Social Media

Image Slider

Showing posts with label Travel. Show all posts
Showing posts with label Travel. Show all posts

Berkunjung Ke Museum Rumah Peranakan di Jalan Gambiran Parakan

24/03/23

Ada seorang arsitek, seniman, kolektor, sekaligus pebisnis tembakau yang kebon tembakaunya berada di Parakan. Chris Darmawan namanya. Ia membeli rumah tua di Parakan dan mengkonservasinya. Tahun 2022 rumah tersebut menjadi rumah percontohan museum peranakan dan menjuarai Ikatan Arsitek Indonesia Heritage Awards. 

 

 

museum rumah peranakan parakan


Ini rumah dengan kondisi paling segar dari empat rumah yang saya kunjungi di Parakan. Bersih dan sangat terawat. Rumah ini sebetulnya adalah rumah lama yang sudah melalui proses konservasi. Oleh Pak Chris rumah ini dijadikan museum dan galeri rumah peranakan. Beliau sendiri kini bermukim di Semarang, tapi semasa kecilnya hingga bangku SMP ia tinggal di Parakan.


Peranakan tionghoa adalah budaya percampuran yang terjadi karena pernikahan antara orang tionghoa dengan orang indonesia.


Di kota Parakan ini percampuran budaya terjadi  dengan etnis Jawa. Dalam proses akuturasi budaya tersebut, pengaruh budaya kolonialnya ikut bercampur mengingat saat itu pemerintah kolonial yang berkuasa.
 

Museum inilah yang memperlihatkan campuran budaya tersebut. Terdiri dari dua bangunan, ada gaya tionghoa dan eropa di sini. Di antara kedua bangunan tersebut ada taman kecil tanpa atap.


Bangunan di depan bergaya peranakan tionghoa. Lengkap dengan altar sembahyang dan berbagai perabotan khasnya. Bangunan kedua bergaya kolonial, lebih kelihatan western karena ada dekorasi melengkung yang katanya Mas Bayu, pemandu saya, itu khas eropa.

Museum ini berpagar pendek, ada dua daun pintunya. Meski ada teras sempit, dari pagar kita langsung ketemu pintu rumah dan dua pintu jendela di sisi kanan kiri. 


Rumah-rumah tua yang saya saksikan di Parakan penampakan luarnya sederhana dan tidak terlalu mencolok kecuali ukuran tembok bangunan yang tinggi. Namun tunggu sampai kamu lewati pintu masuknya. Barulah terlihat kemegahannya yang memukau. 

 

Di museum ini sebelum masuk lewati pintu, Mas Bayu si pemandu meminta kami mendongakkan kepala. Di atas kami ada Thawkong, penyangga kuda-kuda yang menonjol ke luar. Wah indah sekali peyangganya, craftmanship tukang-tukang zaman dulu memanglah rumit dan penuh detail. Ukirannya mengagumkan dan njelimet.

 

museum rumah peranakan parakan 

museum rumah peranakan parakan


Dalam buku Living Heritage Parakan disebut “kuda-kuda itu bukan sekadar bagian dari struktur bangunan, melainkan dibuat untuk menyenangkan mata yang memandangnya. Indah tanpa mengurangi kegaharannya sebagai penyangga kuda-kuda”. Dekorasi zaman dulu memperhatikan sekali kerinciannya sampai-sampai hal yang luput dari mata biasa saja tetap dibuatnya penuh dedikasi dan cantik sekali. 

Masuk ke dalam bangunan kita akan bertemu altar sembahyang. "Rumah peranakan pasti ada altarnya," kata Mas Bayu. Semua rumah peranakan yang saya kunjungi altarnya berada tepat di hadapan pintu masuk rumah. Ada juga yang agak menyamping sedikit seperti di Omah Tjandie tempat saya melihat pembuatan Bolu Cukil Cap Tomat.

Di sisi kiri dan kanan ada ruangan tanpa pintu, ada kursi-kursi jati khas tionghoa di sana. Alas duduknya batu marmer. Enak betul saat kududuki terasa sejuk dan adem ke bokong. 


Dekorasi guci tersimpan di berbagai pojok ruangan. Saya khawatir salah gerak sehingga menyenggol gucinya. Guci-guci kuno berusia ratusan tahun soalnya. Bila membawa anak kecil sebagai peserta tur baiknya diaping betul-betul di sini.

Pak Chris menjaga ruh rumahnya seperti dahulu kala. Lantai dalam museum berupa tegel berwarna hitam pola kembang. Meski pola tegelnya terlihat antik, tapi cetakannya baru. 

 

Bukan hanya arsitekturnya yang diperhatikan tapi juga sampai ke perabotannya: foto, lukisan, meja marmer dan kayu, kursi berukir yang kayu swancinya didatangkan dari Tiongkok, guci-guci kuno, lampion,  ranjang, sampai tempat menggantung sandal dan kain, juga wadah untuk mencuci wajah lengkap dengan cerminnya.


Saat membeli rumah tua ini, Pak Chris memang bertujuan mengembalikan rumah ke kondisi kejayaannya. Proses konservasi dilakukan dengan riset agar rumah tersebut lahir kembali dan semirip mungkin dengan kondisinya dahulu saat dihuni pemilik pertama rumah, keluarga Siek Kiem Tan. 


Kepemilikan rumah ini berpindah-pindah tangan. Mulanya milik Siek Kiem Tan, juragan gambir yang bisnisnya moncer sampai-sampai gambirnya diekspor. Siek Kiem Tan wafat tahun 1935.


Mas Bayu pemandu dari PIPPA cerita bahwa gambir digunakan sebagai pewarna pakaian. Selain tembakau, Parakan ini surganya gambir. 

Saking kesohornya keluarga Siek dan bisnis gambir, juga rumah-rumah tinggal lainnya yang berbisnis sama, lokasi rumah mereka bernama Gambiran. Kini nama jalannya menjadi Tejo Sunaryo. Namun warga Parakan masih menyebutnya jalan gambiran.

 

museum rumah peranakan parakan

museum rumah peranakan parakan

 museum rumah peranakan parakan

 

Selain mongkonservasi bangunan tua, Pak Chris juga berinisiatif membuat buku mengenai rumah-rumah tua di Parakan. Judulnya Living Heritage Parakan. Penulisnya Lily Wibisono dan fotografernya Feri Latief. 

 

Saya membaca bukunya di perpustakaan Telkom University di Bandung. Setelah membacanya, terasa betul penyusunan buku ini sangat istimewa. 

 

Bukan saja ia mengarsip proses konservasi rumahnya sendiri, tapi juga meriset rumah-rumah kuno yang berada di Parakan. Ada wawancara dengan pemilik rumah. Riset dan pengumpulan datanya pasti gak mudah. Saya merasa beruntung sudah membaca bukunya dan akhirnya bisa juga berkunjung ke Parakan.


