan berukuran besar. Mudah dilihat. Toko satunya lagi warna cat kuning dan berukuran lebih kecil. 


Entahlah apa yang terjadi sehingga ada dua toko dan nampaknya kedua toko tersebut tidak akur. Tokonya sendiri udah tuaaa banget. Udah seumur dengan kota Bandung, kota ini kan resmi berdiri tahun 1810. Nah tahun-tahun segitulah Babah Kuya udah ada. 


Namun mengetahui penyebab mengapa tokonya ada dua bukanlah urusan saya, sebab saya mau beli obat aja di Toko Babah Kuya. Saya pun membeli bergantian di kedua toko tersebut. Meskipun obat sakit lambung yang kubeli di Toko Babah Kuya kuning lebih murah tapi saya tetap menggilirnya.

 

 beli jamu di toko babah kuya


Satu ons obat lambung Rp25.000. Obatnya sudah berbentuk jamu. 


Di Babah Kuya ada banyak simplisia. Simplisia ini bahan alami yang telah dikeringkan. Kalo diperhatiin simplisia di Babah Kuya yang terlihat adalah simplisia nabati: batang, akar, daun, kulit buah, bunga, biji. Gak tahu yang kalo simplisia hewani ada atau enggak. Hehe.


Kalo kamu atau keluargamu ada penyakit apa saja coba deh datangi toko Babah Kuya, tanyakan pada cici dan kokonya semacam konsultasi kecil-kecilan. Nanti mereka akan rekomendasikan obatnya. Namun menurut saya sih kalo penyakitnya akut dan parah, baiknya konsultasi ke dokter dulu yah. Khawatirnya kamu ada alergi bahan tertentu sih. 


Jadi jangan tanyakan pada saya ada racikan obat apa saja di Babah Kuya. Silakan tanyakan langsung di tokonya yah. Kalo obat sakit lambung sih udah kujawab di atas yah. 

 

beli jamu di toko babah kuya


Kehalalan produknya tidak saya ketahui, buatku sih selama masih diracik dari simplisia nabati masih halal kali yah? 


Toko Babah Kuya buka senin-sabtu. Pagi sampai sore. Entah jam berapa. Datang saja sekitar pukul 09.00, bila sore datang sebelum jam 4. Alamatnya google aja. Pembayarannya bisa transfer dan bisa tunai. 


Babah Kuya melayani pembelian online. Sejak pandemi pun saya perhatikan mereka menyediakan nomor wa untuk pembeli jarak jauh. 


Gitu aja. Warga Bandung silakan datangi langsung tokonya dan belanja obat herbal di Babah Kuya. 

 

babah kuya pasar baru bandung

Gang-Gangan Menyaksikan Sisa Bongpai di Badran

03/01/23

Hari sabtu 19/11/2022 adalah hari terakhir saya berada di Jogja. Pagi-pagi check out dari penginapan dan saya meluncur ke Stasiun Tugu. Padahal kereta api datang pukul 11, saya sudah bergegas mau ke mana memangnya? Mau ketemu dengan Gang-Gangan! 

 

gang-gangan bongpai di badran


Janjian bertemu orang baru adalah kegiatan di luar zona nyaman saya yang terbiasa sendirian. Namun Shinta dari Gang-Gangan beberapa kali mengirimiku pesan di instagram. Mulai dari chat berbunyi “sungguh kita harus ketemu” sampai “mba, plis plis plis berkabar kalau ke jogja suatu saat nanti ya”. Sebuah sikap ekstrovert yang gak masuk dalam keseharian saya yang ambivert. 

Namun dengan Shinta berbeda. Memanglah gigih sekali orangnya, persisten dan melankolis. Saya merasa nyaman kepadanya meski ketemu juga belum. Jadi saya memberanikan diri mengontak Shinta duluan dan memberitahunya bahwa saya berada di Jogja. Kami bertemu dan ia mengenalkan saya pada teman-temannya.

Baik sampai mana tadi? Gang-Gangan.

Saya dan Shinta janjian di pintu parkir barat Stasiun Tugu. Ada Risna dan Anisa bergabung. Di hari sebelumnya saya telah bertemu Risna dalam tur di pabrik cerutu Taru Martani bersama Alon Mlampah.

Shinta, Risna, dan Anisa membuat Gang-Gangan, sebuah kelompok pengarsip gang. Di Jogja mereka berjalan kaki menyusuri gang-gang dan merekamnya. Arsip itu mereka simpan di akun instagram @gang-gang.an.

Pagi itu mereka mengajakku ke Badran, wilayah perkampungan dekat Stasiun Tugu yang popular sebagai kampung preman. Spesies preman asal Badran ditakuti seantero Jogja. “Tapi kampung ini sekarang dibuat ramah anak, mbak,” ujar Risna.

