Social Media

Image Slider

Dari Nol

02 January 2022

#30haribercerita

 

Saya berpartisipasi lagi dalam program #30haribercerita. Berhubung nih saya jarang banget menulis untuk blog, maka saya akan pergunakan momen berkomitmen saya pada 30 HBC untuk menulis ulang di blog.

Yah saking lamanya saya gak nulis. Selama pandemi saya jarang banget bepergian untuk jalan-jalan. Kebanyakan kerja melulu. Saya gak lagi review hotel, tempat makan, atau menulis cerita jalan-jalan. Asli sehari-hari saya hanya berisi Fish Express. Menemani kubil belajar. dan nonton di Netflix. Juga baca buku.

Sejujurnya saya juga mempertanyakan mau saya bawa ke mana arahnya @bandungdiary. Saya pingin jadi akun biasa aja, bukan akun ala-ala influencer. Dan rasanya saya sudah melakukannya. Apa sebaiknya saya ganti nama akunnya?

Dengan demikian saya cerita hal-hal yang saya kunjungi dalam keseharian aja buat akun instagram @bandungdiary. Bukan cerita yang fancy sebab begitu memang hidup saya. 


Namun untuk blog kupikir itu hal yang berbeda. Atau saya aja yang sebaiknya berhenti berpikir bahwa Bandung Diary seharusnya berisi rekomendasi wisata?

Ah yah kita lihat aja arahnya bagaimana seiring waktu berjalan. Fish Express membutuhkan saya lebih banyak ketimbang Bandung Diary rupanya.

Ciao.

Yuk Cari Camilan Sehat Untuk Otak!

17 June 2021

Udah rahasia umum kalau makanan itu berpengaruh sama kesehatan otak kita. Kamu mungkin akan bosan jika makanannya itu-itu aja. Mungkin berbeda kalau kamu mencoba camilan sehat. Kalau memilih tempat  beli camilan sehat yang tepat, tidak saja kamu bisa mendapatkan camilan yang sehat, tetapi juga enak!

 

Gambar: ragam camilan sehat Nutify Indonesia, gonutify.com

 

5 Ide Sehat Camilan Sehat Untuk Otak

 

Ini loh, 5 ide camilan sehat untuk otak yang bisa kamu temukan di sekitarmu, dengan bahan dasar kacang-kacangan. Tentu saja akan lebih mudah diolah sesuai selera kamu.

 

Alasan mengapa kita perlu memasukkan beberapa kacang sehat ke dalam makanan kita adalah karena tubuh kita tidak menghasilkan banyak asam lemak dan satu-satunya cara adalah mendapatkannya melalui makanan kita, termasuk banyak asam lemak esensial. Mengganti kacang ke dalam makanan kamu juga berarti kamu mungkin akan makan lebih sedikit makanan tidak sehat seperti asam lemak jenuh.

 

1.   Walnut

 

Bagi para peneliti, walnut adalah kacang yang paling baik untuk kesehatan otak. Khususnya, karena alasan ini: walnut memiliki konsentrasi DHA yang sangat tinggi, sejenis asam lemak Omega-3.

 

Beberapa peneliti menyarankan bahwa DHA mungkin menjadi kunci untuk meningkatkan kinerja otak kamu dan mencegah penurunan kognitif yang berkaitan dengan usia. Peneliti juga menyarankan bahwa walnut dan minyak walnut juga dapat terus mengurangi stres.

 

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Nutrition, melaporkan  peserta yang mengonsumsi walnut dan minyak walnut tidak hanya mengurangi kadar LDL mereka, tetapi juga menunjukkan penurunan signifikan dalam tekanan darah saat istirahat dan, yang paling mengejutkan, dalam respons tekanan darah mereka terhadap stres.

 

2.   Almond & Hazelnut

 

Kacang almond dan Hazelnut mengandung konsentrasi tinggi vitamin E, itulah sebabnya para peneliti percaya bahwa asupan teratur berpotensi mengurangi penurunan kognitif. Satu studi melaporkan bahwa kadar vitamin E plasma yang tinggi berulang kali dikaitkan dengan kinerja kognitif yang lebih baik.

Studi ini juga menunjukkan bahwa karena sifat antioksidannya, kemampuan vitamin E untuk mencegah atau menunda penurunan kognitif telah diuji dalam uji klinis pada populasi yang menua dan pasien penyakit Alzheimer (AD).

 

3.   Kacang Tanah

 

Kacang tanah adalah kacang-kacangan dengan profil nutrisi yang sangat baik. Kacang tanah mengandung banyak lemak tak jenuh dan protein untuk menjaga tingkat energi seseorang sepanjang hari.

 

Kacang tanah juga menyediakan vitamin dan mineral penting untuk menjaga kesehatan otak, termasuk vitamin E dan resveratrol tingkat tinggi.

 

Resveratrol adalah antioksidan non-flavonoid alami yang ditemukan dalam Kacang tanah, Murbei, dan Rhubarb. Bukti dari artikel ulasan menunjukkan bahwa resveratrol dapat memiliki efek perlindungan, seperti membantu mencegah kanker , peradangan, dan penyakit saraf, termasuk Alzheimer dan Parkinson.

