Social Media

Image Slider

Jalan-jalan Menyusuri 10 Stilasi Bandung Lautan Api

09/04/17
Tahun 2005. Gile udah lama banget. Tahun pertama kali saya tahu kalau di Bandung ada yang namanya Stilasi Bandung Lautan Api. Jumlah stilasinya ada 10. Tahun berikutnya, saya baca buku berjudul Saya Pilih Mengungsi yang mengupas tuntas tentang Bandung Lautan Api.




Dua tahun itu mencerahkan banget lah. Oh ternyata jalan-jalan di Bandung bisa kali menyusuri stilasi-stilasi itu. Terus jadi tahu kayak apa sih Bandung Lautan Api pas kejadiannya. Bukan cuma tentang bakar rumah aja soalnya.

Lalu ada yang nanya. Stilasi itu apa, Lu?


10 Stilasi Bandung Lautan Api

Bandung Lautan Api yang puncaknya terjadi pada 24 Maret 1946 ada rekam jejaknya dalam bentuk stilasi. Stilasi ini semacam monumen setinggi 1,5 m. Ada 10 stilasi di Bandung, stilasi 1 di Dago & stilasi 10 di Tegalega (Jl. Moh Toha).

Kalau diperhatiin, stilasi tampak depan kelihatan kayak persegi, kalau dilihat dr samping bentuknya mengerucut kayak segitiga. Di tiap dindingnya terpampang plakat yang isinya lirik Halo Halo Bandung, peta stilasi, dan nama penyandang dana stilasi beserta lembaga yang berinisiatif membuatnya.




Di bagian atas stilasi ada bunga patrakomala (simbol flora kota Bandung). Ada 3 plakat di tiap sisi (lirik Halo Halo Bandung, rute 10 stilasi, dan sponsornya yaitu America Express & inisiatornya Bandung Heritage). Belakangan plakatnya nambah 1 bertuliskan Djarum Foundation, belum tahu apa perannya thd stilasi Bandung Lautan Api.

Bagian paling bawah ada material kayak metal yang belum jadi yang ditaplokin ke stilasinya. Bentuk kayak gitu menyimbolkan bangunan terbakar.

Stilasi ini dirancang seniman bernama Sunaryo. Iya betul, seniman pemilik Selasar Sunaryo.

Coba deh sesekali jalan-jalan di Bandung ngikutin stilasi ini. Hitung-hitung olahraga jalan kaki (atau bersepeda). Jalannya bisa mulai dari Dago, lanjut ke Braga, Asia Afrika, Jalan Simpang, di depan SD Kautamaan Istri, Jalan Dewi Sartika, Lengkong Kecil, Jalan Lengkong, SD Asmi, & Tegalega. Gempor jalan kaki, bisa naik angkot.

Tiap stilasi menandakan ada peristiwa penting berkaitan dengan Bandung Lautan Api di sekitarnya. Stilasi no 5 ini berdiri di depan Sekolah Keutamaan Istri, sekolahnya Dewi Sartika.




Pada peristiwa Bandung Lautan Api, Dewi Sartika, guru-guru, para siswi ikut mengungsi. Kebanyakan mengungsi ke arah selatan Bandung. Garut tujuannya. Ada juga yg berjalan hingga ke Tasikmalaya.

Di dekat stilasi no 5 ini ada stilasi no 4 menandakan sebuah rumah yang dijadikan markas tentara berdiskusi : perangi tentara belanda atau mundur dengan catatan Bandung dibakar. Pilihan kedua yg diambil. Dengan demikian Belanda menduduki Bandung dengan kondisi kota yang luluh lantak.

Saya ulangi lagi ya posisi Stilasi Bandung Lautan Api:

1. Dago, depan Bank BTN
2. Braga, depan Bank BJB
3. Asia Afrika, depan kantor Jiwasraya seberang Alun-alun
4. Rumah Jalan Simpang no. 7
5. Depan SD Kautamaan Istri
6. Jalan Dewi Sartika, depan toko (nama tokonya lupa) dan PKL, dekat Jalan Simpang
7. SD Asmi
8. Kompleks Perumahan di Lengkong Kecil
9. Jembatan Lengkong
10. Tegalega, Jl. Moh Toha di trotoar depan Gereja

Kalau saya jalan-jalan nyusurin stilasi, saya mulai dari stilasi no. 2 aja sampai stilasi di Jalan Dewi Sartika. Abis itu lanjut naik angkot atau motor. Bisa sih jalan kaki, tapi jauh. 