Namun bukan Badran yang bertransisi sebagai kampung ramah anaknya yang pagi itu kulihat di sana. Melainkan Badran bekas lokasi kompleks pemakaman tionghoa di Jogja.

Badran terdiri dari beberapa gang dan RW. Wilayahnya di pinggir sungai winongo. Rumah-rumah di mulut gang seperti biasa wujudnya agak besar. Makin dalam masuk gangnya rumahnya makin mengecil dan padat. Kutemui ada beberapa lapangan. Ada juga kompleks makam warga. 

 

gang-gangan bongpai di badran


Di era kolonial Badran adalah kompleks makam orang-orang tionghoa. Entah lokasi pemakamannya pindah ke mana, dalam proses pindah-pindah itulah jejak batu nisan di Badran berceceran. Jenazahnya dipindah, sementara itu batu nisannya tertinggal.

Batu nisan makam tionghoa ini bernama Bongpai (cmiiw). Gang-Gangan ke Badran tujuan utamanya mengajakku melihat jejak bongpai.

Mengejutkan sekali karena kulihat ada banyak bongpai di Badran! batu nisan ini tertancap di jalanan gang, di tembok-tembok gang, dan tertanam begitu saja di lapangan permukaan tanah. Secara kasual bongpai menjadi bagian dari keseharian warga. Mereka memperlakukannya sebagai batu biasa.

Kenapa warga menggunakannya sebagai batu-batuan di tembok ya? tanyaku pada Risna. “Kualitas batunya bagus, Mbak,” jawab Risna yang tergabung dalam komunitas Indonesia Graveyard. Jika diperhatikan dan dipegang, bongpai ini memanglah kokoh dan tebal. Bila saya warga Badran memanglah sayang bila disingkirkan batunya, baiknya memang dimanfaatkan saja buat infrastruktur bangunan.

Sepertinya itulah yang dilakukan warga Badran. Bagiku hal yang menarik adalah mereka seperti tidak terganggu dengan keberadaan batu-batu nisan itu. Terlihat tidak ada maksud untuk menyingkirkan sisa bongpai. Warga bahkan tidak membalik permukaan batu nisannya. Dengan demikian saya bisa melihat tulisan berbahasa cina yang terukir pada permukaan batu tersebut.

Unik sekali di tengah kegiatan warga yang bukan etnis tionghoa dan rumah-rumah khas dalam gang ada batu nisan bertuliskan dalam bahasa cina. Pemandangan yang kontras dan solid sekaligus. 


gang-gangan bongpai di badran


Kuitung Bongpainya banyak banget! Jumlahnya lebih dari 15 bongpai Gila seru banget! idk ini kenapa seru tapi memanglah tiap menemukan bongpai saya terpukau terus. Kayak hah, kok bisa, hah beneran, hah kok bisa, wah bagus euy, wah asli sih keren, hah kok bisa!

Saya pernah melakukan hal serupa di Bandung. Berjalan kaki menyusuri sebuah perkampungan tengah kota dalam rangka menyusuri batu nisan ala tionghoa ini. Ada satu bongpai di Babakan Ciamis, dekat Balaikota. Dalam bongpai tersebut tulisannya dalam bahasa latin, bukan bahasa cina.

Di lain waktu saat menyusuri sejarah Dobi di Kebon Kawung saya dipandu Komunitas Aleut dan menyaksikan satu batu nisan yang menjadi alas penggilingan cuci baju oleh warga. Namun si batu nisan ini tergeletak horizontal di lokasi yang tidak bisa kami jangkau, jadi kami melihatnya dari jarak beberapa meter dari bongpai tersebut. Tidak terlihat apapun selain wujud batu aja. 

Jadi saat saya berada di Badran dan terpukau melihat sisa-sisa bongpai di sana kukira itu hal yang wajar, bukan lebay. Mengingat pengalaman saya di Bandung yang demikian tadi saya ceritakan, sementara di Badran semua bongpainya masih berukir tulisan dalam bahasa cina dan saya bisa memegang batunya. Bayangin, megang! Megang bongpai yang asalnya dari zaman belanda begitu coba gimana mungkin saya gak takjub. 

 

gang-gangan bongpai di badran


Shinta cerita dalam bongpai biasanya selain tertera nama orang yang wafat. Lalu ada daftar nama anggota keluarganya yang mengurus pemakaman.

Bila memperhatikan batu nisan dan melihat wujud pemakaman ala tionghoa, kurasa pasti butuh banyak sekali uang untuk mengurus satu makam saja. Karena itulah nama keluarga yang mengurusnya wajib tercantum di bongpai.

