Social Media

Image Slider

Membaca Rapijali

06/01/22

Nyampe juga ke seri terakhirnya Rapijali. Wah gak sangka bisa baca novelnya Dewi Lestari 3x di tahun yang sama. Hehe.

Udah saya tamatin nih buku terakhir dari trilogi Rapijali. Buku ini terdiri dari 745 halaman. Edan tebel pisan beda tipis sama novel Musashi.  



Dalam Rapijali kutemukan bahwa Buto dan Inggil adalah dua karakter komedi paling seru. Saya suka keduanya. Plot yang bertumpuk dan konflik yang terasa berat jadi agak ringan karena Inggil.

Ada juga yang namanya Sobariansyah, walo muncul sebentar tapi berkesan. Memang Dewi Lestari itu lihai banget menambah karakter baru yang numpang lewat dan mudah diingat.

Interaksi berbahasa sunda antara Ping dan Oding juga selalu saya tunggu-tunggu dalam Rapijali. Sebab lucu amaaat ya ampun! Beungeut Khong Guan itu loh disebut-sebut dalam novelnya.

Biasanya juga dalam novelnya Dewi Lestari pasti ada tempat yang jadi latar cerita. Gak cuma kampung, tapi juga kota. Di Rapijali ke-3 ini gak kerasa mendalam latarnya. Ada Jakarta, Lombok dan Sungai Kampar tapi yah selewat aja. Batu Karas Pangandaran udah puguh dari seri pertama juga ada.

Yah begitulah. Kalo pernah baca Perahu Kertas nah mirip begitu konflik ceritanya novel Rapijali. Saya lebih menyukai Aroma Karsa dan Supernova. Walo demikian semua seri Rapijali saya baca dan terhibur karenanya meski kupikir membuat trilogi dengan dasar cerita Ping dan Rakai agaknya berlebihan.

Tapi tolong ini bukan berarti saya tidak menyukai Rapijali. Gitu aja. Salam Kuah Lodeh! 😌

 

Tamasya Tiga Jam di Piknik Kopi Lembang

05/01/22

Saya dan keluarga jalan-jalan ke Lembang hari minggu. Pukul enam pagi udah pergi. Sarapan sate kelinci dulu di Tahu Tauhid. Naga-naga di perut rada kalem barulah lepas landas ke Piknik Kopi Lembang. 

 



Sebelum kamu bertanya pada saya “Lembangya di mana, Teh?” coba dibuka hapenya dan cek sendiri di google map. Hehe.

Di sana kami hadir sebagai pengunjung pertama. Dipinjamkan tikar. Dibolehkan pakai bantalduduk. Dipasangkan hammock. Sekeliling kami padang rumput dan pepohonan. Ah damai sekali rasanya. Mengingat itu Lembang di hari minggu dan kami berada di sana tanpa kena macet dan tidak berebut tempat.

Hasilnya: tiga jam leyeh-leyeh. Pesan kopi, makan pisang goreng. Tamasya ditutup dengan menyantap ayam asap yang ibuku bilang pedagang ayam asapnya ganteng. Haha. Terus kami lihat kan ah iya betul ganteng amat!

Di antara kegiatan memamah itu kami tentu saja ngobrolin hal-hal yang kelewat selama kami menjalani hidup masing-masing.

Digitalisasi Aksara Nusantara oleh Merajut Indonesia

04/01/22

Dahulu di bangku sekolah kita pernah belajar aksara nusantara, benar tidak? Sewaktu SMP saya memperoleh pelajaran aksara jawa. Hanya satu caturwulan dan proses belajarnya juga tidak intens.

 

Sayang pembelajaran aksara ini hanya formalitas kurikulum pendidikan saja. Pada akhirnya tentu saya lupa bagaimana menulis dan membaca dalam aksara jawa. Dalam keseharian pun kita tidak menggunakan aksara tersebut. Demikianlah budaya lokal tenggelam dalam hidup kita sehari-hari. Kamu juga mungkin mengalami hal yang sama denganku.

 

Bila diperhatikan, upaya digitalisasi aksara nusantara bukanlah hal yang baru. Meski segelintir saja orang yang mau mengusahakannya, tekad untuk menerapkan aksara nusantara ke berbagai perangkat gawai masih terus dilakukan.

 

Nah baru saja beberapa hari lalu saya menyaksikan instagram live dari sebuah akun bernama @merajut_indonesia. Judul IG livenya adalah Perjalanan Digitalisasi Aksara Nusantara dengan dua narasumber: Ratih Ayu (Divisi Pengembangan Usaha dan Kerja Sama PANDI) dan Ilham Nurwansyah (pegiat Aksara Digital).  


Karena IG live tersebut pula saya mengetuk web di tautan di bio @merajut_indonesia.  


Merajut Indonesia menampilkan upaya digitalisasi aksara nusantara sejak tahun 2020 yang dibentuk oleh PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia). Program digitalisasi tersebut disingkat menjadi MIMDAN (Merajut Indonesia Digitalisasi Aksara Nusantara).