Di Balik Bandung Lautan Api

Keputusan Bandung yang memilih mundur dan mengungsi banyak dinyinyirin kota lain. Yang paling santer nyinyirnya adalah pejuang-pejuang dari Surabaya. Dimaklumi sih mengingat mereka bertempur habis-habisan di November 1945. 

Jenderal Sudirman memerintahkan Bandung untuk berjuang melawan Belanda sampai titik darah penghabisan. Sementara itu Kolonel A.H Nasution berpendapat memberi perlawanan pun Belanda pasti menduduki Bandung. Bukan pesimis, tapi realistis.

Dalam waktu 7 jam, tgl 24 Maret 1946, ada 200ribu rakyat Bandung meninggalkan rumahnya dan berjalan kaki jauh sekali. Rumah-rumah diledakkan, dibakar. Di sela-sela perjalanan banyak yang melihat kembali ke arah utara, memandang rumahnya di batas garis cakrawala yang merah berkobar-kobar. Antara takut, sedih, semangat, tapi juga pasrah, rasanya campur aduk.

Konfrontasi langsung dengan Belanda kayak peristiwa 10 November 1945 di Surabaya atau 15 Desember 1945 di Ambarawa sama ngerinya dengan yang terjadi di Bandung. Tapi emang Bandung Lautan Api ini kalau gak tahu kisah didalamnya bakal dinyinyirin sih.

"Walaupun kami bertempur, akhirnya kami tidak akan menghindarkan pendudukan oleh musuh. Karena itu, kalau memang musuh harus memperolehnya, mereka hanya memperoleh puing-puing" A.H Nasution.


Asal Muasal Nama Bandung Lautan Api

Ada beberapa versi yang menceritakan asal muasal istilah Bandung Lautan Api. Salah satunya dr artikel berjudul Bandung Jadi Lautan Api di koran Suara Merdeka.

Nama wartawan yang menulisnya adalah Atje Bastaman. Pak Atje, entah ikut mengungsi atau meliput atau keduanya, melihat pemandangan Bandung dari kejauhan, tepatnya dari sekitar Garut. Latar belakang pemandangan Bandung terbakar yang dia lihat dijadikannya judul tulisan.


10 stilasi Bandung Lautan Api ini gak semuanya dalam kondisi baik. Ada yg lokasinya di depan bank, depan toko, di tengah perumahan, di halaman depan sebuah SD, di halaman samping rumah, di pinggir jalan. Walo kelihatannya kayak acak banget lokasinya, tapi tiap lokasi emang bersejarah & ada hubungannya dgn Bandung Lautan Api.

Bahas Bandung Lautan Api ini panjang banget sih. Mulainya malah dari tahun 1945. Belum lagi dua Ultimatum yang diturunkan sekutu (dalam hal ini Inggris) untuk Bandung, perang-perang kecil yang terjadi sebelum Bandung Lautan Api, peran etnis lain terhadap perjuangan rakyat dan tentara, dan masih banyak lagi. 

Kalau mau tahu mah baca bukunya juga, Saya Pilih Mengungsi. Belinya di Toko Kelana Buku, cek di Instagram. Fakta yang saya cantumkan di sini gak seberapanya informasi yang bisa kamu baca dalam bukunya. 


buku cetakan pertama/lama

Kalau saya emang tertarik hal-hal kayak gini, pasti baca bukunya, diusahakan datangi jejak-jejaknya. Menarik tahu cerita masa lalu, somehow saya ngerasa masih relevan dengan masa kini. Walau pengetahuan ini gak berpengaruh terhadap harga beras, tagihan listrik, dan kondisi keuangan saya, tapi secara batin rasanya terpuaskan aja gitu. Hahaha apa sih 😁


Tahun 2014 saya pernah nulisin Bandung Lautan Api. Bisa dibaca di:



Saya emang gak mahir dalam membuat judul ya hahahaha. Ah yasudahlah. Hehehe. Telat juga sih baru tayangin ini di bulan April. Ah yasudahlah. Hohohoh. 