Kupikir manusia ini rumit juga, saat hidup butuh biaya, setelah wafat pun masih ada ongkosnya. Tidak hanya kaum tionghoa dan bongpainya, keluarga saya yang etnis sunda pun atau kamu pasti mengalami hal yang sama. Namun nampaknya ongkos makam orang-orang tionghoa pasti mahal, bila kulihat dari bongpainya.

Tidak semua wilayah Badran dapat saya jelajahi. Maklumlah pukul 11 stasiun tugu menanti. Hehe. Kira-kira durasi saya berjalan 2,5 jam.

Sebelum pukul 11 kereta api datang dan saya harus bergegas menuju stasiun. Kami berpamitan di parkiran Stasiun Tugu dan berjanji bertemu lagi. Akan tetapi sebelumnya kami berenam sempat santap Tahu Gimbal Pak Warno. Ditraktir Mba Autine. Makasih, Mba!

 

difoto Risna

 

Terima kasih banyak Shinta, Anisa, dan Risna.

Dalam tur di Badran ini saya bertatap muka dengan Autine dan Radea. Dua orang yang mendiami kawasan jawa timur dan saya mengenali mereka karena foto-foto bangunan tuanya di instagram. Sungguh saya senang sekali bisa gang-gangan dengan mereka semua. Hamdalah makasih ya, Shinta. Bukan hanya saya berjumpa dengannya tapi juga bisa bertemu dengan teman lama-tapi-baru lainnya. Saya beruntung sekali.

Melihat Braga Dari Akarnya Bersama Patjarmerah dan Braga Heritage

27/12/22

Braga di Bandung, siapa yang tidak tahu. Braga bisa disebut sebagai jantungnya sejarah kolonial kota kembang. 

Saya mengikuti tur jalan kaki berjudul Telusur Gang Braga. Seorang warga lokal memandu kami, Farida namanya. Ia menuntun kami berseluncur ke dalam gang-gang, melihat rupa Braga dari dalam akarnya selama tiga jam pada hari sabtu (10/12/2022).

 

patjarmerah di braga bandung

Telusur Gang Braga bersama Braga Heritage merupakan acara kolaborasi dengan festival literasi keliling Patjarmerah dalam rangka sesi #JelajahPatjar. Para peserta secara acak mendapat satu buku tentang Bandung sebelum tur mulai.

Farida bercerita mula-mulanya di zaman kolonial ada empat orang saudagar kaya raya menguasai kepemilikan tanah di Braga: Alkateri, Asep Berlian, Apandi, dan Yiep Ging. “Apandi pelukis terkenal itu bukan, Teh?” tanyaku lugu dan bodoh.  

Saya masih yakin Apandi yang dimaksud adalah pelukis tersohor. Namun kepikiran juga apa iya dari penjualan lukisan bisa beli tanah banyak banget. Farida tersenyum usil, ia menyimpan rahasia perihal Apandi sampai kami berada di depan Hotel Kedaton.

Di depan pelataran parkir Bank Jabar tempat kami berkumpul, Farida bercerita bahwa wilayah Braga terbagi dua: braga pendek dan braga panjang. “Braga pendek itu kira-kira dari Bank Jabar sampai Museum Konferensi Asia Afrika. Braga panjang meliputi Gedung berita Antara sampai Bank Indonesia,” katanya.

Di belakang braga panjang terdapat pemukiman warga yang padat dan berdesak-desakan dalam gang. Jumlah rukun warganya ada delapan. Farida bermukim di RW 03.  

Braga yang kutengok dalam gang tidak jauh berbeda dengan gang-gang sempit di jantung kota dan kabupaten Bandung: rumah menempel saling berhimpitan, ibu-ibu bercengkrama di depan rumah, sampah berceceran, dan banyak bangunan menyerupai kos-kosan/kontrakan. Bedanya ya tentu saja bobot sejarah si Braga. 


gang braga bandung


Rumah besar dan kecil berdempetan. Ada RW-RW yang terlihat bersih segar nan hijau, banyak tanaman hias. Ada pula yang terlihat kotor dan tidak terurus. Kupikir selain bobot sejarahnya, gang-gang di Braga ini menarik juga penampilannya karena perbedaan mencolok antar rukun warga tersebut.

“Warga di Braga kebanyakan pendatang. Profesinya mayoritas pedagang kecil makanya banyak warung di sepanjang gang,” Farida melanjutkan “tukang bengkel ada, pegawai toko juga ada. Kalo pegawai negeri kayaknya jumlahnya hitungan jari deh.”

Persis di belakang  Braga City Walk, bangunan tinggi menjulang sangat kontras dengan suasana di titik saya berdiri, terdapat puing-puing bangunan yang sudah rata. Warga menggunakan lahan tersebut untuk berkumpul bercengkrama dan parkir motor. Anak-anak memanfaatkan lahannya untuk bermain. Di sana pula Farida menyuguhi kami surabi Surga, Surabi Braga, buatan Teh Nur yang warungnya berada di lokasi kami berkumpul. Kupilih surabi oncom tentu saja.