Dipikir-pikir yah kapan sih kita gak pake smartphone dan laptop? Smartphone saja kita gunakan tiap hari.

 

Perangkat elektronik sudah jadi bagian hidup kita sehari-hari. Maka sudah saatnya (atau harusnya dari dulu :D) aksara nusantara mudah digunakan di platform smartphone dan windows, paling tidak . Bayangkan mengetik status di media sosial dengan aksara nusantara. Hehe.

  

 

MERAJUT INDONESIA - DIGITALISASI AKSARA NUSANTARA

 

Program Merajut Indonesia melalui digitalisasi aksara nusantara (MIMDAN) bersentuhan dengan hal-hal yang sifatnya digital. Misalnya: aplikasi web, aplikasi smartphone, basis data, pengarsipan digital, dan semacamnya.

 

Oleh karena itu kegiatan yang MIMDAN terus menerus lakukan adalah pengumpulan referensi aksara nusantara, pembuatan dan pengumpulan font, standarisasi aksara, pendaftaran aksara ke UNICODE, implementasi aksara dalam berbagai perangkat elektronik, dan masih banyak lagi.

 

Jadi digitalisasi aksara nusantara ini tujuannya gak hanya memindahkan font manual ke bentuk elektronik, tapi tujuan panjangnya justru lebih penting. Salah satu tujuannya adalah mengalihaksarakan sumber literasi aksara nusantara ke bahasa latin.

 

Contoh nih mau scan buku lebih mudah, kebayang gak ilmu pengetahuan dan pencatatan sejarah yang ada di kitab-kitab lama. Dengan bantuan digitalisasi aksara nusantara, proses pengalihaksara tersebut dapat dilakukan dengan efisien. Pengembangan ilmu pengetahuan bisa mengakar ke berbagai bidang.

 

Jadi nantinya aksara nusantara relevan dengan masa kini dan menjadi rujukan untuk digunakan peneliti dan akademisi.

 

Lebih dari itu, MIMDAN berupaya agar penggunaan aksara nusantara menjadi lebih popular. Dengan demikian usaha pelestarian budaya gak hanya sekadar jargon dan wacana.

 

 

Pengajuan Standarisasi Aksara Nusantara oleh PANDI – PENGELOLA NAMA DOMAIN INTERNET INDONESIA

 

PANDI adalah organisasi yang menginisasi pengawalan proses digitalisasi aksara nusantara ini. Prosesnya cukup Panjang, seperti mengajukan SNI (standar Nasional Indonesia) aksara nusantara kepada BSN (Badan Standarisasi Nasional). Nantianya standar tersebut menjadi acuan bagi produsen papan ketik komputer dan pengembang font.

 

Pengumpulan datanya juga tidak mudah. PANDI melalui program Merajut Indonesia (MIMDAN) bekerjasama dengan pemerintah lokal, pegiat budaya, akademisi, dan komunitas. Salah satu upayanya melalui kolaborasi seperti Kongres Aksara Jawa, Sunda, dan Bali. Hasil kongresnya menjadi bahan catatan dalam proposal yang diajukan ke Badan Standarisasi Nasional.

 

Ratih Ayu yang juga merupakan tim konsep Merajut Indonesia menjelaskan bahwa saat ini kegiatan digitalisasi aksara nusantara oleh PANDI juga didukung UNESCO. “BSN dan Unesco sudah setahun ini mendukung program Merajut Indonesia dengan memberikan speech di setiap program yang berjalan,” ujarnya.




Saat ini ada tujuh aksara nusantara yang bias diakses melalui platform digital:

Aksara Jawa

Aksara Sunda

Aksara Bali

Aksara Batak

Aksara Bugis

Aksara Rejang

Aksara Makassar

 

Tujuan standarisasi ini untuk menyeragamkan bentuk di berbagai platform digital. Ilham Nurwansyah selaku peneliti naskah kuno dan pengajar filolog di UIN Jakarta mengatakan bahwa aksara jawa, sunda, dan bali sudah dapat diakses melalui android. “Namun masih ada beberapa kekeliruan dalam tata tulisnya,” kata Ilham. Menurutnya kaidah penulisan aksara dalam platform digital perlu dibuat standarisasi dari segi font (tampilan kombinasi posisi aksara, rasio ukuran aksara).

 

Karenanya langkah yang diambil untuk standarisasi proses tersebut juga termasuk penyusunan tata letak papan tombol.



Dalam proses berbulan-bulan dari satu rapat ke rapat lainnya, proses mediasi, pengajuan, dan sebagainya, saat ini terdapat Surat Penetapan SNI untuk digitalisasi aksara nusantara yang dikeluarkan pada 30 November 2021.