Kuharap kota-kota lainnya di Indonesia juga mendapatkan anugerah seseorang dengan privilege seperti Pak Chris. Harusnya ini tugas pemerintah sih tapi ya sudahlah bisa ngarep apa dari pemerintah


Di youtube ada arsip diskusi #ObrolanHeritage 54 bertema Parakan: Living Heritage, diskusi ini berlangsung saat pandemi tahun 2020. Saya mengakses videonya karena penasaran saja apakah yang diobrolkan ada rumah yang saya datangi. Ternyata iya. 

 

Dalam diskusi tersebut Chris Darmawan cerita bahwa rumah yang jadi museum peranakan itu tidak menggunakan semen dalam pembangunannya. Sebab itulah di proses konservasi dia juga melakukan hal yang sama.


Jadi Pak Chris menggunakan campuran bata merah yang ditumbuk, batu kapur, dan pasir. Komposisinya 2:1:1.  Ia juga mengatakan rumah tersebut tidak menggunakan bata merah tapi bata mentah yang terbuat dari campuran tanah dan air. "Tebal batanya 50 cm," katanya lagi. Bahan bakunya memang tidak ada lagi sehingga Pak Chris menyiasatinya dengan teknik yang kira-kira mirip. Mungkin begitu. 


Ini wujud rumah lama yang baru. Saya melihat foto-foto lama rumah ini sebelum ‘dibersihkan dan diperbaiki’ dan berada di dalamnya hari itu rasanya seperti melihat sesuatu bangkit dari kuburnya, dalam makna yang baik.


Mengunjungi museum peranakan ini sepertinya harus by appointment dulu. Kontak PIPPA untuk mendapatkan izin dan panduannya.

 

Saya beruntung bisa menyaksikan rumah peranakan yang kini jadi museum tersebut. Makasih, Alon Mlampah yang ajak saya berkunjung ke Parakan.

museum rumah peranakan parakan

Omah Tangsi, Penginapan di Parakan

22/03/23

Rumah-rumah tua di Parakan ada namanya. Omah Tangsi rumah pertama yang saya lihat di Parakan. Lokasinya di Jl. Brigjen Katamso no. 11. Warga Parakan menyebutnya Jalan Ngadirejo. Rumah antik ini pernah jadi asrama polisi. Dari sanalah kata Tangsi berasal.  


omah tangsi parakan


Tercium hawa pegunungan saat turun dari mobil yang saya tumpangi pada minggu 12/03/2023. Kami tiba di Omah Tangsi. 


Gunung merapi baru mengeluarkan abu vulkaniknya hari kemarin. Abunya masih berjatuhan ke Parakan. Seperti salju tapi membahayakan paru-paru. Karenanya cuaca di sini panas menyengat dan saya harus bermasker. Temperatur pukul 12 siang 28 derajat celcius. 

Halaman depan Omah Tangsi berupa taman. Cukup luas ukuran tamannya. Terdapat ornamen tionghoa patung-patung kilin di taman dan mulut teras.

Dalam buku Parakan The Living Heritage karya Chris Darmawan, rumah ini disebutkan berlanggam American Queen Anne Style. Ciri-cirinya pola bangunan tidak simetris, sisi kiri dan kanan bangunan tidak sama. 


Dalam buku tertulis “selalu terdapat sepasang atau satu menara dekat pintu masuk, di depan pintu masuk terdapat teras kecil, seringkali beratap terpisah. Atap bersudut, tidak pernah rata. Bahan bangunan dan warna bata dominan. Langgam ini tidak sedikit ditiru di kota-kota di Jawa pada perempat pertama abad ke-20.”

Betul-betul rumah yang cantik. 

 

omah tangsi parakan

omah tangsi parakan

 omah tangsi parakan

 

Bangunan ini sekarang berfungsi sebagai penginapan. Di kamar-kamarnya kulihat ada ranjang tiga berjejer dengan selimut warna biru. Ada AC di kamarnya. Dengan jendela besar-besar di situ kupikir si AC baru terpakai saat malam hari saja.

Tidak saya ketahui rumah dibangun tahun berapa. Pemilik rumah pertama adalah Pek Tong An. Mula-mulanya ia datang ke Parakan berbekal ilmu surat-menyurat dan kaligrafi. Lantas di kota pegunungan ini ia membangun bisnis tembakau. Bisnis tersebut diteruskan anaknya, Bah Kimpul  (Han Tjiauw) dan Bah Kukuh (Han Tjiang).

Dalam buku Parakan The Living Heritage diceritakan selama bermukim di Parakan Pek Tong An membuka praktek pengobatan gratis, berderma, dan membuka dapur umum bagi orang miskin. 

Keluarga Pek pindah ke Jakarta sejak terjadinya Agresi Militer Belanda. Rumah kosong dan digunakan oleh TNI. Kemudian tahun 1960an lembaga kepolisian yang menghuni rumah tersebut. 


omah tangsi parakan

 omah tangsi parakan

 

Pendek cerita rumah kembali berpindah tangan kepada pihak keluarga. Di tahun 2018 dia sempat menjadi kafe. Pandemi datang, kafe tutup.

Oktober 2022 Omah Tangsi berubah fungsi jadi penginapan. Saya tidak tahu ongkos menginapnya berapa dan bagaimana. Namun kamu bisa mengontak PIPPA (Pusat Informasi Wisata Parakan) di instagram, @pippa.id namanya. Klik di sini untuk mengakses linknya.

Saya sendiri penasaran, ada berapa banyak penginapan di Parakan dan untuk apa orang-orang datang menginap di kota ini? Apa keperluannya mereka di kota kecil seperti Parakan, apakah keperluan perkebunan tembakau? 

Tulisan tentang Parakan lainnya di blog Bandungdiary bisa dibaca di sini.


omah tangsi parakan
saya di salah satu jendela Omah Tangsi, difoto oleh Teh Gadis. Nuhun, Teh!

I Left My Heart in Parakan

15/03/23

November 2022 saya ikutan tur berkunjung ke pabrik cerutu Taru Martani di Jogjakarta. Penyelenggaranya Alon Mlampah yang dimotori Munadi dan Tikya. Di sana mereka memberitahuku rencana trip berikutnya ke Parakan. “Hah Parakan?” tanyaku retoris. Nah saat itulah saya aktifkan notifikasi instagram Alon Mlampah. Parakan sebabnya! 

 

rumah tangsi parakan


Kota kecil yang berada di lereng Gunung Sumbing dan Sindoro ini sudah saya tandai sejak membaca tulisannya Halim Santoso dan artikelnya jurnalis Silvia Galikano. Gak ambisius merasa harus ke sana, tapi keinginan dalam hatiku sih ada terus. Syukurlah berjodoh di bulan Maret 2023. 


Alon Mlampah membuat program BerKunjung ke Parakan. Biasanya tur-tur mereka selalu full booked, syukurlah saya masih kebagian. 


Selama pandemi saya pikir hidup berhenti dan semua keinginan gak akan terkabul. Namun saya masih hidup, pandemi usai, dan semua kemungkinan itu bisa kembali terwujud.

