Social Media

Enam Ribu Langkah Kaki itu Berhenti di Hadapan Dua Pohon Puring Rumah Kabupaten

18/10/26

Masih pukul tujuh pagi dan inilah waktu yang cocok berolahraga. Jalan kaki saja sekitar rumah, bagaimana? tanya saya pada Indra. Dia setuju. 


Syukurlah 6.846 langkah kami kami lalui. Kerasa sehatnya. Kecuali bagian di mana kami jajan gehu, bala-bala, dan leupeutnya. Yang itu kerasa wareg (dan kolesterolnya). Hehe. 


Indra membawa kameranya. Saya juga memotret dengan hp saja. Indra memoto bunga dan kembang-kembangnya. Saya memoto kucing dan pagar rumah. 


Di suatu ruas jalan saya lihat gerbang pagar rumah yang cantik sekali. Sepertinya rumah tersebut berasal dari tahun 70an. Rumah berlantai satu. Halaman luas kalau buat ukuran rumah zaman sekarang. Ada banyak sekali pohon di area rumah. Di luar pagar ada dua pohon puring yang berdiri manis bagaikan gapura. Satu pohon di sisi kiri dan lainnya di sisi kanan.

 



Wah cakep sekali rumahnya ya! ucap saya, Indra sepakat. "Tapi mungkin banyak nyamuk," kata Indra. Iya juga sih. "Ah bisa pake lotion antinyamuk kali, atau Baygon," jawab saya lagi. Hahaha masih zamannya tidak sih membunuh nyamuk dengan obat semprot?


Kami berdiri cukup lama di depan pagar itu. Semoga orang rumah tidak melihat kami. Dipikirnya mau minta sumbangan nanti. 


Saya bercerita pada Indra tentang pengalaman mengunci gerbang pagar rumah setiap malam pukul sembilan di Rumah Karangampel (di Pantura). 


Rumah Karangampel ada di tepi jalan besar. Karena itulah gerbang pagar harus dikunci saat malam. Namun baru bisa saya kunci di atas pukul delapan karena terkadang ayah masih ada kegiatan di luar, begitu juga adik-adik yang mungkin kegiatannya main sepakbola atau les. 


Tentang mengapa saya yang mengunci gerbang, mungkin karena saya anak sulung berzodiak capricorn. Bisa jadi sesederhana ibu sering menyuruh saya sehingga secara otomatis saya mengunci gerbang itu tanpa disuruh, setiap hari. "Teh, kunci dulu gerbang!" perintahnya begitu, atau "teeeh, gerbang sudah dikunci?" pertanyaan yang terdengar seperti perintah. 


Ada dua pohon mangga besar di halaman rumah. Cabang-cabang pohonnya menaungi pagar. Suasana malam di Karangampel akhir tahun 90an dan awal 2000 masih sangat sepi. Kalau kamu borangan seperti saya maka pekerjaan mengunci gerbang dengan gembok itu namanya uji nyali. 


Sepi senyap. Gelap, cahaya datang hanya dari lampu teras. Pohon mangga yang hitam dan besar. Belum lagi merebak rumor hantu bernama Daska (endas laka, hantu tanpa kepala) dan Setan Payung gentayangan. Takut sekali mereka berdiri di hadapan atau berada di belakang punggung saya. 


Supaya tidak takut-takut amat saya bisa saja membiarkan pintu (ruang tamu) rumah terbuka. Namun tidak mungkin. Nyamuk-nyamuk pantura yang gagah dan ganas itu akan menyerbu. Kepada nyamuknya saya tidak gentar, marahnya ibu lebih menyeramkan. 


Gara-gara sebuah gerbang pagar rumah itu saya jadi cerita banyak sama Indra. Menyenangkan sekali bisa cerita seperti ini. Mengalaminya sendiri dulu sih aduh aduh saya tidak menyukai jobdesk mengunci gembok gerbang rumah. 


Kami lanjut jalan kaki lagi dan gantian Indra yang giliran cerita. Masih kemarau meski sudah bulan oktober. Cahaya mentari makin menyengat. Kami pulang ke rumah. 


Post Comment
Post a Comment