Sebuah tips: bila kamu berhadapan dengan surabi Bandung, maka pilihlah pertama-tama surabi oncom, pilihan keduanya surabi kinca.

Sambil mengunyah surabi kami mencerna juga cerita Farida seputar sengketa lahan di Braga. Namun detail cerita ini harus saya sensor. Farida dan Braga Heritage secara berkala mengadakan tur berjalan kaki gang braga. Kamu follow saja akun instagramnya dan pantau informasinya di sana. 

 

telusur gang braga bandung


Farida menuturkan dahulu komunitas di Braga terbentuk dari kalangan pendatang. Salah satunya adalah sopir-sopir delman dan pedati. Di masa lalu Braga yang berdekatan dengan Banceuy pernah menjadi istal kuda. Tempat peristirahatan kuda, kerbau, dan kusirnya itu dekat dengan pos pemeriksaan dan bagian dari rangkaian Jalan Raya Pos yang termashyur di zaman kolonial.

Masa istirahat para pengendara kuda, delman, dan pedati ini bisa memakan waktu lebih dari sehari. “Waktu istirahat itu mereka menetap di Braga, mungkin cinta lokasi dengan warga di sini, dan beranak pinak,” katanya lagi.

Begitu pun yang terjadi hari ini. Komposisi pendatang di Braga jumlahnya lebih banyak ketimbang warga lamanya. “Makanya masalah yang ada di sini kompleks banget,” kata Farida yang menetap di Braga sejak usia kecil.

Farida dan keluarganya telah mendiami Braga sejak puluhan tahun lalu. “Ibu saya sendiri lahirnya di sini tahun 1950an,” katanya lagi. Saking komunal dan bertumpuknya pemukiman di lingkungan ini fasilitas MCK umum masih tersedia. 

“Kalo kondisi air bersih di sini gimana, Teh?” tanyaku. Farida bercerita fasilitas air bersih di gang-gang braga disediakan oleh PDAM, tapi warga menampung airnya di jam-jam tertentu saja dan tidak semua RW mendapatkan fasilitas tersebut. Air ledeng baru menyala pukul 5 sore sampai 5 subuh.

Mojang Bandung yang profesinya mengajar ini memberitahu kami bahwa hotel-hotel dan kafe yang berada di Braga membeli air bersih dari wilayah lain. Warga dari RW 06 di Kejaksaan juga melakukan hal yang sama, yakni membeli air bersih ke produsen air kecil berwadah jirigen. 

 

braga heritage bandung


Memang paling menarik berjalan dengan pemandu lokal, dia membawa kami ke akar-akar Braga yang tidak terlihat dari jalanan. Kami masuk terowongan, halaman belakang rumah warga, dan sisi sungai Cikapundung. Farida juga memberitahu kami informasi faktual. Cerita tentang sejarahnya adalah hal yang perlu diketahui, kisah warga sehari-harinya merupakan hal lain yang menjadi penghubung antara masa lalu dan hari ini, imho.

Selain mengajar, dalam kesehariannya Farida mengelola sebuah rumah baca bernama Rumah Baca Kreatif Braga. “Di tahun 2019 untuk keberlangsungan program rumah baca kami coba buat tur jalan kaki. Pemandunya anak-anak karang taruna yang udah kami latih,” Farida cerita panjang lebar tentang asal muasal Braga Heritage.

Farida pernah terlibat kegiatan di Museum Konferensi Asia Afrika bernama Sahabat Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA). Ia berkecimpung dalam anak klab edukator SMKAA. “Saya belajar memandu dari museum KAA, terus saya coba bagikan ilmunya ke anak-anak karang taruna di Braga sini,” ungkapnya lagi. Braga Heritage kini menyediakan tur reguler bernama Ngabaraga.

Pendiri Braga Heritage ini mengaku tidaklah mudah membina warga tertarik ke dunia sejarah. Bilapun ada kebanyakan mereka bersikap pemalu saat harus berbicara di depan orang lain. “Mendobrak malu-malu kucingnya warga ini yang sulit,” katanya. 

 

telusur gang braga bandung
Farida, Braga Heritage


Warga Braga sendiri menyambut peserta tur jalan kaki dengan ramah. Menurut Farida mereka sudah terbiasa kedatangan warga asing. “Cuma masih harus belajar “bersih”, “ungkapnya sambil terkekeh. Saya lupa menanyakan bersih-tanda-kutip yang dimaksudnya apa.

Permasalahan lain di Braga adalah tidak ada sinergi antara pelaku bisnis di jalan besar dan warga di perkampungan belakang jalan. Menurut Farida masalah ini adanya karena kurang komunikasi, "kurang ngobrol," katanya lagi. 