 

SNI no. 9047 :2021 Fon Aksara Nusantara ditetapkan di Jakarta tanggal 30 November 2021 oleh Kepala Badan Standarisasi Nasional Indonesia: Kukuh S Achmad

 

SNI no. 9048 :2021 Tata Letak Papan Tombol Aksara Nusantara ditetapkan di Jakarta tanggal 30 November 2021 oleh Kepala Badan Standarisasi Nasional Indonesia: Kukuh S Achmad

 

Upaya yang panjang dan berbelit. Kebayang bila mengerjakannya sendiri pasti kesusahan bukan main. Namun Merajut Indonesia melakukannya Bersama-sama, merangkul pemerintah hingga komunitas. Semoga nantinya gak hanya tujuh aksara lokal yang dapat diakses di perangkat digital.  

 

Negara seluas dan beragam suku seperti kita kebayang gak sih aksara nusantara ada berapa banyak, pasti lebih dari tujuh, dan tentu saja tidak sedikit.

 

Lebih banyak dan detail tentang digitalisasi aksara nusantara dapat dibaca di merajutindonesia.id.

Dari Nol

02/01/22

#30haribercerita

 

Saya berpartisipasi lagi dalam program #30haribercerita. Berhubung nih saya jarang banget menulis untuk blog, maka saya akan pergunakan momen berkomitmen saya pada 30 HBC untuk menulis ulang di blog.

Yah saking lamanya saya gak nulis. Selama pandemi saya jarang banget bepergian untuk jalan-jalan. Kebanyakan kerja melulu. Saya gak lagi review hotel, tempat makan, atau menulis cerita jalan-jalan. Asli sehari-hari saya hanya berisi Fish Express. Menemani kubil belajar. dan nonton di Netflix. Juga baca buku.

Sejujurnya saya juga mempertanyakan mau saya bawa ke mana arahnya @bandungdiary. Saya pingin jadi akun biasa aja, bukan akun ala-ala influencer. Dan rasanya saya sudah melakukannya. Apa sebaiknya saya ganti nama akunnya?

Dengan demikian saya cerita hal-hal yang saya kunjungi dalam keseharian aja buat akun instagram @bandungdiary. Bukan cerita yang fancy sebab begitu memang hidup saya. 


Namun untuk blog kupikir itu hal yang berbeda. Atau saya aja yang sebaiknya berhenti berpikir bahwa Bandung Diary seharusnya berisi rekomendasi wisata?

Ah yah kita lihat aja arahnya bagaimana seiring waktu berjalan. Fish Express membutuhkan saya lebih banyak ketimbang Bandung Diary rupanya.

Ciao.

Yuk Cari Camilan Sehat Untuk Otak!

17/06/21

Udah rahasia umum kalau makanan itu berpengaruh sama kesehatan otak kita. Kamu mungkin akan bosan jika makanannya itu-itu aja. Mungkin berbeda kalau kamu mencoba camilan sehat. Kalau memilih tempat  beli camilan sehat yang tepat, tidak saja kamu bisa mendapatkan camilan yang sehat, tetapi juga enak!

 

Gambar: ragam camilan sehat Nutify Indonesia, gonutify.com

 

5 Ide Sehat Camilan Sehat Untuk Otak

 

Ini loh, 5 ide camilan sehat untuk otak yang bisa kamu temukan di sekitarmu, dengan bahan dasar kacang-kacangan. Tentu saja akan lebih mudah diolah sesuai selera kamu.

 

Alasan mengapa kita perlu memasukkan beberapa kacang sehat ke dalam makanan kita adalah karena tubuh kita tidak menghasilkan banyak asam lemak dan satu-satunya cara adalah mendapatkannya melalui makanan kita, termasuk banyak asam lemak esensial. Mengganti kacang ke dalam makanan kamu juga berarti kamu mungkin akan makan lebih sedikit makanan tidak sehat seperti asam lemak jenuh.

 

1.   Walnut

 

Bagi para peneliti, walnut adalah kacang yang paling baik untuk kesehatan otak. Khususnya, karena alasan ini: walnut memiliki konsentrasi DHA yang sangat tinggi, sejenis asam lemak Omega-3.

 

Beberapa peneliti menyarankan bahwa DHA mungkin menjadi kunci untuk meningkatkan kinerja otak kamu dan mencegah penurunan kognitif yang berkaitan dengan usia. Peneliti juga menyarankan bahwa walnut dan minyak walnut juga dapat terus mengurangi stres.

 

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Nutrition, melaporkan  peserta yang mengonsumsi walnut dan minyak walnut tidak hanya mengurangi kadar LDL mereka, tetapi juga menunjukkan penurunan signifikan dalam tekanan darah saat istirahat dan, yang paling mengejutkan, dalam respons tekanan darah mereka terhadap stres.

 

2.   Almond & Hazelnut

 

Kacang almond dan Hazelnut mengandung konsentrasi tinggi vitamin E, itulah sebabnya para peneliti percaya bahwa asupan teratur berpotensi mengurangi penurunan kognitif. Satu studi melaporkan bahwa kadar vitamin E plasma yang tinggi berulang kali dikaitkan dengan kinerja kognitif yang lebih baik.

Studi ini juga menunjukkan bahwa karena sifat antioksidannya, kemampuan vitamin E untuk mencegah atau menunda penurunan kognitif telah diuji dalam uji klinis pada populasi yang menua dan pasien penyakit Alzheimer (AD).

