Social Media

Image Slider

Festival Gedong Cai di Ledeng

07/04/17
Hari Minggu di bulan Maret saya nanam Pohon Akasia di hutan belakang rumah. Memperingati Hari Air Se-Dunia 22 Maret 2017, tidak jauh dari rumah saya diselenggarakan Festival Gedong Cai. Penanaman pohon ini dalam rangka festival yang berhubungan dengan air tersebut.



Gedong Cai adalah bangunan yang menampung mata air Cibadak (Tjibadak). Berlokasi di Ledeng, nama Tjibadak adalah ejaan lama untuk nama Cibadak. Artinya Tji=air dan Badak=besar.


Gedong Cai ini menampung berkubik-kubik air, dalam 1 detik mengalir 100liter air. Gedong Cai sekarang dikelola PDAM. Orang kota di Bandung nerima airnya dari sini nih. 

Cibadak merupakan nama kampung yang banyak sumber mata airnya. Selain Cibadak, ada juga Cidadap dan Cikendi. Ketiganya memiliki nama yang artinya gak jauh-jauh dari air. Cidadap, air yang disadap. Cikendi, air di dalam kendi. 

Walau namanya Festival gedong Cai, acaranya gak festive. Biasa aja sederhana gitu. Acaranya terbuka untuk umum. Tapi yang datang ya itu-itu aja. Warga sekitar yang dominan ibu-ibu dan anak-anak penggembira suasana hahaha. Pak Camat, Pak Lurah, dan satu orang Pak Polisi hadir meresmikan acaranya. Geng fotografer dan teman-teman komunitas juga berdatangan. 

Kebayang saya sih harus ada lebih banyak yang ikutan. Tapi ya gak apa-apa sedikitan juga, kayaknya 30-40 orang mah ada. 

Festival Gedong Cai nih kalau diperhatiin sebenernya mirip acara ruwatan bumi. Warga berjalan beriringan menuju Gedong Cai. Disertai kesenian tradisional dan makan Nasi Liwet bersama-sama warga sekampung.

Mata air dahulu kala diperlakukan sehormat-hormatnya. Orang Sunda termasuk orang yang dekat banget dengan alam. Termasuk dengan air. Banyak banget tempat di daerah Priangan yang namanya berawalan Ci (air). Ruwatan mata air ini emang sengaja dilakukan sebagai ungkapan terima kasih kepada alam (dan Tuhan).

Tapi zaman tambah modern. Mata air banyak yang hilang seiring pembangunan pemukiman dan sarana rekreasi. Di sekitar Gedong Cai cuma tersisa 1 di dekat Gedong Cai, di Cibadak ini. Dan tentu saja, manusia makin berjarak dengan alam dan gak tahu terima kasih.

Ruwatan Mata Air (Gedong Cai) sempat vakum. Baru nih beberapa tahun ini diadakan lagi. Penyelenggaranya bukan pemerintah atau LSM. Organisatornya Karang Taruna di Ledeng aja. Pemuda-pemudi setempat. Saya juga ikutan. Walo hanya sebagai peserta aja selama 1 hari 

Bagian serunya nih Festival Gedong Cai bukan cuma sekadar memperingati Hari Air. Tapi juga pengingat buat warga sekitar kalau ini mata air harus dilestarikan agar kelak pasokan air tidak habis.

Ya bagus atuh kegiatan sosial kemasyarakatan begini inisiatifnya datang dari warga sekitar. Anak muda pula. Seneng juga bisa ikutan di dalamnya walo jabatan sebagai peserta aja.




Sebenarnya penanaman pohon ini bukan cuma seremonial aja. Gedong Cai berlokasi di tepi tebing. Tak jauh Gedong Cai ada jurang. Meski lingkungan sekitarnya lebat, tapi keberadaan mata air ini sudah terpojok pemukiman. Pohon yang kami tanam diharapkan jadi penampung air dan penahan erosi.

Waktu saya unggah foto lagi mau nanam pohon Akasia, seorang teman komentar. Katanya Akasia gak cocok ditanam di lahan kayak sekitar Gedong Cai yang lebat banyak pohonnya. Kata Danu, serbuk sari dari pohon ini menghambat pertumbuhan pohon lain. Selain Akasia, panitia menyediakan Pohon Trembesi. Seingat saya Trembesi memang rindang, tapi lahan untuk menanam Trembesi mesti luaaaaaaas banget. Bener ga ya milih Trembesi buat ditanam di sekitar Gedong Cai? 

Ah ya diawali niat yang baik, semoga segalanya baik-baik aja. Amin. 

Tahun 2015 saya pernah mengikuti acara bertajuk Jelajah Gedong Cai. Ada 3 tulisannya. Bisa dibaca di sini. Kondisi Gedong Cai yang sekarang saya lihat lebih terawat dibanding tahun 2015 dulu. Bagus atuh. 


Jadi lebih lengkap fotonya lihat di postingan yang itu aja ya hehehe. Sebenernya ada videonya sih. Tapi...video pake Lenovo A6000 jelek amat ya gambarnya. Dominan kuning terus agak pecah gitu deh. Mesti beli hape baru kalau mau bervideo euy. Ah ya ntar deh mikir dulu heuheuhheuheuheu...






Foto: Ulu
Teks: Ulu

Playlist #12: Di Ujung Ceracau Malam yang Lingsir

06/04/17
Minggu yang berat. Saya tumbang di tiga hari terakhir saat saya mengetik ini. Demam lah, batuk lah, susah tidur lah. Sebelum jatuh sakit, saya ke Jakarta. 

Jakarta itu ya, saya gak suka banget heuheuheu. Masa baru masuk Cikarang udah macet. Hari Sabtu yang saya kira agak lowong jalannya, ternyata macet. Di dalam kota pun sama aja. Arrrgghhhhhhh emosi jiwa. Mana sopir saya ngantuk dan sempet nyetir sambil merem pula...ihik! 