Sesampainya saya di Parakan memanglah terlihat bangunan tuanya cantik dari tepi jalan. Namun pemandangan klasik yang kulihat di balik pintu mungil dan di balik tembok-tembok tinggi lebih mengagumkan dan membuatku terpukau. Pintu masuknya kecil, di dalam pintunya astaga rumahnya bukan hanya besar, tapi juga antik kuno klasik!


Di sini saya melongok rumah-rumah yang dibangun dari uang tembakau, uang opium, uang vanili, uang gambir!

Beruntungnya saya bergabung dalam perjalanan bersama Alon Mlampah ini. Bila berjalan sendiri pasti akan kesulitan terhadap akses masuk bangunan-bangunan tua yang tertutup itu. 

 

rumah-rumah tua di parakan
rumah-rumah tua parakan
rumah-rumah tua parakan


Kulihat beberapa rumah tionghoa peranakan yang kuno dan klenteng, berkunjung ke bekas stasiun kereta api dan bekas bioskop tua. Lalu kami menengok pembuatan kue bolu cukil kering penganan khasnya Parakan.

Saya bahkan membeli obat gosok buat mengobati memar dari Mas Dani yang menguasai bela diri kungfu dan menghuni rumah tua bernama Omah Tjandie. Ramuannya homemade dan harganya Rp15.000 saja!

Berada dalam perjalanan ini saya sejujurnya kalap bukan main. Dalam waktu setengah hari, apa yang saya harus lakukan: moto? menyimak pemandunya? bengong memandang semua sudut antiknya? atau bagaimana?

Mengingat jarak Parakan dari Bandung yang tidak dekat, saya seperti orang bodoh yang takut kehilangan banyak momen waktu berada di sana. Takutnya itu pengalaman pertama dan terakhir saya ke Parakan. Betapa bodohnya. Padahal saya sedang berada di sana dan seharusnya menikmati saja waktu yang sedang kujalani. Ketololanku ini memanglah! Nanti kan bisa balik lagi kapan-kapan iya gak?

 

bekas stasiun kreta api parakan
bekas biskop parakan


Ingin kulakukan semuanya sekaligus, seperti memotret sambil menyimak cerita Mas Bayu pemandu trip dari PIPPA (Pusat Informasi Pariwisata Parakan). Sayangnya itu gak mungkin. Akhirnya saya lebih banyak motret daripada menyimaknya. Sering kali saya ketinggalan di belakang rombongan karena ingin moto tanpa seliweran teman-teman masuk ke frame.

Sayang sekali tapi ya sudah, akan ada waktu lainnya saya kembali ke kota yang resmi berstatus kota pusaka di tahun 2015 ini. Belum sempat saya cobain dawetnya Parakan yang dijual siang mentrang tapi semangkoknya hangat itu. Aneh kan dawet tapi hangat. 

 

Sekarang saya bersyukur aja dulu atas keistimewaan waktu dan rezeki yang membuatku bisa berada di Parakan hari minggu 12 Maret 2023.

I left my heart in Parakan sebagai manifestasi agar keinginan saya kembali ke sana dapat terwujud. Aminkan tolong!

rumah-rumah tua di parakan


Gang-Gangan Menyaksikan Sisa Bongpai di Badran

03/01/23

Hari sabtu 19/11/2022 adalah hari terakhir saya berada di Jogja. Pagi-pagi check out dari penginapan dan saya meluncur ke Stasiun Tugu. Padahal kereta api datang pukul 11, saya sudah bergegas mau ke mana memangnya? Mau ketemu dengan Gang-Gangan! 

 

gang-gangan bongpai di badran


Janjian bertemu orang baru adalah kegiatan di luar zona nyaman saya yang terbiasa sendirian. Namun Shinta dari Gang-Gangan beberapa kali mengirimiku pesan di instagram. Mulai dari chat berbunyi “sungguh kita harus ketemu” sampai “mba, plis plis plis berkabar kalau ke jogja suatu saat nanti ya”. Sebuah sikap ekstrovert yang gak masuk dalam keseharian saya yang ambivert. 

Namun dengan Shinta berbeda. Memanglah gigih sekali orangnya, persisten dan melankolis. Saya merasa nyaman kepadanya meski ketemu juga belum. Jadi saya memberanikan diri mengontak Shinta duluan dan memberitahunya bahwa saya berada di Jogja. Kami bertemu dan ia mengenalkan saya pada teman-temannya.

Baik sampai mana tadi? Gang-Gangan.

Saya dan Shinta janjian di pintu parkir barat Stasiun Tugu. Ada Risna dan Anisa bergabung. Di hari sebelumnya saya telah bertemu Risna dalam tur di pabrik cerutu Taru Martani bersama Alon Mlampah.

Shinta, Risna, dan Anisa membuat Gang-Gangan, sebuah kelompok pengarsip gang. Di Jogja mereka berjalan kaki menyusuri gang-gang dan merekamnya. Arsip itu mereka simpan di akun instagram @gang-gang.an.

Pagi itu mereka mengajakku ke Badran, wilayah perkampungan dekat Stasiun Tugu yang popular sebagai kampung preman. Spesies preman asal Badran ditakuti seantero Jogja. “Tapi kampung ini sekarang dibuat ramah anak, mbak,” ujar Risna.

Namun bukan Badran yang bertransisi sebagai kampung ramah anaknya yang pagi itu kulihat di sana. Melainkan Badran bekas lokasi kompleks pemakaman tionghoa di Jogja.

Badran terdiri dari beberapa gang dan RW. Wilayahnya di pinggir sungai winongo. Rumah-rumah di mulut gang seperti biasa wujudnya agak besar. Makin dalam masuk gangnya rumahnya makin mengecil dan padat. Kutemui ada beberapa lapangan. Ada juga kompleks makam warga. 

 

gang-gangan bongpai di badran


Di era kolonial Badran adalah kompleks makam orang-orang tionghoa. Entah lokasi pemakamannya pindah ke mana, dalam proses pindah-pindah itulah jejak batu nisan di Badran berceceran. Jenazahnya dipindah, sementara itu batu nisannya tertinggal.

Batu nisan makam tionghoa ini bernama Bongpai (cmiiw). Gang-Gangan ke Badran tujuan utamanya mengajakku melihat jejak bongpai.

Mengejutkan sekali karena kulihat ada banyak bongpai di Badran! batu nisan ini tertancap di jalanan gang, di tembok-tembok gang, dan tertanam begitu saja di lapangan permukaan tanah. Secara kasual bongpai menjadi bagian dari keseharian warga. Mereka memperlakukannya sebagai batu biasa.

Kenapa warga menggunakannya sebagai batu-batuan di tembok ya? tanyaku pada Risna. “Kualitas batunya bagus, Mbak,” jawab Risna yang tergabung dalam komunitas Indonesia Graveyard. Jika diperhatikan dan dipegang, bongpai ini memanglah kokoh dan tebal. Bila saya warga Badran memanglah sayang bila disingkirkan batunya, baiknya memang dimanfaatkan saja buat infrastruktur bangunan.