 

3.   Kacang Tanah

 

Kacang tanah adalah kacang-kacangan dengan profil nutrisi yang sangat baik. Kacang tanah mengandung banyak lemak tak jenuh dan protein untuk menjaga tingkat energi seseorang sepanjang hari.

 

Kacang tanah juga menyediakan vitamin dan mineral penting untuk menjaga kesehatan otak, termasuk vitamin E dan resveratrol tingkat tinggi.

 

Resveratrol adalah antioksidan non-flavonoid alami yang ditemukan dalam Kacang tanah, Murbei, dan Rhubarb. Bukti dari artikel ulasan menunjukkan bahwa resveratrol dapat memiliki efek perlindungan, seperti membantu mencegah kanker , peradangan, dan penyakit saraf, termasuk Alzheimer dan Parkinson.

 

4.   Produk kedelai

 

Produk kedelai kaya akan kelompok antioksidan tertentu yang disebut polifenol. Polifenol dengan penurunan risiko demensia dan peningkatan kemampuan kognitif dalam proses penuaan reguler.

 

Produk kedelai mengandung polifenol yang disebut isoflavon, termasuk daidzein dan genistein. Bahan kimia ini bertindak sebagai antioksidan, memberikan berbagai manfaat kesehatan di seluruh tubuh.

 

5.   Biji Labu

Meskipun secara teknis bukan kacang, biji labu kaya akan antioksidan tetapi juga memiliki banyak magnesium (pembelajaran dan memori), zat besi (mencegah kabut otak dan gangguan kognitif), seng (penting untuk sinyal saraf dan mencegah penyakit neurodegeneratif ) dan tembaga. Juga terlibat dalam menjaga sinyal saraf yang tepat.

 

Selamat mencoba mengonsumsi kacang-kacangan!

 

Mulai dari sekarang kamu harus mengonsumsi kacang-kacangan, dan buktikan sendiri khasiatnya untuk kesehatan otakmu. Camilan sehat dari kacang-kacangan ini tentu saja sangat cocok untuk siapa saja, asalkan tidak ada alergi kacang. Selamat mencoba!


6 Wisata Instagramable di Solo yang Murah Meriah

15/12/20

Momen akhir tahun sudah di depan mata. Kamu sudah punya rencana ingin kemana? Merayakan akhir tahun tak selalu identik dengan kata mahal lho. Dengan perencanaan yang baik, kamu bisa nyaman dengan budget yang dimiliki. Dimulai dengan pemilihan destinasi wisata yang pas, Solo contohnya.

Kota di Jawa Tengah ini dikenal memiliki banyak destinasi wisata menarik yang bisa dikunjungi. Solo juga mudah dijangkau dengan bus dan travel yang harga tiketnya terjangkau. Reservasi tiket bus dan travel online rute Jakarta ke Solo untuk dapatkan berbagai diskon dan penawaran menarik yang bisa buat budget perjalanan lebih terjangkau.

Memiliki lanskap alam yang indah, Solo punya banyak destinasi wisata instagramable untuk hiasi feed Instagram kamu yang mungkin ‘mati suri’ belakangan ini karena pandemi.

Berikut ada 6 destinasi wisata instagramable di Solo yang murah meriah yang bisa kamu masukkan dalam itinerary perjalanan akhir tahun di Solo nantinya.

1. Keraton Solo

Hanya dengan membayar tiket masuk sebesar Rp10.000 kamu  sudah bisa mengunjungi Keraton Solo yang punya interior dan eksterior sangat megah ini. Selain berfoto di berbagai sudut cantik Keraton, kamu juga bisa sambil melihat berbagai barang peninggalan sejarah yang masih terjaga di Keraton ini.

 


2. Pasar Triwindu

Suka dengan foto berkonsep vintage? Main saja ke Pasar Triwindu yang jadi surganya barang antik dan unik. Berkunjung ke pasar ini akan membawa kamu serasa nostalgia ke masa lalu dengan lorong-lorong yang instagramable.

Tak hanya berfoto, kamu juga bisa belanja oleh-oleh barang unik di sini lho! Seperti patung kayu, wayang, peralatan rumah tangga, wayang dan masih banyak lainnya. Oh ya, masuk ke pasar ini gratis kok!

 

3. Kampung Batik Laweyan

Destinasi wisata Instagramable di Solo selanjutnya adalah Kampung Batik Laweyan yang punya banyak gang yang bagus untuk spot berfoto. Kamu juga bisa mengunjungi satu per satu toko atau showroom batik di kampung ini untuk melihat koleksi batik Solo yang beragam.

Selain berfoto dengan berbagai koleksi batik berbagai warna dan corak, jangan lupa bawa pulang satu atau beberapa sebagai oleh-oleh ya! Kamu juga bisa mengikuti pelatihan singkat membatik di sini lho! Oh ya, masuk ke kampung batik ini gratis ya.