 

4.   Produk kedelai

 

Produk kedelai kaya akan kelompok antioksidan tertentu yang disebut polifenol. Polifenol dengan penurunan risiko demensia dan peningkatan kemampuan kognitif dalam proses penuaan reguler.

 

Produk kedelai mengandung polifenol yang disebut isoflavon, termasuk daidzein dan genistein. Bahan kimia ini bertindak sebagai antioksidan, memberikan berbagai manfaat kesehatan di seluruh tubuh.

 

5.   Biji Labu

Meskipun secara teknis bukan kacang, biji labu kaya akan antioksidan tetapi juga memiliki banyak magnesium (pembelajaran dan memori), zat besi (mencegah kabut otak dan gangguan kognitif), seng (penting untuk sinyal saraf dan mencegah penyakit neurodegeneratif ) dan tembaga. Juga terlibat dalam menjaga sinyal saraf yang tepat.

 

Selamat mencoba mengonsumsi kacang-kacangan!

 

Mulai dari sekarang kamu harus mengonsumsi kacang-kacangan, dan buktikan sendiri khasiatnya untuk kesehatan otakmu. Camilan sehat dari kacang-kacangan ini tentu saja sangat cocok untuk siapa saja, asalkan tidak ada alergi kacang. Selamat mencoba!


6 Wisata Instagramable di Solo yang Murah Meriah

15 December 2020

Momen akhir tahun sudah di depan mata. Kamu sudah punya rencana ingin kemana? Merayakan akhir tahun tak selalu identik dengan kata mahal lho. Dengan perencanaan yang baik, kamu bisa nyaman dengan budget yang dimiliki. Dimulai dengan pemilihan destinasi wisata yang pas, Solo contohnya.

Kota di Jawa Tengah ini dikenal memiliki banyak destinasi wisata menarik yang bisa dikunjungi. Solo juga mudah dijangkau dengan bus dan travel yang harga tiketnya terjangkau. Reservasi tiket bus dan travel online rute Jakarta ke Solo untuk dapatkan berbagai diskon dan penawaran menarik yang bisa buat budget perjalanan lebih terjangkau.

Memiliki lanskap alam yang indah, Solo punya banyak destinasi wisata instagramable untuk hiasi feed Instagram kamu yang mungkin ‘mati suri’ belakangan ini karena pandemi.

Berikut ada 6 destinasi wisata instagramable di Solo yang murah meriah yang bisa kamu masukkan dalam itinerary perjalanan akhir tahun di Solo nantinya.

1. Keraton Solo

Hanya dengan membayar tiket masuk sebesar Rp10.000 kamu  sudah bisa mengunjungi Keraton Solo yang punya interior dan eksterior sangat megah ini. Selain berfoto di berbagai sudut cantik Keraton, kamu juga bisa sambil melihat berbagai barang peninggalan sejarah yang masih terjaga di Keraton ini.

 


2. Pasar Triwindu

Suka dengan foto berkonsep vintage? Main saja ke Pasar Triwindu yang jadi surganya barang antik dan unik. Berkunjung ke pasar ini akan membawa kamu serasa nostalgia ke masa lalu dengan lorong-lorong yang instagramable.

Tak hanya berfoto, kamu juga bisa belanja oleh-oleh barang unik di sini lho! Seperti patung kayu, wayang, peralatan rumah tangga, wayang dan masih banyak lainnya. Oh ya, masuk ke pasar ini gratis kok!

 

3. Kampung Batik Laweyan

Destinasi wisata Instagramable di Solo selanjutnya adalah Kampung Batik Laweyan yang punya banyak gang yang bagus untuk spot berfoto. Kamu juga bisa mengunjungi satu per satu toko atau showroom batik di kampung ini untuk melihat koleksi batik Solo yang beragam.

Selain berfoto dengan berbagai koleksi batik berbagai warna dan corak, jangan lupa bawa pulang satu atau beberapa sebagai oleh-oleh ya! Kamu juga bisa mengikuti pelatihan singkat membatik di sini lho! Oh ya, masuk ke kampung batik ini gratis ya.

 

 

4. Kampung Batik Kauman

Kampung batik yang satu ini juga jangan sampai terlewat untuk dikunjungi jika main ke Solo di momen akhir tahun ini ya. Pusat batik tertua di Kota Solo ini punya motif batik klasik sesuai dengan pakem keraton; berbeda dari batik Solo yang di Laweyan.

Disini kamu bisa menemukan batik klasik (batik tulis) dengan motif pakem, ada juga batik cap dan tulis yang jadi andalan kampung batik ini. Selain itu kamu bisa mengunjungi rumah industri batik dan belajar membatik langsung di sana. Seru kan?

 

5. Museum Batik Danar Hadi

Selain dua kampung batik di atas, kamu juga bisa mengunjungi museum batik Danar Hadi yang memadukan cagar budaya dan museum penuh koleksi batik yang menarik.

Dari luar museum ini terlihat punya gaya Eropa yang kental, namun begitu masuk kedalamnya, adat Jawa begitu kental terasa. Disini kamu bisa melihat berbagai koleksi batik sejak zaman penjajahan yang dipajang di berbagai sudut ruangan.

