Ibu Berbagi Bijak di Bandung

September 01, 2019
Berapa banyak dari kita yang hidupnya di pinggir jurang? 


Kecelakaan, masuk UGD, gak punya uang, bagaimana bayar biaya rumah sakit...

Anak cerdas mau lanjut pendidikan ke tingkat kuliah. Orang tua gak sanggup membiayai.

Pekerja paruh waktu. Gaji gak seberapa besar. Habisnya buat ongkos adik yang masih sekolah. Juga ayahnya sakit-sakitan.

Bisnis sendiri. Cashflow macet. Utang numpuk.

Hasrat mau liburan. Gaji cukupnya untuk kebutuhan bulanan. Maksa ikutan 'pay later' alias bayar kapan-kapan.

Minggu lalu (28/08/2019) saya ikutan workshop literasi yang diselenggarakan @ibuberbagibijak. Pesertanya perempuan semua.

Emang sejak 2017 Visa aktif kampanye literasi keuangan. Peserta selalu sama, yaitu perempuan. Di acara ini, perempuannya khusus para freelancer dan pelaku UMKM.

Beberapa komunitas hadir sebagai undangan. Ada Buana Belantik. Sekumpulan pengusaha UMKM, mayoritas perempuan. Anggotanya tersebar sejawabarat. 

Ada juga cewek-cewek pekerja paruh waktu dari komunitas Emak-emak Blogger. Gak ketinggalan meramaikan acara, The Urban Mama yang kebanyakan pesertanya ibu-ibu muda. 

Mentor workshop dari Visa, Ibu Berbagi Bijak, ada beberapa orang. 

Selain sambutan dari presdir PT Visa Worldwide, Riko Abdurrahman, ada juga perwakilan dari OJK, Teguh Dinurahayu. 

Sementara itu, workshop finansialnya dipandu Prita Ghozie. Seorang dosen, penulis, ibu, juga konsultan finansial profesional.

Ada beberapa yang saya highlight dari presentasinya. Gini.

Usahakan punya asuransi. Wajib. Sisihkan pendapatan seenggak-enggaknya buat iuran BPJS. Kalo asuransi yang lain sanggup bayarnya, ya udan yang lain aja.

Lantas berhubung di acara ini Visa menargetkan peserta perempuan dari kalangan pengusaha kecil, maka Mba Prita ngasih tips keuangan dasar buat pelaku UMKM. 

Oya, freelancer juga diitungnya pelaku usaha. Usahanya menjual jasa. 


Ada tiga macam catatan keuangan dasar yang mesti kita ketahui dan terapin: 
📝 Neraca
📝 Laba dan rugi
📝 Catatan atas laporan keuangan.

Sementara itu untuk alokasi pendapatan, tingkat pengeluarannya gini: 
1. Zakatin dulu 2,5% dr gaji.
2. Bayar asuransi minimal 5% dr gaji
3. Alokasi bulanan (gak lebih dr 60%)
4. Nabung utk keperluan jangka pendek 
5. Investasi utk keperluan jangka panjang (nabung + investasi jgn lebih dr 30% dr pendapatan).

Oleh Mba Prita, kelima istilah di atas diberi singkatam ZAPFIN: zakat, assurance, present consumption, future spending, dan investment. 

Kalo ada utang gimana nih? Porsi utang jangan lebih dari 30%. Kalo lebih, maka korbanin alokasi bulanannya.

Itu sih yang saya highlight dari penjelasannya Mba Prita. 

Oiya, berkali-kali dia ingatkan, jangan tergiur fitur Pay Later dan skema pinjaman mudah ala pinjaman online.

Mba Prita bahkan bilang, pekerja freelance sebaiknya gak pake fitur cicilan kayak Pay Later. Kecuali ada jaminan perbulan pendapatan pasti. 

Intina mah cenah, pada bisa ngukur diri. Jangan nurutin nafsu dan gengsi. Bahkan kalo pendapatan gak cukup buat investasi, ya udah tahan dulu. "Semua akan indah pada waktunya," gitu Mba Prita bilang.


Pak Teguh juga mengonfirmasi uraian Mba Prita. Katanya, baca dengan seksama terms & agreement kalau u3rusan utang piutang begini.

"Memang banyak fintech yang nakal. Tapi banyak juga laporan kasus yang masuk ke OJK penyebabnya karena si pelapor gak baca terms & agreement dengan teliti," kata Pak Teguh.

Literasi finansial pada dasarnya bukan cuma kemampuan kelola pendapatan ya. Ternyata skill membaca dan menyimak juga sama pentingnya.

Skill dasar manusia banget gak sih itu? Membaca dan memahami. Hehe.

Pulang ke rumah usai acara Ibu Berbagi Bijak ini, saya ngahuleung. Apakah selama ini saya hidup di pinggir jurang? Kalo kamu, gimana?

1 comment on "Ibu Berbagi Bijak di Bandung"
  1. Alhamdulillah nggak punya utang, tapi investasi masih terus mencari aku tuh :(

    Keren nih acaranya, mengeduksi banget.

    ReplyDelete