 

 

4. Kampung Batik Kauman

Kampung batik yang satu ini juga jangan sampai terlewat untuk dikunjungi jika main ke Solo di momen akhir tahun ini ya. Pusat batik tertua di Kota Solo ini punya motif batik klasik sesuai dengan pakem keraton; berbeda dari batik Solo yang di Laweyan.

Disini kamu bisa menemukan batik klasik (batik tulis) dengan motif pakem, ada juga batik cap dan tulis yang jadi andalan kampung batik ini. Selain itu kamu bisa mengunjungi rumah industri batik dan belajar membatik langsung di sana. Seru kan?

 

5. Museum Batik Danar Hadi

Selain dua kampung batik di atas, kamu juga bisa mengunjungi museum batik Danar Hadi yang memadukan cagar budaya dan museum penuh koleksi batik yang menarik.

Dari luar museum ini terlihat punya gaya Eropa yang kental, namun begitu masuk kedalamnya, adat Jawa begitu kental terasa. Disini kamu bisa melihat berbagai koleksi batik sejak zaman penjajahan yang dipajang di berbagai sudut ruangan.

Oh ya, kamu bisa berfoto dengan batik-batik cantik yang dipajang di workshop ya. Kamu juga bisa membeli souvenir lucu yang bisa dijadikan oleh-oleh. Harga tiketnya? Hanya Rp35.000 untuk umum dan Rp15.000 untuk pelajar.

sumber foto: pariwisatasolo.surakarta.go.id

6. The Heritage Palace

Tempat yang dulunya pabrik gula yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda ini merupakan wisata penuh spot foto yang selalu ramai pengunjung.

Bangunannya yang megah dengan arsitektur khas Eropa selalu dijadikan latar berfoto pengunjungnya. Belum lagi wahana-wahana menarik yang ada di dalamnya; seperti Museum transportasi, Museum 3D trick Art, Omah Kwalik, Kid’s Town dan masih banyak lainnya.

Tiket masuk The Heritage Palace bervariasi mulai dari Rp25.000 hingga Rp65.000 untuk tiket terusan outdoor dan indoor.

Demikianlah wisata murah meriah di Solo yang juga punya banyak spot instagramable untuk update feed kamu. Jangan lupa segera pesan tiket bus atau travel ke Solo agar tak kehabisan tiket dan gagal berangkat ya. Selamat bepergian akhir tahun!

Membaca Aroma Karsa

22/11/20
Saya teh baca semua buku Dewi Lestari. Tapi baru satu yang saya resensi sekarang. Ke mana ajaaaa :D

Terbit: 2018
Judul: Aroma Karsa
Penulis: Dewi Lestari
Penerbit: Bentang
Halaman: 700
Genre: Fiksi 

Sejak halaman pertama, novel ini sudah menjerat saya gak karu-karuan. Tidak ada satupun halaman yang membosankan. Saya bergiliran baca novelnya dengan suami. Saya yang pertama sebab saya istri (emang kenapa kalo istri). Saya selesaikan novelnya dua hari. Suamiku tiga hari. 




Aroma Karsa adalah novel tentang Jati Wesi dan Raras Prayagung. Jati Wesi punya indra penciuman yang super tajam. Raras Prayagung punya obsesi pada Puspa Karsa dan ia pikir Jatilah yang bisa membawa Puspa Karsa padanya. 

Awalnya saya pikir Raras ini tokoh antagonis. Eeeeh gak tahunya garis batas antara antagonis dan protagonis di sini nih tipis amat. Oiya, Raras Prayagung adalah pemilik Kemara, perusahaan parfum nasional kelas internasional. 

Lantas hadir anaknya Raras, yaitu Tanaya Suma. Ia memiliki hidung tikus macam Jati. Suma dan Jati skill nyium-nyium aromanya agak beda. 

Kalau Jati tumbuh di Bantar Gebang yang spektrum aromanya luas dari buah, logam, sampai mayat manusia. Suma justru terbatas banget karena pengaruh obat yang ia konsumsi sejak kecil supaya gak muntah-muntah akibat mencium aroma. 

Kebayang gak? Jati gak bisa minum obat kayak Suma lha wong miskin bagaimana mungkin ke dokter. Hidup saja dengan ada. Karena itu penciuman Jati tumbuh bebas karena keterbatasan. 

Mereka bertiga dan satu tim berisi beberapa orang yang dikumpulkan Raras pergi ke Gunung Lawu untuk ekspedisi Puspa Karsa. Raras sebagai donatur dan pemprakarsa. Jati dan Suma sebagai alat pelacak. Ada juga satu kapten tentara untuk menjaga. Satu profesor arkeolog. Satu ahli taksonomi. 
 
Puspa Karsa apa? Wha baca sendiri novelnya. Panjang soalnya susah jelasinnya lagian nanti spoiler juga :D 

Kehidupan Jati dan TPA Bantar Gebang seru bacanya. Gimana Jati menghalau bau busuk dari kasurnya, gimana dia mengutarakan bau mayat yang ia temukan enam meter di bawah permukaan sampah, misalnya.

