Social Media

Image Slider

Pecinan Discovery Bersama Cerita Bandung

16/06/22

Dalam tur jalan kaki bertema pecinan ini saya masuk ke dalam gang-gang di pusat kota Bandung. Saya membawa pulang jamu racikan Toko Babah Kuya dan satu pak kopi dari Toko Kapal Selam. Juga ku bungkus dua potong Kompia, sebuah kuliner peninggalan zaman perang. 

 

Tur Cerita Bandung

Ini cerita jalan-jalan kedua yang saya posting pasca pandemic. 

Lama ya vakumnya dua tahun. Seminggu lalu saya mengikut tur jalan kaki di Bandung. Organisator turnya bernama Cerita Bandung. Saya ceritakan tentang mereka di bagian akhir tulisan ini. Sekarang saya bagikan dulu tentang tur pecinannya.


Dua puluh orang termasuk saya ikutan tur jalan kaki ini. Durasi berjalannya lumayan lama, 3,5 jam ada lah. Ditambah makan, jajan, berfoto, dan menyimak storyteller-nya Cerita Bandung, Teh Femis.

Mulai berjalan 8.30. Berakhirnya hampir pukul setengah satu siang. Kerasa agak capeknya di tengah tur. 

 

Saya mengajak anak saya, Kubil, ikutan tur ini dan dia terlihat baik-baik saja menempuh perjalanan modal kaki ini. Jadi saya gak bisa memperlihatkan bahwasanya saya capek. Ntar dia kebawa capek terus bete gimana dong berabe. Anak kecil bila bete bisa merusak kesetimbangan satu alam semesta jagat raya.

Tur jalan kakinya Cerita Bandung hari sabtu pagi 11/6/2022 judulnya Pecinan Discovery.

Udah terbayanglah mau ke mana dan bagaimana. Jalan kaki dari satu tempat ke tempat lain, dari jalan satu ke jalan lainnya. Teh Femis bilang Pecinan Discovery bab I (karena ada bab 2 di tur yang berbeda) memang rute terpanjangnya paket tur Cerita Bandung.

 


Pecinan di Bandung, Awal Mula

Dipikir-pikir hampir semua tempat yang kami lihat dan Teh Femis ceritakan adalah tempat berdagang. Gak heran juga karena orang-orang Tionghoa di Bandung (dan Indonesia pada umumnya) mayoritas memang pedagang. Begitu kan stereotipenya.

Mereka pindah ke negara ini dalam rangka memperbaiki nasib. Faktor ekonomi, sosial, dan politik.

 

Ditambah fakta di era orde baru, ruang gerak mereka digencet abis sehingga pilihan profesinya terbatas, salah satunya ya mau bagaimana lagi jadi pedagang saja.

 

tur pecinan di bandung
 

Jadi bila sektor perdagangan mereka kuasai, jejaring yang kuat, dan terampil dalam berbisnis, maka wajar kayaknya. Sebab sudah terasah zaman. Hehe.


Walo begitu, gak semua wilayah pecinan di Bandung dihuni oleh orang-orang (keturunan) Tionghoa. Ada juga komunitas orang-orang Arab  (dan keturunannya) yang berbagi ruang domisili. Makanya ada jalan namanya Alkateri di sana.

Juga ada sebuah gang kecil bernama Aljabri. Kedua nama tersebut (dan beberapa nama jalan lainnya) diambil dari nama tokoh-tokoh warga keturunan Arab.

 

Di lokasi-lokasi terpencil itulah saya perhatiin ada toko-toko yang barang dagangannya spesifik. Seperti toko ini yang hanya menjual tali temali. 


Merhatiin gak di area pecinan itu toko-tokonya bukan tipe yang toko serba ada, tapi barang dagangannya spesifik. Seolah-olah toko mereka itu saling berhubungan. Sirkular.  


Beli tali ke toko A, beli kancing ke toko B, kain ke toko C. Bila melewati tokonya saya sering mikir ini siapa pembelinya, gimana cara dagangnya, pembeli bisa nyampe ke sini tuh gimana ceritanya? 


Kita suka mikir kan kita harus menjual barang ke semua orang, nah dari orang-orang tionghoa ini saya lihat gak semua orang akan membeli barang daganganmu. Ya sudah gak apa-apa, dibagi-bagi aja jalur rezekinya, seperti rantai saling terhubung. 

 

 

Jamu dari Toko Babah Kuya dan Kompia si Roti Batu!

Teh Femis mengajak rombongan tur ke area Pasar Baru: berkunjung ke Toko Babah Kuya dan Toko Kopi Kapal Selam. Saya jajan di sini, jamu buat sakit lambung dan kopi yang bijinya dari kebon di Lembang.

 

FYI, umur toko babah kuya dua abad. Saya itung-itung, berarti waktu umur kota Bandung baru 11 tahun, toko Babah Kuya buka pertama kalinya. 

 

Saya masih gak ngerti ini bagaimana cara mereka bisa passing usaha toko dari leluhur pionirnya ke keturunan-keturunannya. Bayangin empat generasi dong ya? 


Ada keluarga yang mau ngurusin tempat yang sama, barang yang sama, selama ratusan tahun. Saya tuh mikirnya kok bisa, kenapa, WHY! DARIMANA ILMU KEBATINAN INI BERASAL! 

 

tur pecinan di bandung

Begitupun Toko Osin yang legendaris. Saya jajan seporsi bubur kacang tanah, signature dishnya Toko Osin, selain Cakue. Rasanya manis dan ada tekstur sedikit renyah karena kacangnya utuh gak remek macam bubur. 


Namun di Toko Osin ada menu yang tidak halal. Dan menurut saya itulah yang paling enak, Bapianya itu loh! hadeuhhhh gimana cara ya makan bapianya tanpa saya tahu bahwa makanan ini mengandung potongan daging babi…hehe becanda (tapi berharap). 