Ditarik ke beberapa hari sebelum sakit dan sebelum ke Jakarta, kerjaan numpuk kayak jemuran yang belum disetrika satu bulan. Ah senang sekali ya masih bisa sibuk hahahaha. 

Tabungan saya masih butuh sekitar 3 juta lagi menuju ke dua kota tujuan saya. Gak apa--apa deh sibuk, rela banget demi tabungan hahahaha. Apeeuuu. Tapi terus saya sakit dan rencana modar. Hahahaha. 

Sekarang saya udah sembuh dan rencana kembali diwujudkan. Let's go!

Playlist saya asyik-asyik nih (apeeeuuu 😁). Lagu favorit saya sekarang soundtracknya film Logan. Udah pada nonton Logan? Ah edan filmnya bagus pisan. Memuaskan, saya suka akhir filmnya yang sudah pasti tidak disukai kebanyakan orang. Sad ending, siapa yang suka sad ending coba? heuheuheu. Tapi emang begitu harusnya sih, bukan film ala-ala hollywood yang mau nyenengin semua orang. 

Ah anyway judul postingan ini saya ambil dari salah satu kalimat dalam lirik Si Pelanggan lagunya Silampukau. Band-band indie ini emang ya diksinya bagus-bagus. Kadang kala yang saya dengar dari lagu mereka cuma meratiin liriknya doang. Tapi kebanyakan pun musiknya bagus. FYI ini playlistnya:



Menelusuri Rumah Kuno di Kampung Arab Cirebon, Dimuat di Koran Pikiran Rakyat

04/04/17
Berikut ini karya kami (Indra dan Ulu). Tulisan saya tentang Cirebon dimuat pada surat kabar Pikiran Rakyat 12 Maret 2017. Sebenarnya saya mau ambil format korannya sih, ada format digitalnya gitu. Tapi mesti login ke websitenya Pikiran Rakyat (http://epaper.pikiran-rakyat.com/). Dan registernya susah sekaleeeeee. Saya coba beberapa hari ini gagal mulu. 



photo credit: T Bachtiar
Ah ya udah saya unggah tulisan awal sebelum diedit redaksi Pikiran Rakyat. Ya lumayan sih gak banyak juga yang diedit. Silakan dibaca. Tiga dari foto yang Indra jepret di bawah ini tayang juga dalam korannya. Untuk melihat foto lebih banyak, baca tulisan sebelumnya ya. Linknya di sini. 


******************************

Awal tahun 2017 saya datang ke Cirebon. Lawatan kali ini saya niatkan untuk melihat rumah-rumah kuno di Kota Udang tersebut. Dengan waktu yang terbatas, sebelum pergi saya riset data dan menyalin sebuah peta menyusuri kawasan bersejarah di Cirebon.  




Peta yang saya salin berasal dari buku berjudul Panduan Jelajah Kota-kota Pusaka di Indonesia, tulisan Emile Leushuis seorang geograf Belanda. Awalnya buku travel historical guide ini diterbitkan dalam bahasa Belanda. Tahun 2014 bukunya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Dalam peta tercantum titik keberangkatan di Keraton Kasepuhan. Saya memutuskan putar rute dengan memulai perjalanan di sekitar kawasan Panjunan.


Berderet Rumah Kuno di Panjunan Kampung Arab

Kawasan Panjunan adalah kampung arab. Sebagai kota pelabuhan yang pernah mashyur, banyak orang dari Mediterania dan Cina berdatangan ke Cirebon untuk urusan bisnis dan agama. Ada yang hinggah sebentar lalu pergi berlayar, tidak sedikit pula yang menetap dan bermukim di Cirebon.

Baru saja masuk ke mulut jalan Panjunan, langung terhampar pemandangan sebuah rumah tua yang  mewah. Terasnya luas dan pilar-pilar rumahnya terlihat perkasa. Meski nampak renta, rumahnya dalam kondisi sehat. Masih ada penghuni yang merawatnya.

Kembali berjalan, saya berulang-ulang takjub dengan rumah-rumah kuno yang saya temui. Hampir semua arsitekturnya belum pernah saya lihat di kampung halaman saya di Bandung.

Bukan hanya unik, beberapa rumah warna catnya mencolok mata. Didominasi warna hijau, merah, dan kuning, juga ukuran rumah yang mirip istana hingga ke rumah yang tipenya mungil, Panjunan adalah surganya rumah-rumah antik.

Seperti pada umumnya rumah kuno, jendela dan pintu rumah ukurannya tinggi dan besar. Jendelanya berbuku-buku, tapi ada juga jendela polos tanpa motif dan tekstur, bahkan yang berkaca patri masih banyak. Di bagian atas pintu dan jendela terdapat kerawang (ventilasi) dengan pola yang berbeda-beda dan cantik.  

Hampir tiap rumah memiliki teras dan 2-3 anak tangga di depan pintunya. Tidak semua rumah berpagar, hanya rumah-rumah besar saja yang dipagari.





Masih di Jalan Panjunan, kedua kaki saya pacu menuju sebuah masjid bersejarah: Masjid Panjunan, populer dengan nama Masjid Merah Panjunan.

“Panjunan asal katanya Jun, artinya tukang keramik,” ujar kuncen masjid Panjunan. Bapak Kuncen nampak semangat sekali ingin bercerita. Ceritanya berhamburan dari silsilah Sunan Gunung Jati, piring-piring yang menancap di dinding, hingga kisah Syarif Abdurakhman yang dijuluki Pangeran Panjunan yang berasal dari Baghdad, Irak.

Sebelum VOC datang, Cirebon termasuk kawasan tersibuk di Hindia Belanda. Di abad 16, Cirebon bukan saja menjadi kota pelabuhan terpenting tapi juga menjalin kerja sama dengan Kerajaan Mataram dari Jawa Tengah dan memiliki hubungan kekerabatan dengan raja-raja di Demak dan Banten. Ketenaran dan peran Cirebon di bidang perdagangan dunia di masa lalu ibarat Singapura di masa kini.