Oh ya, kamu bisa berfoto dengan batik-batik cantik yang dipajang di workshop ya. Kamu juga bisa membeli souvenir lucu yang bisa dijadikan oleh-oleh. Harga tiketnya? Hanya Rp35.000 untuk umum dan Rp15.000 untuk pelajar.

sumber foto: pariwisatasolo.surakarta.go.id

6. The Heritage Palace

Tempat yang dulunya pabrik gula yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda ini merupakan wisata penuh spot foto yang selalu ramai pengunjung.

Bangunannya yang megah dengan arsitektur khas Eropa selalu dijadikan latar berfoto pengunjungnya. Belum lagi wahana-wahana menarik yang ada di dalamnya; seperti Museum transportasi, Museum 3D trick Art, Omah Kwalik, Kid’s Town dan masih banyak lainnya.

Tiket masuk The Heritage Palace bervariasi mulai dari Rp25.000 hingga Rp65.000 untuk tiket terusan outdoor dan indoor.

Demikianlah wisata murah meriah di Solo yang juga punya banyak spot instagramable untuk update feed kamu. Jangan lupa segera pesan tiket bus atau travel ke Solo agar tak kehabisan tiket dan gagal berangkat ya. Selamat bepergian akhir tahun!

Membaca Aroma Karsa

22 November 2020
Saya teh baca semua buku Dewi Lestari. Tapi baru satu yang saya resensi sekarang. Ke mana ajaaaa :D

Terbit: 2018
Judul: Aroma Karsa
Penulis: Dewi Lestari
Penerbit: Bentang
Halaman: 700
Genre: Fiksi 

Sejak halaman pertama, novel ini sudah menjerat saya gak karu-karuan. Tidak ada satupun halaman yang membosankan. Saya bergiliran baca novelnya dengan suami. Saya yang pertama sebab saya istri (emang kenapa kalo istri). Saya selesaikan novelnya dua hari. Suamiku tiga hari. 




Aroma Karsa adalah novel tentang Jati Wesi dan Raras Prayagung. Jati Wesi punya indra penciuman yang super tajam. Raras Prayagung punya obsesi pada Puspa Karsa dan ia pikir Jatilah yang bisa membawa Puspa Karsa padanya. 

Awalnya saya pikir Raras ini tokoh antagonis. Eeeeh gak tahunya garis batas antara antagonis dan protagonis di sini nih tipis amat. Oiya, Raras Prayagung adalah pemilik Kemara, perusahaan parfum nasional kelas internasional. 

Lantas hadir anaknya Raras, yaitu Tanaya Suma. Ia memiliki hidung tikus macam Jati. Suma dan Jati skill nyium-nyium aromanya agak beda. 

Kalau Jati tumbuh di Bantar Gebang yang spektrum aromanya luas dari buah, logam, sampai mayat manusia. Suma justru terbatas banget karena pengaruh obat yang ia konsumsi sejak kecil supaya gak muntah-muntah akibat mencium aroma. 

Kebayang gak? Jati gak bisa minum obat kayak Suma lha wong miskin bagaimana mungkin ke dokter. Hidup saja dengan ada. Karena itu penciuman Jati tumbuh bebas karena keterbatasan. 

Mereka bertiga dan satu tim berisi beberapa orang yang dikumpulkan Raras pergi ke Gunung Lawu untuk ekspedisi Puspa Karsa. Raras sebagai donatur dan pemprakarsa. Jati dan Suma sebagai alat pelacak. Ada juga satu kapten tentara untuk menjaga. Satu profesor arkeolog. Satu ahli taksonomi. 
 
Puspa Karsa apa? Wha baca sendiri novelnya. Panjang soalnya susah jelasinnya lagian nanti spoiler juga :D 

Kehidupan Jati dan TPA Bantar Gebang seru bacanya. Gimana Jati menghalau bau busuk dari kasurnya, gimana dia mengutarakan bau mayat yang ia temukan enam meter di bawah permukaan sampah, misalnya.

"Kalau mayat manusia, seperti ada bau buah-buahan. Mirip nanas. Atau, apel," (hal 40)

Ekspedisi di Lawu juga seru. Kejar-kejaran sama Kiongkong si kelabang raksasa. Terus ketemu penduduk dari desa di gunung yang tidak bisa dilihat mata manusia: Dwarapala. Siapa yang mati, siapa yang bertahan. Ketemu harimau. Jatuh dari tebing. Dimarahin kuncen Lawu. Hilang dua hari di Gunung Lawu nan angker, tapi si Jati merasa hanya pergi beberapa jam.

Walo ini novel fiksi, kuharap cerita itu nyata semua. Kalau mendaki gunung, saya mikir pasti ada penghuni gaib yang tinggal di sana. Setelah baca Aroma Karsa, senang juga apa yang saya bayangkan (kamu juga mungkin ya) tertulis dan jadi cerita yang meyakinkan begitu. Rinci pula. Dan kegaiban itu bukan tentang pocong loncat-loncat di luar tenda kita atau kuntilanak bergelantungan sambil ketawa. 

Baguslah ini novelnya. Paling cepat bisa dibaca tiga hari. Meskipun ada konten ilmu pengetahuan, tapi gak terasa berat dibaca. Ringan aja gaya bahasanya meski ada beberapa kosakata yang gak tahu apa artinya. Ada intrik keluarga. Romantisme Jati dan Suma yang hangat dan manis. Dan kemistisan Gunung Lawu yang mendebarkan, tentu saja. 