Cerita tentang asal muasal keberadaan orang-orang Tionghoa di Bandung gak bisa saya ceritakan. Sebab saya banyak gak tahunya. Hehe. Teh Femis juga cerita sinopsisnya aja. Memang gak mungkin dijelaskan dalam satu tur. Terlalu panjang. 

 

Intinya mah mereka teh ingin memperbaiki nasib saat migrasi dari Cina. Mendarat di Hindia Belanda yang dikuasai VOC, ruang gerak mereka dibatasi. Ditugasi berkebun dan bertani pada gak mau. Sepertinya mereka menyukai kegiatan perdagangan dan jasa karena senangnya berkomunal di tempat-tempat ramai. 


Di penghujung tur pecinan, saya melihat tempat pembakaran kue (atau roti) Kompia. Dari cerita Teh Femis, satu-satunya di Bandung yang membuat Kompia dengan cara kuno ya di sini. Seru amat bisa tahu yang beginian! 


“Toko lain juga ada yang jualan kompia, tapi cara masaknya pake oven,” kata teteh-teteh enerjik yang gak kelihatan capek ini padahal jalan kaki ongkoh, ngomong sambil pake masker juga ongkoh. 


Saya ngobrol sebentar dengan Cici Elis, pembuat kompianya. Cici bilang buat makan kompia enaknya ditandemin dengan bapia, semacam gorengan berisi bawang daun dan potongan daging babi. “Dicelup ke cikopi juga bisa kan, Ci? enak?” tanya saya. 


Cicinya ketawa, kata dia kalo dicelup ke air kopi mah jadi manis sih. Kompia ini roti keras, seperti batu. Jadi emang makannya harus ditandemin dengan makanan lain yang lebih empuk. 

 

Ci Elis rekomendasiin dimakan gurih aja. Baik, kupikir. Di rumah saya makan kompia dengan soto madura. Sobek kompianya kecil-kecil, cocol ke kuah soto. Asli euy bener enak cobain geura! Wkwk. Secara saya tidak bisa makan bapia the pig khaaannnnn! 


Aduh saya kelamaan cerita deh kayaknya. Masih pada baca? Oke terakhir nih. 


Kami digiring menuju lokasi yang saya gak bisa sebut namanya. Cukup menegangkan saat berjalan melewatinya, meski sebentar. Mesti sih pada ikutan Pecinan Discovery ini. Pengalaman jalan kakinya menarik dan beneran sebuah 'discovery' yang unik. 


Di akhir tur kami melihat sebuah bangunan ibadah. Bukan lihat dari luar aja, tapi beneran masuk ke dalam viharanya. Agak sungkan saya teh kalo masuk tempat ibadah, tapi dipandu Teh Femis yang juga keturunan Tionghoa jadi berasa tenang. Hehe.


Seperti biasa kalo dalam tur selalu ada sesi berfoto. Tidak ada foto dengan spanduk dalam tur ini. 

 

tur pecinan di bandung

 

Tentang Cerita Bandung

Cerita Bandung adalah organisator tur yang basednya perusahaan. Bukan komunitas. Dari segi layanan menurut saya oke. Hospitalitynya baik. Penceritaannya gak dalam dan gak banyak. Bukan yang tipenya in-depth, seperti tur-tur yang pernah saya ikuti sebelumnya daari komunitas di Bandung. 

 

Beberapa orang yang saya tahu, ikutan tur untuk berjalan-jalan saja, saya pun begitu. Bobot cerita sejarah menurut saya mah nomor tiga. Nomor duanya berfoto dan jajan tidak mengapa. 


Brandingnya Cerita Bandung juga rapi. Well-designed. Cakep sih, emang diniatkan basednya ke bisnis. Turnya pun berbayar. 


Tur di Bandung ala Cerita Bandung ada banyak, silakan dipilih aja mau yang mana. Pecinan Discovery adalah tur saya yang ke dua. Pilihan turnya ada di instagram, coba kamu klik ada di sini

 

Mereka mengadakan tur berulang-ulang dan terjadwal tiap sabtu dan minggu. Varian turnya menarik semua. Jagoan yang bikin paket turnya sih ini bisa motong fragmen sejarah dan membungkusnya dalam format tur jalan kaki. Bravo!


Saya numpang lewat sebentar ya. Makasih baca sampai sini. 


tur pecinan di bandung

Membaca Things Left Behind

11/06/22

Ada drama korea berisi 10 episode, judulnya Move To Heaven. Ceritanya tentang seorang pria, single parent, berbisnis biro cleaning service, berdua dengan anaknya. Jasanya dia khususkan utk lokasi TKP saja. 


Buku berjudul Things Left Behind tentang jasa orang membersihkan tempat kejadian perkara


TKP yang dimaksud lokasi di mana ada orang meninggal dalam kondisi janggal. Mendiang yang wafatnya tidak diketahui. Jenazah terlantar berhari-hari. Ada yang sendiri karena memang hidupnya sendiri, ada juga yang suicide. 


Drama koreanya diadaptasi dari buku berjudul Things Left Behind. Ditulis berdasarkan kisah nyata.


Penulis membagikan catatan tentang persiapan menghadapi kematian. Ia menulis catatan ini berdasarkan pengalaman membersihkan peninggalan orang-orang yang wafat. 


Apa aja? 


1. Biasakan hidup tertib


Rumah bersih, tidak menumpuk barang yang tidak digunakan.


Di bukunya tertulis gini: yang membuat kita bisa bertahan hidup setiap hari adalah hal-hal sepele seperti mencuci piring sehabis makan, mengelap debu di perabotan, mengepel lantai, dan sebagainya. 


Di halaman 195: semakin indah (bersih) tempat tinggal kita sesudah kita meninggal, kesedihan orang-orang yang ditinggalkan pun akan berkurang. 