Sepertinya itulah yang dilakukan warga Badran. Bagiku hal yang menarik adalah mereka seperti tidak terganggu dengan keberadaan batu-batu nisan itu. Terlihat tidak ada maksud untuk menyingkirkan sisa bongpai. Warga bahkan tidak membalik permukaan batu nisannya. Dengan demikian saya bisa melihat tulisan berbahasa cina yang terukir pada permukaan batu tersebut.

Unik sekali di tengah kegiatan warga yang bukan etnis tionghoa dan rumah-rumah khas dalam gang ada batu nisan bertuliskan dalam bahasa cina. Pemandangan yang kontras dan solid sekaligus. 


gang-gangan bongpai di badran


Kuitung Bongpainya banyak banget! Jumlahnya lebih dari 15 bongpai Gila seru banget! idk ini kenapa seru tapi memanglah tiap menemukan bongpai saya terpukau terus. Kayak hah, kok bisa, hah beneran, hah kok bisa, wah bagus euy, wah asli sih keren, hah kok bisa!

Saya pernah melakukan hal serupa di Bandung. Berjalan kaki menyusuri sebuah perkampungan tengah kota dalam rangka menyusuri batu nisan ala tionghoa ini. Ada satu bongpai di Babakan Ciamis, dekat Balaikota. Dalam bongpai tersebut tulisannya dalam bahasa latin, bukan bahasa cina.

Di lain waktu saat menyusuri sejarah Dobi di Kebon Kawung saya dipandu Komunitas Aleut dan menyaksikan satu batu nisan yang menjadi alas penggilingan cuci baju oleh warga. Namun si batu nisan ini tergeletak horizontal di lokasi yang tidak bisa kami jangkau, jadi kami melihatnya dari jarak beberapa meter dari bongpai tersebut. Tidak terlihat apapun selain wujud batu aja. 

Jadi saat saya berada di Badran dan terpukau melihat sisa-sisa bongpai di sana kukira itu hal yang wajar, bukan lebay. Mengingat pengalaman saya di Bandung yang demikian tadi saya ceritakan, sementara di Badran semua bongpainya masih berukir tulisan dalam bahasa cina dan saya bisa memegang batunya. Bayangin, megang! Megang bongpai yang asalnya dari zaman belanda begitu coba gimana mungkin saya gak takjub. 

 

gang-gangan bongpai di badran


Shinta cerita dalam bongpai biasanya selain tertera nama orang yang wafat. Lalu ada daftar nama anggota keluarganya yang mengurus pemakaman.

Bila memperhatikan batu nisan dan melihat wujud pemakaman ala tionghoa, kurasa pasti butuh banyak sekali uang untuk mengurus satu makam saja. Karena itulah nama keluarga yang mengurusnya wajib tercantum di bongpai.

Kupikir manusia ini rumit juga, saat hidup butuh biaya, setelah wafat pun masih ada ongkosnya. Tidak hanya kaum tionghoa dan bongpainya, keluarga saya yang etnis sunda pun atau kamu pasti mengalami hal yang sama. Namun nampaknya ongkos makam orang-orang tionghoa pasti mahal, bila kulihat dari bongpainya.

Tidak semua wilayah Badran dapat saya jelajahi. Maklumlah pukul 11 stasiun tugu menanti. Hehe. Kira-kira durasi saya berjalan 2,5 jam.

Sebelum pukul 11 kereta api datang dan saya harus bergegas menuju stasiun. Kami berpamitan di parkiran Stasiun Tugu dan berjanji bertemu lagi. Akan tetapi sebelumnya kami berenam sempat santap Tahu Gimbal Pak Warno. Ditraktir Mba Autine. Makasih, Mba!

 

difoto Risna

 

Terima kasih banyak Shinta, Anisa, dan Risna.

Dalam tur di Badran ini saya bertatap muka dengan Autine dan Radea. Dua orang yang mendiami kawasan jawa timur dan saya mengenali mereka karena foto-foto bangunan tuanya di instagram. Sungguh saya senang sekali bisa gang-gangan dengan mereka semua. Hamdalah makasih ya, Shinta. Bukan hanya saya berjumpa dengannya tapi juga bisa bertemu dengan teman lama-tapi-baru lainnya. Saya beruntung sekali.

Luntang-Lantung di Kroya

06/12/22

Tepatnya sih terluntang-lantung di sekitar stasiun kereta api Kroya. Saya, Indra, dan Kubil transit di sini sekitar empat jam sampai kereta api yang membawa kami ke Bandung tiba. 

 



Jadi kalo mau pergi ke atau dari Cilacap menuju Bandung menumpang kereta api mau gak mau akan transit di Stasiun Kroya. Habis itu lanjut naik mobil (sewa/online) ataukah menunggu kereta yang berangkat ke Cilacap. Saya sih nunggu kereta aja.

Kupikir daripada bengong dan ngecekin hape melulu bagaimana kalo lihat suasana sekitar stasiun. Dan pergilah kami berjalan kaki tanpa arah dan tujuan.

Hasilnya adalah kepanasan dan tertawa bareng-bareng. Sebab bingung sendiri ini kita ngapain ya di sini. Hehe.

Tentu saja kami browsing dulu dan cari tahu ada apa sih yang menarik di Kroya. Hampir semua artikel merekomendasikan wilayah pantai. Sayang terlalu jauh. Ya sudah kami berpegangan pada googlemap saja.

Alun-Alun Kroya jadi tujuan, menurut saya bisa jadi ada generator aktivitas warga di sana. Memang ada: kantor kecamatan dan kantor samsat. Wkwkwkwk.

Lain-lainnya begitu saja, seperti sedang berada di Majalaya sih rasanya. Tidak banyak yang bisa dilihat selain pertokoan usang dan pasar yang hangus karena kebakaran tahun 2021.

Karena kepanasan kami ngadem di toko roti O. Lalu masuk angin karena kena kipas angin terlalu lama wkwkwkwk parah.

Ya sudah kami menyerah dan memutuskan kembali ke stasiun. Di warteg saya beli makan siang dulu, lumayan ngirit daripada beli di kereta api harganya mahal banget deh. 

 

 

 


 

Kami berjalan kaki menuju stasiun, seorang tukang becak gigih menawari kami jasanya. Kutolak berkali-kali dan ia pun berhenti menawarkan becaknya setelah berkata pada kami “oh mau olahraga ya,” wajahnya kecewa dan kalimatnya bernada sarkas. Kami hanya tertawa saja setelah mamang becak menjauh. Sesungguhnya yang terjadi adalah benar, kami memang seperti sedang berolahraga jalan kaki!

Ohiya kami menitipkan tas di toko sebelah stasiun. Rupanya ada tempat penitipan motor di sana, mungkin yang nitip motor adalah warga lokal yang kerjanya di kota sebelah ya. Saat kami mengambil tas dan hendak membayar, pemilik toko menolak. “Gak usah,” katanya dengan muka datar.

Ya sudah saya beli makanan saja di toko tersebut. Itung-itung ucapan terima kasih. Lumayan kan nitipin tiga ransel. Saya harap saya kembali lagi transit ke Kroya, karena saya harap saya kembali lagi ke Cilacap. Aminkan, Wankawan!