"Kalau mayat manusia, seperti ada bau buah-buahan. Mirip nanas. Atau, apel," (hal 40)

Ekspedisi di Lawu juga seru. Kejar-kejaran sama Kiongkong si kelabang raksasa. Terus ketemu penduduk dari desa di gunung yang tidak bisa dilihat mata manusia: Dwarapala. Siapa yang mati, siapa yang bertahan. Ketemu harimau. Jatuh dari tebing. Dimarahin kuncen Lawu. Hilang dua hari di Gunung Lawu nan angker, tapi si Jati merasa hanya pergi beberapa jam.

Walo ini novel fiksi, kuharap cerita itu nyata semua. Kalau mendaki gunung, saya mikir pasti ada penghuni gaib yang tinggal di sana. Setelah baca Aroma Karsa, senang juga apa yang saya bayangkan (kamu juga mungkin ya) tertulis dan jadi cerita yang meyakinkan begitu. Rinci pula. Dan kegaiban itu bukan tentang pocong loncat-loncat di luar tenda kita atau kuntilanak bergelantungan sambil ketawa. 

Baguslah ini novelnya. Paling cepat bisa dibaca tiga hari. Meskipun ada konten ilmu pengetahuan, tapi gak terasa berat dibaca. Ringan aja gaya bahasanya meski ada beberapa kosakata yang gak tahu apa artinya. Ada intrik keluarga. Romantisme Jati dan Suma yang hangat dan manis. Dan kemistisan Gunung Lawu yang mendebarkan, tentu saja. 

Plotnya maju terus dikit mundurnya dan apik gak bercela. Konfliknya seru amaaaatttt dengan akhir cerita yang mengejutkan. Naratornya orang ketiga. Latarnya Bekasi, Jakarta, dan Gunung Lawu. 

Kekurangan novelnya...apa yah. Gak ada. Palingan satu kalimat di halaman 607 agak ganggu sih. Jati dan Suma ternyata saudara sepersusuan. Kalau di agama saya mah yang sepersusuan gak boleh jadi pasangan kan. Yha tapi ini konteks ceritanya bukan tentang islam dan pada dasarnya Jati dan Suma, mereka itu...mereka bukan...maksudku...mereka adalah...yhaaa baca ajalah di novelnya :D 

Pesan moral dari novel baca aja sendiri. Paling bosen dan paling gak suka nulisin pesan moral tuh wkwkwkwk :D 

Saya kasih bintang cepuluuuuh buat Aroma Karsa ⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐



Membaca Kambing dan Hujan

03/11/20

Kayaknya saya ketemu satu buku terbaik tahun ini. Sebenarnya ini buku lama terbitan 2015. Namun baru kubaca bulan lalu. Dan saya membacanya ulang dan lagi dan ulang dan lagi. Sungguh pengalaman membaca yang menyenangkan. Saya jatuh cinta pada Mif. Hahaha maaf ya, Fauzia. 


Kambing Dan Hujan adalah novel yang ditulis Ikhwan Mahfud. Saya berkenalan dengan novelnya tahun kemarin, di acaranya Bandung Readers Festival program Taaruf Buku. Terus kupikir, wah menarik juga novelnya. Lantas saya baca dan YA MENARIK AMAT INI NOVELNYA REKOMENDID TOLONG PADA BELI DAN BACA JUGA YA! 




Ceritanya tentang upaya dua anak muda mudi NU dan Muhammadiyah, Mif dan Fauzia, mewujudkan pernikahan mereka. Bapak dari Mif adalah tokoh kaum pembaharu (Muhammadiyah). Fauzia nih bapaknya penganut islam tradisi (NU). Keduanya dari desa yang sama. 


Hayo lho bayangin kamu berasal dari jantung yang sama tapi kulit berbeda. Terus mau nikah. Restu orang tua turun gak nih? Terus islamnya ngikut siapa ntar, kaum pembaharu atau islam tradisional? Satu agamanya, banyak genrenya 😜 


Novelnya ringan aja, membumi kalimatnya sehingga mudah dicerna. Plot maju mundur dengan narator yang berganti-ganti. Saya menyukai perjalanan alur ceritanya (meski toh saya bisa tebak akhirnya bagaimana): santai dan logis. 


Sepanjang membaca novelnya, saya senyum-senyum, sedikit sedih, ada perihnya, tertawa, dan senyum lagi. Senyum lha wong almarhum ayah saya pemuda Muhammadiyah. Hahaha. Alhamdulillah ayahku gak fanatik macam Pak Suyudi. Satu-satunya 'kefanatikan' yang ia tanam di rumah adalah anak perempuannya harus pake jilbab. Wajib gak ada nego. Bila kamu membaca kalimat tadi dan ingin mendebatku soal berjilbab, please gak usah. Sebab saya gak bisa debat balik heu..heu..heu..


Kalo baca judul, ini novel gak ada islam-islamnya. Pas dibaca pun, kisahnya bukan tentang agama juga. Justru indonesia banget sih ceritanya. Ada asal usul kampungnya Mif dan Fauzia, gimana kaum pembaharu masuk kampungnya, kerumitan era PKI, sampai tradisi keluarga Desa Centong. 