Menghuni pemukiman Braga, Farida punya keinginan melongok dapurnya restoran kuno di Braga bernama Sumber Hidangan.

Sekalian saya kutanya iseng, selama tinggal di Braga yang banyak kafe dan hotelnya, ada gak tempat yang pengen teteh lihat dan kunjungi? 


Secara mengejutkan si teteh manis ini menjawab antusias: Nyonya Manis! “Kabita pengen masuk ke dalamnya, Nyonya Manis kalau siang jualan dimsum, kalau malam berubah jadi klab malam!” katanya sumringah.

Tak kusangka. Haha. Langsung saya search itu Nyonya Manis di Instagram dan kufallaawwww!

Ohiya teka-teki Apandi itu akhirnya diceritakan Farida saat kami berada di depan lokasi bekas rumah keluarga Apandi. Terbukti memang pertanyaan saya ada bodohnya.

Demikian sepotong cerita dari tur jalan kaki menengok Braga dari dalam akarnya. Betulan sepotong saja karena Farida tidak membawa kami ke ruang-ruang bawah tanah Braga. Durasi tur ada batasnya. 


Kurasa Braga memang panjang dan beragam kisahnya. Hari itu yang kutengok cuma sepotong akarnya saja.

Luntang-Lantung di Kroya

06/12/22

Tepatnya sih terluntang-lantung di sekitar stasiun kereta api Kroya. Saya, Indra, dan Kubil transit di sini sekitar empat jam sampai kereta api yang membawa kami ke Bandung tiba. 

 



Jadi kalo mau pergi ke atau dari Cilacap menuju Bandung menumpang kereta api mau gak mau akan transit di Stasiun Kroya. Habis itu lanjut naik mobil (sewa/online) ataukah menunggu kereta yang berangkat ke Cilacap. Saya sih nunggu kereta aja.

Kupikir daripada bengong dan ngecekin hape melulu bagaimana kalo lihat suasana sekitar stasiun. Dan pergilah kami berjalan kaki tanpa arah dan tujuan.

Hasilnya adalah kepanasan dan tertawa bareng-bareng. Sebab bingung sendiri ini kita ngapain ya di sini. Hehe.

Tentu saja kami browsing dulu dan cari tahu ada apa sih yang menarik di Kroya. Hampir semua artikel merekomendasikan wilayah pantai. Sayang terlalu jauh. Ya sudah kami berpegangan pada googlemap saja.

Alun-Alun Kroya jadi tujuan, menurut saya bisa jadi ada generator aktivitas warga di sana. Memang ada: kantor kecamatan dan kantor samsat. Wkwkwkwk.

Lain-lainnya begitu saja, seperti sedang berada di Majalaya sih rasanya. Tidak banyak yang bisa dilihat selain pertokoan usang dan pasar yang hangus karena kebakaran tahun 2021.

Karena kepanasan kami ngadem di toko roti O. Lalu masuk angin karena kena kipas angin terlalu lama wkwkwkwk parah.

Ya sudah kami menyerah dan memutuskan kembali ke stasiun. Di warteg saya beli makan siang dulu, lumayan ngirit daripada beli di kereta api harganya mahal banget deh. 

 

 

 


 

Kami berjalan kaki menuju stasiun, seorang tukang becak gigih menawari kami jasanya. Kutolak berkali-kali dan ia pun berhenti menawarkan becaknya setelah berkata pada kami “oh mau olahraga ya,” wajahnya kecewa dan kalimatnya bernada sarkas. Kami hanya tertawa saja setelah mamang becak menjauh. Sesungguhnya yang terjadi adalah benar, kami memang seperti sedang berolahraga jalan kaki!

Ohiya kami menitipkan tas di toko sebelah stasiun. Rupanya ada tempat penitipan motor di sana, mungkin yang nitip motor adalah warga lokal yang kerjanya di kota sebelah ya. Saat kami mengambil tas dan hendak membayar, pemilik toko menolak. “Gak usah,” katanya dengan muka datar.

Ya sudah saya beli makanan saja di toko tersebut. Itung-itung ucapan terima kasih. Lumayan kan nitipin tiga ransel. Saya harap saya kembali lagi transit ke Kroya, karena saya harap saya kembali lagi ke Cilacap. Aminkan, Wankawan!

Tidak Ada Macet di Cilacap

02/12/22

Dari Yogyakarta saya tidak langsung kembali ke Bandung. Namun bersambang ke kota kecil yang jaraknya tiga jam dari kota Jogja, menumpang kereta api Joglosemar. Ongkosnya Rp75.000. Di kota kecil itulah terdapat kilang minyak Pertamina terbesar se-Indonesia, di Cilacap. 