Foto: Ulu, difoto pake kamera HP
Teks: Ulu

Festival Gedong Cai di Ledeng

07/04/17
Hari Minggu di bulan Maret saya nanam Pohon Akasia di hutan belakang rumah. Memperingati Hari Air Se-Dunia 22 Maret 2017, tidak jauh dari rumah saya diselenggarakan Festival Gedong Cai. Penanaman pohon ini dalam rangka festival yang berhubungan dengan air tersebut.



Gedong Cai adalah bangunan yang menampung mata air Cibadak (Tjibadak). Berlokasi di Ledeng, nama Tjibadak adalah ejaan lama untuk nama Cibadak. Artinya Tji=air dan Badak=besar.


Gedong Cai ini menampung berkubik-kubik air, dalam 1 detik mengalir 100liter air. Gedong Cai sekarang dikelola PDAM. Orang kota di Bandung nerima airnya dari sini nih. 

Cibadak merupakan nama kampung yang banyak sumber mata airnya. Selain Cibadak, ada juga Cidadap dan Cikendi. Ketiganya memiliki nama yang artinya gak jauh-jauh dari air. Cidadap, air yang disadap. Cikendi, air di dalam kendi. 

Walau namanya Festival gedong Cai, acaranya gak festive. Biasa aja sederhana gitu. Acaranya terbuka untuk umum. Tapi yang datang ya itu-itu aja. Warga sekitar yang dominan ibu-ibu dan anak-anak penggembira suasana hahaha. Pak Camat, Pak Lurah, dan satu orang Pak Polisi hadir meresmikan acaranya. Geng fotografer dan teman-teman komunitas juga berdatangan. 

Kebayang saya sih harus ada lebih banyak yang ikutan. Tapi ya gak apa-apa sedikitan juga, kayaknya 30-40 orang mah ada. 

Festival Gedong Cai nih kalau diperhatiin sebenernya mirip acara ruwatan bumi. Warga berjalan beriringan menuju Gedong Cai. Disertai kesenian tradisional dan makan Nasi Liwet bersama-sama warga sekampung.

Mata air dahulu kala diperlakukan sehormat-hormatnya. Orang Sunda termasuk orang yang dekat banget dengan alam. Termasuk dengan air. Banyak banget tempat di daerah Priangan yang namanya berawalan Ci (air). Ruwatan mata air ini emang sengaja dilakukan sebagai ungkapan terima kasih kepada alam (dan Tuhan).

Tapi zaman tambah modern. Mata air banyak yang hilang seiring pembangunan pemukiman dan sarana rekreasi. Di sekitar Gedong Cai cuma tersisa 1 di dekat Gedong Cai, di Cibadak ini. Dan tentu saja, manusia makin berjarak dengan alam dan gak tahu terima kasih.

Ruwatan Mata Air (Gedong Cai) sempat vakum. Baru nih beberapa tahun ini diadakan lagi. Penyelenggaranya bukan pemerintah atau LSM. Organisatornya Karang Taruna di Ledeng aja. Pemuda-pemudi setempat. Saya juga ikutan. Walo hanya sebagai peserta aja selama 1 hari 

Bagian serunya nih Festival Gedong Cai bukan cuma sekadar memperingati Hari Air. Tapi juga pengingat buat warga sekitar kalau ini mata air harus dilestarikan agar kelak pasokan air tidak habis.

Ya bagus atuh kegiatan sosial kemasyarakatan begini inisiatifnya datang dari warga sekitar. Anak muda pula. Seneng juga bisa ikutan di dalamnya walo jabatan sebagai peserta aja.