Tentang adat tradisi nih seru deh bacanya. Semisal mengapa di Centong gak ada kebiasaan makan bersama. Makan di rumah ya masing-masing aja. Mau bareng ayo, mau sendiri ya gak apa. "Yang penting ada yang dimakan dan yang belum makan mendapat bagian" (halaman 23). 


Saya highlight bagian tersebut karena saya mengalami gegar budaya di Bandung perihal makan bersama. Di kampung panturaku kami memang makan bersama. Namun kami gak saling tunggu. Siapa yang dahulu ada di meja makan, ya sudah dia yang makan. Kecuali ada bapak di rumah, barulah dia yang berhak makan pertama (atau bersama-sama). 


Di Bandung kutemui makan bersama adalah kewajiban. Bila ada salah seorang anggota keluarga yang belum hadir di meja makan padahal dia ada di rumah, itu orang akan dipanggil-panggil hingga wujudnya muncul. Kalo dia gak muncul, seisi rumah akan ngambek, pundung istilahnya. Orang sunda dan hal-hal yang segalanya harus terikat memang :P  


Balik lagi ke novel. 


Walo ada hawa 'pertentangan' NU dan Muhammadiyah di novelnya, tapi gak ada sudut pandang saling menjelekkan. Padahal mereka beda banget kan ya. Niat sholat, cara berdzikir, syariat pernikahan, sampai 1 syawal aja beda. 


Malahan Mahfud Ikhwan menurutku selera humornya bagus. Dalam novelnya, perbedaan-perbedaan antar umat yang agamanya sama itu kelihatan sedikit pedih, bikin gemas dan kesal, juga lucu. Seperti yang terjadi di halaman-halaman akhir (347). 


"Kalian singkirkan beduk dari masjid karena mengganggapnya bid'ah, lalu membawa masuk pengeras suara dan menyebutnya sebagai kemajuan. Konyol" kata Pak Fauzan dari islam tradisional, NU. 


"Kalau rukyat lebih utama, kenapa kalian lihat jam kalau mau shalat lima waktu? itu hasil hisab, tahu? lucu" sanggah Pak Kandar si figurnya Muhammadiyah di Centong. 


Terus gimana caranya Mif dan Fauzia ngakurin bapak-bapaknya itu? Lantas kalo kita gak ngerti-ngerti amat NU dan Muhammadiyah, apa masih bisa menikmati novel dengan latar agama Islam ini? 


Seriusan menurut saya ini salah satu novel bagus yang pernah saya baca. Teks-teks miring yang rada banyak jatahnya dalam novel rada ganggu, mana ejaan lama pun. Pusing bacanya. Namun butuh juga sih teksnya diketik miring sebagai penanda surat-suratan. 


Satu hal lagi yang membuatku bingung adalah penamaan karakter yang berubah-ubah. Misalnya Mat - Moek - Pak Fauzan. Orangnya sama, namanya berbeda-beda. Gak apa-apa, maklum sebenarnya. Cuma bacanya halamannya jadi bolak-balik aja buat mastiin apakah Kandar = Is, misalnya. 

 

Nah begitulah. REKOMENDID NOVELNYA NIH! AYO BELI & BACA BUKUNYA. Novel Mahfud Ikhwan yang lain mungkin menarik juga ya? *cek gramedia online, cek toko akal buku, cek toko buku berdikari*


ps: Atik, makasih pinjaman novel Kambing dan Hujan-nya. Wkwk

Membaca Parade Hantu Siang Bolong

31/10/20

Judul dan kovernya bagus amat ya. Senang sekali membeli buku rasanya kayak dapat bonus 'artwork' yang cakep begini. ⁣Seolah-olah ini buku fiksi, novel gitu. Ternyata bukan. 


Isi bukunya kumpulan reportase jurnalistik, temanya mitos dan lokalitas. Ditulis oleh Titah AW. Diterbitkan Warning Books. Saya beli di @bukuakik (tokopedia, ada juga di instagram). 

Salah satu yang diceritakan Titah dalam bukunya adalah desa penghasil Ciu di Bekonang. Saya kan muslim. Makan babi haram, minum alkohol dosa. Namun keduanya saya ingin coba. Semacam hasrat terpendam. Dalam doa kusebutkan: Tuhan, izinkan saya masuk surga, saya mau makan babi panggang dan minum bir dingin. ⁣

Maka gak heran saat kubaca reportase tentang Ciu, saya langsung browsing desanya di google dan youtube. Entahlah buat apa, refleks aja sepertinya. 

Saya juga menyukai reportase Golek Garwo. Ajang cari jodoh di Yogyakarta. Wow saya gak bisa bayangkan 'berburu' jodoh bisa tatap muka terang-terangan begitu. Di tengah tawaran bertopeng ala media sosial & tinder, butuh keberanian buat bilang di atas panggung, di depan banyak orang: "nama saya Septi, single, usia 30 tahun. Rumah di Maguwo. Saya mencari calon suami yang umurnya antara 30-35 tahun, punya pekerjaan, tidak merokok, dan harus punya jiwa seni."