 

jalan-jalan ke cilacap


Indra dan Kubil sudah duluan berada di sana. Sore-sore kereta api sampai di Stasiun Cilacap, Indra menjemputku dan langsung mengajakku keliling Alun-Alun. “Kotanya sepi banget, jalannya lebar-lebar, mulus, dan kosong!” katanya semangat.

Begitulah memang warga metropolis di kota kecil, kami memperhatikan kondisi jalanan. Bagaimana lagi sehari-hari yang kami lihat adalah kemacetan jahanam, trafik yang ruwet di Bandung. Di Cilacap semuanya terasa leluasa dan lega. Rasa-rasanya damai. Tidak ada cerita jemput anak pulang sekolah berangkatnya satu jam lebih awal supaya tidak kena macet. Tidak ada kemacetan di Cilacap.

Tiga hari dua malam di sini gak terlalu banyak kegiatan jalan-jalan yang kami lakukan. Makan dan bermotor keliling kota saja. Santai sesantai-santainya.

Highlight dari jalan-jalannya adalah menyusuri jalanan yang bersebelahan dengan Samudera Hindia. Wah kulihat ombaknya bergulung-gulung besar. Berbeda dengan ombak kalem nan tenang yang kulihat di pantai Tirtamaya, Indramayu. 

 

makan ikan bakar di teluk penyu


Kami menyambangi pantai sebanyak dua kali. Hari pertama ke Pantai Teluk Penyu. Di sana kami lihat pantai sebentar dan makan siang. Menunya ikan bakar, kupilih bawal hitam saja.

Rasa makanannya enak-enak. Namun hintnya ada pada rasa kecap, lezat sekali kecapnya! ada rasa manis dan gurih sekaligus, manisnya lebih kuat. Kutanya ibu pemilik warung makan, apa nama kecapnya. “Kecap Cap Kuntul,” jawabnya.

Sewaktu saya menyantap mie ayam di malam hari, di warung mie ayam yang kami pilih acak saja, kecap cap kuntul ada juga di sana.

Keesokan harinya kami meluncur lagi menyusuri jalanan tepi pantai. Kira-kira tiga jam saja bermotor mengelilingi kota dan pantai yang menjadi batas jawa tengah dan jawa barat ini.

 

jalan-jalan di cilacap


Bahkan gak sengaja saya lihat layang-layang naga. Ada sekitar tujuh orang yang memegang tali. Layang-layang dilempar ke udara dan wuzzzz terbawa angin kencang ala samudera. Ketujuh pria memegang tali kuat-kuat dan mengikatnya ke batang pohon.

Kami gak merencanakan kegiatan khusus di sini. Acak saja, kebanyakan tempat kami datangi karena ingin makan saja. Seperti yang terjadi di hari minggu pagi. Niatnya mau berjalan kaki ke arah Alun-Alun. Tahunya ada pasar kaget meriah di depan hotel kami menginap.

Ya sudah! Kami jajan saja di pasar kagetnya. Kami bertiga jajan makanan: cumi bakar, martabak ayam (enak banget), mencoba bakery buatan warga Cilacap (yang lezat!), menyantap kembang tahu bertopping bubur kacang tanah (unik yha!).

Sekilas dalam tiga hari melihat Cilacap memanglah gak cukup. Sebagai turis boleh kusebut kota ini menenangkan. Meskipun kotanya kota industri -ada Pertamina, Antam, PLTU, dan Semen Cibinong- tapi entah mengapa sepi-sepi saja.  

 

jalan-jalan di cilacap

 bangunan tua cilacap

 

Hawanya saja yang panas khas kota tepi laut. Lumayan membuat senewen buat orang Bandung yang terbiasa hawanya sejuk. Meski begitu saya gak akan menolak bila ada kesempatan kembali lagi ke Cilacap.

Oh ya kami menginap di hotel NS, dekat sekali dengan Alun-Alun dan bersebelahan dengan toko kue legendaris, Gayawati. Ada deh kayaknya saya jajan ke toko Gayawati empat kali. Hehe. Di malam hari di toko tersebut ada wedang ronde. Semangkok Rp15.000, harganya mirip harga-harga di Bandung.

Dari penginapan kami berjalan kaki sampai stasiun kereta api. Dekat banget! Kota yang menyenangkan. Kuharap kita bertemu lagi, Cilacap.

Makan Bakmoy di Kedai Rukun

24/11/22

Waktu kapan itu saya baca buku judulnya Jogja Bawah Tanah, ada satu artikel tentang Kedai Rukun berjudul Cita-Cita Bapak, Resep Ibu, dan Janji Anak. Ibunya jago meracik masakan. Almarhum ayahnya mengajak buka kedai. Si anak inilah, bernama Muhammad Bagus Panutun, yang membuat Kedai Rukun.