2. Sampaikan maksud hati, bila terasa sulit sampaikan lewat tulisan


3. Simpan barang penting di tempat yang mudah ditemukan


Buatlah surat wasiat. Bereskan masalah finansial sebelum wafat agar tidak menyulitkan keluarga. Jangan simpan barang berharga di tempat yang sulit ditemukan. 


4. Jangan rahasiakan bila punya penyakit


Beritahu orang terdekat bila kita mengidap penyakit. Jangan disembunyikan karena mereka akan merasa terpukul bila mengetahuinya belakangan. 


5. Nikmati apa yang kamu miliki


Hemat tidak mengapa, tapi gak usah menghabiskan energi berhemat mati-matian. Pake barangnya, gunakan uangnya. Menyimpan barang tidak terpakai karena disayang-sayang hanya membuat hidup makin rumit.


6. Jalani hidup demi diri sendiri


7. Buatlah kenangan indah


Hal yang tersisa dari hidup adalah kenangan saling mengasihi. Bukan harta atau kehormatan. Namun kenangan menyayangi seseorang atau disayangi oleh seseorang. 


Buatlah banyak kenangan bersama orang-orang yang kita kasihi. Kenangan itu akan memberikan kehangatan saat ajal kelak menjemput kita.

Teman Bus di Bandung, Bayarnya Pake QRcode atau e-Money

07/06/22

Sejak awal April 2022 saya lihat bis angkutan umum wara-wiri di jalanan kota Bandung. Bahkan sampai ke kabupaten, domisiliku sendiri. Seru sih lihat bisnya mirip banget sama Bis Tayo itu loh yang ada di televisi. Hehe. 

 

Teman Bus Bandung
 

Padahal gak diniatkan nih, saya dan Kubil menumpang bis ini di hari pertama lebaran. Hahaha aneh banget. Bisnya kosong pula penumpangnya hanya tiga orang, termasuk kami berdua. Ya lagian dipikir-pikir siapa juga yang menumpang angkutan umum di hari pertama lebaran yak! 

 

Di dalam bis kulihat si bis ini ada namanya, yakni Teman Bus. Ada hashtag segala loh #kamiadauntukanda. Pikir saya serius juga nih! 

 

Karena bisnya sepi, maka saya wawancara aja sopirnya. Tanpa bertanya namanya aduh punten pisan lupa bertanya nama. 

 

Oke. Saya kasih lihat FAQ tentang Teman Bus ini, kayaknya sih pertanyaan saya adalah pertanyaan sejuta umat lainnya. Berhubung koridor bis saya adalah jurusan Baleendah - BEC jadi, nama jurusan ini paling sering disebut dalam FAQ di bawah. 

 

Here goes. 


Pak, bisnya kenapa ongkosnya gratis?

Kurang tahu, Neng. Dalam rangka sosialisasi mungkin. Gratisnya sampai tiga bulan aja (berarti sampai Juni, artinya Juli mulai ada pembayaran)

 

Kira-kira nanti ongkosnya berapa, Pak?

Nah ini mah saya juga belum tahu

 

Bapaknya ngomong duluan sebelum saya bertanya.

Pembayarannya pake e-money. Jadi penumpang kudu punya e-money, walo masih gratis wajib tap kartunya dulu. (Wah dicatat nih, wajib punya e-money).

 

(Karena saya sudah menumpang bis ini beberapa kali, saya bisa kasih informasi tambahan. Kita bisa scan barcode untuk pembayaran, barcodenya ada di aplikasi Teman Bus. Kita sign up dulu, nanti cek aja tab 'setting', nongol deh tab QR Code. Bisa nih dipake kalo gak punya e-money).

 

Satu kartu e-money bisa dipake berapa orang, Pak?

Maksimal tiga orang

 

Teman Bus Bandung
 

Bisnya ada berapa koridor/jurusan, Pak?

Ada Lima. 

 

Leuwipanjang - Soreang

Kota Baru Parahyangan - AlunAlun

Baleendah - BEC

Leuwipanjang - Dago

Dipatiukur - Jatinangor

 

Kapasitas bis berapa penumpang maksimalnya?

Kira-kira mah 40 orang muat, tapi gak akan diangkut sebanyak itu juga. Kan armadanya juga banyak, Neng.


Armadanya ada berapa, Pak?

Jurusan Baleendah - BEC ada 15 armada (sepengamatan saya kurang dari 15 deh). 

 

Keberangkatan bis tiap 15 menit sekali (yang sayangnya sering meleset karena bis sering kecegat macet).

 

Bisnya akan menaikkan dan menurunkan penumpang di 57 halte. Daftar haltenya bisa dicek di aplikasi Teman Bus. 

 

Jadi gak bisa naik turun sembarangan ya, Pak? harus di 57 halte itu?

Iya wajib. 

 

Ada peraturan khusus gitu gak buat yang mau naik Teman Bus, Pak?

Penumpang dan sopir dilarang merokok dan makan di dalam bis. Sama pembayarannya pake kartu.

 

Jam keberangkatan gimana, Pak?

Kalo dari Baleendah paling pagi berangkat jam 4.30. Kalo dari BEC paling malam jam 20.30 berangkat menuju Baleendah. 

 


Informasi Tambahan Tentang Teman Bus

Saya kasih informasi tambahan lagi yah. Di bis ada voiceover dan ada running text halte. Jadi buat teman kita yang tuli dan tuna netra, bisa jadi ketolong banget. Voiceovernya mirip dengan suara di gerbong kereta api. Canggih sih menurut saya mah, sebagai warga kabupaten nih. 

 

Teman Bus nih, buat orang kabupaten, bisalah disebut sebagai semacam revolusi transportasi umum yang cemerlang gemilang. Hehe. Agak menyedihkan sih karena baru muncul sekarang, di tahun 2022, di tengah isu metaverse apalah apalah itu. Hehe. 

