Gedong Cai di Bandung 2

April 08, 2015
Pemberhentian pertama. Reservoir.

Ada satu bangunan yang 3/4-nya terbenam di tanah dan beberapa toren air di dekatnya. Tak jauh dari situ ada tempat pemandian umum di mana sumber mata air ditampung. Mata air? YES! Kita bahas dulu reservoirnya ya. 

Terdengar suara bergemuruh dari dalam reservoirnya. Gak niat mau lihat deras air di dalamnya. Ngeri :D Saya dan Nabil melihat-lihat sekeliling saja sementara Gele motret.

Reservoir ini berada di dekat tebing. Ada pemukiman warga di bagian dataran yang tinggi. Banyak batang pohon bambu yang berserakan seperti habis ditebang entah untuk apa. Pasti ada alasan kenapa di sekitar reservoir ditanam banyak pohon bambu. Pohon ini adalah jenis tanaman yang sanggup menyerap air lebih banyak dibanding pohon yang lain. 

Pohon bambu merupakan jenis pohon pengumpul air. Ada yang lebih canggih dari Bambu, Pohon Kawung. Dan saya melihat beberapa pohon tersebut di sekitar reservoir-nya. 

Pohon Kawung sanggup menyimpan 10 Liter air dalam SATU HARI saja. WOW! Jadi kalian banyak-banyak tanam pohon Kawung ya. Biar air hujan gak ngegelosor begitu saja lalu membanjiri rumah kalian. 

Sekarang tentang mata airnya. Kami berjalan ke tempat pemandian umum. Berbentuk gubuk tanpa pintu tanpa jendela. Gak mungkin mandi di situ, bisa-bisa direkam orang dan masuk youtube. Kalau cuci piring atau baju sih cocok. Ada empat kocoran air alami alias gak ada kerannya. Bolongan tempat keluar air cuma disumpal dengan plastik kemasan yang dibuntel-buntel. 

Perhatikan ini. Di mana pun kalian berada, ketika melihat mata air, basuh tangan dan muka dengan airnya. Kenapa? karena itu mata air! Murni, bersih, dan segar! Sayang banget buat dilewati begitu saja.

Saya cuci tangan dan cuci muka. Nabil dan Gele juga ikutan, celana kami basah dan sepatu kami juga ya tentu saja ikut terkucur air yang seger banget itu. Basah deh. Terus kami ketawa-tawa. Ah ya mata air seberlimpah ini kapan lagi. Seneng banget! dan yang pasti mah seger luar biasa. 

Muka segar kembali dan kami masih semangat menyusuri jalan setapak 'hutan ledeng'. Gak jauh dari sumber mata air tersebut, kami berjalan kaki dan sampai di tempat di mana tokoh utama perjalanan ini berada: GEDONG CAI. 

Gedung tua buatan Belanda. Di muka depan bagian atas bangunanya tertulis TJIBADAK 1921.
Tji = Cai = air.
Badak = Badag = Besar.
Tjibadak = air yang besar, berlimpah ruah. 

Belanda membangun banyak tempat resapan air. Mereka menampung air sungai dan hujan, juga air tanah (sumber mata air). Air-air ini dikirim ke pemukiman di Bandung. Ke Ciumbuleit, ke daerah Sersan Bajuri, dan terus sampai ke daerah kampus ITB. 

Gedong Cai ini julukan dari warga lokal. Banyak kok Gedong Cai di Bandung. Saya pernah ke Ciwangun Indah Camp dan kalau berjalan kaki lebih dalam menuju Situ Lembang, ada Gedong Cai juga di sana. Ciri khas bangunan ini biasanya setengah terbenam di tanah dan bagian atapnya rimbun tumbuhan menjalar dan rumput. Sengaja dibuat begitu kali ya? 

Yang pasti selama menduduki Bandung, pemerintah kolonial Belanda membuat banyak danau buatan dan bangunan-bangunan penampung air. Air yang warga Bandung nikmati ya asalnya dari sistem air yang Belanda buat. 

Sayang keberadaan Gedong Cai di Ledeng terancam pembangunan gedung. Hotel dan pemukiman sih yang jadi bahaya. Semakin mereka mendesak masuk mendekati wilayah Gedong Cai, ya bakal makin kecil debit airnya. Pertama, karena mereka akan menyedot air lebih banyak. Kedua, lahan hijau yang jadi penahan air hujan udah ganti jadi beton. 

Serem membayangkan Ledeng kekeringan. Lalu bagaimana nasib daerah Tamansari, Jalan Merdeka, Jalan Riau, Ahmad Yani, kalau di Ledeng aja udah kekeringan?

Treking bagian satu di sini 
Treking bagian terakhir di sana.













2 comments on "Gedong Cai di Bandung 2"