Sebenarnya penanaman pohon ini bukan cuma seremonial aja. Gedong Cai berlokasi di tepi tebing. Tak jauh Gedong Cai ada jurang. Meski lingkungan sekitarnya lebat, tapi keberadaan mata air ini sudah terpojok pemukiman. Pohon yang kami tanam diharapkan jadi penampung air dan penahan erosi.

Waktu saya unggah foto lagi mau nanam pohon Akasia, seorang teman komentar. Katanya Akasia gak cocok ditanam di lahan kayak sekitar Gedong Cai yang lebat banyak pohonnya. Kata Danu, serbuk sari dari pohon ini menghambat pertumbuhan pohon lain. Selain Akasia, panitia menyediakan Pohon Trembesi. Seingat saya Trembesi memang rindang, tapi lahan untuk menanam Trembesi mesti luaaaaaaas banget. Bener ga ya milih Trembesi buat ditanam di sekitar Gedong Cai? 

Ah ya diawali niat yang baik, semoga segalanya baik-baik aja. Amin. 

Tahun 2015 saya pernah mengikuti acara bertajuk Jelajah Gedong Cai. Ada 3 tulisannya. Bisa dibaca di sini. Kondisi Gedong Cai yang sekarang saya lihat lebih terawat dibanding tahun 2015 dulu. Bagus atuh. 


Jadi lebih lengkap fotonya lihat di postingan yang itu aja ya hehehe. Sebenernya ada videonya sih. Tapi...video pake Lenovo A6000 jelek amat ya gambarnya. Dominan kuning terus agak pecah gitu deh. Mesti beli hape baru kalau mau bervideo euy. Ah ya ntar deh mikir dulu heuheuhheuheuheu...






Foto: Ulu
Teks: Ulu

Playlist #12: Di Ujung Ceracau Malam yang Lingsir

06/04/17
Minggu yang berat. Saya tumbang di tiga hari terakhir saat saya mengetik ini. Demam lah, batuk lah, susah tidur lah. Sebelum jatuh sakit, saya ke Jakarta. 

Jakarta itu ya, saya gak suka banget heuheuheu. Masa baru masuk Cikarang udah macet. Hari Sabtu yang saya kira agak lowong jalannya, ternyata macet. Di dalam kota pun sama aja. Arrrgghhhhhhh emosi jiwa. Mana sopir saya ngantuk dan sempet nyetir sambil merem pula...ihik! 

Ditarik ke beberapa hari sebelum sakit dan sebelum ke Jakarta, kerjaan numpuk kayak jemuran yang belum disetrika satu bulan. Ah senang sekali ya masih bisa sibuk hahahaha. 

Tabungan saya masih butuh sekitar 3 juta lagi menuju ke dua kota tujuan saya. Gak apa--apa deh sibuk, rela banget demi tabungan hahahaha. Apeeuuu. Tapi terus saya sakit dan rencana modar. Hahahaha. 

Sekarang saya udah sembuh dan rencana kembali diwujudkan. Let's go!

Playlist saya asyik-asyik nih (apeeeuuu 😁). Lagu favorit saya sekarang soundtracknya film Logan. Udah pada nonton Logan? Ah edan filmnya bagus pisan. Memuaskan, saya suka akhir filmnya yang sudah pasti tidak disukai kebanyakan orang. Sad ending, siapa yang suka sad ending coba? heuheuheu. Tapi emang begitu harusnya sih, bukan film ala-ala hollywood yang mau nyenengin semua orang. 

Ah anyway judul postingan ini saya ambil dari salah satu kalimat dalam lirik Si Pelanggan lagunya Silampukau. Band-band indie ini emang ya diksinya bagus-bagus. Kadang kala yang saya dengar dari lagu mereka cuma meratiin liriknya doang. Tapi kebanyakan pun musiknya bagus. FYI ini playlistnya:



Menelusuri Rumah Kuno di Kampung Arab Cirebon, Dimuat di Koran Pikiran Rakyat

04/04/17
Berikut ini karya kami (Indra dan Ulu). Tulisan saya tentang Cirebon dimuat pada surat kabar Pikiran Rakyat 12 Maret 2017. Sebenarnya saya mau ambil format korannya sih, ada format digitalnya gitu. Tapi mesti login ke websitenya Pikiran Rakyat (http://epaper.pikiran-rakyat.com/). Dan registernya susah sekaleeeeee. Saya coba beberapa hari ini gagal mulu. 