 

Teman Bus Bandung

 

Teman Bus di Beberapa Kota Lainnya

Belakangan saya baru mengetahui, saat saya upload Teman Bus di stories Instagram, beberapa teman dari kota lain mengatakan hal yang sama. Katanya di kota mereka juga ada Teman Bus. 


Rupanya Teman Bus ini proyeknya Kementrian Perhubungan dan dibuat serempak di beberapa kota. Selain Bandung, ada Bogor, Solo, Surabaya, Medan Denpasar, Palembang, Yogyakarta, Makassar, Banyumas, Banjarmasin!

 

 

CONS

Kekurangan armada bis ini ada di peralatan pembayarannya. Parah sih responnya lama banget kalo tap kartu. Bisa pake barcode juga, lebih cepet juga, tetap saja kehitungnya makan waktu banget. 


Bibit ribetnya sudah terlihat jelas. Kalo operatornya baca tulisan ini, please banget itu mesin pembayarannya dibetulin. 

 

Kalo nonton drakor atau series western kok tap kartu gampang banget ya. Tinggal tempel gak sampai satu detik langsung direspon mesin. Kalo versi Teman Bus ini mah ahelah lama luar biasa wkwkwk. 

 

Lalu saat saya pikir armadanya udah banyak, ternyata enggak juga. Terutama di hari libur atau weekend. Kerasa deh penumpangnya buanyak. Jadi emang yah armadanya kurang sebab permintaan mah tinggi. 

 

Kalo bis sedang penuh-penuhnya penumpang, saya kembali naik angkot. Pertama, malas rebutan masuk ke bis sebab tidak pada kenal yang nama antrean ih sebel. Kedua, gak ada kedua. Itu adalah satu-satunya yang membuatku hoream naik bis ini. Hoream rebutan masuknya. Hehe. 

 

Jadi emang pemilihan waktu mesti diperhatiin buat warga pengguna transportasi umum yang super introvert kayak saya hueheheheh apa sih bawa-bawa introvert segala asa teu nyambung.


Teman Bus Bandung


Sudah mau dua bulan saya menggunakan jasa Teman Bus, saya juga masih pake angkot. Keduanya membantu mobilitas saya di tengah jasa taksi dan ojeg online yang berhenti bakar duit sehingga ongkosnya terasa lebih mahal dari biasanya. Hehe. Emang segalagala lagi mahal sih sekarang jadi yah...


Ayo menumpang Teman Bus!

Berjalan Kaki Dari Astana Anyar, Sampai di Gedung Pakuan

06/06/22

Ke Tegalega, kira-kira itulah ajakan saya pada Indra. Dari kapan deh dia mau hunting perkakas bekas di Jalan Astana Anyar. "Ya udah ayo sekalian aja besok," ajak saya, hari jumat waktu itu. 

 

Sabtu pagi kami sudah berada di Tegalega, pukul delapan pagi. Udara masih sejuk dan panas matahari belum mengigit. 

 

pasar loak tegalega
 

Bila belum tahu, saya jelaskan sedikit. Jalan Astana Anyar ini langganan macet. Ada terminal Tegalega di sana. Ada Pasar Anyar. Tambahan kalau pagi hari ada pasar loak perkakas, sorenya ada pasar loak produk fesyen. Beuh gimana gak macet. 

 

Namun kami bertiga pergi ke sana di pagi hari akhir minggu, menggunakan angkutan umum dan berjalan kaki. Jadi, bye macet! Hehe. 

 

Menyusuri pasar loak pastilah menyenangkan. Seenggaknya buat beberapa orang. Mungkin kamu di antaranya. Seperti saya, samaan dong kita. Hehe. 

 

Kenapa ya senangnya tuh apa penyebabnya? 

 

Mungkin karena saya gak menyetel espektasi apapun. Sehingga meski barangnya loak tapi dalam persepsi kita di sana everything is new, everything is interesting. Ada barang yang membangkitkan kenangan lama, ada juga yang malah baru ketahui kayak "ada ya barang kayak gini?!". Saya berucap demikian saat saya melihat ada kios yang menjual ring basket bekas. Rasanya seperti sedang beraksi seperti Mike dan Frank di The Pickers. 

 

Meski ada di pasar loak perkakas, Indra tidak belanja barang bekas. Dia beli sikat besi buat nyikat karatan di stang sepeda. Dia juga membeli celurit. Lalu saya membungkus satu alat asahan 10.000 saja harganya. Si Kubil membawa pulang mainan helikopter. Semua orang belanja, semua senang. 

 

pasar loak tegalega
 

Tinggal makan. 

 

Kami berjalan kaki dari Jalan Astana Anyar, melewati Jalan Ciateul, melintas ke Jalan Otista, dan berbelok ke Jalan Pungkur. Wilayah Kebon Kalapa di sana, seperti biasa kami menyantap sarapan pagi di Susu Ijan. 

 

Dipikir-pikir ya, ada banyak rekomendasi makanan. Coba saja lihat di instagram, twitter, dan sebagainya itu. Berpuluh-puluh rekomendasi kubaca, berlabuhnya selalu ke tempat yang sama. Otak tuh kayak udah malas mikir dan bertualang rasa. 

 

Kurasa ini bagian dari usia juga. Yah bagaimana lagi dijalani saja prosesnya. Haha apa sih. 


Kenyang di Ijan, kami berjalan kaki. Niatnya ke area Pasar Baru mencari stik kayu penggaruk punggung. Namun saya tidak serius mencarinya jadi saya pikir lupakan saja tujuan tersebut. Lantas saya mengajak Indra dan Kubil ke arah sana, ke arah Cicendo. "Mumpung searah," ucapku. 