Plotnya maju terus dikit mundurnya dan apik gak bercela. Konfliknya seru amaaaatttt dengan akhir cerita yang mengejutkan. Naratornya orang ketiga. Latarnya Bekasi, Jakarta, dan Gunung Lawu. 

Kekurangan novelnya...apa yah. Gak ada. Palingan satu kalimat di halaman 607 agak ganggu sih. Jati dan Suma ternyata saudara sepersusuan. Kalau di agama saya mah yang sepersusuan gak boleh jadi pasangan kan. Yha tapi ini konteks ceritanya bukan tentang islam dan pada dasarnya Jati dan Suma, mereka itu...mereka bukan...maksudku...mereka adalah...yhaaa baca ajalah di novelnya :D 

Pesan moral dari novel baca aja sendiri. Paling bosen dan paling gak suka nulisin pesan moral tuh wkwkwkwk :D 

Saya kasih bintang cepuluuuuh buat Aroma Karsa ⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐



Membaca Kambing dan Hujan

03 November 2020

Kayaknya saya ketemu satu buku terbaik tahun ini. Sebenarnya ini buku lama terbitan 2015. Namun baru kubaca bulan lalu. Dan saya membacanya ulang dan lagi dan ulang dan lagi. Sungguh pengalaman membaca yang menyenangkan. Saya jatuh cinta pada Mif. Hahaha maaf ya, Fauzia. 


Kambing Dan Hujan adalah novel yang ditulis Ikhwan Mahfud. Saya berkenalan dengan novelnya tahun kemarin, di acaranya Bandung Readers Festival program Taaruf Buku. Terus kupikir, wah menarik juga novelnya. Lantas saya baca dan YA MENARIK AMAT INI NOVELNYA REKOMENDID TOLONG PADA BELI DAN BACA JUGA YA! 




Ceritanya tentang upaya dua anak muda mudi NU dan Muhammadiyah, Mif dan Fauzia, mewujudkan pernikahan mereka. Bapak dari Mif adalah tokoh kaum pembaharu (Muhammadiyah). Fauzia nih bapaknya penganut islam tradisi (NU). Keduanya dari desa yang sama. 


Hayo lho bayangin kamu berasal dari jantung yang sama tapi kulit berbeda. Terus mau nikah. Restu orang tua turun gak nih? Terus islamnya ngikut siapa ntar, kaum pembaharu atau islam tradisional? Satu agamanya, banyak genrenya 😜 


Novelnya ringan aja, membumi kalimatnya sehingga mudah dicerna. Plot maju mundur dengan narator yang berganti-ganti. Saya menyukai perjalanan alur ceritanya (meski toh saya bisa tebak akhirnya bagaimana): santai dan logis. 


Sepanjang membaca novelnya, saya senyum-senyum, sedikit sedih, ada perihnya, tertawa, dan senyum lagi. Senyum lha wong almarhum ayah saya pemuda Muhammadiyah. Hahaha. Alhamdulillah ayahku gak fanatik macam Pak Suyudi. Satu-satunya 'kefanatikan' yang ia tanam di rumah adalah anak perempuannya harus pake jilbab. Wajib gak ada nego. Bila kamu membaca kalimat tadi dan ingin mendebatku soal berjilbab, please gak usah. Sebab saya gak bisa debat balik heu..heu..heu..


Kalo baca judul, ini novel gak ada islam-islamnya. Pas dibaca pun, kisahnya bukan tentang agama juga. Justru indonesia banget sih ceritanya. Ada asal usul kampungnya Mif dan Fauzia, gimana kaum pembaharu masuk kampungnya, kerumitan era PKI, sampai tradisi keluarga Desa Centong. 


Tentang adat tradisi nih seru deh bacanya. Semisal mengapa di Centong gak ada kebiasaan makan bersama. Makan di rumah ya masing-masing aja. Mau bareng ayo, mau sendiri ya gak apa. "Yang penting ada yang dimakan dan yang belum makan mendapat bagian" (halaman 23). 


Saya highlight bagian tersebut karena saya mengalami gegar budaya di Bandung perihal makan bersama. Di kampung panturaku kami memang makan bersama. Namun kami gak saling tunggu. Siapa yang dahulu ada di meja makan, ya sudah dia yang makan. Kecuali ada bapak di rumah, barulah dia yang berhak makan pertama (atau bersama-sama). 


Di Bandung kutemui makan bersama adalah kewajiban. Bila ada salah seorang anggota keluarga yang belum hadir di meja makan padahal dia ada di rumah, itu orang akan dipanggil-panggil hingga wujudnya muncul. Kalo dia gak muncul, seisi rumah akan ngambek, pundung istilahnya. Orang sunda dan hal-hal yang segalanya harus terikat memang :P  


Balik lagi ke novel. 


Walo ada hawa 'pertentangan' NU dan Muhammadiyah di novelnya, tapi gak ada sudut pandang saling menjelekkan. Padahal mereka beda banget kan ya. Niat sholat, cara berdzikir, syariat pernikahan, sampai 1 syawal aja beda. 