Tidak Ada Macet di Cilacap

02/12/22

Dari Yogyakarta saya tidak langsung kembali ke Bandung. Namun bersambang ke kota kecil yang jaraknya tiga jam dari kota Jogja, menumpang kereta api Joglosemar. Ongkosnya Rp75.000. Di kota kecil itulah terdapat kilang minyak Pertamina terbesar se-Indonesia, di Cilacap. 

 

jalan-jalan ke cilacap


Indra dan Kubil sudah duluan berada di sana. Sore-sore kereta api sampai di Stasiun Cilacap, Indra menjemputku dan langsung mengajakku keliling Alun-Alun. “Kotanya sepi banget, jalannya lebar-lebar, mulus, dan kosong!” katanya semangat.

Begitulah memang warga metropolis di kota kecil, kami memperhatikan kondisi jalanan. Bagaimana lagi sehari-hari yang kami lihat adalah kemacetan jahanam, trafik yang ruwet di Bandung. Di Cilacap semuanya terasa leluasa dan lega. Rasa-rasanya damai. Tidak ada cerita jemput anak pulang sekolah berangkatnya satu jam lebih awal supaya tidak kena macet. Tidak ada kemacetan di Cilacap.

Tiga hari dua malam di sini gak terlalu banyak kegiatan jalan-jalan yang kami lakukan. Makan dan bermotor keliling kota saja. Santai sesantai-santainya.

Highlight dari jalan-jalannya adalah menyusuri jalanan yang bersebelahan dengan Samudera Hindia. Wah kulihat ombaknya bergulung-gulung besar. Berbeda dengan ombak kalem nan tenang yang kulihat di pantai Tirtamaya, Indramayu. 

 

makan ikan bakar di teluk penyu


Kami menyambangi pantai sebanyak dua kali. Hari pertama ke Pantai Teluk Penyu. Di sana kami lihat pantai sebentar dan makan siang. Menunya ikan bakar, kupilih bawal hitam saja.

Rasa makanannya enak-enak. Namun hintnya ada pada rasa kecap, lezat sekali kecapnya! ada rasa manis dan gurih sekaligus, manisnya lebih kuat. Kutanya ibu pemilik warung makan, apa nama kecapnya. “Kecap Cap Kuntul,” jawabnya.

Sewaktu saya menyantap mie ayam di malam hari, di warung mie ayam yang kami pilih acak saja, kecap cap kuntul ada juga di sana.

Keesokan harinya kami meluncur lagi menyusuri jalanan tepi pantai. Kira-kira tiga jam saja bermotor mengelilingi kota dan pantai yang menjadi batas jawa tengah dan jawa barat ini.

 

jalan-jalan di cilacap


Bahkan gak sengaja saya lihat layang-layang naga. Ada sekitar tujuh orang yang memegang tali. Layang-layang dilempar ke udara dan wuzzzz terbawa angin kencang ala samudera. Ketujuh pria memegang tali kuat-kuat dan mengikatnya ke batang pohon.

Kami gak merencanakan kegiatan khusus di sini. Acak saja, kebanyakan tempat kami datangi karena ingin makan saja. Seperti yang terjadi di hari minggu pagi. Niatnya mau berjalan kaki ke arah Alun-Alun. Tahunya ada pasar kaget meriah di depan hotel kami menginap.

Ya sudah! Kami jajan saja di pasar kagetnya. Kami bertiga jajan makanan: cumi bakar, martabak ayam (enak banget), mencoba bakery buatan warga Cilacap (yang lezat!), menyantap kembang tahu bertopping bubur kacang tanah (unik yha!).

Sekilas dalam tiga hari melihat Cilacap memanglah gak cukup. Sebagai turis boleh kusebut kota ini menenangkan. Meskipun kotanya kota industri -ada Pertamina, Antam, PLTU, dan Semen Cibinong- tapi entah mengapa sepi-sepi saja.  

 

jalan-jalan di cilacap

 bangunan tua cilacap

 

Hawanya saja yang panas khas kota tepi laut. Lumayan membuat senewen buat orang Bandung yang terbiasa hawanya sejuk. Meski begitu saya gak akan menolak bila ada kesempatan kembali lagi ke Cilacap.

Oh ya kami menginap di hotel NS, dekat sekali dengan Alun-Alun dan bersebelahan dengan toko kue legendaris, Gayawati. Ada deh kayaknya saya jajan ke toko Gayawati empat kali. Hehe. Di malam hari di toko tersebut ada wedang ronde. Semangkok Rp15.000, harganya mirip harga-harga di Bandung.

Dari penginapan kami berjalan kaki sampai stasiun kereta api. Dekat banget! Kota yang menyenangkan. Kuharap kita bertemu lagi, Cilacap.

Menginap di Sekitar Stasiun Garut, Kami Tidur di RedDoorz Near Alun-Alun Garut

05/07/22

Langsung aja. Namanya RedDoorz Near Alun-Alun. Ini hotel modern terdekat dengan Stasiun Garut. Kuperhatikan ada juga hotel lainnya, tapi hotel lama yang kayaknya udah ada sejak tahun 80an deh kalo diukur dari gaya bangunannya. 

 

reddoorz hotel di sekitar stasiun garut

Saya dan Indra milih Reddoorz Near Alun-Alun Garut aja. Batas waktu check in pukul 4 dini hari. Kami masuk ke sana pukul 11 malam. Hehe lumayan kemalaman. Abisnya kami naik kereta malam.

Kereta api tujuan Bandung - Garut rada kagok sih jam kedatangannya. Mesti pagi banget dari Bandungnya atau malam hari. Alhasil buat yang gak ada rencana menginap di kota Garut rada ribet sih.

Langsung aja saya bahas penginapan nih. 



ROOM

Kayak kamar kos. Hehe. Katanya ada harga ada rupa. Dibandrol Rp230.000+++ per malam, saya ambil yang standar aja tipenya. Alias tipe termurah. Sing penting tidur enak dan ada AC. Kamar mandi bersih. Ekspektasinya sih gitu.

Kenyataannya? Ya so-so. Cukuplah. Kamarnya sempit tapi cukup buat kami tidur satu kasur. Tiga orang (dua orang ndut dan satu anak kecil kegencet. Hehe enggak yah gak kegencet kok).

Bantal ada dua dan itu saja sudah. Tambahan bantal RedDoorz sih yang signature dia banget warna merah. Total tiga bantal.

AC menyala dengan baik. Masih baru soalnya, masih segar.

Kasur melenoy tapi yeah okelah dari saya gak ada keluhan. Kasurnya spring bed cuma ya itu melenoy aja.

 

reddoorz hotel dekat stasiun garut

 

TV? oke tv kabelnya mantap! Dia pake indihome kalo gak salah. WIFI? Mantap juga. Gak ada buffering loading munding.

Tidak ada pemandangan dari jendela. Kan sudah saya sebut tadi ini mirip kamar kos-kosan.

Ada lemari untuk simpan pakaian. Ada meja untuk simpan barang lainnya.