 

Susu Ijan

 

Dari wilayah Otista, kami menyebrang ke Cicendo via jembatan durjana. Jembatan penyebrang yang melintas rel kereta api. 

 

Nah itu dia kulihat di ujung Otista nomor 1 ada rumah dinas gubernur Jawa Barat. Saat saya menulis ini, berita tentang kematian anaknya Ridwan Kamil masih lewat di timeline media sosial. Sebagai netizen, saya ikut sedih yang mendalam. Semoga keluarganya kuat dan tabah melewati masa-masa berduka ini. Innalillahi wainnailaihi rojiun. Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah, dan kepada Allah jugalah kami kembali. 

 

Kurasa inilah tujuanku sebenarnya pagi itu, ke Gedung Pakuan meski hanya melintas di luarnya. Kuanggap sebagai layatan. 

 

Kami bertiga berjalan kaki hingga depan stasion. Bis kami akan berhenti di haltenya. Kami pulang ke rumah. 

 

Makan Ramen di Pasar Cihapit

31/05/22

Berdua dengan Indra, saya pergi ke Cihapit. Mau makan ramen di sana. Gara-gara apa ya saya tahu ramen ini, instagram deh kayaknya. 

 

Kami parkir motor di Jalan Cihapit, kira-kira abis sholat isya waktu itu. Lalu berjalan ke dalam pasar via jalan belakang. Indra meragukan, beneran jam segini masih buka? tanyanya. Ayo aja, jawabku. Kita ke Rama Ramen!

 

rama ramen pasar cihapit
 

Pasarnya sih rada gelap ya. Remang-remang gitu. Sepertinya bila datang sendiri saya sudah mundur duluan balik ke tempat parkir. Hehe. 

 

Tidak sulit mencari Rama Ramen tujuanku itu. Sat set sat set aja ikuti labirin kios. Nah ketemu. 

 

Sayangnya wiraniaga bilang stok ramennya habis bila untuk dua porsi. "Gimana kalo satu porsi dibagi dua?" katanya. Saya dan Indra berpandangan saling mengucap setuju tanpa bicara. 

 

Langsung aja kami ambil posisi duduk. Indra sih udah nancap duduknya, saya berdiri lagi dan berfoto untuk instagramnya @bandungdiary. Gak lama-lama, dua porsi mini Rama Ramen terhidang di depan hidung kami. 

 

rama ramen
 

Saya pesan curry ramen dan miso ramen. Keduanya enak. Ramen kan gitu yah kuahnya halus aja. Saya suka, Indra juga. Namun menurut saya, si kuahnya baru terasa meledak rasanya setelah saya santap bersamaan dengan tambahan sambal yang baru dibuat oleh wiraniaganya. Semacam acar sambal (?) terdiri dari potongan bawang, cabe rawit, dan minyak. 

 

Lalu menurut  kami jagoannya adalah baso goreng. Menu add on di sana. Bila berkunjung ke Rama Ramen, pesanlah baso gorengnya dan minta sambal cabe rawitnya ya. Kurasa memang alaminya kuah ramen itu tidak meledak-ledak rasanya, jadi bukannya tidak enak, justru enak. Cuma lidah saya aja yang condong ke cabe dan bawang yang ikut dikunyah. Hehe. 

 

Suasana pasar tradisional sangat berpengaruh dalam menambah pengalaman santap di Rama Ramen. Beda kerasanya memang. Meski saya datang malam hari saat kebanyakan kios pasar sudah tutup, tetap aja terasa beda. Karena bulan Ramadan aja sih bukanya malam hari. Saya lihat jadwal regulernya buka sampai magrib aja. 


rama ramen pasar cihapit

 

Saya akan balik lagi ke sana, saat terang hari biar kerasa nih bedanya bagaimana. Hehe. 

 

Harganya rada mahal menurut saya mah. Seporsi mini itu 32.000. Porsi reguler 55.000. Bolehlah buat jajan buat pleasure. 

 

Rame Ramen (ig @rama.ramen)

Buka Selasa - Minggu

10.00-18.00 di Pasar Cihapit

Mudik After Three Years

24/05/22

Mudik gak sama lagi artinya. Rumah tujuan saya sudah kosong. Ibu pulang kampung ke tanah kelahirannya. Ayah meninggal. Adik-adik sudah lepas landas alias sudah pada bekerja, tidak bermukim di rumah.


Dulu mudik ketemu orang tua. Kini mudik tujuannya untuk bertemu kerabat. Memperpanjang nama keluarga. 

 

 

Sepanjang usia hingga tahun 2018 mudik adalah ritual hari raya. Sekarang? agak garing terasanya. Tidak ada ketegangan berburu tiket mudik. Tidak ada huru hara membeli oleh-oleh. Tidak ada pertanyaan, "rencana kapan mudiknya?". Juga tidak ada ritual ngepak pakaian.

 

Garing. Persis seperti yang orang-orang selalu bilang: seperti kanebo kering. 


Namun tahun ini berbeda. Ibuku mengajak mudik dalam rangka urusan keluarga. Kami berangkat semua. Semuanya. Hanya kurang satu personel yang masih berjibaku di tanah Sumatera. Tiga hari dua malam trip keluarga ini berjalan, tentu saja ada dramanya. 


Kami menginap di hotel. Aneh betul ada rumah, yang mana besar ukurannya, tapi kami semua tidur di bangunan dan ranjang yang asing. Toh bagaimana lagi, rumah induk sudah kosong. Tidak ada lagi ranjang tempat saya dahulu mengompol sewaktu kelas 5 SD. Yap, fakta memalukan yang sudahlah bodo amat. Hehe. 


 

Rumah induk itu bernama Rumah Karangampel, rumah tanpa nama sebetulnya tapi saya beri nama saja di sini. Dua pohon mangga besar menaungi halaman depan, tampak (dan memang) adem jadinya. Pohon mangga ini berumur sama dengan rumahnya. 32 tahun. Mangga Cengkir dan Mangga Harumanis. 