“Orang-orang yang dibawa Pangeran Panjunan itu cikal bakal kampung arab di sini”, tutur Pak Kuncen lagi. Lamunan saya tentang pelabuhan Cirebon pecah.

Bagi saya Masjid Merah Panjunan merupakan masjid yang unik. Masjid yang dibangun tahun 1480 ini bercitarasa nusantara. Gerbang masuknya berbentuk gapura seperti yang kita temui di candi-candi di Jawa Timur. Atapnya bertingkat terbuat dari sirap dengan ornamen gada di puncak atap. Bangunan masjidnya berbentuk limasan dengan dinding warna merah bata.  





Menurut cerita Pak Kuncen yang mukanya kerab-araban ini, dahulu orang arab yang tinggal di Panjunan hampir semuanya berprofesi sebagai pengrajin keramik. Keramik yang dibuat berasal bahan tanah liat. Sayang jejak pengrajin keramik sudah tidak ada di Panjunan. Saya beranjak ke Gang Pasewan.

Arsitektur rumah di Gang Pasewan berbeda dengan rumah-rumah di Jalan Panjunan. Bila di Jalan Panjunan terlihat seperti rumah hunian, di gang Pasewan rumah-rumahnya lebih mirip tempat berdagang dan gudang. Serambi atap rumahnya menjulur ke sisi jalan.

Meski dimiliki orang-orang arab, rumah di sini dihuni orang orang cina. Pasewan berasal dari kata ‘sewa’. Dahulu orang arab menyewakan rumahnya kepada orang cina. Gang Pasewan ini pendek saja jarak tempuhnya, sekitar 200 m.


Melintas di Kawasan Cina dan Bangunan Kolonial

Keluar dari Pasewan, saya masuk ke Jalan Pasuketan. Di sinilah kampung arab memudar, bangunan tionghoa dan bergaya kolonial memenuhi jalanan.  Sementara itu matahari Cirebon sudah membelalak dan air minum perbekalan saya ludes. Mencari warung, saya istirahat sebentar untuk berteduh dan membeli satu botol teh dingin.

Di Pasuketan saya melihat dua bangunan kolonial yang besar-besar. Satu terawat, satunya lagi seperti mati suri. Bangunan Belanda yang dibangun tahun 1920 itu kondisinya terawat dan menjadi kantor bank Mandiri.

Dari Jalan Pasuketan saya menyebrang jalan menuju Jalan Banteng. Terdapat sebuah bangunan maha besar dan panjang yang jadi primadona warga Cirebon sebagai latar swafoto. Gedung BAT namanya. Gedung yang pertama digunakan tahun 1924 ini merupakan pabrik sekaligus kantor rokok BAT (British American Tobacco). Siapapun yang melewati Jalan Banteng dan sekitarnya pasti menyadari betapa ‘raksasa’nya gedung yang sekarang kosong ini.

Abad 18 orang-orang cina memegang peranan penting di Cirebon. Meski dibatasi ruang geraknya oleh pemerintah kolonial, warga tionghoa di Cirebon bertambah jumlahnya dan berperan besar dalam urusan perdagangan. Mulanya mereka dipaksa pemerintah kolonial untuk bermukim di Jalan Pasuketan, Jl. Lemah Wungkuk, dan Jalan Talang saja.

Puas menatap gedung BAT, saya berbelok ke Jalan Talang. Terdapat tulisan petuah di pintu klentengnya. Sungguh sangat relevan petuahnya dengan fenomena hoax saat ini.  





Fakta menarik tentang Klenteng Talang adalah selain usianya yang sangat tua –dibangun abad 15- klenteng ini awalnya berfungsi sebagai pondokan dan tempat ibadah umat muslim tionghoa.

Saya melanjutkan perjalanan ke Jalan Kebumen dan Jalan Yos Sudarso. Berturut-turut saya memandang kagum gedung khas kolonial: bangunan SMPN 14 dan 16 (awal abad 20), kantor bermenara Gedung Pt. Cipta Niaga , Gereja Protestan tertua di Cirebon (1770), Gereja protestan St. Yosep yang dibangun oleh pastor sekaligus pemilik pabrik gula di tahun 1878, kantor Bank Indonesia (1919-1921), Kantor Pos Indonesia (1906), juga rumah-rumah hunian.

Jika membaca buku-buku yang memuat informasi sejarah, kisah dibalik bangunan kuno memang tidak seindah penampakan gedungnya. Ada tanam paksa, ada kerja paksa, ada pajak yang terlalu tinggi, ada monopoli perdagangan, dan hal lain yang kejam-kejam. Namun mengapresiasi kecantikan warisan bangunannya menurut saya bukan hal yang salah.

Sudah lewat pukul 1 siang, Cirebon sudah terlalu panas, hampir 3,5 km jarak berjalan kaki dan becak, saya kelelahan dan perut kelaparan. Saya putuskan berhenti berjalan dan menumpang becak.

Dari dalam becak saya kembali melewati beberapa tempat yang tadi saya telusuri, sempat pula terkantuk-kantuk ditiup angin pantai, dan berakhir dengan mata terbelalak akibat diklakson mobil di depan kami. Becak yang saya tumpangi melawan arah rupanya, saya pura-pura sibuk mengecek hp saja. Pengalaman yang menyenangkan dapat melihat-lihat bangunan kuno di Cirebon!


Jalan-jalan Wisata Bangunan Kuno, Kenapa Tidak?

Berkunjung ke luar kota, hampir semua kegiatannya saya jadwalkan dengan berwisata heritage dan wisata kuliner. Wisata heritage ada dua macamnya: budaya dan sejarah (cultural) dan alam (natural). Ada wisata budaya ke kampung adat dan masuk ke luar hutan larangan, misalnya. Ada pula wisata kuliner dan mengunjungi bangunan bersejarah.