Karena membaca artikel tersebut saya ancang-ancang akan mampir ke Rukun (begitu orang Jogja menyebutnya) kalo sedang berada di Jogjakarta. 

 

kedai rukun jogja


Hamdalah nyampe juga saya di Rukun. Kupesan Bakmoy dan segelas teh di sana. Menurut artikelnya, Bakmoy dan Brongkos merupakan dua menu yang pertama hadir, buatan ibunya Bagus. Dan Bakmoy favorit almarhum ayahnya.

Bakmoy adalah makanan berkuah. Ada potongan tahu, daging ayam, dan telor pindang dalam kuah kaldu. Nasinya tenggelam di dalam kuah.

Sebelum wafat, si ayah mengatakan pada Bagus, bagaimana kalau ia keluar saja dari tempatnya bekerja dan menyarankannya membuat kedai sendiri. Meski gak banyak ayahnya juga memberi sejumlah uang untuk mewujudkan cita-cita kedai tersebut.

Bila kedainya tutup, ibunya Bagus bakal protes karena ibu kepingin ada kegiatan, kegiatan masak dan ngurusin pelanggan itulah sekarang yang dikerjakan ibunya. 

 

bakmoy kedai rukun


Begitulah ceritanya mengapa saya datang ke Rukun dan memilih menu Bakmoy. Gara-gara baca buku itu. 


Saat saya bersambang ke Rukun, saya baru saja selesai mengikuti tur di Taru Martani. Kedua kakiku capek, badan capek, dan inginnya langsung ke penginapan saja. Namun Kang Farhan dari Cerita Bandung meyakinkan saya agar mampir dulu ke Rukun. Iya, saya bertemu Kang Farhan di turnya Alon Mlampah - Taru Martani padahal gak janjian. 


Wah syukurlah saya mengikuti sarannya. Hehe. Suapan pertama bakmoy terasa merontokkan rasa capeknya. Hangat kuahnya itu loh. Belon lagi seporsi bikin waregregreg!

Google aja Kedai Rukun lokasinya di mana. Selama di Jogja saya ke sana ke sini pake gojek aja, arah lokasinya gak tau-tau acan.

Artikel yang bagus tentang Kedai Rukun  itu dapat kalian baca pada buku berjudul Jogja Bawah Tanah. Beli saja di Tokopedia, nih saya cantumkan linknya: beli di sini.


buku jogja bawah tanah
kedai rukun jogja

kedai rukun jogja

kedai rukun jogja

Cerita Dari Taru Martani, Pabrik Cerutu Satu Abad di Jogjakarta

23/11/22

Main ke Jogjakarta tujuan utamaku ikutan tur yang dirancang operator bernama Alon Mlampah. Tur jalan kaki ini berlokasi di sebuah pabrik cerutu berusia 104 tahun. Taru Martani namanya, artinya daun yang menghidupi. The leaf of life. 

 

taru martani pabrik cerutu jogja


Tur berlangsung pukul 1 siang (18/11/2022). Hari itu Jogja adem banget. Tiga hari dua malam di Jogja cuacanya teduh. Beruntung sekali rasanya hehe. 


Taru Martani mulanya ada di zaman kolonial, pengusaha Belanda yang mendirikannya. Di zaman revolusi kepemilikan pabrik dipegang Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Kini Taru Martani adalah perusahaan daerah.  


Taru Martani artinya the leaf of life. Daun yang menghidupi. Agak ironis dengan tembakau yang dianggap mematikan paru-paru, sebetulnya sih. Namun namanya hidup selalu ada paradoks. Hehe. Dan postingan ini tidak sedang menghakimi tembakau dan penggemarnya yha.


Daun yang menghidupi adalah nama pemberian Sultan Hamengkubuwono IX. Menghidupi di sini ditujukan pada pegawai-pegawai dan orang yang terlibat dalam ekosistem pabrik cerutu tersebut.

Pak Adam memandu kami, katanya boleh masuk pabrik dengan syarat: gak boleh rekam video. "Nah kalau foto boleh," ucap kepala produksi Taru Martani itu. 

 

 taru martani pabrik cerutu jogja


Gak banyak sambutan bertele-tele ala pegawai pemerintah. Ia menuntun kami berjalan, lewati koridor panjang menuju ruang produksi yang pertama. Semacam wall of fame di dinding koridor ada foto-foto tokoh nasional dan dunia yang pernah datang ke Taru Martani. 


Terus tahu gak, ada Che Guevara dong. Wah mengapa bagian Che dilewatkan. Bagaimana ceritanya ia bisa berkunjung ke Taru Martani. Cerutu apa yang ia sukai. Terlebih lagi, ngapain dia ke Jogja?