Semua tulisan Titah ini pernah dimuat di web Vice. Dalam bukunya tulisan Titah utuh, tidak ada revisi editor. Judulnya pun berbeda sedikit dengan yang tayang di Vice. Saya lebih menyukai judul tulisan dalam buku Parade Hantu Siang Bolong.

Buku ini -dalam episode tahun 2020 hidup bersama covid-19 dan netflix- termasuk kategori dapat dibaca sekali duduk. Pheeew...udah lama rasanya gak pernah menamatkan buku dalam waktu semalam. Begitu tamat bacanya malah bingung, yah kok udahan. Kalo kata Atik temanku, lagi asyik terbang eh disuruh balik menapak. 

Seriusan, beli bukunya. Rekomendid. ⁣

Membaca Chairil

01/10/20

Ini biografi ke-2 Chairil Anwar yang saya baca. Buku ini memanglah tebal, 300 halaman lebih, gak heran ceritanya lebih rinci. Terbayang rasanya riset dan wawancara yang dilakukan penulis, Hasan Aspahani. Bukunya terbit tahun 2016. 




Seperti halnya buku biografi, ceritanya dimulai sejak Chairil kecil. Namun yang berbeda, ini buku citarasanya novel. Tiap bab mengemukakan perjalanan hidup Chairil, tentu saja lengkap dengan asal muasal puisi-puisinya. 


Saya nih serasa jalan-jalan ngikutin hidupnya Chairil. Dari Medan ke Jakarta, lalu ke Yogyakarta. Seru kali ya kalo ada tur napak tilas Chairil. Agak susah kalau harus berpindah kota. Di Jakarta saja bagaimana, dari buku ini saya baca banyak sekali jejaknya di ibukota. 


Waktu saya ke Malang, di sana ada patung Chairil. Tidak saya ketahui mengapa patung penyair ini berada di sana. Sebab di buku tidak ada satupun cerita yang menyebutkan Chairil pernah ke Malang. 


Saya membaca buku catatan perjalanan Sigit Susanto, Menyusuri Lorong-Lorong Dunia. Terus dalam bukunya ia cerita beberapa kali ikut tur sastrawan. Salah satunya James Joyce di Dublin. Kupikir Jakarta bisa juga melakukan hal yang sama dengan Chairil Anwar. Rumah pertama Chairil, Balai Pustaka, rumahnya Sjahrir (yang ternyata pamannya Chairil), sampai dengan rumah sakit Chairil dirawat kan bisa dibuat rutenya. 


Saya merangkum sedikit cerita dari novel biografi ini. 


1. Chairil Anwar otaknya cemerlang. Brilian. Kutu buku. Polyglot. 


2. Terbiasa hidup berkecukupan. Anak tunggal, gak pernah minder dengan status pribumi. 


3. Merantau ke Jakarta dari Medan. Sangat dekat dengan ibunya. 


4. Royal


5. Finansial seret, Chairil mencoba cari uang sendiri. Gagal. Sepanjang hidupnya di perantauan, gak banyak uang. Gak mau kerja kantoran. 


6. Womanizer


7. Lieur orangnya. Bukan gila maksudnya. Unik aja gitu. Unik yang mengganggu. Tipikal orang yang kalo ada bikin kagum sekaligus geuleuh, kalo gak ada malah dicari-cari. 


8. Tangan kanan Sjahrir dalam kirim mengirim berita perjuangan. Semacam kurir informasi. 


Dalam buku disebutkan gini: 


Ada satu hal yang membuat Sjahrir bisa mengandalkan Chairil: daya ingatnya tinggi. Chairil adalah penghapal hebat. Ia tak perlu membawa kabar dalam bentuk tertulis, untuk menghindari kebocoran informasi. Karena kalaupun Chairil tertangkap dan digeledah, tak ada bukti tertulis yang bisa ditemukan. 


9. Suami yang menyebalkan, gak heran Hapsah menceraikannya. Suatu kali istrinya minta Chairil cari uang buat kebutuhan di rumah. Ia sarankan Chairil kirim sajaknya, kan lumayan honor tiga puisi buat uang makan sebulan. Begitu maksud Hapsah.


Terus, Chairil bilang gini pada istrinya: 

"saya tidak dapat dipaksa mengarang untuk cari duit. Jadi janganlah dipaksa saya untuk mencari duit dengan jalan membuat sajak-sajak itu".


Hmmmhhhh...


10. Chairil sayaaaaaaang banget sama anaknya. Evawani Alissa. 


Usai bercerai, Chairil pernah 'menculik' Evawani. Namun Hapsah yang berhasil mendapatkan hak pengasuhan. Lantas Chairil berniat menikahi lagi Hapsah dan ingin membesarkan Eva. 


Sebelum wafatnya, Chairil banyak menerjemahkan puisi-puisi soal kematian. Salah satunya berbunyi: 

Dan jika untung malang menghamparkan

Aku dalam kuburan dangkal

Ingatlah sebisamu segala yang baik

Dan cintaku yang kekal.