Malahan Mahfud Ikhwan menurutku selera humornya bagus. Dalam novelnya, perbedaan-perbedaan antar umat yang agamanya sama itu kelihatan sedikit pedih, bikin gemas dan kesal, juga lucu. Seperti yang terjadi di halaman-halaman akhir (347). 


"Kalian singkirkan beduk dari masjid karena mengganggapnya bid'ah, lalu membawa masuk pengeras suara dan menyebutnya sebagai kemajuan. Konyol" kata Pak Fauzan dari islam tradisional, NU. 


"Kalau rukyat lebih utama, kenapa kalian lihat jam kalau mau shalat lima waktu? itu hasil hisab, tahu? lucu" sanggah Pak Kandar si figurnya Muhammadiyah di Centong. 


Terus gimana caranya Mif dan Fauzia ngakurin bapak-bapaknya itu? Lantas kalo kita gak ngerti-ngerti amat NU dan Muhammadiyah, apa masih bisa menikmati novel dengan latar agama Islam ini? 


Seriusan menurut saya ini salah satu novel bagus yang pernah saya baca. Teks-teks miring yang rada banyak jatahnya dalam novel rada ganggu, mana ejaan lama pun. Pusing bacanya. Namun butuh juga sih teksnya diketik miring sebagai penanda surat-suratan. 


Satu hal lagi yang membuatku bingung adalah penamaan karakter yang berubah-ubah. Misalnya Mat - Moek - Pak Fauzan. Orangnya sama, namanya berbeda-beda. Gak apa-apa, maklum sebenarnya. Cuma bacanya halamannya jadi bolak-balik aja buat mastiin apakah Kandar = Is, misalnya. 

 

Nah begitulah. REKOMENDID NOVELNYA NIH! AYO BELI & BACA BUKUNYA. Novel Mahfud Ikhwan yang lain mungkin menarik juga ya? *cek gramedia online, cek toko akal buku, cek toko buku berdikari*


ps: Atik, makasih pinjaman novel Kambing dan Hujan-nya. Wkwk

Membaca Parade Hantu Siang Bolong

31 October 2020

Judul dan kovernya bagus amat ya. Senang sekali membeli buku rasanya kayak dapat bonus 'artwork' yang cakep begini. ⁣Seolah-olah ini buku fiksi, novel gitu. Ternyata bukan. 


Isi bukunya kumpulan reportase jurnalistik, temanya mitos dan lokalitas. Ditulis oleh Titah AW. Diterbitkan Warning Books. Saya beli di @bukuakik (tokopedia, ada juga di instagram). 

Salah satu yang diceritakan Titah dalam bukunya adalah desa penghasil Ciu di Bekonang. Saya kan muslim. Makan babi haram, minum alkohol dosa. Namun keduanya saya ingin coba. Semacam hasrat terpendam. Dalam doa kusebutkan: Tuhan, izinkan saya masuk surga, saya mau makan babi panggang dan minum bir dingin. ⁣

Maka gak heran saat kubaca reportase tentang Ciu, saya langsung browsing desanya di google dan youtube. Entahlah buat apa, refleks aja sepertinya. 

Saya juga menyukai reportase Golek Garwo. Ajang cari jodoh di Yogyakarta. Wow saya gak bisa bayangkan 'berburu' jodoh bisa tatap muka terang-terangan begitu. Di tengah tawaran bertopeng ala media sosial & tinder, butuh keberanian buat bilang di atas panggung, di depan banyak orang: "nama saya Septi, single, usia 30 tahun. Rumah di Maguwo. Saya mencari calon suami yang umurnya antara 30-35 tahun, punya pekerjaan, tidak merokok, dan harus punya jiwa seni."


Semua tulisan Titah ini pernah dimuat di web Vice. Dalam bukunya tulisan Titah utuh, tidak ada revisi editor. Judulnya pun berbeda sedikit dengan yang tayang di Vice. Saya lebih menyukai judul tulisan dalam buku Parade Hantu Siang Bolong.

Buku ini -dalam episode tahun 2020 hidup bersama covid-19 dan netflix- termasuk kategori dapat dibaca sekali duduk. Pheeew...udah lama rasanya gak pernah menamatkan buku dalam waktu semalam. Begitu tamat bacanya malah bingung, yah kok udahan. Kalo kata Atik temanku, lagi asyik terbang eh disuruh balik menapak. 

Seriusan, beli bukunya. Rekomendid. ⁣

Membaca Chairil

01 October 2020

Ini biografi ke-2 Chairil Anwar yang saya baca. Buku ini memanglah tebal, 300 halaman lebih, gak heran ceritanya lebih rinci. Terbayang rasanya riset dan wawancara yang dilakukan penulis, Hasan Aspahani. Bukunya terbit tahun 2016. 




Seperti halnya buku biografi, ceritanya dimulai sejak Chairil kecil. Namun yang berbeda, ini buku citarasanya novel. Tiap bab mengemukakan perjalanan hidup Chairil, tentu saja lengkap dengan asal muasal puisi-puisinya. 