photo credit: T Bachtiar
Ah ya udah saya unggah tulisan awal sebelum diedit redaksi Pikiran Rakyat. Ya lumayan sih gak banyak juga yang diedit. Silakan dibaca. Tiga dari foto yang Indra jepret di bawah ini tayang juga dalam korannya. Untuk melihat foto lebih banyak, baca tulisan sebelumnya ya. Linknya di sini


******************************

Awal tahun 2017 saya datang ke Cirebon. Lawatan kali ini saya niatkan untuk melihat rumah-rumah kuno di Kota Udang tersebut. Dengan waktu yang terbatas, sebelum pergi saya riset data dan menyalin sebuah peta menyusuri kawasan bersejarah di Cirebon.  




Peta yang saya salin berasal dari buku berjudul Panduan Jelajah Kota-kota Pusaka di Indonesia, tulisan Emile Leushuis seorang geograf Belanda. Awalnya buku travel historical guide ini diterbitkan dalam bahasa Belanda. Tahun 2014 bukunya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Dalam peta tercantum titik keberangkatan di Keraton Kasepuhan. Saya memutuskan putar rute dengan memulai perjalanan di sekitar kawasan Panjunan.


Berderet Rumah Kuno di Panjunan Kampung Arab

Kawasan Panjunan adalah kampung arab. Sebagai kota pelabuhan yang pernah mashyur, banyak orang dari Mediterania dan Cina berdatangan ke Cirebon untuk urusan bisnis dan agama. Ada yang hinggah sebentar lalu pergi berlayar, tidak sedikit pula yang menetap dan bermukim di Cirebon.

Baru saja masuk ke mulut jalan Panjunan, langung terhampar pemandangan sebuah rumah tua yang  mewah. Terasnya luas dan pilar-pilar rumahnya terlihat perkasa. Meski nampak renta, rumahnya dalam kondisi sehat. Masih ada penghuni yang merawatnya.

Kembali berjalan, saya berulang-ulang takjub dengan rumah-rumah kuno yang saya temui. Hampir semua arsitekturnya belum pernah saya lihat di kampung halaman saya di Bandung.

Bukan hanya unik, beberapa rumah warna catnya mencolok mata. Didominasi warna hijau, merah, dan kuning, juga ukuran rumah yang mirip istana hingga ke rumah yang tipenya mungil, Panjunan adalah surganya rumah-rumah antik.

Seperti pada umumnya rumah kuno, jendela dan pintu rumah ukurannya tinggi dan besar. Jendelanya berbuku-buku, tapi ada juga jendela polos tanpa motif dan tekstur, bahkan yang berkaca patri masih banyak. Di bagian atas pintu dan jendela terdapat kerawang (ventilasi) dengan pola yang berbeda-beda dan cantik.  

Hampir tiap rumah memiliki teras dan 2-3 anak tangga di depan pintunya. Tidak semua rumah berpagar, hanya rumah-rumah besar saja yang dipagari.





Masih di Jalan Panjunan, kedua kaki saya pacu menuju sebuah masjid bersejarah: Masjid Panjunan, populer dengan nama Masjid Merah Panjunan.

“Panjunan asal katanya Jun, artinya tukang keramik,” ujar kuncen masjid Panjunan. Bapak Kuncen nampak semangat sekali ingin bercerita. Ceritanya berhamburan dari silsilah Sunan Gunung Jati, piring-piring yang menancap di dinding, hingga kisah Syarif Abdurakhman yang dijuluki Pangeran Panjunan yang berasal dari Baghdad, Irak.

Sebelum VOC datang, Cirebon termasuk kawasan tersibuk di Hindia Belanda. Di abad 16, Cirebon bukan saja menjadi kota pelabuhan terpenting tapi juga menjalin kerja sama dengan Kerajaan Mataram dari Jawa Tengah dan memiliki hubungan kekerabatan dengan raja-raja di Demak dan Banten. Ketenaran dan peran Cirebon di bidang perdagangan dunia di masa lalu ibarat Singapura di masa kini.