Colokan hp tersedia di pinggir tempat tidur, hanya di satu sisinya saja. Bila kamu tipe pembawa segala macam alat digital lebih dari tiga macam, biasakan aja bawa sendiri terminal listriknya ya. 



KAMAR MANDI

Wah kamar mandinya luas jadi tidak dukdek riweuh saat berada di dalamnya. Ada air panas meski agak lama nunggu angetnya. Pun kamar mandinya bersih. Tidak wangi tapi bersih.

Closetnya oke lancar semua. Shower mulus ngocornya. Tidak ada bau-bauan pada airnya. Tersedia wastafel.

Amenities dari penginapan ada satu set: sampoo, sabun, dan pasta gigi sikat gigi. Semuanya versi ekonomis.

Kalo kamu pernah menginap di RedDoorz di awal kemunculan penginapan jenis ini, pasti tahu kalo amenities mereka terbilang mewah. Peralatan mandinya diwadahin pouch. Sampo dan sabunnya botolan. Nah sekarang tidak lagi, kini formatnya sachetan kayak di warung. Tetap terlihat fancy but yeah kurasa begini lebih efisien buat ongkos produksi. Hehe. 

 

reddoorz hotel dekat stasiun garut


LOKASI

Strategis banget! Beneran deh. Dari penginapan menuju Alun-Alun aja tinggal menggelinding. 500 meter jaraknya. Dari penginapan ke stasiun garut hanya 150 meter. Dekat banget kan.

Mau cari tempat makan pun mudah dan dekat. Ke Pasar Ceplak, surganya jajanan malam hari, pun sama dekatnya. Memudahkan bangetlah.

Beda cerita kalo kamu mau beraktivitas di Cipanas. Nah baiknya menginap di hotel-hotel sekitar Cipanas aja. 



SERVICE

Saya hanya ketemu resepsionis aja satu orang. Hospitality okelah, seperti bertemu ibu kos. Hehe. Di sini ada uang deposit Rp100.00.  Juga ada warung jadi bisa jajan tapi ibu warungnya pergi-pergi mulu deh saya mau jajan gak ada yang ngaladangan kan gak jadi jajannya.

Bagi yang membawa kendaraan sendiri di sini ada parkiran luas! Halaman parkirnya dikasih sun shading semacam waring. Menarik juga dipikirin pake waring segala.

Kebersihan penginapannya oke. Tidak boleh merokok di kamar. Bolehnya di luar kamar. Tapi janganlah merokok dekat kamar kasihan penghuni kamar lainnya. Soalnya asap rokoknya masuk kamar. Merokok di halaman parkir ajalah tolong para perokok nih dipikirin nasib para perokok pasifnya seperti kami ini. 



PRICE

Sudah saya sebut di awal tadi, ongkos tidurnya 230ribuan. Bookingnya di aplikasi RedDoorz aja karena murah. Di aplikasi hotel lainnya kulihat-lihat harganya lebih mahal.

Penginapannya gak melayani pemesanan langsung di meja resepionis. Harus online.

Begitu aja resensi penginapan dekat Stasiun Garut ini. Saya pernah menginap di beberapa hotel lainnya di Garut, hanya saja lokasi hotel jauh dari stasiun dan alun-alun. Nanti saya sambung resensi hotel lainnya ya.

Postingan tentang rekomendasi jalan-jalan di sekitar Stasiun Garut bisa dibaca di sini.

Jalan-Jalan di Sekitar Stasiun Garut

29/06/22

Kalau pernah terpikir untuk pindah ke kota kecil dan bekerja remote WFA/WFH saja, saya rekomendasikan Kota Garut. Pilih kos-kosan sekitar Alun-Alun. Dekat stasiun kereta api. Ke sana dekat, ke sini dekat. Berjalan kaki masih nyaman, bersepeda apalagi ngegelosornya enakeun. Lalu ini yang mahapenting: udaranya sejuk dan adem. Juga ayam gepreknya enak-enak!

 

jalan-jalan sekitar alun-alun garut


Sayangnya saya tidak tahu tarif hidup di sana. Tiga hari di Garut gak bisa jadi patokan tahu biaya hidup. Harga jajannya lebih murah dari Bandung yang pasti sih. Ah ketang liburan aja dulu ke Garut atuh, meni jauh ngomongin pindah kota segala rek naon sih heuheu. 

 

Mana sekarang ada stasiun kereta api juga. Buat saya warga Bandung, terhubungnya kota saya dengan kota garut melalui jalur kereta api kerasa ngegampangin banget. Emang sempat kepotong pandemi dua tahun sih, pandeminya pun masih ada. 

 

Namun yah udah bisalah sekarang jalan-jalan ke Garut. Hehe. udah pada vaksin tiga kali kan? Anak-anaknya udah pada vaksin dua kali? Kalo sudah ya bisa kayaknya jalan-jalan. Dipake aja maskernya, hand sanitizer bawa terus, kalo jaga jarak sih udah lapur ka mana tea heuheu.

FYI, Garut kotanya enakeun banget ya. Please note yang saya bicarakan adalah sekitar Alun-Alunnya saja. 

 

jalan-jalan sekitar stasiun garut

jalan-jalan sekitar stasiun garut


Untuk berjalan kaki ke sana ke mari di tengah kotanya cukup nyaman. Suasananya juga hidup. Artinya banyak pertokoan yang buka. Hiruk pikuk kota terasa ramai tapi tidak riweuh. Banyak tempat jajan dalam radius berdekatan. Alfamart dan Indomaret ada tapi tidak berceceran seperti di Bandung.

Saya dan Indra berjalan kaki pagi hari, siang, dan sore. Makan buku, jajan baso, menyantap mie ayam, menelan bacil! 

 

Juga tentu saja memoto toko-toko tua di Jalan Ahmad Yani. Bolak-balik ke Toko Buku Merpati dan  bermain di Alun-Alun. Enak deh hype Alun-Alunnya tuh kerasa banget generator kegiatan warga buat leleson. 


Saya jajan kopi juga. Entah buat siapa pokoknya beli aja dulu. Maunya saya bertanya segala macam tentang Toko Ek Bouw Jaya, tapi sungkan nih. Coba kamu aja gimana kalo ke Garut mampir ke Toko Ek Bouw di Jalan Ahmad Yani terus ngobrol sama Oom yang punyanya. Terus ceritakan. Hehe.

Gak ada timeline jalan-jalan yang kami rancang. Secara spontan hanya berkeliling area stasiunnya saja. Begitu-gitu aja kegiatannya, jalan kaki-ngobrol-makan-ngobrol-berfoto-main hape-jalan kaki. Saya jadi mempertanyakan ini: liburannya buat saya atau kubil. Hahah rada ngaco emang.