Sayangnya belum banyak operator wisata bangunan bersejarah di kota-kota di Indonesia. Kalau pun ada biasanya berbasis komunitas, bukan operator bisnis tur.

Berikut ini hal-hal yang biasanya saya lakukan bila hendak menelusuri jalur sejarah sebuah kota dan melihat-lihat warisan bangunan kunonya:
  1. Riset data dari buku
  2. Browsing di internet, mencari data sekaligus komunitas sejarah di kota yang ingin kita kunjungi. Kontak dan meminta kesediaan mereka untuk menemani perjalanan kita. Ditemani warga lokal dapat membantu kita mencari informasi dari pemilik rumah dan warga sekitar, juga memberi rasa aman dan keleluasaan dalam memotret
  3. Bila anggaran terbatas, lakukan saja sendiri. Bila ingin menyusuri sejarah kota Medan, Jakarta, Cirebon, Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang, Malang, dan Surabaya, saya merekomendasikan Buku Panduan Jelajah Kota-kota Pusaka di Indonesia (penulis Emile Leuhuis, penerbit Ombak).  Dalam bukunya terdapat peta dan uraian
  4. Buat perkiraan waktu perjalanan: durasi berjalan, jarak tempuh, transportasi, pemilihan waktu



Menyusuri areal perkotaan sendirian dan beramai-ramai beda sensasinya. Tingkat keamanannya juga berbeda. Bila penampilan kita terlalu menonjol khawatirnya kita disasar jadi korban pencopetan, penjambretan, pemalakan, dan sejenisnya. Berikut ini tip agar kita dapat melebur bersama warga kota yang kita kunjungi:
  1. Gunakan pakaian sewajarnya dengan warna yang natural
  2. Tidak menggunakan perhiasan dan peralatan elektronik berlebihan
  3. Bersikap wajar, membumi, dan ramah kepada warga sekitar
  4. Kurangi swafoto berlebihan
  5. Minta izin bila ingin berfoto
  6. Selalu bawa uang receh untuk keperluan tak terduga, misal buang air kecil di WC umum berbayar, membayar ongkos becak, membeli air minum dan jajan di warung keci

Teks : Nurul Ulu Wachdiyyah
Foto: Indra Yudha Andriawan

Waktu Saya di Cirebon

02/04/17
Perjalanan ke Cirebon ini mau saya unggah dari kapan deh, baru sekarang terwujud. Abisnya saya kirim tulisan ke media cetak dulu, kalau mereka nerima tulisan saya dan memuatnya, baru saya tulis di blog. 

Dan tulisan ke dua saya di media cetak akhirnya nongol juga. Perjalanan saya di Cirebon tayang di surat kabar Pikiran Rakyat rubrik Backpacker tanggal 12 Maret 2017. Dan satu halaman aja getoooo 😍 

Tulisan sebanyak satu halaman di koran itu sebenernya cuma secuil dari acara jalan-jalan saya di Cirebon. Karena saya mampir juga ke Keraton Kanoman, makan Empal Gentong-Nasi Jamblang-Gombyang, ke Ciledug cari jejak Gedung Binarong yang pernah tersohor, ketemu masjid yang umurnya satu abad aja dooong, terus ke vihara yang ternyata udah legendaris juga, beeeww seru pisan. 

Pernah gak sih pergi jauh dari kampung halaman dan baru sadar kalau kampung kita ini 'banyak isinya'. Kayak saya tinggal di Indramayu & Cirebon terus umur 20an baru mutusin jadi orang Bandung. Jauh dari Indramayu dan Cirebon, saya jadi tahu mereka kayak apa. Khususnya Cirebon ya, karena literatur Indramayu belum saya banyak baca. 

Terus jadi mikir, duh kenapa waktu sekolah dulu saya gak diajak melaut? Karangampel kampung saya kan pinggir laut. 
Kenapa gak ada yang ngajakin saya waktu ada Nadranan?
Kenapa gak ada yang ngasitau ada yang namanya Ngarot dan Pesta Laut?
Kenapa waktu SMA gak ada trip berkunjung ke Keraton dan sekitarnya?
Kenapa gak ada kelas tari topeng waktu saya sekolah? 
Kenapa di sekolah gak ada pelajaran tentang Batik Pesisir?

Berada di titik saya hidup sekarang dan melihat masa lalu, hah ternyata emang pendidikan di kita ini jelek banget yah. Melihat gajah di seberang, semut di pelupuk mata tak terlihat. Udah gitu semua ajaran sekadar hapalan. 

Liburan di Cirebon cuma beberapa hari. Kayak biasa sebelum pergi saya udah baca-baca buku dan search di google. Misinya waktu itu menyusuri peta jalan kaki yang dibuat Emile Leushuis, makan empal gentong, dan melihat Gedung Binarong di Ciledug Kabupaten Cirebon.

Mission accomplished! 

Sebenarnya di Ciledug itu ada teman saya yang melangsungkan pernikah dan resepsi (helow, Rizky! semoga jadi pasangan suami istri yang rukun, saling mengasihi, & penuh cinta kasih ya 😀.) Saya diundang. Mumpung ke Ciledug kan saya pikir sekalian aja cari tahu ada bangunan tua apa di sana.

Seingat saya mah di daerah kabupaten Cirebon banyak pabrik gula. Browsing di internet ketemulah Gedung Binarong. 

Kampung Arab di Cirebon yang paling saya suka. Aslinya gak nyangka kalau pemandangan rumah-rumah kuno itu ada banyak di sana. Saya kan mikirnya cuma ikutin jalur di peta aja, gak ngarep apa-apa gitu. Ternyata rumah kunonya bagus-bagus sekaleeee. 