Saya nih serasa jalan-jalan ngikutin hidupnya Chairil. Dari Medan ke Jakarta, lalu ke Yogyakarta. Seru kali ya kalo ada tur napak tilas Chairil. Agak susah kalau harus berpindah kota. Di Jakarta saja bagaimana, dari buku ini saya baca banyak sekali jejaknya di ibukota. 


Waktu saya ke Malang, di sana ada patung Chairil. Tidak saya ketahui mengapa patung penyair ini berada di sana. Sebab di buku tidak ada satupun cerita yang menyebutkan Chairil pernah ke Malang. 


Saya membaca buku catatan perjalanan Sigit Susanto, Menyusuri Lorong-Lorong Dunia. Terus dalam bukunya ia cerita beberapa kali ikut tur sastrawan. Salah satunya James Joyce di Dublin. Kupikir Jakarta bisa juga melakukan hal yang sama dengan Chairil Anwar. Rumah pertama Chairil, Balai Pustaka, rumahnya Sjahrir (yang ternyata pamannya Chairil), sampai dengan rumah sakit Chairil dirawat kan bisa dibuat rutenya. 


Saya merangkum sedikit cerita dari novel biografi ini. 


1. Chairil Anwar otaknya cemerlang. Brilian. Kutu buku. Polyglot. 


2. Terbiasa hidup berkecukupan. Anak tunggal, gak pernah minder dengan status pribumi. 


3. Merantau ke Jakarta dari Medan. Sangat dekat dengan ibunya. 


4. Royal


5. Finansial seret, Chairil mencoba cari uang sendiri. Gagal. Sepanjang hidupnya di perantauan, gak banyak uang. Gak mau kerja kantoran. 


6. Womanizer


7. Lieur orangnya. Bukan gila maksudnya. Unik aja gitu. Unik yang mengganggu. Tipikal orang yang kalo ada bikin kagum sekaligus geuleuh, kalo gak ada malah dicari-cari. 


8. Tangan kanan Sjahrir dalam kirim mengirim berita perjuangan. Semacam kurir informasi. 


Dalam buku disebutkan gini: 


Ada satu hal yang membuat Sjahrir bisa mengandalkan Chairil: daya ingatnya tinggi. Chairil adalah penghapal hebat. Ia tak perlu membawa kabar dalam bentuk tertulis, untuk menghindari kebocoran informasi. Karena kalaupun Chairil tertangkap dan digeledah, tak ada bukti tertulis yang bisa ditemukan. 


9. Suami yang menyebalkan, gak heran Hapsah menceraikannya. Suatu kali istrinya minta Chairil cari uang buat kebutuhan di rumah. Ia sarankan Chairil kirim sajaknya, kan lumayan honor tiga puisi buat uang makan sebulan. Begitu maksud Hapsah.


Terus, Chairil bilang gini pada istrinya: 

"saya tidak dapat dipaksa mengarang untuk cari duit. Jadi janganlah dipaksa saya untuk mencari duit dengan jalan membuat sajak-sajak itu".


Hmmmhhhh...


10. Chairil sayaaaaaaang banget sama anaknya. Evawani Alissa. 


Usai bercerai, Chairil pernah 'menculik' Evawani. Namun Hapsah yang berhasil mendapatkan hak pengasuhan. Lantas Chairil berniat menikahi lagi Hapsah dan ingin membesarkan Eva. 


Sebelum wafatnya, Chairil banyak menerjemahkan puisi-puisi soal kematian. Salah satunya berbunyi: 

Dan jika untung malang menghamparkan

Aku dalam kuburan dangkal

Ingatlah sebisamu segala yang baik

Dan cintaku yang kekal. 




Enam Bulan #dirumahaja

16 September 2020

Masih musim covid-19. Hari ini tercatat tenaga medis yang wafat 116 orang. Saya masih diam di rumah. Sesekali keluar rumah lagi-lagi urusan kerja saja. Tidak ada nongkrong, tidak ada mudik. Belum satu detik pun saya berkumpul dengan keluarga, apalagi Ibu. Sedih sih. 

 

Enam bulan ini udah ngapain aja? 

 


Gak ada skill yang bertambah selain latihan sabar dan bersyukur. Sebab saya kena efek pandemi. Bisnis saya di Fish Express baik-baik saja. Malahan omset naik. Hamdalah.   

 

Saya daftar kelas-kelas online. Seru juga ikutan kelas jarak jauh begini. Awalnya saya pesimistis dengan keberadaan kelas online. Mengikuti kelas seperti itu macam orang ambisius yang gak mau kalah dengan zaman. Apa sih. Walah ternyata saya malah menyukainya. Pret dipoyok dilebok ya kamu, Ulu. 

 

Kemudian, saya mulai legowo untuk gak masak. Jujur aja saya capek masak. Sekarang saya berserah diri pada Warung Nasi Ceu Mimin. Chef rumahan yang apik dan bersih. Bismillah semoga makanannya bebas dari covid-19. 

 

Saya masih jalan-jalan. Sesekali saja bersama Indra dan Nabil. Saya gak rekomendasikan jalan-jalan berkelompok kecuali dengan pasangan. Musimnya masih pagebluk begini soalnya. Kami jalan kaki sekitar Cibadak saja. Terakhir kalinya keluar rumah kukurilingan tgl 17 Agustus 2020. Pagi-pagi waktu itu, jalanan kosong melompong kecuali di Alun-alun. 