Bagaimana menjelaskan sensasi yang saya alami saat saya kembali masuk ke dalam rumah yang kosong ini ya. Rasanya dalam hati ikut kosong juga. Kamar tidur apalagi. 


Kamar di mana saya membaca surat cinta dari kakak kelas. Tempat saya belajar dan menulis, mendengar berbagai kaset dari Spice Girls, Rhoma Irama, SO7, dan The Beatles. Lokasi ternyaman untuk membaca. Tempat yang membuat saya 'asyik sendiri'. Itulah yang terasa paling, paling apa ya, paling melangut.


Di ruang tamu sudah tidak ada sofa. Hanya tersisa satu lemari raksasa yang menua. Sudut-sudutnya patah, pintu rak copot. 


Di ruang meja makan lebih hampa lagi. Kosong semua. Ada lampu kuno menggantung miring. Rak sepatu debunya tebal. Kursi-kursi antik yang terlalu besar ukurannya buat orang-orang yang rumahnya milenial seperti saya, tidak terangkut. 


Saya foto semua titik di rumah ini, dari pintu gerbang sampai kamar belakang. Semuanya. 


Berada di sana dan menelan berbagai memori yang melintas tidak membuat saya sedih. Justru saat harus kembali ke Bandung terasa mulai sedihnya. 


Bukannya saya ingin tinggal lagi sana, saya sudah tidak kerasan dengan cuaca pantura yang panasnya tajam. Hanya saja, berada di rumah itu membuatku merasa tua dan hampa. Dan agaknya menyedihkan juga saya tidak menyukai udara panas di Karangampel sementara udara ini yang ikut membesarkan saya. 

 

 


Pengalaman dengan Karangampel membuatku teringat novel berjudul Semasa. 


Di halaman 101 dalam novel tersebut Bibi Sari berkata: hidup memang seperti itu, kamu melepaskan sesuatu, lalu memulai sesuatu. Rumah ini, bagaimanapun, ya benda mati. Yang hidup itu kenangan di dalamnya, juga alasan-alasanannya berdiri. Semua kedekatan emosional yang muncul darinya, juga terhadapnya, itu tidak akan lepas, tidak akan hilang. Aku akan memegangnya terus-menerus, memeluknya di hatiku, sampai kapan pun.


Biografi Ramsih dan Sedikit Tentang Parakan Kopo Padalarang

05/04/22

Ramsih adalah nama Ibu dari penulis bukunya. Jadi bisa dibilang buku ini adalah biografi. Kisah nyata seorang anak di sebuah kampung di Padalarang Bandung tahun 1960an. 


Ceritanya si penulis, Iwan Yuswandi, membuat proyek nulis mengenai ibunya sendiri. Tulisannya rampung sejak 10 tahun lalu. Tahun 2021 mulai dia rapi-rapiin lagi tulisannya. Di Hari Ibu 22 Desember, bukunya naik cetak sebanyak 10 eksemplar aja. 
 
 
Buku Ramsih Iwan Yuswandi

 
Saya beli bukunya gara-gara gak sengaja baca resensi di instagram. Peresensinya kenal si penulis.  Kebetulan nama penulis dimention. Juga untungnya penulis mencantumkan nomor hp di bio instragam. 
 

Rupanya buku ini hanya tersebar di lingkaran kecil penulisnya. Namanya juga proyek independen, proyek pribadi. Gak heran cuma dibaca teman/keluarga sendiri. Saya orang di luar lingkaran si penulis. Hehe. Beruntung dong bisa beli bukunya! 
 

Ceritanya buku Ramsih ini berlatar dusun Parakan Kopo dan Cikubang. Ada juga Tagog Apu. Lokasi cerita dalam buku ini semuanya di Padalarang. Setingan tahun 1950-1960an. 
 

Ramsih yang ditulis dalam buku adalah Ramsih usia 8-12 tahun. Penulisnya menjalaskan desanya Ramsih, Parakan Kopo dan Cikubang, secara rinci: 
 

"Irigasi itu mengalir tenang sepanjang hari. Dari mulai habis kampung terakhir, setelah menuruni jalan setapak, jembatan yang menghubungkan aliran air irigasi terlihat kokoh. 
 

Kurang lebih lima kilometer dari jembatan tua itu untuk menuju rumah Ramsih. 
 

Dari sisi kiri tembok lapuk irigasi, jalan sempit tampak menggurat ke depan dan berkelok-kelok. Jika menuju Kampung Parakan Kopo dari arah Kampung Cipulus, tepian irigasi sebelah kanan merupakan tebing dan bukit-bukit landai."
 

Keseharian Ramsih bisa kita baca di buku ini. Lengkap dan detail. Pukul dua dini hari Ramsih bangun tidur dan bantu ibunya menumbuk padi. Dilanjut jalan kaki dan gegeroh di sungai, sekalian nyuci baju. Abis itu cari jukut buat makanan kambing-kambing asuhan Ramsih. 
 

Gak bisa bayangin sih saya, anak kecil umur delapan tahun udah bangun pukul dua malam. Kenyataannya begitu ada. 
 

Ada juga satu bab menarik, cerita tentang DI/TII. Di Cikubang para pria akan mengungsi ke arah dayeuh (kota) bila malam tiba. Sementara di rumah hanya ada istri, ibu, dan anak-anak. Di buku ini dikasihtahu mengapa terjadinya demikian, kok bisa malah perempuan yang ada di rumah sementara para pria bersembunyi. Baca aja sendiri. Hehe. 
 