 

jalan-jalan sekitar stasiun garut


Berikut ini beberapa jalan yang kami susuri:

  • Jl Bank (kami makan paketan ayam di sini, punten saya gak catat nama restonya)
  • Jl Veteran (hotel tempat kami menginap dan ada Mie Ayam Goyang Lidah yang oke juga)
  • Jl Ahmad Yani (saya beli kopi, kopi giling halus di Toko Ek Bouw dan Indra beli lem buat panci. Wkwk)
  • Jl Mandalagiri (belanja teh curahan)
  • Jl Ciledug (jajan bubur namanya Bubur Panin dan mampir ke Toko Buku Merpati -yang mana saya belon berjodoh dengan tokonya)
  • Jl Pasar Baru (Baso Ma Iko dan Restoran Sunda Mang Iki)
  • Alun-Alun (bisa bermain lama di sini: badminton, sewa skuter, baca buku, berfoto, sholat di masjid, dan berkeliling di gang-gang sekitar Alun-Alun dan jajan. Gak ngerti sih kami jajan street food lumayan banyak heuheu).
  • Pasar Ceplak! ini di jalan apa ya saya lupa lagi nama jalannya

Dan beberapa ruas jalan lainnya.

Banyak jalan kaki membuat si kaki terasa pegal saat sampai di kamar hotel. Namun lagi-lagi namanya juga turis yang everything is new everything is interesting jadi yah senang aja bawaannya. Sing penting tidur enam jam, menetralkan tubuh yang capek. Esok hari bisa tancap ke gigi tiga lagi.

Kami sempat berganti hotel satu kali. Yakni di Hotel Joglo. Booking via Reddoorz. Ada kolam renang di sana jadi yah okelah buat cemplungin si kubil. Dua malam lainnya kami tidur di hotel dekat stasiun, masih di Reddoorz juga yang Near Alun-Alun. Rate kedua hotel tersebut cukup aman buat yang sedang diet finansial seperti kami. 

 

hotel sekitar stasiun garut


Main ke Mal Garut, nonton di bioskop, main di wahana anak-anak. Yah udah kubilang tadi kegiatannya begitu aja hanya beda kota, biasanya di Bandung, ini mah di Garut. Hehe. Seru-seru aja buat kami.

Bila uang gak jadi masalah, kamu bisa pergi ke Cipanas. Ada atraksi air panas alami di sana. Berenang dan berendam di hotel-hotel seperti Tirta Gangga pasti menyenangkan. 

 

Atau liburannya yang ala-ala leisure mewah di Kampung Sampireun juga menarik, kami sendiri sudah pernah mencobanya dan Kampung Sampireun adalah resort yang sangatlah mengesankan. Luar biasa impresif tempat, makanan, dan pengalamannya.

Yah begitu aja. Selamat berlibur sekolahan ya! Bila kamu membaca tulisan ini dan kamu tinggal di Bandung, ayo atuh booking kursi kereta api ke Garut. Rekomendid jalan-jalan di sana, kieu pisan 👍

Makasih ya, Kereta Api Indonesia. Ongkos dari Bandung ke Garut murah banget. Jadi kebantu banyak nih menahan laju pengeluaran. Malah mahalan gocar dari rumah ke stasiun sih hahaha bodor juga. 


Saya pernah menulis tentang Garut yang lainnya dalam tulisan 24 Jam di Garut. Mangga dibaca juga. Makasih yah!

Dari Bandung ke Garut Menumpang Kereta Api Lokal Cibatuan, Ongkosnya 14.000

28/06/22

Gimana kalo ke Garut naik kereta api. Emang ada kereta api dari Bandung ke Garut? 

 

kereta api bandung garut


Ada! baru aja kemarin saya, Indra, dan Kubil pergi ke Garut naik kereta api


Waduh pengalaman pertama ke Garut dengan transportasi kereta api ini sangat menyenangkan! Padahal dipikir-pikir kami gak lihat pemandangan apapun selama di jalan. Lha kami ambil keberangkatan malam hari pukul 19.28. Hehe.


Biasanya ke Garut transportasinya mobil. Ada elf di kendaraan umum. Ada kendaraan pribadi. Kena macet di Nagreg. Kalo tidak mau kena macet bisa ambil jalur ke Kamojang atau Japati.   

 

Rel kereta api ke Garut sebenarnya sudah ada sih sejak zaman kolonial, tapi mati suri. Puluhan tahun mati, bangkit lagi di tahun 2019. Stasiun Garut diresmikan tepat sebelum pandemi. Lalu terjadilah lockdown. 


Saat itu wacana jalur kereta hingga ke Stasiun Cikajang sudah ada. Sayang kini proyek kereta api Cikajangnya berhenti. Sementara Stasiun Garut sudah siap. Jadi Garut ini stasiun terakhir dari Jakarta dan Bandung. 

 

Bila ada kota-kota kecil terhubung ke Bandung via kereta api, pasti deh saya pengen ke sana naik kereta api! Seperti waktu ke rute kereta api Bandung - Tasikmalaya terhubung, saya cobain tuh. 


Begitupun Garut. Saya coba juga nih. 



Cara Memesan Tiket Kereta Api Bandung - Garut

Satu-satunya cara hanya via aplikasi KAI Access. Ada dua kereta api yang berangkat menuju Garut:

  • KA Cikuray (kereta api jarak jauh) berangkat dari Pasar Senen Jakarta. Ongkosnya 45.000 dari Bandung.
  • KA Lokal Cibatuan, (kereta api lokal), berangkat dari mana saja di stasiun mana saja di Bandung (dan Purwakarta). Ongkosnya dari Bandung 14.000.

Saya pilih Cibatuan aja karena murahlah apalagi. Berangkatnya dari Stasiun Bandung. Paling dekat dengan rumah soalnya. Namanya juga kereta lokal, jadi gak ada nomor kursi alias bebas mau duduk di mana aja.

Ada dua jam keberangkatan kereta api dari Bandung ke Garut (updated Juni 2023): 
07.00
18.44

Namun sayangnya dari Garut ke Bandung gak ada waktu yang cocok nih buat perjalanan pergi-pulang same day. Dari Garut ke Bandung berangkatnya:
05.35
10.45 


bandung garut naik kereta api cibatuan


Jadi kayaknya mesti nginep di Garut kalo kamu jalan-jalan di sana. Saya pun begitu. Saya booking satu kamar di Redddoorz Near Alun-Alun. Permalamnya 230+++. Lokasi strategis dan kamarnya cukup okelah buat menumpang tidur. Bukan kamar fancy, seperti kamar kos aja. Kayaknya seru deh kalo ada hostel di Garut.

Ayo Garut, disambut nih potensi turis-turis ngehe dari Bandung. Hehehe apa sih ngehe, maksudku turis-turis bageur.

Sebaliknya warga Garut diuntungkan banget dengan kereta api Cibatuan ini. Mereka bisa pergi pagi dari Stasiun Garut, dan pulang malam dari Bandung. Seru ya! Gak apa-apa deh, saling bergiliran aja buang uangnya hehehe orang Bandung buang uang menginap di Garut. Orang Garut buang uang jalan-jalan sehari aja di kota Bandung.

Gitu aja. Cerita jalan-jalan di Garut saya buat di postingan berbeda yah! Bisa dibaca di tulisan Jalan-Jalan Sekitar Stasiun Garut. 


Ayo dibooking tiket kereta api dari Bandung ke Garut di aplikasi KAI Access ya! Lesgow, lesgooow!