Keraton Kanoman juga sama menariknya. Datang ke keraton di Cirebon sebenarnya membangkitkan rasa sedih dan kasihan sih. Perasaan sedih ini keulang lagi. Ini kunjungan kami ke keraton yang udah ke beberapa kalinya sih. Rasanya kasihan aja lihat tempat yang pernah berjaya dan berkuasa sekarang nampak gak terawat. Barang-barang koleksinya juga ditaro ala kadarnya gitu. 

Klise banget tapi wisata di Cirebon bisa kayak wisata di Singapura kok. Cuma ya jalannya masih panjang kalau kita bergelutnya masih di korupsi, beras miskin, biaya pengobatan untuk rakyat tak mampu, pendidikan belum merata. Wew PR masih panjang bahkan buat 1 kota kayak Cirebon sekalipun....

Cirebon terasa lebih panas dari yang saya ingat dulu. Wajar juga sih. Antara perubahan iklim atau sayanya yang keenakan dengan cuaca di Bandung. 

Cirebon juga lebih modern, banyak hotel dan yang paling nyebelinnya nih: di pusat kotanya macet! wew...

April ini saya mau ke sana lagi sih, tapi mau jelajah Indramayu nih. Semoga kesampaian mengingat manusia cuma punya rencana (dan saat saya mengetik ini, saya baru sembuh dari sakit dan hampir 5 hari ini rencana saya gagal semua ahahahaha). 

Saya masih mode males buat ngisi blog nih. So segini dulu palingan nulisnya. Tulisan saya yang bahas Kampung Arab dan sekitarnya di Cirebon yang dimuat Pikiran Rakyat bisa dibaca di postingan berikutnya. Link di sini.

Berikut ini foto-foto yang cuma secuil dari semua foto yang Indra ambil. 






















Teks: Ulu
Foto: Indra

Vitasari, Toko Roti di Bandung Favorit Sayaaaa! (murah banget, enak pula hahaha)

15/03/17
Percayalah saya berusaha untuk bikin judul lebih berbudaya dan enak dibaca. Tapi ah yasudahlah begitu saja adanya. 

Vitasari adalah toko roti favorit kami. Saya udah langganan sekitar 6 tahun. Sementara orang yang mengenalkan toko ini pada saya, Indra, kayaknya udah 23 tahunan rajin jajan roti di Vitasari. 

Edan 23 tahun aja gituh! Lebih lucu lagi kalau saya ingat ekspresi muka sendiri waktu Indra ajak saya jajan di Vitasari untuk pertama kalinya. Ah toko roti biasa, pikir saya waktu itu. Indra mah seperti biasa gak banyak ngomong, saya disuruh nyobain sendiri. 




Ternyata rasanya enak amat ya buat harga yang cuma tiga ribu empat ribu ☺

Kalo dateng ke Vitasari tuh ya hwuidih rame amat tokonya. Bayar aja antri. Apalagi toko Vitasari di Kurdi kayaknya gak pernah sepi. Jadilah kami lebih sering jajan rotinya di Vitasari Buah Batu yang rada lengang. 

Emang kayak apa rasanya sih rasanya kok rame banget tokonya. Udah gitu kalau jajan roti kesorean banyak yang udah abis deh rotinya. 

Sebenernya tokonya biasa aja sih. Gak ada bentuk-bentuk yang istimewa kalau diperhatiin penampakannya. Gak instagram banget. Namanya aja Vitasari: gak puitis, gak berbahasa inggris, gak cute. 

Tapi kalo udah rasa dan harga, istimewa luar biasa. Roti di Vitasari paling banter harganya 3.700. Di mana bisa beli roti yang enak, tempatnya bersih, dan harganya murah sangat euy?

Isi rotinya juga murah hati banget. Gak pelit. Bukan yang tipe rotinya banyak, kejunya setipis & sependek batang korek api. Hehehe.

Ukuran rotinya gak gede-gede amat sih. Ya tapi gak imut-imut kayak roti unyil juga. Standar roti aja gimana. Tahu Roti Boy kan? ya kira-kira segitu lah ukurannya. 

Dibanding toko roti favorit saya lainya, Vitasari ini yang paling muda. Rasanya juga beda kok. Kebanyakan toko roti favorit saya kan toko-toko tempo dulu. Kayak Sumber Hidangan, misalnya. Vitasari mah rasa rotinya modern. Sementara Sumber Hidangan rasanya bule banget. Roti Djiseng juga beda banget rasa dan teksturnya. Intinya sih roti-roti favorit saya berbeda-beda rasanya. Mau saya ajak cobain satu-satu gak? wkwkwkwk saya mah mau aja da. 

Kalau ke Vitasari cobain roti rasa apa dong? Semuanya! hahaha. 

Roti kacang merah 3.700 (highly recommended)
Roti pizza ayam pedas 4.000 (highly recommended)
Roti jagung keju 4.000 (highly recommended)
Roti egg cheese 4.200
Roti nangka keju 4.000
Roti keju 3.500
Roti krim keju 3.700
Roti sarikaya 3.700
Roti cokelat kacang 3.700
Roti tawar 12.000 (highly recommended)
Roti pizza sosis 4.300
Roti vanila 3.700 
Dan roti lain-lainnya. 

Vitasari ada di mana?

Vitasari di Kurdi
Kompleks H Kurdi No 47-49, Jalan Moh Toha

Vitasari di Buah Batu
Seberang Domino dan McD

Vitasari di Cihapit
Samping Pasar Cihapit

Makan Soto Karapitan yang Bukan Soto Bandung

13/03/17
Saya baru aja makan soto enak banget oooh ya Tuhan enaknya terbayang-bayang sampai sekarang! 

Jadi gini. Kami bertiga main ke tokonya Eiger di Jalan Sumatera, hari Sabtu (11/3/2017). Bukan buat belanja produknya Eiger sih, tapi melihat presentasinya Don Hasman terkait perjalanan beliau menyusuri Jalur Perak ke Santiago Via De Plata. 