Terus banyak kelakuan orang di zaman dahulu kayak adopsi anak dari keluarga sendiri. Ramsih diadopsi kakaknya sendiri dan dibawa keluar kampung gitu. Diingat-ingat lagi, budaya menitipkan anak memang budaya kita gak sih? Saya pun dahulu diasuh oleh kakaknya nenek sebab ibuku hamil besar dan harus mengurus satu anak bayi. 


Kembali ke Ramsih, di rumah kakaknya ia membantu menyelesaikan pekerjaan domestik. Usia 10 tahun baru masuk sekolah. Lalu umur 12 harus berhenti sekolah karena sesuatu hal. Di buku ini dijelaskan alasannya dan pilu banget. 
 

Bayangin, pengen sekolah tapi gak bisa lanjut sekolah. Ramsih cuma bisa natap anak-anak pergi-pulang sekolah dari warung kakaknya. 
 

Namun anak Ramsih nih, Iwan Yuswandi yang menulis buku ini, adalah pekerja di bidang perbukuan. Dia adalah ilustrator, penulis buku anak-anak, dan menjadikan ibunya sebuah buku. 
 

Wah di surga ibunya bangga banget kali yah! 
 

Bagus bukunya. Kekurangannya hanya gak ada dialog dalam bahasa sunda, itu aja. 
 
 
Mungkin saat mengetahui buku ini kamu akan bertanya, siapa dan mengapa Ramsih. Saya pun demikian, tida mengenali penulis apalagi kenal ibunya. Buku yang sangat terasa personal bagi penulis bukan saya.  
 
 
Namun di sisi lainnya, penggambaran penulis akan Padalarang tempo dulu itulah yang saya ingin ketahui. Kita gak akan memperoleh deskripsi Tagog Apu seperti di buku ini bukan kalau bukan warga setempat yang menulisnya. 
 

Deskripsi tentang DI/TII. Perbukitan di sana. Pekerjaan warga apa saja. Peran perempuannya bagaimana. Binatang peliharaannya apa. Transportasi umumnya ada gak. Dan sebagainya. Memang terlihat gak menarik, tapi relevan atau tidak menurutku pasti ada yang membuat pembaca dan cerita saling terhubung. Kurasa itu makanya saya tamatin bukunya. 


Kalo mau beli bukunya di IG penulis @iwan.yuswandi.

Membaca Gadis Minimarket

27/03/22

Beberapa hari lalu saya menamatkan novel berjudul Gadis Minimarket. Novel ini membuat saya bersyukur dengan diri saya sendiri yang gak mau mencampuri hidup orang lain. Mengapa? 


Novel Gadis Minimarket


Tokoh utama dalam novel ini namanya Keiko. Hingga usianya 36 tahun dia bekerja di minimarket. Ia tidak berpikir akan bekerja di tempat lain. Tidak mau sih, tepatnya. Keiko juga tidak kepikiran untuk berpacaran, menikah dan bahkan tidak juga ingin berkeluarga. 


Menurut orang-orang di sekelilingnya hal tersebut tidaklah normal. Keiko lalu mencoba hidup normal macam adik dan teman-temannya. Tapi jadinya aneh banget. Gimana ya, bayangin aja harus melakukan sesuatu yang gak kita inginkan itu bagaimana rasanya. 


Keiko bahkan melamar kerja di tempat lain, sementara di dalam hatinya ia sangat mencintai pekerjaannya sebagai kasir dan wiraniaga di minimarket. Namun kayaknya hidup yang normal itu hidup yang ada pencapaiannya kali yah, sehingga bekerja sebagai wiraniaga di usia 36 tahun terlihat menyedihkan bagi banyak orang. Sementara Keiko yang menjalaninya malah bahagia banget.


Dan pencapaian yang lumrah itu adalah menikah, punya anak, bekerja naik jabatan/status. Keiko tidak menghendaki itu semua dalam hidupnya. 


Novel ini tipis aja hanya 159 halaman. Keiko, menurut saya, karakternya cukup 'gering'. Absurd. Walo begitu keabsurdan dia ya untuk dia aja dan gak jadi masalah untuk orang lain. Hidupnya lempeng aja sampai dia harus menjalani kenormalan-kenormalan itu dan masalah bermunculan. 


Udah kebayang sih ini mah novel yang isinya protes penulis, Sayaka Murata, terhadap nilai hidup-normal seperti: bekerja di tempat yang layak (?), menikah, punya anak. 


Menarik novelnya. Bisa jadi kado buat orang-orang yang sibuk mencampuri hidup orang lain aja.


Saya beli novelnya di toko buku Togamas Supratman. 

Makan Siang di Kumari, Dalam Rangka

Pernah kan kamu juga mengalami hari-hari aneh. Hari itu saya ngalamin double attack: kesal dan sedih. Makanan, bagaimanapun juga, adalah pelarian dari masalah-masalah yang tidak bisa kita selesaikan langsung. Begitu ceritanya saya hinggap di Kumari yang dari luarnya saja terlihat mahal ini. Saya pikir saat itu gilaaaa saya kesel banget sekaligus pengen nangis! Okelah makan-makan mewah sekali aja gak apa-apa!

 

review kumari bake and brew bandung

 

Pergilah saya makan siang di Kumari Bake & Brew.

Kumari berada di markas besarnya anak-anak UNPAD. Di Jl Bagus Rangin. Ini tahun 2022, mungkin gak tepat lagi menyebut kawasan ini sebagai markasnya mereka. Secara kampus-kampus lain juga berada di episentrum kegaulan muda mudi bandung ini. Ada Unikom, belon lagi ITB. Namun entahlah saya ingatnya UNPAD mulu kalo masalah gaul-gaulan dan nongkrong-nongkrongan tuh! anak lama emang!

Kembali ke Kumari yang wow ternyata ramai pengunjung, bahkan itu bukan harinya akhir pekan. Saya memilih tempat duduk yang sering saya lihat di instagram. Oke ini dia, ini meja instagram!