 

Pernah juga beberapa kali saya ikutan tur virtual. Di Semarang sampai ke Jepang. Tur sejarah dan tur horor. Hahaha seru juga. 

 

Kurasa selama enam bulan ini saya belajar buat gak memberi batasan ke diri sendiri. Jangan apatis. Pun jangan ambisius. Santai saja. Tenang. Namun jangan menganggap hal-hal yang gak kamu gak ketahui adalah hal yang gak mungkin, gak penting. 

 

Menghadapi covid-19 pun saya menempatkan diri pada posisi netral. Saya diam di rumah, namun sesekali keluar rumah. Dengan catatan untuk bekerja saja. Tapi, saya gak bisa julid dengan teman-teman yang sering berkegiatan di luar rumah. Meskipun klise ya 'ekonomi harus tetap berputar' tapi beneran kerasa kok emang kegiatan di luar rumah perlu ada bagi sebagian orang. 

 

Saya punya pilihan. Akan tetapi saat saya berhadapan dengan pilihan keluar rumah, itu jalan terakhir. Saat itulah saya pikir kasihan amat yang gak ada pilihan buat diam di rumah aja ya. Mau gak mau mesti keluar rumah dan bekerja, kalau tidak....

 

Jadi, saya gak bisa bersikukuh dengan bilang 'ayo diam di rumah'. Kupikir, ya kalo harus keluar rumah yasudahlah. Kalian pake masker lah. Jaga jaraklah. Keluar rumah buat kerja ajalah. Tahan-tahan dulu ketemu keluarga bila kondisi darurat sajalah. Maksudku, kalo mau keluar rumah, jangan lupa tanggung jawab physcal distancingnya. Zaman masih begini soalnya. 

 

Pada sehat-sehat semua ya. Kalo kamu masih bertekad diam di rumah saja, bagus. Kalo kamu adalah tenaga medis yang kebetulan nyasar ke blog ini dan membaca tulisan ini: terima kasih banyak, semoga sehat-sehat terus ya, detik per detik yang kalian lakukan selama pagebluk ini adalah jaminan yang membawa kalian ke surga. Amin. 

 

Dan, semoga kita dikasih banyak rezeki, beneran buanyaaaak sekali rezeki. Mari kita gunakan rezeki ini untuk belanja. Belanja produk teman, jajan produk siapa saja yang ada di instagram dan twitter dan facebook dan status wa. 

 

Amin. Amin. Amin.

Warna Pintu Rumah Tua di Bandung

15 August 2020

Paling enak jalan-jalan adalah berjalan kaki santai di pusat kota. Bawa sebotol air minum. Pake ranselnya. Siapkan kamera hp dan powerbanknya. Boleh dibawa topinya sekalian.  Jadwalkan pagi hari, lebih pagi lebih baik, untuk mulai berjalan. Bisa juga sore-sore. Supaya suasanya masih segar atau adem. 

 

Kalau di Bandung, biasanya saya jalan-jalan santai begini di daerah Braga, Sudirman, Pasar Baru, dan Asia Afrika. Lumayan sih trotoar nyaman dipijak meski yang gak layak kondisinya pun banyak. Warung dan pertokoan ada banyak. Siapa tahu mendadak perut keroncongan, bisa mengkol dulu buat jajan. 

 

Bila berjalan santai begini, saya akan memotret rumah-rumah tua. Rumah pinggir jalan ataupun rumah dalam gang. Pintu dan jendela rumah antik sangatlah sedap dipandang. Jadi latar foto OOTD juga bisa sih. Heuheu. Tapi saya gak lakukan itu sebab tujuan saya emang koleksi foto pintu tua dan jendela antik. 

 

Kalau berjalan kaki dan berburu foto rumah-rumah tua, ada satu hal yang menarik bagiku. Perhatikan pintu utama rumah dan kotak sekring listriknya. Mengapa? sebab warna mereka senada. 

 

 

Rumah lama yang arsitektur bangunannya masih bergaya ala tahun 40-50an, memiliki satu kotak kecil infrastruktur listrik yang berada di dekat pintu masuk. Nah pintu masuk, jendela depan, dan kotak sekring listrik ini warnanya sama. 

 

Iya saya tahu pemandangan tersebut bukan hal istimewa. Namun bukannya hal-hal kecil begini menyenangkan untuk dilihat ya. 

 

Menurut beberapa orang temanku, bukan sengaja pintu rumah dan pintu kotak listrik warnanya sama. Tapi waktu proses pengecatan, ada sisa cat yang sayang bila dibuang atau disimpan.  

 

Meskipun gak sengaja, kelihatannya kayak disengajakan. Warnanya jadi estetis. Enak dilihat. Ada yang warnanya hijau, biru, krem, merah, macam-macam. Warna kalem sampai warna mencolok. Entahlah ada cerita psikologi warna apa di baliknya. Yang pasti warnanya dipilih berdasarkan selera pemiliknya. Iya gak? :D 

 

 

Berdasarkan artikel yang saya baca-baca di web Halodoc, warna adalah medium. Semacam pesan yang ingin diperlihatkan pada pemakainya. Kayak warna merah yang menunjukan arti kuat, percaya diri, dan berani. Warna abu-abu artinya kuat dan stabil. Ada juga warna biru yang diasosiakan dengan kesetiaan dan ketenangan. Hijau diartikan sebagai kesejukan. Ada yang mempercayainya sebagai warna keberuntungan. 