“Orang-orang yang dibawa Pangeran Panjunan itu cikal bakal kampung arab di sini”, tutur Pak Kuncen lagi. Lamunan saya tentang pelabuhan Cirebon pecah.

Bagi saya Masjid Merah Panjunan merupakan masjid yang unik. Masjid yang dibangun tahun 1480 ini bercitarasa nusantara. Gerbang masuknya berbentuk gapura seperti yang kita temui di candi-candi di Jawa Timur. Atapnya bertingkat terbuat dari sirap dengan ornamen gada di puncak atap. Bangunan masjidnya berbentuk limasan dengan dinding warna merah bata.  





Menurut cerita Pak Kuncen yang mukanya kerab-araban ini, dahulu orang arab yang tinggal di Panjunan hampir semuanya berprofesi sebagai pengrajin keramik. Keramik yang dibuat berasal bahan tanah liat. Sayang jejak pengrajin keramik sudah tidak ada di Panjunan. Saya beranjak ke Gang Pasewan.

Arsitektur rumah di Gang Pasewan berbeda dengan rumah-rumah di Jalan Panjunan. Bila di Jalan Panjunan terlihat seperti rumah hunian, di gang Pasewan rumah-rumahnya lebih mirip tempat berdagang dan gudang. Serambi atap rumahnya menjulur ke sisi jalan.

Meski dimiliki orang-orang arab, rumah di sini dihuni orang orang cina. Pasewan berasal dari kata ‘sewa’. Dahulu orang arab menyewakan rumahnya kepada orang cina. Gang Pasewan ini pendek saja jarak tempuhnya, sekitar 200 m.


Melintas di Kawasan Cina dan Bangunan Kolonial

Keluar dari Pasewan, saya masuk ke Jalan Pasuketan. Di sinilah kampung arab memudar, bangunan tionghoa dan bergaya kolonial memenuhi jalanan.  Sementara itu matahari Cirebon sudah membelalak dan air minum perbekalan saya ludes. Mencari warung, saya istirahat sebentar untuk berteduh dan membeli satu botol teh dingin.

Di Pasuketan saya melihat dua bangunan kolonial yang besar-besar. Satu terawat, satunya lagi seperti mati suri. Bangunan Belanda yang dibangun tahun 1920 itu kondisinya terawat dan menjadi kantor bank Mandiri.

Dari Jalan Pasuketan saya menyebrang jalan menuju Jalan Banteng. Terdapat sebuah bangunan maha besar dan panjang yang jadi primadona warga Cirebon sebagai latar swafoto. Gedung BAT namanya. Gedung yang pertama digunakan tahun 1924 ini merupakan pabrik sekaligus kantor rokok BAT (British American Tobacco). Siapapun yang melewati Jalan Banteng dan sekitarnya pasti menyadari betapa ‘raksasa’nya gedung yang sekarang kosong ini.

Abad 18 orang-orang cina memegang peranan penting di Cirebon. Meski dibatasi ruang geraknya oleh pemerintah kolonial, warga tionghoa di Cirebon bertambah jumlahnya dan berperan besar dalam urusan perdagangan. Mulanya mereka dipaksa pemerintah kolonial untuk bermukim di Jalan Pasuketan, Jl. Lemah Wungkuk, dan Jalan Talang saja.

Puas menatap gedung BAT, saya berbelok ke Jalan Talang. Terdapat tulisan petuah di pintu klentengnya. Sungguh sangat relevan petuahnya dengan fenomena hoax saat ini.  





Fakta menarik tentang Klenteng Talang adalah selain usianya yang sangat tua –dibangun abad 15- klenteng ini awalnya berfungsi sebagai pondokan dan tempat ibadah umat muslim tionghoa.