 

Seorang wiraniaga cekatan menghampiri dan memandu saya memilih menu yang tersaji online. 

 

review kumari bake and brew bandung


Oke baik. Sat set sat set saya memilih dua menu makanan dan satu minuman. Di meja kasir saat hendak membayar, teteh kasir yang sangat manis dan nyeni itu berkata. Apakah dessertnya mau sekalian dihidangkan sekaligus dengan main coursenya?

Oke boleh, kubilang. Ia lanjut mengatakan kalo jam makan siang di Kumari selalu penuh. Beberapa menu bisa sold out di waktu tersebut jadi bagus juga kalo saya ngecup duluan. Gitu katanya.

Oke baik, kubilang. Wah tempat dengan menu-menu yang tidak murah begini banyak pembelinya? di hari kerja? mengapa lahan bisnis orang lain selalu terlihat lebih moncer di mataku ya.

Ini dia menu makanan saya yang semuanya cantik-cantik. Mantes sama harganya. Piring, gelas, plating, semuanya cakep dan impresif. 

 

Makan siang saya hari ini berdua dengan adik di Kumari. Udah lama mau makan di sini, kata temen sih harganya lumayan. Lumayan mahal. Jadi ya saya mikir dulu nih rada lamaan. Hehehe apa sih.


Spageti yang saya lupa nama lengkapnya
Strawberry Cheesecake
Berry Breeze yang kurang banyak

Selalu deh masalahnya di kafe-kafe ini minumnya dalam porsi kecil. Sementara rasa ingin minumku masih banyak. Kalo makanannya paslah porsinya. 


Anw, all is well alias enak semua di sini, paling gak menu yang saya pilh. Gak ada komplen. Semuanya oke. Bukan yang terbaik rasanya but oke.

Adik saya memesan dessert dan kopi. Katanya biasa aja makanannya bukan yang enak banget sih.

Sepadan harganya? iya. Oke. Ditotal-total habisnya sekitar 300+++

 

review kumari bake and brew bandung


Saya agaknya akan eksplor tempat makan lain di Bandung dan sulit kembali lagi ke Kumari. Bila saya makan lagi di Kumari itu karena saya ingin traktir ibu, sepertinya.

 

Walo begitu ini kafe yang menurut saya cocoknya buat yang muda-muda. Atau dewasa muda lah macam saya. Bangku yang saya duduki di sana tidak nyaman. Saya tidak menyukainya bangkunya, ibuku pun pasti sama. Namun adik saya mengatakan hal yang berbeda. Mungkin karena dia lebih muda? entahlah wkwk.


Oke baik. Cerita makan-makan yang ringkas dan agaknya tidak berguna ini saya sudahi dulu. Perasaan kesal dan sedih yang saya bahas di atas itu gak hilang, tapi ada perasaan membaik dan sedikit lega sehabis makan siang di Kumari. Makasih ya, Kumari!

Menyantap Sosis Merguez The Good Life di Dago

27/02/22

Udah saya rencanakan nih mau makan siang di Good Life. Jadi dari arah Ledeng saya tancap motor, sopir grab sih yang ngegas saya duduk aja diboncengnya, hehe. Dari bukit satu ke bukit lainnya, kira-kira itu penggambaran lokasi dari Ledeng ke Dago. 

 

The Good Life Bandung


Saya pesan dua menu makan siang di sini. Pertama: Beef merguez sausage and pesto sauce. Saya pernah satu kali makan di Good Life dan rasanya memang makanan mereka itu aneh. Bukan aneh jelek ya tapi aneh yang tidak biasa. Bukan rasa mecin maupun rasa asin yang umum. Rasanya tuh...hambar dan enak. Hahaha gimana coba hambar tapi enak. 


Rasanya clean, bersih gitu. Sosisnya homamade, mereka membuatnya sendiri. Daging sosisnya gak halus, masih ada gerinjel. Justru enak banget sensasi mengunyahnya bagai mengigit daging steak tapi kan bukan. 


Saosnya pesto parsley, segar nih saosnya! Lalu karbonya baby potato yang dipanggang/bakar. Saladnya ada potongan timun, salada, serutan kecombrang (?), dan kacang merah.


The Good Life Bandung


Menu kedua adalah pizza mushroom cajun. Ya betul saya santap semuanya sendirian. What? 


Hehehe. Pizzanya kayak pizza rumahan aja, tipis, crunchy, dan rasa jamur sedikit asam. Bukan asam basi ya tapi asam ala jamur kebayang gak. Bumbunya rempah-rempah. Rasanya seperti sedang santap pizza buatan teman di rumah teman yang sedang bereksperimen bikin pizza. 

 

Pokoknya mah makanan di sini beda rasanya dengan yang kita santap di rumah. Bukan bumbu yang umum kita pake juga di rumah. Gak ada yang begini di Bandung selain di The Good Life kayaknya. Kafe lain ada kali tapi gimana tangan chefnya kan. Kalo ibu saya bilang, makanan yang rasanya seperti ini adalah makanan menak. Hehe.


Ohiya minuman yang saya pilih adalah es lemon kecombrang yang gila enak banget pengen beli versi satu liter! 

 

The Good Life Bandung
 

Makanan enak dan bersih, suasana sejuk dan dingin. Udahlah Bukit Dago Pakar juara buat suasana sejuknya Bandung. 


Sori saya lupa harga masing-masing menunya, bila ditotal sekitar 120-140K. Cocok ajak pasangan ke sini bedua aja ngobrol ngalor ngidul, tapi bawa jaket ya soalnya dingin. Hehe.


The Good Life (ig @thegoodlife_bdg)

Dago Pakar dekat banget sama Dago Tea House (googlemap aja tulis nama tempatnya)

Buka hari selasa-minggu

10.00-20.00