 

Gak heran, kata Halodoc, warna bisa jadi alat untuk terapi. Selama menyusuri jalanan dan rumah-rumah tua dengan berjalan kaki, saya pikir ini hobi semata. Namun kalau diperhatikan saya berolahraga juga. Jalan kaki satu jam atau anggap aja 3000 langkah efeknya bagus kan buat tubuh. Belum lagi merhatiin warna-warna pintu dan jendela rumah tua. Lumayan kayak sambil menyelam dapat ikan. Hahaha. Kaki sehat, jiwa bahagia. 

 

Ah iya, Halodoc sendiri adalah aplikasi kesehatan yang memudahkan urusan medis saat kita membutuhkannya. Layanan Halodoc terpercaya dan lengkap. Install aja appnya, sign up, dan jelajahi fitur kesehatan yang ada didalamnya. Mulai dari urusan beli obat, tanya ke dokter, cari dokter yang tepat, dan cek kunjungan ke rumah sakit. 

 

Oke kembali ke rumah tua. 


Umumnya nih rumah-rumah lama yang saya temukan begini ada di daerah Pecinan. Membujur dari Sudirman ke arah Andir. Melebar ke Pasar Baru dan sekitarnya. Bila kalian jalan-jalan ke arah Bandung Utara, di sana banyak peninggalan rumah ala kolonial. Jika ambil arah selatan, banyaknya rumah-rumah masa kini. Nah di tengah-tengah utara dan selatan itulah daerah Pecinannya berada. Suasana dan rumah-rumahnya masih kerasa aura tempo dulu walaupun digempur perubahan. 

 


Agak susah nemu pemandangan begini kalau kita hanya diam di dalam kendaraan. Paling saya rekomendasikan berjalan kaki. Kalau jalan kaki, kita bisa atur tempo kecepatan bahkan berhenti sejenak. Lantas kita bisa melihat dari dekat, menyentuhnya bila properti tidak berpagar atau diizinkan pemiliknya.

 

Nah, protokol kesehatannya udah oke kan? Dipake maskernya, bawa hand sanitazernya, sekalian wadah perbekalan. 

 

Udah siap cuci-cuci mata dengan berjalan kaki? pagi-pagi ya kita ketemu di Asia Afrika di depan museum!

 

Membaca Wanadri

03 August 2020
Baru saya ketahui, beberapa orang tua mendaftarkan anaknya ke Pendidikan Dasar Wanadri karena anak-anaknya bermasalah dan gagal dididik di pesantren.

"Daripada kamu terkapar di jalanan, kami lebih bangga kamu mati sebagai Wanadri" gitu kata Ayahnya Rara di halaman 81. ⁣ ⁣ 



Buku berjudul Setitik Cahaya di Kegelapan isinya tentang sekumpulan cerita pendek anggota Wanadri. Ceritanya seputar Pendidikan Dasar Wanadri (PDW). Namun ada juga kisah lainnya tentang pertemanan, kenekadan, ketangguhan. Ada cerita yang lucu, sedih, mengharukan, aneh, macam-macamlah. ⁣Juru tulis buku bernama Nondi F. Pertama kali bukunya terbit tahun 2014. ⁣ 

Ada satu cerita berjudul Negosiasi Dengan Jin. Ceritanya Wanadri menggelar lomba Citarum Rally I. Mengingat acara serupa di tahun sebelumnya memakan korban jiwa, agar acaranya lancar berbagai antisipasi dilakukan. Termasuk negosiasi dengan makhluk gaib penghuni sungai. ⁣ 

Dibantu kuncen, hasil negonya begini: 

Makhluk gaib: (1) penyelenggara harus luruskan niat, jangan sombong mau nantang alam, jangan sok jagoan, jangan anggap enteng (2) minta tumbal tiga orang korban. 

Wanadri: (1) jangan ada korban meninggal (2) kalo ada korban, korbannya anggota wanadri aja. ⁣ Melalui kuncen, makhluk gaib bertanya. Emang apa ciri-ciri Wanadri? ⁣ ⁣ 

"Mereka memakai syal oranye," kata Iwan Bungsu, ketua panitia. Bungsu menyanggupi tumbal tiga orang, tapi dia nego jangan meninggal dan harus anggota wanadri aja yang katempuhan. Jangan korbannya warga sekitar atau peserta umum. Si makhluk gaib sepakat 😂⁣ ⁣ 

Korban pertama, terjungkal dari perahu saat mencoba arus. Korban kedua jatuh dari tebing. "Siapa gerangan korban ketiga?" bisik Bungsu dalam hati. ⁣ H-1 acara, Bungsu tertabrak mobil. Masuk rumah sakit. Kaki luka parah. Nah itulah dia korban ketiga. ⁣ ⁣ 

Citarum Rally I di tahun 1977 itu sukses dan lancar. Itulah acara yang menandai bangkitnya olahraga arung jeram di Indonesia. ⁣Bukunya bisa dibeli di Shopee dan Bukalapak.