Seharusnya acara mulai jam 16.00. Terus molor dong abis jam 18.00 baru mulai. Telat karena di saat yang sama di lokasi yang sama ada syuting untuk web seriesnya Eiger. Ada Ramon Tungka (muka dia kenapa legeg banget ya :D), si cantik Nadine Chandrawinata (yang menurut saya gak usah ngomong karena kalo dia ngomong kesan cantiknya jadi pudar alias peupeus), dan ada Ringgo Agus Rachman. 

Tiga artis itu syuting web series Eiger. Tapi saya kan mau nonton Don Hasman ya, bukan syuting artis-artis. Ah euy kami bertahan demi Don Hasman. Nasib rakyat biasa emang gini nih ditunda-tunda terlunta-lunta. Gak dapet kompensasi wkwkwkwk molor 2 jam kuduna udah udah dikasih snack. Becanda ketang :D

Jam 5 sore perut saya lapar. Nabil yang awalnya asyik mewarnai mulai bosan. Kami menyusuri jalan Sumatera dan Lengkong cari makan. Beli nasi uduk + ayam goreng, kembali ke toko Eiger dan makan. Indra gak makan. 

Mati-matian nih saya jagain mood Nabil biar gak tantrum, yah akhirnya tantrum juga sih. Uhuhuhu. Tapi Indra yang ngurusin hahaha. Saya mah tetep dengerin paparan Don Hasman yang berjalan kaki sehari 10 km/hari selama 1 bulan menempuh jarak 1.006 km. 

Don Hasman, buat yang belum tahu, umurnya gak muda lagi. Tapi beliau forever young! 76 tahun dan masih sanggup menempuh jarak 1000 km jalan kaki. Edan. 

Sudah menghasilkan karya 2 buku dan melakukan berbagai ekspedisi di Indonesia dan dunia, Don Hasman boleh banget angkuh. Tapi beliau baik sekaliiii, rendah hati banget, dan sopan banget. Berkali-kali beliau minta maaf karena acaranya molor. Duh saya kan jadi gimana ya, gak enak sendiri heuheuheu. 

So, udah beres dengerin ceritanya Don Hasman, kami bergegas pulang. Malam minggu di Bandung gak rame-rame amat. Jalan Sumatera lengang. Kalau ke Jalan Asia Afrika dan Braga ya pasti rame sih. 

Lapar lagi (saya) dan beneran lapar (Indra), kami putuskan makan soto di tepi Jalan Karapitan. Kayaknya enak nih cuaca lagi dingin dan berangin, mana terlunta-lunta dua jam pula aheuheuheu. Soto pilihan paling oke untuk kami saat itu. Gak kepikiran menu yang lain. 

Di Soto Karapitan kami berlabuh. Kesan pertama? tempatnya bersih. 

Biasanya yang bersih-bersih enak nih. Kata Indra. 
Mudah-mudahan. Kata saya. 

Soto terhidang di hadapan kami. Hmm penampilannya biasa aja. Kuah soto agak bersantan, bukan soto bandung yang ciri khasnya berkuah bening. Wangi soto menguar memenuhi rongga hidung kami. Perut langsung meronta-ronta. 

Satu suap. Dua suap. Tiga suap. ENAK SEKALIIIII! Kami gak berhenti makan sampai tetes kuah soto terakhir. Ugh semuanya enak gak ada yang fail. Daging ayamnya, kuahnya sampai ke potongan daun bawang saya gak sisain. 

Capek dan agak kesel-keselnya hilang. Terus badan jadi rileks banget deh. Sayang mesti lanjut pulang. Kalau keluar lapak sotonya langsung ada kamar kami mah enak bisa langsung tidur ya hehehe. 

Bisa jadi sih sotonya terasa lezat karena kami lagi capek dan butuh kehangatan *halah* :D tapi saya gak nolak untuk kembali ke sini, capek atau gak capek. Yes, secara resmi kami jadi pelanggan Soto Karapitan ini. 

Kayaknya ada nama resminya: Soto Cak Ardi. Soto jawa timuran sih ya kalau baca namanya. Walo begitu cocok juga dimakan di Bandung. 

Lokasinya di seberang toko Rangkas. Bukanya sore ke malam. 

2 soto ayam + 1 nasi + 2 kerupuk totalnya Rp29.000








Foto : Ulu
Teks : Ulu

Jalan-jalan dengan Anak di Bandung, ke Tempat (yang agak) Gratisan! wkwkwkwk :P

08/03/17
Apa yang saya pikirin kok bikin judul tulisan gitu amat ya 😂

Ah anyway empat tahun ini pasti deh ada yang nanya: jalan-jalan di Bandung sambil bawa anak enaknya ke mana?

Ditambah dengan status saya yang punya anak satu. Ya makin sering ditanya pertanyaan kayak gitu.
Sejujurnya saya sering gak pede apa jawaban saya bakal berguna untuk yang nanya. Karena:
1. Saya jarang banget bawa anak saya ke wahana permainan berbayar
2. Definisi tempat yang ramah-anak bagi tiap orang kadang beda

Baca juga : Kopi Penyebab Sakit Maag?

Terus saya pikir-pikir eh kenapa saya gak bikin kategori tempat yang ramah-anak dan gratisan aja ya? Kayaknya kalau dikasih embel-embel 'gratis' ya banyak maklumnya, sedikit protesnya wkwkwkwk. 

Oke setelah saya pikir-pikir sendiri dan bertanya kepada teman-teman yang baik di Facebook, maka tempat yang ramah anak di Bandung adalah:


T A M A N  K O T A

Taman kota di Bandung ada banyak. Bukan puluhan sih jumlahnya, ya seenggaknya bertambah lah sejak RK jadi walikota. Mayoritas tamannya ada di pusat kota. Emang belum merata sih  penyebaran taman kota di Bandung yang luas ini.