Apakah saya melewatkan cerita tentang cerutu Taru Martani dan Che ini ataukah memang gak diceritakan oleh Pak Adam ya. Ah ya sudahlah. 


Kami lihat produksi di ruang bagian daun pembungkus cerutu. Di sini daun tembakaunya difermentasi. Produksi tahap kedua ada pembuatan kepompong cerutu. 


Tahap ketiga ada proses melinting. Terakhir tahap produksinya adalah pengemasan.


Usai dikemas cerutu gak langsung dijual tapi masuk ruang penyimpanan. "Ada proses drying, freezing, dan relaxing selama 35 hari,"  Pak Adam melanjutkan "kalau sudah melewati tahap itu cerutu sudah siap jual." 


Ribet prosesnya. Ditambah cerutu itu murni tembakau. Menurut Pak Adam, dalam satu cerutu ada 5-7 jenis tembakau. Daun tembakau diambil dari Jember, Situbondo, Labalangka, Lombok. Nampaknya lokasi itulah penghasil tembakau unggul sih.


Cerutu Taru Martani kualitasnya ekspor. Standarnya internasional. Pak Adam yang bekerja di sini sejak tahun 1997 cerita kalo resep racikan cerutu di sini basednya holland taste alias seleranya wong eropa. Pasar ekspor terbesarnya Jerman. Ada juga Rumania, Swis, Lebanon, dan lain-lain. 


Baru kutahu juga ukuran cerutu beragam. Ada yg besar, kecil, atau beda bentuk. Pak Adam bilang best sellernya Taru Martani adalah Robusto. 

 

 taru martani pabrik cerutu jogja


Masa kejayaan Taru Martani sudah lewat. Yaitu tahun 1990-1998. Habis itu penjualan menurun. Kini produksi Taru Martani 40.000 batang/hari utk pasar ekspor dan lokal. Pegawainya sekitar 230an.


Pada masa kejayaannya, pegawai Taru Martani ada ribuan. Tahun 1990-1998 era keemasannya.


Bisa dibilang Taru Martani terdampak kampanye antirokok. Apalagi di Eropa tahun 1960 ada larangan merokok di ruang publik. 


Menurutku pun cerutu bukan produk massal ala rokok sih. Harganya mahal, produknya juga murni tembakau. Orang-orang tertentu aja yang bisa menghisap cerutu: orang dengan kekuasaan atau orang dengan banyak uang. Atau yah cerutu memang rokok orang-orang kolonial sih. 


Namun namanya juga perubahan zaman. Cerutu yang murni tembakau ini sekarang dibuat versi murahnya. Taru Martani pun memproduksi cerutu macam itu. 


Fakta menarik lain diceritakan Pak Yuda, anak buahnya Pak Adam. Selama pandemi penjualan cerutu dan tis meningkat (tis = tingwe, rokok kretek dengan saus). 


"Orang-orang diem di rumah aja mungkin jadi gak banyak kegiatan, akhirnya nyoba ke cerutu dan tingwe,". 


"Atau kesepian kali ya, Pak?" tanyaku. Pak Yuda ketawa. Che Guevara pernah bilang sih, ‘mengisap cerutu di kala senggang ialah sobat sejati bagi pejuang yang kesepian’. Pejuang yg Che maksud pejuang revolusi sih, tapi ya bisa disambungin mungkin, pejuang pandemi. Hehe.

 

taru martani pabrik cerutu jogja


Di belakang pabrik ada bangunan bekas kapel, tempat ibadah umat kristen. Kita tahu prinsipnya penjelajah kolonial adalah 3G: glory, gold, dan gospel. Nah Taru Martani juga dirancang demikian. Misi penyebaran kristen katolik juga terjadi di pabrik ini. Sekarang kapelnya berfungsi jadi ruang loker pegawai Taru Martani. 


Di depan kapel ini pula turnya berakhir. Alon Mlampah memberi kami suvenir ala Taru Martani.


Bila ingin membeli produk Taru Martani bisa datang ke pabriknya. Ada koperasi di sana dan bisa beli eceran.  Kalo beli online bisa buka Tokopedianya instagram @tarumartani1918coffee, klik saja link di bio akun tersebut. 


Begitulah sekilas cerita dari Turnya Taru Martani. Detail-detail tahun, nama, kronologis cerita silakan diketahui saja langsung dengan mengikuti turnya Alon Mlampah.


Jogja seru amat walking tournya! Matur nuwun, Alon Mlampah! Saya harus nabung agak banyakan nih biar bisa sering-sering ke Jogja sih ikutan tur jalan kaki di sana. Hehe.



taru martani pabrik cerutu jogja

taru martani pabrik cerutu jogja

taru martani pabrik cerutu jogja


Photo courtesy: Ulu