Teman Bus di Bandung, Bayarnya Pake QRcode atau e-Money

07/06/22

Sejak awal April 2022 saya lihat bis angkutan umum wara-wiri di jalanan kota Bandung. Bahkan sampai ke kabupaten, domisiliku sendiri. Seru sih lihat bisnya mirip banget sama Bis Tayo itu loh yang ada di televisi. Hehe. 

 

Teman Bus Bandung
 

Padahal gak diniatkan nih, saya dan Kubil menumpang bis ini di hari pertama lebaran. Hahaha aneh banget. Bisnya kosong pula penumpangnya hanya tiga orang, termasuk kami berdua. Ya lagian dipikir-pikir siapa juga yang menumpang angkutan umum di hari pertama lebaran yak! 

 

Di dalam bis kulihat si bis ini ada namanya, yakni Teman Bus. Ada hashtag segala loh #kamiadauntukanda. Pikir saya serius juga nih! 

 

Karena bisnya sepi, maka saya wawancara aja sopirnya. Tanpa bertanya namanya aduh punten pisan lupa bertanya nama. 

 

Oke. Saya kasih lihat FAQ tentang Teman Bus ini, kayaknya sih pertanyaan saya adalah pertanyaan sejuta umat lainnya. Berhubung koridor bis saya adalah jurusan Baleendah - BEC jadi, nama jurusan ini paling sering disebut dalam FAQ di bawah. 

 

Here goes. 


Pak, bisnya kenapa ongkosnya gratis?

Kurang tahu, Neng. Dalam rangka sosialisasi mungkin. Gratisnya sampai tiga bulan aja (berarti sampai Juni, artinya Juli mulai ada pembayaran)

 

Kira-kira nanti ongkosnya berapa, Pak?

Nah ini mah saya juga belum tahu

 

Bapaknya ngomong duluan sebelum saya bertanya.

Pembayarannya pake e-money. Jadi penumpang kudu punya e-money, walo masih gratis wajib tap kartunya dulu. (Wah dicatat nih, wajib punya e-money).

 

(Karena saya sudah menumpang bis ini beberapa kali, saya bisa kasih informasi tambahan. Kita bisa scan barcode untuk pembayaran, barcodenya ada di aplikasi Teman Bus. Kita sign up dulu, nanti cek aja tab 'setting', nongol deh tab QR Code. Bisa nih dipake kalo gak punya e-money).

 

Satu kartu e-money bisa dipake berapa orang, Pak?

Maksimal tiga orang

 

Teman Bus Bandung
 

Bisnya ada berapa koridor/jurusan, Pak?

Ada Lima. 

 

Leuwipanjang - Soreang

Kota Baru Parahyangan - AlunAlun

Baleendah - BEC

Leuwipanjang - Dago

Dipatiukur - Jatinangor

 

Kapasitas bis berapa penumpang maksimalnya?

Kira-kira mah 40 orang muat, tapi gak akan diangkut sebanyak itu juga. Kan armadanya juga banyak, Neng.


Armadanya ada berapa, Pak?

Jurusan Baleendah - BEC ada 15 armada (sepengamatan saya kurang dari 15 deh). 

 

Keberangkatan bis tiap 15 menit sekali (yang sayangnya sering meleset karena bis sering kecegat macet).

 

Bisnya akan menaikkan dan menurunkan penumpang di 57 halte. Daftar haltenya bisa dicek di aplikasi Teman Bus. 

 

Jadi gak bisa naik turun sembarangan ya, Pak? harus di 57 halte itu?

Iya wajib. 

 

Ada peraturan khusus gitu gak buat yang mau naik Teman Bus, Pak?

Penumpang dan sopir dilarang merokok dan makan di dalam bis. Sama pembayarannya pake kartu.

 

Jam keberangkatan gimana, Pak?

Kalo dari Baleendah paling pagi berangkat jam 4.30. Kalo dari BEC paling malam jam 20.30 berangkat menuju Baleendah. 

 


Informasi Tambahan Tentang Teman Bus

Saya kasih informasi tambahan lagi yah. Di bis ada voiceover dan ada running text halte. Jadi buat teman kita yang tuli dan tuna netra, bisa jadi ketolong banget. Voiceovernya mirip dengan suara di gerbong kereta api. Canggih sih menurut saya mah, sebagai warga kabupaten nih. 

 

Teman Bus nih, buat orang kabupaten, bisalah disebut sebagai semacam revolusi transportasi umum yang cemerlang gemilang. Hehe. Agak menyedihkan sih karena baru muncul sekarang, di tahun 2022, di tengah isu metaverse apalah apalah itu. Hehe. 

 

Teman Bus Bandung

 

Teman Bus di Beberapa Kota Lainnya

Belakangan saya baru mengetahui, saat saya upload Teman Bus di stories Instagram, beberapa teman dari kota lain mengatakan hal yang sama. Katanya di kota mereka juga ada Teman Bus. 


Rupanya Teman Bus ini proyeknya Kementrian Perhubungan dan dibuat serempak di beberapa kota. Selain Bandung, ada Bogor, Solo, Surabaya, Medan Denpasar, Palembang, Yogyakarta, Makassar, Banyumas, Banjarmasin!

 

 

CONS

Kekurangan armada bis ini ada di peralatan pembayarannya. Parah sih responnya lama banget kalo tap kartu. Bisa pake barcode juga, lebih cepet juga, tetap saja kehitungnya makan waktu banget. 


Bibit ribetnya sudah terlihat jelas. Kalo operatornya baca tulisan ini, please banget itu mesin pembayarannya dibetulin. 

 

Kalo nonton drakor atau series western kok tap kartu gampang banget ya. Tinggal tempel gak sampai satu detik langsung direspon mesin. Kalo versi Teman Bus ini mah ahelah lama luar biasa wkwkwk. 

 

Lalu saat saya pikir armadanya udah banyak, ternyata enggak juga. Terutama di hari libur atau weekend. Kerasa deh penumpangnya buanyak. Jadi emang yah armadanya kurang sebab permintaan mah tinggi. 

 

Kalo bis sedang penuh-penuhnya penumpang, saya kembali naik angkot. Pertama, malas rebutan masuk ke bis sebab tidak pada kenal yang nama antrean ih sebel. Kedua, gak ada kedua. Itu adalah satu-satunya yang membuatku hoream naik bis ini. Hoream rebutan masuknya. Hehe. 

 

Jadi emang pemilihan waktu mesti diperhatiin buat warga pengguna transportasi umum yang super introvert kayak saya hueheheheh apa sih bawa-bawa introvert segala asa teu nyambung.


Teman Bus Bandung


Sudah mau dua bulan saya menggunakan jasa Teman Bus, saya juga masih pake angkot. Keduanya membantu mobilitas saya di tengah jasa taksi dan ojeg online yang berhenti bakar duit sehingga ongkosnya terasa lebih mahal dari biasanya. Hehe. Emang segalagala lagi mahal sih sekarang jadi yah...


Ayo menumpang Teman Bus!