Alun-alun

Dari semua taman di Bandung, yang jadi favorit saya adalah Teras Cikapundung dan Balaikota.

Di Teras Cikapundung ada kolam air/ikan. Anak saya kan suka nontonin ikan-ikan berenang. Kalau gak salah di sini boleh nyemplungin kaki ke kolam. Kakinya aja lho ya bukan main air sebadan-badan.

Satu hal yang buat saya unik sih pengalaman menikmati pemandangan sungai dan pepohonan yang ada di Teras Cikapundung. Biasanya sungai kita abaikan. Selalu jadi halaman belakang.

Ini mah enggak. Sungai alami (sungai Ci Kapundung) jadi pemandangan utamanya. Meski keberadaan taman ini kontroversial (karena penggusuran kampung) dan saya ikut sedih sih. Cuma saya juga gak bisa mengabaikan fakta kalau tempat ini jadi bagus, enak dilihat, nyaman buat rekreasi singkat di kota.

Ada jembatan melintang di atas Ci Kapundung. Bagus deh warna merah menyala, bagus buat frame foto kalau lagi sepi sih hahaha kalau banyak orang mah ya photobomb di mana-mana 😁

Taman Balaikota tempat favorit saya sejak pertama kali tinggal di Bandung 15 tahun lalu. Ada banyak pohon, suasananya teduh dan adem. Walau ada di tengah kota, buat menepi dari keramaian tuh Balaikota udah paling cocok.

Di satu areal Balaikota kini terbagi jadi beberapa taman: Taman Sejarah, Taman Dewi Sartika, dan Taman Badak. Kegiatan apa aja yang bisa dilakukan di taman kayak gini?

Ya gitu aja buat mewadahi sifat alami anak-anak ayng gak bisa diem. Lari dan loncat, orang tuanya ngejer anaknya yang berlarian 😂  engga ding becanda hehehe. Emang gitu-gitu aja sih di taman umum kan bukan Dusun Bambu yang ada wahana bermainnya.

Kalo ke Balikota:
Bawa pakaian salin, ada 3 kolam air. Bukan kolam renang ya tapi buat kecipak kecipuk aja.
Bawa sepatu roda, bisa keliling main sepatu roda.
Bawa perbekalan makanan, makan di taman, sampahnya buang ke tempat sampah ya.
Foto-foto.
Saya perhatiin ada aja yang suka nari-nari di taman ini.
Bawa sepeda (agak riweuh kalo hari sabtu minggu bersepeda di sini).

Sejujurnya dengan keramaian kayak sekarang di Balaikota dan muncul aneka rupa taman, saya merasa tersingkirkan.

Paling enggak tiga tahun lalu saya masih bisa ngobrol di sini dengan tenang dan syahdu. Bawa buku, baca sampai terkantuk-kantuk dengan nikmat.

Sekarang agak sulit karena Balaikota ramai sekali. Terutama di hari Sabtu dan Minggu. Seliweran ratusan anak-anak bersepatu roda, ibu-ibu berteriak memanggil anaknya, dan bau asap rokok dari para ayah yang menemani anak istri.

Gak terlalu masalah sih toh buat saya sekarang waktu terbaik ke Balaikota dan Teras Cikapundung ya di hari kerja, bukan di hari libur.



Taman lainnya yang cocok buat anak-anak (dan orang tuanya -plis orang tua dan orang dewasa lainnya jangan merokok di taman euy):

Taman Vanda di seberang Balaikota: kalo malem ada air mancur warna-warni. sekitar jam 7 malam lah. Kalau lagi terang hari mah panas di sini. Kecuali spot buat duduk yang dinaungi pohon lebat.

Taman Kosambi di Jalan Veteran/Kosambi: Taman tanpa pepohonan besar. Cocok datangnya kalau pagi dan sore hari karena adem. Kalau siang mah panaaasss.

Taman Fotografi di Jalan Cempaka/Anggrek: Terakhir ke sana ada ayunannya. Yah lumayan lah lahannya buat berlarian dan guling-guling menyalurkan tantrum anak. Hehehe.

Taman Lansia di Citarum sebelah Gedung Sate : Adem di sini mah banyak pohon. Kalau sore dingin.

Taman Peta di Jalan Peta : belum pernah ke sini.

Taman Superhero di Jalan Anggrek : cocok kalau anaknya superhero maniak.

Dan Alun-alun Kota Bandung! 

Taman Otten : taman imut-imut, lihat patung Trex doang sih di sini

Taman Lalu Lintas juga oke banget tapi berbayar ya, tiketnya Rp10.000/orang.



M U S E U M

Sejauh ini saya belum nemu museum yang menyenangkan buat anak-anak selain Museum Geologi! Itu juga menarik karena rangka berbagai dinosaurusnya (Trex) sih. Bikin museum yang atraktif masih jadi PR di Bandung. RK sih katanya mau bikin Museum Sejarah Bandung. Menarik juga saya pengen tahu kayak gimana museum yang dibuat pengawasan arsitek kayak RK ini.


Walau belum ada yang sempurna, museum yang cukup oke buat anak-anak di Bandung apa aja?

Museum Geologi : tiket masuk Rp3.000. Terdiri dari tiga lantai, sepertinya anak-anak sih lebih senang berada di lantai 1. Museum sejuta umat sekolahan nih. Semua rombongan study tour sekolahan pasti mampir ke sini.

Lokasi di Jalan Diponegoro, dekat Gedung Sate

Museum Konperensi Asia Afrika : yah lumayan lah walau anak kecil kayaknya gak tertarik banget lihat artefak bersejarah seserius sejarah KAA 1955. Tapi kalau anaknya terbiasa kita dongengin dan anaknya senang menyimak, ya bisa lah dicocokin nih museumnya.