Saya melanjutkan perjalanan ke Jalan Kebumen dan Jalan Yos Sudarso. Berturut-turut saya memandang kagum gedung khas kolonial: bangunan SMPN 14 dan 16 (awal abad 20), kantor bermenara Gedung Pt. Cipta Niaga , Gereja Protestan tertua di Cirebon (1770), Gereja protestan St. Yosep yang dibangun oleh pastor sekaligus pemilik pabrik gula di tahun 1878, kantor Bank Indonesia (1919-1921), Kantor Pos Indonesia (1906), juga rumah-rumah hunian.

Jika membaca buku-buku yang memuat informasi sejarah, kisah dibalik bangunan kuno memang tidak seindah penampakan gedungnya. Ada tanam paksa, ada kerja paksa, ada pajak yang terlalu tinggi, ada monopoli perdagangan, dan hal lain yang kejam-kejam. Namun mengapresiasi kecantikan warisan bangunannya menurut saya bukan hal yang salah.

Sudah lewat pukul 1 siang, Cirebon sudah terlalu panas, hampir 3,5 km jarak berjalan kaki dan becak, saya kelelahan dan perut kelaparan. Saya putuskan berhenti berjalan dan menumpang becak.

Dari dalam becak saya kembali melewati beberapa tempat yang tadi saya telusuri, sempat pula terkantuk-kantuk ditiup angin pantai, dan berakhir dengan mata terbelalak akibat diklakson mobil di depan kami. Becak yang saya tumpangi melawan arah rupanya, saya pura-pura sibuk mengecek hp saja. Pengalaman yang menyenangkan dapat melihat-lihat bangunan kuno di Cirebon!


Jalan-jalan Wisata Bangunan Kuno, Kenapa Tidak?

Berkunjung ke luar kota, hampir semua kegiatannya saya jadwalkan dengan berwisata heritage dan wisata kuliner. Wisata heritage ada dua macamnya: budaya dan sejarah (cultural) dan alam (natural). Ada wisata budaya ke kampung adat dan masuk ke luar hutan larangan, misalnya. Ada pula wisata kuliner dan mengunjungi bangunan bersejarah.





Sayangnya belum banyak operator wisata bangunan bersejarah di kota-kota di Indonesia. Kalau pun ada biasanya berbasis komunitas, bukan operator bisnis tur.

Berikut ini hal-hal yang biasanya saya lakukan bila hendak menelusuri jalur sejarah sebuah kota dan melihat-lihat warisan bangunan kunonya:
  1. Riset data dari buku
  2. Browsing di internet, mencari data sekaligus komunitas sejarah di kota yang ingin kita kunjungi. Kontak dan meminta kesediaan mereka untuk menemani perjalanan kita. Ditemani warga lokal dapat membantu kita mencari informasi dari pemilik rumah dan warga sekitar, juga memberi rasa aman dan keleluasaan dalam memotret
  3. Bila anggaran terbatas, lakukan saja sendiri. Bila ingin menyusuri sejarah kota Medan, Jakarta, Cirebon, Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang, Malang, dan Surabaya, saya merekomendasikan Buku Panduan Jelajah Kota-kota Pusaka di Indonesia (penulis Emile Leuhuis, penerbit Ombak).  Dalam bukunya terdapat peta dan uraian
  4. Buat perkiraan waktu perjalanan: durasi berjalan, jarak tempuh, transportasi, pemilihan waktu



Menyusuri areal perkotaan sendirian dan beramai-ramai beda sensasinya. Tingkat keamanannya juga berbeda. Bila penampilan kita terlalu menonjol khawatirnya kita disasar jadi korban pencopetan, penjambretan, pemalakan, dan sejenisnya. Berikut ini tip agar kita dapat melebur bersama warga kota yang kita kunjungi:
  1. Gunakan pakaian sewajarnya dengan warna yang natural
  2. Tidak menggunakan perhiasan dan peralatan elektronik berlebihan
  3. Bersikap wajar, membumi, dan ramah kepada warga sekitar
  4. Kurangi swafoto berlebihan
  5. Minta izin bila ingin berfoto
  6. Selalu bawa uang receh untuk keperluan tak terduga, misal buang air kecil di WC umum berbayar, membayar ongkos becak, membeli air minum dan jajan di warung keci

Teks : Nurul Ulu Wachdiyyah
Foto: Indra Yudha Andriawan