Lokasi di Jalan Asia Afrika

Museum Sri Baduga : museum sejarah kerajaan-kerajaan nusantara, terutama di Tatar Priangan. Lumayan sih di sini penampakan koleksinya 3D jadi anak-anak bisa aja suka melihatnya, juga bisa bosan. Tergantung cara pendampingnya cerita. Hehehe.

Lokasi di Jalan BKR

Museum Puspa IPTEK Kota Baru Parahyangan : belum pernah ke sana, denger dari teman-teman sih cocok buat anak-anak. Coba dibrowsing dulu ya :D

Lokasi di Kota Baru Parahyangan Padalarang

Museum Pos Indonesia : seperti namanya, museum ini menampilkan koleksi sejarah pos di Indonesia. Sebenernya lebih cocok untuk orang dewasa sih. Tapi bawa anak kecil ke sini pun gak masalah.

Museum Pendidikan Nasional : yak betul museum ini bau-baunya akademis banget. Memajang koleksi sejarah pendidikan di Indonesia sejak zaman kolonial sampai sekarang. Kalau saya anak-anak ya museumnya ngebosenin sih, mungkin saya bakal lari-lari naik turun tangga, lihat koleksi cuma 2 detik dan lanjut lari-lari (yang mana anak saya kayak gitu heuheu).

Lokasi di kampus Universitas Pendidikan Indonesia

Museum di Bandung sebenarnya lebih banyak dari yang saya tulis ini sih. Cuma kalau dipikir-pikir cocoknya buat orang dewasa, untuk anak-anak pun bisa sih dicocokin.

Museum Barli
Museum Mandala Wangsit Siliwangi
Museum Mainan
dan beberapa museum mungil lainnya yang saya lupa namanya tapi kalau ingat saya langsung ketik di sini 😁


K A M P U S! 

Emang bisa jalan-jalan di kampus? Bisa banget. Gak semua kampus sih. Buat saya cuma ada dua kampus di Bandung yang bisa mewadahi kebutuhan jalan-jalan baik sendiri atau bersama anak. Mereka adalah:

Institut Teknologi Bandung - ITB (kampusnya Indra, horeee!)
Universitas Pendidikan Indonesia -UPI (kampus saya, *gak mau kalah* horeee!)

Vila Isola, Universitas Pendidikan Indonesia

Beruntungnya kami tinggal di kawasan Bandung Utara, lokasi di mana dua kampus tersebut berada.

Kedua kampus itu luas banget arealnya. Masih lebih luas UPI sih sebenarnya. ITB kampusnya memanjang lurus, kalau UPI kampusnya menyebar luas belok-belok gitu.

Apa serunyajalan-jalan di kampus kayak gitu?

Ya enak aja jalan kaki, adem banyak pohon. Kedua kampus ini bersejarah dan terdapat bangunan peninggalan kolonial. So ya seru aja nongkrong di pelataran bangunan kunonya. Kayak di UPI, ada Vila Isola. Anak saya palingan menggambar, lihat ikan, lari-lari, loncat-loncat 😂

Toh jalan-jalan bersama anak gak mesti naik kuda, menumpang kereta mini listrik, main ayunan dan perosotan. Saya pernah bikin tulisan super pendek waktu jalan-jalan di ITB.




B A C K  I N T O  T H E  N A T U R E

Ini kayaknya cocok buat orang tua yang suka jalan-jalan kategori alam.



Tahura - Dago Pakar : tempat ini udah paling kid-friendly buat standar jalan-jalan di hutan. Karena Dago Pakar menurut saya sama sekali gak hutan. Kalau ibu bapaknya gak pernah piknik ke hutan, ke Tahura udah paling pas. Capek tinggal panggil ojeg. Ada banyak warung. Ada toilet. Ada penangkaran rusa. Ada children playground. Tiket masuk 12.000

Jayagiri - Lembang : nah ini mah beneran hutan. Kalau ibu bapaknya udah biasa berkegiatan di alam, cocok lah bawa anaknya jalan-jalan ke sini. Kalau disusuri terus menanjak tanpa putus, Jayagiri berujung ke Tangkubanparahu. Kalau capek, ya balik lagi ke pintu masuk di Jayagiri. Tiket masuk gak tahu berapa, murah kok.

Kareumbi : di Bandung Timur dan saya belum pernah ke sana hahaha. Katanya ada rumah kayu, juga kawasannya masih sepi. Boleh nih kapan-kapan ke sana, sesegera mungkin ah!

Gunung Puntang : saya pernah ke sini, tapi gak bawa anak. Perjalanan saya di kaki Gunung Puntang berakhir di sebuah sungai yang airnya bersih, jernih, dan segar. Picnic goal banget bawa Nabil ke Gunung Puntang. Lokasinya di Bandung Selatan arah Ciwidey. Tiket masuk gak tahu berapa.

Gunung Nini - Malabar : pernah ke sini juga beberapa tahun lalu, tapi lagi-lagi gak bawa anak. Malabar adalah areal perkebunan di Pangalengan Bandung Selatan. Pemandangannya bagus deh, ijo-ijo daun teh melulu. Gunung Nini sebenarnya bukan gunung, tapi bukit tertinggi di wilayah Malabar. Nanjaknya juga gak parah kok landai aja. Bisa kali hiking ke Gunung Nini, palingan jalan kaki 1-2 jam. Turunnya bisa lebih cepat. Seneng bisa jalan-jalan di antara wangi pepohonan dan daun teh. Segar rasanya. Palingan kalau pagi ya panas aja sih. Panas tapi sejuk. Picnic goal bawa Nabil ke sini!

Feel free untuk bertanya, tinggal drop pertanyaannya di komen. Mau nambahin juga boleh. Biasanya kalau ke Bandung bawa anak pada jalan-jalan ke mana aja?




Teks : Ulu
Foto : Indra, Ulu